Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS INDIVIDU

ECLAMPSIA POST
PARTUM
Pembimbing:

dr. Moch. Maroef, SpOG

Disusun Oleh :
Lustyafa Inassani Alifia
201420401011115

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN

PENDAHULUA
N
Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita
preeclampsia yang disertai dengan kejang menyeluruh dan
koma. Onset terjadinya eklamsia ini dapat terjadi
antepartum, intrapartum, dan post partum
Eklampsia post partum adalah eclampsia yang terjadi 48
jam setelah proses kelahiran namun kurang dari 4
minggu (Sibai, 2006)
25%

Antepartu
m
Intrapartu
m
Post
partum

STATUS
PASIEN
Identitas Pasien
Nama : Ny. H
Usia
: 23 th
Nama suami: Tn. M
Alamat : Dalinawong RT 01 Babat,
Lamongan
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
No. RM : 99.34.66
Tanggal MRS: 22 Jan 2016

ANAMNESIS
KU: Kejang
Pasien kejang sejak 2 jam SMRS, di IGD pasien kejang sebanyak 5x.
Saat kejang paien tidak sadar sekitar 5 menit, seluruh badan kaku,
lidah kaku, mata melirik ke atas. Di antara kejang pasien tidak
sadar, riwayat trauma disangkal, keluhan lemah separoh badan
disangkal, riwayat kejang sebelumnya disangkal. Sebelumnya
pasien mengeuh nyeri kepala 6 jam SMRS, mengeluh pandangan
gelap, kepala dirasakan nyeri, mual, tidak didapatkan muntah, dan
nyeri perut bawah.

RPD
: Post SC di RSUD 2 minggu yang lalu (8 Jan 2016) TP: 17 Jan
2016
DM disangkal, HT disangkal, HT selama hamil disangkal
R. Obs : I. SC indikasi panggul sempit/ aterm/Laki-laki/BB: 3300 gr
R, KB : Tidak menggunakan KB
R. Gyn : Menarche 13 tahun, siklus haid 28 hari, saat haid perdarahan
banyak + nyeri +
R. ANC : ANC 2x di bidan
Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum: Baik


Kesadaran
: GCS 456
Vital sign : Tekanan Darah: 142/91 mmHg
Nadi : 111 x/ mnt
Suhu : 37,3 oC
RR
: 26x/menit
Primary Survey:
A: Unclear, snoring (-) gargling (-) pot. Obstruction (+) speak fluenty (-)
B: SpO2 99% tanpa O2 support RR 26x/m sim +|+ ret -|C: Akral dingin kering merah, CRT 2, N 111x/menit
D: GCS 356, lat -|-, PBI diameter 3mm|3mm, visus 1/~ | 1/~ LP +|+

Secondary Survey:
Kepala/ leher: Inspeksi: anemia -/-, ikterus -/-, sianosis -, dispneu Thorak : Paru :Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi -/Palpasi
: Krepitasi (-), nyeri tekan (-)
Perkusi
: Sonor/sonor
Auskultasi : Suara nafas vesikuler/vesikuler, Rh -/-, Wh -/Jantung :Inspeksi : ictus cordis (-), voussure cardiac (-)
Palpasi
: ictus cordis tidak kuat angkat, thrill/fremissment (-)
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi
: S1S2 Tunggal, Murmur -, gallop
Abdomen : Inspeksi
: Flat, tanda-tanda radang (-) Bekas operasi (+)
Palpasi
: Soefl. H/L ttb. Nyeri tekan epigastrium +
Perkusi
: Tympani
Auskultasi
: BU + N
Extermitas : Akral hangat, kering, merah; anemis -, ikterus -, edema -

Pemeriksaan Laboratorium
Darah Lengkap :
Lekosit 11,7 103/uL
- Neutropil 78%
Limposit 19,9 %
- Monosit 3,2 /Eosinopil 0 % /Basofil 0 %
Eritrosit 3,69 106/uL
- Hb 9 g/dL
Hematokrit 29,1 %
- MCV 78,90 fl/ MCH 24,40 pg/ MCHC 24,40 g/dL
RDW 15 %
- Trombosit 249 103/uL
MPV 7 fl
- LED 1/2 jam 46/92
SE : K 2.79 mEq | Cl 102 mEq | Na 142 mEq
SGOT 13 U/L | SGPT 12 U/L
GDA 102 mg/dl
Hbs Ag (Rapid)
Urin Lengkap
Glukosa
Keton Darah Protein ++
Nitrit
Bakteri +
Cylinder Eritrosit
Epitel + 9-10
Hyaline
Kristal Amorf Urat
Kristal Uric Acid
Parasit Urine -

-Bilirubin
-SG 1,010
-pH 6,5
-Urobilin
-Lekosit +
-Cast
-Cylinder Lekosit
-Eritrosit Urine
-Jamur Urine
-Kristal Ca Oksalat
-Lekosit Urine + 1-2/lpb

