Anda di halaman 1dari 11

Karena tak kunjung membaik, Suharno mencari kesembuhan ke Singapura.

Dokter
Mount Elizabeth Hospital, Singapura, mengatakan Suharno memang terjangkit
hipertiroid. Itu sesuai hasil laboratorium yang menunjukkan nilai hormon tiroid T4
sebesar 18,0 ug/dl. Nilai FTI sebesar 21,4 ug/dl; kadar normal, 3,9-14,0 ug/dl.
Sedangkan T3 sebesar 567 ng/dl; normal 80-220 ng/dl nilai TSH hanya 0,03 uIU/ml;
kadar normal, 0,50-4,00 uIU/ml.

Hipertiroid
Di bawah ini mengulas pertanyaan tentang hipertiroid, yaitu suatu keadaan dimana
terjadi hiperfungsi dari kelenjar tiroid sehingga hormon tiroid diproduksi berlebihanlebihan dan selanjutnya akan menjadi tirotoksikosis.
Keadaan yang menyebabkan hipertiroid ini antara lain: penyakit grave's, adenoma
hiperfungsi, tumor trofoblas (pada wanita), struma multinodosa toksik. penyakit yang
sering ditemukan di Indonesia sebagai penyebab hipertiod adalah Penyakit Grave's.
Penyakit ini penyebabnya tidak diketahui, ada yang menghubungakan dengan
penyakit outoimun.
Pasien dengan hipertiroid datang dengan keluhan jantung berdebar-debar, berat badan
turun , tangan gemetar, banyak keringat, tidak tahan panas dan kadang-kadang diare.
Pasien dengan penyakit ini juga biasanya terdapat penonjolan pada kelopak mata atas
(optalmopati) dan pembesaran kelenjar gondok (struma).
Pemeriksaan lab menunjukkan TSH < 0,5 (tidak terdeteksi), T3, T4, T4 total dan FT4
meningkat.
Pengobatan obat anti tiroid antara lain PTU(propiltiurasil) atau golongan metimasol
( seperti neo marcazole).
Biasanya jika tidak berhasil atau ada efek samping dari penggunaan obat ini, maka
pada pasien dilakukan operasi atau radioterapi, tapi perlu dicatat bahwa hal ini sangat
jarang atau merupakan pilihan yang terakhir, bila pengobatan dengan anti tiroid tidak
memberikan hasil.
Selama pengobatan akan diperiksa hormon tiroid biasanya yang diperiksa FT4. Selain
itu dokter juga akan memeriksa fungsi hati (SGOT/SGPT), karena obat anti tiroid
juga akan menyebabkan gangguan fungsi hati. Lama pengobatan dengan obat anti
tiroid tergantung respon dari pada pasien umumnya 1-2 tahun, dan biasanya obat
diturunkan secara bertahap, melihat respon terapi baik secara klinis/keluhan atau
pemeriksaan lab.
TSH yang tadinya rendah sekali atau tidak terdeteksi biasanya mulai terdeteksi
kembali setelah pengobatan berlangsung 2 bulan.
Orang yang terkena hipertiroid, harus minum obat2 sesuai petunjuk dokter. Bila
kooperatif, dengan kepatuhan minum obat maka akan terjadi perbaikan dari semua
keluhan dan kondisi tiroid yang dialami saat ini, setelah jangka waktu pemberian obat
berakhir.

