Anda di halaman 1dari 37

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Apendiks disebut juga umbai cacing organ berbentuk tabung, panjangnya kirakira 10 cm (kisaran 3-15 cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian
proksimal dan melebar dibagian distal (Sjamsuhidajat, 2004, h. 639).
Appendisitis atau radang apendiks merupakan kasus infeksi intraabdominal
yang sering dijumpai di negara-negara maju, sedangkan pada negara berkembang
jumlahnya lebih sedikit, hal ini mungkin terkait dengan diet serat yang kurang pada
masyarakat modern (perkotaan) bila dibandingkan dengan masyarakat desa yang
cukup banyak mengkonsumsi serat. Appendisitis dapat menyerang orang dalam
berbagai umur, umumnya menyerang orang dengan usia dibawah 40 tahun,
khususnya 8 sampai 14 tahun, dan sangat jarang terjadi pada usia dibawah dua tahun.
Apabila peradangan pada appediks tidak segera mendapatkan pengobatan atau
tindakan maka usus buntu akan pecah, dan usus yang pecah dapat menyebabkan
masuknya kuman kedalam usus, menyebabkan peritonitis yang bisa berakibat fatal
serta dapat terbentuknya abses di usus (Mansjoer, 2000, h. 307).
Hasil survey Departemen Kesehatan Republik Indonesia

pada tahun 2008

Angka kejadian appendiksitis di sebagian besar wilayah indonesia hingga saat ini
masih tinggi. Di Indonesia, jumlah pasien yang menderita penyakit apendiksitis
berjumlah sekitar 7% dari jumlah penduduk di Indonesia atau sekitar 179.000 orang.
Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di indonesia, apendisitis akut
merupakan salah satu penyebab dari akut abdomen dan beberapa indikasi untuk
dilakukan operasi kegawatdaruratan abdomen. Insidens apendiksitis di Indonesia
menempati urutan tertinggi di antara kasus kegawatan abdomen lainya (Depkes
2008). Jawa Tengah tahun 2009 menurut dinas kesehatan jawa tengah, jumlah kasus
appendiksitis dilaporkan sebanyak 5.980 dan 177 diantaranya menyababkan
kematian. Jumlah penderita appendiksitis tertinggi ada di Kota Semarang, yakni 970
orang. Hal ini mungkin terkait dengan diet serat yang kurang pada masyarakat
modern (Taufik, 2011).
Bila apendiksitis dibiarkan maka akan menyebabkan komplikiasi yang sangat
serius seperti perforasi apendiks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau

abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi adalah anak
kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri (Smeltzer,
2001, h. 1099).
Pembedahan diindikasikan jika terdiagnosa apendisitis lakukan apendiktomi
secepat mungkin untuk mengurangi resiko perforasi ( Diane C, 2000, h. 46).
Berdasarkan data di atas penulis tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah yang
berjudul Asuhan Keperawatan Post Operasi Apendisitis Pada Ny. G Diruang CHR
Kelas III RSUD Kota Baubau, sehingga dapat melakukan asuhan keperawatan pada
pasien post operasi apendiksitis secara baik.
B. Rumusan Masalah
1. Pernyataan Masalah
Apendisitis merupakan kasus yang terjadi di Indonesia cukup tinggi
menempati urutan keempat penyakit yang banyak di derita setelah
dyspepsia, gastritis, dan duodenitis. Apenditis menjadi menyebab utama
tindakan bedah intra dominal. Berdasarkan data dan kondisi tersebut
penyusun tertarik untuk menulis proposal penelitian mengenai asuhan
keperawatan post operasi laparatomi apendiktomi yang di sebabkan oleh
apendisitis perporasi. Oleh karena itu kasus ini perlu penanganan ekstra
dalam memberikan asuhan keperawatan yang optimal.
2. Permasalahan Masalah
Bagaimanakah penerapan askep tentang pengkajian, diagnose, intervensi,
implementasi dan evaluasi pada klien dengan gangguan system pencernaan
apendisitis di ruang perawatan CHR Kelas III.

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Setelah melakuakan asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi
apendisitis

penulis

dapat

menerapkan

asuhan

keperawatan

komprehensif dan sesuai standar asuhan keperawatan yang berlaku.


2

secara

2. Tujuan Khusus
Setelah melakukan asuhan keperawatan pasien dengan post operasi
apendisitis penulis dapat:
a. Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data baik melalui
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan untuk menilai keadaan pasien secara menyeluruh pada
pasien dengan post operasi apendisitis.
b. Mampu menganalisa masalah-masalah yang muncul pada pasien dengan
post operasi apendisitis.
c. Mampu merumuskan diagnosa dan

memprioritaskan masalah pada

pasien dengan post operasi apendisitis.


