Anda di halaman 1dari 62

EKONOMI

KEPENDUDUKAN

FE - USAKTI

KONSEP DASAR EKONOMI


KEPENDUDUKAN

BAB 1

Demografi: Ilmu yang mempelajari secara


statistik & matematik ttg besar, komposisi dan
distribusi penduduk & perubahan-perubahannya
sepanjang masa melalui lima komponen yaitu
kelahiran, kematian, perkawinan, migrasi dan
mobilitas sosial.

Studi Kependudukan: Ilmu yang mempelajari


tentang kaitan antara variabel
dengan variabel non demografi.

Ekonomi

Kependudukan:

demografi

Ilmu
yang
mengaitkan antara variabel ekonomi dengan
variabel demografi.

E
K
O
N
O
M
I

EKONOMI
KEPENDUDUKAN

D
E
M
O
G
R
A
F
I

PSIKOLOGI
KEPENDUDUKAN

PSIKOLOGI

SKEMA STUDI
KEPENDUDUKAN

SOSIOLOGI
KEPENDUDUKAN

S
O
S
I
O
L
O
G
I

SEJARAH PERKEMBANGAN
PENDUDUK & TRANSISI DEMOGRAFI

BAB 2

Sejarah Pertumbuhan Penduduk Dunia


Tahun
10.000 th sebelum masehi
Tahun 1 setelah masehi
Tahun 1650
Tahun 1750
Tahun 1800
Tahun 1850
Tahun 1900
Tahun 1950
Tahun 1970
Tahun 1975
Tahun 1986
11/7/1987
Tahun 2000
Tahun 2025

Populasi
5.000.000
250.000.000
545.000.000
728.000.000
906.000.000
1.171.000.000
1.608.000.000
2.486.000.000
3.632.000.000
3.978.000.000
4.942.000.000
5.000.000.000
6.057.000.000
8.472.000.000

Pertumbuhan
pertahun (%)
0,002*
0,04
0,04
0,29
0,45
0,53
0,65
0,91
2,09
2,10
1,99
1,61**
1,59

Sebaran Penduduk Dunia


Dari jumlah penduduk yg ada tahun 2000 yaitu sebanyak
6,06 milyar, hampir dua pertiganya (60,62 persennya
atau 3,7 milyar) berada di Benua Asia. Sisanya tersebar
di Benua Afrika (794 juta atau 13,11 persen), Benua Eropa
(12,00 persen atau 727 juta), Benua Amerika (13,75 persen
atau 833 juta) dan Oceania (0,5 persen atau 31 juta).
Dari sebarannya berdasarkan kategori kemajuan
pembangunan suatu negara, dari total penduduk dunia
sebanyak 4,86 milyar (80,32 persen) berada di negaranegara sedang berkembang dan sisanya sebanyak 1,19
milyar (19,68 persen) berada di negara-negara maju.

Sejarah Pertumbuhan Penduduk Indonesia


Tahun

Jumlah

Sumber

1775

2.029.915

Radermacher

1795

3.500.000

Nederburgh

1802

3.647.167

Bleeker

1807

3.770.000

Daendels

1815

4.615.270

Raffles

1930

60.7 Juta

SP 1930

1961

97 juta

SP 1961

1971

118 juta

SP 1971

1980

147 juta

SP 1980

1990

179 juta

SP 1990

2000

206 juta

SP 2000

Selama tahun 1775 sampai tahun 2000,


pertambahan penduduk Indonesia persatuan waktu:
Setiap tahun lahir 906.533 orang
Setiap bulan lahir 75.545 orang
Setiap hari lahir 2.484 orang
Setiap jam lahir 103 orang

Setiap Menit lahir 2 orang !!!!!!

Sebaran Penduduk Indonesia


Dari total penduduk pada tahun 2000 yaitu sebanyak
206 juta, hampir dua pertiganya (60,36 persennya atau
124,5 juta) berada di Pulau Jawa dan Bali.
Sisanya dari jumlah penduduk tersebut tersebar di
Pulau Sumatera (43,3 juta atau 21,00 persen), Pulau
Sulawesi (6,84 persen atau 14,1 juta), Pulau Kalimantan
(5,49 persen atau 11,3 juta) dan pulau-pulau lainnya
(6,31 persen atau 12,8 juta).
Tingkat kepadatan penduduk di Pulau Jawa-Bali pada
tahun 2000 mencapai 920 jiwa perkm, sedangkan di
pulau-pulau lainnya hanya berada pada kisaran
dibawah 100 jiwa perkm2. Misalnya untuk Pulau
Sumatera adalah 91, Kalimantan 20, Sulawesi 75.

