Anda di halaman 1dari 4

Reaksi kimia adalah suatu reaksi antar senyawa kimia atau unsur kimia yang melibatkan

perubahan struktur dari molekul, yang umumnya berkaitan dengan pembentukan dan
pemutusan ikatan kimia. Dalam suatu reaksi kimia terjadi proses ikatan imia, di mana atom
zat mula-mula (edukte) bereaksi menghasilkan hasil (produk). Berlangsungnya proses ini
dapat memerlukan energi (reaksi endotermal) atau melepaskan energi (reaksi eksotermal)
(Raif, 2010:2). Raif, Agus. 2010. Reaksi Kimia. Jakarta: Universitas Mercu Buana.
Reaksi kimia menggabungkan unsur-unsur menjadi senyawa, penguraian senyawa
menghasilkan unsur-unsurnya dan transportasi mengubah senyawa yang ada menjadi
senyawa baru. Oleh karena atom tidak dapat dimusnahkan dalam reaksi kimia, maka jumlah
atom (atau mol atom) dan setiap unsur sebelum dan sesudah reaksi selalu sama. Kekuatan
materi dalam perubahan kimia ini terlihat dari persamaan kimia yang balans untuk proses
reaksi tersebut. Berdasarkan kesetaraan reaksi, ada reaksi stoikiometri dan pereaksi pembatas
(Oktoby, 1998:42).
Oxtoby, David W,H,P,dkk.2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi Ke-4 Jilid 1. Jakarta :
Erlangga.
Stoikiometri berasal dari kata yunani, stoicheion (unsure) dan mettrein (mengukur), berarti
mengukur unsur. Pengertian unsur-unsur dalam hal ini adalah partikel-partikel atom, ion,
molekul atau electron yang terdapat dalam unsur atau senyawa yang terlibat dalam reaksi
kimia. Stoikiometri yang menyangkut cara untuk menimbang dan menghitung spesi-spesi
kimia atau dengan kata lain, stoikiometri adalah kajian tentang hubungan-hubungan
kuantitatif

dalam

reaksi

kimia.

(Achmad.1996:2)

Luscua,Achmad.1996.Stoikiometri Energitika Kimia.Bandung:PT Citra Aditya Bakti


Stoikiometri beberapa reaksi dapat dipelajari dengan mudah, salah satunya dengan metode
JOB atau metode Variasi Kontinu, yang mekanismenya yaitu dengan dilakukan pengamatan
terhadap kuantitas molar pereaksi yang berubah-ubah, namun molar totalnya sama. Sifat
fisika tertentunya (massa, volume, suhu, daya serap) diperiksa, dan perubahannya digunakan
untuk meramal stoikiometri sistem. Dari grafik aluran sifat fisik terhadap kuantitas pereaksi,
akan diperoleh titik maksimal atau minimal yang sesuai titik stoikiometri sistem, yang
menyatakan

perbandingan

pereaksi-pereaksi

dalam

senyawa.

Perubahan kalor pada reaksi kimia bergantung jumlah pereaksinya. Jika mol yang bereaksi
diubah dengan volume tetap, stoikiometri dapat ditentukan dari titik perubahan kalor

maksimal, yakni dengan mengalurkan kenaikan temperatur terhadap komposisi campuran.


(Sutrisno.1986:247)
Sutrisno.1986.Buku Materi Pokok Fisika.Jakarta:Karvaika
Menurut (Syabatini, 2008: 2-11) Hukum-hukum dasar ilmu kimia adalah sebagai berikut:
a)

Hukum Boyle

Boyle menemukan bahwa udara dapat dimanfaatkan dan dapat berkembang bila dipanaskan.
Akhirya ia menemukan hukum yang kemudian terkenal sebagai hukum Boyle: bila suhu
tetap, volume gas dalam ruangan tertutup berbanding terbalik dengan tekananya
P1.V1 = P2.V2
b)

Hukum Lavoiser disebut juga Hukum Kekekalan Massa

Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov-Lavoisier adalah
suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan meskipun
terjadi berbagai macam proses di dalam sistem tersebut(dalam sistem tertutup Massa zat
sebelum dan sesudah reaksi adalah sama (tetap/konstan). Massa zat sebelum dan sesudah
reaksi selalu sama.
c)

Hukum Perbandingan Tetap (H.Proust)

Dalam kimia, hukum perbandingan tetap atau hukum Proust (diambil dari nama kimiawan
Perancis Joseph Proust) adalah hukum yang menyatakan bahwa suatu senyawa kimia terdiri
dari unsur-unsur dengan perbandingan massa yang selalu tepat sama. Dengan kata lain, setiap
sampel suatu senyawa memiliki komposisi unsur-unsur yang tetap.
Misalnya, air terdiri dari 8/9 massa oksigen dan 1/9 massa hidrogen.Perbandingan massa
unsur-unsur dalam suatu persenyawaan kimia selalu tetap.
d)

