Anda di halaman 1dari 31

Bunga Matahari

(Helianthus annuus L.)


Nama umum :
Indonesia : Bunga matahari.
Inggris : Sunflower.
Pilipina : Mirasol.
Cina : Xiang ri kui.
Jepang : Himawari, koujitsuki.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Helianthus
Spesies : Helianthus Annuus L.
Bunga matahari adalah tumbuhan semusim dari suku kenikir-kenikiran
(Asteraceae) yang populer, baik sebagai tanaman hias maupun tanaman
penghasil minyak.
Bunga Matahari memiliki perilaku khas, yaitu bunganya selalu menghadap
ke arah matahari atau heliotropisme. Pada hari yang cerah, tandan bunga
majemuk mengikuti pergerakan harian Matahari (asal nama tumbuhan
ini), yang gejalanya disebut heliotropisme.
Tumbuhan mendapat keuntungan 10% lebih fotosintesis karena
pergerakan ini.
Orang Perancis menyebutnya tournesol atau pengelana Matahari.
Namun, sifat ini disingkirkan pada berbagai kultivar baru untuk produksi
minyak karena memakan banyak energi dan mengurangi hasil.
Deskripsi Tanaman
Akar,
Akar tunggangnya kuat dan dalam dengan banyak akar samping.
Batang,
Herba yang umumnya kurang dari setahun ini tumbuhnya tegak tetapi
agak melengkung pada tanaman dewasa dengan tinggi 1-3 meter,
berbatang basah dan berbulu (ditumbuhi rambut kasar).
Jenis yang liar mempunyai banyak percabangan sedang pada kultivar
yang dibudiayakan agak jarang percabangannya.

Daun,
Daunnya tunggal dan lebar. Daunnya menjantung dan berhadapan, daun
yang lebih besar menjadi bundar telur dan berseling dalam spiral. Helaian
daun menjantung hingga membundar telur, tepinya bergerigi, kedua
sisinya ditutupi bulu yang berkelenjar dan ada juga yang tanpa kelenjar.
Perbungaan,
Bunganya besar dengan mahkota berbentuk pita kuning di sepanjang
cawannya, kadang-kadang jatuh menjuntai karena beratnya, cawannya
datar, cekung dan cembung berbulu, ditengahnya teredapat bunga- bunga
kecil berwarna coklat. Bunga tumbuhan ini sangat khas : besar, daun
mahkota menjorong biasanya berwarna kuning terang, dengan kepala
bunga yang besar (diameter bisa mencapai 30cm), bunga ini sebetulnya
adalah bunga majemuk, tersusun dari ratusan hingga ribuan bunga kecil
pada satu bongkol. Bagian dalam bunga dapat dikupas dan dibuka. Bunga
tersusun majemuk,
Terdapat dua tipe bunga : bunga tepi atau bunga lidah yang membawa
satu kelopak besar berwarna kuning cerah dan steril, dan bunga tabung
yang bisexual, tersusun spiral melingkar dari pusat bonggol, fertil dan
menghasilkan biji.
Bunga tabung ini jumlahnya bisa mencapai 2000 kuntum dalam satu
tandan bunga. Penyerbukan terbuka (silang) dan dibantu oleh serangga.
Buah,
Buahnya bertipe buah kurung (achene). Buahnya seperti cawan, bundar
telur, agak menyegi empat dengan ujung rompong, dengan pangkal
membulat, bervariasi ukuran dan warnanya, warna putih, krem, coklat,
ungu, hitam, atau putih abu-abu dengan garis hitam.
Buah kering berdinding agak keras dan tak terlalu tebal ini sering
disangka biji bunga Matahari, karena memang tidak dapat dengan
mudah dibedakan.
Biji,
Biji yang sesungguhnya terletak di dalam bunga matahari, terlindung oleh
buah yang serupa tempurung. Biji dengan kulit biji tipis, satu lapisan
endosperma, embrio lurus yang umumnya terdiri atas 2 biji.

HABITUS

Helianthus annuus merupakan tanaman herba yang hidupnya semusim yang


rata-rata umurnya setahun. Tingginya sekitar 75-200 cm (Suryowinoto,2001)
kadang-kadang dapat mencapai 3m (Dalimartha,1999). Helianthus annuus
merupakan tanaman herba semusim dengan kepala bunga yang besar
(inflorescence). Helianthus annuus berbatang herbaceus, tumbuh tegak setinggi
1 sampai 3 meter. Seluruh permukaan batang kasar, memiliki bulu dan
bertangkai panjang. Helaian daun berwarna hijau, berbentuk jantung, ujungnya
runcing, panjang 10-25 cm (Sutarni, 1997 ; Rukmana, 2004). Bentuk batang
bulat berongga. Daunnya mempunyai tepi rata (integer). Bunganya merupakan
bunga majemuk berbentuk cawan (corymbus atau anthodium). Helianthus
annuus memiliki barisan anak-anak bunga (floret) berupa pita-pita berwarna
kuning krom pada pinggir bundaran bunga sebelah dalamnya. (Dalimartha,
1999).

Di tengah cawan itu terdapat bunga bunga kecil bentuk tabung dengan warna
coklat. Bila dibuahi, bunga-bunga kecil ini menjadi biji-bijinya yang berwarna
hitam bergaris-garis putih dan berkumpul di cawannya, Bila sudah matang, bijibiji ini mudah dilepaskan dari cawannya Helianthus annuus memiliki sistem
perakaran tunggang (Sutarni, 1997 ; Rukmana, 2004)

B.

HABITAT

Bunga Matahari berasal dari Amerika Utara. Tanaman ini dapat hidup dengan
baik di tempat-tempat terbuka atau di tempat yang sedikit terlindung dari sinar
matahari, baik didataran rendah maupun didataran tinggi, yakni pada ketinggian
1-1000 m diatas permukaan laut (Suryowinoto, 2001), hingga ketinggian 1500
diatas permukaan laut (Rukmana, 2004). Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah
netral atau tanah dengan kandungan alkali rendah (Cristman,2000). Bunga
Matahari merupakan herba semusim yang tumbuh baik di tanah alluvial dengan

kelembapan yang cukup dan tidak dilindungi tanaman lain sehingga mendapat
sinar matahari yang cukup (Lembaga Biologi Nasional, 1980).

Helianthus annuus merupakan tumbuhan tropika, mempunyai suhu udara antara


20C-30C kelembaban udara (rH) antara 50%-80%, curah hujan antara
1000mm-3000mm / tahun dan merata sepanjang tahun. Tanah yang ideal untuk
tumbuh adalah tanah pasir atau lempung berpasir dengan tekstur gembur,
mempunyai PH 6,5-7,5 dan sistem drainasenya baik. Helianthus annuus
termasuk tanaman berhari panjang (long day plant) karena membutuhkan
intensitas cahaya matahari yang tinggi dan cukup lama sehingga lokasi
penanaman harus di tempat terbuka atau cukup mendapatkan sinar matahari
kebutuhan sinar matahari rata-rata lebih dari 10 jam perhari. (Rukmana,2004).

BAB IV

DESCRIPTIO

A.

1.

ORGANUM NUTRITIVUM

Daun (folium)

Helianthus annuus memiliki tipe daun tunggal (folium simplex) dengan


kedudukan daun (folium) berhadap-hadapan serta berseling-seling. Daun bagian
bawah letaknya berhadapan, namun lebih ke atas kedudukannya bersusun
dalam bentuk spiral. Termasuk daun lengkap karena memiliki upih daun (vagina),
tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Upih daun (vagina) berbulu.
Tangkai daun (petiolus) berbentuk silinder dengan sisi agak pipih dan menebal
pada pangkal, panjang 10-15 cm dan berwarna coklat kehijauan. Helaian daun
(lamina) berbentuk jantung (cordatus). Ujung daun (apex) runcing (acutus) dan
pangkal daun (basis folii) berlekuk (emerginatus) susunan tulang daun (nervatio)
menjari (palminervis). Tepi daun (margo folii) bergerigi (serratus). Daging daun
(intervenium) seperti kertas (hartaceus). Warna daun (folium) pada permukaan
atas hijau dan permukaan bawah berwarna hijau muda. Permukaan daun bagian
atas dan bawah kasap (scaber). (Tjitrosoepomo, 2003 ; Rukmana 2004).

2.

Batang (caulis)

Helianthus annuus berbatang basah (herbaceus) dengan arah tumbuh tegak


(erectus) setinggi 0,3 hingga 5 meter berbentuk bulat dan berongga. Memiliki
batang pokok satu atau bercabang. Pada batang pokok satu, apabila dipotong
pucuknya dapat bercabang dua atau lebih dan membentuk bunga kepala dua
atau lebih. Batang (caulis) agak mengayu dengan bagian dalam kosong. Seluruh
permukaan batang berkulit kasar dan berbulu (pilosus). Memiliki tipe
percabangan monopodial dengan arah tumbuh cabang condong ke atas
(patens). Seluruh batang berwarna hijau (Tjitrosoepomo, 2003 ; Rukmana 2004).

