Anda di halaman 1dari 29

Transmisi Pulley Belt

1. Pulley
Deskripsi umum.
Pulley adalah cakra (disc) yang dilengkapi dengan tali (rope), terbuat

dari logam atau non logam, misalnya besi tuang, kayu, atau plastik. Pulley
juga adalah pinggiran cakra diberi alur (groove) yang berguna untuk laluan
tali.
Fungsi Pulley
Pulley digunakan untuk mentransmisikan daya dari poros satu ke poros
yang lain melalui sistem transmisi penggerak berupa flat belt, V-belt atau
circular belt. Perbandingan kecepatan (velocity ratio) pada pulley berbanding
terbalik dengan diameter pulley dan secara matematis ditunjukan dengan
pesamaan : D1/D2 = N2/N1
Berdasar material yang digunakan, pulley dapat diklasifikasikan dalam :
1. Cast iron pulley
2. Steel pulley
3. Wooden pulley
4. Paper pulley
Dasar perancangan.

Jenis Puli

1. Puli tetap (fixed pulley) : terdiri dari sebuah cakra dan sebuah tali yang
dilingkarkan pada alur (groove) di bagian atasnya dan pada ujungnya
digantungi beban.
2. Puli bergerak (movable pulley): terdiridari cakra dan poros yang bebas, tali
dilingkarkan dalam alur bawah, salah satu ujung tali dilingkarkan tetap dan
ujung lainnya ditahan atau ditarik pada waktu pengangkatan, beban
digantungkan pada kait (hook).

Movable Pulley

Sistem Puli
Adalah kombinasi dari beberapa puli tetap dan puli bergerak. Biasanya
menggunakan sistem puli ganda untuk menghindari kesalahan pada waktu
operasi pengangkatan yang menggantungkan beban langsung pada ujung

tali. Gambar-gambar berikut memperlihatkan sistem puli ganda yang


dirancang dari kombinasi simple pulley dengan ujung tali digulung pada
drum (tromol) dengan alur ke kiri dan ke kanan.

2. Belt (Sabuk)
Deskripsi Belt
Sabuk adalah elemen mesin yang menghubungkan dua buah puli
yangdigunakanuntuk mentransmisikan daya.Sabuk digunakan dengan
pertimbangan jarak antar poros yang jauh, dan biasanya digunakan untuk
daya yang tidak terlalu besar.Belt biasanya dibuat dari kulit, karet,kapas dan
paduanya.
Ada tiga jenis belt ditinjau dari segi bentuknya adalah sebagai berikut:
1. Flat belt (belt datar). Seperti ditunjukkan pada Gambar 1 (a), adalah banyak digunakan pada
pabrik atau bengkel, dimana daya yang ditransmisikan berukuran sedang dari pulley yang satu
ke pulley yang lain ketika jarak dua pulley adalah tidak melebihi 8 meter. Daya yang
ditansmisikan dari satu pulley ke pulley lain oleh beberapa jenis belt sebagai berikut:
a. Open belt drive (penggerak belt terbuka). Seperti ditunjukkan pada Gambar 2, belt
jenis ini digunakan dengan poros sejajar dan perputaran dalam arah yang sama. Dalam
kasus ini, penggerak A menarik belt dari satu sisi (yakni sisi RQ bawah) dan
meneruskan ke sisi lain (yakni sisi LM atas). Jadi tarikan pada sisi bawah akan lebih
besar dari pada sisi belt yang atas (karena tarikan kecil). Belt sisi bawah (karena
tarikan lebih) dinamakan tight side sedangkan belt sisi atas (karena tarikan kecil)
dinamakan slack side, seperti pada Gambar 2.

b. Crossed atau twist belt drive (penggerak belt silang). Seperti ditunjukkan pada Gambar
3, belt jenis ini digunakan dengan poros sejajar dan perputaran dalam arah yang
berlawanan. Dalam kasus ini, penggerak menarik belt dari satu sisi (yakni sisi RQ) dan
meneruskan ke sisi lain (yakni sisi LM). Jadi tarikan dalam belt RQ akan lebih besar
dari pada sisi belt LM. Belt RQ (karena tarikan lebih) dinamakan tight side sedangkan
belt LM (karena tarikan kecil) dinamakan slack side, seperti pada Gambar 3.

c. Quarter turn belt drive (penggerak belt belok sebagian). Mekanisme transmisi dapat
dilihat pada Gambar 4. Untuk mencegah belt agar tidak keluar/lepas dari pulley, maka
lebar permukaan pulley harus lebih besar atau sama dengan 1,4b, dimana b adalah
lebar belt.