Terkait masalah penyakit ini dengan kesuburan seorang wanita, amat disarankan
untuk mengikuti saran dokter meminum obat anti tiroid secara teratur. Karena dengan
pengobatan yang baik itu pula, kesuburan seorang wanita yang mengalami penyakit
ini akan tetap terjaga. Sebab, jika kadar hormon tiroid tidak terkontrol (T4 tinggi),
proses ovulasi akan terganggu. Itu menyebabkan kondisi tidak subur dan susah hamil.
Dalam keadaan normal, kehamilan akan meningkatkan aktivitas kelenjar tiroid
sehingga kebutuhan iodium (bahan dasar hormon tiroid) meningkat. Sebab, saat
hamil, hormon tiroid diperlukan untuk pertumbuhan janin.
Keadaan sebaliknya pada wanita hamil yang menderita hipothyroid, yaitu hormon
tiroid rendah (T3 maupun T4-nya rendah) dan tidak mendapatkan penanganan yang
baik selama kehamilannya, pertumbuhan janin akan terganggu. Dengan begitu, anak
yang lahir nanti mengalami gangguan pertumbuhan, yaitu kerdil (cebol).
Pengobatan pada kasus-kasus hiperthyroid dengan kehamilan, obat-obatan antithyroid
ditujukan untuk mencapai T4 sedikit di atas normal, jangan sampai berlebihan hingga
keadaan hipothyroid.
Kehamilan dengan hiperthyroid meningkatkan risiko komplikasi. Seperti, Preeclampsia, gagal jantung pada janin, pertumbuhan janin terhambat, dan kematian
janin di dalam kandungan. Jika penanganannya baik dan benar, risiko komplikasi bisa
ditekan, bahkan tidak terjadi sama sekaliPTU (propyltiourasil) salah satu pilihan
untuk pengobatan hiperthyroid, selain golongan methimazole. PTU mencegah
perubahan dari T4-T3. T3 merupakan bentuk aktif dari hormon tiroid.
Penggunaan PTU lebih disarankan untuk wanita hamil dan menyusui dibandingkan
dengan golongan methimazole. Penggunaan PTU selama kehamilan perlu disesuaikan
dosisnya. Karena itu, disarankan selama kehamilan, evaluasi terhadap T4, T3, dan
TSHs dilakukan lebih sering, sekitar 2 minggu sekali. Penggunaan PTU cukup aman
dan tidak menimbulkan cacat bawaan.
Sebaiknya pasien menjauhi makanan bercitarasa asin, berlemak, kopi, dst.
Minumlah banyak air putih, banyak sayuran dan buah2an & usahakan banyak
istirahat.
Mengenai olah raga biasanya tergantung keluhan pada pasien dan berat ringannya
olah raga yang dilakukan. Mintalah petunjuk dokter , tentang hal ini.
Karena pada keadaan berat dimana denyut jantung sangat cepat (takikardia) pasien
dapat jatuh pada gagal jantung, dan tentu amat tidak dianjurkan untuk berolahraga.
Bisa diobati
Pengobatan penderita hipertiroid dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan
obat-obatan,
pembedahan, maupun dengan menggunakan bahan radioaktif. Lamanya penanganan
dengan obat-obatan bisa
sampai 12 bulan. Dengan pembedahan, hanya sebagian kelenjar yang diambil,

sedangkan pengobatan
dengan radiokatif tidak boleh dilakukan pada ibu hamil. Secara lengkap, teknik
pengobatannya
yaitu:
Beristirahat
Untuk kasus-kasus yang ringan, cukup berobat jalan dengan observasi yang baik.
Sedangkan untuk
kasus-kasus yang berat, diperlukan istirahat total, lebih-lebih bila pasien
direncanakan akan
dioperasi.
Makanan
Pengaturan makanannya yaitu tinggi kalori, tinggi vitamin dan mineral serta
cukup protein.
Obat-obatan
Jenis obat-obatan yang biasanya diberikan diantaranya adalah:
Propiltourasi (PTU), 100 mg 3x sehari, sampai tercapai kondisi eutiroid (keadaan
normal) atau
protein bound iodine-nya (PBI) normal. Propiltourasil diberikan untuk
menormalkan produksi hormon
tiroidnya. Pengobatan ini dapat dilakukan sampai 12 bulan, yang akan dihentikan
secara tapering.
Fenobarbital yang berfungsi sebagai penenang atau obat tidur karena pasien
biasanya gelisah dan
tidak bisa tidur.
Vitamin B kompleks diberikan karena kekurangan vitamin B adalah salah satu
pemicu hipertiroid.
Terapi yodium radioaktif
Biasanya dilakukan pada penderita-penderita tertentu dan berusia di atas 40
tahun, yaitu apabila
sering terjadi kekambuhan (relaps) setelah diterapi dengan obat-obatan, atau
kekambuhan setelah
operasi.
Tindakan operasi
Cara ini jarang dilakukan dokter karena beresiko tinggi. Komplikasi operasi yang
mungkin terjadi
ialah hipoparatiroid atau kadar kelenjar paratiroidnya menjadi rendah, dan
paralisis (kelumpuhan)
pita suara sehingga suara pasien menjadi hilang.