3.

Akar (radix)

Helianthus annuus memiliki sistem perakaran tunggang (radix primaria) dengan


banyak percabangan. Akarnya berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke
bawah. Percabangannya tersebut dapat bercabang-cabang lagi sehingga dapat
memberikan kekuatan pada batang dan daerah perakarannya lebih luas. Akar
terdiri dari bagian leher akar (colum), ujung akar (apex radicis) batang akar
(corpus radicis), cabang-cabang akar (radix lateralis), serabut akar (fibrilla
radicalis), rambut-rambut akar (pilus radicalis), tudung akar (calyptra).
Helianthus annuus memiliki akar pancar mencapai 3 meter dalamnya.
Perakarannya halus, tebal dan mendatar (Tjitrosoepomo, 2003; Rukmana 2004).

B.

ORGANUM REPRODUKTIVUM

1.

Bunga (flos)

Helianthus annuus memiliki bunga yang terbentuk pada akhir batang pokok (flos
terminalis) atau pada akhir cabang dan termasuk bunga majemuk tak terbatas
(inflorescentia racemosa) yang tersusun seperti cawan (corymbus atau
anthodium) sehingga disebut bunga cawan dengan diameter antara 10-36 cm
(Suryowinoto, 2001) dan antara 7,5-35 cm (Tjitrosoepomo, 2003). Bunganya ini
dapat bertahan hingga satu minggu bahkan lebih (Allen, 1987).

Terdapat dua jenis bunga yaitu bunga pita dan bunga tabung. Bunga pita
merupakan bunga yang mandul yang terdapat di tepi cawan sehingga disebut
bunga tepi (flos marginalis) Bunga pita memiliki mahkota berbentuk pita
sehingga disebut flos ligulatus. Bunga pita tidak dapat menghasilkan biji atau
buah karena didalamnya hanya terdapat alat kelamin betina. Bunga tabung (flos
disci) terletak diatas cawan dan berbentuk tabung. Bunga tabung merupakan
bunga banci (gynostemium) karena memiliki 2 alat kelamin yaitu benang sari
dan putik. Bunga tabung dapat menghasilkan buah atau biji (Tjitrosoepomo,
2003; Rukmana, 2004).

2.

Biji (semen)

Helianthus annuus memiliki biji (semen) berwarna putih keabu-abuan hingga


hitam atau hitam putih dan berbentuk lonjong. Terdiri dari kulit biji
(spermodermis) yang berwarna putih keabu-abuan, tali pusar (cotyledon)
berkeping dua yang berisi aluron. Biji (semen) berkumpul di dalam cawan. Bila
sudah matang, biji (semen) ini mudah dilepaskan dari cawannya. Biji (semen)

Helianthus annuus dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan yaitu kwaci.


(Tjitrosoepomo, 2003; Rukmana, 2004).

3.

Buah (fructus)

Pada tanaman Helianthus annuus biji (semen) sekaligus sebagai buah (fructus)
(Tjitrosoepomo, 2003; Rukmana, 2004).

Rona Lastikasari's blog


Selamat Datang Di Blog Ku Kawan :D
Jumat, 24 Mei 2013

Morfologi Tumbuhan ( Bunga )


BUNGA( FLOS )
Alat perkembangbiakan pada tumbuhan dibedakan dalam dua golongan, yaitu yang
bersifat vegetatif dan yang generatif. Alat perkembangbiakan generatif tersebut bentuk dan
susunannya berbeda-beda menurut jenis tumbuhan, tetapi bagi tumbuhan yang berbiji, alat
tersebut lazimnya merupakan bagian tumbuhan yang kita kenal sebagai bunga. Pada bunga
inilah terdapat bagian-bagian yang setelah terjadi peristiwa persarian (penyerbukan) dan
pembuahan akan menghasilkan bagian tumbuhan yang disebut buah, yang di dalamnya
terkandung biji dan biji inilah yang nantinya akan tumbuh menjadi tumbuhan baru.
Jumlah Bunga dan tata letaknya pada suatu tumbuhan
Menurut tempatnya pada tumbuhan bunga dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Bunga pada ujung batang (flos terminalis) contohnya kembang merak
2. Bunga diketiak daun (flos lateralis) contohnya kembang sepatu
Menurut jumlahnya pada tumbuhan bunga dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Tumbuhan berbunga tunggal
Tumbuhan yang hanya mempunyai satu bunga saja dinamakan tumbuhan berbunga
tunggal (planta uniforal). Sedangkan lainnya tumbuhan berbunga banyak (planta
multifloral). Bunga pada umumnya mempunyai bagian-bagian yang terdiri dari :
a. Tangkai bunga (pedicellus)
b. Dasar bunga (receptaculum)
c. Hiasan bunga (perianthium)
d. Alat-alat kelamin jantan (androecium)
e. Alat-alat kelamin betina (gynaecium)
Bagian-bagian hiasan bunga pada umumnya tersusun dalam lingkaran, yaitu :
1. Kelopak (calyx)
2. Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla)
Pada suatu bunga sering kita dapati tidak ada hiasan bunganya. Bunga yang demikian
dinamakan bunga telanjang (flos nudus), atau hiasan bunga yang tidak adapat dibedakan
dalam kelopak atau mahkotanya, dengan kata lain kelopak dan mahkota sama baik bentuk
dan warnanya. Hiasan bunga yang demikian dinamakan tenda bunga (perigonium).

1.
2.
3.
4.

Berdasarkan bagian-bagian yang terdapat pada bunga kecuali tangkai dan dasar
bunga, maka bunga dapat dibedakan dalam :
1. Bunga lengkap atau bunga sempurna (flos completus)
2. Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos in-completus)
Bunga adalah penjelmaan suatu tunas (batang dan daun-daun) yang bentuk, warna,
dan susunannya disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan, sehingga pada bunga ini dapat
berlangsung penyerbukan dan pembuahan, dan akhirnya dapat dihasilkan alat-alat
perkembangbiakan. Sifat-sifat bunga yang amat menarik, yaitu :
Bentuk bunga seluruhnya dan bentuk bagian-bagiannya.
Warnanya.
Baunya.
Ada dan tidaknya madu ataupun zat lain.

2.Tumbuhan Berbunga Banyak


Suatu bunga majemuk harus dapat dibedakan cabang-cabang yang mendukung
sejumlah bunga di ketiaknya. Pada suatu bunga majemuk sumbu yang mendukung bungabunga yang tidak lagi berguna sebagai alat untuk asimilasi. Walaupun demikian menurut
kenyataannya seringkali tidak mudah untuk membedakan suatu bunga majemuk dari cabang
yang mempunyai bunga-bunga di ketiaknya.
Pada suatu bunga majemuk lazimnya dapat dibedakan bagian-bagian berikut:
A. Bagian-bagian yang bersifat seperti batang atau cabang, yaitu:
1. Ibu tangkai bunga (pedunculus)
2. Tangkai bunga (pedicellus)
3. Dasar daun (receptaculum)
B. Bagian-bagian yang bersifat seperti daun:
1.Daun-daun pelindung (bractea)
2.Daun tangkai (bracteola)
3.Seludang bunga
4.Daun pembalut (bracteole involucralis)
5.Kelopak tambahan (epicalix)
6.Daun kelopak (sepalae)
7.Daun mahkota/ tajuk (petalae)
8.Daun tenda bunga (tepalae)
9.Benang sari (stamina)
10. Daun buah (carpella)
Pada bunga majemuk ibu tangkainya ada yang dapat mengadakan percabangan dan
ada pula yang tidak. Ibu tangkai bunga yang tidak bercabang dan tidak berdaun sering disebut
sumbu bunga (scapus). Ibu tangkai yang bercabang memperlihatkan cara percabangan yang
bermacam-macam, selain itu jumlah cabang, dan panjangnya jika dibandingkan dengan ibu
tangkai serta susunan cabang-cabang berpengaruh pula terhadap urutan mekarnya masingmasing bunga pada suatu bunga majemuk. Oleh karena itu bunga majemuk dapat dibedakan
dalam 3 golongan yaitu :
1) Bunga majemuk tak terbatas (inflorescentia racemusa botryoides centripetala)
Bunga majemuk tak terbatas terbagi menjadi dua, yaitu:
a.
Ibu tangkainya tidak bercabang-cabang sehingga bunga (bertangkai atau tidak) langsung
terdapat pada ibu tangkainya, seperti:
1. tandan, bunga bertangkai nyata pada ibu tangkainya, contohnya kembang merak
2. Bulir, seperti tandan tapi bunga tidak bertangkai contohnya bunga jarong

