Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi didefinisikan sebagai pengukuran tekanan darah yang tinggi dengan batas
140 untuk sistolik dan 90 untuk diastolik, sesuai dengan kriteria JNC 7 (NIH, 2003).
Tingkat tekanan darah dan prevalensinya bervariasi di tiap negara. Hipertensi telah
diestimasikan akan menyebabkan 6% kematian di seluruh dunia (Powers, 2003). Di
Indonesia, prevalensi nasional untuk masyarakat berumur lebih dari 18 tahun adalah
29.8%. Sepuluh provinsi yang memilik prevalensi hipertensi yang tinggi yaitu Riau,
Bangka Belitung, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa
Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan
Sulawesi Barat (Depkes RI, 2011).
Hipertensi dikenal sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskuler, yang
merupakan penyebab utama kematian dan disabilitas di seluruh dunia. Percobaan
klinis berskala besar telah menunjukkan bahwa terapi farmakologis dapat
menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskuler dan terapi
jangka panjang atau seumur hidup sering diindikasikan.
Menurut World Health Organization (WHO), ketidakpatuhan terhadap terapi
jangka panjang untuk hipertensi merupakan masalah umum yang menyebabkan
konsekuensi kesehatan dan ekonomi yang serius, dalam arti terbuangnya waktu, uang,
dan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Sebagai tambahan, sebuah editorial
terbaru memberikan bukti untuk penurunan morbiditas dan mortalitas dengan
penggunaan terapi antihipertesi, dan menyebutkan bahwa hal yang paling berperan
dalam meningkatkan kontrol hipertensi bergantung pada kepatuhan pasien (Baune
dkk, 2004).
Berdasarkan studi nasional NHANES III di Amerika Serikat, kurang dari
seperempat pasien hipertensi memiliki tekanan darah yang terkontrol dengan baik
(dibawah 140/90 mmHg) (Hyman dkk, 2001). Ketidakpatuhan menjadi masalah
universal, yang dilaporkan menjadi salah satu penyebab utama hipertensi yang sulit
disembuhkan (Etaro dkk, 1992). Walaupun telah dilakukan banyak studi tentang

kepatuhan pasien selama 25 tahun terakhir ini, masih ditemukan masalah


ketidakpatuhan, yang meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak terjawab.
Salah satu syarat untuk keberhasilan terapi adalah motivasi pasien. Hal ini
cukup jelas bahwa jika pasien mengalami perburukn kualitas hidup setelah memulai
oengobatan, akan muncul masalah dalam mengikuti regimen pengobatan. Telah
ditunjukkan sebelumnya bahwa pasien hipertensi memodifikasi terapi obatnya
sebagai respon terhadap masalah yang dirasakan (Enlund dkk, 2001). Prevalensi
modifikasi meingkat sesuai dengan jumlah masalah yang diterima pasien, baik pria
maupun wanita dan di seluruh kelompok umur. Disamping beberapa kemajuan dalam
terapi hipertensi, masih terdapat sejumlah pasien yang belum mendapatkan
keuntungan dari terapi obat karena kontrol tekanan yang buruk.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007
menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7% (Depkes RI,
2010). Di Provinsi Bali, prevalensi hipertensi pada penduduk berumur > 18 tahun
berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah adalah sebanyak 29,1/1000. Sementara
Kabupaten Bangli angka kesakitannya 32/1000 dan menempati peringkat kedua
setelah Kabupaten Buleleng. Hipertensi juga merupakan salah satu dari 10 penyakit
terbanyak di Puskesmas Kintamani I. Kejadian hipertensi yang tercatat di puskesmas
Kintamani 1 pada tahun 2012 adalah 1455 kasus atau 21,44%.
Berdasarkan data rekam medis dan pengamatan praktek sehari-hari di
Puskesmas Kintamani I terdapat 95 orang yang terdiagnosis hipertensi dan
mendapatkan obat pada bulan Februari hingga April 2013, dan tekanan darah mereka
belum terkontrol. Sering beberapa minggu telah lewat sebelum mereka datang
kembali untuk kunjungan follow-up, walaupun obat hanya diberikan untuk satu
minggu. Dari anamnesis, sering didapatkan bahwa pasien hanya datang ketika mereka
merasa tidak nyaman, seperti sakit kepala. Hal ini berarti bahwa mereka tidak
meminum obat secara reguler.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan berobat seseorang,
tingkat pendidikan, usia, biaya berobat, pengetahuan tentang hipertensi, dukungan
keluarga, pengaruh sosial dan budaya, dan akomodasi merupakan kendala dalam
mencapai kepatuhan berobat yang optimal (Niven, 2008). Berdasarkan alasan tersebut

penulis ingin meneliti mengenai gambaran tingkat kepatuhan berobat pada pasien
hipertensi serta faktor yang mempengaruhinya di wilayah kerja Puskesmas Kintamani
I, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
Bagaimanakah gambaran kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi serta strategi
dan kendala yang dihadapi untuk menjaga kepatuhan minum obat di wilayah kerja
Puskesmas Kintamani I, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi serta
strategi dan kendala yang dihadapi untuk menjaga kepatuhan minum obat di wilayah
kerja Puskesmas Kintamani I, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli?
1.3.2 Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui karakteristik penderita hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Kintamani I, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
2. Untuk mengetahui gambaran kepatuhan berobat pada pasien hipertensi.
3. Untuk mengetahui strategi untuk menjaga kepatuhan minum obat anti
hipertensi.
4. Untuk mengetahui kendala dalam menjaga kepatuhan minum obat anti
hipertensi.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Puskesmas Kintamani I
Dengan mengetahui gambaran kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi serta
strategi dan kendala yang dihadapi untuk menjaga kepatuhan minum obat di wilayah
kerja Puskesmas Kintamani I, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli diharapkan
dapat dijadikan masukan dalam menyukseskan program penanggulangan hipertensi
pada masyarakat.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai hasil penelitian ini kepada masyarakat sehingga
mereka mengetahui kepatuhan berobat sangat penting dalam keberhasilan terapi pada

hipertensi, serta memberikan informasi mengenai strategi yang dapat ditempuh untuk
menjaga kepatuhan minum obat anti hipertensi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Hipertensi
2.1.1 Pengertian Hipertensi
Tekanan darah adalah kekuatan darah menekan dinding pembuluh darah. Setiap kali
berdetak (sekitar 60-70 kali per menit dalam keadaan istirahat), jantung akan
memompa darah melewati pembuluh darah. Tekanan terbesar terjadi ketika jantung
memompa darah (dalam keadaan kontriksi), dan ini disebut dengan tekanan sistolik.
Ketika jantung beristirahat (dalam keadaan dilatasi), tekanan darah berkurang disebut
tekanan darah diastolik (Puspitorini, 2008). Tekanan darah tidak pernah konsisten,
Kondisinya berubah-ubah sepanjang hari, sesuai dengan situasi. Tekanan darah akan
meningkat dalam keadaan gembira, cemas, atau sewaktu melakukan aktifitas fisik,
setelah situasi ini berlalu, tekanan darah akan kembali normal. Apabila tekanan darah
tetap tinggi maka disebut tekanan darah tinggi atau hipertensi (Hull, 1996).
Penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal penyakit darah tinggi adalah
penyakit kronik akibat desakan darah yang berlebihan dan hampir tidak konstan pada
arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Hipertensi

