Anda di halaman 1dari 23

PERADILAN AGAMA PADA MASA

KEMERDEKAAN
(1945-1948)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dari Mata Kuliah
Peradilan Agama
Dosen Pengampu: Drs. Malik Ibrahim, M.Ag.

Disusun Oleh :
Aulia Rahman Firdausy

(13340036 / 089667607622)

Sovia Johar Aslihati (13340037 / 089503798089)


Kelas IH - C

ILMU HUKUM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan
keberlakuan UUD 1945 pada tanggal 17 dan 18 August 1945,
kedudukan hukum Islam secara umum tidak diubah dan masih
berfungsi sebagai sistem hukum khusus orang Islam di bidang
tertentu. Kedudukan tersebut diwujudkan ketentuan bahwa
Republik Indonesia adalah negara berdasarkan sila Ketuhanan
Yang Maha Esa. Sila tersebut dinyatakan dengan Pembukaan dan
Pasal

29 Ayat (1) UUD 1945 secara sesuai dengan Piagam

Jakarta 22 Juni 1945. Pasal 29 Ayat (1) UUD 1945 diikuti dengan
Ayat (2) yang berbunyi, `Negara menjamin kemerdekaan tiap
tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing masing dan
untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaanya itu.
Dalam rangka ketentuan UUD 1945 tersebut, Indonesia
tidak menjadi negara sekular seperti Negara Barat dan Negara
Komunisme. Indonesia pula tidak menjadi negara agama tertentu
atau negara Islam seperti Negara Timur Tengah. Melainkan, sila
Ketuhanan Yang Maha Esa menimbulkan negara agama terbuka
atau negara dengan kebebasan beragama. Dalam negara itu,
hukum Islam tidak boleh menjadi sistem hukum untuk segala
lembaga
hukum

pemerintahan
Islam

ditetapkan

hanya

pada

atau

seluruh

mempunyai

masa

Belanda.

Indonesia.

kedudukan
Kedudukan

Melainkan,

sebagaimana
hukum

Islam

tersebut dikukuhkan melalui keberlakuan peraturan perundangan


Belanda. Pasal

II Aturan Peralihan UUD 1945 menetapkan

`Segala Badan Negara dan Peraturan yang ada masih langsung

berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang


Undang Dasar ini.
Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 1945
dimaksud mencapai kepastian hukum Islam. Namun demikian,
Pemerintah Republik Indonesia tidak memberikan wewenang
yang luas kepada Pengadilan Agama. Melainkan, Pemerintah
Republik

Indonesia

ingin

mencabut

dan

membatasi

wewenangnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana

Peradilan

Agama

pada

Kemerdekaan Indonesia?
2. Bagaiman kekuasaan kehakiman
sebelum reformasi?
3. Bagaimana Peradilan

Agama

awal

di

Indonesia

sebagai

Pelaksana

Kekuasaan Kehakiman?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui arti dari Peradilan Agama
2. Untuk
mengetahui Peradilan Islam Pada Awal
Kemerdekaan
3. Untuk
mengetahui

kekuasaan

Indonesia sebelum Reformasi


4. Untuk
Mengetahui
Peradilan

Kehakiman
Agama

di

sebagai

Pelaksana Kekuasaan Kehakiman

BAB II
PEMBAHASAN
A. PERADILAN AGAMA
1. Istilah Peradilan
Dalam pengkajian

tentang

Peradilan

Agama

di

Indonesia, untuk selanjutnya ditulis PADI, dan peradilan


pada

umumnya,

terdapat

berbagai

kata

atau

istilah

khusus, diantaranya peradilan, badan kehakiman, badan


peradilan,

dan

pengadilan.

Istilah-istilah

itu

dapat

ditemukan di dalam berbagai sumber, baik di dalam kamus


dan ensiklopedi maupun di dalam karya ilmiah serta di
dalam peraturan perundang-undangan. Keempat istilah itu
biasanya dikemukakan dalam pengertian yang berbeda,
tetapi kadang-kadang dikemukakan dalam pengertian yang
sama.1
Istilah peradilan dapat ditemukan di dalam berbagai
sumber. Istilah badan kehakiman dapat ditemukan dalam
Pasal 24 Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Istilah
badan peradilan dapat ditemukan dalam berbagai sumber,
di antaranya dalam Bab II Undang-undang Nomor 14 Tahun
1970 Jo Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999. Istilah
1 Bisri, Cik Hasan, Peradilan Agama di Indonesia (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. 2013), hlm. 1.
3

pengadilan, atau pengadilan dalam lingkungan peradilan,


dapat ditemukan dalam berbagai sumber.
2. Pengertian Peradilan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peradilan adalah
segala sesuatu mengenai perkara pengadilan.

