Anda di halaman 1dari 21

ACARA I

EKSTRAKSI MINYAK KELAPA DAN MINYAK BIJIAN


A. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara I Ekstraksi Minyak Kelapa dan Minyak
Bijian adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui metode ekstraksi minyak kelapa dan bijian secara basah
maupun kering.
2. Menentukan rendemen hasil ekstraksi minyak kelapa dan bijian baik secara
basah maupun kering.
B. Tinjauan Pustaka
Lemak atau minyak merupakan molekul kecil hidrofobik atau
amphipatic yang mungkin berasal dari seluruh atau sebagian kondensasi yang
berprinsip karbonion dari thioester (asam lemak, poliketida, dll) atau
kondensasi berbasis karbokation unit isoprene. Lemak sederhana dapat
didefinisikan sebagai hasil hidrolisis dari dua jenis produk primer per mol,
lemak kompleks menghasilkan tiga atau lebih produk hidrolisis utama per mol.
Lemak kompleks merupakan gliserofosfolipid yang mana berisi fosfor bagian
kutub dan tulang punggung gliserol atau glikolipid yang juga mengandung
karbohidrat pada bagian kutub yang dapat dianalisis secara terpisah (Bayizit,
2014).
Lemak dapat disebut sebagai zat yang sukar larut dalam air. Lemak dapat
larut dalam zat pelarut organik seperti alkohol, eter, kloroform atau campuran
methanol dan kloroform. Lemak netral tergolong senyawa-senyawa majemuk
dan

ikatannya

menyerupai

ester.

Asamnya

terdiri

atas

asam-asam

monokarboksilat yang tidak bercabang, yaitu asam-asam lemak. Asam lemak


yang terdapat dalam lemak alam, tergolong asam yang selalu mempunyai
jumlah atom C genap, sebab mudah dimengerti asam-asam itu berasal dari
kesatuan asam asetat. Di dalam asam lemak selalu terdapat asam palmitat dan
asam stearat (Kusnawidjaja, 1983).
Lemak memang dapat dikatakan sebagai senyawa yang sukar larut dalam
air. Secara istilah generik, minyak berbentuk cair, sedangkan lemak berbentuk

padat. Derajat ketidakjenuhan adalah rasio antara ikatan tunggal dengan ikatan
rangkap antar atom karbon dan jumlah atom karbon menentukan jenis dan sifat
lemak (Poedjadi, 1994).
Fungsi lemak antara lain sebagai penyimpan energi dan transport,
struktur membran, sebagai pelindung komponen dinding sel. Asam lemak
jarang terdapat bebas tetapi terdapat sebagai ester dalam gabungan sebagai
fungsi alkohol. Asam lemak pada umumnya adalah asam monokarboksilat
berantai lurus. Asam lemak dapat dijenuhkan atau dapat mempunyai satu atau
lebih ikatan rangkap. Minyak pada umumnya mempunyai presentase yang
tinggi akan gugus asil lemak tak jenuh. Lemak cenderung mempunyai
presentase tinggi akan gugus asil lemak jenuh (Page, 1997).
Pada dasarnya lemak dan minyak memiliki sifat-sifat fisik dan kimia.
Sifat fisik minyak antara lain adalah (a) Zat warna, zat warna dalam minyak
terdiri dari 2 golongan yaitu zat warna alamiah dan warna hasil degradasi zat
warna alamiah. (b) Bau amis, bau amis yang disebabkan oleh interaksi trimetil
aminoksida dengan ikatan rangkap dan lemak tidak jenuh. (c) Minyak tidak
dapat larut dalam air. Minyak hanya sedikit larut dalam alkohol, tetapi akan
terlarut sempurna dalam etil eter, karbon disulfide, dan pelarut-pelarut halogen.
(d) Titik didih, titik didih dari asam-asam lemak akan meningkat dengan
bertambahnya rantai karbon asam lemak. (e) Titik kekeruhan, titik kekeruhan
ini dapat ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran minyak atau lemak
dengan pelarut lemak. Sedangkan untuk sifat-sifat kimia minyak antara lain (a)
Reaksi hidrolisis mengubah minyak menjadi asam-asam lemak bebas dan
gliserol. Reaksi hidrolisis dapat mengakibatkan kerusakan minyak. (b) Reaksi
oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan
minyak. (c) Reaksi hidrogenasi sebagai suatu proses industri bertujuan untuk
menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak. (d)
Reaksi esterifikasi bertujuan untuk mengubah asam-asam lemak dari
trigliserida dalam bentuk ester (Andaka, 2004).
Adapun penentuan kualitas minyak berdasarkan banyaknya ikatan
rangkap dalam asam lemaknya. Semakin besar angka iodin, maka semakin

