Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA PRODUK ALAM

PERCOBAAN II
JALUR ASETAT-MALONAT

Disusun Oleh:
Golongan BII/Kelompok 5
Fera Maharani
(FA/09636)
Sausanzahra Angganisaputri (FA/09637)
Shella Syafira Wijayanti
(FA/09638)

Asisten Jaga

: Mbak Asri
Mbak Prawita

LABORATORIUM KIMIA PRODUK ALAM


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015

PERCOBAAN II
JALUR ASETAT-MALONAT

I. Tujuan
1. Mahasiswa diharapkan mampu memahami prinsip pemisahan dan identifikasi
senyawa dengan metode Kromatografi Lapis Tipis.
2. Mahasiswa diharapkan mampu memisahkan dan mengidentifikasi golongan
senyawa-senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan dari jalur asetat-malonat
dengan teknik Kromatografi Lapis Tipis.
II. Alat dan bahan
1. Alat
a. Lempeng KLT
b. Bejana KLT
c. Sinar UV 254nm dan 366nm
d. Pipa kapiler
e. Alat penyemprot
f. Pinset
2. Bahan
a. Larutan pembanding:
- Antron
- Istizin
b. Larutan uji:
- Getah Aloe vera
- Rhei Radix
c. Fase gerak:
- Etil Asetat:Methanol:Aquadest (100:13.5:10)
- Toluene:Etil Asetat:Methanol (5:1.5:3.5)
d. Fase diam: Silica gel F254
e. Uap amonia
f. KOH etanolik 10%
III. CARA KERJA
1. Prosedur penyiapan larutan sampel
Dimasukkan masing-masing 0.3 gram serbuk Rhei Radix dan Getah Aloe vera
ke dalam dua tabung reaksi yang berbeda
Masing-masing simplisia diekstraksi dengan 2 mL methanol
Dipanaskan di waterbath selama 5 menit, disaring

Masing-masing filtrat yang terbentuk dibagi menjadi dua bagian (bagian I pada
tabung reaksi dan bagian II pada cawan porselen)
Filtrat bagian I dihidrolisis sedangkan filtrat bagian II ditotolkan pada plat
(ditandai sebagai sampel Non Hidrolisis)
2. Prosedur Hidrolisis
Filtrat Aloe vera dan Rhei Radix pada tabung reaksi diuapkan sisa pelarutnya
hingga tinggal 0,5 mL
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Ditambahkan 3 mL HCl 1N
Diletakkan corong kaca pada lubang tabung dan lubang corong ditutup dengan
kapas basah
Dihidrolisis selama 20 menit pada waterbath
Ditambahkan 2 ml etil asetat, digojog
Dipindah fase etil asetat (fase atas) ke dalam cawan porselen
Ditambahkan 2 ml etil asetat pada fase bawah, digojog
Dipindah fase etil asetat ke dalam cawan porselen yang sama
Ditandai sebagai sampel Hidrolisis
3. Prosedur KLT
Dilakukan penjenuhan bejana/chamber berisi fase gerak (oleh laboran)
Disiapkan dua plat KLT untuk sampel Hidrolisis dan Non Hidrolisis
Masing-masing plat ditotolkan larutan pembanding yaitu antron (dua totolan)
dan istizin (dua totolan) pada titik yang sama menggunakan pipa kapiler
Ditotolkan masing-masing larutan uji sebanyak 4 kali penotolan menggunakan
pipa kapiler (jarak penotolan 1.0 cm dari tepi bawah lempeng)
Dibiarkan sampai kering
Ditetapkan jarak rambat 5 cm dari titik penotolan dan ditandai dengan pensil
pada tepi atas

