Anda di halaman 1dari 55

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

RUMAH SAKIT UMUM KARDINAH TEGAL

LAPORAN KASUS NEONATUS:


NEONATUS ATERM DENGAN DISTRESS RESPIRASI, OBSERVASI KEJANG,
DAN OBSERVASI INFEKSI NEONATAL

Pembimbing: dr. Raden Setyadi, Sp.A

Disusun oleh: Lia Laelatul Farida


(030.11.165)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI


PERIODE MARET 2016 MEI 2016

LEMBAR PERSETUJUAN

Presentasi laporan kasus dengan judul


NEONATUS ATERM DENGAN DISTRESS RESPIRASI, OBSERVASI KEJANG,
DAN OBSERVASI INFEKSI NEONATAL

Penyusun:
Lia Laelatul Farida
030.11.165
Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk menyelesaikan
kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Anak di RSU Kardinah Kota Tegal periode Maret
Mei 2016.

Tegal, 18 April 2016

dr. Raden Setyadi, SpA

BAB I
STATUS PASIEN

STATUS PASIEN LAPORAN KASUS


KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH KOTA TEGAL
Nama : Lia Laelatul Farida
NIM : 030.11.165

Pembimbing : dr. Raden Setyadi, Sp.A


Tanda tangan :

A. IDENTITAS PASIEN
DATA
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Agama
Suku Bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Penghasilan
Keterangan
Asuransi
No. RM

PASIEN
By. Ny. J
7 hari
Laki-laki

AYAH
IBU
Tn. M
Ny. J
36 tahun
37 tahun
Laki-laki
Perempuan
Tekiringan, RT 009/002, Talang
Islam
Islam
Islam
Jawa
Jawa
Jawa
SD
SMP
Buruh
Pedagang
Rp. 500.000,Rp -1000.000
Hubungan orangtua dengan anak adalah anak kandung
BPJS
823223

B. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis terhadap Ibu kandung pasien pada
hari Rabu, 02 April 2016 pukul 12.00 WIB, di ruang tunggu PERINA Dahlia RSU
Kardinah Tegal.

Keluhan Utama : Sesak napas


Riwayat Penyakit Sekarang
2

Ibu G1P0A0 37 tahun, hamil 39 minggu di bawa ke Rumah sakit pada 30


maret 2016, tidak terdapat rasa mules,perut juga tidak terasa kencang, dan tidak
ada air maupun darah yang keluar dari kemaluan. Setelah dilakukan pemeriksaan,
ternyata letak janin lintang. Selain itu ibu mempunyai riwayat asma sehingga
tidak kuat untuk mengejan. Akhirnya diputuskan untuk dilakukan operasi section
caesarea pada ibu.
Operasi dilakukan oleh dokter spesialis kandungan pada tanggal 31 maret
2016, lahir bayi lak-laki secara section caesarea, bayi menangis kurang kuat,
tidak biru, dengan AS 6-7-7, BBL 3100 gram, PB 48 cm. Air ketuban jernih.
Placenta dikeluarkan (ekspulsi) dengan kotiledon lengkap. Tidak terdapat infark
dan hematom. Pasien kemudian langsung lengkap tidak terdapat infark dan
hematom. Pasien kemudian langsung di bawa ke ruang mawar, tidak tampak
sesak nafas dan merintih.

Pasien di rawat gabung bersama ibunya di ruangan mawar, asi ibu keluar banyak,
pasien menyusui tapi kurang kuat dan tangisan mulai kuat, gerak kurang aktif,
belum BAK maunpun BAB, tidak terdapat muntah, kejang , kuning, serta demam.
2 jam kemudian , ibu pasien mengatakan bayinya tampak sesak napas, tangisan
kebali tidak kuat, gerakannya semakin tidak aktif. Pasien kemudian di bawa ke
ruang dahlia dan dipasang O2 sungkup 5L/m. Saat dipindahkan keadaan bayi
sesak, menangis kurang kuat dan gerakan kurang aktif, dan terdapat retraksi dada.
Didapatkan hasil pernapasan 64x/menit,nadi 155x/menit, SpO2 100%, dan suhu
35 C
Saat di Mawar, pasien diberikan terapi injeksi Neok 0,9 ml/imv, tetes mata
gentamicin 0,3 ml, Kaki kanan dan kiri i.v imunisasi Hbo 0,5 ml/im

Riwayat Penyakit Dahulu


Belum dapat di evaluasi
Riwayat Penyakit Keluarga
Orang tua pasien mengaku tidak ada keluarga pasien yang memiliki
penyakit jantung bawaan tetapi orang tua dari ibu pasien memiliki riwayat asma.
Riwayat penyakit batuk-batuk lama atau pengobatan flek paru juga disangkal.
3

Riwayat Lingkungan Perumahan


Orang tua pasien tinggal di rumah milik nenek pasien. Rumah tersebut
berukuran 6 x 20 m, beratap genteng, berlantai ubin, berdinding tembok dan
berlokasi 1m dari tepi sungai. Di rumah tersebut tinggal kedua orang tua pasien,
dan nenek pasien. Rumah rajin dibersihkan setiap hari dari mulai disapu sampai
membersihkan debu-debu ruangan. Cahaya matahari dapat masuk ke dalam
rumah, lampu tidak dinyalakan pada siang hari. Jika jendela dibuka maka udara
dalam rumah tidak pengap. Jarak septic tank dengan wc 10 m.
Kesan: Keadaan lingkungan rumah dan sanitasi baik, ventilasi dan
pencahayaan baik.

Riwayat Sosial Ekonomi


Ayah pasien berprofesi sebagai buruh dengan penghasilan Rp 500.000,per bulan. Penghasilan tersebut menanggung hidup 4 orang, kedua orang tua
pasien, nenek, dan pasien sendiri.
Kesan: Riwayat sosial ekonomi kurang.

Riwayat Kehamilan dan Pemeriksaan Prenatal


Ayah pasien mengatakan bahwa istrinya rajin memeriksakan kehamilan
( 1x/bulan ), namun ayah pasien tidak ingat pada usia kehamilan berapa. Selama
hamil kondisi ibu dan bayi dikatakan baik dan mendapat suntikan imunisasi TT 2
kali. Ibu pasien baru memeriksakan kehamilannya sejak usia kehamilan 2 bulan di
bidan. Karena pada awal kehamilan ibu pasien tidak menyadari bahwa sedang
mengandung dikarenakan ibu mengalami demam, diare dan serangan asma lebih
sering dari sebelum dia hamil. Memasuki bulan ke dua kehamilan, ibu mulai rajin
memeriksakan kehamilannya. Ibu mengaku rutin memeriksakan kehamilannya ke
bidan menjelang persalinan. Ibu pasien mengatakan bahwa ia pernah mengalami
trauma (jatuh) pada saat usia kehamilan kurang lebih 4 bulan, namun saat itu
tidak terjadi perdarahan, terutama pervaginam dan hanya bengkak serta luka
memar di kaki karena terbentur. Pasien tidak pergi ke dokter dan memilih dipijit
oleh suaminya untuk meredakan rasa sakit karena jatuh. Penyulit selama
kehamilan maupun komplikasi saat kelahiran disangkal.
Penyakit tekanan darah tinggi dan kencing manis selama kehamilan
disangkal. Riwayat penyakit jantung, TB, perdarahan dan trauma disangkal.
4

Tetapi ibu pasien memiliki riwayat asma. Selama hamil, ibu makan 3 kali sehari,
berupa nasi, lauk-pauk dengan variasi tahu, tempe, dan sayuran .

Riwayat Persalinan
o Tempat kelahiran

: RSUD kardinah

o Penolong persalinan

: Dokter Spesialis Kandungan

o Cara persalinan

: Sectio Caesaria atas indikasi Letak lintang

o Masa gestasi

: 9 bulan, G1P0A0

o Air ketuban

: jernih

o Berat badan lahir

: 3100 gram

o Panjang badan lahir

: 48 cm

o Lingkar kepala

: 34 cm

o Langsung menangis

: menangis kurang kuat

o Nilai APGAR

: 6-7-7

o Kelainan bawaan

: tidak ada

o Penyulit/ komplikasi

: Letak Lintang

Kesan: Neonatus aterm, lahir section caesaria atas indikasi Letak


Lintang, bayi dalam keadaan tidak bugar.

Riwayat Pemeliharaan Postnatal


Pemeliharaan setelah kelahiran belum dapat dievaluasi.

Corak Reproduksi Ibu


Ibu G1P0A0, pasien adalah anak pertama.

Riwayat Keluarga Berencana


Ibu pasien tidak menggunakan KB.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Berat lahir 3100 gram, panjang badan 48 cm, lingkar kepala 34 cm dan
lingkar dada 32 cm.

Riwayat Makan dan Minum


Belum dapat di evaluasi

Riwayat Imunisasi
Pasien sudah diberikan diimunisasi HBo sejak lahir
Kesan: Imunisasi sesuai umur

Silsilah Keluarga

: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

C. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Selasa, tanggal 02 maret 2016, pukul
11.50 WIB, di Ruang Penyakit Menular Dahlia.
I. Kesan Umum
Menangis
Gerak
Retraksi

: Kurang kuat
: Kurang aktif
: Subkostal

Kejang
Pucat
Ikterik
Sianosis

(-)
(-)
(-)
(-)

II. Tanda Vital


Tekanan darah

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Nadi

: 168 x/menit

Laju nafas

: 48x/menit

Suhu

: 37,7,oC

SpO2

: 97%

III.Data Antropometri
Berat badan sekarang

: 3100 gram

Panjang badan sekarang

: 48 cm

IV. Status Internus


i. Kulit: Tampak pucat (-), sianosis (-), ikterik (-).
ii. Kepala: Normosefali, ubun-ubun kecil teraba datar tidak tegang, mollage
(-)

Rambut: Hitam, lebat, tampak terdistribusi merata, tidak mudah


dicabut.

Mata: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), edema palpebra


(-/-), mata cekung (-/-).