d. Mampu membuat perencanaan tindakan asuhan keperawatan pada
pasien dengan post operasi apendisitis
e. Mampu melaksanakan rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan
post operasi apendisitis.
f. Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada
pasien dengan post operasi apendisitis.
g. Mampu mendokumentasikan asuhan

keperawatan

yang

telah

dilaksanakan.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Mahasiswa
a. Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam
pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi
apendisitis.
b. Menambah ketrampilan atau kemampuan mahasiswa dalam menerapkan
asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi apendisitis.
2. Bagi institusi
Sebagai bahan evaluasi sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam
melakukan asuhan keperawatan pada pasien post operasi khususnya post
operasi apendisitis.
3. Bagi lahan praktik
Dapat dijadikan bahan masukan bagi perawat di rumah sakit dalam
melakukan tindakan asuahan keperawatan dalam rangaka meningkatkan
mutu pelayanan

yang baik khususnya pada pasien dengan post oprasi

apendisitis.
3

E. Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif studi
kasus dengan pendekatan proses keperawatan . Teknik pengumpulan data yang di
gunakan melalui studi kepustakaan dan studi kasus
F. Lokasi & Waktu Penelitian
Lokasi di laksanakan di RSUD Kota Baubau pada tanggal 29 Maret sampai
tanggal 31 Maret tahun 2016.

II. TINJAUAN PUSTAKA


1. KONSEP MEDIS
A. Anatomi Dan Fisiologi
1. Anatomi
Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang
kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. Appendiks pertama kali tampak
saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung dari
protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari
sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari
medial menuju katup ileocaecal.
Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan
menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidens
Apendisitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian
proksimal dan melebar pada bagian distal. Pada appendiks terdapat tiga
tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk
mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik Apendisitis ditentukan oleh letak
appendiks. Posisi appendiks adalah retrocaecal (di belakang sekum) 65,28%,
4

pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di
depan usus halus) 1%, dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%, seperti
terlihat pada gambar dibawah ini.

Appendiks pada saluran pencernaan

Anatomi appendiks

Posisi Appendiks

2. Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara
normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.
Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada
patogenesis Apendisitis. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut
Associated Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang saluran

cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini


sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu mengontrol
proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin
dan antigen intestinal lainnya. Namun, pengangkatan appendiks tidak
mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit sekali jika
dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh.
B. Definisi
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10
cm (94 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Appendiks
berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum.
Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya kecil, appendiks
cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi. (Brunner dan
Sudarth, 2002).
Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis, dan
merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat
mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering
menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, Arief,dkk,
2007).
Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen
oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus.
Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis. Erosi membran
mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica,
Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis (Ovedolf, 2006).

C. Etiologi
Apendisitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada
faktor prediposisi yaitu :
1. Faktor yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya
obstruksi ini terjadi karena :
a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab
terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks
c. Adanya benda asing seperti biji-bijian
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya.
2. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan
Streptococcus
3. Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30
tahun (remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan
jaringan limpoid pada masa tersebut.
4. Tergantung pada bentuk apendiks :
a. Appendik yang terlalu panjang
b. Massa appendiks yang pendek
c. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
d. Kelainan katup di pangkal appendiks
(Nuzulul, 2009)
D. Klasifikasi
1. Apendisitis akut

Apendisitis akut adalah : radang pada jaringan apendiks.


Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen yang selanjutnya
akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks.
Penyebab obstruksi dapat berupa :
a. Hiperplasi limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
b. Fekalit
c. Benda asing
d. Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan mucin / cairan mukosa yang
diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin
meningkatkan tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan
intra mukosa juga semakin tinggi.
Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke
dinding

apendiks

sehingga

terjadi

peradangan

supuratif

yang

menghasilkan pus / nanah pada dinding apendiks.


Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan oleh
penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara
hematogen ke apendiks.
2. Apendisitis Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan
menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema
pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke
dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa
menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat
eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal
seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan
nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat
terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
3. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi
semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu,

radang kronik apendiks secara makroskopikdan mikroskopik, dan


keluhan menghilang satelah apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis

kronik

adalah

fibrosis

menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen


apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi
sel inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.
4. Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat dipikirkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang mendorong
dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut.
Kelainan ini terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh
spontan. Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya
karena terjadi fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya
serangn lagi sekitar 50 persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya
dilakukan apendektomi yang diperiksa secara patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan apendektomi
karena sering penderita datang dalam serangan akut.
5. Mukokel Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi kistik dari apendiks yang berisi
musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal apendiks, yang biasanya
berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin akan tertimbun
tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh suatu
kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan eluhan ringan berupa rasa tidak
enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio
iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul tanda
apendisitis akut. Pengobatannya adalah apendiktomi.
6. Tumor Apendiks
Adenokarsinoma apendiks,Penyakit ini jarang ditemukan, biasa
ditemukan kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis
akut. Karena bisa metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan
hemikolektomi kanan yang akan memberi harapan hidup yang jauh
lebih baik dibanding hanya apendektomi.

