Anda di halaman 1dari 9

PRATIKUM FISIOLOGI MANUSIA

ANALISIS SEMEN
Hari/tanggal praktikum

: Rabu, 23 Desember 2015

Tempat

: Laboratorium Zoologi, Fakultas Biologi,


Universitas Nasional (UNAS)

A. Tujuan
Melakukan pemeriksaan semen seorang pria, menganalisis hasil pemeriksaan
dan menarik kesimpulan mengenai hasil pemeriksaan, apakah seorang pria
fertile atau infertil.
B. Dasar Teori
Sperma yang sering disebut juga mani atau semen adalah ejakulat yang
berasal dari seorang pria berupa cairan kental dan keruh, berisi sekret dari
kelenjar prostat, kelenjar2 lain dan spermatozoa. Pemeriksaan sperma
merupakan

salah

satu

elemen

penting

dalam

penilaian

fertilitas

atau

infertilitas. Pemeriksaan sperma meliputi maksroskopis (hal-hal yang terlihat


dengan mata telanjang), mikrospkopis, kimia dan imunologi. Namun, di sini yang
akan kita lakukan adalah hanya pemeriksaan sperma secara makroskopis dan
mikroskopis saja.
Banyak pria yang sering merasa tidak nyaman dengan adanya pemeriksaan
sperma hal ini mengingat sperma merupakan produk cairan tubuh yang hanya
bisa dikeluarkan sebagai puncak rasa birahi (orgasme). Tidak seperti cairan
tubuh lain yang biasa diperoleh dengan cara yang menyakitkan yaitu disuntik
seperti darah, cairan sumsum tulang, cairan otak maka cairan sperma ini
dikeluarkan dengan cara tidak menyakitkan. Tidak semua pria dengan mudah
bisa mengeluarkan sperma apalagi disebuah tempat yang cukup asing seperti
rumah sakit atau laboratorium. Sebenarnya hal ini tidak bisa menjadi alasan
karena saat ini rumah sakit atau laboratorium biasanya telah menyediakan
tempat yang dibuat sedemikian rupa agar pasien bisa melakukan proses
mengeluarkan sperma dengan nyaman.
Analisa semen dapat dilakukan untuk mengevaluasi gangguan fertilitas
(kesuburan) yang disertai dengan atau tanpa disfungsi hormon androgen. Dalam
hal ini hanya beberapa parameter ejakulat yang diperiksa (dievaluasi)

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

berdasarkan buku petunjuk WHO Manual for the examination of the Human
Semen and Sperm-Mucus Interaction.Semen merupakan cairan putih atau abuabu yang dikeluarkan dari uretra pada saat ejakulasi. Sperma terdapat atau
bagian dari semen disamping cairan-cairan lainya. Kuantitas dan kualitas penting
sekali dalam fungsi reproduksi. Pada semen yang baik, sperma akan dapat
survive, berenang dan akhirnya mencapai sel ovum di saluran reproduksi wanita.
Sperma dan ovum akan bersatu dalam suatu proses yang disebut fertilisasi
(pembuahan) membentuk zygot. Zygot inilah calon individu baru yang mewarisi
setengah sifat ayah dan setengah sifat ibu.
Spermatogenesis merupakan peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif
membelah ke sperma yang masak serta menyangkut berbagai macam
perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis
berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone gonadtotropin
dan testosterone.
Sebelum dilakukan pemeriksaan sperma perlu terlebih dahulu memberikan
penerangan sejelas-jelasnya kepada pria yang akan diperiksa tersebut mengenai
maksud dan tujuan analisis sperma dan juga untuk menjelaskan cara
pengeluaran dan penampungan sperma tersebut. Penerangan mengenai cara
pengeluaran, penampungan dan pengiriman sperma ke laboraturium. Sebelum
pemeriksaan