Hidung : Bentuk normal, simetris, sekret (-/-), pernafasan cuping


hidung (+)

Telinga : Normotia, discharge (-/-), recoil (segera/segera)

Mulut : Bibir kering (+), bibir sianosis (-), stomatitis (-), mukosa
hiperemis (-), lidah normoglossia.

iii. Leher: Pendek, simetris, pergerakan lemah, tumor (-), tanda trauma (-)
iv. Toraks: Dinding toraks normotoraks dan simetris.
o Paru:

Inspeksi: Pergerakan dinding toraks kiri-kanan simetris,


retraksi (+) subkosta.

Palpasi: Simetris tidak ada hemithoraks yang tertinggal, areola


mammae penuh benjolan 5 mm.

Perkusi: Tidak dilakukan pemeriksaan

Auskultasi: Suara napas vesikuler (+/+), ronki basah halus


(-/-), wheezing (-/-).

o Jantung:

Inspeksi: Iktus kordis tidak tampak.

Palpasi: Iktus kordis teraba di ICS V 1 cm midklavikula


sinistra.

Perkusi: Tidak dilakukan pemeriksaan

Auskultasi: Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop


(-).

v. Abdomen:
Inspeksi: Tampak buncit, tali pusat sudah terlepas, hernia umbilikal
(-).
Auskultasi: Bising usus (+) normal.
Palpasi: Supel, hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi: Timpani.
vi. Vertebrae : Spina bifida (-), meningokel (-)
vii. Genitalia: Jenis kelamin laki-laki.
viii. Anorektal : Anus (+).
ix. Ekstremitas:
Akral Dingin
Akral Sianosis
CRT
Oedem
Tonus Otot
Trofi Otot

Superior
-/-/<2
-/Normotonus
Normotrofi

Inferior
-/-/<2
-/Normotonus
Normotrofi

x. Refleks primitif:

Refleks Oral
o Refleks Hisap
: (+)
o Refleks Rooting : (+)
Refleks Moro
: Tidak dilakukan
Refleks Palmar Grasp : ()
Refleks Plantar Grasp : ()

D. PEMERIKSAAN KHUSUS
Maturitas Bayi
Berat badan lahir : 3100gr
8

Usia kehamilan

: 39 mgg

Kkesan: Neonatus cukup bulan, sesuai untuk masa kehamilan.

1. New Ballard Scor

Maturitas neuromuskuler

Poin

Maturitas fisik

Poin

Sikap tubuh

Kulit

Jendela siku-siku

Lanugo

Rekoil lengan

Lipatan telapak kaki

Sudut popliteal

Payudara

Tanda Selempang

Bentuk telinga

Tumit ke kuping

Genitalia (laki-laki)

Total

19

Total

17

10

Score

= maturitas neuromuskular + maturitas fisik


= 19+17 = 36 poin = 38 minggu

Kesan : maturitas bayi aterm 38 minggu

2. Lingkar Kepala (Kurva Nellhaus)

Lingkar kepala bayi lahir : 34 cm


Lingkar kepala bayi usia 1 hari: 34 cm
Kesan: Mesosefali
Bell Squash Score
o Partus tindakan (SC, letak lintang)
o Ketuban tidak normal
o Kelainan bawaan
o Asfiksia
o Preterm
o BBLR
o Infus tali pusat
o Riwayat penyakit ibu
o Riwayat penyakit kehamilan
Kriteria < 4 Observasi neonatal infeksi
4 Neonatal infeksi
Hasil 3 : termasuk observasi neonatal infeksi
11

3. Downe Score

Hasil : 3 termasuk gangguan pernapasan ringan

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan selama pasien dirawat di RSU Kardinah
Tegal:
Tanggal 31-03-2016 (hari ke 1)
Laboratorium Darah
Pemeriksaan
Hasil
DARAH LENGKAP
Leukosit
9,9/uL
Eritrosit
4,4 jt/uL
Hemoglobin
15,3 g/dL
Hematokrit
43,2 %
RDW
15,4 %
MCV
98,6 U
MCH
34,0 Pcg
MCHC
35g/dL
Trombosit
91.000/Ul
KIMIA KLINIK
GDS
144mg/dL
SERO IMUNOLOGI

Nilai Normal
13.000 38.000/uL
4,3 6,3 jt/uL
15,2 23,6 g/dL
44 72 %
11,5 14,5 %
98 122 U
33 41 Pcg
31 35 g/dL
229.000 353.000 /uL
70 160 mg/dL

12

CRP

Negatif

Negatif

Tanggal 02-04-2016 (hari ke 3)


Laboratorium Darah
Pemeriksaan
Kimia Klinik
Bilirubin total
Bilirubin

Hasil

Nilai Normal

7,95mg/dl
0,40 mg/dl

3,4 11,5
0-0,25

direk
Tanggal 03-04-2016 (hari ke 4)
Laboratorium Darah
Pemeriksaan
KIMIA KLINIK
Protein total
Albumin
Globulin
SERO IMUNOLOGI
CRP

Hasil

Nilai Normal

4,51 g/dl
3,01g/dl
1,44 g/dl

4,4-7,6
3,80-5,40
2,30-5,60

POS 96

NEGATIF

Tanggal 07-04-2016 (hari ke 8)


Laboratorium Darah
Pemeriksaan
KIMIA KLINIK
Protein total
Albumin
Globulin

Hasil

Nilai Normal

4,35 g/dl
2,77g/dl
1,58g/dl

4,4-7,6
3,80-5,40
2,30-5,60

Tanggal : 01-04-2016
Pemeriksaan Radiology : Babygram

13

Thorax : Apeks tenang


Corakan bronkovaskular normal
Cor CTR < 0,56
Kesan : Cor dan pulmo normal

Tanggal :06-04-16
Pemeriksaan Radiologi : Head Ct-Scan

Jendela tulang : Calvaria intak


Tak tampak lesi hypoden/hyperden
Dengan giry/sulcy dangkal
System vertical sempit&fissure silvii sempit
Struktur mediana tak deviasi
Kesan : Edema serebri
14

F. DAFTAR MASALAH
Distress Respirasi
Observasi infeksi
Hiperbilirubinemia
Trombositopeni
Hemodilusi

G. DIAGNOSIS BANDING

Distress Respirasi

Observasi infeksi
neonatal
Obs. Kejang

Neonatus Aterm

Pulmoner
Non Kardiopulmoner
Kardiovaskuler
Durante partum
Post partum
Antepartum
Gang. Metabolik
Infeksi
Perdarahan intracranial (APC)
Hipoksik Iskemik Ensefalopati
SMK(Sesuai Masa Kehamilan)
BMK(Besar Masa Kehamilan )
KMK(Kecil Masa Kehamilan)

H. DIAGNOSIS KERJA
Distress Respirasi
Observasi neonatal infeksi
Obsevasi kejang

Neonatus aterm sesuai masa kehamilan

I. PENATALAKSANAAN
a. Non medikamentosa
Rawat intensif, monitor tanda vital.
15

Hangatkan bayi.
Oksigenasi, pasang O2 CPAP PEEP 7, Fio2 40 %.
Pasang OGT
Edukasi keluarga pasien mengenai penyakit, terapi dan komplikasi yang

mungkin.
b. Medikamentosa

IVFD d10% 13 tpm


Inj. Pycin 2 x 500/3 mg
Inj. Aminophilin 2x6 mg
Inj. Ca Gluconas 1x 0,3 ml

J. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : Dubia ad bonam


Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

K. PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan darah rutin ulang
Pemeriksaan bilirubin ulang
Pemeriksaan elektrolit
Pemeriksaan EEG
Pemeriksaan Denver Developmental Scoring Test secara berkala
L. NASEHAT

Jaga kehangatan bayi, pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan

Ibu harus selalu membersihkan puting susu sebelum maupun sesudah menyusui.
Jika ibu menggunakan botol susu, pastikan botol susu dalam keadaan bersih dan
harus selalu dicuci serta direbus sebelum digunakan.

Setelah menyusui sendawakan bayi dengan cara meletakkan bayi tegak lurus di
pundak dan tepuk punggungnya perlahan-lahan sampai mengeluarkan suara.

16

Menjelaskan kepada ibu pasien untuk selalu mencuci tangan sehabis


membersihkan tinja anak.

Pantau pertumbuhan dan perkembangan anak dengan cara kontrol untuk tahu
gejala sisa

Ibu harus memeriksakan ke dokter secepat mungkin jika bayinya :


Mempunyai masalah bernafas
Menangis (lebih sering atau berbeda dari biasanya), merintih, atau mengerang
kesakitan, tampak berwarna kebiruan (sianotik), suhu tubuh 38C
Muntah atau buang air besar berlebihan (>3x/hari)
Mengeluarkan darah (walaupun sedikit) pada air kencing maupun beraknya
Mengalami gemetar pada kaki dan tangan, kejang

Lakukan pemeriksaan kesehatan bayi secara rutin ke pusat pelayanan kesehatan


terdekat untuk memeriksa perkembangan dan pertumbuhan badan serta
pemberian imunisasi dasar pada bayi

Hindari asap rokok di sekitar bayi karena paru-paru bayi masih sangat rentan
terhadap infeksi pernapasan

L.

PERJALANAN PENYAKIT
31Maret 2016
Hari perawatan ke-0
Pasien pindahan dari ruangan mawar ,
Menangis < kuat,retraksi (+), merintih
(+), demam (-), kejang (-), sesak (-),
Bab (-), Bak (-), Pucat (-), R.hisap (+),
Asi (+).
KU: Menangis kurang kuat, gerak
kurang aktif, retraksi (+) subcostal

TTV:

KU: Menangis kurang kuat, gerak


aktif, retraksi (<) subcostal, ikterik (-),
pucat (-), sianosis (-), kejang (-).
Menangis (+), sesak (+),merintih (+)

HR 155x/m, RR 64x/m, S 36,0oC

TTV:

BB 3,1kg

HR 140x/m, RR 52x/m, S 3,6oC, SpO2


98%

Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

UUB

datar,

01-04 April 2016


Hari perawatan ke-1
Demam(-), kejang(-), sesak(+),
BAB(+), BAK(+), pucat(+),
sianosis(-), ikterik(-), ASI(+), refleks
hisap(+)

17

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

BB 3100 gr

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-),


BJ I-II reguler, m (-), g (-)

Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

Abdomen: Supel, BU (+)

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ


I-II reguler, m (-), g (-)

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)

UUB

datar,

Abdomen: Supel, BU (+)


Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)
Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)
Kebutuhan cairan: 3,1 x 80 = 248
cc/hari
Keb. Na : 32,25 cc/kgBB/24 jam
Keb. K : 8,06 cc/kgBB/24 jam
A

Neonatus aterm dengan distress


respirasi

Neonatus aterm dengan distress


respirasi, TTN.

