Anda di halaman 1dari 71

ASUHAN KEPERAWATAN CA NASOFARING

1. DEFINISI
Karsinoma Nasofaring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa
nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring. Carsinoma Nasofaring
merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Sebagian besar kien datang ke
THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut. Didapatkan lebih banyak pada
pria dari pada wanita, dengan perbandingan 3 : 1 pada usia / umur rata-rata 30
50 th.

2. ANATOMI NASOFARING
NASOFARING \ disebut juga Epifaring, Rinofaring. merupakan yang terletak
dibelakang rongga hidung, diatas Palatum Molle dan di bawah dasar tengkorak.
Bentuknya sebagai kotak yang tidak rata dan berdinding enam, dengan ukuran
melintang 4 sentimeter, tinggi 4 sentimeter dan ukuran depan belakang 2-3
sentimeter. Batas-batasnya :
1.

Dinding depan : Koane

2.
Dinding belakang : Merupakan dinding melengkung setinggi Vertebra Sevikalis
I dan II.
3.

Dinding atas : Merupakan dasar tengkorak.

4.

Dinding bawah : Permukaan atas palatum molle.

5.

Dinding samping : di bentuk oleh tulang maksila dan sfenoid.

Dinding samping ini berhubungan dengan ruang telinga tengah melalui tuba
Eustachius. Bagian tulang rawan dari tuba Eustachius menonjol diatas ostium tuba
yang disebut Torus Tubarius. Tepat di belakang Ostium Tuba. Terdapat cekungan
kecil disebut Resesus Faringeus atau lebih di kenal dengan fosa Rosenmuller; yang
merupakan banyak penulis merupakan local isasi permulaan tumbuhnya tumor
ganas nasofaring.Tepi atas dari torus tubarius adalah tempat meletaknya oto
levator veli velatini; bila otot ini berkontraksi, maka setium tuba meluasnya tumor,
sehingga fungsinya untuk membuka ostium tuba juga terganggu. Dengan radiasi,
diharapkan tumor primer dinasofaring dapat kecil atau menghilang. Dengan
demikian pendengaran dapat menjadi lebih baik. Sebaliknya dengan radiasi dosis
tinggi dan jangka waktu lama, kemungkinan akan memperburuk pendengaran oleh
karena dapat terjadi proses degenerasi dan atropi dari koklea yang bersifat
menetap, sehingga secara subjektif penderita masih mengeluh pendengaran tetap
menurun.

3. ETIOLOGI

Meskipun penyelidikan untuk mengetahui penyebab penyakit ini telah dilakukan di


berbagai negara dan telah memakan biaya yang tidak sedikit, namun sampai
sekarang belum berhasil. Dikatakan bahwa beberapa faktor saling berkaitan
sehingga akhirnya disimpulkan bahwa penyebab penyakit ini adalah multifaktor.
Kaitan antara suatu kuman yang di sebut sebagai virus Epstein-Barr dan konsumsi
ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama timbulnya penyakit ini. Virus tersebut
dapat masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di sana tanpa menyebabkan suatu
kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengaktifkan virus ini di butuhkan
suatu mediator. Sebagai contoh, kebiasaan untuk mengkomsumsi ikan asin secara
terus-menerus mulai dari masa kanak-kanak, merupakan mediator utama yang
mendiator yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga menimbulkan Karsinoma
Nasofaring. Mediator yang dianggap berpengaruh untuk timbulnya karsinoma
nasofaring ialah :
1.
Zat Nitrosamin. Didalam ikan asin terdapat nitrosamin yang ternyata
merupakan mediator penting. Nitrosamin juga ditemukan dalam ikan / makanan
yang diawetkan di Greenland . juga pada Quadid yaitu daging kambing yang
dikeringkan di tunisia, dan sayuran yang difermentasi ( asinan ) serta taoco di Cina.
2.
Keadaan sosial ekonomi yang rendah. Lingkungan dan kebiasaan hidup.
Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik
ventilasinya di Cina, Indonesia dan Kenya, meningkatnya jumlah kasus KNF. Di
Hongkong, pembakaran dupa rumah-rumah juga dianggap berperan dalam
menimbulkan KNF.
3.
Sering kontak dengan zat yang dianggap bersifat Karsinogen. Yaitu yang dapat
menyebabkan kanker, antara lain Benzopyrene, Benzoathracene ( sejenis
Hidrokarbon dalam arang batubara ), gas kimia, asap industri, asap kayu dan
beberapa Ekstrak tumbuhan- tumbuhan.
4.
Ras dan keturunan. Ras kulit putih jarang terkena penyakit ini.Di Asia
terbanyak adalah bangsa Cina, baik yang negara asalnya maupun yang perantauan.
Ras melayu yaitu Malaysia dan Indonesia termasuk yang agak banyak kena.
5.
Radang Kronis di daerah nasofaring. Dianggap dengan adanya peradangan,
mukosa nasofaring menjadi lebih rentan terhadapa karsinogen lingkungan.
5. HISTOLOGI NASOFARING
Permukaan nasofaring berbenjol-benjol, karena dibawah epitel terdapat banyak
jaringan limfosid, sehingga berbentuk seperti lipatan atau kripta. Hubungan antara
epitel dengan jaringan limfosid ini sangat erat, sehigga sering disebut Limfoepitel
.
Bloom dan Fawcett ( 1965 ) membagi mukosa nasofaring atas empat macam epitel :
1.

Epitek selapis torak bersilia Simple Columnar Cilated Epithelium

2.

Epitel torak berlapis Stratified Columnar Epithelium .

3.

Epitel torak berlapis bersilia Stratified Columnar Ciliated Epithelium

4.
Epitel torak berlapis semu bersilia Pseudo-Stratifed Columnar Ciliated
Epithelium
Mengenai distribusi epitel ini, masih belum ada kesepakatan diantara para hali.60 %
persen dari mukosa nasofaring dilapisi oleh epitel berlapis gepeng Stratified
Squamous Epithelium , dan 80 % dari dinding posteroir nasofaring dilapisi oleh
epitel ini, sedangkan pada dinding lateral dan depan dilapisi oleh
epitel transisional, yang meruapkan epitel peralihan antara epitel berlapis gepeng
dan torak bersilia. Epitel berlapis gepeng ini umumnya dilapisi Keratin, kecuali pada
Kripta yang dalam. Di pandang dari sudut embriologi, tempat pertemuan atau
peralihan dua macam epitel adalah tempat yang subur untuk tumbuhnya suatu
karsinoma.

6. KLASIFIKASI
WHO 1978
1.

Tipe. 1 : Karsinoma sel skuamosa dengan berkeratinisasi

2.

Tipe 2 : Karsinoma sel skuamosa tanpa keratinisasi

3.

Tipe 3 : Karsinoma tanpa diferensiasi

Working formulation
1. Karsinoma Tipe A : anaplasia / Pleomorfy nyata-derajat keganasan menegah.
2. Karsinoma Tipe B : anaplasia / pleomorfy ringan-derajat keganasan ringan.
Jenis tanpa keratinisasi dan tanpa diferisiensi mempunyai sifat radiosensitif dan
mempunyai titer antibodi terhadap virus Epstein-Barr, sedangkan jenis karsinoma
sel skuamosa dengan berkeratinisasi tidak begitu radiosensitif dan tidak
menunjukkan hubungan dengan virus Epstein-Barr.
Klasifikasi Working Formulation digunakan untuk membandingkan respon radiasi
pada karsinoma nasofaring dengan metastasis ke kelenjar leher, respons radiasi
paling baik pada karsinoma nasofaring tipe B, kurang begitu baik pada tipe A dan
paling kurang baik pada karsinoma sel skuamosa berkeratin.

7. MANIFESTASI KLINIS

a. Gejala Dini
Karena KNF bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, maka diagnosis dan
pengobatan yang sedini mungkin memegang peranan penting untuk mengetahui
gejala dini KNF dimana tumor masih terbatas di rongga nasofaring.

- Gejala telinga :
1.
Kataralis/sumbatan tuba eutachius Pasien mengeluh rasa penuh di telinga,
rasa dengung kadang-kadang disertai dengan gangguan pendengaran. Gejala ini
merupakan gejala yang sangat dini.
2.
Radang telinga tengah sampai pecahnya gendang telinga. Keadaan ini
merupakan kelainan lanjut yang terjadi akibat penyumbatan muara tuba, dimana
rongga teliga tengah akan terisi cairan. Cairan yang diproduksi makin lama makin
banyak, sehingga akhirnya terjadi kebocoran gendang telinga dengan akibat
gangguan pendengaran.

- Gejala Hidung :
1.
Mimisan Dinding tumor biasanya rapuh sehingga oleh rangsangan dan
sentuhan dapat terjadi pendarahan hidung atau mimisan. Keluarnya darah ini
biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit dan seringkali bercampur dengan ingus,
sehingga berwarna merah jambu.
2.
Sumbatan hidung Sumbutan hidung yang menetap terjadi akibat pertumbuhan
tumor ke dalam rongga hidung dan menutupi koana. Gejala menyerupai pilek
kronis, kadang-kadang disertai dengan gangguan penciuman dan adanya ingus
kental.
3.
Gejala telinga dan hidung ini bukan merupakan gejala yang khas untuk
penyakit ini, karena juga dijumpai pada infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitis
dan lain-lainnya. Mimisan juga sering terjadi pada anak yang sedang menderita
radang.

b. Gejala Lanjut
1.
Pembesaran kelenjar limfe leher. Tidak semua benjolan leher menandakan
pemyakit ini. Yang khas jika timbulnya di daerah samping leher, 3-5 sentimeter di
bawah daun telinga dan tidak nyeri. Benjolan ini merupakan pembesaran kelenjar
limfe, sebagai pertahanan pertama sebelum sek tumor ke bagian tubuh yang lebih
jauh. Benjolan ini tidak dirasakan nyeri, karenanya sering diabaikan oleh pasien.
Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan
mengenai otot di bawahnya. Kelenjarnya menjadi lekat pada otot dan sulit
digerakan. Keadaan ini merupakan gejala yang lebih lanjut lagi. Pembesaran
kelenjar limfe leher merupakan gejala utama yang mendorong pasien datang ke
dokter.
2.
Gejala akibat perluasan tumor ke jaringan sekitar. Tumor dapat meluas ke
jaringan sekitar. Perluasan ke atas ke arah rongga tengkorak dan kebelakang
melalui sela-sela otot dapat mengenai saraf otak dan menyebabkan gejala akibat
kelumpuhan otak syaraf yang sering ditemukan ialah penglihatan dobel (diplopia),
rasa baal (mati rasa) didaerah wajah sampai akhirnya timbul kelumpuhan lidah,

nahu, leher dan gangguan pendengaran serta gangguan penciuman. Keluhan


lainnya dapat berupa sakit kepala hebat akibat penekanan tumor ke selaput otak
rahang tidak dapat dibuka akibat kekakuan otot-otot rahang yang terkena tumor.
Biasanya kelumpuhan hanya mengenai salah satu sisi tubuh saja (unilateral) tetapi
pada beberapa kasus pernah ditemukan mengenai ke dua sisi tubuh.
3.
Gejala akibat metastasis. Sel-sel kanker dapat ikur mengalir bersama aliran
limfe atau darah, mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasotoring, hal ini
yang disebut metastasis jauh. Yang sering ialah pada tulang, hati dan paru. Jika ini
terjadi, menandakan suatu stadium dengan prognosis sangat buruk.

8. STADIUM
Stadium T = Tumor Untuk penentuan stadium dipakai sistem TNM menurut UICC
(1992).
T = Tumor primer
T0 - Tidak tampak tumor.
T1 - Tumor terbatas pada satu lokalisasi saja (lateral/posterosuperior/atap dan lainlain).
T2 - Tumor terdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas di dalam
rongga nasofaring .
T3 - Tumor telah keluar dari rongga nasofaring (ke rongga hidung atau orofaring
dsb).
T4 - Tumor telah keluar dari nasofaring dan telah merusak tulang tengkorak atau
mengenai saraf-saraf otak.
TX - Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap.
N = Nodule
N - Pembesaran kelenjar getah bening regional .
N0 - Tidak ada pembesaran.
N1 - Terdapat penbesaran tetapi homolateral dan masih dapat di gerakkan .
N2 - Terdapat pembesaran kontralateral/bilateral dan masih dapat di gerakkan .
N3 - Terdapat pembesaran , baik homolateral ,kontralateral ,maupun bilateral yang
sudah melekat pada jaringan sekitar .
M = Metastasis
M = Metastesis jauh
M0 - Tidak ada metastesis jauh.
M1 - Terdapat Metastesis jauh .

Stadium I :
T1 dan N0 dan N0
Stadium II :
T2 dan N0 dan M0
Stadium III :
T1/T2/T3 dan N1 dan M0 atau T3 dan N0 dan M0
Stadium IV :
T4 dan N0/N1 dan M0 atau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan M0 atau T1/T2/T3/T4 dan
N0/N1/N2/N3 dan M1.

