Anda di halaman 1dari 64

Penerbit:

Pustaka At-Turots Al-Islamy


Yogyakarta
Pemimpin Umum:
Abu Nida’ Ch. Shofwan Segala puji bagi Allah , shalawat dan salam
Tim Pengasuh:
semoga dilimpahkan kepada Asyraful Anbiya’i
Abu Humaid Arif Syarifuddin, wal Mursalin, keluarganya, dan sahabatnya
Abu Mush’ab, hingga akhir zaman, Amin.
Abu Husam M. Nurhuda, Pembaca yang budiman, majalah yang
Abu Isa, berada di tangan Anda ini barangkali lain
Abu Nida’ Ch. Shofwan
daripada yang lain. Cover yang sederhana,
Pemimpin perwajahan halaman yang tidak warna warni,
Redaksi/Usaha: susunan tim pengasuh dan staf redaksi yang
Tri Madiyono
banyak, memang kami rancang demikian untuk
Sekretaris: memantapkan niat menjadikan majalah ini
Syafaruddin
sebagai majalah ilmu. Nama FATAWA yang berarti
Staf Redaksi: fatwa-fatwa ulama’ diambil untuk senantiasa
Abu Athifah Turino mengingatkan kami bahwa dalam segala
Husain Sunding
aktifitas tidak boleh lepas dari bimbingan ulama
Mubarok
salaf.
Distribusi: Namun demikian, aspirasi dari pembaca
Siswanto JH
tetap akan kami akomodasi. Komunikasi dua
Setting-Layout: arah diterapkan dengan menyediakan rubrik
Abu Husain Abdul Wahhab ‘tanya-jawab keislaman’, dan pembahasan-
Keuangan: pembahasan yang aktual seperti persoalan
Indra keluarga, problema kehidupan keagamaan di
Rekening: masyarakat, maupun pribadi.
Rek.Giro: 801.20173001 Semua daya dan kemampuan telah
BNI Syari’ah Cab. Yogyakarta, dicurahkan untuk edisi perdana (Ramadhan
a/n Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy 1423H) ini, tentu ada kekurangan dari sana sini.
Yogyakarta
Oleh karena itu, dengan lapang kami tunggu
Alamat Redaksi: saran dan kritik dari Anda semua demi perbaikan
Islamic Center Bin Baaz,
ke depan.
Jl. Wonosari Km10, Sitimulyo, Piyungan,
Bantul-Yogyakarta
Telp/Faks (0274)522964
Redaksi

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 1


Tauhid
4 ...................................Macam-Macam Tauhid
6 ....Tauhid Rububiyah: Tentang Pengaturan Alam
6 ................................Tentang Atha’ al Mursyid
8 ...................................................Tentang Rezeki Manusia
8 .................................................................................. Asal Usul Manusia
Fatwa
10 ......... Tidak Boleh Berpegang pada Hisab dalam Penetapan Awal Bulan
11 ........................ Fatwa Perayaan Lailatul Qadar pada Tiap 27 Ramadhan
12 ................................................... Bila Hari Raya Jatuh pada Hari Jum’at
14 .......................................................... Hukum Meninggalkan Sholat Ied
Hadits
15 ............ Menghadirkan dan Mengikhlaskan Niat dalam Amal dan Ibadah
Fiqih
21 ............................................................................ Mengenal Fiqih Islam
Keluarga
26 ................................................. Membina Rumah Tangga yang Bahagia
Manhaj
32 ............................................................. Manhaj Menafsirkan Al Qur’an
Aktual
40 ................. Perkara-Perkara Penting Berkaitan dengan Bulan Ramadhan
Akhlaq
46 .................................................................. Menggapai Kebersihan Hati
Firaq
51 ....................... Ajaran Kejawen “Sapto Darmo” dalam Pandangan Islam
Profil
58 ....................................................................... Abu Bakar As Shiddiq 

2 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


 Syukur atas terbitnya Majalah Islam Fatawa
Assalamu’alaikum Assalamu’alaikum

Alhamdulillah, pertama saya mau Saya sangat senang dengan


mengucapkan selamat atas hadirnya terbitnya majalah Fatawa yang sangat
majalah Fatawa ini. Insya Allah ilmiah, penuh dengan ilmu-ilmu
majalah ini mengemban misi agama walaupun ditampilkan
dakwah yang haq, dakwah dengan wajah sederhana. Saya
ahlussunnah dan saya berharap ucapkan selamat untuk majalah
majalah Fatawa selalu istiqomah Fatawa semoga seterusnya tetap
terbitnya dan tepat waktu. seperti ini isinya dan saya akan setia
mengikuti terus kehadiranmu.
Wassalamu’alaikum Demikian. Jazakallah khoiran
Rinto, Yogyakarta
Wassalamu’alaikum
Ibnu Abdullah, Blora

Jazakumullahu khairan, semoga kami bisa seperti yang


Anda harapkan -redaksi-

Ingin Jadi Agen ...


Anda tertarik menjadi agen majalah Fatawa? Caranya mudah!
1. Kirimkan Surat Pemohonan disertai dengan identitas lengkap Anda
?
kepada redaksi Majalah Fatawa.
2. Pengambilan sejumlah 50–300 eks untuk mendapat rabat sebesar 30%
untuk daerah Jawa dan rabat sebesar 35 % untuk 300 eks ke atas.
3. Empat edisi pertama Anda mendapatkan konsiniasi penuh (retur
maksimal 100%), Adapun setelah itu (edisi ke-5) retur maksimal
sebesar 20 %.
4. Untuk lebih lengkapnya akan kami kirimkan peraturan keagenan
Majalah Fatawa jika Anda berminat.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 3


2
Tauhid
Rubrik Tauhid yang akan hadir secara rutin dalam Fatawa ini disajikan dalam format tanya-jawab. Sebagai
rujukan utamanya adalah fatwa-fatwa dari Lajnah Da imah Yang merupakan lembaga Majelis ulama-ulama
besar Kerajaan Saudi yang didirikan oleh pemerintah Saudi Arabia (SK. Nomor:1/137 tanggal 8/7/1391 H/
1993 M), dalam rangka memberikan fatwa-fatwa yang berkenaan dengan perkara-perkara agama seperti
aqidah, ibadah dan muamalah. Yang pada mulanya beranggotakan Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim
Alu Syaikh (Ketua), Syaikh Abdurrazzaak Afifi Atiyyah (Wakil Ketua), Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al
Ghadyan (Anggota), Syaikh Abdullah bin Sulaiman bin Muni’ (Anggota). Pada akhir tahun 1395 H/1997 M,
Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh digantikan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin
Baaz. Fatwa-fatwa yang dinukilkan adalah fatwa yang dikeluarkan pada masa mereka; ditambah fatwa para
ulama salaf lain yang tidak terangkum kedalam kitab Majmu Fatawa Lil Lajnah Da imah.

Diasuh oleh: Abu Nida Ch. Shofwan

 Macam-Macam Tauhid
Pertanyaan: Perhatian Anda terhadap aqidah, yakni
Disebabkan karena kebodohan saya yang berkaitan dengan pengetahuan
tentang macam-macam tauhid dan apa tentang macam-macam tauhid, menunjuk-
hakikatnya, sementara itu saya ingin kan Anda bersemangat meraih
berlepas diri dari (hal-hal yang kebaikan-alhamdulillah,- menginginkan
bertentangan dengan tauhid, yaitu) kebenaran dan kelurusan aqidah yang
kesyirikan, maka saya mengharapkan wajib bagi setiap muslim. Berkenaan
jawaban dari pertanyaan berikut ini. dengan macam-macam tauhid, maka saya
Ada berapa macam tauhid itu, dan sampaikan bahwa tauhid ada tiga macam.
bagaimana penjelasannya masing- Pertama, Tauhid Rububiyah, artinya
masing? mengesakan Allah  dalam hal
Jawab: perbuatan-Nya. Seperti mencipta,
Semoga Allah  menambah semangat memberi rezeki, menghidupkan dan
Anda untuk mencari kebaikan; dan mematikan, mendatangkan bahaya,
sungguh hal ini menunjukkan betapa memberi manfaat, dan lain-lain yang
besar perhatian Anda terhadap masalah merupakan perbuatan-perbuatan
aqidah. Memang wajib bagi setiap khusus Allah  . Seorang muslim
muslim memperhatikan aqidahnya haruslah meyakini bahwa Allah  tidak
karena aqidah merupakan asas memiliki sekutu dalam Rububiyah-Nya.
(fondasi) dari amal perbuatannya. Amal Kedua, Tauhid Uluhiyah, artinya
perbuatan itu dikatakan benar dan akan mengesakan Allah  dalam jenis-jenis
mendapatkan pahala hanya jika peribadatan yang telah disyari’atkan.
memenuhi dua syarat berikut. Seperti shalat, puasa, zakat, haji, doa,
nadzar, sembelihan, berharap, cemas,
Pertama, Amal tersebut haruslah takut, dan sebagainya yang tergolong
dibangun di atas aqidah yang benar jenis ibadah. Mengesakan Allah 
(ikhlas). Kedua, Harus sesuai dengan dalam hal-hal tersebut dinamakan
apa yang disyariatkan oleh Rasulullah  Tauhid Uluhiyah; dan tauhid jenis inilah
(mutaba’ah). yang dituntut oleh Allah  dari hamba-

4 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Tauhid
hamba-Nya. Karena tauhid jenis
pertama, yaitu Tauhid Rububiyah,
setiap orang (termasuk jin) meng-
akuinya, sekalipun orang-orang musyrik
yang Allah  utus Rasulullah kepada
mereka. Mereka meyakini Tauhid
Rububiyah ini, sebagaimana tersebut
dalam firman Allah :

“Dan sesungguhnya Kami telah


mengutus rasul kepada tiap-tiap umat
“Dan sungguh jika kamu bertanya
(untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah
kepada mereka, ‘Siapakah yang
(saja), dan jauhilah Thagut, ’lalu di antara
menciptakan mereka?’ niscaya mereka
umat-umat itu ada orang-orang yang
menjawab, ‘Allah.’ Maka bagaimana
diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula
mereka dapat dipalingkan (dari
orang-orang yang telah dipastikan sesat.
menyembah Allah).” (Q.S. Al-Zukhruf:87)
Oleh karena itu, berjalanlah kamu di
muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang men-
dustakan (para rasul).” (Q.S. An-Nahl:36)
Setiap rasul menyeru manusia agar
“Katakanlah, ‘Siapakah yang mempunyai
meyakini Tauhid Uluhiyah. Adapun
tujuh langit dan yang mempunyai ‘Arsy
Tauhid Rububiyah, karena merupakan
yang besar?’ Mereka akan menjawab,
fitrah, maka belumlah cukup kalau
‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Mengapa
seseorang hanya meyakini tauhid ini saja.
kamu tidak mau bertaqwa?’” (Q.S. Al-
Mu’minun:86-87) Ketiga, Tauhid Asma was Sifat, yaitu
menetapkan nama-nama dan sifat-sifat
Masih banyak ayat-ayat yang menunjukkan
untuk Allah  sesuai dengan yang telah
bahwa orang-orang musyrik meyakini
ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya
Tauhid Rububiyah. Akan tetapi,
maupun yang telah ditetapkan oleh
sebenarnya yang dituntut dari mereka
Rasulullah  ; serta meniadakan
adalah mengesakan Allah dalam hal
kekurangan-kekurangan dan aib-aib
ibadah. Jika mereka mengikrarkan
yang ditiadakan oleh Allah terhadap diri-
Tauhid Rububiyah, maka hendaknya
Nya, dan apa yang ditiadakan oleh
juga mengakui Tauhid Uluhiyah
Rasulullah 
(ibadah). Sungguh, Rasulullah (diutus
Tiga jenis tauhid inilah yang wajib
untuk) menyeru mereka agar meyakini
diketahui oleh seorang muslim, lalu
Tauhid Uluhiyah. Hal ini disebutkan
secara sungguh-sungguh mengamal-
dalam firman-Nya :
kannya.1
1
Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan II/17-18

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 5


4
Tauhid

 Tauhid Rububiyah:
Tentang Pengaturan Alam
Pertanyaan:
Kafirkah orang yang berkeyakinan bahwa ada yang mengatur alam semesta ini
selain Allah?
Jawab:
Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa ada yang mengatur alam semesta ini
selain Allah  berarti dia telah kafir karena dia menyekutukan Allah  dalam hal
Rububiyah. Bahkan dia lebih kafir dari kebanyakan orang-orang musyrik (di zaman
Rasulullah ) yang hanya menyekutukan Allah  dalam hal Uluhiyah saja.2

 Tentang Atha’ al Mursyid3


Bisa Menambah Rezeki
Pertanyaan: tuhan-tuhan (selain Allah) itu adalah
Ada orang berkata, “Anak ini termasuk atha’ karena mereka menduga bahwa dengan
al mursyid dan anak ini bisa menyebabkan cara yang seperti itu mereka dapat
bertambah atau berkurangnya rezeki mendekatkan diri sedekat-dekatnya
seseorang.” Apa hukum keyakinan seperti itu? kepada Allah .
Jawab: Allah  berfirman,
Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa
ada anak lahir hasil pemberian selain Allah
, dan bahwa ada seseorang selain Allah
 yang dapat menambah dan
mengurangi rezeki, maka ia telah
berbuat syirik; bahkan kesyirikannya
melebihi kesyirikan bangsa Arab dan
bangsa lainnya pada zaman Jahiliyah dulu.
Sesungguhnya bangsa Arab dan bangsa “Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi
lainnya di masa Jahiliah dulu, jika rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau
ditanyakan kepada mereka siapa yang siapakah yang berkuasa (menciptakan)
memberi rezeki kepada mereka dari pendengaran dan penglihatan, dan
langit dan bumi, dan yang siapakah yang mengeluarkan sesuatu yang
menghidupkan sesuatu yang asalnya hidup dari yang mati dan mengeluarkan
mati, mereka akan menjawab, “Allah.” sesuatu yang mati dari yang hidup dan
Adapun penyembahan mereka kepada siapakah yang mengatur segala urusan?’

2
Fatawa lil Lajnah Da’imah I/57
3
Atha ’ al mursyid artinya pemberian orang yang mendapatkan petunjuk.

6 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Tauhid
Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’ “Al-Mughirah bin Syu’bah pernah
Maka, katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak mendiktekan kepadaku surat yang
bertaqwa?’” (Q.S.Yunus:31) ditujukan kepada Mu’awiyah bahwasanya
Allah  juga berfirman, Nabi  berdzikir pada setiap akhir shalat
wajib yang lima waktu: ‘Tidak ada tuhan
yang berhak disembah selain Allah saja,
tidak ada sekutu baginya. Milik-Nyalah
kerajaan dan pujian. Ia berkuasa atas segala
sesuatu. Ya Allah, tidaklah ada yang dapat
menghalangi siapa yang hendak Engkau
beri dan tidak ada yang dapat memberi
siapa yang hendak Engkau halangi. Nasib
“Dan orang-orang yang mengambil baik seseorang tidak berguna untuk
pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami menyelamatkan ancaman-Mu.’”
tidak menyembah mereka melainkan Akan tetapi, kadang-kadang Allah
supaya mereka mendekatkan kami memberi hamba-Nya keturunan dan
kepada Allah sedekat-dekatnya.’ diluaskan rezkinya dengan (sebab) doa
Sesungguhnya Allah akan memutus-kan (hamba) kepada-Nya serta karena dia
apa yang mereka perselisihkan di antara berlindung kepada-Nya, sebagaimana
mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak yang (tampak) jelas dalam surat Ibrahim,
menunjuki orang-orang yang pendusta yaitu doa Ibrahim kepada Rabbnya, yang
dan sangat ingkar.” (Q.S. Az-Zumar:3) dikabulkan-Nya; juga dalam surat
Allah  juga berfirman, Maryam, surat Al-Anbiya’ dan surat
lainnya, yaitu doa Zakaria kepada
Rabbnya yang juga dikabulkan-Nya.
Juga sebagaimana tersebut di dalam
hadits Anas  , ia berkata, “Aku
“Atau apakah dia ini yang akan mendengar Rasulullah  bersabda,
memberi kamu rezki jika Allah menahan
rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus-
menerus dalam kesombongan dan
menjauhkan diri.” (Q.S. Al-Mulk:21)
Dan telah disebutkan di dalam hadits bahwa “Barangsiapa yang suka diluaskan
yang mampu memberi dan menahan rezeki rezekinya dan ditangguhkan ajalnya,
hanyalah Allah saja, yaitu hadits yang maka hendaklah suka menyambung tali
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Bab silaturahmi.” (H.R. Imam Bukharia dan
Dzikir Setelah Shalat dalam kitab Shahih- Muslimb dalam kitab Ash-Shahihain)4 .
nya bahwa Warrad, tukang catat (sekretaris -Allahu a’lam-.
pribadi) Al-Mughirah bin Syu’bah berkata,
4
Fatawa lil Lajnah Da’imah I/65-67
a
Hadits no.1961
b
Hadits no.1557

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 7


6
Tauhid

 Tentang Rezeki Manusia


Apakah Rezeki Manusia Sudah Ditentukan?
Pertanyaan:
Sebagian orang mengatakan, “Bagaimana mungkin semua rezeki datang dari
Allah, padahal aku bisa menambah pekerjaan dalam sehari agar mendapat rezeki
yang lebih banyak? Bagaimana mungkin rezeki itu telah ditentukan dan telah
tertulis untukku sehingga aku tidak bisa turut (andil) dalam menambah atau
menguranginya?” Apakah ada kitab yang membahas tuntas perkara ini untuk
dapat menghantarkan kami pada pemahaman yang benar?
Jawab:
Rezeki adalah dari Allah dalam hal pengadaan, penentuan kadar dan pemberian,
dalam bentuk usaha maupun sebab (yang Allah jadikan untuk hamba). Dan
hamba yang mengambil sebab tersebut, apapun bentuknya, yang sulit atau yang
mudah, sedikit atau banyak. Dan Allah menakdirkan dan mengadakan sebab-
sebab tersebut sebagai bentuk karunia dan rahmat-Nya (terhadap hamba). Maka
rizki dinisbatkan kepada Allah dalam hal penentuan dan pemberian rizki tersebut
(kepada yang Allah kehendaki).sedangkan ia dinisbatkan kepada hamba dalam
hal pengambilan sebab dan usaha (untuk mendapatkannya)5.

 Asal Usul Manusia


Teori Evolusi
Pertanyaan: menciptakan Adam dari tanah, kemudian
Ada yang mengatakan bahwa manusia berkata,’Jadilah!’ maka ia pun jadilah.”
berasal dari kera yang berevolusi. (Q.S. Ali Imran: 59)
Apakah ini benar?
Kemudian tanah tersebut –dalam ayat—
Jawab: dibasahi sehingga menjadi tanah liat
Perkataan ini tidak benar. Dalilnya yang lengket, Allah  berfirman,
adalah sebagaimana yang terdapat di
dalam Al-Qur’an ketika Allah menjelas-
kan tentang perkembangan penciptaan “Dan sungguh kami telah menciptakan
Adam. Allah  berfirman, manusia dari suatu saripati (berasal)
dari tanah.” (Q.S.Al-Mu’minun: 12)
Allah  berfirman,

“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan
Allah adalah seperti Adam. Allah
mereka dari tanah liat.” (Q.S. Ash Shaffat: 11)
5
Fatawa lil Lajnah ad-Da’imah 1/68.