Model Transisi Demografi


Model transisi demografi pertama kali dikembangkan oleh
Warren Thompson tahun 1929. Berdasarkan data periode 19081927, terdapat tiga jenis pola pertumbuhan penduduk, yaitu :
Kelompok A, negara-negara Eropa Barat, Eropa Utara dan AS
yang mengalami perubahan pertumbuhan alami yang sangat
tinggi ke pertumbuhan yang sangat rendah
Kelompok B, negara-negara Itali, Spanyol dan kelompok
Slavia di Eropa Tengah yg mengalami penurunan kelahiran
maupun kematian, tetapi penurunan kematian adalah sama atau
lebih cepat dibandingkan kelahiran. Kondisi ini dialami oleh
negara kelompok A pada 30 sampai 40 tahun sebelumnya.
Kelompok C, negara-negara lainnya yg kelahiran & kematian
belum mengalami perubahan, artinya masih sangat tinggi.

Frank Noteisten (1945)memberikan penjelasan tentang ketiga


pola tersebut. Untuk kelompok A, diberi nama dengan
incipient decline, kelompok B adalah transitional growth,
dan kelompok C adalah high growth potential. Saat ini
istilah transisi demografi
(demographic transition)
diperkenalkan.
Transisi demografi ini adalah suatu proses penurunan
mortalitas dan fertilitas suatu penduduk yang dari tingkat yang
tinggi menuju ke tingkat yang rendah, atau dari high growth
potential menuju incipient decline. Transisi tersebut
diberikan dalam gambar berikut:

Tahapan Transisi Demografi


Tahap I. (High Growth Potential)
Ditandai dgn fertilitas & mortalitas yg tinggi. Pertumbuhan
alami rendah bahkan turun (minus).
Tahap II.(Transitional Growth)
Ditandai dgn penurunan mortalitas lebih cepat dibandingkan
fertilitas, akibatnya pertumbuhan penduduk tinggi.
Tahap III. (Incipient Decline)
Ditandai dgn fertilitas & mortalitas yg rendah & pertumbuhan penduduk juga rendah.

Kritik Terhadap Teori Transisi Demografi


Gambaran yang diberikan masih kasar,seperti, bahwa
pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya disebabkan
oleh penurunan kematian, tetapi juga naiknya fertilitas.
Waktu yang dibutuhkan masing-masing tahapan sangat
bervariasi antar negara, oleh karenanya teori ini cukup
lemah untuk digeneralisasi.
Setelah fertilitas dan mortalitas berada pada angka yang
sangat rendah, pada tahap selanjutnya kemungkinan besar
angka tersebut akan kembali naik. Dengan demikian
sebenarnya tahapan transisi masih bisa dikembangkan lebih
lanjut.

PENDUDUK DAN
PEMBANGUNAN EKONOMI

BAB 3

Perdebatan Ideologi
Ada 3 Kelompok yang Berbeda
Kaum Nasionalis : Pertumbuhan penduduk

akan Meningkatkan Pembangunan Ekonomi


Kelompok Marxist: Tidak ada kaitan antara
pertumbuhan penduduk & pembangunan ekonomi
Kelompok Neo Malthusian: Pertumbuhan
Penduduk yang Tinggi Mengakibatkan Gagalnya
Pembangunan

FERTILITAS DAN
PEMBANGUNAN

BAB 4

Pengertian

Kemampuan seorang perempuan atau


sekelompok perempuan secara riel untuk
melahirkan
Hasil reproduksi nyata dari seorang
perempuan atau sekelompok perempuan
Tindakan reproduksi yang menghasilkan
kelahiran hidup.

PENGUKURAN FERTILITAS
Pengukuran Fertilitas Tahunan:
mencerminkan fertilitas suatu kelompok penduduk/
beberapa kelompok penduduk untuk jangka waktu
satu tahun.

Pengukuran Fertilitas Kumulatif:


mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok/
beberapa kelompok wanita selama masa reproduksinya.