9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Pemeriksaan radiologi konvisional foto tengkorak potongan antero- postofor
lateral, dan posisi waters tampak jaringan lunak di daerah nasofaring. Pada foto
dasar tengkorak ditemukan destruksi atau erosi tulang daerah fosa serebia media.
2.
Pemeriksaan tomografi, CT Scaning nasofaring. Merupakan pemeriksaan yang
paling dipercaya untuk menetapkan stadium tumor dan perluasan tumor. Pada
stadium dini terlihat
asimetri dari saresus lateralis, torus tubarius dan dinding posterior nasofaring.
3.

Scan tulang dan foto torak untuk mengetahui ada tidaknya metastasis jauh.

4.
Psemeriksaan serologi, beruoa pemeriksaan titer antibodi terhadap virus
Epsten-Barr ( EBV ) yaitu lg A anti VCA dan lg A anti EA.
5.
pemeriksaan aspirasi jarum halus, bila tumor primer di nasofaring belum jelas
dengan pembesaran kelenar leher yang diduga akibat metatasisi karsinoma
nasifaring. pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal untuk mendeteksi adanya
metatasis.

10. DIAGNOSIS
Persoalan diagnosis sudah dapat dipecahkan dengan pemeriksaan CT-scan daerah
kepada dan leher, sehingga pada tumor primer yang tersembunyi pun tidak akan
terlalu sulit ditemukan. Pemeriksaan serologi lg A anti EA dan lg A anti VCA untuk
infeksi virus E-B telah menunjukkan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma
nasofaring. Diagnosa pasti ditegakkan dengan melakukan Biopsi nasofaring. Biopsi
nasofaring dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu : dari hidung atau dari mulut.
Biopsi melaui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya ( blind biopsy ).
Cunam biopsi dimasukkan melalui ronga hidung menyulusuri konka media de
nasofaring kemudian cunam di arahkan ke lateral dan dilakukan biopsi.

Biopsi melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukkan
melalui hidung dan ujung keteter yang berada dalam mulut diterik keluar dan
diklem bersama-sama ujung keteter yang di hidung. Demikian juga dengan keteter
yang di hidung di sebelahnya, sehingga palatum mole tertarik ke atas. Kemudian
denan kaca laring di lihat daerah nasofaring. Biopsi dilakukan dengan melihat
tumoir melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop yang dimasukkan
melalui mulut, masa tumor akan terlihat lebih jelas. Biopsi tumor nasofaring
umumnya dilakukan dengan anestesi topikal dengan Xylocain 10%. Bila dengan
cara ini masih belum didapatkan hasil yang memuaskan maka dilakukan
pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.

11. PENGOBATAN
Sampai saaat ini pengobatan pilihan terhadap tumor ganas nasofaring adalah
radiasi, karena kebanyakan tumor ini tipe anaplastik yang Bersifat radiosensitif.
Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna, dapat menggunakan pesawat kobal
(Co60 ) atau dengan akselerator linier ( linier Accelerator atau linac). Radiasi ini
ditujukan pada kanker primer didaerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta
pada daerah aliran getah bening leher atas, bawah seerta klasikula. Radiasi daerah
getah bening ini tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai
pembesaran kelenjar.
Metode brakhiterapi, yakni dengan memasukkan sumber radiasi kedalam rongga
nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal pada tumor
primer tetapi tidak menimbulkan cidera yang seius pada jaringan sehat
disekitarnya. Kombinasi ini diberikan pada kasus-kasus yang telah memeperoleh
dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau
pada kasus kambuh lokal.
perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah memungkinkan pemberian
radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring dengan menimbulkan efek
samping sesedikit mungkin. Metode yang disebut sebagai IMRT ( Intersified
Modulated Radiotion Therapy ) telah digunakan dibeberapa negara maju.
Prinsip Pengobatan Radiasi, inti sel dan plasma sel terdiri dari (1) RNA Ribose
Nucleic Acid dan (2) DNA Desoxy Ribose Nucleic Acid . DNA terutama terdapat
paa khromosom ionizing radiation menghambat metabolisme DNA dan
menghentikan aktifitas enzim nukleus. Akibatnya pada inti sel terjadi khromatolisis
dan plasma sel menjadi granuar serta timbul vakuola-vakuola yang kahirnya
berakibat sel akan mati dan menghilang.
Pada suatu keganasan ditandai oleh mitosis sel yang berlebihan ; stadium profase
mitosis merupakan stadium yang paling rentan terhadap radiasi. daerah nasofaring
dan sekitarnya yang meliputi fosa serebri media, koane dan daerah parafaring
sepertiga leher bagian atas. Daerah-daerah lainnya yang dilindungi dengan blok
timah. Arah penyinaran dri lateral kanan dan kiri, kecuali bila ada penyerangan

kerongga hidung dan sinus paranasal maka perlu penambahan lapangan radiasi
dari depan.
Pada penderita dengan stadium yang masih terbataas (T1,T2), maka luas lapangan
radiasi harus diperkecil setelah dosis radiasi mencapai 4000 rad , terutama dari
atas dan belakang untuk menghindari bagian susunan saraf pusat . Dengan
lapangan radiasi yang terbatas ini, radiasi dilanjutkan sampai mencapai dosis
seluruh antara 6000- 7000 rad . pada penderita dengan stadium T3 dan T4, luas
lapangan radiasi tetap dipertahankan sampai dosis 6000 rad. Lapangan diperkecil
bila dosis akan ditingkatkan lagi sampai sekitar 7000 rad. Daerah penyinaran
kelenjar leher sampai fosa supraklavikula. Apabila tidak ada metastasis kelenjar
leher, maka radiasi daerah leher ini bersifat profilaktik dengan dosis 4000 rad,
sedangkan bila ada metastasis diberikan dosis yang sama dengan dosis daerah
tumor primer yaitu 6000 rad, atau lebih. Untuk menghindari gangguan penyinaran
terhadap medullaspinalis, laring dan esofagus, maka radiasi daerah leher dan
supraklavikula ini, sebaiknya diberikan dari arah depan dengan memakai blok timah
didaerah leher tengah.
Dosis radiasi umumnya berkisar antara 6000 7000 rad, dalam waktu 6 7 minggu
dengan periode istirahat 2 3 minggu (split dose). Alat yang biasanya dipakai
ialah cobalt 60, megavoltageorthovoltage.

A. Akibat- Akibat Radiasi Pada Pendengaran


Telah disebutkan terdahulu, bahwa tumor ganas nasofaring dapat menyebabkan
penurunan pendengaran tipe konduksi yang refersibel. Hal ini terjadi akibat
pendesakan tumor primer terhadap tuba Eustachius dan gangguan terhadap
pergerakan otot levator pelatini yang berfungsi untuk membuka tuba. Kedua hal
diatas akan menyebabkan terganggunya fungsi tuba.
Infiltrasi tumor melalui liang tuba Eustachius dan masuk kerongga telinga tengah
jarang sekali terjadi . Dengan radiasi, tumor akan mengecil atau menghilang dan
gangguan-gangguan diatas dapat pula berkurang atau menghilang, sehingga
pendengaran akan membaik kembali.
Terlepas dari hal-hal diatas, radiasi sendiri dapat juga menurunkan pendengaran,
baik bertipe konduksi maupun persepsi.

Radiasi dapat menyebabkan penurunan pendengaran tipe konduksi,


karena :
1.
Terjadi dilatasi pembuluh darah mukosa disertai edema pada tuba Eustachius
yang mengakibatkan penutupan tuba.
2.

Terjadi nekrosis tulang-tulang pendengaran (radionecrosis).

Perubahan konduksi setelah radiasi ini disebabkan 3 hal :

1.

menempelnya sekret kental pada dinding lateral nasofaring.

2.

Atresia dari muara tuba.

3.

Fibrosis pada ruang fasia sekitar otot levator palatini.

Radiasi dengan cobalt-60 pada penderita tumor ganas nasofaring, dosis yang
digunakan sebesar 4.000-6.000 rad.didapatnya bahwa perubahan ambang
pendengaran tidak begitu besar. Peningkatan pendengaran rata-rata 10 desibel dan
penurunan pendengaran rata 14 desibel. Penurunan pendengaran yang bersifat
konduksi yasng disebabkan terjadinya radiation otitis media dan radionecrosis
Radiation otitis media ini terjadi karena ada gangguan dari fungsi tuba yang
akan menimbulkan efusi cairan pada rongga telinga tengah. Sedangkan
Radionecrosis ossiclesa disebabkan terjadinya perubahan veskuler berupa
degenerasi dan pembengkakan jaringan kolagen dan otot polos dinding pembuluh
darah kecil yang berakibat dinding pembuluh darah tersebut menyempit atau
menutup lumen sehingga terbentuk trombus yang akan mengganggu suplai darah
melalui end arteri ke tulang-tulang pendengaran.
Bila pada penderita dengan tuli persepsi dan ketulian ini bertambah berat, ini
disebabkan adanya penambahan komponen-komponen konduksi akibat dari
terjadinya problem ditelinga tengah karena radiasi. Pada umumnya gangguan
persepsi baru terjadi bila dosis radiasi yang tingi dan dalam waktu yang lama. Hal
ini akibat terjadinya perubahan-perubahan pada koklea. Sedangkan pada dosis
yang rendah dikatakan bahwa koklea relatif radioresisten.

12. PROGNOSIS

Secara keseluruhan, angka bertahan hidup 5 tahun adalah 45 %. Prognosis


diperburuk oleh beberapa faktor, seperti :
a.

Stadium yang lebih lanjut.

b.

Usia lebih dari 40 tahun

c.

Laki-laki dari pada perempuan

d.

Ras Cina dari pada ras kulit putih

e.

Adanya pembesaran kelenjar leher

f.

Adanya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak

g.

Adanya metastasis jauh

RadioterapiSyarat-sarat bagi penderita yang akan di radio terapi :


a.

Keadaan umum baik

b.

Hb> 10 g%

c.

Leukosit > 3000/mm3

d.

Trombosit > 90.000 mm3

Indikasi Radioterapi
a.
Radikal : Tumor satadium permulaan yang belum infiltrasi ke jaringan
sekitarnya dan belum terdapat penyebaran
b.

Paliatif : Tumor stadium lanjut : Mengurangi rasa nyeri dan keluhan

c.

Post Operatif :

d.

Pada tumor brd/lymphatic field of drainage

e.

Untuk menghancurkan sel-sel ganas

Tujuan pre operatif terapi


a.

Mencegah metastasis ke perifer

b.

Mengecilkan volume tumor sehingga menjadi operable

c.

Perdarahan berkurang karena vaskularisasi tumor berkurang

Tujuan post operasi


a.

Mengatasi sisa sel Ca

Efek radiasi terhadap beberapa jaringan


1. Kulit
a.
Dermatitis akut : Terkelupasnya selaput lendir fibrinous, kulit hitam merah dan
edema. Epilasi permanen dengan dekstruksi epidermis, ulserasi, nyeri.
b.

Dermatitis Kronis : Kulit kering, hipertrofi/keratosis, veruka vulgaris. Ca Kulit.

c.
Late Dermatitis Accute effect : pigmintasi , atrofi, talengiektasi, ulserasi dan
epitelioma.
2. Sistem Hemopoetik dan darah
a.
b.

Efek langsung pada sel darah / pada jaringan hemopoitik


Urutan sensitifikasi : Limfosit ? granulosit ? trombosit ? eritrosit

3. Alat pencernaan
a.

Reaksi eritematus pada selaput lendir yang nyeri

b.

Disfagia

c.

Reaksi fibrinous pada selaput lendir dengan nyeri yang lebih hebat

d.

Nausea, muntah, diare, ulserasi dan perforasi (Dosis di tingkatkan)

4. Alat Kelamin
a.

SterilitasM

b.

Kelainan kelamin

c.

Mutasi gen

5. Mata
a.
b.

Konjungtivitis dan keratitis


Katarak

6. Paru paru
a.

Batuk dan nyeri dada

b.

Sesak nafas, fibrosis paru

6.

Tulang

c.

Gangguan pembentukan tulang

d.

Osteoporosis

e.

Patah Tulang (dosis ditambah)

8. Syaraf
a.

Urat saraf menjadi kurang sensitive terhadap stimulus

b.

Mielitis

c.

Degenerasi jaringan otak

9. Penyakit radiasi
a.

Demam

b.

Rasa lemah

c.

Muntah dan diare

d.

Nausea

e.

Nyeri kepala

f.

Gatal

g.

Nafsu makan menurun

Macam-macam alat radiasi

1. External radiasi
a.

UKG Untuk pemanasan pada sinusitis, salpingitis

b.

Dermatofan Hemangioma, basalioma

c.

Stabilipan Tumor yang lebih dalam (Squamosa cell Ca)

d.
Clinac (Computer Linear Accelerator) yang dipakai adalah unsur elektronya.
Untuk tumor-tumor yang superficial (rhabdomiosarkoma)
2.

