Anda di halaman 1dari 7

TUGAS

:4

DIKUMPUL TANGGAL

: 5 APRIL 2016

MAKALAH EKONOMI MINERAL


PASAR MINERAL LOGAM & BATUBARA

ARDIANSYAH
D 621 14 001

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN

GOWA
2016

PASAR MINERAL LOGAM & BATUBARA


1.

Produksi & Ekspor Mineral Logam (Tembaga dan Nikel)


Tembaga memang memainkan peran penting dalam perkembangan

peradaban

manusia.

Sepanjang

sejarah,

berbagai

produk

berbahan

tembaga menjadi pilihan banyak orang. Demikian juga dengan sektor


perindustrian dan teknologi. Pencampuran dengan Zinc, timah, aluminium
dan nikel juga menghasilkan produk-produk bernilai tinggi dan bermanfaat
bagi masyarakat banyak. Saat ini logam dengan rumus kimia Cu ini
dimanfaatkan untuk kabel listrik, industri telekomunikasi dan elektronika
juga konstruksi dan transportasi.
Data terakhir dari Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan
bahwa Indonesia memiliki sumber daya tembaga sebesar 4.925 juta ton ore
dengan cadangan
tembaga sebesar 4.161 juta ton ore. Saat ini tembaga merupakan logam
penting nomor tiga dalam jumlah pemakaian setelah besi-baja dan
aluminium. Tembaga merupakan salah satu logam yang dapat ditemukan
dalam keadaan bebas (native metal). Tembaga dalam keadaan murni
banyak dipakai sebagai penghantar listrik dalam bentuk kawat. Selain itu
tembaga dipadukan dengan logam lainnya menjadi kuningan dan perunggu
yang banyak digunakan dalam dunia teknik.
Sumber daya tembaga Indonesia sebesar 4.925 juta ton ore dengan
cadangan sebesar 4.161 juta ton ore. Tiga besar negara tujuan ekspor
konsentrat tembaga adalah Jepang sebesar 330.160 ton, Korea Selatan
sebesar 326.166 ton dan India sebesar 311.800 ton.
Sumber daya nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2.633 juta Ton ore
dengan cadangan sebesar 577 juta ton ore yang tersebar di Sulawesi,
Kalimantan, Maluku dan Papua dengan kandungan unsur nikel rata-rata
1,45%. Sebagian dari potensi sumber daya tersebut sudah ditambang dan
diekspor dalam bentuk nickel matte oleh PT Inco Indonesia, Ferro Nickel oleh
PT Antam. Komoditi nikel dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bijih nikel,
feronikel dan nikel kasar, hampir seluruhnya dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan ekspor. Selama periode tahun 2003-2009 produksi bijih nikel
mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu dari 4.395.429 ton pada
tahun 2003 menjadi 10.847.141 ton pada tahun 2009 atau mengalami
kenaikan

hampir

2,5

kali

lipat.

Perubahan

harga

nikel

cenderung
1

berhubungan sangat erat dengan tingkat persediaan nikel di London Metal


Exchange (LME). LME dianggap sebagai pasar terakhir.Tingginya persedian
di gudang LME menunjukan surplus pasar, sebaliknya rendahnya persediaan
di gudang LME menunjukan defisit pasar.Dengan demikian perubahan dalam
persediaan di LME memberikan indikasi persediaan di pasar global, yang
membawa dampak langsung terhadap harga nikel di pasaran. Secara
keseluruhan volume dan nilai ekspor nikel sudah pulih kembali, bahkan
melewati puncaknya yang terakhir dicapai pada tahun 2007. Kondisi volume
dan nilai ekspor nikel di Indonesia dalam 2 tahun terakhir (2011-2012)
mengalami kenaikan yang cukup signifikan. (Kementerian ESDM, 2012)
2. Peraturan Jual Beli Mineral Logam
Penjualan mineral logam dapat dilakukan dalam bentuk penjualan
langsung (spot) atau penjualan jangka tertentu berdasarkan kesepakatan
harga antara pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam dan IUPK
Operasi Produksi mineral logam dengan pembeli mineral logam yang
mengacu pada harga patokan mineral logam. Kesepakatan harga penjualan
mineral

logam

sebelum

dituangkan

dalam

kontrak

penjualan

wajib

disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri melalui Direktur Jenderal.