d. Belt drive with idler pulley (penggerak belt dengan pulley penekan). Dinamakan juga
jockey pulley drive seperti ditunjukkan pada Gambar 5, digunakan dengan poros
parallel dan ketika open belt drive tidak dapat digunakan akibat sudut kontak yang
kecil pada pulley terkecil. Jenis ini diberikan untuk mendapatkan rasio kecepatan yang
tinggi dan ketika tarikan belt yang diperlukan tidak dapat diperoleh dengan cara lain.

e. Compound belt drive (penggerak belt gabungan). Seperti ditunjukkan pada Gambar 6,
digunakan ketika daya ditransmisikan dari poros satu ke poros lain melalui sejumlah
pulley

f. Stepped or cone pulley drive (penggerak pulley kerucut atau bertingkat). Seperti pada
Gambar 7, digunakan untuk merubah kecepatan poros yang digerakkan ketika poros
utama (poros penggerak) berputar pada kecepatan konstan.
g. Fast and loose pulley drive (penggerak pulley longgar dan cepat). Seperti pada
Gambar 8, digunakan ketika poros mesin (poros yang digerakkan) dimulai atau
diakhiri kapan saja diinginkan tanpa mengganggu poros penggerak. Pulley yang
dikunci ke poros mesin dinamakan fast pulley dan berputar pada kecepatan yang sama

seperti pada poros mesin. Loose pulley berputar secara bebas pada poros mesin dan
tidak mampu mentransmisikan daya sedikitpun. Ketika poros mesin dihentikan, belt
ditekan ke loose pulley oleh perlengkapan batang luncur (sliding bar).

2. V-Belt (belt bentuk V). Seperti ditunjukkan pada Gambar 1 (b), adalah banyak digunakan
dalam pabrik dan bengkel dimana besarnya daya yang ditransmisikan berukuran besar dari
pulley yang satu ke pulley yang lain ketika jarak dua pulley adalah sangat dekat. Menurut
standar India (IS:2494-1974), V-belt dibuat dalam lima tipe yaitu A,B,C,D, dan E. Dimensi
untuk V-belt standar ditunjukkan pada Tabel 1. Pulley untuk V- belt dibuat dari besi cor atau
baja untuk menurunkan berat.

Gbr. 2 Ukuran penampang sabuk-V.

Keuntungan V-belt:
1. Penggerak V-belt lebih kokoh akibat jarak yang pendek diantara pusat pulley.
2. Gerakan adalah pasti, karena slip antara belt dan alur pulley diabaikan.
3. Karena V-belt dibuat tanpa ujung dan tidak ada gangguan sambungan, oleh karena itu
pergerakan menjadi halus.
4. Mempunyai umur yang lebih lama, yaitu 3 sampai 5 tahun.
5. Lebih mudah dipasang dan dibongkar.
6. Belt mempunyai kemampuan untuk melindungi beban kejut ketika mesin di-start.
7. Mempunyai rasio kecepatan yang tinggi (maksimum 10).
8. Aksi desak belt dala alur memberikan nilai rasio tarikan yang tinggi. Oleh karena itu
daya yang ditransmisikan oleh V-belt lebih besar dari pada belt datar untuk koefisien
gesek, sudut kontak dan tarikan yang sama dalam belt.
9. V-belt dapat dioperasikan dalam berbagai arah, dengan sisi tight belt pada bagian atas
atau bawah. Posisi garis pusat bisa horizontal, vertical atau miring.
Kerugian V-belt:
1. V-belt tidak bisa digunakan untuk jarak pusat yang panjang, karena berat per unit
panjang yang besar.
2. V-belt tidak bisa tahan lama sebagaimana pada belt datar.
3. Konstruksi pulley untuk V-belt lebih rumit dari pada pulley dari belt datar.
4. Karena V-belt mendapat sejumlah creep tertentu, oleh karena itu tidak cocok untuk
penerapan kecepatan konstan.
5. Umur belt sangat dipengaruhi oleh perubahan temperature, tarikan belt yang tidak tepat

dan panjang belt yang tidak seimbang.


6. Tarikan sentrifugal mencegah penggunaan V-belt pada kecepatan di bawah 5 m/s dan di
atas 50 m/s.
3. Circular belt atau rope (belt bulat atau tali). Banyak digunakan dalam pabrik dan bengkel
dimana besarnya daya yang ditransmisikan berukuran besar dari pulley yang satu ke pulley
yang lain ketika jarak dua pulley adalah lebih dari 8 meter.
Pada makalah ini hanya sebatas membahas pada klasifikasi transmisi sabuk-V.