7. Karsinoid Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin apendiks. Kelainan ini jarang
didiagnosis

prabedah,tetapi

ditemukan

secara

kebetulan

pada

pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis


prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan
kemerahan (flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus,
dan diare ynag hanya ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor
karsinoid perut. Sel tumor memproduksi serotonin yang menyebabkan
gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid ternyata bisa
memberikan residif dan adanya metastasis sehingga diperlukan opersai
radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan
pangkal tidak bebas tumor, dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal
atau hemikolektomi kanan.
E. Patofisiologi
Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks
oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis
akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa
mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas

dinding

apendiks

mempunyai

keterbatasan

sehingga

menyebabkan penekanan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat


tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi terjadi
apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal
tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri
akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding
apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan
10

apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan
terjadi apendisitis perforasi.
Bila semua proses di atas berjalan lambat, omentum dan usus yang
berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa
lokal yang disebut infiltrat apendikularis. Peradangan apendiks tersebut
dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, karena omentum
lebih pendek dan apediks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi
mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer,
2007).
F. Manifestasi Klinik
1. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam
2.
3.
4.
5.
6.
7.

ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.


Nyeri tekan local pada titik McBurney bila dilakukan tekanan
Nyeri tekan lepas dijumpai.
Terdapat konstipasi atau diare.
Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar di belakang sekum.
Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih

atau ureter.
8. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
9. Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang
secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan.
10. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai
abdomen terjadi akibat ileus paralitik.
11. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien
mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.

Nama pemeriksaan
Rovsings sign

Tanda dan gejala


Positif jika dilakukan palpasi dengan tekanan
pada kuadran kiri bawah dan timbul nyeri pada
11

Psoas sign atau Obraztsovas

sisi kanan.
Pasien dibaringkan pada sisi kiri, kemudian

sign

dilakukan ekstensi dari panggul kanan. Positif

Obturator sign

jika timbul nyeri pada kanan bawah.


Pada pasien dilakukan fleksi panggul dan
dilakukan rotasi internal pada panggul. Positif
jika timbul nyeri pada hipogastrium atau

Dunphys sign

vagina.
Pertambahan nyeri pada tertis kanan bawah

Ten Horn sign

dengan batuk
Nyeri yang timbul saat dilakukan traksi lembut

Kocher (Kosher)s sign

pada korda spermatic kanan


Nyeri pada awalnya pada daerah epigastrium
atau sekitar pusat, kemudian berpindah ke

Sitkovskiy (Rosenstein)s sign

kuadran kanan bawah.


Nyeri yang semakin bertambah pada perut
kuadran kanan bawah saat pasien dibaringkan

Aure-Rozanovas sign

pada sisi kiri


Bertambahnya nyeri dengan jari pada petit
triangle kanan (akan positif Shchetkin-

Blumberg sign

Bloombergs sign)
Disebut juga dengan nyeri lepas. Palpasi pada
kuadran kanan bawah kemudian dilepaskan
tiba-tiba

G. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis.
Faktor keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor
penderita meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis
meliputi kesalahan diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke
rumah sakit, dan terlambat melakukan penanggulangan. Kondisi ini

12

menyebabkan peningkatan angka morbiditas dan mortalitas. Proporsi


komplikasi Apendisitis 10-32%, paling sering pada anak kecil dan orang
tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-75%
pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan
orang tua.43 Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis,
omentum lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan
terjadinya perforasi, sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh
darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya :
1. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa
lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mulamula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang
mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis gangren atau
mikroperforasi ditutupi oleh omentum.
2. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam
pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.
Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan
gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih
dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis
terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi
bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3. Peritononitis
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi
berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila
infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan
timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik berkurang sampai
timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan elektrolit
mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria.

13

Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri
abdomen, demam, dan leukositosis.
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara
10.000-18.000/mm3

(leukositosis)

dan

neutrofil

diatas

75%,

sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP


adalah salah satu komponen protein fase akut yang akan meningkat 4-6
jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat dilihat melalui proses
elektroforesis serum protein. Angka sensitivitas dan spesifisitas CRP
yaitu 80% dan 90%.
2. Radiologi
Terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan Computed
Tomography Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan
bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks,
sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang
menyilang dengan fekalith dan perluasan dari appendiks yang
mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum. Tingkat akurasi
USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85% dan
92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.
3. Analisa urin ertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan
infeksi saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah.
4. Pengukuran enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa
peradangan hati, kandung empedu, dan pankreas.
5. Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk
memeriksa adanya kemungkinan kehamilan.
6. Pemeriksaan barium enema untuk menentukan lokasi sekum.
Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan
awal untuk kemungkinan karsinoma colon.

14

7. Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti


Apendisitis, tetapi mempunyai arti penting dalam membedakan
Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan.
G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita Apendisitis
meliputi penanggulangan konservatif dan operasi.
1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang
tidak mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian
antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada
penderita

Apendisitis

perforasi,

sebelum

operasi

dilakukan

penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik


2. Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan Apendisitis maka
tindakan yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks
(appendektomi).

Penundaan

appendektomi

dengan

pemberian

antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses


appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).
3. Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya
komplikasi yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen.
Komplikasi utama adalah infeksi luka dan abses intraperitonium. Bila
diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci dengan garam
fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan perawatan
intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan
dengan besar infeksi intra-abdomen.