Internal radiasi

e.
Afterloadaing (HDR/High Dose rate) Menggunakan unsur Cesium 137. Dipakai
untuk Ca Serviks, Ca bronkus, Ca Nasofaring
f.

Clinac, dipakai unsur fotonya untuk tumor-tumor yang lebih dalam.

Perbedaan radioterapi
1. Clinac 18 Cobalt 60 Radioaktif
a.

Dihasilkan dengan linear accelerator dari mesin dengan tenaga listrik

b.

Sinar yang digunakan sinar X

c.

Energi yang dihasilkan 4-10 MsV

d.

Tidak terdapat waktu paruh

e.

Surface Source Distance : 100 cm

f.

Dosis maksimum 100% pada kedalaman 2,5 cm

g.

Dari segi elektroniknya lebih rumit dan mahal Sumbernya radio aktif

h.

Sinar ?

i.

1,23 volt

j.

Energi akan bertambah lemah sesuai waktu paruhnya

k.
l.

SSD 80cm
Daya tembus cm dibawah permukaan

m. Tidak terlalu rumit dibanding Clinac Dibuat dalam reaktor nuklir


n.

Dengan membordair unsurnya sehingga menjadi radioaktif

o.

Untuk terapi superficial

2. Sinar sinar yang dipakai untuk radio terapi

p.

Sinar X dan sinar ?

q.

Sinar ? (Elektron)

r.

Sinar ? (terbatas)

s.

Sinar Neutron (untuk pengobatan tumor otak)

t.

Sinar proton (untuk menghancurkan kelenjar hipofisa)

3. Teknik Penyinaran
u.

Singel field (satu arah) : AP, PA, Lateral, Medial Oblique

v.

Plan pararel/pararel opposing field (dua arah) : Mis Ca Nasofaring

w.

Multified

x.

Tiga arah : Kepala muka tengah, naso faring, sinus paranasal.

y.

Empat arah : Cerviks

z.

Lima arah : Ca Buli-buli

aa. Rotasi
bb. Full rotasi 360 derajat : Tumor hipofisa (Sella tursica)
cc. Semi rotasi

4. Terapi medicamentosa
Sitostatika :
endoxan : 200 mg 2-3 x /mgg IV s/d 10 x, Dosis tinggi 1 gram/m2 luar tubuh 1
bulan/x

13. PROSES KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas/istirahat
Gejala :
Kelemahan dan / atau kelelahan.
Perubahan pada pola istirahat / jam tidur karena keringat berlegih, nyeri atau
ansietas.
2. Integritas Ego :

Gejala :
Faktor stress (perubahan peran atau keuangan).
Cara mengatasi stress (keyakinan/religius).
Perubahan penampilan.
3. Makanan/cairan
Gejala : Kebiasaan diet buruk (Bahan Pengawet)
4. Neurosensori
Gejala : Pusing atau sinkope
5. Pernafasan
Gejala : Pemajanan bahan aditif
6. Interaksi sosial
Gejala : Kelemahan sistem pendukung
7. Pembelajaran
Gejala : Riwayat kanker pada keluarga
a. Prioritas Keperawatan
1. Dukungan adaptasi dan kemandirian
2. Meningkatkan kenyamanan.
3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
4. Mencegah komplikasi.
5. Memberi informasi tentang proses/kondisi penyakit, prognosis dan kebutuhan
pengobatan.
b. Tujuan Pemulangan
1. Klien menerima situasi dengan realistis.
2. Nyeri berkurang/terkontrol.
3. Homeostasis dicapai.
4. Komplikasi dicegah/dikurangi
5. Proses/kondisi penyakit, prognosis, pilihan terapeutik dan aturan dipahami.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa Keparawatan yang Mungkin Muncul


1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit : inflamasi
2. Resiko tinggi diare berhubungan dengan iritasi mukosa GI dari kemoterapi

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah


4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi ( eritrosit, leukosit,
trombosit)
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek kemoterapi
6. Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan efek
kemoterapi
7. Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan kehilangan ranbut efek
kemoterapi
8. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan pertumbuhan sel kanker pada
nasofaring
C. PERENCANAAN
1.

Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi


Tujuan

: Rasa nyeri pasien akan teratasi.

Kriteria Hasil : Pasien melaporkan kehilangan nyeri maksimal


Pasien tenang dan wajah segar

Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :


1.

Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.

2.

Tentukan riwayat nyeri pada pasien

3.

Bantu pasien menggunakan keterampilan menejemen nyeri; tehnik relaksasi,

4.

Berikan kenyamanan dasar dengan mereposisikan pasien dengan baik

5.

Evaluasi nyeri atau control. Dan nilai aturan pengobatan

Tindakan Kolaborasi :
1.

Kembangkan rencana menejemen nyeri dengan pasien dan dokter

2.

Berikan obat analgesik sesuai dengan indikasi : morfin, metadon.

2.
Resiko tinggi diare berhubungan dengan iritasi mukosa GI efek dari
kemoterapi
Tujuan

: Diare pasien dapat tertangani

Kriteria Hasil : Mempertahankan konsistensi atau pola defekasi umum

Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :


1.

Pasrikan kebiasaan eliminasi umum

2.

Kaji bising usus dan catat gerakan usus termasuk frekuensi, konsistensi

3.

Catat masukan dan haluaran serta berat badan

4.

Berikan masukan cairan yang adekuat (2000 ml/24 jam)

5.

Berikan makan sedikit dan sering dengan makanan rendah sisa

6.
Periksa terhadap infeksi bila pasien tidak defekasi dalam 3 hari atau ada
distensi abdomen
Tindakan Kolaborasi :
1.

Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi misalnya elektrolit

2.

Berikan cairan intravena NaCl

3.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual
muntah
Tujuan

Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi

Kriteria Hasil : Penambahan berat badan progresif kearah tujuan


dengan normalisasi nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi
Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :
1.

Pantau masukan makanan setiap hari

2.

Ukur tinggi dan berat badan serta ketebalan lipatan kulit trisep sesuai indikasi

3.
Dukung pasien untuk makan makanan yang mengandung tinggi kalori kaya
nutrient
4.

Berikan cairan yang adekuat dan makan sedikit tapi sering setiap hari

5.
Nilai diet sebelumnya dan segera setelah pengobatan dan berikan cairan 1 jam
sebelum dan sesudah makan
6.

Kontrol faktor lingkungan ( bau kuat tidak sedap dan kebisingan )

7.

Ciptakan suasana makan malam yang menyenangkan

8.
Ajarkan pasien teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi, latihan
sedang sebelum makan
9.

Identifikasi pasien bila mengalami mual dan muntah yang diantisipasi

10. Anjurkan komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia(tidak ada nafsu


makan)

Tindakan Kolaborasi :
1.
Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, misalnya jumlah
limfosit total, transferin serum, dan albumin
2.
Berikan obat-obatan sesuai indikasi; Fenotiazin misalnya (Compazine).
Tietilperazin (torecan). Antidopanergik ,misalnya; metoclopramid (raglan).
Kortikosteroid. Misalnya deksametason (decadron)
3.

Pemberian vitamin, khususnya A, D, E dan B6

4.

Antasid

5.

Rujuk pada ahli diet atau pendukung nutrisi

4.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupressi
( eritrosit,leukosit, trombosit)
Tujuan
pasien

: Untuk meminimalisir terjadinya infeksi pada kondisi penyakit

Kriteria Hasil : Pasien dapat berpartisipasi dalam intervensi untuk


mencegah dan mengurangi resiko infeksi
Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :
1.

Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik dengan staf dan pengunjung

2.

Batasi pengunjung yang mengalami infeksi

3.

Tekankan higine personal

4.

Pantau selalu suhu tubuh pasien

5.
Kaji semua sistem (misalnya kulit, pernapasan, genitourinaria) terhadap tanda
dan gejala infeksi secara kontinu
6.

Ubah posisi pasien dengan sering : pertahankan linen kering dan bebas kerut

7.

Tingkatkan istirahat adekuat

8.

Tekankan pentingnya higine oral yang baik

9.

Hindari atau batasi prosedur invasif dan taati teknik aseptic

Tindakan Kolaborasi :
1.

Pantau jumlah granulosit dan trombosit sesuai indikasi

2.

Dapatkan kultur sesuai indikasi

3.

Berikan antibiotic sesuai indikasi

5.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek kemoterapi

Tujuan

: Meminimalkan terjadinya komplikasi

Kriteria Hasil : Mengidentifikasi intervensi yang tepat untuk kondisi khusus


Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :
1.
Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping terapi kanker, pastikan
kerusakan atau pelambatan penyembuhan luka dan tekankan pentingnya
melaporkan area terbuka pada pemberi perawatan
2.

Mandikan dengan air hangat dan sabunringan

3.

Berikan motivasi pada pasien untuk menghindari menggaruk

4.

Bantu pasien dalam mengatur posisi tidur dengan sering

5.
Anjurkan pada pasien untuk menghindari pemakaian krim apapun kecuali
sesuai dengan older dokter
6.

Tinjau protokol perawatan kulit untuk pasien yang mendapatkan terapi radiasi

7.
Tinjau ulang protokol perawatan kulit untuk pasien yang mendapatkan
kemoterapi
8.
Lihat ulang efek samping dermatologis yang dicurigai pada kemoterapi
misalnya ruam, hiperpigmentasi,
9.
Informasikan pada pasien bahwa kerontokan rambut akan tumbuh kembali
setelah kemoterapi
Tindakan Kolaborasi :
1.
Berikan obat antidot yang tepat bila terjadi eksaserbasi; misalnya DMSO
topical
2.

Hialuronidase (Wydase)

3.

NaHCO3

4.

Tiosulfat

6.
Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan
efek
kemoterapi
Tujuan

: Mempertahankan integritas mukosa mulut

Kriteria Hasil : Menunjukkan membran mukosa utuh, yang berwarna merah muda,
lembab dan bebas infruksikan lamasi atau ulserasi
Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :
5.

Kaji kesehatan gigi dan higine oral pada penerimaan dan secara periodik

6.
Kaji rongga mulut setiap hari, perhatikan perubahan pada integritas membran
mukosa oral (misalnya, kering, kemerahan).
7.
Diskusikan dengan pasien tentang area yang memerlukan perbaikan dan
demonstrasikan metode untuk perawatan oral yang baik
8.
Intruksikan mengenai perubahan diet misalnya hindari makanan yang panas,
atau pedas
9.
Pantau dan jelaskan tanda-tanda pasien tentang superinfeksi oral (missal.
Sariawan)
Tindakan Kolaborasi :
1.
Rujuk pada dokter gigi sebelum dilakukan kemoterapi atau radiase kepala dan
leher
2.

Kultur oral yang dicurigai

3.
Berikan obat-obatan sesuai dengan indikasi misalnya : pancuci analgesik, jeli
lidokain topical (Xylicaine). Preparat pencuci mulut antimikrobial misalnya nistatin
(Mycostatin).

7.
Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan kehilangan ranbut
efek kemoterapi
Tujuan
: Meningkatkan mekanisme koping dalam menghadapi masalah
secara efektif
Kriteria Hasil

: Pasien dapat memahami dan menerima diri dalam situasi

Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :


1.
Diskusikan dengan pasien atau orang terdekat bagaimana diagnosis dan
pengobatan yang mempengaruhi kehidupan pribadi pasien atau rumah dan
aktivitas kerja
2.
Tinjau ulang efek samping yang diantisipasi berkenaan denngan pengobatan
tertentu
3.
Mendiskusikan masalah tentang efek kanker atau pengobatan pada peran
sebagai ibu rumah tangga, orang tua, dan sebagainya

4.
Berikan dukungan emosi untuk pasien atau orang terdekat selama tes
diagnostik dan fase pengobatan
5.
Gunakan sentuhan selama interaksi, bila dapat diterima pada pasien dan
mempertahankan kontak mata.
Tindakan Kolaborasi :
1.

Rujuk pasien atau orang terdekat pada program kelompok pendukung bila ada

2.

Rujuk pada konseling profesional bila diindikasikan

8.
Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan pertumbuhan sel
kanker pada nasofaring
Tujuan
: Mampu mendemonstrasikan respon yang meningkat sesuai
stimulasi
Kriteria Hasil : Mengontrol perubahan terhadap kemampuan persepsi sensori
Rencana Tindakan Keperawatan Mandiri :
1.
Kaji derajat sensori atau gangguan persepsi dan bagaimana hal tersebut
mempengaruhi individu yang termasuk di dalamnya penurunan pendengaran.
2.
Berikan motivasi agar pasien menggunakan alat bantu untuk pendengaran
sesuai keperluan
3.

Pertahankan hubungan orientasi realita dan lingkungan

4.

Berikan sentuhan dalam cara perhatian

5.

Gunakan permainan sensori untuk menstimulasi realita

Tindakan Kolaborasi :
1.