Beberapa Pengukuran Fertilitas Tahunan


CBR (Crude Birth Rate)/Angka Kelahiran Kasar

B
CBR k
P
B=jumlah kelahiran dalam setahun
P=jumlah penduduk pertengahan tahun
k=konstanta= 1000

GFR (General Fertility Rate)/Angka Fertilitas Umum

GFR

B
Pf 15 49

Pf15-49 =jumlah penduduk perempuan umur 1549 tahun

ASFR (Age Spesific Fertility Rate)

Bi
ASFRi
k
Pf i
Bi=jumlah kelahiran dalam kelompok umur i dalam
setahun
Pfi=jumlah penduduk perempuan pertengahan tahun
kelompok

Beberapa Pengukuran Fertilitas Kumulatif


TFR (Total Fertility Rate)/Angka Fertilitas Total

TFR ASFRi
Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang pertempuan
sampai akhir masa reproduksi

GRR (Gross Reproduction Rate)/Angka Reproduksi Bruto

GRR 5 ASFR

fi hanya untuk kelahiran anak


ASFRfi= ASFR yang dihitung
perempuan pada kelompok umur reproduksi.

NRR (Net Reproduction Rate)/Angka Reproduksi Neto

NRR 5 ( ASFR )(5L / L )

5Lx/L0= probabilita kematian bayi dalam usia reproduksi (dari


fi
x
0
tabel kematian)
.

FERTILITAS DAN PEMBANGUNAN


Pengaruh pembangunan thdp penurunan
fertilitas. Exp: pendidikan, partisi-pasi
angkatan kerja wanita, organisasi kesejahteraan masyarakat, listrik masuk desa.
Pengaruh penurunan fertilitas terhadap
pembangunan. Exp: partisipasi angkatan
kerja wanita, pendidikan, angka tabungan,
pendapatan perkapita.

MORTALITAS, MORBIDITAS
DAN PEMBANGUNAN

BAB 5

Pengertian
Mortalitas: keadaan menghilangnya
semua tanda-tanda kehidupan secara
permanen yang biasanya terjadi setiap
saat setelah kelahiran hidup.
Morbiditas: keadaan tidak sempurna
jasmani, rohani dan sosial.

Ukuran Mortalitas
CDR (Crude Death Rate)/Angka Kematian Kasar.

D
CDR
k
P
ASDR (Age Spesific Death Rate)/Angka Kematian Menurut Umur

Di
ASDR
k
Pi
IMR (Infant Mortality Rate)/ Angka Kematian Bayi

D0
IMR
k
B

Ukuran Morbiditas
jumlah penderita baru
Incidence Rate = -------------------------------- 1000
populasi at risk
jumlah penderita lama dan baru
Prevalence Rate = ------------------------------------------ 1000
populasi at risk
jumlah hari kejadian sakit pd periode tsb
Duration of Sickness = -------------------------------------------------jumlah kejadian sakit

Teori Transisi Epidemiologi


Dalil 1. Kematian merupakan faktor mendasar dalam dinamika
kependudukan
Dalil 2. Selama transisi, dlm jangka panjang terjadi perubahan
pola kematian dan penyakit, dari penyakit infeksi ke
penyakit degeneratif dan penyakit buatan manusia.
Dalil 3. Transisi epidemiologi biasanya lebih menguntungkan
orang muda dari pada orang tua, dan lebih
menguntungkan wanita dari laki-laki.

Dalil 4. Pergantian pola kesehatan dan penyakit sebelum abad


20 (di negara maju) karena membaiknya standar
kehidupan dan keadaan gizi, dari pada hubungannya
dengan kemajuan di bidang kedokteran. Sebaliknya,
transisi abad ke 20 (di negara sdg berkembang) dimulai
oleh kemajuan di bidang kedokteran, pelayanan
kesehatan dan program pengendalian penyakit.
Dalil 5. Variasi khusus dalam pola, laju dan faktor penentu dan
akibat perubahan kependudukan dibedakan atas 4
model. (1) Model klasik atau barat, (2) Varian yang
dipercepat dari model klasik, (3) Model tertunda, (4)
Varian transisi dari model tertunda.