Pembahasan

Sabuk-V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapezium. Tenunan tetoron dan
semacamnya dipergunakan sebagai inti sabuk untuk membawa tarikan yang besar (Gambar 1).
Sabuk-V dibelitkan di keliling alur puli yang berbentuk V pula. Bagian sabuk yang sedang
membelit puli ini mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah
besar. Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh bentuk baji, yang akan menghasilkan
transmisi daya yang besar pada

1. Terpal
2. Bagian penarik
3. Karet Pembungkus
4. Bantal karet
Gbr. 1 Konstruksi sabuk-V.
Gbr. 2 Ukuran penampang sabuk-V.

Gbr. 3 Diagram pemilihan sabuk-V.

tegangan yang relatif rendah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan sabuk-V dibandingkan
dengan sabuk rata.
Dalam Gambar 2 diberikan berbagai proporsi penampang sabuk-V yang umum dipakai.

Atas dasar daya rencana dan putaran poros penggerak, penampang sabuk-V yang sesuai
Tabel. 1 Faktor
dapat diperoleh dari Gambar 3. Daya rencana dihitung dengan mengalikan
daya koreksi
yang akan

diteruskan dengan faktor koreksi dalam Tabel 1. Diameter nominal puli-V dinyatakan sebagai
diameter dp (mm) dari suatu lingkaran di mana lebar alurnya di dalam Gambar 4 menjadi l 0
dalam Tabel 2 Transmisi sabuk-V hanya dapat menghubungkan poros-poros yang sejajar dengan
arah putaran yang sama. Dibandingkan dengan transmisi roda gigi atau rantai, sabuk-V bekerja
lebih halus dan tak bersuara. Untuk mempertinggi daya yang ditransmisikan, dapat dipakai
beberapa sabuk-V yang dipasang sebelah-menyebelah.

Tabel 1. Faktor Koreksi

Gbr. 4 Profil alur sabuk-V.

Tabel 2. Ukuran pulley-V.


Penampang

Diameter Nominal (diameter

sabuk-V

lingkaran jarak dp)


71 100

D
E

()

W*

34

11,95

101 125

36

12,12

126 atau lebih


125 160

38
34

12,30
15,86

161 200

36

16,07

201 atau lebih


200 250

38
34

16,29
21,18

251 315

36

21,45

316 atau lebih


355 450

38
36

21,72
30,77

451 atau lebih


500 630

38
36

31,14
36,95

631 atau lebih

38

37,45

Lo

Ko

9,2

4,5

8,0

15,0

10,0

12,5

5,5

9,5

19,0

12,5

16,9

7,0

12,0

25,5

17,0

24,6

9,5

15,5

37,0

24,0

28,7

12,7

19,3

44,5

29,0

* Harga-harga dalam kolom W menyatakan ukuran standar.

Jarak sumbu poros harus sebesar 1,5 sampai 2 kali diameter puli besar. Di dalam
perdagangan terdapat berbagai panjang sabuk-V. Nomor nominal sabuk-V dinyatakan dalam
panjang kelelilingnya dalam inch. Tabel 3(a) dan (b) menunjukkan nomor-nomor nominal dari
sabuk standar utama. Dalam Tabel 3(c) diperlihatkan panjang keliling sabuk-V sempit yang akan
dibahas kemudian. Diameter puli yang terlalu kecil akan memperpendek umur sabuk. Dalam
Tabel 4 diberikan diameter puli minimum yang diizinkan dan dianjurkan menurut jenis sabuk
yang bersangkutan.
Sekarang lihatlah Gambar 5 di mana putaran puli penggerak dan di gerakkan berturutturut adalah n1 (rpm) dan n2 (rpm), dan diameter nominal masing-masing adalah dp (mm) dan Dp
(mm), serta perbandingan putaran u dinyatakan dengan n2|n1 ata dp|Dp. Karena sabuk_V biasanya
dipakai untuk menurunkan putaran, maka perbandingan yang umum dipakai ialah perbandingan
reduksi I (i > l), dimana

n1
D 1 1
=i= p = ;
n2
dp u i

(1)

Kecepatan linear sabuk-V (m/s) adalah


v=

d pn1
60 x 1000

(2)

Jarak sumbu poros dan panjang keliling sabuk berturut-turut adalah C (mm) dan L (mm).
aO1A = bO2B = 2y

ab=AB=C cos y =C 1sin 2 y C 1

Tabel 2 (a)

sin 2 y
2

Sabuk-V standar (bertanda*)

