Anda di halaman 1dari 11

Nama : Salima Safna W.E.

P
Kelas : E
NIM

: 1571042042

A. Erik Erikson
Struktur Kepribadian :
Ego kreatif adalah ego yang dapat menemukan pemecahan kreativitas atas masalah
baru pada setiap tahap kehidupan. Ego yg sempurna memiliki 3 dimensi, yaitu
a.

faktualisasi, universalitas dan aktualitas.


Faktualisasi adalah kumpulan sumber data dan fakta serta metode yang dapat
dicocokkan atau diverifikasi dengan metode yang sedang digunakan pada suatu
peristiwa. Dalam hal ini, ego berisikan kumpulan hasil interaksi individu dengan

b.

lingkungannya yang dikemas dalam bentuk data dan fakta.


Universalitas adalah dimensi yang mirip dengan prinsip realita yang dikemukakan
oleh Freud. Dimensi ini berkaitan dengan sens of reality yang menggabungkan

c.

pandangan semesta/alam dengan sesuatu yang dianggap konkrit dan praktis.


Aktualitas adalah metode baru yang digunakan oleh individu untuk berhubungan
dengan orang lain demi mencapai tujuan bersama.
Erikson menemukan tiga aspek yang saling berhubungan, yaitu body ego, ego
ideal dan ego identity, yang umumnya akan mengalami perkembangan pesat pada
masa dewasa meskipun ketiga aspek tersebut terjadi pada setiap fase kehidupan.
a. Body ego merupakan suatu pengalaman individu terkait dengan tubuh atau fisiknya
sendiri. Individu cenderung akan melihat fisiknya berbeda dengan fisik tubuh orang
lain.
b. Ego ideal merupakan suatu gambaran terkait dengan konsep diri yang sempurna.
Individu cenderung akan berimajinasi untuk memiliki konsep ego yang lebih ideal
dibanding dengan orang lain.
c. Ego identity merupakan gambaran yang dimiliki individu terkait dengan diri yang
melakukan peran sosial pada lingkungan tertentu.
Tahap Perkembangan
a. Tahap I : Trust vs Mistrust / Percaya vs Tidak Percaya (0-1 tahun)

Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan pengasuhan dan
kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan anaknya, sang anak akan
mengembangkan kemampuan untuk dapat mempercayai dan mengembangkan asa
(hope).
b. Tahap II: Autonomy vs Shame & Doubt/ Malu vs Malu & Ragu-ragu (l-3 tahun)
Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol atas tubuhnya.
Orang tua seharusnya menuntun anaknya, mengajarkannya untuk mengontrol
keinginan atau impuls-impulsnya, namun tidak dengan perlakuan yang kasar..
c. Tahap III : Initiative vs Guilt / Inisiatif vs Rasa Bersalah (3-6 tahun)
Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan melaksanakan
tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini akan membuat sang
anak takut mengambil inisiatif atau membuat keputusan karena takut berbuat salah.
d. Tahap IV: Industry vs Inferiority / Tekun vs Rasa Rendah diri (6-12 tahun)
Pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan dari
menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademik. Penyelesaian yang sukses
pada tahapan ini akan menciptakan anak yang dapat memecahkan masalah dan
bangga akan prestasi yang diperoleh.
e. Tahap V : Identity vs Identity Confusion/ Identitas vs Kebingungan identitas (12-20
tahun)
Pada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis seperti
orang dewasa sehingga tampak adanya kontraindikasi bahwa di lain pihak anak
dianggap dewasa tetapi di sisi lain dianggap belum dewasa
f. Tahap VI: Intimacy vs Isolation / Keintiman vs Keterkucilan (masa dewasa muda,
20-30 tahun)
Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara berinteraksi dengan orang
lain secara lebih mendalam
g. Tahap VII: Generativity vs Stagnation/ Bangkit vs Stagnan (masa dewasa
menengah, 30-65 tahun)
Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai balasan dari
apa yang telah dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan sesuatu yang dapat
memastikan kelangsungan generasi penerus di masa depan.
h. Tahap VIII: Ego Integrity vs Despair/ Integritas vs Putus Asa (masa dewasa akhir,
65 tahun ke atas)
Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat kembali masa lalu dan
melihat makna, ketentraman dan integritas. Refleksi ke masa lalu itu terasa

menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk mengintegrasikan tujuan