MOBILITAS PENDUDUK
DAN PEMBANGUNAN

BAB 6

Klasifikasi Mobilitas
MOBILITA
S
Vertikal
(Perubahan
Status)

Horizontal
(Geografis)

Permanen
(Migrasi)

Transmigr
asi

Swakarsa

Nonpermanen
(Sirkuler)

Commutin
g

Mondok

Angka Mobilitas : rasio banyaknya


penduduk yg pindah dlm jangka waktu
tertentu dengan jumlah penduduk

Angka Migrasi Masuk


jml migrasi masuk
IM = --------------------------- x 1000
jml pddk tengah th

Angka Migrasi Keluar


jml migrasi keluar
OM = --------------------------- x 1000
jml pddk tengah th

Angka Migrasi Neto


migrasi masuk migrasi keluar
NM = ------------------------------------------- x
1000
jml pddk tengah th

Angka Migrasi Bruto


migrasi masuk + migrasi keluar
GM = --------------------------------------------- x
1000
pddk daerah asal + daerah tujuan

1.
2.
3.
4.

Model Dorong Tarik (Push-Pull Factor)


Dikemukakan oleh Everet Lee, bahwa
ada
4
kelompok
faktor
yang
mempengaruhi
orang
mengambil
keputusan migrasi
Faktor yg terdapat di daerah asal
Faktor yg terdapat di daerah tujuan
Penghalang antara
Faktor pribadi

Model Lewis-Fei-Rannis
Dikembangkan oleh Sir. W. Arthur Lewis,
diperluas oleh John Fei dan Gustav Ranis.
Fokus utama model adalah pada proses
perpindahan tenaga kerja dan pertumbuhan
peluang kerja di sektor modern. Baik transfer
tenaga kerja maupun pertumbuhan peluang
kerja di kota dipengaruhi oleh perluasan output
di sektor modern. Kecepatan perkembangannya
ditentukan oleh tingkat akumulasi modal
industri pada sektor modern.

Transisi Mobilitas
Hipotesis mengenai transisi mobilitas ini pada
awalnya dikemukakan oleh Zelinsky (1971).
Menurut
Zelinsky,
secara
temporal,
sesungguhnya terdapat lima tingkatan atau fase
transisi mobilitas. Pada dasarnya kelima transisi
mobilitas tersebut berjalan sejajar dengan fase
transisi demografi atau transisi vital. Kecuali itu,
fase-fase tersebut saling berkaitan satu sama
lain.

Transisi Vital

Transisi Mobilitas

Masyarakat Premodern
Fase A. Fertilitas dan mortalitas tinggi, pertumbuhan
penduduk tinggi

Fase I. Mobilitas penduduk (tempat tinggal) sangat sedikit,


bahkan tidak tampak, kecuali bentuk2 sirkulasi terbatas,
seperti tradisi kunjungan sosial, keagamaan dan sebagainya

Masyarakat Awal Transisi


Fase B. Mortalitas turun dengan cepat, fertilitas naik,
pertumbuhan penduduk tinggi

Fase II. Mobilitas desa-kota mulai nampak dilatarbelakangi


berbagai aktivitas. Mobilitas antar kota belum terlihat

Masyarakat Akhir Transisi


Fase C. Fertilitas dan mortalitas sama-sama turun,
tetapi angka mortalitas lebih cepat turun. Pertumbuhan
penduduk alami lebih rendah dibanding fase B

Fase III. Mobilitas desa-kota masih dominan, mobilitas


antar kota mulai memasuki tahap awal, sirkulasi mulai
tumbuh dengan kompleksitas struktural.

Masyarakat Maju
Fase D. Fertilitas turun, mortalitas stabil (tetap),
pertumbuhan penduduk mendekati 0.

Fase IV. Mobilitas residential relatif tinggi, migrasi desakota terus bertambah secara relatif dan absolut, terjadi aliran
tenaga kerja tidak terlatih dan semiterampil dari daerah
terbelakang, sirkulasi tenaga kerja terampil dan profesional
meningkat dalam berbagai variasi.

Masyarakat Awal Transisi


Fase E. Perilaku fertilitas tidak dapat dipredikksi karena
kelahiran dapat dikontrol oleh individu-individu
maupun lembaga politik.

Fase V. Mobilitas akan turun karena makin baiknya jaringan


komunikasi, sirkulasi meningkat sebagai akibat kemajuan
telekomunikasi dan makin baiknya jaringan informasi, lahir
bentuk-bentuk baru mobilitas sirkuler.

