Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

Oleh :

Elsya Erlangga
61110037

Pembimbing :

dr. Retno Murti Laila, Sp.A


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD
EMBUNG FATIMAH BATAM 2015

IDENTITAS PASIEN

Nama

Tempat, tanggal lahir

Jenis Kelamin

: Anak Al MF
: Ngawi, 30 September 2015

: Laki-Laki

Alamat
: Kavling Komboja C1 No 120 RT
V RW XV Sei Pelunggut

Umur

: 10 tahun, 11 bulan, 21 hari

Agama

: Islam

Suku bangsa

Tanggal Rawat

: Jawa
: 21 September 2015

ANAMNESIS

Alloanamnesis dan autoanamnesis dengan Ibu pasien dan pasien


sendiri pada tanggal 21 September 2015
Keluhan Utama
Demam

RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT

Sejak 5 hari SMRS, pasien mengalami demam tinggi. Demam dirasakan timbul
mendadak dan terus menerus, menggigil (disangkal), kejang (disangkal), batuk pilek
(disangkal), nyeri menelan (ada), sakit kepala (ada), nyeri pada belakan mata (ada), pegalpegal di otot (ada), nyeri sendi (ada), sesak (disangkal), nyeri perut (disangkal), nafsu makan
berkurang), berkeringat di malam hari (disangkal), berat badan menurun drastis (disangkal),
mual (disangakal), muntah (disangkal), mimisan (disangkal), gusi berdarah (disangkal), BAB
hitam (disangkal).

Sejak 3 hari SMRS, menurut Ibu pasien anaknya kemabali demam dan disertai dengan
bebarapa keluhan yang lainnya seperti mual, mimisan, sakit kepala, pegel-pegel di otot, bintik
merah pada kulit. Karena keluhan demamnya pasien kemudian di bawa ke salah satu Praktek
Dokter Suwasta di daerah Batu Aji, lalu pasien diberikan obat penurun panas.

Sejak 1 hari SMRS, pasien tampak lemah, nafsu makan menurun, puisng, badan
berkeringat dingin, kaki dan tangan dingin, BAK berkurang, serta terasa nyeri pada perut.
Sehingga pesien dibawa oleh Ibunya ke prakter dokter spesialias anak di RSUD Embung
Fatimah Kota Batam. Oleh Dokter Sp.A yang bertugas saat itu pasien disuruh langsung
datang ke UGD untuk diberikan tindakan berupa resusitasi cairan.

RIWAYAT PASIEN
Riwayat

Penyakit Sebelumnya yang Berhubungan dengan Penyakit Sekarang


Tidak pernah dan tidak ada riwayat DBD sebelumnya.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga/ Lingkungan Sekitarnya yang Ada


Hubungan dengan Penyakit Sekarang
Tidak ada, Namun, di lingkungan sekolah, terdapat beberapa teman pasien yang
menderita DBD dan sempat dirawat di rumah sakit.
Riwayat

Kehamilan Ibu
Pasien dikandung cukup bulan dan ibunya sering memeriksakan diri ke bidan selama
masa kehamilan. Ibunya tidak pernah mengalami kelainan selama masa kehamilan.
Riwayat

Kelahiran
Pasien lahir spontan, cukup bulan, langsung menangis, Berat badan lahir sekitar
3100 gram dengan panjang badan Ibu tidak ingat.
Riwayat

Makanan
Pasien mendapat ASI ekslusif sampai usia 6 bulan. Saat ini pasien makan tiga kali
sehari dengan porsi yang cukup. Pasien makan nasi dengan berbagai lauk setiap
harinya.

COUNT

Riwayat tumbuh Kembang


Pasien tumbuh seperti anak seusianya, termasuk aktif bermain. Saat
ini pasien berusia 10 tahun dan telah masuk kelas 5 SD.

Riwayat Imunisasi
Menurut Ibu pasien, anaknya mendapatkan imunisasi wajib yang
lengkap.
Riwayat Penyakit Keluarga, sosial dan ekonomi
Pasien tinggal serumah dengan orang tua.
menggunakan layanan pribadi ( pasien umum).

Pasien

berobat

PEMERIKSAAN FISIK

Pada tanggal 21 September 2015:

Tanda Vital :

Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan darah
Frekuensi nadi
lemah
Frekuensi nafas
Suhu tubuh
Berat badan
Tinggi badan

: Tampak lemas
: Sopnolen
: 95/80 mmHg
: 95x/menit, regular, isi kurang, teraba
: 28x/menit, napas cuping hidung (-),
: 35,9C
: 25 kg
: 132 cm

STATUS GENERALIS
Kulit

: Petekie (-), turgor baik

Kepala
Wajah
Mata:

: Normocephali, rambut hitam, distribusi merata, tak mudah dicabut.

