Anda di halaman 1dari 34

Social constructivism

Social constructivism
pendekatan yang diposisikan sebagaimiddle ground
dalam studi Hubungan Internasional
Artinya, teori ini muncul sebagai penjembatan antara
perbedaan teori-teori rasionalis seperti neorealisme dan
neoliberal dengan teori-teori reflektifis seperti
postmodernisme, feminisme, critical theory.
Pendekatan ini fokus pada berbagai kepentingan dan
ide-ide yang saling mempengaruhi, seperti norma,
budaya, dan institusi dalam politik internasional,
terutama dalam pembuatan kebijakan asing.

Asumsi dasar pertama dari konstruktivis adalah


pemahaman terhadap motivasi dari tindakantindakan yang dilakukan oleh aktor dalam hubungan
internasional, yang merupakan faktor penting serta
berpengaruh pada dunia sosial.
Menurut mereka, dunia sosial merupakan dunia yang
dikonstruksikan oleh manusia dan merupakan wilayah
intersubjektif.

Asumsi dasar kedua menekankan pada upaya


konstruktivis untuk menjembatani strukturalis dan
lembaga-lembaga atau agen yang berpusat pada
teori, sebab
mereka beranggapan bahwa struktur dan lembaga
memiliki hubungan ketergantungan.

Selanjutnya pada asumsi dasar ketiga yakni pendapat


social constructivism dimana kita dapat menyimpulkan
bahwa stuktur itu nyata eksistensinya, melihat dari
efek atau dampak yang timbul akibat pengaruh struktur
tersebut. Akan tetapi hal itu tidak selalu menentukan.

Asumsi dasar keempat ialah penekanan terhadap


peranan norma dalam perilaku masyarakat.
Misalnya saja kebijakan asing yang tidak hanya penting
dalam mencapai kepentingan nasional, namun juga
harus dapat diterima oleh seluruh masyarakat
internasional (Steans, 2005: 185).

Berlanjut pada asumsi dasar kelima dari konstruktivis


yakni penekanan terhadap peran institusi, baik formal
maupun informal.

Kemudian asumsi dasar keenam yang masih berkaitan


dengan institusi, yaitu konstruktivis menganalisis apa
saja yang terkait dengan proses institusionalisasi,
seperti pengembangan pola sosialisasinya, dan lain-lain.

Dalam asumsi dasar ketujuh, konstruktivis menyatakan


bahwa mereka tidak mengabaikan peranan
kepentingan, sebab
mereka memposisikan diri sebagai middle ground.
Konstruktivis lantas menganalisis lebih jauh mengenai
bagaimana kepentingan dibuat, apa peran institusi,
norma, dan ide-ide dalam proses pembentukan suatu
kepentingan.
Struktur agen, ide dan informasi.

Asumsi dasar yang terakhir menyatakan bahwa


konstruktivis menjadikan wacana sebagai alat
komunikasi yang utama, termasuk dalam memahami
tentang identitas dan kepentingan, serta pembuatan
kembali lembaga-lembaga yang disertai norma-norma
yang berlaku.

Dengan seluruh asumsi dasar tersebut, maka


konstruktivis berkembang dan menjadi teori baru dalam
studi Hubungan Internasional, namun ia lebih dianggap
sebagai suatu pendekatan (Steans, 2005: 186-188).

Berangkat dari asumsi-asumsi dasar di atas,


konstruktivis mulai membahas isu-isu sesuai dengan
tema yang ada dalam hubungan internasional. Terdapat
empat tema dalam kajian konstruktivis, yaitu mengenai

negara dan power,


institusi dan tatanan dunia,
identitas dan komunitas,
serta pertahanan dan keamanan.

negara dan power,


Konstruktivis mengemukakan bahwa perilaku negara
berkaitan dengan institusi atau lembaga politik
internasional. Karena
politik internasional memiliki norma-norma fundamental,
maka tentu power dan kepentingan bukanlah satu-satunya
hal penting dalam dunia politik internasional.
Namun meski norma-norma yang berlaku dapat
termarjinalkan, hal ini bukan berarti norma tersebut
menghilang begitu saja. Hal ini dibahas dalam tema
konstruktivis mengenai negara dan power (Steans, 2005:
189-190).

institusi dan tatanan dunia


konstruktivis mengkaji lebih jauh mengenai masyarakat
internasional. Konstruktivis menganggap bahwa
karakter masyarakat terbentuk dari eksistensi
norma dan lembaga-lembaga umum yang
disetujui secara bersama-sama.
Dengan demikian, kontruktivis lebih memfokuskan pada
masyarakat internasional daripada sistem internasional.

