Anda di halaman 1dari 12

KUMPULAN Bakteri Penyebab Penyakit pada Manusia

Bakteri Penyebab Penyakit Pada Manusia


Salmonella thyposa : menyebabkan penyakit tifus
Shigella dysentriae : menyebabkan penyakit disentri
Vibrio comma : menyebabkan penyakit kolera
Haemophilus influenza : menyebabkan penyakit influenza
Diplococcus pneumoniae : menyebabkan radang paru-paru
Mycobacterium tuberculosis : menyebabkan penyakit TBC
Clostridium tetani : menyebabkan penyakit tetanus
Neiseria meningitis : menyebabkan radang selaput otak
Mycobacterium leprae : menyebabkan penyakit lepra (kusta)
2.

Bakteri Shigella dysenteriae

Shigella merupakan penyebab dari penyakit shigellosis pada manusia,


3.

Bakteri Vibrio comma

Spesies Vibrio kerap dikaitkan dengan sifatpatogenisitasnya pada manusia,


terutama V. cholerae penyebab penyakit kolera
5. Bakteri Diplococcus pneumonia
Penyakit ini menyebabkan radang paru-paru yang disebabkan oleh bakteri
diplococcus pneumeniae. Akibat peradangan alveolus dipenuhi oleh nanah dan
lender sehingga oksigen sulit berdifusi mencapai dararh.
6.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis

Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri penyebab penyakit tuberkulosa.


8. Bakteri Neiseria meningitis
Neiseria meningitidis adalah bakteri penyebab penyakit meningitis
danmeningococcemia. Penyebaran bakteri ini umumnya melalui pernapasan atau
respirasi. meningitidis dapat masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebabkan
pendarahan akibat kerusakan pembuluh darah.

9.

Bakteri Neiseria gonorrhoeae

Kencing nanah atau gonore adalah penyakit menular seksual.


Penyebab : oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalamuretra, leher
rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva).
10. Bakteri Treponema pallidum
Treponema pallidum merupakan salah satu bakteri anggota filum
Spirochaetae. pallidum pallidum yang merupakan penyebabsifilis pada manusia.
11. Bakteri Mycobacterium leprae
Mycobacterium leprae, juga disebut Basillus Hansen, adalah bakteri yang
menyebabkan penyakitkusta (penyakit Hansen).
PADA HEWAN
Bakteri penyebab penyakit pada hewan:No. Nama bakteri
ditimbulkan
1.

Brucella abortus

2.

Streptococcus agalactia

3.

Bacillus anthracis

4.

Actinomyces bovis Bengkak rahang pada sapi

5.

Cytophaga columnaris

Penyakit yang

Brucellosis pada sapi


Mastitis pada sapi (radang payudara)

Antraks

Penyakit pada ikan

Dampak Pencemaran Udara Terhadap Lingkungan


dan Manusia
I.
PENDAHULUAN
Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan
ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk
hidup secara optimal. Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dan lain-lain
disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif
dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan. Pencemaran udara terjadi jika
komposisi zat zat yg ada di udara melampaui ambang batas yang ditentukan. Adanya bahanbahan kimia yang melampaui batas dapat membahayakan kesehatan manusia, mengganggu
kehidupan
hewan
dan
tumbuhan
dan
terganggunya
iklim
(cuaca).

Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau
komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya tatanan (komposisi) udara oleh kegiatan
manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat
berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Sumber pencemaran udara yang paling dominan
disebabkan karena adanya aktifitas manusia (antropogenik) dalam mengeksploitasi sumber daya
alam secara besar-besaran terutama pemanfaatan bahan bakar fosil, pembangunan industriindustri (pabrik), serta pemanfaatan lahan hutan tanpa mempertimbangkan keseimbangan
lingkungan. Adanya sumber-sumber pencemaran udara tersebut maka, dapat menimbulkan efek
yang merugikan baik yang berdampak pada manusia maupun berdampak pada hewan dan
tumbuhan serta lingkungan sekitarnya. Dampak tersebut dapat dirasakan baik secara langsung
maupun tidak langsung dan dalam jangka waktu yang pendek dan panjang. Oleh karena itu,
mulai dari sekarang perlu dilakukan upaya untuk pencegahan dan pengurangan dampak dari
aktifitas-aktifitas manusia tersebut agar tidak terjadi peningkatkan pencemaran udara serta
menjaga keseimbangan lingkungan.
II. ISI
Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Udara
dalam istilah meteorologi disebut atmosfir yang merupakan campuran gas-gas yang tidak
bereaksi satu dengan lainnya (innert). Komposisi udara yang normal merupakan campuran gasgas meliputi 78% N2; 20% O2; 0,93% Ar; 0,03% CO2 dan sisanya terdiri dari neon (Ne), Helium
(He), metan (CH4) dan hidrogen (H2) dengan konsentrasi yang kecil. Jika terjadi penambahan
gas-gas lain yang menimbulkan gangguan serta perubahan komposisi tersebut, maka dapat
dikatakan udara sudah tercemar. Udara yang dicemari oleh zat-zat atau bahan-bahan pencemar
yang dapat merubah komposisi udara tersebut akan merugikan kesehatan manusia, kelestarian
tanaman dan hewan, serta dapat mengganggu estetika lingkungan. Dampak negatif yang timbul
akibat jenis-jenis polutan pencemar udara sebagai berikut:
A. Karbonmonoksida (CO)
Karbonmonoksida dapat berasal dari alam dan akibat aktifitas manusia. Karbonmonoksida yang
berasal dari alam termasuk dari lautan, oksidasi metal di atmosfir, pegunungan, kebakaran hutan
dan badai listrik alam (Anonim, 2004). Menurut Pohan (2002), secara umum terbentuk gas CO
adalah melalui proses berikut ini :
Pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna.
Pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO2) dengan karbon C yang menghasilkan
gas CO.
Pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen.
Menurut Anonim (2004), sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang
menggunakan bahan bakar bensin. Selain itu asap rokok juga mengandung CO. Adapun sumber
CO dari dalam ruang (indoor) termasuk dari tungku dapur rumah tangga dan tungku pemanas
ruang. Kandungan CO yang melebihi batas akan memberikan efek negatif bagi kesehatan
manusia, makhluk hidup lainnya dan lingkungan sekitarnya.
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Karakteristik biologik yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan
dengan haemoglobin, pigmen sel darah merah yang mengakut oksigen ke seluruh tubuh. Sifat ini
menghasilkan pembentukan karboksihaemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil

dibandingkan oksihaemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan


terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa oksigen keseluruh
tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan
keracunan. Selain itu, metabolisme otot dan fungsi enzim intra-seluler juga dapat terganggu
dengan adanya ikatan CO yang stabil tersebut. Dampak keracunan CO sangat berbahaya bagi
orang yang telah menderita gangguan pada otot jantung atau sirkulasi darah periferal yang parah
(Anonim, 2004).
Menurut Pohan (2002), juga menyatakan bahwa karbonmonoksida (CO) apabila terhisap ke
dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan
dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut
bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan
darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO COHb (karboksihemoglobin)
Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman kalau waktu kontak hanya
sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan
rasa pusing dan mual. Pengaruh karbonmonoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak
sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan
naik bila di ruangan itu ada orang yang merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap
rokok yang mengandung gas CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian
menjadi encer sekitar 400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi di dalam
asap rokok menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat.
Keadaan tersebut tentu sangat membahayakan kesehatan orang yang merokok. Orang yang
merokok dalam waktu yang cukup lama (perokok berat) konsentrasi COHb dalam darahnya
sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah terkena serangan jantung.
Kadar CO
100 ppm
30 ppm
1000 ppm
1300 ppm
> 1300 ppm

Waktu Kontak
Sebentar
8 jam
1 jam
1 jam
1 jam

Dampak Bagi Tubuh


Dianggap Aman
Menimbulkan Pusing dan Mual
Pusing dan Kulit Berubah Kemerahan
Kulit Merah Tua dan Pusing Hebat
Dapat Menimbulkan Kematian

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar


Bagi tumbuhan, kadar CO sebesar 100 ppm pengaruhnya hampir tidak ada khususnya tumbuhan
tingkat tinggi. Kadar CO sebesar 200 ppm dengan waktu kontak 24 jam dapat mempengaruhi
kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas terutama yang terdapat pada akar tumbuhan
(Anonim, 2008).
B. Sulfurdioksida (SOx)
Sulfuroksida (SOx) terdiri dari sulfurdioksida (SO2) dan sulfurtrioksida (SO3). Gas SO2 berbau
tajam dan tidak mudah terbakar, sedangkan gas SO3 bersifat sangat reaktif. Gas SO3 mudah
bereaksi dengan uap air yang ada di udara untuk membentuk asam sulfat atau H2SO4. Asam
sulfat ini sangat reaktif, mudah bereaksi (memakan) benda-benda lain yang mengakibatkan

