Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam segala bidang berpengaruh terhadap
meningkatnya krisis masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan terutama pelayanan
kebidanan. Menjadi tantangan bagi profesi bidan untuk mengembangkan kompetensi dan
profesionalisme dalam menjalankan praktik kebidanan serta dalam memberikan
pelayanan kebidanan berkualitas.
Sikap etis profesional bidan akan mewarnai dalam setiap langkahnya, termasuk dalam
mengambil keputusan dalam merespon situasi yang muncul dalam asuhan. Pemahaman
tentang etika dan moral menjadi bagian yang fundamental dan sangat penting dalam
memberikan asuhan kebidanan, dengan senantiasa menghormati nilai-nilai pasien.
1.2.

Rumusan masalah

Adapun dalam makalah ini akan membahas hal-hal berikut


1.

Ciri-Ciri Profesional

2.

Perilaku Etis Profesional

3.

Hak dan Kewajiban Pasien dan Bidan

4.

Etika Pelayanan Kebidanan

5.

Pelaksanaan Etika dalam Pelayanan Kebidanan

6.

Syarat Penelitian Kebidanan

7.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan pada Penelitian Kebidanan

1.3. Tujuan
Dari rumusan masalah diatas kita dapat mengetahui apa itu:
1.

Ciri-Ciri Profesional

2.

Perilaku Etis Profesional

3.

Hak dan Kewajiban Pasien dan Bidan

4.

Etika Pelayanan Kebidanan

5.

Pelaksanaan Etika dalam Pelayanan Kebidanan

6.

Syarat Penelitian Kebidanan

7.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan pada Penelitian Kebidanan

1|Page

BAB II
PEMBAHASAN

Etika merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar atau salah,
kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku. Etika berfokus pada prinsip dan
konsep yang membimbing manusia berfikir dan bertindak dalam kehidupannya dilandasi nilainilai uang dianutnya.
Klarifikasi nilai (values) merupakan suatu proses dimnana seseorang dapat mengerti sistem
nilai-nilai yang melekat pada dirinya sendiri. Merupakan proses yang memungkinkan
seseorang menemukan sistem perilakunya sendiri melalui perasaan dan analisis yang dipilihnya
dan muncul alternatif-alternarif, apakah pilihan-pilhan ini yang sudah dianalisis secara rasional
atau merupakan hasil dari suat kondisi sebelumnya (Steele dan Harmon, 1983). Ada 3 fase
dalam klarifikasi nila-nilai yang perlu dipahami oleh bidan.
Pilihan
1)

Kebebasan memilih kepercayaan serta menghargai keeunikan individu

2)

Perbedaan dalam keyataan hidup selalu ada, asuhan yang diberikan bukan hanya karena

martabat seseorng tetapi hendaknya prlauan yang diberikan mempertimbangkan sebagaimana


kita ingin diperlakukan
3)

Keyakinan bahwa penghormatan terhadap martabat seseorang akan merupakan

konsekuensi terbaik bagi semua masyarakat


Penghargaan
1)

Merasa bangga dan bahagia dengan pilihannya sendiri (anda akan merasa senang bila

mengetahui asuhan yang anda berikan dihargai pasien atau klien serta sejawat serta suppervisor
memberikan pujian atas keterampilan hubungan interpersonal yang terjadi)
2)

Dapat mempertahankan nilai-nilai tersebut bila ada seseorang yang tidak bersedia

memperhatikan martabat manusia sebagaimana mestinya.


Tindakan
1)

Gabungan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan atau pekerjaan sehari-hari

2)

Upayakan selalu konsisten untuk menghargai martabat manusia dalam kehidupan pribadi

dan profesional, sehingga timbul rasa sensitif atas tindakan yang dilakukan. Semakin disadari
nilai-nilai moral yang dilakukan serta selalu konsisten untuk mempertahankannya.
2.1.

Ciri-Ciri Profesional

1.

Menurut T. Raka Joni, 1980 adalah sebagai berikut:

a.

Menguasai visi yang mendasari keterampilan.

b.