Hipotesis transisi mobilitas dimodifikasi Skeldon (1990), untuk


negara2 sedang berkembang. Tujuh tahapan Skeldon:
Tahap Pertama:
masyarakat pra transisi (pretransitional
society)
Sebagian besar mobilitas merupakan mobilitas nonpermanen.
Walau begitu, mobilitas ini tidak harus merupakan mobilitas
jangka pendek. Dapat pula terjadi mobilitas permanen dalam
bentuk kolonisasi ataupun pembukaan daerah pertanian baru.
Tahap Kedua: masyarakat transisi awal (early transitional
society).
Terjadi percepatan mobilitas nonpermanen ke daerah
perkotaan, perkebunan, pertambangan. Mobilitas semacam ini
diperlukan untuk mendukung pembangunan pedesaan.
Penghasilan penduduk yg mobil ini membantu meningkatkan
pendapatan di pedesaan. Jaringan transportasi yang luas,
murah, efisien, dan cepat merupakan syarat utama terjadinya
peningkatan mobilitas nonpermanen, baik sirkulasi maupun
ulang alik. Juga terlihat adanya mobilitas penduduk dari satu
daerah perkotaan ke daerah perkotaan yang lain, dengan kota
besar sebagai tujuan utama migrasi dari kota kecil dan
menengah. Terjadi peningkatan pesat dalam mobilitas ke
daerah-daerah baru. Pada tahap ini migrasi masih didominasi
oleh penduduk laki-laki.

Tahap Kelima:
masyarakat mulai maju (early advanced
society).
Angka urbanisasi telah melampaui 50 persen dan mobilitas dari
pedesaan ke perkotaan menurun. Mulai terjadi sub-urbanisasi
dan dekonsentrasi penduduk. Mobilitas nonpermanen, terutama
ulang-alik, meningkat lagi. Ulang alik didominasi oleh laki-laki.
Tahap Keenam: masyarakat maju lanjut (late advanced society).
Terus terjadinya dekonsentrasi penduduk perkotaan. Penduduk
perkotaan makin menyebar ke daerah perkotaan yg lebih kecil.
Juga dapat terjadi peningkatan arus masuk pekerja asing,
terutama migran dari negara yang masih berada pada tahap
keempat. Ulang alik terjadi dengan pesat. Semua arus mobilitas
ini dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan, tanpa
perbedaan yang mencolok.
Tahap ketujuh: masyarakat maju super (super advanced
society).
Pada tahap ini diwarnai oleh adanya teknologi tinggi, termasuk
teknologi informasi. Pada saat ini amat mungkin bahwa
mobilitas permanen semakin berkurang dan mobilitas
nonpermanen,
terutama
berujud
mobilitas
ulang-alik,
meningkat.
Sistim
transportasi diganti dengan
sistim
komunikasi. Orang tidak perlu lagi berpindah tempat untuk
dapat saling berkomunikasi.

Thesis Brain Drain & Konsep Remitans


Tesis Brain Drain: migrasi keluar angkatan kerja potensial berusia

muda & berpendidikan dari pedesaan ke kota, cenderung membawa


dampak negatif daerah yang ditinggalkan. Karenanya, migrasi diduga
dapat mengganggu dan memperlambat proses pembangunan wilayah.

Di daerah tujuan (kota), mobilitas pekerja mempersulit penataan kota,

kelebihan angkatan kerja, pengangguran, pekerja miskin di sektor


informal, kemiskinan dan kampung kumuh di kota.

Namun, dampak dari tesis brain drain ini tidak sepenuhnya berlaku di

negara2 sedang berkembang. Mobilitas pekerja merupakan salah satu


strategi rumah tangga pedesaan. Dengan mengalokasikan SDM yg ada,
rumah tangga pedesaan memanfaatkan kesempatan yg ada di luar
desa. Hasil kerja di luar desa, dikirimkan dan dimanfaatkan di desa.
Kiriman (remittances) migran pekerja berdampak positif bagi rumah
tangga dan ekonomi pedesaan.