kerusakan, seperti proses perkaratan (korosi) dan proses kimiawi lainnya (Pohan, 2002).
Dua pertiga jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia dan
kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti
vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida (Anonim, 2004). Pencemaran SOx di udara
terutama berasal dari pemakaian baru bara yang digunakan pada kegiatan industri, transportasi,
dan lain sebagainya. Selain tergantung dari pemecahan batu bara yang dipakai sebagai bahan
bakar, penyebaran gas SOx, ke lingkungan juga tergantung dari keadaan meteorologi dan
geografi setempat. Kelembaban udara juga mempengaruhi kecepatan perubahan SOx menjadi
asam sulfat maupun asam sulfit yang akan berkumpul bersama awan yang akhirnya akan jatuh
sebagai hujan asam (Pohan, 2002). Kandungan SOx yang melebihi batas akan memberikan efek
negatif antara lain:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Udara yang telah tercemar SOx menyebabkan manusia akan mengalami gangguan pada system
pernapasaannya. Hal ini karena gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut menyerang selaput
lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran napas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas
SOx tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena (Pohan, 2002). SO2 berbahaya
bagi anak-anak, orang tua, dan orang yang menderita kardiovaskuler. Otot saluran pernapasan
akan mengalami kejang (spasma). Akan lebih berat lagi jika konsentrasi SO2 tinggi dan suhu
udara rendah. Pada paparan lama akan terjadi peradangan yang hebat pada selaput lendir yang
diikuti paralysis cilia (kelumpuhan sistem pernapasan), kerusakan lapisan ephitelium, akhirnya
kematian. Pada konsentrasi 6 12 ppm dengan paparan pendek yang berulang-ulang dapat
menyebabkan hiperplasia dan metaplasia sel-sel epitel yang akhirnya menjadi kangker (Anonim,
2008). Menurut Anonim (2004), Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan
adalah sebagai berikut :
Konsentrasi (ppm)
3-5
8-12
20
20
20
50-100
400-500

Pengaruh
Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya
Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi tenggorokan
Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan iritasi mata
Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan batuk
Maksimum Yang diperbolehkan untuk konsentrasi dalam waktu
lama
Maksimum yang diperbolehkan untuk kontrak singkat (30 menit)
Berbahaya meskipun kontak secara singkat

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar


Pengaruh pencemaran SO2 terhadap lingkungan telah banyak diketahui. Pada tumbuhan, daun
adalah bagian yang paling peka terhadap pencemaran SO2, dimana akan terdapat bercak atau
noda putih atau coklat merah pada permukaan daun. Dalam beberapa hal, kerusakan pada
tumbuhan dan bangunan disebabkan karena SO2 dan SO3 di udara, yang masing-masing
membentuk asam sulfit dan asam sulfat. Suspensi asam di udara ini dapat terbawa turun ke tanah
bersama air hujan dan mengakibatkan air hujan bersifat asam. Reaksi terbentuknya hujan asam
adalah:

SO2 + O2 + H2O (2H + SO2)aq


Sifat asam dari air hujan ini dapat menyebabkan korosif pada logam-logam dan rangka-rangka
bangunan, merusak bahan pakian dan tumbuhan (Tugaswati, 2004). Adanya hujan asam akan
dapat menyebabkan danau atau kolam menjadi terlalu asam, akibat yang ditimbulkan adalah
ikan-ikan yang terdapat di dalam kolam tersebut akan mengelami kematian dan tanaman di
sekitarnya menjadi banyak yang mati. Pada benda-benda, SO2 bersifat korosif. Cat dan bangunan
gedung warnanya menjadi kusam kehitaman karena PbO pada cat bereaksi dengan SOx
menghasilkan PbS. Jembatan menjadi rapuh karena mempercepat pengkaratan (Anonim, 2008).
C. Hidrokarbon (HC)
Hidrokarbon dapat berasal dari proses industri yang diemisikan ke udara dan kemudian
merupakan sumber fotokimia dari ozon. HC merupakan polutan primer karena dilepas ke udara
ambien secara langsung, sedangkan oksidan fotokima merupakan polutan sekunder yang
dihasilkan di atmosfir dari hasil reaksi-reaksi yang melibatkan polutan primer. Kegiatan industri
yang berpotensi menimbulkan cemaran dalam bentuk HC adalah industri plastik, resin, pigmen,
zat warna, pestisida dan pemrosesan karet. Diperkirakan emisi industri sebesar 10 % berupa HC.
Sumber HC dapat pula berasal dari sarana transportasi. Kondisi mesin yang kurang baik akan
menghasilkan HC. Pada umumnya pada pagi hari kadar HC di udara tinggi, namun pada siang
hari menurun. Sore hari kadar HC akan meningkat dan kemudian menurun lagi pada malam hari.
Adanya hidrokarbon di udara terutama metana, dapat berasal dari sumber-sumber alami terutama
proses biologi aktivitas geothermal seperti explorasi dan pemanfaatan gas alam dan minyak bumi
dan sebagainya. Jumlah yang cukup besar juga berasal dari proses dekomposisi bahan organik
pada permukaan tanah, demikian juga pembuangan sampah, kebakaran hutan dan kegiatan
manusia lainnya mempunyai peranan yang cukup besar dalam memproduksi gas hidrakarbon di
atmosfir. Efek negatif yang disebabkan oleh pencemaran hidrokarbon antara lain:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Beberapa dari bahan bahan pencemar ini merupakan senyawa-senyawa yang bersifat
karsinogenik dan mutagenik, seperti etilen, formaldehid, benzena, metil nitrit dan hidrokarbon
poliaromatik (PAH). Emisi kendaraan bermotor yang mengandung senyawa karsinogenik
diperkirakan dapat menimbulkan tumor pada organ lain selain paru. Akan tetapi untuk
membuktikan apakah pembentukan tumor tersebut hanya diakibatkan karena asap solar atau gas
lain yang bersifat sebagai iritan (Tugaswati, 2004).
Menurut Anonim (2004), hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan
membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak
dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan
menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker. Pengaruh hidrokarbon aromatic
pada kesehatan manusia dapat terlihat pada tabel dibawah ini :
Konsentrasi Jenis Hidrokarbon
(ppm)
Benzena (C6H6)