berkaitan dengan meningkatnya tekanan pada arterial sistemik, baik diastolik maupun
sistolik, atau kedua-duanya secara terus menerus (Hull, 1996). Hipertensi merupakan
suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah 140 mmHg (tekanan sistolik)
dan atau 90 mmHg (tekanan diastolik) (Joint National Committee on Prevention
Detection, Evaluation, dan Treatment of High Pressure VII, 2003) sedangkan
menurut Smeltzer dan Bare, 2002 mendefinisikan hipertensi adalah tekanan darah
persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas
90 mmHg. Tekanan sistolik menunjukan fase darah yang dipompa oleh jantung dan
tekanan diastolik menunjukan fase darah kembali ke dalam jantung (Depkes RI,
2006).
2.1.2 Epidemiologi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang mengganggu
kesehatan masyarakat. Umumnya, terjadi pada manusia yang berusia (< 40 tahun).
Namun banyak yang tidak menyadari bahwa mereka menderita hipertensi akibat yang
tidak nyata dan sering disebut silent killer. Pada awal terkena penyakit hipertensi
belum menimbulkan gangguan yang serius. Sekitar 1,8% - 26,6% penduduk dewasa
menderita penyakit hipertensi. Berdasarkan penelitian Survei Kesehatan Nasional
(Surkesnas) 2001 menunjukkan proporsi hipertensi pada pria 27% dan perempuan
29%. Sedangkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004, hipertensi
pada pria 12,2% dan perempuan 15,5%.
Pada usia setengah baya dan muda, hipertensi ini lebih banyak menyerang
pria dari pada perempuan. Pada golongan usia 55-64 tahun, pasien hipertensi pada
pria dan perempuan sama banyak. Pada usia 65 tahun ke atas, pasien hipertensi
perempuan lebih banyak daripada pria (Depkes RI, 2008).
2.1.3 Klasifikasi Hipertensi
Tekanan sistolik dan diastolik dapat bervariasi pada tingkat individu. Namun
disepakati bahwa hasil pengukuran tekanan darah sama atau lebih besar dari 140/90
mmHg adalah hipertensi. Hipertensi menurut WHO-ISH tahun 1999 dan JNC, 2003
dapat dilihat pada tabel:
Tabel 2.1.

Klasifikasi hipertensi
menurut WHO-ISH
tahun 1999 Kategori
Optimal
Normal
Normal tinggi
Grade 1 hipertensi
Sub group: borderline
Grade 2 hipertensi
Grade 3 hipertensi
Isolated
sistolik

Tekanan Sistolik
(mmHg)

Tekanan diastolik
(mmHg)

< 120
< 130
130 139
140 159
140 149
160 179
>180
140

< 80
< 85
85 89
90 99
90 94
100 109
110
< 90

hipertensi
Sub group: Borderline 140 149

< 90

Tabel 2.2.
Klasifikasi menurut Tekanan Sistolik
(mmHg)
The joint National
Committee

Tekanan diastolic
(mmHg)

on

Detection,
Evaluation,

and

Treatment og High
Blood

Preassure

(JNC-VI)
Kategori
Normal
Normal tinggi
Hipertensi
Tingkat 1
Tingkat 2
Tingkat 3

2003.
< 130
130 139

< 85
85 89

140 159
160 179
180

90 99
100 109
110

2.1.4 Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu :


a. Hipertensi primer.
Hipertensi primer merupakan tipe yang paling umum, yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya atau idiopati (hipertensi tanpa kelainan dasar patologi yang

jelas). Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi primer. Penyebabnya


multifaktorial meliputi faktor genetik dan lingkungan.
b. Hipertensi sekunder.
Jenis hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara lain kelainan pada
pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (Arif, 2005).
2.1.5 Faktor risiko Hipertensi dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu:
a. Faktor risiko yang tidak dapat diubah
1) Umur
Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambahnya umur, risiko
terkena hipertensi menjadi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi di kalangan usia
lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar di atas 65 tahun pada
usia lanjut. Sedangkan menurut WHO memakai tekanan diastolik sebagai bagian
tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya hipertensi. (Depkes
RI, 2008).
Prevalensi hipertensi di Indonesia pada golongan umur di bawah 40 tahun
masih berada di bawah 10%, tetapi diatas umur 50 tahun angka tersebut terus
meningkat mencapai 20% hingga 30%, sehingga ini sudah menjadi masalah serius
untuk diperhatikan (Depkes RI, 2002). Penelitian yang dilakukan di 6 Kota besar
seperti Jakarta, Padang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Makasar terhadap usia
lanjut (55-85 tahun), didapatakan prevalensi hipertensi sebesar 52.5% (Depkes RI,
2008).
2) Jenis kelamin
Faktor jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih
banyak menderita hipertensi di bandingkan dengan perempuan, dengan rasio sekitar
2,29% untuk peningkatan tekanan darah sistolik. Pria di duga memiliki gaya hidup
yang cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan perempuan.
Namun, setelah memasuki menopause, prevalensi hipertensi pada perempuan
meningkat. Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya hipertensi pada perempuan lebih
tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh faktor hormonal karena pada
wanita yang belum mengalami menopause dilindungi hormon estrogen yang berperan
dalam meningkatkan kadar HDL. Kadar kolesterol HDL yang tinggi merupakan

faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis. Penelitian di


Indonesia prevalensi yang lebih tinggi terdapat pada wanita (Depkes, 2008).
3) Keturunan (genetik)
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) yang
mempertinggi risiko (esensial). Tentunya faktor genetik ini juga dipengaruhi faktorfaktor lingkungan lain, yang kemudian menyebabkan seseorang menderita hipertensi.
Faktor genetik juga berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin
membran sel. Menurut Davidson bila kedua orang tuanya menderita hipertensi maka
sekitar 45% akan turun ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang
menderita hipertensi maka sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya (Depkes, 2008).
b. Faktor risiko yang dapat diubah
Faktor risiko yang diakibatkan perilaku tidak sehat dari pasien hipertensi antara lain:
1) Obesitas
Kegemukan (obesitas) adalah persentase abnormalitas lemak yang di nyatakan
dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) yaitu perbandingan antara berat badan dengan
tinggi badan kuadrat dalam meter (Caplan dan stamle, 1991) berkaitan erat antara
kelebihan berat badan dan kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh beberapa
studi. Berat badan dan indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan
darah, terutama tekanan darah sistolik. Obesitas bukanlah penyebab hipertensi. Akan
tetapi prevalaensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan orang yang badannya normal, sedangkan pada pasien hipertensi ditemukan
sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (over weight). Penentuan obesitas pada
orang dewasa dapat dilakukan pengukuran berat badan ideal, pengukuran persentase
lemak tubuh dan pengukuran IMT.