Cara alami lebih dianjurkan


Mengingat akibat-akibat dari pengobatan seperti yang telah diuraikan tersebut,
maka ada baiknya
selalu membiasakan pola hidup sehat pada diri kita dan keluarga. Terutama pada
ibu hamil. Supaya
janin yang dikandungnya sehat dan terhindar dari gangguan hipertiroid, sebaiknya
hindari
mengkonsumsi junk food dan berbagai macam makanan olahan (makanan kaleng,
sosis,
bakso, smoke
beef, dll). Lebih baik memperbanyak makan sayur dan buah.
Bagi mereka yang sudah menderita hipertiroid, pengaturan kembali pola makan
tetap diperlukan.
Sebab beberapa penderita hipertiorid terbukti mengalami perbaikan dalam
kondisinya dengan gejala
tremor, berdebar-debar dan berkeringat setelah mengikuti pola makan food
combaining. Yang pasti
harus dihindari adalah mengkonsumsi makanan berprotein dalam jumlah tinggi,
sebab akan membuat
pencernaan bekerja berat sehingga basal metabolisme tubuh meningkat dan membuat
gejala hipertiorid
semakin parah.
Selain memperbaiki pola makan, hal lain yang juga diperhatikan adalah
menghindari stres yang
tinggi, di lingkungan kerja maupun stres yang disebabkan masalah-masalah
lainnya. Penderita juga
dianjurkan cukup tidur. Dengan pola hidup sehat, diharapkan gangguan hipertiroid
bisa
diminimalkan.

Hipertiroid
Diposkan oleh Aep Saepudin
Hipertiroid merupakan overfungsional kelenjar tiroid4. Dengan kata lain hipertiroid
terjadi karena adanya peningkatan hormon tiroid dalam darah dan biasanya berkaitan
dengan keadaan klinis tirotoksikosis. Sementara menurut Martin A Walter hipertiroid
adalah kondisi umum yang berkaitan dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas,
khususnya yang disebabkan oleh komplikasi kardiovaskuler.
Sebagian besar disebabkan oleh penyakit graves, dengan nodul toksik soliter dan
goiter multinodular toksik menjadi bagian pentingnya walaupun dengan frekuensi
yang sedikit2. Namun penyakit graves dan goiter nodular merupakan penyebabnya
yang paling umum. Pada penderitanya biasanya terlihat adanya pembesaran kelenjar
gondok didaerah leher. Komplikasi hipertiroid pada mereka yang berusia lanjut dapat

