Anda di halaman 1dari 158

Sabtu, 09 Juni 2012

Karya ilmiah tentang KEKERASAN TERHADAP ANAK


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Beberapa tahun terakhir ini kita dikejutkan oleh pemberitaan media cetak serta
elektronik tentang kasus-kasus kekerasan pada anak, dan beberapa di antaranya harus
mengembuskan napasnya yang terakhir. Menurut data pelanggaran hak anak
yangdikumpulkan Komisi Nasional Perlindungan Anak . Dari data induk lembaga
perlindungan anak yang ada di 30 provinsi di Indonesia dan layanan
pengaduan lembaga tersebut, pada tahun 2006 jumlah kasus pelanggaran hak anak
yang terpantau sebanyak 13.447.921 kasus dan pada 2007 jumlahnya meningkat
40.398.625 kasus. Disamping itu Komnas Anak juga melaporkan bahwa selama
periode Januari-Juni 2008 sebanyak 12.726 anak menjadi korban kekerasan
seksual dari orang terdekat merekaseperti orang tua kandung/tiri/angkat, guru,
paman, kakek dan tetangga. Data statistik tersebut, ditambah dengan data-data
tentang jumlah kasus penculikan anak, kasus perdagangan anak, anak yang
terpapar asap rokok, anak yang menjadi korban peredaran narkoba, anak yang
tidak dapat mengakses sarana pendidikan, anak yang belum tersentuh
layanan kesehatan dan anak yang tidak punya akta kelahiran, memperjelas
gambaran muram tentang pemenuhan hak-hak anak Indonesia. Kenakalan anak
adalah hal yang paling sering menjadi penyebab kemarahan orang tua, sehingga
anak menerima hukuman dan bila disertai emosi maka orangtua tidak segan untuk
memukul atau melakukan kekerasan fisik. Bila hal ini sering dialami olehanak
maka akan menimbulkan luka yang mendalam pada fisik dan batinnya. Sehingga
akan menimbulkan kebencian pada orang tuanya dan trauma pada anak. Akibat
lain dari kekerasan anak akan merasa rendah harga dirinya karena merasa

pantas mendapat hukuman sehingga menurunkan prestasi anak disekolah atau


hubungan sosial dan pergaulan dengan teman - temannya menjadi terganggu, hal ini
akan mempengaruhi rasa percaya diri anak yang seharusnya terbangun sejak kecil.
Apa yang dialaminya akan membuat anak meniru kekerasan dan bertingkah laku
agresif dengan cara memukul atau membentak bila timbul rasa kesal didalam
dirinya. Akibat lain anak akan selalu cemas,mengalami mimpi buruk, depresi
atau masalah-masalah disekolah.

1.2 Rumusan Masalah


Kekerasan yang dilakukan banyak orang terhadap anak dan perempuan,
mempunyai dampak yang kurang baik. adapun seperti beberapa pertanyaan
di bawah ini, antara lain:
1.2.1

Apakah kekerasan terhadap anak itu ?

1.2.2

Faktor-faktor apa sajakah yang membuat seseorang sering

melakukan tindakan kekerasan tersebut ?


1.2.3

Apa yang terjadi pada anak jika kekerasan yang dilakukan sangat

menyiksa ?
1.2.4

Berikan solusi untuk Mencegah Terjadinya Kekerasan

Terhadap Anak ?
1.2.5

Bagaimana upaya pemerintah untuk menyikap kekerasan tersebut ?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1

Mengetahui sebab-sebab terjadinya kekerasan pada anak.

1.3.2

Mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat seseorang melakukan


tindakan kekerasan.

1.3.3

Mengetahui kondisi anak yang mengalami tindakan kekerasan.

1.3.4

Mencari solusi untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.


1.3.5

Mencari tahu penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat Penulisan dari karya ilmiah ini adalah untuk menyadari orangtua
bahwa sebenarnya kekerasan terhadap anak tidak lagi pantas dilakukan,
karena anak-anak juga mendapat perlindungan dari Komisi Perlindungan
Anak. Disini juga anak-anak harus menjaga sikap sehingga emosi orangtua
tidak terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan. Oleh karena itu, perlu
adanya kesadaran dari dalam diri, baik orangtua maupun anak.

Bagi penulis
Untuk menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia.

Bagi lembaga/ tempat.


Sebagai rujukan untuk penulis selanjutnya dalam menyelesaikan karya ini
dengan topic yang sama.

Bagi masyarakat atau pembaca.


Sebagai pedoman agar tidak terjadinya tindakan kekerasan.

1.5 Sistematika penulisan


Adapun sistematika penulisan makalah ini yaitu:
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah

1.2 Rumusan masalah


1.3 Tujuan penulisan
1.4 Manfaat penulisan
1.5 Sistematika penulisan
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Uraian materi
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian kekerasan terhadap anak
Banyak orangtua menganggap kekerasan pada anak adalah hal
yang wajar. Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari
mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling
bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan,
peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang
anaknya. Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal
aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sudah barang
tentu dalam proses belajar ini, anak cenderung melakukan kesalahan.
Bertolak dari kesalahan yang dilakukan, anak akan lebih mengetahui
tindakan-tindakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, patut atau tidak
patut. Namun orang tua menyikapi proses belajar anak yang salah ini
dengan kekerasan. Bagi orangtua, tindakan anak yang melanggar perlu

dikontrol dan dihukum. bagi orangtua tindakan yang dilakukan anak itu
melanggar sehingga perlu dikontrol dan dihukum.
Wikipedia Indonesia (2006) memberikan pengertian bahwa kekerasan
merujuk pada tindakan agresi dan pelanggaran (penyiksaan, pemerkosaan,
pemukulan, dll.) yang menyebabkan atau dimaksudkan untuk menyebabkan
penderitaan atau menyakiti orang lain. Istilah kekerasan juga berkonotasi
kecenderungan agresif untuk melakukan perilaku yang merusak. Kekerasan
terjadi ketika seseorang menggunakan kekuatan, kekuasaan, dan posisi nya
untuk menyakiti orang lain dengan sengaja, bukan karena kebetulan (Andez,
2006). Kekerasan juga meliputi ancaman, dan tindakan yang bisa
mengakibatkan luka dan kerugian. Luka yang diakibatkan bisa berupa luka
fisik, perasaan, pikiran, yang merugikan kesehatan dan mental.kekerasan
anak Menurut Andez (2006) kekerasan pada anak adalah segala bentuk
tindakan yang melukai dan merugikan fisik, mental, dan seksual termasuk
hinaan meliputi: Penelantaran dan perlakuan buruk, Eksploitasi termasuk
eksploitasi seksual, serta trafficking/ jual-beli anak. Sedangkan Child Abuse
adalah semua bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh mereka
yang seharusnya bertanggung jawab atas anak tersebut atau mereka yang
memiliki kuasa atas anak tersebut, yang seharusnya dapat di percaya,
misalnya orang tua, keluarga dekat, dan guru.
2.2 Sebab terjadinya kekerasan pada anak
Banyak orang sukar memahami mengapa seseorang melukai anaknya.
Masyarakat sering beranggapan bahwa orang yang menganiaya anaknya
mengalami kelainan jiwa. Tetapi banyak pelaku penganiayaan sebenarnya
menyayangi anak-anaknya namun cenderung bersikap kurang sabar dan
kurang dewasa secara pribadi. Karakter seperti ini membuatnya sulit
memenuhi kebutuhan anak-anaknya dan meningkatkan kemungkinan tindak
kekerasan secara fisik atau emosional. Namun, tidak ada penjelasan yang
menyeluruh tentang penganiayaan pada anak. Hal itu terjadi sebagai akibat
kombinasi faktor dari kepribadian, sosial dan budaya. Menurut Richard J.

Gelles, Ph.D. Faktor-faktor penyebab penganiayaan ini dapat


dikelompokkan dalam empat kategori utama, yaitu sebagai berikut :
2.2.1 Penyebaran perilaku jahat antar generasi
Banyak anak belajar perilaku jahat dari orang tua mereka dan kemudian
berkembang menjadi tindak kekerasan. Jadi, perilaku kekerasan diteruskan
antar generasi. Penelitian menunjukkan bahwa 30% anak-anak korban tindak
kekerasan menjadi orang tua pelaku tindak kekerasan. Mereka meniru
perilaku ini sebagai model ketika mereka menjadi orang tua kelak.
Namun, beberapa ahli percaya bahwa yang menjadi penentu akhir adalah
apakah anak menyadari bahwa perilaku kasar yang dialaminya tersebut
salah atau tidak. Anak-anak yang yakin bahwa mereka berbuat salah dan
pantas mendapat hukuman akan menjadi orang tua pelaku kekerasan lebih
sering daripada anak-anak yang yakin bahwa orang tua mereka salah kalau
berlaku kasar pada mereka.
2.2.2 Ketegangan Sosial
Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko
tindak kekerasan pada anak dalam sebuah keluarga. Kondisi ini mencakup :
Pengangguran.
Sakit-penyakit.
Kemiskinan dalam rumah tangga.
Ukuran keluarga yang besar.
Kehadiran seorang bayi atau orang cacat mental dalam rumah.
Kematian anggota keluarga.
Penggunaan alkohol dan obat-obatan.
2.2.3 Isolasi sosial
Para orang tua atau pengasuh yang melakukan tindak kekerasan pada anak
cenderung kurang bersosialisasi. Beberapa orang tua pelaku kekerasan
bahkan bergabung dengan berbagai organisasi kemasyarakatan, dan

kebanyakan kurang berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabatnya.


Kurangnya sosialisasi ini menyebabkan kurangnya dukungan masyarakat
pada orang tua pelaku tindak kekerasan untuk menolong mereka
menghadapi ketegangan sosial atau ketegangan dalam keluarga.
Faktor budaya sering menentukan banyaknya dukungan komunitas yang
diterima sebuah keluarga. Komunitas itu berupa para tetangga, kerabat dan
teman-teman yang membantu pemeliharaan anak ketika orang tuanya tidak
mau atau tidak mampu. Di AS, para orang tua sering menaruh tanggung
jawab pemeliharaan pada diri anak sendiri, yang berisiko tinggi
mengakibatkan tegangan dan tindak kekerasan pada anak.
2.2.4. Struktur Keluarga
Tipe keluarga tertentu memiliki risiko anak terlantar dan terjadi tindak
kekerasan pada anak. Sebagai contoh :
Orang tua tunggal lebih sering melakukan tindak kekerasan pada anakanak daripada bukan orang tua tunggal. Hal ini disebabkan keluargakeluarga dengan orang tua tunggal biasanya lebih sedikit mendapatkan uang
daripada keluarga lainnya, sehingga hal ini dapat meningkatnya risiko tindak
kekerasan.
Keluarga-keluarga dengan keretakan perkawinan yang kronis atau tindak
kekerasan pada pasangannya mempunyai tingkat tindak kekerasan pada
anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga tanpa masalah seperti ini.
Keluarga-keluarga yang didalamnya baik suami atau istri mendominasi
pengambilan keputusan yang penting seperti dimana mereka akan tinggal,
apa pekerjaan yang dilakukan, kapan mempunyai anak, dan berapa banyak
uang yang dihabiskan untuk makanan dan rumah mempunyai tingkat
tindak kekerasan pada anak lebih tinggi daripada keluarga-keluarga yang di
dalamnya para orang tua membagi tanggung jawab untuk keputusankeputusan ini.
2.3 Dampak kekerasan pada anak

Efek tindakan dari korban penganiayaan fisik dapat diklasifikasikan


dalam beberapa kategori. Ada anak yang menjadi negatif dan agresif serta
mudah frustasi; ada yang menjadi sangat pasif dan apatis; ada yang tidak
mempunyai kepibadian sendiri; ada yang sulit menjalin relasi dengan
individu lain dan ada pula yang timbul rasa benci yang luar biasa terhadap
dirinya sendiri. Selain itu Moore juga menemukan adanya kerusakan fisik,
seperti perkembangan tubuh kurang normal juga rusaknya sistem syaraf.
Anak-anak korban kekerasan umumnya menjadi sakit hati, dendam,
dan menampilkan perilaku menyimpang di kemudian hari. Bahkan, Komnas
PA (dalam Nataliani, 2004) mencatat, seorang anak yang berumur 9 tahun
yang menjadi korban kekerasan, memiliki keinginan untuk membunuh
ibunya.
Berikut ini adalah dampak-dampak yang ditimbulkan kekerasan terhadap
anak (child abuse) , antara lain;
1) Dampak kekerasan fisik, anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang
tuanya akan menjadi sangat agresif, dan setelah menjadi orang tua akan
berlaku kejam kepada anak-anaknya. Orang tua agresif melahirkan anakanak yang agresif, yang pada gilirannya akan menjadi orang dewasa yang
menjadi agresif. Lawson (dalam Sitohang, 2004) menggambarkan bahwa
semua jenis gangguan mental ada hubungannya dengan perlakuan buruk
yang diterima manusia ketika dia masih kecil. Kekerasan fisik yang
berlangsung berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan menimbulkan
cedera serius terhadap anak, meninggalkan bekas luka secara fisik hingga
menyebabkan korban meninggal dunia.
2) Dampak kekerasan psikis. Unicef (1986) mengemukakan, anak yang
sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung
meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa
(memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia
(takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan
bunuh diri. Menurut Nadia (1991), kekerasan psikologis sukar diidentifikasi

atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang nyata seperti


penyiksaan fisik.
Jenis kekerasan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang
termanifestasikan dalam beberapa bentuk, seperti kurangnya rasa percaya
diri, kesulitan membina persahabatan, perilaku merusak, menarik diri dari
lingkungan, penyalahgunaan obat dan alkohol, ataupun kecenderungan
bunuh diri.
3) Dampak kekerasan seksual. Menurut Mulyadi (Sinar Harapan, 2003)
diantara korban yang masih merasa dendam terhadap pelaku, takut
menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski
kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Bahkan eksploitasi
seksual yang dialami semasa masih anak-anak banyak ditengarai sebagai
penyebab keterlibatan dalam prostitusi. Jika kekerasan seksual terjadi pada
anak yang masih kecil pengaruh buruk yang ditimbulkan antara lain dari
yang biasanya tidak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut,
perubahan pola tidur, kecemasan tidak beralasan, atau bahkan simtom fisik
seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dll (dalam Nadia, 1991);
4) Dampak penelantaran anak. Pengaruh yang paling terlihat jika anak
mengalami hal ini adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua
terhadap anak, Hurlock (1990) mengatakan jika anak kurang kasih sayang
dari orang tua menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal
mengembangkan perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah
penyesuaian diri pada masa yang akan datang.
Dampak kekerasan terhadap anak lainnya (dalam Sitohang, 2004) adalah
kelalaian dalam mendapatkan pengobatan menyebabkan kegagalan dalam
merawat anak dengan baik. Kelalaian dalam pendidikan, meliputi kegagalan
dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan lingkungannya gagal
menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk keluarga
sehingga anak terpaksa putus sekolah.
2.4 Solusi untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

Pendidikan dan Pengetahuan Orang Tua Yang Cukup

Dari beberapa faktor yang telah kita bahas diatas, maka perlu kita ketahui
bahwa tindak kekerasan terhadap anak, sangat berpengaruh terhahap
perkembangannya baik psikis maupun fisik mereka. Oleh karena itu, perlu
kita hentikan tindak kekerasan tersebut. Dengan pendidikan yang lebih
tinggi dan pengetahuan yang cukup diharapkan orang tua mampu mendidik
anaknya kearah perkembangan yang memuaskan tanpa adanya tindak
kekerasan.

Keluarga Yang Hangat Dan Demokratis

Psikolog terpesona dengan penelitian Harry Harlow pada tahun 60-an


memisahkan anak-anak monyet dari ibunya, kemudian ia mengamati
pertumbuhannya. Monyet-monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang
mengenaskan, selalu ketakutan, tidak dapat menyesuaikan diri dan rentan
terhadap berbagai penyakit. Setelah monyet-monyet itu besar dan
melahirkan bayi-bayi lagi, mereka menjadi ibu-ibu yang galak dan
berbahaya. Mereka acuh tak acuh terhadap anak-anaknya dan seringkali
melukainya.
Dalam sebuah study terbukti bahwa IQ anak yang tinggal di rumah yang
orangtuanya acuh tak acuh, bermusuhan dan keras, atau broken home,
perkembangan IQ anak mengalami penurunan dalam masa tiga tahun.
Sebaliknya anak yang tinggal di rumah yang orang tuanya penuh pengertian,
bersikap hangat penuh kasih sayang dan menyisihkan waktunya untuk
berkomunikasi dengan anak-anaknya, menjelaskan tindakanya, memberi
kesempatan anak untuk mengambil keputusan, berdialog dan diskusi,
hasilnya rata-rata IQ ( bahkan Kecerdasan Emosi ) anak mengalami kenaikan
sekitar 8 point
Hasil penelitian R. Study juga membuktikan bahwa 63 % dari anak nakal
pada suatu lembaga pendidikan anak-anak dilenkuen ( nakal ), berasal dari
keluarga yang tidak utuh ( broken home ). Kemudian hasil penelitian K.
Gottschaldt di Leipzig ( Jerman ) menyatakan bahwa 70, 8 persen dari anakanak yang sulit di didik ternyata berasal dari keluarga yang tidak teratur,

tidak utuh atau mengalami tekanan hidup yang terlampau berat. (Ahmad,
Aminah . 2006 : 1).