banyak ikatan rangkap yang ada dalam asam lemak suatu minyak. Sedangkan
semakin banyak ikatan rangkap dalam suatu minyak, maka minyak tersebut
akan semakin mudah mengalami kerusakan, karena sifatnya yang mudah
teroksidasi oleh oksigen dari udara, senyawa kimia atau dengan adanya proses
pemanasan (Bello et al., 2011).
Ekstraksi adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari
bahan yang mengandung minyak atau lemak. Adapaun cara ekstraksi ada
bermacam-macam, yaitu rendering (dry rendering dan wet rendering),
mechanical exepression dan solvent extaction. Rendering merupakan suatu cara
ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang mengandung minyak atau lemak
dengan kadar air yang tinggi. Wet rendering adalah proses rendering dengan
penambahan sejumlah air selama berlangsungnya proses tersebut. Dry
rendering adalah cara rendering tanpa penambahan air selama proses
berlangsung (Handayani dkk., 2015).
Proses ektraksi dapat dilakukan secara tradisional dan modern. Ekstraksi
dengan cara tradisional yaitu dengan cara membakar kemudian menumbuk dan
memeras dengan menggunakan kain. Sedangkan cara modern yaitu dengan
menggunakan oil press yaitu pres hidraulik dan ulir. Pengepresan berulir
memerlukan perlakuan yaitu proses pemasakan. Dalam proses pengolah
minyak, tinggi rendahnya suhu yang digunakan dalam proses pengepresan akan
mempengaruhi mutu minyak yang dihasilkan (Arumugam et al., 2014).
Jumlah randemen yang dihasilkan dari pengepresan secara mekanis
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah
waktu pengepresan, besarnya tekanan yang diberikan, ukuran bahan yang akan
dipres, viskositas bahan yang diekstrak, serta cara pengepresan. Kondisi lain
yang juga mempengaruhi randemen adalah kadar minyak dalam bahan. Pada
teknik press, menggunakan konsep pemisahan fisik. Semakin luas permukaan
kontak bahan yang akan diekstrak terhadap ekstraktor maka akan
meningkatkan jumlah randemen yang dihasilkan (Handayani dkk., 2015).
Kemiri (Aleurites moluccana) merupakan tanaman pangan yang dapat
tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Bagian terpenting dari kemiri yaitu

bijinya yang digunakan sebagai bumbu masak, penyedap dalam berbagai


jenis makanan, sabun, obat, serta kosmetik. Inti biji kemiri dapat mengandung
hingga 60% minyak. Minyak kemiri dimanfaatkan sebagai minyak pengering
dalam cat yang selama ini masih di import dari Amerika, India dan Rusia.
Kemiri mengandung gliserida, asam linoleat, palmitat, stearat, miristat,
asam minyak, protein, vitamin B1 dan zat lemak. Salah satu cara untuk
memanfaatkan

biji

kemiri

adalah mengekstraksi

biji kemiri

sehingga

dihasilkan minyak. Minyak yang terkandung dalam biji kemiri dapat


diekstraksi karena pelarut yang digunakan memiliki kepolaran yang sama
dengan minyaknya. Minyak lemak dari biji kemiri mengandung asam lemak
tak jenuh dengan kadar asam oleat 10,54% asam linoleat 48,56%, asam
linolenat 28,5% dan asam lemak jenuh 12,56%. Minyak kemiri memiliki
kandungan yang banyak manfaat sehingga penelitian ini memiliki prospek
yang baik (Arlene dkk., 2010).
Wijen merupakan salah satu komoditas sumber minyak nabati. Minyak
dari biji wijen telah digunakan sebagai minyak makanan, seasoning atau salad
oil. Minyak wijen mengandung banyak asam lemak tak jenuh, terutama asam
oleat dan asam linoleat. Minyak wijen juga mengandung banyak vitamin E dan
komponen fungsional lainnya yang berguna bagi kesehatan. Ada tiga macam
proses pengolahan minyak wijen, yaitu dengan pengepresan dingin,
pengepresan panas dan penyangraian biji wijen. Teknik pengepresan dingin
dapat meningkatkan kualitas minyak wijen (Handajani dkk., 2010).
Pada buah kelapa, terdapat beberapa cara untuk mengekstraksi minyak
dari daging buahnya, yaitu secara fisika, kima dan fermentasi. Proses
tradisional melalui cara fisika (pemanasan) menghasilkan minyak dengan
kualitas rendah karena kandungan airnya tinggi dan menyebabkan ketengikan.
Ektraksi minyak dengan cara kimia dapat menyebabkan penurunan kualitas
beberapa unsur nutrisi penting, antara lain asam laurat dan tokoferol serta
menyebabkan tingginya bilangan peroksida. Minyak kelapa fermentasi
memiliki banyak kelebihan diantaranya tahan lama, tidak mudah tengik dan
hampir tanpa kandungan kolesterol. Fermikel mengandung lebih dari 95%