mengancam jiwa sehingga apabila gejalanya berat harus segera dirawat di rumah
sakit.
ETIOLOGI
Lebih dari 90% kasus hipertiroid adalah akibat penyakit graves dan nodul tiroid
toksik. Penyakit graves sekarang ini dipandang sebagai penyakit autoimun yang tidak
diketahui penyebabnya. Namun karena perbandingan penyakit graves pada
monozygotic twins lebih besar dibandingkan pada dizygotic twins, sudah dipastikan
bahwa faktor lingkunganlah yang berperan dalam hal ini3. Bukti tak langsung
menunjukkan bahwa stress, merokok, infeksi serta pengaruh iodin ternyata
berpengaruh terhadap sistem imun2,3.
Sederhananya penyakit graves merupakan multiple dari autoimun, yaitu
tirotoksikosis, eye disease, dan pretibial myxoedema yang berpengaruh terhadap
bagian optik (opthalmopathy), kulit (dermatopathy), serta jari (acropathy)2. Keadaan
ini biasanya terjadi karena adanya imunoglobulin yang menstimulasi tiroid dalam
serum4.
Adapun faktor lain yang mendorong respon imun pada penyakit Graves antara lain :
1. Kehamilan, khususnya pada masa nifas
2. Kelebihan iodida di daerah defisiensi iodida4
3. Terapi litium
4. Infeksi bakterial atau viral
5. Penghentian glukokotrikoid3
PATOGENESIS
Perjalanan penyakit hipertiroid biasanya perlahan-lahan dalam beberapa bulan sampai
beberapa tahun. Pada penyakit graves, hipertiroid merupakan akibat dari antibodi
reseptor thyroid-stimulating antibody (TSI) yang merangsang aktivitas tiroid,
sedangkan pada goiter multinodular toksik berhubungan dengan autonomi tiroid itu
sendiri. Pada penyakit graves, limfosit T menjadi peka terhadap antigen yang terdapat
dalam kelenjar tiroid dan merangsang limfosit B untuk mensintesis antibody terhadap
antigen-antigen ini. Adanya antibodi dalam darah ini kemudian berkorelasi dengan
penyakit aktif dan kekambuhan penyakit yang diterapi dengan obat-obat antitiroid3.
MANIFESTASI KLINIS
1. Pada individu yang lebih muda, manifestasi yang umumnya terlihat adalah
palpitasi, gelisah, mudah lelah, hiperkinesia, diare, keringat yang berlebihan, tidak
tahan panas, suka dengan dingin, dan sering terjadi penurunan berat badan tapi tanpa
disertai dengan penurunan nafsu makan. Pembesaran tiroid, tanda-tanda tirotoksikosis
pada mata dan takikardia ringan juga sering terjadi2,3 .
2. Pada anak-anak terjadi pertumbuhan dengan pematangan tulang yang lebih cepat2.
3. Pada pasien-pasien di atas 60 tahun manifestasi yang mendominasi adalah
manifestasi kardiovaskular dan miopati dengan keluhan palpitasi, diseupnea saat
latihan, tremor, gelisah, dan penurunan berat badan2.
4. Pada dermopati terjadi penebalan kulit hingga tidak dapat dicubit. Kadang-kadang

mengenai seluruh tungkai bawah dan dapat meluas sampai ke kaki.