Dicek bercak di bawah sinar UV 254 nm


Dimasukkan kedua lempeng KLT pada bejana masing-masing yang sudah
dijenuhi fase gerak dengan hati-hati
Disandarkan lempeng KLT pada dinding bejana hingga bagian bawah lempeng
tercelup fase gerak
Ditutup bejana dengan rapat dan dipastikan bahwa totolan tidak tercelup fase
gerak dan fase gerak bergerak keatas secara bersama-sama (membentuk garis
horizontal lurus)
Dibiarkan fase gerak bergerak keatas pada permukaan lempeng hingga mencapai
batas jarak rambat yang sudah ditetapkan
Dikeluarkan lempeng dan dikeringkan di udara
Diamati bercak pada sinar tampak, sinar UV 254nm, dan sinar UV 366nm
Didokumentasikan dan dihitung harga Rf dari bercak-bercak senyawa hasil
pemisahan dan dibandingkan dengan senyawa pembanding
Kedua plat KLT diuapi dengan ammonia
Diamati bercak pada sinar tampak dan sinar UV 366 nm
Didokumentasikan dan dihitung harga Rf dari bercak-bercak senyawa hasil
pemisahan dan dibandingkan dengan senyawa pembanding
Kedua plat KLT disemprot dengan pereaksi KOH etanolik 10%
Diamati bercak pada sinar tampak dan sinar UV 366 nm
Didokumentasikan dan dihitung harga Rf dari bercak-bercak senyawa hasil
pemisahan dan dibandingkan dengan senyawa pembanding

IV. HASIL PERCOBAAN


1. Sampel Non Hidrolisis
a. Getah Aloe vera
b. Rhei Radix
Fase diam
Fase gerak
Penotolan sampel
Jarak elusi
Deteksi

: Silica gel F 254


: Etil asetat:Methanol:Aquadest (100:13.5:10)
: 4 kali
: 5 cm
: Uap ammonia dan KOH etanolik 10%

a. Sebelum disemprot
1. Sinar tampak
P

2. UV 254nm
R

3. UV 366nm
R

b. Setelah disemprot
1. Uap Amonia
Sinar Tampak
P

Sinar UV 366 nm
R

2. KOH Etanolik 10%


Sinar Tampak
P

Sinar UV 366 nm
R

2. Sampel Hidrolisis
a. Getah Aloe vera
b. Rhei Radix
Fase diam
Fase gerak
Penotolan sampel
Jarak elusi
Deteksi
a. Sebelum Disemprot

: Silica gel F 254


: Toluen:Etil Asetat:Methanol (5:1.5:3.5)
: 4 kali
: 5 cm
: Uap ammonia dan KOH etanolik 10%

1. Sinar Tampak
P

2. Sinar UV 254 nm
R

3. Sinar UV 366 nm
P

b. Setelah Disemprot
1. Uap Ammonia
Sinar Tampak
P

Sinar UV 366 nm
R

2. KOH Etanolik 10%


Sinar Tampak
P

Sinar UV 366 nm
R

Tabel Rf
1. Non Hidrolisis
Sebelum disemprot
Tampak
UV 254
UV 366
P
A
R
P
A
R
P A
R

No

0.96

A
B
C
D
E
F

0.96

0.96

0.18

0.96

0.96

0.96

0.96

0.5

0.8

0.6

0.6

0.4

0.5

0.7

0.18

0.4

0.6

0.3

0.5

0.18

0.18

Setelah diberi uap amonia


Tampak
UV 366 nm
P
A
R
P
A
R
0.96
0.96 0.96 0.96 0.96
0.6
0.76
0.46
0.7
0.18
0.6
0.4

No
A
B
C
D
E
F

No
A
B
C
D
E
F
G
H
I

Setelah disemprot KOH Etanolik 10%


Tampak
UV 366 nm
P
A
R
P
A
R
0.96 0.96 0.96 0.96 0.96 0.96
0.6
0.5
0.9
0.4
0.8
0.2
0.74
0.7
0.6
0.5
0.4
0.18

2. Hidrolisis

No

A
B

No
A
B
C

No
A
B
C
D

Sebelum disemprot
Tampak
UV 254
UV 366
P
A
R
P
A
R
P A
R
0.96

0.96

0.96

0.96

0.96

0.96

0.6

0.96

0.96
0.92

Setelah diberi uap amonia


Tampak
UV 366 nm
P
A
R
P
A
R
0.96
0.96 0.96 0.96 0.96
0.72
0.92
0.72
Setelah disemprot KOH Etanolik 10%
Tampak
UV 366 nm
P
A
R
P
A
R
0.96
0.96 0.96 0.96 0.96
0.72 0.72
0.72
0.5
0.24

Analisis:
Untuk menganalisa senyawa pada suatu sampel, perlu diamati harga Rf dan
warna bercak sampel dan pembanding. Sampel dikatakan mengandung senyawa
pembanding apabila harga Rf dan warna bercaknya sama.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa Rhei
Radix (Non Hidrolisis) diduga mengandung senyawa pembanding yaitu Antron
karena harga Rf sama (0.96) dan warna bercak sama (kuning) yang terlihat pada
sinar tampak, sinar UV 254 nm, dan UV 366 nm sebelum disemprot serta pada
sinar tampak dan sinar UV 366 nm setelah diberi perlakuan dengan uap ammonia.
Getah Aloe vera (Hidrolisis) diduga mengandung senyawa pembanding yaitu
Antron karena memiliki harga Rf yang sama (0.96) serta warna bercak yang sama
(biru) yang dapat diamati pada sinar UV 254 nm sebelum disemprot.