Menurut

Mahadi, peradilan adalah suatu proses yang berakhir


dengan memberi keadilan keadilan dalam suatu proses
yang berakhir dengan memberi dalam suatu keputusan.3
Peradilan Agama adalah kekuasaan Negara dalam
menerima,

memeriksa,

mengadili,

memutus

dan

menyelesaikan perkara perkara perkawinan, kewarisan


wasiat, hibah, wakaf, dan shodaqoh diantara orang orang
Islam untuk menegakkan hukum dan keadilan
Penyelenggaraan Peradilan Agama merupakan salah
satu lingkungan peradilan yang diakui eksistensinya dalam
Undang Undang nomor 14 Tahun 1970 tentang pokok
pokok

kekuasaan

kehakiman,

merupakan

lembaga

peradilan khusus yang ditumjukkan kepada umat Islam


dengan lingkup kewenangan yang khusus pula, baik
perkaranya ataupun para pencari keadilannya ( justiciabel).
B. PERADILAN PADA AWAL KEMERDEKAAN
Segera

setelah

proklamasi

kemerdekaan

Republik

Indonesia, terjadi perubahan dalam pemerintahan (umum)


tetapi tidak dengan sendirinya terjadi perubahan yang
sangat menonjol dalam tata peradilan, khususnya

PADI.

Hal ini disebabkan karena bangsa Indonesia dihadapkan


pada revolusi fisik dalam menghadapi Belanda yang
kembali akan menjajah. Disamping itu, konstitusi yang
2 Ibid., hlm. 2.
3 Ibid., hlm. 3.
4

menjadi dasar penyelenggaraan badan-badan kekuasaa


negara memungkinkan penundaan perubahan tersebut.4
Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia Peradilan
Agama masih berpedoman kepada peraturan perundangundangan Pemerintah Kolonial Belanda berdasarkan Pasal II
Aturan

Peralihan

Undang-Undang

Dasar

1945

yang

berbunyi: segala badan negara dan peraturan yang ada


masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru
menurut Undang-Undang Dasar ini.5
Pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik balik
Indonesia,

dari

penjajahan

menuju

permulaan

dari

kemerdekaan. Oleh karena itu perlu adanya perubahan di


sektor-sektor klembagaan negara, salah satunya agama.
Oleh sebab

itu, sebagai realisasi dari pelaksanaan Sila

Ketuhanan yang Maha Esa maka atas desalkan Komite


Nasional Indonesia Pusat berdasakan usul dari Komite
Nasional Daerah Banyumas, pemerintah Republik Indonesia
dengan keputusan Nomor 1 tertanggal 3 Januari 1945
membentuk Departemen Agama.6 Haji Mohammad Rasjidi
merupakan menteri pertama kala itu.
Setelah adanya usulan Menteri Agama yang kemudian
disetujui oleh Menteri Kehakiman, menentapkan bahwa
Pengadilan Agama diserahkan kepada Kementrian Agama
dari Kementrian Kehakiman dengan ketetapan Nomor 5
tanggal 25

Maret 1946.

Sejak

saat awal terjadinya

Peradilan Agama menjadi bagian penting dari Departemen

4 Ibid., hlm. 123.


5 Abdullah Tri Wahyudi. Peradilan Agama Di Indonesia. (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 13.
6 H. Zaini Ahmad Noeh dan H. Abdul Basit Adnan, Sejarah Singkat
Pengadilan Agama Islam di Indonesia, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983),
hlm. 52.
5

Agama.7 Adapun kekuasaan Pengadilan Agama/Mahkamah


Syariyah menurut ketetapan Pasal

4 PP adalah sebagai

berikut:
1. Pengadilan Agama/Mahkamah Syariyah memeriksa
dan memutuskan perselisihan antara suami isteri dan
semua perkara yang menurut hukum yang hidup
diputus menurut hukum agama Islam.
2. Pengadilan Agama/Mahkamah Syariyah tidak berhak
memeriksa perkara-perkara tersebutdalam ayat 1 jika
untuk perkara berlaku lain dari pada hukum agama
Islam.8
Pada masa koloial Belanda tidak ada pegawai Pengadilan
Agama yang mendapat gaji tetap atau honorarium dari
pemerintah, ketua pengadilan penghulu atau penghulu
kepala yang dibayar oleh Pemerintah Hindia Belanda
bukan sebagai ketua Pengadilan, akan tetapi dalam
kedudukannya

sebagai

Islamitiseh

Adziseur

pada

Landraad. Adapun setelah kemerdekaan anggaran belanja


Pengadilan Agama disediakan oleh Pemerintah9
Dari segi hukum agamanya, dalam ranah

Peradilan

Agama pada masa awal kemerdekaan Indonesia masih


menggunakan peraturan-peraturan yang masih diadopsi
dari

hukum

Belanda

seperti

halnya

peraturan

Huwelijksordonantie, vorszenlandsche Hueelijksordonantie


Buitengerwesten. Karena dalam Pasal II Aturan peralihan
UUD

1945

meyatakan:

segala

badan

negara

dan

7 Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di


Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group), 2008., hlm. 267.