INDIKATOR-INDIKATOR
KUALITAS PENDUDUK

BAB 7

Pengertian
Kualitas penduduk terbagi dlm kualitas fisik dan kualitas nonfisik. Kualitas fisik, minimal dapat dipakai tiga indikator yaitu
ukuran antropometrik (tinggi, berat badan dan lainnya),
kesehatan serta kesegaran jasmani. Kualitas non-fisik dapat
berupa kecerdasan, kesehatan mental, pendidikan, religiusitas
dan lainnya dari ciri non-fisik.
Pengukurannya dapat dibedakan atas indikator individu dan
kelompok. Indikator individu menunjukkan kualitas yang
melekat pada masing-masing individu. Kualitas kelompok
adalah menunjukkan kualitas rata-rata sekumpulan manusia yg
menjadi penduduk suatu kawasan.
Penyajian kualitas yang banyak digunakan adalah ukuran
kelompok, karena lebih mudah dlm evaluasi dan intervensi
kebijakan. Kelemahannya, kurang tepat jika ketimpangan antar
individu dlm kelompok tersebut relatif besar.

Pendapatan Perkapita
Pada tahun 1950-an, paradigma pembangunan mengacu pada
pertumbuhan ekonomi. Ukuran keberhasilan pembangunan
adalah pembentukan modal dan produksi. Indikator yg umum
digunakan untuk mengukur kualitas penduduk adalah
pendapatan perkapita.
Penggunaan pendapatan perkapita mempunyai banyak
kelemahan. Diantaranya: (1) tidak tercakupnya produksi
subsisten yang tidak dipasarkan, (2) terabaikannya aspek
distribusi pendapatan, (3) kualitas penduduk dan tingkat
kesejahteraan masyarakat suatu hal yang subjektif yang tidak
dapat diukur semata-mata melalui pendekatan pendapatan
perkapita.

PQLI atau IMH


Tahun 1970-an, timbul pandangan bahwa kesenjangan
merupakan masalah penting yg harus segera diatasi.
Paradigma pembangunan terpusat pada usaha pemenuhan
kebutuhan pokok hidup manusia.
Untuk mengukur sejauh mana hasil pembangunan mampu
memenuhi kebutuhan dasar manusia dari segi peningkatan
kualitas fisik kehidupan, digunakan beberapa tolok ukur.
Morris dan Grant (1976) mengajukan PQLI (Physical Quality
of Live Index) atau IMH (Indeks Mutu Hidup). Indeks
tersebut mencakup tiga parameter pokok yaitu : angka
kematian bayi (IMR), angka harapan hidup pada umur 1 tahun,
dan tingkat melek huruf penduduk usia 15 tahun atau lebih.

Kelemahan PQLI: tidak dapat digunakan sebagai indikator


kesejahteraan total (yang didalamnya harus mengandung
pengukuran tentang rasa aman, keadilan, hak-hak asasi dan
hal-hal lainnya yang tidak memiliki eksistensi material).
Di Indonesia, Sayogyo menambah variabel fertilitas (Total
Fertility Rate = TFR) sebagai variabel keempat. Ia memberi
nama dengan istilah IMH-plus (Indeks Mutu Hidup-plus).
Hananto Sigit juga mengukur Indeks Mutu Hidup dengan
menggunakan tiga variabel seperti yang diajukan Moris-Grant.
Ia memberi nama dengan istilah : Indeks Kualitas Hidup
Manusia Indonesia (IKHMI). Hananto Sigit juga mencoba
menambahkan variabel pendapatan (PDRB) sebagai variabel
keempat untuk indikator ini yang kemudian diberi nama
IKHMI plus atau IKHMIY.

HDI atau IPM


Akhir tahun 1980-an, muncul paradigma yang menyatakan
bahwa pembangunan adalah dari, oleh dan untuk manusia.
Karenanyaprogram pembangunan harus diarahkan pada
pembangunan manusia itu sendiri.
UNDP merumuskan pembangunan manusia sebagai suatu
proses perluasan spektrum pilihan manusia, meningkatkan
kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan, pelayanan
kesehatan, penghasilan dan pekerjaan.
Tahun 1990 diperkenalkan suatu indikator yang diberi nama
Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembang-unan
Manusia (IPM), sebagai indikator komposit atas tiga kiteria
yaitu kesehatan (diukur dari harapan hidup saat dilahirkan,
pengetahuan (diukur dari angka melek huruf & rata-rata lama
bersekolah, dan pendapatan (diukur dari paritas daya beli)

ISU-ISU KEPENDUDUKAN
TERKINI

BAB 8

8.1. Pembangunan Berwawasan


Kependudukan

Pengertian
Secara sederhana pembangunan berwawasan kependudukan
mengandung dua makna sekaligus, yaitu :
Pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi
penduduk yang ada. Penduduk harus dijadikan titik sentral
dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan
subjek dan objek dalam pembangunan. Pembangunan
adalah oleh penduduk dan untuk penduduk.
Pembangunan sumberdaya manusia. Pembangunan lebih
menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya
manusia dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur
semata-mata.