Foto hasil pengamatan:


1. Sampel non hidrolisis
a. Sebelum disemprot

Sinar tampak

UV 254 nm

UV 366 nm
b. Setelah disemprot
i. Uap ammonia

Sinar tampak

UV 366 nm

ii. KOH etanolik

Sinar tampak

UV 366 nm

2. Sampel hidrolisis
a. Sebelum disemprot

Sinar tampak
b. Setelah disemprot
i. Uap ammonia

UV 366 nm

UV 254 nm

ii. KOH etanolik

Sinar tampak

UV 366 nm

V. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa senyawa yang
dihasilkan dari jalur asetat-malonat dari suatu produk alam menggunakan teknik
Kromatografi Lapis Tipis. Kandungan senyawa yang akan diidentifikasi pada
praktikum ini adalah Aloin dan Emodin.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah prosedur analisis yang teknik
pengerjaannya cukup sederhana, cepat, dan murah sehingga memberikan ahli
kimia jawaban yang cepat tentang berapa banyak komponen dalam suatu
campuran sampel yang dianalisis.
KLT juga dapat digunakan untuk mendukung identitas senyawa dalam
campuran ketika Rf senyawa dibandingkan dengan Rf senyawa yang dikenal.
Sebuah plat KLT biasanya dibuat dari lembaran kaca, logam, atau plastic dengan
ukuran tertentu dan permukaan yang rata yang dilapisi dengan fase diam berupa
lapisan tipis adsorben padat (biasanya silica atau alumina).
Pada Kromatografi Lapis Tipis, sampel yang akan dianalisis dilarutkan pada
pelarut yang sesuai kemudian sampel dan pembanding ditotolkan dalam bentuk
titik atau pita pada permukaan fase diam. Setelah penotolan, sebaiknya plat
diamati di bawah sinar UV untuk mengetahui apakah sampel dan pembanding
yang ditotolkan sudah dapat diampati. Plat KLT kemudian dicelupkan pada fase
gerak di dalam chamber tertutup. Perlu diperhatikan agar totolan sampel tidak ikut
tercelup dalam fase gerak karena hal ini akan menyebabkan sampel dan
pembanding dapat terlarut pada fase gerak dan tidak terjadi pemisahan. Fase gerak
atau eluen perlahan-lahan akan bergerak ke atas plat KLT mengikuti gaya kapiler
hingga batas elusi yang telah ditentukan. Prinsip pemisahan komponen pada
teknik KLT didasarkan atas perbedaan kekuatan interaksi masing-masing
komponen dengan fase gerak dan fase diam. Suatu komponen yang kepolarannya
lebih sama dengan fase diam akan berinteraksi lebih kuat dengan fase diam
sehingga memiliki kecepatan migrasi yang lebih lambat. Akibatnya, jarak migrasi
senyawa tersebut lebih pendek. Jika kepolaran komponen lebih sama dengan fase

