Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Anatomi dan Fisiologi Lensa


1.1.1 Anatomi Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna dan
transparan. Tebal sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Dibelakang iris lensa
digantung oleh zonula (Zonula Zinnii) yang menghubungkan dengan korpus
siliare. Disebelah anterior lensa terdapat humos aquos dan disebelah posterior
terdapat viterus.Kapsul lensa adalah suatu membran semipermeabel yang dapat
dilewati air dan elektrolit. Disebelah depan terdapat selapis epitel subkapsular.
Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia,
serat-serat lamelar subepitel terus diproduksi, sehingga lensa lama-kelamaan
menjadi kurang elastic. Lensa terdiri dari enam puluh lima persen air, 35%
protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya.
Kandungan kalium lebih tinggi di lensa dari pada di kebanyakan jaringan lain.
Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi.
Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau pun saraf di lensa (Budiono dkk,
2013).
1.1.2 Fisiologi Lensa
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk
memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi,
menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa
sampai ukurannya yang terkecil, daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas
cahaya paralel atau terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda
dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang.Kapsul lensa
yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh
peningkatan daya biasnya.
Kerjasama fisiologik tersebut antara korpus siliaris, zonula, dan lensa
untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi. Seiring

dengan pertambahan usia, kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan berkurang.


Selain itu juga terdapat fungsi refraksi, yang mana sebagai bagian optik bola mata
untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning, lensa menyumbang +18.0- Dioptri.
1.1.3 Metabolisme Lensa Normal
Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium
dan kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar
kalium di bagian anterior lensa lebih tinggi di bandingkan posterior. Dan kadar
natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior dan
keluar ke aqueous humour, dari luar Ion Na masuk secara difusi dan bergerak ke
bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif.
Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh
Ca-ATPase.
Metabolisme lensa melalui glikolisis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%).
Jalur HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose,
juga untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktse
adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah
menjadi fructose oleh enzim sorbitol dehydrogenase (Budiono dkk, 2013).
1.1.4 Embriologi Lensa
Mata berasal dari tonjolan otak (optic vesicle). Lensanya berasal dari
ektoderm permukaan pada tempat lensplate, yang kemudian mengalami invaginasi
dan melepaskan diri dari ektoderm permukaan membentuk vesikel lensa dan
bebas terletak di dalam batas-batas dari optic cup. Segera setelah vesikel lensa
terlepas dari ektoderm permukaan, maka sel-sel bagian posterior memanjang dan
menutupi bagian yang kososng. Pada stadium ini, kapsul hialin dikeluarkan oleh
sel-sel lensa. Serat-serat sekunder memanjangkan diri, dari daerah ekuator dan
tumbuh ke depan di bawah epitel subkapsuler, yang hanya selapis dan ke belakang
di bawah kapsula lentis. Serat-serat ini saling bertemu dan membentuk sutura

lentis, yang berbentuk huruf Y yang tegak di anterior dan Y yang terbalik di
posterior. Pembentukan lensa selesai pada usia 7 bulan penghidupan foetal. Inilah
yang membentuk substansi lensa, yang terdiri dari korteks dan nukleus.
Pertumbuhan dan proliferasi dari serat-serat sekunder berlangsung terus selama
hidup tetapi lebih lambat, karenanya lensa menjadi bertambah besar lambatlambat. Kemudian terjadi kompresi dari serat-serat tersebut dengan disusul oleh
proses sclerosis (ilyas dan sidarta ,2005).
1.2. Definisi Katarak
Katarak berasal dari bahasa Yunani katarrhakies, Inggris cataract dan
Latin cataracta yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia disebut bular,
dimana penglihatan seperti tertutup air tejun. Katarak adalah setiap keadaan
kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa,
denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-duanya. Biasanya kekeruhan
mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami
perubahan dalam waktu yang lama (Ilyas dan Sidarta ,2005).
1.3 Epidemiologi
Menurut (WHO) katarak adalah penyebab kebutaan dan gangguan
penglihatan di seluruh dunia pada tahun 2002 WHO memperkirakan katarak
adalah penyebab kebutaan yang dapat dipulihkan pada lebih dari 17 juta penduduk
dunia