O2 CPAP-PEEP 6 FiO2 30%


IVFD d10% 13 tpm
Inj. Pycin 2 x 500/3 mg
Inj. Aminophilin 2x6 mg
Inj. Ca glukonas 1 x 0,3 ml IV

O2 CPAP nasal , peep 6, Fio2 21 %


IVFD d10% 13 tpm
Inj. Pycin 2 x 500/3 mg
Inj. Aminophilin 2x6 mg
Inj. Ca glukonas 1 x 0,3 ml IV
Diet ASI 8 x 10-20 ml (oral/sonde)

2 April 2016
Hari perawatan ke- 2
Demam(-), kejang(-), sesak(+),
menangis (+), BAB(+), BAK(+),
pucat(-), sianosis(-), ikterik(-), ASI(+),
refleks hisap(+)
KU: Menangis (+) kurang kuat, sesak
(+) gerak kurang aktif, retraksi (-)

4 April 2016
Hari perawatan ke- 4
Demam(-), kejang(+) jam 10, sesak(+),
menangis (+), BAB(+), BAK(+),
pucat(-), sianosis(-), ikterik(-), ASI(+),
refleks hisap(+)
KU: Menangis kurang kuat, gerak

18

HR 168x/m, RR 48x/m, S 37,2o C,


SpO2 97%

kurang aktif, retraksi (-)


TTV:

BB 3100 gr
Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

UUB

HR 177x/m, RR 54x/m, S 38.2o C,


SpO2 96%

datar,

BB 3000 gr

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-),


BJ I-II reguler, m (-), g (-)

UUB

datar,

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Abdomen: Supel, BU (+)


Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ


I-II reguler, m (-), g (-)

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)

Abdomen: Supel, BU (+)

Keb. cairan: 3,1 x 90 = 279cc/hari


Keb. Na : 28,6 mEq/hari
Keb. K : 7,1 mEq/hari

Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)


Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)
Kebutuhan cairan: 3 x 110 = 360
cc/hari
Keb. Na = 16,7 mEq/hari
Keb. K = 4,16 mEq/hari
GDS : 85 mg/dl
Extra sisital 30
Kejang jam 10:00 ( dalam waktu <5
menit)
Lab : albumin 3,07. Globulin 1,49.
CRP :pos 96
Ca : 1,3
Na : 139,6
Cl : 4,03

Distress Respirasi dd/ TTN


Neonatus aterm

Distress Respirasi dd/ TTN


Neonatus aterm
Observasi kejang

O2 CPAP nasal , peep 6, Fio2 21 %

O2 CPAP nasal , peep 6, Fio2 25 %


19

IVFD d10% 13 tpm


Inj. Pycin 2 x 500/3 mg

IVFD KAEN 1B 10 tpm

Inj. Aminophilin 2x6 mg

Inj. Pycin 2 x 500/3 mg

Inj. Ca glukonas 1 x 0,3 ml IV


Diet ASI 8 x 10-20 ml (oral/sonde)

Inj. Aminophilin 2x6 mg


Gentamicin 2x7,5
Inj. Ca glukonas 1 x 0,3 ml
I.V Phenobarbital &vit b6 2 x 1tab
Diet ASI 8 x 10-20 ml (oral/sonde)
Koreksi albumin 6,5 cc(+) 20%

5 April 2016
Hari perawatan ke- 5
Demam(+), kejang(+), sesak(+),
BAB(+), BAK(+), pucat(+),
sianosis(-), ikterik(-), ASI(+),
refleks hisap(-) menangis kuat (+)
KU: Menangis kurang kuat, gerak
kurang aktif, retraksi (-)

6 April 2016
Hari perawatan ke- 6
Demam(+), kejang(-), sesak(+),
menangis (+), BAB(+), BAK(+),
pucat(-), sianosis(-), ikterik(-), ASI(+),
refleks hisap(+)
KU: Menangis kurang kuat, gerak kurang
aktif, retraksi (-) ,sesak (+)

TTV:

TTV:

HR 184-160 x/m, RR 36x/m, S


38.9oC, SpO2 93%

HR 138 x/m, RR 50x/m, S 37.9 o C, SpO2


96%

BB 3000 gr

BB 3040 gr

Kepala: Mesosefali, UUB datar,


tegang(-), molase(-)

Kepala:
Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ

UUB

datar,

20

(-/-), BJ I-II reguler, m (-), g (+)

I-II reguler, m (-), g (-)

Abdomen: Tampak buncit, BU (+)


distensi (+)

Abdomen: Supel, BU (+)


Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE


(-/-)

Keb.cairan: 3,0 x 130 = 396 cc/hari


Keb. Na = 15,38 mEq/hari
Keb. K = 3,85 mEq/hari

Keb.cairan: 3,1 x 120 = 384 cc/hari


Keb. Na = 16,00 mEq/hari
Keb. K = 4,16 mEq/hari
Obs. Kejang
Distress Respirasi
Infeksi neonates
Hipoalbumin

Obs. Kejang
Distress Respirasi
Infeksi neonates

O2 CPAP nasal , peep 6, Fio2 21 %

O2 CPAP nasal (+), peep 6, Fio2 21 %


IVFD KAEN 1B 10 tpm
Inj. Meropenam 2 x 500/3 mg (ke 2).
Phenobarbital & vit b6 2 x 1tab
Gentamisin 2x6
Diet ASI/PASI 8 x 10-20 ml (oral/sonde)

IVFD KAEN 1B 10 tpm


Aminophilin STOP
Pycin STOP
Inj. Meropenam 2 x 500/3 mg (ke
1).
Phenobarbital & vit b6 2 x 1tab
Gentamisin 2x6
Diet ASI/PASI 8 x 10-20 ml
(oral/sonde)

Ct- scan kepala :

CT-scan kepala : Edema serebri

Rencana CT-SCAN kepala


Extrasanmol 13:30 wib : suhu
menurun 36,6 derajat celcius
Koreksi albumin 6,5 cc(20%)
selesai jam 17:30

07 April 2016
Hari perawatan ke-7
Demam(+), kejang(-), sesak(+),
menangis (+), BAB(+), BAK(+),
pucat(-), sianosis(-), ikterik(-), ASI(+),

08 April 2016
Hari perawatan ke-8
Demam(-), kejang(-), sesak(+),
menangis (+), BAB(+), BAK(+),
pucat(-), sianosis(-), ikterik(-), ASI(+),
21

refleks hisap(+)
KU: Menangis kurang kuat, gerak
kurang aktif, retraksi (+) ,sesak (+)
TTV:

TTV:

HR 161x/m, RR 54x/m, S 36.8 o C,


SpO2 98%

HR 142x/m, RR 40x/m, S 36.2o C,


SpO2 96%

BB 3100 gr

BB 2900 gr

Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

refleks hisap(+)
KU: Menangis kurang kuat, gerak
kurang aktif, retraksi (+) ,sesak (+)

UUB

datar,

Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

UUB

datar,

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-),


BJ I-II reguler, m (-), g (-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ


I-II reguler, m (-), g (-)

Abdomen: Supel, BU (+)

Abdomen: Supel, BU (+)

Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)

Keb.cairan: 3,1 x 140 = 434 cc/hari


Keb. Na = 14,28 mEq/hari
Keb. K = 3,57 mEq/hari

Keb.cairan: 2,9 x 150 = 465 cc/hari


Keb. Na = 35,96 mEq/hari
Keb. K = 8,99 mEq/hari

Ct- scan kepala :


Obs. Kejang
Distress Respirasi
Infeksi neonates
O2 CPAP nasal (+), peep 6, Fio2 21%
IVFD KAEN 1B 10 tpm
Gentamicin 6
Inj. Meropenam 2 x 500/3 mg (ke 3).
Gentamicin 6
Inj. Meropenam 2 x 500/3 mg (ke 3).
Inj. Calsium Gluconas 10 cc/jam
Phenobarbital & vit b6 2 x 1tab
Diet ASI/PASI 8 x 10-20 ml
(oral/sonde)

Obs. Kejang
Distress Respirasi
Infeksi neonates

O2 CPAP nasal (+), peep 7, Fio2 21%


IVFD KAEN 1B 10 tpm
Inj. Meropenam 2 x 500/3 mg (ke 4).
Gentamicin 6
Inj. Calsium Gluconas 10 cc/jam
Phenobarbital & vit b6 2 x 1tab
Diet ASI/PASI 8 x 10-20 ml
(oral/sonde)
Program :
- Pengawasan KU dan TTV
- Koreksi Albumin 5 cc (20%) jam
15:30 WIB.
22

09 April 2016
Hari perawatan ke-9
Demam(-), kejang(-), sesak(),
BAB(+), BAK(+), pucat(-), sianosis(-),
ikterik(-), ASI(+), refleks hisap(+)
KU: Menangis kuat, ikterik (-),
sianosis (-), retraksi (<), sianosis (-),
gerak lebih aktif.

11 April 2016
Hari perawatan ke-11
Demam(-), kejang(-), sesak(),
BAB(+), BAK(+), pucat(-), sianosis(-),
ikterik(-), ASI(+), refleks hisap(+)
KU: Menangis kuat, ikterik (-), sianosis
(-), retraksi (-), sianosis (-), gerak lebih
aktif aktif.