Tabel 2.3
Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)
Menurut

WHO IMT ( kg/m2 )

Klasifikasi
Kurus tingkat berat

< 16

Kurus tingkat ringan


16,00 - 16,99
Kurus ringan
17,00 - 18,40
Normal
18,50 24,99
Obesitas tingkat I
25,00 29,99
Obesitas tingkat II
30,00 - 39,99
Obesitas tingkat III
40
Sumber: WHO Exper Committee, 1996
2) Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor risiko yang kuat untuk terjadinya kematian
akibat kardiovaskuler, dan penelitian telah menunjukan bahwa penghentian merokok
dapat mencegah terjadinya penyakit kardiovaskuler seperti stroke dan infrak miokard.
Telah terbukti bahwa dengan mengkonsumsi satu batang rokok dapat terjadi
peningkatan denyut jantung dan tekanan darah selama 15 menit. Hal ini disebabkan
oleh peningkatan kadar katekolamin dalam plasma, yang kemudian menstimulasi
sistem syaraf simpatik (Sani, 2008).
3) Stress
Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa takut,
rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin
dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah
akan meningkat. Jika stress berlangsung lama, tubuh akan berusaha mengadakan
penyesuaian sehingga timbul perubahan patologis. Gejala yang muncul dapat berupa
hipertensi atau penyakit maag. Diperkirakan, prevalensi atau kejadian hipertensi pada
kulit hitam di Amerika Serikat lebih tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih
disebabkan stress atau rasa tidak puas orang kulit hitam. Stress adalah suatu kondisi
yang disebabkan oleh adanya transaksi antara individu dengan lingkungannya yang
mendorong seseorang untuk mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan
situasi dan sumber daya (biologis, psikologi, dan sosial) yang ada pada diri seseorang
(Damayanti, 2003).
Peningkatan darah akan lebih besar pada individu yang mempunyai
kecenderungan stress emosional yang tinggi (Pinzon, 1999). Sedangkan dalam
penelitian Framingham dalam Yusida tahun 2001 bahwa bagi perempuan berusia 4564 tahun, sejumlah faktor psikososial seperti ketegangan, ketidakcocokan
perkawinan, tekanan ekonomi, stress harian, gejala ansietas dan kemarahan yang

10

terpendam didapatkan bahwa hal tersebut berhubungan dengan peningkatan tekanan


darah (Depkes, 2008).
4) Konsumsi Alkohol berlebihan
Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan. Peningkatan
kadar kortisol, dan peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah
berperan dalam menaikan tekanan darah. Beberapa studi menunjukan hubungan
langsung antara tekanan darah dan asupan alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar
setiap harinya. Di negara barat seperti Amerika, konsumsi alkohol yang berlebihan
berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar 10% hipertensi di Amerika
disebabkan oleh asupan alkohol yang berlebihan dikalangan pria separuh baya.
Akibatnya, kebiasaan meminum alkohol ini menyebabkan hipertensi sekunder di
kelompok ini (Depkes, 2008).
5) Konsumsi garam berlebihan
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik cairan di luar
sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Pada sekitar 60% kasus hipertensi primer (esensial) terjadi respon penurunan tekanan
darah dengan mengurangi asupan garam. Pada masyarakat yang mengkonsumsi
garam 3 gram atau kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada
masyarakat asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan darah rata-rata lebih tinggi
(Depkes, 2008).
2.1.6 Manisfestasi Klinis
Tingginya tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Bila
demikian gejala baru muncul setelah terjadinya komplikasi pada ginjal, mata, otak
dan jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, marah, telinga
berdengung, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing
(Arif, 2005).
2.1.7 Komplikasi hipertensi
a. Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau akibat embolus
yang terlepas dari pembuluh non-otak yang terkena tekanan darah. Stroke dapat
terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak
mengalami hipertrofi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang

11

dipendarahinya berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat


melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma (suatu
dilatasi dinding arteri, akibat kongenital atau perkembangan yang lemah pada dinding
pembuluh).
b. Dapat terjadi infrak miokardium apabila arteri koroner yang aterosklerotik tidak
menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk thrombus yang
menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut.
c. Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada
kapiler-kapiler ginjal, glomelurus. Dengan rusaknya glomelurus, darah akan mengalir
ke unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi
hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membran glomelurus, protein akan keluar
melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan
edema.
d. Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini
menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang
interstisium di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron di sekitarnya kolaps dan
terjadi koma serta kematian (Corwin, 2001).
2.1.8 Penatalaksanaan Hipertensi
a. Terapi Farmakologi
1) Diuretik
Obat-obatan jenis diuretik dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing)
sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibtkan daya pompa jantung
menjadi ringan. Contoh obat-obatan yang termasuk golongan diuretik adalah
Hidroklorotiazid.
2) Penghambat simpatis
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang
bekerja pada saat kita beraktivitas). Contoh obat yang termasuk dalam golongan
penghambat simpatetik adalah: Metildopa, Klonidin dan Reserpin).
3) Betabloker
Mekanisme kerja antihipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa
jantung. Jenis beta bloker tidak dianjurkan pada pasien yang telah diketahui

12

mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obat-obatan yang


termasuk dalam golongan beta bloker adalah: Metoprolol, Propanolol dan Atenolol.
4) Vasodilator
Obat golongn ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos
(otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adala: Prasosion,
Hidralasin.
5) Penghambat enzim konversi Angiotension
Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan Angiotnsion II (zat
yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk
golongan ini adalah Catopril.
6) Angiotension Kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat
kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah Nifedipin,
Diltiasem, dan Verapamil.
7) Penghambat Reseptor Angiotensin II
Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat angiotension II pada
reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang
termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan) (Depkes, 2008).
b. Terapi Non Farmakologi
1) Mengubah gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah dengan menghindari
faktor hipertensi yang berkaitan dengan mengurangi makan-makan yang mengandung
garam, makan buah-buahan segar dan perilaku sehat dengan cara olahraga.
2) Penurunan berat badan karena kenaikan tekanan darah berkaitan dengan
peningkatan berat badan. Akumulasi lemak dalam tubuh dan perut berkaitan erat
dengan hipertensi, hiperipidemia, dan diabetes. Berdasarkan penelitian dengan
menurunkan berat badan terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada pasien
hipertensi sampai tekanan darahnya normal setelah 18 bulan, penurunan berat badan
rata-rata pria dan perempuan 4,7 kg dan 1,6 kg. Penurunan tekanan darah sistolik dan
diastolik ialah 3,2/2,8 mmhg.
3) Pengurangi asupan alkohol. Minum-minuman keras secara teratur dapat
meningkatkan tekanan darah, pengurangan asupan alkohol selama 1-4 minggu dapat
menurunka tekanan darah sistolik dan diastolik sebesar 5,0/3,0 mmHg (Depkes,
2008).

