Anda di halaman 1dari 12

PENENTUAN TETAPAN LAJU REAKSI PENYABUNAN ETIL ASETAT

Riza Rianti, Eti Ofriani


rizarianti1@gmail.com, 085726431262
Lab. Kimia Fisika Jurusan Kimia Universitas Negeri Semarang
Gedung D8 Lt 2 Sekaran Gunungpati Semarang, Indonesia
50225
Abstrak
Penyabunan etil asetat dengan NaOH adalah salah satu contoh reaksi penyabunan.
Tujuan dari percobaan penentuan tetapan laju reaksi penyabunan etil asetat adalah
membuktikan bahwa reaksi yang terjadi berorde 2, sehingga harga k pun dapat
diketahui. Cara yang digunakan praktikan kali ini yaitu dengan titrasi. Adapun 3
variabel yang dipakai yaitu variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol.
Variabel bebas percobaan ini adalah waktu pencampuran NaOH dengan etil asetat.
Variabel terikat yaitu laju reaksi penyabunan etil asetat. Sedangkan variabel
kontrolnya yaitu konsentrasi, temperatur, dan tekanan. Sebanyak 10 ml campuran
dari larutan NaOH dan etil asetat yang memiliki konsentrasi dan volume
sebanding dituangkan kedalam 20 ml HCl pada menit ke-3, 8, 15, dan 25,
kemudian dititrasi dengan NaOH. Dari hasil percobaan didapatkan data volume
NaOH yang digunakan untuk menitrasi, semakin lama waktu yang digunakan
semakin banyak NaOH yang dibutuhkan untuk menitrasi. Menggunakan
perhitungan untuk menentukan orde, tetapan laju reaksi juga dapat ditentukan.
Berdasarkan hasil percobaan, tetapan laju reaksi sebesar 0,0628 dan terbukti
reaksi berorde dua.
Kata kunci : Saponifikasi, sabun, etil asetat
Abstract
Saponification of acetyc ethyl with NaOH is one of example saponification
reaction. Purpose from constanta ofvrate reaction from

acetyc ethyl

saponification experiment have ordo-2, so the value of k can knew. Practicant use

titration methode. There was 3 variable : free variable, bundle variable, and
control variable. Free variable at this experiment is time of mixing. Bundle
variable is rate reaction of acetyc ethyl saponification. As many as 10 ml mixture
from NaOH solution and acetyc ethyl which have same consentration and volume
pour inside 20 ml HCl at minutes-3, 8, 15, and 25, then titration use NaOH. From
experiment give result data of NaOH volume used titration, as long as time, as
many as NaOH for titration. Use calculation to determine ordo, constanta of rate
reaction can determine too. Based on experiment, constanta of rate reaction is
0,0628 and proved that reaction is ordo two.
Keywords : Saponification, soap, acetyc ethyl
A.

Pendahuluan
Sabun bertindak sebagai suatu zat pengemulsi untuk mendispersikan

minyak dan sabun teradsorpsi pada butiran kotoran (Keenan, 1990). Kinetika
kimia merupakan bagian dari ilmu kimia fisika yang mempelajari tentang
kecepatan ataupun laju reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksi-reaksi yang
terlibat didalamnya. Kecepatan reaksi atau laju reaksi adalah kecepatan perubahan
konsentrasi terhadap waktu, jadi tanda negatif hanya menunjukkan bahwa
konsentrasi berkurang bila waktu bertambah. (Sukardjo, 2002).
Laju reaksi dapat pula digunakan untuk memprediksi kebutuhan bahan
pereaksi tiap satuan waktu dan dapat juga digunakan untuk menghitung kebutuhan
energi untuk produksi hydrogen(Wibowo, 2010).
Orde reaksi merupakan bagian dari laju reaksi. Orde reaksi tidak dapat
ditentukan dengan menurunkan persamaan. Orde reaksi hanya dapat ditentukan
dengan melakukan percobaan (Labuza, 1982). Menurut teori, orde reaksi untuk
reaksi penyabunan etil asetat berupa orde dua. Pada laju reaksi orde dua, apabila
hukum laju reaksi adalah -d[A]/dt=-k[A]^n dan hukum tersebut diubah ke
persamaan (1/[A]-1/[A]2)=-kt, akan diperoleh konstanta laju reaksi dengan cara
mengalurkan 1/[A] terhadap t. Kemiringan yang diperoleh merupakan konstanta
laju reaksi (Atkins, 1999).