Konsultasi pada dokter dalam permberian terapi obat sesuai indikasi

D. EVALUASI
1.
Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal
yang ditetapkan di tujuan.
2.
Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang
ditentukan dalam pernyataan tujuan.
3.
Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang
diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. EGC.
Jakarta.
Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.
Dunna, D.I. Et al. (1995). Medical Surgical Nursing ; A Nursing Process Approach. 2
nd Edition : WB Sauders.
Lab. UPF Ilmu Penyakit THT FK Unair. (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi
Lab/UPF Ilmu
Penyakit THT. Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetom Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga. Surabaya.
Makalah Kuliah THT. Tidak dipublikasikan Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta
Rothrock, C. J. (2000). Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC : Jakarta.
Sjamsuhidajat & Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta.
Soepardi, Efiaty Arsyad & Nurbaiti Iskandar. (2000). Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT.
Edisi kekempat. FKUI : Jakarta.
Sri Herawati. (2000). Anatomi Fisiologi Cara Pemeriksaan Telinga, Hidung,
Tenggorokan. Laboratorium Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya.
Rasad U, Dalam : Nasopharyngeal Carcinoma. Medical Progress. July Vol 23 no 7
1996 ; 11-16
Soepardi EA, Iskandar N. Dalam : Karsinoma Nasofaring. Buku Ajar THT. Edisi Kelima.
Balai Penerbit FK UI. Jakarta, 2000 : 146-150
Iskandar N, Munir M, Soetjiepto D. Tumor Ganas THT : Balai Penerbit FKUI. Jakarta,
1989.
Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I. Dalam : Bahaya Radiasi dan Pencegahan.
Radiologi Diagnostik, FKUI, 1985 : 25-28.
Susworo. Dalam : Kanker Nasofaring Epidemologi dan Pengobatan Mutakhir. Cermin
Dunia Kedokteran. 2004 : 16-20

BAB II
PEMBAHASAN
A. LANDASAN TEORITIS KANKER NASOFARING
1. Pengertian
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan
predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor
ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001
hal 146).
2. Anatomi Nasofaring

Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di sebelah do sal
dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Nasofaring tidak bergerak,
berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh
laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut :
Atas : Basis kranii.
Bawah : Palatum mole
Belakang : Vertebra servikalis
Depan : Koane
Lateral : Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa rosenmuler (resesus faringeus).
Pada atap dan dinding belakang Nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika.
3. Epidemiologi dan Etiologi

Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus
baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam
musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal
146).
sInsidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan,
lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor geografis,
rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi
kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah
hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena
pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty &
Nurbaiti, 2001 hal 146).
4.
1)

Tanda dan Gejala


Gejala Hidung :
Epistaksis : rapuhnya mukosa hidung sehingga mudah terjadi perdarahan.
Sumbatan hidung. Sumbatan menetap karena pertumbuhan tumor kedalam rongga nasofaring

dan menutupi koana, gejalanya : pilek kronis, ingus kental, gangguan penciuman.
2) Gejala telinga
Kataralis/ oklusi tuba Eustachii : tumor mula-mula dofosa Rosen Muler, pertumbuhan tumor

dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba ( berdengung, rasa penuh, kadang gangguan
pendengaran)
Otitis Media Serosa sampai perforasi dan gangguan pendengaran

3) Gejala lanjut
Limfadenopati servikal : melalui pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat mencapai kelenjar limfe
dan bertahan disana. Dalam kelenjar ini sel tumbuh dan berkembang biak hingga kelenjar
membesar dan tampak benjolan dileher bagian samping, lama kelamaan karena tidak dirasakan
kelenjar akan berkembang dan melekat pada otot sehingga sulit digerakkan.
5. Patofisiologi
Virus Epsteinn-barr adalah virus yang berperan penting dalam timbulnya kanker nasofaring.
Virus yang hidup bebas di udara ini bisa masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di nasofaring
tanpa menimbulkan gejala, kanker nasofaring sebenarnya dipicu oleh zat nitrosamine yang ada
dalam daging ikan asin. Zat ini mampu mengaktifkan virus Epsteinn-barr yang masuk ke dalam
tubuh ikan asin, tetapi juga terdapat dalam makanan yang diawetkan seperti daging, sayuran dan
difermentasi (asinan) serta tauco.

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Nasofaringoskopi
b. Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan biopsy nasofaring dapat dilakukan dua cara yaitu
dari hidung dan mulut dilakukan dengan anastesi topical dengan xylocain 10%.
c. Pemeriksaan CT-scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor sehingga
tumor
primer
yang
tersembunyi
pun
akan
ditemukan.
d. Pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IoA anti VGA untuk mengetahui infeksi virus E-B.
e.
Pengerokan
dengan
kuret
daerah
lateral
nasofaring
dalam
narcosis.
(Efiaty & Nurbaiti, 2001)
Untuk menegakkan diagnosa diperlukan pemeriksaan kelenjar getah bening (palpasi :
terasa membengkak), beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik,
pemeriksaan ini mungkin akan berlangsung selama beberapa bulan, jika dicurigai terjadinya
kanker, dilakukan inspeksi menggunakan endoskop untuk melihat nasopharing yang abnormal
tersebut dalam penggunaannya diperlukan anastesi lokal. Setelah itu, diambil biopsy (sampel)
yang
kemudian
diuji
apakah
merupakan
kanker.
Kemudian akan ditentukan stadium kanker itu dengan cara :


MRI
(membantu
melihat
kanker
yang
menyebar
di
sekitar
kepala)
Pengambilan biopsy ini digunakan untuk melihat kanker yang berada di kelenjar getah bening.
Sinar X (melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru).
7. Penatalaksanaan
a. Radioterapi merupakan pengobatan utama
b. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak
menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah
hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin,
faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus.
c. Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil. Sedangkan
kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemo-radioterapi dengan
mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat
RADIOSENSITIZER.
8. Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan
8.1 Identitas Klien
Kaji identitas klien, nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, tanggal masuk rumah
sakit, diagnosa medis tentang penyakit yang diderita serta alamat klien.
8.2 Riwayat Kesehatan
8.2.1 Keluhan Utama
Terdapatnya benjolan berupa tumor ganas daerah kepala dan leher.
8.2.2 Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien sering mengalami pembengkakan atau benjolan pada leher berupa tumor ganas yang terasa
nyeri dan sulit untuk digerakkan.
8.2.3 Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji riwayat kesehatan yang dapat memperparah penyakit seperti lingkungan yang
berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu. Kebiasaan memasak dengan
bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta
makanan yang diawetkan ( daging dan ikan). Penyakit yang pernah di derita klien pada masa
lalu.
8.2.4 Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji riwayat penyakit keturunan, seperti faktor herediter atau riwayat kanker pada
keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker.

8.2.5 Pemeriksaan Fisik


Inspeksi : Wajah, mata, rongga mulut dan leher.
Pemeriksaan THT:
Otoskopi : Liang telinga, membran timpani.
Rinoskopia anterior :

- Pada tumor endofilik tak jelas kelainan di rongga hidung, mungkin hanya banyak sekret.
- Pada tumor eksofilik, tampak tumor di bagian belakang rongga hidung, tertutup sekret

mukopurulen, fenomena palatum mole negatif.


Rinoskopia posterior :

- Pada tumor indofilik tak terlihat masa, mukosa nasofaring tampak agak menonjol, tak rata dan
paskularisasi meningkat.
- Pada tumor eksofilik tampak masa kemerahan.

sFaringoskopi dan laringoskopi :


- Kadang faring menyempit karena penebalan jaringan retrofaring; reflek muntah dapat menghilang.

X foto : tengkorak lateral, dasar tengkorak, CT Scan


8.2.6 Pengkajian Fungsional Gordon
1) Pola Persepsi Kesehatan manajemen Kesehatan
Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan
pentingnya kesehatan bagi klien? Biasanya klien yang datang ke rumah sakit sudah mengalami
gejala pada stadium lanjut, klien biasanya kurang mengetahui penyebab terjadinya serta
penanganannya dengan cepat.
2) Pola Nutrisi Metabolic
Kaji kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut
rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan, perubahan kelembaban/turgor kulit.
Biasanya klien akan mengalami penurunan berat badan akibat inflamasi penyakit dan proses
pengobatan kanker.
3) Pola Eliminasi
Kaji bagaimana pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising
usus, distensi abdomen. Biasanya klien tidak mengalami gangguan eliminasi.
4) Pola aktivas latihan
Kaji bagaimana klien menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya klien mengalami kelemahan atau
keletihan akibat inflamasi penyakit.

5) Pola istirahat tidur


Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur dalam sehari?
Biasanya klien mengalami perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
6) Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan penglihatan,pendengaran,
perabaan, penciuman,perabaan dan kaji bagaimana klien dalam berkomunikasi? Biasanya klien
mengalami gangguan pada indra penciuman.
7) Pola persepsi diri dan konsep diri
Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya? Apakah klien
merasa rendah diri? Biasanya klien akan merasa sedih dan rendah diri karena penyakit yang
dideritanya.
8) Pola peran hubungan
Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah Sakit?
Dan bagaimana hubungan social klien dengan masyarakat sekitarnya? Biasanya klien lebih
sering tidak mau berinteraksi dengan orang lain.
9) Pola reproduksi dan seksualitas
Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada perubahan kepuasan pada
klien?. Biasanya klien akan mengalami gangguan pada hubungan dengan pasangan karena sakit
yang diderita.
10) Pola koping dan toleransi stress
Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan obat-obatan
untuk menghilangkan stres?. Biasanya klien akan sering bertanya tentang pengobatan.
11) Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya? Apakah ada
pantangan agama dalam proses penyembuhan klien? Biasanya klien lebih mendekatkan diri pada
Tuhan Yang Maha Kuasa.
8.2.7 Teoritis Asuhan Keperawatan

1.
2.
3.
4.

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul:


Nyeri akut b/d agen injuri fisik (pembedahan).
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan pemasukan
nutrisi..
Risiko infeksi b/d tindakan infasive, imunitas tubuh menurun
Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d misintepretasi informasi, ketidak
familiernya sumber informasi.
No

Diagnosa

NOC
Control nyeri

NIC

Nyeri akut

Ketidakseimbangan status nutrisi adekuat


nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Manajemen Nutrisi
Monitor Nutrisi

Risiko infeksi

Konrol infeksi
Proteksi terhadap infeksi

Kurang
Pengetahuan : Kurang Teknik : proses penyakit
pengetahuan
Kepedulian
tentang
penyakit
dan perawatan nya

faktor risiko infeksi

B. PEMBAHASAN KASUS KANKER NASOFARING


1. Identitas Klien
Nama
: Ny. R
Umur
: 54 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: Petani
Status perkawinan
: Kawin
Tgl masuk
: 04 September 2011
Tgl pengkajian
: 07 September 2011
Diagnosa
: ca nasofaring
Alamat
: Jln. Imam Bonjol, Padang
2. Riwayat Kesehatan

Manajemen nyeri
Administrasi analgetik

Keluhan utama

Ada benjolan di leher kanan


Riwayat Kesehatan Sekarang
3 bln SMRS klien mengeluh adanya benjolan dileher kanan sebesar bola pingpong makin lama
makin membesar dan terasa nyeri. Leher terasa sulit untuk digerakan. Berat badan menurun 3 kg.
Klien lalu berobat ke poli THT Rs M. Djamil dirawat 20 hari dan dilakukan operasi, lalu
dinyatakan kanker nasofaring, lalu dirujuk untuk dilakukan kemoterapi.

Riwayat kesehatan dahulu


Pasien menderita penyakit hipertensi

Riwayat kesehatan keluarga


Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama

3. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran
Tanda-tanda vital

: Composmentis

Suhu
Nadi
Rr
TD
Kulit

: sawo matang
: lembab
: bersih

Warna kulit
Kelembapan
Kebersihan
Kepala

: Simetris
: bersih

Bentuk
Kebersihan
Rambut

: hitam putih
: Bersih

Warna
Kebersihan
Mata
Bentuk
Fungsi penglihatan
Kebersihan

: Simetris
: Dapat melihat dengan jelas
: Bersih

: 36,5 0c
: 105 x/menit
: 26x/menit
: 140/100 mmHg

Telinga
: Simetris
: Bersih

Bentuk
Kebersihan
Hidung

: Simetris
: Tidak dapat membedakan bau
: kurang bersih

Bentuk
Fungsi penciuman
Kebersihan
mulut

; simetris
: kering
: dapat membedakan rasa
: Kurang Bersih

Bentuk
Kelembapan
Fungsi pengecap
Kebersihan
Abdomen

:Simetris
: Timpani

Bentuk
Perkusi
Genitalia

: Kurang bersih
: Tidak ada masalah

Kebersihan
Masalah
leher

Ada benjolan sebesar bola pimpong disebelah kanan.Kanker Nasofaring sudah pada stadium 3
dengan ciri ciri : terdapatnya tumor ganas, terdapat pembesaran tapi masih bisa digerakkan dan
tidak ada metastase.
4. Pola Fungsional Gordon
1. Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
Pada kasus didapatkan bahwa klien kurang memiliki pengetahuan tentang penyakit , klien pergi
ke rs setelah 3 bulan mengeluh adanya benjolan dileher kanan sebesar bola pingpong makin lama
makin membesar dan terasa nyeri. Klien juga memiliki tekanan darah tinggi 140/80 mmHg
namun tidak di konsultasikan secara teratur.
2. Pola nutrisi metabolic
Pada kasus ditemukan bahea berat badan menurun 3 kg, sebelum sakit 45 kg ketika sakit 42 kg
akibat inflamasi penyakit. Pasien mengeluh tidak nafsu makan.
3. Pola eliminasi
Pada kasus tidak ditemukan gangguan pada eliminasi klien.
4. Pola Aktivas Latihan

5.