: Ekspresi baik, bentuk simetris


Pupil bulat isokor, RCL +/+, RCTL +/+, conjunctiva anemis -/- sklera ikterik -/-

Telinga

: Normotia, serumen -/-, sekret -/-

Hidung

: Deviasi septum -/-, mucosa hiperemis -/-, secret -/-

Mulut

: Lidah kotor (-), tonsil dan faring tidak hiperemis, mukosa bibir kering, sianosis perioral (-)

Leher

: KGB tidak teraba membesar, kelenjar thyroid tak teraba membesar.

Cor

: Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba


Perkusi : Dalam batas normal, tidak terdapat pembesaran jantung
Auskultasi : S1 S2 reguler, murmur (-) gallop (-)
Pulmo

: Inspeksi : Simetris, tidak ada bagian paru yang tertinggal, retraksi (-)

Palpasi : Vocal fremitus sama di kedua hemithorax


Perkusi : Sonor di kedua hemithorax
Auskultasi : Suara napas vesikuler, Rhonki -/-, wheezing -/Abdomen

: Inspeksi : penonjolan massa (-).

Palpasi : lemas, hepar teraba 2 jari bawah arcus costae, tepi tajam, permukaan rata
konsistensi kenyal, nyeri tekan (+), nyeri tekan epigastrium (+),lien tidak teraba,
Perkusi : Timpani, regio kuadran kanan atas pekak, shifting dullness (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Extremitas:

perifer

Akral dingin, petechiae (-), perfusi perifer kurang, CRT > 2, oedema (-), pulsasi arteri
(A.Dorsalis pedis dekstra et sinistra) teraba lemah. Rumple leede test (+).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
21/09/2015
Leukosit
Eritrosit
Trombosit
Hb
Ht
Hemotogi
Leukosit
Eritrosit
Trombosit
Hb
Ht

12.15
4.100 / L
4.3 juta / L
33.000 /
10,7 g/dL
32 %
22/09/2015
5.000 /L
4.7 juta /L
34.000 /L
12,4 g/dL
34 %

16.32
4.400 / L
4.6 juta / L
26.000 / L
12,1 g/dL
37 %
23/09/2015
4.500 /L
5.1 juta /L
83.000 /L
13 g/dL
39 %

24/09/2015
4.100 /L
4.9 juta /L
74.00 0 /L
12.6 g/dL
35 %

25/09/2015
5.600 /L
4.7 juta /L
212.000 /L
12.2 g/dL
34 %

RESUME

Anak Al MF usia 10 tahun dengan berat badan 25 kg datang dengan


keluhan utama demam tinggi sejak lima hari SMRS. Demam dirasakan
timbul mendadak dan terus menerus. Menggigil (+), Kejang (-). Batuk (-).
Mencret, (-) sesak (-), Mual (+), muntah (+). Sakit kepala (+), sakit perut
(+), pegal (+). Riwayat perdarahan dari hidung (ada) , gusi, saluran cerna,
dan tempat lain disangkal. Kaki dan tangan dingin (+), Buang air kecil
pasien masih seperti biasanya kemudian menjadi semakin sedikit. BAB
berwarna hitam disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang,
tanda vital didapatkan Tekanan darah 95/80 mmHg, Frekuensi nadi
95x/menit, regular, isi kurang, teraba lemah, Frekuensi nafas
28x/menit,Suhu tubuh 35,9C, hepatomegali, nyeri tekan epigastrium dan
region quadran kanan atas (+), pulsasi arteri perifer teraba lemah dan
hasil uji rumple leed (+). Status gizi baik.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb normal, Ht meningkat
dan terdapat trombositopenia.