TTV:

TTV:

HR 128x/m, RR 34x/m, S 36.6oC,


SpO2 97%, o2 low flow

HR 131x/m, RR 31x/m, S 36.2oC, SpO2


98%, o2 low flow

BB 2980 gr

BB 2980 gr

Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

UUB

datar,

Kepala: Mesosefali,
tegang(-), molase(-)

UUB

datar,

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Mata: CA (-/-), SI (-/-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-),


BJ I-II reguler, m (-), g (-)

Toraks: SNV (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ


I-II reguler, m (-), g (-)

Abdomen: Supel, BU (+)

Abdomen: Supel, BU (+)

Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas atas: AD (-/-), OE (-/-)

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)


Keb.cairan:2,9 x 140 = 434 cc/hari
Keb. Na = 14,28 mEq/hari
Keb. K = 3,57 mEq/hari

Ekstremitas bawah: AD (-/-), OE (-/-)


Keb.cairan:2,9 x 140 = 434 cc/hari
Keb. Na = 14,28 mEq/hari
Keb. K = 3,57 mEq/hari

Obs. Kejang
Distress Respirasi
Infeksi neonates

Obs. Kejang
Distress Respirasi
Infeksi neonates

Infuse KAEN 1B

Infuse KAEN 1B

Inj. Meropenam 2 x 500/3 mg (hari ke 4 )

Inj. Meropenam 2 x 500/3 mg (hari ke 4 )

Inj Getantamicin 6

Inj Getantamicin STOP

Inj. Sanblepek 1x0,3


Diet ASI/PASI 8 x 10-20 ml (oral/sonde)

Inj. Sanblepek 1x0,3


Diet ASI/PASI 8 x 10-20 ml (oral/sonde)
Acc pulang

23

BAB II
ANALISIS KASUS
Diagnosa pada pasien ini adalah Distress respirasi, Observasi Neonatal Infeksi,
Observasi kejang, Neonatus aterm Sesuai masa kehamilan. Diagnosa ini berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang.
24

Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis kepada ibu pasien, dan perawat di
Ruang
Dari anamnesis didapatkan bahwa ibu pasien rutin melakukan pemeriksaan antenatal, dan
terdapat riwayat pwnyakit asma. Ibu juga mengatakan sempat sakit batuk selama
seminggu namun tidak ada demam.
Namun, saat proses persalinan, dapat dianalisa bahwa letak janin lintang,
kemudian dilakukan operasi sectio caesarea pada ibu. Tidak terdapat rasa mules, perut
kencang, dan tidak ada air maupun darah yang keluar dari kemaluan sebelumnya. lahir
bayi laki-laki secara sectio caesarea, bayi menangis kuat, tidak biru, dengan AS 8, BBL
3100 gram, PB 48 cm. Air ketuban jernih. Placenta dikeluarkan (ekspulsi) dengan
kotiledon lengkap, tidak terdapat infark dan hematom.
Pasien kemudian langsung dibawa ke ruang mawar, tidak tampak sesak nafas dan
pasien dipindahkan ke ruang dahlia. Dipasang O2 sungkup 5 L/m pada pasien. 1 jam
kemudian, 2 jam kemudian , ibu pasien mengatakan bayinya tampak sesak napas dan
tangisannya merintih dan semakin tidak kuat, gerakannya semakin tidak aktif. Pasien .
Dari data ini dapat disimpulkan bahwa dengan nilai Apgar score 6-7-7 bahwa
pasien pernah mengalami asfiksia ringan dan berhasil untuk di perbaiki keadaan
umumnya, lalu setelah 2 jam di ruangan pasien mengalami distress respirasi sesuai
dengan Downe skor.
Pemeriksaan Fisis
Pada pemeriksaan fisik, KU : gerak kurang aktif, tangisan kurang kuat, tampak
sesak nafas (+), tidak terdapat napas cuping hidung tetapi terdapat retraksi subcostal.
Tanda vital, status generalis kepala, mata, jantung, abdomen, genitalia, ekstremitas, dan
kulit dalam batas normal.
Menangis kurang kuat dan gerak kurang aktif menunjukkan respirasi yang tidak
adekuat. Adanya retraksi menunjukkan penggunaan otot napas tambahan yaitu
menandakan adanya sesak.
25

Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaan khusus pada pasien ini antara lain pemeriksaan dengan
menggunakan kurva Lubchenko, Downe score, Ballard score dan Bell Squash Score.
Didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Neonatus aterm sesuai masa kehamilan. Pada kurva Lubchenko, pasien ini termasuk
kategori sesuai masa kehamilan dengan berat badan lahir 3100 gram dan masa
kehamilan 39 minggu.
2. Didapatkan Downe score pada pasien ini adalah 3 termasuk gangguan pernapasan
ringan
3. Observasi Neonatal infeksi. Faktor risiko neonatal infeksi dinilai dari Bell Squash
score, ditemukan adanya: Partus tindakan (SC, letak lintang), riwayat penyakit ibu,
Riwayat penyakit kehamilan ( Hasil 3 : termasuk observasi neonatal infeksi) dan
karena pada pasien ini terdapat keluhan malas minum, gangguan pernapasan, kurang
aktif, tangisan kurang kuat dan dilakukan tindakan seperti pemasangan infus,
pengambilan darah dan injeksi.

26

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1.RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME


Definisi
Adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan
tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang
menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik.
Tanda-tanda klinik sesuai dengan besarnya bayi, berat penyakit, adanya infeksi dan ada
tidaknya shunting darah melalui PDA (Stark 1986).1
Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak
nafas berat (dyspnea ), frekuensi nafas meningkat (tachypnea ), sianosis yang menetap
dengan terapi oksigen, penurunan daya pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat
alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular,
perdarahan, edema paru, dan adanya hyaline membran pada saat otopsi.1
27

Sindrom gawat napas (RDS) (juga dikenal sebagai idiopathic respiratory distress
syndrome) adalah sekumpulan temuan klinis, radiologis, dan histologis yang terjadi
terutama akibat ketidakmaturan paru dengan unit pernapasan yang kecil dan sulit
mengembang dan tidak menyisakan udara diantara usaha napas. Istilah-istilah Hyaline
Membrane Disease (HMD) sering kali digunakan saling bertukar dengan RDS (Bobak,
2005).
Respiratory

Distress

Syndrome

adalah

penyakit

yang

disebabkan

oleh

ketidakmaturan dari sel tipe II dan ketidakmampuan sel tersebut untuk menghasilkan
surfaktan yang memadai. (Dot Stables, 2005).1
Etiologi
RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena kurangnya produksi
surfaktan. Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda
usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS. Ada 4 faktor penting
penyebab defisiensi surfaktan pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal
diabetes, seksual sesaria. Surfaktan biasanya didapatkan pada paru yang matur. Fungsi
surfaktan untuk menjaga agar kantong alveoli tetap berkembang dan berisi udara,
sehingga pada bayi prematur dimana surfaktan masih belum berkembang menyebabkan
daya berkembang paru kurang dan bayi akan mengalami sesak nafas. Gejala tersebut
biasanya muncul segera setelah bayi lahir dan akan bertambah berat.1,2
RDS merupakan penyebab utama kematian bayi prematur. Sindrom ini dapat terjadi
karena ada kelainan di dalam atau diluar paru, sehingga tindakan disesuaikan dengan
penyebab sindrom ini. Kelainan dalam paru yang menunjukan sindrom ini adalah
pneumothoraks/pneumomediastinum, penyakit membran hialin (PMH).2
Patofisiologi
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan
oleh alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang
sempurna kerana dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna.
Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi
kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan
paru (compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting

28

intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan


asidosis respiratorik.2
Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein ,
lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli
tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan
berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan
pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang
luas dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti
dinding alveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II.
Dilatasi duktus alveoli, tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan
ini. 2
Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan
keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan
pernafasan bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari
darah. Membran hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah
lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah
lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami
sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering
berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).2

Pencegahan RDS
Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi
resiko tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio
sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat
terhadap kehamilan dan kelahiran bayi resiko tinggi.2
Tindakan yang efektif utntuk mencegah RDS adalah:
1
2
3
4
5
6

Mencegah kelahiran < bulan (premature).


Mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis.
Management yang tepat.
Pengendalian kadar gula darah ibu hamil yang memiliki riwayat DM.
Optimalisasi kesehatan ibu hamil.
Kortikosteroid pada kehamilan kurang bulan yang mengancam.
29

Obat-obat tocolysis (-agonist : terbutalin, salbutamol)


relaksasi uterus
Contoh : Salbutamol (ex: Ventolin Obstetric injection) 5mg/5 ml (utk asma: 5
mg/ml)
Untuk relaksasi uterus : 5 mg salbutamol dilarutkan dalam infus 500 ml

dekstrose/NaCl diberikan i.v (infus) dgn kecepatan 10 50 g/menit dgn


monitoring cardial effect. Jika detak jantung ibu > 140/menit kecepatan
9
10
11
12

diturunkan atau obat dihentikan


Steroid (betametason 12 mg sehari untuk 2x pemberian,
deksametason 5 mg setiap 12 jam untuk 4 x pemberian
Cek kematangan paru (lewat cairan amniotik pengukuran
rasio lesitin/spingomielin : > 2 dinyatakan mature lung function)

Manifestasi Klinis
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh
tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat
gejala klinis yang ditujukan.2
Manifestasi dari RDS disebabkan adanya atelektasis alveoli, edema, dan kerosakan
sel dan selanjutnya menyebabkan kebocoran serum protein ke dalam alveoli sehingga
menghambat fungsi surfaktan. Gejala klinikal yang timbul yaitu : adanya sesak nafas
pada bayi prematur segera setelah lahir, yang ditandai dengan takipnea (> 60 x/minit),
pernafasan cuping hidung, grunting, retraksi dinding dada, dan sianosis, dan gejala
menetap dalam 48-96 jam pertama setelah lahir. Berdasarkan foto thorak, menurut
kriteria Bomsel ada 4 stadium RDS yaitu :pertama, terdapat sedikit bercak
retikulogranular dan sedikit bronchogram udara, kedua, bercak retikulogranular homogen
pada kedua lapangan paru dan gambaran airbronchogram udara terlihat lebih jelas dan
meluas sampai ke perifer menutupi bayangan jantung dengan penurunan aerasi paru.
ketiga,alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat lebih opaque
dan bayangan jantung hampir tak terlihat, bronchogram udara lebih luas. keempat,
seluruh thorax sangat opaque ( white lung ) sehingga jantung tak dapat dilihat. 2