15

2. KONSEP KEPERAWATAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Ny. G DENGAN GANGGUAN
SISTEM PENCERNAAN DI RUANG PERAWATAN CHR
RSUD KOTA BAUBAU
TAHUN 2016

A. PENGKAJIAN
No. RM
: 084284
Tanggal masuk RS
: 27 Maret 2016
Tanggal Pengkajian
: 29 Maret 2016
1. Biodata
a. Identitas Klien
Nama
: Ny. G
Umur
: 30 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Status Perkawinan
: Belum kawin
Agama
: Islam
Suku
: Buton
Pendidikan
: S1
Pekerjaan
: PNS
Alamat
: Jln. Limbo Wolio
Sumber Biaya
: BPJS
Ruangan
: CHR Kelas III

16

b. Penanggung Jawab
Nama
Umur
Pekerjaan
Hubungan dengan klien
Alamat

: Ny. D
: 50 tahun
: PNS
: Keluarga klien
: Jln. Limbo Wolio

2. Riwayat Kesehatan Saat Ini


a. Keluhan utama
: Nyeri perut kuadran kanan bawah
b. Alasan masuk RS
Sakit dirasakan 3 bulan yang lalu dan bertambah parah jika klien
melakukan aktivitas yang berat karena sakitnya bertambah dari hari ke
hari sehingga klien dan keluarga memutuskan untuk membawanya ke
rumah sakit dan disarankan untuk rawat inap.
c. Riwayat penyakit sekarang
- Provocative/palliative : klien mengatakan nyeri disebabkan karena
-

luka operasi (post op. hari kedua)


Quality : nyerinya timbul bila klien bergerak dan beraktivitas
Region : daerah perut kuadran kanan bawah
Severity : nyeri akut dengan skala 6 (sedang)
Timing : klien mengatakan nyeri tidak menentu waktunya

3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu


a. Penyakit yang pernah dialami
Saat anak-anak, klien hanya sakit biasa flu dan demam biasa dan
biasanya hanya mengatasinya dengan membeli obat di warung terdekat.
Klien pernah dirawat di rumah sakit Haji karena penyakit asma.
b. Riwayat alergi : tidak ada
c. Riwayat imunisasi : klien tidak mengingatnya
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit
keturunan.
b. Klien mengatakan tidak ada riwayat anggota keluarga yang menderita
penyakit infeksi.
5. Riwayat Psiko-Sosio-Spiritual
a. Pola coping
Pengambilan keputusan kadang sendiri atau dimusyawarahkan dengan
keluarga.
b. Harapan klien terhadap keadaan penyakitnya

17

Klien berharap penyakitnya akan sembuh agar berkumpul bersama


keluarganya kembali
c. Faktor stressor
Klien mengatakan nyeri bila terlalu banyak bergerak atau beraktivitas
tapi nyeri hilang bila tidak beraktivitas.
d. Konsep diri
Klien bisa menerima keadaannya setelah dioperasi.
e. Pengetahuan klien tentang penyakitnya
Klien tidak tahu persis penyebab dari penyakit yang dideritanya.
f. Adaptasi
Klien dapat beradaptasi dengan penyakitnya
g. Hubungan dengan anggota keluarga
Baik, karena banyak keluarga yang datang membesuk dan menjaganya
di rumah sakit selama dirawat.
h. Hubungan dengan masyarakat
Klien mengatakan hubungan dengan masyarakat baik
i. Perhatian terhadap orang lain dan lawan bicara
Pada saat bicara klien tampak terbuka, kontak mata /cara bicara jelas
walaupun klien tampak masih lemah.
j. Aktivitas social
Klien mengatakan selalu ikut aktivitas di masyarakat seperti kerja bakti,
acara-acara dan arisan.
k. Keadaan lingkungan
Klien mengatakan keadaan lingkungannya baik dan tinggal bersama
orang tua serta satu orang adik perempuannya.
l. Kegiatan keagamaan
Klien beragama Islam, sebelum masuk rumah sakit klien rajin shalat 5
waktu tapi setelah masuk rumah sakit klien hampir tidak pernah shalat.
m. Keyakinan tentang kesehatan
Klien yakin bahwa penyakitnya akan sembuh dan menyerahkan semua
kepada Tuhan YME.
6. Pola aktifitas sehari-hari
POLA AKTIFITAS

SEBELUM SAKIT

18

SAAT SAKIT

1. Nutrisi
a. Makan
Frekuensi
Porsi
Jenis
Makan yang

disukai
Makan pantang
Cara makan
Ritual sebelum

makan
b. Minum
Jenis
Frekuensi
Banyak
2. Eliminasi
a. BAB
Frekuensi
Konsistensi
Bau
Warna
b. BAK
Frekuensi
Warna
Bau
Jumlah urin
3. Istirahat tidur
a. Siang
- Kualitas
- Frekuensi
b. Malam
- Kualitas
- Frekuensi
4. Personal hygienie
a. Mandi
b. Keramas
c. Gosok gigi

3x sehari
Dihabiskan
Nasi, ikan, sayur
Semua jenis makanan

3x sehari
porsi dihabiskan
Bubur, telur,
Tidak ada.