trigliserida (trigliserol) serta beberapa jenis asam lemak jenuh dan tidak jenuh.
Asam lemak jenuhnya meliputi asam laurat, miristat, palmitat dan stearat
sedangkan asam lemak tidak jenuhnya meliputi asam oleat, linoleat dan
linolenat. Asam lemak jenuh yang dominan adalah asam laurat. Kelebihan
proses ekstraksi secara fermentasi dibandingkan dengan cara lain adalah
kemudahannya sehingga dapat diproduksi secara praktis, hemat bahan bakar,
residu galendo lebih sedikit, tingkat ketengikan rendah dengan daya simpan
lebih lama, aroma lebih harum dan bebas senyawa penginduksi kolesterol.
Proses ekstraksi minyak secara fermentasi melibatkan enzim-enzim pemecah
emulsi santan. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh konsentrasi substrat,
konsetrasi enzim pH, suhu dan lamanya reaksi enzimatik (Soeka dkk., 2008).
Ekstraksi lemak kulit ayam dapat dilakukan dengan cara pemanasan pada
wajan diatas kompor. Namun, selain itu dapat dilakukan dengan teknik
maserasi menggunakan n-heksana. Serbuk kulit ayam direndam dengan nheksana pada suhu kamar selama 4 jam kemudian disaring. Perendaman
diulangi sampai ekstrak n-heksana berwarna bening dengan asumsi bahwa
semua lemak telah terekstraksi. Residu kulit ayam selanjutnya dikeringkan di
oven pada suhu 35oC untuk menghilangkan (menguapkan) sisa-sisa pelarutnya.
Sampel kulit ayam yang telah bebas dari lemak kemudian disimpan dalam
wadah (toples) dengan tutup kedap udara dan siap digunakan untuk proses
selanjutnya (Puspawati dkk., 2014).
C. Metodologi
1. Alat
a. Alat penumbuk
b. Aluminium foil
c. Blender
d. Gelas ukur
e. Jar
f. Kain saring
g. Karet gelang
h. Kompor
i. Pengepress hidrolik
j. Pisau
k. Saringan santan
l. Saringan stainless steel
m. Spatula kayu

n. Tabung gas
o. Timbangan
p. Wadah/Baskom
q. Wajan
2. Bahan
a. Air
b. Biji wijen
c. Kelapa
d. Kemiri
e. Lemak ayam
f. Lemak sapi

Kelapa parut

1000 ml air

Penambahan
Pembuatan santan
Penyaringan

3. Cara Kerja
a. Ektraksi Minyak Kelapa
Pemanasan (2 jam) sampai santan membentuk blondo warna cokelat

Pemisahan blondo dengan minyak dengan cara penyaringan

Pengukuran minyak yang telah dihasilkan

Penentuan randemen minyak

b. Ekstraksi Minyak Kemiri


Kemiri 3 kg

Penyangraian dengan api kecil hingga hampir cokelat


Penumbukan
30 menit
biasa

Pengepresan
Penumbukan
Pengukuran minyak yang telah dihasilkan
pengepresan
Penentuan randemen
Pengukuran minyak yang telah dihasilkan minyak

Penentuan randemen minyak

c. Ekstraksi Minyak Wijen


1,5 kg wijen

Penyangraian dengan api kecil hingga warna menjadi cokelat

Pemblenderan
Pengepresan
Pengukuran minyak yang telah dihasilkan
Penentuan randemen minyak
d. Ektraksi Lemak Ayam
500 gram lemak ayam

Pemanasan dengan api kecil hingga kulit ayam menjadi crispy

Pengukuran minyak yang telah dihasilkan

Penentuan randemen minyak

e. Ektraksi Lemak Sapi


500 gram lemak sapi

nasan dengan api kecil hingga minyak yang ada pada daging keluar dan daging menjadi kering