30

Evaluasi Respiratory Distress Skor Downe :

Frekuensi

0
<

1
60-80 x/menit

2
>80x/menit

Nafas
Retraksi

60x/menit
Tidak ada

Retraksi ringan

Retraksi

Sianosis

retraksi
Tidak

Sianosis hilang dengan

berat
Sianosis

sianosis

O2

menetap
walaupun
diberi O2

Air Entry

Udara

Penurunan ringan udara

Merintih

masuk
Tidak

masuk
Dapat didengar dengan

Dapat

merintih

stetoskop

didengar
tanpa

alat

bantu
Evaluasi Respiratory Distress Skor Downe
Skor < 4
Skor 4 5
Skor > 6

gangguan pernafasan ringan


gangguan pernafasan sedang
gangguan pernafasan ringan (pemeriksaan gas darah
harus dilakukan)

Penunjang / Diagnostik
Laboratory Evaluation for Respiratory Distress in the Newborn
Test
Blood culture

Indication
May indicate bacteremia Not helpful initially because results may

Blood gas

take 48 hours
Used to assess degree of hypoxemia if arterial sampling, or
acid/base status if capillary sampling (capillary sample usually

Blood glucose
Chest radiography

used unless high oxygen requirement)


Hypoglycemia can cause or aggravate tachypnea
Used to differentiate various types of respiratory distress
31

Complete

blood

count

Leukocytosis or bandemia indicates stress or infection

with

differential

Lumbar puncture
Pulse oximetry

Neutropenia correlates with bacterial infection


Low hemoglobin level shows anemia
High hemoglobin level occurs in polycythemia
Low platelet level occurs in sepsis
If meningitis is suspected
Used to detect hypoxia and need for oxygen supplementation

Penatalaksanaan
Menurut Suriadi dan Yuliani (2001) dan Surasmi,dkk (2003) tindakan untuk
mengatasi masalah kegawatan pernafasan meliputi :2
1) Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
2) Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3) Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4) Mempertahankan perfusi jaringan adekuat.
5) Mencegah hipotermia.
6) Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.
enatalaksanaan secara umum :
a.

Pasang jalur infus intravena, sesuai dengan kondisi bayi, yang paling sering dan bila bayi
tidak dalam keadaan dehidrasi berikan infus dektrosa 5 %
Pantau selalu tanda vital
Jaga kepatenan jalan nafas
Berikan Oksigen (2-3 liter/menit dengan kateter nasal)
b. Jika bayi mengalami apneu
Lakukan tindakan resusitasi sesuai tahap yang diperlukan
Lakukan penilaian lanjut
c. Bila terjadi kejang potong kejang
d. Segera periksa kadar gula darah
e. Pemberian nutrisi adekuat

32

Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan


kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Menajemen spesifik atau
menajemen lanjut:
Gangguan nafas ringan
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan napas ringan pada waktu
lahir tanpa gejala-gejala lain disebut Transient Tacypnea of the Newborn (TTN).
Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi tersebut akan membaik dan
sembuh sendiri tanpa pengobatan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus. Gangguan
napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi sistemik.
Gangguan nafas sedang
Lakukan pemberian O2 2-3 liter/ menit dengan kateter nasal, bila masih sesak
dapat diberikan o2 4-5 liter/menit dengan sungkup. Bayi jangan diberi minum.2
Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi
kemungkinan besar sepsis.
o Suhu aksiler <> 39C
o Air ketuban bercampur mekonium
o Riwayat infeksi intrauterin, demam curiga infeksi berat atau ketuban pecah dini (> 18
jam)
Bila suhu aksiler 34- 36,5 C atau 37,5-39C. tangani untuk masalah suhu abnormal dan
nilai ulang setelah 2 jam:
Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan, berikan
antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis
Jika suhu normal, teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan
tersebut diatas.
Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2 jam
Apabila bayi tidak menunjukan perbaikan atau tanda-tanda perburukan setelah 2 jam,
terapi untuk kemungkinan besar sepsis

33

Bila bayi mulai menunjukan tanda-tanda perbaikan kurangai terapi o2secara bertahap .
Pasang pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat menyusu, berikan
ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum
Amati bayi selama 24 jam setelah pemberian antibiotik dihentikan. Bila bayi kembali
tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minumbaik dan tak ada alasan
bayi tatap tinggal di Rumah Sakit bayi dapat dipulangkan.

Gangguan nafas berat


Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya.
Bila dalam pengamatan ganguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya.
Terapi untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan dan
segera dirujuk di rumah sakit rujukan.
Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak berikan ASI peras dengan
menggunakan salah satu cara alternatif pemberian minuman.
Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. Hentikan
pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:
Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran
paru
Fenobarbital
Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. (cusson,1992)
Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan
RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya manusia,
didapat dari cairan amnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan ).
34

KEJANG PADA NEONATUS


Definisi
Kejang didefinikan secara klinis sebagai perubahan paroksismal dari fungsi
neurologis seperti fungsi kebiasaan, motorik atau otonom. Neonatal adalah bayi dengan
kelahiran berumur kurang dari 28 hari.3

Epidemiologi
Karena sampai sekarang sangat sulit untuk mempelajari dan mengenal secxara
pasti bangkitan kejang pada neonatus, insidensi dan prevalensi yang pasti sampai
sekarang belum diketahui. Sulitnya mempelajari hal tersebut dikarenakan banyak
kejadian kejang pada neonatus yang tidak disertai manifestasi klinis yang jelas. Meskipun
demikian, menurut buku neonatologi IDAI, perkiraan angka kejadian di Amerika Serikat
berkisar antara 0.8-1.2 setiap 1000 neonatus setiap tahun, sedang pada literatur lain
menyebutkan 1-5% bayi pada bulan pertama mengalami kejang. Insidensi meningkat
kelahiran bayi kurang bulan sebesar 57.5-132 dibanding bayi cukup bulan sebesar 0.7-2.7
setiap 1000 kelahiran hidup. Pada kepustakaan lain menyebutkan insidensi 20% pada
bayi kurang bulan dan 1.4% pada bayi cukup bulan. Sekitar 70-80% neonatus secara
klinis tidak tampak kejang, namun pada elektrografik tampak gambaran masih kejang.3
Menurut data data dari Queensland Maternity and Neonatal clinical guideline,
kejang sangat sering terjadi dengan perkiraan 70% dari bayi kurang bulan dengan
pendarahan intraventriikular atau leukomalasia periventricular. Kejang biasanya dikenali
lebih sering dengan penggunaan monitor EEG berkelanjutan.4

2.3 Etiologi
Ada banyak penyebab kejang pada neonatus, menurut buku IDAI dan Averys
neonatology, ada beberapa penyebab utama kejang neonatus, yaitu :

35

PENYEBAB
Ensefalopati

KETERANGAN
Penyebab paling sering pada bayi cukup bulan (40-60%) dan

merupakan penyebab utama dari perkembangan bayi yang buruk


Biasanya timbul dalam 24 jam
Sulit dikontrol dengan medikamentosa
Pendarahan intraventrikular
Pendarahan intracerebral
Pendarahan subdural
Pendarahan subarachnoid
Meningitis bakteri
Meningitis virus
Encephalitis
Intrauterine (TORCH) infections
Bakteri patogen yang paling sering dari streptokokus grup B,

escherichia coli, listeria, staphyloccocus


Oklusi arteri atau thrombosis vena dapat menyebabkan stroke
Insidensi 1 per 4000
Hipoglikemia
Hipokalsemia
Hipomagnesaemia
Hipo/hipernatremia
Ketergantungan pyridoxine
Merupakan penyebab yang jarang ditemukan, namun tetap

iskemik hipoksik

Pendarahan
intrakranial
Infeksi SSP

Stroke perinatal
Metabolik

Kelainan
metabolik bawaan

membutuhkan perhatian khusus untuk menemukan penyebab


yang dapat di tangani

Putus obat ibu


Kelainan
otak
kongenital
Kejang neonatus
familial jinak
Kejang
hari
kelima

Anomali kromosom
Anomali otak kongenital
Kelainan neuro-degeneratif
Biasanya timbul sebagai kejang tonik atau klonik pada hari ke 2

atau ke 3
Dengan nama lain kejang neonatus jinak idiopatik
Biasanya hilang pada hari ke 15, penyebab tidak diketahui

A. Ensefalopati iskemik hipoksik

36

Dapat terjadi pada bayi cukup bulan maupun bayi kurang bulan, terutama yang
terlahir dengan asfiksia. Bentuk kejang subtel atau multifokal klonik serta fokal klonik.
Kasus iskemik hipoksik disertai kejang, 20% akan mengalami infark serebral.
Manifestasi klinis ensefalopati hipoksik-iskemik dapat dibagi dalam 3 stadium : ringan,
sedang, berat yang dimana kejang dapat timbul pada tingkat sedang dan berat.
B.

Perdarahan intrakranial
Penyebab kejang utama dan tersering pada bayi preterm. Perdarahan intra kranial

seringkali sulit disebut sebagai penyebab tunggal kejang. Biasanya berhubungan dengan
penyebab lain, yaitu :
1. Perdarahan sub arakhnoid
Perdarahan yang sering dijumpai pada neonatus, terutama sebagai akibat dari
proses partus yang lama. Awalnya bayi terlihat baik, namun tiba-tiba timbul
kejang pada hari pertama dan kedua. Pungsi lumbal merupakan indikasi
absolut untuk dilakukan untuk mengetahui adanya darah di dalam cairan
serebrospinal. Biasanya bayi ditemukan tampak sakit berat pada 1-2 hari
pertama dan timbul tanda-tanda peninggian tekanan intrakranial seperti ubunubun besar yang menonjol dan tegang, muntah memancar, menangis keras
dan kejang-kejang.
2. Perdarahan sub dural
Perdarahan ini biasanya terjadi akibat robekan tentorium dekat falks serebri.
Biasanya bila ada molase berlebihan di letak verteks, letak wajah dan partus
lama. Manifestasi klinik biasanya sama dengan ensefalopati hipoksik-iskemik
ringan sedang. Dapat timbul pernapasan yang tidak teratur apabila terjadi
penekanan pada batang otak disertai penurunan kesadaran, tangisan yang
melengking dan ubun-ubun besar tegang dan menonjol. Mortalitas tinggi, dan
pada bayi yang hidup hidup biasanya terdapat gejala sisa neurologis.
3. Perdarahan periventrikular/intraventrikular
Manifestasi klinis pperdarahan intraventrikuler tergantung pada seberapa
beratnya penyakit dan saat dimulainya perdarahan. Pada bayi yang mengalami
trauma atau asfiksia biasanya timbul pada hari pertama dan kedua. Pada bayi
37

kurang bulan dapat timbul gejala seperti gangguan napas, kejang tonik umum,
pupil terfiksasi kuadriparesis flaksid, deserebrasi dan stupor atau koma yang
dalam. Pada bayi cukup bulan biasanya ditemukan riwayat intrapartum
misalnya trauma, pasca-pemberian cairan hpertonik secara cepat terutama
natrium bikarbonat dan asfiksia. Manifetasi klinis yang timbul biasanya
bervariasi mulai dari asimtomatik sampai gejala yang hebat. Gejala neurologis
yang paling sering ditemui adalah kjang yang bersifat fokal, multifokal atau
umum.