Mempunyai wawasan filosofi.

2|Page

c.

Mempunyai pertimbangan rasional.

d.

Memiliki sifat yang positif serta mengembangkan mutu kerja.

2.

Menurut CV. Good

a.

Memerlukan persiapan dan pendidikan khusus bagi pelaku

b.

Memiliki kecakapan fungsional sesuai persyaratan yang telah dibakukan (organisasi

profesi, pemeintah).
c.

Mendapat pengakuan dari masyarakt dan pemerintah.

3.

Menurut Scien EH

a.

Terikat dengan pekerjaan sumur hidup.

b.

Mempunyai motivasi yang kuat atau panggilan sebagai landasan pemilihan kariernya dan

mempunyai komitmen seumur hidup


c.

Memiliki kelompok ilmu pengetahuan dan keterampilan khusus melalui pendidikan dan

pelatihan.
d.

Mengambil keputusan demi kliennya, berdasarkan aplikasi prinsip-prinsip dan teeori.

e.

Berorientasi pada pelayanan mennggunakan keahlian demi kebutuhan klien.

f.

Pelayanan yang diberikan kepada klien berdasarkan kebutuhan klien.

g.

Lebih mengetahui apa yang baik untuk klien mempunyai otonomi dalam mempertahankan

tindakannya.
h.

Membentuk perkumpulan profesi peraturan untuk profesi.

i.

Mempunyai kekuatan status dalam bidang keahliannya, pengetahuan mereka dianggap

khusus.
j. Tidak diperbolehkan mengadakan advertensi klien.
2.2.

Perilaku Etis Profesional

Bidan harus memiliki kqmitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan kebidanan yang
berkualitas berdasarkan standar perilaku etis dalam peraktik asuhan kebidanan. Pengetahuan
tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan bidan dan berlanjut pada forum atau kegiatan
ilmiah baik formal atau nonformal dengan teman, sejawat, profesi lain maupun masyarakat.
Salah satu perilaku etis adalah bidan menampilkan perilaku pengambilan keputusan yang etis
dalam membantu masalah klien. Dalam membantu pemecahan masalh ini bidan menggunakan
dua pendekatan dalam asuhan kebidanan, yaitu:
1)

Pendekatan berdasarkan prinsip

Pendekatan berdasarkan prinsip sering dilakukan dalam etika kedokteran atau kesehatan untuk
menawarkan bimbingan tindakan khusus. Menurut Beauchamp Childress, kesehatn meliputi:

3|Page

1. Tindakan sebaiknya mengarah sebagai penghargaan terhadao kapasitas otonomi setiap


orang.
2. Tindakan sebaiknya mengarah sebagai penghargaan terhadao kapasitas otonomi setiap
3.

orang.
Dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala

konsekuensinya.
4. Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi.
2)

Pendekatan berdasarkan asuhan atau pelayanan

Bidan memandang care atau asuhan sebagai dasar dan kewajiban moral. Hubungan dengan
bidan dengan pasien merupakan pusat pendekatan berdasarkan asuhan, memberikan perhatian
khusus kepada pasien. Perspektif asuhan memberikan arah dengan cara bagaimana bidan dapat
berbagai waktu untuk duduk bersama dengan pasien atau sejawat, merupakan suatu
kebahagiaan bila didasari etika.
Perspektif asuhan meliputi:
1.

Berpusat pada hubungan interpersonal dalam asuhan;

2.

Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau ibu sebagai

manusia;
3.

mau mendengarkan dan mengelola saran-saran dari orang lain sebagai dasar yang

mengarah pada tamggung jawab profesional;


4.

Meningkatkan kembali arti tanggung jawab moral yang meliputi kebijakan seperti

kebaikan, kepedulian, empati, perasaan kasih sayang, menerima kenyataan (Taylor 1993).
Bidan dalam memberikan asuhan kebidanan dalam praktik kebidanan perlu meningkatkan:
1.

Loyalitas staf atau kolega adalah memegang teguh komitmen terutanma kepada pasien

2.

prioritas utama terhadap pasien dan keluarganya

3.

