Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Departemen Kesehatan menyebutkan bahwa pada survey tahun 2007

angka kematian ibu (AKI) 226 per 100.000 kelahiran hidup. Sekitar 5 tahun
sebelumnya Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menerangkan
bahwa angka kematian maternal di Indonesia pada tahun 1998-2003 sebesar 307
per 100.000 kelahiran hidup. Dari pernyataan di atas terdapat penurunan angka
kejadian, namun angka tersebut masih cukup jauh dari tekad pemerintah yang
menginginkan penurunan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000
kelahiran hidup untuk tahun 2010. Angka kematian maternal ini merupakan yang
tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Angka kematian maternal di Singapura
dan Malaysia masing-masing 5 dan 70 orang per 100.000 kelahiran hidup. Namun
menurut hasil SDKI 2012, terjadi peningkatan AKI sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup. Dengan posisi 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012
maka akan sangat sulit bagi pemerintah untuk mencapai target penurunan AKI
sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Melonjaknya AKI
tidak terlepas dari kegagalan program kependudukan dan keluarga berencana.1
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan
(40- 60%), infeksi (20-30%) dan keracunan kehamilan (20-30%), sisanya sekitar
5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan.2
Perdarahan dapat terjadi baik selama kehamilan, persalinan maupun masa
nifas. Prognosis dan penatalaksanaan kasus perdarahan selama kehamilan
dipengaruhi oleh umur kehamilan, banyaknya perdarahan, keadaan fetus, dan
sebab perdarahan. Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai
kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada kehamilan muda disebut abortus,
sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan antepartum.2
Di AS pada tahun 1997 terdapat 2,8 kasus perdarahan dari 1000
persalinan. Di RSCM (1971-1975) terdapat 1 kasus perdarahan dari 125
persalinan terdaftar. Di RSSA (2003-2004) terdapat 1 kasus dari 33 persalinan
terdaftar. Penyebab utama perdarahan antepartum yaitu plasenta previa dan

solusio plasenta yang menyebabkan kehilangan darah lebih dari 800 ml. Dari 12
kematian langsung yang disebabkan perdarahan, 3 diantaranya oleh karena
plasenta previa. Penyebab lainnya biasanya disebabkan oleh lesi lokal pada
vagina atau serviks.3
Angka kejadian plasenta previa sekitar 1 dari 200 persalinan. Insiden pada
multipara berkisar 1 dari 20 proses kelahiran. Di AS resiko terjadinya placenta
previa meningkat 1,5 sampai 5 kali lipat pada wanita dengan riwayat SC (sectio
cesaria). Pada wanita dengan faktor kehamilan pada usia lebih dari 35 tahun,
multipara, riwayat dilatasi dan kuretase, dan merokok akan meningkatkan resiko
terjadinya placenta previa.4
Oleh karena angka kematian yang cukup tinggi dan juga kejadian yang
cukup sering akibat perdarahan antepartum khususnya plasenta previa, maka
penulis merasa perlu untuk membahas lebih lanjut mengenai plasenta previa dari
faktor risiko, etiologi hingga upaya penatalaksanaannya.

BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama Pasien
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
No. RM
MRS

: Ny. S
: 36 tahun
: Islam
: SMA
: Ibu Rumah Tangga
: Jln.Saluran, RT/RW 35/05,Talang Kelapa, Kec. Banyuasin
: 50.89.40
: 11 November 2015

Nama suami
Umur
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat

: Tn. C
: 37 tahun
: Islam
: SMA
: Buruh
: Jln.Saluran, RT/RW 35/05,Talang Kelapa, Kec. Banyuasin

2.2 Anamnesis
Keluhan utama
Keluar darah dari kemaluan
Riwayat Perjalanan Penyakit
Os datang ke PONEK RSUD Palembang BARI dengan keluhan keluar
darah dari kemaluan sejak pukul 00.00 WIB, banyaknya sebanyak 1 kali
ganti kain, darah berwarna merah sega, nyeri tidak ada. Os mengaku hamil
cukup bulan, anak ke dua, gerakan janin masih dirasakan ibu aktif.
Keluhan sakit kepala, mata kabur dan mual muntah disangkal. Riwayat
jatuh (-), riwayat keluar air-air (-), riwayat dipijat (-), riwayat coitus (-),
riwayat SC (+) 1 kali tahun 2013. Os mengaku belum pernah di USG
sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Os mengaku keluhan keluar darah dari kemaluan belum pernah dialami
sebelumnya, Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya (-), riwayat
kencing manis (-), riwayat asma (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat hipertensi, kencing manis, Asthma dalam keluarga (-)