3. untai, seperti bulir tetapi ibu tangkai hanya mendukung bunga-bunga yang berkelamin
tunggal dan runtuh seluruhnya, hanya mendukung bunga jantan dan betina menjadi buah,
contohnya sirih.
4. Tongkol, seperti bulir tapi ibu tangkainya besar tebal seringkali berdagingcontohnya pada
bunga iles-iles.
5. Bunga payung, bunga yang dari ujung ibu tangakai nya mengeluarkan cabang-cabang yang
sama panjang, seperti daun-daun pembalut contohnya daun kaki kuda
6. Bunga cawan , suatu bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya lalu melebar dan merata
sehingga mencapai seperti cawan. Bunga cawan lazimnya dibagi menjadi dua yaitu:
a) Bunga pita , bunga yang mandul terdapat sepanjang tepi cawan.
b) Bunga tabung, bunga yang terdapat diatas cawannya sendiri, sering kali berbentuk seperti
tabung.
Contoh bunga cawan ini ialah bunga matahari.
7. Bunga bongkol , bunga majemuk yang menyerupai bunga cawan , tetapi tanpa daun-daun
pembalut dan ujung ibu tangkainya biasanya membengkak sehingga membentuk seperti bola.
Contohnya pada lamtoro
8. Bunga periuk bunga ini dibedakan menjadi dua bentuk yaitu.
a) Ujung ibu tangkainya menebal , berdaging mempunyai bentuk seperti gada, sedangakan
bunga-bunga yang terdapat meliputi seluruh bagian yang menebal sehingga mencapai bentuk
bulat contohnya pada keluwih
b) Ujung ibu tangakai menebal berdaging, membentuk badan menyerupai periuk, sehingga
bunga yang semestinya terletak padanya, contohnya awar-awar.
c) ibu tangakai bercabang-cabang dan cabang-cabangnya dapat bercabang lagi, sehingga bungabunga tidak terdapat pada ibu tangkai, seperti berikut ini:
a) Malai , ibu tangkainya mengadakan percabangan secara monopodial, demikian pula cabangcabangnya sehingga dinamakan dengan suatu tandan majemuk, terkadang bentuknya seperti
kerucut atau limas, misalnya pada mangga.
b) Malai rata, ibu tangkainya mengadakan percabangan demikian pula seterusnya tetapi cangcabangnya mempunyai sifat sedemikian rupa seakan-akan bunga majemuk ini terdapat pada
suatu budang datar atau agak melengkung seper ti pada asoka.
c) Bunga payung majemuk, yaitu suatu bunga payung yang bersusun dapat pula dikatakan
sebagai bunga payung, pangkal percabangan pertama terdapat daun pembalut demikian juga
cabang berikutnya hanya terdapat daun-daunnya lebih kecil, misalnya pada wortel.
d) Bunga tongkol majemuk, bunga bonggol yang ibu tangkainya bercabang-cabang yang setiap
cabangnya tersusun seperti tongkol. Contohnya pada kelapa dan palma.
e) Bulir majemuk, jika ibu tangkai bunga bercabang-cabang dan setiap cabangnya mendukung
bunga-bunga seperti bulir, contohnya pada bunga jagung yang jantan.
2) Bunga majemuk berbatas (inflorescentia cymosa centrifuga defitina)
a. Anak payung mengarpu, pada ujung ibu tangkainya terdapat satu bunga, dibawahnya
terdapat dua cabang yang sama panjang yang mendukung buynga pada ujungnya contohnya
pada bunga melati. Ada pula ketika anak payung bercabang lagi seperti bentuk anak payung
menggarpu yang majemuk seluruhnya terdiri atas tuju bunga, contohnya pada clematis.
b. Bunga tangga atau bunga bercabang seling, suatu bunga mejemuk yang ibu tangkainya
bercabang dan selanjutnya cabangnya bercabang lagi tapi setiap kali bercabang hanya
berbentuk satu cabang saja yang arahnya kekiri dan kekanan contohnya pada bunga buntut
tikus.
c. Bunga sekerup, ibu tangkainya bercabang-cabang taetapi pada setiap cabang hanya
membentuk satu cabang yang semuanya terbentuk kekiri atau kekanan, dan cabang yang satu

d.
e.

berturut-turut membentuk sudut 900, sehingga arah percabangannya seperti spiral atau
sekerup contohnya pada bunga kenari.
Bunga sabit, seperti bunga sekerup tapi semua percabangan terletak pada satu bidang seperti
tumbuhan suku juncaceae.
Bunga kipas, seperti bunga bercabang seling semua percabangan terletak pada satu bidang
yang tidak sama panjang, sehingga bunga majemuk tersebut berada ditempat yang sangat
tinggi, contohnya pada sukuiridaceae.

3) Majemuk campuran (inflorescentia mixta).


Merupakan campuran antara sifat-sifat bunga majemuk berbatas dan tidak berbatas
misalnya bunga johar.
4). Lain-lain tipe bunga majemuk
a) Gubahan semu atau karangan semu, pada bunga ini tampaknya seperti ibu tangkai berbukubukunya terdapat sejumlah bunga yang tersusun berkarang melingkari buku-buku, misalnya
pada tumbuhan remujung.
b) Lembing, jika cabang-cabang ibu tangkainya yang sebelah bawah jauh lebih panjang dari
pada ibu tangkai dan cabang-cabang yang diatasnya terdapat padajuncus dan luzula.
c) Tukal, bunga majemuk yang bersifat berbatas yang terdiri atas kelompokan bunga-bunga
kecil tidak bertangkai yang tersusun rapat pada cabang-cabang bunga mejemuknya misalnya
pada rami.
d) Berkas, bunga majemuk yang umumnya bersifat berbatas dengan ibu tangkai yang pendek
bunga lebih besar dari pada tukal tangkai tidak sama panjang, warnanya menarik misalnya
pada jadam (Rhoeo Discolor Hance).
a.
b.
c.
1.
2.
3.
d.

e.

BAGIAN-BAGIAN BUNGA
Tangkai bunga, yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang, seringkali terdapat
daun-daun peralihan yaitu bagian-bagian yang menyerupai daun.
Dasar bunga, yaitu ujung tangkai yang sering kali melebar dengan ruas-ruas yang pendek
sehingga daun yang telah bermetamorfosis menjadi bunga duduk rapat disatu sama lain.
Hiasan bunga, bagian bunga yang merupakan penjelmaan daun yang tampak berbentuk
lembaran dengan tulang-tulang atau urat-urat yang sama jelas yang tersusun atas dua
lingkaran:
Kelopak (Sepal), Keseluruhan daun kelopak disebut kaliks (calix).Bagian hiasan bunga pada
lingkaran luar.
Mahkota (Petal), Keseluruhan petal (daun mahkota) disebut korola (corola). Bagian hiasan
bunga pada lingkaran dalam, warna bagian ini merupakan warna bagian bunga.
Tenda bunga (tepal), hiasan bunga yang tidak bisa dibedakan kelopak atau mahkotanya,
misalnya kembang sungsang.
Alat alat kelamin jantan
Merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari, terdiri atas sejumlah
benang sari (stamen) pada benang-benang sarinya dapat pula bebas atau berlekatan, ada yang
tersusun satu lingkaran ada juga yang dalam dua lingkaran.
Alat-alat kelamin betina
Merupakan bagian yang biasanya disebut putik, yang terdiri atas metamorfosis daun
yang disebut daun buah atau carpella.biasanya kalo ada beberapa daun buah semuanya akan
tersusun sebagai lingkaran bagian bunga terakhir.
Berdasarkan bagian bagian bunga dapat dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Bunga lengkap atau bunga sempurna, terdiri atas kelopak, mahkota, benang sari, dan daun
buah. Bunga yang bagian bagiannya tersusun dalam empat lingkaran
dikatakan tetrasiklik. Jika tersusun atas lima lingkaran disebut pentasiklik.
2. Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna, jika salah satu bagian hiasan bunganya atau
salah satu alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak memiliki hiasan bunga maka bunga itu
di sebut telanjang. Jika bunga hanya mempunyai satu kelamin maka disebut berkelamin
tunggal. Bunga yang hanya mempunyai tenda bunga sering di anggap di anggap tidak
lengkap pula.

a.
b.
1.
2.
c.
1.
2.
3.

Kelamin bunga
Bunga biasanya mempunyai dua alat kelamin, dan justru alat - alat itulah yang
menjadi bagian bunga yang terpenting. Berdasarkan alat kelamin, masing masing bunga
dapat dibedakan menjadi:
Bunga banci atau berkelamin dua yaitu, bunga yang terdapt benang sari maupun putik
misalnya bunga terong.
Bunga berkelmin tunggal yaitu bunga yang hanya terdapat salah satu dari kedua macam
kelaminnya dapat dibedakan menjadi dua :
Bunga jantan , bunga yang hanya terdapat benang sari tanpa putik seperti bunga jagung.
Bunga betina , bunga yang tidak mempunyai benang sari melainkan putik saja
contohnya bunga jagung betina.
Bunga mandul atau tidak berkelamin , bunga yang tidak memiliki benang sari maupun putik
contohnya bunga pinggir pada bunga matahari.
Bertalian dengan kelamin bunga yang terdapat pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi :
Berumah satu ( Monoecus ) , tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina
pada satu individu ( satu batang tumbuhan ), misalnya jagung, mentimun, jarak.
Berumah dua ( Dioecus ), jika pada satu tumbuhan bunga jantan dan bunga betina terpisah
tempatnya. Misalnya salak, pakis haji.
Poligami ( Polygamus ), pada satu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina, dan bunga
banci bersama sama. Misalnya pepaya.