Dampak Kesehatan

Iritasi membran mukosa


100
Lemas setelah 1 jam

3000

Pengaruh sangat berbahaya setelah pemaparan 1


jam

7500
Kematian setelah pemaparan 5-10 menit
20000
Toluena (C7H8)
200
600

Pusing lemah dan berkunang-kunang setelah


pemaparan 8 jam
Kehilangan koordinasi bola mata terbalik setelah
pemaparan 8 jam

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar


Pembakaran hidrokarbon menghasilkan panas. Panas yang tinggi menimbulkan peristiwa
pemecahan (Cracking) menghasilkan rantai hidrokarbon pendek atau partikel karbon. Gas
hidrokarbon dapat bercampur dengan gas buangan lainnya. Cairan hidrokarbon membentuk
kabut minyak (droplet). Padatan hidrokarbon akan membentuk asap pekat dan menggumpal
menjadi debu/partikel. Hidrokarbon bereaksi dengan NO2 dan O2 mengahsilkan PAN (Peroxy
Acetyl Nitrates). Campuran PAN dengan gas CO dan O3 disebut kabut foto kimia (Photo
Chemistry Smog) yang dapat merusak tanaman. Daun menjadi pucat karena selnya mati. Jika
hidrokarbon bercampur bahan lain toksitasnya akan meningkat (Anonim, 2008).
D. Nitrogen Oksida (NOx)
Menurut Pohan (2002), pencemaran gas NOx di udara terutama berasal dari gas buangan hasil
pembakaran yang keluar dari generator pembangkit listri stasioner atau mesin-mesin yang
menggunakan bahan bakar gas alami. Menurut Anonim (2004), dari seluruh jumlah oksigen
nitrogen (NOx) yang dibebaskan ke udara, jumlah yang terbanyak adalah dalam bentuk NO yang
diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi pencemaran NO dari sumber alami ini tidak
merupakan masalah karena tersebar secara merata sehingga jumlahnya menjadi kecil. Yang
menjadi masalah adalah pencemaran NO yang diproduksi oleh kegiatan manusia karena
jumlahnya akan meningkat pada tempat-tempat tertentu. Kadar NOx diudara perkotaan biasanya
10100 kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar NOx di udara daerah perkotaan
dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan
penduduk karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan
kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan
sampah. Sebagian besar emisi NOx buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas,
dan bensin. Adapun efek negatif yang ditimbulkan pencemaran NOx adalah sebagai berikut:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Udara yang mengandung gas NO dalam batas normal relatif aman dan tidak berbahaya, kecuali
jika gas NO berada dalam konsentrasi tinggi. Konsentrasi gas NO yang tinggi dapat
menyebabkan gangguan pada system saraf yang mengakibatkan kejang-kejang. Bila keracunan
ini terus berlanjut akan dapat menyebabkan kelumpuhan. Gas NO akan menjadi lebih berbahaya