13

Penampang A
*65

117

16

Penampang B
*68

*120

14

*66

*118

17

*69

121

15

*67

119

18

*70

*122

16

*68

*120

19

*71

123

*17

*69

121

20

*72

124

*18

*70

*122

21

*73

*125

*19

*71

123

22

*74

126

*20

*72

124

23

*75

127

*21

*73

*125

24

*76

*128

*22

*74

126

*25

*77

129

*23

*75

127

*26

*78

*130

*24

*76

*128

*27

*79

131

*25

*77

129

*28

*80

*132

*26

*78

*130

*29

*81

133

*27

*79

131

*30

*82

134

*28

*80

132

*31

*83

*135

*29

*81

133

*32

*84

136

*30

*82

134

*34

*85

137

*31

*83

*135

*35

*86

*138

*32

*84

136

*36

*87

139

*33

*85

137

*37

*88

*140

*34

*86

138

*38

*89

141

*35

*87

139

*39

*90

*142

*36

*88

*140

*40

*91

143

*37

*89

141

*41

*92

144

*38

*90

142

*42

*93

*145

*39

*91

143

*43

*94

146

*40

*92

144

*44

*95

147

*41

*93

*145

*45

*96

*148

*42

*94

146

*46

*97

149

*43

*95

147

*47

*98

*150

*44

*96

148

*48

*99

151

*45

*97

149

*49

*100

152

*46

*98

*150

*50

101

153

*47

*99

151

*51

*102

154

*48

*100

152

*52

103

*155

*49

101

153

*53

104

156

*50

*102

154

*54

*105

157

*51

103

*155

*55

106

158

*52

104

156

*56

107

159

*53

*105

157

*57

*108

*160

*54

106

158

*58

109

161

*55

107

159

*59

*110

162

*56

*108

*160

*60

111

163

*57

109

161

*61

*112

164

*58

*110

162

*62

113

*165

*59

111

163

*63

114

166

*60

*112

164

*63

*115

167

*61

113

*165

*64

116

168

*62

114

166

*65

117

169

*63

*115

167

*66

*118

*170

*64

116

168

*67

119

171

Tabel 3 (b) Panjang Sabuk-V standar.


Nomor Nominal
(inch)
(mm)
10
254

Nomor nominal
(inch)
(mm)
45
1143

Nomor nominal
(inch)
(mm)
80
2032

Nomor nominal
(inch)
(mm)
115
2921

11

279

46

1168

81

2057

116

2946

12

305

47

1194

82

2083

117

2972

13

330

48

1219

83

2108

118

1997

14

356

49

1245

84

2134

119

3023

15

31

50

1270

85

2159

120

3048

16

406

51

1295

86

2184

121

3073

17

432

52

1321

87

2210

122

3099

18

457

53

1346

88

2235

123

3124

19

483

54

1372

89

2261

124

3150

20

508

55

1397

90

2286

125

3175

21

533

56

1422

91

2311

126

3200

22

559

57

1448

92

2337

127

3226

23

584

58

1473

93

2362

128

3251

24

610

59

1499

94

2388

129

3277

25

635

60

1524

95

2413

130

3302

26

660

61

1549

96

2438

131

3327

27

686

62

1575

97

2464

132

3353

28

711

63

1600

98

2489

133

3378

29

737

64

1626

99

2515

134

3404

30

762

65

1651

100

2540

135

3429

31

787

66

1676

101

2565

136

3454

32

813

67

1702

102

2591

137

3480

33

838

68

1727

103

2616

138

3505

34

864

69

1753

104

2642

139

3530

35

889

70

1778

105

2667

140

3556

36

914

71

1803

106

2692

141

3581

37

940

72

1829

107

2718

142

3607

38

965

73

1854

108

2743

143

3632

39

991

74

1880

109

2769

144

3658

40

1016

75

1905

110

2794

145

3683

41

1041

76

1930

111

2819

146

3708

42

1067

77

1956

112

2845

147

3734

43

1092

78

1981

113

2870

148

3759

44

1118

79

2007

114

2896

149

3785

Tabel 3 (c)

