Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH IRIGASI DAN DRAINASE


Metode dalam mengukur parameter kualitas air

Oleh :
Nama : Desy Rakhma Caesarani Utomo
NIM

: 135040207113001

Kelas : I

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

METODE DALAM MENGUKUR SETIAP PARAMETER KUALITAS AIR


1. FISIKA
1.1
Temperatur
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude),
ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu, sirkulasi udara,
penutupan awan, aliran, serta kedalaman. Perubahan suhu mempengaruhi
proses fisika, kimia, dan biologi badan air. Peningkatan suhu
mengakibatkan

peningkatan

viskositas,

reaksi

kimia,

evaporasi,

volatilisasi, serta menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (gas


O2, CO2, N2, CH4, dan sebagainya) (Haslam, 1995 dalam Effendi,
2003). Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan
dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Kisaran suhu optimum bagi
pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20o C 30o C.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI

Nomor

907/MENKES/SK/VII/2002, diketahui bahwa temperatur maksimum


yang diperbolehkan dalam air minum sebesar 3oC. Pengukuran suhu
1.2

pada contoh air air dapat dilakukan menggunakan termometer.


Residu Terlarut
Zat padat merupakan materi residu setelah pemanasan dan
pengeringan pada suhu 103oC 105oC. Residu atau zat padat yang
tertinggal selama proses pemanasan pada temperatur tersebut adalah
materi yang ada dalam contoh air dan tidak hilang atau menguap pada
105 oC. Dalam air alam, ditemui dua kelompok zat yaitu zat terlarut
(seperti garam dan molekul organis) serta zat padat tersuspensi dan
koloidal (seperti tanah liat dan kwarts). Perbedaan pokok antara kedua
kelompok

zat

ini

ditentukan

melalui

ukuran/diameter

partikel-

partikelnya. Analisa zat padat dalam air digunakan untuk menentukan


komponen-komponen air secara lengkap, proses perencanaan, serta
pengawasan terhadap proses pengolahan air minum maupun air buangan.
Karena bervariasinya materi organik dan ano Penentuan jumlah materi
terlarut dan tidak terlarut juga dapat dilakukan dengan membandingkan
jumlah yang terfiltrasi dengan yang tidak. Analisa TDS dapat digunakan
untuk menentukan derajat keasinan dan faktor koreksi, misal untuk
diagram kesadahan Caldwell Lawrence.rganik dalam analisa zat padat,

tes yang dilakukan secara empiris tergantung pada karakteristik materi


1.3

tersebut. Metode Gravimetry digunakan hampir pada semua kasus.


Residu Tersuspensi
Zat padat tersuspensi (TSS) adalah residu dari padatan total yang
tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2,0 m atau
lebih besar dari ukuran partikel koloid. Total suspended solids dapat
berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton,
bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan
partikel-partikel anorganik. Zat padat tersuspensi merupakan tempat
berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi
sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat
menghalangikemampuan produksi zat organik di suatu perairan.Penetrasi
cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih dalam tidak
berlangsung efektif akibat terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga
fotosintesis tidak berlangsung sempurna.
TSS berhubungan erat dengan erosi tanah dan erosi dari saluran
sungai.TSS sangat bervariasi, mulai kurang dari 5 mg.L -1 yang yang
paling ekstrem 30.000 mg.L-1 di beberapa sungai.TSS tidak hanya
menjadi ukuran penting erosi di alur sungai, juga berhubungan erat
dengan transportasi melalui sistem sungai nutrisi (terutama fosfor),
logam, dan berbagai bahan kimia industri dan pertanian.
Konsentrasi Total Suspended Solid merupakan salah satu
parameter

perairan

sedimentasi.
mengetahui

untuk
Hal

indikator
ini

tingkat

bertujuan

untuk

b e s a r n y a konsentrasi Total Suspended Solid di

perairan sehingga dapat diketahui kondisi perairan dan sebagai informasi


awal untuk penelitian terkait stabilitas di perairant e r s e b u t . M e t o d e
ini menggunakan contoh air dan dianalisa berat TSS
d e n g a n didukung data parameter hidrooseanografi dan sedimen
(Siswanto, 2004; Sulistyorini, 2004).