8 Sejarah Peradilan Agama http://www.paslemankab.go.id/en/artikel/72-sejarah-pa.html (online), diakses tanggal


17 Maret 2016
9 Erfaniah Zuhriah, Peradilan Agama Indonesia : Sejarah Pemikiran
dan Realita, (Yogyakarta: UIN-Malang Press, 2009), hlm. 102.
6

peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum


diadakan yang beru menurut Undang-Undang Dasar ini.
Dapat dianyatakan bahwa asas legalitas tentunya juga
diterapkan pada saat itu termasuk juga dalam Peradilan
Agama. Dan jelas pertuaran yang nantinya digunakan
sedang diproses.
Kemudian dengan adanya Maklumat Menteri Agama Ke
2 tertanggal 23 April 1946 ditentukan hal-hal sebagai
berikut:
1. Shumuka (Kantor Agama Daerah) yang pada zaman
Jepang termasuk kekuasaan Residen, menjadi jawatan
Agama Daerah yang menjadi urusan Departemen
Agama.
2. Hak untuk mengangkat Penghulu Landrad, Penghulu
dan Anggota pengadilan yang dulu berada di tangan
Residen diserahkan pula pada Departemen Agama.
3. Hak untuk mengangkat Penghulu Masjid dan pegawaipegawainya yang dulu menjadi wewenang Bupati
diserahkan pada Deartemen Agama.10
Tidak ada perubahan yang menonjol dalam tata
peradilan khususnya Peradilan Agama di Indonesia.
Seperti halnya peraturan sementara yang mengatur
Peradilan

Agama

tercantum

dalam

Verodening

November 1946 dari Chief Commandig Officer Alied


Military

Administration

Verondinguntuk

Jawa

Civil
dan

Affair

Madura

Barnch.
yang

Melalui

ditetapkan

adanya pengadilan penghulu(penghoeloe gerecht) yang


terdiri atas seorang ahli hukum Islam sebagai ketua yang
dibantu oleh dua orang anggota dan seorang panitera,
10 H. Zaini Ahmad Noeh dan H. Abdul Basit Adnan, Sejarah Singkat
Pengadilan Agama Islam di Indonesia, (Surabaya : PT Bina Ilmu. 1983),
hlm. 52.
7

sedangkan wewenangnya sama dengan Priesterraad


sebelumnya.11
Bangsa Indonesia yang dihadapkan pada revolusi fisik
dalam meghadapi Belanda yang kembali akan menjajah.
Hal

ini

menyebabkan

penyelenggaraan
memungkinkan

konstitusi

badan-badan
penundaan

yang

mendasarkan

kekuasaan

perubahaan

negara
ketentuan

(hukum) tersebut.12 Pada revolusi fisik ada beberapa hal


yang bisa dicermati seperti;
1. UU Nomor 22 Tahun 1946 tentang Pecatatan Nikah,
Talak, dan Rujuk
Dikeluarkannya UU Nomor 22 Tahun 1946 tentang
Pecatatan

Nikah,

Talak,

dan

Rujuk

menggantikan

ordonansi pencatatanyang dulu. Tugas ini dibebankan


kepada para Peghulu dan Penghulu Naib.13Penghulu yang
karena

berdasarkan

pertimbangan

bahwa

peraturan

nikah, talak, dan rujuk seperti yang diatur dalam


Huelijkesordoantie Staatsblad 1929 No.348 jo.1931 No.
467,

verszenlandsche

hueelijksordonantie

Buittengewesten 8.1932 No.482 tidak sesuai lagi dengan


keadaaan

sedangkan

pembuatan

peraturan

baru

mengenai hal tersebut tidak mungkin dilaksanakan


dalam

waktu

singkat.14

Undang-undang

tersebut

disahkan pada tanggal 21 November 1946 walaupun


hanya berlaku di Jawa dan Madura.
11 Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di
Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm. 267.
12 Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, (Jakarta: Rajawali Press.,
2011), hlm. 243.
13 H. Zaini Ahmad Noeh dan H. Abdul Basit Adnan, Sejarah Singkat
Pengadilan Agama Islam di Indonesia, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1983),
hlm. 53.
14 Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di
Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm.267268.
8

2. Penetapan Menteri Agama Nomor 6 Tahun 1947


tentang Penetapan Formasi Pengadilan Agama
terpisah dari Penghulu Kabupaten
Keluarnya penetapan Menteri Agama Nomor 6
Tahun 1947 tentang Penetapan Formasi Pengadilan
Agama terpisah dari Penghulu Kabupaten atas usul
Resolusi Komperensi Jawatan Agama seluruh Jawa dan
Madura tanggal 12-16 Nopember 1947 tertanggal 8
Desember 1947. Atau bisa dikatakan bahwa pemisahan
tugas

antara

Pegawai

penghulu

Pencatat

Nikah

kabupaten
dan

sebagai

urusan

Kepala

kepenghuluan

lainnya serta urusan kemasjidan, dengan hakim sebagai


Ketua Pengadilan Agama,15 juga sebagai Qadli Hakim
Syari.16Hal ini diadakan setelah semua penghulu dan
pegawainya sampai ke tingkat kecamatan diangkat
menjadi Pegawai Negeri.17
Seluruh ongkos menjadi

tanggungan

Negara,

sedangkan para pegawainya dibayar dengan gaji tetap.


