Anda di halaman 1dari 7

Nama : Nikke Indri Diahtuti

NIM : 15/383400/PN/14231
BAB IX
KETAHANAN NASIONAL DAN BELA NEGARA
KETAHANAN NASIONAL DAN BELA NEGARA
Ketahanan nasional sebagai istilah sebenarnya belum lama dikenal. Istilah ketahanan
nasional mulai dikenal dan dipergunakan pada pemulaan tahun 1960-an. Istilah katahanan
nasional untuk pertama kali dikemukakan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia
Soekarno.

Kemudian

pada

tahun

1962

mulai

dupayakan

secara

khusus

untuk

mengembangkan gagasan ketahanan nasional di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat
Bandung. (Kaelan : 2010 : 145)
Pengertian Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa, yang
berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan
nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan dan
tantangan, baik yang datang dari luar maupun dalm negeri, yang langsung maupun tidak
langsung membahayakan intergritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta
perjuangan dalam mengejar tujuan nasional Indonesia. (Kaelan : 2010 : 146)
Sifat-sifat Ketahanan Nasional
Beberapa sifat ketahanan nasional yang ada mingkin akan kami jabarkan seperti dibawah
ini :
a)

Mandir
Maksudnya adalah percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri dan tidak mudah
menyerah. Sifat ini merupakan prasyarat untuk menjalin suatu kerjasama. Kerjasama perlu
dilandasi oleh sifat kemandirian, bukan semata-mata tergantung oleh pihak lain

b)

Dinamis
Artinya tidak tetap, naik turun tergantung situasi dan kondisi bangsa dan negara serta
lingkungan strategisnya. Dinamika ini selalu diorientasikan kemasa depan dan diarahkan
pada kondisi yang lebih baik.

c)

Wibawa

Keberhasilan pembinaan ketahanan nasional yang berlanjut dan berkesinambungan


tetap dalam rangka meningkatkan kekuatan dan kemampuan bangsa. Dengan ini diharapkan
agar bangsa Indonesia mempunyai harga diri dan diperhatikan oleh bangsa lain sesuai dengan
kualitas yang melekat padanya. Atas dasar pemikiran diatas, maka berlaku logika, semakin
tinggi tingkat ketahanan nasional, maka akan semakin tinggi wibawa negara dan pemerintah
sebagai penyelenggara kehidupan nasional.
d)

Konsultasi dan kerjasama


Hal ini dimaksudkan adanya saling menghargai dengan mengandalkan pada moral dan
kepribadian bangsa. Hubungan kedua belah pihak perlu diselenggarakan secara komunikatif
sehingga ada keterbukaan dalam melihat kondisi masing-masing didalam rangka hubungan
ini diharapkan tidak ada usaha mengutamakan konfrontasi serta tidak ada hasrat
mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata.
Kedudukan dan Fungsi Ketahanan Nasional
Kedudukan dan fungsi ketahanan nasional dapat dijelaskan sebagai berikut :
a). Kedudukan :
Ketahanan nasional merupakan suatu ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh
bangsa Indonesia serta merupakan cara terbaik yang perlu di implementasikan secara
berlanjut dalam rangka membina kondisi kehidupan nasional yang ingin diwujudkan,
wawasan nusantara dan ketahanan nasional berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang
didasari oleh Pancasil sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan konstisional dalam
paradigma pembangunan nasional.
b). Fungsi :
Ketahanan nasional nasional dalam fungsinya sebagai doktrin dasar nasional perlu
dipahami untuk menjamin tetap terjadinya pola pikir, pola sikap, pola tindak dan pola kerja
dalam menyatukan langkah bangsa yang bersifat inter regional (wilayah), inter sektoral
maupun multi disiplin. Konsep doktriner ini perlu supaya tidak ada cara berfikir yang
terkotak-kotak (sektoral). Satu alasan adalah bahwa bila penyimpangan terjadi, maka akan
timbul pemborosan waktu, tenaga dan sarana, yang bahkan berpotensi dalam cita-cita
nasional. Ketahanan nasional juga berfungsi sebagai pola dasar pembangunan nasional. Pada
hakikatnya merupakan arah dan pedoman dalam pelaksanaan pembangunman nasional

disegala bidang dan sektor pembangunan secara terpadu, yang dilaksanakan sesuai dengan
rancangan program.
(https://emperordeva.wordpress.com/about/ketahanan-nasional/)
Sejarah Lahirnya Ketahanan Negara
b.