Bidang peduli terhadap otonomi pasien, bidang harus memberikan informasi yang akurat,

menghormati dan mendukung hak pasien dalam mengambil keputusan.


Ada beberapa unsur pelayanan prifesional:
a.

Pelayanan yang berlandaskan sikap dan kemampuan profesional

b.

Ditujukan untuk kepentingan yang menerima

c.

Pelayanan yang diberikan serasi dengan pandangan dan keyakinan profesi

d.

Memberikan perlindungan bagi anggota profesi

Bidan harus menampilkan perilaku profesional, adapun kriteria-kriteria perilaku profesional


adalah sebagai berikut;
a.

Bertindak sesuai dengan keahliannya dan didukung oleh pengetahuan dan pengalaman

serta keterampilan
b.

Bermoral tinggi

c.

Berlaku jujur, baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri

d. Tidak melakukan tindakan coba-coba yang tidak didukung ilmu pengetahuan profesi
e.

Tidak memberikan janji yang berlebihan


4|Page

f. Tidak melakukan tindakan yang semata-mata didorong oleh pertimbangan komersial


g.

Memegang teguh etika profesi

h.

Mengenali batas-batas kemampuan

i.

Menyadari ketentuan hukum yang membatasi geraknya

2.3.
1.

Hak dan Kewajiban Pasien dan Bidan


Hak pasien

Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien:
a.

Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di

rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan.


b.

Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawiadil dan makmur

c.

Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa

diskriminasi.
d.

Pasien berhak memperoleh asuhan kebidanan sesuai dengan profesi bidan tanpa

diskriminasi.
e.

Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya sesuai dengan keinginannya.

f.

Pasien berhak mendapatkan informasi yang meliputi kehamilan persalinan, nifas dasn

bayinya yang baru dilahirkan.


g.

Pasien berhak mendapat pendampingan suami selama proses persalinan berlangsung.

h.

Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai

dengan peraturaan yang berlaku di rumah sakit


i.

Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat kritis dan

mendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.


j.

Pasien berhak meminta atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang dideritanya,

2.

Kewajiban pasien

a.

Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tata tertib rumah

sakit atau institusi pelayanan kesehatan.


b.

Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi, dokter, bidan, perawat yang

merawatnya.
c.

Pasien atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua inbalan atas jasa

pelayanan rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan, dokter, bidan dan perawat.
d.

Pasien dan atau penanggungnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang selalu disepakati/

perjanjian yang telah dibuatnya.

3.

Hak bidan

a.

Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan

profesinya.
5|Page

b.

Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada setiap tingkat / jenjang

pelayanan kesehatan.
c.

Bidan berhak menolak keinginan pasien atau klien dan keluarga yang bertentangan dengan

peraturan perundangan, dan kode etik profesi.


d.

Bidan berhak atas privasi / kedirian dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan .

e.

Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai,

baik melalui pendidikan maupun pelatihan.


f.

Bidan berhak atas kesempatan untukmeningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.

g.

Bidan berhak mendapat kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai.

4.

Kewajiban bidan

a.

Bidan wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan hubungan hukum antara bidan

tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia bekerja.
b.

Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai standar profesi dengan

menghormati hak-hak pasien.


c.

Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang mempunyai kemampuan

dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien.


d.

Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk didampingi oleh suami atau

keluarga.
e.

Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalani ibadaah sesuai

dengan keyakinannya.
f.

Bidan wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien.

g.

Bidan wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan yang akan dilakukan

serta resiko yang mungkin dapat timbul.


h.

Bidan wajib meminta persetujuan tertulis (informad consent) atas tindakan yang akan

dilakukan.
i.

Bidan wajib mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan.

j.

Bidan wajib mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menambah

ilmu pengetahuannya melalui pendidikan formal atau non formal.


k.

Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secara timbale bailk

dalam memberikan asuhan kebidanan.


2.4.