( 47,8% ) dari 37 juta penderitaan kebutaan di seluruh dunia dan

diperkirakan mencapai 40 juta penderita pada tahun 2020.di Indonesia,survei


kesehatan indra penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996,menunjukan
angka kebutaan 1,5%.selain itu masyarakat Indonesia memiliki kecendrungan
menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah
subtropis. Dibandingkan dengan angka kebutaan negara negara di regional asia
tenggara angka kebutaan di Indonesia adalah yang tertinggi ( Bangladesh 1% ,
India 07% Thailand 0,3%). Insiden katarak 0,1% (210 ribu orang) per tahun ,

sedangkan yang dioperasi baru lebih kurang 80.000 orang per tahun (Budiono dkk
,2013).
1.5.1

Katarak Senilis

(katarak terkait usia)


Katarak senilis ini adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia
lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui
secara pasti. Katarak senile ini jenis katarak yang sering ditemukan dengan gejala
pada umumnya berupa:
a. Distorsi penglihatan yang semakin kabur pada stadium insipiens
pembentukkan katarak, disertai penglihatan jauh makin kabur.
b. Penglihatan dekat mungkin sedikit membaik, sehingga pasien dapat
membaca lebih baik tanpa kaca mata (second sight).
c. Miopia artificial ini disebabkan oleh peningkatan indeks rafraksi lensa
pada stadium insipient.
Katarak senile biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun,
Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya
mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun (Ilyas, 2006).

1.5.6.1 Pembagian Katarak Senilis


Dikenal 3 bentuk katarak senil, yaitu :
-

Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi
sklerotik. Lama kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih
kekuningan menjadi cokelat dan kemudian menjadi kehitaman.

Keadaan ini disebut katarak brunesen atau nigra.


Katarak Kortikal
Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa
menjadi cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks
refraksi

lensa.

Pada

keadaan

ini

penderita

seakan-akan

mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang


bertambah.
Katarak Subkapsular posterior
Subkapsular posterior, merupakan terjadinya kekeruhan di sisi belakang lensa.
Katarak ini menyebabkan silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang,
serta pandangan baca menurun. Banyak ditemukan pada pasien diabetes, pasca
radiasi, dan trauma
Katarak Senil dapat dibagai atas 4 Stadium
1) Katarak Insipien
Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk
gerigi dasar di perifer dan daerah jernih membentuk gerigi dengan dasar di
perifer dan daerah jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya teletak di korteks
anterior atau posterior. Kekeruhan ini pada umumnya hanya tampak bila pupil
dilebarkan.
Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang
tidak sama pada semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan
positif.

Gambar 2. Katarak insipien


2) Katarak Imatur
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi
tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagianbagian yang jernih pada lensa.
Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa menjadi
bertambah cembung. Pencembungan lensa ini akan memberikan perubahan
indeks refraksi dimana mata akan menjadi miopik. Kecembungan ini akan

mengakibatkan pendorongan iris ke depan sehingga bilik mata depan akan


lebih sempit.
Pada stadium intumensen ini akan mudah terjadi penyulit glaukoma. Uji
bayangan iris pada keadaan ini positif.

Gambar 3. Katarak imatur


3) Katarak Matur
Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air
bersama-sama hasil disintegrasi melalui kapsul. Di dalam stadium ini lensa
akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan
akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini
terlihat lensa berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh karena
deposit kalsium. Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.
Katarak Hipermatur
Katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras
atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul
lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering, Pada
pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadangkadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn
menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul
yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka
korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan
nukieus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini
disebut sebagai katarak Morgagni.

Apabila stadium matur dibiarkan akan terjadi 2 kemungkinan yaitu korteks


lensa mencair dan melunak sehingga nukleus lensa tenggelam di dalam
korteks lensa (Katarak Morgagni) atau lensa akan terus kehilangan cairan
sehingga mengkerut dan menipis (Shrunken Cataract).

Gambar 6. Katarak hipermatur.


Perbedaan Stadium Katarak Senilis
2.5 Manifestasi Klinis
Penglihatan yang berangsur-angsur memburuk atau berkurang dalam
beberapa bulan atau tahun merupakan gejala utama dari katarak. Beberapa orang
hanya merasakan penglihatan redup pada satu mata. Dapat saja keluhan ini
seakan-akan melihat melalui film (tabir) yang menutupi mata, keluhan berupa
silau ditempat terang, atau penglihatan kurang bila mengendarai kendaraan
menghadapi sinar yang datang dimalam hari. Mata tidak merasakan sakit, gatal,
atau merah sedikitpun.
Secara umum dapat digambarkan gejala katarak adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.

Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film.


Perubahan daya lihat warna.
Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat

d.
e.
f.
g.

menyilaukan mata.
Lampu dan matahari sangat mengganggu.
Sering minta ganti resep kaca mata.
Melihat ganda
Bias melihat dekat pada pasien rabun dekat (hipermetrop).

2.6 Tanda dan Gejala Katarak


Katarak didiagnosa melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang lengkap. Keluhan yang membawa pasien datang antara lain:
a. Pandangan kabur

Kekeruhan lensa mengakibatkan penurunan penglihatan yang progresif atau


berangsur-angsur dan tanpa nyeri, serta tidak mengalami kemajun dengan pin
hole.
b. Penglihatan silau
Penderita katarak sering kali mengeluhkan penglihatan yang silau, dimana
tingkat kesilauan berbeda-beda mulai dari sensitifitas kontras yang menurun
dengan latar belakang yang terang yang terang hingga merasa silau di siang
hari atau merasa silau terhadap lampu mobil yang berlawanan arah atau
sumber cahaya lain yang mirip pada malam hari. Keluhan ini sering kali
muncul pada penderita katarak kortikal.
c. Sensitifitas terhadap kontras
Sensitifits

terhadap

kontras

menentukan

kemampuan

pasien

dalam

mengetahui perbedaan perbedaan tipis dari gambar-gambar yang berbeda


warna, penerangan dan tempat. Cara ini akan lebih menjelaskan fungsi mata
sebagai optic dan uji ini diketahui lebih bagus dari pada menggunakan bagan
snellen untuk mengetahui kepastian fungsi penglihatan, namun uji ini
bukanlah indicator spesifik hilangnya penglihatan yang disebabkan oleh
adanya katarak.
d. Miopisasi
Perkembangan katarak ada awalnya dapa meningkatkan kekuatan dioprtri
lensa, biasanya menyebabkan derajat myopia yang ringan hingga sedang.
Ketergantungan pasien presbiopia pada kaca mata bacanya akan berkurang
karena pasien ini mengalami penglihatan kedua. Namun setelah sekian waktu
bersamaan dengan memburuknya kualitas lensa rasa nyaman ini berlangsung
menghilang dan diikuti dengan terjadinya katarak sklerotik nuclear.
Perkembangan miopisasi yang asimetris pada kedua mata akan menyebabkan
anisometropia yang tidak dapat dikoreksi lagi dan cendrung diatasi dengan
ektraksi katarak.
e. Variasi diurnal penglihatan
Pada katarak sentral kadang-kadang penderita mengeluhkan penglihatan
menurun ada siang hari atau pada keadaan terang dan membaik pada senja

hari,

sebaliknya

penderita

katarak

kortikal

perifer

kadang-kadang

mengeluhkan penglihatan lebih baik pada sinar terang dibanding pada sinar
redup.
f. Distorsi
Katarak dapat menimbulkan keluhan benda bersudut tajam menjadi tampak
tumpul atau bergelombang.
g. Halo
Penderita dapat mengeluh adanya lingkaran berwarna pelangi yang terlihat
disekeliling sumber cahaya terang, yang harus dibedakan dengan halo pada
penderita glukoma.
h. Diplopia monokuler
Gambaran ganda dapat terbentuk pada retina akibat refraksi ireguler dari
lensa yang keruh, menimbulkan diplopia monokuler, yang dibedakan dengan
diplopia binokuler dengan cover test dan pin hole.
i. Perubahan persepsi warna
Perubahan inti nucleus menjadi kekuningan menyebabkan perubahan persepsi
warna yang akan digambarkan menjadi lebih kekuningan atau kecoklatan
dibanding warna sebenarnya.
j. Bintik hitam
Penderita dapat mengeluhkan timbulnya bintik hitam yang tidak bergerakgerak pada lapang pandangnya. Dibedakan dengan keluhan pada retina atau
badan vitreus yang sering bergerak-gerak
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Katarak
Pemeriksaan biasanya dilakukan yaitu:
a. Pemeriksaan Tajam Penglihatan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat ketajaman penglihatan.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan kartu Snellen yang merupakan kartu
untuk melihat ketajaman penglihatan seseorang. Satu mata ditutup untuk
menguji mata lainnya untuk membaca huruf yang makin lama ukurannya
semakin kecil.
b. Pemeriksaan Lampu Celah (Slit-lamp)