hidup yang telah dikejar selama bertahun-tahun.
B. Karen Horney
Kebutuhan Neurotik terbagi menjadi 10, yaitu :
1. Kebutuhan kasih sayang dan penerimaan : keinginan membabi-buta untuk
menyenangkan orang lain dan berbuat sesuai dengan harapan orang lain.
2. Kebutuhan partner yang bersedia mengambil alih kehidupannya : tidak memiliki
kepercayaan diri, berusaha mengikat diri dengan partner yang kuat. Kebutuhan
ini mencakup penghargaan yang berlebihan terhadap cinta, dan ketakutan akan
kesepian dan diabaikan.
3. Kebutuhan membatasi kehidupan dalam ranah sempit : Penderita neurotik sering
berusaha untuk tetap tidak menarik perhatian, menjadi orang ke-dua, puas
dengan yang serba sedikit. Mereka merendahkan nilai kemampuan mereka
sendiri, dan takut menyuruh orang lain
4. Kekuasaan : kekuatan dan kasih sayang memungkin dua kebutuhan neurotik
yang terbesar. Kebutuhan kekuatan, keinginan berkuasa, tidak menghormati
orang lain, memuja kekuatan dan melecehkan kelemahan, yang berwujud sebagai
kebutuhan mengontrol orang lain dan menolak perasaan lemah atau bodoh
5. Kebutuhan mengeksploitasi orang lain : Takut menggunakan kekuasaan secara
terang-terangan, menguasai orang orang lain melalui eksploitasi dan superiorita
intelektual.
6. Kebutuhan pengakuan sosial atau prestise : Kebutuahan memperoleh
penghargaan sebesar-besarnya dari masyarakat.
7. Kebutuhan menjadi pribadi yang dikagumi : Pengidap narkotik memiliki
gambaran diri melambung dan ingin dikagumi atas dasar gambaran itu, bukan
atas siapa sesungguhnya mereka
8. Kebutuhan ambisi dan prestasi pribadi : Penderita neurotik sering memiliki
dorongan untuk menjadi yang terbaik
9. Kebutuhan mencukupi diri sendiri dan independensi : Neurotik yang kecewa
gagal menemukan hubungan-hubungan yang hangat dan memuaskan dengan
orang lain yang cenderung akan memisahkan diri tidak mau terikat dengan orang
lain, membuktikan bahwa mereka bisa hidup tanpa orang lain

10. Kebutuhan kesempurnaan dan ketaktercelaan : Mereka sangat takut membuat


kesalahan dan mati-matian berusaha menyembunyikan kelemahannya dari orang

lain.
Konsep Diri
Menurutnya, proses intrapsikis semula berasal dari pengalaman hubungan antar
pribadi kemudian mengembangkan eksistensi dirinya terpisah dari konflik
interpersonal. Untuk dapat memahami konflik intrapsikis yang sarat dengan
dinamika diri, perlu difahami empat gambaran diri dari Horney (Alwisol, 2009),
yaitu :
1. Diri Rendah (Despised Real Self)
Konsep yang salah tentang kemampuan diri, keberhargaan dan
kemenarikan diri, yang didasarkan pada evaluasi orang lain yang dipercayainya,
khususnya orang tuanya. Evaluasi negative mungkin mendorong oramg untuk
2.

merasa tak berdaya.


Diri Nyata (Real Self)
Pandangan subjektif bagaimana diri yang sebenarnya, mencakup potensi
untuk berkembang, kebahagiaan, kekuatan, kemauan, kemampuan khusus, dan
keinginan untuk realisasi diri, keinginan untuk spontan menyatakan diri yang

sebenarnya.
3. Diri Ideal (Ideal Self)
Pandangan subjektif mengenai diri yang seharusnya, suatu usaha untuk
menjadi sempurna dalam bentuk khayalan, sebagai kompensasi perasaan tidak
mampu dan tidak dicintai.
4. Diri Aktual (Actual Self)
Berbeda dengan real self yang subektif, aktual self adalah kenyataan
objektif diri seseorang, fisik dan mental apa adanya, tanpa dipengaruhi oleh
persepsi orang lain.
C. Alfred Adler
Ide Teori Adler :
1. Setiap orang berusaha untuk berkompetensi pada setiap pribadi
2. Setiap orang mampu mengembangkan gaya hidupnya masing-masing
3. Kwalitas yang paling penting dari kepribadian yang sehat adalah kapasitas yang
diperoleh untuk perasaannya terhadap sesama
4. Ego adalah bagian dari jiwa yang kreatif yang mampu menciptakan realitas melalui

proses dalam menetapkan tujuan


Struktur Kepribadian

1. Superiority ; Perasaan mencoba untuk lebih baik dari orang lain dan semakin dekat
dengan tujuan yang diharapkan
2. Inferiority : Perasaan rendah diri yang timbul akibat konflik dari dalam diri

seseorang ( perasaan lemah )