Pendekatan

ini

dapat

menggambarkan sebaran konsentrasi Total Suspended Solid


dan perkiraan laju sedimentasi yang terjadi pada lokasi
perairan. Sehingga diduga dapat diperkirakan laju sedimentasi yang
terjadi

2. KIMIA ORGANIK
2.1
pH
pH merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar
asam/basa dalam air. Penentuan pH merupakan tes yang paling penting
dan paling sering digunakan pada kimia air. pH digunakan pada
penentuan alkalinitas, CO2, serta dalam kesetimbangan asam basa. Pada
temperatur yang diberikan, intensitas asam atau karakter dasar suatu
larutan diindikasikan oleh pH dan aktivitas ion hidrogen. Perubahan pH
air dapat menyebabkan berubahnya bau, rasa, dan warna.
Pengukuran pH dapat dilakukan menggunakan kertas lakmus,
kertas pH universal, larutan indikator universal (metode Colorimeter)
dan pHmeter (metode Elektroda Potensiometri). Pengukuran pH penting
untuk

mengetahui

keadaan

larutan

sehingga

dapat

diketahui

kecenderungan reaksi kimia yang terjadi serta pengendapan materi yang


menyangkut reaksi asam basa.
Elektroda hidrogen merupakan

absolut

standard

dalam

penghitungan pH. Karena elektroda hidrogen mengalami kerumitan


dalam penggunaannya, ditemukanlah elektroda yang dapat dibuat dari
gelas yang memberikan potensial yang berhubungan dengan aktivitas ion
hidrogen tanpa gangguan dari ion-ion lain. Penggunaannya menjadi
metode standard dari pengukuran pH. Pengukuran pH diatas 10 dan pada
temperatur tinggi sebaiknya menggunakan elektroda gelas spesial. Alatalat yang digunakan pada umumnya distandarisasi dengan larutan buffer,
dimana nilai pH nya diketahui dan lebih baik digunakan larutan buffer
2.2

dengan pH 1 2 unit yang mendekati nilai pH contoh air.


BOD
BOD merupaka kebutuhan oksigen biologi. BOD menunjukkan
banyaknya oksigen yang digunakan bila bahan organik dalam suatu
volume air tertentu dirombak secara biologis. BOD ditentukan dengan
mengukur jumlah oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme selama
kurun waktu dan pada temperatur tertentu (biasanya lima hari pada suhu
20C). Nilai BOD diperoleh dari selisih oksigen terlarut awal dengan
oksigen terlarut akhir. Nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram
oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen dapat dilakukan secara

analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri) atau dengan


menggunakan alat yang disebut DO meter yang dilengkapi dengan probe
2.4

khusus.
COD
COD atau Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen
yangdiperlukanuntukmenguraiseluruhbahanorganikyangterkandung
dalam air. Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks, karena
menggunakan peralatan khusus reflux, penggunaan asam pekat,
pemanasan, dan titrasi. Peralatan reflux diperlukan untuk menghindari
berkurangnya air sampel karena pemanasan. Pada prinsipnya pengukuran
COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat (K2Cr2O7)
sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah
ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian dipanaskan
selama beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat ditera
dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium bikromat yang terpakai
untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai
COD dapat ditentukan. Kelemahannya, senyawa kompleks anorganik
yang ada di perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi,
sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit over
estimate untuk gambaran kandungan bahan organik. Bilamana nilai
BOD baru dapat diketahui setelah waktu inkubasi lima hari, maka nilai
COD dapat segera diketahui setelah satu atau dua jam. Walaupun jumlah
total bahan organik dapat diketahui melalui COD dengan waktu
penentuan yang lebih cepat, nilai BOD masih tetap diperlukan. Dengan
mengetahui nilai BOD, akan diketahui proporsi jumlah bahan organik
yang mudah urai (biodegradable), dan ini akan memberikan gambaran
jumlah oksigen yang akan terpakai untuk dekomposisi di perairan dalam
sepekan (lima hari) mendatang. Lalu dengan memperbandingkan nilai
BOD terhadap COD juga akan diketahui seberapa besar jumlah bahan-

2.4

bahan organik yang lebih persisten yang ada di perairan.