Berdoa

Berdoa

Air putih
6-8 gelas
(1600-2000 cc)/24 jam

Air putih
4-5 gelas
(800-1000 cc)/24 jam

1 x/hari
Lunak
Khas feses
Kuning kecoklatan

1 x/hari
Lunak
Khas feses
Kuning kecoklatan

5-6x/hari
Kuning muda
Khas amonia
Tidak di kaji

4-5x/hari
Kuning muda
Khas amonia
Tidak di kaji

Klien jarang tidur siang

Nyenyak
2-3 jam

karena kesibukannya
Nyenyak
23.00-05.00
2x/hari
2x/minggu
2x/hari
1x/minggu
Jalan pagi

19

Nyenyak
22.00-06.00
1x/hari (di lap saja)
Tidak pernah
Tidak pernah/hanya
berkumur-kumur
Sudah gunting kuku
minggu yang lalu.

1x/minggu
Selama sakit klien tidak

d. Gunting kuku
5. Latihan/olahraga
Jenis
Frekuensi

Klien merokok
Tidak pernah
Tidak pernah

6. Gaya Hidup
Merokok
Alkohol, obat

pernah olahraga
Tidak
Tidak
Tidak

obatan terlarang
Konsumsi obatobatan tanpa resep
dokter

7.

Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Klien tampak lemah, tidak bergairah, tampak meringis, nyeri tekan dan
beraktivitas di tempat tidur.
b. Tanda-Tanda Vital
TD : 100/60 mmHg
N : 86x/menit
P : 20x/menit
S : 370 C
c. Pemeriksaan Head To Toe
1) Kepala dan rambut
Kulit kepala klien cukup bersih tidak ada peradangan rambut warna
hitam sebahu dan ikal.
2) Mata/penglihatan
Mata bulat, refleks cahaya normal, kedua pupil isokhor, akomodasi
bagus, konjungtiva tidak ademis, fungsi penglihatan bagus tidak ada
peradangan.
3) Hidung/penciuman
Septum hidung berada di tengah, simetris kanan dan kiri, tidak ada
peradangan serta polip.
4) Mulut dan gigi

20

Bibir tidak kering, lidah tidak kotor, fungsi pengecapan bagus, tidak
ada peradangan, karies tidak ada
5) Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada distensi. Vena
jugularis dan tidak ada rasa kaku
6) Dada
Pernafasan tenang, gerakan toraks ke atas dan keluar simetris saat
inspirasi, frekuensi pernafasan 20 x/menit, ictus kordis tidak tampak,
bunyi jantung I dan II murni, denyut apeks teraba pada ICS 5, tidak
ada nyeri dan tidak ada bunyi jantung tambahan
7) Abdomen
Tampak luka insisi operasi, perut tidak kembung, tidak ada massa,
tidak ada pembesaran hepar, bising usus (+). Klien mengatakan nyeri
bila ditekan pada daerah perut kanan bawah.
8) Kulit/integument
Kulit sawo matang, tekstur kenyal, tidak terdapat edema, turgor baik
suhu 37 C.
9) Kuku
Bantalan kuku berwarna merah mudah, kuku tangan dan kaki cukup
bersih dan pendek
10) Ekstremitas atas dan bawah
Tidak ada kekakuan, edema dan atropi pada ekstremitas atas dan
bawah, pada ekstremitas atas sinistra terpasang infus RL 20
tetes/menit.
11) Genitalia
Tidak ada peradangan dan perdarahan
d. Pengkajian data fokus
1) Sistem gastrointestinal
- Inspeksi : umbilicus terletak di garis tengah dan tidak menonjol.
Bentuk abdomen simetris, tidak terlihat massa, tampak ada luka,
-

telah dilakukan tindakan appendektori pada tanggal 28 April 2016


Auskultasi : bising usus 5 x/menit
Perkusi : perkusi hati pada midklavikulari kanan terdengar redup
perkusi limfe di daerah posterior midaksilaris kiri terdengar redup

21

Palpasi : tidak ada pembesaran hati, limfe dan ginjal tidak teraba
adanya massa pada abdomen, nyeri tekan pada perut kanan bawah
(SPKB).

e. Pemeriksaan diagnostik
USG: tampak adanya tanda-tanda apendisitis
f. Penatalaksanaan medis
Hari/tanggal: Selasa, 29 Maret 2016
- Cefotoxime 1 gr/12 jam
- Seminac 1 amp
- Ramitidine 1 amp/8 jam
8.

Klasifikasi Data

DATA SUBJEKTIF
Klien mengatakan nyeri pada daerah

operasi
Klien mengatakan nyeri pada perut

kanan bawah
Klien menyakan tentang proses
penyakitnya

9.

DATA OBJEKTIF
Tampak meringis
Skala nyeri 6 (skala 0-10)
Tampak luka insisi di perut kuadran

kanan bawah
Tampak lemah
Nyeri tekan (+)
TTV: TD : 100/60 mmHg, N : 86

x/menit, P : 20 x/menit, S : 37 C
Klien sering bertanya tentang

penyakitnya
Klien nampak khawatir

Analisa Data
No.
1.

Etiologi

Problem

Kontinuitas jaringan karena

Nyeri Akut

Symptom/Sign
DS :
- Klien mengatakan nyeri
-

tindakan operasi

pada daerah operasi


Klien mengatakan nyeri
pada perut kanan bawah

DO :
-

Tampak meringis
22

2.