2.4 Patogenesis
Neuron di dalan sistem syaraf pusat mengalami depolarisasi sebagai hasil dari
perpindahan natrium ke arah dalam. Repolarisasi terjadi melalui keluarnya kalium.
Kejang terjadi apabila timbul depolarisasi yang berlebihan, sehingga terbentuk
gelombang listrik yang berlebihan. Volpe (2001) menjelaskan 4 kemungkinan alasan
terjadinya depolarisasi berlebihan1 :

Kegagalan dari pompa natrium kalium dikarenakan terganggunya

produksi energi.
Terjadinya kelebihan relatif dari neurotransmiter eksitatorik melawan

inhibitorik
Adanya kekurangan relatif dari neurotransmiter inhibitorik melawan

eksitatorik
Perubahan dari membran neuron, menyebabkan inhibisi dari pergerakan
natrium.

Perubahan fisiologis pada saat kejang berupa penurunan kadar glukosa otak yang
tajam dibandingkan kadar glukosa darah yang tetap normal atau meningkat disertai
peningkatan laktat. Hal ini merupakan refleksi dari kebutuhan otak yang tidak dapat
dipenuhi secara adekuat. Kebutuhan oksigen dan aliran darah ke otak sangat esensial
untuk mencukup kebutuhan oksigen dan glukosa otak. Laktat terkumpul dan
berakumulasi selama terjadi kejang, sehingga PH arteri menurun dengan cepat. Hal ini
menyebabkan tekanan darah sistemik meningkat dan aliran darah ke otak naik.
38

Terjadinya kejang yang multifokal atau adanya perilaku yang tidak biasa
berhubungan pada kejang pada neonatus, merupakan efek dari mielinasi struktur kortikal
dan subkortikal yang masih sangat minim.
Perkembangan otak anak terjadi sangat cepat dari sejak baru lahir sampai 2 tahun
yang disebut sebagai periode emas dan pembentukan sinaps dan kepadatan dendrit pada
sunsum tulang belakang terjadi sangat aktif pada sekitar kehamilan sampai bulan pertama
setelah kelahiran. Pada saat baru lahir, merupakan periode tertinggi dari aktifitas eksitasi
sinaps fisiologis dan sinaptogenesis yang terjadi pada saat ini sepenuhnya bergantung
pada aktifitas. Selain itu, menurut penelitian, pada periode ini keseimbangan antara
eksitasi dan inhibisi pada sinaps cenderung mengarah pada eksitasi untuk memberi jalan
pada pembentukan sinaps yang bergantung pada aktifitasnya5.
Beberapa mekanisme penting sehubungan dengan terjadinya kejang pada
neonatus adalah :
1. Peningkatan eksitabillitas pada neonatus
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada otak tikus yang diketahui homolog
dengan otak manusia, didapatkan bahwa jumlah neurotransmiter seperti
glutamate, -amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoxazolepropionic acid (AMPA) dan
N-methyl-D-aspartate (NMDA) meningkat tajam pada 2 minggu awal kelahiran
untuk membantu pembentukan sinaps yang bergantung pada aktifitasnya5. Selain
itu, pada periode ini merupakan saat sesnsitifitas terhadap magnesium di titik
terendah. Magnesium merupakan penghalang reseptor endogen alamiah.
Sehingga berdampak pada meningkatnya eksitabilitas otak bayi.
2. Penurunan efektifitas inhibisi neurotansmiter pada otak imatur
Fungsi inhibisi dari reseptor GABA agonis terbentuk dan berkembang secara
perlahan-lahan. Penelitian terhadap tikus menunjukkan, fungsi pengikatan
reseptor GABA, pembentukan enzym dan ekspresi dari reseptor lebih rendah
pada masa-masa awal kehidupan5. Sehingga dengan hubungannya terhadap
aktifitas sel syaraf pada neonatus yang lebih mengakomodasi aktifitas
eksitabilitas, hal ini mendukung terjadinya kejang.
3. Konfigurasi kanal ion lebih mengarah ke depolarisasi pada fase awal kehidupan
39

Regulasi kanal ion juga mengatur eksitabilitas neuron dan seperti reseptor
neurotransmiter, regulasinya terbentuk dan berkembang perlahan-lahan. Seperti
yang terjadi pada mutasi kanal ion K+ (KCNQ2 dan KCNQ3) yang berhubungan
dengan terjadinya kejang neonatus familial jinak, menyebabkan proses
hiperpolarisasi K+ yang berakibat terjadinya penembakan potensial aksi yang
berulang dengan cepat.
4. Peranan neuropeptida dalam terjadinya hipereksitabilitas pada otak imatur
Sistem neuropeptida berfluktuasi secara dinamis pada periode perinatal. Contoh
penting ada pada Corticotropin releasing hormone(CRH), yang memicu
terjadinya potensi eksitasi pada neuron. Jika dbandingkan pada fase kehidupan
selanjutnya, CRH dikeluarkan pada tingkat yang lebih tinggi pada 2 minggu awal
kehidupan, seperti yang terlihat pada tikus5. CRH juga meningkat pada keadaan
stress, yang menjelaskan mengapa pada saat terjadi kejang pada otak yang imatur,
maka akan memicu terjadinya kejadian kejang yang berulang.

2.5 Awitan kejang


Awitan kejang yang terjadi pada kejang demam biasanya dimulai antara 12 hingga
48 jam setelah lahir, bayi jarang mengalami kejang saat berada di ruang bersalim.
Penelitian pada binatang menunjukkan bahwa kejang muncul 3-13 jam setelah terjadi
keadaan hipoksik iskemik dan sesuai dengan yang kita ketahui tentang pelepasan dan
penghancuran glutamat pada saat fase reperfusi sekunder 3. Keadaan yang sama terjadi
pada bayi. Kejang onset lanjut memberi kesan adanya meningitis, kejang familial
benigna atau hipokalsemia

2.6 Diagnosis.
Diagnosis kejang pada neonatus harus dimulai dengan pemeriksaan menyeluruh
terhadap

riwayat

dan

pemeriksaan

fisik.

Data-data

penting

seperti

riwayat

penyalahgunaan narkotika dan pemakaian obat yang salah pada saat kehamilan, infeksi
intrauterus, dan kondisi metabolik harus dicatat dengan baik dan didapat langsung dari
ibu sedetail mungkin.

40

Adapun yang penting dicari melalui anamnesis adalah3 :


Faktor resiko :

Riwayat kejang dalam keluarga


o Riwayat yang menyatakan adanya kejang pada masa neonatus
pada anak sebelumnya atau bayi meninggal pada masa neonatal
tanpa diketahui penyebabnya.
Riwayat kehamilan /prenatal
o Infeksi infeksi yang terjadi pada waktu hamil
o Preeklampsia, gawat janin
o Pemakaian obat golongan narkotika, metadon
o Imunisasi anti tetanus, rubela
Riwayat persalinan
o Asfiksia, episode hipoksik
o Trauma persalinan
o Ketuban Pecah Dini
o Anestesi lokal/blok
Riwayat pascanatal
o Infeksi neonatus, keadaan bayi tiba-tiba memburuk
o Bayi dengan pewarnaan kuning dan timbulnya dini
o Perawatan tali pusat tidak bersih dan kering, infeksi tali pusat
o Faktor pemicu kejang oleh suara bising atau karena prosedur

perawatan
o Waktu atau awitan kejang mungkin terjadi berhubungan dengan
etiologi
o Bentuk gerakan abnormal yang terjadi
Manifestasi klinik
Kejang neonatus bisa timbul dalam beberapa tipe yang mungkin terlihat
bersamaan selama beberapa jam. Kejang diklasifikasikan menurut manifestasi
klinis yang timbul
Tipe kejang
Subtle

Proporsi dari kejang

Tanda klinis

neonatus
o 10-35% tergantung

o Mata-

maturitas4
o Lebih sering pada

deviasi horizontal
o Oral- Mencucu, mengunyah,

bayi cukup bulan

melotot,

mengedip,

menghisap, menjulurkan lidah


41

o Terjadi pada bayi


dengan

gangguan

SSP berat

Klonik

o Ekstremitas- memukul, gerak

o 50%4
o Lebih sering pada
bayi cukup umur

seperti berenang, mengayuh


pedal
o Otonomik- apneu, takikardia,
tekanan darah tidak stabil
o Biasanya dalam keadaan sadar
o Gerak ritmik (1-3/detik)
o Fokus organ lokal atau 1 sisi
wajah atau tubuh. Mungkin
merupakan fokal neuropathy
yang tersembunyi
o Multifokal