institusi dan tatanan dunia


Dari sini terlihat bahwa sebenarnya konstruktivis
memiliki kesamaan dengan English School of
Thought, yang salah satu perdebatannya relevan dengan
konstruktivis pada poin peranan negara dan individu
dalam hubungan intenasional.
Kaum konstruktivis juga menjelaskan perbedaan dari tipetipe anarki pada tingkat regional maupun global, serta
peranan rezim internasional sebagai instrumen bagi
negara untuk mencapai kepentingan dalam kerjasama,
tanpa harus terikat dalam organisasi formal (Steans,
2005: 190-193).

identitas dan komunitas


Tema selanjutnya adalah identitas dan komunitas yang
membahas lebih jauh mengenai rezim sebagai alat
untuk berkoordinasi dalam menyetujui kebijakan asing.
Konstruktivis juga lantas mengkaji tentang konstitusi
dari kepentingan nasional yang menurut mereka
bukanlah hal yang diberikan secara objektif.

identitas dan komunitas


Dalam aspek ini, hubungan antara identitas dan
kepentingan, serta bagaimana ide-ide tertentu mampu
membentuk suatu kepentingan dan sebaliknya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hubungan antara ide,
identitas, dan kepentingan merupakan suatu hal yang
kompleks.
Identitas mampu menjelaskan secara konkrit mengenai
kepentingan nasional, sebab peranannya penting dalam
pembuatan kebijakan. Konstruktivis lantas membahas lebih
lanjut mengenai konstruksi dari indentitas serta
perubahannya (Steans, 2005: 193-195).

pertahanan dan keamanan


Tema terakhir adalah pertahanan dan keamanan.
Konstruktivis mengkaji isu keamanan dalam tiga riset.
Yang pertama adalah riset tentang identitas, norma,
dan kebijakan yang dianalisa oleh para scholar untuk
mengetahui tentang kultur keamanan umum pada
beberapa negara tertentu, bagaimana kultur ini
dibentuk, dan bagaimana kultur ini dibuat kembali oleh
kebijakan keamanan.

pertahanan dan keamanan


Kedua, riset tentang konsep komunitas kemananan yang
dikembangkan oleh Karl Deutsch, dimana konsep tersebut
dapat terjaga eksistensinya ketika negara secara
berkelompok dapat berbagi dengan institusi dan
komunitas lain untuk menjaga stabilitas keamanan,
sebab
konflik yang umumnya terjadi dalam hubungan
internasional adalah pluralitas dari komunitas keamanan.
Ketiga adalah riset tentang perdebatan mengenai
keamanan itu sendiri yang oleh banyak perspektif diartikan
secara berbeda-beda (Steans, 2004: 197).

Tidak hanya sampai pada kajian tentang tema-tema di


atas, konstruktivis juga mengkritik para rasionalis.
Konstruktivis mengkritik tiga asumsi dasar dari
neoliberalisme yaitu
identitas dan kepentingan sebagai sesuatu yang given
karena neoliberalis hanya menganggap perubahan
terjadi dalam perilaku negara, bukan pada sisi
internal negara itu sendiri.
Lalu anggapan neoliberalisme bahwa kepentingan dan
identitas suatu negara menjadi berbeda-beda karena
sistem anarki internasional.

Dan asumsi ketiga yang dikritik oleh konstruktivis


adalah pembatasan pengertian secara teoritis
dari perubahan dalam agen dan struktur yang
dikemukakan oleh neoliberalis,
karena neoliberalis tidak mengkaji identitas dan
kepentingan aktor.

Kemudian konstruktivis juga mengkritik neorealisme


yang kurang lebih sama seperti neoliberalisme yang
menganggap bahwa identitas serta kepentingan
adalah sesuatu yang given.
Konstruktivis menganggap bahwa identitas dan
kepentingan adalah hasil dari praktek intersubjektif
antara para aktor seperti yang telah dijelaskan di atas.

Pendekatan konstruktivis pun tidak hanya mengkritisi


teori lain, namun mereka juga menuai kritik.
Rasionalis yang terdiri dari neoliberal dan neorealist
berpendapat bahwa isu-isu yang dibahas oleh
konstruktivis dapat dijelaskan cukup dengan
kepentingan dan faktor-faktor material lain.
Di samping itu, mereka juga menganggap bahwa norma
hanya berpengaruh kecil dalam berbagai perilaku
negara.

Mereka juga menemukan ketidakjelasan terhadap


konsep yang ditawarkan oleh konstruktivis.
Teori-teori reflektivis pun mengkritik bahwa
konstruktivis tidak menganggap negara sebagai suatu
masalah dan justru melihatnya sebagai aktor utama
dalam hubungan internasional, padahal
negara juga dapat menciptakan permasalahan dalam
hubungan internasional.