Melihat semua susunan mata bagian depan dengan pembesaran. Dengan


alat ini dapat dilihat keadaan kornea, manik mata (pupil), selaput hitam

dan lensa. Pemeriksaan mata dengan pupil mata dilebarkan untuk melihat
lensa yang keruh dan retina di belakangnya.
c. Oftalmoskopi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengkaji struktur internal okuler, atrofi
lempeng optik, papiledema, serta perdarahan. Bila telah terdiagnosis
katarak dan dipertimbangkan untuk dilaksanakan operasi katarak, maka
diperlukan pemeriksaan prabedah yang mencakup kesehatan tubuh secara
umum untuk menentukan apakah ada kelainan yang menjadi halangan
untuk dilakukan pembedahan, pemeriksaan tersebut termasuk:
Gula darah
Tekanan darah
Elektrokardiografi
Pernafasan
Riwayat alergi obat
Tekanan bola mata
d. Uji Ultrasonografi Sken.
Ultrasonografi Sken uuntuk mengukur panjang bola mata. Pada pasien tertentu
kadang-kadang terdapat perbedaan lensa yang harus ditanam pada kedua mata.
Dengan cara ini dapat ditentukan ukuran lensa yang akan ditanamkan untuk
mendapatkan kekuatan refraksi pasca bedah. Kelengkungan kornea dapat
menentukan kekuatan lensa intraokuler yang akan ditanam.
e. Pemeriksaan khusus mata yang penting Ultrasonografi (USG) dan biametri
untuk menentukan ukuran kekuatan (power) Lensa Intra Okuler (IOL) dan adalah
astigmatism (silinder) pada mata penderita.
f. Pengukuran gonioskopi: membantu membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glaukoma (Brunner & Suddart, 2001).
2.8 Penatalaksanaan Katarak
1) Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE)
Definisi
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama
kapsul. Seluruh lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake
dan dipindahkan dari mata melalui incisikorneal superior yang lebar.
Sekarang metode ini hanya dilakukan hanya pada keadaan lensa
subluksatio dan dislokasi.

Kontraindikasi
Pada ICCE tidak akan terjadi katarak sekunder dan merupakan
tindakan pembedahan yang sangat lama populer. ICCE tidak boleh
dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun
karena dapat terjadi prolapse vitreum, serta pada kasus rupture traumatik.
Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini yaitu astigmatisme,
glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan

2) Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE)


Definisi
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan
pengeluaran isi lensa dengan memecah atau merobek kapsul lensa anterior
sehingga massa lensa dan kortek lensa dapat keluar melalui robekan.
Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan
kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular
posterior,

perencanaan

implantasi

sekunder

lensa

intra

ocular,

kemungkinan akan dilakukan bedah glukoma, mata dengan prediposisi


untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahnya telah mengalami
prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata
dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah
penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan
kaca.
Kontraindikasi
Tindakan ini memerlukan integritas zonular untuk pengangkatan
nukleus dan korteks, maka kontraindikasi untuk kasus-kasus dimana
integritas zonular tidak kuat.
Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat
terjadinya katarak sekunder
3) Fakoemulsifikasi
Definisi

Fakoemulsifikasi mengacu pada operasi, dimana katarak rusak dengan


energi ultrasound dan diangkat melalui sayatan kecil. Karena operasi
dilakukan melalui sayatan kecil, pemulihan pun cepat. Banyak pasien
mencapai penglihatan yang baik pada hari pertama setelah operasi.
Dalam kebanyakan kasus, jahitan tidak diperlukan, sehingga
pemulihan lebih cepat dan kenyamanan yang lebih baik setelah
operasi. Karena fakoemulsifikasi merupakan operasi cepat dan aman,
kebanyakan pasien melakukan operasi ini sebagai prosedur yang tidak
harus

inap

rumah

sakit.

Operasi

fakoemulsifikasi

biasanya

Gambar 3. Lensa Intraocular disuntikkan.