8 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Tauhid
Kemudian, tanah tersebut berubah Itulah fase perkembangan penciptaan
menjadi lumpur hitam yang diberi Adam dari sudut pandang Al-Qur’an.
bentuk. Dalam hal ini Allah  berfirman,
Adapun perkembangan yang dialami
keturunan Adam disebutkan oleh Allah
 dalam firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Kami telah


menciptakan manusia (=Adam) dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam
yang diberi bentuk.” (Q.S. Al Hijr: 26)
Kemudian setelah kering tanah tersebut
berubah seperti tembikar. Ini dijelaskan
dalam firman Allah :

“Dia menciptakan manusia dari tanah


kering seperti tembikar.” (Q.S. Ar
“Dan sesungguhnya Kami telah
Rahman:14)
menciptakan manusia dari suatu saripati
Kemudian, Allah pun membentuk tanah (berasal) dari tanah. Kemudian Kami
tersebut menjadi bentuk yang Dia jadikan saripati itu air mani (yang disimpan)
ingini; lalu ditiupkan ruh kedalamnya dalam tempat yang kokoh (rahim).
dari ruh (ciptaan)-Nya. Tentang hal ini Kemudian air mani itu Kami jadikan
Allah  berfirman, segumpal darah; lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging; lalu
segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang; lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging; kemudian kami
jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu (Q.S. Al-Mu’minun:12-14)
berfirman kepada para malaikat, Adapun tentang istri Adam (Hawa),
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan Allah  terangkan bahwa ia diciptakan
seorang manusia dari tanah liat kering dari Adam, sebagaimana tersebut
(yang berasal) dari lumpur hitam yang dalam firman-Nya,
diberi bentuk. Maka, bila telah Aku “Hai manusia, bertakwalah kamu
sempurnakan bentuknya dan telah Aku sekalian kepada Tuhanmu yang telah
tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaaan)– menciptakan kamu dari diri yang satu,
Ku, tunduklah kamu kepadanya dengan dan dari diri itulah Dia menciptakan
cara bersujud.” (Q.S. Al Hijr: 28-29) istrinya.” (Q.S. An-Nisa: 1)6
6
Fatawa lil Lajnah ad-Da’imah 1/68-70

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 9


8
Fatwa

Diasuh oleh: Abu Humaid Arif Syarifuddin

TIDAK BOLEH BERPEGANG KEPADA beliau menyembunyikan ibu jarinya,


HISAB DALAM PENETAPAN AWAL (yakni bahwa satu bulan itu dua puluh
BULAN 1 sembilan atau tiga puluh hari).” (Hadits
Pertanyaan: muttafaq ‘alaih)3
Di beberapa negeri-negeri Islam, ada Dalam Shahih Bukhari 4 dari Abu
orang-orang yang sengaja memulai Hurairah , Nabi  bersabda,
puasa hanya dengan berpatokan
kepada kalender, tanpa berpegang
kepada ru’yah hilal.2 Bagaimana hukum
hal tersebut?
“Berpuasalah kalian apabila melihat
Jawab: hilal, dan berbukalah kalian bila sudah
Nabi  telah memerintahkan kaum melihat hilal. Jika hari mendung
muslimin untuk (memulai) puasa (sehingga bulan tidak bisa terlihat),
berdasarkan ru’yah hilal dan berbuka maka sempurnakan bilangan bulan
(untuk ‘idul fithri) juga berdasarkan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”
ru’yah hilal. Jika pada sore hari Beliau  juga bersabda,
menjelang maghrib di akhir bulan
tersebut cuaca mendung (sehingga
tidak dapat melihat bulan), maka
hendaknya menyempurnakan bilangan
hari menjadi tiga puluh hari.
Nabi  bersabda, “Sesungguhnya kami
adalah umat yang ummi; tidak bisa “Janganlah kalian berpuasa sampai kalian
membaca dan berhitung. Satu bulan itu melihat hilal atau menyempurnakan
begini, begini, dan begini.” Beliau bilangan (hari bulan Sya’ban), dan
mengisyaratkan dengan semua jari-jari janganlah kalian berbuka hingga melihat
tangannya, lalu pada kali yang ketiga hilal atau menyempurnakan bilangan
(hari bulan Ramadhan).”5
1
Syaikh Bin Baz – dari risalah Fatawa As-Shiyam hal.12-13 , penyusun Muhammad Al-
Musnid, cet. 2 thn. 1419, Dar Al-Wathan, Riyadh, KSA.
2
Melihat munculnya bulan pada awal pergantian bulan, -Pen.
3
Bukhari no. 1814; Muslim no. 1080.
4
Hadits no.1776.
5
Shahih Bukhari hadits no.1773 dari riwayat Abdullah Ibnu Umar.

10 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Fatwa
Banyak hadits-hadits yang menyebutkan tersebut biasanya beliau membangunkan
tentang hal ini, yang kesemuanya keluarganya, mengencangkan ikat
menunjukkan wajibnya melakukan pinggangnya dan menghidupkan malam-
ru’yatul hilal atau menyempurnakan malam tersebut dengan shalat tarawih.
bilangan (hari), manakala tidak dapat Rasulullah  bersabda:
melihat bulan, dan sekaligus menunjuk-
kan akan ketidakbolehan bersandar
kepada hisab (hitungan kalender).
Syaikhul Islam telah menyebutkan
adanya ijmak para ulama, tentang “Barangsiapa melakukan shalat malam
ketidakbolehan berpegang kepada pada bulan Ramadhan dengan penuh
hisab dalam menetapkan awal bulan. keimanan dan mengharap pahala dari
Dan itulah yang benar; yang tidak ada Allah akan diampuni dosa-dosanya
keraguan padanya. Wallahu waliyut yang telah lalu.”
taufiq. Rasulullah  juga bersabda:

FATWA PERAYAAN MALAM


“LAILATUL QADAR” PADA TIAP
TANGGAL 27 RAMADHAN 6
“Barangsiapa melakukan shalat malam
Pertanyaan:
pada malam Lailatul Qadar dengan
Apa hukum merayakan malam lailatul
penuh keimanan dan mengaharap
qadar yang biasa dilaksanakan tiap
pahala dari Allah akan diampuni dosa-
tanggal 27 Ramadhan?
dosanya yang telah lalu.” (Hadits
Jawab: Muttafaq ‘alaih)7
Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah  menjelaskan, bahwa
Muhammad  dan seburuk-buruk malam Lailatul Qadar terdapat pada
perkara adalah yang diada-adakan. sepuluh malam terakhir bulan
Adapun petunjuk Nabi  dalam bulan Ramadhan, tepatnya pada salah satu
Ramadhan adalah memperbanyak dari malam ganjilnya. Dalam hal ini
ibadah, seperti shalat, membaca Al- beliau  bersabda,
Qur’an, bersedekah dan bentuk-bentuk
amal shaleh lainnya. Begitulah yang
biasa dilakukan oleh Rasulullah pada tiap-
tiap bulan Ramadhan. Bila Ramadhan
telah memasuki sepuluh malam terakhir
beliau lebih bersungguh-sungguh dalam “Carilah (lailatul qadar) pada malam
melakukan ibadah. Pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir.” 8

6
Fatawa Lajnah Da’imah III/40, dinukil dari kitab Fatawa Muhimmah li Umumil Ummah.
7
Bukhari no. 37, 1905, 1802; Muslim no. 759, 760.
8
H.R. Ahmad di dalam Musnad-nya V/40; dan asalnya ada dalam Shahihain, Bukhari no.
1912, 1913; Muslim no. 1165.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 11


10
Fatwa
Beliau  juga bersabda, BILA HARI RAYA JATUH PADA HARI
JUM’AT, APAKAH SHALAT JUM’AT
TETAP HARUS DILAKSANAKAN?11
Pertanyaan:
Apabila hari raya ‘Idul Fitri atau ‘Idul
“Carilah pada sembilan, tujuh, lima atau Adha jatuh pada hari Jum‘at, apakah
tiga malam yang tersisa atau pada akhir shalat Jum‘at tetap dilaksanakan
malam.” 9 atau tidak?
Nabi  pernah mengajari Aisyah  Jawab:
sebuah doa yang dibaca ketika Saat hari raya ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha
mendapatkan malam lailatul qadar. tiba, kaum muslimin disyariatkan
Dalam kitab Musnad-nya Ahmad melakukan shalat ‘Id di lapangan. Bila
meriwayatkan, bahwa Aisyah  ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha jatuh pada hari
berkata, “Wahai Nabi Allah, jika aku Jum‘at, bagi yang paginya ikut shalat ‘Id
mendapatkan malam tersebut, apa yang siangnya dibolehkan tidak ikut shalat
aku katakan?” Nabi  menjawab, Jum‘at, tetapi diganti dengan shalat
“Ucapkanlah, zhuhur seperti biasanya. Hal itu
berdasarkan hadits-hadits berikut.
a. Dari Zaid bin Arqam, ia berkata, “Nabi
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pernah shalat ‘Id dan memberi
Pemaaf dan suka memaafkan, maka keringanan (kepada para sahabat
maafkanlah aku.” 10 untuk tidak) shalat Jum‘at, kemudian
Itulah petunjuk Rasulullah  dalam beliau bersabda,
mengisi bulan Ramadhan dan malam
lailatul qadar.
Adapun perayaan malam lailatul qadar, ‘Barangsiapa yang menginginkan
yang dianggap jatuh pada tanggal 27 shalat (jum’at), maka shalatlah.’”
Ramadhan, maka itu adalah perbuatan (Diriwayatkan oleh lima imam hadits
yang menyimpang dari petunjuk kecuali At-Tirmidzi; 12 dishahihkan oleh
Rasulullah karena Rasulullah  tidak Ibnu Khuzaimah)
pernah merayakan malam lailatul qadar. b. Dari Abu Hurairah , dari Rasulullah
Jadi, perayaan malam lailatul qadar , bahwa beliau bersabda,
tidak lain hanyalah bid’ah, yaitu perkara
yang baru dalam agama kita ini, yang
tidak ada contohnya dari Rasulullah .
9
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (hadits no. 794) dan beliau berkata, “Hadits ini hasan
shahih.” Dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih At-Tirmidzi I/417
10
Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al Kubra no. 7712, Ibnu Majah no. 3580
dan At-Tirmidzi no. 3513. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dan
dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih At-Tirmidzi III/446
11
(Syaikh Bin Baz – Idem hal. 114-115).
12
Abu Dawud hadits no. 1070; An-Nasa’i hadits no. 1590; Ibnu Majah hadits no. 1310;
Imam Ahmad IV/372. Lihat Shahih Ibnu Majah I/392

12 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Fatwa
“Telah terkumpul pada hari kalian ini
dua hari raya (‘Id dan Jum‘at). maka
barangsiapa yang berkehendak, dia
boleh meninggal-kan shalat jum‘at;
adapun kami, akan mengadakan
shalat jum‘at.”.13
c. Dari An-Nu‘man bin Basyir, ia berkata,

Nabi  pada dua hari raya dan hari wajib menunaikan shalat fardhu lima
Jum‘at membaca waktu dalam sehari semalam, yang
dan . An-Nu’man diantaranya shalat jum‘at, setiap hari
berkata, “ Apabila shalat ‘id dan shalat Jum‘at. Sehingga, siapa yang tidak
jum‘at jatuh pada hari yang sama, menunaikan shalat jum‘at karena sakit,
beliau membaca kedua ayat tadi di dua bepergian, atau karena paginya telah
shalat tersebut.” 14 menghadiri shalat ‘Id, maka wajib
menunaikan shalat zhuhur. Ini
Hadits-hadits di atas menunjukkan
merupakan ijma’ para ulama.
anjuran kepada kaum muslimin untuk
Saya memohon kepada Allah  agar
mengadakan shalat ‘Id dan juga shalat
memberikan taufik-Nya kepada kami,
jum‘at, apabila hari raya jatuh pada hari
Anda, dan seluruh saudara-saudara kita,
Jum‘at. Namun pada hadits pertama dan
sehingga memahami agama-Nya dan
kedua disebutkan bahwa bagi orang yang
teguh menjalankannya. Saya juga berdoa
telah menghadiri shalat ‘Id dibolehkan
semoga Allah  menjadikan kami dan
tidak shalat jum‘at dan menggantinya
Anda sekalian sebagai penolong
dengan shalat zhuhur seperti biasanya.
(agama)-Nya dan penyeru ke jalan-Nya
Karena telah kita ketahui bersama bahwa
dengan ilmu yang benar. Sesungguhnya
seorang muslim mukallaf (yang telah
terkena beban menjalankan syari’at) Dia Maha Pemurah lagi Mulia.

13
Diriwayatkan oleh Abu Dawud hadits no. 97 dan Ibnu Majah hadits no. 1301. Lihat
Shahih Ibnu Majah I/392
14
Diriwayatkan oleh Muslim hadits no. 1452.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 13


12
Fatwa
HUKUM MENINGGALKAN SHALAT
‘ID15
Pertanyaan:
Bolehkah seorang muslim meninggalkan
shalat ‘id tanpa ada udzur atau sebab
syar’i juga melarang wanita menunaikan
shalat ‘id bersama orang banyak?
.
Jawab:
Shalat ‘id hukumya fardhu -kifayah,
menurut kebanyakan ulama- sehingga
tidak berdosa bagi sebagian orang yang
meninggalkannya bila ada sebagian yang
lain melaksanakannya. Adapun meng- “Kami diperintahkan untuk keluar
hadiri acara shalat ‘id secara bersama- pada –acara shalat- dua hari
sama hukumnya sunnah muakkadah raya, begitu pula wanita yang belum
(yang sangat dianjurkan). Tidak pantas menikah dan yang sedang haid, agar
seseorang meninggalkannya kecuali menyaksikan kebaikan dan doa kaum
ada udzur atau sebab syar’i (yang bisa muslimin. Adapun yang sedang haid,
diterima agama). Sebagian para ulama menjauh dari tempat pelaksanakan
berpendapat bahwa shalat ‘id hukumya shalat (berada di luar tempat
fardlu ‘ain seperti shalat jum’at; yang pelaksanaan shalat).”
tidak boleh ditinggalkan oleh seorang Dalam hadits lain disebutkan
laki-laki merdeka yang mukallaf (yang dengan lafazh: “Lalu salah seorang dari
sudah terkena beban menjalankan mereka (kaum wanita) berkata, ‘Wahai
syari’at agama) dan tidak sedang Rasulullah, salah seorang dari kami
bepergian. Inilah pendapat yang lebih tidak mempunyai jilbab untuk keluar.’
kuat dan lebih mendekati kebenaran. Lalu beliau menjawab, “Hendaknya
saudarinya meminjamkan jilbab
Adapun bagi wanita, disunnahkan miliknya.”
menghadiri shalat ‘id asalkan terpisah
tempatnya dari kaum laki-laki, menutup Tidak diragukan lagi, bahwa hadits di atas
aurat, dan tidak menggunakan menunjukkan anjuran yang kuat kepada
wewangian. Hal ini berdasarkan hadits para wanita untuk menghadiri acara
yang terdapat dalam kitab Shahihain shalat pada dua hari raya agar dapat ikut
(Shahih Bukhari16 dan Muslim17) dari menyaksikan kebaikan dan doa kaum
Ummu ‘Athiyyah, bahwa ia berkata, muslimin.Wallahu waliyyut taufiq.

15
(Syaikh Bin Baz – Idem hal. 116)
16
Hadits no. 931
17
Hadits no. 890

14 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Hadits

○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Dari Umar bin Al-Khatthab , bahwasanya Rasulullah  bersabda,
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan
sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari)
apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah
dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya.
Barangsiapa hijrahnya karena (harta atau kemegahan) dunia yang dia
harapkan, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka
hijrahnya itu ke arah yang ditujunya.”
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Bagian Pertama dari Dua Tulisan


Oleh: Abu Humaid Arif Syarifuddin

Takhrij Ringkas Hadits Biografi Periwayat


Hadits ini diriwayatkan oleh: Bukhari
Umar bin Al-Khatthab
dalam kitab Shahih-nya (hadits no. 1, Ibnu Hajar berkata, “ Beliau adalah
54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953, Umar bin Al-Khatthab bin Nufail Al-
dengan lafaz yang berbeda-beda) dan Qurasyi Al-‘Adawi, Abu Hafsh Amirul
Muslim dalam kitab Shahih-nya hadits Mukminin. Abu Nu’aim meriwayatkan
no. 1907. Dan lafaz hadits yang melalui jalan Ibnu Ishak, katanya
tersebut di atas dicantumkan oleh An- ‘…Beliau dilahirkan empat tahun setelah
Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin perang Fijar, yaitu 30 tahun sebelum
dan kitab Arba’in serta Ibnu Rajab Rasulullah  diangkat menjadi nabi…’
dalam kitab Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam. Beliau bersikap keras terhadap kaum
muslimin pada awal-awal kenabian

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 15


14
Hadits
Rasulullah ; kemudian masuk Islam. Rasulullah  . Memegang tampuk
Dan keislaman beliau membuka kekhalifahan selama sepuluh tahun
kemenangan serta kelapangan bagi lebih lima atau enam bulan. Terbunuh
kaum muslimin. Abdullah bin Mas’ud (mati syahid) pada hari Rabu tanggal
berkata, ‘Kami baru dapat beribadah 26 atau 27 Dzulhijjah tahun 23 H.” Abu
kepada Allah secara terang-terangan Umar bin Abdul Barr berkata, “…Melalui
setelah Umar masuk Islam.’” 1 tangannya Allah taklukkan negeri
Syaikh Al-Mubarakfuri berkata, Syam, Irak dan Mesir. Membuat dewan-
”Beliau masuk Islam pada bulan dewan (departemen-departemen
Dzulhijjah tahun ke-6 kenabian, yaitu dalam pemerintahan) dan menetapkan
tiga hari setelah Hamzah bin Abdul penanggalan hijriyyah….” 6
Muththalib masuk Islam. Nabi  pernah
berdo’a kepada Allah agar Umar masuk Makna Kata dan Kalimat
Islam. Tentang hal ini At-Tirmidzi 2
meriwayatkan dari Ibnu Umar dan
“Sesungguhnya segala amalan itu tidak
sekaligus menilainya shahih, demikian
lain tergantung pada niat.”
pula Ath-Thabrani dari Ibnu Mas’ud3
dan Anas 4 . bahwasanya Nabi  Imam An-Nawawi berkata, “Jumhur
bersabda: ulama berkata, ‘Menurut ahli bahasa,
ahli ushul dan yang lain, lafadz
digunakan untuk membatas, yaitu
menetapkan sesuatu yang disebutkan
dan menafikan selainnya. Jadi, makna
hadits di atas adalah, bahwa amalan
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan
seseorang akan dihisab (diperhitungkan)
salah satu dari yang paling Engkau
berdasarkan niatnya dan sebaliknya tidak
cintai: Umar bin Al-Khaththab atau Abu
akan dihisab bila tidak disertai niat.”7
Jahal bin Hisyam.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Kita mengetahui, ternyata Allah memilih berkata, “Lafadz dalam bahasa
Umar.”5 Arab sejenis dengan lafadz
Al-Mizzi berkata, ”Beliau berhijrah ke (maksud), (keinginan) dan
Madinah sebelum Rasulullah . Ikut semisalnya.” Niat dapat mengungkapkan
serta dalam perang Badar dan semua jenis keinginan, dan dapat pula
peperangan yang lain bersama mengungkapkan yang diinginkan itu
sendiri.”8
1
Kitab Al-Ishabah IV/484 no. 5752.
2
Kitab Sunan At-Tirmidzi (hadits no. 3681). Lihat pula Shahih Tirmidzi III/508,509
3
Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir (hadits no. 10314)
4
Kitab Al-Mu’jam Al-Ausath (hadits no. 1860)
5
Kitab Ar-Rahiq Al- Makhtum (hal. 116).
6
Kitab Tahdzib Al-Kamal II/1006.
7
Kitab Syarah Shahih Muslim XIII/47.
8
Kitab Majmu’ Al-Fatawa XVIII/251.