Pembagian Tempat Antara Bagian Bunga Yang Satu Dengan Bagian Yang Lain
Bagian bagian bunga yang merupakan metamorfosis daun berdasarkan susunannya
dapat dibedakan
1. Terpencar, tersebar, atau menurut suatu spiral. Misalnya bunga cempaka
2. Berkarang, melingkar, jika daun kelopak benang sari dan daun buah masing masing
tersusun dalam suatu lingkaran. Misalnya bunga terong.
3. Campuran, bagian bagian bunga yang duduk berkarang yang lainnya duduk terpencar.
Misalnya sirsat.
Berdasarkan letak bagian bagian bunga dapat dibedakan menjadi dua

1. Berseling ( Alternatio ), bagian bagian suatu lingkaran terletak diantara dua bagian
lingkaran dibawah atau di atasnya.
2. Berhadapan atau tumpang tindih ( Superpositio ), jika masing masing bagian dalam setiap
lingkaran berhadapan satu sama lain.
Simetri Pada Bunga
Simetri disebut sifat bagian bagian tubuh tumbuhan. Simetri bunga dapat di bedakan
menjadi empat , yaitu :
1. Asimetri atau tidak simentris. Misalnya bunga tasbih.
2. Setangkup tunggal. Bergantung pada letaknya bunga setangkup tunggal di bedakan menjadi
tiga, yaitu :
a. Setangkup tegak, jika bidang simetrinya berhiimpit dengan bidang median misalnya telang.
b. Setangkup menandar , bidang simetrinya tegak lurus pada bidang median dan vertikal
contohnya bunga corydalis
c. Setangkup miring, bidang simetrinya memotong bidang median dengan sudut lebih kecil dari
900 contonya bunga kecubung.
3. Setangkup menurut dua bidang yaitu yang dapat dijadikan dua bagian yang setangkup
menurut dua bidang simetri dan tegak lurus satu sama lain contonya bunga lobak.
4. Beraturan atau bersimetri banyak yaitu lbudang simetri yang membagi dua bunga menjadi
dua bagian yang setangkup contohnya bunga lilia gereja
LETAK DAUN DALAM KUNCUP
Mengenai keadaan daun-daun dalam kuncup dapat dibedakan menjadi dua bagian:
a. Pelipatan daun-daun itu dalam kuncup
b. Letak daun-daun dalam kuncup terhadap daun-daun lainnya.
Berikut keadaan bagian-bagian bunga, khususnya mengenai kelopak dan mahkotanya waktu
bunga masih dalam keadaan kuncup.
1. Pelipatan daun-daun kelopak dan mahkota
a) Rata, daun-daun dalam kuncup tidak memperlihatkan suatu lipatan tetapi rata.
b) Terlipat kedalam sepanjang ibu daunnya.
c) Terlipat sepanjang tulang-tulang cabangnya.
d) Terlipat tidak beraturan
e) Tergulung kedalam menurut poros bujur
f) Tergulung keluar menurut poros bujur
g) Tergulung ke satu arah menurut poros bujur
h) Tergulungkedalam menurut poros lintang
i) Tergulung keluar menurut poros lintang
j) Terlipat kebawah dan kedalam
k) Terlipat menurut poros lintang keluar
2. Letak daun-daun kelopak dan mahkota terhadap sesamanya
1. Terbuka, tepi daun-daun kelopak dan mahkota tidak bersentuhan sama sekali
2. Berkatup, tepi daun-daun kelopak atau mahkota saling bertemu atau saling bersentuhan tetapi
tidak berlekatan.
3. Berkatup dengan tepi melipat kedalam.
4. Berkatup dengan tepi melipat keluar
5. Menyirap, tepi saling menutupi seperti susunan genteng atau sirap
Dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a) Yang terpuntir kesatu arah, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
Terpuntir kekiri

Terpuntir kekanan
b) Mengikuti rumus 2/5, jika rah putaran menyebabkan letak daun-daun kelopak atau mahkota.
c) Kohlearis, jika pada bunga dengan 5 daun kelopak atau lima tajuk bunga. Susunan yang
kohleat dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
Kohrealis visinal, jika daun yang sama sekali didalam letaknya langsung berbatasan dengan
daun yang sama sekali diluar.
Kohrealis distal, jika daun sama sekali diluar dan daun yang sama sekali didalam tidak
langsung berbatasan, tetapi diantaranya ada daun yang tepinya satu diluar dan lainnya di
dalam.
Susunan kohlearis ini dapat disebut lagi perbedaan menurut letak daun yang paling luar
tehadap sumbu pokoknya, yaitu:
Kohrealis turun, jika daun yang paling luar letakknya dekat dengan sumbu pokok.
Kohrealis naik, jika yang paling dekat dengan sumbu pokok daun yang paling dalam,
sedangkan daun yang paling luar menjauhi sumbu pokoknya.
Susunan daun-daun kelopak dan daun-daun mahkota dengan tepi yang saling menutupi dapat
dibedakan lagi menurut asli atau tidaknya susunannya, dapat dibedakan lagi menjadi:
a. Susunan yang etop, jika letak daun-daun kelopak yangsaling menutupi itu memang sesuai
dengan urut-urut pembentukannya.
b. Susunan yang metapop, jika letak daun-daun kelopak yang saling menutupi itu merupakan
akibat adanya perubahan-perubahan pada susunan yang asli.
Susuna yang etop masih banyak dijumpai pada susunan daun-daun kelopak,
sedangkan pada daun-daun mahkota kemungkinan letak yang metatop lebih besar.
Dasar bunga (Torus)
Dasar-dasar bunga sering memperlihatkan bagian-bagian yang khusus mendukung
satu bagian bunga atau lebih dan bergantung pada bagian bunga yang didukungnya, bagian
Bunga tersebut diberi nama yang berbeda-beda yaitu:
a) pendukung tajuk bunga atau antofor yaitu dasar bunga yang merupakan tempat duduknya
daun-daun tajuk bunga, seperti anyerlir (Dianthus caryophyllus)
b) Pendukung benang sari atau androfor yaitu bagia dasar bunga yang sering kali meninggi atau
memanjang dan menjadi tempat duduknya bennag sari. Misalnya bunga maman
c) Pendukung putik atau ginofor suatu peningguian yang khusus menjadi tempat duduknya
putik. Seperti pada bunga teratai besar.
d) Pendukung benang sari dan putik atau androginofor yaitu bagian dasar bunga yang biasanya
meninggi dan mendukung benang sari atau putik diatasnya. Misalnya bunga markisah.
e) Cakram (discus) di samping bagian-bagian tersebut diatas pada dasra bunga sering kali
terdapat semacam peninggian atau bantalan bentuk cakram yang seringkali mempunyai
kelenjar kelenjar madu misalnya bunga jeruk.

a.
b.
c.
d.

Bentuk dasar bunga


Dasar bunga biasanya menebal dan melebar dan memperlihatkan bermacam-macam bentuk ,
misalnya :
Rata , semua bagian bunga duduk sama tinggi diatas dasar bunga, bakal buah menumpang
Menyerupai kerucut , putik duduk pada keadaan paling tinggi dan bakal buah menumpang
Seperti cawan ,daun daun kelopak dan tajuk bunga duduknya seakan-akan pada tepi
bangunan seperti cawan. Putik berada di tengah-tengah dasar bunga yang lebih rendah dari
tajuk bunga dan kelopak, bakal buah masih menumpang.
Bentuk mangkuk, putik berada paling rendah dari pada tajuk bunga dan kelopak. Bakal buah
dikatakan setengah tenggelam.

Berdasarkan sifat itu bunga dapat dibedakan dalam tiga golongan , yaitu:
1. Hipogen , jika hiasan bunga tertanam pada bagian dasar bunga yag lebih rendah dari pada
tempat duduknya putik, misalnya bunga johar
2. Perigin , jika hiasan bunga sama tinggi atau sedikit lebih dari pada duduknya putik seperti
pada dasar bunga yang berbentuk cawan misalnya bunga bungur.
3. Epigin , pada dasar bunga yang berbentuk mangkuk atau piala dengan bakal buah yang
tenggelam sehingga seakan-akan hiasan bunga duduk dibagian atas bakal buah tadi misalnya
pada bunga daun kaki.

Gambar macam-macam bentuk dasar bunga


Kelopak (calyx)

1.
a.
b.
c.
2.
a.