5. Pada penyakit graves yang sering terjadi adalah pemisahan kuku dari bantalannya
(onkolisis).
DIAGNOSIS BANDING
Penyakit graves terkadang terdapat dalam bentuk yang tidak biasanya dimana
diagnosisnya tidak begitu jelas. Pada beberapa kasus biasanya diagnosis penyakit
dibuat dengan pemeriksaan klinis dan laboratoris. Walaupun begitu harus dibedakan
antara eutiroid dengan hipertiroid. Misalnya pada sindrom hipertiroksemia disalbumik
familial, dimana protein abnormal (albumin) terdapat pada serum yang sebagian
mengikat T4 bukan T3 yang mengakibatkan terjadinya peningkatan T4 dan FT4I
serum, dengan T3 dan T4 bebas serta TSH normal. Dalam kasus ini tidak ditemui
adanya gambaran klinis hipertiroid. Sehingga apabila tidak teliti diagnosis hipertiroid
akan tersingkirkan oleh kehadiran T3 serum dan TSH normal2.
PROGNOSIS
Hipertiroid yang disebabkan oleh goiter multinodular toksik dan toksik adenoma
bersifat permanen dan biasanya terjadi pada orang dewasa. Setelah kenormalan fungsi
tiroid tercapai dengan obat-obat antitiroid, direkomendasikan untuk menggunakan
iodin radioaktif sebagai terapi definitifnya2,3. Pertumbuhan hormon tiroid
kemungkinan akan terus bertambah perlahan-lahan selama diterapi dengan obat-obat
antitiroid. Namun prognosisnya akan jauh lebih baik setelah diterapi dengan iodin
radioaktif.
TREATMENT
Walaupun mekanisme autoimun bertanggung jawab atas penyakit sindrom Graves,
tapi pengelolaannya lebih ditujukan untuk mengendalikan hipertiroid2. Ada 3 metode
yang dapat dilakukan:
1. Terapi obat antitiroid (propil tiourasil atau metimazol) dan prekursornya
carbimazole, untuk mengurangi pembentukan hormon tiroid. Selain itu juga dapat
mengurangi gejala-gejala hipertiroid dan mengurangi efek-efek (efek jangka pendek
maupun efek jangka panjang) yang ditimbulkan oleh treatment dengan radioiodine5.
Biasanya diberikan pada pasien-pasien muda dengan kelenjar kecil dan penyakitnya
ringan. Lama terapinya cukup bervariasi, dan dapat berkisar dari 6 bulan sampai 20
tahun2.
2. Terapi bedah (tiroidektomi subtotal), diperuntukkan bagi pasien-pasien dengan
kelenjar yang sangat besar atau goiter multinodular2. Terapi ini juga dapat menjadi
pilihan bagi mereka yang mengalami penyakit graves pada masa kehamilan jika tidak
ada toleransi pada obat-obat antitiroid. Dan lebih baik jika diberikan pada trimester
kedua1,3. Untuk dilakukannya terapi bedah ini juga harus diperhatikan dari segi
usianya, ukuran kelenjar, sisa kelenjar yang tersisa dan asupan iodin. Sebelum
dilakukannya tiroidektomi ini pasien diberi obat antitiroid sampai eutiroid ( kira-kira
6 minggu), kemudian 2 hari sebelum operasi diberi larutan jenuh kalium iodida
sebanyak 5 tetes 2 kali sehari. Langkah ini untuk mengurangi vaskularitas kelenjar
dan mempermudah operasi2.
3. Terapi iodin radioaktif. Terapi ini aman dan cocok untuk segala jenis hipertiroid

khususnya pada mereka yang berusia lanjut. Selain itu juga dapat diberikan kepada
pasien dengan komplikasi penyakit graves dan ophthalmopathy2,6. Beberapa studi
menyatakan bahwa treatment dengan radioiodine ini dapat memperburuk kondisi
opthalmophaty pada sebagian kecil pasien yang perokok2.
4. Tindakan-tindakan medis lain (misalnya dengan agen penghambat beta adrenergik).
Penggunaan agen beta ini tidak boleh diberikan kepada pasien yang mengalami asma
dan gagal jantung.
PILIHAN TERAPI
Bervariasi sesuai dengan perjalanan, beratnya penyakit dan kebiasaan yang berlaku.
1. Di Amerika Serikat terapi radioiodin menjadi terapi pilihan untuk kebanyakan
pasien sementara di Eropa dan Asia lebih suka terapi dengan obat-obat antitiroid3.
2. Obat-obat antitiroid dalam jangka panjang, jika ada respon tepat dan kelenjar mulai
mengecil2.
3. Radioiodin, jika obat antitiroid yang dibutuhkan berdosis besar dan kelenjar tidak
mengecil. Terapi ini akan menimbulkan indikasi apabila ada reaksi alergi serius
terhadap obat antitiroid2.
4. Tiroidektomi, jika kelenjar sangat besar (>150 g) atau multinodular atau jika pasien
ingin segera hamil2.

Penyebab-Penyebab Hipotiroid
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang sangat umum. Diperkirakan bahwa 3% sampai
5% dari populasi mempunyai beberapa bentuk hipotiroid. Kondisi adalah lebih umum
pada wanita-wanita daripada pria-pria, dan kejadian-kejadiannya meningkat dengan
umur.
Dibawah adalah suatu daftar dari beberapa penyebab-penyebab umum hipotiroid pada
orang-orang dewasa diikuti oleh suatu diskusi dari kondisi-kondisi ini.