apabila gas itu teroksidasi oleh oksigen sehinggga menjadi gas NO2 (Pohan, 2002). Percobaan
pada manusia menyatakan bahwa kadar NO2 sebsar 250 g/m3 dan 500 g/m3 dapat
mengganggu fungsi saluran pernafasan pada penderita asma dan orang sehat.
Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Pencemaran oksida nitrogen bagi tumbuhan menyebabkan bintik-bintik pada permukaan daun,
bila konsentrasinya tinggi mengakibatkan nekrosis (kerusakan jaringan daun), sehingga
fotosintesis terganggu. Dalam keadaan seperti ini daun tidak dapat berfungsi sempurna sebagai
temapat terbentuknya karbohidrat melalui proses fotosintesis. Akibatnya tanaman tidak dapat
berproduksi seperti yang diharapkan. Konsentrasi NO sebanyak 10 ppm sudah dapat
menurunkan kemampuan fotosintesis daun sampai sekitar 60% hingga 70% (Pohan, 2002).
Di udara oksida nitrogen dapat menimbulkan PAN (Peroxy Acetyl Nitrates) yang dapat
menyebabkan iritasi mata (pedih dan berair). PAN bersama senyawa yang lain akan
menimbulkan kabut foto kimia (Photo Chemistry Smog) yang dapat mengganggu lingkungan dan
dapat merusak tanaman. Daun menjadi pucat karena selnya mati. Jika hidrokarbon bercampur
bahan lain toksitasnya akan meningkat (Anonim, 2008). Berdasarkan studi menggunakan
binatang percobaan, pengaruh yang membahayakan seperti misalnya meningkatnya kepekaan
terhadap radang saluran pernafasan, dapat terjadi setelah mendapat pajanan sebesar 100 g/m3
(Tugaswati, 2004).
E. Ozon (O3)
Menurut Moefthi dan Sri (2005) juga menyebutkan bahwa penipisan ozon disebabkan
penggunaan unsur-unsur yang memiliki stabilitas yang sangat tinggi berupa zat-zat kimia, unsurunsur bahan pendingin seperti: ODS (ozone-depleting substances), chlorofluorocarbons (CFCs),
hydrochlorofluorocarbons (HCFCs), halons, methyl bromide, carbon tetrachloride, dan methyl
chloroform. Zat Kloroflorokarbon atau Chlorofluorocarbon (CFC) mengandung klorin
(chlorine), florin (fluorine) dan karbon (carbon). Semua zat tersebut dihasilkan dari alat-alat
rumah tangga yang digunakan sehari-hari misalnya lemari pendingin, pestisida, kosmetik (hair
spray) dan lain sebagainya. Efek negatif yang ditimbulkan adalah :
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Ozon merupakan senyawa oksidan yang paling kuat dibandingkan NO2 dan bereaksi kuat dengan
jaringan tubuh. Evaluasi tentang dampak ozon dan oksidan lainnya terhadap kesehatan yang
dilakukan oleh WHO task group menyatakan pemajanan oksidan fotokimia pada kadar 200-500
g/m dalam waktu singkat dapat merusak fungsi paru-paru anak, meningkat frekuensi serangan
asma dan iritasi mata, serta menurunkan kinerja para olaragawan (Tugaswati, 2004).
Beberapa gejala yang dapat diamati pada manusia yang diberi perlakuan kontak dengan ozon,
sampai dengan kadar 0,2 ppm tidak ditemukan pengaruh apapun, pada kadar 0,3 ppm mulai
terjadi iritasi pada hidung dan tenggorokan. Kontak dengan Ozon pada kadar 1,03,0 ppm
selama 2 jam pada orang-orang yang sensitif dapat mengakibatkan pusing berat dan kehilangan
koordinasi. Pada kebanyakan orang, kontak dengan ozon dengan kadar 9,0 ppm selama beberapa
waktu akan mengakibatkan edema pulmonari (Anonim. 2004).
Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Adanya bahan-bahan seperti CFC dan lain sebagainya maka dapat mengakibatkan penipisian
ozon yang merupakan pelindung bumi. Efek yang terjadi adalah pemanasan global yang dapat