Ongkos-ongkos

perkara

maupun

ongkos

pencatatan

N.T.R. (Nikah, Talak, dan Rujuk) disetorkan dalam kas


negara. Untuk meninggikan derajat Korps Kepenghuluan
dan Peradilan Agama serta menghilangkan sistem yang
lama

dalam

mengisi

lowongan-lowongan

pejabat

didalamnya, diadakan ujian unuk calon-calon Penghulu


oleh departemen Agama dan tugas untuk menguji
15 H. Zaini Ahmad Noeh dan H. Abdul Basit Adnan, Sejarah Singkat
Pengadilan Agama Islam di Indonesia, (Surabaya : PT Bina Ilmu, 1983),
hlm. 53.
16 Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di
Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm.268.
17 H. Zaini Ahmad Noeh dan H. Abdul Basit Adnan, Sejarah Singkat
Pengadilan Agama Islam di Indonesia, (Surabaya : PT Bina Ilmu, 1983),
hlm. 53.
9

diserahkan kepada Mahkamah Islam Tinggi. Langkah


diluar itu ialah mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Islam
(SGHI)18 yang baru dibuka bulan Maret 1948 di Surakarta
untuk mendidik calon penghulu dan guru-guru agama
menengah.
Dalam rangka mencapai kesatuan hukum, pada
akhir tahun 1947 pemerintah RI menghapus pengadilan
yang selama ini khusus berlaku di keluraga Keraton Solo
dan

Yogyakarta

pengadilan

dalam

tersendiri.

urusan

Dalam

agama

urusan

diadakan

agama

Islam

diadakan Pengadilan (Raad)Surambi dan untuk banding


ada pula Pradoto Gede. Dengan penghapusan kedua
pengadilan itu maka sejak akhir tahun 1947 Pengadilan
Agama berwenang mengadili perkara bagi keluarga
keraton.19
3. UU Nomor 19 Tahun 1948 tentang Susunan dan
Kekuasaan Badan-badan Kehakiman dan Kejaksaan
Keluarnya UU Nomor 19 Tahun 1948 tentang
Susunan dan Kekuasaan Badan-badan Kehakimandan
Kejaksaan yang ditetapkan Wakil Presiden Mohammad
Hatta dan Menteri Kehakiman Soesanto Tirtoprojo di
Yogyakarta

tanggal

Juni

1948.Undang-undang

ini

bermaksud mengatur mengenai peradilan dan sekaligus


mencabut serta menyempurnakan isi Undang-Undang
No. 7 Tahun 1947 tentang Susunan dan Kekuasaan
Mahkamah Agung dan Kejaksaan yang mulai berlaku
pada

tanggal

Maret

1947.20Isinya

antara

lain

dihapuskannya susunan Pengadilan Agama yang telah


18 Ibid., hlm. 53.
19 Erfaniah Zuhriah, Peradilan Agama Indonesia : Sejarah Pemikiran
dan Realita, (Yogyakarta : UIN-Malang Press, 2009), hlm. 104.
20 Ibid., hlm. 105.
10

ada sebelumnya. Sebab dalam Pasal 6 ayat 1 UU No. 19


tahun 1948 berbunyi : Dalam Negara Republik Indonesia
ada tiga lingkungan peradilan yaitu: (1) Peradilan Umum,
(2) Peradilan Tata Usaha Pemerintahan, (3) Peradilan
Ketentaraan. Kelanjutan Peradilan Agama hanya mampu
masuk dalam Peradilan Umum walaupun tidak ada
ketentuan tegas yang menghapuskannya. Hal itu seprti
halnya

dijelaskan

dalam

Pasal

35

Ayat

(2)

yang

menyatakan bahwa perkara perdata antara orang Islam


yang menurut hukum hidup harus diperiksa dan diputus
menurut

hukum

agamanya,

harus

diperiksa

oleh

Peradilan Negeri, terdiri atas seorang hakim beragama


Islam, sebagai ketua dan dua hakim ahli agama Islam
sebagai anggota yang diangkat oleh presiden atas usul
Menteri Agama dengan persetujuan Menteri Kehakiman.21
Pasal 53 dan Pasal 75 menentukan bahwa dalam
Peradilan Negeri, Peradilan Tinggi dan Mahkamah Agung,
ada satu bagian yang memriksa dan memutuskan
perkara-perkara

yang

sebelumnya

diperiksa

dan

diputuskan oleh Peradilan Negeri dalam Peradilan Tingkat


Pertama, Pengdailan Tinggi dalam Peradilan Tingkat
Banding, dan Mahkamah Agung dalam Peradilan Kasasi.
Perbedaan antara bagian Isalam dari pengadilan ini dan
bagian lain ialah bahwa bagian Islam, juga dalam
pengadilan tingkat (Peradilan Negeri)22 memutusakan
seperti yang tercantum dalam Pasal 35 Ayat 2.
Kelahiran undang-undang tersebut menibulkan
reaksi dari beberapa daerah. Dari kalangan ulama
21 Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di
Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm.268269.
22 Erfaniah Zuhriah, Peradilan Agama Indonesia : Sejarah Pemikiran
dan Realita, (Yogyakarta : UIN-Malang Press, 2009), hlm. 106.
11

Sumatera seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera


Selatan menolak kehadiran undang-undang tersebut dan
mengusulkan agar Mahkamah Syariyah yang sudah ada
tetap berjalan dan uang diatur oleh Menteri Agama dan
Menteri

Kehakiman.