Kontraindikasi
Apabila terjadi robekan pada kapsul posterior, material lensa bisa
bercampur dengan vitreus. Dapat terjadi kerusakkan iris akibat getaran
pada jarum.
Apabila lensa mata penderita katarak telah diangkat maka penderita
memerlukan lensa pengganti untuk memfokuskan penglihatannya dengan
cara sebagai berikut:
Kacamata afakia yang tebal lensanya
Lensa kontak
lensa intra okular,
Dengan menanamkan pengganti lensa, tidak dibutuhan kacamata
tebal atau lensa kontak setelah operasi. Selain itu, dengan menyesuaikan

implant lensa, operasi katarak telah menjadi salah satu solusi, dimana
penglihatan dapat ditingkatkan dan kebebasan dari kacamata menjadi
mungkin.
Berbagai formula telah diciptakan berdasarkan kelengkungan
kornea mata serta panjang bola mata, untuk membantu memilih lensa
terbaik untuk jangkauan kekuatan terendah. Hampir semua derajat
pemandangan panjang atau pendek dapat diperbaiki dengan cara ini.
Mengukur panjang bola matase cara tradisional dilakukan dengan
menggunakan mesin ultrasound. Baru-baru ini, menggunakan sinar laser
dengan mesin IOL master memungkinkan pengukuran dilakukan dengan
5 kali lebih akurat. Dalam kebanyakan kasus, penggunaan alat semacam
ini untuk memprediksi kekuatan akhir mata dalam kemampuan bias +/-50
derajat (0,50 dioptris) setelah operasi katarak dan implan lensa.
3.2 Saran
Agar katarak tidak dapat menyerang kita, maka pencegahan utama penyakit
katarak dilakukan dengan mengontrol penyebab yang berhubungan dengan
katarak dan menghindari faktor-faktor yang mempercepat terbentuknya katarak.
Cara pencegahan yang dapat dilakukan dengan menggunakan kacamata hitam
ketika berada di luar ruangan pada siang hari cara ini dapat mengurangi sinar UV
yang masuk ke dalam mata. Selain itu berhenti merokok juga bisa mengurangi
resiko terjadinya katarak (Gindjing, 2006).
Selain itu, cara pencegahan katarak yang terbaik adalah mengurangi atau
mengendalikan faktor-faktor risiko terjadinya katarak. Faktor-faktor risiko katarak
itu ada yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi faktor umur,
gender dan genetik, pengaruh faktor ini tidak mungkin dimanipulasi. Sedangkan
faktor ekstrinsik meliputi penyakit, penggunaan obat tertentu, paparan sinar
matahari, merokok, minuman beralkohol, ketidakseimbangan nutrisi dan adanya
ruda paksa pada bola mata. Faktor-faktor ini masih dapat dikendalikan seperti
mengonsumsi cukup protein dan vitamin, menghentikan kebiasaan merokok atau

minum minuman beralkohol, memakai pelindung mata atau kacamata dan lainlain

DAFTAR PUSTAKA
(Gin Djing, Oei. 2006. Terapi Mata dengan Pijat & Ramuan. Jakarta: Penebar
Swadaya)
Ilyas, H Sidarta. 2006. Katarak Lensa Mata Keruh Edisi Kedua. Jakarta: FKUI.
Brunner & Suddart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Alih bahasa Agung
Waluyo. Jakarta: EGC.
Ilyas DSM, Sidarta. 2013. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2013
Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asburys General Ophthalmology. 17 th ed. USA : Mc GrawHill; 2007.
Mansjoer, Arif. 2013. Buku kapita selekta kedokteran edisi ketiga jilid 1.
American Academy of Opthalmology . Pediatric and Strabismus, Basic and
Clinical Science Course, Section 6. The Foundation of The AAO . San
Francisco. 2004 : 21-32, 96-37, 153-154 , 282
American Academy of Opthalmology, Basic and aclinical Science Course. Lens
and Cataract. Section 11. San Fransisco : American Academy of
Opthalmology : 17-22, 81-97
http://www.medicastore.com/: Katarak kongenital.

Liesegang TJ, Deutsch TA, Grand MG. 2001. Surgery of Cataract in Lens and
Cataract. Section 11. USA. The Foundation of The American Academy of
Ophthalmology
Sumber:http://www.jerrytaneyesurgery.com/docs/operasi_katarak_kencan_edisi_6
_tahun_1_2011_id.pdf
Budiono, Sjamsu. 2013. Buku ajar mata . Airlangga Universe Press.