mengakibatkan perubahan iklim, perubahan habitat hidupan liar, kegagalan panen pertanian,
kenaikan muka air laut, mencairnya daerah kutub (WWF-Indonesia, 2007).
F. Partikulat
Sumber pencemaran partikel dapat berasal dari peristiwa alami dan juga dapat berasal dari ulah
manusia dalam rangka mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Pencemaran partikel yang
bersaal dari alam contohnya adalah :
Debu tanah/pasir halus yang terbang terbawa oleh angin kencang.
Abu dan bahan-bahan vulkanik yang terlempar ke udara akibat letusan gunung.
Semburan uap air panas di sekitar daerah sumber panas bumi di daerah pegunungan.
Sumber pencemaran partikel akibat ulah manusia sebagian besar berasal dari pembakaran batu
bara, proses industri, kebakaran hutan dan gas buangan alat transportasi. Adapun efek negatif
yang ditimbulkan adalah sebagai berikut :
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Menurut Anonim (2008), partikel (debu) yang masuk/mengendap dalam paru-paru dapat
menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan (pnevmokoniosis) antara lain:
Penyakit silikosis
Disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas (SiO2). Dapat terjadi pada daerah pabrik besi dan
baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir/menggerinda),
penambangan bijih besi, timah putih dan batubara. Bila sudah parah penyakit ini dapat diikuti
hipertropi jantung sebelah kanan yang mengakibatkan kegagalan kerja jantung.
Penyakit asbestosis
Disebabkan oleh debu/serat asbes (campuran berbagai silikat terutama magnesium silikat). Dapat
terjadi di daerah pabrik/industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik
yang beratap asbes, dan lain-lain.
Penyakit Bisinosis
Disebabkan oleh debu/serat kapas. Dapat terjadi pada daerah pabrik pemintalan kapas/tekstil,
pembuatan kasur atau jok kursi. Penyakit ini dapat diikuti bronkitis kronis.
Penyakit antrakosis
Disebabkan oleh debu batubara. Dapat terjadi pada daerah tambang batubara, penggunaan
batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker), kapal laut bertenaga batubara, pekerja boiler pada
PLTU bertenaga batubara.
Partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada
mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam
beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi
kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar
0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara. Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat
akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh (Anonim,
2004).
Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan sepeti pemakaian insektisida dapat menyebabkan
cocarcinogenik. Selain itu juga dapat menyebabkan efek rumah kaca yang dapat merusakkan
lapisan ozon, sehingga sinar ultra violet tidak tersaring. Dapat menyebabkan kanker kulit, suhu
bumi naik sehingga tidak nyaman, es kutub mencair sehingga permukaan laut naik (Anonim,
2008).

Pengaruh partikulat terhadap tanaman terutama adalah dalam bentuk debunya, dimana debu
tersebut jika bergabung dengan uap air atau air hujan gerimis akan membentuk kerak yang tebal
pada permukaan daun, dan tidak dapat tercuci dengan air hujan kecuali dengan menggosoknya.
Lapisan kerak tersebut akan mengganggu proses fotosintesis pada tanaman karena menghambat
masuknya sinar matahari dan mencegah pertukaran CO2 dengan atmosfer. Akibatnya
petumbuhan tanaman menjadi terganggu. Bahaya lain yang ditimbulkan dari pengumpulan
partikulat pada tanaman adalah kemungkinan bahwa partikulat tersebut mengandung komponen
kimia yang berbahaya bagi hewan yang memakan tanaman tersebut. Partikulat-partikulat yang
terdapat di udara dapat mengakibatkan berbagai kerusakan pada berbagai bahan. Jenis dan
tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh partikulat dipengaruhi oleh komposisi kimia dan sifat
fisik partikulat tersebut. Kerusakan pasif terjadi jika partikulat menempel atau mengendap pada
bahan-bahan yang terbuat dari tanah sehingga harus sering dibersihkan. Proses pembersihan
sering mengakibatkan cacat pada permukaan benda-benda dari tanah tersebut. Kerusakan kimia
terjadi jika partikulat yang menempel bersifat korosif atau partikulat tersebut membawa
komponen lain yang bersifat korosif. (BPLHD, 2009).
G. Timah Hitam (Pb)
Pencemaran Pb disebabkan oleh pembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada bahan bakar
kendaraan bermotor. Penambangan dan peleburan batuan Pb di beberapa wilayah sering
menimbulkan masalah pencemaran. Penggunaan pipa air yang mengandung Pb di rumah tangga
terutama pada daerah yang kesadahan airnya rendah (lunak) dapat menjadi sumber pemajanan Pb
pada manusia. Demikian juga di daerah dengan banyak rumah tua yang masih menggunakan cat
yang mengandung Pb dapat menjadi sumber pemajanan Pb. Kadar Pb yang terlalu berlebihan
akan menyebabkan dampak negatif antara lain:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Menurut Santi (2001), Pb yang terhirup oleh manusia setiap hari akan diserap, disimpan dan
kemudian ditabung da dalam darah. Bentuk Kimia Pb merupakan faktor penting yang
mempengaruhi sifat-sifat Pb di dalam tubuh. Komponen Pb organik misalnya tetraethil Pb segara
dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui kulit dan membran mukosa. Pb organik diabsorbsi terutama
melalui saluran pencernaan dan pernafasan dan merupakan sumber Pb utama di dalam tubuh. Di
dalam tubuh Pb dapat menyebabkan keracunan akut maupun keracunan kronik. Jumlah Pb
minimal di dalam darah yang dapat menyebabkan keracunan berkisar antara 60-100 mikro gram
per 100 ml darah. Pada keracunan akut biasanya terjadi karena masuknya senyawa timbal yang
larut dalam asam atau menghirup uap Pb tersebut. Gejala-gejala yang timbul berupa mual,
muntah, sakit perut hebat, kelainan fungsi otak, anemi berat, kerusakan ginjal bahkan kematian
dapat terjadi dalam 1-2 hari. Kelainan fungsi otak terjadi karena Pb ini secara kompetitif
menggantikan mineral-mineral utama seperti seng, tembaga, dan besi dalam mengatur fungsi
mental kita. Keracunan timbal kronik menimbulkan gejala seperti depresi, sakit kepala, sulit
berkonsentrasi, gelisah, daya ingat me nurun, sulit tidur, halusinasi dan kelemahan otot. Susunan
saraf pusat merupakan organ sasaran utama timbal.
Menurut penelitian dr M. Erikson menunjukkan bahwa wanita hamil yang memiliki kadar timbal
tinggi dalam darahnya ternyata 90 % dari simpanan timbal pada tubuhnya dialirkan kepada si
janin melalui plasenta, dimana keracunan pada janin mempengaruhi intelektual dan tingkah laku
si anak di kemudian hari. Dari catatan Bank Dunia, URBAIR 1994, terlihat bahwa dampak
pencemaran udara oleh timbal di Indonesia telah menimbulkan 350 kasus penyakit jantung,
62.000 kasus tekanan darah tinggi, serta angka kematian 340 orang per tahun.