Gambar 1. Kurva laju reaksi orde dua


Pada laju reaksi orde dua, laju reaksi berbanding lurus dengan kuadrat
konsentrasi dari salah satu reaktan atau hasil kali dua reaktan dengan masingmasing reaktan berpangkat satu (Triyono, 2009). Reaksi penyabunan etil asetat
merupakan reaksi orde kedua dengan hukum yang dapat diberikan sebagai :
-d[ester]/dt=k1[ester][OH]Sifat Fisika Etil Asetat
Wujud Cairan Bening
Berat Molekul 88,105 gr/mol
Densitas 0,897 gr/ml
Titik Leleh -83,6 C
Titik Didih 77,1 C
Titik Nyala -4 C
(Sari, et all., 2015)
Pada percobaan kali ini, dilakukan penentuan laju reaksi dari penyabunan
etil asetat. Percobaan ini untuk membuktikan orde reaksi penyabunan etil asetat
adalah 2.
B.

Metode
Pada percobaan penentuan tetapan laju reaksi penyabunan etil asetat ada dua

cara yang dapat digunakan yaitu cara titrasi dan cara konduktometri. Kelompok
kami menggunakan cara titrasi pada praktikum kali ini. Titrasi yang dilakukan ada

dua garis besar yaitu titrasi untuk standarisasi NaOH dan HCl serta titrasi
campuran larutan yang berasal dari NaOH, etil asetat dan HCl.
Pembuatan

bahan

dimulai

dari

perhitungan

jumlah

bahan

dan

penimbangan/pengukuran volume bahan. Bahan utama yang dibuat adalah larutan


NaOH 0,02 M 300 ml, HCl 0,02M 250 ml, dan larutan etil asetat 0,02M 50 ml.
Selain itu dibutuhkan pula larutan asam oksalat sebagai larutan baku primer untuk
menstandardisasi NaOH. Kami membuat larutan asam oksalat 0,01M sebanyak
25ml.
Larutan NaOH dibuat dengan cara melarutkan 0,1604 gram NaOH padat dengan
aquadest kedalam labu takar 200, diisi aquadest sampai batas putih. Kemudian
melarutkan 0,0822 gram NaOH padat dengan aquadest kedalam labu takar 100
ml, diisi aquadest sampai batas putih. Sedangkan larutan asam oksalat dibuat
dengan melarutkan 0,0323 gram asam oksalat dengan aquadest ke dalam labu
takar 25 mL sampai batas putih. Larutan HCl dengan cara mengencerkan 0,4145
ml HCl pekat 37% dengan aquadest dalam labu takar 250 ml sampai batas putih.
Larutan etil asetat dengan cara mengencerkan 0,1968 ml etil asetat 99,5% dengan
aquadest dalam labu takar 100 ml sampai batas putih. Larutan HCl dan etil asetat
dibuat dilemari asam.
Variabel yang dipakai dalam percobaan penentuan laju reaksi penyabunan
etil asetat yaitu variabel bebas, variabel, terikat, dan variabel kontrol. Variabel
bebas percobaan ini adalah waktu pencampuran NaOH dengan etil asetat. Variabel
terikat yaitu laju reaksi penyabunan etil asetat. Sedangkan variabel kontrolnya
yaitu konsentrasi, temperatur, dan tekanan.

Langkah kerja dengan cara titrimetri


Pembuatan larutan
(Asam oksalat, NaOH,
HCl, etil asetat)

Standardisasi NaOH
menggunakan asam
oksalat

Standardisasi HCl
menggunakan NaOH

Memasukan masingmasing 60 ml NaOH


dan etil asetat ke
dalam erlenmeyer
bertutup berbeda.

Membuat suhu NaOH


dan etil asetat menjadi
termostat

Mencampurkan etil
asetat kedalam NaOH,
digojok.

Tiga menit setelah


reaksi, pipet 10 ml
campuran dan
masukan kedalam HCl
20 ml

Menambahkan
indikator pp 2-3 tetes,
dan menitrasi 3
campuran tersebut
menggunakan NaOH

Menghentikan titrasi
sampai campuran
berubah warna
menjadi merah muda,
mencatat volume
NaOH yang dipakai.

Catatan:
+ Ulangi langkah pada kotak ke-7 pada menit ke-8, 15, dan 25.

C.

Memanaskan sisa
campuran sekitar 15
menit

Sisa campuran
dikembalikan ke
suhu awal (300C)

Mengakhiri titrasi
ketika warna
campuran berubah
menjadi merah
muda

Mengukur dan
mencatat volume
NaOH yang terpakai

Menambahkan
indikator pp dan
menitrasi sisa
campuran dengan
NaOH

Hasil dan Pembahasan


Percobaan penentuan tetapan laju reaksi penyabunan etil asetat bertujuan

untuk membuktikan bahwa reaksi yang terjadi berorde-2 dan untuk menentukan
harga k.