Riwayat Menstruasi
Usia menarche
Siklus haid
Lama haid
HPHT
TP

: 14 tahun
: 28 hari
: 5 hari
: Lupa
:-

Riwayat Pernikahan
Menikah sebanyak : 1 kali
Usia waktu nikah : 23 tahun
Riwayat Kontrasepsi
Os mengaku pernah menggunakan KB suntik 3 bulan sejak tahun 2013
Riwayat ANC

Dilakukan setiap bulan selama kehamilan sejak usia kehamilan 2

bulan di bidan
Os mengaku belum mendapatkan imunisasi TT.

Riwayat Persalinan
1. 2013/Laki-laki/3600gram/cukup bulan/SC/dokter
2. Kehamilan ini
2.3

Pemeriksaan Fisik

A.

Status Generalis
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tinggi Badan

: 155 cm

Berat Badan

: 70 kg

Tekanan Darah

:120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,6 C

Mata
Mata cekung (-/-), Conjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik
(-/-)

b Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid
THT
Mukosa bibir kering (-), mukosa bibir sianosis (-), pembesaran tonsil

(-), faring hiperemis (-)


d Thorax
Simetris, retraksi dinding dada (-)
Mammae : simetris, membesar, puting menonjol, hiperpigmentasi (+/
+)
e

Abdomen
Sesuai status obstretikus
Genitalia
Keluar darah pervaginam (+)
Ekstremitas
Akral hangat, edema (-/-)

f
g
B.

Cor
: Batas jantung jelas, BJ I/II (+) normal, murmur
(-), gallop (-)
Pulmo
: Vesikuler (+/+) normal, wheezing (-), ronchi (-)

Status Obstetrikus
Pemeriksaan Luar
a. Abdomen
Inspeksi : Tampak cembung, striae gravidarum (+), luka operasi (+)
Palpasi (Leopold) :
- L1 :Teraba bagian besar bulat lunak, TFU 4 jari dibawah processus
-

xyphoideus
L2 : Punggung terdapat di sebelah kiri, kanan teraba bagian kecil

janin
- L3 : Bagian terbawah janin teraba bulat keras kesan kepala
- L4 : Floating (+)
b. TFU
: 4 jari dibawah procesus xyphoideus
c. DJJ
: (+) 145 x/menit
d. His
: Tidak ada
Pemeriksaan Dalam
Tidak dilakukan

2.4

Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 11 November 2015
No

Jenis periksa

Hasil

Normal

13,1
38%
11.600
196.000
0/4/3/70/14/9

12 14 g/dL
37-43%
5.000 10.000 /ul
150.000 400.000 /ul
(0-1)/(1-3)/(2-6)/(50-70)/20-

1.
2.
3.
4.
5.

Hematologi
Hb
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Hitung Jenis

6.
7.

Waktu perdarahan
Waktu

3
8

4)/(2-8)
1-6 menit
10-15 menit

8.
9.

pembekuan
Golongan darah
Rhesus factor

B
+

A/B/AB/O
Negatif/Positif

USG
Didapatkan hasil plasenta previa totalis dimana plasenta menutupi ostium
uteri internum.
2.5

Diagnosis
G2P1A0 hamil aterm, inpartu, dengan susp. plasenta previa totalis + riwayat
SC 1x, janin tunggal hidup, presentasi kepala

2.6

Penatalaksanaan
1 Tirah Baring
2 Observasi KU, tanda vital dan perdarahan
3 Observasi DJJ
4 IVFD D5% + MgSO4 40% gtt 20 kali/menit
5 Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gram vial IV
6 Inj. Dexamethasone 3 x 2 ampul IV
7 Douwer Catheter (+) menetap
8 Rencana USG
9 Rencana sectio caesaria 11 November 2015 pukul 10.00

2.7

Laporan Tindakan Pembedahan

Pukul 10.00 WIB : - Operasi dimulai


-

- Pasien terlentang, anestesi spinal


Insisi pfanenstiel dari kulit hingga mukosa, fascia

dirobek secara tumpul sampai menembus peritoneum


Insisi uterus untuk membuka plika, kemudian diperluas

secara tumpul
Ketuban dipecahkan

Pukul 10.10 WIB : - Lahir neonatus laki-laki langsung menangis, APGAR


SCORE 8/9, BBL 3000 gr, PBL 49 cm.
Pukul 10.20 WIB : - Plasenta dilahirkan lengkap didapatkan 1 plasenta
dengan 1 tali pusat
-