Kelopak tersusun atas bagian-bagian yang dinamakan daun kelopak (sepal). Pada
bunga daun-daun kelopak mempunyai sifat yang berbeda-beda.
Berlekatan , menurut banyak sedikitnya bagian yang berlekatan (panjang pendeknya
pancung-pancung di bagian atas kelopak) dibedakan 3 macam kelopak yaitu:
Berbagi jika hanya bagian kecil daun-daun saja berlekatan , pancung-pancungannya panjang
lebih dari separoh panjang kelopak.
Bercanggap jika bagian yang brelekatan kira-kira meliputi separoh panjangnya kelopak, jadi
kira-kira pancung-pancungnya separohnya.
Berlekuk jika bagian yang berlekatan melebihi separoh panjang kelopak, jadi pancungpancungnya pendek saja.
Lepas atau bebas jika daun-daun kelopak yang satu dengan yang lainnya benar terpisah-pisah
tidak berlekatan . menurut simetrinya bentuk kelopak yang bermacam-macam itu dapat
dibedakan menjadi 2 golongan:
Beraturan atau aktinomorf jika kelopak dapat dibagi dua yang setangkup meliputi bentukbentuk:
Bintang
Tabung
Terompet
Mangkuk
Piala

Corong
Lonceng dll
b. Setangkup tunggal atau zigomorf seperti pada kelopak yang demikian bersifat:
Bertaji seperti pada bunga pacar air
Berbibir seperti pada bunga salvia.
Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla)
Seperti pada kelopak mahkota juga mempunyai sifat yang berbeda-beda:
a. Berlekatan dapat dibedakan menjadi 3 bagian :
Tabung atau buluh tajuk
Pinggiran tajuk
Leher tajuk
Selain itu juga di temukan sisik attau rambut-rambut dll yang terdapat pada tajuk bunga.
b. Lepas atau bebas
Jika daun tajuk terpisah-pisah, dan dapat di bedakan menjadi:
Kuku daun tajuk ialah bagian yang tidak lebar seringkali menebal dari yang lainnya
Helaian daun tajuk yaitu bagian leher dan biasanya tipis.
c. Daun daun tajuk tidak ada sangat kecil sehingga tidak tertarik perhatian
a)

b)

a.
b.

Bersadarkan simetrinya dapat pula dibedakan :


Beraturan atau pada suatu bunga dapat di bagi jadi dua setangkup dari berbagis sisi berikut
ini adalah bentuk bentuknya:
Bintang
Tabung
Terompet
Mangkuk
Piala
Corong
Lonceng dll
Setangkup tunggal dapat dibagi menjadi dua dengan cara satu kali saja.
Seringkali memiliki ciri atau sifat yang khas seperti:
Bertaji
Berbibir
Berbentuk seperti kupu-kupu
Bertopeng atau berkedok
Berbentuk pita
Tenda bunga (perigonium)
Menurut bentuk dan warnanya dapat dibedakan menjadi dua golongan:
Serupa kelopak, warnanya hijau seperti kelopak misalnya pada tanaman palmae
Serupa tajuk, warnanya bermacam-macam seperti tajuk bunga menarik sekali bentuknya.
Bagian dari tenda bunga adalah sebagia berikut:
Berlekatan
Lepas atau bebas misalnya pada kembang sungsang
Benang sari( statemen)
Pada bagian ini dapat dibedakan menjadi 3 bagian :

1. Tangaki sari, yaitu bagian yang bentuknya seperti benang dengan penampang melntang yang
umumnya berbentuk bulat
2. Kepala sari(anthera), bagian yang berada di ujung
3. Penghubung ruang sari merupakan bagian lanjutan tangkai sari.

Ada 3 macam duduknya benang sari :


1. Benang sari jelas duduk pada dasar bunga misalnya jeruk (citrus sp.)
2. Benang sari tampak seperti duduk diatas kelopak misalnya mawar
3. Benang sari tampak seperti duduk diatas mahkota misalnya buntut tikus.

Gambar bentuk kedudukan benang sari


Berdasarkan jumlahnya benang sari dapat digolongakan menjadi 3 yaitu:
1. Benang sari banyak , jika terdapat 20 benang sari misalnya pada jambu-jambuan
2. Benang sari 2x lipat jumlah daun tajuknya . ada 2 kemungkinan mengenai duduk benang sari
terhadap tajuk yaitu:
Diplostemon
Obdiplastemon
3. Benang sari sam banyak denagn daun tajuk atau kurang dapat di bagi menjadi 2 yaitu:

1.
2.
3.

Episepal
Epipetal
Berdasarkan panjang pendeknya benang sari dapat dibagi:
Benang sari panjang dua jika pada satu bunga tedapat 4 benang sari yang 2 panjang dan yang
2 lainnya pendek. Misalnya kemangi
Benang sari panjang empat jika misalnya pada satu bunga ada 6 bennag sari yang 4 panjang
dan yang 2 pendek. Misanya pada lobak.
Tangkai sari
Melihat dari berkas yang merupakan perlekatan benang sari dapat di bedakan :
Benang sari berbekas satu jika semua tangkai sari pada satu bunga berlekatan jadi satu
misalnya kembang sepatu.
Benag sari berbekas dua jika benang sari terbagi menjadi dua kelompok dengan tangkai yang
berlekatan masing-masing kelompok misalnya pada tumbuhan berbunga kupu-kupu.
Benang sari berberkas banyak jika dalam satu bunga memiliki banyak benang sari dan
tangkai sarinya tersusun menjadi berkelompok dan berkas misalnya pada kapuk.
Kepala sari
Berdasarkan duduknya kepala sari bermacam-macam yaitu sbb:
Tegak (kepala sari dan tangkainya jelas batas nya terlihat)
Menempel ( tangkai sari beralih menjadi penghubung ruang sari)
Bergoyang (kepala sari melekat pada ujung tangkai sari)

1.

2.
3.
4.

Kepala sari dapat membuka dengan jalan yang berbeda-beda yaitu:


Dengan celah membujur menjadi jaln keluarnya benang sari:
Menghadap kedalam
Menghadap kesamping
Menghadap keluar
Dengan celah melintang
Dengan sebuah liang pada ujung
Dengan kelep atau katup-katup

a.
b.
c.

Putik
Meurut banyaknya daun buah yang menyusun sebuah putik , putik dapat di bedakan dalam:

a. Putik tunggal (jika tersusun atas sehelai daun buah saja)


b. Putik majemuk ( terjadi dari dua daun buah atau lebih)
Berikut ini merupakan bagian-bagian dari putik :
1. Bakal buah , lazim nya terlhat besar dan duduk pada dasar bunga
2. Tangkai kepala putik, merupakan bagian diatas bakal buah
3. Kepala putik , bagian yang paling atas.
Bakal Buah ( Ovarium )
Bakal buah adalah bagian putik yang membesar, dan biasanya terdapat di tengah
tengah dasar bunga. Dalam bakal buah terdapat calon biji atau bakal biji (Ovulum ).bagian
yang merupakan pendukung bakal biji disebut tembuni.
Menurut letaknya terhadap dasar bunga kita membedakan :
a. Bakal buah menumpang ( superus ), yaitu jika bakal buah duduk diatas dasar bunga
sedemikian rupa, sehingga bakal buah tadi lebih tinggi, sama tinggi atau bahkan mungkin
lebih rendah dari pada tepi dasar bunga, tetapi bagian samping bakal buah tidak pernah
berlekatan dengan dasar bunga.
b. Bakal buah setengah tenggelam ( hemi inferus ), yaitu jika bakal buah duduk pada dasar
bunga yang cekung, jadi tempat duduk bakal buah selalu lebih rendah dari pada tepi dasar
bunga, dan bagian dinding bakal buah itu berlekatan dengan dasar bunga yang berbentuk
mangkuk atau piala.
c. Bakal buah tenggelam ( inferus ), seperti pada b, tetapi seluruh bagian samping bakal buah
berlekatan dengan dasar bunga yang berbentuk mangkuk atau piala tadi.

Gambar duduknya bakal buah


Pada satu bunga mungkin terdapat lebih daripada satu putik, yang masing masing
terdiri atas satu daun buah. Jadi pada bunga itu terdapat daun daun buah yang tidak
berlekatan satu sama lain. Hal ini dikatakan bahwa bakal buah atau putiknya
bersifat : apokarp (pistillum apocarpum )
Jika bakal buah terdiri atas beberapa daun buah yang berkelekatan satu sama lain,
maka bakal buah dinamakan sinokarp ( Pistillium coenocarpum ), jika perlekatan daun
daun buah itu hanya merupakan satu putik dengan satu ruang saja
disebut parakarp ( pistillum paracarpum ), tetapi jika dari perlekatan daun daun buah itu
terbentuk putik dengan jumlah ruang yang sesuai dengan jumlah daun buahnya, maka bakal
buah atau putik yang sedemikian itu dinamakan: sinkarp (pistillum syncarpum ).
Berdasar jumlah ruang yang terdapat dalam suatu bakal buah, bakal buah dapat
dibedakan dalam :
a. Bakal buah beruang satu ( unilicularis ), tersusun atas satu daun buah saja. Misalnya
tumbuhan yang berbuah polong
b. Bakal buah beruang dua ( bilocularis ), tersusun atas dua daun buah. Misalnya kubis dan
sejenisnya.

c.
d.

a.

1.
2.
b.

