Anda di halaman 1dari 2

MY NAME IS ANGELINE

(BUT ANGEL DOESNT EXIST WITH ME)

Pagi itu terasa begitu panas. Rasanya kemarau tahun ini, di pulau kecil berpenduduk padat
tempatnya tinggal begitu mengerikan. Seperti layaknya anak-anak lain, ia tak merasa cemas
dengan semua keadaan yang membuat orang dewasa mengeluh tentang ini dan itu. Angeline
namanya. Umurnya hampir menginjak 9 tahun. Ia punya 2 orangtua. Ayah dan ibu kandung
yang sangat mencintainya. Juga ayah dan ibu angkat yang tak kalah mencintainya. Tak ada
yang disembunyikan darinya tentang siapa sebenarnya orang tua kandungnya. Ia benar-benar
paham meskipun dengan umur mudanya.
Ayah dan ibu kandungnya tinggal di pulau seberang tempatnya tinggal sekarang, di sebuah
desa kecil yang hutannya masih sangat alami. Lain halnya dengannya saat ini. Ia tinggal di
tengah hiruk pikuk kota besar yang tak memperdulikan lagi yang namanya kepedulian sosial.
Ayah angkat Angeline adalah seseorang berkewarganegaraan asing dengan harta yang
terbilang cukup untuk menghidupi Angeline bahkan sampai ia dewasa nanti.
Namun, semua kebahagiaan yang ia rasakan perlahan mulai memudar seiring kepergian ayah
angkatnya. Senyum bahagianya, senyum ceria dari seorang malaikat kecil bernama Angeline
itu perlahan tapi pasti mulai memudar. Ia tak secantik dan seceria dulu kata orang.
Pagi ini tak seperti pagi-pagi biasanya. Langit terasa sangat suram meskipun seharusnya
matahari sudah bangun. Angeline mengalunkan langkahnya perlahan penuh keraguan menuju
ke sebuah tempat yang anak-anak lain sebut itu sekolah. Angeline hanya menganggap
bagunan yang ramai dengan canda tawa anak-anak lain itu sebagai tempat perlindungan. Ia
tak tau mengapa, ibu angkatnya yang dulu sangat menyayanginya perlahan berubah. Sifatnya
dan juga belaiannya pun tak sehangat dulu. Angeline mencoba memahami keadaan ibunya,
mungkin ibunya benar-benar kehilangan sosok seorang suami yang sangat ia cintai. Oleh
kerenanya, ia berusaha membantu ibunya dalam segala hal. Mulai dari pekerjaan mengurus
rumah sampai mengurus keperluan ibunya. Kata orang bentuk perhatian seperti itu
merupakan bentuk terima kasih karna mereka telah merawat angeline sejak kecil. Namun
tidak baginya. Ia benar-benar menyayangi ibunya dan tak ingin ibunya berlarut dalam
kesedihan.
Sampailah Angeline digerbang pintu sekolahnya. Tak ada yang memperhatikan keadaannya
kecuali satu guru yang juga bisa disebut kepala sekolah disana. Badan Angeline yang terlihat
begitu kotor menarik perhatiannya. Ia pun melontarkan pertanyaan layaknya seorang guru
pada umumnya. Angeline hanya menjawab singkat lalu pergi menuju kelasnya. Teman
kelasnya yang dulu sangat menyukai Angeline, kini menghindarinya. Akhirnya angeline pun
terkucilkan di tempat yang disebutnya tempat perlindugan itu. Memang tidak ada yang benarbenar melindunginya disana. Tapi setidaknya temboknya tak sedingin tembok kamarnya.
Setidaknya tak ada yang memukulnya atau menyuruhnya mencuci baju saat disana.

Jam di dinding belakang kelasnya sudah menunjukkan pukul 2 siang. Tapi badan Angeline
terasa berat untuk melangkahnkan kaki menuju rumahnya. Bangku yang ia duduki sekarang
terasa begitu nyaman sebagai tempat tidur. Ia menutup matanya perlahan dan terlelap. Tolong
jangan ganggu aku saat ini, batinnya.
Gadis kecil itu bermimpi melihat tiga orang yang sangat terang. Cahanya terlalu menyilaukan
untuk ia dekati. Namun ia tetap berjalan mendekat. Ia tersenyum saat tau bahwa itu ayah
angkat yang ia rindukan selama ini. Terjadi percakapan disana entah apa itu, tapi ayah
angkatnya hanya membelai surai Angeline dan tersenyum. Hangat, sangat hangat. Angeline
benar-benar tidak ingin bangun. Sedangkan 2 orang lainnya sedang mengulurkan tangan
mereka pada Angeline saat ini, rupanya mereka berdua adalah orang tua kandung Angeline.
Wajahnya buram, Angeline bahkan sudah lupa seperti apa rupa keduanya. Mimpi indah itu
pun rusak saat sesosok bertubuh hitam dengan wajah muram membawa ayah angkat Angeline
menjauh darinya. Sedangkan di belakang Angeline, seorang dengan cahanya hitam muncul
dan mendekapnya, Angeline terbangun.
Ia menatap langit yang begitu muram. Benar juga, petir sudah mulai mengalunkan nada
terindahnya serta kilatan-kilatan yang menyilaukan. Ia rindu ayahnya, sangat. Hujan itu pun
turun, Angeline keluar dari kelasnya dan menatap langit. Indah sekali batinnya. Tak seperti
anak-anak lainnya, ia tak boleh larut dalam bermain dengan air yang jatuh dari angkasa ini. Ia
harus segera pulang kalau tak ingin perutnya kosong malam ini.