Dilakukan penjahitan uterus secara jelujur dengan


benang Asukril
- Dilakukan penjahitan plika secara jelujur sengan Plain
- Perdarahan dirawat, luka operasi ditutup lapis demi lapis

Pukul 10.50 WIB : - Operasi selesai


Diagnosis pra tindakan : G2P1A0 hamil aterm, inpartu, dengan susp. plasenta previa
totalis + riwayat SC 1x, janin tunggal hidup,
presentasi kepala
Diagnosis pasca tindakan: P2A0 post partus sectio caesaria atas indikasi plasenta
previa totalis+ riwayat SC 1x

2.8

Follow Up

Hari/tanggal
Rabu, 11/11/ 2015
Pkl. 01.24 WIB

Follow Up
S: Os MRS dari PONEK, mengeluh keluar
darah dari kemaluan sebanyak 1 kali ganti
kain, warna merah segar. Mengaku hamil
cukup bulan, anak kedua, gerakan janin
masih dirasakan ibu. Riwayat keluar air-air,
jatuh, dipijat dan coitus disangkal, riwayat
SC 1 kali.
HPHT : lupa
O: KU : tampak sakit sedang
- TD : 120/80 mmHg
- RR : 20x/menit
- T : 36,6oC
- Nadi : 80x/menit
A: G2P1A0 hamil aterm, inpartu, dengan susp.
plasenta previa totalis + riwayat SC 1x,
janin tunggal hidup, presentasi kepala
P: - Observasi KU, tanda vital

dan

perdarahan, DJJ
IVFD D5% + MgSO4 40% gtt 20

kali/menit
Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gram vial IV
Inj. Dexamethasone 3 x 2 ampul IV
Douwer Catheter (+) menetap
Rencana USG
Rencana sectio caesaria 11 November
2015 pukul 10.00

Pkl. 10.10 WIB

S: Lahir neonatus laki-laki langsung menangis,


APGAR SCORE 8/9, BBL 3000 gr, PBL 49
cm.
Plasenta lahir lengkap pukul 10.20 WIB
O: - Kontraksi uterus : Baik
- Lokia : Rubra
- Perdarahan : Biasa
- TFU : 2 jb umbilicus
- Luka op : Tenang
- BAK (+), BAB (-)
A: P2A0 post partus sectio caesaria atas
indikasi plasenta previa totalis+ riwayat SC
1x
P: -

kali/menit
Inj. Ceftriaxone 2x1 gr vial IV
Inf. Metronidazole 3x1
Inj. Asam Tranexamat 3x1 amp
Inj. Ketorolac 3x1 amp
DC
8 menetap 24 jam
Mobilisasi
S: Os tidak ada keluhan
O: KU : Baik
- TD : 110/70 mmHg
-

Kamis, 12/11/ 2015


Pkl. 06.00 WIB

IVFD RL+ 2 amp induxin gtt 20

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi Plasenta Previa
Plasenta previa adalah suatu kelainan dimana plasenta berimplantasi pada
segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri
internum. Implantasi plasenta yang normal ialah pada dinding depan, dinding
belakang rahim, atau di daerah fundus uteri.4
Sejalan dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen
bawah rahim ke arah proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada
segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim
seolah plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik mendatar
dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah luas permukaan serviks
yang tertutup plasenta. Hal ini berpengaruh terhadap derajat pada pemeriksaan di
antenatal. Oleh karena itu, pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang secara
berkala.4

Gambar 1. Implantasi Normal Plasenta dan Plasenta Previa

3.2 Klasifikasi Plasenta Previa

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta


melalui pembukaan jalan lahir pada waktu atau derajat abnormalitas tertentu :4
1. Plasenta previa totalis atau komplit : plasenta yang menutupi seluruh
ostium uteri internum
2. Plasenta previa parsialis : plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri
internum
3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir
ostium uteri internum
4. Plasenta previa letak rendah (low lying) : plasenta yang berimplantasi pada
segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada
jarak pada 2 cm dari tepi ostium uteri internum. Jarak > 2 cm dianggap
plasenta letak normal.