Efek Terhadap Lingkungan Sekitar


Timbal atau timah hitam dapat merusak lingkungan. Lingkungan akan tampak terlihat berdebu,
kotor akibat asap pembuangan kendaraan bermotor yang pada umumnya mengandung Pb (Santi,
2001).
H. Klorin
Klorin merupakan bahan kimia penting dalam industri yang digunakan untuk klorinasi pada
proses produksi yang menghasilkan produk organik sintetik, seperti plastik (khususnya polivinil
klorida), insektisida (DDT, Lindan, dan aldrin) dan herbisida (2,4 dikloropenoksi asetat) selain
itu, juga digunakan sebagai pemutih (bleaching agent) dalam pemrosesan sellulosa, industri
kertas, pabrik pencucian (tekstill) dan desinfektan untuk air minum dan kolam renang.
Terbentuknya gas klorin di udara ambien merupakan efek samping dari proses pemutihan
(bleaching) dan produksi zat/senyawa organik yang mengandung klor. Karena banyaknya
penggunaan senyawa klor di lapangan atau dalam industri dalam dosis berlebihan seringkali
terjadi pelepasan gas klorin akibat penggunaan yang kurang efektif. Hal ini dapat menyebabkan
terdapatnya gas pencemar klorin dalam kadar tinggi di udara ambien (Anonim, 2004). Efek
negatif yang ditimbulkan adalah :
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Klorin dapat menimbulkan bau yang menyengat yang dapat menyebabkan iritasi pada mata
saluran pernafasan. Apabila gas klorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion
hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan
iritasi dan peradangan. Di udara ambien, gas klorin dapat mengalami proses oksidasi dan
membebaskan oksigen seperti terlihat dalam reaksi dibawah ini :
CL2 + H2O HCL + HOCL
8 HOCl 6 HCl + 2HClO3 + O3
Dengan adanya sinar matahari atau sinar terang maka HOCl yang terbentuk akan terdekomposisi
menjadi asam khlorida dan oksigen. Selain itu gas khlorin juga dapat mencemari atmosfer. Pada
kadar antara 3,0 6,0 ppm gas khlorin terasa pedas dan memerahkan mata. Dan bila terpapar
dengan kadar sebesar 14,0 21,0 ppm selama 30 60 menit dapat menyebabkan penyakit paruparu (pulmonari oedema) dan bisa menyebabkan emphysema dan radang paru-paru (Anonim,
2004).
Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Beberapa kerusakan yang disebabkan oleh polutan udara yaitu klorin (Cl2) yang berasal dari
kilang minyak, menyebabkan daun terlihat keputihan, terjadinya nekrosis antar tulang daun, tepi
daun nampak seperti hangus (Yunasfi, 2002).
I. Amonnia
Gas ammonia merupakan salah satu gas pencemar udara yang dihasilkan dari penguraian
senyawa organik oleh mikroorganisme seperti dalam proses pembuatan kompos, dalam industri
peternakan, dan pengolahan sampah kota. Ammonia juga dapat berasal dari sumber
antrophogenik (akibat aktifitas manusia) seperti industri pupuk urea, industri asam nitrat dan dari
kilang minyak (Dwipayani, 2001). Adapun Dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran
ammonia adalah sebagai berikut:
Efek Terhadap Kesehatan Manusia
Udara yang tercemar gas amonia dan sulfida dapat menyebabkan menyebabkan iritasi mata serta