6.

7.

8.

Pada kasus didapati bahwa klien mengalami kelemahan atau keletihan, sering tidak bisa
melakukan aktifitas mandiri dan butuh bantuan orang lain karena lehernya sulit untuk
digerakkan. Hal ini juga di akibatkan rasa nyeri yang diderita klien. P = 26 x/menit, N = 105
x/menit.
Pola Istirahat Tidur
Pada Kasus ditemukan bahwa klien mengalami perubahan pada pola istirahat; adanya faktorfaktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas. Klien sering terbangun pada malam hari
dan susah untuk tidur kembali.
Pola Kognitif Persepsi
Pada kasus klien mengalami gangguan pada indra penciuman Klien tidak dapat membedakan
bau.
Pola Persepsi diri dan Konsep Diri
Pada Kasus klien merasa sedih dan rendah diri karena penyakit yang dideritanya. Klien sering
melamun dan sering mempertanyakan bagaimana bisa ia dapat menderita penyakit tersebut.
Pola peran hubungan
Pada kasus klien lebih sering ingin menyendiri, kurang mau berinteraksi dengan orang lain,
namun keluarga tetap berada dekat dengan klien sebagai pemberi dukungan terhadap
klien.

9. Pola reproduksi dan seksualitas


Karena sakit yang di derita klien mengalami gangguan hubungan dengan pasangan, namun
keluarga tetap selalu menberikan kasih sayang kepada klien.
10. Pola Koping dan Toleransi Stress
Pada kasus klien sering bertanya tentang kesembuhan penyakitnya, klien tidak mengkonsumsi
obat untuk menghilangkan stress.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Pada kasus klien lebih mendekatkan diri pada Tuhan, dan ia percaya semua itu sudah di atur
Tuhan manusia hanya berusaha dan berdoa.
5. Analisa Data
DX.1 Nyeri berhubungan dengan Inflamasi Penyakit
DS:
- Klien mengeluhkan nyeri pada leher sebelah kanan.
- Leher terasa sakit untuk digerakan
- Klien mengeluhkan susah tidur dan sering terbangun.

DO:
Ada benjolan sebesar bola pimpong dileher sebelah kanan sejak 3 bulan yang lalu.
Nadi: 105 x/menit
N= 60-100x/menit
Pernapasan: 26x/menit
N= 16-24x/menit
DX.2 Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang Dari Kebutuhan Tubuh

DS:
- Klien tidak nafsu makan.
DO:
- Klien mengalami penurunan BB 3kg.

6. NANDA, NOC, dan NIC


N
O
1

NANDA

NOC

NIC

Nyeri b.d Inflamasi Control nyeri p. 326 Manajemen nyeri p. 412


Penyakit
Indicator:
Aktivitas:
Lakukan
pengkajian
nyeri
Batasan karakteristik
: Mengakui factor
Anorexia
penyebab
secara komprehensif termasuk
Perubahan
pola
Mengetahui nyeri
lokasi karakteristik, durasi,
Menggunakan obat
tidur
frekuensi, kualitas, dan factor
Fatigue
analgesic
presipitasi
Gangguan
Menjelaskan gejala
Observasi reaksi non verbal dari
interaksi social
nyeri
Ekspresi
verbal
Melaporkan control
tentang nyeri

nyeri yang telah


dilakukan

ketidaknyamanan
Gunakan teknik

komunikasi

terapeutik untuk mengetahui


pengalaman nyeri pasien
Kaji
budaya
yang

Level nyeri p. 328


mempengaruhi respion nyeri
Determinasi
akibat
nyeri
Defenisi :
Indicator :
terhadap kualitas hidup
Ekspresi nyeri
Bantu pasien dan keluarga untuk
Frekuensi nyeri
mencari
dan
menemukan
Ekspresi wajah terhadap dukungan
Control ruangan yang dapat
nyeri
mempengaruhi nyeri
Kurangi factor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan
nyeri
Ajarkan

pasien

untuk

memonitor nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
Berikan
analgetik
untuk
mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan

control

nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter
jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
Ketidakseimbanga Status Nutrisi
n nutrisi: kurang Indikator:
Intake nutrisi
dari
kebutuhan
Intake makanan dan
tubuh

Batasan
karakteristik:
Kurang nafsu

cairan
Energi
Massa tubuh
Berat tubuh
makan
Berat badan 20%
atau lebih kurang
dari ideal

Terapi Nutrisi

Aktivitas:
Mengontrol

penyerapan

makanan/cairan
menghitung
intake
harian, jika diperlukan
Memantau ketepatan

dan
kalori
urutan

makanan untuk memenuhi


kebutuhan nutrisi harian
Menentukan jimlah kalori dan
jenis zat makanan yang
diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan
nutrisi,
ketika
berkolaborasi
dengan
ahli
makanan, jika diperlukan
Menetukan makanan pilihan
dengan
mempertimbangkan
budaya dan agama
Anjurkan intake makanan yang
tinggi kalsium, jika diperlukan
Memastikan bahwa makanan
berupa makanan yang tinggi
serat
untuk
mencegah
konstipasi
Memberi pasien makanan dan
minuman tinggi protein, tinggi
kalori, dan bernutrisi yang siap
dikonsumsi, jika diperlukan
Membantu
pasien
untuk
memilih

makanan

lembut,

lunak dan tidak asam, jika


diperlukan
Memastikan keadaan terapeutik
terhadap kemajuan makanan
Melakukan perawatan mulut
sebelum makan, jika diperlukan

DAFTAR PUSTAKA
Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah, edisi 8 vol.3.EGC, Jakarta
Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9, EGC,Jakarta
Inskandar.N, 1989, Tumor Telinga-Hidung-Tenggorokan, Diagnosa Dan Penatalaksanaan,
Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Indonesia, Jakarta
Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing Intervension Classification (NIC). Mosby Year Book. St.
Louis
Marion Johnon, dkk. 2000. Nursing Outcome Classificasion (NOC). Mosby Year Book.St. Louis

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) KANKER


NASOFARING
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia kanker nasofaring (bagian atas faring atau tenggorokan)
merupakan kanker terganas nomor 4 setelah kanker rahim, payudara dan kulit.
Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari gejala kanker ini, karena gejalanya
hanya seperti gejala flu biasa. Kanker nasofaring banyak dijumpai pada orang-orang
ras mongoloid, yaitu penduduk Cina bagian selatan, Hong Kong, Thailand, Malaysia
dan Indonesia juga di daerah India. Ras kulit putih jarang ditemui terkena kanker
jenis ini. Selain itu kanker nasofaring juga merupakan jenis kanker yang diturunkan
secara genetik.
Kanker nasofaring atau dikenal juga dengan kanker THT adalah penyakit yang
disebabkan oleh sel ganas (kanker) dan terbentuk dalam jaringan nasofaring, yaitu
bagian atas faring atau tenggorokan. Kanker ini paling sering terjadi di bagian THT,
kepala serta leher. Sampai saat ini belum jelas bagaimana mulai tumbuhnya kanker
nasofaring. Namun penyebaran kanker ini dapat berkembang ke bagian mata,
telinga, kelenjar leher, dan otak. Sebaiknya yang beresiko tinggi terkena kanker
nasofaring rajin memeriksakan diri ke dokter, terutama dokter THT. Risiko tinggi ini
biasanya dimiliki oleh laki-laki atau adanya keluarga yang menderita kanker ini.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan Ca
Nasofaring?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Memahami asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan ca nasofaring
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Memahami definisi Ca nasofaring.
2. Mengetahui penyebab dari Ca nasofaring.
3. Mengetahui manifestasi klinis dari Ca nasofaring
4. Mengetahui proses terjadinya Ca nasofaring.
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostik pada Ca nasofaring.
6. Mengetahui penatalaksaan Ca nasofaring
7. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Ca nasofaring

1.4 Manfaat
1.4.1 Mahasiswa mampu memahami konsep dan asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan ca Nasofaring sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah
persepsi sensori.
1.4.2
Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan yang benar
sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit.

BAB 2
Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi
Kanker nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring di rongga
belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Kanker ini merupakan
tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak di temukan di Indonesia.
Hampir 60% tumor ganas dan leher merupakan kanker nasofaring, kemudian diikuti
tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas
rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam prosentase rendah.
Pada banyak kasus, nasofaring carsinoma banyak terdapat pada ras mongoloid
yaitu penduduk Cina bagian selatan, Hong Kong, Thailand, Malaysia dan Indonesia
juga di daerah India. Ras kulit putih jarang ditemui terkena kanker jenis ini. Selain
itu kanker nasofaring juga merupakan jenis kanker yang diturunkan secara genetik.
2.2 Etiologi

Terjadinya Ca Nasofaring mungkin multifaktorial, proses karsinogenesisnya mungkin


mencakup banyak tahap. Faktor yang mungkin terkait dengan timbulnya kanker
nasofaring adalah:
Kerentanan Genetik
Walaupun Ca Nasofaring tidak termasuk tumor genetik, tetapi kerentanan terhadap
Ca Nasofaring pada kelompok masyarakat tertentu relatif menonjol dan memiliki
fenomena agrregasi familial. Analisis korelasi menunjukkan gan HLA ( Human
luekocyte antigen ) dan gen pengode enzim sitokrom p4502E ( CYP2E1)
kemungkinan adalah gen kerentanan terhadap Ca Nasofaring, mereka berkaitan
dengan timbulnya sebagian besar Ca Nasofaring . Penelitian menunjukkan bahwa
kromosom pasien Ca Nasofaring menunjukkan ketidakstabilan , sehingga lebih
rentan terhadap serangan berbagai faktor berbahaya dari lingkungan dan timbul
penyakit.

Virus EB
Metode imunologi membuktikan virus EB membawa antigen yang spesifik seperti
antigen kapsid virus ( VCA ), antigen membran ( MA ), antigen dini ( EA ), antigen
nuklir ( EBNA ) , dll. Virus EB memiliki kaitan erat dengan Ca Nasofaring , alasannya
adalah :
Di dalam serum pasien Ca Nasofaring ditemukan antibodi terkait virus EB
( termasuk VCA-IgA, EA-IgA, EBNA, dll ) , dengan frekuensi positif maupun rata-rata
titer geometriknya jelas lebih tinggi dibandingkan orang normal dan penderita jenis
kanker lain, dan titernya berkaitan positif dengan beban tumor . Selain itu titer
antibodi dapat menurun secara bertahap sesuai pulihnya kondisi pasien dan
kembali meningkat bila penyakitnya rekuren atau memburuk.
Di dalam sel Ca Nasofaring dapat dideteksi zat petanda virus EB seperti DNA virus
dan EBNA.
Epitel nasofaring di luar tubuh bila diinfeksi dengan galur sel mengandung virus EB,
ditemukan epitel yang terinfeksi tersebut tumbuh lebih cepat , gambaran
pembelahan inti juga banyak.
Dilaporkan virus EB di bawah pengaruh zat karsinogen tertentu dapat menimbulkan
karsinoma tak berdiferensiasi pada jaringan mukosa nasofaring fetus manusia.

Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan juga berperan penting. Penelitian akhir-akhir ini menemukan zat
berikut berkaitan dengan timbulnya Ca Nasofaring :
Hidrokarbon aromatik, pada keluarga di area insiden tinggi kanker nasofaring ,
kandungan 3,4- benzpiren dalam tiap gram debu asap mencapai 16,83 ug, jelas
lebih tinggi dari keluarga di area insiden rendah.

2.
Unsur renik : nikel sulfat dapat memacu efek karsinognesis pada proses
timbulnya kanker nasofaring .
3.
Golongan nitrosamin : banyak terdapat pada pengawet ikan asin. Terkait
dengan kebiasaan makan ikan asin waktu kecil, di dalam air seninya terdeteksi
nitrosamin volatil yang berefek mutagenik.