DIAGNOSIS

F. DIAGNOSIS
Diagnosis kerja : Syok Hipovolemi dangan DHF grade III-IV
Diagnosis banding : Malaria

Rencana diagnostik
Pemeriksaan darah perifer lengkap setiap 6-8 jam.
Monitor tanda vital setiap 15-30 menit
Pemeriksaan Malaria Kuantitatif (Hapus darah tebal dan tipis)

TATALAKSANA

Penanganan pada awal di UGD


O2 5L/menit, suncup
IVFD RL 500 cc guyur II Kolf. Apabila syok belum taratsi dan akral
masi dingin masukan HES 6 % 250 cc guyur akral masih dingin
HES 250 cc guyur (II) akral masih dingin HES 250 cc guyur (III)
CRT < 3 dan akral hangat RL 250 cc/jam (makro). Jika kondisi
tetap stabil dan membaik maka cairan diganti menjadi Asering 40
tts/i.
Ranitidine 3 x 25 mg IV
PO : Trolit 3 x 1 sachet
Rontgen thorak AP

Non medikamentosa
Bedrest (tirah baring)
Minum air yang banyak
Mengedukasi keluarga pasien untuk melakukan kegiatan pencegahan
DBD dengan 3M, yaitu menutup, menguras, mengubur barang-barang
yang dapat menampung air.
Menjaga asupan nutrisi yang seimbang, baik kualitas, maupun
kuantitasnya.

PROGNOSIS

Quo Ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo Ad functionam

: Ad bonam

Quo Ad sanactionam

: Ad bonam

FOLLOW UP
21/09/2015

22/09/2015

23/09/2015

24/09/2015

25/09/2015

Keluhan

Demam 5 hari
SMRS, keluhan
disertai badan
berkeringat dingin,
lemas (+), pusing (+),
mual (+), muntah (-),
nafsu makan (+), nyri
pada perut (+), BAB
hitam (-), BAK
berkurang.

Demam masi dirasakan


naik turun oleh pasien,
deman hari ke 6, mual
masi di rasakan sekalikali, muntah (-), mimisan
(-), BAB hitam (-), BAK
(+) .

Pasien sudah
mearasa ada
perbaikan, demam
(-), nyeri pada
perut (-), BAB (+),
BAK (+).

Keluhan
berkurang,
demam tidak ada,
nyri pada perut
tidak ada, nafsu
makan baik, BAB
(+), BAK (+)

Demam tidak
ada, nyri pada
perut tidak
ada, nafsu
makan baik,
BAB (+), BAK
(+)

KU

Tampak lemas

Tampak S sedang

Baik

Baik

Baik

Kesadaran

Sopnolen (12.15)

Ccomposmentis

Composmentis

Composmentis

Composmentis

TTV

HR : 95x/i
TD : 95/80 mmHg
RR : 28x/i
S : 35,9 C

HR : 78x/i
TD : 120/80mmHg
RR : 32x/i
S : 36,3 C

HR : 79x/i
TD : 120/90 mmHg
RR : 28 x/i
S : 37, C

HR : 80x/i
TD : 120/80 mmHg
RR : 30x/i
S : 36,7 C

HR : 88x/i
TD : 120/80
RR : 24x/i
S : 36,3 C
BB : 30 kg

Terapi

O2 5L/m Suncup
IVFD RL guyur 2 Kofl (
akral dingin pasang
HES 6%)
HES 6% guyur 500 cc
( akral dingin lanjur
HES 6 % guyur 250 cc
kolf ke III. Ganti RL

O2 coba lepas
IVFD Asering 30 tts/I
Inj Ranitidin 2 x 25 mg
Inj Extrance 1 x 200 mg
IV
Po : Trolit 3 x 1 Sachet
Diet : 3 x ML, 2 x 200 cc
susu.

IFVD Asering 18
tts/i
Inj Ranitidin 2 x
25 mg
Inj Extrance 1 x
200 mg IV
Po : Trolit 3 x 1
sachet

IFVD Asering 18
tts/i
Inj Ranitidin 2 x
25 mg
Inj Extrance 1 x
200 mg IV
Po : Trolit 3 x 1
sachet

Infus Af
Inj Stop
Po : Trolit 3 x 1
sachet
Boleh Pulang

PEMBAHASAN

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang pada pasien ini.
Penegakan diagnosis DHF dua kriteria WHO, yakni :

Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari,
Pembesaran hati,
Uji tourniquet positif serta dari
Pemeriksaan fisik didapatkan pasien dalam keadaan syok (terdapat kegagalan
sirkulasi), yaitu keadaan umum yang buruk, gelisah, dengan tekanan darah
95/80 mmHg, nadi yang cepat dan halus, frekuensi nafas 28 x/menit, akral
dingin dan perfusi jelek.