Bakal buah beruang tiga ( trilocuralis ) bakal buah ini terjadi dari tiga daun buah yang
tepinya melipat kedalam dan berlekatan sehingga terbentuklah bakal buah dengan tiga sekat.
Misalnya pada warga suku getah getahan.
Bakal buah beruang banyak ( multilocularis ), yaitu bakal buah yang tersusun atas banyak
daun buah yang berlekatan dan membentuk banyak sekat, dan dengan demikian terjadilah
banyak ruang ruang, seperti terdapat pada durian.
Sekat sekat yang membagi bakal buah menjadi beberapa ruang dapat dibedakan
dalam :
Sekat yang sempurna ( septum completus ), yaitu jika sekat ini benar benar membagi bakal
buah menjadi lebih daripada satu ruang dan ruang ruang yang terjadi tidak lagi mempunyai
hubungan satu sama lain.
Berdasarkan asal sekat itu, sekat yang sempurna dapat lagi dibedakan dalam dua
macam:
Sekat asli ( septum ), yaitu jika sekat ini berasal dari sebagian daun buah yang melipat
kedalam yang lalu berubah menjadi sekat, misalnya pada durian.
Sekat semu ( septum spurius ), yaitu jika sekat tadi bukan merupakn sebagian daun buah,
tetapi misalnya terdiri atas suatu jaringan yang terbentuk oleh dinding bakal buah. Misalnya
pada bunga kecubung.
Sekat yang tidak sempurna ( septum spurius ), yaitu jika sekat sekat yang membagi bakal
buah menjadi beberapa ruang, tetapi ruang ruang itu masih ada hubungannya satu sama
lain.
Tembuni ( Placenta )
Bagian bakal buah yang menjadi pendukung bakal biji atau menjadi tempat duduknya
bakal biji dinamakan tembuni ( Placenta )

Gambar perlekatan daun daun buah dan letak bakal biji


Menurut letaknya tembuni dibedakan dalam :

a. Marginal ( Marginalis ), jika letaknya pada tepi daun buah.


b. Laminal ( Laminalis ), bila telaknya pada helaian daun buah.
Untuk bakal buah yang hanya terdiri atas satu ruang , maka kemungkinan letak
tembuninya adalah :
1. Pariental ( Parientalis ), yaitu pada bakal bakal buah yang jika diperhatikan pula
bagaimana letaknya pada daun buah dapat di bedakan lagi dalam dua macam :
a) Pada dinding di tepi daun buah ( parientalis-marginalis)
b) Pada dinding di helaian daun buah ( parientalis-laminalis)
2. Sentral ( centralis atau axilis ), yaitu di pusat atau diporos, bila tembuni terdapat ditengahtengah rongga bakal buah yang beruang satu.
3. Aksilar ( axillaris ), yaitu di sudut tengah, bila tembuni terdapat pada bakal buah yang
beruang lebih dari pada dua dan tembuni tadi terdapat dalam sudut pertemuan daun daun
buah yang melipat kedalam dan merupakan sekat sekat bakal buah.

1.
2.
3.
4.
5.

a.
b.
c.
d.
e.

Bakal Biji ( Ovulum )


Pada umumnya bakal biji dapat di bedakan bagian bagian berikut :
Kulit bakal biji ( integumentum ), yaltu lapisan bakal biji yang paling luar, yang kelak akan
merupakan kulit biji.
Badan bakal biji atau nuselus ( nucellus ), yaitu jaringan yang di selubungi oleh kulit bakal
biji tadi.
Kandung lembaga ( saccus embryonalis ), sebuah sel dalam nuselus yang mengandung sel
telur ( ovum ), dan kalau sudah terjadi pembuahan akan menjadi lembaga ( embryo ) yaitu
calon individu baru,
Liang bakal biji ( micropyle ), yaitu suatu liang pada kulit bakal biji, yang menjadi jalan inti
kelamin jantan yang berasal dari buluh serbuk sari untuk dapat bertemu dengan sel telur yang
terdapat dalam kandung lembaga, sehingga dapat berlangsung peristiwa pembuahan.
Tali pusar ( funiculus ), pendukung bakal biji, yang menghubungkan bakal biji dengan
tembuni.
Letak bakal biji pada tembuni dapat dibedakan lima posisi utama, yaitu bakal bakal
biji yang :
Tegak ( atropus ), yaitu jika liang bakal biji letaknya pada satu garis dengan tali pusar
(funiculu ) pada arah yang berlawanan.
Mengangguk ( anatropus ), jika liang bakal biji sejajar dengan tali pusar, karena tali pusarnya
membengkok, sehingga liang bakal biji berputar 180o.
Bengkok ( campylotropus ), bila tali pusar dan bakal bijinya sendiri membengkok, sehingga
liang bakal biji berkedudukan seperti bakal biji yang mengangguk.
Setengah mengangguk ( hemitropus, hemianatropus ), yaitu jika hanya ujung tali pusarnya
yang membengkok, sehingga tali pusar dengan liang bakal biji membuat sudut 90 o satu sama
lain.
Melipat ( camptotropus ), jika tali pusar tetap lurus, tetapi bakal bijinya sendiri yang melipat,
hingga liang bakal biji menjadi sejajar pula dengan tali pusarnya.

Tangkai Kepala Putik


Tangkai kepala putik merupakan bagian putik yang biasanya berbentuk benang dan
merupakan lanjutan bakal buah ke atas. Tangkai kepala putik ini berbentuk benang atau buluh
yang dalamnya berongga. Mempunyai saluran tangkai kepala putik ( canalis stylinus ) atau
tidak. Umumnya tangkai kepala putik mudah dibedakan dari tangkai sari, karena kebanyakan
lebih besar. Ada kalanya tangkai kepala putik masih memperlihatkan asalnya sebagai
metamorfosis dari daun, yaitu mempunyai bentuk pipih lebar seperti daun, misalnya pada
bunga tasbih ( Cannasp. ).
Tangkai kepala putik ada yang bercabang ada yang tidak, dan jika bercabang, tiap
ujung cabang tangkai kepala putik itu mendukung satu kepala putik, jadi pada tangkai kepala
putik yang bercabang terdapat lebih banyak kepala putik dari pada tangkai kepala putiknya.
Jika dibandingkan dengan tangkai sari, tangkai kepala putik ada yang lebih panjang,
ada yang sama panjang, dan ada pula yang lebih pendek dari pada tangkai sarinya.
Sehubungan dengan itu letak kepala putik dapat lebih tinggi, sama tinggi, atau lebih rendah
daripada kepala sarinya. Hal ini berpengaruh besar terhadap masalah penyerbukan bunga
yang bersangkutan.

a.
b.
c.
d.
e.

Kepala Putik ( Stigma )


Kepala putik adalah bagian putik yang paling atas, yang terdapat pada ujung tangkai
kepala putik atau ujung cabang tangkai kepala putik itu. Bagian ini berguna untuk menangkap
serbuk sari, jadi mempunyai peran penting dalam penyerbukan.
Bentuk kepala putik atam beraneka ragam, biasanya disesuaikan dengan cara
penyerbukan pada bunga yang bersangkutan.
Seperti benang, misalnya pada bunga jagung
Seperti bulu ayam, pada bunga padi
Seperti bulu bulu, misalnya pada bunga kecipir
Bulat, misalnya pada bunga jeruk
Bermacam macam bentuk lainnya, misalnya seperti bibir, seperti cawan, serupa daun
mahkota, sdt.

Kelenjar Madu (Nectarium)


Madu (nectar) dihasilkan oleh bunga berperan dalam adanya kunjungan binatang
yang dapat menjdi perantara dalam proses penyerbukan. Dan madu yang terdapat pada bunga
dihasilkan oleh kelenjar madu (nectarium), yang berdasarkan asalnya dapat dibedakan
dalam :
a. Kelenjar madu yang merupakan suatu bagian khusus (alat tambahan) pada bunga

