Anda di halaman 1dari 63

Format Pengkajian Pada LANSIA

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta (1983) telah disepakati bahwa keperawatan
adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian
kebutuhan dasar manusia. Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat
komprehensif, ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat, baik dalam kondisi sehat dan sakit yang
mencakup seluruh kehidupan manusia. Sedangkan asuhan yang diberikan berupa bantuian-bantuan
kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya
kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri.
Pada makalah ini akan dibahas secara singkat asuhan keperawatan pada pasien lanjut usia dan
pengkajiannya di tatanan klinik (clinical area), dimanan pendekatan yang digunakan adalah proses
keperawatan yang meliputi pengkajian (assessment), merumuskan diagnosa keperawatan (Nursing
diagnosis), merencanakan tindakan keperawatan (intervention), melaksanakan tindakan keperawatan
(Implementation) dan melakukan evaluasi (Evaluation).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Bentuk Asuhan Keperawatan
a. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia
Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia menurut Depkes, dimaksudkan untuk
memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara
individu maupun kelompok, seperti di rumah / lingkungan keluarga, Panti Werda maupun Puskesmas, yang
diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga
atau petugas sosial yang bukan tenaga keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan
langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti.
Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut usia,
apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain:
1.

Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal
hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala, rambut,
badan, kuku, mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan : makanan yang
sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariai dan mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.

2.

Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang perlu diperhatikan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut
usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas. Khususnya bagi yang lumpuh, perlu
dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet).
Lanjut usia mempunyai potensi besar untuk menjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitan
dengan bertambahnya usia, antara lain:
1. Berkurangnya jaringan lemak subkutan
2. Berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas
3. Menurunnya efisiensi kolateral capital pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh
4. Adanya kecenderungan lansia imobilisasi sehingga potensi terjadinya dekubitus.

b. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia


1.

Pendekatan fisik
Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami

klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bias di
capai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya. Perawatan fisik
secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu:
1)

Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang
lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri.

2)

Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan
atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang
berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya.
Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat
sumber infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang mendapat perhatian.
Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan, dapat mempengaruhi ketahanan
tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar. Untuk klien lanjut usia yang masih aktif dapat
diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut
dan kuku, kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya, hal makanan, cara memakan obat, dan cara
pindahdari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. Hal ini penting meskipun tidak selalu keluhan-keluhan
yang dikemukakan atau gejala yang ditemukan memerlukan perawatan, tidak jarang pada klien lanjut usia
dihadapkan pada dokter dalam keadaan gawat yang memerlukan tindakan darurat dan intensif, misalnya
gangguan serebrovaskuler mendadak, trauma, intoksikasi dan kejang-kejang, untuk itu perlu pengamatan
secermat mungkin.
Adapun komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan atau membantu
para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar, makan, minum, melakukan eliminasi, tidur, menjaga
sikap tubuh waktu berjalan, tidur, duduk, merubah posisi tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh, memakai
dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan melindungi kulit dan kecelakaan.Toleransi terhadap
kekurangan O2 sangat menurun pada klien lanjut usia, untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harus
dicegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal, jangan melakukan gerak badan yang berlebihan.
Seorang perawat harus mampu memotifasi para klien lanjut usia agar mau dan menerima
makanan yang disajikan. Kurangnya kemampuan mengunyah sering dapat menyebabkan hilangnya nafsu
makan. Untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menghidangkan makanan agak lunak atau memakai

gigi palsu. Waktu makan yang teratur, menu bervariasi dan bergizi, makanan yang serasi dan suasana
yang menyenangkan dapat menambah selera makan, bila ada penyakit tertentu perawat harus mengatur
makanan mereka sesuai dengan diet yang dianjurkan.
Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat
sumber infeksi bisa saja timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, kebersihan
badan, tempat tidur, kebersihan rambut, kuku dan mulut atau gigi perlu mendapat perhatian perawatan
karena semua itu akan mempengaruhi kesehatan klien lanjut usia.
Perawat perlu mengadakan pemeriksaan kesehatan, hal ini harus dilakukan kepada klien lanjut
usia yang diduga menderita penyakit tertentu atau secara berkala bila memperlihatkan kelainan, misalnya:
batuk, pilek, dsb. Perawat perlu memberikan penjelasan dan penyuluhan kesehatan jika ada keluhan
insomnia, harus dicari penyebabnya, kemudian mengkomunikasikan dengan mereka tentang cara
pemecahannya. Perawat harus mendekatkan diri dengan klien lanjut usia membimbing dengan sabar dan
ramah, sambil bertanya apa keluhan yang dirasakan, bagaimana tentang tidur, makan, apakah obat sudah
dimminum, apakah mereka bisa melaksanakan ibadah dsb. Sentuhan (misalnya genggaman tangan)
terkadang sangat berarti buat mereka.
2.

Pendekatan psikis
Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien

lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter , interpreter terhadap segala sesuatu yang asing,
sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki
kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima
berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip
Tripple, yaitu sabar, simpatik dan service.
Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih sayang dari lingkungan,
termasuk perawat yang memberikan perawatan.. Untuk itu perawat harus selalu menciptakan suasana
yang aman , tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobi
yang dimilikinya.
Perawat harus membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam memecahkan dan
mengurangi rasa putus asa , rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik, dan
kelainan yang dideritanya.

Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin
lanjutnya usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk
peristiwa yang baru terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan ,
perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang, dan pergeseran libido.
Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang membosankan, jangan
menertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa melakukan kesalahan . Harus diingat kemunduran
ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan, perawat bila
melakukannya secara perlahan lahan dan bertahap, perawat harus dapat mendukung mental mereka
kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu
diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia.
3.

Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam

pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama klien usia berarti
menciptakan sosialisasi mereka. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat
bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain
Penyakit memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk
mengadakan konunikasi dan melakukan rekreasi, misal jalan pagi, nonton film, atau hiburan lain. Tidak
sedikit klien tidak tidur terasa, stress memikirkan penyakitnya, biaya hidup, keluarga yang dirumah
sehingga menimbulkan kekecewaan, ketakutan atau kekhawatiran, dan rasa kecemasan.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia, hal ini dapat diatasi dengan
berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai
hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan
dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di Panti Werda atau Rumah Sakit.
4.

Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan

Tuhan atau agama yang dianutnua dalam kedaan sakit atau mendeteksikematian.
Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian, DR.
Tony styobuhi mengemukakn bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. Rasa semacam ini didasari

oleh berbagai macam factor, seperti ketidak pastian akan pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit dan
kegelisahan kumpul lagi bengan keluatga dan lingkungan sekitarnya. Dalam menghadapi kematian setiap
klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda, tergantung dari kepribadian dan cara dalam
mengahadapi hidup ini. Adapun kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga perawat
harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun kelurga tadi di tinggalkan , masih ada orang lain yang
mengurus mereka. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut usia.
Umumnya pada waktu kematian akan datang agama atau kepercayaan seseorang merupakan
factor yang penting sekali. Pada waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu untuk melapangkan
dada klien lanjut usia.
Dengan demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja,
melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka.

c. Tujuan Asuhan Keperawatan Lanjut Usia


Agar lanjut usia dapat melaukan kegiatan sehari hari secara mandiri dengan:
Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan jalan
perawatan dan pencegahan.
Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life
support)
menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan baik kronis maupun akut.
Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan
dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu
Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit, masih
dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara
kemandirian secara maksimal).

d. Fokus Keperawatan Lanjut Usia


Keperawatan lanjut usia berfokus pada :
1.

Peningkatan kesehatan (helth promotion)

2.

Pencegahan penyakit (preventif)

3.

Mengoptimalkan fungsi mental

4.

Mengatasi gangguan kesehatan yang umum.

e. Diagnosa Keperawatan
1.

Aspek fisik atau biologis


Dx : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak mampu dalam

memasukkan, memasukan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena factor biologi


NOC I : Status nutrisi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien diharapkan mampu:
1.

Asupan nutrisi tidak bermasalah

2.

Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah

3.

Energy tdak bermasalah

4.

Berat badan ideal

NIC I : Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder management)


1)

Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan untuk memuat perencanaan perawatan jika sesuai.

2)

Diskusikan dengan tim dan pasien untuk membuat target berat badann, jika berat badan pasien tdak
sesuia dengan usia dan bentuk tubuh.

3)

Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari supaya mencapai dan atau
mempertahankan berat badan sesuai target.

4)

Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien

5)

Kembangkan hubungan suportif dengna pasien

6)

Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan dan kenaikan atau pemeliharaan
berat badan

7)

Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan dan untuk menimimalkan berat
badan.

8)

Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku yang mendukung peningkatan berat
badan.

B. Bentuk Pengkajian Keperawatan


Format Pengkajian Lansia
Tanggal pengambilan data :
Ruang

Reg

I.

IDENTITAS KLIEN

Nama

Tempat dan tanggal lahir

Pendidikan terakhir

Agama

Status

TB/BB

Penampilan

Ciri-ciri tubuh

Alamat

Orang yang dekat dihubungi

Hubungan dengan usila

Alamat

Tanggal masuk panti

Riwayat keluarga
- Genogram.
-

Keterangan.

Riwayat Pekerjaan

Pekerjaan saat ini

Alamat pekerjaan

Jarak dari rumah

Alat transportasi

Pekerjaan sebelumnya

Berapa jarak dari rumah

Sumber sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan :

Riwayat Lingkungan Hidup


Tipe tempat tinggal

Jumlah kamar
Kondisi tempat tinggal

:
: (pencahayaan cukup terang, ventilasi baik tidak lembab, bersih tidak

pengap)
Jumlah orang yang tinggal dirumah :
Derajat privasi

Tetangga terdekat

Alamat / telpon

Riwayat rekreasi

Hobby/minat

Keanggotaan organisasi

Liburan perjalanan

Sistem pendukung
Diskripsi Kekhususan
Status Kesehatan
Alasan Datang ke Rumah Sakit
II.

KELUHAN UTAMA

Penatalaksanaan masalah kesehatan

Pola persepsi pemeliharaan kesehatan

Alergi

Penyakit yang diderita

Pola aktifitas Hidup sehari hari

Kemampuan Perawatan Diri, Independen, Bantuan Alat, Bantuan orang lain, Bantuan orang lain &
peralatan, Dependent. Aktifitas yang dinilai antara lain :
1. makan /minum
2. mandi
3. Berpakaian
4. Ke WC
5. Transfering/pindah
6. Ambulasi
Indeks Katz

Nutrisi

Eliminasi

Aktifitas

Istirahat & tidur

Personal Hygeine

Seksual

Rekreasi

Psikologis

a)

Persepsi klien

b)

Konsep diri

c)

Emosi

d)

Adaptasi

e)

Mekanisme pertahanan diri

f)

Tinjauan system

Keadaan umum :
Tingkat kesadaran :

GCS : membuka mata = , verbal = , psikomotor =


Tanda vital : nadi = X/menit RR = X/mnt, tensi = mmHg
1)

Sistem kardiovaskuler

2)

Sisten pernafasan

3)

Sistem integument

4)

Sistem musculoskeletal

5)

Sistem endokrin

6)

Sistem gastrointestinal

7)

Sistem persyarafan

8)

Sistem pengecapan

9)

Sistem penciuman

Status kognitif ,Afektif dan sosial :


1)

SPSMQ

2)

MMSE

3)

Inventaris depresi beck

4)

APGAR keluarga

5)

M. data penunjang

Lab

Radiologi

EKG

USG

CT_scan

Obat obatan :

III.

ANALISA DATA

DATA MASALAH ETIOLOGI


Subjektif : (klien mengatakan)
Obyektif : (data yang diperoleh dari pengamatan)
Diagnose keperawatan berdasarkan prioritas masalah

1.
2.
RENCANA KEPERAWATAN
a. Diagnosa keperawatan 1 :
b. Diagnosa keperawatan 2 :
IMPLEMENTASI dan EVALUASI
Diagnosa Keperawatan.1:
Diagnosa implementasi dan evaluasi
1.

Diagnosa Keperawatan 2 :
Diagnosa implementasi dan evaluasi
2.

PERKEMBANGAN KEPERAWATAN
No.

Hari / Tanggal Diagnosa Keperawatan

Perkembangan
Keperawatan
S

1.

O
A
P
S

2.

O
A
P

INDEKS KATZ
( Indek Kemandirian Pada Aktivitas kehidupan Sehari Hari )
Nama Klie

Tanggal

Jenis Kelamin

: L/P

Umur

TB/BB

Keterangan

Agama

Suku

Gol Darah

Tingkat Pendidikan

Alamat

Skore Kriteria
A. Kemandirian dalam hal makan, berpindah tempat, kekamar kecil, berpakaian dan mandi
B.

Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari hari, kecuali satu dari fungsi tersebut.

C.

Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari hari, kecuali mandi dan satu fungsi tersebut

D. Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari hari, kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi
tambahan.
E.

Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari hari, kecuali mandi, berpakaian, kekamar kecil dan satu
fungsi tambahan.

F.

Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari hari, kecuali mandi, berpakaian, kekamar kecil,
berpindah dan satu fungsi tambahan.

G. Ketergantungan pada ke lima fungsi tersebut.


Lain lain tergantung pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat diklasifikasi sebagai C,D,atau F.
SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE
( SPMSQ ).
( Penilaian ini untuk mengetahui fungsi intelektual lansia )
Nama

Alamat

Tanggal

Jenis Kelamin

Umur

TB/BB

Agama

Suku

Gol Darah

Tigkat Pendidikan

Nama Pewancara :
Pertanyaan
:
1. Tanggal Berapa Sekarang Hari Tgl Th
2. Hari apa sekarang ?
3. Apa nama Tempat ini
4. Berapa nomor telepon anda ?
4. a Dimana Alamat anda
( tanyakan bila tidak memiliki telepon )
5. Berapa umur anda ?
6. Kapan anda lahir ?
7. Siapa Presiden Indonesia sekarang ?
8. Siapa Presiden sebelumnya
9. Siapa nama kecil ibu anda ?
10 Kurangi 3 dari angka 20, tetap kurangi 3 lagi untuk hasil angka pertama
Jumlah Kesalahan Total
Ketengan :
1. Kesalahan 0 -2 : Fungsi Inteletual Utuh
2. Kesalahan 3-4 : Kerusakan Inteletual Ringan
3. Kesalahan 5-7 : Kerusakan Inteletual Sedang
4. Kesalahan 8-10 : Kerusakan Intelektual Berat
Bisa dimaklumi bila lebih dari satu kesalahan bila subyek hanya berpendidikan sekolah dasar.

PENGKAJIAN PADA LANSIA


PENGKAJIAN LANSIA SEBAGAI INDIVIDU
A. Pola Persepsi kesehatan dan Pemeliharaan kesehatan
Subyektif:
1.
2.

Bagaimana pendapat lansia tentang kesehatan dirinya saat ini?


Apakah lansia merasa dapat mengatasi hal-hal yang mempengaruhi kesehatannya?

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Apa yang dilakukan secara rutin?


Apakah lansia secara rutin melakukan pemeriksaan ke pelayanan kesehatan?
Bagaimana cara lansia mengatasi penyakitnya?
Perihal apakah di dalam agama/kepercayaan lansia terkait dengan pemeliharaan kesehatan?
Apakah lansia mengkonsumsi makanan-makanan yang berisiko terhadap kesehatannya?
Apakah lansia mempunyai sumber yang cukup untuk memelihara kesehatannya?
Apakah lansia mempunyai pengetahuan yang cukup untuk mengambil keputusan tentang pemeliharaan
kesehatan?
Apakah lansia pernah mengalami kecelakaan atau injuri pada masa lalu?
Apakah lansia pernah menjalani atau memiliki riwayat operasi?
Apakah ada reaksi alergi terhadap obat/makanan/barang-barang tertentu, dan lain-lain?
Apakah lansia mempunyai keinginan untuk menjaga atau memelihara kesehatannya?
Obyektif:
Bagaimana kebersihan diri lansia (rambut, kulit, mulut dan geligi, gigi palsu, genitalia, anus)

B. Pola Nutrisi metabolik


Subyektif:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Apa jenis, jumlah dan frekuensi makanan yang dikonsumsi lansia dalam sehari?
Apakah ada makanan suplemen, vitamin atau obat-obatan yang terkait dengan nutrisi?
Jenis makanan yang disukai?
Bagaimana nafsu makan lansia?
Apakah ada kesulitan makan (nyeri menelan, mual, kembung, sulit menelan, dan lain-lain)?
Apakah ada diet?
Bagaimana kecukupan intake/output cairan?
Apakah berat badan: normal/over/underweight?
Apakah ada perubahan berat badan dalam waktu dekat?
Adanya gag reflex?
Obyektif:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Bagaimana kondisi: rambut, turgor kulit, conjungtiva, palpebrae, sclera, gigi geligi, rongga mulut, gusi,
lidah, kelenjar getah bening, status hidrasi?
Suhu tubuh?
Bagaimana hasil pemeriksaan abdomen?
Adanya edema?
Kemampuan mengunyah keras?
Apakah menggunakan gigi palsu?
Hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostic yang terkait dengan kecukupan nutrisi lansia?
Berat badan, tinggi badan dan IMT?
Apakah lansia dapat melakukan perubahan posisi atau ambulasi? integritas kulit

C. Pola Eliminasi

Subyektif:
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana pola BAB: frekuensi, kontinen/inkotinen, konsistensi, warna, apakah ada nyeri, karakteristik?
Apakah ada kesulitan BAB?
Apakah menggunakan obat-obatan yang terkait dengan BAB (laksatives, supositoria, dan lain-lain)?
Bagaimana pola BAK: frekuensi, kontinen/inkotinen, warna, oliguri, anuria, jumlah, dan apakah ada nyeri?
Apakah mengeluarkan urin atau BAB saat batuk, bersin, atau tertawa?
Obyektif:

1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana kondisi abdomen, anus, mulut uretra, dan adanya nyeri ketuk ginjal?
Jumlah urin yang dikeluarkan?
Apakah lansia terlihat memegang perutnya?
Bising usus?
Hasil pemeriksaan/medik/laboratorium yang dilakukan terkait dengan eliminasi.

D. Pola Aktivitas Latihan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Subyektif:
Bagaimana pola aktivitas/latihan lansia: jenis aktivitas, frekuensi, lamanya?
Apakah teratur dalam melakukan latihan pergerakan sendi?
Adakah keluhan ketika beraktivitas?
Apakah ada hambatan fisik dalam melakukan aktivitas dan berupa apa hambatan tersebut?
Alat bantu apa yang diperlukan lansia pada saat beraktifitas, apakah lansia merasa nyaman dengan alat
tersebut?
Apakah lansia mengalami gangguan keseimbangan?
Adakah keluhan sesak, lelah, lemah?
Seberapa jauh dapat melakukan aktivitas?
Adakah keluhan nyeri dada, batuk? Bagaimana dengan produksi slym?
Apakah lansia mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi?
Obyektif:
Apakah lansia memerlukan bantuan orang lain atau alat bantu untuk beraktifitas?
Apakah lingkungan cukup aman bagi lansia untuk melakukan aktifitas?
Bagaimana dengan uji kekuatan otot?
Adakah tanda-tanda hipotensi orthostatik?
Bagaimana dengan postur dan gaya jalan lansia?
Apakah klien mampu memenuhi kebutuhan hariannya?
Adakah tanda-tanda sianosis, takikardi, diaphoresis?
Dispnea setelah beraktivitas?
Apakah ektremitas dingin?
Range of motion?
Apakah lingkungan aman bagi lansia?
Apakah lansia mampu pindah tempat secara mandiri?
Bagaimana hasil pemeriksaan thoraks dan jantung, serta lengan dan tungkai?
Hasil observasi: P, N, TD, JVP, kapilary refill, edema perifer. Laboratorium, EKG, dan pemeriksaan

diagnostik lainnya.
15. Mengukul IADL (Instrumental activities of daily living)

E. Pola Istirahat Tidur


1.
2.
3.
4.

Subyektif:
Apakah lansia merasa segar setelah tidur pada malam hari?
Kebiasaan tidur berapa jam/hari, pukul berapa, siang/malam?
Apakah tidur dapat berlangsung lama atau sering terbangun?
Apakah ada laporan tentang lansia: pernapasan yang abnormal, mendengkur terlalu keras, gerakan-

gerakan abnormal pada waktu tidur?


Apa yang dilakukan lansia sebagai ritual tidur atau upaya untuk menigkatkan kualitas tidurnya?
Apa yang menyebabkan lansia sering terbangun pada waktu tidur (rasa sakit, berisik, atau hal lain)?
Adakah lansia mengalami gangguan tidur?
Obyektif:
1. Apakah lansia terlihat capai/lesu/tanda-tanda kurang tidur yang lain (lingkar hitam pada kelopak)?
2. Jenis obat tidur yang digunakan dan kapan digunakan?
3. Tanda dan gejala yang timbul akibat kurang tidur?
5.
6.
7.

F.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
1.
2.
3.
4.

Pola Kognitif Perseptual


Subyektif:
Apakah lansia menggunakan alat bantu dengar,penglihatan?
Apakah ada gangguan persepsi sensori?
Apakah lansia mengatakan adanya perubahan-perubahan dalam memori?
Apakah ada kesulitan dalam mengingat kejadian jangka waktu dekat atau yang sudah lama terjadi?
Apakah mengalami disorientasi tempat/waktu/orang?
Bagaimana kemampuan dalam pengambilan keputusan (mandiri/dibantu)?
Apakah ada perubahan perilaku (hiperaktif/hipoaktif)?
Apakah ada perubahan dalam konsentrasi?
Apakah gelisah, tidak kooperatif, marah, menarik diri, depresi, halusinasi, delusi?
Adakah riwayat stroke/tanda-tanda infeksi?
Adakah ketidaknyamanan/nyeri yang dialami lansia?
Obyektif:
Adakah perubahan dosis/jenis obat akhir-akhir ini?
Hasil MMSE, pemeriksaan medik, laboratorium.
Apakah lansia tampak bingung dan sulit konsentrasi?
Bagaimana dengan fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan, perabaan, penghidu?

G. Pola Persepsi diri - Konsep diri


1.
2.
3.
4.
5.

Subyektif:
Apakah lansia mengekspresikan/mengatakan ketakutan atau kekhawatiran?
Apakah lansia mampu mengidentifikasi sumber ketakutan/kekhawatiran?
Apakah lansia mengatakan tidak dapat menguasai hidupnya? Kegagalan/keputusasaan?
Apakah dia kehilangan sesuatu yang berarti/pindah tempat/berpisah dengan seseorang yang dicintai?
Bagaimana penampilan umum, postur tubuh, mau/menolak kontak mata?

6.
7.
8.
9.
10.

Apakah berkomentar negatif tentang dirinya?


Apakah klien tidak mau melihat pada bagian tubuh yang rusak?
Apakah menunjukkan sikap agresif, marah, menuntut?
Apakah lansia dapat menceritakan ketakutan terhadap kematian?
Apakah lansia sering menyendiri?

1.

Obyektif:
Adakah gejala stimulasi sistem saraf otonom (peningkatan denyut nadi, jumlah pernapasan, tekanan

2.
3.

darah, diaphoresis)?
Apakah lansia kelihatan pasif?
Bagaimana hasil pengkajian uji saraf kranial?

H. Pola Peran Hubungan


Subyektif:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apakah lansia mengikuti organisasi kemasyarakatan atau kegiatan sosial lainnya?


Bagaimana interaksi lansia dalam keluarga dan lingkungannya?
Apakah ada perubahan peran akibat proses penuaan?
Bagaimana sikap klien dengan kehilangan orang yang disayangi?
Apakah klien mengalami kesulitan dalam berbicara atau berkomunikasi?
Apakah ada ketegangan dengan orang di sekitar lansia?
Obyektif:
Observasi interaksi antara anggota keluarga atau dengan lingkungan sekitar

I.

Pola Seksual Reproduksi

1.
2.
3.
4.

Adakah perubahan fisiologis yang berdampak terhadap seksualitas lansia?


Kapan lansia mengalami menopause? Keluhan apa yang dirasakan setelah mengalami menopause?
Apa upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah akibat menopause?
Masihkah ada minat dalam melakukan hubungan intim dengan pasangan? Bagaimana dengan frekuensi

dan adakah kesulitan?


5. Adakah keluhan dengan prostat atau hernia?
J.

Pola Kooping Toleransi Stress


Subyektif:

1.
2.

Bagaimana status emosi lansia?


Adakah masalah/stress psikologis akhir-akhir ini seperti: depresi, kehilangan, pasangan hidup, minder,

dan lain-lain?
3. Bagaimana upaya pengelolaan stress? Apakah upaya tersebut membantu lansia mengatasi masalahnya?
4. Bagaimana lansia memproyeksikan stressor yang terjadi?
5. Apakah lansia dapat menerima status kesehatannya?

6.

Adakah pengalaman yang traumatik pada lansia?


Obyektif:
Catat perilaku atau manifestasi psikologis dari mood, afek, kecemasan, dan stress

K. Pola Nilai Kepercayaan


Subyektif:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sistem nilai, tujuan dan keyakinan apa yang dimiliki lansia.