gerak, komponen tersebut akan lebih kuat interaksinya dengan fase gerak
sehingga lebih mudah terbawa dan menghasilkan kecepatan migrasi yang lebih
cepat serta jarak migrasi yang lebih panjang. Ketika fase gerak telah mencapai
batas yang ditentukan, plat diangkat dari ruang elusidasi kemudian dianginanginkan sebentar di udara. Senyawa hasil identifikasi divisualisasikan dengan
detector yang sesuai (UV, sinar tampak, pereaksi kimia). Jika senyawa merupakan
senyawa yang berwarna, visualisasi cukup dilakukan dengan sinar tampak.
Namun kebanyakan senyawa organik yang diidentifikasi merupakan senyawa
tidak berwarna, sehingga perlu dilakukan visualisasi lebih lanjut dengan
menggunakan lampu UV baik pada gelombang pendek maupun gelombang
panjang.
Pengamatan di bawah sinar UV gelombang pendek (254 nm) dan gelombang
panjang (366 nm) dimaksudkan agar dapat menampakan senyawa sebagai bercak
yang berwarna gelap (UV 254 nm) dan untuk menampakkan bercak yang
berfluorosensi sehingga pada pengamatan terlihat bercak berpendar (UV 366 nm).
Keuntungan menggunakan sinar UV untuk memvisualisasikan bercak adalah sinar
UV tidak merusak senyawa yang dideteksi. Cara pemvisualisasian dengan
penyemprotan menggunakan asam sulfat dan pemanasan dilakukan untuk
mengoksidasi senyawa-senyawa organik yang tampak sebagai bercak hitam
kecoklatan. Adanya warna hitam kecoklatan menunjukkan adanya senyawa
organik pada sampel.
Dalam teknik KLT, perbandingan jarak rambat bercak senyawa sampel
terhadap jarak rambat fase gerak diukur dari titik penotolan dinyatakan sebagai
Rf. Identifikasi senyawa diamati dengan menghitung dan membandingkan harga
Rf antara senyawa pembanding dan senyawa sampel. Jika harga Rf senyawa
sampel sama dengan harga Rf senyawa pembanding, artinya senyawa sampel dan
pembanding memiliki kepolaran yang mirip, namun bukan berarti bahwa sampel
mengandung senyawa pembanding. Sampel dikatakan mengandung senyawa
pembanding apabila baik harga Rf maupun warna bercaknya sama. Harga Rf
bukan merupakan konstanta fisik karena akan berubah sesuai dengan kondisi
percobaan.
Pada percobaan ini, senyawa yang digunakan sebagai sampel adalah golongan
senyawa jalur metabolit asam malonat yaitu getah Aloe vera dan Rhei radix
(Rheum officinalum). Untuk senyawa pembanding digunakan campuran antronistizin yang dilarutkan dalam etanol.
Aloe vera adalah anggota famili Aloaceae dengan kandungan utama asam
amino, antrakinon, enzim, mineral, vitamin, lignin, monosakarida, polisakarida,
saponin san sterol. Antrakinon penting yang terkandung dalam Aloe vera adalah
aloin dan emodin. Aloe vera memiliki aktivitas antifungi, antiinflamasi, antikanker
serta immunomodulator (Gupta and Maholtra, 2012)
Rhei radix adalah anggota family Polygonaceae dengan kandungan utama
glikosida antrakinon yaitu emodin, physcion, aloe-emodin, khrisofanol, rheinosida
A-D serta sennosida A-F. Rhei Radix memiliki sifat utama yaitu sebagai laxative