Membangun Komunikasi Yang Efektif

Kunci persoalan kekerasan terhadap anak disebabkan karena tidak adanya


komunikasi yang efektif dalam sebuah keluarga. Sehingga yang muncul
adalah stereotyping (stigma) dan predijuce (prasangka). Dua hal itu
kemudian mengalami proses akumulasi yang kadang dibumbui intervensi
pihak ketiga. Sebagai contoh kasus dua putri kandung pemilik sebuah pabrik
rokok di Malang Jawa Timur. Amy Victoria Chan (10) dan Ann Jessica Chan (9)
diduga jadi korban kekerasan dari ibu kandung mereka saat bermukim di
Kanada. Ayahnya terlambat tahu karena sibuk mengurus bisnis dan hanya
sesekali mengunjungi mereka. Mereka dituntut ibunya agar meraih prestasi
di segala bidang sehingga waktu mereka dipenuhi kegiatan belajar dan
beragam kursus seperti balet, kumon, piano dan ice skating. Jika tidak
bersedia, mereka disiksa dengan segala cara. Mereka juga pernah dibiarkan
berada di luar rumah saat musim dingin.(Kompas edisi 24 Januari 2006).
Kejadian ini mungkin tidak terjadi jika ayahnya selalu mendampingi anakanaknya.
Untuk menghindari kekerasan terhadap anak adalah bagaimana anggota
keluarga saling berinteraksi dengan komunikasi yang efektif. Sering kita
dapatkan orang tua dalam berkomunikasi terhadap anaknya disertai
keinginan pribadi yang sangat dominan, dan menganggap anak sebagai hasil
produksi orang tua, maka harus selalu sama dengan orang tuanya dan dapat
diperlakukan apa saja.
Bermacam-macam sikap orang tua yang salah atau kurang tepat serta
akibat-akibat yang mungkin ditimbulkannya antara lain

Orang tua yang selalu khawatir dan selalu melindungi

Anak yang diperlakukan dengan penuh kekhawatiran, sering dilarang dan


selalu melindungi, akan tumbuh menjadi anak yang penakut, tidak
mempunyai kepercayaan diri, dan sulit berdiri sendiri. Dalam usaha untuk
mengatasi semua akibat itu, mungkin si anak akan berontak dan justru akan

berbuat sesuatu yang sangat dikhawatirkan atau dilarang orang tua. Konflik
ini bisa berakibat terjadinya kekerasan terhadap anak

Orang tua yang terlalu menuntut

Anak yang dididik dengan tuntutan yang tinggi mungkin akan mengambil
nilai-nilai yang terlalu tinggi sehingga tidak realistic. Bila anak tidak mau
akan terjadi pemaksaan orang tua yang berakibat terjadinya kekerasan
terhadap anak seperti contoh kasus di atas.

Orang tua yang terlalu keras.

Anak yang diperlakukan demikian cenderung tumbuh dan berkembang


menjadi anak yang penurut namun penakut. Bila anak berontak terhadap
dominasi orang tuanya ia akan menjadi penentang. Konflik ini bisa berakibat
terjadi kekerasan terhadap anak. (Erwin. 1990 : 31 32).
2.5 Upaya yang dilakukan pemeritahan
Mengsosialisasi Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Kekerasan dalam rumah
tangga yang terjadi pada perempuan dan anak-anak merupakan masalah
yang sulit di atasi. Umumnya masyarakat menganggap bahwa anggota
keluarga itu milik laki-laki dan masalah kekerasan di dalam rumah tangga
adalah masalah pribadi yang tidak dapat dicampuri oleh orang lain.
Sebetulnya Indonesia telah meratifikasi konvensi mengenai penghapusan
segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan Undang-Undang No.
7/1984, Undang-undang no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak serta
Undang-Undang No. 29 tahun 1999. (Suprapti, 2006 : 4). Sering pejabat
terkait seperti Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman masih banyak yang
kurang memahami sehingga setiap ada kasus-kasus kekerasan terhadap
perempuan dan anak-anak atau Hak Azazi Manusia masih selalu mengacu
pada KUH Pidana.
Oleh karena itu kita merasa sangat perlu untuk mensosialisasikan

UU No. 23 Tahun 2004 tanggal 22 September 2004 Tentang Penghapusan


Kekerasan Dalam Rumah Tangga, karena keutuhan dan kerukunan rumah
tangga yang bahagia, aman, tentram dan damai merupakan dambaan setiap
orang dalam rumah tangga agar dapat melaksanaan hak dan kewajibannya
yang didasari oleh agama, perlu dikembangkan dalam membangun
keutuhan rumah tangga.
Sosialisasi ini bisa melalui banyak cara antara lain penayangan iklan di
televisi, melalui radio, poster, penataran, seminar dan distribusi buku UU
tersebut ke masyarakat umum, akademisi, instansi pemerintah termasuk lini
paling depan yaitu ibu-ibu PKK. UU No. 23/2004 sebetulnya masih kurang
memuaskan karena bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dan
anak-anak masih merupakan delik aduan, maksudnya adalah korban sendiri
yang melaporkan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga kepada
kepolisian. Penelitian membuktikan bahwa kekerasan terhadap anak justru
dilakukan oleh orang dekat artinya orang yang dikenal oleh korban. Pelaku
tindak kekerasan fisik dan seksual menurut pemantauan Pusat Data dan
Informasi (Pusdatin) Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat tahun
2003 adalah orang-orang terdekat yaitu tetangga, orang tua, paman, kakek,
teman, pacar serta saudara. Hal ini dapat juga dilihat dari lokasi tindak
kekerasan paling banyak terjadi di rumah korban atau rumah
pelaku.Setidaknya ini menunjukkan bahwa pelaku adalah orang yang dekat
dengan korban. (Pikiran Rakyat, edisi 20 Januari 2006.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan baik secara fisik
maupun psikis yang berakibat penderitaan terhadap anak.
Macam-macam kekerasan terhadap anak:
1 . Penyiksaan Fisik (Physical Abuse).
2. Penyiksaan Emosi (Psychological/Emotional Abuse).
3.PelecehanSeksual(SexualAbuse).
4. Pengabaian (Child Neglect).
Adapun faktor penyebab terjadinya kekerasan:
1. Lingkaran kekerasan
2. Stres dan kurangnya dukungan
3. Pecandu alkohol atau narkoba
4.. Menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga
5. Kemiskinan dan akses yang terbatas ke pusat ekonomi dan sosial saat
masa-masa krisis.
6. Peningkatan krisis dan jumlah kekerasan di lingkungan sekitar mereka.
Dan dampak dari kekerasan tersebut ialah:
1) Kerusakan fisik atau luka fisik;

2) Anak akan menjadi individu yang kukrang percaya diri, pendendam dan
agresif
3) Memiliki perilaku menyimpang, seperti, menarik diri dari lingkungan,
penyalahgunaan obat dan alkohol, sampai dengan kecenderungan bunuh
diri;
4) Jika anak mengalami kekerasan seksual maka akan menimbulkan trauma
mendalam pada anak, takut menikah, merasa rendah diri.
3.2 Saran
Dokter sebagai klinisi yang bertugas di lapangan harus mempunyai
kemampuan dalam mengenali segala kemungkinan bentuk penyiksaan dan
penelantaran anak, terutama sekali dari kunjungan pasien ke tempat
prakteknya. Manifestasi klinis yang didapatkan pada korban penyiksaan dan
penelantaran anak jelas berbeda dengan manifestasi klinis pada kasus
kecelakaan biasa. Sehingga diharapkan dokter dapat lebih jeli dalam
mengenalinya.
Dokter mempunyai kewajiban untuk mendata bentuk penyiksaan itu
dan kemudian bekerjasama dengan pihak lain seperti pekerja sosial dan
penegak hukum dalam penindaklanjutan kasus penyiksaan dan penelantaran
anak.
Orangtua juga mempunyai kewajiban mendidik anaknya dengan baik
tidak berupah dengan kekerasan fisik atau mental.

DAFTAR PUSTAKA
Abu Huraerah. (2006). Kekerasan Terhadap Anak Jakarta :Penerbit
Nuansa,Emmy
Soekresno S. Pd.(2007). Mengenali Dan Mencegah Terjadinya TindakKekerasan
Terhadap Anak.

Mafrukhi dkk. (2006). Kompeten Berbahasa Indonesia. Jakarta :Penerbit


Erlangga.
Sumber : Komisi Perlindungan Anak Indonesia,http://www.kpai.go . Didwonload
September 2007.http://www.setneg.go.id
UU PA No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak

Tinjauan Yuridis tentang Tindak Kekerasan Anak di Bawah Umur


TINJAUAN YURIDIS TENTANG TINDAK KEKERASAN ANAK DI BAWAH
UMUR
Latar Belakang
Tindak kekerasan terhadap anak merupakan permasalahan yang cukup kompleks, karena
mempunyai dampak negatif yang serius, baik bagi korban maupun lingkungan sosialnya .Secara
umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap
individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental.Undang Undang No. 23
Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak. Pasal 4 mnyebutkan bahwa : Setiap anak berhak untuk
dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan
martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.[1]
Tindak kekerasan terhadap anak adalah perilaku dengan sengaja (verbal dan non verbal) yang
ditujukan untuk mencederai atau merusak anak, baik berupa serangan fisik atau merusak anak,
mental sosial, ekonomi maupun seksual yang melanggar hak asasi manusia, bertentangan dengan
nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat, berdampak trauma psikologis bagi korban.
Dampak dari tindak kekerasan terhadap anak yang paling dirasakan yaitu pengalaman traumatis
yang susah dihilangkan pada diri anak, yang berlanjut pada permasalahanpermasalahan lain, baik fisik, psikologis maupun sosial. Yang dimaksud dengan anak ialah
individu yang belum mencapai usia 18 tahun. Oleh karena itu, kekerasan pada anak adalah
tindakan yang di lakukan seseorang /individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun
yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu. Seringkali istilah kekerasan pada
anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak untuk mendapat
perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi. Kekerasan pada anak juga sering kali
dihubungkan dengan lapis pertama dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak
anak yaitu orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga.kekerasan yang disebut terakhir ini di kenal
dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse yang merupakan bagian dari kekerasan
dalam rumah tangga (domestic violence).
Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang
dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang
anak baik secara fisik, seksual, maupun emosi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai
caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. Ibu dan bapak
kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke
sekolah, tukang kebun, dan seterusnya. Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana
kekerasan ini terjadi, salah satu di antaranya teori yang berhubungan dengan stress dalam

keluarga (family stress). Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang tua, atau
situasi tertentu. Tindak kekerasan terhadap anak merupakan permasalahan yang cukup kompleks,
karena mempunyai dampak negatif yang serius, baik bagi korban maupun lingkungan sosialnya.
Pembahasan
Kekerasan pada anak melanggaran HAM berat yang dapat mengakibatkan :
1. Mengabaikan hak asasi orang.
2. Mengakibatkan penderitaan fisik, mental dan sosial.
3. Mengganggu tumbuh kembang anak.
4. Menghambat masa depan.
Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana kekerasan ini terjadi, salah satu di
antaranya teori yang berhubungan dengan stress dalam keluarga (family stress). Stres dalam
keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang tua, atau situasi tertentu.
Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik, mental, dan perilaku yang terlihat
berbeda dengan anak pada umumnya. Bayi dan usia balita, serta anak dengan penyakit kronis
atau menahun juga merupakan salah satu penyebab stres.
Stres yang berasal dari orang tua misalnya orang tua dengan gangguan jiwa (psikosis atau
neurosa), orang tua sebagai korban kekerasan di masa lalu, orang tua
terlampau perfek dengan harapan pada anak terlampau tinggi, orang tua yang terbiasa dengan
sikap disiplin.
Stres berasal dari situasi tertentu misalnya terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) atau
pengangguran, pindah lingkungan, dan keluarga sering bertengkar. Dengan adanya stres dalam
keluarga dan faktor social budaya yang kental dengan ketidaksetaraan dalam hak dan
kesempatan, sikap permisif terhadap hukuman badan sebagai bagian dari mendidik anak, maka
para pelaku makin merasa sahlah untuk mendera anak. Dengan sedikit factor pemicu, biasanya
berkaitan dengan tangisan tanpa henti dan ketidakpatuhan pada pelaku, terjadilah penganiayaan
pada anak yang tidak jarang membawa malapetaka bagi anak dan keluarganya.
Perlukaan bisa berupa cedera kepala (head injury), patah tulang kepala, gegar otak, atau
perdarahan otak. Perlukaan pada badan, anggota gerak dan alat kelamin, mulai dari luka lecet,
luka robek, perdarahan atau lebam, luka bakar, patah tulang. Perlukaan organ dalam (visceral
injury) tidak dapat dideteksi dari luar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dalam dengan
melakukan otopsi. Perlukaan pada permukaan badan seringkali memberikan bentuk yang khas
menyerupai benda yang digunakan untuk itu, seperti bekas cubitan, gigitan, sapu lidi, setrika,
atau sundutan rokok. Karena perlakuan seperti ini biasanya berulang maka perlukaan yang
ditemukan seringkali berganda dengan umur luka yang berbeda-beda, ada yang masih baru ada
pula yang hamper menyembuh atau sudah meninggalkan bekas (sikatriks). Di samping itu lokasi
perlukaan dijumpai pada tempat yang tidak umum sepertihalnya luka-luka akibat jatuh atau
kecelakaan biasa seperti bagian paha atau lengan atas
sebelah dalam, punggung, telinga, langit langit rongga mulut, dan tempat tidak umum lainnya.
Pada saat ditanyakan tentang bagaimana kejadiannya sampai perlukaan tersebut bisa terjadi,
biasanya orang tua atau wali yang mengantar anak itu akan memberikan jawaban yang tidak
konsisten dan tidak klop antara kedua orang tua dengan kata lain jawabannya ngarang. Untuk
anak yang berusia diatas 3 tahun kita dapat menanyakan kejadiannya pada korban, tapi ini
dilakukan di ruang terpisah dari tersangka pelaku (private setting). Juga,anak yang menjadi
korban ini di bawa untuk mendapatkan perawatan tidak dengan segera atau ada jarak waktu
antara kejadian dengan upaya melakukan pertolongan .

Saat perlakuan salah pada anak terjadi, lantaran perbuatanitu, pelaku tidak sadar bahkan mungkin
tidak tahu bahwa tindakannya itu akan diancam dengan pidana penjata atau denda yang tidak
sedikit, bahkan jika pelaku ialah orang
tuanya sendiri maka hukuman akan ditambah sepertigany ( pasal 80 Undang-Undang Republik
Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak, sebagai berikut: (1). Setiap orang yang
melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp.
72.000.000.00. (2). Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, makapelaku
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
100.000.000.00. (3). Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara
paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak RP.200.000.000.004. Pidana dapat ditambah
sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) apabila yang
melakukan penganiayaan
tersebut orang tuanya).[2]
Bentuk bentuk tindak kekerasan terhadap anak :
1. Fisik (dianiaya di luar batas : dipukul, dijambak, ditendang, diinjak, dicubit, dicekik, dicakar,
dijewer, disetrika, disiram air panas, dsb).
2. Psikis (dihina, dicaci maki, diejek, dipaksa melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki,
dibentak, dimarahi, dihardik, diancam, dsb).
3. Seksual (diperkosa, disodomi, diraba-raba alat kelaminnya, diremas-remas payudaranya,
dicolek pantatnya, diraba- raba pahanya, dipaksa melakukan oral sex, dijual pada mucikari,
dipaksa menjadi pelacur, dipaksa bekerja diwarung remang-remang dan pelecehan seksual
lainnya).
4. Ekonomi (dipaksa bekerja menjadi pemulung, dipaksa mengamen, dipaksa menjadi pembantu
rumah tangga, dipaksa mengemis, dsb).
Dampak dari tindak kekerasa terhadap anak yang paling dirasakan yaitu pengalaman traumatis
yang susah dihilangkan pada diri anak, yang berlanjut pada permasalahan- permasalahan lain,
baik fisik, psikologis maupun sosial. Dampak tindakan kekerasan terhadap anak stikma yang
melekat pada korban :
Stigma Internal
Kecenderungan korban menyalahkan diri.
Menutup diri.
Menghukum diri.
Menganggap dirinya aib, dsb.
Stigma Eksternal
Kecenderungan masyarakat menyalahkan korban.
Media informasi tanpa empati memberitakan kasus yang dialami secara terbuka dan tidak
mengiraukan privasi korban
Dampak tindak kekerasan terhadap anak (Faktor faktor kausalitas yang signifikan) :

1. Masalah kemiskinan.
2. Masalah gangguan hubungan sosial keluarga dan komunitas.
3. Penyimpangan perilaku dikarenakan masalah psikososial.
4. Lemahnya kontrol sosial primer masyarakat dan hukum.
5. Pengaruh nilai sosial budaya di lingkungan sosial tertentu.
6. Keengganan masyarakat untuk melaporkan kasus-kasus.
Faktor penyebab dan upaya reduksi :
Kompleksitas faktor-faktor penyebab dan beban permasalahan yang demikian berat dalam diri
para korban tindak kekerasan, menuntut diambilnya langkah penanganan yang holistik dan
komprehensif melalui pendekatan interdisipliner,interinstitusional
dan intersektoral dengan dukungan optimal dari berbagai sumber dan potensi dalam masyarakat.
Komitmen pemerintah :
Secara operasional pemerintah menindaklanjuti kebijakan dalam kesepakatan bersama antara :
Menteri Sosial RI No.: 75/HUK/2002, Menteri Kesehatan No. :1329/Menkes/SKB/X/2002,
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI No.: 14/Men PP/Dep.V/X/2002, dan
Kepala Kepolisian Negara RI No.: B/3048/X2002 Tentang Pelayanan Terpadu korban kekerasan
terhadap perempuan dan anak.
Upaya pencegahan
Mengingat sedemikian kompleks kekerasan pada anak ini maka usaha pencegahan kekerasan
pada anak tidak hanya tergantung pada program dan layanan yang telah disediakan oleh
pemerintah melainkan juga sangat tergantung pada bagaimana masyarakat memaknai issu
kekerasan ini.
Beberapa indikator bahwa pemerintah atau Negara menempatkan anak sebagai prioritas utama di
antaranya adalah sebagai berikut:
Kemarahan warga termotivasi dan mereka akan bertindak saat mendengar ada anak yang
mengalami kekerasan.
Perumahan yang memadai tersedia bagi seluruh keluarga, layanan kesehatan dapat terjangkau
seluruh keluarga.
Sistim layanan sosial dapat dijangkau keluarga saat
mereka membutuhkan bantuan sebelum kekerasan pada anak terjadi.
Materi umum mengenai bimbangan dan perawatan anak serta materi komunikasi
interpersonal, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, dijumpai dalam kurikulum sekolah mulai
taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan dan diteruskan untuk pendidikan bagi orang dewasa.
Program pendidikan dan latihan kerja tersedia bagi pekerja dalam rangka memperoleh
pekerjaan dan upah yang memadai.
Kebijakan tempat kerja yang mendukung keluarga seperti perjanjian kerja yang memungkinkan
karyawan memilih waktu kerjanya sendiri.
Setiap orang tua memiliki akses untuk menolong dirinya dan kelompok pendukung ,
Model-model kampanye anti kekerasan jelas terlihat,
Sistem hukum, pidana atau perdata, memiliki dana, staf
terlatih yang cukup untuk menyelesaikan kasus kekerasaan dengan tepat dan adil,
Program pendidikian bagi orang tua berbasis budaya dan etnis tersedia bagi seluruh orang tua

yang baru punya anak.