Skala nyeri 6 (skala 0-10)


Nyeri tekan (+)
TTV
TD : 100/60 mmHg
N : 86 x/menit
P : 20 x/menit
S : 37 C
DS :
DO :
- Tampak ada luka insisi di

Luka post operasi

Resiko Tinggi Infeksi

Kurang informasi terhadap

Kurang pengetahuan

perut kuadran kanan


3.

bawah
DS :
- Klien menyakan tentang

penyakitnya

proses penyakitnya
DO :
- Sering bertanya tentang
-

penyakitnya
Klien nampak khawatir

23

24

B. PENYIMPANGAN KDM
Apendiks

Hiperplasi folikel
Limfoid

Benda asing

Erosi mukosa
apendiks

Fekalit

Striktur

Tumor

Obstruksi
Mukosa terbendung
Apendiks teregang
Tekanan intraluminal
Aliran darah terganggu
Ulserasi dan invasi bakteri
Pada dinding apendiks
Apendicitis

Perubahan status kesehatan


Kurang informasi

ke peritonium
Peritonitis

Tombosis pada vema intramural


Pembekakan dan iskemia
Perforasi

Kurang pengetahuan

Pembedahan operasi
Luka insisi

Nyeri akut

Jalan masuk kuman

Resti infeksi

25

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan karena
tindakan operasi ditandai dengan:
D. DS :
- Klien mengatakan nyeri pada daerah operasi
- Klien mengatakan nyeri pada perut kanan bawah
E.
DO :
- Tampak meringis
- Skala nyeri 6 (skala 0-10)
- Nyeri tekan (+)
- TTV
F.
TD : 100/60 mmHg
G.
N : 86 x/menit
H.
P : 20 x/menit
I. S : 37 C
J.
2. Risiko tinggi infeksi berhubungan luka post operasi ditandai dengan:
K. DS : L.
DO :
- Tampak ada luka insisi di perut kuadran kanan bawah
M.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai dengan:
N. DS :
- Klien menyakan tentang proses penyakitnya
O. DO :
- Sering bertanya tentang penyakitnya
- Klien nampak khawatir
P.

26

Q. INTERVENSI KEPERAWATAN
R.

Diagnosa

S.
T.

Keperawatan

Tujuan dan
Kriteria

Hasil
AD.
Setel

1. Nyeri akut

U.

Rencana
Tindakan

1. Kaji tingkat

V.

Rasional

1. Berguna dalam

berhubungan

ah dilakukan

nyeri, catat

pengawasan

dengan

tindakan

lokasi,

keefektifan

terputusnya

keperawatan

karakteristik

obat, kemajuan

kontinuitas

3x24 jam,

dan beratnya (0-

penyembuhan.

jaringan karena

nyeri

tindakan operasi

berkurang

ditandai dengan:
W. DS :
- Klien

atau hilang
dengan
Nntibiot:

mengatakan
nyeri pada
-

daerah operasi
Klien
mengatakan

Klien tidak

mengeluh nyeri
Klien tampak

tenang
Klien tidak

nyeri pada
perut kanan
bawah
X. DO :
- Tampak

perhatikan
petunjuk non

meringis
TTV
AE.
TD :
100/60 mmHg
AF.
N:

meringis
Skala nyeri 6

86 x/menit
AG.
P : 20

(skala 0-10)
Nyeri tekan

x/menit
AH.

(+)
TTV
Y.
TD :

10)
AJ.
AK.
AL.
AM.
AN.
AO.
AP.
AQ.
AR.
2. Observasi TTV,

verbal.
AS.
AT.
AU.
3. Berikan
lingkungan
yang tenang dan
kurangi

S:

rangsangan

37 C

stress
4. Pertahankan

AI.

100/60 mmHg
Z.
N : 86

istirahat dengan
posisi semi

27

Perubahan pada
karakteristik
nyeri
menunjukkan
terjadinya
absed/peritonita
s, memerlukan
upaya evaluasi
medik dan
intervensi.
2. Dapat
membantu
mengevaluasi
pernyataan
verbal dan
keefektifan
intervensi.
3. Lingkungan
yang tenang
dapat
meningkatkan
istirahat.

x/menit
AA. P : 20

Fowler
AV.
AW.
AX.
AY.
AZ.
BA.
BB.
BC.
5. Ajarkan teknik

x/menit
AB. S : 37
C
AC.

nafas dalam bila


rasa nyeri
datang
BD.
BE.
BF.
BG.
BH.
BI.
BJ.
BK.
BL.
BM.
BN.
6. Kolaborasi
dengan
pemberian
analgetik sesuai
indikasi
BO.

BP.
4. Gravitasi
melokalisasi
eksudat
inflamasi dalam
abdomen bawah
atau pelvis,
menghilangkan
tegangan
abdomen yang
bertambah
dengan posisi
telentang.
5. Teknik nafas
dalam
menurunkan
konsumsi
abdomen akan
O2,
menurunkan
frekuensi
pernafasan,
frekuensi
jantung dan
ketegangan otot
yang
menghentikan
siklus nyeri.
6. Menghilangkan
nyeri,
mempermudah

28

kerjasama
dengan
intervensi lain,
contoh
2. Risiko tinggi

BT.Setelah

1. Awasi tanda-

ambulasi, batuk.
1. Dugaan adanya

infeksi

dilakukan

tanda vital.

infeksi/terjadina

berhubungan luka

tindakan

Perhatikan

sepsis, abses,

post operasi

keperawatan

demam,

ditandai dengan:
BQ.DS : BR.DO :
- Tampak ada

3x24 jam,

menggigil,

tidak terjadi

berkeringat,

infeksi

perubahan

luka insisi di

dengan

mental,

perut kuadran

Nntibiot:

meningkatnya

kanan bawah

BS.