Etika Pelayanan Kebidanan

Pelayanan kebidanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan.
Pelayanan kebidanan tergantung bagaimana struktur social budaya masyarakat dan termasuk
kondisi social ekonomi, social demografi.
Pelayanan kebidanan meliputi aspek biopsikososial spiritual dan cultural. Pasien memrlukan
bidan yang mempunyai karakter sebagai berikut: semangat melayani, simpati, empati, ikhlas,
6|Page

member kepuasan.
Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan dan dapat memuaskan setiap
pemakai jasa pelayanan kebidanan serta peyelenggaraannya sesuai kode etik dan standar
pelayanan profesi yang telah ditetapkan
Ukuran pelayanan kebidanan yang bermutu:
a.

Ketersediaan pelayanan kebidanan

b.

Kewajaran pelayanan kebidanan

c.

Kesinambungan pelayanan kebidanan

d.

Penerimaan jasa pelayanan kebidanan

e.

Ketercapaian pelayanan kebidanan

f.

Keterjangkauan pelayanan kebidanan

g.

Efisiensi pelayanan kebidanan

h.

Mutu pelayanan kebidanan

2.5.

Pelaksanaan Etika dalam Pelayanan Kebidanan

Pelayanan kebidanan disuatu institusi memiliki norma dan budaya yang unik. Setiap institusi
pelayanan memiliki norma sendiri dalam memberikan pelayanan kebidanan yang terdiri dari
beberapa praktisi atau profesi kesehatan. Walaupun demikian subjek pelayanan hanya satu,
yaitu manusia atau individu. Sehingga setiap indiividu harus jelas batas wewenangnya. Area
kewenangan bidan tertuang dalam Kepmenken 900/ Menkes/ SK/ VII/2002 tentang registrasi
dan praktik bidan. Mengenai kejelasan peran bidan diatur dalam standar praktik kebidanan dan
standar pelayanan kebidanan.
1.

Etika dalam pelayanan kontrasepsi

Dalam merencanakan jumlah anak, seorang ibu telah merundingkan dengan suami dan telah
menetapkan metode kontrrasepsi yang akan digunakan. Sehingga keputusan untuk kontrasepsi,
merupakan hak klien dan berada di luar kompetensi bidan. Jika klien belum mempunyai
keputusan karena disebabkan ketidaktahuan klien tentang kontrasepsi, maka menjadi
kewajiban bidan untuk memberikan informasi tentang kontrasepsi. Yang dapat dipergunakan
klien, dengan memberikan informasi yang lengkap mengenai alat kontrasepsi dan beberapa
alternative sehingga klien dapat memilih sesuai dengan pengetahuan dan keyakinannya.
Bidan sebagai konselor dalam pelayanan kontrasepsi harus memiliki kemampuan teknik
konseling, pengetahuan tentang alat kontrasepsi dan pemakaiannya, indikasi, kontra indikasi,
serta efek sampingnya. Klien atau ibu sebagai calon ekseptor tidak boleh dipaksa oleh bidan
sebagai provider, namun pengambilan keputusan klien untuk menggunakan salah satu alat
kontrasepsi merupakan pilihan klien sendiri, setelah memahami mengenai alat kontrasepsi.
Pemilihan alat kontrasepsi merupakan hak klien dan suami untuk merencanakan pengaturan
kelahiran mereka.
7|Page

Tujuan konseling kontrasepsi, adalah:


a. Agar calon ekseptor mampu memahami manfaat KB bagi diri dan keluarganya.
b.

Calon ekseptor mempunyai pengetahuan yang baik tentang alas an menggunakan KB dan

segala hal yang berkaitan dengan kontrasepsi.


Bidan sebagai konselor harus harus memiliki kepribadian sebagai berikut:
a.

Minat untuk menolong orang lain.

b.

Mampu untuk empati.

c.

Menjadi pendengar yang aktif dan baik.

d.

Mempunyai pengamatan yang tajam.

e.

Terbuka terhadap pendapat orang lain.

f.

Mampu mengenali hambatan psikologis sosial dan budaya.

Langkah-langkah pelakssanaan konseling meliputi:


a.

