Anda di halaman 1dari 2

DAMPAK PENCEMARAN TANAH

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka


ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang
masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat
beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika
bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya (Anonimous, 2008).
Dampak pencemaran dapat merugikan manusia baik secara langsung maupun
tidak langsung. Kerugian secara langsung, apabila pecemaran tersebut secara
langsung dan cepat dapat dirasakan akibatnya oleh manusia. Kerugian secara tidak
langsung, apabila pencemaran tersebut mengakibatkan lingkungan menjadi rusak
sehingga daya dukung lingkungan terhadap kelangsungan hidup manusia menjadi
menurun. Kondisinya dapat lebih parah lagi apabila daya dukung lingkungan sudah
tidak mampu lagi menopang kebutuhan manusia, sehingga malapetaka bagi
kehidupan manusia tidak terhindar. Sebagai contoh adalah kesuburan tanah sangat
menurun sehingga mengganggu sektor pertanian yang berakibat menurunnya produksi
pangan dan juga sumber air minum yang sehat sudah sulit didapatkan sehingga
masyarakat kekurangan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari (Sunu, 2001).
Secara umum, menurut Saktiyono (2006) pencemaran tanah dapat
menimbulkan dampak:
1. Terganggunya kehidupan mikroorganisme tanah yang berperan dalam proses
dekomposisi. Maka bila mikroorganisme terganggu, proses dekomposisi juga
ikut terganggu.
2. Berubahnya sifat kimiawi datau sifat fisik tanah, sehingga tanah menurun
kesuburannya dan tidak baik untuk pertumbuhan tanaman.
3. Mengubah dan mempengaruhi keseimbangan ekologis dalam suatu ekosistem.
Lebih jauh lagi, beberapa sumber menyatakan dampak pencemaran akibat
kandungan logam dalam tanah berpengaruh terhadap kandungan logam pada tanaman
yang tumbuh diatasnya, kecuali terjadi interaksi diantara logam itu sehingga terjadi
hambatan penyerapan logam tersebut oleh tanaman. Secara alami unsur-unsur logam
berat akan masuk ke dalam jaringan tanaman bersama unsur hara dan air yang
dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis, penyerapan logam berat akibat cemaran ini
akan menimbulkan akumulasi pada jaringan tumbuhan. Akumulasi logam dalam
tanaman tidak hanya tergantung pada kandungan logam dalam tanah, tetapi juga

tergantung pada unsur kimia tanah, jenis logam, pH tanah, dan spesies tanaman
(Darmono 1995). Akumulasi logam berat ini akan berdampak pada terganggunya
kesehatan apabila dikonsumsi manusia bahkan juga keracunan pada tanaman.
Sudarmaji, dkk (2008) mengatakan bahwa diantara semua unsur logam berat,
Hg menduduki urutan pertama dalam hal sifat racunnya, dibandingkan dengan logam
berat lainnya, kemudian diikuti oleh logam berat antara lain Cd, Ag, Ni, Pb, As, Cr,
Sn, Zn. Pemisahan antara unsur yang beracun, yang berdaya guna atau bahkan yang
diperlukan oleh tumbuhan tidak dapat dipilahkan secara jelas. Seperti halnya logam
berat Fe, Cu dan Zn yang merupakan unsur hara mikro yang diperlukan oleh
tumbuhan, namun dalam jumlah banyak akan bersifat racun. Logam Ni dan Cd juga
dalam jumlah sedikit diduga menjalankan peran fisiologi penting dalam tumbuhan,
namun dalam jumlah lebih banyak akan menjadi racun. Peran Pb sebagai hara
tumbuhan juga belum diketahui. Unsur ini merupakan pencemar kimiawi utama
terhadap lingkungan dan sangat beracun bagi tumbuhan, hewan dan manusia (Mengel
and Kirkby, 1987).
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2008. Pencemaran Tanah.
http://www.WordPress.com

Darmono., 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran: Hubungannya dengan


Toksikologi Senyawa Logam. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press),
Jakarta. Mengel, K. and E. A. Kirkby., 1987. Principle of Plant Nutrition. 4th Edition.
International Potash Institude, Bern.
Saktiyono. 2006. IPA BIOLOGI. Jakarta: Esis.
Sudarmaji , J. Mukono dan Corie I.P., 2008. Limbah Logam Berat B3. Sumber: JURNAL
KESEHATAN LINGKUNGAN, VOL. 2, NO. 2 , JANUARI 14 2006: 129 -142.

Sunu, P., 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001. Penerbit PT
Grasindo, Jakarta.