Panjang sabuk-V sempit

Gbr. 5 Perhitungan panjang keliling


3 Vsabukkeliling
Panjang

5V
Panjang

Nomor

Panjang

keliling pada

Nomor

Panjang

keliling pada

nominal sabuk

keliling (mm)

jarak bagi

nominal sabuk

keliling (mm)

jarak bagi

3V 250

635

sabuk (mm)
631

5V 500

1270

sabuk (mm)
1262

3V 265

673

669

5V 530

1346

1338

3V 280
3V 300

711
762

707
758

5V 560
5V 600

1422
1542

1414
1516

3V 315

800

796

5V 630

1600

1592

3V 355
3V 355

851
902

847
898

5V 670
5V 710

1702
1803

1694
1795

3V 375

953

949

5V 750

1905

1897

3V 400
3V 425

1016
1080

1012
1076

5V 800
5V 850

2032
2159

2024
2151

3V 450

1143

1139

5V 900

2286

2278

3V 475
3V 500

1207
1270

1203
1266

5V 950
5V 1000

2413
2540

2405
2532

3V 350

1346

1342

5V 1060

2692

2684

3V 560

1422

1418

5V 1120

2845

2839

Tabel 4

Diameter minimum puli yang diizinkan dan dianjurkan (mm)

Penampang
Diameter min. yang
diizinkan
Diameter min. yang
dianjurkan

65

115

175

300

450

95

145

225

350

550

Maka
L=

dp
sin 2 y D p
( 2 y ) +2 C 1
+
( +2 y )
2
2
2

D pd p

2C + ( d p + D p ) + y
2

Oleh karena
y sin y =( D pd p ) /2C ,

Maka
D pd p

D pd p

1
L=2 C+ ( d p + D p ) +
2
2

(3)

D p d p

1
2C + ( d p + D p ) +

2
4C

Dalam perdagangan terdapat bermacam-macam ukuran sabuk. Namun, mendapatkan


sabuk yang panjangnya sama dengan hasil perhitungan umumnya sukar.

Jarak sumbu poros C dapat dinyatakan sebagai


D pd p 2

2
b 8
b+
C=

(4)

Di mana
b=2 L3,14( D p d p )

(5)

Sudut lilit atau sudut kontak dari sabuk pada alur puli penggerak harus diusahakan
sebesar mungkin untuk memperbesar panjang kontak antara sabuk dan puli. Gaya gesekan
berkurang dengan mengecilnya sehingga menimbulkan slip antara sabuk dan puli. Jika jarak
poros adalah pendek sedangkan perbandingan reduksinya besar, maka sudut kontak pada puli
kecil (puli penggerak) akan menjadi kecil. Dalam hal ini dapat dipakai dalam sebuah puli
penegang seperti dalam Gambar 7 untuk memperbesar sudut kontak tersebut.

Gbr. 6 Sudut kontak

Bila sabuk-V dalam keadaan diam tidak meneruskan momen, maka tegangan diseluruh
panjang sabuk adalah sama. Tegangan ini disebut tegangan awal. Bila sabuk bekerja meneruskan

momen, tegangan akan bertambah pada sisi tarik (bagian pangjang sabuk yang menarik) dan
berkurangnya pada sisi kendor (bagian panjang sabuk yang tidak menarik).
Jika tarikan pada sisi tarik dan sisi kendor berturut-turut adalah F 1 dan F2 (kg), maka
besarnya gaya tarik efektif Fe (kg) untuk menggerakkan puli yang digerakkan adalah (6)
Fe =F 1F 2
Fe adalah gaya tangensial efektif yang bekerja sepanjang lingkaran jarak bagi alur puli. Jika
koefisien gesek nyata antara sabuk puli adalah , maka
'

F1F 2=e
(7)
'

e 1
Fe =F 1F 2=F 1
e
'

Persamaan ini disebut persamaan Eytelwein. Besarnya daya dapat ditransmisikan oleh satu
sabuk P

(kW) diberikan oleh persamaan berikut ini.

'

dp
n
e
Po=F e 102=102=F a
.
. 1 =C ( d p n )
e 1 60 x 102 1000
v

'

'

C=Fa

n=

e 1 6120
'

n1
1000

(8)

Dimana Fe (kg) gaya tarik yang diizinkan untuk setiap sabuk, dan n1 (rpm) adalah putaran puli
penggerak. Dalam praktek, persamaan di atas harus dikoreksi terhadap faktor-faktor yang bekerja
pada sabuk seperti gaya sentrifugal, lenturan, dll.
Persamaan berikut ini biasanya dipakai untuk sabuk-V standar.
n
dp

d pn

C1
Po=( d p n ) {

(9)

dimana C1 sampai C3 adalah konstanta-kontanta.