Meningkatkan

nyeri abdomen.
2. Lakukan

penyembuhan

pencucian

luka dengan
-

tangan yang

benar
Bebas dari

baik dan

tanda-tanda

perawatan luka

infeksi
BU.

yang aseptik
3. Observasi
keadaan luka
dan insisi.
BV.
BW.
BX.
BY.
BZ.
CA.
4. Kolaborasi
dengan
pemberian

29

peritonitis.
CC.
CD.
CE.
CF.
CG.
CH.
2. Menurunkan
risiko
penurunan
bakteri.
CI.
CJ.
3. Memberikan
deteksi dini
terjadinya
proses infeksi
dan pengawasan
penyembuhan
peritonitis yang
tidak ada
sebelumnya.
4. Mungkin
diberikan secara
profilaktik atau
menurunkan

antibiotik sesuai

jumlah Nntibiot

indikasi
CB.

dan untuk
menurunkan
penyebaran dan
penyembuhan
pada rongga

3. Kurang

CN.

abdomen.
1. Mengidentifikai

Setel

1. Kaji tingkat

pengetahuan

ah dilakukan

pemahaman

sejauh mana

berhubungan

tindakan

klien dan

tingkat

dengan kurang

keperawatan

keluarga

pengetahuan

informasi ditandai

selama 1x24

tentang

keluarga atau

dengan :
CK.DS :
- Klien

jam, klien
dapat
memahami

menyakan
tentang proses
penyakitnya
CL. DO :
- Sering

kooperatif

termasuk ganti

tindakan
pengobatan

penyakitnya
Klien nampak
khawatir
CM.

perawatan insisi

pemberian

tentang
-

dan
dalam

bertanya

penyakitnya.
CP.
CQ.
2. Diskusikan

dengan
Nntibiot:

balutan.
CR.
CS.
CT.
CU.
CV.
3. Identifikasi
gejala yang

Klien tidak

menentukan
evaluasi Nntib

bertanya-tanya
Ikut serta dalam
program

contoh
meringankan

pengobatan
CO.

nyeri:
edema/eritema
luka, adanya

30

klien tentang
penyakit yang
dideritanya.
2. Pemahaman
meningkatkan
kerjasama
dengan program
terapi
meningkatkan
penyembuhan
dan mengurangi
komplikasi.
3. Upaya
intervensi
menurunkan
risiko
komplikasi
serius.
CW.

drainase
demam.
4. Tekankan
pentingnya
terapi antibiotic
sesuai
kebutuhan.
DC.
DD.
DE.
DF.
DG.
DH.
DI.

31

CX.
CY.
CZ.
DA.
4. Penggunaan
pencegahan
terhadap infeksi
DB.

DJ.Implementasi Dan Evaluasi


DK.
Nama klien : Ny. G
DL.
Umur
: 30 tahun
DM.
Ruang rawat : CHR Kelas III
DN.

HA DP.

RI/
No.
DO. TG DQ.
L
DX.

Sel

asa,
29/03/201
6

DX
DY.
1.

DR.

DS.

IMPLEMENTAS

JAM

DZ.
09.30
EA.
EB.
EC.
09.35
ED.
EE.
EF.
EG.
EH.
09.45
EI.
EJ.
EK.
EL.
09.50
EM.
EN.

Dx. Medis
Hari rawat

DT.

RESPON KLIEN

1. Nyeri sedang (6)

nyeri, lokasi dan

lokasi pada perut

karakteristik
2. Mengobservasi TTV
EQ.
ER.
ES.
ET.
3. Memberikan

kuadran kanan bawah


2. TTV :
EV.
TD :

tenang dan
mengurangi
rangsangan stress
4. Mengajarkan teknik
nafas dalam bila rasa
nyeri datang
EU.

DV.

JAM

1. Mengkaji tingkat

lingkungan yang

DU.

: Apendisitis
:I

(SOAP)

FA.
14.00

FB.S :
-

berkurang
FC.

di atas tempat tidur,


dengan posisi semi
Fowler.
EZ.
4. Klien nampak tarik

32

O:

Wajah tampak

meringis
Vital sign
FE.
TD :

P : 20

x/menit
EY.
S : 37 C
3. Klien tampak baring

Klien mengatakan

FD.

100/60 mmHg
FF.N : 86 x/menit
FG.
P : 20
x/menit
FH.
FI.
FJ.

DW.

S : 37 C

ARAF

FN.

nyerinya sudah

100/60 mmHg
EW.
N : 86
x/menit
EX.

EVALUASI

EO.
EP.