Gambar 2. Klasifikasi Plasenta Previa

3.3 Insiden
Plasenta previa lebih banyak pada kehamilan dengan paritas tinggi dan
pada usia diatas 30 tahun. Juga lebih sering pada kehamilan ganda daripada
tunggal. Uterus yang bermasalah menjadi faktor resiko angka kejadian. Pada
beberapa RS Umum pemerintah dilaporkan insidennya berkisar 1,7% - 2,9%. Di
negara maju insidennya lebih rendah yaitu < 1% mungkin disebabkan
berkurangnya perempuan hamil paritas tinggi. Dengan meluasnya penggunaan

10

USG dalam obstetrik yang memungkinkan deteksi lebih dini, insiden plasenta
previa bisa lebih tinggi.4
3.4 Etiologi
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan yang
endometriumnya kurang baik, misalnya karena atrofi endometrium atau kurang
baiknya vaskularisasi desidua. Keadaan ini bisa ditemukan pada :
1. Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya pendek
2. Mioma uteri
3. Kuretase yang berulang
4. Umur lanjut
5. Bekas seksio sesarea
6. Perubahan inflamasi atau atrofi, misalnya pada wanita perokok atau
pemakai kokain. Hipoksemi yang terjadi akibat karbon monoksida akan
dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada
perokok berat (lebih dari 20 batang sehari).4
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus
tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang tumbuh
meluas akan mendekati atau menutupi ostium uteri internum. Endometrium yang
kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari tempat implantasi yang lebih
baik, yaitu di tempat yang rendah dekat ostium uteri internum.5
Plasenta previa tidak selalu terjadi pada penderita dengan paritas yang
tinggi akibat vaskularisasi yang berkurang atau terjadinya atrofi pada desidua
akibat persalinan yang lampau. Plasenta yang letaknya normal dapat memperluas
permukaannya sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum,
seperti pada kehamilan kembar. Plasenta previa berhubungan dengan paritas dan
umur penderita. Hal ini dapat dilihat pada tabel dan grafik 1 tentang hubungan
plasenta previa dengan umur ibu dan paritasnya.6
3.5 Patofisiologi

11

Perdarahan pada plasenta previa mungkin berhubungan dengan beberapa


mekanisme sebagai berikut:4
1. Pelepasan plasenta dari tempat implantasi selama pembentukan segmen
bawah rahim atau selama terjadi pembukaan ostium uteri internum atau
sebagai akibat dari manipulasi intravagina (Vaginal Touchae)
2. Infeksi pada plasenta (Plasentitis)
3. Ruptur vena desidua basalis
Pada usia kehamilan yang lanjut, pada trimester ketiga dan mungkin juga
lebih awal, oleh karena telah terbentuknya segmen bawah rahim tapak palsenta
akan mengalami pelepasan yang terdiri dari jaringan maternal yaitu bagian
desidua basalis yang tumbuh menjadi bagian uri. Dengan melebarnya isthmus
uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang berimplantasi disitu
sedikit banyak akan mengalami pelepasan dan mengalami laserasi. Pada tempat
laserasi itu akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari
ruangan intervillus dari plasenta. Oleh karena fenomena pembentukan segmen
bawah rahim itu perdarahan pada plasenta previa pasti akan terjadi. Perdarahan di
tempat tersebut di permudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim
dan serviks tidak mampu berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang
dimilikinya sangat minimal, dengan akibat pembuluh darah tempat tersebut tidak
akan sempurna.4
Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim akan berlangsung
progresif dan bertahap maka laserasi akan mengulang perdarahan. Darah yang
keluar berwarna merah segar tanpa rasa nyeri. Pada plasenta yang menutupi
seluruh OUI perdarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan oleh karena segmen
bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian bawah yaitu OUI. Sebaliknya,
pada plasenta previa parsialis atau letak rendah perdarahan baru terjadi bila mulai
persalinan. Berhubung tempat perdarahan cenderung terlalu dekat dengan OUI
maka perdarahan lebih mudah mengalir keluar rahim dan tidak membentuk
hematoma retroplasenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan
tromboplastin kedalam sirkulasi maternal. Dengan demikian, sangat jarang terjadi
koagulopati pada plasenta previa.4