Karena

adanya

banyak

pertentangan, akhirnya undang-undang tersebut tidak


pernah dinyatakan berlaku.23 Dan sebagai penggantinya,
pada ketentuan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945,
maka pelaksanaan Peradilan Agama masih didasarkan
kepada Stb. 1882 No. 152.Keadaan ini berlaku di daerahdaerah yang dikuasai secara de factooleh Pemerintah
Republik

Indonesia,

terutama

di

daerah

Jawa

dan

Madura.24
4. Recomba Jawa Barat No. Rec. Wj 229/72 dan
Javaasche Courant 1946 No.32 dan 39 Tahun 1948
No.25, dan Tahun 1949 nomor 29 dan 65
Keputusan Recomba Jawa Barat No. Rec. Wj 229/72
Tanggal 2 April 1948 dan peraturan yang tercantum
dalam Javaasche Courant 1946 No.32 dan 39 Tahun 1948
No.25, dan Tahun 1949 nomor 29 dan 65 menentukan
bahwa di daerah-daerah yang dikuasai tentara sekutu
dan Belanda, intansi yang bernama Priesterraad diubah
menjadi Penghoeloe Gerecht.25
Di samping itu,juga dibentuk majelis ulama yang
bertindak sebagai pengadilan bandingan mengimbangi
Mahkamah Islam Tinggi yang ketika itu sudah pindah ke
23 Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di
Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm.269.
24 H. Zaini Ahmad Noeh dan H. Abdul Basit Adnan, Sejarah Singkat
Pengadilan Agama Islam di Indonesia, (Surabaya : PT Bina Ilmu, 1983),
hlm. 53.
25 Alaiddin Koto, Sejarah Peradilan Islam, (Jakarta : Rajawali Press,
2011), hlm. 244.
12

Surakarta. Itulah sebabnya Jawa dan Madura terdapat 80


Pengadilan Agama dan satu cabang Bawean yang
tergabung dengan Mahkamah Islam Tinggi sebelum
Agresi Militer I tahun 1947.26
Sedangkan di luar Jawa dan Madura yang terjadi
pada saat revolusi fisik dapat dilihat dari indikasi-indikasi
yakni,
1. Di beberapa daerah Sumatera sebagai hasil revolusi
kemerdekaan 1 Agustus 1946 terbentuk Mahkamah
Syar-iayah di daerah Aceh, Tapanuli, Sumatera Tengah,
jambi, Palembang, dan Lampung, yang semuanya itu
oleh pemerintah darurat yang berada di Pematang
Siantar diakui secara sah dengan surat (kawat) 13
Januari 1947
2. Di daerah-daerah lain seperti Kalimantan Barat dan
Timur yang masing-masing dengan Mahkamah Balai
Agama dan Majelis Agama Islamnya, di Sulawesi, Nusa
Tenggara,

dan

Maluku

syariyah

baik

yang

Rechters maupun
Beambte,

dasar

berdasarkan

semuanya
berasal

dengan

dari

hakim

Godsdientige

Mohammedaansche Godsdientige
pelestarian

peraturan

Peradilan

swapraja

dan

Agamanya
peraturan

swapraja dan peraturan adat meskipun atas kuasa


setempat termasuk Kerapatan Qadhi di Kalimantan
Selatan.
C. KEKUASAAN KEHAKIMAN SEBELUM REFORMASI
Pada

awal

kemerdekaan,

perkembangan

kekuasaan

kehakiman di Indonesia belum mengarah kepada bentuknya


26 Jaenal Aripin, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi Hukum di
Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2008), hlm. 269.
13

yang independen dan mandiri. Hal ini bisa dilihat dari lembaga
peradilan yang masih belum mengalami bentuknya semula
ketika

masa

kolonial.