DO
Oksigen dalam perairan berasal dari difusi oksigen dari atmosfer
serta aktivitas fotosintesis oleh fitoplankton maupun tanaman lainnya.

Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini


menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air.
Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki
kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui
bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan
melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan
dan mikroorganisme.
Penentuan DO dilakukan dengan metode elektrokimia dengan
menggunakan DO-meter. Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda
elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut
dengan alat DO-meter. Prinsip kerja dari alat DO meter ini adalah
menggunakan elektroda atau probe oksigen yang terdiri dari katoda dan
anoda yang direndam dalam larutan elektrolit. Pada alat DO meter,
biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara
keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat
semi permeable terhadap oksigen. Aliran reaksi yang terjadi tersebut
tergantung dari aliran oksigen pada katoda. Difusi oksigen dari sampel
2.5

ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut.


NO3 sebagai N
Nitrat (NO3) adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan
merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan algae. Nitrat
nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Senyawa ini
dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan.
Kadar nitrat pada perairan alami tidak pernah lebih dari 0,1 mg/liter.
Kadar nitrat lebih dari 5 mg/liter menggambarkan terjadinya pencemaran
antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Kadar
nitrat lebih dari 0,2 mg/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi
(pengayaan) perairan, yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae
dan tumbuhan air secara pesat (bloomingKadar nitrat secara alamiah
biasanya agak rendah, namum kadar nitrat dapat menjadi tinggi sekali
pada air tanah di daerah-daerah yang diberi pupuk yang mengandung
nitrat. Kadar nitrat tidak boleh lebih dari 10 mg NO3/l atau 50 (MEE)
mg NO3/l.

Penetapan nitrogen nitrat merupakan analisa yang sulit dilakukan


untuk mencapai hasil yang diinginkan. Berdasarkan Standard Methods,
metode yang digunakan adalah metode Asam Phenoldisulfat dan Metode
Brusin. Brusin merupakan senyawa kompleks organik yang bereaksi
dengan nitrat pada kondisi asam dan peningkatan temperatur di alam
menghasilkan warna kuning. Metode Brusin mempunyai kelebihan dari
metode phenoldisulfat, dimana klorida dalam konsentrasi normal tidak
mengganggu, tetapi warna yang dihasilkan tidak mengikuti hukum
2.6

Beers.
Besi
Pada perairan alami, besi berikatan dengan anion membentuk
senyawa FeCl2, Fe(HCO3), dan FeSO4. Besi termasuk unsur yang
penting bagi makhluk hidup. Pada tumbuhan, besi berperan sebagai
penyusun sitokrom dan klorofil. Kadar besi yang berlebihan dapat
menimbulkan warna merah, menimbulkan karat pada peralatan logam,
serta dapat memudarkan bahan celupan (dyes) dan tekstil. Pada
tumbuhan, besi berperan dalam sistem enzim dan transfer elektron pada
proses fotosintesis. Pada air minum, Fe dapat menimbulkan rasa, warna
(kuning), pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi, dan
kekeruhan. Metode fenantroline dapat digunakan untuk mengukur
kandungan besi di dalam air, kecuali terdapat fosfat atau logam berat
yang mengganggu. Metode ini dilakukan berdasarkan kemampuan 1,10phenantroline untuk membentuk ion kompleks setelah berikatan dengan
Fe2+. Warna yang dihasilkan sesuai dengan hukum Beer dan dapat

2.7

diukur secara visual menggunakan spektrofotometer.


Mangan
Mangan merupakan nutrien renik yang esensial bagi tumbuhan
dan hewan. Logam ini berperan dalam pertumbuhan dan merupakan
salah satu komponen penting pada sistem enzim. Defisiensi mangan
dapat mengakibatkan pertumbuhan terhambat serta terganggunya sistem
saraf dan proses reproduksi. Pada tumbuhan, mangan merupakan unsur
esensial dalam proses metabolisme.
Kadar mangan pada perairan alami sekitar 0,2 mg/liter atau
kurang. Kadar yang lebih besar dapat terjadi pada air tanah dalam dan