12

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang
tipis mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili trofoblast, akibatnya plasenta melekat
lebih kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan inkreta,
bahkan perkreta yang pertumbuhanny abisa sampai ke buli-buli bersama plasenta
previa. Hal ini dapat meningkatkan resiko perdarahan pascapersalinan, dimana
pada kala tiga karena plasenta sukar lepas (retensio placenta), atau setelah uri
lepas karena segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi dengan baik.4
3.6 Gejala Klinik
Gejala klinik pada pasien plasenta previa antara lain:4,5
1. Perdarahan tanpa nyeri
Pasien mungkin berdarah sewaktu tidur dan sama sekali tidak
terbangun. Baru waktu ia bangun, ia merasa bahwa kainnya basah.
Biasanya perdarahan karena plasenta previa baru timbul setelah bulan
ketujuh dan perdarahan sebelum bulan ketujuh memberi gambaran
yang tidak berbeda dari abortus.
Perdarahan pada plasenta previa disebabkan pergerakan antara
plasenta dan dinding rahim. Setelah bulan ke-4 terjadi regangan pada
dinding rahim karena isi rahim lebih cepat tumbuhnya dari rahim
sendiri. Akibatnya ismus uteri tertarik menjadi bagian dinding korpus
uteri yang disebut segmen bawah rahim.
Pada plasenta previa, perdarahan tidak mungkin terjadi tanpa
pergeseran antara plasenta dan dinding rahim. Saat perdarahan
bergantung pada kekuatan insersi plasenta dan kekuatan tarikan pada
istmus uteri. Dalam kehamilan tidak perlu ada his untuk menimbulkan
perdarahan. Sementara dalam persalinan, his pembukaan menyebabkan
perdarahan karena bagian plasenta di atas atau dekat ostium akan
terlepas dari dasarnya. Perdarahan pada plasenta previa terjadi karena
terlepasnya plasenta dari dasarnya.
Pada plasenta previa, perdarahan bersifat berulang-ulang karena
setelah terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim, regangan
dinding rahim dan tarikan pada serviks berkurang. Namun, dengan

13

majunya kehamilan regangan bertambah lagi dan menimbulkan


perdarahan baru.
Darah yang keluar terutama berasal dari ibu, yakni dari ruangan
intervilosa. Akan tetapi dapat juga berasal dari anak jika jonjot terputus
atau pembuluh darah plasenta yang lebih besar terbuka.
2. Bagian terendah anak masih tinggi karena plasenta terletak pada kutub
bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu
atas panggul.
3. Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berkurang maka pada
plasenta previa lebih sering disertai kelainan letak.
4. Perdarahan pasca persalinan
Pada plasenta previa mungkin sekali terjadi

perdarahan

pascapersalinan karena kadang-kadang plasenta lebih erat melekat


pada dinding rahim (plasenta akreta), daerah perlekatan luas dan
kontraksi segmen bawah rahim kurang sehingga mekanisme penutupan
pembuluh darah pada insersi plasenta tidak baik.
5. Infeksi nifas
Selain itu, kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta
lebih dekat pada ostium dan merupakan port d entree yang mudah
tercapai. Lagi pula, pasien biasanya anemia karena perdarahan
sehingga daya tahannya lemah.
3.7 Diagnosa
Diagnosa dapat ditegakkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang.4,6
1. Anamnesa
Anamnesa yang sesuai dengan gajala klinis, yaitu terjadi perdarahan
spontan dan berulang melalui jalan lahir tanpa ada rasa nyeri.
a. Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah

28

minggu/trimester III
b. Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang
c. Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek;
terbentuknya SBR, terbukanya osteum/manspulasi intravaginal/rectal
d. Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan
pembuluh darah dan placenta.
2. Pemeriksaan Fisik

14

a. Inspeksi : Terlihat perdarahan pervaginam berwarna merah segar.


b. Palpasi abdomen : Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri
masih rendah; Sering disertai kesalahaan letak janin; Bagian bawah
janin belum turun, apabila letak kepala, biasanya kepala masih dapat
digoyang atau terapung; Bila pemeriksa sudah cukup pengalaman
dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim, terutama
pada ibu yang kurus.
c. Inspekulo : Dengan pemeriksaan inspekulo dengan hati-hati dapat
diketahui asal perdarahan, apakah dari dalam uterus, vagina, varises
yang pecah atau lain-lain.
d. Pemeriksaan dalam hanya boleh dilakukan di meja operasi (PDMO /
Pemeriksaan Dalam di Meja Operasi) karena dengan pemeriksaan
dalam, akan menyebabkan perdarahan pervaginam yang lebih deras.
3. Pemeriksaan Penunjang
Plasenta previa hampir selalu dapat didiagnosa dengan menggunakan USG
abdomen, yang 95% dapat dilakukan tiap saat.