Apakah lansia teratur melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya?
Apakah lansia teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan?
Apa latar belakang yang dimiliki lansia (agama, filosofi, kultur)?
Apakah sistem tersebut mempengaruhi semua aspek baik kesehatan atau koping terhadap stress?
Apakah lansia marah kepada Tuhan ketika mengalami sedang sakit?
Apakah lansia mengalami kesulitan untuk menjalankan ibadah?
Obyektif:
Observasi adanya alat-alat untuk ibadah
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan telah menurunkan angka kematian umum, angka
kematian bayi, dan angka kelahiran. Hal ini berdampak pada meningkatnya usia harapan hidup bangsa
Indonesia dan meningkatnya jumlah penduduk golongan lanjut usia.
Pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia tercatat sebagai paling pesat di
dunia dalam kurun waktu tahun 1990-2025. Jumlah lansia yang kini sekitar 16 juta orang, akan menjadi
25,5 juta pada tahun 2020, atau sebesar 11,37 persen dari jumlah penduduk. Itu berarti jumlah lansia di
Indonesia akan berada di peringkat empat dunia, di bawah Cina, India, dan Amerika Serikat.
Menurut data demografi internasional dari Bureau of the Census USA (1993), kenaikan jumlah lansia
Indonesia antara tahun 1990-2025 mencapai 414%, tertinggi di dunia. Kenaikan pesat itu berkait dengan
usia harapan hidup penduduk Indonesia.
Dalam sensus Badan Pusat Statistik (BPS) 1998, harapan hidup penduduk Indonesia rata-rata 63
tahun untuk kaum pria, dan wanita 67 tahun. Tetapi menurut kajian WHO (1999) harapan penduduk
Indonesia rata-rata 59,7 tahun, menempati peringkat ke-103 dunia. Nomor satu adalah Jepang (74,5
tahun).
Perhatian pemerintah terhadap keberadaan lansia sudah meningkat. GBHN 1993 mengamanatkan
agar lansia yang masih produktif dan mandiri diberi kesempatan berperan aktif dalam pembangunan..

Pemerintah juga menetapkan tanggal 29 mei sebagai Hari Lansia Nasional, sedang DPR menerbitkan UU
no 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia.
Dengan makin bertambahnya penduduk usia lanjut, bertambah pula penderita golongan ini yang
memerlukan pelayanan kesehatan. Berbeda dengan segmen populasi lain, populasi lanjut usia dimanapun
selalu menunjukkan morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibanding populasi lain. Disamping itu, oleh
karena aspek disabilitas yang tinggi pada segmen populasi ini selalu membutuhkan derajat keperawatan
yang tinggi.
Keperawatan pada usia lanjut merupakan bagian dari tugas dan profesi keperawatan yang
memerlukan berbagai keahlian dan keterampilan yang spesifik, sehingga di bidang keperawatan pun saat
ini ilmu keperawatan lanjut usia berkembang menjadi suatu spesialisasi yang mulai berkembang.
Keperawatan lanjut usia dalam bahasa Inggris sering dibedakan atas Gerontologic nursing
(=gerontic nursing) dan geriatric nursing sesuai keterlibatannya dalam bidang yang berlainan. Gerontologic
nurse atau perawat gerontologi adalah perawat yang bertugas memberikan asuhan keperawatan pada
semua penderita berusia diatas 65 tahun (di Indonesia dan Asia dipakai batasan usia 60 tahun) tanpa
melihat apapun penyebabnya dan dimanapun dia bertugas. Secara definisi, hal ini berbeda dengan
perawat geriatrik, yaitu mereka yang berusia diatas 65 tahun dan menderita lebih dari satu macam penyakit
(multipel patologi), disertai dengan berbagai masalah psikologik maupun sosial.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1
Tujuan Umum
a.
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Komunitas III
b. Agar mahasiswa mampu memahami gangguan-gangguan biologis yang terjadi pada lansia.
c.
Agar mahasiswa mampu memahami dan membuat Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan
1.2.2

Gangguan Biologis.
Tujuan Khusus

a.

Mengenal masalah kesehatan lansia.

b.

Memutuskan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah kesehatan pada lansia.

c.

Melakukan tindakan perawatan kesehatan yang tepat kepada lansia.

d.

Memelihara/memodifikasi lingkungan keluarga (fisik, psikis, sosial) sehingga dapat meningkatkan


kesehatan lansia.

e.

Memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat (fasilitas pelayanan kesehatan).

1.3 Manfaat Penulisan

Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.

Mahasiswa dapat mengenal masalah kesehatan yang muncul pada lansia.


Mahasiswa dapat memberikan tindakan perawatan yang tepat terhadap lansia.
Mahasiswa memiliki gambaran tentang proses perawatan terhadap lansia.

BAB 2
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pengertian Lansia
Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak
dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami
banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan
kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuaan normal,
seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca indera,
serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi
mereka harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan
dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang
cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak (Soejono, 2000). Penuaan merupakan proses normal
perubahan yang berhubungan dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup.
Usia tua adalah fase akhir dari rentang kehidupan.
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai
dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui, ketika manusia mencapai
usia dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah,
seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu usia lanjut, kemudian
mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap
fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU No. 4 Tahun 1965 adalah seseorang yang mencapai
umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima
nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000) sedangkan menurut UU No. 12 tahun 1998 tentang kesejahteraan
lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos, 1999). Usia lanjut

adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan
diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).
Sedangkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pengertian lansia digolongkan menjadi 4,
yaitu:
1. Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun
2. Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
3. Lanjut usia tua (old) 75 90 tahun
4. Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas (Hardywinoto dan
Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga
tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan
penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu
dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998).
Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara
terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap
serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam
struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana
orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan
kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial
sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia
bukanlah kelompok orang yang homogen. Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang
berusia lanjut yang mampu melihat arti penting usia tua dalam konteks eksistensi manusia, yaitu sebagai
masa hidup yang memberi mereka kesempatan-kesempatan untuk tumbuh berkembang dan bertekad
berbakti . Ada juga lanjut usia yang memandang usia tua dengan sikap- sikap yang berkisar antara
kepasrahan yang pasif dan pemberontakan, penolakan, dan keputusasaan. Lansia ini menjadi terkunci
dalam diri mereka sendiri dan dengan demikian semakin cepat proses kemerosotan jasmani dan mental
mereka sendiri.

Disamping itu untuk mendefinisikan lanjut usia dapat ditinjau dari pendekatan kronologis. Menurut
Supardjo (1982) usia kronologis merupakan usia seseorang ditinjau dari hitungan umur dalam angka. Dari
berbagai aspek pengelompokan lanjut usia yang paling mudah digunakan adalah usia kronologis, karena
batasan usia ini mudah untuk diimplementasikan, karena informasi tentang usia hampir selalu tersedia
pada berbagai sumber data kependudukan.
Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang yang
berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai
penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari.
Saparinah (1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang
mencapai tahap praenisium pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan
tubuh/kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan
dalam hidupnya.
2.2 Ciri-ciri Lansia
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980: 380) terdapat beberapa ciri-ciri orang lanjut usia,yaitu:
a. Usia lanjut merupakan periode kemunduran
Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor psikologis. Kemunduran dapat
berdampak pada psikologis lansia. Motivasi memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia.
Kemunduran pada lansia semakin cepat apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya jika memiliki
motivasi yang kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.
b. Orang lanjut usia memiliki status kelompok minoritas
Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap sosial yang tidak
menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat oleh pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap
lansia. Pendapat-pendapat klise itu seperti: lansia lebih senang mempertahankan pendapatnya dari pada
mendengarkan pendapat orang lain.
c. Menua membutuhkan perubahan peran
Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami kemunduran dalam segala hal.
Perubahan peran pada lansia sebaiknya dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan
dari lingkungan.
d. Penyesuaian yang buruk pada lansia
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung mengembangkan konsep diri
yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu
membuat penyesuaian diri lansia menjadi buruk.

2.3 Teori Proses Menua


Proses menua bersifat individual:
1. Tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda.
2. Setiap lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda.
3. Tidak ada satu faktor pun yang ditemukan dapat mencegah proses menua.
Teori Biologis
Teori genetic clock. Teori ini merupakan teori intrinsic yang menjelaskan bahwa di dalam tubuh
terdapat jam biologis yang mengatur gen dan menentukan proses penuaan. Teori ini menyatakan bahwa
menua itu telah terprogram secara genetic untuk spesies tertentu. Setiap spesies di dalam inti selnya
memiliki suatu jam genetik/jam biologis sendiri dan setiap spesies mempunyai batas usia yang berbedabeda yang telah diputar menurut replikasi tertentu sehingga bila jenis ini berhenti berputar, ia akan mati.
Teori mutasi somatik. Menurut teori ini, penuaan terjadi karena adanya mutasi somatik akibat
pengaruh lingkungan yang buruk. Terjadi kesalahan dalam proses transkripsi DNA atau RNA dan dalam
proses translasi RNA protein/enzim. Kesalahan ini terjadi terus menerus sehingga akhirnya akan terjadi
penurunan fungsi organ atau perubahan sel menjadi kanker atau penyakit. Setiap sel pada saatnya akan
mengalami mutasi, sebagai contoh yang khas adalah mutasi sel kelamin sehingga terjadi penurunan
kemampuan fungsional sel (Suhana, 1994; Constantinides, 1994).
Teori Nongenetik
Teori penurunan sistem imun tubuh (auto-immune theory). Mutasi yang berulang dapat
menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri. Jika mutasi yang
merusak membran sel, akan menyebabkan sistem imun tidak mengenalinya sehingga merusaknya. Hal
inilah yang mendasari peningkatan penyakit auto-imun pada lanjut usia (Goldstein, 1989). Dalam proses
metabolisme tubuh, diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap zat
tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Sebagai contoh, tambahan kelenjar timus yang
pada usia dewasa berinvolusi dan sejak itu terjadi kelainan auto-imun.
Teori kerusakan akibat radikal bebas (free radical theory). Teori radikal bebas dapat terbentuk
di alam bebas dan di dalam tubuh karena adanya proses metabolisme atau proses pernapasan di dalam
mitokondria. Radikal bebas merupakan suatu atom atau molekul yang tidak stabil karena mempunyai
electron yang tidak berpasangan sehingga sangat reaktif mengikat atom atau molekul lain yang

menimbulkan berbagai kerusakan atau perubahan dalam tubuh. Tidak stabilnya radikal bebas (kelompok
atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan organik, misalnya karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini
menyebabkan sel tidak dapat beregenerasi (Halliwel, 1994). Radikal bebas dianggap sebagai penyebab
penting terjadinya kerusakan fungsi sel. Radikal bebas yang terdapat di lingkungan seperti asap kendaraan
bermotor, asap rokok, zat pengawet makanan, radiasi, sinar ultraviolet yang mengakibatkan terjadinya
perubahan pigmen dan kolagen pada proses menua.
Teori menua akibat metabolisme. Telah dibuktikan dalam berbagai percobaan hewan, bahwa
pengurangan asupan kalori ternyata bisa menghambat pertumbuhan dan memperpanjang umur,
sedangkan perubahan asupan kalori yang menyebabkan kegemukan dapat memperpendek umur (Bahri
dan Alem, 1989; Boedhi Darmojo, 1999).
Teori rantai silang (cross link theory). Teori ini menjelaskan bahwa menua disebabkan oleh
lemak, protein, karbohidrat, dan asam nukleat (molekul kolagen) bereaksi dengan zat kimia dan radiasi,
mengubah fungsi jaringan yang menyebabkan perubahan pada membrane plasma, yang mengakibatkan
terjadinya jaringan yang kaku, kurang elastis, dan hilangnya fungsi pada proses menua.
Teori Fisiologis. Teori ini merupakan teori intrinsik dan ekstrinsik. Terdiri atas teori oksidasi stress,
dan teori dipakai-aus (wear and tear theory). Di sini terjadi kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel
tubuh lelah dipakai (regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kstabilan lingkungan eksternal).
2.4 Perubahan Biologis Pada Lansia
Banyak kemampuan berkurang pada saat orang bertambah tua. Dari ujung rambut sampai ujung
kaki mengalami perubahan dengan makin bertambahnya umur. Menurut Nugroho (2000) perubahan fisik
yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut:
a.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
b.
1.
2.

Sel
Jumlah sel menurun/menjadi sedikit.
Ukuran sel lebih besar.
Berkurangnya cairan tubuh dan cairan intra seluler.
Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati.
Jumlah sel otak menurun.
Terganggunya mekanisme perbaikan sel.
Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10%.
Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar.
Sistem Respirasi
Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan, dan menjadi kaku.
Aktivitas silia menurun.

3. Paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
c.
1.
2.
3.

maksimum menurun dengan kedalaman bernafas menurun.


Ukuran alveoli melebar (membesar secara progresif) dan jumlah berkurang.
Berkurangnya elastisitas bronkus.
Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg.
Karbondioksida pada arteri tidak berganti. Pertukaran gas terganggu.
Refleks dan kemampuan untuk batuk berkurang.
Sensitivitas terhadap hipoksia dan hiperkarbia menurun.
Sering terjadi emfisema senilis.
Kemampuan pegas dinding dada dan kekuatan otot pernafasan menurun seiring pertambahan usia.
Sistem Kardiovaskuler
Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
Elastisitas dinding aorta menurun
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini

menyebabkan kontraksi dan volume menurun (frekuensi denyut jantung maksimal= 200-umur)
4. Curah jantung menurun.
5. Kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah, efektivitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi berkurang, perubahan posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan tekanan
darah menurun menjadi 65mmHg (mengakibatkan pusing mendadak).
6. Kinerja jantung lebih rentan terhadap kondisi dehidrasi dan perdarahan.
7. Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistol normal 170
d.
1.
2.
3.

mmHg, diastol normal 95 mmHg.


Sistem Persarafan
Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun.
Berat otak menurun 10-20% (sel saraf otak setiap orang berkurang setiap harinya).
Mengecilnya saraf panca indra sehingga mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan
pendengaran, mengecilnya saraf penciuman dan perasa, lebih sensitif terhadap suhu, ketahanan tubuh

terhadap dingin rendah.


4. Kurang sensitif terhadap sentuhan.
5. Defisit memori.
e. Sistem Pencernaan
1. Kehilangan gigi, penyebab utama periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun.
2.

Penyebab lain meliputi kesehatan gigi dan gizi yang buruk.


Indra pengecap menurun, adanya iritasi selaput lendir yang kronis, atrofi indra pengecap (80%),
hilangnya sensitivitas saraf pengecap di lidah, terutama rasa manis dan asin, hilangnya sensitivitas saraf

pengecap terhadap rasa asin, asam, dan pahit.


3. Esofagus melebar.
4. Rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun), asam lambung menurun, motilitas dan waktu
pengosongan lambung menurun.
5. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.
6. Fungsi absorbsi melemah (daya absorbsi terganggu, terutama karbohidrat).

7. Hati semakin mengecil dan tempat penyimpanan menurun, aliran darah berkurang.
f. Sistem Genitourinaria
1. Ginjal merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, melalui urine darah yang masuk ke
ginjal, disaring oleh satuan (unit) terkecil dari ginjal yang disebut nefron (tepatnya di gromerulus).
Mengecilnya nefron akibat atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50% sehingga fungsi tubulus
berkurang. Akibatnya, kemampuan mengonsentrasi urine menurun, berat jenis urine menurun, proteinuria
(biasanya +1), BUN (blood urea nitrogen) meningkat sampai 21 mg%, nilai ambang ginjal terhadap glukosa
meningkat. Keseimbangan elektrolit dan asam lebih mudah terganggu bila dibandingkan dengan usia
muda. Renal plasma flow (RPF) dan glomerular filtration rate (GFR) atau klirens kreatinin menurun secara
linier sejak usia 30 tahun. Jumlah darah yang difiltrasi oleh ginjal berkurang.
2. Vesika urinaria. Otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi
buang air kecil meningkat. Pada pria lanjut usia, vesika urinaria sulit dikosongkan sehingga mengakibatkan
3.
g.
1.
2.
3.

retensi urine meningkat.


Pembesaran prostat. Kurang lebih 75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun.
Sistem Muskuloskeletal
Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh.
Gangguan tulang, yakni mudah mengalami demineralisasi.
Kekuatan dan stabilitas tulang menurun, terutama vertebrata, pergelangan, dan paha. Insiden

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

osteoporosis dan fraktur meningkat pada area tulang tersebut.


Kartilago yang meliputi permukaan sendi tulang penyangga rusak dan aus.
Kifosis.
Gerakan pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas.
Gangguan gaya berjalan.
Kekakuan jaringan penghubung.
Diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek (tingginya berkurang).
Persensian membesar dan menjadi kaku.
Tendon mengerut dan mengalami sklerosis.
Atrofi serabut otot, serabut otot mengecil sehingga gerakan menjadi lamban, otot kram, dan menjadi

13.
14.
15.
h.
1.
2.
3.
4.

tremor (perubahan pada otot cukup rumit dan sulit dipahami).


Komposisi otot berubah sepanjang waktu (myofibril digantikan oleh lemak, kolagen, dan jaringan parut).
Aliran darah ke otot berkurang sejalan dengan proses menua.
Otot polos tidak begitu berpengaruh.
Sistem Penglihatan
Sfingter pupil timbul sklerosis dan respons terhadap sinar menghilang.
Kornea lebih berbentuk sferis (bola).
Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa), menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan.
Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat

5.

dalam gelap.
Penurunan/hilangnya daya akomodasi, dengan manifestasi presbiopia, seseorang sulit melihat dekat
yang dipengaruhi berkurangnya elastisitas lensa.

6. Lapang pandang menurun: luas pandangan berkurang.


7. Daya membedakan warna menurun, terutama warna biru atau hijau pada skala.
i. Sistem Pendengaran
1. Gangguan pendengaran. Hilangnya daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi
suara atau nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia di atas
umur 65 tahun.
2. Membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.
3. Terjadi pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
4. Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan/stress.
5. Tinitus (bising yang bersifat mendengung, bisa bernada tinggi atau rendah, bisa terus menerus atau
intermitten).
6. Vertigo (perasaan tidak stabil yang terasa seperti bergoyang atau berputar).
j. Sistem pengaturan suhu tubuh
Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat yaitu menetapkan suatu
suhu tertentu. Kemunduran terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhinya yang sering ditemukan
antara lain:
1. Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis 35 0C ini akibat metabolisme yang menurun.
2. Pada kondisi ini, lanjut usia akan merasa kedinginan dan dapat pula menggigil, pucat, dan gelisah.
3. Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi
penurunan aktivitas otot.
k. Sistem Reproduksi
Wanita
1.
2.
3.
4.
5.

Vagina mengalami kontraktur dan mengecil.


Ovarium menciut, uterus mengalami atrofi.
Atrofi payudara.
Atrofi vulva.
Selaput lender vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi berkurang, sifatnya menjadi alkali dan
terjadi perubahan warna.
Pria

1. Testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun ada penurunan secara berangsur-angsur.
2. Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun, asal kondisi kesehatannya baik.
l. Sistem Endokrin
Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu dalam tubuh manusia yang memproduksi hormon. Hormon
pertumbuhan berperan sangat penting dalam pertumbuhan, pematangan, pemeliharaan, dan metabolisme
organ tubuh. Yang termasuk hormon kelamin adalah:
1. Estrogen, progesterone, dan testosterone yang memelihara alat reproduksi dan gairah seks. Hormon ini
mengalami penurunan.

2. Kelenjar pankreas (yang memproduksi insulin dan sangat penting dalam pengaturan gula darah).
3. Kelenjar adrenal/anak ginjal yang memproduksi adrenalin. Kelenjar yang berkaitan dengan hormon
pria/wanita. Salah satu kelenjar endokrin dalam tubuh yang mengatur agar arus darah ke organ tertentu
berjalan dengan baik, dengan jalan mengatur vasokontriksi pembuluh darah. Kegiatan kelenjar adrenal ini
berkurang pada lanjut usia.
4. Produksi hampir semua hormon menurun.
5. Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah.
6. Hipofisis: pertumbuhan hormon ada, tetapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah;
7.
8.
9.
m.
1.
2.

berkurangnya produksi ACTH, TSH, FSH, dan LH.


Aktivitas tiroid, BMR (basal metabolic rate) dan daya pertukaran zat menurun.
Produksi aldosteron menurun.
Sekresi hormon kelamin, misalnya progesterone, estrogen, dan testosterone menurun.
Sistem Integumen
Kulit menjadi keriput dan mengkerut akibat kehilangan jaringan lemak.
Permukaan kulit cenderung kusam, kasar, dan bersisik (karena kehilangan proses keratinasi serta

perubahan ukuran dan bentuk sel epidermis).


3. Timbul bercak pigmentasi akibat proses melanogenesis yang tidak merata pada permukaan kulit sehingga
tampak berbintik-bintik atau noda cokelat.
4. Terjadi perubahan pada daerah sekitar mata, tumbuhnya kerut-kerut halus di ujung mata akibat lapisan
kulit menipis.
5. Respons terhadap trauma menurun.
6. Mekanisme proteksi kulit menurun: produksi serum menurun, produksi vitamin D menurun, pigmentasi
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

kulit terganggu.
Kulit kepala dan rambut menipis dan berwarna kelabu.
Rambut dalam hidung dan telinga menebal.
Berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan dan vaskularisasi.
Pertumbuhan kuku lebih lambat.
Kuku jari menjadi keras dan rapuh.
Kuku menjadi pudar, kurang bercahaya.
Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk.
Jumlah dan fungsi kelenjar keringat berkurang.

2.5 Penyakit-Penyakit Pada Lansia


1.
Sistem Pernapasan
a. Emfisema
Emfisema dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan struktur paru-paru dalam bentuk pelebaran saluran
napas di ujung akhir bronkus disertai dengan kerusakan dinding alveolus. Penyakit ini termasuk dalam
penyakit paru obstruktif kronik yang menimbulkan kesulitan pengeluaran udara pernapasan. Penyakit ini
bersifat progresif dan biasanya diawali dengan sesak napas. Gejala emfisema dapat berupa batuk yang

disertai dahak berwarna putih atau mukoid, dan jika terdapat infeksi, sputum tersebut menjadi purulen.
Badan terlihat lelah, nafsu makan berkurang, dan berat badan pasien menurun.
b. Asma
Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan yang menyebabkan hiperresponsivitas jalan
napas. Penyakit asma ditandai dengan 3 hal, antara lain penyempitan saluran napas, pembengkakan, dan
sekresi lendir yang berlebih di saluran napas. Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk
berdahak, dan suara napas yang berbunyi wheezing, yang biasanya timbul secara episodic pada pagi hari
menjelang waktu subuh karena pengaruh keseimbangan hormone kortisol yang kadarnya rendah saat pagi
hari dan berbagai faktor lainnya.
c. Pneumonia
Pneumonia merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting pada lansia. Penyakit ini menduduki
peringkat keempat penyebab kematian dan infeksi paru dan sering merupakan penyakit terminal yang
dialami lansia. Pneumonia pada lansia dapat bersifat akut atau kronis. Gejala pneumonia bermacammacam bergantung pada kondisi tubuh dan jenis kuman penyebab infeksi. Beberapa tanda dan gejala
pneumonia meliputi demam, batuk, napas pendek, berkeringat, menggigil, dada terasa berat dan nyeri saat
bernapas (pleuritis), nyeri kepala, nyeri otot dan lesu. Pada lansia, gejala dan tanda-tanda ini lebih ringan,
bahkan suhu tubuh dapat lebih rendah dari nilai normal.
d. Bronkitis
Bronkitis merupakan peradangan membran mukosa yang melapisi bronkus dan/atau bronkiolus, yaitu jalan
napas dari trakea ke paru-paru. Bronkitis dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu akut dan kronis. Bronkitis
akut ditandai dengan batuk dengan atau tanpa sputum, terdiri atas mucus yang diproduksi di saluran
napas. Sedangkan bronkitis kronis merupakan satu dari penyakit paru obstruktif kronis dengan batuk
produktif yang berlangsung sampai 3 bulan atau lebih setiap tahunnya selama 2 tahun.
2.
Sistem Kardiovaskuler
a. Hipertensi
Hipertensi merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kenaikan tekanan darah baik secara lambat
atau mendadak (akut). Hipertensi menetap (tekanan darah yang tinggi yang tidak menurun) merupakan
faktor risiko terjadinya stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, gagal ginjal, dan aneurisma.
Meskipun peningkatan tekanan darah relative kecil, hal tersebut dapat menurunkan angka harapan hidup.
Biasanya penyakit ini tidak memperlihatkan gejala, meskipun beberapa pasien melaporkan nyeri kepala,
lesu, pusing, pandangan kabur, muka yang terasa panas atau telinga mendenging.

b. Penyakit Jantung Koroner (PJK)


Serangan jantung biasanya terjadi jika bekuan darah menutup aliran darah di arteri coronaria, yaitu
pembuluh darah yang menyalurkan makanan ke otot jantung. Penghentian suplai darah ke jantung akan
merusak atau mematikan sebagian jaringan otot jantung. Gejala yang sering muncul pada serangan
jantung dapat berupa rasa tertekan, rasa penuh atau nyeri yang menusuk di dada dan berlangsung selama
beberapa menit. Nyeri tersebut juga dapat menjalar dari dada ke bahu, lengan, punggung dan bahkan
dapat juga ke gigi dan rahang. Episode ini dapat semakin sering dan semakin lama. Kadang-kadang,
gejala yang timbul berupa sesak napas, berkeringat (dingin), rasa cemas, pusing, atau mual sampai
muntah. Pada perempuan, gejala-gejala tersebut dirasa kurang menonjol. Namun, gejala tambahan dapat
timbul, berupa nyeri perut seperti terbakar, kulit dingin, pusing, rasa ringan di kepala, dan terkadang
disertai rasa lesu yang luar biasa tanpa sebab yang jelas.
c. Gagal Jantung
Gagal jantung sering terjadi pada umur 65 tahun atau lebih, dan insiden meningkat pada lansia yang
berumur lebih dari 70 tahun. Keadaan ini merupakan ketidakmampuan jantung memompa darah sesuai
kebutuhan fisiologis. Angka rawat inap gagal jantung pada pasien lansia semakin bertambah dalam 20
tahun terakhir. Gagal jantung pada usia tua biasanya disebabkan hipertensi arterial yang memengaruhi
pemompaan darah yang akhirnya menyebabkan gagal jantung atau terjadi akibat PJK. Hipertensi dan PJK
juga mengganggu curah jantung. Kelainan katup menyebabkan gangguan ejeksi, pengisisan dan preload
kronis yang diakhiri dengan gagal jantung.
3.
a.