16 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Hadits
Ibnu Rajab berkata, “Niat menurut diniatkannya. Jika dia meniatkan untuk
para ulama mengandung dua maksud, kebaikan niscaya akan memperoleh
yaitu: kebaikan, dan jika meniatkan untuk
Pertama, sebagai pembeda antara kejelekan niscaya akan memperoleh
satu ibadah dengan yang lain, seperti kejelekan pula. Kalimat ini bukan
membedakan antara Shalat Zhuhur semata-mata pengulangan dari kalimat
dengan Shalat Ashar, puasa Ramadhan pertama (yakni );
dengan puasa yang lain; atau pembeda karena kalimat pertama menunjukkan
antara ibadah dengan adat kebiasaan. bahwa, baik dan buruknya amalan
seperti, membedakan antara mandi tergantung pada niat yang melakukan-
junub (mandi wajib) dengan mandi nya. Sedangkan kalimat kedua menunjuk-
untuk sekedar mendinginkan atau kan bahwa, pelakunya mendapat pahala
membersihkan badan atau yang amalan jika niatnya baik dan akan
semisalnya. Niat semacam ini banyak mendapatkan siksa jika niatnya jelek.
dibicarakan oleh para ahli fikih dalam Niat bisa saja dalam hal yang mubah,
kitab-kitab mereka. di mana amalannya pun mubah;
Kedua, untuk membedakan tujuan sehingga seseorang tidak memperoleh
dalam beramal, apakah yang dituju pahala maupun siksa. Jadi, amalan
adalah Allah semata yang tiada sekutu seseorang dianggap baik, buruk, atau
bagi-Nya atau semata-mata hanya mubah tergantung pada niatnya;
untuk selain-Nya, atau untuk Allah tapi apakah baik, jelek, atau mubah.”10
juga untuk selain-Nya. Niat semacam Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata,
ini dibicarakan oleh para ulama dalam “Apabila kita perhatikan secara
kitab-kitab mereka ketika membicarakan seksama dua kalimat tersebut
masalah ikhlas dan apa-apa yang (yakni dan
berkaitan dengannya. Para ulama salaf ) akan tampak
juga banyak membicarakan masalah bahwa keduanya mempunyai perbedaan
ini.”9 yang jelas, yaitu: kalimat pertama
berbicara tentang sebab, sedangkan
“dan sesungguhnya tiap-tiap orang kalimat kedua berbicara tentang hasil.”11
tidak lain (akan memperoleh balasan
dari) apa yang diniatkannya.”
Ibnu Rajab berkata, “Kalimat ini
menerangkan bahwa seseorang tidak
akan mendapatkan hasil dari
amalannya melainkan apa yang telah

9
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam I/28-29.
10
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam I/27-28.
11
Syarah Riyadhus Shalihin I/12.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 17


16
Hadits
“Barangsiapa hijrahnya menuju muslimin yang sanggup melakukannya
(keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka ke Madinah setelah Nabi menetap di
hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah sana. Waktu itu, hijrah memang
dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya dikhususkan untuk perpindahan
karena (harta atau kemegahan) dunia dengan tujuan ke Madinah saja.
yang dia harapkan, atau karena Namun, pengkhususan ini berakhir
seorang wanita yang ingin dinikahinya, hingga ditaklukkannya kota Mekkah.
maka hijrahnya itu ke arah yang Untuk selanjutnya, hijrah kembali
ditujunya.” dipakai secara umum, yaitu untuk
segala perpindahan dari negeri kafir ke
Imam An-Nawawi berkata, negeri iman bagi siapa yang sanggup
“Maksudnya ialah, barangsiapa tujuan melakukannya.”13
hijrahnya mengharap wajah Allah , Ibnu Rajab berkata, “Kata hijrah arti
maka dia akan mendapatkan pahala asalnya ialah meninggalkan negeri
dari Allah  ; barangsiapa tujuan syirik menuju ke negeri Islam,
hirahnya untuk mencari hal-hal yang sebagaimana kaum muhajirin —
sifatnya keduniaan atau untuk menikahi sebelum penaklukkan kota Mekkah—
seorang wanita maka itulah yang akan berhijrah dari Mekkah ke Madinah.14
diperolehnya dan tidak ada bagian Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata,
baginya di akhirat dengan hijrahnya “Hijrah ialah berpindahnya seseorang
itu.”12 dari negeri kafir menuju negeri Islam.
Ibnu Hajar berkata, “Hijrah artinya Sebagai misalnya, seseorang yang
meninggalkan. Hijrah kepada sesuatu tinggal di Amerika, –Amerika saat ini
artinya berpindah kepada sesuatu dari adalah merupakan negeri kafir–
sesuatu yang lain sebelumnya. Secara kemudian dia masuk Islam, tetapi tidak
syar’i, hijrah berarti meninggalkan apa bisa melaksanakan ajaran Islam secara
yang dilarang oleh Allah. Hijrah yang leluasa di sana, lalu dia berpindah ke
pernah terjadi dalam Islam ada dua (salah satu dari) negeri-negeri Islam.
bentuk. Pertama, hijrah dari negeri Begitulah yang namanya hijrah.”15
yang tidak aman menuju negeri yang
aman, sebagaimana dua hijrah yang Faedah Hadits
pernah dilakukan kaum muslimin, yaitu 1. Kedudukan dan Hakikat Niat
dari Mekkah ke negeri Habasyah dan Imam Ahmad berkata, “Dasar-dasar
dari Mekkah ke Madinah. Kedua, hijrah
Islam ada pada tiga hadits, yaitu: Hadits
dari negeri kafir ke negeri iman, yaitu
hijrahnya siapa saja dari kalangan kaum Umar ( ), Hadits ‘Aisyah
( )
12
Syarah Shahih Muslim XIII/47-48.
13
Kitab Fathul Bari I/23.
14
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam I/37.
15
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/14-15.
16
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam I/23.

18 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Hadits
dan Hadits An-Nu’man bin Basyir Yahya bin Katsir berkata, “Pelajarilah
( ).”16 niat karena niat lebih utama dari
amal.”21
Imam As-Syafi’i berkata, “Hadits ini
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Tidak
mencakup sepertiga ilmu, dan masuk
ada sesuatu yang paling berat yang aku
dalam tujuh puluh bab fikih.”17
hadapi daripada niat karena niat selalu
Ibnu Hajar berkata, “Al-Baihaqi
berubah-ubah.” 22
menjelaskan bahwa hadits ini mencakup
Al-Fadhl bin Ziyad berkata, “Aku
sepertiga ilmu. Penjelasannya: amal usaha
pernah bertanya kepada Abu Abdullah
seorang hamba bisa dihasilkan dengan
–yakni Imam Ahmad– tentang niat
hati, lidah, dan anggota badannya. Niat
dalam beramal. Aku bertanya, “Apakah
adalah salah satu amalan hati dan
niat itu?” Beliau menjawab, “Seseorang
merupakan sarana beramal yang
mengendalikan dirinya ketika hendak
terkuat dari ketiganya karena niat bisa
beramal agar tidak menginginkan
menjadi suatu ibadah yang berdiri
pujian manusia.’” 23
sendiri dan sangat dibutuhkan oleh
ibadah-ibadah yang dihasilkan oleh 2. Pengaruh Niat Terhadap Amal
anggota badan lainnya.”18 dan Pahala
Ibnu Rajab berkata, “Bukhari Mutharrif bin Abdullah berkata,
mengawali kitab Shahih-nya dengan “Baiknya hati karena baiknya amal, dan
hadi ts ini dan menempatkannya baiknya amal karena baiknya niat.”24
sebagai khutbah pendahuluan. Ini Abdullah bin Al-Mubarak berkata,
merupakan isyarat dari beliau bahwa “Bisa jadi amal saleh yang kecil
semua amalan yang tidak ditujukan dibesarkan nilainya oleh sebab niat,
untuk memperoleh wajah Allah adalah dan bisa jadi amal saleh yang besar
batil, tidak ada hasilnya di dunia dikecilkan nilainya karena niat pula.”25
maupun akhirat.”19 Syaikh Abdurrahman As-Sa’di
Abdurrahman bin Mahdi berkata, berkata, “Tidaklah amalan itu bertambah
“Bagi siapa yang ingin mengarang nilainya dan besar pahalanya melainkan
sebuah kitab hendaknya memulai tergantung pada keimanan dan
dengan hadits ini untuk mengingatkan keikhlasan yang terdapat dalam hati
penuntut ilmu agar memperbaiki niat.”20 pelakunya, sampai-sampai jika seorang

17
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam I/23. Lihat juga kitab Syarah Shahih Muslim XIII/47, kitab
Fathul Bari I/17.
18
Kitab Fathul Bari I/17.
19
Kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam I/23.
20
Kitab Syarah Shahih Muslim XIII/47.
21
Kitab Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam I/34.
22
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam I/34. Lihat kitab Tadzkirah As Sami’ karya Al-Kittani h. 681.
23
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam I/26.
24
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam 1/35.
25
Kitab Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam 1/35.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 19


18
Hadits
berniat jujur (untuk melakukan
kebaikan) –khususnya apabila
berhubungan dengan amalan yang
disanggupinya– maka dia (mendapat
pahala) sama seperti orang yang
melakukannya (sekalipun ia belum
melakukannya). “Sesungguhnya di Madinah ada
Allah  berfirman, sekelompok orang yang tidaklah kalian
melalui suatu jalan dan melintasi suatu
lembah melainkan mereka sama seperti
kalian – yakni dalam niat, hati, dan pahala –
hanya saja mereka terhalang sesuatu
udzur”27.28
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata,
“Barangsiapa keluar dari rumahnya “Seseorang yang telah bertekad ingin
dengan maksud berhijrah kepada Allah melakukan suatu kebaikan yang biasa
dan Rasul-Nya, kemudian mati sudah dia kerjakan, tetapi tidak bisa
(sebelum sampai ke tempat yang melakukannya karena terhalang oleh
dituju), maka dia akan mendapatkan sesuatu hal, maka akan dicatat untuknya
pahala hijrahnya dari Allah.” (Q.S. An- pahala amalan tersebut dengan
Nisa’: 100) sempurna. Contohnya, seseorang yang
Dan dalam sebuah hadits shahih yang biasa shalat berjamaah di masjid, tetapi
marfu’ (sampai kepada Nabi  ) terhalang oleh sesuatu seperti tertidur,
disebutkan, sakit atau semisalnya, maka akan
dicatatkan untuknya pahala (seperti
pahala) orang yang shalat berjamaah
dengan sempurna; tidak dikurangi sedikit
pun. Adapun apabila bukan sesuatu yang
Jika seorang hamba sakit atau biasa diamalkannya, maka hanya akan
bepergian, maka dicatat untuknya apa dicatatkan untuknya pahala niatnya saja,
yang biasa dikerjakannya ketika dia tanpa pahala amalnya.” 29
sehat dan mukim.26 Bersambung pada edisi selanjutnya,
Insya Allah

26
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/410 dan 418) dan Bukhari (hadits no. 2996)
dari Abu Musa Al-Asy’ari.
27
Hadits ini diriwayatkan oleh:
- Bukhari (hadits no 2839) dari Anas  dengan lafazh:

- Muslim (hadits no. 1911) dari Jabir dengan lafazh:

28
Kitab Bahjah Qulub Al-Abrar hal. 14.
29
Kitab Syarah Riyadhus Shalihin I/29.

20 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Fiqih
Oleh: Abu Humaid Arif Syarifuddin

Definisi 2. Hukum-hukum syari’at itu sendiri.


Fiqih menurut bahasa berarti Jadi perbedaan antara kedua definisi
paham, seperti dalam firman Allah : tersebut bahwa yang pertama di
gunakan untuk mengetahui hukum-
hukum 3 , sedangkan yang kedua
“Maka mengapa orang-orang itu (orang adalah untuk hukum-hukum syari’at
munafik) hampir-hampir tidak itu sendiri4.
memahami pembicaraan sedikitpun?”
(QS.An Nisa :78) Hubungan Antara Fiqih
dan sabda Rasullah :
dan Aqidah Islam
Diantara keistimewaan fiqih Islam
—yang kita katakan sebagai hukum-
hukum syari’at yang mengatur perbuatan
dan perkataan mukalaf– memiliki
“Sesungguhnya panjangnya shalat dan keterikatan yang kuat dengan
pendeknya khutbah seseorang, merupa- keimanan terhadap Allah dan rukun-
kan tanda akan kepahamannya.” 1 rukun aqidah Islam yang lain. Terutama
Aqidah yang berkaitan dengan iman
Adapun secara istilah: fiqih
dengan hari akhir.
mengandung dua arti:
1. Pengetahuan tentang hukum- Yang demikian Itu dikarenakan
hukum syari’at yang berkaitan keimanan kepada Allah-lah yang dapat
dengan perbuatan dan perkataan menjadikan seorang muslim berpegang
mukalaf 2, yang diambil dari dalil- teguh dengan hukum-hukum agama,
dalilnya yang bersifat terperinci, dan terkendali untuk menerapkannya
berupa nas-nas al Qur’an dan as sebagai bentuk ketaatan dan kerelaan.
Sunnah serta yang bercabang Sedangkan orang yang tidak beriman
darinya yang berupa ijma’ dan ijtihad. kepada Allah  tidak merasa terikat
dengan shalat maupun puasa dan tidak
1
Muslim no.1437, Ahmad no.17598, Daarimi no.1511
2
Yakni mereka yang sudah terbebani menjalankan syari’at agama
3
Seperti seseorang ingin mengetahui apakah suatu perbuatan itu wajib atau sunnah, haram
atau makruh, ataukah mubah, ditinjau dari dalil-dalil yang ada.
4
Yaitu hukum apa saja yang terkandung dalam shalat, zakat, puasa, haji, dan lainnya
berupa syarat-syarat, rukun–rukun, kewajiban-kewajiban, atau sunnah-sunnahnya.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 21


20
Fiqih
memperhatikan apakah perbuatannya menjauhi kemungkaran dan contoh
termasuk yang halal atau haram. Maka lainnya, yang tidak memungkinkan
berpegang teguh dengan hukum- untuk disebutkan satu persatu.5
hukum syari’at tidak lain merupakan
Fiqih Islam Mencakup
bagian dari keimanan terhadap Dzat yang
Seluruh Kebutuhan
menurunkan dan mensyari’atkannya
Manusia
terhadap para hamba-Nya.
Tidak ragu lagi bahwa kehidupan
Contohnya:
manusia meliputi segala aspek. Dan
a. Allah  memerintahkan bersuci dan
kebahagian yang ingin dicapai oleh
menjadikannya sebagai salah satu
manusia mengharuskannya untuk
keharusan dalam keimanan kepada
memperhatikan semua aspek tersebut
Allah  sebagaimana firman-Nya:
dengan cara yang terprogram dan teratur.
Manakala Fiqih Islam adalah
ungkapan tentang hukum-hukum yang
Allah syari’atkan kepada para hambanya,
demi mengayomi seluruh kemaslahatan,
dan mencegah timbulnya kerusakan
ditengah-tengah mereka, maka Fiqih Is-
lam datang memperhatikan aspek
tersebut dan mengatur seluruh
“Hai orang-orang yang beriman,
kebutuhan manusia beserta hukum-
apabila kamu hendak mengerjakan
hukumnya.
shalat, maka basuhlah mukamu dan
tanganmu sampai dengan siku, dan Penjelasannya sebagai berikut:
sapulah kepalamu dan (basuh) Kalau kita memperhatikan kitab-
kakimu sampai dengan kedua mata kitab fiqih yang mengandung hukum-
kaki.” (Q.S. al Maidah:6) hukum syari’at yang bersumber dari
b. Juga seperti shalat dan zakat yang Kitab Allah, Sunnah Rasulnya, serta
Allah kaitkan dengan keimanan Ijma (kesepakatan) dan Ijtihad para
terhadap hari akhir, sebagaimana ulama kaum muslimin, niscaya kita dapati
firman-Nya : kitab-kitab tersebut terbagi menjadi tujuh
bagian, yang kesemuanya membentuk
satu undang-undang umum bagi
kehidupan manusia, baik bersifat pribadi
maupun bermasyarakat. Yang perincian-
“(yaitu) orang-orang yang mendiri- nya sebagai berikut:
kan shalat dan menunaikan zakat 1. Hukum-hukum yang berkaitan dengan
dan mereka yakin akan adanya ibadah kepada Allah. Seperti wudhu,
negeri akhirat.” (Q.S. an Naml:3) shalat, puasa, haji dan yang lainnya.
Demikian pula taqwa, pergaulan baik, Dan ini disebut dengan Fiqih Ibadah
5
lihat fiqhul manhaj hal.9-12

22 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Fiqih
2. Hukum-hukum yang berkaitan disebut dengan Adab dan Akhlak
dengan masalah kekeluargaan. Demikianlah kita dapati bahwa fiqih
Seperti pernikahan, talaq, nasab, Islam dengan hukum-hukumnya
persusuan, nafkah, warisan dan meliputi semua kebutuhan manusia dan
yang lainya. Dan ini disebut dengan memperhatikan seluruh aspek
Fikih al Ahwal as Sakhsiah kehidupan pribadi dan masyarakat.
3. Hukum-hukum yang berkaitan
dengan perbuatan manusia dan
Sumber-Sumber Fiqih
hubungan diantara mereka, seperti
Islam
jual beli, jaminan, sewa menyewa, Semua hukum yang terdapat dalam
pengadilan dan yang lainnya. Dan fiqih Islam kembali kepada empat
ini disebut Fiqih Mu’amalah sumber:
4. Hukum-hukum yang berkaitan 1. Al Qur’an
dengan kewajiban-kewajiban Al Qur’an adalah kalamullah yang
pemimpin (kepala negara). Seperti diturunkan kepada Nabi kita
menegakan keadilan, memberantas Muhammad  untuk menyelamatkan
kedzaliman dan menerapkan manusia dari kegelapan menuju
hukum-hukum syari’at, serta yang cahaya yang terang benderang. Ia
berkaitan dengan kewajiban- adalah sumber pertama bagi
kewajiban rakyat yang dipimpin. hukum-hukum fiqih Islam. Jika kita
Seperti kewajiban taat dalam hal menjumpai suatu permasalahan,
yang bukan ma’siat, dan yang maka pertamakali kita harus kembali
lainnya. Dan ini disebut dengan kepada Kitab Allah guna mencari
Fiqih Siasah Syar’iah hukumnya. Sebagai contoh:
5. Hukum-hukum yang berkaitan a. Bila kita ditanya tentang hukum
dengan hukuman terhadap pelaku- khamer (miras), judi, pengagung-
pelaku kejahatan, serta penjagaan an terhadap bebatuan dan
keamanan dan ketertiban. Seperti mengundi nasib, maka jika kita
hukuman terhadap pembunuh, merujuk kepada Al Qur’an niscaya
pencuri, pemabuk, dan yang kita akan mendapatkannya dalam
lainnya. Dan ini disebut sebagai firman Allah , (QS. Al maidah: 90)
Fiqih al ‘Ukubat b. Bila kita ditanya tentang masalah
6. Hukum-hukum yang mengatur jual beli dan riba, maka kita
hubungan negeri Islam dengan dapatkan hukum hal tersebut
negeri lainnya. Yang berkaitan dalam Kitab Allah (QS. Al baqarah:
dengan pembahasan tentang 275). Dan masih banyak contoh-
perang atau damai dan yang contoh yang lain yang tidak
lainnya. Dan ini dinamakan dengan memungkinkan untuk di perinci
Fiqih as Siyar satu persatu.
7. Hukum-hukum yang berkaitan 2. As Sunnah
dengan akhlak dan prilaku, yang As-Sunnah yaitu semua yang
baik maupun yang buruk. Dan ini bersumber dari Nabi  berupa

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 23


22
Fiqih
perkataan, perbuatan atau persetujuan. sekarang.” Lalu Nabi saw terdiam”
 Contoh perkataan: sabda Nabi : Maka diamnya beliau berarti
menyetujui dilaksanakannya shalat
sunat qabliah subuh tersebut setelah
“Mencela sesama muslim adalah shalat subuh, bagi yang belum
kefasikan dan membunuhnya adalah menunaikannya.
kekufuran”6 As-Sunnah adalah sumber kedua
 Contoh perbuatan: apa yang setelah al Qur’an. Bila kita tidak
diriwayatkan oleh Bukhari7 bahwa mendapatkan hukum dari suatu
‘Aisyah pernah ditanya, “Apa yang permasalahan dalam al Qur’an,
biasa dilakukan Rasulullah  di maka kita merujuk kepada as-
rumahnya?” Aisyah menjawab, Sunnah, dan wajib mengamal-
kannya jika kita mendapatkan
hukum tersebut. Dengan syarat,
benar-benar bersumber dari Nabi 
dengan sanad yang sahih.
As Sunnah berfungsi sebagai
“Beliau membantu keluarganya, penjelas al Qur’an dari apa yang
kemudian bila datang waktu shalat, bersifat gelobal dan umum. Seperti
beliau keluar untuk menunaikannya.” perintah shalat; maka bagaimana
 Contoh persetujuan: apa yang tatacaranya didapati dalam as Sunnah.
diriwayatkan oleh Abu Dawud 8 Oleh karena itu Nabi  bersabda:
bahwa Nabi  pernah melihat
seseorang shalat dua rakaat setelah
“Shalatlah kalian sebagaimana
shalat subuh, maka Nabi  berkata
kalian melihat aku shalat”9
kepadanya:
Sebagaimana pula as-Sunnah
menetapkan sebagian hukum-
hukum yang tidak dijelaskan dalam
Al Qur’an. Seperti pengharaman
memakai cincin emas dan kain sutra
bagi laki-laki.
“Shalat subuh itu dua rakaat” orang 3. Ijma’
tersebut menjawab, “sesungguhnya Ijma’ bermakna: Kesepakatan
saya belum shalat sunat dua rakaat seluruh ulama mujtahid dari umat
sebelum subuh, maka saya kerjakan Muhammad , dari suatu generasi

6
Bukhari no.46,48; Muslim no. 64,97; Tirmidzi no.1906,2558; Nasa’i no.4036, 4037; Ibnu
Majah no.68; Ahmad no.3465,3708.
7
Bukhari no.635, juga diriwayatkan oleh Tirmidzi no.3413, dan Ahmad
no.23093,23800,34528
8
Hadits no.1267
9
Bukhari no.595