3.8 Diagnosa Banding4,7,8


Gejala dan tanda

Faktor

Perdarahan tanpa nyeri,

usia gestasi >28 minggu


Darah segar
Perdarahan dapat terjadi
setelah

miksi

atau

defekasi, aktivitas fisik,

predisposisi
Multipara
Mioma uteri
Usia lanjut
Kuretase

berulang
- Bekas SC
- Merokok

Penyulit lain

Diagnosis

Syok
Perdarahan setelah

Plasenta

koitus
Tidak

kontraksi uterus
Bagian terendah

ada

janin tidak masuk

kontraksi braxton hicks


atau koitus

15

PAP
Bisa terjadi gawat

previa

Perdarahan

dengan

nyeri intermitten atau


-

menetap
Warna darah kehitaman
dan cair, tapi mungkin
ada bekuan jika solusio

relatif baru
Jika ostium
terjadi

Hipertensi
Trauma

abdomen
Polihidramnio

n
Gemelli
Defisiensi gizi

vaginal
Nyeri hebat

perut

plasenta

dengan
darah

(tersembunyi)
Anemia berat
Melemah/hilangny

a DJJ
Gawat janin
Uterus tegang dan

Riwayat SC
Partus kasep
Disproporsi

Syok

takikardia
Adanya

kepala
-

presentasi
Persalinan

bawah

atau

Ruptur
uteri

cairan

bebas

/fetopelvik
Kelainan

kemudian hilang setelah


terjadi regangan hebat

sesuai

nyeri

sebelum

perdarahan dan syok, yg

Solusio

jumlah

perdarahan

berwarna merah segar.


Perdarahan

pada

terbuka,

intraabdominal dan/atau
-

janin
Syok yang tidak

traumatik

(kondisi ini tidak khas)


-

intraabdominal
Hilangnya DJJ
Bentuk
uterus
abnormal

atau

konturnya

tidak

jelas.
Nyeri

raba/tekan

dinding perut dan


bagian2
-

Perdarahan

merah segar.
Uji pembekuan darah
tidak

berwarna

menunjukkan

adanya bekuan darah


-

setelah 7 menit
Rendahnya

faktor

pembekuan

darah,

fibrinogen,

trombosit,

Solusio

plasenta
JTM
Eklamsia
Emboli
ketuban

fragmentasi sel darah

3.9 Penanganan

16

air

janin

mudah dipalpasi
Perdarahan gusi
Gambaran memar

Gangguan

bawah kulit
Perdarahan

n darah

tempat

dari

suntikan

jarum infus

pembekua

Semua pasien dengan perdarahan per vaginam pada kehamilan trimester


ketiga, dirawat dirumah sakit tanpa periksa dalam. Bila pasien dalam keadaan
syok karena pendarahan yang banyak, harus segera diperbaiki keadaan umumnya
dengan pemberian infus atau tranfusi darah.4
Selanjutnya penanganan plasenta previa bergantung kepada :
a. Keadaan umum pasien, kadar hb.
b. Jumlah perdarahan yang terjadi.
c. Umur kehamilan/taksiran BB janin.
d. Jenis plasenta previa.
e. Paritas clan kemajuan persalinan.
1. Penanganan Ekspektif
Kriteria:
a.
b.
c.
d.

Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.


Perdarahan sedikit
Belum ada tanda-tanda persalinan
Keadaan umum baik, kadar Hb 8 gr% atau lebih.

Rencana Penanganan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Istirahat baring mutlak.


Infus D 5% dan elektrolit
Spasmolitik.tokolitik, plasentotrofik, roboransia.
Periksa Hb, HCT, COT, golongan darah.
Pemeriksaan USG.
Awasi perdarahan terus-menerus, tekanan darah, nadi dan denyut jantung

janin.
g. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien di
tunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif.
2. Penanganan Aktif
Kriteria
a. Umur kehamilan 37 minggu, BB janin 2500 gram.
b. Perdarahan banyak 500cc atau lebih.
c. Ada tanda-tanda persalinan.
d. Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb <8 gr%.

17

Untuk menentukan tindakan selanjutnya

SC atau

partus pervaginum,

dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi, infusi transfusi darah terpasang.


Indikasi Seksio Sesarea :
1)
2)
3)
4)
5)

Plasenta previatotalis.
Plasenta previa pada primigravida.
Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang
Anak berharga dan fetal distress
Plasenta previa lateralis jika : Pembukaan masih kecil dan perdarahan

banyak, sebagian besar OUI ditutupi plasenta.