Menciptakan suasana dan hubungan saling percaya.

b.

Menggali permasalahan yang dihadapi calon akseptor.

c.

Memberikan penjelasan disertai penunjukan alat-alat kontrasepsi.

Setelah klien memutuskan memilih salah satu alat kontrasepsi, bidan menyiapkan informed
consent secara tertulis. Bidan harus bersikap netral dalam memberikan konseling konrasepsi.
Perlu diingat bahwa belum adanya alat kontrasepsi yang aman dan efektif tanpa efek samping,
juga perlu diingat bahwa pemakaian kontrasepsi berhubungan dengan keyakinan atau agama
masing-masing klien yang harus dihargai. Sangat diper;ukan penjelasan mengenai keuntungan,
indikasi, kontra indikasi dan efek samping pemakaian kontrasepsi karena berhubungan dengan
kesehatan klien. Informed consent dalam pemilihan alat kontrasepsi sebaiknya dilakukan
secara tertulis dan melibatkan suami, karena mengingat dalam hak reproduksi bahwa;
merupakan hak suami dan isteri untuk menentukan jumlah anak dan cara pembatasan
kelahiran.
2.

Etika dalam penelitian kebidanan

Menurut kode etik bidan internasional adalah bidan seharusnya meningkatkan pengetahuannya
melalui berbagai proses seperti dari pengalaman pelayanan kebidanan dan dari riset kebidanan.
Riset dan diseminasinya menjadi tanggung jawab bidan. Tuntutan masyarakat tentang mutu
pelayanan kebidanan makin tinggi, karena semakin majunya jaman, dan kita memasuki era
globalisasi, akses informasi bagi masyarakat juga semakin meningkat.
Beberapa waktu yang lalu praktik kebidanan masih banyak berdasarkan kebiasaan atau
dogma, dulu saya diajarkan begitu , atau biasanya seperti ini, dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi kebidanan praktik yang seperti itu tidak dilaksanakan lagi, tetapi
dituntut praktek profesional berdasarkan evidence based atau hasil penelitian. Bidan mungkin
8|Page

banyak terlibat dalam penelitian baik sebagai sbjek maupun objek penelitian, demi kepentingan
melindungi pasien, institusi tempat praktek dan diri sendiri. Bidan wajb mendukung penelitian
yang bertujuan memajukan ilmu pengetahuan kebidanan. Bidan harus siap untuk mengadakan
penelitian dan siap untuk memberikan pelayanan berdasarkan hasil penelitian
Pada dasarnya penelitian bertujuan untuk:
1)

Memajukan ilmu pengetahuan dalam kaitan untuk meningkatkan pelayanan,

2)

Kemajuan dalam bidang penelitian itu sendiri.

Menurut Helsinski prinsip dasar penelitian yang mengambil objek manusia harus memenuhi
ketentuan:
a.

Bermanfaat bagi manusia.

b.

Harus sesuai dengan prinsipn ilmiah dan harus didasarkan pengetahuan yang cukup dari

dukungan kepustakaan ilmiah.


c.

Tidak membahayakan objek (manusia) peneitian itu (diatas kepentingan yang lain).

d. Tidak merugikan atau menjadi beban baik waktu, materi maupun secara emosi dan
psikologis.
e.

Harus selalu dibandingkan rasio untung-rugi-resiko. Maka dari itu penelitian tidak boleh

ada faktor eksploitasi, atau merugikan nama baik objek penelitian.


Issue etik dalam penelitian kebidanan, meliputi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
a. Apa topik penelitian?
Penelitian untuk menjawab pertanyaan dan menemukan jawaban dari pertanyaan dengan
langkah yang sistematik dan objektif. Beberapa penelitian seharusnya dimulai dengan asumsi
implisit, bahwa penelitian tersebut bernilai bagi seseorang. Penelitian kebidanan sering
meliputi aspek tingkah laku dan gaya hidup individu. Sebagai contoh misalnya perilaku sex,
ketergantungan obat, AIDS dan sebagainya.
b.