Hashimoto's thyroiditis
Lymphocytic thyroiditis (yang mungkin terjadi setelah hipertiroid)
Penghancuran tiroid (dari yodium ber-radioaktif atau operasi)
Penyakit pituitari atau hipothaamus
Obat-obatan
Kekurangan yodium yang berat

Hashimoto's Thyroiditis
Penyebab yang paling umum dari hipotiroid di Amerika adalah suatu kondisi yang
diwariskan/diturunkan yang disebut Hashimoto's thyroiditis. Kondisi ini dinamakan
menurut Dr. Hakaru Hashimoto yang pertama kali menjelaskannya pada tahu 1912.
Pada kondisi ini, kelenjar tiroid biasanya membesar (gondokan) dan mempunyai suatu
kemampuan yang berkurang untuk membuat hormon-hormon tiroid. Hashimoto's
adalah suatu penyakit autoimun dimana sistim imun tubuh secara tidak memadai
menyerang jaringan tiroid. Sebagian, kondisi ini diperkirakan mempunyai suatu basis
genetik. Ini berarti bahwa kecenderungan mengembangkan Hashimoto's thyroiditis
dapat terjadi di keluarga-keluarga. Hashimoto's adalah 5 sampai 10 kali lebih umum

pada wanita-wanita daripada pria-pria. Contoh-contoh darah yang diambil dari pasienpasien dengan penyakit ini mengunkapkan suatu jumlah yang meningkat dari
antibodi-antobodi pada enzim ini, thyroid peroxidase (antibodi-antibodi anti-TPO).
Karena basis untuk penyakit autoimun mungkin mempunyai suatu asal yang umum,
adalah bukan tidak biasa menemukan bahwa seorang pasien dengan Hashimoto's
thyroiditis mempunyai satu atau lebih penyakit autoimun lainnya seperti diabetes atau
pernicious anemia ( kekurangan B12). Hashimoto's dapat diidentifikasikan dengan
mendeteksi antibodi-antibodi anti-TPO dalam darah dan/atau dengan melakukan suatu
thyroid scan.

Lymphocytic thyroiditis mengikuti Hipertiroid


Thyroiditis merujuk pada peradangan kelenjar tiroid. Ketika peradangan disebabkan
oleh suatu tipe tertentu dari sel darah putih yang dikenal sebagai suatu lymphocyte,
kondisinya dirujuk sebagai lymphocytic thyroiditis. Kondisi ini adalah terutama
umum setelah kelahiran dan sebenarnya dapat mempengaruhi sampai 8% dari wanitawanita setelah mereka melahirkan. Pada kasus-kasus ini, biasanya ada suatu fase
hipertiroid (dimana jumlah-jumlah hormon tiroid yang berlebihan bocor keluar dari
kelenjar yang meradang), yang diikuti oleh suatu fase hipotiroid yang dapat
berlangsung sampai enam bulan. Mayoritas dari wanita-wanita yang terpengaruhi
akhirnya kembali pada suatu fungsi tiroid yang normal, meskipun ada suatu
kemungkinan dari hipotiroid yang tertinggal.

Kerusakkan tiroid sebagai akibat dari yodium ber-radioaktif atau


operasi
Pasien-pasien yang telah dirawat untuk suatu kondisi hipertiroid (seperti penyakit
Graves) dan menerima yodium ber-radioaktif mungkin ditinggalkan dengan sedikit
atau tidak ada jaringan tiroid yang berfungsi setelah perawatan. Kemungkinan dari ini
tergantung pada sejumlah faktor-faktor termasuk dosis yodium yang diberikan,
bersama dengan ukuran dan aktivitas dari kelenjar tiroid. Jika tidak ada aktivitas yang
signifikan dari kelenjar tiroid enam bulan setelah perawatan yodium ber-radioaktif,
biasanya diperkirakan bahwa tioroid tidak akan berfungsi lagi secara memadai.
Akibatnya adalah hipotiroid. Serupa dengannya, pengangkatan kelenjar tiroid sewaktu
operasi akan diikuti oleh hipotiroid.