Konsep Ketahanan Nasional


Secara konseptual, ketahanan nasional suatu bangsa dilatarbelakangi oleh :

a)

Kekuatan apa yang ada pada suatu bangsa dan negara sehingga ia mampu mempertahankan
kelangsungan hidupnya.

b)

Kekuatan apa yang harus dimiliki oleh suatu bangsa dan negara sehingga ia selalu mampu
mempertahankan kelangsungan hidupnya, meskipun mengalami berbagai gangguan,
hambatan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar.

c)

Ketahanan atau kemampuan bangsa untuk tetap jaya,

2.2 Asas-asas Ketahanan Nasional


Asas ketahanan nasional Indonesia adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun
berlandaskan pancasila, UUD 1945 dan wawasan nusantara. Ini merupakan kondisi sebagai
prasyaratan utama bagi negara berkembang yang memfokuskan untuk mempertahankan
kelangsungan hidup dan mengembangkan kehidupan negaranya. Tidak hanya untuk
pertahanan, tetapi juga untuk menghadapi dan mengatasi tantangan, ancaman, hambatan, dan
gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, baik secara langsung maupun tidak
langsung. (http://meirinaraspalia.wordpress.com/2011/05/24/makalah-kewarganegaraan/)
Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut:
1)

Asas kesejahteraan dan keamanan

2)

Asas komperensif integral atau meyeluruh terpadu

3)

Asas mawas kedalam dan mawas keluar.


a)

Mawas kedalam

b)

Mawas keluar

c)

Asas kekeluargaan

2.3 Bela Negara dan Sistem Pertahanan Ketahanan Negara


1.

Pengertian Bela Negara


Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya
kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-

Undang Dasar 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.
(Hadi Wiyono, Isworo : 2007 : 3)
UnsurDasarBela Negara
a)

Cinta Tanah Air

b)

Kesadaran Berbangsa & bernegara

c)

Yakin akan Pancasila sebagai ideologi negara

d)

Rela berkorban untuk bangsa & negara

e)

Memiliki kemampuan awal bela negara


Contoh-Contoh Bela Negara :

a)

Melestarikan budaya

b)

Belajar dengan rajin bagi para pelajar

c)

Taat akan hukum dan aturan-aturan negara

d)

Mencintai produk-produk dalam negeri

2.

Sistem Pertahanan Ketahanan Negara


Sistem Pertahanan Negara adalah sistem pertahanan yang bersifat semesta yang
melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta
dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah,
dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan
segenap bangsa dari segala ancaman.
Hakikat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta yang
penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara serta
keyakinan pada kekuatan sendiri.

2.4 Landasan dan Motivasi dalam Pembelaan dan Pertahanan Keamanan Negara
a)

Landasan dalam Pembelaan dan Pertahanan Keamanan Negara


Landasan konsep bela negara adanya wajib militer. Subjek dari konsep ini adalah
tentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau
sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer).
Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan
syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. Kesadaran bela negara itu
hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan bekorban membela negara.
Spektrum bela negara itu sangat luas dari yang paling halus hingga yang paling keras. Mulai
dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata
musuh bersenjata.

2.5 Kewajiban Warga Negara dalam Bela Negara


a)