Sistem Persarafan
Penyakit Alzheimer
Penyakit ini merupakan bagian dari demensia. 50-60% demensia ditimbulkan penyakit Alzheimer. Istilah
demensia digunakan untuk menggambarkan sindrom klinis dengan gejala penurunan daya ingat dan
kemunduran fungsi intelektual lainnya. Pasien mengalami kemunduran fungsi intelektual yang bersifat
menetap, yakni adanya gangguan pada sedikitnya 3 dari 5 komponen fungsi neurologis, yang mencakup
fungsi berbahasa, mengingat, melihat, emosi, dan memahami.

b.

Stroke
Stroke terjadi bila aliran darah ke otak mendadak terganggu atau jika pembuluh darah di otak pecah
sehingga darah mengalir keluar ke jaringan otak disekitarnya. Sel-sel otak akan mati jika tidak
mendapatkan oksigen dan makanan atau akan mati akibat perdarahan yang menekan jaringan otak
sekitar. Stroke dapat dibagi atas 2 kategori besar, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Yang pertama

terjadi akibat penyumbatan aliran darah sedangkan yang kedua karena pecahnya pembuluh darah.
c.

Delapan puluh persen kasus stroke disebabkan oleh iskemia dan sisanya akibat perdarahan.
Penyakit Parkinson
Penyakit Parkinson merupakan suatu penyakit saraf dengan gejala utama berupa tremor, kekakuan otot,
dan postur tubuh yang tidak stabil. Penyakit ini terjadi akibat sel saraf (neuron) yang mengatur gerakan
mengalami kematian. Ciri penyakit Parkinson merupakan kelompok gejala yang tergabung dalam kelainan
gerakan. Empat gejala utama Parkinson adalah tremor atau gemetar di tangan, lengan, rahang, atau
kepala; kekakuan di otot atau ekstremitas; bradikinesia, atau perlambatan gerakan; postur tubuh yang tidak
stabil atau gangguan keseimbangan. Gejala biasanya timbul secara perlahan dan semakin lama semakin
parah. Pada taraf gejala maksimal, pasien tidak dapat berjalan, berbicara, atau bahkan melakukan suatu
pekerjaan yang sederhana. Penyakit ini bersifat menahun, progresif, tidak menular, dan tidak diturunkan.

4.
a.

Sistem Pencernaan
Inkontinensia Alvi
Keadaan ketika seseorang kehilangan kontrolnya dalam mengeluarkan tinja, yaitu pasien mengeluarkan
tinja tidak pada waktunya, tidak dapat menahannya atau terjadi kebocoran produk ekskresi tersebut.
Mereka dengan keluhan ini dalam pergaulan merasa tersisihkan dan rendah diri yang akhirnya dapat

b.

menimbulkan gangguan jiwa.


Diare
Keadaan ketika seseorang mengalami peningkatan frekuensi BAB lebih dari 3 kali dalam sehari dengan
konsistensi feses yang cair, terkadang terdapat ampas dan lendir. Hal ini terjadi karena fungsi fisiologis
sistem pencernaan lansia yang sudah mulai menurun dan juga disebabkan oleh bakteri dan faktor
psikologis.

5.
Sistem Perkemihan
a. Gagal Ginjal Akut
Terjadi penurunan mendadak fungsi ginjal dalam membuang cairan dan ampas darah ke luar tubuh. Jika
ginjal tidak mampu menyaring darah, cairan dan ampas tersebut akan menumpuk dalam tubuh. Keadaan
ini dapat pulih kembali dan jika kondisi pasien cukup baik fungsi ginjal dapat kembali normal dalam
beberapa minggu, misalnya akibat penyakit kronis seperti PJK, stroke, infeksi berat ataupun penyakit
penyerta lainnya. Tanda dan gejalanya dapat berupa penurunan jumlah pengeluaran urine meskipun
sesekali pengeluaran masih dapat terjadi, retensi air yang dapat menimbulkan edema tungkai, mengantuk,
sesak napas, lesu, bingung, kejang atau koma pada kasus berat, dan nyeri dada akibat perikarditis.
Biasanya pasien tidak memperhatikan tanda/gejala awal ini tetapi lebih terfokus pada keluhan penyakit
penyerta.

b. Gagal Ginjal Kronis


Terjadi penurunan fungsi ginjal yang lambat dengan tanda/gejala yang minimal. Banyak pasien yang tidak
menyadari timbulnya keadaan tersebut sampai fungsi ginjal hanya tinggal 25%. Penyebabnya adalah
diabetes dan hipertensi. Beberapa tanda dan gejala yang mungkin dapat diketahui adalah hipertensi,
penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, anemia, mual dan muntah, lesu dan gelisah, kelelahan,
nyeri kepala tanpa sebab yang jelas, penurunan daya ingat, kedutan dan kram otot, BAB berdarah, kulit
kekuningan, dan rasa gatal.
c. BPH (Benign Prostat Hiperplasia/Hipertropi)
BPH adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia beberapa atau semua
komponen prostat, meliputi antara lain: jaringan kelenjar dan jaringan fibromuskular yang menyebabkan
penyumbatan uretra pars prostatika. Gejala klinik terjadi oleh karena 2 hal, yaitu penyempitan uretra yang
menyebabkan kesulitan berkemih dan Retensi air kemih dalam kandung kemih yang menyebabkan dilatasi
kandung kemih, hipertrofi kandung kemih dan cystitis. Gejala klinik dapat berupa frekuensi berkemih
bertambah, berkemih pada malam hari, kesulitan dalam hal memulai dan menghentikan berkemih, air
kemih masih tetap menetes setelah selesai berkemih, rasa nyeri pada waktu berkemih.
d. Inkontinensia Urine
Terjadinya pengeluaran urine secara spontan pada sembarang waktu di luar kehendak. Keadaan ini umum
dijumpai pada lansia. Dari segi medis, inkontinensia mempermudah timbulnya ulkus dekubitus, infeksi
saluran kemih, sepsis, gagal ginjal, dan peningkatan angka kematian.
6.
Sistem Muskuloskeletal
a. Osteoartritis
Pada penyakit ini, rasa kaku biasanya timbul pada pagi hari setelah tidur, dan sendi terasa nyeri jika
digerakkan, tetapi dapat menghilang beberapa saat setelah digerak-gerakan. Rasa nyeri dan kaku dapat
timbul secara bergantian selama beberapa bulan atau tahun. Peradangan ini paling bersifat asimetris.
Osteoartritis terjadi akibat ausnya sendi, yang merusak tulang rawan pada lapisan terluar sendi karena
penggunaan sendi yang berulang-ulang. Tulang yang berdekatan akan saling bergeser sehingga
menimbulkan rasa nyeri. Penyakit ini biasanya mengenai daerah lutut dan punggung.
b. Artritis rheumatoid (arthritis simetris)
Pada penyakit ini, kaku pada pagi hari tidak mereda setelah 1 atau 2 jam. Kadang-kadang kaku merupakan
tanda awal penyakit ini. Peradangan sendi lain dapat berupa nyeri dan keletihan yang semakin berat.
Pembengkakan sendi pada beberapa bagian tubuh seperti tangan, kaki, siku, pergelangan kanan-kiri yang
terpapar secara simetris juga dimasukkan dalam criteria arthritis rheumatoid.

c. Ankylosing spondylitis
Penyakit ini paling sering mengenai tulang belakang atau bagian lain, seperti bahu, tangan, dan kaki,
biasanya secara asimetris.
d. Psoriatic arthritis
Hingga 30% pengidap psoriasis juga akan mengalami psoriatic arthritis. Kelainan ini biasanya bersifat
asimetris, tetapi juga dapat timbul secara simetris, menyerupai arthritis rheumatoid.
e. Pirai (gout)
Jenis arthritis ini menimbulkan nyeri yang cukup hebat dengan terjadinya penumpukan asam urat di sendisendi. Keadaan ini biasanya pertama kali mengenai ibu jari kaki sampai berwarna kemerahan dan
bengkak, tetapi juga dapat mengenai sendi lainnya. Rasa nyeri tersebut dapat cepat berkembang.
f.

Artritis pada lupus


Artritis dapat terjadi pada lupus eritematosus, yaitu penyakit peradangan kronis jaringan ikat yang terjadi
karena sistem imunitas tubuh menyerang jaringan atau organ pasien sendiri. Inflamasi terlihat pada
berbagai sistem tubuh yang berbeda, mencakup sendi, kulit, ginjal, sel darah, jantung, dan paru.

g. Peradangan sendi
Keparahan penyakit ini dinilai berdasarkan derajat ketidakmampuan pergerakan yang ditimbulkannya. Bagi
seseorang dengan fisik yang aktif, gangguan arthritis ringan sudah dianggap sebagai suatu bencana.
h. Osteoporosis
Keadaan ini merupakan kondisi tulang yang keropos, rapuh, atau mudah patah. Penyebabnya adalah
perubahan kadar hormon, kekurangan kalsium dan vitamin D, dan/atau kurangnya aktivitas fisik.
Osteoporosis merupakan penyebab utama fraktur orang dewasa terutama pada kaum perempuan.
7.
Sistem Penglihatan
a. Katarak
Katarak merupakan suatu keadaan dimana terjadi kekeruhan pada lensa mata. Katarak yang tidak
mendapatkan penanganan dapat menyebabkan glaucoma fakomorfik. Lensa mata yang menua pada
katarak dengan zonula siliaris yang lemah dapat tergeser ke depan atau ke belakang sehingga persepsi
cahaya yang memasuki mata menjadi terganggu dan mengaburkan penglihatan seseorang. Katarak pada
lansia ditandai dengan kekeruhan lensa mata, pembengkakan lensa yang berakhir dengan pengerutan dan
kehilangan sifat transparansinya. Pada keadaan lain katarak akibat usia lanjut ini, kapsul lensa akan
mencair membentuk cairan kental putih yang menimbulkan peradangan hebat jika kapsul lensa mengalami
rupture dan cairan tersebut keluar, yang disebut katarak Morgagni.