Begitu

pula

dengan

perundang

undangannya, susunan lembaga peradilan masih diatur didalam


Undang Undang No. 34 Tahun 1942 tentang Susuna Peradilan
Sipil,

27

meskipun sudah lahir Undang undang Nomor 7 Tahun

1947 tentang Susunan dam Kekuasaan Mahkamah Agung dan


Kejaksaan Agung.
Pada perkembangan sselanjutnya yakni ketika Indonesia
menjadi Negara serikat, pengaturan lembaga peradilan berbeda
dengan yang diatur dalam UUD 1945, karena itu, yang digunakan
adalah Undang Undang Dasar Sementara (UUDS). Akan tetapi
perubahan

ini

berpengaruh

pada

lembaga

peradilannya

mengingat dalam UUDS tidak lagi diakui daerah daerah atau


Negara bagian, padahal pada waktu itu, Indonesia dibagi atas
beberapa daerah bagian, termasuk macam macam dan jenis
peradilannya. Maka, sebagai realisasi dari UUDS, diundangkanlah
Undang Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951. UU inilah yang
kemudian menjadi dasar menghapuskan beberapa peradilan
yang tidak sesuai dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
termasuk penghapusan Peradilan Swapraja di beberapa daerah
dan semua Peradilan adat.28
Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, tepatnya
pada saaat diterapkan system demokrasi terpimpin , sejarah
,mencatat terjadinya berbagai penyimpangan dan pasang surut
perjalanan kekuasaan kehakiman di Indonesia, baik yang bersifat
administrative
Indepedensi

maupun

kekuasaan

yang

sifatnya

kehakiman

pernah

teknis

yustisial.

dikesampingkan,

27 Jaenal Aripin, Badan Peradilan dalam Dinamika Sejarah Kekuasaan


Kehakiman, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 174.
28 Rusli Muhammad, Kemandirian Pengadilan Dalam Proses Penegakan
Hukkum Pidana Menuju Sistem Peradilan Pidana yang Bebas dan Bertanggung
Jawab, (Semarang: 2004) hlm. 81

14

terutama ketika Ia mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.29


Pokok pokok Kekuasaan Kehakiman, dimana dalam ketentuan
Pasal 19 undang undang tersebut disebutkan bahwa Demi
kepentingan revolusi, kehormatan Negara dan bangsa atau
kepentingan masyarakat yang sangat mendesak, presiden dapat
turut campur dalam soal soal pengadilan.
Dilihat dari aspek teori trias politika, maka intervensi
pemerintah terhadap pelaksanaan kekuasaan kehakiman jelas
bertentangan dengan prinsip pemisahan kekuasaan kehakiman
jelas bertentangan dengan prinsip pemisahan kekuasaan Negara
( separation of power ) seperti dinyatakan oleh beberapa tokoh/
pemikir bidang hukum / kenegaraan, semisal John Locke ( 1632
1704 M)30 yang jelas jelas mengharuskan adanya pemisahan
antara ketiga kekuasaan Negara, yakni; Eksekutif, Legislatif, dan
yudikatif.

Tujuan

dipisahkannya

ketiga

kekuasaan

Negara

tersebut adalah agar masing masing organ tidak ikut campur


atau melakukan intervensi terhadap organ lain serta terciptanyaa
cheks and balance dimana setiap cabang mengendalikan dan
mengimbangi kekuatan cabang cabang kekuasaan lain.
Meskipun masih ada intervensi dari pihak eksekutif
terhadap kekuasaan kehakiman , namun sejarah mencatat
bahwa, pada tahun 1964, melalui UU No. 19 Tahun 1964 tentang
Ketentuan Pook Pokok Kekuasaan Kehakiman Disebutkan
bahwa, Peradilan Negara Republik Indonesia Menjalankan dan
melaksanakan hukum yang mempunyai fungsi penganyoman,
yang dilaksanakan dalam lingkunganPeradilan Umum, Peradilan
Agama, Peradilan Militer, dan Pwradilan Taata Usaaha Negara.
penganyoman, yang dilaksanakan dalam lingkunganPeradilan
29 Syed Farid Al Atas, Democracy and Authoritarianism in Indonesia and
Malaysia, (London: MacMillan Press Ltd, 1997), hlm. 132

30 M. Khoiril Anam, Dasar dasar Ilmu Hukum dan Ilmu Politik (Bandung:
Nusa Media 2007), hlm. 80.

15

Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Pwradilan Taata


Usaaha Negara.31
Disamping itu, ada beberapa undang-undang lain yang
berkaitan
lingkungan

dengan

kekuasaan

peradilan

sipil/

kehakiman,
umum,

terutama

yaitu:

dalam

Undangundang

Daarurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang tindakan tindakan


sementara untuk menyelesaikan Kesatuan Susunan, Kekuasaan
dan Acara Pengadilan pengadilan sipil. Sampai sekarang ini
UndangUndang Darurat Nomor 1 Tahun 1a951 secara resmi
balum dicabut, oleh karena itu masih berlaku adanya dan
UndangUndang Nomor 13 Tahun 1965 tentang Pengadilan
dalam Lingkungan peradilan Umum dan Mahkamah Agung.
Undang Undang ini todak berlaku lagi karena dudah dicabut
berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970.
Dengan demikian, Mahkamah agung di sini Berperan
sebagai pengawas tertinggi atas perbuatan hakim dari semua
lingkungan

peradilan.