6) Plasenta terletak disebelah belakang (posterior).
Profuse bleeding, perdarahan sangat banyakdan mengalir dengan cepat.
3. Partus Pervaginam.
Dilakukan pada plasenta previa marginalis, lateralis atau letak rendah pada
multipara dan anak sudah meninggal atau prematur.4
a. Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm), ketuban dipecah
b.
c.

(amniotomi) jika his lemah, diberikan oksitosin drips.


Bila perdarahan masih terus berlangsung, dilakukan SC.
Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk menghentikan
perdarahan (kompresi atau tamponade bokongdan kepala janin terhadap
plasenta) hanya dilakukan pada keadaan darurat, anak masih kecil atau
sudah mati,dan tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi.
Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi plasenta previa dan

janin prematur tetapi tanpa perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan
dengan menciptakan suasana yang memberikan keamanan sebesar-besarnya
bagi ibu maupun janin. Perawatan di rumah sakit yang memungkinkan
pengawasan ketat, pengurangan aktivitas fisik, penghindaran setiap
manipulasi intravaginal dan tersedianya segera terapi yang tepat, merupakan
tindakan yang ideal. Terapi yang diberikan mencangkup infus larutan
elektrilit, tranfusi darah, persalinan sesarea dan perawatan neonatus oleh
ahlinya sejak saat dilahirkan.
Pada penundaan persalinan, salah satu keuntungan yang kadang kala
dapat diperoleh meskipun relatif terjadi kemudian dalam kehamilan, adalah

18

migrasi plasenta yang cukup jauh dari serviks, sehingga plasenta previa tidak
lagi menjadi permasalahn utama.
Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan
ke dalam dua kategori, yaitu persalinan sesarea atau per vaginam. Logika
untuk melahirkan lewat bedah sesarea ada dua :
a. Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinakan uterus untuk
berkontraksi sehingga perdarahan berhenti
b. Persalinan SC akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks
yang merupakan komplikasi serius persalinan per vaginam pada plasenta
previa totalis serta parsial.
3.10

Komplikasi
Kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya plasenta

previa adalah sebagai berikut:4


a. Pada ibu dapat terjadi :
-

Perdarahan hingga syok akibat perdarahan


Anemia karena perdarahan
Plasentitis
Endometritis pasca persalinan

b. Pada janin dapat terjadi :


2.11

Persalinan premature
Asfiksia berat
Prognosis
Prognosis ibu dan anak pada plasenta previa dewasa ini lebih baik jika

dibandingkan dengan masa lalu. Hal ini berkat diagnosis yang lebih dini dan tidak
invasif dengan USG di samping ketersediaan transfusi darah dan infus cairan telah
ada di hampir semua RS kabupaten. Rawat inap yang lebih radikal ikut berperan
terutama bagi kasus yang pernah melahirkan dengan SC atau bertempat tinggal
jauh dari fasilitas yang diperlukan. Penurunan jumlah ibu hamil dengan paritas
tinggi dan usia tinggi berkat sosialisasi program KB menambah penurunan insiden
plasenta previa. Dengan demikian, komplikasi maternal dapat dihindarkan.
Namun nasib janin masih belum terlepas dari komplikasi kelahiran prematur baik

19

yang lahir spontan maupun karena intervensi SC. Karenanya kelahiran prematur
belum sepenuhnya bisa dihindari sekalipun tindakan konservatif diberlakukan.4,8

BAB IV
ANALISIS KASUS
Telah dilaporkan sebuah kasus dari seorang pasien usia 36 tahun masuk ke
bagian PONEK RSUD Palembang Bari pada tanggal 11 November 2015 pukul
01.25 WIB dengan keluhan keluar darah dari kemaluan sejak pukul 00.00 WIB.
Dari anamnesis didapatkan identitas pasien, keluhan utama, riwayat
perjalanan penyakit, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit dalam keluarga,
dan riwayat obstetrikus. Dari identitas pasien didapatkan status penikahan dan
tingkat pendidikan serta usia ibu untuk menentukan bahwa ibu berada dalam usia
reproduktif yang aman dan sehat antara 20 30 tahun. Pada pasien ini merupakan
hamil pada usia lebih dari 36 tahun yang merupakan faktor resiko terjadinya
plasenta previa.
Dari keluhan utama didapatkan pasien sedang hamil cukup bulan dengan
keluhan darah dari kemaluan sejak pukul 00.00 WIB sebanyak 1x ganti kain,
berwarna merah segar tidak ada rasa nyeri yang merupakan tanda terjadinya
plasenta previa. Os mengaku keluhan keluar darah dari kemaluan belum pernah
dialami sebelumnya, riwayat SC (+) 1 kali tahun 2013 dan belum pernah di USG