Pengukuran minyak yang telah dihasilkan

Penentuan randemen minyak

D. Hasil dan Pembahasan


Tabel 1.1 Hasil Randemen Ekstraksi Minyak
Ke
Bahan
Berat
l
Bahan (g)
1
2
3
4
5
6

Kelapa
Kemiri dengan pemanasan
Kemiri tanpa pemanasan
Wijen
Lemak ayam
Lemak sapi

2600
3000
3000
1500
500
500

Berat
Minyak
(g)
334,414
394,890
328,200
77,800
119,900
123,700

Randemen
(%)
12,862
13,163
10,940
5,187
23,980
24,740

Sumber: Laporan Sementara

Lemak dan minyak adalah golongan lipid, yaitu senyawa organik yang
terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik
non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), kloroform (CHCl3), benzena dan
hidrokarbon lainnya. Lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut tersebut
karena mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut. Lemak dan
minyak merupakan senyawa trigliserida atau triasigliserol, yang berarti
triester dari gliserol. Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan
ester. Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol.
Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai
hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang (Sartika, 2008).
Lemak dan minyak memiliki sifat fisik dan juga kimia, sifat fisik lemak
dan minyak meliputi (a) bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh
terbentuknya trimetil-amin dari lesitin, (b) bobot jenis dari lemak dan minyak
biasanya ditentukan pada temperatur kamar, (c) indeks bias dari lemak dan
minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian
minyak, (d) minyak atau lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak
(coastor oil), sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter,
karbon disulfida dan pelarut halogen, (e) titik didih asam lemak semakin
meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon, (f) rasa pada lemak
dan minyak selain terdapat secara alami, juga terjadi karena asam-asam yang
berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau
lemak, (g) titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran
lemak atau minyak dengan pelarut lemak, (h) titik lunak dari lemak atau
minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak atau lemak, (i) shot
melting point adalah temperratur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak
atau lemak, (j) slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak
alam serta pengaruh kehadiran komponennya (Herlina dan Ginting, 2002).
Sedangkan sifat kimia lemak dan minyak antara lain adalah (a)
esterifikasi yang bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida
menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan dengan prinsip

transesterifikasi Fiedel-Craft, (b) reaksi hidrolisa, lemak dan minyak akan


diubah menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis
mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat
sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut, (c) penyabunan dilakukan
dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila
penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan
dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan, (d) hidrogenasi bertujuan untuk
menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak.
Setelah proses hidrogenasi selesai, minyak didinginkan dan katalisator
dipisahkan dengan disaring. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau
keras, tergantung pada derajat kejenuhan, (e) Oksidasi dapat berlangsung bila
terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau minyak. Terjadinya
reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan adanya bau tengik pada minyak yang
dihasilkan (Herlina dan Ginting, 2002).
Macam- macam ekstraksi minyak antara lain adalah ekstraksi dengan
cara basah, ekstraksi dengan cara kering dan ekstraksi dengan pelarut. Pada
masing-masing ekstraksi tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan.
Ekstraksi dengan cara basah yang terbagi atas beberapa metode diantaranya
adalah pemancingan, pengasaman, mekanik, enzimatik dan penggaraman.
Langkah awal pembuatan minyak kelapa dengan cara basah yaitu daging buah
kelapa dibentuk menjadi santan. Minyak terdapat di dalam lapisan protein
santan. Untuk mengekstrak minyak, lapisan protein tersebut perlu dipecah.
Prinsipnya pembuatan minyak kelapa cara basah atau melalui santan adalah
pemecahan sistem emulsi santan melalui denaturasi protein (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara basah melalui metode pemanasan atau
thermal yaitu melakukan pemanasan terhadap santan yang telah dibuat. Tujuan
dari pemanasan adalah untuk memecah protein sehingga minyak yang terdapat
dalam lapisan protein dapat diekstrak. Kelebihan dari metode ini yaitu dapat
diterapkan di masyarakat karena menggunakan peralatan yang sederhana serta
limbah yang dihasilkan masih dapat dimanfaatkan. Ekstraksi minyak kelapa