Siapa yang melaksanakan penelitian dan siapa yang membiayai?

Apakah penelitian dilaksanakan oleh bidan sendiri? Atau apakah melibatkan surveyor?
Sebaiknya ada badan yang mengatur pelaksanaan penelitian dalam kebidanan.
c.

Siapa yang akan memperoleh keuntungan dari penelitian termasuk konsekuens atau

efeknya?
Hal ini menjawab segi kemanusiaan dan pengembangan ilmu kesehatan. Bagaimana penelitian
tersebut berdampak pada hal yang lebih luas, yaitu pengembangan ilmu kebidanan.
d.

Bagaimana penatalaksanaan partisipan?

Partisipan sering disebut juga subjk penelitian. Bagaimana melindungi haknya dan menjamin
kesejahteraannya. Problem utama etik penelitian kebidanan berhubungan dengan issue
informed consent. Sehingga partisipan tahu, merasa bebas, rasional, setuju, dan berperan serta
9|Page

dalam penelitian. Informed consent merupakan hal utama dalam segi hal etika penelitian.
Segala resiko yang terjadi akibat penelitian harus dijelaskan dan dipahami. Prosedur dalam
penelitian harus dijelaskan selengkap mungkin dan kemungkinan yang terjadi, kalau pelu
didiskusikan.
e.

Bagaimana dengan arah dari penelitian?

Ada dua metodologi penelitian dasar dalam kebidanan, yaitu penelitian kualitatif dan penelitian
kuantitatif. Sebagai contoh bidan meneliti tentang wawasan klien tentang pikiran dan
perasaannya, mengenai tindakan episiotonomi, kemudian bagaimana pengalaman psikologi dan
emosional seseorang dalam persalinan. Menurut Lydon Rochelle dan Albers bahwa 67%
penelitian kebidanan menggunakan pendekatan deskriptif. Maka perlu dikembangkan kembali
penelitian kebidanan dengan pendekatan pengembangan praktik, atau yang bersifat aplikatif.
f.

Bagaimana penelitian disebarluaskan atau diseminasikan?

Penelitian dalam bkebidanan adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik kebidanan.
Kemuudian menjadi tanggung jawab moral antara peneliti untuk melaporkan dan praktisi
kebidanan untuk mengevaluasi. Peneliti mempunyai tanggung jawab untuk menjamin apakah
yang dipublikasikan adalah angka yang nyata dan jujur dari hasil penelitian. Hasil penelitian
seharusnya diinterpretasi secara objektif sejauh mungkin dan kesimpulannya tidak
dimanipulasi. Adalah penting bagi peneliti untuk mempertahankan hak melaporkan data secara
akurat, meskipun ada penelitian yang disponsori, sehingga hasilnya tidak bersifat subjektif,
karena kepentingan sponsor.
2.6.
1.

Syarat Penelitian Kebidanan


Sukarela/ voluntary

Penelitian harus bersifat sukarela/ voluntary, tidak ada unsure paksaan atau tekanan secara
langsung maupun tidak langsung atau adanya unsure ingin menyenangkan atau adanya
ketergantungan. Untuk menjamin kesukarelaan pasien sebagai objek penelitian, maka
diperlukan informed consent. Apabila yang diteliti tidak kompeten mengambil keputusan,
misalnya bayi atau anak, orang cacat mental, atau tidak sadar, maka harus mendapatkan ijin
dari keluarga terdekat yang berhak mewakili objek penelitian tersebut.
2.

Informed consent penelitian

Setiap profesi perlu mengatur anggotanya, bahwa dalam mengadakan penelitian, peneliti wajib
menjelaskan sejelas-jelasnya kepada objek penelitian. Selain itu peneliti perlu diyakinkan
bahwa informasi yang diberikan sudah kuat, juga perlu adanya pemahaman yang kuat dari
objek penelitian.

10 | P a g e

3.