5. Mengkolaborasikan
dengan pemberian

10.00

analgetik sesuai
indikasi

nafas melalui hidung

FK.

dan mengeluarkannya

A:

Masalah belum

melalui mulut
5. Injeksi Cefotoxime 1

teratasi
FL.

gr/12 jam

FM.

P:

Lanjutkan
FO.

Sel

asa,

FP.
2.

29/03/201
6

FQ.

1. Mengawasi tanda-

10.10
FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
10.20
FW.
FX.
FY.
10.35
FZ.
GA.

tanda vital
GB.
GC.
GD.
2. Mengobservasi
keadaan luka balutan
GE.
3. Mengganti verban
GF.
4. Mengkaji tandatanda infeksi

10. 40
GU.
asa,

Sel

GV.
3.

intervensi 1, 2, 4
GL.
S:-

GK.
TD :

14.10

GN.
-

x/menit
GI.P : 20 x/menit
GJ.S : 37 C
2. Tampak luka insisi

pemahaman klien

teratasi
GQ.
GR.

verban
4. Udema (-), Pus (-),

33

Tidak tampak adanya

GP.A : Masalah

balutan tampak kering


3. Perawat mengganti

tidak tahu apa

O:

tanda-tanda infeksi
GO.

dibalut dengan verban,

1. Klien mengatakan

GT.

GM.

100/60 mmHg
GH.
N : 86

P:

Intervensi

eritema (-)

GW. 1. Mengkaji tingkat


10

1. TTV :
GG.

dihentikan
HV.

GS.
HW.

14.15

S:

Klien menanyakan

ID.

29/03/201
6

dan keluarga tentang


GX.
GY.
GZ.
HA.
HB.
11.

penyakitnya
2. Mendiskusikan
perawatan insisi
termasuk ganti
balutan.
3. Mengidentifikasi
gejala yang
memerlukan evaluasi

HC.
HD.
HE.
11.
HF.

medik contoh
peningkatan nyeri:
edema/eritema luka,
adanya drainase,
demam
4. Menekankan

penyebab penyakitnya

tentang proses

HK.

penyakitnya

2. Verban tampak kering


HL.
HM.

HH.
HI.
HJ.

HY.
-

HN.
drainase (-) demam (-)
HO.
HP.
HQ.
HR.
HS.
HT.
4. Injeksi Cefotoxime 1
gr/12 jam
HU.

antibiotik sesuai
kebutuhan

11.35
IE.
IF.
34

O:

Klien dapat
memahami tentang

3. Nyeri (+), edema (-),

pentingnya terapi
HG.

HX.

penyakitnya
Klien tidak banyak

bertanya
- Klien tidak khawatir
HZ.
IA.
A : Masalah
teratasi
IB.
IC. P : Intervensi
dihentikan

IG.
IH.
Nama klien : Ny. G
II. Umur
: 30 tahun
IJ. Ruang rawat : CHR Kelas III
IK.
RI/
IL.

HA IM.

IO.

No.
TG IN.

JAM

L
IU.

Ra

bu,
30/03/201
6

DX
IV.
1.

IW.
09.00
IX.
IY.
IZ.
JA.
09.10
JB.
JC.
JD.
JE.
JF.
09.20

IP.

Dx. Medis
Hari rawat
: II

IMPLEMENTA

IQ.

SI

1. Mengkaji tingkat
nyeri, lokasi dan
karakteristik
JG.
2. Mengobservasi TTV
JH.
JI.
JJ.
JK.
3. Mengajarkan teknik
nafas dalam bila rasa
nyeri datang
JL.

RESPON
KLIEN

1. Nyeri ringan (2-4)


lokasi pada perut

IR.

IS.

JAM

x/menit
JO.

nyerinya sudah
JU. O :

TD :
-

nafas melalui hidung

35

Wajah tampak tenang


Tidak meringis
Skala nyeri (2-4)
JV. A : Masalah

P : 20

teratasi

x/menit
JP. S : 370C
3. Klien nampak tarik
dan

Klien mengatakan
berkurang

100/80 mmHg
JN.
N : 78

IT.

JW.P : Intervensi
dihentikan
JX.

ARAF

JT. S :

kuadran kanan
bawah
2. TTV :
JM.

EVALUASI
(SOAP)

JS.
14.15

: Apendisitis

JY.
JZ.

mengeluarkannya
melalui mulut
JQ.
JR.

36

KA.

DAFTAR PUSTAKA

KB.
KC.

Elizabeth, J, Corwin. (2009). Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.

KD.
Fatma.
(2010).
Askep
Appendicitis.
Diakses
http://fatmazdnrs.blogspot.com/2010/08/askep-appendicitis.html pada tanggal
09 Mei 2012.
KE.

Johnson, M.,et all, 2002, Nursing Outcomes Classification (NOC)

Second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.


KF.Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
FKUI
KG.

Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification

(NIC) second Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.


KH.

NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan

Klasifikasi.
KI. Nuzulul.

(2009).

Askep

Appendicitis.

Diakses

http://nuzulul.fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35840-Kep%20Pencernaan
Askep%20Apendisitis.html tanggal 09 Mei 2012.
KJ. Smeltzer, Bare (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner &
suddart. Edisi 8. Volume 2. Jakarta, EGC
KK.
KL.
KM.

37

Anda mungkin juga menyukai