2.3 Manifestasi Klinis


Gejala dan tanda yang sering ditemukan pada kanker nasofaring adalah :
Epiktasis : sekitar 70% pasien mengalami gejala ini, diantaranya 23,2 % pasien
datang berobat dengan gejala awal ini . Sewaktu menghisap dengan kuat sekret
dari rongga hidung atau nasofaring , bagian dorsal palatum mole bergesekan
dengan permukaan tumor , sehingga pembuluh darah di permukaan tumor robek
dan menimbulkan epiktasis. Yang ringan timbul epiktasis, yang berat dapat timbul
hemoragi nasal masif.
Hidung tersumbat : sering hanya sebelah dan secara progesif bertambah hebat. Ini
disebabkan tumor menyumbat lubang hidung posterior.
Tinitus dan pendengaran menurun: penyebabnya adalah tumor di resesus
faringeus dan di dinding lateral nasofaring menginfiltrasi , menekan tuba eustaki,
menyebabkan tekana negatif di dalam kavum timpani , hingga terjadi otitis media
transudatif . bagi pasien dengan gejala ringan, tindakan dilatasi tuba eustaki dapat
meredakan sementara. Menurunnya kemmpuan pendengaran karena hambatan
konduksi, umumnya disertai rasa penuh di dalam telinga.
Sefalgia : kekhasannya adalah nyeri yang kontinyu di regio temporo parietal atau
oksipital satu sisi. Ini sering disebabkan desakan tumor, infiltrasi saraf kranial atau
os basis kranial, juga mungkin karena infeksi lokal atau iriasi pembuluh darah yang
menyebabkan sefalgia reflektif.
Rudapaksa saraf kranial : kanker nasofaring meninfiltrasi dan ekspansi direk ke
superior , dapat mendestruksi silang basis kranial, atau melalui saluran atau celah
alami kranial masuk ke area petrosfenoid dari fosa media intrakanial (temasuk
foramen sfenotik, apeks petrosis os temporal, foramen ovale, dan area sinus
spongiosus ) membuat saraf kranial III, IV, V dn VI rudapaksa, manifestasinya
berupa ptosis wajah bagian atas, paralisis otot mata ( temasuk paralisis saraf
abduksi tersendiri ), neuralgia trigeminal atau nyeri area temporal akibat iritasi
meningen ( sindrom fisura sfenoidal ), bila terdapat juga rudapaksa saraf kranial II,
disebut sindrom apeks orbital atau petrosfenoid.
Pembesaran kelenjar limfe leher : lokasi tipikal metastasisnya adalah kelenjar limfe
kelompok profunda superior koli, tapi karena kelompok kelenjar limfe tersebut
permukaannya tertutup otot sternokleidomastoid, dan benjolan tidak nyeri , maka
pada mulanya sulit diketahui. Ada sebagian pasien yang metastasis kelenjar
limfenya perama kali muncul di regio untaian nervi aksesorius di segitiga koli
posterior.

Gejala metastasis jauh : lokasi meatstasis paling sering ke tulang, paru, hati .
metastasi tulang tersering ke pelvis, vertebra, iga dan keempat ekstremitas.
Manifestasi metastasis tulang adalah nyeri kontinyu dan nyeri tekan setempat,
lokasi tetap dan tidak berubah-ubah dan secara bertahap bertambah hebat. Pada
fase ini tidak selalu terdapat perubahan pada foto sinar X, bone-scan seluruh tubuh
dapat membantu diagnosis. Metastasis hati , paru dapat sangat tersembunyi ,
kadang ditemukan ketika dilakukan tindak lanjut rutin dengan rongsen thorax ,
pemeriksaan hati dengan CT atau USG

2.4 Patofisiologi
Sudah hampir dipastikan ca.nasofaring disebabkan oleh virus eipstein barr.
Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya protein-protein laten pada
penderita ca. nasofaring. Sel yang terinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protin
tertentu yang berfungsi untuk proses proliferasi dan mempertahankan
kelangsungan virus didalam sel host. Protein tersebut dapat digunakan sebagai
tanda adanya EBV, seperti EBNA-1 dan LMP-1, LMP-2A dan LMP-2B. EBNA-1 adalah
protein nuclear yang berperan dalam mempertahankan genom virus. EBV tersebut
mampu aktif dikarenakan konsumsi ikan asin yang berlebih serta pemaparan zat-zat
karsinogen yang menyebabkan stimulasi pembelahan sel abnormal yang tidak
terkontrol, sehingga terjadi differensiasi dan proliferasi protein laten(EBNA-1). Hal
inilah yang memicu pertumbuhan sel kanker pada nasofaring, dalam hal ini
terutama pada fossa Rossenmuller.
Penggolongan Ca Nasofaring :
T1

: Kanker terbatas di rongga nasofaring.

T2
: Kanker menginfiltrasi kavum nasal, orofaring atau di celah parafaring
di anterior dari garis SO ( garis penghubung prosesus stiloideus dan margo posterior
garis tengah foramen magnum os oksipital ).
T3
: Kanker di celah parafaring di posterior garis SO atau mengenai basis
kranial, fosa pterigopalatinum atau terdapat rudapaksa tunggal syaraf kranial
kelompok anterior atau posterior.
T4
: Saraf kranial kelompok anterior dan posterior terkena serentak, atau
kanker mengenai sinus paranasal, sinus spongiosus, orbita, fosa infra-temporal.
N0

: Belum teraba pembesaran kelenjar limfe .

N1

: Kelenjar limfe koli superior berdiameter <4 cm,.

N2

: Kelenjar koli inferior membesar atau berdiameter 4-7 cm .

N3

: Kelenjar limfe supraklavikular membesar atau berdiameter >7 cm

M0

: Tak ada metastasis jauh.

M1

: Ada metastasis jauh.

Penggolongan stadium klinis, antara lain :


Stadium I

: T1N0M0

Stadium II

: T2N0 1M0, T0 2N1M0

Stadium III

: T3N0 - 2M0, T0 3N2M0

Stadium IVa

: T4N0 3M0, T0 4N3M0

Stadium IVb

:T apapun, N Apapun, M1

2.5 Pemeriksaan Diagnosis


Untuk mencapai diagnosis dini harus melaksanakan hal berikut :
Tindakan kewaspadaan, perhatikan keluhan utama pasien.
Pasien dengan epiktasis aspirasi balik, hidung tersumbat menetap, tuli unilateral,
limfadenopati leher tak nyeri, sefalgia, rudapaksa saraf kranial dengan kausa yang
tak jelas, dan keluhan lain harus diperiksa teliti rongga nasofaringya dengan
nasofaringoskop indirek atau elektrik.
Pemeriksaan kelenjar limfe leher.
Perhatikan pemeriksaan kelenjar limfe rantai vena jugularis interna, rantai nervus
aksesorius dan arteri vena transvesalis koli apakah terdapat pembesaran.
Pemeriksaan saraf kranial
Terhadap saraf kranial tidak hanya memerlukan pemeriksaan cermat sesuai
prosedur rutin satu persatu , tapi pada kecurigaan paralisis otot mata, kelompok
otot kunyah dan lidah kadang perlu diperiksa berulang kali, barulah ditemukan
hasil yang positif
Pemeriksaan serologi virus EB
Dewasa ini, parameter rutin yang diperiksa untuk penapisan kanker nasofaring
adalah VCA-IgA, EA-IgA, EBV-DNAseAb. Hasil positif pada kanker nasofaring
berkaitan dengan kadar dan perubahan antibodi tersebut. Bagi yang termasuk
salah satu kondisi berikut ini dapat dianggap memilki resiko tinggi kanker
nasofaring :
Titer antibodi VCA-IgA >= 1:80
Dari pemeriksaan VCA-IgA, EA-IgA dan EBV-DNAseAb, dua diantara tiga indikator
tersebut positif.

Dua dari tiha dari indikator pemeriksaan diatas, salah satu menunjukkan titer yang
tinggi kontinyu atau terus meningkat.
Bagi pasien yang memenuhi patokan tersebut , harus diperiksa teliti dengan
nasofaringoskop elektrik , bila perlu dilakukan biopsi. Yang perlu ditekankan adalah
perubahan serologi virus Eb dapat menunjukkan reaksi positif 4 46 bulan sebelum
diagnosis kanker nasofaring ditegakkan.
Diagnosis pencitraan.
Pemeriksaan CT : makna klinis aplikasinya adalah membantu diagnosis,
memastikan luas lesi, penetapan stadium secara adekuat, secara tepat menetapkan
zona target terapi, merancang medan radiasi, memonitor kondisi remisi tumor
pasca terapi dan pemeriksaa tingkat lanjut.
Pemeriksaan MRI : MRI memiliki resolusi yang baik terhadap jaringan lunak, dapat
serentak membuat potongan melintang, sagital, koronal, sehingga lebih baik dari
pada CT. MRI selai dengan jelas memperlihatkan lapisan struktur nasofaring dan
luas lesi, juga dapat secara lebih dini menunjukkan infiltrasi ke tulang. Dalam
membedakan antara fibrosis pasca radioterapi dan rekurensi tumor , MRI juga lebih
bermanfaat .
Pencitraan tulang seluruh tubuh : berguna untuk diagnosis kanker nasofaring
dengan metastasis ke tulang, lebih sensitif dibandingkan rongtsen biasa atau CT,
umumnya lebih dini 4-6 bulan dibandingkan rongsen. Setelah dilakukan bone-scan,
lesi umumnya tampak sebagai akumulasi radioaktivitas, sebagian kecil tampak
sebagai area defek radioaktivitas. Bone-scan sangat sensitif untuk metastasis
tulang, namun tidak spesifik . maka dalam menilai lesi tunggal akumulasi
radioaktivitas , harus memperhatikan riwayat penyakit, menyingkirkan rudapaksa
operasi, fruktur, deformitas degeneratif tulang, pengaruh radio terapi, kemoterapi,
dll.
PET ( Positron Emission Tomography ) : disebut juga pencitraan biokimia molukelar
metabolik in vivo. Menggunakan pencitraan biologismetabolisme glukosa dari zat
kontras 18-FDG dan pencitraan anatomis dari CT yang dipadukan hingga mendapat
gambar PET-CT . itu memberikan informasi gambaran biologis bagi dokter klinisi,
membantu penentuan area target biologis kanker nasofaring , meningkatka akurasi
radioterapi, sehingga efektifitas meningkat dan rudapaksa radiasi terhadap jaringan
normal berkurang.
Diagnosis histologi
Pada pasien kanker nasofaringn sedapat mungkin diperoleh jaringan dari lesi primer
nasofaring untuk pemeriksaan patologik. Sebelum terapi dimulai harus diperoleh
diagnosis histologi yang jelas. Hanya jika lesi primer tidak dapat memeberikan
diagnosis patologik pasti barulah dipertimbangkan biopsi kelenjar limfe leher.

2.6 Penatalaksanaan
a. Radioterapi
Hal yang perlu dipersiapkan adalah keadaan umum pasien baik, hygiene mulut, bila
ada infeksi mulut diperbaiki dulu. Pengobatan tambahan yang diberikan dapat
berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran
atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang
terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik), pemberian tetrasiklin,
faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus.

b. Kemoterapi
Kemoterapi meliputi kemoterapi neodjuvan, kemoterapi adjuvan dan
kemoradioterapi konkomitan. Formula kemoterapi yang sering dipakai adalah : PF
( DDP + 5FU ), kaboplatin +5FU, paklitaksel +DDP, paklitasel +DDP +5FU dan DDP
gemsitabin , dll.
DDP
: 80-100 mg/m2 IV drip hari pertama ( mulai sehari sebelum
kemoterapi , lakukan hidrasi 3 hari )
5FU
: 800-1000 mg/m2/d IV drip , hari ke 1-5 lakukan infus kontinyu
intravena.
Ulangi setiap 21 hari atau:
Karboplatin : 300mg/m2 atau AUC = 6 IV drip, hari pertama.
5FU
: 800-1000/m2/d IV drip , hari ke 1-5 infus intravena kontinyu. Ulangi
setiap 21 hari.

c. Terapi Biologis
Dewasa ini masih dalam taraf penelitian laboraturium dan uji klinis.

d. Terapi Herbal TCM


Dikombinasi dengan radioterapi dan kemoterapi, mengurangi reaksi
radiokemoterapi , fuzhengguben ( menunjang, memantapkan ketahanan tubuh) ,
kasus stadium lanjut tertentu yang tidak dapat diradioterapi atau kemoterapi masih
dapat dipertimbangkan hanya diterapi sindromnya dengan TCM. Efek herba TCM
dalam membasmi langsung sel kanker dewasa ini masih dalam penelitian lebih
lanjut.
Terapi Rehabiltatif

Pasien kanker secara faal dan psikis menderita gangguan fungsi dengan derajat
bervariasi. Oleh karena itu diupayakan secara maksimal meningkatkan dan
memperbaiki kualitas hidupnya.
Rehabilitas Psikis
Pasien kanker nasofaring harus diberi pengertian bahwa pwnyakitnya berpeluang
untuk disembuhkan, uapayakan agar pasien secepatnya pulih dari situasi emosi
depresi.
Rehabilitas Fisik
Setelah menjalani radioterapi, kemoterpi dan terapi lain, pasien biasanya
merasakan kekuatan fisiknya menurun, mudah letih, daya ingat menurun. Harus
memperhatikan suplementasi nutrisi , berolahraga fisik ringan terutama yang statis,
agar tubuh dan ketahanan meningkat secara bertahap.