dilakukan

sebaiknya

pasien

dianjurkan

untuk

memenuhi

persyaratan:
a. Melakukan abstinensia selam 3 5 hari, paling lama selama 7 hari.
b. Pengeluaran ejakulat sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan harus
dikeluarkan di laboratorium. Bila tidak mungkin, harus tiba di laboraturium
paling lambat 2 jam dari saat dikeluarkan.
c. Ejakulat ditampung dalam wadah / botol gelas bemulut besar yang bersih dan
steril ( jangan sampai tumpah ), Kemudian botol ditutup rapat-rapat dan diberi
nama yang bersangkutan.
d. Pasien mencatat waktu pengeluaran mani, setelah itu langsung di serahkan
pada petugas laboraturium untuk pemeriksaan dan harus diperiksa sekurangkurangnya 2 kali dengan jarak antara waktu 1-2 minggu. Analisis sperma
sekali saja tidak cukup karena sering didapati variasi antara produksi sperma
dalam satu individu.
e. Sperma dikeluarkan dengan cara : rangsangan tangan (onani/masturbasi),
bila tidak mungkin dapat dengan cara rangsangan senggama terputus (koitus
interuptus) dan jangan ada yang tumpah.

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

f. Untuk menampung sperma tidak boleh menggunakan botol plastik atau


kondom.
Sebenarnya

semua

alat

boleh

dipakai

asalkan

tempat

tersebut

tidak

mengandung spermatotoxic. Sperma sangat tidak dianjurkan ditampung pada


tempat-tempat yang terbuat dari :
1. Logam, sebab logam bisa mengganggu muatan listrik dan sperma, sehingga
pergerakannya tergaggu.
2. Plastik sebab plastik umumnya mengandung gugus fenol (C6H5OH)
sehingga sperma akan rusak.
Pada umumnya tempat yang digunakan menampung sperma terbuat dari gelas
yang bersih dan tidak mengandung spermatotoxic. Tetapi sperma dilarang
ditempat yang terbuat dari :
1. Tempat penampung sperma dianjurkan ditampung pada tempat yang terbuat
dari bahan yang tidak bereaksi apa-apa.
2. Tempat penampung sperma harus bermulut lebar supaya muat pada penis.
3. Tempat diberi penutup agar tidak terkontaminasi.
4. Ukuran tempat penampung sperma 50 ml 100 ml.
C. Alat dan Bahan
1. Wadah/pot dengan penutup
2. Kertas Label
3. Gelas ukur 5 atau 10 ml
4. Kertas indikator
5. Mikroskop binokuler
6. Kamar Hitung Improved Neubauer
7. Pipet Leukosit
8. Aquadestilata
9. Minyak Imersi
10. Objective dan Cover Glass
11. Gelas Bejana
12. Giemsa
13. Methanol
14. Cairan sperma segar
D. Cara Kerja
Memperoleh Sampel:
a. Pasien diminta selama 3 5 hari tidak melakukan kegiatan sexual
b. Pengeluaran ejakulat sebaiknya pagi hari
c. Jarak dengan laboratorium sedekat mungkin
d. Air mani ditampung di dalam gelas atau plastik bermulut lebar
(sebelumnya dibersihkan dan dikringkan terlebih dahulu) dan diberi label
yang tertulis: Nama, Waktu (Jam) pengeluaran air mani dicatat serta
segera diantar ke laboratorium.

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

Pemeriksaan Makroskopis:
1. Terhadap volume, warna, pH, kekeruhan dan kentalnya air mani.
2. Hitung (ukur) volume air mani dengan memindahkan ejakulat ke dalam
gelas

ukur 5 atau 10m dan volume baru dapat diukur setelah mani

mencair.
3. Catat warna dan kekeruhan air mani.
4. Celupkan kertas indikator ke dalam wadah yang berisi air mani dan
cocokkan dengan skala war pH kemudian catat pH nya.
Pemeriksaan Mikroskopis:
Uji Motilitas :
1. Teteskan air mani sebanyak 1 tetes yang sudah mencair di atas objective
glass dan tutup dengan cover glass
2. Pemeriksaan dilakukan dengan lensa objektif 40 X
3. Perhatikan berapa % spermatozoa yang bergerak aktif dan hitung pula
waktu yang sudah berlalu sejak saat ejakulasi, karena semakin banyak
waktu lewat semakin berkurang motilitas spermatozoa Berkurangnya
motolitas banyak dipengaruhi oleh cara menyimpan sampel
4. Campurlah sedikit air mani dengan larutan Eosin 0,5% dalam air, untuk
membeda-kan spermatozoa yang tidak bergerak aktif dari yang mati.
Untuk spermatozoa yang mati akan memberi warna kemerah-merahan
dan yang non-aktif saja tidak berwarna