13

4) Peningkatan gerakan tubuh. Olahraga secara teratur dapat bermanfaat untuk


mencegah dan menanggualangi hipertensi. Orang yang tekanan darahnya normal
tetapi tdak melakukan aktivitas atau olahraga mempunyai risiko 20-50% lebih tinggi
terkena hipertensi dari pada orang yang aktif. Olahraga dapat menurunkan tekanan
darah sistolik dan diastolik 5-10 mmHg (ITB-WHO, 2001).
5) Berhenti merokok karena berdasarkan penelitian menunjukan bahwa penghentian
merokok dapat mencegah terjadinya penyakit kardiovaskuler seperti stroke dan infrak
miokard. Telah terbukti bahwa dengan mengkonsumsi satu batang rokok dapat terjadi
peningkatan denyut jantung dan tekanan darah selama 15 menit. Hal ini disebabkan
oleh peningkatan kadar katekolamin dalam plasma yang kemudian menstimulasi saraf
simpatik (Aulia, 2008)
2.2 KEPATUHAN
2.2.1 Pengertian
Kepatuhan adalah derajat dimana pasien mengikuti anjuran klinis dari dokter yang
mengobatinya (Caplan dkk, 1997). Kepatuhan berasal dari kata patuh yaitu suka
menurut perintah, taat kepada perintah/aturan dan disiplin yaitu ketaatan melakukan
sesuatu yang dianjurkan atau yang ditetapkan (kamus Besar Bahasa Indonesia).
Menurut Haynes (1997), kepatuhan adalah secara sederhana sebagai perluasan
perilaku individu yang berhubungan dengan minum obat, mengikuti diet dan
merubah gaya hidup yang sesuai dengan petunjuk medis.
Dalam beberapa penelitian (Dimatteo dan Dinicola, 1986; Thorne, 1990;
Kyngas, 1995 dalam Cameron 1999) didiskusikan bahwa faktor-faktor yang
berhubungan dengan kepatuhan dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal meliputi karakteristik penderita seperti usia, latar
belakang sosial, nilai, sikap dan emosi yang disebabkan oleh penyakit. Faktor
eksternal meliputi dampak pendidikan kesehatan, hubungan antara penderita dengan
petugas kesehatan dan dukungan dari keluarga, petugas kesehatan dan teman
sedangkan menurut Niven (2002) Faktor-faktor yang berhubungan antara
ketidakpatuhan dikelompokan menjadi 4 bagian yaitu: pemahaman tentang instruksi;
kualitas interaksi; antara professional kesehatan dan pasien; isolasi sosial dan
keluarga serta keyakinan, sikap dan kepribadian. Kepatuhan akan meningkat secara

14

umum bila instruksi pengobatan jelas, hubungan obat terhadap penyakit jelas,
pengobatan yang teratur serta adanya keyakinan bahwa kesehatannya akan pulih,
petugas kesehatan yang menyenangkan dan berwibawa, dukungan sosial pasien, efek
obat minimum, pengobatan sederhana, harga terjangkau, serta hubungan baik antara
petugas kesehatan dengan pasien (Dudley, D.L dalam Mardiana, 2004) Shea et al.
(1992) dalam Kyngas (1999) yang melakukan penelitian tentang kepatuhan pasien
dengan pengobatan melaporkan bahwa, kepatuhan laki-laki lebih buruk dibandingkan
perempuan. Penelitian juga melaporkan bahwa orang yang tidak bekerja
kepatuhannya lebih buruk dari yang bekerja (Carlberg, 1993, dan Lindquist ey al.
1997 dalam Kyngas).
Hubungan status ekonomi yang rendah terhadap ketidakpatuhan dilaporkan
dalam penelitian. Dua faktor yang memperlihatkan penurunan kepatuhan akibat status
ekonomi (Hellenbrandt, 1983). Pertama, seseorang yang status ekonomi rendah
memerlukan

waktu

yang

lama

untuk

menunggu

sebelum

dan

selama

ketetapan/pengobatan di klinik. Kedua, adanya kurang konsisten dan berkelanjutan


hubungan pasien dan dokter.
2.2.2 Cara Mengukur Kepatuhan
Beberapa ahli mengemukakan cara mengukur kepatuhan berobat antara lain
pengukuran kepatuhan berobat yang dinyatakan oleh Sacket, dkk (1985) dan Sarafino
(1990). Sacket, dkk (1985) menyatakan bahwa kepatuhan berobat dapat diketahui
melalui 7 cara yaitu: keputusan dokter yang didasarkan pada hasil pemeriksaan,
pengamatan terhadap jadwal pengobatan, penilaian pada tujuan pengobatan,
perhitungan jumlah tablet/pil pada akhir pengobatan, pengukuran kadar obat dalam
darah dan urin, wawancara pada pasien dan pengisian formulir khusus.
Pernyataan Sarafino (1990) hampir sama dengan Sacket yaitu kepatuhan
berobat pasien dapat diketahui melalui tiga cara yaitu perhitungan sisa obat secara
manual, perhitungan sisa obat berdasarkan suatu alat elektronik serta pengukuran
berdasarkan biokimia (kadar obat) dalam darah/urin).

15

BAB III
KERANGKA KONSEP TEORI
Berdasarkan modifikasi teori Lawrence W. Green, W. Kreuter (2005), dan
Departemen Kesehatan (2008) mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan
dengan tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat antihipertensi, maka terbentuklah
kerangka teori seperti gambar 2.5

Faktor predisposisi
Umur
Jenis kelamin
Sosioekonomi
Pendidikan
Nilai
Sikap
Kepercayaan
Faktor pemungkin
Tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat antihipertensi
Ketersediaan sumber daya kesehatan
Keterjangkauan sumber dya kesehatan
Keterampilan petugas kesehatan
Gambar 2.5 Kerangka Teori
Modifikasi Teori Lawrence W. Green, W. Kreuter (2005), dan
Departemen kesehatan (2008)
BAB IV
Faktor pendorong
METODE
PENELITIAN
Sikap dan perilaku petugas kesehatan
Kelompok atau teman sebaya
Orang tua,
dll Waktu Penelitian
4.1pekerja,
Tempat dan
Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kintamani I, Kecamatan
Kintamani, Kabupaten Bangli. Penelitian ini dilakukan mulai Mei sampai Juni 2013.
4.2 Rancangan Penelitian