24 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Fiqih
atas suatu hukum syar’i. Jika sudah syar’i dengan perkara lain yang
bersepakat ulama-ulama tersebut — memiliki nas yang sehukum dengan-
baik pada generasi sahabat atau nya, dikarenakan persamaan sebab/
sesudahnya— akan suatu hukum alasan antara keduanya.
syari’at maka kesepakatan mereka Pada qiyas inilah kita meruju’
adalah ijma’, dan beramal dengan apa apabila kita tidak mendapatkan nas
yang telah menjadi suatu ijma’ dalam suatu hukum dari suatu
hukumnya wajib. permasalahan, baik di dalam Al
Dan dalil akan hal tersebut, Qur’an, as Sunnah maupun ijma’. Ia
sebagaimana yang dikabarkan Nabi , merupakan sumber rujukan keempat
bahwa tidaklah umat ini akan setelah Al Qur’an, as Sunnah dan
berkumpul (bersepakat) dalam Ijma’.
kesesatan, dan apa yang telah menjadi  Rukun Qiyas
kesepakatan adalah hak (benar). Qiyas memiliki empat rukun: 1.
Dari Abu Bashrah , bahwa Nabi Dasar (dalil), 2. Masalah yang akan
 bersabda: diqiyas-kan, 3. Hukum yang terdapat
pada dalil, 4. Kesamaan sebab/alasan
antara dalil dan masalah yang
diqiyaskan.
Contohnya, Allah mengharamkan
“Sesungguhnya Allah tidaklah menjadi-
khamer dengan dalil Al Qur’an, sebab
kan ummatku atau ummat Muhammad
atau alasan pengharamannya adalah
berkumpul (besepakat) di atas
karena ia memabukkan, dan meng-
kesesatan” 10
hilangkan kesadaran. Jika kita
Contohnya, ijma’ para sahabat,
menemukan minuman memabukkan
bahwa kakek mendapatkan bagian 1/6
lain dengan nama yang berbeda selain
dari harta warisan bersama anak laki-
khamer, maka kita menghukuminya
laki, apabila tidak terdapat bapak.
dengan haram, sebagai hasil Qiyas
Ijma’ merupakan sumber rujukan
dari khamer. Karena, sebab atau
ketiga. Jika kita tidak mendapatkan
alasan pengharaman khamer --yaitu
didalam Al Qur’an dan demikian pula
“mema-bukkan”-- terdapat pada
as Sunnah, maka untuk hal yang
minuman tersebut, sehingga ia
seperti ini kita melihat, apakah hal
menjadi haram sebagaimana pula
tersebut telah disepakatai oleh para
khamer.
ulama muslimin, apabila sudah, maka
Inilah sumber-sumber yang
wajib bagi kita mengambilnya dan
menjadi rujukan syari’at dalam
beramal dengannya.
perkara-perkara fiqih Islam, kami
4. Qiyas
sebutkan semoga mendapat manfaat,
Yaitu mencocokkan perkara yang
adapun lebih lengkapnya dapat dilihat
tidak didapatkan didalamnya hukum
di dalam kitab-kitab Usul Fiqh Islam.11
10
Tirmidzi no.2093, Ahmad 6/396
11
Fiqhul Manhaj, ‘ala Manhaj Imam Syafi’i

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 25


24
Keluarga

Bagian Pertama
Hak Istri Terhadap Suami
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○
Oleh: Abu Husam M. Nurhuda

Keluarga merupakan Islam sangat memperhatikan pembentukan


keluarga dan mengatur segala sesuatunya, ini
landasan asasi bagi
semua dimaksudkan untuk menjamin
kehidupan masyarakat. keselamatan dan kebahagiaan. Islam melihat
bahwa keluarga merupakan sebuah lembaga
Apabila tiap-tiap yang ditegakkan dengan persekutuan antara
dua orang, dengan laki-laki sebagai
keluarga -yang
penanggung jawab utamanya. Hal itu
merupakan unit terkecil sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :

dari masyarakat- baik

keadaannya, maka

keadaan masyarakat pun “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum


wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian
akan baik; sebaliknya, mereka (para laki-laki) atas sebagian yang lain,
yaitu wanita; dan karena mereka (para laki-laki)
apabila ternyata banyak
telah menafkahkan sebagian dari harta
keluarga di masyarakat mereka….” (Q.S. An-Nisa’:34)
Ada sejumlah hak dan kewajiban yang harus
rusak, maka akan rusak ditunaikan oleh kedua orang yang bersekutu
ini, demi tegaknya lembaga yang mereka bina
pula masyarakat
dan langgengnya hubungan di antara keduanya.
Bahkan terkadang masing-masing harus
bersikap mengalah bila dirasa kurang terpenuhi
apa yang menjadi haknya.
Allah  berfirman:

26 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Keluarga
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan- (para istri) mereka (selama tidak ber-
Nya ialah Dia menciptakan untukmu tentangan dengan syari’at). Sedangkan
isteri-isteri dari jenismu sendiri supaya apa yang berlaku di masyarakat tersebut,
kamu cenderung dan merasa tenteram mengikuti ketentuan syari’at, keyakinan,
kepadanya, dan menjadikan di prilaku dan tradisi.
antaramu rasa kasih dan sayang.” (Q.S. Ayat diatas memberikan petunjuk
Ar-Rum: 21) bagi suami dalam pola hubungan
Karena Allah  menyukai dengan istri di semua urusan dan keada-
langgengnya rasa cinta dan kasih sayang an. Jika hendak menuntut sesuatu dari
di antara pasangan suami istri, maka Dia istri, harus ingat bahwa dia pun punya
 mensyariatkan bagi keduanya kewajiban yang sama. Oleh sebab itu,
sejumlah hak dan kewajiban yang Ibnu Abbas  berkata, “Sesungguhnya
mampu menjaga kelangsungan rasa cinta aku berhias untuk istriku, sebagaimana
dia berhias untuk diriku.”1
Jadi, seorang muslim yang hakiki
“Dan para wanita mempunyai hak yang adalah orang yang sadar akan hak-hak
seimbang dengan kewajibannya menurut istri yang wajib dia tunaikan.
cara yang makruf.” (Q.S. Al-Baqarah: 228) Sebagaimana firman Allah :
Ayat tersebut singkat, tetapi di
dalamnya terkandung muatan yang
padat yang bila dijelaskan secara “Dan para wanita mempunyai hak yang
terperinci akan menjadi tulisan yang seimbang dengan kewajibannya menurut
panjang. Ayat itu juga merupakan cara yang ma`ruf. “ (Q.S. Al-Baqarah: 228)
landasan umum yang menegaskan Juga sabda Nabi :
bahwa wanita mempunyai hak-hak
yang sama dengan laki-laki,
kecuali dalam satu hal, sebagai-
mana yang dijelaskan oleh Allah 
dalam kelanjutan ayat di atas. “Ketahuilah sesungguhnya kalian memeliki
hak atas istri-istri kalian dan istri-istri
kalianpun memiliki hak atas kalian.” 2
“Akan tetapi para suami mempunyai Seorang muslim yang sadar, akan
satu tingkatan kelebihan daripada selalu berusaha untuk menunaikan hak
isterinya.” (Q.S. Al-Baqarah:228) istrinya tanpa melihat apakah haknya
Untuk mengenal hak dan kewajiban sendiri sudah terpenuhi atau belum. Hal
para wanita (istri), Allah telah itu perlu dilakukan demi kelangsungan
mengembalikan kepada apa yang rasa cinta dan kasih sayang pada diri
berlaku (diterima) di tengah masyarakat dan istrinya; dan untuk tidak memberi
dalam pola hubungan dengan keluarga kesempatan kepada setan menebarkan

1
Tafsir Ibnu Jarir At-Thabari, II/453; Mushannaf Ibnu Abi Syaibah IV/196
2
Sunan Tirmidzi no:1163 dan Ibnu Majah no:1851, lihat shahih At Tirmidzi I/594

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 27


26
Keluarga
benih perselisihan, yang tidak jarang “Wanita-wanita yang kamu khawatir
berakibat perceraian. kan akan berbuat durhaka, nasehati
Dalam rangka memberi nasihat, lah mereka, pisahkanlah mereka di
berikut ini kami sampaikan hal-hal yang tempat tidur mereka, dan pukullah
berkenaan dengan hak-hak istri yang mereka. Kemudian jika mereka mau
sekaligus menjadi kewajiban bagi para mentaatimu, maka janganlah kamu
suami. mencari-cari jalan untuk menyusah
1. Sesungguhnya istri mempunyai hak- kannya. Sesungguhnya Allah Maha
hak atas suaminya, yang utama Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S. An-
sekali adalah hak digauli oleh Nisa’:34)
suaminya dengan cara yang ma’ruf. Dalam sebuah hadits disebutkan:
Sebagaimana dalam firman Allah :

“Dan pergaulilah mereka secara


patut.” (Q.S. An-Nisa’:19)
Hal ini diwujudkan suami dengan
memberi makan istri sebagaimana
yang dia makan, memberi pakaian
yang layak, dan membimbingnya
agar tidak melakukan kedurhakaan
kepada Allah . Suami juga harus
menasehatinya dengan nasehat yang Rasulullah  pernah ditanya,
baik tanpa caci-maki, celaan maupun “Apakah hak istri kami?” Rasulullah
pelecehan. Jika seorang istri setelah  menjawab, “Engkau memberinya
dinasehati masih belum menurut, makan jika engkau makan, engkau
maka dipisahkan dari tempat tidur, berikan kepadanya baju jika engkau
dan kalau masih juga belum taat, memakai baju, dan jangan memukul
maka boleh dipukul tetapi tidak pada wajah, jangan menghinakannya,
bagian wajah dan dengan pukulan dan jangan pula memisahkannya
yang tidak mencederai. Sebagaimana kecuali di rumah.”” 3
dalam firman Allah : Sikap lemah lembut dan keramahan
terhadap istri menjadi indikator
kesempurnaan akhlak dan kuatnya
iman seseorang, sebagaimana dalam
sabda Nabi :

3
Hadits shahih riwayat Abu Dawud, hadits no.2142 dan Ibnu Majah, hadits no.1850), lihat
shahih Ibnu Majah II/120

28 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Keluarga
“Orang yang paling sempurna engkau biarkan, ia akan tetap
imannya adalah orang yang paling bengkok. Maka, nasehatilah wanita
baik akhlaknya, dan yang terbaik di dengan baik.”6
antara kalian adalah yang paling Sebagian ulama salaf berkata,
baik terhadap istri-istrinya.”4 “Ketahuilah, berakhlak baik terhadap
2. Hak mendapatkan maaf dari suami wanita bukan hanya sekadar menahan
atas kesalahan yang dilakukannya, diri untuk tidak berperilaku kurang
sebagaimana sabda Nabi : terpuji terhadap mereka, tetapi juga
harus bersabar dari gangguan,
kemarahan, dan kekeliruan mereka.
Sebagaimana kesabaran Nabi 
terhadap istri-istri beliau.”7
“Janganlah seorang laki-laki yang 3. Hak penjagaan suami dari segala
beriman membenci seorang wanita sesuatu yang merusak kemuliaannya,
yang beriman. Karena, kalau pun ada mengotori kehormatannya,dan
sesuatu dari akhlaknya yang tidak merendahkan martabatnya. Di-
disukai, bisa jadi ada sisi lain yang antaranya dengan cara melarangnya
dia sukai.”5 berhias ala jahiliyah dan mencegah-
Nabi  bersabda, nya bergaul dengan selain mahram.
Suami juga wajib memenuhi segala
kebutuhannya, menjaganya dari
kerusakan akhlak, dan tidak memberinya
peluang untuk melanggar perintah-
perintah Allah  dan Rasul-Nya .
Semua itu karena suami adalah pihak
yang diberi tanggung jawab– oleh Allah
dan yang dibebani untuk melindungi
dan menjaganya. Firman Allah :

“Nasehatilah wanita dengan baik “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi


karena sesungguhnya mereka itu kaum wanita.” (Q.S. An-Nisa: 34)
diciptakan dari tulang rusuk. Dan Juga sabda Nabi :
tulang rusuk yang paling bengkok
adalah yang sebelah atas, maka jika
engkau paksa meluruskannya, (berarti)
engkau mematahkannya, dan jika

4
Hadits hasan shahih riwayat At-Tirmidzi, hadits no.1162. Lihat Shahih At-Tirmidzi I/593,594.
5
Hadits shahih riwayat Muslim, hadits no.1469.
6
Hadist riwayat Al-Bukhari hadits no.3153 dan Muslim hadits no.1468.
7
Mukhtashar Minhaj Al-Qasidin (78-79).

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 29


28
Keluarga
“Dan laki-laki adalah pemimpin bagi “Dan perintahkanlah keluargamu
keluarganya; dan dia akan dimintai untuk mendirikan shalat; dan
pertanggung jawaban tentang bersabarlah kamu dalam mengerja-
kepemimpinannya.”8 kannya.” (Q.S. Thaha: 132)
4. Hak mendapatkan pengajaran 6. Hak mendapatkan izin dari suami
dalam perkara-perkara agama yang untuk keluar rumah selama ada
sangat dibutuhkannya. Juga hak keperluan. Seperti: menghadiri
mendapat izin untuk menghadiri shalat berjamaah, mengunjungi
majelis-majelis i lmu. Karena keluarga atau tetangganya; dengan
kebutuhan istri untuk memperbaiki syarat menutup aurat. Suami wajib
agama dan membersihkan jiwanya, melarang istri bila keluar rumah
tidaklah lebih sedikit dari kebutuhan- tanpa memakai jilbab atau keluar
nya terhadap makan dan minum, rumah dengan berhias ala jahiliyah.
yang juga wajib dikeluarkan oleh Suami juga harus melarang istri
suaminya. Hal itu sebagaimana menggunakan minyak wangi -jika
disebutkan dalam firman Allah : keluar rumah-, bercampur dengan
laki-laki (bukan mahram-nya) dan
berjabat tangan dengannya. Dia
juga harus melarangnya melihat
tayangan televisi yang tidak syar’i
“Hai orang-orang yang beriman, dan mendengarkan musik.
peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api Neraka yang bahan 7. Hak mendapatkan penjagaan suami
bakarnya adalah manusia dan batu.” atas rahasianya dan tidak
(Q.S. At-Tahrim:6) disebutkan celanya di hadapan
Seorang istri adalah termasuk orang lain; suami wajib menjaga
keluarga suaminya. Cara suami amanah tersebut dengan sungguh-
menjaga keluarganya dari api sungguh. Rahasia yang paling asasi
neraka adalah dengan membekali adalah rahasia yang berkaitan
iman dan amal saleh. Sementara, dengan ‘urusan ranjang’. Oleh sebab
yang namanya amal saleh itu tidak itu, Rasulullah  memberi
bisa tidak harus diiringi dengan ilmu, peringatan akan hal itu dalam
sehingga dapat ditunaikan sesuai sebuah hadits dari Asma’ binti Yazid
yang dikehendaki Allah.  bahwa tatkala dia berada di
5. Hak bimbingan dan perintah dari tempat Rasulullah , sementara
suami untuk menegakkan agama dan kaum laki-laki dan wanita sedang
menjaga shalatnya. Firman Allah : duduk-duduk di situ, Rasulullah 
bersabda,“Barangkali saja ada
seseorang laki-laki menceritakan apa
yang dilakukannya dengan istrinya, dan

8
Hadist riwayat Bukhari,hadits no.6719 dan Muslim,hadits no.1829.

30 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Keluarga
wanita juga menceritakan apa yang “Sesungguhnya bagi istrimu ada
dilakukannya dengan suaminya.” Orang- hak atas dirimu.”10
orang terdiam, kemudian aku berkata, 10.Hak mendapat perlakuan adil di
“Benar, demi Allah ., laki-laki terkadang antara madunya jika suami memiliki
berbuat seperti itu, demikian juga lebih dari satu istri. Suami wajib
wanita.” Rasulullah bersabda  , berbuat adil di antara mereka dalam
“Janganlah kalian berlaku seperti itu. hal makan, minum, pakaian, tempat
Perbuatan demikian itu seperti setan laki- tinggal, dan giliran bermalam. Tidak
laki bertemu dengan setan perempuan boleh suami berbuat sewenang-
di jalan, lalu keduanya bersetubuh, wenang atau tidak adil dalam hal-
sedang orang-orang melihatnya.”9 hal tersebut karena Allah  telah
8. Hak dilibatkan dalam pembahasan mengharamkannya. Nabi 
perkara-perkara yang terkait dengan bersabda:
diri dan anak-anaknya, sebagaimana
yang dilakukan Rasulullah  yang
selalu mengajak musyawarah istri-
istrinya dan mengambil pendapat
mereka.
9. Hak terkait dengan perhatian suami-
di mana suami hendaknya langsung “Barangsiapa mempunyai dua istri
pulang ke rumah sesudah shalat sedang dia lebih condong kepada
Isya’, dan tidak berlarut-larut salah satunya, maka dia akan datang
(kongko-kongko) di luar rumah pada hari kiamat dalam keadaan
sampai tengah malam yang miring separuh tubuhnya.”11
menyebabkan istri tidak bisa tidur Saudara-saudaraku seagama, itulah
karena mencemaskannya. Jika ini hak-hak istri kalian. Wajib bagi kalian
terjadi berulang-berulang, akan untuk berusaha bersungguh-sungguh
menimbulkan rasa was-was dan menunaikan kewajiban-kewajiban
kecurigaan pada hati sang istri. tersebut karena di situlah letak
Karena itulah, Rasulullah  kebahagian dan kelanggengan rumah
mengingkari perbuatan Abdullah bin tangga kalian.
Amr  yang tidak tidur sampai larut
malam sehingga menerlantarkan
istrinya. Beliau berkata:
Disadur dari Kitab Al-Wajiz Fi Fiqih As Sunnah
Wa Al Kitab Al ’Aziz dengan beberapa perubahan

9
Hadits shahih riwayat Ahmad VI/456. Lihat kitab Adab Az Zifaf halaman 72.
10
Hadits riwayat Al-Bukhari, hadits no.5783 dan Muslim, hadits no.1159.
11
Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, hadits no.1141 dan Abu Dawud, hadits no.2133, An Nasa’i,
hadits no.3942 dan Ibnu Majah,hadits no.1969. Lihat Irwa’u Al-Ghalil hadits 2017 dan Shahih
Ibnu Majah II/156.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 31


30
Manhaj
Manhaj

Oleh: Abu Isa


Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah turunkan untuk jin dan manusia; sebagai petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa, guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat. Benar tidaknya pemahaman Islam, tergantung pada benar atau tidaknya ia
menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Oleh karena itu seruan kaum orientalis adalah tidak
hanya untuk menolak Al-Qur’an melainkan mengajak memahami Al-Qur’an menurut
kaidah mereka, bukan sesuai kaidah Salafus Shalih. Melalui rubrik Manhaj ini, kami
ajak pembaca untuk menyelami kaidah ilmu tafsir yang ditulis oleh Ibnu Katsir, salah
seorang ulama Ahlus Sunnah. Tulisan ini merupakan terjemah ringkas dari
“Muqaddimah” tafsir beliau. (-red)
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Al-‘Allamah Al-Hafidz Imaduddin Abul Kemudian, setelah menyebutkan


Fida’ Isma’il bin Katsir  yang lebih keputusan terhadap ahli surga dan ahli
dikenal dengan nama Ibnu Katsir neraka, Allah juga menyebutkan pujian,
berkata, “Segala puji bagi Allah  yang sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
telah membuka kitab-Nya dengan
kalimat pujian, sebagaimana tersebut
dalam firman-Nya:

“...dan diberi putusan di antara hamba-


“Segala puji bagi Allah, pemelihara hamba Allah dengan adil dan diucapkan:
alam semesta.” (Q.S. Al-Fatihah:2). “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta
dan memulai penciptaan-Nya dengan alam.” (Q.S. Az-Zumar: 75)
pujian, sebagaimana tersebut dalam Oleh karena itu, segala pujian pun
firman-Nya: hanyalah milik Allah  dari awal sampai
akhir, terhadap semua yang telah
diciptakan dan yang akan diciptakan.
Dia sajalah yang terpuji dalam semua
itu. Sehingga, Allah  pun menjadikan
“Segala puji bagi Allah Yang telah
ahli surga senantiasa melantunkan tasbih
menciptakan langit dan bumi, dan
dan tahmid kepada Allah  ,
mengadakan gelap dan terang “ (Q.S.
sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
Al-An’am: 1).