Dinamika Kepribadian
1. Perasaan rendah diri dan kompensasi (Inferiority feeling and compensation)
Semua individu memiliki kekurangan / kelemahan, dan hal itu seringkali memicu
perasaan rendah diri. Untuk menutupi kekurangannya tersebut, individu berusaha
mengkompensasi dalam bidang lain.
2. Tujuan yang semu (Fictional finalism)
Pada dasarnya individu melakukan sesuatu adalah karena adanya tujuan ke masa
depan dan bukan ke masa lalu. Tujuan itu bersifat semu tapi dapat menjadi
pendorong bagi individu dalam melakukan sesuatu.
3. Berjuang untuk menjadi Superior (Striving for superiority)
Setiap individu selalu ingin menjadi yang sempurna / mengejar kesempurnaan.
Superioritas merupakan suatu gerak yang mengarahkan individu pada kesuksesan
terutama dalam konteks sosial.
4. Minat Sosial (Social interest)
Minat-minat social mencakup kerjasama, relasi, interpersonal dan social,
identifikasi kelompok dan empati. Individu dikatakan sehat apabila termotivasi
oleh perasaan inferiority yang normal disertai dengan minat social yang tinggi.
5. Gaya hidup (Style of life)
Merupakan cara yang unik dari setiap individu yang berjuang untuk mencapai
tujuan. Setiap individu memiliki gaya hidup, tetapi tidak ada dua orang yang
mengembangkan gaya hidup yang sama.
6. Diri yang kreatif (Creative self)
Individu menciptakan kepribadiannya sendiri dengan mengkonstruksi sifat-sifat
aslinya dengan pengalaman yang diperolehnya. Individu memiliki kekuatan sendiri
untuk bebas menciptakan gaya hidupnya sendiri-sendiri.

Urutan Lahir

Adler menggambarkan perbedaan sifat anak sesuai dengan urutan kelahiran :


1. Anak pertama : menjaga, melindungi, pengatur yang baik, kecemasan tinggi,
pengkritik
2. Anak kedua : motivasinya tinggi, suka bersaing, dapat bekerjasama, pemberontak,
mudah putusasa.
3. Anak bungsu : ambisius, realistis, manja, tergantung pada orang lain
4. Anak tunggal : dewasa secara sosial, manja, ingin selalu menjadi pusat perhatian,
perasaan kerjasama rendah, takut bersaing.
D. Carl G. Jung
Pandangann Jung terhadap Pikiran (mind Menggunakan psyche untuk merujuk pada
pikiran. 3 level pikiran :
1. Kesadaran ego (Conscious) : Jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran,
dan perasaan sadar.
2. Ketidakesadaran personal (Personal Unconscious) : Pengalaman yang ditekan,
dilupakan, dan gagal menimbulkan kesan sadar
3. Ketidaksadaran kolektif (Collective Unconscious) : Gudang bekas-bekas ingatan
laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang,masa lampau yang meliputi
tidak hanya sejarah ras manusia sebagai suatu spesies tersendiri tetapi juga leluhur
pramanusiawi atau nenek moyang binatangnya. Ketidaksadaran kolektif adalah sisa
psikik perkembangan evolusi manusia, sisa yang menumpuk sebagai akibat dari
pengalaman-pengalaman yang berulang selama banyak generasi.

Archetype (Arsetip)
Image dan bentuk pikiran yang muatan emosinya besar. Macam-macam arsetip :
1.
Acrhetypes : pengalaman, menurut Jung, layaknya emosi dan gambaran
mental. Jung dalam studinya tentang kultur dan cara berfikir menemukan 4
archetypes utama yang menonjol.
2.
Persona : Merupakan sebuah penutup menyembunyikan orang sebenarnya.
Orang menggunakan ini untuk tampil berbeda pada orang-orang tertentu dan pada
situasi sosial dimana ia menginginkan interaksi yang lebih baik. Penutupan
seringkali tidak merefleksikan kepribadian orang itu sebenernya.

3.

Anima dan Animus : Merupakan karakteristik gender manusia. Animus


berarti karakter maskulin yang ada pada wanita, dan Anima berarti suatu

4.

karakteristik wanita (feminim) yang ada pada pria.