Penyakit Pituitari atau Hipothalamus


Jika untuk beberapa sebab kelenjar pituitari atau hipothalamus tidak mampu
mensinyalkan pada tiroid dan memerintahkannya untuk memproduksi hormonhormon tiroid, suatu tingkat yang menurun dari T4 dan T3 yang beredar mungkin
berakibat, bahkan jika kelenjar tiroidnya sendiri adalah normal. Jika kerusakkan ini
disebabkan oleh penyakit pituitari, kondisi ini disebut "hipotiroid sekunder
(secondary hypothyroidism)". Jika kerusakkan disebabkan oleh penyakit
hipothalamus, ia disebut "hipotiroid tersier (tertiary hypothyroidism)".

Luka Pituitari

Suatu luka pituitari mungkin berakibat setelah operasi otak atau ada suatu penurunan
penyediaan darah pada area itu. Pada kasus-kasus luka pituitari ini, TSH yang
dihasilkan oleh kelenjar pituitari adalah tidak mencukupi dan tingkat-tingkat darah
TSH adalah rendah. Hipotiroid diakibatkan karena kelenjar tiroid tidak lagi
distimulasikan oleh TSH pituitari. Bentuk dari hipotiroid ini dapat, oleh karenanya,
dibedakan dari hipotiroid yang disebabkan oleh penyakit kelenjar tiroid, dimana
tingkat TSH menjadi meningkat ketika kelenjar pituitari mencoba untuk memajukan
produksi hormon tiroid dengan menstimulasi kelenjar tiroid dengan TSH yang lebih
banyak. Biasanya, hipotiroid dari luka kelenjar pituitari terjadi dalam hubungannya
dengan kekurangan-kekurangan hormon lain, karena pituitari mengatur proses-proses
lain seperti pertumbuhan, reproduksi, dan fungsi adrenal.

Obat-Obatan
Obat-obatan yang digunakan untuk merawat suatu tiroid yang aktif berlebihan
(hipertiroid) sebenarnya mungkin menyebabkan hipotiroid. Obat-obat ini termasuk
methimazole (Tapazole) dan propylthiouracil (PTU). Obat psikiatris, lithium
(Eskalith, Lithobid), adalah juga diketahui merubah fungsi tiroid dan menyebabkan
hipotiroid. Menariknya, obat-obat yang mengandung suatu jumlah yang besar dari
yodium seperti amiodarone (Cordarone), potassium iodide (SSKI, Pima), dan
Lugol's solution dapat menyebabkan perubahan-perubahan dalam fungsi tiroid, yang
mungkin berakibat pada tingkat-tingkat darah dari hormon tiroid yang rendah.

Kekurangan Yodium yang parah


Pada daerah-daerah dari dunia dimana ada suatu kekurangan yodium dalam makanan,
hipotiroid yang berat dapat terlihat pada 5% sampai 15% dari populasi. Contohcontoh dari area-area ini termasuk Zaire, Ecuador, India, and Chile. Kekurangan
yodium yang berat juga terlihat di area-area pegunungan yang jauh letaknya seperti
Andes dan Himalayas. Sejak penambahan yodium pada garam makan dan roti,
kekurangan (defisiensi) yodium jarang terlihat di Amerika.

Hipotiroid adalah tingkat pengurangan hormon tiroid (tiroksin). Yaitu suatu keadaan
di mana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan sedikit tiroksin. Hal ini dapat
menyebabkan fungsi metabolisme tubuh bekerja sangat lambat. Umumnya terjadi
pada wanita dewasa, bersamaan dengan pertambahan umur. Namun ini juga dapat
terjadi pada setiap usia. Hipotiroidisme juga dapat menyebabkan kretinisme pada
bayi.