8.
Sistem Pendengaran
a. Presbiakusis
Presbiakusis merupakan istilah kedokteran untuk gangguan pendengaran pada lansia. Keadaan ini
biasanya terjadi pada usia 55 tahun atau lebih. Penyebab gangguan pendengaran lainnya pada orang
berusia tua antara lain karena infeksi atau kerusakan di telinga dalam. Kemunduran pendengaran ini
muncul bertahap dalam beberapa tahun, yang mungkin tidak disadari pada awalnya. Gangguan tersebut
baru diketahui ketika pasien mengalami kesulitan mendengar suara orang menelepon atau mengikuti
pembicaraan pada kumpulan orang ramai. Teman atau anggota family dapat terkejut karena pasien
menyetel televisi terlalu keras atau meminta pengulangan pertanyaan berkali-kali. Gangguan pendengaran
ini dapat menimbulkan keterasingan dan ketidakmampuan mendengar tanda bahaya.
9.
Sistem Endokrin
a. Diabetes
Seseorang disebut mengidap diabetes jika terdapat kenaikan kadar gula darah yang menetap. Penyakit ini
terjadi pada segala umur, walaupun umumnya lebih sering dijumpai pada lansia sebagai suatu penyakit
kronis, yaitu sekitar 18% pada kelompok individu berumur 65 tahun dan 25% di atas 85 tahun. Umumnya
terdapat 5 tanda gejala awal, yaitu peningkatan frekuensi berkemih, rasa haus, bertambahnya nafsu
makan, infeksi atau luka yang sukar sembuh, dan lesu. Kadang-kadang gejala terawal berupa penglihatan
yang kabur.
10. Sistem Reproduksi
a. Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi berarti kegagalan terjadinya dan ketidakmampuan mempertahankan ereksi pada 50%
usaha penetrasi pada persetubuhan. Disfungsi ereksi dapat terjadi dari waktu ke waktu pada berbagai
tingkat umur setelah dewasa. Walaupun insiden disfungsi ereksi meningkat seiring pertambahan usia,
prevalensinya mencapai sekitar 52% pada umur antara 40-70 tahun dan meningkat pada orang yang lebih
tua, yaitu hampir mencapai 95% pada pria berumur >70 tahun, terutama dengan penyakit penyerta seperti
diabetes. Disfungsi ereksi dapat timbul akibat gangguan vascular, neurogenik, endokrin, kelainan struktur
penis, efek samping obat, dan stress psikologis.
2.6 Diagnosa Keperawatan Yang Sering Muncul
Berikut ini adalah diagnosa keperawatan yang sering muncul dalam penatalaksanaan untuk
menanggulangi gangguan biologis pada lansia:
1.

Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. peningkatan produksi sputum, penyempitan jalan napas.

2.
Ketidakefektifan pola napas b.d. edema paru, bronkokontriksi.
3.
Gangguan pertukaran gas b.d. kerusakan alveolus.
4.
Nyeri akut b.d. peningkatan tekanan vascular serebral.
5.
Inkontinensia alvi/urine b.d. menurunnya fungsi fisiologis otot-otot sfingter karena penuaan.
6.
Kelebihan volume cairan b.d. kerusakan fungsi ginjal.
7.
Defisit volume cairan b.d. kehilangan cairan berlebihan karena diare.
8. Nyeri akut/kronis b.d. fraktur dan spasme otot, inflamasi dan pembengkakan, distensi jaringan akibat
akumulasi cairan/proses inflamasi, destruksi sendi.
9.
Konstipasi b.d. imobilitas atau terjadinya ileus (obstruksi usus).
10. Kerusakan mobilitas fisik b.d. nyeri, alat imobilisasi, dan keterbatasan beban berat badan, deformitas
skeletal.
11. Gangguan citra tubuh b.d. perubahan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas umum, peningkatan
12.
13.
14.

penggunaan energi atau ketidakseimbangan mobilitas.


Kerusakan integritas kulit b.d. imobilisasi/tirah baring yang lama.
Risiko cidera b.d. rapuhnya tulang, kekuatan tulang yang berkurang.
Defisit perawatan diri b.d. kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri saat

bergerak atau depresi.


15. Gangguan pola tidur b.d. nyeri, fibrosistis.
16. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, prognosis, dan pengobatan akibat kurang mengingat,
kesalahan interpretasi informasi.
17. Ansietas b.d. kerusakan sensori dan kurangnya pemahaman mengenai perawatan pascaoperatif,
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.

pemberian obat.
Risiko cidera b.d. kerusakan penglihatan, kesulitan keseimbangan.
Nyeri b.d. trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi bedah.
Peningkatan kadar gula darah b.d. kerusakan insulin.
Risiko tinggi infeksi b.d. perawatan luka gangren yang tidak adekuat.
Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan suplai darah ke daerah perifer.
Gangguan pola seksual b.d. nyeri, kelemahan, sulit mengatur posisi, dan kurang adekuat lubrikasi.
Ketidakberdayaan b.d. perubahan fisik dan psikologis akibat penyakit.
2.7 Rencana Keperawatan
Berikut ini adalah contoh rencana keperawatan yang bisa diberikan untuk beberapa diganosa
keperawatan di atas:

1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. peningkatan produksi sputum, penyempitan jalan napas.
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan bersihan jalan napas klien efektif dengan
kriteria hasil:
a. Klien menyatakan perasaan lega.
b. Keluarnya sputum/sekret.
c. Klien mampu melakukan batuk efektif dan menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.

Rencana Keperawatan:
a. Bina Hubungan Saling Percaya
R/ Terjadi keterbukaan antara perawat, pasien, serta keluarganya.
b.

Jelaskan pasien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di
saluran pernapasan.
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan pasien terhadap rencana
teraupetik.

c. Ajarkan pasien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.


R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
d. Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
e. Lakukan pernapasan diafragma.
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frekuensi napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.
f.

Tahan napas selama 3-5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui
mulut. Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.

g. Auskultasi paru sebelum dan sesudah pasien batuk.


R/ Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk pasien.
h. Ajarkan pasien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi: mempertahankan hidrasi yang adekuat;
meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada
atelektasis.
i.

Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.


R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.

j.

Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.

1) Pemberian expectoran.
2) Pemberian antibiotika.
3) Konsul photo toraks
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan mengevaluasi perbaikan kondisi pasien atas
pengembangan parunya.

2.

Nyeri akut/kronis b.d. fraktur dan spasme otot, inflamasi dan pembengkakan, distensi jaringan

akibat akumulasi cairan/proses inflamasi, destruksi sendi.


Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan nyeri berkurang atau terkontrol dengan kriteria
hasil:
a. Klien menyatakan perasaan nyaman.
b. Klien menunjukkan raut wajah lega.
c. Klien menyatakan skala nyeri berkurang.
Rencana Keperawatan:
a.

Kaji keluhan nyeri, skala nyeri, serta catat lokasi dan intensitas, faktor-faktor yang mempercepat, dan
respon rasa sakit nonverbal.
R/ Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan efektivitas program.

b.

Berikan matras/kasur keras, bantal. Tinggikan tempat tidur sesuai kebutuhan.


R/ Matras yang empuk/lembut, bantal yang besar akan menjaga pemeliharaan kesejajaran tubuh yang
tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian tempat tidur menurunkan tekanan pada
sendi yang nyeri.

c.

Biarkan klien mengambil posisi yang nyaman waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di
tempat tidur sesuai indikasi.
R/ Pada penyakit yang berat/eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri atau
cidera.

d.

Tempatkan atau pantau penggunaan bantal, karung pasir, gulungan trokanter, bebat atau brace.
R/ Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat
menurunkan nyeri/kerusakan pada sendi. Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan hilang
mobilitas/fungsi sendi.

e.

Anjurkan klien untuk sering merubah posisi. Bantu klien untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi
yang sakit di atas dan di bawah, serta hindari gerakan yang menyentak.
R/ Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi
gerakan/rasa sakit pasa sendi.

f.

Anjurkan klien untuk mandi air hangat. Sediakan waslap hangat untuk kompres sendi yang sakit. Pantau
suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya.
R/ Meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit, dan menghilangkan kekakuan pada
pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan.

g.

Berikan masase yang lembut.

R/ Meningkatkan relaksasi/mengurangi tegangan otot.


h.

Dorong penggunaan teknik manajemen stress, misal relaksasi progresif, sentuhan terapeutik,
biofeedback, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas.
R/ Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol nyeri, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

i.

Libatkan dalam aktivitas hiburan sesuai dengan jadwal aktivitas klien.


R/ Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan
perasaan sehat.

j.

Beri obat sebelum dilakukan aktivitas/latihan yang direncanakan sesuai dengan petunjuk.
R/ Meningkatkan relaksasi, mengurangi tegangan otot/spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi.
3.

Risiko cidera b.d. rapuhnya tulang, kekuatan tulang yang berkurang

Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak mengalami fraktur baru dengan
kriteria hasil:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mempertahankan postur tubuh yang bagus.


Mempergunakan mekanika tubuh yang baik.
Mengonsumsi diet seimbang tinggi kalsium dan vitamin D.
Rajin menjalankan latihan pembebanan berat badan.
Istirahat dengan berbaring beberapa kali sehari.
Berpartisipasi dalam aktivitas di luar rumah.
Menciptakan lingkungan rumah yang nyaman.
Rencana Keperawatan:

a. Bina hubungan saling percaya.


R/ Terjadi keterbukaan antara perawat, pasien, serta keluarganya.
b.

Dorong klien untuk latihan memperkuat otot, mencegah atrofi, dan menghambat demineralisasi tulang
progresif.
R/ Latihan fisik setiap hari, misal: berjalan kaki, olahraga ringan dapat menjaga kekuatan dan kepadatan
tulang.

c. Latihan isometrik, untuk memperkuat otot batang tubuh.


R/ Terapi diperlukan untuk mempertahankan fungsi otot.
d. Jelaskan kepada klien pentingnya menghindari membungkuk mendadak, melenggok, dan mengangkat
beban lama.
R/ Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi
gerakan/rasa sakit pasa sendi.

e.

Berikan informasi bahwa aktivitas di luar rumah penting untuk memperbaiki kemampuan tubuh
menghasilkan vitamin D.
R/ Vitamin D dapat membantu tulang untuk mengabsorbsi kalsium yang berguna untuk menjaga kepadatan
tulang.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses menua merupakan kombinasi dari bermacam-macam faktor yang saling berkaitan. Fungsi
masing-masing organ pada usia lanjut menurun secara kualitatif dan kuantitatif, dan ini sudah dimulai sejak
usia 30 tahun. Telah diuraikan berbagai penyakit yang mungkin timbul pada lansia dengan pencegahan
dan penatalaksanaannya. Bagaimana menjaga kebugaran pada lansia dengan olahraga dan pedoman
umum gizi seimbang. Menjadi tua adalah proses alamiah, tetapi tentu saja setiap orang mendambakan
untuk tetap sehat di usia tua. Hal ini sesuai dengan slogan Tahun Usia Lanjut WHO: do not put years to life
but life into years, yang artinya usia panjang tidaklah ada artinya bila tidak berguna dan bahagia, mandiri
sejauh mungkin dengan mempunyai kualitas hidup yang baik.
3.2 Saran
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan pada mahasiswa.
1. Dalam membuat makalah, kelompok diharapkan dapat menjelaskan asuhan keperawatan pada lansia
dengan gangguan biologis.
2. Proses penuaan yang dialami dapat menimbulkan berbagai masalah fisik, psikis dan sosial bagi pasien dan
keluarga. Oleh karena itu perawat sebaiknya meningkatkan pendekatan-pendekatan melalui komunikasi
terapeutik, sehingga akan tercipta lingkungan yang nyaman dan kerja sama yang baik dalam memberikan
asuhan keperawatan gerontik.
3. Perawat sebagai anggota tim kesehatan yang paling banyak berhubungan dengan pasien dituntut
meningkatkan secara terus menerus dalam hal pemberian informasi dan pendidikan kesehatan sesuai
dengan latar belakang pasien dan keluarga.
Askep Lansia

BAB I
PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG
Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang teknologi kedokteran dan kesehatan berdampak
terhadap meningkatnya usia harapan hidup. Akibatnya terjadi perubahan struktur penduduk menjadi
berbentuk piramid terbalik, dimana jumlah orang lanjut usia (Lansia) lebih banyak dibandingkan anak
berusia 14 tahun kebawah. Hal ini tidak hanya terjadi di Negara-negara maju, tetapi di Indonesia terjadi hal
yang serupa.
Indonesia termasuk salah satu negara, dimana proses penuaan penduduknya terjadi paling cepat di
Asia Tenggara dimana proyeksi penduduk serta estimasi rata-rata harapan hidup penduduk Indonesia
menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2005 rata-rata usia harapan hidup sekitar
67,8 tahun meningkat menjadi 70 tahun antara tahun 2005-2010. Persentase penduduk lanjut usia, yaitu
seseorang yang berusia di atas 60 tahun, sekitar 9,5% pada tahun 2005 akan menjadi 11% atau sekitar 28
juta pada tahun 2020 (Bappenas, BPS, dan UNFPA, 2005).
Peningkatan harapan hidup ini, memang patut untuk disyukuri, namun disisi lain kondisi ini
menimbulkan polemik baru dalam kehidupan bermasyarakat maupun berkeluarga. Ketika seseorang sudah
mencapai usia tua dimana fungsi-fungsi tubuhnya tidak dapat lagi berfungsi secara baik, maka lansia
membutuhkan banyak bantuan dalam menjalani aktivitas-aktivitas kehidupannya. Disamping itu, berbagai

penyakit degeneratif yang menyertai keadaan lansia membuat mereka memerlukan perhatian ekstra dari
orang-orang disekelilingnya.
Lansia juga memerlukan berbagai hal lain untuk dapat mempertahankan kualitas hidupnya seperti
latihan-latihan yang dapat melatih kekuatan tubuhnya agar tidak terus menurun, ataupun mempertahankan
fungsi kognitifnya serta membutuhkan sosialisasi sehingga lansia tidak merasa sendirian untuk mencegah
depresi. Hal ini menuntut perhatian khusus dari keluarga sebagai orang terdekat untuk menjaga dan
merawat lansia di rumah.
Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa lansia lebih senang dirawat di rumah karena mereka
mendapatkan rasa nyaman dan aman dan selalu berada di tengah-tengah keluarga. Perawatan kesehatan
lansia adalah perawatan lansia sebagai klien di rumah tidak hanya meliputi pelayanan kesehatan saja,
namun juga pelayanan pendukung untuk dapat mendorong lansia menjadi lebih cepat mencapai kondisi
sehat dan juga mandiri. Mengingat banyaknya masalah dan kebutuhan yang diperlukan lansia, oleh karena
itu diperlukan perawatan lansia dirumah dimana perawatan lansia diharapkan dapat meningkatkan kualitas
hidup lansia sehingga mereka tetap merasa bahagia dan dapat menjalani kehidupan masa tuanya dengan
lebih baik.
B.

RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

a. Apa itu lansia dan penggolongannya?


b. Masalah- masalah kesehatan apa saja yang biasanya dihadapi oleh lansia?
c. Bagaimana pendekatan yang dipakai dalam perawatan lansia di rumah?
d. Bagaimana peranan keluarga dalam asuhan keperawatan pada lansia di rumah?
e. Bagaimana asuhan keperawatan pada lansia di rumah?
C.

TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pengertian lansia dan penggolongannya.


b. Untuk mengetahui masalah-masalah yang biasanya dihadapi oleh lansia.
c. Untuk mengetahui pendekatan yang digunakan dalam perawatan lansia dirumah.

d. Untuk mengetahui peranan keluarga dalam perawatan lansia di rumah.


e. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang di berikan pada perawatan lansia di rumah
D.

MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat yang diperoleh dari makalah ini adalah pembaca dapat memperoleh informasi tentang
masalah apa saja yang muncul pada lansia, pendekatan yang dipakai dalam perawatan lansia di rumah,
asuhan keperawatan yang diberikan khususnya dari tujuan pemberian asuhan keperawatan pada lansia,
diagnosa yang muncul berdasarkan masalah yang terjadi pada lansia, dan Intervensi keperawatan yang
bisa diberikan pada lansia berdasarkan diagnosa yang muncul dari masing-masing masalah.
BAB II
PEMBAHASAN

A.

PENGERTIAN LANSIA
Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas (UU No.13 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lansia). Pada lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga
tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi (Constantinides, 1994).
Penggolongan lansia :
Depkes RI, membagi lansia menjadi:

a.

Kelompok menjelang usia lanjut (masa vibrilitas ) (45-54 tahun)

b.

Kelompok usia lanjut (presenium ) (55-64 tahun)

c.

Kelompok usia lanjut (senium ) (> 65 tahun)


WHO, membagi lansia menjadi:

a.

Usia pertengahan (middle age) (45-59 tahun)

b.

Usia lanjut (elderly) (60-74 tahun)

c.

Usia tua (old) (75-90 tahun)

d.

Usia sangat tua (very old ) (> 90 tahun)

B.

MASALAH-MASALAH KESEHATAN PADA LANSIA


Proses penuaan merupakan proses alamiah setelah tiga tahap kehidupan, yaitu masa anak,
dewasa, dan masa tua yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu dimana akan menimbulkan
perubahan-perubahan struktur dan fisiologis dari beberapa sel/jaringan/organ dan system yang ada pada
tubuh manusia. (Mubarak,2009:140)
Kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, diantaranya yaitu :

1.

Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang menetap

2.

Rambut kepala mulai memutih atau beruban

3.

Gigi mulai lepas (ompong)

4.

Penglihatan dan pendengaran berkurang

5.

Mudah lelah dan mudah jatuh

6.

Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah akibat penurunan kelemahan otot ekstremitas bawah dan
kekuatan sendi

7.

Gangguan gaya berjalan,

8.

Sinkope-dizziness;
Disamping itu, juga terjadi kemunduran kognitif antara lain :

1.

Suka lupa, ingatan tidak berfungsi dengan baik

2.

Ingatan terhadap hal-hal di masa muda lebih baik daripada hal-hal yang baru saja terjadi

3.

Sering adanya disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang

4.

Sulit menerima ide-ide baru


Nina Kemala Sari dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu pelatihan di kalangan kelompok peduli lansia,

menyampaikan beberapa masalah yang kerap muncul pada usia lanjut , yang disebutnya sebagai a series
of Is. Mulai dari immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia),
intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing
(gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan
tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh). Selain gangguan-gangguan tersebut,
Nina juga menyebut tujuh penyakit kronik degeratif yang kerap dialami para lanjut usia, yaitu : Osteo Artritis
(OA), Osteoporosis, Hipertensi, Diabetes Mellitus, Dimensia, Penyakit jantung koroner, Kanker
Secara umum permasalahan yang sering terjadi pada lansia antara lain :
1.

Mudah jatuh
Jatuh pada lanjut usia merupakan masalah yang sering terjadi. Penyebabnya multi-faktor. Dari faktor
instrinsik misalnya : gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, dan
sinkope atau pusing. Untuk faktor ekstrinsik, misalnya lantai licin dan tidak rata, tersandung benda,
penglihatan yang kurang karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.

2.

Mudah lelah
Hal ini disebabkan oleh :

Faktor psikologis : perasaan bosan, keletihan, atau depresi

Gangguan organis : anemia, kekurangan vitamin, perubahan pada tulang (osteomalasia), gangguan
pencernaan,kelainan metabolisme (diabetes melitus, hipertiroid), gangguan ginjal dengan uremia,
gangguan faal hati, gangguan sistem peredaran darah dan jantung.

3.

Pengaruh obat, misalnya obat penenang, obat jantung, dan obat yang melelahkan daya kerja otot.
Berat badan menurun
Berat badan menurun disebabkan oleh :

Pada umumnya nafsu makan menurun karena kurang adanya gairah hidup atau kelesuan serta
kemampuan indera perasa menurun.

4.

Adanya penyakit kronis


Gangguan pada saluran pencernaan sehingga penyerapan makanan terganggu
Faktor sosio-ekonomis (pensiunan)
Gangguan eliminasi
Sering ngompol yang tanpa disadari (inkontinensia urine) merupakan salah satu keluhan utama pada
orang lanjut usia. Hasil penelitian pada populasi lanjut usia di masyarakat (usia di atas 70 tahun)
didapatkan 7% pria dan 12 % wanita mengalami inkontinensia urine. Penyebab inkontinensia antara lain :

Melemahnya otot dasar panggul yang menyangga kandung kemih dan memperkuar sfingter uretra

Kontraksi abnormal pada kandung kemih


Obat diuretik yang mengakibatkan sering berkemih dan obat penenang terlalu banyak

Radang kandung kemih

Radang saluran kemih

Kelainan kontrol pada kandung kemih

Kelainan persyarafan pada kandung kemih

Akibat adanya hipertrofi prostat

Faktor psikologis

5.

Gangguan ketajaman penglihatan


Gangguan ini disebabkan oleh :

Presbiopi

Kelainan lensa mata (refleksi lensa mata berkurang)

Kekeruhan pada lensa (katarak)

Iris mengalami proses degenerasi, menjadi kurang cemerlang dan mengalami depigmentasi. Tampak
ada bercak berwarna muda sampai putih

Pupil kontriksi, refleks direk lemah

Tekanan dalam mata meninggi, lapang pandang menyempit, yang disebut dengan glaukoma

Retina terjadi degenerasi, gambaran fundus mata awalnya merah jingga cemerlang menjadi suram dan
jalur-jalur berpigmen.

Radang saraf mata

Penurunan produksi air mata akibat kehilangan jaringan lemak dalam aparatus lakrimal

Lensa menguning dan berangsur-angsur menjadi lebih buram mengakibatkan katarak, sehingga
mempengaruhi kemampuan untuk membedakan dan menerima warna-warna

6.

Gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran yang sering terjadi :

Otosklerosis merupakan tuli konduksi yang menahun karena tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat
bergerak secara leluasa. Penyakit ini harus ditangani oleh dokter THT. Otosklerosis akibat atrofi membran
tympani.

Presbikusis merupakan tuli saraf sensorineural frekuensi tinggi, terjadi pada usia lanjut, simetris kiri
dan kanan. Disebabkan proses degenerasi di telinga dalam. Hilangnya kemampuan pendengaran pada
telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit
mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.

Sumbatan serumen merupakan gangguan pendengaran yang timbul akibat penumpukan serumen di
liang telinga dan menyebabkan rasa tertekan yang mengganggu. Terjadinya pengumpulan serumen dapat
mengeras karena meningkatnya keratin.

7.

Gangguan tidur

Faktor usia sangat berpengaruh terhadap kualitas tidur. Pada kelompok lanjut usia (60 tahun), ditemukan 7
% kasus yang mengeluh mengenai masalah tidur (hanya dapat tidur tidak lebih dari 5 jam sehari). Hal yang
sama juga ditemukan pada 22% kasus pada kelompok usia 70 tahun. Selain itu, terdapat 30 % kelompok
usia 70 tahun yang terbangun di malam hari. Angka ini tujuh kali lebih besar dibandingkan dengan
kelompok usia 20 tahun.
Gangguan tidur dapat disebabkan oleh :

Faktor ekstrinsik (luar), misalnya lingkungan yang kurang tenang

Faktor intrinsik baik organik maupun psikogenik. Organik berupa nyeri, gatal, kram betis, sakit gigi,
sindrom tungkai bergerak (akatisia) atau penyakit tertentu yang membuat gelisah. Psikogenik misalnya
depresi, kecemasan, stres, iritabilitas, dan marah yang tidak tersalurkan.

C.

PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA DI RUMAH


Pendekatan perawatan pada lansia di rumah menggunakan pendekatan yang holistik (biologi/fisik,
psikologi, sosial, spiritual) diantaranya :

1. Pendekatan Biologi/ fisik


Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami klien
lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di
capai dan dikembangkan, serta penyakit yang yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya.
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu:
1.

Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang
lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri di rumah.

2.

Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan
atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang
berhubungan dengan kebersihan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya di rumah.
Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan, mengingat sumber
infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang mendapat perhatian.
Adapun komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan atau membantu para
klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar, makan, minum, melakukan eliminasi, tidur, menjaga sikap
tubuh waktu berjalan, tidur, menjaga sikap, tubuh waktu berjalan, duduk, merubah posisi tiduran,
beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan menukar pakaian, mempertahankan suhu badan melindungi
kulit dan kecelakaan.Toleransi terhadap kekurangan O2 sangat menurun pada klien lanjut usia, untuk itu
kekurangan O2 yang mendadak harus dicegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal, jangan
melakukan gerak badan yang berlebihan.
Seorang perawat homecare harus mampu memotivasi dan memandirikan lansia sesuai dengan
kemampuannya sehingga lansia mampu memenuhi kebutuhan yang optimal.
Kesehatan lansia perlu diperiksa secara berkala untuk mengetahui kondisi kesehatannya terlebih lagi pada
lansia yang diduga menderita penyakit tertentu atau bila memperlihatkan kelainan. Pemeriksaan ini tidak
hanya dilakukan oleh perawat homecare melainkan keluarga harus ikut berpartisipasi dalam pengawasan
kesehatan pada lansia di rumah. Dalam hal ini perawat homecare berperan dalam memberikan penjelasan
dan penyuluhan kesehatan.

2. Pendekatan Psikososial
Perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia,
perawat homecare harus selalu memegang prinsip Tripple, yaitu sabar, simpatik dan service.

Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih sayang dari lingkungan,
termasuk perawat yang memberikan perawatan. Dalam memberikan pelayanan, perawat homecare harus
selalu menciptakan suasana yang aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam
batas kemampuan dan hobi yang dimilikinya.
Perawat homecare memotivasi semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam memecahkan dan mengurangi
rasa putus asa , rendah diri, rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan
yang dideritanya.
Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia.
Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru
terjadi, berkurangnya kegairahan atau keinginan, peningkatan kewaspadaan , dan perubahan pola tidur
dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang.
3. Pendekatan spiritual
Perawat homecare membantu klien dalam untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, memperoleh
ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam
kedaan sehat maupun sakit. Pendekatan perawat homecare pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap
fisik saja, melainkan perawat homecare lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama
mereka.
Beberapa tujuan pemberian asuhan keperawatan lansia di rumah antara lain :
1.