32 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Manhaj

“Supaya dengannya aku memberi


peringatan kepadamu dan kepada
orang-orang yang sampai Al Qur’an
(kepada-nya).” (Q.S. Al-An’am:19)
“Doa mereka di dalamnya ialah: Nabi  bersabda,
‘Subhanakallahumma’, dan salam
penghormatan mereka ialah: ‘Salam’.
Dan penutup doa mereka ialah: “Aku diutus kepada orang-orang
‘Alhamdulillaahi Rabbil `aalamin’.” berkulit merah dan hitam.” 1
(Q.S.Yunus:10).
Jadi, Nabi Muhammad  diutus oleh
Kemudian pujian pun terhaturkan Allah  kepada manusia dan jin untuk
kepada Allah , yang telah mengutus menyampaikan risalah Allah  berupa
para rasul-Nya untuk menyampaikan wahyu yaitu Al-Qur’an yang tidak
berita gembira; disamping memberi mengandung kebatilan sedikit pun dari
peringatan dan ancaman keras, supaya awal hingga akhirnya. Al-Qur’an benar-
tidak ada lagi alasan bagi manusia benar diturunkan oleh Allah yang Maha
untuk tidak beriman sesudah Bijaksana lagi Maha Terpuji.
datangnya para rasul itu.
Tugas Para Ulama
Allah  menutup kerasulan itu dengan Kewajiban para ulama adalah menggali
Nabi Muhammad , seorang Nabi yang dan mengungkap makna firman Allah 
ummi, berasal dari bangsa Arab, dan mempelajari hikmah yang terkandung
kelahiran kota Mekkah, yang memberi di dalamnya, kemudian mengajarkan dan
tuntunan ke jalan yang lurus, jelas dan menyebarkannya, sebagaimana dijelas-
gamblang. Beliau diutus kepada seluruh kan dalam firman Allah :
umat manusia dan jin hingga Hari
Kiamat sebagaimana dijelaskan dalam
firman Allah : “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab
itu kepada manusia, dan jangan kamu
menyembunyikannya.” (Q.S. Ali Imran:
187)
Ayat di atas menerangkan bahwa
“Katakanlah, ‘Hai manusia sesung-guhnya
Allah  mencela Ahli Kitab (orang yang
aku adalah utusan Allah kepadamu semua.’”
mengerti kitab Allah), namun mereka
(Q.S. Al-A’raf:158).
mengabaikan kitab yang mereka
Dan firman-Nya : pahami itu karena semata-mata

1
Muslim, hadits no.521; Ahmad IV/416, dan ini lafaznya.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 33


32
Manhaj
mengejar kekayaan dan keuntungan ada kalanya perkataan yang disingkat
duniawi. Karena itu menjadi tugas dan dalam suatu ayat ternyata dijelaskan
kewajiban umat Islam menjauhkan diri secara rinci dalam ayat yang lain.
dari apa yang dicela oleh Allah  dan Kemudian jika perkataan dalam suatu
benar-benar mengikuti apa yang ayat tidak kita dapatkan penjelasannya
diperintahkan-Nya, yaitu mempelajari dalam ayat lain, maka kita menengok
Kitab Allah  yang diturunkan kepada kepada Sunnah Rasulullah , sebab
kita, menghayati sedalam-dalamnya, Sunnah Rasul berfungsi menerangkan
kemudian mengajarkannya, sebagai- Al-Qur’an dan menjelaskannya. Hal itu
mana dijelaskan dalam firman Allah : sebagaimana tersebut dalam firman
Allah :

“Belumkah datang waktunya bagi


orang-orang yang beriman, untuk
tunduk hati mereka mengingat Allah
dan kepada kebenaran yang telah turun “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu
(kepada mereka), dan janganlah Al Kitab (Al-Qur’an) ini, melainkan agar
mereka seperti orang-orang yang kamu dapat menjelaskan kepada mereka
sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab apa yang mereka perselisihkan itu dan
kepadanya” (Q.S. Al-Hadid:16) menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum
Dalam ayat di atas Allah  mengingatkan yang beriman.” (Q.S.An-Nahl:64)
bagaimana Dia telah menghidupkan Nabi  juga bersabda:
bumi yang mati; demikian pula Allah
juga dapat menghidupkan hati (jiwa)
manusia dengan iman dan melunakkannya “Ketahuilah, sesungguhnya telah
setelah sebelumnya keras karena dosa diturunkan Al-Qur’an kepadaku dan
dan maksiat. Kita berharap semoga yang serupa dengannya (yakni Sunnah
Allah memberikan hidayah-Nya kepada Rasul ).” 2
kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah
Sebab, Sunnah Rasulullah itu juga
dan Maha Pemberi.
merupakan wahyu yang diturunkan
kepada Nabi , hanya saja berbeda
Metode Tafsir yang Benar letaknya, sebagaimana dijelaskan
Jika ada orang bertanya, “Bagaimana
dalam firman Allah  :
metode tafsir yang baik?” maka
jawabnya, “Metode yang terbaik dan
terakurat adalah menafsirkan ayat Al-
Qur’an dengan ayat Al-Qur’an, karena

2
Ahmad IV/131; Abu Dawud, hadits no.4604. Lihat Shahih Al-Jami’ no.2643

34
34 Fatawa Vol.
Fatawa Vol. 01/
01/ II // Ramadhan
Ramadhan 1423
1423 H
H -- 2002
2002 M
M
Manhaj
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu dan pengetahuan yang benar, terutama
(Al-Qur’an) menurut kemauan hawa ulama dan pemimpin mereka seperti
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain Khulafa’ ar-Rasyidin 4 yang telah
hanyalah wahyu yang diwahyukan mendapat hidayah.
(kepadanya).” (Q.S. An-Najm: 3-4 )
Abdullah bin Mas’ud  berkata,
Maksudnya adalah ketika kita “Demi Allah yang tidak ada tuhan
menafsirkan ayat Al-Qur’an, carilah selain-Nya, tidak ada satu ayat pun dari
pada ayat Al-Qur’an lain; jika tidak kita kitab Allah melainkan aku mengetahui
dapati, carilah dari Sunnah Rasul. di mana turunnya atau terhadap siapa
Contoh tentang hal ini adalah diturunkan. Oleh karena itu, sekiranya
sebagaimana arahan Rasulullah  aku tahu ada orang yang lebih
kepada Muadz bin Jabal  ketika beliau mengetahui dari pada aku mengenai
mengutusnya ke Yaman. Rasulullah  suatu ayat dalam kitab Allah, sementara
bertanya, “Dengan apakah engkau tempat orang itu dapat dicapai dengan
akan menetapkan hukum?” Muadz kendaraan pasti aku akan datang untuk
menjawab, “Dengan Kitab Allah.” belajar kepadanya.”
Rasulullah  bertanya lagi, “Bagaimana
Abdullah bin Mas’ud  juga berkata,
jika engkau tidak mendapatkannya?”
“Kebiasaan kami (para sahabat), jika
Muadz menjawab, “Saya akan
belajar Al-Qur’an cukup sepuluh ayat,
berijtihad semampu pikiranku.” Maka
tidak lebih, namun kami pelajari dan
Rasulullah  menepuk dadanya sambil
pahami hingga benar-benar
berkata, ”Alhamdulillah, Segala Puji
mengetahui artinya dan cara
Bagi Allah yang telah memberi taufik
mengamalkannya.”
kepada Utusan Rasulullah sehingga
membuatnya puas.” 3 Abu Abdurrahman As-Sulaimi
berkata, “Kami diberitahu oleh guru-
Artinya, jika kita tidak mendapatkan
guru yang mengajar al-Qur’an bahwa
tafsiran suatu ayat Al-Qur’an dari ayat
mereka dahulu belajar al-Qur’an dari
lain, kemudian kita juga tidak
Nabi  sepuluh ayat. Mereka baru
menemukan penjelasannya dalam
minta ditambah, setelah ayat yang telah
Sunnah Rasul, maka kita cari pendapat
mereka pelajari tadi mereka praktekkan
sahabat Nabi, sebab mereka orang
-cara mengamalkan dan menyesuaikan
yang paling mengetahui masa dan
diri dengan tuntunan ayat itu-”.
sebab-sebab turunnya ayat, serta
Yang termasuk ulama dari kalangan
kondisi yang ada saat itu. Di samping
sahabat ialah Abdullah bin Abbas .
itu, mereka adalah orang-orang yang
Beliau pernah dido’akan oleh Nabi ,
ikhlas dan bertakwa, sehingga mereka
mempunyai pemahaman yang lurus

3
HR. Ahlu Sunan dan Musnad dengan sanad baik. [Lihat silsilah Ad dha’ifah,hadits no.881]
4
Yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 34


35
Manhaj
“Ya Allah, pandaikanlah ia dalam agama namaku dengan sengaja hendaklah
dan ajarkan kepadanya takwil -tafsir- menempatkan diri dalam api neraka.”6
Al-Qur’an.”5 Ketika selesai perang Yarmuk Abdullah
Abdullah bin Mas’ud  berkata, “Sebaik- bin Amr  mendapat dua gerobak
baik penerjemah (penafsir) Al-Qur’an ialah kitab-kitab ahli kitab. Oleh karena
Abdullah bin Abbas .” Abdullah bin Mas’ud itulah, ia sering membawakan cerita
 meninggal pada tahun 32 H, dan ahli kitab karena dia tahu bahwa Nabi
Abdullah bin Abbas  meninggal kurang  telah mengijinkannya.
lebih tiga puluh enam tahun setelah Cerita-cerita tentang Bani Israil boleh
wafatnya Abdullah bin Mas’ud . disampaikan sebatas sebagai bukti;
Abu Wa’il berkata, “Ali  mengangkat tidak boleh dijadikan sebagai pegangan
Abdullah bin Abbas sebagai pemimpin dan hujjah.
haji. Suatu ketika ia berkhotbah Cerita tentang Bani Israil terbagi
menafsirkan surat Al-Baqarah atau An- menjadi tiga macam, yaitu:
Nur, yang andaikata saat itu didengar 1. Kita benarkan bila sesuai dengan
oleh orang-orang Romawi, Turki dan ajaran agama kita.
Dailam, pasti mereka masuk Islam.” 2. Kita dustakan bila menyalahi ajaran
Karena itulah, As-Suddi dalam kitab agama kita.
tafsirnya selalu menyebut keterangan 3. Kita diamkan bila tidak ada keterangan
Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas , dalam agama kita yang menyatakan
meskipun ada kalanya membawakan kebenarannya, namun juga tidak
keterangan ahli kitab. Tentang menyalahi ajaran agama kita. Terhadap
digunakannya keterangan ahli kitab ini cerita Bani Israil yang seperti ini, sikap
telah diizinkan oleh Nabi : kita tidak mempercayai dan juga tidak
mendustakannya. Cerita semacam itu
boleh kita sampaikan, karena
kebanyakan menyangkut hal-hal yang
tidak penting dalam urusan agama
kita, seperti nama-nama dan jumlah
ash-habul kahfi. Dalam surat Al-Kahfi
“Sampaikan (ajaran) dariku walau satu ayat 22. Allah  mengajarkan kepada
ayat; dan ceritakan perihal Bani Israil kita cara menghadapi berita-berita
(karena hal itu) tidak berdosa bagi yang serupa itu. Allah  berfirman,
kalian. Barangsiapa berdusta atas

5
Bukhari, hadits no.143; Muslim, hadits no.138; Ahmad I/266,314,328,335 dan ini lafaznya
6
H.R. Bukhori, hadits no.3274 dari Abdullah bin Amr

36 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Manhaj
pendapat ulama dari kalangan tabi’in,
seperti Mujahid bin Jabir yang terkenal
sebagai ahli tafsir. Mujahid sendiri
berkata, “Saya belajar Al-Qur’an kepada
Abdullah bin Abbas mulai dari surat Al-
Fatihah hingga khatam tiga kali, dan
tiap-tiap ayat telah saya tanyakan
kepadanya.”
Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Saya
pernah melihat Mujahid membawa
buku catatannya kepada Abdullah bin
Abbas, lalu menanyakan tafsir Al-Qur’an
“Nanti (ada orang yang akan) kepadanya; sementara Abdullah bin
mengatakan (bahwa jumlah mereka) Abbas selalu mengarahkan kepadanya:
tiga orang dan yang keempatnya ‘Tulislah ini, tulislah ini!’”
adalah anjingnya; dan (yang lain Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Jika Anda
akan) mengatakan, “(Jumlah mendapat keterangan tafsir dari Mujahid,
mereka) adalah lima orang dan yang maka itu sudah mencukupi dan
keenamnya adalah anjingnya” peganglah.” Demikian juga Said bin
menerka-nerka perkara yang gaib; Jubair, Ikrimah Maula Ibnu Abbas, Atha’
dan (yang lain lagi akan) bin Abi Rabah, Al-Hasan Al-Basri, Masruq
mengatakan, “(Jumlah mereka) bin Al Aida, Sa’id bin Al-Musayyab, Abul
tujuh orang dan yang kedelapannya ‘Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, Adh-
adalah anjingnya.” Katakanlah, Dhahak bin Al-Muzahim dan ulama lain
“Rabbku lebih mengetahui jumlah dari kalangan tabi’in dan pengikut
mereka. Hanya sedikit orang yang mereka sebagaimana diterangkan oleh
mengetahui (bilangan) mereka.” Ibnu Katsir. Anda boleh menukil
Karena itu janganlah kamu keterangan mereka. Memang, mungkin
(Muhammad) bertengkar tentang ada perbedaan keterangan yang
jumlah mereka itu, kecuali disampaikan oleh masing-masing dari
pertengkaran lahir saja dan jangan mereka, sehingga orang yang tidak
kamu menanyakan tentang mereka berilmu akan menganggapnya
(pemuda-pemuda itu) kepada bertentangan. Sebetulnya inti
seorang pun di antara mereka.” (Q.s. pembicaraan mereka sama. Hanya saja
Al-Kahfi: 22) di antara merka ada yang langsung
Kemudian, jika kita tidak menemukan menyebut pokok permasalahan dan ada
tafsir suatu ayat Al-Qur’an, baik dalam yang menyebutkan perbandingan-
ayat yang lain, dalam Sunnah Rasul, perbandingan atau hal-hal yang
atau keterangan para sahabat, maka berkaitan dengan masalah pokoknya.
para imam salaf akan melihat kepada Semuanya intinya sama.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 37


36
Manhaj
PERINGATAN lalu bertepatan benar, maka itu pun
tetap dipandang salah.”9
Pendapat ulama dari kalangan tabi’in
sama sekali tidak boleh dijadikan Dia dipandang salah karena dia
hujjah dalam masalah furu’, lebih-lebih memaksakan diri membicarakan
dalam bidang tafsir. Dan jika terjadi sesuatu yang dia sendiri sebenarnya
perbedaan pendapat di antara mereka, tidak mengetahui. Dia telah menempuh
maka kedudukan masing-masingnya jalan yang melanggar tuntunan Allah
sama kuat; yang satu tidak dapat  maka dipandang salah. Dia tidak
membatalkan yang lain. Adapun melalui jalan yang seharusnya dilalui
menafsirkan ayat Al-Qur’an langsung sehingga dinilai salah. Oleh karena itu,
dengan ra’yu karena merasa sudah dalam ayat 13 surat An-Nur, Allah
mengerti bahasa Ara b, maka menamai orang yang menuduh orang
hukumnya haram, karena sabda lain berzina dengan sebutan pendusta,
Rasulullah . Ibnu Abbas  berkata, meskipun menurut pemikirannya benar.
Nabi  bersabda, Atas dasar ini pulalah, kebanyakan
sahabat Nabi  tidak mau menafsirkan
ayat yang belum mereka ketahui karena
takut berdosa.
Abu Bakar As-Siddiq  berkata,
“Barangsiapa menafsirkan ayat al-Qur’an “Langit mana yang akan dapat
hanya dengan pendapatnya atau dengan menaungiku, atau bumi mana yang
kebodohannya, maka hendaknya ia dapat aku pijak, jika mengatakan
menempatkan dirinya dalam neraka.” 7 sesuatu dalam Al-Qur’an yang belum
Jundub  berkata, Nabi  bersabda: aku ketahui.”
Anas  berkata, ”Ketika Umar 
“Siapa yang menafsirkan Al-Qur’an berada di atas mimbar membacakan
semata-mata dengan pendapatnya ayat “wafakihatan wa abba”, ia berkata,
maka ia telah keliru (salah).”8 ‘fakihah sudah kami ketahui, tetapi
apakah abba itu?’ Kemudian ia berkata
Dalam riwayat lain disebutkan: kepada dirinya sendiri, ‘Ini termasuk
memaksakan diri, wahai Umar.’
Sebenarnya dari ayat tersebut telah
jelas bahwa abba termasuk tumbuhan
“Siapa yang membicarakan Kitab Allah yang ditumbuhkan oleh Allah
semata bardasarkan akal pikirannya, sebagaimana tumbuhan lainnya, tetapi
untuk mengetahui tumbuhan apa

7
H.R. At-Tirmidzi, hadits no.2950; An Nasa’i, hadits no.8085 dan Ibnu Jarir I/34, lihat dha’if
Tirmidzi hal.313
8
H.R. Ibnu Jarir I/35; At Tirmidzi, hadits no.2952, lihat dho’if At Tirmidzi hal.313-314
9
H.R. At Tirmidzi, hadits no.2952; Abu Dawud,hadits no.3652; An Nasa’i,hadits no.8086.
Hadits ini gharib.Lihat dha’if At Tirmidzi hal.313-314

38 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Manhaj
sebenarnya, ini termasuk tindakan mereka ketahui. Demikianlah
takalluf (=memaksakan diri).” seharusnya; seorang muslim diam
terhadap apa yang belum diketahuinya
Suatu ketika ada seseorang bertanya
dan menerangkan apa yang benar-benar
kepada Abdullah bin Abbas tentang
telah diketahuinya. Hal itu sebagaimana
ayat “fi yaumin kana miqdaruhu alfa
disebutkan dalam firman Allah :
sanah”. Abdullah bin Abbas balik
bertanya kepada orang itu, “Apakah
maksud ayat fi yaumin kana miqdaruhu
khamsina alfa sanah?” Orang itu “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab
berkata, “Aku bertanya untuk itu kepada manusia, dan jangan kamu
mendapatkan keterangan darimu,” menyembunyikannya.” (Q.S. Ali Imran:
Jawab Ibnu Abbas, “Keduanya adalah 187)
hari yang disebut oleh Allah; dan Allah Abu Hurairah  berkata, Nabi 
lebih mengetahui apa hakikatnya.” bersabda:
Ubaidullah bin Umar  berkata, “Saya
mendapati ulama Madinah benar-benar
menganggap sesat orang yang berani
menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yunya”.
Suatu ketika Ubaidillah As Salmani “Siapa ditanya tentang urusan agama
ditanya tentang pengertian ayat Al- yang telah ia ketahui tetapi ia
Qur’an. Beliau menjawab, “Tidak ada menyembunyikannya, maka akan diikat
yang mengetahui mengenai apa mulutnya dengan kendali dari api nereka
turunnya ayat Al-Qur’an tersebut, karena di hari kiamat.” 10
itu hendaknya Anda bertaqwa kepada Ibnu Abbas  menyebutkan bahwa Al-
Allah dan berhati-hati.” Qur’an diturunkan mengandung empat
Masruq berkata, “Berhati-hatilah kalian hal, yaitu:
dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an, sebab 1. Halal dan haram, yang tidak akan
menafsirkan ayat Al-Qur’an berarti dimaafkan orang yang tidak
meriwayatkan sesuatu dari Allah.” mengetahuinya
2. Bagian yang dapat ditafsirkan oleh
Riwayat-riwayat yang shahih dari ulama semua orang yang tahu bahasa Arab
salaf tersebut menunjukkan keenganan 3. Bagian yang hanya bisa ditafsirkan
mereka dalam menafsirkan ayat yang oleh para ulama.
tidak mereka ketahui dan menerangkan 4. Yang mutasyabih, yaitu yang tidak
ayat-ayat tentang hukum yang telah diketahui oleh seorang pun kecuali
mereka ketahui. Mereka hanya mau Allah semata
menerangkan apa yang mereka ketahui (ed)
dan diam terhadap apa yang belum

10
H.R. Abu Dawud,hadits no.3658 dan At Tirmidzi, hadits no.2649. Lihat Shahih At Tirmidzi
III/57-58

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 38

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 39


Aktual

Oleh: Abu Mush’ab

Segala puji bagi Allah yang telah Pada kesempatan ini mari kita
menjadikan bulan Ramadhan sebagai pelajari bersama perkara penting yang
penghulu segala bulan. Shalawat dan berkaitan dengan puasa Ramadhan
salam kita sampaikan kepada sebaik- secara ringkas. Sebelumnya perlu kita
baik manusia, Nabi kita Muhammad  ketahui bahwa:
yang telah bersabda: 1. Puasa adalah suatu ibadah yang
diwajibkan oleh Allah  , yaitu
meninggalkan semua makan, minum,
dan senggama dan perkara-perkara lain
yang membatalkan dari terbit fajar
“Betapa banyak orang yang berpuasa,
hingga tenggelamnya matahari.
akan tetapi ia tidak mendapatkan apa-
apa dari puasanya kecuali lapar dan 2. Puasa Ramadhan adalah salah satu
dahaga.” 1 rukun dari rukun-rukun Islam yang
Untuk itu, kita harus mengetahui lima. Berdasar sabda Rasulullah :
perkara-perkara yang menyebabkan
nilai puasa kita tidak sampuna .
Ingat, barangsiapa yang berpuasa
karena mencari ridha Allah maka dia
akan mendapatkan pahala yang tidak
terhitung jumlahnya, akan tetapi
masing-masing orang berbeda nilainya
di hadapan Allah tergantung sejauh
mana dia mencontoh Nabi Muhammad “Islam dibangun atas lima dasar (1).
, artinya semakin dekat dengan apa (keyakinan) bahwa tidak ada tuhan yang
yang dicontohkan oleh beliau maka berhak untuk disembah kecuali Allah
semakin sempurnalah nilainya dan dan bahwasannya Muhammad utusan
semakin jauh dari apa yang telah Allah, (2) menegakkan shalat, (3)
dicontohkan maka semakin jauh pula membayar zakat, (4 ) puasa ramadhan,
dari nilai yang sempurna. (5), ibadah haji di baitil haram.” 2