dengan cara pemanasan relatif sederhana, yaitu hanya melakukan pemanasan


terhadap santan yang telah dibuat (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara basah melalui metode penggaraman adalah
metode penggaraman dilakukan dengan tujuan untuk pemecahan sistem emulsi
santan dengan pengaturan kelarutan protein di dalam garam. Protein yang
terdapat di dalam santan akan larut dengan adanya penambahan garam, akan
tetapi pada kondisi tertentu kelarutan garam akan turun seiring dengan
peningkatan konsentrasi garam. Dengan penurunan tingkat kelarutan protein
diikuti dengan pengikatan molekul-molekul air oleh garam tersebut, yang
selanjutnya juga terjadi pemisahan antara cairan minyak dengan air. Proses
ekstraksi minyak dilakukan dengan cara penambahan garam Ca kedalam
santan dan diaduk agar campuran antara garam dan santan menjadi homogen.
Campuran antara garam dengan santan kemudian didiamkan kurang lebih 12
jam untuk mendapatkan 3 lapisan yaitu air yang berada paling bawah, blondo
yang ada di tengah dan minyak yang berada pada lapisan paling atas yang ada
bahan (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara basah melalui metode pengasaman yaitu
perusakan protein atau denaturasi protein untuk dapat mendapatkan minyak
kelapa. Pengaturan pH yaitu pada pH 4,5 yang dilakukan dengan penambahan
asam asetat. Metode ini dapat diterapkan di kalangan masyarakat karena
menggunakan alat dan bahan yang sederhana. Kekurangan dari metode ini
yaitu kemungkinan minyak yang dihasilkan beraroma asam (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara basah melalui metode pemancingan, cara
pemancingan pada pembuatan minyak kelapa merupakan pemecahan sistem
emulsi santan dengan mengatur memperbesar tegangan permukaan. Untuk
dapat memancing minyak keluar dari sistem emulsi digunakan umpan yang
berupa minyak juga. Penggunaan umpan akan sangat mempengaruhi hasil dari
kualitas minyak. Apabila umpan yang digunakan adalah minyak dengan
kualitas yang bagus, maka akan diperoleh minyak yang berkualitas bagus pula,
akan tetapi sebaliknya apabila minyak yang dijadikan umpan secara kualitas

kurang bagus maka hasil minyak yang didapat akan memiliki kualitas kurang
bagus (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara basah melalui teknik enzimatik, teknik
enzimatik merupakan metode untuk denaturasi protein dengan bantuan enzim.
Beberapa jenis enzim yang dapat digunakan pada proses ini misalnya papain,
bromelain atau protease. Enzim tersebut ditambahkan ke dalam santan
kemudian didiamkan selama 12 jam selanjutnya dilakukan pemisahan minyak
dari blondo. Perlu waktu yang relatif lama untuk melakukan proses ekstraksi
minyak (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara basah melalui teknik pendinginan, metode
pendinginan didasarkan pada perbedaan antara titik beku air dan titik beku
minyak. Titik beku minyak berada pada kisaran 15 oC sedangkan air memiliki
titik beku pada 0oC, oleh karena itu pemakaian teknik pendinginan ini minyak
akan membeku terlebih dahulu dibandingkan air. Minyak akan terjadi
penggumpalan lebih awal yang selanjutnya dapat dipisahkan dengan komponen
air (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara basah melalui teknik mekanik yaitu, teknik
mekanik dilakukan dengan maksud merusak protein dan air yang
menyelubungi minyak. Caranya dengan mengaduk santan dengan mixer.
Dengan adanya pengadukan terus-menerus molekul air dan molekul protein
dapat rusak yang akhirnya minyak dapat keluar (Fadillah, 2014).
Ekstraksi minyak dengan cara kering yaitu terlebih dahulu daging buah
kelapa dibuat dalam bentuk kopra. Untuk dibuat dalam bentuk kopra, maka
daging buah kelapa dibuat menjadi kering dengan jalan menjemur pada terik
matahari atau dikeringkan melalui oven. Adapun langkah-langkah pembuatan
minyak kelapa dengan cara kering adalah sebagai berikut. Kopra dicacah
kemudian dihaluskan menjadi serbuk kasar. Serbuk kopra dipres sehingga
mengeluarkan minyak. Ampas yang dihasilkan masih mengandung minyak
digiling sampai halus dan dipres untuk mengeluarkan minyaknya. Minyak
kemudian diendapkan dan dilakukan penyaringan untuk memisahkan dari
partikel tidak larut (Fadillah, 2014).