Penandatanganan kontrak jual beli mineral logam sebagai tindak lanjut dari
kesepakatan harga penjualan mineral logam wajib dilakukan dalam jangka
waktu sebagai berikut:
1) untuk produk logam dalam jangka waktu paling lambat 1 (satu) bulan
setelah terjadi kesepakatan harga mineral logam
2) untuk bentuk bijih, konsentrat danlatau produk antara logam dalam
jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan setelah terjadi kesepakatan
harga mineral logam.
Jadwal pengiriman tahunan wajib dilaporkan kepada Direktur Jenderal
pada awal tahun dan jika ada perubahan jadwal pengiriman maka secara
periodik harus dilaporkan. Pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam
dan IUPK Operasi Produksi mineral logam wajib menyesuaikan harga mineral
logam untuk penjualan jangka tertentu setiap 12 bulan sekali.
3. Prospek Sektor Pertambangan Mineral Logam
Meskipun dikenal sebagai negara yang kaya dengan potensi sumber
daya alam mineral, tetapi potensi cadangan mineral logam Indonesia relatif
2

tidak begitu besar lagi, karena eksploitasi secara besar-besaran telah


mengurangi potensi ini secara signifikan. Sebagian besar cadangan mineral
logam di Indonesia umumnya diperkirakan masih tinggal 24 tahun hingga
33 tahun saja,

kecuali bijih besi yang masih cukup panjang umur

cadangannya.
Cadangan emas Indonesia di Papua dikenal

sebagai salah satu yang

terbesar di dunia, tetapi produksinya juga tidak kalah besar, karena produksi
emas Indonesia cukup mendominasi perdagangan emas dunia, sehingga
diperkirakan cadangan emas Indonesia saat ini hanya cukup untuk 33 tahun
lagi. Demikian pula dengan cadangan tembaga Indonesia yang mencapai
27,7 juta ton diperkirakan akan habis 27 tahun lagi. Indonesia yang selama
ini memasok sekitar 50% kebutuhan nikel jepang juga hanya mempunyai
cadangan untuk sekitar 25 tahun lagi.
Indonesia juga mempunyai potensi pasir besi yang cukup besar, hanya
karena belum maksimalnya perkembangan pengolahan pasir besi di
Indonesia, sehingga cadangan bijih besi relatif masih cukup panjang
waktunya hingga mencapai sekitar 130 tahun lagi. Cadangan emas
Grasberg di Papua merupakan cadangan emas terbesar di Indonesia bahkan
menjadi salah satu cadangan emas terbesar di dunia. Kandungan sumber
dayanya mencapai 3.117 juta ton. Selain Grasberg yang juga cukup besar
cadangannya adalah Cadangan Batu Hijau di Banda yang mencapai 525 juta
ton. Beberapa cadangan lainnya berkisar 75 juta ton hingga 114 juta ton
yang umumnya terkonsentrasi di wilayah Tengah Kalimantan dan Sulawesi
Utara.
4.

Produksi & Ekspor Batubara Indonesia


Indonesia adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar

di dunia. Sejak tahun 2005, ketika melampaui produksi Australia, Indonesia


kemudian menjadi eksportir terdepan batubara thermal. Porsi signifikan dari
batubara thermal yang diekspor terdiri dari jenis kualitas menengah (antara
5100 dan 6100 cal/gram) dan jenis kualitas rendah (di bawah 5100
cal/gram) yang sebagian besar permintaannya berasal dari Cina dan India.
Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia saat ini menempati
peringkat ke-10 dengan sekitar 3.1 persen dari total cadangan batubara
global terbukti berdasarkan BP Statistical Review of World Energy. (BP
Statistical Review of World Energy, 2015)
3

Sekitar 60 persen dari cadangan batubara total Indonesia terdiri dari


batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-bituminous) yang memiliki
kandungan kurang dari 6100 cal/gram. Sejumlah kantung cadangan
batubara yang lebih kecil terdapat di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah dengan cadangan
batubara terbesar di Indonesia adalah Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan,
dan Kalimantan Timur. (BP Statistical Review of World Energy, 2015)
Yang mendorong peningkatan produksi dan ekspor Batubara di
Indonesia:

Batubara adalah kekuatan dominan di dalam pembangkitan listrik.


Paling sedikit 27 persen dari total output energi dunia dan lebih dari 39
persen dari seluruh listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga
batubara karena kelimpahan jumlah batubara, proses ekstrasinya yang
relatif mudah dan murah, dan persyaratan-persyaratan infrastruktur
yang lebih murah dibandingkan dengan sumberdaya energi lainnya.