Campuran etil asetat dan NaOH yang telah termostat ditambahkan HCl,
tujuannya adalah untuk mengetahui banyaknya NaOH yang tersisa dalam proses
saponifikasi tersebut serta memberikan suasana asam. Penambahan HCl ini
mengubah karboksilat menjadi asam karboksilat. Adapun reaksi yang terjadi
seperti berikut :
CH3COOC2H5(aq) + 2NaOH(aq) CH3COONa(aq) + C2H5OH(aq) +NaOH(aq) sisa
NaOH(aq) sisa + HCl(aq) NaCl(aq) + HCl sisa
Dari persamaan reaksi tersebut dapat diketahui yang tersisa adalah HCl.
Sehingga untuk menetralkan kelebihan asam, dititrasi dengan basa NaOH. Untuk
menitrasinya pada titrat ditetesi indikator pp 2-3 tetes. Titrasi dilakukan sampai
titrat yang tidak berwarna menjadi merah muda. Adapun reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut :
HCl(aq) sisa + NaOH(aq) NaCl(aq) + H2O(l)
Berikut tabel hasil titrasi campuran dari 3 larutan dengan titran NaOH.
Tabel 1. Data hasil pengamatan titrasi dari percobaan penyabunan etil asetat
Menit keVolume titrat (ml)
Volume titran /NaOH (ml)
3
30
10,8
8
30
12,3
15
30
14,6
25
30
15,1
Volume NaOH yang dipakai titrasi setelah sisa campuran dipanaskan dan
didinginkan lagi sampai temperatur awal (300C) sebanyak 7,2 ml.
Dari tabel 1 dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu pencampuran
antara NaOH dan etil asetat, volume titran semakin banyak yang diperlukan untuk
menetralkan kelebihan asam HCl. Hal ini karena jika semakin lama waktu
pencampuran NaOH dengan etil asetat dilakukan, maka reaksi yang terjadi akan
semakin sempurna untuk membentuk CH3COONa(aq) dan C2H5OH(aq) sedangkan
sisa NaOH akan semakin sedikit. Sehingga ketika campuran ditambah HCl,
campuran pada menit yang paling banyak akan lebih bersifat asam dan
membutuhkan lebih banyak NaOH untuk mentitrasi kelebihan HCl.
Data yang diperlukan untuk membuat grafik yaitu konsentrasi awal ester,
konsentrasi awal NaOH, dan konsentrasi basa yang telah bereaksi pada waktu t.
Adapun untuk mengetahui informasi data tersebut, diperlukan pula perhitungan

tentang mmol HCl bereaksi dan mmol NaOH bereaksi. Data tersebut disajikan
pada tabel 2 dan 3.
Tabel 2. Data mmol NaOH yang bereaksi
Waktu (s)

mmol NaOH

awal
1,248

1,248

15

1,248

25

1,248

mmol HCl yang

mmol NaOH yang

bereaksi
0,23

bereaksi
1,018

0,1925

1,055

0,135

1,113

0,1225

1,125

Pada tabel 2 dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu pencampuran,


semakin banyak pula jumlah mmol NaOH untuk bereaksi.
Praktikan memakai konsentrasi awal yang sama untuk larutan NaOH dan
etil asetat. Jadi aluran x/a(a-x) terhadap t merupakan garis lurus dengan arah
lereng sama dengan k1. Sehingga untuk menentukan tetapan laju reaksi perlu
diketahui konsentrasi awal ester, dan jumlah konsentrasi basa NaOH yang
bereaksi pada waktu t. Data yang diperlukan untuk menentukan tetapan laju reaksi
disajikan pada tabel 3.
Tabel 3. Perhitungan Tetapan Laju Reaksi
t (s)
180

a (M)
0,02

x (x10-2M)
0,3393

a-x
0,0166

x/a(a-x)
10,2198

k1
0,0538

480

0,02

0,3516

0,0165

10,6545

0,0222

900

0,02

0,3710

0,0163

11,3803

0,0126

1500

0,02

0,3750

0,0162

11,5741

0,0076922

Keterangan :
a = konsentrasi awal ester dalam mol/liter
x = jumlah konsentrasi basa yang telah bereaksi pada waktu t
k1 = tetapan laju reaksi

Berdasarkan teori reaksi penyabunan etil asetat berorde-2. Reaksi orde 2


memiliki bentuk kurva seperti pada gambar 1 pada bagian pendahuluan. Setelah
digambar grafiknya melalui program excell, grafik dapat dilihat pada gambar 2.

Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat


12
11.5
11
x/a(a-x)

f(x) = 0.06x + 10.16


R = 0.9
Linear ()

10.5

Linear ()

10
9.5
0

10

15

20

25

30

Waktu (menit)

Gambar 2. Orde reaksi penyabunan etil asetat


Pada gambar 2, bentuk kurva hampir sama dengan grafik orde-2. Sehingga reaksi
penyabunan etil asetat terbukti berorde-2. Berdasarkan grafik penentuan orde
reaksi penyabunan etil asetat diperoleh persamaan y = 0,0628x + 10,156. Dari
persamaan tersebut dapat diketahui tetapan laju reaksi sebesar 0,0628 dengan
linearitas sebesar 0,901.

D.

Kesimpulan
Berdasarkan percobaan penentuan tetapan laju reaksi penyabunan etil asetat

terbukti bahwa orde reaksi penyabunan etil asetat adalah dua dengan harga k
sebesar 0,0628.

Daftar Pustaka
Atkins, P. W.. 1999. Kimia Fisika Edisi keempat Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Keenan, C.W,dkk. 1990. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
Sari Liza Azura Nst, Reni Sutri, Iriany. 2015. Pembuatan Etil Asetat Hasil
Hidrolisis, Fermentasi, dan Esterifikasi Kulit Pisang Raja (Musa
Paradisiaca. L). Sumatera Utara :Departemen Teknik Kimia.
Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Triyono. 2009. Kimia Katalis. Yogyakarta: Fakultas MIPA Universitas Gadjah
Mada.
Wibowo, Agus. 2010. Laju Reaksi Pencampuran Minyak Jarak dan Air Pada
Hydrogen Reformer Menggunakan Pemanas dan Katalis. Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2010. Semarang: FT UNWAHAS
Semarang.

E.

Tugas
1. Dari hasil pengamatan pada waktu reaksi selesai, konsentrasi awal larutan
etil asetat adalah 0,02 M.
2. Harga x (jumlah konsentrasi NaOH yang bereaksi)
Molaritas NaOH yang bereaksi pada masing-masing t :
a. 3 menit
M NaOH yang bereaksi=

mmol NaOH yang bereaksi


Vtotal

1,018 mmol
300 ml
2

0,3393 x 10 M
b. 8 menit
M NaOH yang bereaksi=

mmol NaOH yang bereaksi


Vtotal

1,055 mmol
300 ml
2

0,3516 x 10 M
c. 15 menit
M NaOH yang bereaksi=

mmol NaOH yang bereaksi


Vtotal

1,113 mmol
300 ml

0,3710 x 102 M
d. 25 menit

M NaOH yang bereaksi=

mmol NaOH yang bereaksi


Vtotal

1,125 mmol
300 ml

0,3750 x 102 M
3. Harga k1 = 0,0628
4. Grafik dengan x/a(a-x) sebagai ordinat dan t sebagai absis

Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat


12
11.5
11
x/a(a-x)

f(x) = 0.06x + 10.16


R = 0.9
Linear ()

10.5

Linear ()

10
9.5
0

10

15

20

25

30

Waktu (menit)

Harga k1 sebesar 0,0628


F.

Jawaban Pertanyaan
1. Orde reaksi adalah banyaknya faktor konsentrasi zat reaktan yang
mempengaruhi kecepatan reaksi.
2. Orde reaksi adalah banyaknya faktor konsentrasi zat reaktan yang
mempengaruhi kecepatan reaksi.
Kemolekulan reaksi merupakan banyaknya molekul zat pereaksi
(reaktan) dalam.
3. Reaksi penyabunan etil asetat merupakan reaksi orde dua. Hal ini dapat
dilihat dari satuan tetapan reaksinya, M-1menit-1. Tetapan laju reaksi
tidak bisa ditentukan secara teoritis tetapi harus melalui percobaan.
4. Hantaran jenis : ohm-1 cm-1 ( cm-1)
Hantaran molar : S m2 mol-1 , S cm2 mol-1

5. Apabila titrasi HCl tidak segera dilakukan maka temperatur campuran


zat akan menurun dan mempengaruhi hasil tetapan laju rekasinya.
Sehingga temperatur campuran zat harus dijaga tetap agar konstan
pada saat titrasi. Seandainya titrasi ditunda, maka temperaturnya harus
dinaikkan dengan pemanasan ulang.
6. Melihat satuan dari tetapan laju reaksinya
- Membandingkan waktu paruh, misalnya nilai t1/2 dengan t3/4
dimana t3/4 = 3 t1/2
- Membandingkan dua buah persamaan laju reaksi yang diketahui
datanya.
7. Energi pengaktifan adalah energi minimal yang diperlukan suatu
pereaksi untuk melakukan reaksi. Harga energi pengaktifan akan
tereduksi/dikurangi dengan penambahan katalis. Persamaan yang
diperlukan : Ea = - RT ln (k/A).