1
H.R. Ibnu Majah no. 1690; Ahmad II/373 dan Baihaqi no.3249 dari Abu Hurairah dengan sanad
yang shahih. Lihat Shahih Ibnu Majah II/71.
2
Bukhari hadits no 8, Muslim hadits no.16, Tirmidzi hadits no.2609, An Nasa’i hadits no.5001,
Ahmad II/26,92,120,143

40 Fatawa Vol.
Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M
Aktual
Kedudukan Manusia dalam puasa dikarenakan hamil atau menyusui
Puasa atau karena khawatir terhadap
1. Puasa diwajibkan kepada setiap kesehatan anaknya maka boleh tidak
muslim yang telah baligh, berakal berpuasa dan cukup baginya membayar
sehat, mampu melaksanakan, dan tidak fidyah (memberi makan) setiap hari
dalam bepergian/safar. satu orang miskin.3
2. Orang kafir tidak diwajibkan 8. Wanita yang haid dan nifas tidak
berpuasa; apabila dia masuk islam tidak boleh berpuasa. Mereka wajib meng-
wajib baginya meng-qadha’ (mengganti) ganti semua puasa yang ditinggalkan
puasa yang ia tinggalkan sebelum selama haid dan nifas di waktu lain.
masuk Islam. 9. Orang yang berpuasa kemudian
3. Anak yang belum baligh tidak wajib berbuka untuk menyelamatkan orang
berpuasa, akan tetapi hendaknya dilatih yang tenggelam atau terbakar. Ini
supaya terbiasa. dibolehkan berbuka tetapi harus
mengganti pada hari lain.
4. Orang gila tidak wajib berpuasa dan
tidak wajib membayar denda memberi 10. Orang yang melakukan safar
makan orang miskin walaupun dia telah (bepergian); ada dua pilihan baginya:
dewasa. Begitu juga orang yang kena boleh berpuasa dan boleh tidak
penyakit parah yang dengan penyakit berpuasa; adapun yang memilih tidak
itu dia tidak bisa lagi membedakan berpuasa maka wajib baginya
mana yang baik dan mana yang tidak mengganti pada hari lain; baik orang
baik untuk dirinya. Juga, orang yang yang safar terus menerus seperti supir
sudah tua sekali sehingga bicaranya taksi, truk dan lain-lain maupun yang
ngelantur atau tidak karuan yang tidak safarnya tidak terus menerus seperti
mengurus dirinya sendiri orang yang umrah, haji dan lain-lain.
Mereka boleh berbuka selama dia
5. Orang yang tidak mampu berpuasa
berada di luar kampung halamannya
disebabkan lanjut usia atau karena sakit
(masih dalam status safar), akan tetapi
yang tidak bisa diharapkan kesembuhan-
wajib baginya mengganti pada hari lain.
nya maka wajib baginya membayar
denda memberi makan setiap hari satu
Hal-Hal yang Membatalkan
orang miskin.
Puasa
6. Orang yang sakit karena musibah;
1. Jima’ (senggama). Seseorang yang
apabila berat untuk berpuasa boleh
berpuasa, lalu melakukan jima’ di siang
tidak berpuasa dan menggantinya
hari di bulan Ramadhan, maka wajib
setelah sembuh.
baginya membayar denda yang berat
7. Wanita yang hamil dan menyusui; yaitu memerdekakan satu budak; kalau
apabila kesulitan untuk menunaikan

3
Ini pendapat Ibnu Qayyim di dalam kitabnya Zadul Ma’ad.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 41


40
Aktual
tidak mampu, maka memberi makan barangsiapa muntah dengan sengaja
60 orang miskin. Akan tetapi apabila maka wajib mengganti.” 4
jima’ tersebut dilakukannya dalam 7. Murtad atau keluar dari Islam.
keadaan musafir, maka tidak ada denda Semoga Allah melindungi kita darinya,
atasnya, kecuali mengganti puasanya karena perbuaan ini menghapus segala
di hari lain. amal kebaikan. Allah  berfirman:
2. Keluar mani dalam keadaan terjaga,
misalnya karena onani, bersentuhan,
berciuman, berpelukan atau sebab
lainnya dengan sengaja.
“Seandainya mereka mempersekutukan
3. Makan atau minum dengan sengaja
Allah, niscaya lenyaplah amalan yang telah
baik yang bermanfaat atau yang malah
mereka kerjakan.” (Q.S. Al An’am: 88)
membahayakan. Merokok termasuk hal
yang membatalkan puasa.
Hal-Hal yang Tidak
4. Suntikan yang mengenyangkan
Membatalkan Puasa
sebagai ganti makan dan minuman.
Adapun suntikan yang tidak menge- 1. Tidak batal puasa seseorang yang
nyangkan maka tidak membatalkan, melakukan suatu perkara yang
baik disuntikan di lengan atau di urat, membatalkan puasa karena lupa, tidak
baik yang dapat dirasakan di tahu, atau tanpa sengaja.
tenggorokan maupun tidak. Dasarnya firman Allah :
5. Keluar darah haid atau nifas.
Seorang wanita yang berpuasa, lalu
melihat darah haid atau nifas pada “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum
dirinya maka batallah puasanya, baik kami jika kami lupa atau kami bersalah.”
terjadi pada pagi hari atau sore hari (Q.S. Al Baqarah: 286)
sebelum terbenam matahari. dan firman-Nya:
6. Muntah dengan sengaja, yaitu
dengan sengaja mengeluarkan
makanan atau minuman dari perut “Kecuali orang yang dipaksa dan hatinya
melalui mulut. Hal ini didasarkan pada penuh tenang dengan keimanan.” (Q.S.
sabda Nabi : An-Nahl:106)
dan firman-Nya:

“Barangsiapa muntah tanpa sengaja


maka tidak wajib mengganti; dan

4
H.R. Ahmad II/498; Abu Dawud hadits no.2380; Ibnu Majah hadits no.1676 dan At Tirmidzi
hadits no.720. Lihat Shahih Ibnu Majah II/67; Irwa ul Ghalil, hadits no.923

42 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Aktual
“Tidak ada dosa atas kalian semua bagi orang yang berpuasa disertai
terhadap apa yang kalian tidak sengaja, dengan dalil-dalilnya,
akan tetapi dosa itu adalah apa-apa 1. Dibolehkan berniat puasa dalam
yang kamu sengaja oleh hatimu.” (Q.S. kondisi junub (belum mandi wajib)
Al Ahzab: 5) hingga terbit fajar. Hal ini sebagaimana
2. Apabila seseorang berpuasa, lalu yang dilakukan oleh Rasulullah  di
karena lupa dia makan atau minum, mana beliau pernah masih dalam
maka puasanya tetap sah. kondisi junub (=belum mandi wajib)
3. Seseorang yang sedang berpuasa, hingga masuk waktu shalat subuh, baru
lalu makan atau minum karena kemudian beliau mandi, lalu berpuasa.
berkeyakinan bahwa matahari telah Sebagimana yang disampaikan Aisyah
tenggelam atau di waktu malam bulan dan Ummu Salamah —semoga Allah
puasa dia makan dan minum sampai meridhai keduanya—:
dini hari karena mengira belum masuk
fajar maka puasanya tetap sah, karena
dia tidak tahu.
4. Seseorang yang berpuasa berkumur-
kumur, kemudian ada sedikit air yang “ bahwa Nabi  terkadang hingga
masuk ke dalam tenggorokannya tanpa sampai fajar masih dalam kondisi jubub
disengaja, maka puasanya tetap sah. dari istrinya kemudian mandi dan
5. Seseorang berpuasa, lalu mimpi puasa.” 5
‘basah’ (di siang hari) dalam tidurnya, 2. Siwak (=gosok gigi)
maka puasanya tetap sah, karena “Abu Hurairah berkata, dari Nabi  :
perbuatan tersebut tidak dia sengaja.

Hal-Hal yang Dibolehkan Bagi


Orang yang Berpuasa
Tidak diragukan lagi, hamba yang “Kalaulah aku tidak khawatir akan
faham akan kitab Allah dan sunnah memberatkan umatku tentu akan aku
Rasulullah  mengetahui bahwasannya perintahkan kepada mereka untuk
Allah menghendaki kemudahan bagi bersiwak pada setiap wudhu.” 6
hambanya dan tidak menghendaki Dalam hadits ini terdapat dalil tentang
kesulitan. Sejalan dengan hal itu, anjuran bersiwak baik kepada orang
syari’at yang bijaksana membolehkan yang sedang berpuasa atau tidak, pada
beberapa hal bagi orang orang yang tiap kali berwudhu atau akan shalat.
berpuasa. Di bawah ini akan kita bahas Ini menurut pendapat Imam Bukhari
satu persatu hal-hal yang dibolehkan  dan Imam Ibnu Khuzaimah. Anjuran

5
H.R. Bukhari hadits no.1825 kitab As- Shaum dan Muslim hadits no.1109 kitab As-Shiam.
6
H.R. Bukhari II/682 [bab as siwak] dan Muslim, hadits no.252

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 43


42
Aktual
bersiwak ini sifatnya umum untuk setiap seorang laki-laki muda bertanya kepada
waktu, sebelum mata hari condong ke Rasulullah  : “Wahai Rasulullah,
barat atau setelahnya. apakah aku dibolehkan mencium istriku
3. Istinsyak (=berkumur dan ketika aku sedang berpuasa?” Beliau
memasukan air kedalam hidung menjawab, “Tidak boleh.” Kemudian
kemudian mengeluarkannya lagi), yaitu datang seorang laki-laki tua bertanya:
ketika berwudhu. Nabi  pernah “Wahai Rasulullah, bolehkah aku
melakukan hal itu ketika beliau sedang mencium istriku ketika aku sedang
berpuasa. Akan tetapi beliau melarang berpuasa?” Beliau menjawab,”Boleh.”
kita melakukannya secara berlebihan Abdullah bin Amr bin ‘Ash berkata,
bila kita sedang berpuasa. “Lalu, sebagian dari kami saling
memandang (karena merasa kurang
Rasulullah  bersabda:
puas). Kemudian Rasulullah 
bersabda, “Sesungguhnya seorang laki-
“Bersungguh-sungguhlah dalam laki yang sudah tua itu mampu
istinsyak kecuali kalau kamu sedang mengendalikan nafsu birahinya.” 9
berpuasa.”7 5. Berbekam. Awalnya, berbekam
4. Bersenang-senang, bepelukan, dan termasuk perkara yang membatalkan
berciuman dengan istri. puasa, tetapi kemudian dibolehkan.
Rasulullah  pernah berbekam ketika
Ada sebuah hadits dari Aisyah 
beliau sedang berpuasa sebagaimana
bahwasannya beliau berkata:
disebutkan dalam hadits dari Ibnu
Abbas :

“Adalah Rasulullah  mencium ketika


beliau sedang berpuasa. Akan tetapi
“Dari Ibnu Abbas  bahwasannya Nabi
beliau orang yang paling mampu
 berbekam sedang beliau dalam
mengendalikan hajatnya.” 8
keadaan berpuasa.” 10
Akan tetapi perbuatan-perbuatan
6. Memakai celak dan obat tetes mata.
semacam itu dimakruhkan bagi
Hal ini menjadi pendapat Syaikhul Islam
pengantin muda. Ada sebuah riwayat
Ibnu Taimiyah.
dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash, dia
berkata, “Kami pernah berada di sisi 7. Dibolehkan menyiram kepala
Rasulullah  , kemudian datang dengan air dingin atau mandi untuk

7
H.R. Tirmidzi hadits no.788 dan Abu Dawud hadits no.142.
8
H.R. Bukhari hadits no.1826 dan Muslim hadits no.1106.
9
H.R. Ahmad II/185. Hadits ini hasan.
10
H.R. Bukhari, hadits no1837,5369; Ahmad I/280,299. Lihat kitab Nasikh Al Hadits wa
Mansukhuh karya Ibnu Syakir.

44 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Aktual
meringankan puasa ketika hari sangat
panas atau karena sangat haus.
Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya
dalam bab ‘Bolehnya Mandi bagi Orang
yang Berpuasa’11 meriwayatkan bahwa “Sesungguhnya Allah telah menjelaskan
Ibnu Umar pernah membasahi kainnya, kepada kamu apa yang diharamkan
kemudian memakainya ketika dia bagimu, kecuali sesuatu yang terpaksa
sedang berpuasa. Asy Sya’bi pernah kamu harus memakannya.” (Q.S. Al
masuk kamar mandi (untuk mandi) An’am: 119).
ketika dia sedang berpuasa. Al Hasan Spray bukan merupakan makanan
berkata, “Tidak mengapa berkumur dan atau minuman, tetapi hanya merupakan
mendingin-dinginkan badan bagi orang bentuk penyuntikan yang tidak
yang sedang berpuasa”. Nabi pernah mengenyangkan.
menuangkan air di atas kepalanya
Segala puji bagi Allah yang telah
ketika beliau sedang berpuasa (untuk
memberikan kemudahan kepada kami
mengurangi rasa haus dan panas).” 12
menulis pembahasan mengenai perkara
8. Mencicipi masakan. Ini dibolebkan penting yang berkaitan dengan bulan
asalkan tidak sampai masuk ke dalam Ramadhan. Tulisan ini kami ambil dari
tenggorokan, berdasarkan riwayat dari beberapa fatwa ulama, di antaranya
Ibnu Abbas : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 — Mufti umum kerajaan Saudi—
dalam kitab Tuhfah Al Ikhwan, Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
dalam kitab kecilnya Nubdzah fi As
“Tidak mengapa seseorang mencicipi Shiyam, Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali
cuka atau sesuatu ketika sedang dan Syaikh Ali Hasan bin Ali Abdul
berpuasa asalkan tidak masuk ke dalam Hamid hafizhahullah dalam kitab Sifah
tenggorokan.” 13 Shiyam An Nabi  Fi Ramadhan.
9. Menggunakan semprot (spray) bila Semoga tulisan kami di atas bisa
memang dibutuhkan, bagi orang yang menambah nilai puasa kita di sisi Allah.
berpenyakit asma’ atau sejenisnya. Hal Kita berdoa semoga puasa kita diterima
ini berdasarkan firman Allah : oleh Allah , sehingga akhirnya kita
dimasukkan ke dalam surga-Nya. Amin.

11
Bukhari II/681 dalam bab diatas.
12
H.R. Abu Dawud, hadits no.2365 dan Ahmad II/2152; III/475, hadits no.15338,16006 dengan
sanad shahih.
13
H.R. Baihaqi, hadits no.8043; Hr. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanif no.9277, dan ini lafaznya

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 45


44
Akhlaq

Oleh : Abu Husam M. Nurhuda

Pengertian Hati yang berkata, “Ada perbedaan mendasar


Bersih antara hati yang bersih dengan hati
Ibnul Qayyim rahimahullah yang kotor, yang terpedaya, yang lalai.
menerangkan bahwa hati yang bersih Hati yang bersih selamanya tidak akan
adalah hati yang selamat dari menghendaki keburukan sedikit pun,
kesyirikan, sifat dengki, dendam, sehingga ia pun akan selamat dari
sombong, hasad, bakhil, cinta kepada keburukan tersebut. Hati yang lalai
dunia dan kedudukan; selamat dari adalah hati yang dimiliki oleh orang jahil
segala penyakit yang menjauhkannya dan kurang pengetahuannya. Hati yang
dari Allah ; selamat dari kerancuan- lalai merupakan sesuatu yang tidak
kerancuan berpikir yang akan merintangi terpuji, bahkan ia merupakan sesuatu
berbuat kebaikan; selamat dari setiap yang tercela. Sedangkan seseorang
hawa nafsu yang menyelisihi perintah- akan dikatakan baik bila terhindar dari
Nya ; selamat dari semua keinginan keadaan seperti itu.” 3
yang bertentangan dengan kehendak
Kiat-Kiat Menggapai
Allah ; serta selamat dari sesuatu
Kebersihan Hati
yang memutuskan hubungan dirinya
Ada beberapa cara yang dapat
dengan Allah . 1
dilakukan untuk menggapai kebersihan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 
hati. Setiap orang bisa melakukannya
berkata, “Hati yang bersih dan terpuji
asal ada tekad dan kemauan. Dengan
adalah hati yang menghendaki
segenap kemampuan yang dimilikinya
kebaikan. Bersihnya hati tersebut akan
dan disertai dengan melaksanakan hal-
bisa tercapai dengan sempurna bila kita
hal yang mengantarkan ke sana,
mengetahui kebaikan dan keburukan.
dengan izin Allah seseorang akan
Ketidaktahuan seseorang akan keburukan
mampu untuk menggapai kebersihan
merupakan bukti kekurangan dirinya.”2
hati yang didambakannya.
Ibnul Qayyim —salah seorang
Diantara perkara-perkara yang dapat
murid Ibnu Taimiyah— menambahkan
menghantarkan kepada kebersihan hati:
penjelasan yang lebih gamblang; dia

1
Kitab Al-Jawabul Kaafi, oleh Ibnul Qayyim :126.
2
Kitab Majmu’ Al-Fatawa, oleh Ibnu Taimiyah : 10/302.
3
Kitab Al-Jawabul Kaafi, oleh Ibnul Qayyim :126.

46 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Akhlaq
1. Ikhlas bertambah perasaan ridha seseorang
Dari Zaid bin Tsabit  , maka akan semakin bersih hatinya. Hati
bahwasannya Rasulullah bersabda: yang bersih dan kebaikan yang menyertai-
nya akan muncul beriringan dengan
keridhaan; sebaliknya kejahatan,
kedengkian dan khianat juga akan
muncul beriringan dengan rasa kecewa
dan rasa tidak ridha. Hati yang hasad
merupakan buah dari rasa kecewa,
“Tidak akan ada kedengkian sedikit pun sedang hati yang bersih adalah buah
pada hati seorang muslim, manakala dari rasa ridha.” 6
terdapat padanya tiga perkara, yaitu Karena itulah dikatakan, “Seorang
keikhlasan dalam beramal, memberi nasihat pendengki adalah musuh dari ni’mat
kepada para pemimpin, dan berpegang Allah  , sebab rasa dengki pada
kepada jama’ah kaum muslimin, karena doa hakekatnya merupakan salah satu
mereka menyertainya.”4 bentuk penentangan terhadap
Ibnu Al-Atsir  mengomentari pemberian Allah . Seorang pendengki
hadist tersebut, “Bahwa dengan tiga membenci ni’mat Allah  yang ada
perkara tersebut, —yaitu memurnikan pada orang lain yang Allah cintai.
keikhlasan, mau memberi nasehat dan Seorang pendengki akan merasa
berpegang teguh dengan sunnah senang kalau nikmat tersebut hilang
Nabi— hati akan menjadi baik. Maka, dari orang tersebut. Dengan demikian,
barangsiapa yang berpegang teguh dia telah menentang takdir dan
dengan tiga hal tersebut hatinya akan ketentuan Allah.7
bersih dari khianat, dengki dan 3. Membaca dan Merenungkan
keburukan lainnya.”5 Ayat-Ayat Al-Qur’an
2. Ridha dengan Ketentuan Allah Al-Qur’an adalah obat penawar bagi
Ibnul Qayyim  berkata, “Keridhaan segala penyakit. Orang yang merugi
akan membuka pintu keselamatan bagi adalah orang yang tidak mendapatkan
seorang hamba, dan akan membersihkan obat dengan diturunkannya Al-Qur’an.
hati dari tipu daya, hasad dan dengki. Allah  berfirman:
Sesungguhnya tidak ada yang bisa
selamat dari siksa Allah  kecuali
orang-orang yang menghadap Allah
dengan hati yang bersih; dan tidak
mungkin hati bisa menjadi bersih tanpa
diiringi dengan keridhaan. Semakin
4
Riwayat Ahmad: 5/183, dan disohihkan Al Albani dalam Kitab Al-Misykat no: 229.
5
Kitab An-Nihayah fi Ghoribil-Hadist : 3/38.
6
Kitab Madarikis-Salikin : 2/216.
7
Kitab Al-Fawaaid : 282.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 47


46
Akhlaq
“Wahai manusia, sesungguhnya telah “Ambillah zakat dari sebagian harta
datang kepadamu pelajaran dari mereka, yang dengan zakat itu kamu
Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- bisa membersihkan dan mensucikan
penyakit (yang berada) dalam dada dan mereka.”10
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang Orang sakit yang paling berhak
yang beriman.”8 untuk mendapatkan pengobatan
Al-Qur’an adalah obat yang mujarab adalah orang yang sakit hatinya;
bagi semua penyakit hati dan badan; sedangkan hati yang paling berhak
juga bagi penyakit dunia dan akhirat, untuk diobati adalah hatimu sendiri,
Ibnu Qoyim berkata, “Bagaimana sebab pada hari kiamat kelak setiap
mungkin penyakit-penyakit itu mampu jiwa akan membela dirinya sendiri. 11
menghadapi firman Allah, yang jika
5. Doa.
diturunkan kepada gunung-gunung,
Seorang hamba hendaknya selalu
maka gunung-gunung itu akan hancur;
berdoa kepada Rabb-nya, untuknya
dan bila diturunkan kepada bumi, maka
dan saudara-saudaranya; agar diberi
bumi itu akan terbelah. Semua
hati yang bersih. Begitulah kebiasaan
penyakit, baik penyakit hati atau badan
orang-orang yang shalih.
telah ditunjukkan jalan penyembuhan-
Allah  berfirman:
nya dan upaya pencegahannya, bagi
mereka yang diberi Al lah 
pemahaman tentang Al-Qur’an. 9
4. Shadaqah
Shadaqah bisa membersihkan hati
dan mensucikan jiwa seseorang. Oleh
sebab itu Allah  memerintahkan
kepada Nabinya :
“Orang-orang yang datang sesudah
mereka, yaitu (kaum Muhajirin dan
Anshar) berdoa: “Ya Tuhan kami, beri

8
QS.Yunus : 57.lihat pula QS.Fushilat : 44 dan QS.Al-Isra’ : 282
9
Kitab Zaadul-Ma’ad, oleh Ibnu Qayyim : 352
10
Q.S.At-Taubah: 103. Dan Nabi  bersabda:

“Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan shadaqah (Hadist dihasankan Albani
dalam Sohih Jami’ no : 3358)
11
Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah :

“(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri...(Q.S. An-
Nahl: 111.)