COUNT

Dari pemeriksaan
didapatkan hasil :

penunjang

pemeriksaan

darah

rutin

Leukosit yang berada dalam batas normal, nilai hemoglobin dan hematokrit
yang dalam batas normal namun didapatkan trombositopenia yaitu sebesar
33.000/mm3 (21/09/2015), 26.000/mm3 dan peingkatan Hb yang sebelunya 10,7
g/dL menjadi 12,1 g/dL, Ht yang awalnya 32 % menjadi 37 % diperikas waktu
sore hari pada tanggal 21/09/2015 serta dan 34.000/mm3 (pemeriksaan pada
tanggal 22/09/2015).
Hal ini merupakan salah satu dari kriteria laboratories DBD. Hemoglobin dan
hematokrit yang meningkat menunjukkan adanya hemokonsentrasi.
Peningkatan kadar hematokrit merupakan bukti adanya kebocoran plasma.

Hal ini sesuai dengan literatur :

berupa

Sindrom syok dengue, setelah demam berlangsung selama beberapa hari


keadaan umum pasien memburuk, yang biasannya terjadi pada saat atau
setelah demam menurun, yakni antara hari sakit ke 3 7. Pada sebagian besar
kasus ditemukan tanda-tanda kegagalan sirkulasi, kulit teraba lembab dan
dingin, serta nadi menjadi cepat dan halus. Pasien seringkali akan mengeluh
nyeri di daerah perut sesaat sebelum syok.

COUNT

Pada hasil laboratorium biasanya akan ditemukan adanya


hemokonsentrasi (peningkatan kadar hematokrit 20%) dan
trombositopenia(trombosit < 100.000/mm3).
Terjadinya peningkatan kadar Hb merupakan bukti terjadinya
kebocoran plasma. Trombositopenia sedang sampai berat yuang
disertai dengan hemokonsentrasi adalah temuan laboratorium yang
khusus untuk DBD.

COUNT

Terapi yang diberikan pada pasien ini meliputi terapi suportif dan simtomatik.

O2 melalui nasal kanul 2-4 liter permenit, SPO2 > 92%.

Lakukan pemasangan infus cairan intravena berupa ringer laktat (RL) 30 menit pertama .

RL muerupakan satu larutan kristaloid yang direkomendasikan WHO pada terapi DBD.

Pengobatan awaldengan larutan kristaloid 20 ml/kgBB/30menit. Pada pasien ini berat


badannya adalah 25 kg sehingga diberikan adalah 500 ml dalam 30 menit dengan tetesan
infus sebesar 333 tts/i makro {(500/30) x 20}.

Syok belum teratasi berikan cairan koloid (dekstran 40 atau plasma)

10-20 ml/kgBB/jam, dengan jumlah maksimal 30 ml/kgBB/24jam.

Segera setelah terjadi perbaikan, segera cairan ditukar kembali dengan kristaloid dengan
tetesan 20 ml/kgBB.

Pada pasien kondisi membaik, jumlah cairan yang diberikan dikurangi menjadi 250 ml
dalam 1 jam (10 ml/kgBB/jam). Jika kondisi tetap stabil dan membaik maka cairan
diturunkan menjadi 125 ml/jam (5 ml/kgBB/jam) atau Jika dalam 24 jam kondisi membaik
dan stabil maka cairan diturunkan lagi menjadi 75 ml/jam (3 ml/kgBB/jam) atau 25 tpm
makro dan dalam 48 jam setelah syok teratasi pemberian terapi cairan dapat dihentikan.

Perembesan plasma tidak konstan, maka volume cairan pengganti harus


disesuaikan dengan kecepatan dan kehilangan plasma, kadar hematokrit.
Penggantian volume yang berlebihan dan terus menerus setelah plasma terhenti
perlu mendapat perhatian. Perembesan plasma berhenti ketika memasuki fase
penyembuhan, saat terjadi reabsorbsi cairan ekstravaskular kembali ke dalam
intravaskuler. Apabila pada saat itu cairan tidak dikurangi, akan menyebabkan
edema paru dan distres pernafasan
Sebagai terapi simptomatik pada pasien ini diberikan parasetamol untuk mengatasi
demam dengan dosis sebanyak 3 x 500 mg PO (apabila suhu > 38 C).
Karena pasien ini mengeluhkan adanya nyeri perut terutama di ulu hati maka juga
diberikan ranitidine dengan dosis 25 mg untuk sekali pemberian yang diberikan 2
kali sehari.

EDUKASI

Minum air yang banyak,


mengedukasi keluarga pasien untuk melakukan kegiatan pencegahan
DBD dengan 3M
Memakai repellan untuk mencegah gigitan nyamuk, khususnya saat
berada di lingkungan sekolah; dan menjaga asupan nutrisi yang
seimbang, baik kualitas, maupun kuantitasnya.