Diagnosis
P1001 A/T/H
Eclampsia post partum
Hypokalemia
Papiledema
Terapi
1. inf. RL 1500cc/24 jam
2. Inj. SM maintenance 40% 10 gr boka/boki ulang per 6 jam 5 gr boka
3. Inj. Dexa 3x1 amp iv
4. as. Mefenamat 3x500 mg po
5. Elkana tab 1x1 po
Monitoring
Vital Sign (TD, nadi, suhu, RR)
Kejang berulang
Post SC: Kala IV, perdarahan per vaginam, luka operasi
Prognosis
Dubia ad bonam

Tangga
Subjective
l
23/01/ Kejang
16
Pandangan kabur
+
Mual Muntah+

Objective

Vital sign
TD: 131/88 N: 78 T:
37.3
k/l: a-/- i-/- c-/-dtho: cor/ SiS2 tunggal
m- gpulmo/ ves|ves, rh-|wh-|abd: flat, soefl, nyeri
luka op =
ext: akral hkm, ed -|24/01/ Kejang
Vital sign
16
Pandangan kabur TD: 125/75 N: 81 T:
+
37.2
Mual Muntahk/l: a-/- i-/- c-/-dtho: cor/ SiS2 tunggal
m- gpulmo/ ves|ves, rh-|wh-|abd: flat, soefl, nyeri
luka op =
ext: akral hkm, ed -|c/mata Funduskopi:
Papiledema

Assesment

Planning

P1001
Eclampsia post
partum

1. Inf. Asering
1500cc/24 jam
drip SM 40%
2. Inj. Dexa 3x1 amp
iv
3. as. Mefenamat
3x500 mg po
4. Elkana tab 1x1 po
5. Konsul mata

P1001
Eclampsia post
partum
Papil edem

1. Inj. Dexa 3x1 amp


iv
2. as. Mefenamat
3x500 mg po
3. Elkana tab 1x1 po

TINJAUAN
PUSTAKA

Eklampsia post partum adalah eclampsia yang terjadi 48 jam setelah proses
kelahiran namun kurang dari 4 minggu (Sibai, 2006). Kejadian eklampsia
post partum dahulu belum dipercayai dapat terjadi lebih dari 48 jam setelah
bayi lahir, namun beberapa laproran mengkonfirmasi adanya late postpartum eclampsia ini. Pasien dengan eklampsia post partum ini memiliki
gejala dan tanda yang sama dengan preeclampsia dengan munculnya
kejang.

Eklampsia
Eklampsia
gravidarum
(antepartum)

Eklampsia
partuirentum
(intrapartum)

Eklampsia
puerperale
(postpartum),

Eklampsia banyak terjadi pada trimester terakhir dan semakin


meningkat saat mendekati kelahiran. Pada kasus yang jarang,
eklampsia terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu. Sektar
75% kejang eklampsia terjadi sebelum melahirkan, 50% saat 48 jam
pertama setelah melahirkan, tetapi kejang juga dapat timbul setelah 6

teori iskemia
plasenta,
radikal bebas,
dan disfungsi
endotel,
teori
intoleransi
imunologik
antara ibu dan
janin

teori adaptasi
kardiovaskula
r
teori
inflamasi,
teori
defisiensi
gizi,
teori genetik

Gejala Klinis
Ibu dalam 48 jam sesudah persalinan yang mengeluh nyeri kepala
hebat, penglihatan kabur dan nyeri epigarstik perlu dicurigai adanya
preeklampsi berat atau preeklampsi pasca persalinan
Gerakan kejang biasanya dimulai dari daerah
mulut sebagai bentuk kejang di daerah
wajah.
Seluruh tubuh menjadi kaku karena kontraksi otot yang
menyeluruh, fase ini dapat berlangsung 10 sampai 15 detik.
Pada saat yang bersamaan rahang akan terbuka dan tertutup
dengan keras
Fase ini dapat berlangsung sampai satu menit, kemudian secara
berangsur kontraksi otot menjadi semakin lemah dan jarang

Stadium Invasi (awal atau aurora)


Mata terpaku dan terbuka tanpa melihat, kelopak mata dan tangan
bergetar, kepala dipalingkan kekanan atau kiri. Stadium ini berlangsung
kira-kira 30 detik

Stadium Kejang Tonik


Seluruh otot badan kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki
membengkok kedalam; pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan
sianosis, lidah dapat tergigit. Stadium ini berlangsung kira-kira 20-30 detik

Stadium Kejang Klonik


Semua otot berkontraksi berulang-ulang dalam waktu yang cepat.Mulut
terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat terigigit.Mata
melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis.Setelah berlangsung
selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar,
menarik nafas seperti mendengkur.