b. Kelenjat madu yang terjadi dari salah satu bagian bunga yang telah mengalami metamorfosis
dan telah berubah tugasnya.
Macam- macam kelenjar bunga menurut bentuk dan tempatnya pada bunga :
a. Seperti subang diatas bakal buah dan melingkari tangkai kepala putik.
b. Seperti cakram pada dasar bunga
Kelenajar madu yang merupakan metamorfosis salah satu bagian bunga, dapat berasal
dari :
1. Daun mahkota
2. Benang sari
3. Bagian-bagian lain pada bunga
Dalam hal demikian, letak kelenjar madu pada bunga sesuai dengan latak bagianbagian bunga yang telah berubah menjadi kelenjar madu tersebut.
Penyerbukan atau Persarian (Pollinatio) dan Pembuahan (Fertillisation)
Penyerbukan (Pollinatio) adalah jatuhnya serbuk sari pada kepala putik (untuk
golongan tumbuhn biji tertutup) atau jatuhnya serbuk sari langsung pada bakal biji (untuk
tumbuhan berbiji telanjang). Sedang, pembuahan (Fertillisation) adalah terjadinya
perkawinan (persatuan atau peleburan menjadi satu) sel telur yang terdapat dalam kandung
lembaga di dalam bakal biji dengan suatu inti yang berasal dari serbuk sari.
Bunga yang mengalami peristiwa tersebut, kepala sarinya akan pecah atau membuka
dan mengeluarkan serbuk sari. Yang pada akhirnya serbuk sari sampai ke kepala putik dan
terjadilah penyerbukan. Apabila serbuk sari jatuh pada kepala putik yang cocok, maka serbuk
sari akan berkecambah, terjadilah buluh serbuk sari yang tumbuh menuju ke arah bakal biji.
Selama pertumbuhn ini, inti dalam serbuk sari membelah menjadi dua, satu pada bagian
depan buluh yang menjadi penuntun gerak tumbuh bulut itu ke arah bakal biji (inti
vegetatif), dan yang kedua (inti generatif) lalu membelah lagi menjadi dua inti sperma.
Setelah sampai pada liang bakal biji, inti vegetatif binasa, dinding buluh pada bagian itu
terlarut dan kedua inti sperma menuju ke kadung lembaga.
Sementara itu, dalam kandung lembaga lainnya membelah tiga kali secara berurutan
sehingga terjadi 8 inti. Dari 8 inti, tiga menuju ke tempat yan berhadapan dengan liang bakal
biji, dan dari ke 3 inti itu, satu merupakan sel telur (ovum) dan dua di kanan dan kiri
merupakanpenggarak atau pendamping (synergida). Tiga inti lainnya menuju ke bagian
kandung lembaga yang berlawanan dengan liang kandung lembaga (disebut
dengan chalaza)dan menjadi antipoda, dua lagi menuju ke tengah kandung lembaga dan
bersatu menjadi inti kandung lembaga sekunder. Dua inti generatif dari buluh serbuk sari
tadi, satu kawin dengan sel telur dan hasil peleburan akan menjadi lembaga. Inti generatif
yang kedua kawin dengna inti kandung lembaga sekunder membentuk jaringan tempat
penimbunan cadangan makanan. Peristiwa perkawinan ini disebut pembuahan, dan yang
diuraikan diatas tadi disebut denganpembuahan ganda. Pembuahan ganda hanya
terjadi pada tumbuhan biji tertutup, sedangkan pada tumbuhan biji telanjang tidak ada inti
kandung lembaga sekunder, jadi yang dapat mengadakan perkawinan hanyalah sel telur saja
dan dikataka dengan pembuahan tunggal.
Jika persarian yang diikuti oleh pembuahan berhasil, bakal buah akan tumbuh menjadi
buah, bakal biji menjadi biji, sementara bagian- bagian bunga lainnya menjadi layu dan
gugur. Penyerbukan hanya diikuti pembuahan bila tumbuhan diserbuki oleh tumbuhan yang
sama atau sejenis, jika tidak pembuahan tidak akan berlangsung. Hal ini disebabkan karena
serbuk sari yang jatuh pada kepala putik tumbuhan yang berbeda tidak dapat tumbuh menjadi
buluh serbuk sari.

Dalam bakal buah yang mengandung banyak bakal biji, agar semua bakal biji dapat
tumbuh menjadi biji, maka masing-masing harus dibuahi, jadi pada kepala putik harus ada
sekurang-kurangnya sejumah serbuk yang sama dengan jumlah bakal biji dalam bakal buah.
Namun, seringkali dalam kenyataan selalu ada saja beberapa bakal biji yang tidak dapat
dicapai oleh buluh serbuk sari, sehingga tidak terjadi pembuahan. Bakal biji itu, dalam
perkembangan akan terdesak oleh biji-biji yang lain dan akhirnya hanya merupakan biji yang
kecil, keriput dan tidak akan tumbuh menjadi tumbuhan baru karena dalam bakal biji itu tidak
terbentuk lembaga.
Pembentukan calon tumbuhan baru (lembaga) yang disertai dengan perkawinan antara
sel telur dan inti sperma disebut amfimiksis (amphimixis), sedang pembentukan lembaga
tanpa adanya perkawinan disebut apomiksis (apomixes) contoh partenogenesis pada
tumbuhan pisang.
Bagian tumbuhan yang sering dideskripkan adalah bunganya. Dalam mendeskripsikan
bunga, selain dengan kata-kata, dapat ditambahkan dengan gambar-gambar yang melukiskan
bagian-bagian bunga atau berupa diagram bunga. Kecuali dengan diagram, susunan bunga
dapat dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri atas lambang-lambang, huruf-huruf, dan
angka-angka yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga
beserta bagian-bagiannya.
A. Diagram Bunga
Dalam mendiskripsikan bunga, di samping secara verbal dapat ditambahkan
gambar-gambar, agar pembaca dapat memperoleh kesan yang lebih mendalam tentang
keadaan bunga. Salah satu gambar yang melukiskan keadaan bunga dan bagian-bagiannya
adalah diagram bunga.
Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua bagian
yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang
melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari dan putik, juga bagian-bagian lain
yang masih ada selain keempat bagian utama tersebut. Perlu diperhatikan, bahwa lazimnya
dari daun-daun kelopak dan tajuk bunga digambar penampang melintang bagian tengahtengahnya, sedang dari benang sari digambarkan penampang kepala sari, dan dari putik
penampang melintang bakal buahnya. Dari diagram bunga itu selanjutnya dapat diketahui
pula jumlah masing-masing bagian bunga tadi dan bagaimana letak dan susunannya
erangantara yang satu dengan yang lain. Selain dari itu perlu diingat pula, bahwa diagram
bunga sedikit banyak merupakan suatu gambar yang bersifat skematik.
Dalam membicarakan tentang bunga dan bagian-bagiannya, telah diterangkan,
bahwa bagian-bagian bunga duduk di atas dasar bunga, masing-masing teratur dalam satu
lingkaran atau lebih. Dalam diagram bunga, masing-masing bagian harus
digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan
digambarkan dengan lambang yang sama. Mengingat, bahwa yang digambar pada diagram
itu penampang-penampang melintang masing-masing bagian bunga seperti telah diuraikan di
atas, maka kemungkinan adanya persamaan gambar hanyaalah mengenai daun-daun kelopak
dan daun tajuk bunga, sedangkan mengenai benang sari dan putiknya rasanya tidak akan
terjadi kekeliruan. Oleh karena itu kelopak dan daun tajuk harus selalu digambar dengan
lambang-lambang yang jelas berbeda, walaupun bentuknya mirip satu sama lain.
Jika kiata hendak membuat diagram bunga, kita harus memperhatikan hal-hal berikut:
1.
Letak bunga pada tumbuhan. Dalam hubungannya dengan perencanaan suatu diagram, kita
hanya membedakan dua macam letak bunga:
a.
Bunga pada ujung batang atau cabang (flos terminalis)

b.
2.

Bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris)


Bagian-bagian bunga yang akan kita buat diagram tadi tersusun dalam beberapa lingkaran.
Jika dari bunga yang hendak kita buat diagramnya telah kita tentukan kedua hal tersebut,
kita mulai dengan membuat sejumlah lingkaran yang konsentris, sesuai dengan jumlah
lingkaran tempat duduk bagian-bagian bunganya, kemudian melalui titik pusat lingkaranlingkaran yang konsentris itu kita buat garis tegak lurus (vertikal). Untuk bunga di ketiak
daun, garis itu menggambarkan bidang yang dapat dibuat melalui sumbu bunga, sumbu
batang yang mendukung bunga itu, dan tengah-tengah (poros bujur) daun, yang dari
ketiaknya muncul bunga tadi. Bidang ini disebut bidang median. Pada garis yang
menggambarkan bidang median itu di sebelah atas lingkaran yang terluar digambarkan secara
skematik penampang melintang batang (digambar sebagai lingkaran kecil), dan disebelah
bawahnya gambar skematik daun pelindungnya. Pada lingkaran-lingkarannya sendiri
berturut-turut dari luar ke dalam digambar daun-daun kelopak, daun-daun tajuk, benang sari,
dan yang terakhir penampang melintang bakal buah. Dalam menggambar bagian bungabunganya sendiri yang harus diperhatikan ialah:
a. Berapa jumlah masing-masing bagian bunga tadi.
b. Bagaimana susunannya terhadap sesamanya (misalnya daun kelopak yang satu dengan yang
lain): bebas satu sama lain, bersentuhan tepinya, berlekatan, atau lain lagi.
c. Bagaimana susunannya terhadap bagian-bagian bunga yang lain (daun-daun kelopak
terhadap daun-daun tajuk bunga, benang sari, dan daun-daun buah penyusun putiknya):
berhadapan atau berseling, bebas atau berlekatan, dan seterusnya.
d. Bagaimana letak bagian-bagian bunga itu terhadap bidang median.
Ternyata, bahwa seringkali bidang median itu membagi bunga dalam dua bagian bunga
yang setangkup (simetrik).
Bagi bunga yang letaknya pada ujung batang/cabang , tidak dikenal bidang mediannya,di
sebelah atas lingkaran yang terluar tidak pula digambar penampang melintang batang (karena
pada bunga yang demikian batang itu akan bersambung dengan tangkai bunga), tetapi pada
sebelah bawah biasanya masih ditambahkan gambar penampang melintang daun pelindung
(jika ada).
Jadi dengan demikian, pada suatu diagram bunga tidak hanya kita ketahui hal-hal yang
menyangkut bagian-bagian bunganya saja, tetapi juga dapat diketahui mengenai letaknya
pada tumbuhan.
Telah dikemukakan pula, bahwa dalam pembuatan diagram bunga selain keempat bagian
bunga yang pokok: kelopak, tajuk, benang sari, dan putik, dapat pula digambar bagian-bagian
lain. Jika memang ada dan dipandang perlu untuk dikemukakan. Bagian-bagian lain pada
bunga yang seringkali dapat menjadi ciri yang khas untuk golongan tumbuhan tertentu dan
sewajarnya pula jika dinyatakan pada diagram bunga, antara lain:
a.
Kelopak tambahan (epicalyx), umum terdapat pada tumbuhan sukuMalvaceae,
misalnya kapas (Gossypium sp.), kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) dan lain-lain.
b. Mahkota (tajuk) tambahan (corona), yang biasa terdapat pada sukuAsclepiadaceae,
misalnya: biduri (calotropis gigantean Dryand.).
Dikemukakan pula dalam membicarakan perihal bagian-bagian bunga, bahwa ada
bagian-bagian bunga yang mengalami metamorfosis atau tereduksi atau lemyap sama
sekali. Bertalian dengan soal ini dalam menyusun diagram bunga kita dapat berpendirian:
1. Hanya menggambarkan bagian-bagian bunga menurut apa adanya,
2. Membuat diagram bunga yang tidak hanya memuat bagian-bagian yang benar-benar ada,
tetapi juga menggambarkan bagian-bagian yang sudah tidak ada (tereduksi), namun menurut
teori seharusnya ada.