20

sebelumnya. Riwayat pernah dilakukannya SC merupakan faktor resiko terjadinya


plasenta previa.
Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar
melalui vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir
trimester dua keatas. Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti
sendiri. Perdarahan kembali terjadi tanpa sesuatu sebab yang jelas setelah
beberapa waktu kemudian, sehingga berulang. Pada setiap pengulangan terjadi
perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti mengalir.
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan perut membuncit dengan palpasi
dirasakan fundus teraba 4 jari dibawah procecus xiphoideus. Letak janin
memanjang, punggung di sebelah kiri dengan kepala janin berada dibagian bawah
perut ibu. DJJ (+) 145 x/menit teratur, di atas umbilikus sebelah kiri, His tidak
ada. Hal ini memprediksikan bahwa pasien ini sedang hamil dengan presentasi
kepala. Perkiraan usia kehamilan diprediksi sudah aterm sekitar 36-37 minggu
karena tinggi fundus teraba 4 jari dibawah procecus xiphoideus. Pemeriksaan
fisik, vital sign didapatkan dalam batas normal. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan dalam batas normal.
Untuk penatalaksanaan pada kasus ini, pasien dirawat di rumah sakit atas
indikasi Plasenta Previa Totalis. Untuk penatalaksanaan awal diinstruksikan untuk
tirah baring, observasi KU, tanda vital, pendarahan dan DJJ, maka diberikan
IVFD D5% + MgSO4 40% gtt 20 kali/menit. Inj. Ceftriaxone 2 x 1 gr vial IV
merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi ke III. Inj. Dexamethason
3x2 ampul IV berguna untuk pematangan paru janin yang bekerja dengan cara
meningkatkan surfactan alveolus dan keregangan paru-paru janin. Setelah itu
direncanakan untuk dilakukan USG untuk memastikan letak dari plasenta yang
didapatkan hasil bahwa benar plasenta berada menutupi semua dari jalan lahir/
OUI. Dan tindakan pembedahan karena usia kehamilan sudah masuk ke dalam
usia aterm dan plasenta menutupi seluruh jalan lahir sehingga tidak mungkin
melahirkan janin dengan partus spontan.
Penatalaksanaan

pada

pasien

ini

sudah

sesuai

dengan

protap

penatalaksanaan Plasenta Previa Totalis. Untuk penatalaksanaan konservative os

21

dirawat di rumah sakit untuk di observasi keadaan umum, tanda vital dan
perdarahannya kemudian, pasien dengan umur kehamilan aterm dengan plasenta
previa totalis di tatalaksana dengan aktif dengan tindakan pembedahan. Pasien ini
tidak dilakukan pemeriksaan dalam dikarenakan dapat menyebabkan perdarahan
berlangsung semakin deras dengan cepat selain itu apabila akan dilakukan
pemeriksaan dalam untuk menentukan penyebabnya, maka tindakan tersebut
harus dilakukan di kamar operasi dengan persiapan double set-up examination.
Namun pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan inspekulo mungkin
dikarenakan tidak tersedianya alat inspekulo di PONEK dan takut terjadinya
perdarahan, dimana fungsi dari pemeriksaan inspekulo untuk mengetahui asal
perdarahan, apakah dari dalam uterus, vagina, varises yang pecah atau lain-lain.
Setelah post operasi, tatalaksana yang diberikan yaitu IVFD RL+ 2 amp
induxin gtt 20 kali/menit, Inj. Ceftriaxone 2x1 gr vial IV, Inf. Metronidazole 3x1,
Inj. Asam Tranexamat 3x1 amp, Inj. Ketorolac 3x1 amp. Dimana metronidazole
digunakan untuk mencegah infeksi sesudah pembedahan yang disebabkan oleh
kuman-kuman anaerob. Asam tranexamat diberikan untuk membantu mengatasi
perdarahan akibat fibrinolisis yang berlebihan. Ketorolac berfungsi untuk
menghilangkan nyeri pada daerah yang dilakukan operasi.
Beberapa obat injeksi sudah diganti dengan obat oral pada hari ketiga.
Tatalaksana yang diberikan pada hari ke 3 yaitu : Ciprofloxacin tab 3x500 mg,
Metronidazole tab 3x500 mg, Asam Mefenamat tab 3x500 mg, B-complek tab
3x1.

22

23