Shadow : Merupakan bagian kepribadian yang seperti kepribadian hewan.
Pola dasar ini yang memberikan aspek tak bermoral (immoral) pada manusia. Jung
mengklain bahwa ketika kita melakukan sesuatu yang 'jelek' maka penyebab
perilaku tersebut adalah shadow personality

E. Sigmund Freud
Struktur Kepribadian
1. Id : Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera
dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas
langsung, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan
2. Ego : Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk
menangani dengan realitas
3. Superego : aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral
dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat kami rasa

benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.


Mekanisme Pertahanan
1. Represi (Repression) : Mekanisme dimana seseorang yang memiliki keinginankeinginan, impuls-impuls pikiran, kehendak-kehendak yang tidak sesuai dan
mengganggu kebutuhan/motivasinya, disingkirkan dari alam sadar dan ditekan ke
dalam alam bawah sadar.
2. Sublimasi (Sublimation) : Proses dengan apa kehendak-kehendak tidak sadar dan
tidak dapat diterima, disalurkan menjadi aktivitas yang memiliki nilai sosial yang
tinggi. Dorongan atau kehendak-kehendak yang tidak dapat disalurkan menjadi
aktivitas yang memiliki nilai sosial
3. Proyeksi (Projection) : Mekanisme dengan apa seseorang melindungi dirinya dari
kesadaran akan tabiat-tabiatnya sendiri yang tidak baik, atau perasaan-perasaan
dengan menuduhkannya kepada orang lain.
4. Pengelakan atau Pemindahan (Displacement) : Proses mekanisme dimana emosiemosi yang tertahan diberikan tujuan yang lain ke arah ideide, objek-objek, atau
orang lain daripada ke sumber primer emosi. Luapan emosi terhadap seseorang
atau objek dialihkan kepada seseorang atau objek yang lain.

5. Rasionalisasi (Rationalization) : Untuk membuktikan bahwa prilakunya itu masuk


akal (rasional) dan dianggap rasional adanya, dapat disetujui, dapat dibenarkan,
dan dapat diterima oleh dirinya sendiri dan masyarakat.
6. Pembentukan reaksi (Reaction Formation) : Reaksi formasi atau penyusunan reaksi
mencegah keinginan yang berbahaya baik yang diekspresikan dengan cara
melebih-lebihkan sikap dan prilaku yang berlawanan dan menggunakannya
sebagai rintangan untuk dilakukannya.
7. Regresi (Regression) : Keadaan dimana seseorang kembali ke tingkat yang lebih
awal dan kurang matang dalam adaptasi. Bentuknya yang ekstrim adalah tingkah
laku infantile (kekanak-kanakan). Keadaan seorang yang kembali ke tingkat
perkembangan yang sebelumya dan kurang matang dalam adaptasi.
F. Anna Freud
1. Dari ketergantungan menjadi percaya diri
a. Ketergantungan biologis kepada ibu, tidak mengenal bahwa dirinya terpisah
dengan orang lain.
b. Membutuhkan hubungan yang memuaskan, ibu dianggap sebagai pemuas dari
luar.
c. Tahap objek-tetap, gambaran ibu tetap ada, walaupun dia tidak hadir.
d. Pre-odipus, tahap memeluk, ditandai dengan mendominasi obyek yang disukai.
e. Fase odipus-falis, ditandai dorongan memiliki orang tua lain jenis dan bersaing
dengan orang tua sejenis.
f. Fase laten dengan menurunnya kebutuhan hubungan yang memuaskan dengan
obyek yang dicintai.
g. Fase pre adolesan, kembalinya kebutuhan hubungan yang memuaskan dengan
obyek yang dicintai.
h. Fase adolasen, berjuang untuk mandiri, memutuskan cinta dengan orang tua
kebutuhan kepuasan seksual.
2. Dari menghisap menjadi makan makanan keras
a. Disusui teratur sesuai jadwal atau kalau membutuhkan.
b. Disiplin dari botol atau susu ibu, mengalami kesulitan makan makanan baru
c. Peralihan dari disuapi menjadi makan sendiri, makan masih identic dengan ibu
d. Makan sendiri, berbeda pendapat dengan ibu menganai banyaknya makanan.
e. Seksual infantile membentuk sikap terhadap makanan: fantasi takut gemuk atau
hamil melalui mulut.
f. Senang makan, memiliki kebiasaan makan yang ditentukan sendiri.
3. Dari ngompol dan gobrok menjadi dapat mengontrol urinasi / defakasi
a. Bebas membuang kotoran tubuh