Penyebab
Penyebab yang paling umum terjadi dikarenakan penyakit sistem kekebalan
tubuh,yang disebut Tiroiditis Hashimoto. Pemicu umumnya tidak diketahui. Biasanya
sistem kekebalan tubuh membuat antibodi untuk menyerang bakteri, virus, dan
kuman-kuman lainnya. Namun jika dalam tubuh kita terdapat Tiroiditis Hashimoto,
maka sistem imun membuat antibodi yang menyerang kelenjar tiroid kita. Sehingga
kelenjar tiroid tidak dapat menghasilkan hormon tiroksin yang cukup. Disamping itu,
dapat juga disebabkan karena kelenjar pituitari dalam otak yang menghasilkan

hormon TSH (hormon yang berfungsi untuk merangsang tiroid menghasilkan


tiroksin) dalam jumlah banyak.
Kekurangan tiroid dapat menyebabkan Hipotiroidisme Neonatus dan Hipotiroid
Juvenilis.
1. Penyebab Hipotiroid Neonatus
2. Tiroid Ektopik
3. Pemakaian obat anti tiroid yang berlebihan pada ibu saat hamil
4. Pengurangan TSH kongenital
5. Pengurangan yodium
6. Penyebab Hipotiroid Juvenilis
7. Terdapatnya penyakit sistem kekebalan tubuh (Hashimoto Tiroid)
8. Kekurangan TSH
9. Penggunaan radioterapi di sekitar leher
10. Peradangan tiroid akibat infeksi

Gejala
Beberapa gejala yang umumnya terjadi pada orang dewasa, diantaranya, kecapekan,
penambahan berat badan, kulit menjadi tebal dan kering, sembelit, depresi, malas,
rambut rontok,muku dan kaki menjadi bengkak, perasaan tidak tenang, siklus
menstruasi tidak teratur, kejang, suara menjadi parau, nyeri badan, ingatan terganggu,
sulit fokus, dll. Sedangkan pada bayi baru lahir diantaranya adalah Hipotonia, tubuh
yang kasar, distensi abdomen, kadang-kadang goiter (pembengkakan di bagian depan
leher). Penderita dengan hipotiroid ringan mungkin tidak mengalam gejala seperti ini,
tetapi bisa menjadi parah jika tingkat hormon semakin rendah. Karena itu tetap perlu
mendapatkan perawatan supaya tidak menghambat pertumbuhan kita.

Diagnosis
Para dokter akan dapat melakukan diagnosis setelah mengadakan pemeriksaan fisik
serta melengkapi keluhan-keluhan dari pasien.dan melakukan uji tes laboratorium.
Pemeriksaan fisik diantaranya, pemeriksaan jantung, mata, rambut, kulit. Penderita
tampak pucat, lengan dan tungkainya membengkak, mentalnya berkurang, denyut
jantung lambat, tekanan darah rendah, dan suhu tubuh rendah. Sedangkan tes
laboratorium diantaranya untuk mengukur jumlah tiroksin (T4), Tri yodotironin (T3).
Disamping itu juga untuk tes darah (Atibodi Antitiroid), untuk mengetahui kadar
kolesterol, serta untuk mendeteksi kadar kalsitonin, kalsium, proklatin dan
tiroglobulin.

Pencegahan
Pada masa kehamilan hindari penggunaan obat-obatah antitiroid secara berlebihan,
yodium profilaksis pada daerah-daerah endemik, diagnosis dini melalui pemeriksaan
penyaringan pada neonatus. Sedangkan pada hipotiroidisme dewasa dapat dilakukan
dengan pemeriksaan ulang tahunan.

Pengobatan
Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan
memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang paling banyak disukai adalah
hormon tiroid buatan T4. Bentuk yang lain adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh
dari kelenjar tiroid hewan). Pengobatan pada penderita usia lanjut dimulai dengan
hormon tiroid dosis rendah, karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek
samping yang serius. Dosisnya diturunkan secara bertahap sampai kadar TSH kembali
normal. Obat ini biasanya terus diminum sepanjang hidup penderita. Dalam keadaan
darurat, hormon tiroid tidak bisa diberikan secara intraena.
Sumber : http://fkuii.org/tiki-index.p