Ekstraksi minyak menggunakan pelarut, daging buah kelapa juga dibuat


dalam bentuk kopra. Prinsip dari cara ini yaitu menggunakan pelarut yang
dapat melarutkan minyak. Adapun karakteristik pelarut yang digunakan untuk
ekstraksi minyak kelapa diantaranya bertitik didih rendah, mudah menguap,
tidak berinteraksi secara kimia dengan minyak dan residunya tidak beracun.
Cara ekstraksi minyak kelapa yang dilakukan yaitu kopra dicacah, kemudian
dihaluskan menjadi serbuk. Serbuk kopra ditempatkan pada ruang ekstraksi,
sedangkan pelarut pada ruang penguapan. Kemudian pelarut dipanaskan
sampai menguap. Uap pelarut akan naik ke ruang kondensasi. Kondensat (uap
pelarut yang mencair) akan mengalir ke ruang ekstraksi dan melarutkan
minyak serbuk kopra. Jika ruang ekstraksi telah penuh dengan pelarut, pelarut
yang mengandung minyak akan mengalir (jatuh) dengan sendirinya menuju
ruang penguapan semula. Di ruang penguapan, pelarut yang mengandung
minyak akan menguap, sedangkan minyak tetap berada di ruang penguapan.
Proses berlangsung terus menerus sampai 3 jam. Pelarut yang mengandung
minyak diuapkan. Uap yang terkondensasi pada kondensat tidak dikembalikan
lagi ke ruang penguapan, tapi dialirkan ke tempat penampungan pelarut.
Pelarut ini dapat digunakan lagi untuk ekstraksi. Penguapan ini dilakukan
sampai diperkirakan tidak ada lagi residu pelarut pada minyak. Selanjutnya,
minyak dapat diberi perlakuan pemurnian, pemutihan dan penghilangan bau.
Kekurangannya yaitu tidak dapat diterapkan di masyarakat dan biayanya relatif
mahal (Fadillah, 2014).
Pada praktikum ekstraksi minyak, digunakan beberapa sampel antara lain
adalah kelapa, kemiri dengan dua perlakuan yaitu dengan pemanasan dan tanpa
pemanasan, wijen, lemak ayam dan lemak sapi. Pada hasil perhitungan, berat
bahan kelapa yaitu 2600 gram, kemiri dengan pemanasan yaitu 3000 gram,
kemiri tanpa pemanasan yaitu 3000 gram, wijen yaitu 1500 gram, lemak ayam
yaitu 500 gram dan lemak sapi yaitu 500 gram. Sedangkan berat minyak yang
diperoleh kelapa yaitu 334,414 gram, kemiri dengan pemanasan yaitu 394,890
gram, kemiri tanpa pemanasan yaitu 328,200 gram, wijen yaitu 77,800 gram,
lemak ayam yaitu 119,900 dan lemak sapi yaitu 123,700 gram. Sedangkan

randemen yang diperoleh kelapa yaitu 12, 862%, kemiri dengan pemanasan
yaitu 13,163%, kemiri tanpa pemanasan yaitu 10,940%, wijen yaitu 5,187%,
lemak ayam yaitu 23,980% dan lemak sapi adalah 24,740%. Pada hasil
randemen ekstraksi minyak kemiri tanpa pemanasan telah sesuai dengan teori
yaitu sebesar 10,9%. Sedangkan hasil randemen ekstraksi minyak kelapa,
kemiri dengan pemanasan, wijen, lemak ayam dan lemak sapi tidak sesuai
dengan teori. Menurut Fadillah (2014), hasil randemen dari ekstraksi minyak
kelapa yaitu 23,78%, sedangkan ekstraksi minyak kemiri dengan pemanasan
yaitu sebesar 22%, ekstraksi minyak wijen sebesar 38,41%, ekstraksi lemak
ayam sebesar 18,97- 22,41% dan ekstraksi lemak sapi sebesar 55-57%. Adanya
ketidaksesuaian hasil praktikum dengan teori dapat terjadi karena kekurang
telitian praktikan dalam melakukan pengujian ekstraksi minyak tersebut. Hal
lain yang dapat mempengaruhi hasil praktikum adalah kadar minyak yang
terkandung dalam bahan, ukuran bahan yang dipres, viskositas bahan yang
diekstrak serta cara pengepresan (Fadillah, 2014).
Pada ekstraksi minyak kemiri dan biji wijen terdapat perlakuan
pemanasan dan penumbukan. Menurut Handajani (2010), perlakuan proses
pemanasan berfungsi untuk mengkoagulasi protein sehingga mempermudah
minyak dikeluarkan dari bahan tersebut. Perlakuan panas selama proses
pengolahan minyak kemiri dan wijen akan mempengaruhi komposisi asam
lemak dan juga senyawa fungsional dalam minyak kemiri dan wijen tersebut.
Sedangkan perlakuan penumbukan yaitu menempa bahan sebagai proses untuk
mengecilkan ukuran suatu bahan. Menurut Munawaroh (2010), perlakuan
penumbukan ini dilakukan untuk mengekstraksi minyak dalam waktu yang
realtif lebih singkat. Tujuan pengecilan ukuran dengan cara menumbuk agar
kelenjar minyak dapat terbuka sebanyak mungkin sehingga memudahkan untuk
pengambilan minyak saat di pres.
Pada hasil ekstraksi minyak yang dilakukan pada praktikum terlihat
beberapa penyimpangan sehingga mengakibatkan randemen hasil ekstraksi
minyak tidak sesuai dengan teori yang ada. Menurut Hardani (2014), kesalahan
dalam pengujian terjadi karena kurangnya lama ekstraksi yang dilakukan