pada danau yang dalam. Perairan yang diperuntukkan bagi irigasi


pertanian untuk tanah yang bersifat asam sebaiknya memiliki kadar
mangan sekitar 0,2 mg/liter, sedangkan untuk tanah yang bersifat netral
dan alkalis sekitar 10 mg/liter.Meskipun tidak bersifat toksik, mangan
dapat mengendalikan kadar unsur toksik di perairan, misalnya logam
berat. Jika dibiarkan di udara terbuka dan mendapat cukup oksigen, air
dengan kadar mangan (Mn2+) tinggi (lebih dari 0,01 mg/liter) akan
membentuk koloid karena terjadinya proses oksidasi Mn2+ menjadi
Mn4+. Koloid ini mengalami presipitasi membentuk warna cokelat gelap
sehingga air menjadi keruh.
Konsentrasi mangan dalam suatu contoh air biasanya mencapai
beberapa miligram per liter, oleh karena itu digunakan metode
kolorimetri. Metode ini dilakukan berdasarkan oksidasi mangan dari
kondisi rendah ke Mn(VII) yang membentuk ion permanganat berwarna
tinggi. Warna yang dihasilkan sebanding dengan konsentrasi mangan dan
dapat diukur secara visual atau fotometrik.
Metode persulfat sesuai untuk penyelidikan mangan secara
berkala karena pre-treatment contoh air tidak diperlukan untuk
mencegah interferensi klorida. Ammonium persulfat biasa digunakan
2.8

sebagai agen pengoksidasi


Chlorida
Ion klorida adalah salah satu anion anorganik utama yang
ditemukan pada perairan alami dalam jumlah yang lebih banyak daripada
anion halogen lainnya. Klorida biasanya terdapat dalam bentuk senyawa
natrium klorida (NaCl), kalium klorida (KCl), dan kalsium klorida
(CaCl2). Selain dalam bentuk larutan, klorida dalam bentuk padatan
ditemukan pada batuan mineral sodalite [Na8(AlSiO4)6]. Kadar klorida
umumnya meningkat seiring dengan meningkatnya kadar mineral. Kadar
klorida yang tinggi, yang diikuti oleh kadar kalsium dan magnesium
yang juga tinggi, dapat meningkatkan sifat korosivitas air. Hal ini
mengakibatkan terjadinya perkaratan peralatan logam. Klorida tidak
bersifat toksik bagi makhluk hidup, bahkan berperan dalam pengaturan
tekanan osmotik sel. Klorida tidak memiliki efek fisiologis yang
merugikan, tetapi seperti amonia dan nitrat, kenaikan akan terjadi secara

tiba-tiba di atas baku mutu sehingga dapat menyebabkan polusi. Metode


Mohr (Argentometric) dapat digunakan untuk pemeriksaan klorida
menggunakan larutan perak nitrat (0,0141 N) untuk mentitrasi sehingga
dapat bereaksi dengan larutan N/71 dimana setiap mm ekivalen dengan
0,5 mg ion klorida. Pada titrasi, ion klorida dipresipitasi sebagai klorida
2.9

putih perak.
Nitrit sebagai N
Di perairan alami, nitrit (NO2) ditemukan dalam jumlah yang
sangatsedikit,lebihsedikitdaripadanitrat,karenabersifattidakstabil
dengankeberadaanoksigen.MetodeReaksiDiazotasiSpectrofotometri
merupakanmetodeyangdigunakanuntukpemeriksaannitrit.Metodeini
menggunakan dua macam reagen yaitu asam sulfanilat dan 1
naphthylaminehydrocloride.Reaksiantarareagendannitritterjadipada
suasana asam dan ditentukan secara kolorimetris menggunakan
spektrofotometer.PadapH 2sampai2,5,nitritberikatandenganhasil
reaksi antara diazo asam sulfanilik dan N(1naftil)etilendiamin
dihydrocloride membentuk celupan berwarna ungu kemerahmerahan.
Warna tersebut mengikuti hukum BeerLambert dan menyerap sinar
dengan panjang gelombang 543 nm. Hasil yang diperoleh akan