Untuk menyederhanakan perhitungan, setiap produsen sabuk mempunyai katalog yang
berisi daftar untuk memilih sabuk. Tabel 5 menunjukkan daftar kapasitas dari daya yang
ditransmisikan untuk sabuk bila dipakai puli dengan diameter minimum yang dianjurkan.
Tabel 5 Kapasitas daya yang ditransmisikan untuk satu sabuk tunggal, Po (kW)

Sabuk-V sempit akan menjadi lurus pada kedua sisinya bila dipasang pada alur puli
(Gambar 8). dengan demikian akan terjadi kontak yang merata dengan puli sehingga keausan
pada sisinya dapat dihindari. Ada tiga macam proporsi penampang untuk sabuk-V sempit seperti
dalam gambar 9

Gbr. 9 Ukuran penampang sabuk-V sempit

Kapasitas transmisi daya Po (kW) untuk satu sabuk dapat dihitung dari
n

(10)

d p
Po=( d p n ) {C1 (C 2 /d p)C 3 ( 2C4 ( log 10 d p n ) } +C2 n {1(1/C 5) }
di mana C1 sampai C5 adalah konstanta-konstanta. Seperti juga pada sabuk-V standar, daya Po
tersebut juga dapat ditemui dalam daftar perhitungan yang terdapat dalam katalog produsen.
Tabel 6 memberikan kapasitas daya yang ditransmisikan dan faktor tambahan untuk masingmasing perbandingan reduksi untuk sabuk tipe 3V dan 5V yang mempunyai puli dengan
diameter minimum yang dianjurkan.
Tabel 6 Kapasitas daya yang ditransmisikan untuk satu sabuk-V sempit tunggal, Po (kW).

Persamaan-persamaan di atas hanya sesuai untuk sudut kontak = 180o. untuk


perbandingan reduksi yang besar dan sudut kontak lebih kecil dari 180 o menurut perhitungan

dengan rumus (11), kapasitas daya yang diperoleh harus dikalikan dengan faktor koreksi yang
bersangkutan K seperti diperlihatkan dalam Tabel 7. Besarnya sudut kontak diberikan oleh
(11)

D pd p

57
=180

Jumlah sabuk yang diperlukan dapat diperoleh dengan membagi Pd dengan Po . K atau
N=

Pa
Po K

(12)

Harga N yang relative besar akan menyebabkan getaran pada sabuk yang mengakibatkan
penurunan efisiensinya. Dalam hal demikian perencanaan harus diperbaiki dengan menggunakan
sabuk yang lebih besar penampangnya. Dalam hal transmisi dengan lebih dari satu sabuk perlu
diperhatikan bahwa panjang, mutu, dll., dari masing-masing sabuk dapat akan mengakibatkan
tegangan yang berbeda pula.
Untuk dapat memelihara tegangan yang cukup dan sesuai pada sabuk, jarak poros puli
harus dapat disetel ke dalam aupun ke luar (Gambar 10). Daerah penyetelan untuk masingmasing penampang penampang sabuk diberikan dalam Tabel 8. Tegangan sabuk dapat diukur
dengan timbangan di mana sabuk ditarik pada titik tengah antara kedua
Tabel 7

Faktor koreksi K.
D p d p
C

Sudut kontak puli kecil ()

Faktor koreksi K

0,00

180

1,00

0,10

174

0,99

0,20

169

0,97

0,30

163

0,96

0,40

157

0,94

0,50

151

0,93

0,60

145

0,91

0,70

139

0,89

0,80

133

0,87

Tabel 8

0,90

127

0,85

1,00

120

0,82

1,10

113

0,80

1,20

106

0,77

1,30

99

0,73

1,40

91

0,70

1,50

83

0,65

Daerah peyetelan jarak sumbu poros

(Satuan : mm)

Ke sebelah dalam dari

Ke sebelah luar dari letak


standar Ci (umum untuk

280-970

letak standar Ci
A B C D E
20 25

38-60

970-1500

20

25 40

40

60-90

1500-2200

20

35 40

50

90-120

2200-3000

25

35 40

65

120-158

3000-4000

25

35 40 50

75

Nomor nominal

Panjang keliling

sabuk

sabuk

11-38

Tabel 9

Daerah beban untuk tegangan sabuk yang sesuai.

semua tipe)
25

Penampang

Beban minimum

0,68

1,58

2,93

5,77

9,60

Beban maksimum

1,02

2,38

4,75

8,61

14,30

puli seperti dalam Gambar 11. Jika beban untuk melenturkan sabuk sebesar 1,6 (mm) setiap 100
(mm) jarak bentaengan terletak antara harga maksimum dan minimum yang diberikan dalam
Tabel 9, maka besarnya tegangan sabuk dianggap sesuai.
Jika transmisi sabuk diperlengkapi dengan puli pengikut untuk memelihara tegangan
sabuk, maka puli ini harus dipasang di sebelah dalam dari sisi kendor dekat pada puli besar,
seperti Gambar 12. Dipandang dari segi ketahanan sabuk, dianjurkan untuk tidak menekan sabuk
dari sebelah luarnya.

