Anda di halaman 1dari 3

CIR (Critical Insidence Report)

NAMA

: ANDI ANGGRAENI RAMLI

NIM

: C121 12 105

RUANGAN

: LONTARA 2 BAWAH BELAKANG

Tindakan Keperawatan yang dilakukan : Skin test

Nama Klien

: Ny. S

Diagnosa Medis

: Fraktur Left Neck Femur

Tanggal Dilakukan

: 20 April 2016

Diagnosa Keperawatan

: Risiko Infeksi

Tujuan Tindakan

1.
2.

Pasien mendapatkan pengobatan sesuai program pengobatan dokter.


Memperlancar proses pengobatan dan menghindari kesalahan dalam pemberian obat.

3.

Menghindarkan pasien dari efek alergi obat ( dengan skin test).

Prinsip dan rasional tindakan


1.
2.

3.
4.
5.

Pertahankan sterilitas
Perhatikan lokasi penyuntikan dari :

Adanya infeksi, aberasi kulit, atau jaringan nekrosis pada lokasi

Ada tidaknya serat saraf di bawah otot

Berapa jumlah obat yang dapat diinjeksi pada lokasi tersebut

Pilihlah area penyuntikan, yaitu lengan bawah sisi dalam, paha atas, dan punggung (di
atas scapula)
Dosis yang diberikan biasanya dalam jumlah sedikit yaitu 0,1
Setelah penyuntikan, benjolan yang timbul diusap dengan desinfektan tatapi tidak
dipijat

Pelaksanaan :
a. Mencuci tangan
b. Berdiri di sebelah kanan/kiri pasien sesuai kebutuhan.
c. Cek daftar obat pasien untuk memberikan obat
d. Membawa obat dan daftar obat ke hadapan pasien sambil mencocokkan nama pada
tempat tidur dengan nama pada daftar obat
e. Menginjeksi pasien sesuai dengan nama pada daftar obat
f. Jaga privasi pasien

g. Injeksi intrakutan dilakukan dengan cara spuit diisi oleh obat sesuai dosisnya.
h. Menentukan lokasi injeksi yaitu 1/3 atas lengan bawah bagian dalam.
i. Membersihkan lokasi tusukan dengan kapas normal saline atau kapas alcohol bila
diperlukan, kulit diregangkan tunggu sampai kering.
j. Lubang jarum menghadap keatas dan membuat sudut antara 5-150 dari permukaan kulit
k. Memasukan obat perlahan-lahan sampai berbentuk gelembung kecil, dosis yang
diberikan 0,1 cc atau sesuai jenis obat.
l. Setelah penyuntikan area penyuntikan tidak boleh didesinfeksi.
m. Bila injeksi intrakutan dilakukan untuk test antibiotik, lakukan penandaan pada area
penyutikan dengan melingkari area penyuntikan dengan diameter kira kira 1inchi atau
diameter 2,5 cm. Penilaian reaksi dilakukan 15 menit setelah penyuntikan. Nilai positif
jika terdapat tanda tanda rubor, dolor, kalor melebihi daerah yang sudah ditandai, artinya
pasien alergi dengan antibiotik tersebut.
n. Bila injeksi ditujukan untuk mantoux test tuberkulin test, dapat dinilai hasilnya dalam 2
sampai 3 kali 24 jam, positif bila terdapat rubor dolor kalor melebihi diameter 1 cm pada
area penyuntikan.
o. Beri penjelasan pada pasien atau keluarga untuk tentang penilaian pada daerah
penyuntikan dan anjurkan untuk tidak menggaruk, memasage atau memberi apapun pada
daerah penyutikan. Menyimpan obat obat sisa dan daftar obat pasien ketempatnya
p. Mengobservasi keadaan umum pasien dan melepaskan handschoen, mencuci tangan.
q. Membuat pendokumentasian mencakup: Tindakan dan respon pasien
Analisa Tindakan yang dilakukan :
Memberikan obat melalui suntikan intracutan/ intradermal adalah suatu tindakan
membantu proses penyembuhan melalui suntikan ke dalam jaringan kulit atau intra dermis.
Indikasi untuk injeksi ic, yaitu: Pasien yang membutuhkan tes alergi (mantoux tes), pasien
yang akan melakukan vaksinasi, menegakkan diagnosa penyakit, dan dilakukan sebelum
memasukkan obat. Kontraindikasinya ialah pasien yang mengalami infeksi pada kulit, pasien
dengan kulit terluka, dan pasien yang sudah dilakukan skin tes. Keuntungan injeksi ic, yaitu:
suplai darah sedikit, sehingga absorbsi lambat, bisa mengetahui adanya alergi terhadap obat
tertentu dan memperlancar proses pengobatan dan menghindari kesalahan dalam pemberian
obat, sedangkan kerugiannya yaitu: tuntutan sterilitas sangat ketat, memerlukan petugas
terlatih yang berwenang untuk melakukan injeksi dan adanya resiko toksisitas jaringan dan
akan terasa sakit saat penyuntikan.
Kesenjangan antara teori praktek dengan evidence based practice :
Uji kulit intradermal: 0,01-0,02 ml ekstrak alergen disuntikkan ke dalam lapisan
dermis sehingga timbul gelembung berdiameter 3 mm. Dimulai dengan konsentrasi terendah
yang menimbulkan reaksi, lalu ditingkatkan berangsur dengan konsentrasi 10 kali lipat
hingga berindurasi 5-15 mm. Teknik uji kulit intradermal lebih sensitif dibanding skin prick

test (SPT), namun tidak direkomendasikan untuk alergen makanan karena dapat mencetuskan
reaksi anafilaksis. Uji tusuk (skin prick test/SPT): Uji tusuk dapat dilakukan pada alergen
hirup, alergen di tempat kerja, dan alergen makanan. Lokasi terbaik adalah daerah volar
lengan bawah dengan jarak minimal 2 cm dari lipat siku dan pergelangan tangan. Setetes
ekstrak alergen dalam gliserin diletakkan pada permukaan kulit. Lapisan superfisial kulit
ditusuk dan dicungkit ke atas dengan jarum khusus untuk uji tusuk (Pediatri, S, 2009).