sehingga mengakibatkan randemen minyak yang dihasilkan menjadi sedikit.


Pada prinsipnya semakin lama waktu ekstraksi maka randemen minyak yang
dihasilkan akan semakin besar. Selain itu, perlakuan pada saat proses
pengepresan juga mempengaruhi, karena seharusnya semua luas permukaan
bahan secara menyeluruh harus mendapat tekanan oleh alat pres agar minyak
yang dihasilkan dapat keluar secara sempurna. Pada prinsipnya kualitas dan
randemen minyak sangat dipengaruhi oleh metode pengolahan dan perlakuan
seperti pemanasan, penyangraian, pengecilan ukuran dan juga bahan baku yang
digunakan. Terjadinya warna gelap pada proses pengolahan ekstraksi minyak
atau penyimpanan juga dapat terjadi akibat suhu pemanasan yang terlalu tinggi
pada waktu pengepresan sehingga minyak dapat teroksidasi, pengepresan
bahan yang mengandung minyak dengan tekanan dan suhu yang lebih tinggi
akan menghasilkan minyak dengan warna yang gelap.
Jumlah randemen pada minyak yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah waktu pengepresan,
besarnya tekanan yang diberikan pada bahan, ukuran bahan yang akan dipres,
viskositas bahan yang diekstrak, serta cara pengepresan bahan. Kondisi lain
yang juga mempengaruhi randemen adalah kadar minyak dalam bahan. Pada
teknik pres, menggunakan konsep pemisahan fisik. Semakin luas permukaan
kontak bahan yang akan diekstrak terhadap ekstraktor maka akan
meningkatkan jumlah randemen yang dihasilkan oleh minyak atau lemak
tersebut (Handayani dkk., 2015).
E. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum acara V Ekstraksi Minyak Kelapa dan Minyak
Bijian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Proses ektraksi minyak dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti
ekstraksi minyak secara basah yaitu dengan teknik seperti pemancingan,
pengasaman, mekanik, enzimatik dan penggaraman. Proses ekstraksi
minyak juga dapat dilakukan dengan ekstraksi minyak secara kering dan
ekstraksi minyak dengan pelarut.
2. Dari hasil praktikum randemen yang diperoleh kelapa yaitu 12, 862%,
kemiri dengan pemanasan yaitu 13, 163%, kemiri tanpa pemanasan yaitu

10,940%, wijen yaitu 5,187%, lemak ayam yaitu 23,980% dan lemak sapi
adalah 24,740%.
3. Faktor-faktor yang memengaruhi hasil randemen pada ektraksi minyak
antara lain adalah lama ekstraksi, waktu pengepresan, besarnya tekanan
yang diberikan, ukuran bahan yang akan dipres, viskositas bahan yang
diekstrak, serta cara pengepresan. Kondisi lain yang juga mempengaruhi
randemen adalah kadar minyak dalam bahan dan luas permukaan kontak
bahan yang akan diekstrak.

DAFTAR PUSTAKA
Andaka, Ganjar. 2004. Optimasi Proses Ekstraksi Minyak Kacang Tanah Dengan
Pelarut N- Heksana. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 1, No. 2:1-3.
Arlene, Ariestya. Steviana Kristanto dan Ign Suharto. 2010. Pengaruh Temperatur
dan F/S Terhadap Ekstraksi Minyak Dari Biji Kemiri Sisa Penekanan
Mekanik. Seminar Rekayasa Kimia dan Proses. Vol.1, No. 3:1-6.
Arumugam, Manikandan. Meera Raman and Kannan Eagappan. 2014. Cold Press
Virgin Coconut Oil From Full Fat Coconut Flakes A Functional Oil.
International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. Vol. 6,
No. 6: 975-1491.
Bayizit, A Aknipar. 2014. Fungal Lipids: The Biochemistry of Lipid
Accumulation. International Journal of Chemical Engineering and
Application. Vol. 5, No. 5:1-6.
Bello, Muibat Olabisi et al. 2011. Physicochemical Properties and Fatty Acids
Profile of Seed Oil of Telfairia occidentalis Hook, F. Journal of Basic and
Applied Sciences Vol 11 No 6. Page 9-10. Ilorin.

