Anda di halaman 1dari 3

1. Agus penggemar PSSI. Membayar Rp.200.000,- untuk tiket.

Agus mengharapkan PSSI menang melawan Malaysia.


Kondisi ketinggalan 4-0 pada babak I. sehingga probabilitas babak kedua
adalah
0-4
1-4
2-4
PSSI kalah
66,66 %
3-4
4-4
pertandingan seri 16,67 %
5-4
PSSI menang
16,67 %
Fungsi Utilitas Bernoulli, U(Xi) = ln (Xi)
Dengan asumsi menggunakan pembagi Rp.10.000
U(X) = ln 20
= 2,9957
Harapan melihat Indonesia menang 16,67%
P1 (0,1667; 200.000)
n

E(Ux) =

i. U ( Xi)
i=1

= 0,1667(2,9957)
= 0,4992665
Keputusan agus untuk tetap tinggal tidak relevan karena kepuasan sudah
jauh menurun.
P1 < U(X)
2. Diketahui sebuah perusahaan fotokopi
L (pekerja)
15
15
20
PK

100.000
2

PL

50.000
5

K (mesin)
6
8
8

Q (output)
Q 150.000
Q - 50.000
Q

L
0
5

K
2
0

= 50.000/hari
= 10.000/hari

Harga mesin fotokopi (r) = 2 x gaji pegawai (w)


Untuk mencari kombinasi input optimal dengan biaya yang sama
Marginal Rate of Technical Subtitution (MRTS)
Didapat persamaan

MPL
MPK

MPL MPK
=
w
r

10.000 50.000
=
2
1

perbandingan 1:10

w
r

Q
100.000
50.000

Dapat disimpulkan bahwa penambahan mesin fotokopi lebih optimal


dibandingkan pekerja. Rekomendasi membeli mesin produksi baru sampai
pada keadaan MPL dua kali lebih besar dari MPK.
3. Kondisi pasar persaingan sempurna
Roti (P1) = Rp.5.000,Kopi (P2) = Rp.5.000,Item lain (P3) = Rp.10.000,TFC = Rp.1.000.000,Rumus BEP untuk menghitung jumlah produk adalah :

Total

Cost (TFC )

Profit per u nit terjual

Untuk setiap roti yang terjual, diharapkan 2 cangkir kopi dan 1 item lain
terjual seharga Rp.20.000
= P1+ 2(P2) + P3
= 5.000 + 2(5.000) + 10.000
= 25.000
BEP

=
=

TFC
Total Profit

1.000 .000
25.000

= 40
BEP akan dicapai ketika terjual 40 buah roti
4. Probabilitas investasi :
Modal (X): Rp.15.000.000,Kemungkinan (1)0,35 mendapat Rp.50.000.000,Kemungkinan (2) 0,65 mendapat Rp.0,Expected Value :
E(X)
= 1.X1 + 2.X2
E(X)
= (0,35(50.000.000 15.000.000)) + (0,65(0- 15.000.000))
= 12.250.000 9.750.000
= 2.500.000
Hasil positif (E(X) > 0) artinya fair game
Keputusan ikut investasi
5. Kerjasama dalam kelompok membutuhkan saling pengertian dan
ketergantungan satu sama lain. Untuk itu kita harus memiliki informasi yang
cukup tentang masing-masing anggota kelompok, terutama penilaian
tentang kemampuan intelektual dan produktifitas. Jika kita tidak memiliki
informasi yang cukup tentang kualitas seseorang, maka kita mungkin akan
memilih orang yang berkualitas rendah untuk menjadi anggota kelompok.
Saya akan menolak ajakan tersebut apabila pihak yang mengajak tidak

menyediakan informasi yang cukup tentang kualitas anggota-anggota grup


tersebut.

6. A. Adverse selection adalah hasil dari asymetric information yang terjadi


sebelum transaksi keuangan dilakukan. Pinjaman dengan bunga tinggi
diberikan oleh bank karena bank hanya memiliki sedikit informasi tentang
kemampuan dan kemauan peminjam untuk membayar pinjaman,
dibandingkan pengetahuan peminjam itu sendiri. Adverse Selection muncul
karena bank membebankan bunga pinjaman berdasarkan pada penilaian
kualitas peminjam. Penilaian itu meliputi kemampuan dan kemauan
peminjam untuk membayar pinjamannya. Semakin rendah penilaian kualitas
peminjam, maka semakin tinggi resiko kredit yang diberikan. Karena
penilaian tersebut berdasarkan pada kemungkinan gagal dari peminjam
dengan kualitas rendah, maka peminjam yang lain juga dianggap sama
dengan peminjam berkualitas rendah, sepanjang bank tidak belum memiliki
informasi yang cukup terhadap kualitas peminjam.
Adverse selection ini dapat diatasi dengan :
- Memberikan informasi kepada bank bahwa peminjam memiliki
kemampuan membayar yang baik dengan menyertakan bukti tidak ada
pinjaman di bank lain dan bukti penghasilan bulanan yang mencukupi
untuk membayar sehingga dapat dinilai sebagai peminjam berkualitas
baik dan biaya bunga dapat diturunkan.
- Meminjam dari bank dimana peminjam telah memiliki catatan
peminjaman yang baik dan dinilai sebagai peminjam berkualitas tinggi.
B. Moral Hazard adalah hasil dari asymetric Information setelah transaksi
keuangan dilakukan. Persoalan pada bank yaitu tidak dapat mengawasi jika
pinjaman digunakan atau dialihkan untuk kegiatan ekonomi beresiko tinggi
oleh peminjam. Sehingga jika terjadi kegagalan, bank juga harus
menanggungnya karena peminjam tidak dapat melakukan pembayaran
sesuai perjanjian. Moral Hazard dapat terjadi karena faktor karakter
peminjam yanng belum teruji dan tidak terpuji.
Moral Hazard dapat diatasi dengan :
- Memberikan laporan keuangan yang telah diaudit secara independen
tentang kegiatan kegiatan ekonomi yang menggunakan pinjaman
tersebut.
- Melibatkan pihak pemberi pinjaman dalam kegiatan usaha, sehingga
dapat mengawasi penggunaan pinjaman.
- Membuat syarat-syarat yang menjamin, misalnya dengan agunan berupa
sertifikat tanah.