Gbr. 12 Kedudukan yang baik untuk puli


pengikut

Sudut antara kesua sisi penampang sabuk yang dianggap sesuai adalah sebesar 30 sampai
40 derajat. Semakin kecil sudut ini, gesekan akan semakin besar karena efek baji, sehingga
perbandingan tarikan F1|F2 akan lebih besar. Namun demikian, kadang-kadang sudut yang kecil
pada sabuk yang sempit atau sabuk standar dapat menyebabkan terbenamnya sabuk ke dalam
alur puli. Akhir-akhir ini dalam perdagangan diperkenalkan sabuk-V dengan sudut lebar, yaitu 60
derajat. Untuk sabuk ini dipakai bahan dengan perpanjangan yang kecil untuk memperbaiki sifat
buruk diatas. Tetapi dengan kondisi semacam ini, gesekan dan perbandingan tarikan yang dicapai
menjadi lebih rendah.
Sifat penting dari sabuk yang perlu diperhatikan adalah perubahan bentuknya karena
tekanan samping, dan ketahanannya terhadap panas. Bahan yang biasa dipakai sebagai adalah
karet alam atau sintesis. Pada masa sekarang, telah banyak dipakai karet neoprene. Sebagai inti
untuk menahan tarikan terutama dipergunakan rayon yang kuat. Tetapi akhir-akhir ini pemakaian
inti tetoron semakin popular untuk memperbaiki sifat perubahan panjang sabuk karena

kelembaban dan karena pembebanan. Dalam prose pembuatan sabuk, inti tetoron dapat mengerut
pada waktu pendinginan, sehingga perlu proses khusus untuk memperbaikinya. Ada juga proses
yang membarkan pengerutan panas dan memulihkan bentuknya ke keadaan semula.
Pada umumnya puli dibuat dari besi cor kelabu FC20 atau FC30. Untuk puli kecil dipakai
konstruksi plat karena lebih murah.
Pembatasan ukuran puli sering dikenakan pada panjang susunan puli atau lebar puli.
Panjang maksimum susunan puli Lmax adalah perlu untuk memenuhi persamaan berikut ini.
1
Lmax ( d p+ D p ) C
2

(13)

1
C ( d k + Dk ) >0
2

(14)

Jika dB dan DB berturut-turut adalah diameter bos atau naf puli kecil dan puli besar, ds1 dan ds2
berturut-turut adalah diameter poros penggerak dan yang digerakkan, maka
5
d B d s 1 +10(mm)
3

(15)

5
DB d s 2+ 10(mm)
3

Jika naf tidak dapat dibuat cukup besar untuk memenuhi persamaan tersebut, ambillah bahan
poros yang lebih kuat untuk mengecilkan diameternya, atau ambil cara lain untuk memasang
poros pada naf.

Diagram aliran untuk memilih sabuk-V

S T A R T

ditransmisikan P (kW) Putaran poros n1 (rpm) Perbandingan putaran I Jarak sumbu poros C (mm)
13. Pemilihan sabuk-V
(standar daya sempit ?)
Kapasitas daya transmisi
Dari satu sabuk Po (kW)
14. Perhitungan panjang
Keliling L (mm)

2. Faktor koreksi fc
3. Daya rencana Pd (kW)
4. Momen rencana
T1, T2 (kg mm)

15. Nomor nominal dan panjang


Sabuk dalam Perdagangan
L (mm)

5. Bahan poros dan


Perlakuan kasar

16. Jarak sumbu poros


C (mm)

6. Perhitungan diameter
poros ds1, ds2 (mm)

17.
Sudut kontak ()
Faktor koreksi K

7. Pemilihan penampang sabuk


8. Diameter minimum puli

18. Jumlah sabuk N

9. Diameter lingkarang
Jarak bagi puli dp, Dp (mm)
Diameter luar puli
dk, Dk (mm)
Diameter naf dB, Db (mm)

19. Daerah penyetelan jarak poros


Ci(mm), Ct(mm)

10. Kecepatan sabuk v (m/s)

>

11 v: 30

12.