b. Fase anal, menolak control orang lain dalam hal pembuangan kotoran, perang
kemauan latihan kebersihan.
c. Identifikasi dengan aturan orang tua, mengontrol sendiri pembuangan kotoran.
Minat kebersihan dan keteraturan didasarkan pada keteraturan anal.
d. Kepedulian dengan kebersihan, tanpa tekanan orang tua, ego dan super ego
mengontrol dorongan anal secara otonom.
4. Dari tidak bertanggung jawab menjadi bertanggung jawab mengatur tubuh
a. Agresi diubah dari kepada diri sendiri menjadi kepada dunia luar.
b. Ego semakin memahami prinsip sebab-akibat, meredakan keinginan yang
berbahaya, mengenali bahaya eksternal seperti api, ketinggian, dan air
c. Sukarela menerima aturan kesehatan, menolak makanan yang tidak sehat,
kebersihan tubuh, melatih kebugaran tubuh.
5. Dari egosentrik menjadi kerjasama
a. Mementingkan diri sendiri, naskistik, anak kecil lain tidak ada, atau dipandang
sebagai pengganggu dan saingan memperoleh cinta orang tua.
b. Anak kecil didekatnya dipandang sebagai benda mati, atau mainan yang dapat
diperlakukan kasar tanpa tanggung jawab.
c. Anak kecil didekatnya dianggap sebagai teman untuk mengerjakan sesuatu
lamanya kerjasama tergantung kepada tuntutan tugas.
d. Teman dipandang patner sederajat, memiliki kemauan sendiri, mereka dapat
dihormati, ditakuti, dijadikan saingan, dicintai, dibenci, atau ditiru. Membutuhkan
sahabat sejati
6. Dari tubuh menjadi mainan, dan dari bermainan menjadi bekerja
a. Permainan bayi adalah perasaan tubuh, kepekaan jari, kulit, dan mulut tidak
dibedakan antara tubuh sendiri dengan tubuh ibu.
b. Sensasi tubuh dipindah ke obyek yang lembut seperti beruang mainan atau sarung
bantal.
c. Memeluk obyek yang lembut, menyayangi barang yang lembut obyek benda mati.
d. Puas menyelesaikan suatu kegiatan, dan puas mencapai prestasi sesuatu.
e. Permainan sekolah untk bekerja melalui hobi, lamunan, dan olah raga. Anak dapat
menahan implus dirinya.
Mekanisme Pertahanan
a. Repression :Motivasi untuk melupakan, menekannya kedalam alam bawah sadar.
b. Denial :Motivasi untuk penolakan, penolakan terhadap sebuah bahaya "di luar
sana" dengan cara meniadakan mereka.
c. Asceticism :Penolakan terhadap kebutuhan.Sifat dari penyangkalan diri yang
lebih besar dengan cara menyangkal semua keinginan & semua kesenangan
duniawi. Biasanya terjadi pada masa Pubertas

d. Projection :Pemberian makna pada orang lain ketika sesuatu yang terjadi tidak
dapat diterima, maka seolah-olah itu bukan bagian dari dalam diri kita.
e. Altruistic surrender:Penyerah dari pemuasan langsung atau dari kebutuhan
instingtual terjadi untuk memenuhi kebutuhan orang lain dengan merugikan diri
sendiri dan dimana kepuasan dapat dinikmati hanya melalui introyeksi yang
dilakukan untuk orang lain.
f. Displacement :Penempatan yang Keliru.Pengalihan impuls, biasanya berperilaku
agresif kepada target pengganti ketika sasaran yang tepat terlalu mengancam
g. Turning-against-self:Pengalihan impuls batin terhadap diri sendiri yang bukan
lahiriah, biasanya menghasilkan perasaan depresi dan rasa bersalah.
h. Reaction formation :Upaya pengendalian dorongan-dorongan primitif agar tak
muncul, serta secara sadar mengungkapkan tingkah laku, sebaliknya tindakan
defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan tidak nyaman dengan
kebalikannya.
i. Reversal :Memutarbalikkan Fakta. Mengubah status ego dari aktif menjadi pasif.
j. Identification-with-the-aggressor :Mengadopsi sifat-sifat atau tindakan dari orang
atau objek yang ditakuti.
k. Isolation : Contoh: seorang anak yang benci pada gurunya dapat bercerita tentang
gurunya pada orang lain tanpa menunjukkan bahwa ia memiliki rasa benci
tersebut.kan penyekatan emosional (isolasi emosi).
l. Undoing :Upaya untuk menebus rasa bersalah dengan meniadakan keinginan atau
tindakan yang tidak bermoral.Biasanya muncul dengan perilaku yang berulangulang.
m. Regression :Kemunduran perilaku ke tahap sebelumnya.