Fadillah, Ummu Farah. 2014. Studi Karakteristik Minyak Kelapa Hasil Ekstraksi
Metode Kering dan Pemanasan. Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 1, No. 1:
1-62.
Handajani, Sri. Godras Jati Manuhara dan R Baskara Katri Anandito. 2010.
Pengaruh Suhu Ekstraksi Terhadap Karakteristik Fisik, Kimia dan
Sensoris Minyak Wijen (Sesamun Indicum L). Jurnal Agritech. Vol. 30,
No. 2: 1-7.
Handayani, Rani. Santi Rukminita dan Iwang Gumilar. 2015. Karakteristik Fisiko
Kimia Minyak Biji Bintaro (Cerbera manghas L) dan Potensinya Sebagai
Bahan Baku Pembuatan Biodiesel. Jurnal Akuatika. Vol. 6, No. 2: 177186.
Hardani, Danis Alfiana. Nur Hidayat dan Ika Atsari Dewi. 2014. Ekstraksi Minyak
Melati (Jasminum Sambac) Kajian Jenis Pelarut dan Lama Fermentasi.
Jurnal Pertanian. Vol. 1, No. 1:1-7.
Herlina, Netti dan Hedra S Ginting. 2002. Lemak dan Minyak. Jurnal Kimia. Vol.
1, No.2 : 1-8.
Kusnawidjaja, Kurnia. 1983. Biokimia. Alumni. Bandung.
Munawaroh, Safaatul dan Prima Astuti Handayani. 2010. Ekstraksi Minyak Daun
Jeruk Purut Dengan Pelarut Etanol dan N- Heksana. Jurnal Kompetensi
Teknik. Vol. 2, No.1: 1-6.
Page, David S. 1997. Prinsip- Prinsip Biokimia. Erlangga. Jakarta.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI Press. Jakarta.
Puspawati, Ni Made. Nengah Simpen dan Niluh Putu Suciptawati. 2014.
Karakteristik Sifat Fisiko Kimia Gelatin Halal yang Diekstrak Dari Kulit
Ayam Broiler Melalui Variasi Suhu. Jurnal Kimia. Vol. 8, No. 1: 127-136.
Sartika, Ratu Ayu Dewi. 2008. Pengaruh Asam Lemak Jenuh, Tidak Jenuh dan
Asam Lemak Trans Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional. Vol.2, No.2:1-8.
Soeka, Yati Sudaryati. Joko Sulistyo dan Elidar Naiola. 2008. Analisis Biokimia
Minyak Kelapa Hasil Ekstraksi Secara Fermentasi. Jurnal Biodiversitas.
Vol. 9, No.2:91-95.

LAMPIRAN PERHITUNGAN
Perhitungan Randemen:
Randemen Minyak =

minyak yang dihasilkan ( g )


x 100
berat awal ( g )

1. Randemen Minyak Kelapa


Randemen

minyak yang dihasilkan ( g )


x 100
berat awal ( g )
334,414
x 100
2600

= 12,862%

2. Randemen Minyak Kemiri Dengan Pemanasan


Randemen

minyak yang dihasilkan ( g )


x 100
berat awal ( g )

394,890
x 100
3000

= 13,163%

3. Randemen Kemiri Tanpa Pemanasan


Randemen

minyak yang dihasilkan ( g )


x 100
berat awal ( g )

328,200
x 100
3000

= 10,940%

4. Randemen Minyak Wijen


Randemen

minyak yang dihasilkan ( g )


x 100
berat awal ( g )

77,800
x 100
1500

= 5, 187%

5. Randemen Lemak Ayam


Randemen

minyak yang dihasilkan ( g )


x 100
berat awal ( g )

119,900
x 100
500

= 23,980%
6. Randemen Lemak Sapi
Randemen

minyak yang dihasilkan ( g )


x 100
berat awal ( g )

123,700
x 100
500

= 24,740%