16

Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif cross-sectional untuk mengetahui


tentang gambaran tingkat kepatuhan berobat pada pasien hipertensi serta faktor yang
mempengaruhinya di wilayah kerja Puskesmas Kintamani I, Kecamatan Kintamani,
Kabupaten Bangli.
4.3 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang datang berobat ke
Puskesmas Kintamani I, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli dalam kurun
waktu Februari hingga April 2013.
4.4 Besar dan Cara Pengambilan Sampel
4.4.1 Besar Sampel
2
Z pq
n 2
d
Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
n : besar sampel
Z : 1,96 (=0,05)
p : 32,7%
q : 1-p
d : 10% (penyimpangan absolut)
f : 10% (perkiraan drop out)
Jadi:
(1,96) 2 0,327 0,637
10% 2
n=
= 84,54
Karena jumlah populasi terbatas (<10.000), maka dilakukan koreksi dengan rumus :
n
nK=
n
1+
N
Dengan N= 95 dan n= 84,54, maka didapatkan :
84,54
nK=
84,54 = 44,73 ~ 45 orang
1+
95

17

Dari hasil perhitungan berdasarkan angka-angka tersebut di atas, diperoleh sampel


minimal sebesar 45 orang. Pada pelaksanaan penelitian, peneliti mengambil total
sampel sebesar 45 orang.
4.4.2 Cara pengambilan sampel
Sampel dalam penelitian ini yaitu semua pasien yang datang melakukan kontrol ulang
tekanan darahnya di Puskesmas Kintamani I. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah nonprobability sampling dengan cara accidental sampling. Peneliti
menggunakan semua pasien hipertensi yang sedang dalam pengobatan antihipertensi
yang datang ke Puskesmas Kintamani I. teknik ini digunakan karena data rekam
medis yang tersedia di puskesmas tidak mencantumkan alamat lengkap pasien, hanya
nama desa saja. Selain itu, cakupan wilayah kerja Puskesmas Kintamani cukup luas
dan akses ke beberapa desa sulit, sehingga peneliti memilih metode accidental
sampling.
4.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
4.5.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah:
1. Pasien dengan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau diastolik 90 mmHg
2. Pasien yang sedang menerima terapi antihipertensi
4.5.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah :
1. Sampel terpilih tidak bisa melakukan wawancara karena menderita penyakit
tertentu seperti kelainan mental.
2. Sampel terpilih yang berdomisili di daerah lain.
4.6 Responden Penelitian
Responden dalam penelitian ini adalah semua sampel yang terpilih dan memenuhi
kriteria inklusi. Responden diwawancarai di Puskesmas Kintamani I untuk menjawab
kuesioner yang telah disiapkan.
4.7 Variabel penelitian
1. Jenis Kelamin
2. Umur
3. Alamat
4. Tingkat pendidikan
5. Pekerjaan

18

6. Pendapatan
7. Diagnosis hipertensi
8. Kepatuhan
4.8 Definisi Operasional Variabel
1. Jenis kelamin
Jenis kelamin responden sesuai dengan kategori yang telah disediakan. Jenis
kelamin dikelompokkan menjadi laki-laki dan perempuan.
2. Umur
Usia yang ditanyakan pada responden/berdasarkan KTP dan dinyatakan dalam
tahun.
3. Alamat
Alamat tempat tinggal yang ditanyakan pada responden/berdasarkan KTP.
4. Tingkat pendidikan
Responden dapat berasal dari berbagai tingkat pedidikan yang dikategorikan
sebagai berikut:
-

Tingkat pendidikan rendah


Tingkat pendidikan sedang
Tingkat pendidikan tinggi

: tidak sekolah, lulusan SD, SMP


: lulusan SMA
: lulusan universitas

5. Pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan responden saat ini untuk mendapatkan penghasilan.
Pekerjaan yang ditanyakan pada responden, dikelompokkan menjadi pegawai
negeri, pegawai swasta, wiraswasta/dagang, petani, buruh, tidak bekerja, dan
pekerjaan lainnya. Yang digolongkan tidak bekerja disini adalah pensiunan, ibu
rumah tangga, dan penganguran.
6. Pendapatan
Klasifikasi pendapatan berdasarkan Bank Dunia 2007
-

Rendah
Sedang rendah
Sedang tinggi
Tinggi

7. Diagnosis hipertensi
Diagnosis hipertensi didasarkan pada hasil pemeriksaan tekanan darah
menggunakan sphygmomanometer air raksa merk Riester dan stetoskop merk
Littmann. Diagnosis dan stadium hipertensi yang didapatkan dari hasil
pengukuran tekanan darah berdasarkan JNC VII tahun 2004, dengan criteria
sebagai berikut:

19

Prahipertensi bila tekanan sistolik 120-139 mmHg, atau tekanan diastolik 80-

89 mmHg.
Hipertensi stadium satu bila tekanan sistolik 140-159 mmHg, atau tekanan

diastolik 90-99 mmHg.


Hipertensi stadium dua bila tekanan sistolik 160mmHg, atau tekanan
diastolik 100 mmHg.

8. Kepatuhan
Tingkat kepatuhan berobat pasien dengan terapi obat antihipertensi selama enam
bulan terakhir, dikategorikan sebagai berikut:
-

Patuh
Tidak patuh

: proporsi obat yang diminum 80%


: proporsi obat yang diminum < 80%

4.9 Alat Pengumpul Data


Pengumpulan data dilakukan cara wawancara menggunakan kuesioner yang berisi
pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan variabel-variabel yang diteliliti kepada
responden. Pertanyaan dalam kuesioner mudah dimengerti oleh responden sehingga
kuesioner tersebut dapat digunakan sebagai instrumen pada penelitian ini.
4.10 Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara pada setiap pasien
hipertensi yang sedang dalam terapi obat antihipertensi yang datang kontrol ke
Puskesmas Kintamani I. Wawancara dilakukan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan
yang terdapat dalam kuesioner dan dilakukan hingga jumlah sampel yang diinginkan
terpenuhi.
4.11 Analisis data
Data yang diperoleh kemudian diolah dengan bantuan komputer menggunakan
perangkat lunak komputer, kemudian data tersebut dianalisa secara deskriptif
kuantitatif.
4.11.1 Analisis Univariat
Merupakan analisis yang dilakukan terhadap tiap variabel dalam hasil penelitian.
Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi persentase dari tiap-

20

tiap variabel. Hasil analisis univariat akan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.
Data yang dianalisis secara univariat adalah karakteristik demografis pasien meliputi
jenis kelamin, kelompok umur, alamat, pekerjaan, dan pendapatan rata-rata per bulan;
status hipertensi; karakteristik responden berdasarkan variabel yang berhubungan
dengan kepatuhan meliputi durasi hipertensi, waktu terakhir kontrol, lokasi kontrol,
jumlah jenis obat, dan alasan datang kontrol; kategori patuh minum obat dan status
kepatuhan responden; serta strategi dan kendala yang dialami dalam menjaga
kepatuhan minum obat.
4.11.2 Analisis Bivariat
Merupakan analisis yang dilakukan terhadap beberapa variabel dalam hasil
penelitian. Analisis dilakukan dengan menggunakan tabulasi silang antara dua
variabel yang relevan. Data yang dianalisis secara bivariat adalah kelompok umur,
alamat, pekerjaan, pendapatan rata-rata per bulan, status tekanan darah, durasi
hipertensi, dan jumlah jenis obat, yang disilangkan dengan status kepatuhan
responden.

BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Karakteristik Demografis Responden

21

Responden penelitian ini berasal dari kelompok penduduk berusia 22 tahun ke atas
yang telah memberikan persetujuan ikut serta dalam penelitian. Responden berasal
dari delapan desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Kintamani I. Responden
diambil sebanyak 45 orang. Sebagian besar responden diwawancarai di puskesmas
masing-masing mulai tanggal 8 Juni sampi dengan 13 Juni 2013. Berdasarkan
wawancara dan pemeriksaan yang dikerjakan diperoleh karakteristik demografis
responden meliputi jenis kelamin, umur, alamat, pekerjaan, dan pendapatan rata-rata
per bulan.
Tabel 5.1. Karakteristik Demografis Responden meliputi Jenis Kelamin, Umur,
Alamat, Pekerjaan, dan Pendapatan Rata-Rata per Bulan
No.
1.

2.

3.

Karakteristik Responden
Jenis Kelamin

Frekuensi

Persentase

Laki-laki

20

44,4%

Perempuan

25

55,6%

Total
Kelompok Umur

45

100,0%

Muda

2,2%

Dewasa akhir

10

22,2%

Lansia awal

17,8%

Lansia akhir

12

26,7%

Manula

14

31,1%

Total
Alamat

45

100,0%

Desa Batur Selatan

24

53,3%

Desa Batur Tengah

8,9%

Desa Batur Utara

15,6%

Desa Kintamani

20,0%

Desa Langgahan

2,2%

Total

45

100,0%

22

Pekerjaan
Pegawai Negeri

2,2%

Pegawai Swasta

2,2%

Wiraswasta/Dagang

20,0%

Petani

14

31,1%

Buruh

8,9%

Tidak Bekerja

15

33,3%

Lainnya

2,2%

Total
Pendapatan rata-rata per bulan

45

100,0%

Pendapatan Rendah

32

71,1%

Pendapatan Sedang

12

26,7%

Pendapatan Tinggi
Total

1
45

2,2%
100%

Dari data di atas didapatkan bahwa jumlah responden perempuan lebih


banyak dari responden laki-laki. Dari kelompok umur, sebagian besar responden
berada dalam kelompok umur manula ( 66 tahun), dengan median umur 58 tahun.
Umur termuda responden adalah 22 tahun, sementara umur tertinggi responden
adalah 91 tahun. Responden paling banyak berasal dari Desa Batur Selatan dan paling
sedikit berasal dari Desa Langgahan. Sedangkan dari pekerjaan, responden paling
banyak digolongkan tidak bekerja, dimana yang termasuk tidak bekerja disini adalah
para pensiunan, ibu rumah tangga, dan pengangguran. Berdasarkan pendapatan ratarata per bulan, responden paling banyak berasal dari golongan pendapatan rendah.
5.2 Status Hipertensi Responden
Pada penelitian ini, diagnosis hipertensi didasarkan pada hasil pemeriksaan tekanan
darah menggunakan sphygmomanometer air raksa merk Riester dan stetoskop merk
Littmann. Diagnosis dan stadium hipertensi yang didapatkan dari hasil pengukuran
tekanan darah berdasarkan JNC VII tahun 2004.
Tabel 5.2. Status Hipertensi Responden
No.

Status Hipertensi

Frekuensi

Persentase

23

1.

Tekanan darah terkontrol

8,9%

Hipertensi derajat 1

26

57,8%

Hipertensi derajat 2

15

33,3%

Total

45

100%

Dari data yang diperoleh dalam status hipertensi, didapatkan sebagian besar
responden menderita hipertensi derajat 1.
5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Variabel yang Berhubungan dengan
Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi
Tabel 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Variabel yang Berhubungan dengan
Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi.
No.
1

3.

4.

5.

Variabel
Durasi Hipertensi

Frekuensi

Persentase

< 1 Tahun

15,6%

1-5 Tahun

24

53,3%

6-10 Tahun

17,8%

> 10 Tahun

13,3%

Total
Waktu Terakhir Kontrol

45

100%

7 Hari

25

55,6%

8-14 Hari

10

22,2%

> 14 Hari
Total
Lokasi Kontrol

10
45

22,2%
100%

Puskesmas

45/45

100%

Rumah Sakit

5/45

11,1%

Praktek Dokter Spesialis


Total
Jumlah Jenis Obat

4/45
45

8,9%
100%

1 jenis

35

77,8%

2 jenis
Total
Alasan Datang Kontrol

10
45

22,2%
100%

Obat Habis

29

64,4%

Merasakan Gejala

15

33,3%

24

Lain-lain
Total

1
45

2,2%
100%

Dari data yang diperoleh didapatkan bahwa durasi hipertensi terbanyak


diderita responden selama 1-5 tahun. Waktu terakhir kontrol responden terbanyak
terletak pada 7 hari. Seluruh responden datang kontrol ke puskesmas karena
penelitian dilakukan di pukesmas, sementara jumlah responden yang berkunjung ke
tempat pelayanan kesehatan lain jumlahnya tidak signifikan. Sebagian responden
mendapatkan satu jenis obat yaitu Captopril. Alasan terbanyak responden datang ke
tempat kontrol adalah karena obat habis.

5.4 Kepatuhan Minum Obat


Pada penelitian ini, kepatuhan minum obat responden dinilai berdsarkan tiga poin,
yaitu, obat diminum sampai habis, obat diminum sesuai jadwal, dan datang control
sesuai jadwal. Apabila ketiga poin tersebut dijawab ya, maka responden tergolong
dalam kelompok patuh. Apabila satu atau lebih poin dijawab tidak maka responden
tergolong dalam kelompok tidak patuh.
Tabel 5.4.1 Kategori Patuh Minum Obat
No.
1

Kategori Patuh Minum Obat


Obat Habis

35/45

77,8%

Obat Sesuai Jadwal

35/45

77,8%

Kontrol Sesuai Jadwal


Total

27/45
45

60,0%
100%

Frekuensi

Persentase

Patuh

26

57,8%

Tidak patuh

19

42,2%

Total

45

100%

Tabel 5.4.2 Status Kepatuhan Minum Obat Responden.


No.
1

Status Kepatuhan
Kepatuhan Minum Obat

Dari data didapatkan bahwa 57,8% responden patuh dalam meminum obat
antihipertensi.

25

Tabel 5.4.3 Kepatuhan Konsumsi Obat Antihipertensi Berdasarkan Karakteristik


Responden dan Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan
No.

Variabel
Ya

1.

2.

3.