Sejak

tahun

1970

tersebut,

maka

Mahkamah Agung mempunyai organisasi, administrasi, dan


keuangan sendiri. Mahkamah agung menjalankan tugasnya
dengan melakukan lima fungsi yang sebenarnya sudah dimiliki
sejak

Hooggerechtshof,

yaitu;

fungsi

peradilan,

fungsi

pengawasan, fungsi pengaturan, fungsi member nasehat, dan


fungsi administrasi.
D. PERADILAN

AGAMA

SEBAGAI

PELAKSANA

KEKUASAAN KEHAKIMAN
Sejak keluarnya Dekrit Presiden Tahun 1959 dan Undang
Undang Dasar kembali kepada UUD 1945, pelaksanaan bidang
peradilan merupakan implementasi dari kekuasaan kehakiman
sebagaimana digariskan dalam Pasal 24 ayat ( 2 ) UUD 1945
31
16

yang berbunyi: Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah


mahkamah Agung dan lainlain badan kehakiman menurut
Undang-Undang.
Pengakuan terhadap Peradilan Agama sebagai salah satu
lembaga

peradilan

yang

melaksanakan

sebagian

tugas

pemerintahan dalam bidang peradilan terjelma dengan lahirnya


UU No. 19 Tahun 1946. Bahkan dengan lahirnya UU No. 1 Tahun
1974, yang menggantikan UU No. 19 Tahun 1946, Peradilan
Agama diakui sebagai salah satu dari 4 ( empat ) lingkungan
peradilan yang sah , yaitu peradilan umum, Peradilan Agama,
peradilan tata usaha Negara dan peradilan militer. Dengan
demikian posisi Peradilan Agama memiliki kekuatan dan derajat
yang sama dengan lembaga lembaga peradilan lainnya sebagai
peradilan Negara.32
Dalam perkembangannya, kekuasaan dan kewenangan Peradilan
Agama itu mulai mendapat porsi, sejalan dengan lahirnya UU No.
1 Tahun 1974, yang pelaksanaanya diatur dalam PP No. 9 Tahun
1975, dengan melimpahkan segala jenis perkara perkawinan
orang orang yang beragama Islam ke Pengadilan Agama.
Begitu pula PP No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan, memberi
kekuasaan
perkara

kepada

Peradilan

perwakafan

tanah

Agama

milik.

untuk

Namun

menyelesaikan

demikian,

dalam

praktiknya, Peradilan Agama belum menunjukkan kemandiriian


dalam

melaksanakan

rupoksi

peradilan

sebagai

pengdilan

Negara yang independen. Terlebih dengan terdapanya ketentuan


tentang pengukuhan pada Pasal 63 ayat ( 2 ) UU No. 1 Tahun
1974, yang mengharuskan setiap keputusan pengadilan agam
dikukuhkan oleh pngadilan negeri.
Secara

sosio

politik,

keadaan

tersebut

merupakan

langkah surut ke masa Kolonial Belanda, sebagai akibat kuatnya


32 Ibid., hlm. 143.
17

pengaruh

receptive

theorie,

yang

secara

tidak

langsung

menempatkan Peradilan Agama sebagai pelengkap peradilan


umum. Dapat dibayangkan, bagaimana nasibnya keputusan
Pengadilan

Agama

apabila

suatu

saat

tidak

mendapatkan

pengukuhan dari peradilan umum. Hal itu jelas sangat merugikan


pihak pihak yang tengah berperkara , yang menginginkan
perkaranya

dapat

segera

mendapat

kepastian

hukum.

Di

samping itu, Pengadilan Agama pun akan menerima akibat yang


ditimbulkan oleh adanya keidak pastian keputusan itu , antara
lain akan terjadinya degradasi kepercayaan dari masyarakat
pencari keadilan. Mereka tidak akan mempercayai lagi lembaga
Peradilan Agama sebagai tempat menyelesaikan perkara dan
bentengnya penegakan hukum dan keadilan.33
Bagaimanapun,

eksistensi

Peradilan

Agama

itu

tidak

terlepas dari lemahnya regulasi yang secara khusus mengatur


mengenai: susunan, kekuasaan, dan acara Peradilan Agama.
Karena eksistensi peradilan itu sangat tergantung pada adanya
regulasiketiga unsure peradilan tersebut, karena itu dalam
praktiknya, wujud Peradilan Agama tidak berbeda dengan
lembaga peradilan yang kerempeng. Karena setiap putusan
Pengadilan Agama tidak memiliki kekuatan mengikat untuk
dipaksakan, sehingga apabila terjadi salah satu diantara pihak
yang berpekara tidak mau tunduk ( membangkang ) kepada
putusan Pengadilan Agama itu, maka harus dimintakan terlebih
dahulu kekuatan hukum untuk dijalankan dari Peradilan Negeri
dalam bentuk pengukuhan. Namun demikian, pengukuhan itu
sendiri

bersifat

fakultatif,

yakni

diperlukan

hanya

kalau

dimintakan oleh pihak yang berkepentingan. Oleh sebab itu,


putusan

yang

telah

dilaksanakan

denan

sukarela

tidak

33 Oyon Sunaryo Mukhlas, Perkembangan Peradilan Islam, (Bogor:


Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 144.
18

memerlukan permohanan untuk pengukuhan kepada Peradilan


Negeri.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peradilan Agama merupakan Peradilan Agama adalah
kekuasaan Negara dalam menerima, memeriksa, mengadili,
memutus dan menyelesaikan perkara perkara yang berbasis
agama diantara orang orang Islam untuk menegakkan hukum
dan keadilan
.