Ketika masyarakat sadar akan keberadaan kekerasan pada anak ini sebagai salah satu masalah
mereka yang meresahkan, maka dengan sendirinya masyarakat sangat berkeingingan untuk
membantu seluruh upaya layanan, program ataupun kebijakan terkait dengan pencegahan
kekerasan pada anak. Upaya pencegahan kekerasan pada anak dapat dilaksanakan dari dua sisi,
masyarakat dan pemerintah. Pemerintah sangat diharapkan memiliki komitmen dasar nasional
yang sungguh-sungguh untuk anak. Sebagai langkah awal dimulai dengan inisiatif pemimpin
atau tokoh nasional untuk ambil bagian untuk mendukung upaya pencegahan sebagai salah satu
usaha penting memerangi kekerasan pada anak.Tokoh atau pemimpin berkaliber nasional
berinisiatif mendukung upaya ini, dengan kemampuannya bisa mempengaruhi kebijakan baik
pada sektor privat atau publik. Aksi berikut yang perlu diambil adalah memasukan langkah
Pencegahan kekerasan pada anak secara komprehensif ke dalam sistim peradilan. Sistim hukum
yang ada, baik peradilan anak, pidana, dan perdata, seluruh peraturan dan prosedurnya harus
sedemikan rupa sehingga sensitif dengan kebutuhan anak dan keluarga. Tentu dalam hal ini harus
ditunjang pula dengan jumlah tenaga hakim, pengacara, staf pengadilan terlatih yang memadai.
Bagi masyarakat, keluarga, atau orang tua diperlukan kebijakan, layanan, sumberdaya, dan
pelatihan pencegahan kekerasan pada anak yang konsisten dan terus menerus.
Strategi pencegahan ini meliputi :
Pencegahan primer
Untuk semua orang tua dalam upaya meningkatkan kemampuan pengasuhan dan menjaga agar
perlakuan salah atau abuse tidak terjadi,
meliputi perawatan anak dan layanan yang memadai, kebijakan tempat bekerja yang medukung,
serta pelatihan life skill bagi anak.Yang dimaksud dengan pelatihan life skill meliputi
penyelesaian konflik tanpa kekerasan, ketrampilan menangani stress, manajemen sumber daya,
membuat keputusan efektif, komunikasi interpersonal secara efektif, tuntunan atau guidance dan
perkembangan anak, termasuk penyalahgunaan narkoba.
Pencegahan sekunder
Ditujukan bagi kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dalam upaya meningkatkan
ketrampilan pengasuhan, termasuk pelatihan dan layanan korban untuk menjaga agar perlakuan
salah tidak terjadi pada generasi berikut. Kegiatan yang dilakukan di sini di antaranya dengan
melalukan kunjungan rumah bagi orang tua yang baru mempunyai anak untuk melakukan self
assessment apakah mereka berisiko melakukan kekerasan pada anak di kemudian hari.
Pencegahan tersier
Dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pengasuhan yang menjaga agar perlakuan salah
tidak terulang lagi, di sini yang dilakukan adalah layanan terpadu untuk anak yang mengalami
korban kekerasan, konseling, pelatihan tatalaksana stres. pada saat kasus kekerasan pada anak
ditemukan, sebenarnya ada masalah dalam pengasuhan anak (parenting disorder) di belakang
kejadian tersebut. Maka dari itu, dasar dari strategi pencegahan adalah tersedianya secara luas
akses untuk mendapatkan informasi pengasuhan bagi para orang tua khususnya bagi mereka
yang memiliki anak pertama. Di sisi lain, anak dengan segala haknya harus pula dimengerti dan
dipahami para orang tua sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas pemenuhan hak anak
tersebut. Semua usaha yang dilakukan dalam rangka mengubah perilaku orang tua agar melek
informasi pengasuhan dan hak anak. membutuhkan upaya edukasi sejak dini dan terus menerus.
Sehingga pendidikan sebagai bagian dari strategi pencegahan kekerasan pada anak menjadi
sangat penting.

Pola penanganan kasus kekerasan anak (Prinsip penanganan kasus kekerasan anak sesuai KHA
yaitu ) :
1. Non diskriminasi
2. Kepentingan terbaik anak
3. Menghormati pendapat anak
4. Mengutamakan hak anak demi kelangsungan hidup dan tumbuh kembang
Pendekatan penanganan
Metode pendekatan yang dapat digunakan adalah pendekatan
kesejahteraan sosial, yang dilakukan secara terencana,
terorganisasi dan berkelanjutan :
1. Pendekatan Katalis
2. Pendekatan Informatif
3. Pendekatan Konsultatif
4. Pendekatan Partisipatif
Penyelenggara penaganan kasus kekerasan anak (Departemen / Instansi pemerintah yang terkait
di Pusat dan Daerah :
1. Departemen Sosial
2. Departemen Kesehatan
3. Departemen Pendidikan Nasional
4. Departemen Agama
5. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
6. Kementerian Pemberdayaan Perempuan
7. Kepolisian
8. Kejaksaan
9. Pengadilan
10.Lembaga Legislatif
11.Instansi/Dinas Terkait di Daerah
Lembaga dan Organisasi Masyarakat :
1. Komnas PA (Komisi Nasional Perlindungan Anak)
2. KPAI (Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia)
3. LPA (Lembaga Perlindungan Anak)
4. Orsos (DNIKS, BKKKS, LKKK)
5. LSM/NGO
6. Perguruan Tinggi
7. Dunia Usaha
8. Pramuka
9. Karang Taruna
Indikator Keberhasilan :
Bagi Anak :
Sembuhnya trauma anak, baik fisik maupun psikis.
Penempatan anak dalam keluarga sendiri, keluarga asuh, keluarga angkat atau panti sosial asuhan

anak berdasar pada kepentingan yang terbaik untuk anak.


Terpenuhinya semua kebutuhan fisik, mental dan sosial secara optimal
Semakin meningkatnya kemampuan anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Bagi Orang tua / Keluarga :


Terpenuhinya semua kebutuhan fisik, mental, sosial dan ekonomi secara optimal sehingga
memungkinkan untuk melaksanakan peran sosial orang tua/keluarga secara wajar, khususnya
peranan pengasuhan dan perlindungan anak.
Terpecahkannya masalah dalam interaksi dengan anak dan komunitas sehingga
memungkinkannya untuk melaksanakan peranan-peranan sosial orang tua/keluarga secara wajar
Bagi Umum :
Meningkatnya partisipasi masyarakat, khususnya Organisasi Sosial/Lembaga Swadaya
Masyarakat dalam berbagai aspek perlindungan anak
Meningkatnya dukungan pemerintah pusat dan daerah dalam perlindungan anak.
Meningkatnya kemampuan profesional semua pihak yang mengelola dan melaksanakan berbagai
bentuk perindungan anak.
Kesimpulan :
Jumlah anak korban tindak kekerasan pada perlakuan salah satu pada tahun 2006 mencapai
48.526 kasus[3]. Jumlah ini diyakini lebih banyak lagi, seperti fenomena gunung es (the tip of
ice berg) mengingat banyak kasus yang tidak terlaporkan maupun sengaja dirahasiakan karena
dianggap aib, baik oleh korban, keluarga, maupun masyarakat sekitar. Tindak kekerasan terhadap
anak adalah perilaku dengan sengaja maupun tidak sengaja (verbal dan non verbal) yang
ditujukan untuk mencederai atau merusak anak, baik berupa serangan fisik, mental sosial,
ekonomi maupun seksual yang melanggar hak asasi manusia, bertentangan dengan nilai-nilai dan
norma-norma dalam masyarakat, berdampak trauma psikologis bagi korban.
Oleh karena itu baik pemerintah maupun masyarakat harus berperan aktif dalam masalah
ini,untuk itu pemerintah bias melakukan langkah langkah tersebut, antara lain :
1. Pemberian jaminan, dan perlindungan kepada anak anak yang membutuhkan perlindungan
khusus untuk terjaminnya pemenuhan hak-hak mereka.
2. Penyediaan perangkat hukum dan penegakannya yang terkait dengan perlindungan anak.
3. Revitalisasi lembaga yang terkait dengan permasalahan anak yang membutuhkan
perlindungan khusus.
4. Peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat maupun lembaga dalam upaya
perlindungan anak.
5. Meningkatkan kerjasama antara lembaga pelaksana perlindungan anak baik lokal, nasional,
regional, maupun internasional.
6. Mengembangkan sistem informasi yang menyediakan data dan informasi tentang
perlindungan anak.
7. Memperkuat kualitas dan jangkauan pelayanan dan rehabilitasi perlindungan anak yang
menekankan pada upaya preventif, berorientasi pada keluarga, berbasiskan masyarakat,

integratif, komprehensif, dan akuntabel


8. Mengembangkan jaringan kerja antara semua pihak yang terkait dengan perlindungan anak.
9. Meningkatkan responsivitas semua pihak terkait, baik pemerintah maupun masyarakat dalam
upaya pencegahan pelanggaran hak anak dan perlindungan bagi anak - anak yang membutuhkan
perlindungan khusus.
Daftar Pustaka
- Anwar, Jefri dan Irwanto. 1998. Analisis Situasi Anak Jalanan Indonesia. dalam Irwanto dkk.
Analisis Situasi Anak-anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus. PKPM-Depsos, UNICEF.
Jakarta. -Info Jalanan, edisi khusus, September 1997 -Kanwil Depsos Jateng. (1999). Laporan
Pemetaan dan Survey Anak Jalanan di Kodya Semarang, PKPM Atmajaya-Departemen Sosial.
Jakarta. -PAJS. 1997. Pernyataan anti Kekerasan terhadap Anak Jalanan. dalam Peringatan Hari
Anak 1997. Semarang. -Permadi, Gunawan & Nila Ardhianie (Ed.). 1997. Anak Jalanan: Di
Pengasingan harapan. Yayasan Duta Awam. Semarang. -Masa Depan Anak yang Terkoyak
(Catatan kasus kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap Anak Jalanan Perempuan). 2000.
Aliansi Anti Kekerasan dan Eksploitasi Seksual terhadap Anak. Semarang. -Shalahuddin (peny.).
1999. Anak Jalanan Perempuan. Laporan penelitian Yayasan Setara yang dipresentasikan dalam
seminar Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan, Semarang, 14 Agustus 1999.
Yayasan Setara-LPA-UNICEF. Jakarta. -Shalahuddin (Ed.). 2000. Rekaman Dialog Yayasan
Setara Yayasan dengan Pemda, Poltabes, dan DPRD kotamadya Semarang. Yayasan Setara.
Semarang. -Sunarti, Dr, Ir, Dwi MSc. 1998. Laporan penelitian: Profil Anak Jalanan Di
Kotamadya Semarang. Pusat Studi Wanita Lembaga Penelitian Undip Semarang. Media Massa
-Kompas; Radar Semarang; Tabloid Manunggal; dan Wawasan.
[1] Undang undang nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak
[2] Pasal 80 undang undang Republik Indonesia no. 23 tahun 2002
[3] Data Departemen Sosial Republik Indonesia Tahun 2004
1 RESPON ANAK KORBAN KEKERASAN
TERHADAP PROGRAM PELAYANAN SOSIAL
OLEH PUSAT KAJIAN DAN PERLINDUNGAN ANAK (PKPA)
INTAN DIRJALAILA
(090902049)
Intandirja@gmail.com
Abstrak
Abuse adalah kata yang biasa di terjemahkan menjadi kekerasan, penganiayaan, penyiksaan atau
perlakuan salah. kekerasan terhadap anak (child abuse) dapat di definisikan sebagai peristiwa
perlukaan fisik, mental, atau seksual yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang
mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak, yang di indikasikan dengan kerugian
dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan pada anak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana respon Anak korban Kekerasan baik
kekerasan fisik, Psikis, seksual dan sosial terhadap program pelayanan sosial oleh PKPA. Respon
diartikan sebagai suatu tingkah laku balas atau sikap yang berwujud pemahaman, penilaian,
pengaruh atau penolakan, suka atau tidak, serta pemanfaatan pada suatu fenomena tertentu.

Dalam hal ini respon anak ditujukan terhadap Layanan Penerimaan Pengaduan, program
Layanan Hukum, Konseling, Pemeriksaan Kesehatan dan Monitoring.
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa anak korban tindak kekerasan
dampingan Lembaga Pusat Kajian dan Perlindungan Anak memberikan respon yang sangat baik
pada seluruh pelayanan sosial PKPA. Setiap korban dapat mengerti dan memahami tentang
tujuan dari tiap-tiap layanan PKPA dan dapat mengikuti prosedur pelayanan sosial oleh PKPA.
Korban terlibat dengan aktif dalam menjalani tahapan bantuan pelayanan sosial, mulai dari
layanan pengaduan sampai layanan monitoring. Melalui serangkaian kegiatan yang dirancang
oleh PKPA, Korban dan keluarganya dapat merasakan manfaat yang positif dari Pelayanan
Sosial oleh PKPA dalam menangani kasus kekerasan dan memberikan penilaian yang baik
terhadap pelaksanaan Program Pelayanan Sosial oleh PKPA.
Kata Kunci: Respon Anak dan Pelayanan Sosial
Abstract
Abuse is a word commonly translated as violence, persecution, torture or mistreatment. Child
Abuse can be defined as an event of physical injury, mental, or sexual abuse which usually done
by people who have a responsibility for the welfare of the child. Which is indicated by losses and
threats to the health and welfare of children.
This study aims to determine how the respond of child victims of physcal, psycilogical, sexual
and social violence of social service programs by PKPA. Response mean that a behavior or
attitude either pre tangible detailed understanding, assessment, or impact resistance, like it or not
and the use of a phenomenon certain. In this case the child response directed against Revenue
Service complaints, the Legal Services program, counseling, Monitoring Health Condition and
Monitoring Of Case.
Based of analysis of case it can be concluded that the child victims of violence assistance PKPA
give excellent response in all social services. Each victim can know and
2

understand about the purpose of social service and to follow procedures. Victims actively
involved in following stages help since the reception service complaints to the monitoring
service. Through a series of social service activities designed by teh PKPA, Victims and families
can be feel positive benefit from social service by PKPA in resolve cases of violence being faced
and give best value against the implementation of social service program by PKPA.
Keyword : Child Response and Social Service
Pendahuluan
Setiap harinya media menayangkan berita mengenai anak-anak yang disiksa dan dianiaya hingga
ada yang terbunuh, baik yang dilakukan keluarganya maupun masyarakat. Anak-anak yang
disekap, diculik, ditelantarkan, dianiaya, diperkosa, dilacurkan atau anak-anak yang
diperdagangkan. Hingga saat ini mereka belum mendapatkan pelayanan bantuan yang memadai,
baik yang dilakukan negara, maupun masyarakat.
Permasalahan anak di Indonesia belum dapat di tangani secara serius dan komprehensif.
Penanggulangan masalah anak menjadi ter-marjinalkan di tengah hiruk pikuk persoalan politik
dan hegemoni kekuasaan. Ironisnya, di satu sisi permasalahan anak dianggap sesuatu yang
penting hingga membutuhkan perhatian dan kepedulian yang sungguh-sungguh, tapi disisi lain
dalam realitasnya permasalahan anak, tindak kekerasan dan penelantaran anak masih belum
dapat di tangani dengan baik. Masih terjadi kesenjangan antara harapan dan kenyataan.1
Setiap tahunnya di perkirakan ada 100.000 anak dan perempuan yang di perdagangkan di
Indonesia. 40.000-70.000 anak Indonesia menjadi korban eksploitasi seksual. Institute
perempuan melaporkan bahwa sekitar 43,5 % korban trafficking masih berusia 14 tahun

walaupun sebagian besar perdaganagan anak melibatkan anakanak usia 17 tahun. 450.000 orang
(70 % adalah perempuan) dikirim ke luar negeri setiap tahunnya dan hampir 60 % dari mereka
dikirim secara illegal.Dalam laporannya, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat
telah memulangkan sebanyak 3.943 orang yang diperdagangkan. 90,26% adalah perempuan,
23,41% adalah anak perempuan dan 0,15 % adalah bayi. 40-70 ribu diperkirakan menjadi korban
eksploitasi seksual, sementara di Jawa saja terdapat 21.000 anak terlibat prostitusi Jumlah anakanak yang terlibat di dalam wisata seksual terus meningkat, terutama di Bali, Batam, di tempat
hiburan seperti panti pijat, karaoke dll. Masalah lain yang tak kalah memprihatinkan adalah
pelecehan terhadap anak terutama anak-anak dan wanita yang tinggal di daerah konflik atau
daerah bekas bencana, lebih dari 2.000 anak tidak mempunyai orangtua. Seperti halnya anakanak di belahan
3

dunia lain, anak-anak di Indonesia pun mengalami kekerasan dalam rumah tangga, baik di
jalanan, di sekolah dan diantara teman sebaya mereka.2
Komisi Perlindungan Anak Indonesia menetapkan peringkat pertama kekerasan anak untuk
Sumatera Utara berada di Medan dan disusul Siantar-Simalungun. Kasus kekerasan tersebut
terdiri dari dua macam yakni kekerasan seksual dan kekerasan fisik seperti pemukulan,
penganiayaan, kekerasan psikis. Untuk Siantar-Simalungun ada 476 kasus kekerasan anak yang
tercatat hingga November 2012. 476 kasus tersebut masih merupakan data yang tercatat di
Komisi Nasional Perlindungan Anak dan berbeda lagi dengan kasus kekerasan yang tidak
terlaporkan, 62 % dari kasus yang terlapor di Siantar-Simalungun merupakan kekerasan seksual
dan sisanya adalah kekerasan fisik.3
Dalam upaya melindungi anak-anak Indonesia, kita sudah memiliki beberapa instrumen hukum
yang bertujuan meberikan perlindungan. Ada ratifikasi Konvensi Hak Anak PBB melalui
Keppres 39/1990 dan sebagai bentuk implementasinya juga ada UU 23/2002 tentang
Perlindungan Anak. Namun demikian, perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya di pandang
sebagai persoalan politik dan legislasi. Perlindungan terhadap kesejahteraan anak juga
merupakan bagian dari tanggung jawab orangtua, dan kepedulian masyarakat. Semua pihak
harusnya menyadari bahwa permasalahan anak bukanlah hal yang sederhana. Penanggulangan
permasalahan anak sangat menuntut banyak pihak. Tanpa partisipasi masyarakat, pendekatan
legal formal saja tidak cukup efektif melindungi anak. Komunitas lokal memiliki peran penting
dalam merancang kebijakan dan program aksi perlindungan anak. Kekuatannya terletak pada
prosesnya yang partisipatoris sehingga mampu merespon kebutuhan masyarakat setempat lebih
tepat. Oleh karena itu optimalisasi peran orangtua, negara dan pemerintah, serta masyarakat
terutama melalui LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam upaya mensejahterakan anak
perlu diupayakan.4
PKPA Medan hadir sebagai salah satu lembaga non pemerintah yang berkomitmen untuk
melindungi anak-anak indonesia. Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) beserta divisi
sebagai penanggung jawab yaitu Pusat Informasi dan Pengaduan Anak (PUSPA) adalah salah
satu lembaga swadaya masyakat yang aktif berperan dalam memberikan bantuan dan pelayanan
sosial terhadap anak. PKPA sejak tahun 2001 sampai saat ini berhasil menangani dan
mendampingi kasus anak baik secara litigasi dan nonlitigasi. Pelayanan-pelayanan tersebut
diantaranya: (1)Layanan penerimaan pengaduan, (2) Layanan bantuan hukum, (3) Layanan
konseling, (4) Layanan pemeriksaan kesehatan, (5) Layanan monitoring.
4