Kerahasiaan

Dalam penelitian tidak boleh membuka identitas objek penelitian baik individu, kelompok
maupun institusi. Hal ini untuk kepentingan privacy atau kerahasiaan, nama baik dan aspek
hukum dan psikologis, secara langsung atau tidak langsung atau efeknya dikemudian hari.
Adanya jaminan kerahasiaan dari responden dapat memberikan rasa aman dan akan
meingkatkan keabsahan data yang diberikan.
4.

Privacy

Penelitian seharusnya tidak mengganggu keleluasaan diri atau privacy dalam hal rasa hormat
dan harga diri, aspek sosial budaya dan tidak mengganggu ketenangan hidup dan keleluasaan
diri atau gerak, hal ini juga berkaitan dengan kerahasiaandan masalah pribadi.
5.

Kelompok rawan

Kelompok rawan meliputi wanita hamil, bayi, anak balita, usia lanjut, orang sakit berat, orang
sakit mental, orang cacat yang tidak kompeten dalam mengambil keputusan, termasuk juga
kelompok minoritas dalam suatu masyarakat. Untuk penelitian pada kelompok tersebut
masalah etika perlu benar-benar diperhatikan agar tidak melanggar hak objek penelitian atau
terjadi eksploitasi dan eksperimen yang melanggar kode etik penelitian.
2.7.
1.

Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan pada Penelitian Kebidanan


Masalah sensitif

Masalah sensitif artinya informasi yang dicari peneliti bisa sangat sensitif dan pribadi, ini dapat
menyangkut perilaku yang menyimpang dari norma masyarakat atau hukum, dan ingin
dirahasiakan oleh yang bersangkutan, misalnya informasi tentang objek penelitian dalam hal
penderita AIDS/ HIV positif, PHS, NAPZA, penyimpangan perilaku seks, kekerasan dalam
rumah tangga dan sebagainya. Penelitian ini beresiko membuka rahasia bagi objek penelitian,
informed consent juga diperlukan untuk kepentingan si peneliti sendiri bila ada tuntutan
pengadilan.
2.

Keahlian peneliti

Untuk penelitian klinik menyangkut manusia tidak boleh bersifat trial (coba-coba), tetapi harus
didasari keilmuan yang kuat dan dilakukan oleh orang yang kompeten ilmunya dan diakui
secara akademiknya dan didukung oleh prinsip ilmiah dan kepustakaan ilmiah yang cukup.

3.

Pemakaian atau prosedur perijinan

11 | P a g e

Untuk melakukan penelitian harus ijin secara tertulis, setelah melalui studi pendahuluan dan
melalui pengkajian proposal penelitian.

12 | P a g e

BAB III
PENUTUP

3.1.

Kesimpulan

Etika merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar atau salah,
kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku. Etika berfokus pada prinsip dan
konsep yang membimbing manusia berfikir dan bertindak dalam kehidupannya dilandasi nilainilai uang dianutnya.
Salah satu perilaku etis adalah bidan menampilkan perilaku pengambilan keputusan yang etis
dalam membantu masalah klien.
Dalam membantu pemecahan masalh ini bidan menggunakan dua pendekatan dalam asuhan
kebidanan, yaitu:
1.

Pendekatan berdasarkan prinsip

2.

Pendekatan berdasarkan asuhan atau pelayanan

Pelayanan kebidanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan.
Pelayanan kebidanan tergantung bagaimana struktur social budaya masyarakat dan termasuk
kondisi social ekonomi, social demografi.
Menurut kode etik bidan internasional adalah bidan seharusnya meningkatkan pengetahuannya
melalui berbagai proses seperti dari pengalaman pelayanan kebidanan dan dari riset kebidanan
3.2.

Saran

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang diharapkan,
karena masih terbatasnya pengetahuan penyusun. Olehnya itu penyusun mengharapkan kritik
dan saran yang sifatnya membangun.

13 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, ME, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan

Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC, 2000.


Tucker,Susan Martin,Standar Perawatan Pasien edisi 5, Jakarta : EGC, 1998.
Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni

Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.


Priguna Sidharta, Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat,

1996.
Chusid, IG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta :
Gajahmada University Press, 1993

14 | P a g e