Tonik

irregular,

20%4
Lebih sering pada

terpotong-potong
Mungkin meliatkan 1 bagian

bayi preterm

ekstremitas atau seluruh tubuh


Ekstensi
generalisata
dari
bagian tubuh atas dan bawah

Mioklonik

5%

dengan postur opisthotonic


Sentakan
cepat
terisolasi
(membedakan dari mioklonik

neonatus jinak)
Fokal (1 bagian ekstremitas)
atau

multifokal

(beberapa

bagian tubuh)
Ditemukan pada putus obat
(terutama gol. opiat

Harus dibedakan antara kejang dan gejala lain yang menyerupai kejang seperti
fenomena mioklonik fisiologik yang dikenal dengan nama mioklonik jinak pada
neonatus. Yang biasa terjadi pada keadaan tidur aktif (REM). Selain itu fenomena lain
yang penting adalah jitteriness.Jitteriness adalah gangguan dalam pergerakan yang
biasanya dihubungkan dengan hasil yang baik2. Jitteriness jinak biasanya hilang dengan

42

sendirinya dalam beberapa minggu. Adapun perbedaan antara kejang dan jitteriness
adalah :
Tanda
Membutuhkan pemicu
Gerakan predominan
Gerakan hilang jika tubuh
disentuh
Kesadaran

Jitteriness
Ya
Cepat, tremor, berosilasi
Ya
Bangun atau tertidur

Deviasi mata

Tidak

Kejang
Tidak
Tonik, klonik
Tidak
Terganggu (penurunan
kesadaran)
Ya

Pemeriksaan jasmani
Pemeriksaan fisis lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologis,
dilakukan secara sistematik dan berurutan. Kadang pemeriksaan neurologi saat kejang
dalam batas normal, namun demikian bergantung penyakit yang mendasarinya sehingga
neonatus yang mengalami kejang perlu pemeriksaan fisis legkap secara sistematis dan
berurutan :
1. Identifikasi manifestasi kejang yang terjadi, bila mungkin melihat sendiri manifestasi
kejang yang terjadi. Dengan mengetahui bentuk kejang, kemungkinan penyebab
dapat ditemukan
2. Neonatus yang mengalami kejang biasanya tampak sakit. Kesadaran yang tiba-tiba
menurun berlanjut dengan hipoventilasi dan berhentinya pernapasan, kejang tonik,
posisi serebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif dan terdapat kuadriparesis
flaksid, dicurigai terjadinya perdarahan intravetrikular.
3. Pantau perubahan tanda vital dengan melihat tanda seperti sianosis dan kelainan
pada jantung atau pernapasan

sehingga dapat dicurigai kemungkinian adanya

iskemia otak.
4. Pemeriksaan kepala untuk mencari kemungkinan adanya fraktur, depresi atau
moulding yang berlebihan karena hal-hal seperti trauma. Ubun-ubun besar yang
tegang dan menonjol menunjukkan adanya peningkatan tekanan intrakranial yang
disebabkan oleh perdarahan subaraknoid atau subdural serta kemungkinan adanya
meningitis
43

5. Pemeriksaan funduskopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau


subhialoid yang merupakan manifestasi patognomonik untuk hematoma subdural.
Dapat ditemukan korioretinitis pada toksoplasmosis, infeksi sitomegalovirus dan
rubela.
6. Pemeriksaan tali pusat untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda infeksi, berbau
busuk, atau aplikasi dengan bahan tidak steril pada kasus yang dicurigai spasme atau
tetanus neonatorum.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Untuk menentukan prioritas pada pemeriksaan laboratorium, harus digunakan
informasi yang didapatkan dari riwayat dan pemeriksaan jasmani dengan baik untuk

mencari penyebab yang lebih spesifik


Kimia darah
Pemeriksaan kadar glukosa, kalsium, natrium, BUN dan magnesium pada darah serta

analisa gas darah harus dilakukan.


Pemeriksaan darah rutin
Termasuk di dalamnya pemeriksaan hemoglobin, hematokrit, trombosit , leukosit,

hitung jenis leukosit


Kelainan metabolik
Dengan adanya riwayat keluarga kejang neonatus, bau yang khas pada bayi baru
lahir, intoleransi laktosa, asidosis, alkalosis atau kejang yang tidak responsif terhadap

antikonvulsan, harus dicari penyebab-penyebab metabolik yang mungkin.


o Kadar amonia dalam darah harus diperiksa
o Asam amino di plasma darah dan urin. Pada urin sebaiknya diperiksa untuk mencari
substansi reduksi
2. Pemeriksaan radiologis
a. USG kepala dilakukan sebagai pemeriksaan lini pertama untuk mencari adanya
perdarahan intraventrikular atau periventrikular. Perdarahan subarakhnoid atau lesi
kortikal sulit dinilai dengan pemeriksaan ini.
b. CT-scan kranium
Merupakan pemeriksaan dengan hasil mendetail mengenai adanya penyakit
intrakranial. CT scan sangat membantu dalam menentukan bukti-bukti adanya
infark, perdaraham, kalsifikasi dan malformasi serebral.Melalui catatan sebelumnya,
pemeriksaan ini memberikan hasil yang penting pada kasus kejang neonatus,
terutama bila kejang terjadi asimetris.
44

c. MRI
Pemeriksaan paling sensitif untuk mengetahui adanya malformasi subtle yang
kadang tidak terdeteksi dengan CT-scan kranium..
3. Pemeriksaan lain
a. EEG(electroencephalography)
EEG yang dilakukan selama kejang akan memperlhiatkan tanda abnormal. EEG
interiktal mungkin memperlihatkan tanda normal. Pemeriksaan EEG akan jauh lebih
bernilai pabila dilakukan pada 1-2 hari awal terjadinya kejang, untuk mencegah
kehilangan tanda-tanda diagnostik yang penting untuk menentukan prognosis di
masa depan bayi. EEG sangat signifikan dalam menentukan prognosis pada bayi
cukup bulan dengan gejala kejang yang jelas. EEG sangat penting untuk
memeastikan adanya kejang di saat manifestasi klinis yang timbul subtle atau apabila
obat-obatan penenang neuromuscular telah diberikan. Untuk menginterpretasikan
hasil EEG dengan benar, sangatlah penting untuk mengetahui status klinis bayi
(termasuk keadaan tidur) dan obat-obatan yabg diberikan.
The International League Against Epilepsy mempertimbangkan kriteria sebagai
berikut :
o Non epileptikus : berdasarkan gejala klinis kejang semata
o Epileptikus
: Berdasarkan konfirmasi pemeriksaan EEG. Secara klinis

mungkin tidak terlihat kejang, namun dari gambaran EEG masih mengalami kejang.
Kejang elektrografik
Kejang pada neonatus mempunyai tipe dan lokasi onset, morfologi dan perambatan
yang bervariasi. Bayi preterm maupun aterm, keduanya mempunyai kemampuan
menciptakan peristiwa ictal yang sangat bervariasi, lokasi asal kejang yang paling
umum adalah lobus temporal. Beberapa penelitian telah menghitung durasi kejang
pada neonatus. Umumnya digunakan batasan 5 detik, namun Clancy dan Ledigo
menggunakan pembatasan menurut mereka sendiri yaitu 10 detik sebagai durasi
minimal dan definisi ini juga diadopsi oleh Sher dkk.

Disosiasi elektroklinik
Terdapat ketidaksesuaian antara diagnosis klinis dan gambaran EEG, hanya sepertiga
dari kasus yang dipelajari dengan rekaman video yang manifestasi klinis dan
gelombang listriknya sesuai. Pada 349 neonatus yang diteliti oleh Mizrahi,
ditemukan 415 kejang pada 71 neonatus secara klinis, sedangkan 11 neonatus lain
45

ditemukan secra elektrografis walaupun secara klinis tidak kejang. Manifestasi klinis
timbul karena adanya gelombang dari batang otak dan medula spinalis dilepaskan
dan kurangnya inhibisi dari pusat yang lebih tinggi.

2.7 Tata laksana


Manajemen
Tatalaksana kejang pada neonatus bertujuan untuk meminimalisir gangguan fisiologis
dan metabolik serta mencegah berulangnya kejang. Ini melibatkan bantuan ventilasi
dan perfusi, jika dibutuhkan, dan koreksi keadaan hipoglikemia, hipocalcemia atau
gangguan metabolik lainnya.
Kebanyakan bayi diterapi dan dimonitor hanya berdasarkan pada diagnosis klinis saja,
tanpa melibatkan penggunaan EEG. Penggunaan EEG yang kontinyu menunjukkan
bahwa masalah pada kejang elektrografik adalah sering menetapnya kejang walaupun
setelah dimulainya terapi anti konvulsi

NEONATAL INFEKSI
Definisi
infeksi neonates adalah infeksi yang terjadi pada bayi baru lahir ada dua yaitu:
early infection (infeksi dini) dan late infection (infeksi lambat). Disebut infeksi dini
karena infeksi diperoleh dari si ibu saat masih dalam kandungan sementara infeksi lambat
adalah infeksi yang diperoleh dari lingkungan luar, bisa lewat udara atau tertular dari
orang lain

Patofisiologi
Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Blanc membaginya dalam 3
golongan, yaitu :
46

1. Infeksi Antenatal
Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke plasenta. Di sini kuman itu melalui
batas plasenta. Selanjutnya infeksi melalui sirkulasi umbilikus dan masuk ke janin.
Kuman yang dapat menyerang janin melalui jalan ini ialah :
a. Virus, yaitu rubella, polyomyelitis, covsackie, variola, vaccinia, cytomegalic inclusion
b. Spirokaeta, yaitu treponema palidum ( lues )
c. Bakteri jarang sekali dapat melalui plasenta kecuali E. Coli dan listeria monocytogenes.
Tuberkulosis kongenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta. Fokus pada plasenta pecah
ke cairan amnion dan akibatnya janin mendapat tuberkulosis melalui inhalasi cairan
2.

amnion tersebut.
Infeksi Perinatal
Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain.
Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah ketuban
pecah. Ketubah pecah lama ( jarak waktu antara pecahnya ketuban dan lahirnya bayi
lebih dari 12 jam), mempunyai peranan penting terhadap timbulnya plasentisitas dan
amnionitik. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih utuh misalnya pada partus
lama dan seringkali dilakukan manipulasi vagina. Infeksi janin terjadi dengan inhalasi
likuor yang septik sehingga terjadi pneumonia kongenital selain itu infeksi dapat
menyebabkan septisemia. Infeksi intranatal dapat juga melalui kontak langsung dengan
kuman yang berasal dari vagina misalnya blenorea dan oral trush .