Keberadaan pelayanan sosial ini tentunya diharapkan bisa membantu anak-anak mencapai
kebebasannya kembali. Dengan itu Pelayanan sosial ini dapat menjalankan fungsi-fungsinya

sebagai pelayanan untuk sosialisasi dan pengembangan, pelayanan untuk terapi, pertolongan dan
rehabilitasi, termasuk perlindungan sosial, perawatan pengganti, dan mendapatkan akses,
informasi, dan nasihat. Tapi sejauh ini, tidak ada jaminan apakah layanan ini benar- benar sesuai
dengan hal yang di butuhkan anak-anak, atau sudahkah layanan ini menjawab kebutuhan anakanak korban kekerasan. Untuk itulah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respon atau
sikap balasan anak-anak terhadap pelayanan sosial yang di lakukan PKPA.
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebelumnya, maka penulis tertarik untuk mengetahui
bagaimana respon anak korban kekerasan terhadap program pelayanan sosial. Respon dikatakan
Darly Beum sebagai tingkah laku balas atau sikap yang menjadi tingkah laku adekuat, yang
dilihat dari tiga indikator yaitu persepsi, sikap dan partisipasi. Dengan melihat respon dapat
diketahui bagaimana sebenarnya tanggapan dan sikap anak tersebut terhadap program pelayanan
sosial. Karena perbedaan respon dapat memunculkan perbedaan yang tajam pada pemanfaatan
suatu program. Penelitian ini dirangkum dalam sebuah penelitian dengan judul : Respon Anak
Korban Kekerasan terhadap Program Pelayanan Sosial oleh PKPA. Berdasarkan latar belakang
yang telah diuraikan, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana respon
anak Korban Kekerasan terhadap Program Pelayanan Sosial oleh Pusat Kajian dan Perlindungan
Anak (PKPA) ?. adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon
anak korban Kekerasan terhadap Program Pelayanan Sosial oleh Pusat Kajian dan Perlindungan
Anak (PKPA). Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi LSM
PKPA dalam menyusun dan memberikan pelayanan sosial terbaik bagi anak korban kekerasan
dan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi dan penambah wawasan bagi kalangan
yang tertarik dengan permasalahan anak dan kekerasan.
Pelayanan sosial dapat di tafsirkan dalam konteks kelembagaan sebagai terdiri dari atas programprogram yang disediakan berdasarkan kriteria selain kriteria pasar untuk menjamin tingkatan
dasar dan penyediaan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, untuk meningkatkan kehidupan
masyarakan dan keberfungsian individual, untuk memudahkan akses pada pelayanan-pelayanan
dan lembaga-lembaga pada umumnya, dan untuk membantu mereka yang berada dalam kesulitan
dan kebutuhan. Seperti Kahn membedakan pelayanan sosial secara luas kedalam dua bagian,
yaitu :
5

1
2

1. Pelayanan sosial yang menjadi sedemikian terperinci dan luasnya sehingga mencapai
identitas mendiri,
2. Pelayanan-pelayanan sosial lainnya yang mencakup bidang dengan batas-batas yang
berubah dan meliputi program-program yang berdiri sendiri, misalnya lembaga-lembaga
kesejahteraan anak atau pelayanan keluarga. Dan beberapa lembaga yang berada dalam
lembaga-lembaga lain, misalnya pekerja sosial di sekolah, pelayana sosial medis,
pelayanan sosial di perumahan publik, program-program kesejahteraan industri dan
sebagainya. Pelayanan sosial jenis kedua ini di sebut sebagai pelayanan sosial personal
atau pelayanan sosial umum (general service).

Pelayanan sosial personal adalah program yang melindungi atau mengembalikan kehidupan
keluarga, membantu individu mengatasi masalah yang berasal dari luar maupun dari dalam diri,
meningkatkan pekembangan dan memudahkan akses melalui pemberian informasi, bimbingan,
advokasi dan beberapa jenis bantuan konkret.5
Metode Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang di
lakukan dengan tujuan menggambarkan atau mendeskripsikan obyek dan fenomena yang ingin

di teliti. Termasuk di dalamnya bagaimana unsur-unsur yang ada di dalam variabel penelitian itu
berinteraksi satu sama lain dan apa pula produk interaksi yang berlangsung. Dengan populasi
berjumlah 20 orang merupakan seluruh anak-anak yang menjadi korban kekerasan yang di
tangani PKPA pada sepanjang tahun 2013, dan telah mendapatkan seluruh pelayanan sosial dari
PKPA. Maka seluruh populasi akan diambil datanya. 6
Penelitian ini dilakukan di salah satu lembaga non pemerintah yang memiliki konsentrasi penuh
pada pelayanan untuk anak yaitu Pusat Kajian dan Perlindungan Anak pada Divisi Pusat
Informasi dan Pengaduan Anak (PUSPA) di Jl. Abdul Hakim No.5A. Adapun alasan peneliti
memilih tempat ini sebagai lokasi penelitian karena Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, Divisi
Pusat Informasi dan Pengaduan Anak (PUSPA) merupakan lembaga yang memberikan
pelayanan sosial kepada anak-anak korban kekerasan baik layanan Litigasi maupun non Litigasi
sejak tahun 2001.
Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sehingga
nantinya penulis dapat mendeskripsikan informasi dan data yang diperoleh dalam penelitian,
dimana pengolahan data dilakukan dengan manual, data
6

dikumpulkan dari hasil kuesioner (angket) dan wawancara. Kemudian ditabulasikan dalam
bentuk distribusi frekuensi dan kemudian dianalisa
Temuan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, Peneliti
berhasil mengumpulkan 20 responden, responden perempuan sebanyak 70% dan laki-laki
sebanyak 30% yang keseluruhan responden merupakan anak-anak yang menjadi korban tindak
kekerasan, yaitu korban penganiayaan, pencabulan, persetubuhan anak dibawah umur,
perkosaan, penculikan, penelantaran, perdagangan manusia dan anak yang dilacurkan.
Pusat Kajian dan Perlindungan Anak memberikan serangkaian pelayanan sosial bagi anak korban
tindak kekerasan. Pertama PKPA akan menerima pengaduan kasus dari korban yang diwakili
oleh keluarga korban. Kasus yang diadukan akan ditindak lanjuti dengan langkah utamanya
adalah melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk tindakan hukum. Berkas surat yang
harus dilengkapi diantarana adalah surat kuasa dari orang tua selaku wali dari anak yang masih
dibawah 18 tahun, surat pengaduan ke Kepolisian, surat Visum, dan kartu identitas keluarga.
Tidak ada pungutan biaya dalam setiap pelayanan sosial yang diberikan oleh PKPA.
Pelayanan selanjutnya yang didapat oleh korban adalah layanan Litigasi berupa pendampingan
hukum yang dilakukan oleh PKPA. Dengan menindaklanjuti pengaduan yang diterima PUSPA
berkordinasi dengan staf litigasi lainnya dan Tim Pengacara pada setiap tingkatan hingga putusan
hakim berkekuatan hukum tetap. Dalam proses hukum PKPA mendampingi korban dan keluarga
untuk memperoleh keadilan, misalnya dengan menuntut pelaku tindak kekerasan agar di hukum
setimpal dengan perbuatannya, sebagian korban lainnya datang untuk meminta perlindungan dari
ancaman-ancaman pelaku tindak kekerasan, dan sebagian lainnya datang untuk meminta PKPA
sebagai mediator untuk penyelesaian kasus secara kekeluargaan dengan pihak terkait. Apapun
jalan yang ditempuh untuk menyelsaikan kasus kekerasan yang dialami korban tetap prinsipnya
adalah semata-mata demi kepentingan dan kebaikan anak.
Korban yang mengadukan kasusnya ke PKPA juga mendapatkan layanan non Litigasi yaitu
layanan konseling, layanan pemeriksaan kesehatan, dan layanan monitoring. Pada layanan
konseling, setiap anak yang mengalami trauma akan di konseling oleh staff konseling PKPA
berupa Layanan Konseling Perorangan yaitu layanan yang memungkinan
7

peserta mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan
permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling
perorangan adalah agar peserta konseling dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya.
Konseling biasanya akan dilakukan antara 1 sampai 3 kali pertemuan sesuai dengan kebutuhan
korban dan tingkat trauma yang dialami. Dalam pengamatan yang dilakukan peneliti, konseling
lebih sering dilakukan di PKPA, konselor melakukan konseling juga berdasarkan umur dari
korban, jika korban adalah remaja maka konseling dilakukan secara tatap muka hanya antara
konselor dengan korban dan menggunakan bahasa verbal, sedangkan pada korban yang masih
berusia anak-anak maka konselor melibatkan orang tua sebagai pendamping dan konselor akan
melibatkan alat bantu seperti mainan, atau benda-benda lain ang akan menarik perhatian korban.
Layanan non Litigasi lainnya yang didapatkan oleh korban adalah layanan Pemeriksaan
Kesehatan. Layanan ini bertujuan untuk mendapatkan hasil kondisi kesehatan korban pasca
mendapatkan tindakan kekerasan. Pusat Kajian dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan
Dinas Kesehatan Kota Medan untuk menyediakan layanan kesehatan dengan klinik Bestari di
kecamatan Medan Petisah untuk pemeriksaan kesehatan gratis bagi korban tindak kekerasan
dampingan PKPA. Layanan ini dimanfaatkan korban untuk memeriksakan kondisi kesehatan
mereka sebagai upaya pencegahan dini dari resiko penularan penyakit seksual, mengingat
sebagian dari korban adalah korban eksploitasi seksual yang diantaranya adalah anak yang
dilacurkan, dan anak korban trafficking. Layanan ini tidak dibatasi, setiap korban dapat
memeriksakan kondisi kesehatannya sesuai kebutuhan.
Layanan terakhir yang diperoleh oleh korban adalah layanan monitoring. Layanan ini bertujuan
untuk memantau perkembangan kasus korban dan memastikan korban untuk tidak kembali
menjadi korban tindak kekerasan. Monitoring dilakukan dengan menghubungi dan menjenguk
korban dan pihak keluarga. Proses monitoring ini merupakan pemantauan yang dilakukan secara
reguler terhadap klien guna mengetahui kegiatan positif yang telah dilakukan oleh klien setelah
kembali kepada keluarga. Monitoring ini pada umumnya wajib dilakukan lembaga terhadap klien
guna mengetahui perkembangan dari klien tersebut dan akan berhenti secara otomatis ketika
pihak lembaga yakin bahwa klien mereka sudah terbebas dari tindak kekerasan.
Berdasarkan pengakuan dari responden dan keluarganya, layanan sosial yang diberikan oleh
Pusat Kajian dan Perlinungan Anak sangat bermanfaat bagi perkembangan
8

kasus dan perkembangan anak pasca menjadi korban tindak kekerasan, terlebih saat layanan ini
dapat dinikmati oleh korban tanpa harus mengeluarkan biaya.
Pembahasan
Memberikan Pelayanan sosial kepada anak-anak korban tindak kekerasan merupakan salah satu
kewajiban Negara yang meratifikasi Konvensi Hak Anak berdasarkan Kepres Nomor 36 Tanggal
25 Agustus 1990. Salah satu materi hukumnya mewajibkan Negara yang meratifikasi KHA untuk
memberikan Hak perlindungan (proctection right), yaitu hak-hak anak dalam KHA yang
meliputi hak perlindungan dari diskriminasi, tindak kekerasan dan keterlantaran bagi anak yang
tidak mempunyai keluarga dan anak-anak pengungsi dan Hak untuk tumbuh kembang
(development right), yaitu hak-hak anak dalam KHA yang meliputi segala bentuk pendidikan
(formal dan non formal) dan hak untuk mencapai standart hidup yang layak bagi perkembangan
fisik, mental, spiritual, moral, dan sosial anak.7
Pelayanan sosial yang diberikan berupa pelayanan sosial personal, yaitu program yang
melindungi atau mengembalikan kehidupan keluarga, membantu individu mengatasi masalah
yang berasal dari luar maupun dari dalam diri, meningkatkan pekembangan dan memudahkan
akses melalui pemberian informasi, bimbingan, advokasi dan beberapa jenis bantuan konkret.

Pusat Kajian dan Perlindungan Anak telah memberikan pelayanan sosial yang baik pada anak
korban tindak kekerasan. hal ini dapat dilihat pada saat menerima layanan Litigasi yaitu layanan
penerimaan pengaduan dan layanan pendampingan hukum, responden dan keluarga memberikan
respon yang baik karena mereka dengan mudah mendapat informasi mengenai Program Layanan
Sosial dari penjelasan yang dilakukan oleh staff PKPA saat mereka mengadukan kasus pertama
kali. Dengan bekal informasi yang baik maka Korban dan keluarga dapat bersikap koperatif
dalam mengikuti tahap-tahap pelayanan. hal ini terlihat saat korban maupun keluarga mengikuti
prosedur pelayanan dengan baik, mulai dari pelaporan atau pengaduan sampai pendampingan
hukum. Misalnya dengan memberikan keterangan dan kesaksian dalam proses pengaduan kasus,
mengikuti secara aktif upaya perdamaian hingga proses peradilan berlangsung. Ini membuktikan
bahwa ada kesadaran dari diri korban maupun keluarga untuk bersama-sama dengan PKPA
dalam menempuh upaya hukum. Yang masih menjadi persoalan dalam layanan ini adalah
penanganan beberapa kasus yang cukup lama terhenti tanpa perkembangan di Kepolisian
9

akibat kerumitan kasus yang menulitkan penuntasan perkara peradilan, sehingga membuat
keluarga korban kurang puas dan merasa resah. Dengan itu keluarga korban mengharapkan
PKPA untuk lebih giat mendorong pihak kepolisian dalam upaya penuntasan kasus.
Layanan non litigasi yaitu layanan konseling, layanan pemeriksaan kesehatan, dan layanan
monitoring juga mendapatkan respon yang positif dari responden. Layanan konseling yang
diberikan memungkinkan korban untuk memiliki pilihan atau mengubah atau mengurangi
kebingungan serta mendapatkan keterangan tentang kelakuan yang dialami oleh korban yang
telah dirahasiakan. Konselor tidak bersikap menghakimi atau mengeksploitasi korban. Dalam
sesisesi konseling klien dapat mengeksplorasi berbagai aspek kehidupan dan perasaan mereka,
berbicara tentang mereka dengan bebas dan terbuka dalam suatu cara yang jarang mungkin
dengan teman atau keluarga.
Layanan pemeriksaan kesehatan juga sangat bermanfaat dirasakan oleh korban. responden
berpendapat bahwa layanan ini bisa menjadi alat pembuktian telah dilakukannya tindak
kekerasan kepada anak melalui hasil visum yang diperoleh, selain itu responden lainnya
mengaku dengan mengikuti layanan pemeriksaan kesehatan ia menjadi merasa lebih lega dan
puas karena akhirnya mengetahui kondisi kesehatan dirinya, terutama bagi anak-anak yang
dilacurkan, mereka mengikuti pemeriksaan kesehatan lebih dari 2 kali untuk memastikan bahwa
mereka terbebas dari resiko terinfeksi penyakit menular seksual.
Layanan Monitoring yang dilakukan oleh lembaga PKPA sifatnya tidak memaksa, bahkan
dengan adanya progam monitoring ini responden juga menjadi merasa lebih aman karena setelah
penanganan kasus responden menjadi merasa tetap dilindungi. Seluruh pelayanan sosial yang
diberikan PKPA sangat bermanfaat bagi korban dan keluarganya, karena sangat membantu dalam
proses-proses penanganan kasus, dan pemulihan korban. Hal ini sudah memenuhi fungsi
pelayanan sosial sebagai program yang melindungi atau mengembalikan kehidupan keluarga,
membantu individu mengatasi masalah yang berasal dari luar maupun dari dalam diri,
meningkatkan pekembangan dan memudahkan akses melalui pemberian informasi, bimbingan,
advokasi dan beberapa jenis bantuan konkret.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis data, dapat dirumuskan hasil penelitian dalam bentuk kesimpulan sebagai
berikut :
1 1. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa korban memiliki persepsi yang
baik tentang Pelayanan Sosial oleh PKPA. Hal ini terlihat ketika mengikuti tahap demi
10

1
2

tahap pelayanan sosial, baik korban maupun keluarga merasa mudah mengerti dan
memahami tentang tujuan dari tiap-tiap layanan PKPA dan dapat mengikuti prosedur
pelayanan sosial oleh PKPA.
2. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa korban dan keluarganya
memberikan sikap yang positif. Korban dan keluarganya memberikan penilaian yang baik
terhadap pelaksanaan Program Pelayanan Sosial oleh PKPA dan korban beserta keluarga
dapat menerima dan merasakan manfaat yang positif dari Pelayanan Sosial oleh PKPA
dalam menangani kasus kekerasan yang dialami.
3. Berdasarkan hasil analisis data menunjukan bahwa korban dan keluarga memberikan
partisipasi yang positif. Dilihat dari keterlibatan dan keaktifan korban dan keluarganya
dalam setiap kegiatan dalam pelayanan sosial dan mengikuti tahapan bantuan pelayanan
sosial yang diberikan PKPA dengan cukup baik.

Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan penelitian yang telah disajikan sebelumnya, penulis mengajukan
rekomendasi sebagai berikut :
1 1. Sebaiknya PKPA lebih giat mensosialisasikan layanan sosial di media cetak maupun
elektronik agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui bahwa ada lembaga yang
secara konsisten melindungi hak-hak anak. Dan bersedia mendampingi anak-anak korban
kekerasan
2 2. Sebaiknya PKPA bisa menjalin kerjasama yang lebih baik dan lebih dekat dengan
lembaga partner seperti Kepolisian, agar kasus yang terhambat atau terkendala bisa
diselesaikan dengan lebih cepat
3 3. Lembaga sebaiknya juga memberikan pendidikan informasi kepada keluarga korban
agar korban tentang bahaya kekerasan terhadap anak, agar anak dan keluarga tidak lagi
menjadi korban kekerasan
4 4. Sebaiknya lembaga tetap mempertahankan kualitas pelayanan-pelayanan agar tetap
bisa dinikmati oleh anak korban kekerasan
Daftar Pustaka
1Manik, Sulaiman Zuhdi. 1999. Kekerasan Terhadap Anak dalam Wacana dan Realita, Medan.
Pusat Kajian dan Perlindungan Anak.
2ECPAT. 2008. Memerangi Pariwisata Sex Anak, Jakarta. ECPAT Indonesia

11
3(http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/03/09/mjdxor-2013kekerasanseksual

-pada-anak -dinilai-memburuk di akses pada 24 April 2013 Pukul 15.54 wib)


4Suyanto, Bagong. 2010. Masalah Sosial Anak, Jakarta. Prenada Media Grup
5Fahrudin, Adi, Ph.D. 2012. Pengantar Kesejahteraan Sosial, Bandung. Refika Aditama
6Siagian, Matias. 2011. Metode Penelitian Sosial, Pedoman Praktis Penelitian Bidang Ilmu-ilmu
Sosial dan Kesehatan. Medan: Grasindo Monoratama.
7 Supeno, Hadi. 2010. Kriminalisasi Anak, Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Incest Sebagai Bentuk Manifestasi Kekerasan Terhadap Perempuan

19

INCEST SEBAGAI BENTUK MANIFESTASI KEKERASAN


TERHADAP PEREMPUAN
Oleh:
Dwi Hapsari Retnaningrum
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Abstract
Incest is another form of gender-based violence, more specifically a manifestation of violence
against women. Categorized as crime under the existing law, there is a strong need not only to
suppress this conduct but also to give justice to the victims. At this context, the legal policy to
suppress incest can be divided into two main themes. Firstly, is to protect the citizens so that they
will not be a victim of incest. Secondly, is to realize the right of victim of incest such as
compensation, restitutions et cetera as have been regulated by the law. In addition, this paper
recommends non-penal approach to reduce the number of incest.
Kata kunci : gender-based violence, incest
A. Pendahuluan
Membicarakan masalah kekerasan terhadap
perempuan, seakan-akan tidak ada pernah
habisnya. Hampir setiap hari kita diberi
sajian yang mengekspose kekerasan baik melalui
media massa maupun mediamedia yang
lainnya. Orang memukul, menganiaya, memperkosa
bahkan membunuh hampir merupakan
santapan wajib. Bahkan berita atau tayangan
yang memuat peristiwa kriminal selalu menjadi
headline, seakan-akan orang sudah memandang
itu suatu yang biasa terjadi.
Tindak kekerasan ini tidak hanya terjadi
di luar lingkungan rumah, bahkan di dalam
rumah yang seharusnya menjadi tempat yang
paling aman bagi setiap anggota keluarga, kenyataannya
bisa menjadi tempat yang menakutkan
terutama bagi perempuan. Bila
anggapan umum menyatakan tempat yang berbahaya
adalah di luar rumah, bagi perempuan
faktanya tampak tidak demikian. Perempuan
justru lebih sering dilukai dan mengalami
kekerasan dalam lingkup personal, baik dalam
kaitan perannya sebagai istri, anak, anggota
keluarga lain, pacar atau teman intim.
Kekerasan terhadap perempuan, bisa
terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa
saja. Kekerasan ini bisa terjadi ditengah
keramaian pasar di siang hari atau di jalan yang
sepi pada malam hari. Akan tetapi, sangat

mengherankan, bahwa banyak kekerasan yang


terjadi di rumah tangga, dan kebanyakan kekerasan
tersebut dilakukan oleh seorang yang
dekat dan dikenal baik oleh korban. Data
terakhir yang tercatat di LBH Apik Jakarta pada
tahun 2006, jenis kekerasan ini meningkat
sebesar 40 persen dari tahun sebelumnya.1
Pada tahun 2005 LBH APIK Jakarta telah
melakukan pendampingan hukum terhadap 30
perempuan korban kekerasan seksual dengan
perincian: 9 orang korban perkosaan, 13 orang
anak korban kekerasan seksual, 6 orang korban
pelecehan seksual dan 2 orang korban kasus kekerasan
seksual yang dilakukan oleh orang yang
memiliki hubungan darah (incest). Lembaga
lain yang menangani kaum perempuan yang
mengalami ketidakadilan di Semarang,2 salah
satunya adalah Legal Resource Center Keadilan
Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC KJHAM).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh lembaga ini diperoleh hasil bahwa jumlah
kekerasan terhadap perempuan semakin tahun
semakin besar jumlahnya. Korban kekerasan ini
tidak hanya terbatas pada perempuan dewasa
tetapi juga terjadi atas diri anak-anak.
Data di LRC KJHAM sampai bulan Oktober
2005 mencatat ada 559 kasus kekerasan verBuletin LBH Apik, 2004, Kekerasan Dalam Keluarga,
Jakarta: LBH Apik, hlm.12
2 Rika Saraswati, 2006, Perempuan dan Penyelesai-an
Kekerasan dalam Rumahtangga, Bandung: Citra Aditya
Bhakti, hlm. 46
Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 9 No. 1 Januari 2009
1

20
basis jender yang meng-akibatkan 1.804 perempuan
menjadi korban, 31 meninggal dan 1.773
menderita luka fisik dan trauma psikis. Kekerasan
tersebut meliputi: kasus perkosaan
yang menempati tempat tertinggi, kemudian
kekerasan dalam rumahtangga, disusul kekerasan
dalam masa pacaran, kekerasan terhadap
pekerja seks, kekerasan terhadap buruh migran,
pelecehan seksual dan setelah itu
perdagangan manusia.
Satu bentuk kekerasan (seksual) yang
menimpa perempuan/anak perempuan dalam
kehidupan rumahtangga adalah incest. Incest,
sebagai kasus domestik yaitu hubungan seksual
yang terjadi antara anggota keluarga atau
dengan seseorang yang dianggap keluarga, yang
dilakukan laki-laki atau perempuan serta
korbannya laki-laki atau perempuan merupakan
kasus yang seringkali hanya dilaporkan bila
dalam keadaan terpaksa baik oleh korban atau
keluarganya.
Tabel 1

Kasus Kekerasan Berbasis Jender Bulan November 2004-Oktober 2005


Pada kenyataannya, korban incest banyak
terjadi pada perempuan/anak perempuan, di
mana hubungan seksual ini seringkali disertai
dengan ancaman, pe-maksaan serta kekerasan.
Jadi seperti tindak pidana perkosaan. Dampak
dari kekerasan ini bisa mengakibatkan perempuan
merasa rendah diri, tidak berharga, benci
kepada laki-laki (pelaku), kecemasan/tidak
merasa aman berada di rumah serta trauma
yang berkepanjangan. Belum lagi luka fisik
berupa memar atau perdarahan.
Persoalan kekerasan terhadap perempuan
dan anak perempuan, termasuk dalam 12 isu
kritis perempuan berbasis gender dalam pembangunan
menurut Deklarasi Beijing.3 Isu lainnya
adalah perempuan dan kemiskinan, perempuan
dan pendidikan, perempuan dan ekonomi,
perempuan dan kesehatan, perempuan dan
pengambil keputusan (politik), perempuan dan
HAM, perempuan dan lingkungan hidup, perempuan
dan media massa, perempuan di
Tri Wuryaningsih, 2006, Topik Penelitian Berbasis Isu
Gender dan Kesejahteraan Perlindungan Anak: Makalah
pada Pelatihan Metode Penelitian Berspektif Gender
untuk Dosen dan Mahasiswa pada tanggal 28-29 Juli 2006
di Puslitwan Unsoed, Purwokerto: Puslitwan Unsoed,
hlm.5
3

dalam konflik bersenjata serta mekanisme


institusional untuk kemajuan perempuan. Dari
isu-isu ini tampak bahwa persoalan yang
menimpa perempuan sebagai imbas dari
diskriminasi jender dalam masyarakat, sangat
kompleks sehingga diperlukan upaya perubahan
dan perbaikan.
Hingga kini, kekerasan seksual terhadap
anak (perempuan) khususnya per-kosaan incest
terus terjadi, baik yang dilaporkan atau tidak
oleh korban, keluarga atau masyarakat. Penelitian
Pusat Kajian dan Perlindungan Anak
(PKPA) terhadap empat media cetak terbitan
Medan tahun 1999 menemukan 95 kasus
perkosaan, 17 kasus pelecehan seksual dan 16
kasus penipuan/ingkar janji terhadap anak
perempuan. Tahun 2000 terjadi 81 kasus
kekerasan seksual, 45 diantaranya perkosaan,
12 kasus pelecehan seksual, 16 kasus penipuan/
ingkar janji dan 8 kasus sodomi. Dari 81
kasus ini, 23 kasus adalah incest yang terjadi
pada anak usia 1 sampai di bawah 18 tahun.
Tahun 2001 terjadi 84 kasus perkosaan, 8 kasus
pelecehan seks, 4 ingkar janji, 3 kehamilan tak
No. Jenis Kasus Jumlah Korban Pelaku Meninggal
1 Perkosaan 188 274 307 6
2 Kekerasan dalam rumah tangga 134 184 179 7
3 Kekerasan masa pacaran 99 134 109 6
4 Kekerasan terhadap pekerja seks 87 73 tamu, aparat polisi -

5 Kekerasan terhadap buruh migran 41 73 majikan, agen, PJTKI 12


6 Pelecehan seksual 8 19 9 7 Perdagangan manusia 2 2 2 Sumber : LRC KJHAM , 2004/2005
Incest Sebagai Bentuk Manifestasi Kekerasan Terhadap Perempuan

21
diinginkan dan 4 kasus sodomi. Dari 84 kasus
tersebut, 27 kasus adalah incest 4
Di Eks Karesidenan Banyumas, yang terdiri
dari empat Kabupaten yaitu Kabupaten
Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Cilacap serta Banjarnegara, kasus incest ini
diyakini lebih banyak yang tidak tercatat secara
resmi di Kepolisian. Misalnya, dari kasus yang
sudah ditangani oleh Pengadilan Negeri Banyumas
sampai dengan tahun 2006, menunjukkan
bahwa kasus incest (berupa perkosaan)
korbannya 90 persen adalah anak perempuan.
Pelakunya keseluruhan (100 persen), adalah
laki-laki yang merupakan orang dekat korban
(ayah, paman, kakak). Hampir semua pelaku
adalah orang-orang yang tingkat ekonomi serta
pendidikannya rendah. Angka ini diyakini tidak
menunjukkan jumlah sebenarnya, karena banyak
kasus incest yang tidak dilaporkan kepada
aparat penegak hukum.
Alasan korban/keluarga tidak melapor
antara lain karena takut ancaman pelaku serta
malu apabila orang lain tahu karena menganggap
sebagai aib keluarga yang tidak boleh
dibeberkan. Sebagai korban incest, secara
psikologis dan sosial perempuan mengalami
masalah yang sangat kompleks, serta
membutuhkan perhatian dari semua pihak dan
perlindungan hukum. Upaya penanggulangan
terhadap merebaknya tindak kekerasan ini
perlu segara dilakukan agar korban tidak
semakin banyak jumlahnya.
Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas
tentang perlindungan hukum terhadap
perempuan korban incest, serta upaya penanggulangan
guna mencegah dan mengatasi
terjadinya incest pada perempuan.
B. Pembahasan
1. Perlindungan hukum terhadap perempuan
korban incest
Rumah seharusnya adalah tempat berlindung
yang aman bagi seluruh anggota keluarga.
Akan tetapi pada kenyataannya justru banyak
rumah menjadi tempat penderitaan dan penyikSulaiman Zuhdi Manik dkk, 2002, Pendampingan &
Penanganan Anak Perempuan Korban Incest, Medan:
Pusat Kajian Dan Perlindungan Anak (PKPA), hlm.2
4

saan karena terjadi tindak kekerasan. Perilaku


kekerasan merupakan bentuk tindakan kekerasan
yang sudah ada dan terjadi sepanjang
umur manusia. Sejak masa lalu, tindakan

kekerasan yang dilakukan seseorang kepada


orang lain seolah-olah bukanlah merupakan
masalah. Kejahatan kekerasan sebagai suatu
fenomena yang ada dalam masyarakat merupakan
kejahatan tradisional, yang telah ada
sejak dulu. Sekarang dengan adanya perkembangan
ilmu dan teknologi, kejahatan kekerasan
juga semakin meningkat baik dalam motif,
sifat, bentuk, intensitas dan modus operandi.
Makhluk Tuhan yang berjenis kelamin
perempuan bisa dikatakan rentan terhadap
semua bentuk kekerasan, karena posisinya yang
lemah atau sengaja dilemahkan baik secara
sosial, ekonomi, maupun politik. Merupakan
fakta yang tidak dapat dibantah, kendala
psikologis, kesalahpahaman terhadap norma
agama, tradisi atau budaya yang merekonstruksi
realitas tidak seimbang dalam perspektif
gender masih merupakan fenomena umum.
Konsep penting yang perlu dipahami dalam
rangka membahas masalah kaum perempuan
adalah membedakan antara konsep seks
(jenis kelamin) dan konsep gender.Pemahaman
dan pembedaan antara konsep seks dan gender
sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis
untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan
sosial yang menimpa perempuan. Hal ini
disebabkan karena ada kaitan yang erat antara
perbedaan gender (gender differences) dan
ketidakadilan gender (gender inequalities)
dengan stuktur ketidakadilan masyarakat
secara lebih luas.5
Gender adalah suatu sifat yang melekat
pada kaum laki-laki maupun perempuan yang
dikonstruksi secara sosial maupun kultural.
Sifat tersebut dapat saling dipertukarkan,
berubah dari waktu ke waktu, berbeda dari
tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda
dari suatu kelas ke kelas lainnya. Perbedaan
gender tidak menjadi masalah sepanjang tidak
menimbulkan ketidakadilan gender (gender
Mansour Fakih, 1997, Analisis Gender dan Transformasi
Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 87
Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 9 No. 1 Januari 2009
5

22
Dibandingkan laki-laki, bentuk dan kualitas
ketidakadilan yang dialami perempuan jauh
lebih banyak dan kompleks yaitu sub-ordinasi,
marginalisasi, stereotype, beban ganda, dan
kekerasan terhadap perempuan. Dominasi lakilaki
merupakan praktik ke-seharian yang sulit
dihapuskan, dan ini sering berakhir pada
pelanggaran terhadap hak asasi manusia anak
dan perempuan secara sistematis. Status sebagai
perempuan pada satu sisi dan anak disisi

lain, menyebabkan anak perempuan sangat


rentan menjadi mangsa kebuasan seks laki-laki.
Semua bentuk kekerasan, siapapun pelaku
dan korbannya dapat dikelompokkan dalam
penggolongan besar7
a. Kekerasan dalam area domestik/hubungan
intim-personal: berbagai bentuk kekerasan
yang pelaku dan korbannya memiliki hubungan
keluarga/hubungan kedekatan lain.
Termasuk disini penganiayaan terhadap istri,
penganiayaan terhadap pacar,bekas istri,
tunangan, anak kandung dan anak tiri,
penganiayaan terhadap orangtua, serangan
seksual atau perkosaan oleh anggota keluarga.
Tri Wuryaningsih, op.cit. hlm. 5
E Kristi Poerwandari, 2000, Kekerasan terhadap
Perempuan : Tinjauan Psikologi Feministik, Convention
Wacth, Jakarta: UI, hlm. 11
6
7

b. Kekerasan dalam area publik: berbagai bentuk


kekerasan yang terjadi di luar hubungan
keluarga atau hubungan personal lain.
c. Kekerasan yang dilakukan oleh/dalam lingkup
Negara: kekerasan secara fisik, seksual
dan/atau psikologis yang dilakukan, dibenarkan,
atau didiamkan/dibiarkan terjadi oleh
negara.
Bila melihat pada bentuk kekerasan seperti
tersebut diatas maka incest termasuk
dalam bentuk kekerasan dalam area domestik.
Tercakup dalam bagian ini, berbagai bentuk
kekerasan dan abuse seksual, termasuk incest.
Kekerasan dan abuse seksual pada masa kanak
sering tidak teridentifikasi, dan karena anak
belum dapat memahami dengan sepenuhnya
apa yang terjadi pada dirinya. Beberapa hal
yang dapat terjadi adalah: anak mengembangkan
pola adaptasi dan keyakinan-keyakinan
yang keliru sesuai dengan sosialisasi yang
diterimanya, betrayel (merasa dikhianati),
stigmatisasi, sexual traumatization (trauma
seksual).
Akibat lain yang diderita korban menurut
Andrew Karmen8 the intimidation problem
goes beyond the direct threats made by
offenders against victims another type of
Andrew Karmen, 1984, Crimen Victims: Intro-duction to
Victimology, California: Stanford Uni- versity Press
8