Stadium Koma
Lamanya ketidaksadaran (koma) ini berlangsung selama beberapa menit
sampai berjam-jam.Kadang-kadang antara kesadaran timbul serangan
baru dan akhirnya ibu tetap dalam keadaan koma. Selama serangan
tekanan darah meninggi, nadi cepat dan suhu naik sampai 400C

Diagnosis Banding
1. Epilepsi
Pada anamnesis pasien epilepsi akan
didapatkan episode serangan sejak sebelum
hamil atau pada hamil muda tanpa tanda
preeklampsia.
2. Kejang karena obat anestesi
Apabila obat anestesi lokal disuntikkanke dalam
vena, kejangbaru timbul.
3. Koma karena sebab lain, seperti
diabetesmelitus, perdarahan otak, meningitis,
ensefalitis,dan lain-lain

Tatalaksana

Prinsip penatalaksanaan pada eklampsia memiliki prinsip


sebagain berikut:
Obat anti kejang
Pemberian MgSO4 melalui intravena secara kontinyu sesuai
dengan pengelolaan preeklamsi berat (menggunakan infusion
pump).
Dosis awal :
4 gram ( 20 cc MgSO4 20% dilarutkan dalam 100 cc ringer laktat,
diberikan selama 15-20 menit).
Dosis pemeliharaan :
gram ( 50 cc MgSO4 20% ) dalam 500 cc cairan RL.
Diberikan dengan kecepatan 1-2 gram/jam (20-30
tetes per menit).
Pemberian melalui intramuskuler secara berkala
Dosis awal: 4 gram MgSO4 (20cc MgSO4 20 %) diberikan
secara i.v dengan kecepatan 1 gram/menit.

Obat-obat suportif :
Diuretikum, tidak diberikan kecuali bila ada :
Edema paru
Payah jantung kongestif
Edema anasarka

Obat-obat Antihipertensi diberikan bila Tekanan


darah sistolik 180 mmHg, diastolik
110mmHg. Obat antihipertensi yang diberikan
:

Obat pilihan adalah hidralazin


5 mg i.v. pelan-pelan selama 5 menit. Dosis dapat
diulang dalam waktu 15-20 menit sampai tercapai
tekanan darah yang diinginkan, yaitu penurunan MAP
sebanyak 20% dari awal.

Pasien yang mengalami kejang-kejang secara


berturutan (status konvulsivus), diberikan pengobatan
sebagai berikut :

Suntikan Benzodiazepin 1 ampul (10 mg) i.v. perlahan-lahan.


Bila pasien masih tetap kejang, diberikan suntikan ulang.
Benzodiazepin i.v. setiap jam sampai 3 kali berturut-turut.
Selain Benzodiazepin, diberikan juga Phenitoin (untuk
mencegah kejang ulangan) dengan dosis 3 x 300 mg (3
kapsul) hari pertama, 3 x 200 mg (2 kapsul) pada hari
kedua, dan 3 x 100 mg (1 kapsul) pada hari ketiga dan
seterusnya.
Apabila setelah pemberian Benzodiazepin i.v. 3 kali berturutturut pasien masih tetap kejang, maka diberikan tetes
valium (Diazepam 50 mg/5 ampul di dalam 250 cc NaCl 0.9
%) dengan kecepatan 20-25 tetes/menit selama 2 hari.

Perawatan pasien dengan koma :


Rawat bersama dengan Bagian Saraf :
Diberikan infus cairan Manitol 20 % dengan cara : 200 cc
(diguyur), 6 jam kemudian diberikan 150 cc (diguyur), 6
jam kemudian 150 cc lagi (diguyur). Total pemberian 500
cc sehari. Pemberian dilakukan selama 5 hari.
Dapat juga diberikan cairan gliserol 10 % dengan
kecepatan 30 tetes/menit selama 5 hari.
Dapat juga diberikan Dexamethason i.v. 4 x 8 mg sehari,
yang kemudian di tappering of.
Monitoring kesadaran dan dalamnya koma dengan
memakai Glasgow-Pittsburgh-Coma Scale.
Pada perawatan koma perlu diperhatikan pencegahan
dekubitus.
Pada koma yang lama, pemberian nutrisi melalui NGT (Naso
Gastric Tube).

PEMBAHASAN
Pasien datang ke UGD RSML dengan keluhan kejang Pasien kejang
sejak 2 jam SMRS, di IGD pasien kejang sebanyak 5x. Saat kejang paien
tidak sadar sekitar 5 menit, seluruh badan kaku, lidah kaku, mata
melirik ke atas. Di antara kejang pasien sadar, mengeluh pandangan
gelap, kepala dirasakan pusing tidak berputar, mual, tidak didapatkan
muntah, dan nyeri perut bawah. Riwayat trauma disangkal, keluhan
lemah separoh badan disangkal, riwayat kejang sebelumnya disangkal.
Sebelumnya pasien mengeuh nyeri kepala 6 jam SMRS. Post SC di
RSUD 2 minggu yang lalu (8 Jan 2016).