Kepatuhan
Tidak

Total

Kelompok Umur
< 60 tahun

12 (48,0%)

13 (52,0%)

25 (100,0%)

60 tahun

14 (70,0%)

6 (30,0%)

20 (100,0%)

Dekat

24 (60,0%)

16 (40,0%)

40 (100,0%)

Jauh

2 (40,0%)

3 (60,0%)

5 (100,0%)

15 (62,5%)

9 (37,5%)

24 (100,0%)

11 (52,4%)

10 (47,6%)

21 (100,0%)

Pendapatan rendah

17 (53,1%)

15 (46,9%)

32 (100,0%)

Pendapatan sedang + tinggi


Status Tekanan Darah

9 (69,2%)

4 (30,8%)

13 (100,0%)

Tekanan darah terkontrol

3 (75,0%)

1 (25,0%)

4 (100,0%)

Hipertensi derajat 1

14 (53,8%)

12 (46,2%)

26 (100,0%)

Hipertensi derajat 2
Durasi Hipertensi

9 (60,0%)

6 (40,0%)

15 (100,0%)

5 tahun

18 (58,1%)

13 (41,9%)

31 (100,0%)

> 5 tahun

8 (57,1%)

6 (42,9%)

14 (100,0%)

Alamat

Pekerjan
Bekerja dalam ruangan +
tidak bekerja

4.

Bekerja luar ruangan


Pendapatan rata-rata per
bulan

5.

6.

26

7.

Jumlah Jenis Obat


1 jenis
2 jenis

22 (48,9%)

13 (28,9%)

35 (77,8%)

4 (8,9%)

6 (13,3%)

10 (22,2%)

Dari tabel didapatkan bahwa respoden dengan umur 60 tahun lebih patuh
dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Alamat responden dalam tabel ini
dikategorikan menjadi dekat dan jauh. Alamat yang tergolong dekat adalah Desa
Batur Selatan, Desa Batur Utara, dan Desa Kintamani. Sementara desa lainnya
digolongkan dalam kategori jauh. Didapatkan bahwa responden yang tinggal dekat
dengan puskesmas lebih patuh dalam minum obat antihipertensi. Berdasarkan
pekerjaan, responden bekerja di dalam ruangan dan tidak bekerja lebih patuh dalam
mengonsumsi obat antihipertensi. Responden yang memiliki pendapatan sedang dan
tinggi lebih patuh dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Menurut status tekanan
darah saat wawancara, responden yang memiliki tekanan darah terkontrol lebih patuh
dalam minum obat antihipertensi. Responden yang sudah terdiagnosis hipertensi
selama 5 tahun lebih patuh dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Responden
yang mendapatkan obat satu jenis lebih patuh dalam mengonsumsi obat
antihipertensi. Sedangkan responden yang lebih tidak patuh dalam kelompok jumlah
jenis obat juga berasal dari responden yang mendapat satu jenis obat.
5.5 Strategi dalam Menjaga Kepatuhan Minum Obat
Tabel 5.5 Strategi dalam Menjaga Kepatuhan Minum Obat
No.
1.

2.

Strategi Patuh Minum Obat


Alasan Rajin Minum Obat
Ingin Cepat Sembuh

Frekuensi

Persentase

25/26

96,2%

Takut Komplikasi

19/26

73,1%

Dukungan Keluarga
Total
Cara Menjaga Minum Obat Tepat Waktu

14/26
26

53,8%
100%

15/26

57,7%

7/26

26,9%

15/26

57,7%

Kesadaran sendiri
Alarm/pengingat
Minta

bantuan

mengingatkan

orang

lain

untuk

27

Total

26

100%

Data ini didapatkan dari 26 responden yang tergolong dalam patuh minum
obat. Alasan terbanyak responden rajin minum obat adalah karena ingin cepat
sembuh. Sementara, cara terbanyak agar responden dapat minum obat tepat waktu
adalah karena kesadaran sendiri dan minta bantuan orang lain untuk mengingatkan.
5.6 Kendala yang Dialami dalam Menjaga Kepatuhan Minum Obat
Tabel 5.6 Kendala yang Dialami dalam Menjaga Kepatuhan Minum Obat
No.
1.

2.

Kendala Minum Obat


Penghambat Minum Obat
Obat terlalu banyak

Frekuensi

Persentase

5/19

26,3%

Lupa

19/19

100,0%

Ada efek samping obat

4/19

21,1%

Tidak ada keluhan


Total
Penghambat Kontrol

10/19
19

52,6%
100%

Tidak ada yang mengantar

5/19

26,3%

Sibuk bekerja

12/19

63,2%

Tidak ada biaya

2/19

10,5%

Merasa diri sehat


Total

16/19
19

84,2%
100%

Data ini didapatkan dari 19 responden yang tergolong dalam tidak patuh
minum obat. Seratus persen responden mengatakan bahwa penghambat minum obat
yang utama adalah karena lupa. Penghambat kontrol terbanyak adalah karena
responden merasa sehat, yaitu sebanyak 84,2%.

28

BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Pembahasan Hasil Penelitian
Pada penelitian ini didapatkan jumlah responden yang patuh minum obat
antihipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kintamani I sejumlah 57,8% dari
keseluruhan reponden. Hal ini hampir sama dengan studi yang dilaksanakan oleh
Elzubier dan Husein mengenai kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di
Kassala, Sudan Timur, yaitu sebanyak 59,6% responden patuh minum obat
antihipertensi (Elzubier dkk, 2000). Respoden dengan umur 60 tahun lebih patuh
dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Sama seperti penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Amal dkk, sebanyak 65,9% responden yang patuh berasal dari
kelompok umur > 65 tahun (Mehza dkk, 2009). Didapatkan bahwa responden yang
tinggal dekat dengan puskesmas lebih patuh dalam minum obat antihipertensi. Studi
sebelumnya yang dilakukan oleh Elzubier juga menyatakan bahwa semakin jauh
rumah responden dari tempat pelayanan kesehatan, maka semakin tidak patuh
responden tersebut (Elzubier dkk, 2000). Hal ini dikarenakan masalah transportasi
dan kendala dalam yang mengantar. Berdasarkan pekerjaan, responden bekerja di
dalam ruangan dan tidak bekerja lebih patuh dalam mengonsumsi obat antihipertensi.