Pembedahan
Dalam kondisi ini dapat dipertimbangkan tindakan operasi :
Rasidif lokal nasofaring pasca radioterapi , lesi relatif terlokalisasi.
3 bulan pasca radioterapi kurtif terdapat rasidif lesi primer nasofaring
Pasca radioterapi kuratif terdapat residif atau rekurensi kelenjar limfe leher.
Kanker nasofaring dengan diferensiasi agak tinggi seperti karsinoma skuamosa
grade I, II, adenokarsinoma.
Komplikasi radiasi.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a. Identitas/ biodata klien
Nama
Tempat tanggal lahir
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Warga Negara

Bahasa yang digunakan


Penanggung Jawab
Nama
Alamat
10. Hubungan dengan klien
b. Keluhan Utama
Leher terasa nyeri, semakin lama semakin membesar, susah menelan,
badan merasa lemas, serta BB turun drastis dalam waktu singkat.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
g. Keadaan Lingkungan

3.2 Observasi
3.2.1 Keadaan Umum
Suhu
Nadi
Tekanan Darah
RR
BB
Tinggi badan
3.2.2 Pemeriksaan Persistem
B1 (breathing)

: RR meningkat, sesak nafas, produksi sekret meningkat.

B2 (blood)

: normal

B3 (brain)

: Pusing, nyeri, gangguan sensori

B4 (bladder)

: Normal

B5 (bowel)

: Disfgia, Nafsu makan turun, BB turun

B6 (bone)

: Normal

3.3 Diagnosa
Nyeri (akut) berhubungan dengan agen injuri fisik (pembedahan).
Gangguan sensori persepsi (pendengaran ) berubungan dengan gangguan
status organ sekunder metastase tumor
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake makanan yang kurang.
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi.
Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan perkembangan penyakit,
pengobatan penyakit.

3.4 Intervensi
Nyeri (akut) berhubungan dengan agen injuri fisik (pembedahan).
Tujuan

: Rasa nyeri teratasi atau terkontrol

Kriteria hasil

Mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri


Melaporkan penghilangan nyeri maksimal/kontrol dengan pengaruh minimal pada
AKS
Intervensi
Rasional
Mandiri
Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi

Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan aktivitas


hiburan.
Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi, visualisasi,
bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik.
Evaluasi penghilangan nyeri atau control

Kolaborasi
Berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon atau campuran narkotik

Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/keefektivan


intervensi
Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian

Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa


kontrol

Kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS

Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respon individual berbeda.
Saat perubahan penyakit atau pengobatan terjadi, penilaian dosis dan pemberian
akan diperlukan

Gangguan sensori persepsi (pendengaran ) berubungan dengan gangguan


status organ sekunder metastase tumor
Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi.
Kriteria Hasil: mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan.

Intervensi
Rasional
Tentukan ketajaman pendengaran, apakah satu atau dua telinga terlibat .
Orientasikan pasien terhadap lingkungan.
Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi.

1. Mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien .


2. Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan proses penyembuhan.
3. Mengetahui faktor penyebab gangguan persepsi sensori yang lain dialami dan
dirasakan pasien.

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


intake makanan yang kurang.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil : 1. Berat badan dan tinggi badan ideal.
2. Pasien mematuhi dietnya.
3. Kadar gula darah dalam batas normal.
4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.

Intervensi
Rasional
Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.

Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.

Timbang berat badan setiap seminggu sekali.

4. Identifikasi perubahan pola makan.

Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat
diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.

Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya


hipoglikemia/hiperglikemia.

Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan merupakan salah satu
indikasi untuk menentukan diet).

Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan.

Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan


berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil : 1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan
pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang
diperoleh.

Intervensi
Rasional
Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan Ca. Nasofaring

Kaji latar belakang pendidikan pasien.

Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien
dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.

Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien
didalamnya.

gambar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada / memungkinkan).

Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui


sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.

Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan


kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.

Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak
menimbulkan kesalahpahaman.

4. Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang
dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.

Gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.

5.Harga diri Rendah berhubungan dengan perubahan perkembangan penyakit,


pengobatan penyakit.
Tujuan : Setelah dilakukan askep selama 324 jam klien menerima keadaan dirinya

Kriteria Hasil :
1)

Menjaga postur yang terbuka

2)

Menjaga kontak mata

3)

Komunikasi terbuka

4)

Menghormati orang lain

5)
kelompok

Secara seimbang dapat berpartisipasi dan mendengarkan dalam

6)

Menerima kritik yang konstruktif

7)

Menggambarkan keberhasilan dalam kelompok social

Intervensi
Rasional
Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.

Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

Gunakan komunikasi terapeutik.

Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut
serta dalam tindakan keperawatan.

Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain
selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian.

Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.

Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa
memberikan intervensi yang cepat dan tepat.

Dapat meringankan beban pikiran pasien.

Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif
dalam tindakan keperawatan.

Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam


melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.

Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang


dirasakan pasien.

Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas
ii.
DOWNLOAD : WOC KANKER NASOFARING
BAB 4
PENUTUP

4.1

Kesimpulan

Kanker nasofaring atau dikenal juga dengan kanker THT adalah penyakit
yang disebabkan oleh sel ganas (kanker) dan terbentuk dalam jaringan nasofaring,
yaitu bagian atas faring atau tenggorokan. Kanker ini paling sering terjadi di bagian
THT, kepala serta leher. Sampai saat ini belum jelas bagaimana mulai tumbuhnya
kanker nasofaring. Namun penyebaran kanker ini dapat berkembang ke bagian
mata, telinga, kelenjar leher, dan otak. Sebaiknya yang beresiko tinggi terkena
kanker nasofaring rajin memeriksakan diri ke dokter, terutama dokter THT. Risiko
tinggi ini biasanya dimiliki oleh laki-laki atau adanya keluarga yang menderita
kanker ini.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.
Jakarta.
Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.
Dunna, D.I. Et al. (1995). Medical Surgical Nursing ; A Nursing Process Approach. 2
nd Edition : WB Sauders.
Lab. UPF Ilmu Penyakit THT FK Unair. (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi
Lab/UPF Ilmu Penyakit THT. Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetom Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.
Soepardi, Efiaty Arsyad & Nurbaiti Iskandar. (2000). Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT.
Edisi kekempat. FKUI : Jakarta.
Sri Herawati. (2000). Anatomi Fisiologi Cara Pemeriksaan Telinga, Hidung,
Tenggorokan. Laboratorium Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KARSINOMA


NASOFARING

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KARSINOMA


NASOFARING
BAB II
PEMBAHASAN
I. KONSEP DASAR
A.

Pengertian

Karsinoma nasofaring adalah keganasan pada nasofaring yang berasal dari epitel
mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring.
Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Sebagian
besar klien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut.
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas di daerah kepala dan leher yang
terbanyak di temukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher
merupakan karsinoma nasofaring, kemudian di ikuti oleh tumor ganas hidung dan
sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil,
hipofaring dalam prosentase rendah. Berdasarkan data Laboratorium Patologi
Anatomik tumor ganas nasofaring sendiri selalu berada dalam kedudukan 5 besar
dari tumor ganas tubuh manusia bersama tumor ganas serviks uteri, tumor
payudara, tumor getah bening dan tumor kulit.

B.

Etiologi

Kaitan Virus Epstein Barr dengan ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama
timbulnya penyakit ini. Virus ini dapat masuk dalam tubuh dan tetap tinggal disana
tanpa menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama.
Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator kebiasaan untuk
mengkonsumsi ikan asin secara terus menerus mulai dari masa kanak-kanak,
merupakan mediator utama yang dapat mengaktifkan virus ini sehingga
menimbulkan Ca Nasofaring. Mediator yang berpengaruh untuk timbulnya Ca
Nasofaring :
1. Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine.
2. Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.
3. Sering kontak dengan Zat karsinogen ( benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia,
asap industri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan).
4. Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia)

5. Radang kronis nasofaring


6. Profil HLA
C. Patofisologi
Pada kanker nasofaring ini disebabkan oleh virus Epstein-Barr melalui mediator ikan
asin, makanan yang diawetkan (mengandung nitrosamine), kontak dengan zat
karsinogen (asap industri, gas kimia) dan juga dapat dikarenakan radang kronis
daerah nasofaring. Setelah itu, virus masuk berkembang biak kemudian menyerang
bagian telinga dan hidung khususnya. Dengan hidupnya virus Epstein-Barr didaerah
nasofaring (dekat telinga dan hidung), membuat sel-sel kanker berkembang
sehingga membuat terjadinya sumbatan atau obstruksi pada saluran tuba
eusthacius dan hidung. Sumbatan yang terjadi dapat menyebabkan baik gangguan
pendengaran maupun gangguan penghidu, sehingga merupakan gangguan
persepsi sensori.

Pathway
Karsinoma Nesofaring
Virus Epstein Barr

Makanan yang diawetkan


Kontak dengan zat karsinogen
Radang kronis pada daerah nasofaring

Makanan yang diawetkan

Masuk kebagian telinga dan hidung

Obstruktif pada saluran tuba eusthacius dan hidung

Gangguan pendengaran dan gangguan penghidu

Gangguan persepsi sensori

D. Tanda dan Gejala


Simtomatologi ditentukan oleh hubungan anatomic nasofaring terhadap hidung,
tuba Eustachii dan dasar tengkorak
a.

Gejala Hidung :
Epistaksis : rapuhnya mukosa hidung sehingga mudah terjadi perdarahan.

Sumbatan hidung. Sumbatan menetap karena pertumbuhan tumor kedalam


rongga nasofaring dan menutupi koana, gejalanya : pilek kronis, ingus kental,
gangguan penciuman.
b.

Gejala telinga

Kataralis/ oklusi tuba Eustachii : tumor mula-mula dofosa Rosen Muler,


pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba ( berdengung,
rasa penuh, kadang gangguan pendengaran)

c.

Otitis Media Serosa sampai perforasi dan gangguan pendengaran


Gejala lanjut

Limfadenopati servikal : melalui pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat


mencapai kelenjar limfe dan bertahan disana. Dalam kelenjar ini sel tumbuh dan
berkembang biak hingga kelenjar membesar dan tampak benjolan dileher bagian
samping, lama kelamaan karena tidak dirasakan kelenjar akan berkembang dan
melekat pada otot sehingga sulit digerakkan.

E. Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982)


a. Tipe WHO 1
- Karsinoma sel skuamosa (KSS)
- Deferensiasi baik sampai sedang.
- Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).
b. Tipe WHO 2
- Karsinoma non keratinisasi (KNK).
- Paling banyak pariasinya.
- Menyerupai karsinoma transisional
c. Tipe WHO 3
- Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD).

- Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, Clear Cell Carsinoma,


varian sel spindel.
- Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik.
F. Perluasan Tumor ke Jaringan Sekitar
1. Perluasan ke atas : ke N.II dan N. VI, keluhan diplopia, hipestesi pipi
2. Sindrom petrosfenoid terjadi jika semua saraf grup anterior terkena dengan
gejala khas :
Neuralgia trigeminal unilateral
Oftalmoplegia unilateral
Amaurosis
Gejala nyeri kepala hebat akibat penekanan tumor pada duramater
3. Perluasan ke belakang : N.VII-N.XII, trismus, sulit menelan, hiper/hipo/anestesi
palatum,faring dan laring,gangguan respirasi dan salvias, kelumpuhan otot
trapezius, stenokleidomastoideus, hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah.
4. Manifestasi kelumpuhan :
N IX: kesulitan menelan akibat hemiparese otot konstriktor superior serta
gangguan pengecap pada sepertiga belakang lidah.
N X : Hiper / hipo / anestesi mukosa palatum mole, faring dan laring disertai
gangguan respirasi dan salvias.
N XI : kelumpuhan atau atropi otot-otot trapezius, sterno kleido mastoideus,
serta hemiparese palatum mole.
N XII : hemiparese dan atropi sebelah lidah
G. Penentuan Stadium
TUMOR SIZE (T)
T
Tumor primer
T0
Tidak tampak tumor
T1
Tumor terbatas pada satu lokasi saja
T2
Tumor dterdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas pada rongga
nasofaring