Jumlah Spermatozoa:
1. Menghitung spermatozoa dengan menggunakan kamar hitung Improved
Neubauer dan teteskanlah air mani dengan pipet leukosit
2. Untuk mengencerkan dapat digunakan aquadestilata, isilah pipet leukosit
dengan

air mani yang sudah mencair dengan aquadest sampai garis

bertanda 0,5 dan kemudian aquadest sampai garis bertanda 11


3. Hitunglah spermatozoa dalam kamar hitung Improved Neubauer pada
permukaan seluas 1 mm2 Jumlah yang dihitung dikalikan 200.000 untuk
mendapatkan jumlah spermatozoa dalam1 ml mani
4. Pemeriksaan jumlah spermatozoa perlu disarankan untuk dilakukan hitung
ulang pada lain waktu karena kualitas air mani seseorang akan berbeda

beda dari satu waktu ke waktu yang lain


Morfologi:
1. Buatlah apusan air mani seperti membuat apusan darah tepi biarkan
mengering pada hawa udara.
2. Kemudian lakukan fiksasi dengan metilalkohol (methanol) selama 5 menit
3. Selanjutnya diwarnai dengan Reagen Giemsa/Wright atau lainnya.
4. Periksalah morfologi spermatozoa dengan perbesaran 100 X
menggunakan minyak Imersi (kepala dan ekor spermatozoa).
5. Hitung % kelainan (abnormal) bentuk kepala (terlalu besar, terlalu kecil,

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

terlalu memanjang, inti terpecah dsb) dan bentuk ekor (tidak ada ekor, ada
dua ekor, ekor amat pendek dsb).

E. Hasil Pemeriksaan (terlampir)


F. Pembahasan
Sebelum diambil, penderita diberi penjelasan tertulis tentang tatacara
pengumpulan dan membawa semen ke tempat pemeriksaan. Semen diambil
setelah abstinensi sedikitnya 48 jam dan tidak lebih lama dari tujuh hari. Nama,
masa abstinensi, dan waktu pengambilan dicatat pada formulir yang dilampirkan
pada setiap semen yang akan dianalisis. Semen diantar ke laboratorium dalam
waktu satu jam sesudah dikeluarkan. Semen sebaiknya diperoleh dengan cara
masturbasi dan ditampung dalam botol kaca bermulut lebar. Semen dilindungi
dari suhu yang ekstrim selama pengangkutan ke laboratorium (suhu antara 20
400C) 4,7.
Pemeriksaan makroskopik di dapatkan hasil semen normal tampak berwarna
putih kelabu dan berbau seperti bunga akasia pada pagi hari. Semen yang
berbau busuk diduga disebabkan oleh suatu infeksi. Dalam keadaan normal,
semen mencair (liquefaction) dalam 60 menit pada suhu kamar. Dalam beberapa
kasus pencairan tidak terjadi secara sempurna dalam 60 menit. Hal ini
menunjukkan adanya gangguan pada fungsi kelenjar prostat. Untuk itu, semen
segera diperiksa setelah pencairan atau dalam waktu satu jam setelah ejakulasi.
Setelah diamati penampilannya, dilanjutkan dengan pengukuran volume
semen. Volume semen diukur dengan gelas ukur atau dengan cara menghisap
seluruh semen ke dalam suatu semprit atau pipet ukur. Nilai normal >/2,0 ml2,6.
Jika volume semen terlalu sedikit maka tidaklah cukup untuk menetralkan
keasaman suasana rahim. Dengan demikian, sperma yang berada di rongga

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

rahim akan segera mati sehingga kehamilan tidak terjadi11. Volume dianggap
abnormal jika semen < 2,0 ml.
Pemeriksaan makroskopik

dilakukan

dengan

melihat

konsistensinya..