Hukum Gay Lussac

Menyatakan bahwa volume gas nyata apapun sangat kecil dibandingkan dengan volume yang
ditempatinya. Bila anggapan ini benar, volume gas sebanding dengan jumlah molekul gas
dalam ruang tersebut. Jadi, massa relatif, yakni massa molekul atau massa atom gas, dengan
mudah didapat.
Dalam suatu reaksi kimia gas yang diukur pada P dan T yang sama volumenya berbanding
lurus dengan koefisien reaksi atau mol, dan berbanding lurus sebagai bilangan bulat dan
sederhana.

e)

Hukum Boyle Gay Lussac

"Bagi suatu kuantitas dari suatu gas ideal (yakni kuantitas menurut beratnya) hasil kali dari
volume dan tekanannya dibagi dengan temperatur mutlaknya adalah konstan". Untuk n1 =
n2, maka P1.V1 / T1 = P2.V2 / T2
f)

Hukum Dalton disebut juga Hukum Kelipatan Perbandingan

Jika dua unsur dapat membentuk satu atau lebih senyawa, maka perbandingan massa dari
unsur yang satu yang bersenyawa dengan jumlah unsur lain yang tertentu massanya akan
merupakan bilangan mudah dan tetap.
g)

Hukum Avogadro

Gas-gas yang memiliki volum yang sama, pada temperatur dan tekanan yang sama,
memiliki jumlah partikel yang sama pula.
Artinya, jumlah molekul atau atom dalam suatu volum gas tidak tergantung kepada ukuran
atau massa dari molekul gas.
h)

Hukum Gas Ideal

PV = nRT
Persamaan ini dikenal dengan julukan hukum gas ideal alias persamaan keadaan gas ideal.
Keterangan :
P = tekanan gas (N/m2)
V = volume gas (m3)
n = jumlah mol (mol)
R = konstanta gas universal (R = 8,315 J/mol.K)
T = suhu mutlak gas (K)
Syabatini, Annisa. 2008. Kimia Dasar. http://usupress.usu.ac.id/files/ Kimia%20Dasar%20%20Final_bab%201.pdf.
2.5 Jumlah Reaktan dan Produk
Satuan yang digunakan untuk reaktan atau produk adalah mol, gram, liter atau satuan
lainnya, kita menggunakan satuan mol untuk menghitung jumlah produk yang terbentuk
dalam reaksi kimia. Pendekatan ini disebut metode mol (mole method), yang berarti bahwa
koefisien stoikiometri dalam persamaan kimia dapat diartikan sebagai jumlah mol dari setiap
zat. Sebagai contoh, pembakaran karbon monoksida di udara menghasilkan karbondioksida :
2CO(g) + O2(g) 2CO2(g)

Untuk perhitungan stoikiometri, kita baca persamaan di atas sebagai 2 mol gas
karbon
monoksida bergabung dengan 1 mol gas oksigen membentuk 2 mol gas karbon dioksida
(Chang, 2005).
2.6 Pereaksi Pembatas dan Hasil Teoritis
Ketika seorang kimiawan mengerjakan suatu rekasi, reaktan biasanya tidak terdapat
dalam jumlah stoikiometri (stoichiometris amounts) yang tepat, yaitu dalam perbandingan
yang ditunjukkan oleh persamaan yang setara. Karena tujuan reaksi adalah menghasilkan
kuantitas maksimun senyawa yang berguna dari sejumlah tertentu material awal, seringkali
satu reaktan dimasukkan dalam jumlah berlebih untuk menjamin bahwa reaktan yang lebih
mehal seluruhnya diubah menjadi produk yang diinginkan. Konsekuensinya beberapa rektan
akan tersisa pada akhir reaksi. Reaktan yang pertama kali habis digunakan pada rekais kimia
disebut pereaksi pembatas (limiting reagent), karena jumlah maksimum produk yang
terbentuk tergantung pada berapa banyak jumlah awal dari reaktan ini (Chang, 2005).
Jumlah pereaksi pembatas yang ada pada awal rekasi menentukan hasil teoritis
(theoritical yield) dari rekasi tersebut, yaitu jumlah produk yang akan terbentuk jika seluruh
pereaksi pembatas terpakai pada reaksi. Jadi, hasil teoritis adalah hasil maksimum yang
didapat, seperti yang diprediksi dari persamaan yang setara. Pada praktiknya, jumlah produk
yang didapat hampir selalu lebih kecil dari pada hasil teoritis. Perhitungan hasil teoritis ini
atau biasa disebut persen yield :
(Zumdalh, 2009).
Hasil teoritis adalah banyaknya produk yang diperoleh dari reaksi yang berlangsung
sempurna. Persen hasil adalah ukuran efisiensi suatu reaksi.Dari persamaan reaksi yang
sudah setara dapat dihitung banyaknya zat pereaksi atau
produk reaksi. Perhitungan ini dilakukan dengan melihat angka perbandingan mol dari
pereaksi dan produk reaksi. Semua pereaksi ,tidak semuanya dapat bereaksi.salah satu
pereaksi habis bereaksi sedangkan yang lainnya berlebihan. Pereaksi yang habis bereaksi
disebut pereaksi pembatas,karena membatasi kemungkinan reaksi terus berlangsung.
Sehingga produk reaksi ditentukan oleh pereaksi pembatas.(Achmad, 2001).