Pada pasien ini tanda-tanda eklamsia mulai terjadi pada


minggu kedua postpartum dengan munculnya gejala kejang
tonik-klonik pada seluruh badan. Meskipun kejang dapat diatasi
namun kejadian eklamsi masih tetap berlanjut sampai minggu
keempat postpartum dengan tanda-tanda nyeri kepala, mual
dan muntah, pandangan kabur dan bingung. Adanya tandatanda tersebut perlu dicurigai adanya late postpartum
eclampsia. Perkembangan eklamsia postpartum dapat terjadi 34 minggu setelah kelahiran.

Beberapa peneliti menyebutkan 50% kejang terjadi


antepartum, 25% intrapartum, dan 25% postpartum.
Peneliti lain menyebutkan hasil yang berbeda bahwa
kejang pada eklamsia terjadi 64% postpartum, 38%
antepartum, dan 18% intrapartum. Eklamsia post
partum dapat terjadi karena pada saat itu level
substansi konstriktor yang dilepaskan oleh plasenta
akan menurun sehingga akan terjadi overperfusi darah
serebral.
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa eklampsia banyak terjadi pada
ibu yang kurang mendapatkan pelayanan ANC yaitu sebesar 6,14%
dibandingkan dengan yang mendapatkan ANC sebesar 1,97%. Studi case
control di Kendal menunjukkan bahwa penyebab kematian ibu terbesar
(51,8%) adalah perdarahan dan eklampsia. Kedua penyebab itu sebenarnya
dapat dicegah dengan pelayanan antenatal yang memadai atau pelayanan
berkualitas dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan.

Pemberian magnesium sulfat pada pasien ini dapat berfungsi sebagai


pencegahan kejang dan mencegah rekurensi kejang pada eklamsia. Beberapa
penelitian oleh Duley dkk. menunjukkan bahwa magnesium sulfat merupakan
pilihan utama untuk mencegah eklamsia. Magnesium sulfat lebih efektif
daripada diazepam untuk terapi dan pencegahan eklamsia.

Dibandingkan dengan fenitoin, magnesium sulfat juga lebih


efektif untuk terapi eklamsia dan dapat mengurangi rekurensi kejang
pada eklamsia. Mekanisme kerja magnesium sulfat adalah dengan
memblok reseptor NMDA yang berperan pada terjadinya kejang, atau
memblok pintu kalsium yang diperlukan untuk kontraksi otot polos
vaskuler sehingga dapat dipergunakan untuk mencegah vasospasme
pada eklamsia.

Data menunjukkan bahwa efek dilatator pembuluh darah sistemik


lebih prominen daripada vasodilatator serebralnya sehingga akan
menurunkan tekanan perfusi serebral yang akan mencegah terjadinya
udem serebri. Efek inilah yang membuat magnesium sulfat penting
dalam mekanisme penekanan kejang. Beberapa penelitian oleh Duley
dkk. menunjukkan bahwa magnesium sulfat merupakan pilihan utama
untuk mencegah eklamsia. Magnesium sulfat terbukti lebih efektif
daripada diazepam untuk terapi dan pencegahan eklamsia.

Untuk prognosis pada pasien ini adalah dubia at bonam, karena menurut
Kriteria Eden, yaitu kriteria untuk menentukan prognosiseklampsia. Kriteria
Eden antara lain:
1. koma yang lama (prolonged coma)
2. nadi diatas 120
3. suhu 39,4C atau lebih
4. tekanan darah di atas 200 mmHg
5. konvulsi lebih dari 10 kali
6. proteinuria 10 g atau lebih
7. tidak ada edema, edema menghilang
Bila tidak ada atau hanya satu kriteria di atas, eklampsia masuk ke
kelas ringan; bila dijumpai 2 atau lebih masuk ke kelas berat dan prognosis
akan lebih buruk. Tingginya kematian ibu dan bayi di negara-negara
berkembang disebabkan oleh kurang sempurnanya pengawasan masa
antenatal dan natal. Penderita eklampsia sering datang terlambat sehingga
terlambat memperoleh pengobatan yang tepat dan cepat.

Kebuataan dapat terjadi setelah kejang atau dapat terjadi spontan


bersama dengan preeklampsia. Ada dua penyebab kebutaan, yaitu : a.
Ablasio retina, yaitu lepasnya retina yang ringan sampai berat. b. Iskemia
atau infark pada lobus oksipitalis. Prognosis untuk kembalinya penglihatan
yang normal biasanya baik, apakah itu yang disebabkan oleh kelainan retina
maupun otak, dan akan kebali normal dalam waktu satu minggu.