saluran pernafasan (Fauziah, 2009). Menurut Soeprapto dan Didik (2008), gas NH3 juga dapat
menyebabkan Iritasi pada mata, saluran pernapasan dan kulit. Pada Kadar 2500-6500 ppm, gas
ammonia melalui inhalasi menyebabkan iritasi hebat pada mata (Keraktitis), sesak nafas
(Dyspnea), Bronchospasm, nyeri dada, sembab paru, batuk darah, Bronchitis dan Pneumonia.
Pada kadar tinggi (30.000 ppm) dapat menyebabkan luka bakar pada kulit.
Efek Terhadap Lingkungan Sekitar
Sisa-sisa makanan dan sampah organik dibuang ke tempat sampah, kemudian di bawa ke tempat
pembuangan akhir (TPA). Sampah-sampah tersebut kemudian membusuk dan menghasilkan gas
amonia. Gas ammonia tersebut merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat menyebabkan
global warming. Akibat yang terjadi adalah terjadinya perubahan iklim dan cuaca serta efek
global warming lainnya (WWF-Indonesia, 2007). Gas ammonia juga dapat mengganggu estetika
lingkungan karena bau pembusukan sampah yang sangat menyengat. Menurut Fauziah (2009),
dampak negatif yang ditimbulkan usaha peternakan ayam terutama berasal dari kotoran ayam
yang dapat menimbulkan gas yang berbau. Bau yang dikeluarkan berasal dari unsur nitrogen dan
sulfida dalam kotoran ayam, yang selama proses dekomposisi akan terbentuk gas amonia, nitrit,
dan gas hidrogen sulfida. Udara yang tercemar gas amonia dan sulfida dapat memyebabkan
gangguan kesehatan ternak dan masyarakat di sekitar peternakan. Amonia dapat menghambat
pertumbuhan ternak.
J. Radon Gas
Sumber radon berasal dari kegiatan medis, sinar kosmik, sinar gamma dan internal dan dari
sumber-sumber lainnya seperti pelepasan dari instalasi nuklir (nuclear discharges), debu
radioaktif hasil uji coba senjata nuklir (fallout). Keberadaan gas radon di lingkungan sangat
dipengaruhi oleh kondisi, situasi dan jenis batuan yang terdapat pada daerah tersebut. Di dalam
ruangan tempat tinggal/kantor, disamping dipengaruhi oleh kondisi dan bahan bangunan, juga
dipengaruhi oleh sirkulasi udara dalam ruangan dengan udara luar atau lingkungan.
Sumber gas radon di dalam rumah dapat berasal dari model sirkulasi udara yang tertutup ini,
yang ternyata memberikan konsentrasi radon yang relatif tinggi dibandingkan rumah model yang
sama dengan sistem sirkulasi udara terbuka. Penggunaan bahan-bahan sisa hasil pengolahan
bahan tambang sebagai bahan bangunan untuk perumahan maupun gedung dapat memperbesar
konsentrasi gas radon dalam ruangan. Beberapa contoh diantaranya adalah phospogypsum (sisa
hasil pengolahan fosfat yang mengandung radium), batu bata merah dari limbah pabrik penghasil
aluminium, blart furnace slag (dari pabrik besi) dan sebagainya.
Pencemaran Radon Gas dapat menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan Manusia yaitu
radon yang bersifat radioaktif, pada temperatur kamar selalu berbentuk gas dengan kerapatan 10
gr/liter dan terlarut dalam udara, juga meluruh menghasilkan turunan/anak luruh yang radioaktif.
Secara berurutan turunan tersebut adalah polonium, 218Po (radium A) ; timbal, 214Pb (radium
B) ; bismuth, 214Bi (radium C); polonium, 214Po (radium C); timbal, 210Pb (radium D) [3,4].
Jika radon dan turunannya terhisap pada saat bernafas, maka anak luruhan radon yang berbentuk
partikel sangat kecil tersebut akan mengendap di dalam paru-paru dan merupakan awal indikasi
yang dapat menimbulkan kanker paru-paru. Semakin tinggi konsentrasi radon yang terhisap,
makin besar pula kemungkinan seseorang menderita kanker paru-paru (Sofyan, 1998).