Perkebamangan

peradilan

agama

bisa

dilihat

diawal

perkembangan Indonesia yang baru lepas dari penjajahan untuk


memplokalmirkan kemerdeakaan. Diawal masa kemerdekaan itu,
peradilan

agama

belum

terlalu

menonjol

dari

segi

tata

peradilannya, karena beberapa tahun kemudian terjadi agresi


militer

dari

Belanda.

Kedudukanya

pun

tidak

mengalami
19

perubahan meskipun tatanan pemerintah sedikit banyak telah


mengalami perubahan.
Tata peradilan

memulai menghirup angin segar tatanan

dan setatus yang baru setelah adanya usulan dari Menteri


Agama

kepada presiden agar dilakukan reposisi terhadap

peradilan agama. Peradilan Agama yang awalnya berada dalam


pengawasan dan penguasaan Kekuasaan Kementrian Kehakiman
dan kemudian diserahkan kepada Kementrian Agama.
Pengadilan

Agama

yang

telah

diserahkan

pada

Departemen Agama memiliki kendala seperti ada pihak yang


berusaha menghapuskan keberadaan peradilan agama. Usahausaha yang mengarah pada penghapusan Peradilan Agama ini
menjadikan pandangan untuk lebih memperhatikan Pengadilan
Agama. Pada kurun waktu antara tahun 1946-1948, terdapat
beberapa aturan yang yang perlu dicermati , yakni:

Undang-undang nomor 22 tahun 1946.


Peraturan menteri agama nomor 6 tahun 1947.
Undang-undang nomor 19 tahun 1948.
Keputusan Recomba Jawa Barat No.Rec Wj.229/72
tanggal 2 April 1948 dan peraturan yang tercantum
dalam Javaassche Courant 1946 No. 32 dan 39 Tahun
1948 No.25, dan 1949 No. 29 dan 65.

Setelah adanya penyerahan kedaulatan secara penuh


kepada

pemerintah

tersebut

dihapuskan

Republik
serta

Indonesia

tidak

peraturan-peraturan

berlaku

lagi

berdasarkan

peraturan pemerintah pengganti undang-undang nomor 1 tahun


1950. Seiring dengan perkembangan jaman, peradilan agama di
Indonesia turut serta berkembang menjadi lebih baik.

Sejarah

panjang yang dilalui oleh peradilan agama dengan bentuk


ragam, status kedudukan, dan juga kewenangan yang dimilikinya
telah

memberikan

pemahaman

dan

wawasan

kepada
20

masyarakat akan kuat dan kukuhnya Peradilan Agama sebagai


pranata sosial hukum yang telah berdiri, hidup dan berkembang
di Indonesia. Dan posisi Peradilan Agama memiliki layaknya
kekuatan dan derajat yang sama dengan lembaga lembaga
peradilan lainnya sebagai peradilan Negara.

DAFTAR PUSTAKA
Anam, M. Khoiril, Dasar dasar Ilmu Hukum dan Ilmu Politik.
Bandung: Nusa Media. 2007.
Aripin, Jaenal, Peradilan Agama dalam Bingkai Reformasi
Hukum di Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada Media
Group. 2008.
Bisri, Cik Hasan, Peradilan Agama di Indonesia, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada. 2013.

21

Koto, Alaiddin, Sejarah Peradilan Islam. Jakarta: Rajawali Press.


2011.
Noeh, H. Zaini Ahmad dan H. Abdul Basit Adnan, Sejarah
Singkat Pengadilan Agama Islam di Indonesia. Surabaya:
PT Bina Ilmu. 1983.
Mukhlas, Oyon Sunaryo, Perkembangan Peradilan Islam, Bogor:
Ghalia Indonesia, 2011.
Rusli

Muhammad,

Kemandirian

Pengadilan

Dalam

Proses

Penegakan Hukum Pidana Menuju Sistem Peradilan Pidana


yang Bebas dan Bertanggung Jawab.

Semarang: 2004.

Syed Farid Al Atas, Democracy and Authoritarianism in


Indonesia and

Malaysia, London: MacMillan Press Ltd.

1997.
Wahyudi, Abdullah tri, Peradilan Agama di Indonesia, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2004.
Zuhriah,

Erfaniah,

Peradilan

Agama

Indonesia

Sejarah

Pemikiran dan Realita. Yogyakarta : UIN-Malang Press.


2009.
Online

Sejarah

Peradilan

Agama,

http://www.pa-

slemankab.go.id/en/artikel/72-sejarah-pa.html

(online),

diakses tanggal 17 Maret 2016.

22