agent sehingga pada bidang farmasi sering digunakan untuk pengobatan


konstipasi jangka pendek. (Anonim, 2008)
Praktikan diberi dua buah plat KLT yang dilapisi silica gel F 254 sebagai fase
diam. Kedua plat telah diberi tanda 1 cm dari dasar plat sebagai titik awal
penotolan. Sebelum dilakukan penotolan larutan pembanding dan sampel, diberi
tanda pada titik yang berjarak 5 cm dari titik awal penotolan sebagai titik batas
elusi.
Selanjutnya itu dilakukan penyiapan sampel yang akan diidentifikasi. Larutan
sampel yang dibuat adalah getah Aloe vera dan serbuk Rhei Radix yang
diekstraksi dengan methanol dan dipanaskan di waterbath selama 5 menit.
Metanol digunakan sebagai pelarut karena metanol merupakan pelarut polar
sehingga glikosida antrakuinon akan tersari atau tertarik ke dalam methanol
karena glikosida antrakinon juga bersifat polar. Kemudian filtrat dibagi menjadi
dua, bagian pertama akan dilakukan proses hidrolisis asam sebelum ditotolkan
pada plat KLT sedangkan bagian lainnya akan dijadikan sebagai sampel non
hidrolisis (langsung ditotolkan). Hidrolisis sampel dengan asam ini dilakukan
untuk memecah ikatan glikosidik sehingga aglikon dan glikon terpisah.
Proses hidrolisis sampel dilakukan dengan menguapkan pelarut kemudian
sampel yang telah diuapkan pelarutnya dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
ditambahkan 3 ml HCL 1 N kemudian ditutup dengan corong kaca dan kapas
basah untuk dilakukan proses hidrolisis dengan waterbath selama 20 menit.
Selanjutnya dilakukan partisi hasil dengan 2 ml etil asetat sebanyak 2 kali. Bagian
aglikon yang telah terpisah dari gula setelah dihidrolisis berada pada fase etil
asetat yang akan digunakan untuk proses kromatografi. Pada uji secara non
hidrolisis, ekstrak yang diperoleh langsung ditotolkan pada plat KLT.
Setelah semua sampel siap, masing-masing plat ditotolkan sampel. Satu plat
untuk sampel hidrolisis dan yang satu lagi untuk sampel non hidrolisis. Pada dua
plat ini pembanding yang digunakan sama yaitu antron dan istizin. Sampel
ditotolkan sebanyak empat kali. Untuk pembanding cara penotolannya adalah
antron ditotolkan dua kali, setelah itu istizin dua kali. Tiap kali penotolan harus
ditunggu kering sebelum dilakukan penotolan selanjutnya. Penotolan yang
dilakukan harus menghasilkan titik yang sekecil mungkin agar bercak yang terjadi
tidak melebar sehingga tidak mengurangi derajat pemisahan. Setelah penotolan
selesai dilakukan, plat KLT dimasukkan ke dalam bejana yang telah dijenuhi oleh
fase gerak. Bejana harus jenuh agar homogenitas tekanan uap di dalam bejana
sama sehingga kecepatan migrasi fase gerak pada saat elusi akan sama. Jika
kecepatan fase gerak sama, maka kecepatan senyawa ketika elusi pada masing
masing plat akan sama. Memasukkan plat KLT ke dalam fase gerak harus
dilakukan dengan segera dan hati-hati agar fase gerak tidak menguap dan agar
bejana tetap jenuh oleh uap fase gerak. Setelah itu dibiarkan agar fase gerak
bergerak ke atas plat hingga batas yang ditentukan.
Setelah fase gerak mencapai batas elusi, plat KLT segera diambil dan
dikeringkan di udara. Plat KLT kemudian diamati dengan sinar tampak, sinar UV

254 nm dan UV 366 nm. Selanjutnya plat KLT diberi uap ammonia lalu diamati
lagi pada sinar tampak dan UV 366 nm. Kemudian visualisasi dilanjutkan dengan
penyemprotan KOH-Etanolik 10% dan kembali dilakukan pengamatan dibawah
sinar tampak serta UV 366 nm. Bercak yang tidak tervisualisasikan dapat lebih
jelas terlihat setelah diberi perlakuan dengan reagen penampak bercak. Dengan
penyemprotan, distribusi pereaksi penampak bercak akan terbentuk secara lebih
homogen dan tidak terlalu tebal. Berikut adalah analisis praktikan setelah
dilakukan pengamatan terhadap sampel:
1. Sampel non hidrolisis
Pada pengamatan setelah penotolan sampel, teramati bahwa sampel
Rhei Radix dan pembanding memiliki warna dan harga Rf yang sama pada
pengamatan di bawah sinar tampak, UV 254 nm dan UV 366 nm. Warna
bercak kuning dengan harga Rf 0.96. Untuk sampel Aloe vera pada
pengamatan di bawah sinar UV 366 nm terlihat harga Rf sama dengan
harga Rf pembanding yaitu 0.96 namun memiliki warna bercak yang
berbeda.
Seteleh dilakukan visualisasi sampel dengan uap ammonia, hasil yang
teramati masih sama yaitu warna bercak kuning dengan Rf 0.96 sama
seperti pembanding untuk sampel Rhei radix dan harga Rf sama 0.96
namun berbeda warna bercak untuk sampel Aloe vera.
Selanjutnya dilakukan visusalisasi sampel dengan penyemprotan
KOH-Etanolik 10% dan terlihat bahwa sampel Rhei radix dan pembanding
memiliki harga Rf yang sama namun berbeda warna bercak pada
pengamatan di bawah sinar tampak. Pada pengamatan di bawah UV 366
nm kedua sampel, baik Aloe vera maupun Rhei radix memiliki harga Rf
sama seperti pembanding namun warna bercaknya berbeda.
Dari hasil ini dapat dilakukan analisis sementara bahwa Rhei radix
mengandung senyawa pembanding karena memiliki harga Rf yang sama
dan warna bercak yang sama pula. Senyawa pembanding yang diduga
terdapat dalam sampel Rhei Radix adalah antron. Pada percobaan ini,
bercak istizin tidak terlihat namun kepolaran istizin lebih besar
dibandingkan antron sehingga pada kromatografi normal antron memiliki
harga Rf yang lebih besar dibanding istizin. Atas dasar itu dapat
disimpulkan bahwa bercak senyawa pembanding yang terjadi adalah
bercak senyawa antron (Rf=0.96). Selain itu, ketika disamakan dengan
literatur, diketahui bahwa sampel Rhei Radix memang mengandung
senyawa antron. Hasil ini sesuai teori.
2. Sampel hidrolisis
Pada pengamatan setelah penotolan sampel, teramati bahwa sampel
Rhei Radix dan pembanding memiliki warna dan harga Rf yang sama pada
pengamatan di bawah sinar tampak, UV 254 nm dan UV 366 nm. Warna
bercak kuning, biru dan merah dengan harga Rf 0.96. Untuk sampel Aloe