Tabel 2
Perbedaan seks dan gender 6
No. Karakteristik Seks Gender
1 Sumber Pembeda Tuhan Manusia (masyarakat)
2 Visi,misi Kesetaraan Kebiasaan
3 Unsur Pembeda Biologis (alat reproduksi) Kebudayaan (tingkah laku)
4 Sifat Kodrat, tertentu, tidak dapat di
pertukarkan
Harkat,martabat, dapat dipertukarkan
5 Dampak Terciptanya nilai-nilai: kesempurnaan,

kenikmatan ke-damaian,
menguntung-kan keduabelah pihak
Terciptanya norma-norma/ ketentuan
ttg pantas atau tidak
pantas
6 Keberlakuan Sepanjang masa, dimana saja,
tidak mengenal pembeda-an kelas
Dapat berubah, musiman, berbeda
antara kelas.
Incest Sebagai Bentuk Manifestasi Kekerasan Terhadap Perempuan

intimidation arises from perceptions rather


than over act. Victims may be haunted by
visions of what offenders might do, even
though no spesific threats have been made.
Pada dasarnya secara umum dapat
dikatakan bahwa akar kausa terjadinya kekerasan
terhadap wanita adalah budaya dominasi
laki-laki atau budaya patriarkhi. Dalam
stuktur dominasi ini kekerasan seringkali di
gunakan laki-laki untuk memenangkan perbedaan
pendapat, untuk menyatakan tidak puas,
dan kadangkala untuk mendemonstrasikan dominasi
semata-mata. Segala bentuk kekerasan
seringkali tanpa disadari merupakan refleksi
dari sistem patriarkhi tersebut.
Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan
yang lebih spesifik di berbagai negara
adalah incest, serangan seksual, perkosaan,
pembunuhan, penganiayaan, foot-binding di
Cina pada masa lalu, stove death dengan
cara di-bakar di Palestina, penganiayaan karena
mahar di India dan Bangladesh serta Pakistan
baik didesa maupun di kota.9
Hubungan incest yang merebak,10 menrut
psikolog Dadang Hawari, mencerminkan
masyarakat kita yang sakit. Salah seorang
korban incest (Nursyahbani dan Mumtahanah)11
yang dilakukan oleh ayah dan pamannya, ketika
menceritakan peristiwa yang dialaminya, malah
dituduh mengada-ada. Ada perbedaan perlakuan
terhadap perempuan dan laki-laki.12 Seperti
misalnya yang dikemukakan Aquarini, kamu
nggak boleh panggil suami kamu kowe tapi
suami kamu boleh panggil kamu kowe.
Semula masalah kekerasan terhadap perempuan
dilihat sebagai kejahatan terhadap
badan dan mungkin nyawa sebagai bentuk
kejahatan penganiayaan dan pembunuhan biasa.
Dalam perkembangannya kemudian nampak
Muladi, 2002, Demokratisasi, Hak Asasi Manusia, dan
Reformasi Hukum di Indonesia, Jakarta : The Habibie
Center, hlm.62-63
10 Abdul Wahid dan Muhammad Irfan,2001, Perlindungan
terhadap Korban Kekerasan Seksual, Bandung: Refika
Aditama, hlm. 32
11 Nursyahbani Katjasungkana dan Mumtahanah, 2002,
Kasus-kasus Hukum Kekerasan Terhadap Perempuan,
9

23

Yogyakarta: Galang Printika, hlm. 212


12 Aquarini Ptriyatna Prabasmoro, 2006, Kajian Budaya
Feminis, Yogyakarta: Jalasutra, , hlm.27

bahwa kekerasan ini tidak hanya merupakan


persoalan yuridis semata, tetapi di belakangnya
ada suatu spirit yang besar yang berkaitan
dengan HAM.
Menurut Muladi13 masalah kekerasan terhadap
perempuan saat ini tidak hanya merupakan
masalah individual atau masalah nasional,
tetapi sudah merupakan masalah global. Dalam
hal-hal tertentu bahkan dapat dikatakan sebagai
masalah transnasional.
Banyak isilah-istilah yang digunakan untuk
melukiskan perhatian terhadap problem ini,
seperti violence against woman, gender-based
violence, gender violence, female-focused
violence, domestic violence, dan sebagainya.
Disebut sebagai masalah global karena terkait
di sini isu global tentang hak-hak asasi manusia
(HAM), yang per definisi diartikan sebagai hakhak
yang melekat (inherent) secara alamiah
sejak manusia dilahirkan dan tanpa hak itu
manusia tidak dapat hidup sebagai manusia
secara wajar. Sebab kekerasan apabila dilihat
dari teori spiral kekerasan14 dapat dijelaskan
dari bekerjanya tiga bentuk kekerasan yaitu
bersifat personal, institusional dan struttural
yaitu ketidak adilan,kekerasan pemberontakan
sipil dan represi Negara. Kekerasan,15 dilihat
dari jenisnya dapat diklasifikasikan kedalam
empat jenis yaitu: kekerasan langsung (direct
violence), kekerasan tidak langsung (indirect
violence), kekerasan represif (represif violence)
dan kekerasan alienatif (alienating violence).
Hak-hak tersebut meliputi hak-hak sipil
dan politik, hak-hak sosial, ekonomi dan
budaya serta hak untuk berkembang.
Kaitannya dengan HAM, nampak dari perbagai
pernyataan antara lain bahwa kekerasan
terhadap perempuan merupakan rintangan
(barrier) terhadap pembangunan. Sebab kekerasan
ini dapat menimbulkan akibat kumulatif
yang tidak sederhana, seperti dapat mengurangi
kepercayaan diri perempuan, menghambat
kemampuan perempuan untuk berparMuladi, 2002, loc.id, hlm. 60
Dom Helder Camara dalam Lambang Trijono, 2005, Spiral
Kekerasan, Yogyakarta : CV.Langit Aksara, hlm. x
15 Jamil Salmi dalam Ridwan, 2006, Kekerasan Berbasis
Gender, Yogyakarta: Fajar Pustaka, hlm. 58-61
Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 9 No. 1 Januari 2009
13
14

24
tisipasi penuh dalam kegiatan sosial, menganggu
kesehatan, mengurangi otonomi perempuan
baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan

budaya.
Pada 1993, Sidang Umum PBB mengadopsi
deklarasi yang menentang kekerasan terhadap
perempuan, yang dirumuskan pada tahun 1992
oleh Komisi Status Perempuan PBB. Pada Pasal
1 dirumuskan bahwa kekerasan terhadap perempuan
mencakup: setiap perbuatan kekerasan
atas dasar perbedaan kelamin yang mengakibatkan
atau dapat mengakibatkan kerugian
atau penderitaan terhadap perempuan baik
fisik, seksual, psikis, termasuk ancaman perbuatan
tersebut; dan paksaan atau perampasan
kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik
yang terjadi dalam kehidupan yang bersifat
publik maupun privat. Ketentuan ini kemudian
diadopsi ke dalam Pasal 1 UU No 23 Tahun 2004
tentang Penghapusan KDRT. Kekerasan rumah
tangga menurut Undang-undang No 23 Tahun
2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumahtangga, adalah setiap perbuatan terhadap
seseorang terutama perempuan yang
berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan
secara fisik, seksual, psikologis, dan atau
penelantaran rumahtangga termasuk ancaman
untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau
perampasan kemerdekaan secara melawan hukum
dalam lingkup rumahtangga (Pasal 1 ayat
(1)).
Lingkup rumahtangga dalam Undang-undang
ini meliputi (Pasal 2 ayat (1)):
a. Suami, istri, dan anak (termasuk anak angkat
dan anak tiri)
b. Orang-orang yang mempunyai hubungan
keluarga sebagaimana dimaksud dalam huruf
a karena hu-bungan darah, perkawinan,
persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang
menetap dalam rumahtangga (mertua,
menantu, ipar, dan besan); dan/ atau
c. Orang yang bekerja membantu rumah
tangga dan menetap dalam rumah tangga
tersebut (pekerja rumah tangga).
Mengapa korban perlu mendapatkan perlindungan
hukum? Ada beberapa alasan yang
mendorong perlunya perlindungan hukum yang
diberikan kepada korban. Menurut Bambang
Dwi Kuncoro, yang dikutip dari ceramah J.E.
Sahetapy dan Muladi, ada beberapa alasan,
yaitu sebagai berikut :
a. Dengan terjadinya tindak pidana ter-hadap
dirinya, korban akan kehilang-an rasa kepercayaan
terhadap kehidupan sosial sehingga
dapat menghancurkan sistem kepercayaan
yang ada dalam kehidupan sosial.
b. Adanya argumen kontrak sosial (social contract
argumen) yang berarti negara memegang

monopoli terhadap seluruh reaksi sosial


terhadap kejahatan dan melarang tindakantindakan
yang bersifat pribadi. Negara ikut
memikul tanggung jawab terhadap kerugian
yang diderita korban.
c. Adanya argumen solidaritas sosial (social
solidarity argumen) yang berarti bahwa negara
menjaga dan memberikan prasarana
dan sarana kepada warga negaranya di
dalam hal memenuhi kebutuhannya.
Perempuan/anak perempuan yang menjadi
korban incest perlu perlindungan hukum
yang memadai. Menurut Barda Nawawi Arief,16
pengertian perlindung-an korban dapat dilihat
dari dua makna, yaitu: perlindungan hukum untuk
tidak menjadi korban tindak pidana (berarti
perlindungan Hak Asasi Manusia atau kepentingan
hukum seseorang) dan perlindungan
untuk memperoleh jaminan/santunan hukum
atas penderitaan/kerugian orang yang telah
menjadi korban tindak pidana (jadi identik
dengan penyantunan korban). Bentuk santunan
itu dapat berupa pemulihan nama baik
(rehabilitasi), pemulihan keseimbangan bathin
(antara lain pemaafan), pemberian ganti rugi
(restitusi, kompensasi, jaminan/santunan kesejahteraan
sosial) dan sebagainya.
Jadi perlindungan hukum17 bisa secara
abstrakto (tidak langsung) sebagai upaya prevntif
guna mencegah menjadi korban dan
perlindungan hukum secara konkrito (secara
langsung) sebagai upaya represif, dengan menBarda Nawawi Arief, dalam Lilik Mulyadi, 2004, Kapita
Selekta Hukum Pidana Kriminologi & Viktimologi,
Jakarta: Djembatan, hlm. 125-126
17 Ibid
Incest Sebagai Bentuk Manifestasi Kekerasan Terhadap Perempuan
16

25
jatuhkan pidana bagi pelaku. Upaya preventif
dilakukan antara lain dengan mengeluarkan
peraturan perundang-undangan dan upaya represif
dengan menindak pelaku/menjatuhkan
sanksi pidana.
Kelalaian negara dalam memberi perlindungan
hukum, menyelesaikan atau menangani
berbagai bentuk kekerasan dan kerusuhan
telah menanbah deretan viktimisasi oleh Negara
terhadap warganya. Adanya fear of crime
atau fear of violence secara sosial juga mencerminkan
adanya pembiaran dan ketidakseriusan
negara dalam melindungi warganya
dari berbagai tindak viktimisasi.18
Masalah perlindungan korban pada hakikatnya
sama dengan perlindungan hak asasi
manusia. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang
yang sama. Angka-angka yang tercatat di lembagalembaga formal (Polisi, Kejaksaan, Pengadilan),

diyakini lebih sedikit jumlahnya dari


pada kejadian senyatanya dimasyarakat. Korban
banyak yang tidak tahu/merasa menjadi
korban atau mereka tidak tahu akan mengadu/
melapor kemana. Oleh karena itu perlindungan
kepada korban incest yang akhir-akhir semakin
menunjukkan peningkatan baik secara kualitas
maupun secara kuantitas, perlu segera dilaksanakan.
2. Upaya penanggulangan guna mengatasi
dan mencegah terjadinya incest pada
perempuan
Baru-baru ini pemerintah me-ngesahkan
UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan
Saksi dan Korban. Definisi korban menurut
Undang-undang No.13 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saksi dan Korban adalah seseorang
yang mengalami penderitaan fisik, mental,
dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan
oleh suatu tindak pidana.
Pengertian korban19 adalah mereka yang
menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai
akibat tindakan orang lain yang mencari
Romany Sihite, 2007, Perempuan, Kesetaraan, &
Keadilan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm. 59
19 Arif Gosita, 1993, Masalah Korban Kejahatan, Jakarta:
Akademika Pressindo, hlm. 93
18

pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang


lain yang bertentangan dengan kepentingan dan
hak asasi yang menderita. Mereka disini dapat
berarti: individu, kelompok baik swasta mapun
pemerintah. Sedangkan menurut The Declaration
of Basic Principles of Justice for Victim
of Crime and Abuse of Power, Perserikatan
Bangsa-Bangsa (1985), yang dimaksud dengan
korban (victim) adalah orang-orang yang secara
individual atau kolektif, telah mengalami
penderitaan, meliputi penderitaan fisik atau
mental, penderitaan emosi, kerugian ekonomis
atau pengurangan substansial hak-hak asasi,
melalui pembiaran-pembiaran (omission) yang
melanggar hukum pidana yang berlaku di
negara-negara anggota, yang meliputi juga
peraturan hukum yang melarang penyalahgunaan
kekuasaan. Istilah korban (victim) di
sini meliputi juga keluarga langsung korban,
orang-orang yang menderita akibat melakukan
intervensi untuk membantu korban yang dalam
kesulitan atau mencegah viktimisasi.
Dalam Pasal 7 UU No.13 Tahun 2006,
korban berhak untuk atas kompensasi dan
restitusi atau ganti kerugian yang menjadi
tanggung jawab pelaku tindak pidana. Ini
merupakan angin segar walaupun lembaga ini
baru akan terbentuk tahun depan, tetapi paling
tidak sudah ada perlindungan hukumnya bagi
korban.

a. Ketentuan pidana yang secara khusus menyebut


perempuan sebagai korban hanyalah
yang berkenaan dengan: Perkosaan
(Pasal 285)
b. Perdagangan perempuan (Pasal 297)
c. Melarikan perempuan (Pasal 332)
Kebijakan penanggulangan kejahat-an
atau yang biasa dikenal dengan istilah politik
kriminil, dapat meliputi ruang lingkup yang
cukup luas. G. Peter Hoefnagels menggambarkan
ruang lingkup criminal policy dengan
skema sebagaimana nampak pada bagan di
bawah ini.20
Barda Nawawi Arief, 2001, Masalah Penegkkan Hukum
dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, Bandung:
Citra Aditya Bhakti, hlm. 46
Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 9 No. 1 Januari 2009
20

26
Dari skema di atas terlihat bahwa upaya
penanggulangan kejahatan dapat ditempuh
dengan:
1. Penetapan hukum pidana (criminal law
application)
2. Pencegahan tanpa pidana (prevention
without punishment) dan
3. Mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai
kejahatan dan pemidanaan lewat
media massa (influencing views of society
on crime and punishment through mass
media).
Dengan demikian upaya penanggulangan
kejahatan secara garis besar dapat
dibagi dua yaitu jalur penal (hukum pidana)
dan lewat jalur non penal (bukan/diluar hukum
pidana). Dalam pembagian Hoefnagels di atas,
upaya-upaya yang disebut dalam butir (b), dan
(c) dapat dimasukkan dalam kelompok upaya
nonpenal.
Secara kasar dapatlah dibedakan,
bahwa upaya penanggulangan kejahatan lewat
jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat
repressive (penindasan/pem-berantasan/penumpasan)
sesudah kejahatan terjadi, sedangkan
jalur non penal lebih menitikberatkan pada
sifat preventive (pencegahan/penangkalan/
pengendalian) sebelum kejahatan terjadi.
Dikatakan sebagai perbedaan kasar, karena
tindakan represif pada hakikatnya juga dapat
dilihat sebagai preventif dalam arti luas. Salah
satu faktor/unsur dalam penegakan hukum
adalah aparat penegak hukum.
Ragaan
Ruang Lingkung Criminal Policy menurut G. Peter Hoefnagels

- mental
health

Criminal Policy
Influencing view of
society on crime and
punishment through
mass media
Crim law application
practical criminonology
Work
Welfare
Administrative
Law
- adm. of crim. justice
in narrow sense :
- Crim Legislation
- crim Jurisprudence
Planning health
- crime. Process in wide
sense
- sentencing
- forensic psychiartry
and psychology
- forensic social work
- crime. Sentence
- execution and policy
statistic
Preventin without
punishment
- soc. police
Community mental
- nat. mental health
soc
child
and civil
Incest Sebagai Bentuk Manifestasi Kekerasan Terhadap Perempuan

Oleh karena itu sangat diperlukan empati


dari mereka untuk menyelesaikan kasus-kasus
yang berkenaan dengan kekerasan terhadap
perempuan, yang mempunyai ciri khas yaitu
berbasis gender. Tanpa itu, sangat sulit kiranya
bagi korban/perempuan untuk mengapai
keadilan dan akan terus menjadi korban
kekerasan tanpa tahu kapan akan berakhir.
C. Penutup
Berdasarkan uraian tersebut di atas,
maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut
ini:
1. Perlindungan hukum terhadap perempuan
korban incest
Pengertian perlindungan korban dapat
dilihat dari dua makna, yaitu: perlindungan
hukum untuk tidak menjadi korban tindak
pidana (berarti perlindungan Hak Asasi
Manusia atau kepentingan hukum seseorang)
dan perlindungan untuk memperoleh jaminan/
santunan hukum atas penderitaan/

27

kerugian orang yang telah menjadi korban


tindak pidana (jadi identik dengan penyantunan
korban). Bentuk santunan itu dapat
berupa pemulihan nama baik (rehabilitasi),
pemulihan keseimbangan bathin (antara lain
pemaafan), pemberian ganti rugi (restitusi,
kompensasi, jaminan/santunan kesejahteraan
sosial) dan sebagainya
2. Upaya penanggulangan guna mengatasi dan
mencegah perempuan menjadi korban incest
Upaya penanggulangan dapat dibagi dua
yaitu jalur penal (hukum pidana) dan lewat
jalur non penal. Penanggulangan kejahatan
lewat jalur penal lebih menitikberatkan
pada sifat repressive (penindasan/pemberantasan/
penumpasan) sesudah kejahatan
terjadi, sedangkan jalur nonpenal lebih menitikberatkan
pada sifat preventive (pencegahan/
penangkalan/pengendalian) sebelum
kejahatan terjadi.
Daftar Pustaka
Arief, Barda Nawawi. 2001. Masalah Penegakan
Hukum dan Kebijakan Penanggulangan
Kejahatan, Bandung: Citra Aditya Bakti;
Camara, Dom Helder dalam Lambang Trijono.
2005. Spiral Kekerasan. Yogyakarta: CV.
Langit Aksara;
Karmen, Andrew. 1984, Crimen Victims:
Introduction to Victimology. California:
Stanford University Press;
Katjasungkana, Nursyahbani dan Mumtahanah,
2002. Kasus-kasus Kekerasan terhadap
Perempuan. Jakarta: LBH APIK;
Mansour, Fakih. 1997. Analisis Gender dan
Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar;
Muladi. 2002. Demokratisasi, Hak Asasi
Manusia, dan Reformasi Hukum di
Indonesia. Jakarta: The Habibie Center;
Manik, Sulaiman Zuhdi dkk. 2002. Korban
Incest. Sumatera Utara: Pusat Kajian &
Perlindungan Anak (PKPA)
Poerwandari, E Kristi. 2000. Kekerasan
terhadap Perempuan: Tinjauan Psikologi
Feministik, Convention Wacth. Jakarta:
UI;
Prabasmoro, Aquarini Ptriyatna. 2006. Kajian
Budaya Feminis. Yogyakarta: Jalasutra;
Romany, Sihite. 2007. Perempuan, Kesetaraan,
& Keadilan. Jakarta: Raja Grafindo
Persada;
Salmi, Jamil dalam Ridwan. 2006. Kekerasan
Berbasis Gender. Yogyakarta: Fajar
Pustaka;
Saraswati, Rika. 2006. Perempuan dan Penyelesaian

Kekerasan dalam Rumahtangga.