48 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Akhlaq
ampunlah kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman lebih dahulu Jika engkau memberi
dari kami; dan janganlah Engkau
membiarkan adanya sifat dengki dalam
nasehat dengan syarat
hati kami terhadap orang-orang yang harus diterima, maka
beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya engkau adalah orang
Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.”12
yang dzalim
6. Puasa Tiga Hari dalam Satu
Bulan menunjukkan cela, merendahkan, atau
Tentang hal ini Nabi  bersabda: menunjukkan kekurangan serta
kebodohan yang dinasihati.
Bila suatu nasehat disertai dengan
celaan dan tindakan buruk lainnya,
maka tidak diperbolehkan, baik yang
diberi nasehat itu di hadapannya atau
“Maukah kalian aku kabarkan sesuatu
tidak, apakah masih hidup atau sudah
yang bisa menghilangkan kedengkian
meninggal.14
hati? Berpuasalah kalian tiga hari dalam
Ibnu Hazm berkata, “Jika engkau
satu bulan.”13
memberi nasehat dengan syarat harus
Puasa adalah suatu amalan yang
diterima, maka engkau adalah orang
bermanfaat untuk meredakan kekuatan
yang dzalim.”15
syahwat dan amarah, serta melemahkan
Ibnul Qayyim berkata, “Ada
keinginan balas dendam. Dan puasa
perbedaan antara orang yang benar-
tersebut–dengan izin Allah- kiranya
benar pemberi nasehat dengan tukang
cukup untuk menghilangkan kemarahan,
pencela. Pemberi nasehat tidak akan
serta rasa dendam.
marah kalau orang yang dinasehati
7. Nasehat tidak menerima nasehatnya; dan akan
Nasehat merupakan salah satu berkata, “Kamu terima atau tidak, aku
sebab bersihnya hati dari rasa iri dan telah mendapatkan pahala dari Allah
dengki. Orang yang memberikan .” Dia pun akan mendoakan (orang
nasehat harus meluruskan niatnya dan yang dinasehatinya pent.) di kala
tidak merasa berat dalam menasehati sendirian, tidak menyebutkan aib-
dan mengingkari pelaku kesalahan. aibnya, dan juga tidak menyampaikannya
Untuk menampakkan kebenaran; bukan kepada orang lain. Berbeda dengan

12
(Q.S.Al-Hasyr : 10) dan senagaimana Nabi  pernah berdoa:
“(Wahai Allah), hapuskanlah kedengkian yang ada dalam hatiku.”
13
Shahih An-Nasa’i : 2358, 2386.
14
Kitab Al-Farq Baina An-Nashihah wa At-Ta’yiir : 35 .
15
Kitab Mudawatu An-Nufus : 110.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 49


48
Akhlaq
tukang pencela, yang akan bertindak yang jika kalian lakukan, maka akan
sebaliknya.”16 timbul rasa cinta di antara kalian?
Sebarkanlah salam di antara kalian!” 19
8. Saling Memberi Hadiah
Ibnu Abdil Barr  berkata, “Ini
Dari Abu Hurairah, dia berkata,
merupakan dalil tentang keutamaan
“Rasulullah bersabda:
salam. Yai tu akan menghapus
kebencian dan menumbuhkan rasa
“Saling memberi hadiahlah kalian, kasih sayang di antara mereka.”20
niscaya kalian akan saling mencintai. “17
10.Berprasangka Baik terhadap
Ibnu Abdil Barr  berkata,
Sesama Muslim
“Rasulullah biasa menerima hadiah,
Ada riwayat dari Umar bin Al
dan menganjurkan umatnya untuk itu
Khathab  , bahwasannya beliau
(saling memberi hadiah -pent.).
pernah berkata, “Janganlah kamu
Sungguh, pada tindakan beliau
berprasangka terhadap ucapan
terdapat suri-tauladan yang baik.
saudaramu kecuali dengan prasangka
Hadiah akan menimbulkan rasa cinta
yang baik, karena bisa saja kamu akan
serta menghilangkan permusuhan.”18
mendapatkan jalan kebaikan pada
9. Menyebarkan Salam ucapannya itu.”21
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Imam Syafi’ i  berkata,
“Rasulullah  bersabda: “Barangsiapa menghendaki Allah 
tetapkan kebaikan kepadanya, maka
berprasangka baiklah kepada sesama
manusia.”22
Itulah sebagian dari cara-cara untuk
menghilangkan penyakit hati yang
masih banyak menimpa kita; yang perlu
dilakukan perbaikan dan pembersihan.
Kita memohon kepada Allah —Dzat
“Demi Dzat yang jiwaku ada di yang Maha Pengasih lagi Maha
tanganNya, kalian tidak akan masuk Penyayang—, yang menguasai hati
surga sebelum kalian beriman; dan para hamba; untuk selalu meneguhkan
kalian belum dikatakan beriman hati kita dalam menjalankan agama-
sebelum kalian saling mencintai. Nya  dan membersihkannya dari
Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu segala penyakit. Wallahu a’lam.

16
Riwayat Bukhari dan Muslim
17
Hadist Hasan, Kitab Irwa’ no : 1601.
18
Kitab Tamhid : 21/18.
19
Riwayat Muslim No.54, Tirmidzi No.2688, Abu Dawud No.5193, Ibnu Majah No.3692.
20
Kitab Tamhid 6/128.
21
Tafsir Ibnu Katsir 4/212
22
Bustanul-Arifin :32.

50 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Firaq

Bagian pertama dari dua tulisan dalam Sorotan menjelaskan,


oleh: Tri Madiyono “Kebatinan adalah hasil pikir dan
angan-angan manusia yang
Pendahuluan menimbulkan suatu aliran kepercayaan
dalam dada penganutnya dengan
Banyak pertanyaan dari masyarakat membawakan ritus tertentu, bertujuan
seputar ajaran Kejawen. Pertanyaan untuk mengetahui hal-hal yang ghaib,
tersebut tidak semata disampaikan oleh bahkan untuk mencapai persekutuan
orang yang awam terhadap Islam, akan dengan sesuatu yang mereka anggap
tetapi juga oleh para dai, takmir masjid, Tuhan secara perenungan batin,
dan tokoh masyarakat. Dari ‘nada’ sehingga dengan demikian –menurut
pertanyaan mereka, penulis anggapan mereka- dapat mencapai
menangkap bahwa masyarakat masih budi luhur untuk kesempurnaan hidup
menganggap Kejawen merupakan kini dan akan datang sesuai dengan
bagian dari Islam, sehingga mereka konsepsi sendiri.”1
sering menyebut dengan nama Islam Dari pengertian di atas didapat
Kejawen. Untuk itulah kami beberapa istilah kunci dari ajaran
menurunkan tulisan ini, yang insya kebatinan yaitu: (i) Merupakan hasil
Allah akan membantu menjawab pikir dan angan-angan manusia, (ii)
kerancuan (syubhat) tersebut. Memiliki cara beribadat (ritual) tertentu,
Dalam bagian pertama ini akan (iii) Yang dituju adalah pengetahuan
dibahas tentang aliran Sapto Darmo, ghaib dan terkadang juga malah ber-
yang merupakan salah satu aliran besar tujuan menyatukan diri dengan Tuhan,
kejawen. (iv) Hasil akhir adalah kesempurnaan
hidup dengan konsepsi sendiri.
A. Pengertian Kejawen
(Kebatinan) B. Sejarah Berdirinya
Rahnip M., B.A. dalam bukunya Secara umum kejawen (kebatinan)
Aliran Kepercayaan dan Kebatinan banyak bersumber dari ajaran nenek

1
Rahnip M., B.A., Aliran Kebatinan dan Kepercayaan dalam Sorotan, Pustaka Progressif, hal. 11.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 51


50
Firaq
moyang bangsa Jawa yaitu animisme  Turut menyingsingkan lengan baju
dan dinamisme, 2 yang diwariskan menegakkan nusa dan bangsa.
secara turun temurun sehingga tidak  Menolong siapa saja tanpa pamrih,
dapat diketahui asal muasalnya. melainkan atas dasar cinta kasih.
Sapto Darmo —salah satu aliran  Berani hidup atas kepercayaan
besar kejawen— pertama kali dicetus- penuh pada kekuatan diri-sendiri.
kan oleh Hardjosapuro dan selanjut-  Hidup dalam bermasyarakat dengan
nya dia ajarkan hingga meninggalnya, susila dan disertai halusnya budi
16 Desember 1964. Nama Sapto Darmo pekerti.
diambil dari bahasa Jawa; sapto artinya  Yakin bahwa dunia ini tidak abadi,
tujuh dan darmo artinya kewajiban melainkan berubah-ubah (angkoro
suci. Jadi, sapto darmo artinya tujuh manggilingan).
kewajiban suci. Sekarang aliran ini
banyak berkembang di Yogya dan Jawa Bantahannya:
Tengah, bahkan sampai ke Luar Jawa. Dalam sudut pandang Aqidah Ahlus
Aliran ini mempunyai pasukan dakwah Sunnah wal Jama’ah, ajaran Sapto
yang dinamakan Corps Penyebar Sapto Darmo hanya berisi keimanan kepada
Darmo, yang dalam dakwahnya sering Allah sebatas beriman terhadap
dipimpin oleh ketuanya sendiri (Sri Rububiyah Allah; itupun dengan
Pawenang) yang bergelar Juru Bicara pemahaman yang salah. Rububiyah
Tuntunan Agung. Allah hanya difahami sebatas lima sifat
(Pancasila Allah) yaitu Maha Agung,
Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa,
C. Ajaran pokok Sapto Darmo3 dan Maha Kekal. Padahal sifat
dan Bantahannya rububiyah Allah itu banyak sekali (tidak
terbatas dengan bilangan).
1. Tujuh Kewajiban Suci (Sapto
Keimanan secara benar terhadap
Darmo)
Rububiyah Allah saja belum menjamin
Penganut Sapto Darmo meyakini
kebenaran Iman atau Islam seseorang,
bahwa manusia hanya memiliki 7
apalagi yang hanya beriman kepada
kewajiban atau disebut juga 7 Wewarah
sebagian kecil dari sifat rububiyah Allah
Suci, yaitu:
seperti ajaran Sapto Darmo ini. (Baca:
 Setia dan tawakkal kepada Pancasila
Rubrik Tauhid oleh Ustadz Abu Nida’,
Allah (Maha Agung, Maha Rahim,
halaman 2)
Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha
Inti ajaran Sapto Darmo hanya
Kekal).
mengajarkan iman kepada Allah saja.
 Jujur dan suci hati menjalankan
Hal itu menunjukkan batilnya ajaran
undang-undang negara.

2
Animisme adalah kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami suatu benda (pohon, batu, sungai,
gunung, dll), sedangkan Dinamisme adalah kepercayaan bahwa sesuatu benda mempunyai
tenaga atau kekuatan. (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1997).
3
Disarikan dari buku Rahnip M., BA., idem, hal. 73-112.

52 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Firaq
Sapto Darmo dalam pandangan Islam. malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi.” (Al
Aqidah Islam memerintahkan untuk Baqarah: 177)
mengimani enam perkara yang dikenal Maka, keimanan yang dikehendaki
dengan rukun iman, yaitu beriman oleh Allah adalah iman kepada semua
kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab- perkara tersebut. Dan orang yang
kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, beriman kepada perkara-perkara
dan Takdir yang baik maupun buruk. tersebut dinamakan mukmin; surgalah
Al-Allamah Ali bin Ali bin Muhammad balasan baginya. Sedangkan yang
bin Abil ‘Izzi 4 dalam menjelaskan rukun mengingkari perkara-perkara tersebut
iman mengatakan, “Perkara-perkara dinamakan kafir dan neraka
tersebut adalah termasuk rukun iman”. jahannamlah tempat kembali yang
Allah  berfirman: pantas untuknya. Allah  berfirman:

“Barangsiapa tidak beriman kepada


Allah dan Rasul-Nya maka Kami
“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an sediakan untuk orang-orang yang kafir
yang diturunkan kepadanya dari neraka yang menyala-nyala.” (QS.Al
Tuhannya; demikian pula orang-orang Fath:13)
yang beriman; mereka semuanya Dan dalam sebuah hadits yang
beriman kepada Allah, Malaikat- kesahihannya tidak diperselisihkan lagi,
malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasulullah menjawab pertanyaan yang
Rasul-rasul-Nya…” (Al Baqarah: 285) disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada
juga firman-Nya : beliau tentang arti iman. Beliau
menjawab:

“Bahwa keimanan itu adalah engkau


beriman kepada Allah, para Malaikat-
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasulnya,
arah Timur dan B arat itu suatu Hari Akhir, dan Takdir yang baik
kebajikan, akan tetapi sesungguhnya maupun buruk. “5
kebajikan itu ialah beriman kepada Inilah prinsip dasar yang telah
Allah, Hari Kemudian, Malaikat- disepakati oleh para nabi dan rasul.

4
Syarah Ath Thahawiyah fi Al Aqidah As-Salafiyah, hal. 183-184, Darul Fikr, 1408H./1988M.
5
Muslim hadits no.9, At Tirmidzi had no.2535, Nasa-i haits no.4904, Abu Dawud hadits
no.4075, Ibnu Majah hadits no.62, dan Ahmad hadits no.179,186,346

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 53


52
Firaq
Seseorang tidak dikatakan beriman manusia yang berasal dari sinar cahaya
kecuali dengan mengimani para Rasul Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.
dan rukun iman yang lainnya. Dalam pandangan Islam keyakinan
seperti ini sangat batil. Sebab semua
yang ada di alam semesta ini selain
2. Panca Sifat Manusia
Allah adalah makhluk; dan semua
Menurut Sapto Darmo, manusia makhluk adalah tidak kekal, termasuk
harus memiliki 5 sifat dasar yaitu: juga manusia, baik rohnya maupun
 Berbudi luhur terhadap sesama jasadnya. Manusia adalah makhluk;
umat lain. yang diciptakan oleh Allah dari tanah.
 Belas kasih (welas asih) terhadap Sebagaimana firman Allah  dalam
sesama ummat yang lain. Surat Ash Shaffat,
 Berperasaan dan bertindak adil.
 Sadar bahwa manusia dalam
kekuasaan (purba wasesa) Allah.
 Sadar bahwa hanya rohani manusia
yang berasal dari Nur Yang Maha “…Sesungguhnya Kami telah
Kuasa yang bersifat abadi. menciptakan mereka dari tanah liat.”
(Q.S. Ash Shaffat :11)
Bantahannya: Dalam ayat lain disebutkan bahwa
Salah satu dari ajaran Sapto Darmo manusia diciptakan dari at-thin (tanah),
dalam Panca Sifat Manusia –yang perlu sebagaimana dikatakan oleh Iblis ketika
dikritisi- adalah bahwa hanya ruhani

Tarif Iklan
Halaman Cover (warna)
Cover I Rp 1.000.000,-
Cover II Rp 700.000,-
Cover III Rp 700.000,-

Halaman Dalam (hitam putih)


1 halaman penuh Rp 500.000,-
1/2 halaman Rp 300.000,-
1/4 halaman Rp 175.000,-

54 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Firaq
menolak bersujud kepada Adam, ia seperti ‘ilmu, qudrah, sama’, bashar’,
berdalih: dan tangan. Ahlus Sunnah wal Jama’ah
telah sepakat bahwa ruh itu makhluk.
Diantara ulama yang menyebutkan
“Engkau ciptakan aku dari api, sedang tentang ijma’ tersebut adalah
Engkau ciptakan dia (manusia) dari Muhammad bin Nashr al-Muruziy, Ibnu
tanah.” (Q.S. Al A’raf: 12) Qutaibah, dan lainnya. Adapun dalil
Karena manusia itu makhluk, maka bahwa ruh itu makhluk adalah firman
baik roh maupun jasadnya tidak ada Allah ta’ala:
yang abadi.
Keyakinan Sapto Darmo tentang
keabadian roh manusia muncul dari “ Allah-lah Pencipta segala sesuatu.”
anggapan mereka bahwa pada diri (Q.S. Az Zumar: 62)
manusia terdapat ‘persatuan dua unsur’ Dalam alenia berikutnya beliau
yaitu unsur jasmani -dari tanah- dan melanjutkan keterangannya, “Allah
unsur ruhani -yang mereka dakwakan ta’ala adalah Al-Ilah yang memiliki sifat
sebagai- cahaya Allah yang abadi. kesempurnaan. Maka ilmu-Nya,
Dalam terminologi kebatinan hal itu Kekuasaan-Nya, hidup-Nya, pende-
disebut dengan ajaran Panteisme, yakni ngaran-Nya, penglihatan-Nya, dan
bersatunya unsur Tuhan (Laahut) dan semua sifat-sifat-Nya termasuk dalam
unsur manusia (Naasut). sebutan nama-Nya. Maka Dia, Allah
Terhadap pandangan yang Subhanahu, dzat maupun sifat-Nya
menyatakan bahwa ruh itu abadi, Al- adalah Pencipta (Al-Khaliq) dan selain
Allamah Ali bin Ali bin Muhammad bin Dia adalah makhluk. Dan telah difahami
Abil ‘Izzi menjelaskan, “Dikatakan secara qath’iy bahwa ruh itu bukan
bahwa ruh itu azali (qadim). Padahal Allah dan bukan pula salah satu dari
para Rasul telah bersepakat bahwa ruh sifat Allah melainkan salah satu dari
itu baru, makhluk, diciptakan, ciptaan-Nya.” Adapun terkait dengan
dipelihara, dan diurus. Ini adalah penisbatan (idhafah) ruh kepada Allah
perkara yang telah diketahui secara maka beliau menjelaskan, “Perlu
pasti dalam agama bahwa alam itu baru diketahui bahwa penisbatan kepada
(muhdats). Para sahabat dan tabi’in Allah ada dua macam,
juga memahami yang seperti ini kecuali Pertama: penisbatan sifat yang
setelah muncul pemikiran yang menyatu dengan dzat Allah seperti
bersumber dari orang yang dangkal ilmu, qudrah, kalam, sama’, dan bashar.
pemahamannya terhadap Al-Qur’an Maka penisbatan ini adalah penisbatan
dan As-Sunnah lalu menyangka bahwa sifat kepada yang disifati (idhafatu
ruh itu qadim. Dia berhujjah bahwa ruh shifah ila maushuf). Oleh karena itu
itu termasuk urusan Allah (min amrillah) ilmu, kalam, sama’, dan bashar adalah
sedangkan amrullah bukan makhluk sifat Allah. Demikian juga wajah dan
karena di-idhafah-kan kepada Allah tangan Allah.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 55


54
Firaq
Kedua: penisbatan dzat yang
terpisah (munfashilah) dari Allah seperti
rumah, hamba, rasul, dan ruh. Maka
penisbatan rumah, hamba, rasul, dan
ruh kepada Allah adalah penisbatan
makhluk kepada Pencipta-Nya.””
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah
bapak dari seorang laki-laki di antara
3. Konsep Kitab Suci
kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan
Kitab suci penganut Sapto Darmo penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah
adalah yang diusahakan oleh Bopo Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Panuntun Gutama, yang tidak lain (Q.S. Al Ahzab: 40)
adalah pendirinya itu sendiri, Dengan meyakini ‘kitab suci’ yang
Hardjosapuro. Menurut pandangan dibikin sekitar 40 tahun itu berarti sama
mereka, kitab ini berasal dari kumpulan saja dengan mengingkari Muhammad
‘wahyu’ dari Tuhan yang memiliki sifat sebagai penutup para nabi dan rasul.
Pancasila Allah. Itu berarti ajaran ini secara tidak
langsung mengakui dan menetapkan
Bantahannya: adanya Nabi baru setelah Nabi
Kitab Suci penganut Sapto Darmo Muhammad . Tentu ajaran seperti ini
sebagaimana disebutkan di muka jelas-jelas bertentangan dengan ajaran
adalah yang diusahakan oleh Bopo Islam.
Panuntun Gutama, yaitu Hardjosapuro.
Menurut pandangan mereka, kitab suci
mereka itu berasal dari ‘wahyu’ yang 4. Konsep tentang Alam
berasal dari Tuhan yang memiliki sifat
Konsep alam dalam pandangan
Pancasila Allah. Itu berarti bahwa ‘kitab
Sapto Darmo adalah meliputi 3 alam:
suci’ tersebut baru, lahir sekitar 40
tahun yang lalu.  Alam Wajar yaitu alam dunia
Bagaimana kalau dikembalikan sekarang ini.
kepada ajaran Islam? Aqidah Islam  Alam Abadi yaitu alam langgeng
mengajarkan bahwa Nabi Muhammad atau alam kasuwargan. Dalam
 adalah penutup kenabian dan terminologi Islam maknanya
kerasulan. Dan Al-Qur’an adalah kitab mendekati alam akhirat.
suci terakhir yang diturunkan Allah ;  Alam Halus yaitu alam tempat roh-
karena tidaklah kitab suci itu diturunkan roh yang gentayangan (berkeliaran)
melainkan melalui para rasul; dan Nabi karena tidak sanggup langsung
kita Muhammad  adalah penutup para menuju alam keswargaan. Roh-roh
nabi dan rasul. Sebagaimana firman tersebut berasal dari manusia yang
Allah : selama hidup di dunia banyak
berdosa.