KITERIA PASIEN YANG


DIPULANGKAN

Pasien dapat dipulangkan apabila

Sudah tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik,

Nafsu makan membaik,

Tampak perbaikan secara klinis,

Hematokrit stabil, tiga hari setelah syok teratasi,

Jumlah trombosit > 50.000/mm3 dan cenderung meningkat,

Tidak dijumpai adanya distress pernafasan.

PROGNOSIS

Quo ad vitam adalah dubia ad bonam karena penyakit pada pasien saat
masuk dapat mengancam nyawa, tetapi sekarang sudah tidak dan dalam
masa pemulihan.
Quo ad functionam bonam, karena organ-organ vital pasien masih
berfungsi dengan baik dan tidak terdapat adanya manisfestasi
perdarahan.
Quo ad sanactionam bonam karena kekambuhan pada DBD hanya dapat
terjadi jika terdapat reinfeksi oleh virus dengue. Dengan edukasi yang
tepat, maka dapat dilakukan tindakan pencegahan terjadinya infeksi
virus dengue.

TERIMA KASIH

PILIHAN CAIRAN KOLOID UNTUK


DSS
Saat ini ada 3 golongan cairan koloid yang masing-masing mempunyai
keunggulan dan kekurangannya, yaitu golongan Dekstran, Gelatin, Hydroxy
ethyl starch (HES).
Golongan Dekstran mempunyai sifat isotonik dan hiperonkotik,
Maka pemberian dengan larutan tersebut akan menambah volume
intravaskular oleh karena akan menarik cairan ekstravaskular. Efek
volume 6% Dekstran 70 dipertahankan selama 6-8 jam, sedangkan efek
volume 10/o Dekstran 40 dipertahankan selama 3-5 jam. Kedua larutan
tersebut dapat menggangu mekanisme pembekuan darah dengan cara
menggangu fungsi trombosit dan menurunkan jumlah fibrinogen serta
faktor VIII, terutama bila diberikan lebih dari 1000 ml/24 jam. Pemberian
dekstran tidak boleh diberikan pada pasien dengan KID.
Golongan Gelatin (Hemacell dan gelafundin merupakan larutan gelatin yang
mempunyai sifat isotonik dan isoonkotik. Efek volume larutan gelatin
menetap sekitar 2-3 jam dan tidak mengganggu mekanism pembekuan
darah.
Hydroxy ethyl starch (HES) 6% adalah larutan isotonik dan isonkotik,
HES 10 %adalah larutan isotonik dan hiponkotik. Efek volume 6%/10/o
HES 200/0,5 menetap dalam4-8 jam,

PATOGENESIS PERDARAHAN

PATOGENESIS SYOK

POLAD DEMAM DHF SEPERTI PELANA


KUDA

TARNFUSI PADA DSS


PRC
Trombosit

Catatan

: apabila dijumpai perdarahan yang masif


yang jelas.

Trombositiopnie terjadi virus dengue


menempel pada trombosit pengahcuran
trombosit.

HEPTOMEGALI
Terjadi akibat kerja hepar yang berlebihan
untuk mendestruksi trombosit dan
menghasilkan albumin.
Sel-sel hepar terutama sel Kuppfer mengalami
banyak kerusakan oleh virus dengue.

Seumber : Soedarno dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Edisi Pertama,
Jakarta. IDAI.

TIMBULNYA GEJALA

Mekanisme efektor aktivasi sel T helper (CD4), T sitotoksik (CD8), dan sisem
komplemen oleh sel faosit yang terinfeksi.

Th akan berdiferasi Th1 (IFN-y, IL-2, dan Limfokin) dan Th2 (IL4-6 dan IL-10).

INF-y akan merangsang monosit melepaskan TNF-a,IL-1, PAF, IL-6 dan Histamin.

Pada jalur komplemen aktivasi melepaskan C3a dan C5a(anfilatoksin) yang


meningkatkan jumalah histamin peningkatan IL-1, TNF-a, INF-y, dan IL-2

IL-1, TNF-a, dan IFN-y (pirogen endogen) Demam

IL-1 juga menyababkan rasa kantuk, lemas, dan nafsu makan menurun

INF-y sebenarnya berfungsi sebagai penginduksi makrofag yang poten,


menghambat replikasi virus, dan menstimulus sel B untuk memproduksi antibody,
namun bila jumlahnya terlalu banyak dapat memberikan efek toksik seperti
Demam, rasa dingin, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri kepala, muntah dan somnolen.

Sumber : Infeksi Virus Dengue, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi
Pertaman. Jakrta IDAI.