29

Responden yang bekerja di luar uangan memiliki aktifitas fisik yang lebih tinggi,
sehingga risikonya untuk terkena hipertensi lebih tinggi (Adam S, 2009). Responden
yang memiliki pendapatan sedang dan tinggi lebih patuh dalam mengonsumsi obat
antihipertensi. Responden yang memiliki pendapatan lebih tinggi lebih memiliki
biaya untuk menjalani pengobatan (Edlund, 2001). Responden yang sudah
terdiagnosis hipertensi selama 5 tahun lebih patuh dalam mengonsumsi obat
antihipertensi. Responden yang mendapatkan obat satu jenis lebih patuh dalam
mengonsumsi obat antihipertensi. Sedangkan responden yang lebih tidak patuh dalam
kelompok jumlah jenis obat juga berasal dari responden yang mendapat satu jenis
obat. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Elzubier yang menyatakan
bahwa semakin lama responden menderita hipertensi dan semakin banyak regimen
obat yang didapatkan maka semakin tidak patuh responden dalam mengonsumsi obat
antihipertensi (Elzubier dkk, 2000).
Alasan terbanyak responden rajin minum obat adalah karena ingin cepat
sembuh. Sementara, cara terbanyak agar responden dapat minum obat tepat waktu
adalah karena kesadaran sendiri dan minta bantuan orang lain untuk mengingatkan.
Seratus persen responden mengatakan bahwa penghambat minum obat yang utama
adalah karena lupa. Penghambat kontrol terbanyak adalah karena responden merasa
sehat, yaitu sebanyak 84,2%. Studi terdahulu yang dilakukan oleh Amal dkk di
Kuwait juga menunjukkan hal yang serupa, yaitu alasan utama pasien tidak patuh
minum obat adalah lupa (Mehza dkk, 2009). Melalui strategi minum obat dengan
meminta bantuan orng lain untuk mengingatkan dapat meningkatkan kepatuhan
sebesar 57,7%.
6.4 Kelemahan Penelitian
Adapun kelemahan dari penelitian ini adalah:
1. Pada penelitian ini tidak mencantumkan pengetahuan pasien mengenai hipertensi,
sehingga hasilnya masih dipengaruhi oleh pegetahuan responden terhadap
hipertensi.
2. Wawancara hanya dilakukan berdasarkan ingatan responden sehingga tidak
menutup kemungkinan terjadi bias dalam hasil penelitian.

30

BAB VII
PENUTUP
7.1 Simpulan
Adapun simpulan dari penelitian ini adalah angka kepatuhan minum obat
antihipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kintamani I adalah 26 dengan persentase
57,8%. Responden pada kelompok umur 65 tahun, yang jarak tempuhnya dekat
dengan puskesmas, bekerja di dalam rangan dan tidak bekerja, memiliki pendapatan
sedang dan tinggi, dengan hipertensi derajat I, yang sudah terdiagnosis hipertensi < 5
tahun, serta yang mendapatkan obat satu jenis cenderung lebih patuh dalam minum
obat antihipertensi. Strategi utama yang dilakukan responden dalam menjaga
kepatuhan minum obat adalah dengan minta bantuan orang lain untuk mengingatkan.
Sementara kendala yang dihadapi responden sehingga tidak patuh dalam minum obat
antihipertensi adalah akibat lupa dan merasa diri sehat.
7.2 Saran
7.2.1 Saran Kepada Pihak Puskesmas Kintamani I
1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang gambaran kepatuhan minum
obat antihipertensi serta strategi dan kendala yang dihadapi dalam menjaga
kepatuhan tersebut sehingga dapat meningkatkan peran keluarga dalam
memotivasi penderita hipertensi untuk minum obat dan kontrol secara rutin.
2. Menyusun strategi intervensi berupa KIE kepada pasien hipertensi dan
pendamping atau caregiver dari pasien untuk memantau pengobatan secara
teratur sehingga dapat mencegah komplikasi dan mengadakan penyuluhan
terhadap masyarakat tentang pentingnya kepatuhan minum obat antihipertensi
secara rutin.

31

3. Meningkatkan keterampilan staf dalam melakukan registrasi kasus hipertensi


sehingga tidak terjadi penggandaan pencatatan.

7.2.2 Saran Kepada Pembaca


1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk mengatahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi serta strategi dan
kendala yang dialami dalam menjaga kepatuhan tersebut.
2. Penulis jug menyarankan kepada pembaca yang menderita hipertensi untuk patuh
minum obat antihipertensi.

DAFTAR PUSTAKA

Adam S. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pasien Penderita


Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan di RSU H. Adam Malik. 2009. Available at:
http://eprints.undip.ac.id/4276/1/908.pdf

32

Arif, M. kapita selekta kedokteran jilid I1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius, 2005.
Baune BT, Aljeesh YI, Bender R. The impact of non-compliance with the therapeutic
regimen on the development of stroke among hypertensive men and women in
Gaza, Palestine. Saudi Med J. 2004;25:16838.
Cameron, H. Patient compliance recognition of factor involved and suggestion for
promoting compliance with therapeutic regimen, journal of advance nursing,
1999.
Caplan NM. clinical hypertension, 8 Ed. Lippincott: williamas dan Wilkins, 1997.
DepartemenKesehatan RI. RisetKesehatanDasar 2007. LaporanNasional 2007
[internet].

2011

[cited

March

7th

2011].

Available

from:

http://www.scribd.com/doc/25886294/Riskesda-laporanNasional.
Elzubier et al. Drug Compliance among Hipertensive Patient in Kassala, Eastern
Suddan. Eastern Mediteranian Health Journal, vol 6, no 1, 2000.
Enlund H,Jokisalo E, Wallenius S and Korhonen M. Patient-perceived problems,
compliance, and the outcome of hypertension treatment. Pharm World Sci.
2001;23(2):60-4.
Etaro JF, Black HR. Refractory hypertension. N Engl J Med. 1992;327:5437.
Green, Lawrance W, Kreuter, Marshall. Health program planning an educational and
ecological approach. New York: The McGraw Hill Companies, 1998.
Hull, Alison. Penyakit jantung, hipertensi dan nutrsi. Bumi Aksara. Jakarta, 1996.
Hitchcock, J.E. Schubert, P.E., & Thomas, S.A, Community Health Nursing: Caring
in Action, New York : Delmar Publishers, 1999.
Hyman DJ, Pavlik VN. Characteristics of patients with incompliant hypertension in
the United States. N Engl J Med. 2001;345:47986.
ITB-WHO. Pengendalian Hipertensi-laporan komisi pakar WHO. Bandung; Penerbit
ITB: 1-28, 61-90, 2001.
Kabir et al. Compliance to medication among hypertensive patients in Murtala
Mohammed Specialist Hospital, Kano, Nigeria. Journal of Comm Med & Prim
Health Care 16 (1) 16-20.
Mehza A et al. Drug Compliance Among Hypertensive Patients; an Area Based Study.
Eur J Gen Med 2009;6(1):6-10.
Powers AC. Hypertension. In: Kasper DL, Braunwald E, editors. Harrisons principle
of internal medicine. 16th Ed. New York: McGraw-Hill; 2005. p. 2152-80.

33

Purwanti.

Hipertensi

patuh

minum

obat

cegah

cegah

komplikasi.

http://warnalangitku.blogspot.com/2008/09/hipertensi-patuh-minum-obatcegah.html 2008.
Sani, Aulia. Hypertension Current Perspective, Jakarta; Medya Crea, 2008.
The 7th Report on the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation
and Treatment of High Blood Pressure. US Department of Health and Human
Services. National Institute of Health, National Heart, Lung and Blood Institute
NIH Publication No. 04-2530; 2003.