Bandung: Citra Aditya Bakti;
Wahid, Abdul dan Muhammad Irfan. 2001. Perlindungan
terhadap Kor-ban Kekerasan
Seksual. Bandung: Refika Aditama
Wuryaningsih, Tri. 2006. Topik Penelitian
Berbasis Isu Gender dan Kesejahteraan
Perlindungan Anak Makalah pada
Pelatihan Metode Penelitian Berspektif
Gender untuk Dosen dan Mahasiswa Sosial
pada tanggal 28-29 Juli 2006 di Puslitwan
Unsoed, Purwokerto.
Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 9 No. 1 Januari 2009

28
Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP);
The Beijing Rules
The Declaration of Basic Principles of Justice
for Victim of Crime and Abuse of Power
1985;
Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan KDRT;
Undang-undang No. 23 Tahun 2006 tentang
Perlindungan Saksi Korban.
Incest Sebagai Bentuk Manifestasi Kekerasan Terhadap Perempuan

ISSN 1412 - 8683

29

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP


PERLINDUNGAN ANAK DI INDONESIA
(Kajian Normatif Atas Bekerjanya Hukum Dalam Masyarakat)
Oleh
Ratna Artha Windari
Staf Pengajar pada Jurusan PPKn FIS Undiksha
ABSTRAK
Anak sebagai manusia seutuhnya memiliki harkat dan martabat serta hak untuk memperoleh
perlindungan dari orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negaranya terhadap
kekerasan dan diskriminasi. Hal inilah yang dijadikan sebagai landasan pemikiran dalam
melahirkan Undang-Undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, setelah sebelumnya
Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990 berdasarkan Keppres No.36 tahun
1990. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui: faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan
hukum, serta peranannya dalam menciptakan penegakan hukum terhadap perlindungan anak di
Indonesia, dan penerapan ketentuan hukum tentang perlindungan anak di Indonesia bila
dikorelasikan dengan bekerjanya hukum di masyarakat. Berlakunya Undang-Undang
Perlindungan Anak selama ini ternyata telah memberikan suatu efek sosial dalam pelaksanaan
hukum di masyarakat. Bila kita cermati perkembangan sosial masyarakat dewasa ini, maka
banyak pendapat yang menyatakan bahwa penegakan hukum terhadap perlindungan anak
tersebut masih belum maksimal, hal ini tercermin dari tingginya tingkat kekerasan pada anak,
meningkatnya jumlah perdagangan anak dan lain sebagainya. Pada dasarnya penegakan hukum
terhadap perlindungan anak akan terwujud dan ketentuannya akan berlaku efektif apabila
substansi hukumnya sesuai dengan budaya masyarakat, mentalitas dan pola perilaku penegak
hukum yang baik, serta adanya kesadaran dan kepatuhan hukum dalam masyarakat tersebut.
Kata-kata Kunci: penegakan hukum, perlindungan anak.
ABSTRACT
Children as human being have owning standing and prestige and also rights to get the protection
from parent, family, society, governmental and its state to discrimination. Basicly, UU No.23
Tahun 2002 about Child Protection made after Indonesia ratify convention the Children Right in
the year 1990 pursuant to Keppres No.36 Tahun 1990. The purposes of this study were to know:
The
ISSN 1412 - 8683

influencing factors of law enforcement, and also its role in creating the law inforcement for child
protection in Indonesia, and rule applying for child protection in Indonesia. Code of Child
Protection in the reality have given a social effect in law enforcement. If we look from society
growth of these days, hence a lot of opinion expressing that law to the child protection still not
yet effective, this could be happen because theres a lot of hardness at child, the increasing of
child commerce, trafficing and others. Basically the law inforcement of child protection law will
be existed and its rule will be effective if its legal substance are suitable with society culture,
mentality and behavioral of good law enforcer, and also the existence of awareness and
compliance punish in the society.
Key words: law enforcement, child protection.
1. PENDAHULUAN
Eksploitasi anak, perdagangan anak, kekerasan pada anak dan berbagai tindakan pelanggaran
hak asasi terhadap anak-anak Indonesia selalu saja mewarnai potret kehidupan bangsa kita.
Hampir di setiap ruas jalan kita jumpai anak-anak jalanan yang berusaha memperoleh uang
dengan cara apapun seperti mengamen, mengemis, menjadi joki jalanan, menjual koran,
pedagang asongan dan bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta anak-anak banyak melakukan
kriminalitas. Sayangnya isu mengenai perlindungan anak belum sepenuhnya menjadi perhatian
utama bagi para pemegang kekuasaan negara kita. Persoalan-persoalan politik, hukum dan
ekonomi dipandang lebih penting untuk diperhatikan dibanding persoalan pendidikan anak dan
perlindungan anak. Padahal masa depan anak Indonesia adalah masa depan bagi bangsa
Indonesia sendiri.
Fenomena seperti tersebut diatas tentunya muncul karena kurangnya penegakan hukum terhadap
perlindungan anak di Indonesia. Meskipun pemerintah telah memfasilitasi sebuah badan
independent seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta dituangkannya ketentuan
mengenai perlindungan anak dalam Undang-Undang No.23 Tahun 2002, namun perlakuan
diskriminasi dan kekerasan terhadap anak selalu saja mewarnai kehidupan bangsa ini.
Berbicara mengenai penegakan hukum (law enforcement) tentunya tidak terlepas dari kondisi
masyarakat dalam negara tersebut, karena masalah
ISSN 1412 - 8683

penegakan hukum merupakan hal yang bersifat universal, dimana setiap negara akan
mengalaminya dan dengan caranya masing-masing akan berusaha untuk mewujudkan
tercapainya penegakan hukum di dalam masyarakat.
Penegakan hukum dalam suatu negara juga memiliki kaitan erat terhadap sistem hukum negara
tersebut. Menurut Lawrence Meir Friedman (Sirtha, 2008), sistem hukum terdiri atas: Struktur
Hukum (termasuk didalamnya struktur institusi penegak hukum), Substansi Hukum (aturan dan
norma baik living law maupun aturan perundang-undangan), dan Budaya Hukum (sikap manusia
terhadap hukum, nilai, pemikiran, serta harapan). Ketiga hal tersebut tentunya harus terpenuhi
sehingga nantinya hukum akan mampu bekerja secara efektif dalam masyarakat.
Secara konsepsional inti dan arti dari penegakan hukum terletak pada penyerasian hubungan
nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah yang mantap untuk menciptakan, memelihara
dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup (Soerjono, 2002), demikian pula dalam
menegakkan hak-hak anak melalui jaminan terhadap perlindungan anak itu sendiri sangat
diperlukan adanya keserasian dalam substansi perundang-undangannya dengan para penegak
hukumnya dan juga kesadaran masyarakat dalam menerapkan aturan tersebut.
Berdasarkan analisis konseptual diatas maka terdapat beberapa hal yang menjadi fokus
permasalahan dalam menciptakan suatu penegakan hukum terhadap perlindungan anak
khususnya di Indonesia sebagai berikut: faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penegakan
hukum, serta peranannya dalam menciptakan penegakan hukum terhadap perlindungan anak di
Indonesia?, bagaimanakah penerapan ketentuan hukum tentang perlindungan anak di Indonesia
bila dikorelasikan dengan bekerjanya hukum di masyarakat?
2. PEMBAHASAN
ISSN 1412 - 8683

2.1 Faktor-Faktor Penegakan Hukum dan Peranannya Dalam Menciptakan Penegakan


Hukum Terhadap Perlindungan Anak di Indonesia
Demokrasi tidak akan ditegakkan dan malah akan menjurus pada penyelewengan tak
terkendali apabila tidak dikawal secara tepat oleh hukum, demikian pula sebaliknya
hukum tidak akan dapat ditegakkan dengan benar dan baik manakala sistem politiknya
tidak mencerminkan demokratisasi. Tataran sistem politik yang demokratis pada dasarnya
cenderung akan melahirkan hukum yang berkarakter responsif dan otonom, sedangkan
sistem politik yang otoriter cenderung akan melahirkan hukum yang berwatak konservatif
dan ortodok.
Upaya penegakan hukum akan lebih efektif apabila negara tersebut menganut sistem
demokrasi karena nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat memberikan kontribusi
yang positif bagi penegakan hukum. Sebaliknya, efektifitas penegakan hukum akan
terhambat bilamana suatu negara menganut sistem politik yang otoriter.
Dalam Sosiologi Hukum terdapat suatu kajian terkait penerapan dan berlakunya hukum
dalam masyarakat, salah satunya adalah bisa kita lihat dalam model bekerjanya sistem
hukum menurut R.Siedman (Satjipto, 2010), dimana beliau membagi wilayah bekerjanya
sistem hukum ke dalam tiga ruang lingkup yaitu dalam Lembaga pembuat peraturan,
dalam Lembaga penerap peraturan dan yang paling penting disini adalah dalam lingkup
pemegang peran/ masyarakat. Ketiga komponen diatas bekerja sesuai kompetensinya
masing-masing dalam pembentukan dan penerapan hukum yang terdapat di suatu negara,
dan adanya keterkaitan antara yang satu dengan yang lain karena setiap komponen
haruslah saling mendukung untuk tercipta sistem hukum yang bekerja secara efektif di
masyarakat. Ketiga komponen tersebut diatas, masing-masing tentunya mendapat
pengaruh baik yang bersifat positif maupun negatif dari faktor-faktor sosial seperti
ekonomi, sosial, budaya, politik dan juga faktor-faktor yang mempengaruhi
ISSN 1412 - 8683

penegakan hukum seperti substansi hukumnya, aparat penegaknya, dan lain sebagainya.
Untuk lebih mempermudah pemahaman atas uraian tersebut maka dapat dilihat pada
bagan Model Bekerjanya Sistem Hukum (R.Siedman) dibawah ini.
Faktor Sosial lain
Lembaga Pembuat Peraturan
Lembaga Penerap Peraturan
Pemegang Peran
Faktor Sosial lain
Faktor Sosial lain
Selanjutnya Soerjono Soekanto (2002) menyebutkan bahwa, masalah pokok dari
penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhinya
sehingga akan memunculkan berbagai dampak baik yang bersifat positif ataupun negatif.
Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut.
1 1. faktor hukumnya sendiri;
2 2. faktor penegak hukum;
3 3. faktor sarana atau fasilitas;
4 4. faktor masyarakat;
5 5. faktor kebudayaan.
Faktor-faktor tersebut diatas akan saling berhubungan secara erat antara yang satu
dengan yang lain karena merupakan esensi dari penegakan
ISSN 1412 - 8683

hukum serta juga merupakan tolak ukur dari efektifitas penegakan hukum di Indonesia.
Pengaruh berbagai faktor penegakan hukum tersebut diatas dalam penerapan hukum
terkait perlindungan anak di Indonesia dapat kita kaji sebagaimana berikut ini.
1. Faktor hukum atau substansi
Dalam upaya penegakan hukum diperlukan adanya keserasian antara berbagai peraturan
perundang-undangan yang berbeda derajatnya. Ketidakcocokan itu bisa terjadi misalnya
antara peraturan yang tertulis dengan yang tidak tertulis, antara undang-undang yang
derajatnya lebih tinggi dengan peraturan yang lebih rendah, antara undang-undang yang
bersifat khusus dengan yang bersifat umum, dan antara undang-undang yang berlaku
belakangan dengan yang berlaku terdahulu. Semuanya ini dapat mempengaruhi masalah
penegakan hukum karena tujuan dibentuknya suatu peraturan adalah untuk memberikan
kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan. Untuk itu maka demi menghindari agar
jangan sampai terjadi suatu peraturan tidak berlaku secara efektif di masyarakat maka
perlu diperhatikan asas dan tujuan dari undang-undang itu sendiri.
Terkait perlindungan anak di Indonesia, kita telah memiliki beberapa terobosan seperti
meratifikasi konvensi hak anak yang dideklarasikan pada tanggal 20 November 1989
melalui Sidang Majelis Umum PBB (Suyono, 1994), Undang-Undang Perlindungan Anak
No.23 Tahun 2002 dan dibentuknya suatu badan independen yaitu Komisi Perlindungan
Anak. Dari segi substansi atau perundang-undangannya memang ada beberapa polemik
terutama mengenai kebebasan anak dalam memilih agama sesuai bunyi pasal 86 UU
Perlindungan Anak dengan pasal 28 UUD 1945 yang pernah diajukan ke Mahkamah
Konstitusi untuk di judicial review, namun berdasarkan Putusan MK No.018/ PUU-III/
2005 Mahkamah Konstitusi sebagaimana dipublikasikan dalam Jurnal Konstitusi (2006),
menyatakan permohonan uji materiil pasal 86 tersebut tidak dapat diterima. Bila kita
ISSN 1412 - 8683

cermati baik dari segi yuridis maupun sosiologis memang tidak ada pertentangan dari
faktor substansi hukumnya baik terhadap perundang-undangan diatasnya maupun
ketentuan terkait perlindungan anak yang telah ada sebelumnya.
2. Faktor penegak hukum atau struktur
Sistem penegakan hukum sanagt dipengaruhi pula oleh para penegak hukumnya yang
menurut undang-undang kita kenal sebagai aparat penegak hukum adalah Polisi, Jaksa,
Hakim. Selain ketiga aparatur tersebut secara informal seorang Pengacara juga dapat
dipandang sebagai aparat penegak hukum karena tugas-tugasnya mendampingi ataupun
menjadi kuasa dari seseorang dalam rangka memperoleh pelayanan hukum.
Secara sosiologis setiap penegak hukum akan memiliki kedudukan dan peranan didalam
masyarakat dan kedudukan sosial tersebut merupakan posisi tertentu didalam struktur
kemasyarakatan yang ada. Dengan kedudukannya tersebut setiap aparat penegak hukum
dituntut memiliki sikap dan perilaku yang tidak tercela. Jika mental para penegak hukum
tidak baik dan tidak berorientasi pada kebenaran substansial serta tidak berpihak pada
keadilan masyarakat, maka kepercayaan masyarakat terhadapnya akan hilang.
Salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam penegakan hukum terhadap
perlindungan anak adalah faktor penegak hukumnya sendiri. Secara ideal bangsa
Indonesia telah memiliki beberapa ketentuan pokok terkait peranan penegak hukum
dalam menjaga stabilitas dan keamanan masyarakat seperti Undang-Undang Kepolisian
Negara, Undang-Undang Pokok Kejaksaan dan juga tentang kekuasaan Kehakiman.
Sayangnya sebagian besar kasus yang diangkat terkait kekerasan terhadap anak hanyalah
kasus-kasus yang sebelumnya telah diekspos besar-besaran oleh media cetak dan
elektronik, dimana pengaruh interest groups dan juga public opinion sangat kuat
disini. Realitas yang ada di negeri kita ini sebenarnya masih ribuan bahkan jutaan kasus
ISSN 1412 - 8683

menyangkut kekerasan dan diskriminasi terhadap anak yang sama sekali tak tersentuh
oleh hukum. Untuk itu sangat diperlukan adanya peran aktif tidak hanya dari masyarakat
tapi juga yang utama adalah perhatian ekstra dari para aparat penegak hukumnya,
sehingga akan tercipta kondisi aman khususnya bagi anak-anak penerus bangsa ini.
3. Faktor sarana atau fasilitas
Dalam kerangka pelaksanaan hukum, sarana maupun fasilitasnya haruslah memadai
sebab sering kali hukum sulit ditegakkan karena terbentur pada faktor fasilitas yang tidak
memadai atau bahkan sama sekali tidak ada. Dengan kurangnya fasilitas mapun sarana
pendukung maka penegakan hukum akan menjadi terhambat dan tentunya para aparat
penegak hukum tidak dapat memaksimalkan perannya secara aktual. Sarana atau fasilitas
yang cukup ampuh di dalam penegakan hukum bisa dalam bentuk kepastian dalam
penanganan perkara maupun kecepatan memproses perkara tersebut, karena dampaknya
disini akan lebih nyata apabila dibanding dengan peningkatan sanksi negatif belaka.
Apabila tingkat kepastian dan kecepatan penanganan perkara ditingkatkan, maka sanksisanksi negatif akan mempunyai efek menakutkan sehingga akan dapat mencegah
peningkatan kejahatan maupun residivisme.
Untuk sarana dan fasilitas terkait kehidupan sosial, sayangnya pemerintah kita cenderung
mengabaikannya. Bila saja pemerintah memberikan fasilitas yang cukup memadai bagi
anak-anak jalanan, anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi dan keterbelakangan
mental tentunya akan meminimalisir angka diskriminasi anak dan kriminalitas yang
dilakukan oleh anak-anak tersebut. Pembangunan sekolah bebas biaya bagi anak-anak
tidak mampu, pembangunan rumah penampungan dan perlindungan bagi anak-anak
terlantar serta anak jalanan, dan juga pemberian fasilitas kesehatan yang memadai seolah
hanya menjadi utophia semata, karena realisasi selama ini jauh dari angan-angan tersebut
diatas.
ISSN 1412 - 8683