Indonesia memiliki cadangan batubara kualitas menengah dan rendah


yang melimpah. Jenis batubara ini dijual dengan harga kompetitif di
pasar internasional (ikut disebabkan karena upah tenaga kerja Indonesia
yang rendah).

Indonesia memiliki posisi geografis strategis untuk pasar raksasa


negara-negara berkembang yaitu RTT dan India.
Negara tujuan utama untuk ekspor batubara Indonesia adalah China,

India, Jepang dan Korea. Batubara jelas penting untuk pendapatan negara
karena komoditas ini berkontribusi untuk sekitar 85% dari pendapatan
sektor pertambangan.
5. Peraturan Jual Beli Batubara
Setelah mengetahui pihak yang berhak melakukan penjualan batubara,
maka tahap selanjutnya adalah pembuatan perjanjian jual beli batubara
antara perusahaan dengan pemegang IUP OP atau dengan pemegang IUPK
Trading. Pada dasarnya, perjanjian jual beli batubara merupakan perjanjian
yang sama dengan perjanjian lainnya yang harus memenuhi unsur dari
Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Untuk perjanjian jual beli
batubara terdapat hal-hal yang harus diperhatikan pada pembuatan
perjanjian tersebut yaitu:
4

a. Lingkup hak izin


Dalam membuat perjanjian dengan penjual yang dalam hal ini adalah
IUPK Trading, Kita harus mengetahui lingkup izin yang dimiliki oleh
pemegang IUPK Trading tersebut. Hal ini diperlukan untuk mengetahui
bagaimana cakupan hak atas wilayah penjualan yang dimiliki oleh
pemegang IUPK Trading. Dalam hal IUPK Trading diberikan oleh Menteri,
maka kegiatan penjualan dapat dilakukan lintas provinsi dan negara,
kemudian jika diberikan oleh Gubernur maka kegiatan penjualan
batubara dapat dilakukan lintas kabupaten atau kota, sedangkan jika
diberikan oleh Bupati maka kegiatan penjualan terbatas hanya pada
satu kabupaten/kota.
b. Status clean and clear
Berdasarkan praktik dalam usaha pertambangan, batubara yang dijual
oleh pemegang IUPK Trading dipersyaratkan diperoleh dari pemegang
IUP OP yang telah terdaftar dalam daftar clean and clear yang
dikeluarkan

oleh

Kementerian

Energi

dan

Sumber

Daya

Mineral

(ESDM) yang dibuktikan dengan sertifikat clean and clear.


c. Harga batubara
Bagi para pihak yang ingin melakukan jual beli batubara dan akan
menentukan harga batubara harus mengacu kepada Peraturan Menteri
ESDM Nomor 17 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penetapan Harga
Patokan

Penjualan

Mineral

dan

Batubara.

Harga

batubara

akan

ditentukan oleh ESDM yang berlaku untuk jangka waktu tertentu dan
ditetapkan berdasarkan peraturan direktorat jenderal. Penentuan harga
patokan batubara ini dimaksudkan sebagai patokan dalam menentukan
besarnya jumlah royalti yang harus dibayarkan oleh para pihak dalam
perjanjian tersebut.
6. Prospek Sektor Pertambangan Batubara
Sejauh ini belum terlihat faktor yang bisa membantu pasar batu bara
untuk pulih. Di tengah permintaan yang masih rendah, pasar diperkirakan
tetap mengalami kelebihan pasokan. Di tempat lain kondisi ekonomi yang
belum ada tanda-tanda bakal membaik serta anjloknya harga minyak dunia
harga si emas hitam ini berada di zona merah seperti tahun 2015.
Belum lagi kesadaran global untuk mengurangi emisi karbon akan
berpengaruh pada permintaan batu bara di masa mendatang. Pertemuan
5

COP Paris pada akhir tahun 2015 mendorong negara-negara peserta untuk
mengurangi suhu global di bawah 2C. Salah satunya dengan menekan
konsumsi energi berbasis fosil. Salah satunya batu bara selain minyak dan
gas.
Namun demikian banyak pemerhati tambang mengaku masih optimis
bahwa batubara masih tetap dibutuhkan sebagai sumber energi. Indonesia
butuh listrik dan PLTU masih menjadi pilihan karena bisa membangun dalam
kapasitas yang lebih besar dan juga cadangan batu bara Indonesia juga
cukup besar.