Dimensi Penduduk dalam


Pembangunan Nasional
Penduduk merupakan isu yg sangat strategis dalam
kerangka pembangunan nasional, karena:
Penduduk merupakan pusat seluruh kebijakan dan program
pembangunan yang dilakukan. Pembangunan dikatakan
berhasil jika mampu meningkatkan kesejahteraan
penduduk baik kualitas fisik maupun non fisik.
Keadaan penduduk sangat mempengaruhi dinamika
pembangunan. Jumlah penduduk yang besar, jika diikuti
dengan kualitas penduduk yang memadai, akan merupakan
pendorong bagi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, jumlah
penduduk yang besar, jika diikuti dengan tingkat kualitas
rendah, menjadikan penduduk tersebut hanya sebagai
beban bagi pembangunan nasional.

8.2. Ideologi Gender

Pengertian
Gender

adalah bangunan "sosio-kultural" yg


membe-dakan karakteristik maskulin & feminim.
Berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki &
perempuan yg bersifat biologis.
Ciri maskulin atau feminim tergantung dari konteks
sosial-budaya bukan semata pada perbedaan jenis
kelamin. Maskulin dalam satu kebudayaan bisa
dianggap sebagai feminim dalam budaya lain.
Gender merupakan landasan bagi berlangsungnya
masyarakat. Melalui sistem pengaturan gender,
persepsi diri laki-laki & perempuan, apa & siapa
dirinya dlm masyarakat itu ditentukan, alokasi
pekerjaan diberikan, dan pembagian wewenang
atau kuasa dilakukan.
Ketidakseimbangan berdasarkan gender mengacu
pada ketidakseimbangan akses sumber-sumber yg
langka dlm masyarakat.

Diferensiasi Gender
Tiga teori dasar dlm diferensiasi gender yaitu teori

neo-klasik, segmentasi pasar tenaga kerja & feminist.


Teori neo-klasik: pembagian kerja seksual di-dasarkan
perbedaan seksual dlm berbagai variabel yg
mempengaruhi produktivitas pekerja.
Perbedaan tsb meliputi pendidikan, ketram-pilan,
lamanya jam kerja, tanggung jawab RT, serta
kekuatan fisik. Ini didasari asumsi dlm pasar
persaingan sempurna, pekerja mempe-roleh upah
sebesar "marginal product" yg dihasilkannya. Asumsi
lain: keluarga menga-lokasikan sumberdaya secara
rasional, se-hingga laki-laki memperoleh investasi
"human capital" yg lebih tinggi dari perempuan.

Dua kelemahan teori ini. (1) Asumsi perbe-daan

fisik sbg sumber "pekerjaan-pekerjaan khas


perempuan".
Secara
biologis
hanya
mengandung & melahirkan pekerjaan khas
perempuan. Selain itu, tdk ada alasan biologis
yg menjelaskan mengapa perem-puan harus
mengasuh anak/melakukan pekerjaan domestik
lainnya. (2) Asumsi laki-laki & perempuan
memiliki akses peluang kerja yg sama, tidak
mempertimbangkan segmentasi pasar tenaga
kerja yg tdk dpt dijelaskan berdasarkan
perbedaan seksual dlm "human capital".
Kelemahan
pertama
ditutupi
dgn
teori
gender/feminist, kelemahan kedua dikoreksi
dgn teori pasar tenaga kerja ganda.

Teori segmentasi pasar tenaga kerja: laki-laki

pada usia prima terkonsentrasi dalam pekerjaan


berupah tinggi, stabil dan dengan latihan,
promosi dan prospek karier lebih baik (PRIMARY
JOBS). Sedangkan perempuan berada pada
SECONDARY
JOBS,
dengan
karakteristik
pekerjaan sebaliknya.
Keterbatasan ruang lingkup kerja perempuan
diakibatkan oleh karena perempuan tidak
mempunyai kapasitas untuk akses pada maledominated
jobs,
sehingga
perempuan
terkonsentrasi secara berlebih dalam suatu
range
kesempatan
kerja
terbatas,
yang
menekan tingkat upah perempuan.