Lalu posmodernis pun mengkritik bahwa pemahaman


konstruktivis mengenai bahasa sebagai instrumen
dalam berkomunikasi masih terlalu dangkal, sedangkan
konstruktivis menganggap wacana merupakan hal
penting. Hal ini tentu tidak relevan menurut
posmodernis (Steans, 2005: 200-203).

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa


konstruktivis merupakan pendekatan yang lebih
memfokuskan pada norma, intitusi, identitas,
serta kultur untuk mengungkapkan berbagai isuisu penting dalam hubungan internasional.
Dan inilah yang membedakan konstruktivis dengan
teori-teori rasionalis. Konstruktivis mencoba
mengembangkan asumsi-asumsi dasarnya untuk
menyikapi berbagai fenomena dalam hubungan
internasional dan dalam perkembangannya,

titik lemah dari pendekatan ini mendapat kritik dari teoriteori dasar dalam studi HI.
Eksistensi konstruktivis pun bertujuan untuk menggambarkan
bahwa realitas sosial bukan merupakan hal yang
terjadi secara alamiah dan independen, sebab
realitas sosial terbentuk dari tindakan-tindakan
masyarakat dalam berinteraksi, dan realitas sosial
juga bukan hanya refleksi dari ide-ide manusia saja.
Dengan kata lain, konstruktivis mencoba mengkonstruksikan
cara berpikir kita terhadap realitas sosial yang ada.

Referensi:
Steans, Jill and Pettiford, Lloyd & Diez, Thomas, 2005.
Introduction to International Relations, Perspectives &
Themes, 2nd edition, Pearson & Longman, Chap. 7, pp.
181-202.
http://nurlaili-laksmi-wfisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-47505-Semester
%20II-Rationalism%20Social%20Constructivism.html

Terdapat tiga argumen utama kaum Konstruktivis


tehadap keamanan internasional yaitu; ide merupakan
faktor determinan pembentuk identitas seperti penulis
jabarkan sebelumnya, secara skeptis realita didukung
dengan sifat materiil manusia merupakan hal yang
harus difokuskan dan juga ilmu fundamental sebagai
konstruksi pikiran semata dan belum terverifikasi
sebagai suatu fakta yang sebenarnya dan hanya
dipengaruhi oleh wacana dari ide-ide yang berkembang
lebih masif (Booth, 2007: 152).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa keamanan bagi


Konstruktivis adalah seberapa besar kemampuan
negosiasi dan diplomasi aktor itu sendiri beserta
kekuatan militernya yang nantinya akan mempengaruhi
bagaimana dan alasan aktor melakukan tindakannya.
Seperti pada Amerika Serikat yang menggunakan
kekuatan militernya guna menunjukkan kekuatan
negaranya sendiri dan juga pada saat yang bersamaan
menggunakan kekuatan negosiasi dan diplomasi pada
ranah tertinggi yaitu pada Dewan Keamanan PBB (DK
PBB) guna mengkontrol kekuatan yang dimiliki tersebut.

Dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwasannya tiga


perspektif klasik hubungan internasional mengenai
keamanan internasional amatlah beragam. Seperti Realisme
yang percaya bahwa kekuatan merupakan bentuk fisik itu
sendiri sehingga keamanan tercipta dengan keseimbangan
kekuatan, Liberalisme yang percaya bahwa keamanan
dapat tercipta dengan adanya kerjasama melalui insitusi
institusi yang ada dan juga Konstruktivisme yang percaya
bahwa keamanan akan muncul ketika kekuatan negosiasi
yang dimiliki oleh negara itu sendiri untuk mengikuti sistim
yang sudah ada. Menurut penulis ketiganya memberikan
argumen menarik dan juga patut untuk dipelajari bagi
siapapun yang ingin mempelajari dasar dasar dari
hubungan internasional itu sendiri.

Referensi:
Baylis, John & Smith, Steve (eds.). 2001.The
Globalization of World Politics, 2nd edition. Oxford:
Oxford University Press.
Booth, Keen .2007.Theory of World Security.
Cambridge: Cambridge University Press
Burchill, Scott et al (eds.). 2005.Theories of
International Relations. New York: Palgrave Macmillan.
Jackson, R., &. Srensen, G.. 1999.Introduction to
International Relations. Oxford: Oxford University Press.

Koledziej, Edward A.. 2007. Testing Security Theories:


Explaining the Rise and the Demise of the Cold War
dalamSecurity and the International Relations.
Cambridge: Cambridge University Press, hal. 127-259.
Miall, Hugh et al.. 1999.Contemporary Conflict
Resolution. Cambridge: Polity Press, Bab.1.
Smith, Steve (eds.). 1996.International Theory:
Positivism and Beyond. Cambridge: Cambridge
University Press.