3. Infeksi Postnatal
Infeksi ini terjadi setelah bayi lahir lengkap. Sebagian besar infeksi yang berakibat
fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat kontaminasi pada saat penggunaan alat atau
akibat perawatan yang tidak steril atau sebagai akibat infeksi silang. Infeksi pasacanatal
ini sebetulnya sebagian besar dapat dicegah. Hal ini penting sekali karena mortalitas
sekali karena mortalitas infeksi pascanatal ini sangat tinggi.
Penegakkan Diagnosis
Diagnosis infeksi peria\natal tidak mudah. Biasanya diagnosis dapat ditegakkan
dengan observasi yang teliti, anamnesis kehamilan dan persalinan yang teliti dan
akhirnya dengan pemeriksaan fisik dan laboratarium.
47

Infeksi lokal pada nonatus cepat sekali menjalar menjadi infeksi umum, sehingga
gejala infeksi lokal tidak menonjol lagi. Walaupun demikian diagnosis dini dapat
ditegakkan kalau kita cukup waspada terhadap kelainan tingkah laku neonatus yang
seringkali merupakan tanda permulaan infeksi umum. Neonatus terutama BBLR yang
dapat hidup selama 72 jam pertama dan bayi tersebut tidak menderita penyakit atau
kelainan kongenital tertentu, namun tiba-tiba tingkah lakunya berubah, hendaknya harus
selalu diingat bahwa kelainan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh infeksi.
Menegakkan kemungkinan infeksi pada bayi baru lahir sangat penting, terutama
pada bayi BBLR, karena infeksi dapat menyebar dengan cepat dan menimbulkan angka
kematian yang tinggi. Disamping itu, gejala klinis infeksi pada bayi tidak khas. Adapun
gejala yang perlu mendapat perhatian yaitu :
-

Malas minum
Bayi tertidur
Tampak gelisah
Pernapasan cepat
Berat badan turun drasti
Terjadi muntah dan diare
Panas badan bervariasi yaitu dapat meningkat, menurun atau dalam batas normal
Pergerakan aktivitas bayi makin menurun
Pada pemeriksaan mungkin dijumpai : bayi berwarna kuning, pembesaran hepar, purpura

(bercak darah dibawah kulit) dan kejang-kejang


Terjadi edema
Sklerema

Ada 2 skoring yang digunakan untuk menentukan diagnosis neonatal infeksi :


a.
-

Bell Squash score


Partus tindakan (SC, forcep, vacum, sungsang)
Ketuban tidak normal
Kelainan bawaan
Asfiksia
Preterm
BBLR
Infeksi tali pusat
Riwayat penyakit ibu
Riwayat penyakit kehamilan

Hasil
< 4 observasi NI
4 NI

48

b. Gupte score
Prematuritas

Hasil

Cairan amnion berbau busuk

3-5Screening NI

Ibu demam

5 NI

Asfiksia

Partus lama

Vagina tidak bersih

KPD

Klasifikasi
Infeksi pada neonatus dapat dibagi menurut berat ringannya dalam dua
golongan besar, yaitu berat dan infeksi ringan.
a. Infeksi berat ( major infections ) : sepsis neonatal, meningitis, pneumonia,
diare epidemik, plelonefritis, osteitis akut, tetanus neonaturum.
b. Infeksi ringan ( minor infection ) : infeksi pada kulit, oftalmia neonaturum,
infeksi umbilikus ( omfalitis ), moniliasis.
1. Sepsis Neonatorum
Sepsis neonatorum sering didahului oleh keadaan hamil dan persalinan
sebelumnya seperti dan merupakan infeksi berat pada neonatus dengan gejalagejala sistemik.
Faktor risiko :
- Persalinan (partus) lama
- Persalinan dengan tindakan
- Infeksi/febris pd ibu
- Air ketuban bau, warna hijau
- KPD lebih dr 18 jam
- Prematuritas & BBLR
- Fetal distres
Tanda & gejala :
-

Reflek hisap lemah

Bayi tampak sakit, tidak aktif, dantampaklemah


49

Hipotermia atau hipertermia

Merintih

Dapat disertai kejang, pucat, atau ikterus

Prinsip pengobatan:
-

Pengobatan antibiotika secara empiris dan terapeutik

Pemeriksaan laboratorium rutin

Biakan darah dan uji resistensi

Pemeriksaan lain dapat dilakukan atas indikasi

2. Meningitis pada Neonatus


Tanda dan gejala :
-

Sering didahului atau bersamaan dengan sepsis

Kejang

UUB menonjol

Kaku kuduk

Pengobatan :
-

Gunakan antibiotic yang dapat menembus sawar otak dan diberikan


dalam minimal 3 minggu

Pungsi lumbal (atas indikasi)

3. Sindrom Aspirasi Mekonium


SAMterjadi pada intrauterin karena inhalasi mekonium dan sering
menyebabkan kematian terutama bayi dengan BBLR karena reflex menelan dan
batuk yang belum sempurna.
Gejala :
-

Pada waktu lahir ditemukan meconium staining


Letargia
Malas minum
Terjadi serangan apnea (Apneu neonatal)
Dicurigai bila ketuban keruhdan bau
Rhonki (+)

Pengobatan :

50

Laringoskop direct segera setelah lahir bila terdapat meconium

staining dan lakukan suction bila terdapat mekonium pada jalan napas
- Bila setelah di suction rhonki masih (+), pasang ET
- Bila setelah di suction rhonki (-) dilakan resusitasi
- Terapi antibiotika secara empiris dan terapeutik
- Cek darah rutin, BGA, GDS dan foto baby gram
4. Tetanus neonatorum
Etiologi
-

Perawatan tali pusat yang tidak steril


Pembantu persalinan yang tidak steril

Gejala
-

Bayi yang semula dapat menetek menjadi sulit menetek karena kejang

otot rahang dan faring (tenggorok)


Mulut mencucu seperti mulut ikan (trismus)
Kekakuan otot menyeluruh (perut keras seperti papan) dan epistotonus
Tangan mengepal (boxer hand)
Kejang terutama apabila terkena rangsang cahaya, suara dan sentuhan
Kadang-kadang disertai sesak napas dan wajah bayi membiru

Tindakan
-

Segera berikan antikonvulsan dan bawa ke Rumah Sakit (hindari

pemberian IM karena dapat merangsang muscular spasm)


Pasang O2 saat serangan atau bila ada tanda-tanda hipoksia
Pasang IV line dan OGT
Pemberian ATS 3000 6000 unit IM
Beri penisilin prokain G 200.000 unit / KgBB / 24 jam IV selama 10

hari
Rawat tali pusat
Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin terjadinya

rangsangan
5. Oftalmia Neonatorum
Merupakan

infeksi

mata

yang

disebabkan

oleh

kuman

Neisseriagonorrhoeae saat bayi lewat jalan lahir


Dibagi menjadi 3 stadium
-

Stadium infiltrative

51

Berlangsung 1-3 hari. Palpebra bengkak, hiperemi, blefarospasme,


mungkit terdapat pseudomembran
-

Stadium supuratif
Berlangsung 2 3 minggu. Gejala tidak begitu hebat, terdapat secret
bercampur darah, yang khas secret akan keluar dengan mendadak
(muncrat) saat palpebra dibuka

Stadium konvalesen
Berlangsung 2-3 minggu. Secret jauh berkurang, gejala lain tidak begitu
hebat lagi.

Penatalaksanaan
-

Bayi harus diisolasi

Bersihkan mata dengan larutan garam fisiologis setiap jam disusul


dengan pemberian salep mata penisilin

Berikan salep mata penisilin setiap jam selama 3 hari

Penisilin prokain 50.000 unit/kgbb IM

Pencegahan
Prinsip pencegahan infeksi antara lain:
o Berikan perawatan rutin kepada bayi baru lahir.
o Pertimbangkan setiap orang ( termasuk bayi dan staf ) berpotensi menularkan
infeksi.
o Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan beralkohol.
o Pakai pakaian pelindung dan sarung tangan.
o Gunakan teknik aseptik.
o Pegang instrumen tajam dengan hati hati dan bersihkan dan jika perlu
sterilkan atau desinfeksi instrumen dan peralatan.
o Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru lahir secara rutin dan buang
sampah.
o Pisahkan bayi yang menderita infeksi untuk mencegah infeksi nosokomial.
52

DAFTAR PUSTAKA
1. Dubowitz LMS Dubowitz V Goldberg C. Clinical assessment of gestational age in
the newborn infant. J Pediatri. 1970; 77: 1-10
2. Hermasen CL, Lorah KN. Respiratory Distress in the Newborn. Pennsylvania:
American

Academy

of

Family

Physicians;

2007.

Available

at:

http://www.aafp.org/afp/2007/1001/p987.pdf Accessed on: June 2015.


3. Hasan R, Alatas H. Perinatologi. Dalam: Ilmu Kesehatan Anak 3; edisi ke-4. Jakarta :
FKUI, 1985;1051-7.
4. Behrman, RE, Kliegman RM. The Fetus and the Neonatal Infant, In : Nelson
Textbook of pediatrics; 17 th ed. California: Saunders. 2004; 550-8.
5. Saifuddin, AB, Adrianz, G. Masalah Bayi Baru Lahir. Dalam : Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal; edisi ke-1. Jakarta : yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2000;376-8.
6. Current : Pediatric Diagnosis and Treatment: Neonatal Intensive Care, page 22-30.
Edition 15 Th 2001 Mc Graw Hill Companies.
7. Mupanemunda R and Watkinson M. Key Topics in Neonatology. 2nd Ed. New York:
Taylor & Francis Group; 2005.
8. Behrman, Kliegman : Nelson Textbook Of Pediatrics Edisi 15, halaman 543-572,
589-599. W.B Saunders Company 2000.
9. Bernbaum J C, Umbach D M, Ragan N B, Ballard J L., Archer J I, Schmidt-Davis H,
and Rogan W J. Pilot Studies of Estrogen-Related Physical Findings in Infants.
Environmental Health Perspectives 2008; 116: 416-19.

53

54