Teori segmentasi pasar tenaga kerja menunjukkan

bahwa pekerja laki-laki dan perempuan tidak


bersaing dgn landasan yang sama, karenanya
tidak mempunyai akses yang sama ke lapangan
kerja.
Teori segmentasi pasar tenaga kerja tidak mampu
menjelaskan mengapa segmentasi pasar tenaga
kerja berdasarkan jenis kelamin terjadi. Menurut
teori gender/ feminist, kedudukan perempuan yg
relatif rendah dlm pasar tenaga kerja tidak dapat
dipisahkan dari sistem sosial yg menem-patkan
perempuan pada kedudukan yang lebih rendah
daripada laki-laki.

Gender dalam Dunia


Kerja
Diskriminasi
pasar TK adalah adanya segregasi

okupasi -- terdapat bagian besar dari pekerjaan untuk


laki-laki dan sisanya (dgn upah yg rendah) untuk
perempuan.
Ada dua pola segregasi. Secara horizontal perempuan
tersegregasi pada jenis pekerjaan berstatus rendah.
Segregasi vertikal ditunjukkan dgn fungsi-fungsi
tertentu dimonopoli laki-laki, yaitu fungsi dengan
kewenangan yg luas, tingkat pengawasan yg tinggi
serta kondisi kerja yg lebih baik.
Segregasi vertikal maupun horizontal menyebabkan
rendahnya status perempuan dlm pekerjaan. Status
mencakup dua aspek sekaligus: yaitu "otonomi
perempuan" dan "kekuasaan sosial".

8.3. Penduduk Lansia

Pengantar
Perhatian pemerintah di negara-negara sedang
berkembang terhadap penduduk lanjut usia (lansia)
terus meningkat, karena pesatnya pertumbuhannya.
Lansia adalah mereka yang berusia 64 tahun ke atas
(PBB) atau 60 tahun keatas (Menko Kesra)
Lansia merupakan kelompok penduduk yg mempunyai resiko tinggi untuk sering sakit & menderita sakit
kronis, serta mengalami ketidakmampuan.
Hal-hal tsb membutuhkan pengobatan medis & perawatan yg intensif. Namun, biaya rumah sakit & teknologi perawatan orang tua adalah mahal, sedangkan
kemampuan pemerintah relatif terbatas dlm menyediakan dana. Oleh karenanya perlu mengembalikan
peran keluarga dalam perawatan lansia.

Dampak Pembangunan Thdp Lansia


Tiga dampak negatif pembangunan terhadap kesejahteraan lansia: (1) peningkatan prevalensi migrasi
desa-kota, (2) meningkatnya aktivitas ekonomi wanita dan (3) perubahan sistem perekonomian tradisional ke perekonomian modern.
Menyebabkan terjadinya pemisahan/keluarnya penduduk lansia dari struktur keluarga, dalam bentuk :
a. Spatial Separation
Peningkatan prevalensi migrasi desa-kota, menyebabkan banyak lansia yg ditinggal keluarganya.
Meningkatnya mobilitas penduduk (umumnya usia
muda) menyebabkan lansia tidak dapat lagi menjadi
satu dengan keluarga (spatial separation). Kondisi ini
menyulitkan untuk tetap menyantuni orang tua
mereka pada usia lanjut.

b. Cultural Separation
Meningkatnya pendidikan wanita menyebabkan nilai waktu
wanita di luar rumah lebih tinggi. Menyebabkan
berkurangnya alokasi waktu untuk pekerjaan kerumahtanggaan, termasuk mengurus orang tua.
Peningkatan pendidikan generasi muda secara keseluruhan juga menyebabkan terjadi perbedaan nilai buda-ya
penduduk usia muda dan lansia. Mengakibatkan sulit
menggabungkan keduanya dalam satu kehidupan.
c. Economic Separation
Peranan orang tua yang tinggi dalam ekonomi secara
tradisional, akan berkurang dalam masyarakat modern.
Penghasilan angkatan kerja muda yg lebih tinggi dari
orang tuanya menyebabkan rendahnya ketergantungan
pada orang tua. Menyebabkan berkurangnya rasa
tanggung jawab menyantuni keluarga pada usia lanjut.

Anda mungkin juga menyukai