2.10

dibandingkanwarnanyadenganwarnastandar.
Sulfat
Sulfat banyak ditemukan dalam bentuk SO42- dalam air alam.
sulfat dapat menimbulkan masalah bau dan korosi pada pipa air buangan
akibat reduksi SO42- menjadi S dalam kondisi anaerob dan bersama ion
H+ membentuk H2S. Metode turbidimeter merupakan salah satu metode
analisa yang digunakan untuk mengukur sulfat dengan prinsip barium
sulfat terbentuk setelah contoh air ditambahkan barium khlorida yang
berguna untuk presipitasi dalam bentuk koloid dengan bantuan larutan
buffer asam yang mengandung MgCl, potassium nitrat, sodium asetat,
dan asam asetat. Metode ini dapat dilakukan dengan cepat dan lebih
sering digunakan daripada metode lainnya. Konsentrasi sulfat > 10 mg/l
dapat dianalisa dengan mengambil sulfat dalam jumlah kecil dan
melarutkannya dalam 50 ml contoh air.

3. MIKROBIOLOGI
Coliform termasuk dalam keluarga Enterobacteriaceae dan genus
Escherichia dengan karakteristik bakteri yang mempunyai bentuk batang, gram
negatif, sangat motil, tidak berspora, dan bersifat aerobik fakultatif dengan
memanfaatkan oksigen pada kondisi aerob dan melakukan fermentasi pada
kondisi anaerob. Berdasarkan PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 82
TAHUN 2001 TANGGAL 14 DESEMBER 2001, bahwa Bagi pengolahan air
minum secara konvensional, fecal coliform 2000 jml / 100 ml dan total
coliform 10000 jml/100 ml
Untuk menganalisa keberadaan organisme ini dapat dimanfaatkan bakteri
Escheria coli, dengan nama aslinya Bacterium coli. Bakteri ini digunakan
sebagai indikator dalam menganalisa bakteri fecal coliform dalam air karena
mampu bertahan hidup di luar sistem pencernaan. Kehadiran bakteri ini di dalam
air tidak berbahaya, tetapi menandakan keberadaan bakteri patogen lain.
Terdapat 3 metoda yang dapat digunakan dalam menganalisa coliform
yaitu Standard Plate Count (SPC), metoda tabung fermentasi atau sering disebut
Most Probable Number (MPN), dan metode penyaringan dengan membran.
Prinsip analisa SPC dan penyaringan dengan membran adalah berdasarkan sifat
bakteri yang berkembang biak dalam waktu 24 sampai 72 jam pada suhu tertentu
dan dalam suasana yang cocok yaitu pada media yang terdiri dari agar-agar (dari
bahan yang netral) yang mengandung beberapa jenis zat kimia yang merupakan
gizi bagi bakteri tertentu serta dapat mengatur nilai pH. Prinsip Analisa MPN
hampir sama dengan prinsip analisa SPC, tetapi bakteri tidak berkembang pada
media agar-agar, melainkan dalam media tersuspensi pada kaldu (broth) yang
mengandung gizi untuk pertumbuhannya. Bakteri-bakteri tersebut dapat
dideteksi

karena

mampu

memfermentasikan

laktosa

yang

kemudian

menghasilkan gas serta menyebabkan terjadinya perubahan pH. Metoda SPC


digunakan untuk tes bakteri total , sedangkan metoda penyaringan dengan
membran dan MPN lebih cocok untuk untuk analisa total coliform dan fecal
coliform. Analisa total coliform dan fecal coliform menggunakan metoda.
4. RADIO AKTIVITAS

Radioaktivitas yang terdapat dalam suatu air dapat berasal dari


kebocoran industri-industri nuklir, pusat-pusat pembangkit tenaga nuklir dan
dari sampah-sampah radioaktif yang dapat bersatu dengan pasir atau lumpur
dalam kehidupan biologis atau terlarut dalam air. Zat radioaktif yang teraplikasi
dalam teknologi nuklir yang digunakan pada berbagai bidang dapat
menimbulkan sisa pembuangan. Dapat saja sisa zat radioaktif tersebut terbawa
ke dalam lingkungan air. Pengaruh radioaktif ini dapat mengakibatkan gangguan
pada proses pembelahan sel, rusaknya kromosom, dan lebih jauh dalam waktu
yang lama dapat terjadi kerusakan sistem reproduksi dan sel. Untuk mengukur
kandungan bahan radioaktiv dalam air dapat digunakan

detector SPA-1

Eberline yang dihubungkan dengan alat pencacah Scaler Ludlum Model 1000.