Bela Negara secara Fisik


Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara,
keikutsertaan warga negara dalam bela negara secara fisik dapat dilakukan dengan menjadi
anggota Tentara Nasional Indonesia dan Pelatihan Dasar Kemiliteran. Sekarang ini pelatihan
dasar kemiliteran diselenggarakan melalui program Rakyat Terlatih (Ratih), meskipun konsep
Rakyat Terlatih (Ratih) adalah amanat dari Undang-Undang No. 20 Tahun 1982 tentang
Pokok-Pokok Pertahanan dan Keamanan Negara. (Winarno : 2007 : 185)
Rakyat Terlatih (Ratih) terdiri dari berbagai unsur, seperti Resimen Mahasiswa
(Menwa), Perlawanan Rakyat (Wanra), Pertahanan Sipi (Hansip), mengikuti Pendidikan
Dasar Militer dan lainnya. Rakyat Terlatih mempunyai empat fungsi yaitu Ketertiban Umum,
Perlindungan Masyarakat, Keamanan Rakyat dan Perlawanan Rakyat. Tiga fungsi yang
disebut pertama umumnya dilakukan dalam masa damai atau pada saat terjadinya bencana
alam atau darurat sipil, di mana unsur-unsur Rakyat Terlatih membantu pemerintah daerah
dalam menangani Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, sementara fungsi perlawanan
Rakyat dilakukan dalam keadaan darurat perang di mana Rakyat Terlatih merupakan unsur
bantuan tempur bagi pasukan reguler TNI dan terlibat langsung di medan perang. (Winarno :
2007 : 185)
Bila keadaan ekonomi dan keuangan negara memungkinkan, dapat pula
dipertimbangkan kemungkinan untuk mengadakan Wajib Militer bagi warga negara yang
memenuhji syarat seperti yang dilakukan di banyak negara maju di Barat. Mereka yang telah
mengikuti pendidikan dasar militer akan dijadikan Cadangan Tentara Nasional Indonesia
selama waktu tertentu, dengan masa dinas misalnya sebulan dalam setahun untuk mengikuti
latihan atau kursus-kursus penyegaran. Dalam keadaan darurat perang, mereka dapar
dimobilisasi dalam waktu singkat untuk tugas-tugas tempur maupun tugas-tugas teritorial.
Rekrutmen dilakukan secara selektif, teratur, dan berkesinambungan. Penempatan tugas dapat
disesuaikan dengan latar belakang pendidikan atau profesi mereka dalam kehidupan sipil,
misislnya dokter ditempatkan di Rumah Sakit Tentara, Pengacara di Dinas Hukum, akuntan
di Bagian Keuangan, penerbangan di Skuandron Angkutan, dan sebagainya. Gagasan ini
bukanlah dimaksudkan sebagai upaya militerisasi masyarakat sipil, tetapi memperkenalkan
dwifungsi sipil. Maksudnya sebagai upaya sosialisasi konsep bela negara dimana tugas
pertahanan keamanan negara bukanlah semata-mata tanggung jawab TNI, tetapi adalah hak
dan kewajiban seluruh warga negara Indonesia. (Winarno : 2007 : 185)

b)

Bela Negara Secara Non Fisik


Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa bela negara tidak selalu harus
berarti memanggul senjata menghadapi musuh atau bela negara yang militeristik. (Winarno
: 2007 : 186)
Menurut Undang-Undang No. 3 Tahun 2002, keikut sertaan warga negara dalam bela
negara secara non fisik dapat diselenggarakan melalui pendidikan kewarganegaraan dan
pengabdian sesuai dengan profesi. Berdasarkan hal itu, keterlibatan warga negara dalam bela
negara secara non fisik dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, sepanjang masa dan dalam
segala situasi, misalnya dengan cara :

1.

Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, termasuk menghayati arti demokrasi


dengan menghargai perbedaan pendapat dan tidak memaksakan kehendak.

2.

Menanamkan kecintaan terhadap tanah air, melalui pengabdian yang tulus kepada
masyarakat.

3.

Berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara dengan berkarya nyata (bukan
retorika).

4.

Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap hukum/undang-undang dan menjunjung


tinggi hak asasi manusia.

5.

Pembekalan mental spiritual dikalangan masyarakat agar dapat menangkal pengaruhpengaruh budaya asingyang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan bangsa Indonesia
dengan lebih bertakwa kepada Allah SWT, melalui ibadah sesuai agama/ kepercayaan
masing-masing. (Winarno : 2007 : 186)
Sampai saat ini belum ada undang-undang tersendiri yang mengatur mengenai
pendidikan kewarganegaraan, pelatihan dasar kemiliteran secara wajib, dan pengabdian
sesuai dengan profesi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2002.
Apabila nantinya telah keluar undang-undang mengenai pendidikan kewarganegaraan,
pelatihan dasar kemiliteran secara wajib dan pengabdian sesuai dengan profesi maka akan
semakin jelas bentuk keikut sertaan warga negara dalam upaya bela negara. (Winarno : 2007 :
186)

Sumber :
Kaelan.2010.PendidikanKewarganegaraanUntukPerguruanTinggi.Yogyakarta :
PARADIGMA.

Winarno.2007.ParadigmaBaruPendidikanKewarganegaraan.Jakarta : PT BUMIAKSARA.
Hadi Wiyono.2007.Kewarganegaraan.Jakarta : INTERPLUS