Konsistensi juga diukur dengan cara memasukkan tangkai kaca ke dalam


semen, kemudian mengamati benang yang terbentuk pada saat tangkai kaca
tersebut dikeluarkan. Panjang benang > 2 cm dikatakan abnormal. Semen yang
terlalu encer maupun terlalu kental kurang baik bagi sperma. Pada semen yang
mempunyai konsitensi tinggi, kecepatan gerak sperma akan terhambat. Dengan
demikian, akan mengurangi kesuburan pria tersebut. Sebaliknya, semen yang
terlalu encer biasanya mengandung jumlah sperma yang rendah sehingga
kesuburan juga berkurang.
Pemeriksaan makroskopik yang lain adalah pemeriksaan pH semen tersebut.
Cara mengukur pH semen relatif mudah. Setetes semen disebarkan secara
merata di atas kertas pH. Setelah 40 detik, warna daerah yang dibasahi akan
merata, kemudian dibandingkan dengan kertas kaliberasi untuk dibaca pH-nya.
pH semen normal yang diukur dalam waktu satu jam setelah ejakulasi berada
dalam kisaran 7,2 sampai 7,8. Jika pH lebih besar dari 7,8 maka dicurigai adanya
infeksi. Sebaliknya, jika pH kurang dari 7 pada semen azoospermia.
Pada pemeriksaan mikroskopik, semen diperiksa morfologi, motilitas, dan
jumlah sperma. Cara

yang biasa dipakai adalah bahan semen satu tetes

dibubuhkan pada slide dan ditutup dengan gelas penutup. Pemeriksaan


dilakukan dengan mikroskop biasa perbesaran 40X. Kategori yang dipakai untuk
mengklasifikasi motilitas sperma disebut (a), (b), (c), (d), dan didefinisikan
sebagai berikut: Kategori (a) jika sperma bergerak cepat dan lurus ke muka.
Kategori (b) jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus.
Kategori (c) jika tidak bergerak maju. Kategori (d) jika sperma tidak bergerak.
Pemeriksaan mikroskopik berikutnya adalah memeriksa jumlah sperma.
Pemeriksaan dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara kasar dan penghitungan
dalam kamar hitung. Penentuan secara kasar dilakukan dengan menghitung
jumlah spermatozoa rata-rata pada beberapa lapangan pandang pembesaran
objektif 40 kali.
G. Simpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis pada sperma,
tidak ditemukan kelainan terutama tanda-tanda infertilitas.

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

Faktor2 yang bisa mempengaruhi akurasi pemeriksaan :


Obat2an (Cimetidine, sulfasalazine, nitrofurantoin)
Kafein, alkohol, kokain, marijuana, dan merokok.
Herbal seperti dosis tinggi echinacea.
Sampel dingin/panas.
Terkena radiasi .
Tidak terkumpul sempurna (terbaik dengan masturbasi).
Terlalau alam abstinen.
H. Saran
Jika ditemukan jumlah sperma yang rendah atau tingginya abnormalitas, perlu
dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti pengukuran kadar hormon: testosteron,
luteinizing hormone (LH), follicle-stimulating hormone (FSH), atau hormon
prolaktin. Juga dilakukan biopsi testis (zakar) dalam kondisi yang sangat ekstrim
(steril misalnya).

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

DAFTAR PUSTAKA
1 Komang, Juni. 2011. Analisis Sperma (Laporan Pratikum).
http://junikomang.blogspot.co.id/2011/09/analisis-sperma-bahan-laporan.
Diakses pada tanggal 29 Desember 2015.
2 Noortiningsih, dkk. 2009. Buku Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Jakarta:
Universitas Nasional.
3 Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC.
4 Rina. 2010. Analisis Sperma.
http://mahasiswakedokteranonline.blogspot.co.id/2012/06/patologi-klinikpraktikum-analisis.html. Diakses pada tanggal 29 Desember 2015.

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050

5 Sridianti. 2014. Pemeriksaan Sperma.


http://infoanalis.blogspot.co.id/2009/01/analisa-sperma.html. Diakses pada
tanggal 29 Desember 2015.

LAPORAN 8 FISIOLOGI MANUSIA | Muh. Fadli. S| NPM: 153112620120050