20 Penampang sabuk
Panjang keliling L (mm)
Jumlah sabuk N
Jarak sumbu poros C(mm)
Daerah penyetelan
Ci(mm), Ct(mm)
Diameter luar puli
dk, Dk (mm)

S T OP

>

END
a

Contoh Soal

Contoh soal
Sebuah kompressor kecil digerakkan oleh sebuah motor listrik dengan daya 3,7 kW,
4 kutup, 1450 rpm dan diameter poros 25 mm. Diameter poros dan putaran
kompressor yang dikehendaki adalah 30 mm dan 870 rpm. Kompressor bekerja
selama 8 jam sehari. Carilah sabuk-v dan puli yang sesuai.
Penyelesaian:

i.

ii.
iii.
iv.
v.

vi.
vii.
viii.

ix.

P = 3,7 kW
n1 = 1450 rpm
i = 1450 / 870
C = 300 mm
fc = 1,4
Pd =1,4 x 3,7 = 5,18 kW
T1 = 9,74 x 105 x (5,18 x 1450) = 3480 kg mm
T1 = 9,74 x 105 x (5,18 x 870) = 5800 kg mm
Bahan poros S30C-D, B =58 kg/mm2
Sf1 = 6 , Sf2 = 2 (dengan alur pasak)
a = 58/(6 x 2) = 4,83 kg/mm2
Kt = 2 untuk beban tumbukan
Cb = 2 untuk lenturan
ds1 = {(5,14/4,83) x 2 x 2 x 3480} 1/3 = 24,5 mm baik
ds2 = {(5,14/4,83) x 2 x 2 x 5800} 1/3 = 29,0 mm baik
Penampang sabuk V: tipe B
dmin = 145 mm
dp = 145 mm , Dp = 145 x 1,67 = 242 mm
dk = 145 + 2 x 5,5 = 156 mm
Dk = 242 + 2 x 5,5 = 253 mm
5/3 ds1 + 10 = 52 dB = 60 mm
5/3 ds2 + 10 = 62,5 DB = 70 mm

3,14 x 150 x 1450


60 x 1000

x.

v=

= 11,4 m/s

xi.

11,4 m/s < 30 m/s, baik

xii.

300

xiii.

Dipakai tipe standar.

156+ 253
= 95.5 mm, baik
2

P0 = 3,14 + (3,42-3,14)(

50
50
)
+
0,41
+
(0,47

0,41)(
200
200 ) = 3,22 kW

(242145)
4 x 300

xiv.

L = 2 x 300 +1,57 (242 + 145) +

xv.
xvi.

Nomor nominal sabuk-V : No. 48 L = 1219 mm


b = 2 x 1219 3,14 (242+145) =1223 mm

C=

1223+ 122328(242145)2
=302 mm
8

xvii.

= 180o -

xviii.

N=

xix.
xx.

= 1215 mm

57 (242145)
300

5,18
3,22 x 0,96

= 162o K = 0,96

=1,68 2 buah

Ci = 25 mm , Ct = 40 mm
Tipe B, no 48, 2 buah, dk = 156 mm , Dk =253 mm
Lubang poros 25 mm, 31,5 mm
Jarak sumbu poros

+40 mm
30225mm

Jika dipakai sabuk sempit :


vii.
ix.

Penampang sabuk-V : 3V
dp = 67 mm , Dp = 1,67 x 67 = 112 mm

3,14 x 67 x 1450
60 x 1000

x.

v=

= 5,1 m/s

xi.

5,1 m/s < 35 m/s, baik

xii.

300

xiii.

P0 = 2,05 + (2,20 + 2,05)

67 +112
= 210 mm, baik
2
50
200

50

+ 0,21 + (0,24 0,21) 200


2

(11267)
4 x 300

xiv.

L = 2 x 300 +1,57 (112 + 67) +

xv.
xvi.

3V-355 Panjang keliling kurva jarak bagi sabuk-V L = 898 mm


b = 2 x 898 3,14 (112 + 67) = 1234 mm

C=

1234 + 123428 (11267)2


=308 mm
8

xvii.

= 180o -

xviii.

N=

xix.
xx.

57 (12267)
300

5,18
2,31 x 0,97

= 171o K = 0,97

=2,3 3 buah

Ci = 15 mm , Ct = 25 mm
3V 355, 3 buah,

= 883 mm

= 2,31 kW

dk = 67 + 1,2 = 68,2 mm ,
Dk =112 +1,2= 113,2 mm
Jarak sumbu poros

+25 mm

30815 mm