vera pada pengamatan di bawah sinar UV 254 nm terlihat harga Rf sama


dengan harga Rf pembanding yaitu 0.96 dan memiliki warna bercak yang
sama yaitu biru.
Seteleh dilakukan visualisasi sampel dengan uap ammonia, hasil yang
teramati hampir sama yaitu warna bercak kuning dengan Rf 0.96 sama
seperti pembanding untuk sampel Rhei radix dan harga Rf sama 0.96
namun berbeda warna bercak untuk sampel Aloe vera.
Selanjutnya dilakukan visusalisasi sampel dengan penyemprotan
KOH-Etanolik 10% dan terlihat bahwa sampel Rhei radix dan pembanding
memiliki harga Rf yang sama yaitu 0.96. Aloe vera memiliki warna bercak
yang berbeda dengan pembanding namun harga Rfnya sama.
Dari hasil ini dapat diketahui analisis sementara bahwa Rhei radix dan
Aloe vera mengandung senyawa pembanding karena memiliki harga Rf
yang sama dan warna bercak yang sama pula. Senyawa pembanding yang
diduga terdapat dalam sampel Rhei Radix dan getah Aloe vera adalah
antron. Pada percobaan ini, bercak istizin juga tidak terlihat namun
kepolaran istizin lebih besar dibandingkan antron sehingga pada
kromatografi normal antron memiliki harga Rf yang lebih besar dibanding
istizin karena antron (yang lebih nonpolar) memiliki ikatan yang lemah
dengan silica gel yang polar, sehingga antron lebih mudah terbawa oleh
fase diam dibandingkan istizin yang lebih polar. Atas dasar itu
kemungkinan bercak senyawa pembanding yang terjadi adalah bercak
senyawa antron (Rf=0.96). Ketika disamakan dengan literatur, diketahui
bahwa sampel Rhei radix dan Aloe vera memang mengandung senyawa
antron. Hasil percobaan yang didapatkan sesuai teori.
VI. KESIMPULAN
1. Getah Aloe vera menunjukkan warna bercak dan harga Rf yang sama dengan
pembanding pada identifikasi sampel hidrolisis. Hal ini menunjukkan bahwa
Aloe vera mengandung senyawa pembanding antron. Hasil ini sesuai teori.
2. Rhei Radix menunjukkan warna bercak dan harga Rf yang sama dengan
pembanding pada identifikasi sampel hidrolisis dan non hidrolisis. Hal ini
menunjukkan bahwa Rhei Radix mengandung senyawa pembanding antron.
Hasil ini sesuai teori.
VII.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008, Assessment Report of Rhubarb (Rhei Radix),
http://www.ema.europa.eu/docs/en_GB/document_library/Herbal__HMPC_assessment_report/2009/12/WC500018404.pdf, diakses 29
Maret 2015.
Anonim, 2015, Thin Layer Chromatography Information,
http://orgchem.colorado.edu/Technique/Procedures/TLC/TLC.html,
diakses 13 Maret 2015.
Baldwin, G., 2015, Aloe Vera,

http://www.herballegacy.com/Baldwin_Chemical.html, diakses 29 Maret


2015.
Vinay, K.G, Seema Malhotra, 2012, Pharmacological attribute of Aloe vera:
Revalidation through experimental and clinical studies,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3611630/, diakses 29
Maret 2015.

Yogyakarta, 29 Maret 2015


Praktikan,
Fera Maharani (FA/09636)
Sausanzahra A. (FA/09637)
Shella Syafira W. (FA/09638)