T3
Tumor telah keluar dari rongga nasofaring
T4
Tumor teah keluar dari nasofaring dan telah kmerusak tulang tengkorak atau sarafsaraf otak
Tx
Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap
REGIONAL LIMFE NODES (N)
N0
Tidak ada pembesaran
N1
Terdapat pembesarantetapi homolateral dan masih bisa digerakkan
N2
Terdapat pembesaran kontralateral/ bilateral dan masih dapat digerakkan
N3
Terdapat pembesaran, baik homolateral, kontralateral maupun bilateral yang sudah
melekat pada jaringan sekitar
METASTASE JAUH (M)
M0
Tidak ada metastase jauh
M1
Metastase jauh
Stadium I : T1 No dan Mo
Stadium II : T2 No dan Mo
Stadium III : T1/T2/T3 dan N1 dan Mo atau T3 dan No dan Mo
Stadium IV : T4 dan No/N1 dan Mo atau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan Mo atau
T1/T2/T3/t4 dan No/N1/N3/N4 dan M1
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Nasofaringoskopi
a. Rinoskopi posterior dengan atau tanpa kateter
b. Biopsi multiple

c. Radiologi :Thorak PA, Foto tengkorak, Tomografi, CT Scan, Bone scantigraphy (bila
dicurigai metastase tulang)
d.Pemeriksaan Neuro-oftalmologi : untuk mengetahui perluasan tumor kejaringan
sekitar yang menyebabkan penekanan atau infiltrasi kesaraf otak, manifestasi
tergantung dari saraf yang dikenai.
2. Dapat dilakukan pemeriksaan diantaranya yaitu :
a. Foto tengkorak, yaitu foto bagian/ potongan anteriposterior, lateral, dan waters
menunjukkan massa jaringan lunak didaerah nasofaring
b. Foto dasar tengkorak dapat terlihat destruksi atau erosi tulang didaerah fosa
serebri media.
c. CT scan daerah kepala dan leher terlihat adanya massa dengan terlihat adanya
kesuraman. CT scan dengan kontras menunjukkan massa yang besar mengisi sisi
posterior dari rongga hidung dan nasofaring dengan perluasan ke sisi kiri dalam
daerah nasofaring.
d. Biopsi dari hidung dan mulut. Biopsi sedapat mungkin diarahkan pada tumor/
daerah yang dicurigai. Biopsi minimal dilakukan pada dua tempat (kiri dan kanan),
melalui rinoskopi anterior, bila perlu dengan bantuan cermin melalui rinoskopi
posterior. Bila perlu Biopsi dapat diulang sampai tiga kali. Bila tiga kali Biopsi hasil
negatif, sedang secara klinis mencurigakan dengan karsinoma nasofaring, biopsi
dapat diulang dengan anestesi umum. Biopsi melalui nasofaringoskopi dilakukan
bila klien trismus atau keadaan umum kurang baik. Biopsi kelenjar getah bening
leher dengan aspirasi jarum halus dilakukan bila terjadi keraguan apakah kelenjar
tersebut suatu metastasis.
e. Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal untuk
melihat/mendeteksi metastasis.

I. Penatalaksanaan
a. Radioterapi : Sebelumnya persiapan pasien dengan oral hygiene, dan apabila
infeksi/kerusakan gigi harus diobati terlebih dahulu. Dosis yang diberikan 200
rad/hari sampai 6000-6600 rad untuk tumor primer, sedangkan kelenjar leher yang
membesar diberi 6000 rad. Jika tidak ada pembesaran kelenjar diberikan juga
radiasi efektif sebesar 4000 rad. Ini dapat diberikan pada keadaan kambuh atau
pada metastasis tulang yang belum menimbulkan keadaan fraktur patologik.
Radiasi dapat menyembuhkan lesi, dan mengurangi rasa nyeri.
b. Kemoterapi : Sebagai terapi tambahan dan diberikan pada stadium lanjut.
Biasanya dapat digabungkan dengan radiasi dengan urutan kemoterapi-radiasikemoterapi. Kemoterapi yang dipakai yaitu Methotrexate (50 mg IV hari 1 dan 8);
Vincristin (2 mg IV hari1); Platamin (100 mg IV hari 1); Cyclophosphamide (2 x 50
mg oral, hari 1 s/d 10); Bleomycin (15 mg IV hari 8). Pada kemoterapi harus

dilakukan kontrol terhadap efek samping fingsi hemopoitik, fungsi ginjal dan lainlain.
c. Operasi : Tindakan operasi berupa diseksi leher radikal, dilakukan jika masih ada
sisa kelenjar pasca radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar, dengan syarat bahwa
tumor primer sudah dinyatakan bersih.
J. Pencegahan
Pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal didearah
dengan resiko tinggi. Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah dengan resiko
tinggi ketempat lainnya. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah
cara memasak makanan untuk mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan
yang berbahaya, penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat,
meningkatkan keadaan sosial/ekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan
kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab. Melakukan tes serologik lgA-anti VCA
dan lgA anti EA secara massal dimsa yang akan datang bermanfaat dalam
menemukan karsinoma nasofaring secara lebih dini.

II. MANAJEMEN KEPERAWATAN


A.PENGKAJIAN
1.

Wawancara

Menurut Sjamsuhidajat (1998), Mansjoer (1999), Iskandar (1989), informasi yang


perlu didapatkan pada wawancara adalah sebagai berikut :
a.
Menanyakan kepada pasien mengenai gejala-gejala yaitu pada telinga
(sumbatan muara tuba dan otitis media) atau adanya gangguan pendengaran.
Selain itu, tanyakan pada pasien mengenai gejala hidung seperti epistaksis dan
sumbatan hidung.
b.
Menanyakan kepada pasien apakah mempunyai riwayat kanker, kebiasaan
makan makanan yang asin-asin, mengenai keadaan sosial ekonomi yang rendah,
lingkungan dan kebiasaan hidup. Apakah pasien sering kontak dengan zat
karsinogen, juga adanya radang kronis.
2.

Identitas

Identitas klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,
status marital, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, No
Medrec, diagnosis dan alamat.
Identitas penanggung jawab yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.

3.

Riwayat kesehatan

Keluhan utama
Biasanya didapatkan adanya keluhan suara agak serak, kemampuan menelan
terjadi penurunan dan terasa sakit waktu menelan atau nyeri dan rasa terbakar
dalam tenggorok.
Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai klien dirawat di RS.
Menggambarkan keluhan utama klien, kaji tentang proses perjalanan penyakit
sampai timbulnya keluhan, faktor apa saja memperberat dan meringankan keluhan
dan bagaimana cara klien menggambarkan apa yang dirasakan, daerah terasanya
keluhan, semua dijabarkan dalam bentuk PQRST.
Riwayat kesehatan dahulu
Kaji tentang penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya yang ada
hubungannya dengan penyakit keturunan dan kebiasaan atau gaya hidup.
Riwayat kesehatan keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan
klien atau adanya penyakit keturunan, bila ada cantumkan genogram.

4.
a.

Dasar Data Pengkajian Pasien


Aktivitas/istirahat

Gejala : kelemahan dan/atau keletihan, perubahan pada pola istirahat dan jam
kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur
misal nyeri, ansietas, berkeringat malam.
b.

Neurosensori

Gejala : gangguan pendengaran dan penghidu, adanya pusing, sinkope.


c.

Nyeri / kenyamanan

Gejala : nyeri terjadi pada bagian nasofaring, terasa panas.


d.

Pernapasan

Gejala : Adanya asap pabrik atau industri


Tanda : pada pemeriksaan penunjang dapat terlihat adanya sumbatan seperti
massa.
e.

Makanan /cairan

Gejala : anoreksia, mual/muntah.


Tanda : perubahan pada kelembaban/turgor kulit.

5.

Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi : Pada bagian leher terdapat benjolan, terlihat pada benjolan warna
kulit mengkilat.
b. Palpasi : Pasien saat dipalpasi adanya massa yang besar, selain itu terasa nyeri
apabila ditekan.
c.

Pemeriksaan THT:

1.

Otoskopi : Liang telinga, membran timpani.

2.

Rinoskopia anterior :

Pada tumor endofilik tak jelas kelainan di


rongga hidung, mungkin hanya banyak sekret.

Pada tumor eksofilik, tampak tumor di


bagian belakang rongga hidung, tertutup sekret mukopurulen, fenomena palatum
mole negatif.
3.

Rinoskopia posterior :

Pada tumor indofilik tak terlihat masa,


mukosa nasofaring tampak agak menonjol, tak rata dan paskularisasi meningkat.

Pada tumor eksofilik tampak masa

kemerahan.
4. Faringoskopi dan laringoskopi : Kadang faring menyempit karena penebalan
jaringan retrofaring; reflek muntah dapat menghilang.
5.

X foto : tengkorak lateral, dasar tengkorak, CT Scan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.

Nyeri akut b/d agen injuri fisik (pembedahan).

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan


pemasukan nutrisi..
3.

Risiko infeksi b/d tindakan infasive, imunitas tubuh menurun

C. INTERVENSI
No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
1
Nyeri akut
Setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam tingkat kenyamanan klien meningkat,
dan dibuktikan dengan level nyeri: klien dapat melaporkan nyeri pada petugas,
frekuensi nyeri, ekspresi wajah, dan menyatakan kenyamanan fisik dan psikologis,
TD 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt
Control nyeri dibuktikan dengan klien melaporkan gejala nyeri dan control nyeri.
Manajemen nyeri :
1.
Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
Rasional : Nyeri merupakan pengalaman subyektif dan harus dijelaskan oleh pasien,
mengidentifikasi nyeri untuk memilih intervensi yang tepat.

2.

Anjurkan untuk beristirahat dalam ruangan yang tenang.

Rasional : Menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi sakit


kepala.
3.Berikan kompres dingin pada bagian yang nyeri.
Rasional : Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi.

3.

Ajarkan teknik relaksasi dengan distraksi dan napas dalam.

Rasional : Membantu mengendalikan nyeri dan mengalihkan perhatian dari rasa


nyeri.
4.

Kolaborasi medis, berikan analgesik untuk mengurangi nyeri.

Rasional : Analgesik mampu menekan saraf nyeri.

2
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Setelah dilakukan askep selama 324 jam klien menunjukan status nutrisi adekuat
dibuktikan dengan BB stabil tidak terjadi mal nutrisi, tingkat energi adekuat,
masukan nutrisi adekuat
Manajemen Nutrisi
1.

kaji pola makan klien

Rasional : Mengidentifikasi defisiensi nutrisi.


2.

Identifikasi pasien yang mengalami mual/muntah yang diantisipasi.

Rasional : Mual/muntah psikogenik terjadi sebelum kemoterapi muali secara umum


tidak berespons terhadap obat antiemetik.
3.
Kolaborasi medis dengan pemberian aniemetik pada jadwal reguler sebelum
atau selama dan setelah pemberian agen antineoplastik dengan sesuai.
Rasional : Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping
psikologis kemoterapi yang menimbulkan stress.
4.

Sajikan makanan selagi hangat.

Rasional : Dengan sajian makanan hangat lebih mengurangi mual.


5.

Dorong pasien untuk makan sedikit tapi sering.

Rasional : Kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan baik.


3
Risiko infeksi
Setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam tidak terdapat faktor risiko infeksi pada
klien dibuktikan dengan status imune klien adekuat: bebas dari gejala infeksi, angka
lekosit normal (4-11.000 )
Konrol infeksi :
1.

Kaji adanya tanda-tanda infeksi.

Rasional : Untuk memudahkan memberikan intervensi kepada pasien.


2.

Monitor tanda-tanda vital.

Rasional : Merupakan tanda adanya infeksi apabila terjadi peradangan.


3.

Kolaborasi medis dengan pemberian antibiotik.

Rasional : Antibiotik dapat mencegah sekaligus membunuh kuman penyakit untuk


berkembang biak

D.

IMPLEMENTASI

Implementasi / pelaksanaan pada klien dengan gangguan THT : kanker Nasofaring


+ Post Tracheostomy dilaksanakan sesuai dengan perencanaan perawatan yang
meliputi tindakan-tindakan yang telah direncanakan oleh perawat maupun hasil
kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya serta memperhatikan kondisi dan keadaan
klien.
E.

EVALUASI

Evaluasi dilakukan setelah diberikan tindakan perawatan dengan melihat respon


klien, mengacu pada kriteria evaluasi, tahap ini merupakan proses yang
menentukan sejauah mana tujuan telah tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC.
Jakarta
Guyton, Athur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran , Edisi 9, EGC, Jakarta
Iskandar.N, 1989, Tumor Telinga-Hidung-Tenggorokan, Diagnosis dan
Penatalaksanaan, Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Indonesia, Jakarta
NANDA International, 2001, Nursing Diagnosis Classification 2005 2006, USA
Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.
Jakarta.
Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.
Sjamsuhidajat & Wim De Jong. (1997). Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC : Jakarta.

rancangan struktur dan arahan masyarakat, bangunan dan atau perlengkapan)

Nutrisi (contoh : vitamin dan tipe makanan)

Biologikal ( contoh : tingkat imunisasi dalam masyarakat, mikroorganisme)

Kimia (polutan, racun, obat, agen farmasi, alkohol, kafein nikotin, bahan pengawet,
kosmetik, barang yang dapat membahayakan

Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga atau pengunjung adanya perubahan
status kesehatan dan penyebab penyakit.

celupan (zat warna kain))

Internal

Psikolgik (orientasi afektif)

Mal nutrisi


Bentuk darah abnormal, contoh : leukositosis/leukopenia, perubahan faktor
pembekuan, trombositopeni, sickle cell, thalassemia, penurunan Hb, Imunautoimum tidak berfungsi.

Biokimia, fungsi regulasi (contoh : tidak

berfungsinya sensoris)

Disfugsi gabungan

Disfungsi efektor

Hipoksia jaringan

Perkembangan usia (fisiologik, psikososial)

Fisik (contoh : kerusakan kulit/tidak utuh, berhubungan dengan mobilitas)