Dengan demikian kita dapat membedakan dua macam diagram bunga:


a. Diagram bunga empirik, yaitu diagram bunga yang hanya memuat bagian-bagian bunga
yang benar-benar ada, jadi menggambarkan keadaan bunga yang sesungguhnya, oleh sebab
itu diagram ini juga dinamakan diagram sungguh (yang sebenarnya).
b. Diagram teoritik, yaitu diagram bunga yang selain menggambarkan bagian-bagian bunga
yang sesungguhnya, juga memuat bagian-bagian yang sudah tidak ada lagi, tetapi menurut
teori seharusnya ada.
Bagian-bagian yang hanya menurut teori saja seharusnya ada, tidak digambar seperti
bagian-bagian yang benar-benar ada, melainkan dengan lambang lain, biasanya bintang atau
silang kecil. Kebanyakan hal ini hanya mengenai benang-benang sari saja, yang keadaan
yang sesungguhnya pada bunga seringkali tidak cocok dengan teori.
B. Rumus Bunga
Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga yang
bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama
bagian-bagian bunga, sedang angka-angka menunjukkan jumlah masing-masing bagian
bunga. Di samping itu masih terdapat lambang-lambang lain lagi yang memperlihatkan
hubungan bagian-bagian bunga satu sama lain.
Oleh suatu rumus bunga hanya dapat ditunjukkan hal-hal mengenai 4 bagian pokok bunga
sebagai berikut:
1. Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singkatan kata kalix (calyx), yang merupakan
istilah ilmiah untuk kelopak,
2. Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan katacorolla (istilah ilmiah
untuk mahkota bunga),
3. Benang-benang sari, yang dinyatakan dengan huruf A, singkatan kataandroecium (istilah
ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga),
4. Putik, yang dinyatakan dengan huruf G, singkatan kata gynaecium (istilah ilmiah untuk alat
betina pada bunga).
Jika antara kelopak bunga dan mahkota tidak dapat dibedakan, untuk menyatakan bagian
tersebut digunakan huruf P untuk tenda bunga (perigonium). Penulisan rumus bunga, di
belakang rumus-rumus tersebut ditaruhkan angka-angka yang menyatakan jumlah bagianbagian bunga tersebut. Antara huruf dan angka dari satu bagian bunga diberikan tanda koma
(,).
Di depan rumus bagian bunga, hendaknya ditambahkan simetri yaitu (*) untuk bunga
bersimetri banyak dan tanda () untuk bunga bersimetri satu. Selain itu juga lambang yang
menunjukkan jenis kelamin bunga. Untuk bunga banci dipakai lambang (), untuk bunga
jantan dipakai lambang (), dan untuk bunga betina dipakai lambang (). Untuk menyatakan
keadaan antara daun-daun kelopak, tajuk dan benang sari (berlekatan atau berpisah),
digunakan tanda kurung untuk mengapit angka. Sedangkan bakal buah, dinyatakan adanya
garis (di atas atau di bawah) angka yang menunjukkan jumlah putik, sesuai kedudukannya.
Jika bunga misalnya mempunyai 5 daun kelopak, 5 daun mahkota, 10 benang sari dan putik yang
terjadi dari sehelai daun buah, maka rumusnya adalah:
K 5, C 5, A 10, G 1. (bunga merak: Caesalpinia pulcherrima Swartz.).
Jika kita mengambil contoh lain, yaitu bunga yang mempunyai tenda bunga, misalnya
lilia gereja (Lilium longiflorum Thunb.) yang mempunyai 6 daun tenda bunga, 6 benang sari
dan sebuah putik yang terjadi dari 3 daun buah, maka rumusnya adalah: P 6, A 6, G 3. Karena
di depan rumus hendaknya diberi tanda yang menunjukkan simetri bunga, maka biasanya
hanya diberikan dua macam tanda simetri, yaitu: * untuk bunga yang bersimetri

banyak (actinomorphus) dan tanda () untuk bunga yang bersimetri satu (zygomorphus).
Jadi dalam hal rumus bunga merak, yang bersifat zigomorf, rumusnya menjadi:
K 5, C 5, A 10, G 1
Sedang bunga lilia gereja yang bersifat aktinomorf rumusnya menjadi:
* P 6, A 6, G 3.
Selain lambang yang menunjukkan simetri pada rumus bunga dapat pula ditambahkan
lambang yang menunjukkan jenis kelamin bunga. Jika kedua contoh rumus tersebut di atas
dilengkapi dengan lambang jenis kelaminnya, maka rumusnya menjadi:
K 5, C 5, A 10, G 1 dan * P 6, A 6, G 3.
Diposkan oleh rona lastikasari di 12.32
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)


Arsip Blog

2013 (28)

November (11)

Mei (7)

PPT Morfologi Tumbuhan ( Bunga )

Morfologi Tumbuhan ( Bunga )

PPT Morfologi Tumbuhan ( Biji )

Morfologi Tumbuhan ( Biji )

PPT Morfologi tumbuhan ( Buah )

Morfologi Tumbuhan ( Buah )

ALAM PIKIRAN MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA

April (2)

Maret (5)

Februari (3)
Pengikut
Tentang Rona

rona lastikasari

selamat datang N salam kenal kawan...!!!

Rona Lastikasari adalah anak kedua dari 4 bersaudara yang dilahirkan di kabupaten
Tanah Laut tepatnya di kota pelaihari pada hari jum'at 06 mei 1994. Cinta alam, senang
dengan kehidupan & peduli lingkungan . Saat ini menempuh S1 pendidikan biologi di
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
......
. . . . . . . .Thanks. . . . . . . . .
......( ' ).......
Yg Dah menyempatkn bca
. . . . . . . . . .ok. . . . . . . . . . .
. . . . . . .Oke dehh. . . . . . . .
Lihat profil lengkapku
Google+ Followers

Tutorial Blog

Share
[Get Widget]

Template Awesome Inc.. Gambar template oleh latex. Diberdayakan oleh Blogger.

) Toreh merdeka, adalah toreh-toreh pada daun yang tidak mempengaruhi bangun asli daun.
toreh-toreh ini biasanya tidak terlalu dalam, letak torehannya tidak bergantung pada
jalannya tulang-tulang daun, karena itu disebut toreh merdeka, dalam hubungannya dengan
jenis toreh-toreh ini digunakan istilah sinus untuk torehnya sendiri dan angulus untuk
bagian tepi daun yang menonjol keluar . Daun dengan tepi yang bertoreh merdeka beragam
macamnya. Toreh-toreh ini seringkali sangat dangkal dan kurang jelas, sehingga sukar
untuk dikenali. Ada beberapa macam tepi daun dengan toreh yang merdeka, yaitu:
a. Bergerigi (serratus), jika sinus dan angulus sama lancipnya, misalnya pada daun lantana
(Lantana camara L.), kumis kucing (Orthosiphon spicatus).

b. Bergerigi ganda atau rangkap (biserratus), tepi daun seperti daun bergerigi, tetapi
angulusnya cukup besar dan tepinya bergerigi lagi, misalnya pada daun sinterong
(Erechthites valerianifolia).
c. Bergigi (dentatus), jika sinus tumpul sedangkan angulasnya lancip, misalnya pada daun
beluntas (Pluchea indica Less.).