56 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Firaq
Bantahannya: ketika di kubur, seperti apa tulang
Aliran Sapto Darmo meyakini rusuknya, dan hal-hal yang semacam-
adanya alam halus yaitu alam tempat nya, maka wajib kita pahami (yakini)
roh-roh yang gentayangan atau sebagaimana yang disampaikan oleh
berkeliaran karena tidak sanggup Rasulullah; tidak boleh kita menambah-
langsung menuju alam keswargaan. nambah ataupun menguranginya…” 6
Kata mereka, roh-roh tersebut berasal Terkait dengan alam, Ibnu Abil ‘Izzi
dari manusia yang selama hidup di pada alenia berikutnya menjelaskan,
dunia banyak berdosa. “Kesimpulannya adalah bahwa alam itu
Aqidah Islam tidak mengenal alam ada tiga; alam dunia (dar ad-dunya),
yang demikian itu. alam barzakh (Dar al
Setelah manusia barzakh), dan alam
meninggal dunia – akhirat (dar al qarar).
bagaimanapun cara Allah telah
meninggalnya- maka memberlakukan hukum-
selanjutnya ia berada hukum tertentu bagi
dalam suatu alam yang tiap-tiap alam tersebut,
disebut dengan alam dan manusia ( jasad
kubur atau alam maupun ruh) akan
barzakh, sebagaimana berjalan sesuai dengan
dijelaskan oleh Al hukum tersebut. Allah
Allamah Ali bin Ali bin menjadikan hukum-
Muhammad bin Abil hukum dunia berlaku
‘Izzi. “Ketahuilah, bagi jasad dan ruh
bahwa adzab kubur sesuai keadaannya di
adalah adzab barzakh. dunia. Demikian juga;
Semua orang yang Allah menjadikan
mati dalam keadaan hukum-hukum di alam
membawa dosa berhak barzakh berlaku bagi
mendapat adzab sesuai dengan dosa jasad dan ruh sesuai keadaannya di
yang dilakukannya, baik jasadnya alam barzakh. Kemudian, tatkala
dikuburkan, dimakan srigala, terbakar datang hari dibangkitannya semua
sehingga menjadi abu, melayang- jasad dan manusia dari kubur mereka,
layang di angkasa, disalib, atau maka akan berlakulah hukum-hukum
tenggelam di lautan. Adzab kubur akan yang ada di sana; pemberian pahala
dirasakan oleh si mati dengan jasad dan dan siksa, juga kepada ruh dan jasad
ruh-nya, meski jasadnya tidak terkubur. secara bersama-sama.”
Hal-hal ghaib yang berkaitan dengan (ed).
bagaimana duduknya orang yang mati

6
Syarah At Thahawiyah fi Al Aqidah as-Salafiyah, ibid, hal. 264.

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 57


56
Profil

Oleh: Abu Abdillah Mubarak


Abu Bakar  adalah orang yang pertama kali masuk Islam dan pertama kali
menampakkan keislamannya setelah Rasulullah . Beliau adalah orang yang paling
bermanfaat keislamannya bagi perkembangan dakwah Islam bila dibandingkan
dengan sahabat Nabi yang lain. Hal ini karena beliau memiliki sejumlah kelebihan,
antara lain beliau berasal dari keturunan yang mulia, seorang hartawan, dan
suka membelanjakan hartanya demi ketaatan kepada Allah dan Rasul–Nya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah dalam berjuang untuk mencapai


khalifah yang pertama. Beliau kajayaan Islam. Pada masa beliau
memimpin umat ini berdasarkan terjadi peristiwa yang monumental
manhaj nabawi berlandaskan Al-Kitab yaitu pengumpulan Mushhaf Al-Qur’an,
dan As-Sunnah. Beliau merupakan karena banyak dari kaum muslimin
Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang hafal Al-Qur’an terbunuh dalam
penolong dan penegak As-Sunnah pertempuran. Guna menjaga Al-Qur’an
tatkala muncul orang-orang yang maka dilaksanakanlah jam’ul Qur’an
murtad, nabi-nabi palsu, dan orang- agar tetap otentik dan terjaga dari
orang yang enggan membayar zakat. perubahan-perubahan.
Beliau memerangi orang-orang yang
enggan membayar zakat karena
Nasabnya
mereka hendak memisahkan antara Nama dan nasab beliau adalah Abu
kewajiban shalat dengan kewajiban Bakar Abdullah bin Utsman (Abu
zakat, padahal memisahkan sesuatu Quhafah) bin Amir bin Amru bin Ka’ab
yang Rasulullah  satukan serta bin Sa’ad bin Qoyim bin Murrah bin
memisahkan diri dari jama’ah adalah Ka’ab bin Lu’ai bin Ghalib. Sedangkan
salah satu sebab bolehnya diperangi. ibunya adalah Ummu Khair Salma binti
Bahkan orang yang mengingkari salah Shahr bin Malik bin Amir bin Amru ….
satu rukun dari rukun-rukun Islam (dan seterusnya sebagaimana nasab
maka dia telah kafir, karena hakikatnya ayahnya).
sama dengan mengingkari semua Keutamaan Abu Bakar Ash-
rukun Islam. Shidiq 
Beliau adalah imam yang
Di antaranya:
menghidupkan sunnah, memberantas
serta mematikan bid’ah, kekufuran dan 1. Saudara Rasulullah  dalam Islam
kesyirikan. Orang yang paling berjasa dan yang menemani beliau ketika
dan memiliki andil yang sangat besar berada di gua Tsur, menemani

58 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Profil
perjalanan hijrah, yang menjaga dan Muhammad bin Hanafiah berkata,
mempertaruhkan dirinya untuk “Saya bertanya kepada ayah saya
Rasulullah . Dalilnya adalah hadits Abu (Hanafiah bin Ali bin Abu Thalib),
Sa’id yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Siapakah manusia yang paling baik
Hibban dalam kisah pengutusan Abu setelah Rasulullah  ?’ Bel iau
Bakar ke Hajj. Rasulullah bersabda menjawab, ‘Abu bakar.’ Saya bertanya
kepada Abu Bakar, lagi, ‘Kemudian siapa?’ Bel iau
menjawab, ‘Umar.’ … alhadits.”3
4. Orang yang pertama kali diberi gelar
“Kamu adalah saudara saya (di dalam Ash-Shiddiq oleh Rasulullah  karena
Islam) dan sahabat saya ketika berada di beliau adalah orang yang paling cepat
dalam gua (tatkala hijrah ke Madinah)’.”1 membenarkan semua berita dari
2. Orang yang paling dicintai Rasulullah , meskipun berita yang
Rasulullah  di antara para sahabat. disampaikan tersebut seolah-olah
Berdasarkan hadits Amru bin `Ash kurang bisa diterima oleh akal. Yaitu
bahwa Rasulullah  mengutusnya dalam tatkala Rasulullah  mengabarkan
sebuah pasukan dzaatu salaasil, maka peristiwa Isra’ dan Mi’raj kepada kaum
ia mendatangi Nabi  dan bertanya, Quraisy, maka sebagaian besar mereka
mendustakan berita tersebut, sebagian
dari kaum Muslimin ada murtad, akan
tetapi Abu Bakar segera membenar-
kannya, maka pada hari itu dia diberi
gelar Ash-Shiddiq.
5. Orang yang pertama kali masuk
Islam dan menampakkan keislamannya
setelah Rasulullah, berdasarkan hadits
Ammar , ia berkata,
“Siapakah orang yang paling engkau
cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah”, maka
saya bertanya lagi, “Dari kaum lelaki?”
Beliau menjawab, “Ayah Aisyah” maka
saya bertanya lagi, “Kemudian siapa?” “Saya melihat Rasulullah  dan tidak
beliau menjawab, “Umar bin Khathaab.” ada orang yang bersamanya kecuali
Kemudian beliau menyebutkan beberapa lima orang budak, dua orang wanita
sahabat yang lain.” 2 (Khadijah dan Ummu Aiman) dan Abu
3. Manusia yang paling baik setelah Bakar.”4
Rasulullah  . Berdasarkan hadits
1
Fathul Bari Juz 7 kitab Fadhail Ash-habin Nabi bab Manaqib Al-Muhajirin wa Fadhlihim, minhum
Abu Bakar… hal. 356, oleh Ibnu Hajar
2
H.R. Bukhori No. 3662
3
H.R. Bukhori No. 3671
4
H.R. Bukhori.No. 3660

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 59


58
Profil
6. Orang pilihan Allah, Rasulullah  dan “Sesungguhnya orang yang paling
kaum muslimin. Abu Bakar Ash-shiddiq besar pengorbanan diri dan hartanya
merupakan orang yang paling alim terhadapku adalah Abu Bakar,
(berilmu) setelah Rasulullah  dan orang seandainya saya diperbolehkan
kepercayaan beliau. Berdasarkan hadits mengambil seseorang menjadi kholil
Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, (kekasih) selain Rabbku niscaya saya
“Rasulullah  berkhotbah kepada akan mengambil Abu Bakar sebagai
manusia dan berkata, kholil , akan tetapi yang ada adalah
persaudaraan dan kasih sayang dalam
Islam. Janganlah kamu tinggalkan
masjid kecuali pintunya dalam keadaan
tertutup kecuali pintu untuk Abu Bakar
‘Sesungguhnya Allah  memberikan Ash-Shiddiq.’” 5
pilihan kepada seorang hamba apa Dan dalam riwayat selain Bukhori :
yang ada di dunia dan apa-apa yang “Akan tetapi ia adalah saudara saya
ada di sisi-Nya, maka hamba tersebut dalam Islam dan teman saya tatkala
memilih apa yang di sisi Allah.’ berada dalam gua Tsur.”
Berkata rawi: “Abu Bakar menangis,
maka kami merasa heran dengan
tangisannya terhadap pengkabaran
Rasulullah  tentang seorang hamba
yang diberi pilihan itu.’ Maka Rasulullah
adalah orang yang diberi pilihan dan
Abu Bakar adalah orang yang paling Dari Ibnu Umar berkata : “Kami
alim diantara kami, maka Rasulullah  memilih orang yang paling baik di
kalangan manusia pada zaman
bersabda:
Rasulullah, maka kami memilih Abu
Bakar, kemudian Umar bin Khaththab
kemudian Utsman bin Affan .” 6
Hadits ini sebagai isyarat bahwa
yang berhak menjadi khalifah setelah
Rasulullah wafat adalah Abu Bakar Ash-
Shiddiq, kemudian Umar, kemudian
Utsman. Hadits ini juga mengisyaratkan
bahwa beliau adalah orang yang alim
(berilmu) diantara para sahabat,
bahkan orang yang paling berilmu
setelah Rasulullah  dan beliau banyak

5
H.R. Bukhori No. 3654
6
H.R. Bukhori No. 3655

60 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Profil
mengetahui rahasia-rahasia Rasulullah kepada Al-Kitab, Al-Hadits dan tidak
yang tidak diketahui oleh sahabat- pula kepada Salaful ummah. Akan
sahabat yang lain. Ia paling tahu tetapi celaan itu didasari rasa dengki,
tentang tafsir dan asbabun nuzul Al- angkuh, sombong dan dari hawa nafsu
Qur ’an. Paling faham terhadap belaka. Sesungguhnya celaan yang
perkataan dan isyarat-isyarat yang mereka tujukan kepada Abu Bakar,
disampaikan Rasulullah . Umar, Utsman dan para sahabat
lainnya pada hakikatnya adalah celaan
Celaan Zindiq kepada Rasulullah . Seakan-akan
Setelah wafatnya Rasulullah  -- mereka mengatakan bahwa Rasulullah
sebagimana yang telah disampaikan tidaklah berhasil mendidik para
diawal pembahasan--bermunculanlah sahabatnya, ‘buktinya hampir semua
orang-orang murtad, nabi palsu, orang para sahabat murtad kecuali hanya
yang enggan membayar zakat dan lain- beberapa orang saja’. Maka ini
lain, termasuk didalamnya kelompok merupakan suatu tuduhan yang sangat
yang dikenal dengan Syi’ah Rafidhah keji terhadap Rasulullah .
dan orang-orang zindiq. Kelompok ini
Kaum Muslimin diperintahkan untuk
paling gencar dalam mencela para
berpegang teguh kepada al-Kitab dan
sahabat secara umum, tidak terkecuali
al-Hadits yang shahih, mengikuti
sahabat-sahabat utama, termasuk Abu
keduanya dan mengamalkannya,
Bakar Siddiq  yang telah kita simak
dengan mencontoh Salafus Shalih; baik
bagaimana kedudukan dan kemuliaan
dalam Aqidah, Manhaj, Fiqih, Akhlaq,
beliau disisi Rasullullah . Mereka
dan Muamalah. Maka Ahlus Sunnah
mengatakan bahwa Abu Bakar, Umar
berpendapat dan bersepakat bahwa
dan Utsman serta sahabat yang lain
Abu Bakar  adalah orang yang paling
telah murtad, kufur, sebagai thogut,
berilmu setelah Rasulullah, yang paling
perampas hak Ali dan sebagainya yang
tinggi keimanannya setelah Rasulullah,
semisal dengan itu. Maka, untuk
kemudian Umar bin Khathab, kemudian
menjelaskan permasalah-an ini
Utsman bin Affan, kemudian Ali bin Abi
cukuplah kita menyimak perkataan
Thalib, kemudian 10 orang yang
para ulama sunnah, yang paham
dijamin masuk surga, kemudian para
kedudukan sahabat nabi  dan
sahabat yang lainnya dan orang-orang
seberapa jauh penyimpangan
yang mengikuti mereka dengan ihsan
kelompok sempalan ini.
sampai Hari Kiamat.
B erikut beberapa nukilkan
Jawaban Ulama
perkataan para ulama yang
Celaan-celaan yang mereka menjelaskan sikap Syia’ah Rafidhah,
lontarkan terhadap Abu Bakar, Umar dalam rangka menolak celaan yang
dan para sahabat yang lainnya dilontarkan kepada Abu Bakar, Umar
hanyalah bualan yang tidak dilandaskan dan para sahabat yang lainnya:

Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 61


60
Profil
 Imam Ahmad bin Hambal
berkata: “Saya bertanya kepada Ayah
saya tentang Rafidhah, maka beliau
menjawab: ‘Mereka itu adalah orang-
orang yang mencela Abu Bakar dan
Umar.’”7 Beliau juga ditanya seseorang
tentang Abu Bakar dan Umar, maka
beliau menjawab: “Doakanlah rahmat
untuk keduanya dan berlepas dirilah
dari orang-orang yang membenci
keduanya.”8
 Al-Faryabi, ketika ada seorang yang
bertanya kepadanya tentang orang- derita, sebagaimana yang dikatakan
orang yang mencela Abu Bakar dan Zubair bin Bikar. Beliau menjabat
Umar, maka Dia menjawab: “Orang sebagai khalifah pertama selama dua
tersebut telah kafir.” Kemudian dia tahun tiga bulan beberapa hari, sedang
ditanya lagi, “Apakah dia dishalatkan?” usia Beliau tatkala wafat sama dengan
Beliau menjawab: “Tidak perlu.”9 usia Rasulullah yaitu 63 tahun. —
 Abu Zur’ah berkata: “Orang yang wallahu a’lam—13
mengurangi hak-hak para Sahabat
Rasulullah, maka ketahuilah bahwa Maraji’ :
mereka itu adalah orang Zindiq.”10 1. Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-
 Imam Malik ditanya tentang ‘Asqalani
Rafidhah, maka beliau menjawab: 2. Al-Bidayah wa An-Nihayah karya
‘Janganlah kamu berbicara kepada Ibnu Katsir
mereka, jangan meriwayatkan dari 3. Min ‘Aqaidisy Syi’ah karya Abdullah
mereka karena sesungguhnya mereka bin Muhammad As-salafy
adalah pendusta.11’”12 4. As-Syi’ah Al-Imamiyah Al-Itsna Al-
’Asyariyyah fi mizanil Islam karya
Wafatnya Rabi’ bin Muhammad As-Sa’udi
5. Kitabus Siyar an-Nabawiyah wa
Abu B akar As-Shiddiq wafat
Ahbaril Khulafa’
disebabkan sakit paru-paru yang beliau

7
Min ‘Aqaidisy Syi’ah bab Ma Aqwalul Aimmatis Salaf wal Khalaf fi Rafidhah, hal. 56
8
idem, hal. 56-57
9
idem, hal. 57
10
idem, hal. 58
11
idem, hal.54
12
Lebih jelasnya lihat kitab “Min ‘Aqaidisy Syi’ah karya Abdullah bin Muhammad As-salafy” dan
“As-Syi’ah Al-Imamiyah Al-Itsna Al-’Asyariyyah fi mizanil Islam karya Rabi’ bin Muhammad As-
Sa’udi”
13
Faathul Bari’ juz 7 kitab Fadhail Ashabin Nabiy bab Manaqibil Muhajirin wa fadhlihim minhum
Abu Bakar

62 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M


Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M 63
B. Nasehat

Yang paling penting di sini adalah saling memberi nasihat diantara kita dalam
berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman As-Salafus
Salih, menjalankan isinya , mengajak kepada manusia kembali kepadanya. Karena
tidak akan bahagia dan selamat di dunia dan akhirat kecuali dengan berpegang
kepada keduanya, dalam beraqidah, bertutur, beramal, istiqamah, bersabar dalam
menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran. Ingat, barang siapa yang
taat akan selamat, barang siapa ma’siat akan di azab, cepat atau lambat.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa
cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”(QS.An-Nur:63)
Demikian surat pernyataan ini mudah-mudahan bermanfaat bagi kita, semoga
kita selalu mendapatkan taufik dan inayahnya. Amin.

Ketua Yayasan
Majelis At-Turots Al-Islamy Yogyakarta

Abu Nida Chomsaha Sofwan

Referensi:
1. “Muraja’at Fi Fiqhil Waqi’” bersama Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Shalih Al-Fauzan dan Syaikh
Shalih As-Sadlan.
2. “As-Siraj Al-Wahhaj” dan “Silsilah Al-Fatawa As-Syar’iah” karya Syaikh Abul Hasan Musthafa bin
Isma’il As-Sulaimany.

64 Fatawa Vol. 01/ I / Ramadhan 1423 H - 2002 M