Agar lanjut usia dapat melaukan kegiatan sehari hari secara mandiri dengan peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan, sehingga memiliki ketenangan hidup dan produktif
sampai akhir hayatnya.

2.

Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan jalan
perawatan dan pencegahan.

3.

Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life
support)

4.

Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan baik kronis maupun
akut.

5.

Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan
dini, bila mereka menjumpai kelainan tertentu

6.

Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit, masih
dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara
kemandirian secara maksimal).

D.

PERANAN KELUARGA DALAM ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DI RUMAH


Keluarga merupakan entry point dalam perawatan lansia di rumah karena keluarga merupakan
sistem pendukung yang paling penting untuk lansia.
Peran keluarga dalam merawat lansia menurut Maryam, antara lain :

menjaga atau merawat lansia

Mengantisipasi perubahan social ekonomi

Memberikan motivasi dan memfasilitasi kebutuhan spriritual bagi lansia

Melakukan pembicaraan terarah

Mempertahankan kehangatan keluarga

Membantu melakukan persiapan makan bagi lansia

Membantu dalam hal transportasi

Memberikan kasih sayang

Menghormati dan menghargai

Bersikap sabar dan bijaksana terhadap prilaku lansia

Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu, serta perhatian

Jangan menganggapnya sebagai beban

Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama

Mintalah nasihat dalam peristiwa-peristiwa penting

Mengajaknya dalam acara-acara keluarga

Membantu mencukupi kebutuhannya

Memberi dorongan untuk tetap mengikuti kegiatan-kegiatan di luar rumah termasuk pengambangan
hobi.

Membantu mengatur keuangan

Mengupayakan sarana transportasi untuk kegiatan mereka termasuk rekreasi

Memeriksakan kesehatan secara teratur

Memberi dorongan untuk tetap hidup bersih dan sehat

Mencegah terjadinya kecelakaan baik di dalam maupun di luar rumah

Pemeliharaan usia lanjut adalah tanggung jawab bersama

Memberi perhatian yang baik terhadap orang tua yang sudah lanjut, maka anak-anak kita kelak akan
bersikap hal yang sama.
(Maryam, dkk. 2008 : 42)

E.

ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA DI RUMAH


Diagnosa Keperawatan
Aspek fisik atau biologis

Dx 1 : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak mampu dalam
memasukkan, memasukan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena factor biologi.
NOC I : Status nutrisi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien diharapkan mampu:

Asupan nutrisi tidak bermasalah

Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah

Energy tidak bermasalah

Berat badan ideal

NIC I : Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder management)


1.

Diskusikan dengan pasien untuk membuat target berat badan, jika berat badan pasien tidak sesuai
dengan usia dan bentuk tubuh.

2.

Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari supaya mencapai dan atau
mempertahankan berat badan sesuai target.

3.

Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien

4.

Kembangkan hubungan suportif dengan pasien

5.

Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan dan kenaikan atau pemeliharaan
berat badan

6.

Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan dan untuk menimimalkan berat
badan.

7.

Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku yang mendukung peningkatan berat
badan.

Dx 2 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama, terbangun lebih awal
atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan
pola tidur dan cemas
NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 224 jam pasien diharapkan dapat memperbaiki
pola tidurnya dengan criteria :

Mengatur jumlah jam tidurnya

Tidur secara rutin

Meningkatkan pola tidur

Meningkatkan kualitas tidur

Tidak ada gangguan tidur


NIC : Peningkatan Tidur

1.

Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien

2.

Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya

3.

Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik

4.

Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya

5.

Sarankan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

Dx 3 : Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan keterbatasan neuromuskular yang


ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet melebihi waktu untuk menahan pengosongan
bladder dan tidak mampu mengontrol pengosongan.
NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien mampu :

Kontinensia Urin

Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK).

Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat waktu.

Mengosongkan bladde dengan lengkap.

Mampu memprediksi pengeluaran urin.


NIC : Perawatan Inkontinensia Urin

1.

Monitor eliminasi urin

2.

Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan BAK.

3.

Ajarkan latihan blader training

4.

Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke toilet.

5.

Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum sebanyak 1500 cc/hari.

Dx 4 : Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau kerusakan memori


sekunder
NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien diharapkan dapat
meningkatkan daya ingat dengan criteria :

Mengingat dengan segera informasi yang tepat

Mengingat inormasi yang baru saja disampaikan

Mengingat informasi yang sudah lalu


NIC : Latihan Daya Ingat

1.

Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalah ingatan

2.

Rangsang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien kemarin dengan cepat

3.

Mengenangkan tentang pengalaman di masalalu dengan pasien

Dx 5 : Kelemahan mobilitas fisik b.d kerusakan musculoskeletal dan neuromuscular ditandai


dengan : Perubahan gaya berjalan, Gerak lambat, Gerak menyebabkan tremor, Usaha yang kuat
untuk perubahan gerak
NOC : Level Mobilitas ( Mobility Level )
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien dapat :

Memposisikan penampilan tubuh

Ambulasi : berjalan

Menggerakan otot

Menyambung gerakan/mengkolaborasikan gerakan


NIC : Latihan dengan Terapi Gerakan ( Exercise Therapy Ambulation )

1.

Konsultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana gerakan yang sesuai dengan kebutuhan

2.

Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam batas yang aman

3.

Gunakan alat bantu untuk bergerak, jika tidak kuat untuk berdiri (mudah goyah/tidak kokoh)

Dx 6 : Kelelahan b.d kondisi fisik kurang ditandai dengan:Peningkatan kebutuhan istirahat, Lelah,
Penampilan menurun
NOC Activity Tolerance
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien dapat:

Memonitor usaha bernapas dalam respon aktivitas

Melaporkan aktivitas harian

Memonitor ECG dalam batas normal

Memonitor warna kulit


NIC Energy Management

1.

Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang adekuat

2.

Tentukan keterbatasan fisik pasien

3.

Tentukan penyebab kelelahan

4.

Bantu pasien untuk jadwal istirahat

Dx 7 : Risiko jatuh
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan tidak terjadi risiko jatuh.
Intervensi Keperawatan :
1.

Anjurkan klien/lansia untuk menggunakan sepatu jalan yang kuat atau datar ketika hendak berjalan
R/ : bidang datar mempertahankan keseimbangan lansia dalam berjalan menurunkan resiko terjatuh.

2.

Sediakan lingkungan yang aman bagi pasien


R/ : Manipulasi lingkungan sangat diperlukan terhadap perubahan fisik klien/ lansia sehingga dapat
menurunkan resiko jatuh.

3.

Memasang side rail tempat tidur, memberikan penerangan yang cukup, memindahkan barang-barang
berbahaya
R/ : Manipulasi lingkungan sangat diperlukan untuk menghindari resiko jatuh/cidera pada lansia.

4.

Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien dalam beraktivitas.


R/ : Meningkatkan control terhadap lansia.

Dx 8 : Kerusakan Memori b.d gangguan neurologi ditandai dengan : Tidak mampu mengingat
informasi factual, Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau masa lampau, Lupa
dalam melaporkan atau menunjukkan pengalaman, Tidak mampu belajar atau menyimpan
keterampilan atau informasi baru

NOC : Orientasi Kognitif


Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien dapat :

Mengenal diri sendiri

Mengenal orang atau hal penting

Mengenal tempatnya sekarang

Mengenal hari, bulan, dan tahun dengan benar


NIC : Pelatihan Memori ( Memory Training )

1.

Stimulasi memory dengan mengulangi pembicaraan secara jelas di akhir pertemuan dengan pasien.

2.

Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien.

3.

Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali

4.

Monitor perilaku pasien selama terapi

Aspek Psikososial
Dx 9 : Coping tidak efektif b.d percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping, dukungan
social tidak adekuat yang dibentuk dari karakteristik atau hubungan.
NOC I : koping (coping)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien secara konsisten diharapkan
mampu:

Mengidentifikasi pola koping efektif

Mengedentifikasi pola koping yang tidak efektif

Melaporkan penurunan stress

Memverbalkan control perasaan

Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan

Beradaptasi dengan perubahan perkembangan

Menggunakan dukungan social yang tersedia

Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis


NIC I : coping enhancement

1.

Dorong aktifitas social dan komunitas

2.

Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan

3.

Dorong berhubungan dengan seseorang yang memiliki tujuan dan ketertarikan yang sama

4.

Dukung pasein untuk menguunakan mekanisme pertahanan yang sesuai.

5.

Kenalkan pasien kepada seseorang yang mempunyai latar belakang pengalaman yang sama.

Dx 10 : Isolasi social b.d perubhaan penampilan fisik, peubahan keadaan sejahtera, perubahan
status mental.
NOC I : Lingkungan keluarga : internal ( family environment: interna)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien secara konsisten diharapkan
mampu:

Berpatisipasi dalam aktifitas bersama

Berpatisipasi dala tradisi keluarga

Menerima kujungan dari teman dan anggota keluarga besar

Memberikan dukungan satu sama lain

Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang lain.

Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan

Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas komunitas

Memecahkan masalah

NIC I : Keterlibatan keluarga (Family involvement)


1.

Mengidentifikasikan kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan pasien.

2.

Menentukan sumber fisik, psikososial dan pendidikan pemberi pelayanan kesehatan yang utama.

3.

Mengidentifkasi deficit perawatan diri pasien

4.

Menentukan tinggat ketergantungan pasien terhadap keluarganya yang sesuai dengan umur atau
penyakitnya.

Dx 11 : Cemas b.d perubahan dalam status peran, status kesehatan, pola interaksi , fungsi peran,
lingkungan, status ekonomi ditandai dengan: Ekspresi yang mendalam dalam perubahan hidup,
Mudah tersinggung, Gangguan tidur
NOC Anxiety Control
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan diharapkan pasien dapat:

Memonitor intensitas cemas

Melaporkan tidur yang adekuat

Mengontrol respon cemas

Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress


NIC Anxiety Reduction

1.

Bantu pasien untuk menidentifikasi situasi percepatan cemas

2.

Dampingi pasien untuk mempromosikan kenyamanan dan mengurangi ketakutan

3.

Identifikasi ketika perubahan level cemas

4.

Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi

Aspek spiritual

Dx 12 : Distress spiritual b.d peubahan hidup, kematian atau sekarat diri atau orang lain, cemas,
mengasingkan diri, kesendirian atau pengasingan social, kurang sosiokultural.
NOC I : pengharapan (hope)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ... x ... pertemuan pasien secara luas diharapkan
mampu:

Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif

Mengekspresikan arti kehidupan

Mengekspresikan rasa optimis

Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri sendiri

Mengekspresikan kepercayaan

Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri dan orang lain


NIC I : penanaman harapan (hope instillation)

1.

Pengkaji pasian atau keluarga untuk mengidentifikasi area pengharapan dalam hidup

2.

Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan diri

3.

Mengajarkan keluarga tentang aspek positif pengharapan

4.

Memberikan kesempatan pasien atau keluarga terlibat dalam support group.

5.

Mengembangkan mekanisme paran koping pasien

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.

KESIMPULAN
Lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Pada lanjut usia akan terjadi proses
menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi

normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki
kerusakan yang terjadi. Kemunduran yang terjadi pada lansia tidak hanya dari segi fisik saja tetapi juga
pada kognitifnya sehingga akan sering timbul berbagai masalah mulai dari immobility (imobilisasi),
instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan
intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran),
isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya
kekebalan tubuh). Untuk mengatasi permasalah-permasalan tersebut, perawat harus mengadakan
pendekatan dalam perawatan pasien dengan lansia di rumah baik melalui pendekatan fisik, psikososial
maupun spiritual sehingga masalah-masalah yang dialami pasien bisa terselesaikan. Perawatan lansia di
rumah diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga mereka tetap merasa bahagia dan
dapat menjalani kehidupan masa tuanya dengan lebih baik.

B.

SARAN

1. Perawatan lansia di rumah sebaiknya di lakukan secara holistic meliputi: biologi, psikologi, social, spiritual.
2.

Keluarga diharapkan selalu memberikan perhatian yang penuh kepada lansia sehingga lansia tidak
merasa terkucilkan di rumah.

3. Dalam perawatan lansia sebaiknya berupaya untuk memandirikan lansia sesuai dengan kemampuannya.
1.

Dari unit terkecil yaitu keluarga dan masyarakat diharapkan ikut berpartisipasi dalam perawatan lansia di
rumah.

2.

Kepada perawat homecare agar memberikan asuhan keperawatan secara holistik dan menyeluruh