4. Faktor masyarakat dan lingkungan.


Masyarakat dan lingkungan merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap
penegakan hukum di Indonesia karena berkaitan erat dengan kesadaran masyarakat
mengenai hak dan kewajibannya di depan hukum (Abdurrahman, 1980). Kesadaran
hukum masyarakat adalah merupakan keseluruhan yang mencakup pengetahuan tentang
hukum, penghayatan fungsi hukum dan ketaatan pada hukum. Sebaik apapun suatu
peraturan maupun aparat pelaksananya bila kesadaran masyarakat akan hukum rendah
maka penegakan hukum akan terhambat.
Dalam kasus kekerasan pada anak tak jarang kita jumpai bahwa aktor utama yang cukup
berperan disini adalah masyarakat dan lingkungan. Kurangnya perhatian masyarakat
akan kekerasan dan diskriminasi terhadap anak-anak akan menyuburkan praktek
tersebut. Hal ini terbukti dari tingginya angka kekerasan yang dilakukan oleh orang tua
terhadap anaknya atau oleh lingkungan tempat tinggal sang anak terutama bagi anakanak yang memiliki keterbatasan baik dari segi ekonomi maupun mental.
5. Faktor kebudayaan atau kultur
Legal Culture atau budaya hukum pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari
hukum yang berlaku, dan nilai-nilai mana merupakan konsepsi-konsepsi abstrak tentang
apa yang dianggap baik sehingga patut untuk dipatuhi dan apa yang dianggap buruk
sehingga harus dihindari. Dalam penegakan hukum nilai-nilai kultur tersebut diatas dapat
dijabarkan dalam kaidah-kaidah dan pandangan yang mantap dalam sikap dan tindakan
sebagai rangkaian nilai akhir untuk menciptakan suatu pembaharuan sosial (Law as a tool
of social engineering), memelihara dan mempertahankan kontrol sosial guna tercipta
kedamaian dalam pergaulan hidup masyarakat.
ISSN 1412 - 8683

Budaya hukum yang baik akan menciptakan suatu tatanan masyarakat yang baik pula.
Seringkali paradigma seperti ini tidak dipahami dan diresapi oleh masyarakat, apalagi
yang memiliki latar belakang pendidikan rendah. Pengabaian hak-hak anak terutama hak
untuk memperoleh perlindungan seringkali muncul dari budaya ketidak tahuan akan
hukum dan budaya kekerasan yang timbul sebagai akibat dari pemahaman sempit
masyarakat dan lingkungan yang menganggap bahwa anak adalah seseorang yang tidak
mampu bertindak sendiri sehingga dalam prakteknya hak-hak anak sering terabaikan dan
bahkan dimanfaatkan sebagai akibat berbedanya kemauan atau keinginan dari orang tua
maupun lingkungan masyarakat terhadap anak tersebut.
2.2 Penerapan Ketentuan Hukum Tentang Perlindungan Anak di Indonesia dan
Korelasinya Terhadap Bekerjanya Hukum di Masyarakat
Berdasarkan pemberitaan media elektronik disebutkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 3 juta
anak yang memiliki pekerjaan berbahaya (Nursiah, 2007). Di Indonesia fenomena pekerja anak
menunjukkan angka yang meningkat, sekalipun ada pelarangan untuk tidak mempekerjakan
anak-anak, akan tetapi karena faktor ekonomi keluarga, kultural, sosial, budaya, lemahnya
lembaga perangkat hukum, pengawasan dan pelaksanaannya, bahkan ada permintaan (demand)
pekerja anak, dan juga karena faktor politik mempengaruhi insiden keberadaan pekerja anak.
Diperkirakan terdapat 100.000 perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan setiap tahunnya,
kebanyakan sebagai pekerja seks komersial di Indonesia dan luar negeri. Sekitar 4.000-5.000
anak berada di lembaga pemasyarakatan, lembaga rehabilitasi dan penjara. Sebanyak 84 persen
dari anak-anak yang dihukum ini, ditahan bersama para penjahat dewasa.
Dari aspek pendidikan, 1,8 juta anak SD berusia 7-12 tahun, dan 4,8 juta anak usia 13-15 tahun
tidak bersekolah. Sebanyak 26 juta anak usia SD putus sekolah. Jumlah anak usia di atas 10
tahun yang tergolong buta huruf saat ini masih berjumlah 16 juta anak. Bahkan berdasarkan
laporan organisasi kesehatan
ISSN 1412 - 8683

sedunia WHO, konon ada 10 juta anak-anak per tahun di seluruh dunia meninggal dunia sebelum
mencapai usia lima tahun.
Kondisi itu mendorong lahirnya Konvensi Hak Anak Dewan Umum PBB tanggal 20 November
1989. Aktor di belakang konvensi ini tentu saja para pengemban sekularisme-liberal yang
mengklaim sebagai pejuang hak anak. Pada 1990, perwakilan Indonesia turut menandatangani
ratifikasi Konvensi Hak Anak berisi pengaturan perlindungan anak. Dengan demikian, Indonesia
mau tidak mau, berkewajiban melaksanakan kesepakatan-kesepakatan tindak lanjut dan
memenuhi hak-hak anak sesuai butir-butir konvensi. Sebagai implementasinya, pemerintah
kemudian mensahkan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Pasal 1 Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak menyatakan bahwa anak adalah setiap orang yang
berusia dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang nasional yang berlaku bagi anak
ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal. Walaupun usia 18 tahun telah digunakan oleh
komunitas LSM hak-hak anak internasional untuk menentukan masa kanak-kanak, tetapi masih
banyak negara yang mengganggap bahwa anak-anak sudah dianggap dewasa sebelum mereka
mencapai usia 18 tahun atau ketika upaya-upaya perlindungan tidak berlaku sampai usia 18
tahun (Koalisi Nasional, 2009).
Efektivitas Undang-Undang Perlindungan Anak hingga saat ini masih dipertanyakan, hal ini
terlihat dari adanya laporan Komnas Perlindungan Anak (KPA) yang menunjukkan tren
peningkatan kasus kekerasan terhadap anak. Bahkan di tahun 2006 angkanya tercatat hingga
mencapai 13,5 juta kasus ((Lilik, 2006). Peningkatan kasus kekerasan dari tahun ke tahun ini
menunjukkan sejauh mana tingkat efektivitas Undang-Undang Perlindungan Anak. Secara
logikanya kan kalau undang-undang itu efektif, maka seharusnya kasus kekerasan terhadap anak
makin berkurang. Meskipun sejumlah lembaga perlindungan anak telah dibentuk untuk menekan
angka kekerasan anak, namun kinerja mereka dirasakan belum memuaskan.
Oleh karena itu, maka Implementasi UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
sepertinya perlu mendapat perhatian lebih dari semua elemen
ISSN 1412 - 8683

bangsa ini. Selain telaah isu internasional, persoalan anak kini semakin sensitif seiring dengan
canggihnya pola dan modus operandi kejahatan terhadap anak. Belum lagi fakta bahwa
kekerasan terhadap anak dengan semakin mudah dijumpai di sekitar kita. Lingkungan keluarga
maupun sekolahan yang seharusnya menjadi tempat anak untuk bertumbuh kembang, kini mulai
berubah menjadi lahan subur aksi kekerasan terhadap anak. Singkatnya, anak kini makin sering
menjadi obyek penderita kejahatan dan kekerasan.
Salah satu bentuk pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak adalah eksploitasi seksual
komersial anak. Pelanggaran tersebut terdiri dari kekerasan seksual oleh orang dewasa dan
pemberian imbalan dalam bentuk uang tunai atau barang terhadap anak, atau orang ketiga, atau
orang-orang lainnya. Anak tersebut diperlakukan sebagai sebuah objek seksual dan sebagai objek
komersial. Eksploitasi seksual komersial anak merupakan sebuah bentuk pemaksaan dan
kekerasan terhadap anak, dan mengarah pada bentuk-bentuk kerja paksa serta perbudakan
modern.
Selain itu, eksploitasi seksual komersial anak juga mencakup praktek-praktek kriminal yang
merendahkan dan mengancam integritas fisik dan psikososial anak. Bentuk-bentuk eksploitasi
seksual komersial anak yang utama yang saling berkaitan dan sering disebut ESKA adalah
pelacuran anak, pornografi anak dan perdagangan anak untuk tujuan seksual. Bentuk-bentuk
eksploitasi seksual anak lainnya adalah pariwisata seks anak dan dalam beberapa kasus adalah
perkawinan anak. Anak-anak juga dapat dieksploitasi secara seksual dan komersial dalam caracara yang kurang jelas melalui perbudakan di dalam rumah atau kerja ijon. Dalam kasus ini,
seorang anak dikontrak untuk memberi pekerjaan tetapi majikan percaya bahwa anak tersebut
juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan seksual.
Pada umumnya eksploitasi seksual komersial anak terjadi karena adanya permintaan.
Pencegahan dan hukuman kriminal memang penting, tetapi setiap usaha-usaha untuk
menghapuskan eksploitasi seksual komersial anak juga harus mengakui pentingnya untuk
menentang dan mengutuk tingkah laku, keyakinan dan sikap-sikap yang mendukung dan
membenarkan permintaan ini.
ISSN 1412 - 8683

Antara eksploitasi seksual komersial anak dan kekerasan seksual terhadap anak dalam
prakteknya keduanya memanfaatkan anak sebagai sebuah objek seks. Dalam praktek kekerasan
seksual terhadap anak, belum tentu terdapat aspek komersialisasi, namun dalam praktek
eksploitasi seksual komersial anak, kekerasan seks pasti dialami anak.
Kekerasan seksual terhadap anak dapat didefinisikan sebagai kontak atau interaksi antara
seorang anak dengan seseorang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang asing, saudara
kandung atau orang tua dimana anak tersebut dipergunakan sebagai sebuah objek pemuas bagi
kebutuhan seksual si pelaku. Perbuatan-perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan,
ancaman, suap, tipuan atau tekanan. Ironisnya, para pelaku sering kali orang yang memiliki
tanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan anak tersebut.
Melalui ekploitasi seksual komersial, seorang anak tidak hanya menjadi sebuah objek seks tetapi
juga sebuah komoditas dimana anak dimanfaatkan secara seksual untuk mendapatkan uang,
barang atau kebaikan bagi pelaku eksploitasi, perantara atau agen dan orang-orang lain yang
mendapatkan keuntungan dari eksploitasi seksual terhadap anak tersebut.
Eksploitasi seksual komersial dalam bentuk apapun sangat membahayakan hak seorang anak
untuk menikmati masa remaja mereka dan kemampuan mereka kearah kehidupan yang
produktif, bermanfaat dan bermartabat. Eksploitasi seksual komersial dapat mengakibatkan
dampak-dampak yang serius, seumur hidup, bahkan mengancam nyawa untuk perkembanganperkembangan fisik, psikologis, spiritual, emosional dan sosial serta kesejahteraan seorang anak.
Anak-anak yang mengalami eksploitasi secara seksual dan komersial sangat beresiko terjangkit
HIV/AIDS dan mereka sepertinya tidak mendapatkan perawatan medis yang layak. Anak-anak
juga sangat rentan terhadap kekerasan fisik. Anak-anak yang berusaha untuk melarikan diri atau
melawan kekerasan tersebut bisa mengalami luka berat atau bahkan dibunuh. Dampak-dampak
psikologis dari eksploitasi seksual dan ancaman-ancaman yang dipergunakan biasanya akan
mengganggu anak-anak sepanjang sisa hidup mereka.
ISSN 1412 - 8683

Eksploitasi seksual komersial anak seperti praktek-praktek tradisional yang sering berurat-akar
dalam keyakinan-keyakinan budaya, globalisasi dan teknologi-teknologi baru mendorong
sejumlah tantangan-tantangan yang berbeda. Pada akhirnya, permintaan akan anak-anak sebagai
pasangan seks untuk tujuan apapun mengarah pada eksploitasi seksual komersial anak. Faktorfaktor yang kompleks muncul dan membuat anak menjadi rentan dan membentuk kekuatankekuatan dan keadaan-keadaan yang memungkinkan anak-anak untuk dieksploitasi secara
komersial maupun seksual adalah: penerimaan masyarakat, diskriminasi/kesukuan, tingkah laku
seksual dan mitos yang tidak bertanggung jawab, kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga
terhadap anak dan penelantaran, situasi-situasi emergensi atau bencana, situasi-situasi konflik,
tinggal dan bekerja di jalanan, konsumerisme, adopsi, hukum yang tidak layak dan korupsi, serta
pesatnya teknologi-teknologi informasi & komunikasi yang memberi dampak negatif.
Kerentanan anak-anak terhadap manipulasi dan eksploitasi. Trauma sosial, psikologis dan fisik
yang berbeda-beda yang terjadi pada anak-anak dalam tahap awal perkembangan mereka dapat
mengakibatkan dampak yang lebih serius pada perkembangan jangka panjang seorang anak dan
proses penyembuhan anak tersebut. Tanggung jawab hukum negara untuk menjamin
perlindungan terhadap hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak Anak dan juga UU No.23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, para tokoh agama, tokoh adat, dan ormas
diharap-kan juga dapat menjadi mitra kerja KPAI dalam mensosialisasikan UU Perlindungan
Anak dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak kepada
masyarakat. Sebab, mereka merupakan salah satu tokoh kunci keberhasilan dalam meningkatkan
efektivitas perlindungan anak kepada masyarakat luas.
3. PENUTUP
Dalam penegakan hukum terhadap perlindungan anak perlu diperhatikan berbagai faktor yang
mempengaruhinya, terutama terkait faktor penegak hukumnya dan juga faktor budaya
masyarakat Indonesia. Disamping itu,
ISSN 1412 - 8683

dikeluarkannya peraturan seperti Konvensi Hak Anak dan juga UU No.23 Tahun 2002 yang
didalamnya mengatur tentang landasan perlindungan anak merupakan payung hukum bagi
perlindungan atas hak-hak anak dalam bentuk.
1 Non-diskriminasi : Semua anak mempunyai hak yang sama dan harus diperlakukan
sama oleh peraturan/perundangan dan kebijakan Negara.
2 Kepentingan terbaik anak : Setiap tindakan oleh kewenangan publik harus
mempertimbangkan kepentingan terbaik anak.
3 Hak hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan: anak mempunyai hak- hak
sipil, hak-hak ekonomi, sosial & budaya.
4 Partisipasi anak: anak mempunyai hak untuk menyatakan pendapat sesuai tingkat
usia dan perkembangannya & dipertimbangkan pendapatnya.
KPAI yang di desain sebagai lembaga tempat pengaduan dan analisis kasus perihal perlindungan
anak berhak memberikan saran kepada kepala negara perihal isu seputar anak. Disamping itu,
Stake holder masyarakat baik instansi pemerintah maupun swasta juga mutlak secara bersama
merumuskan dan menyelesaikan setiap kasus yang terjadi terhadap anak Indonesia.
Banyaknya lembaga yang peduli terhadap nasib anak ini dalam kinerjanya dirasa kurang mampu
berkoordinasi secara optimal. Seharusnya lembaga atau instansi yang berdiri baik di daerah
maupun di pusat berkoordinasi untuk bersama-sama melindungi anak Indonesia. Selain itu,
lembaga pemerintahan seperti Departemen Sosial, sebagai pelaksana dalam persoalan
perlindungan khusus (sosial), Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan yang menangani
persoalan perempuan dan anak, dan aparat kepolisian yang bertugas menegakkan hukum kepada
pelaku pelanggaran terhadap hak-hak anak harus lebih mampu bekerjasama dan berkoordinasi
dalam kinerjanya sehingga dapat secara maksimal melakukan perlindungan terhadap anak
Indonesia.
Tidak hanya itu seluruh elemen masyarakat seperti orangtua, sekolahan, dan masyarakat,
seharusnya juga menjadi jaringan pengaman untuk memenuhi hak-hak anak dan melindungi
anak-anak dari kekerasan baik psikis maupun fisik, karena praktek pengabaian atas perlindungan
anak sebenarnya sering terjadi disekeliling kita, namun tidak dapat dihentikan karena rendahnya
kepedulian kita.
ISSN 1412 - 8683

Maka perlu dilakukan kampanye secara terus-menerus untuk membangun kesadaran dan
kepedulian serta mendidik masyarakat dengan informasi terkait usaha perlindungan terhadap
anak demi masa depan bangsa ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, 1980. Aneka Masalah Dalam Praktek Penegakan Hukum di Indonesia, Bandung:
Penerbit Alumni.
HS, Lilik, 2006. Perlindungan Terhadap Hak Asasi Anak: Dalam Jurnal Konstitusi Vol.3 No.2,
Mei 2006, Jakarta: Mahkamah Konstitusi RI.
Rahardjo, Satjipto, 1983. Permasalahan Hukum Di Indonesia, Bandung: Alumni.
_______________, 2010. Teori Hukum: Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi,
Yogyakarta: Genta Publishing.
Sirtha, I Nyoman, 2008. Materi Perkuliahan Sosiologi Hukum, Program Magister Ilmu Hukum,
Universitas Udayana, Bali.
Soekamto, Soerjono, 2002. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada.
Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
www.eska.or.id, Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak, 2009.
Yahya, Suyono, 1994. Konveksi Hak Anak, Jakarta: Bina Yustitia, Mahkamah Agung RI.

Rabu, 28 Maret 2012


KEKERASAN ANAK DI SEKOLAH
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Salah satu wilayah yang menjadi sorotan perlindungan anak adalah
lingkungan sekolah. Memang belum banyak kajian komprehensif tentang
praktek tindak kekerasan di sekolah. Tetapi kenyataan yang muncul
terutama di media massa banyak kasus kekerasan terjadi terhadap anak di
sekolah. Kekerasan terhadap anak adalah semua bentuk perlakuan salah
secara fisik, dan/atau emosional, penganiayaan seksual, penelantaran, atau
eksploitasi secara komersial atau lainnya yang mengakibatkan gangguan
nyata

ataupun

potensial

terhadap

perkembangan,

kesehatan,

dan

kelangsungan hidup anak ataupun terhadap martabatnya dalam konteks


hubungan yang bertanggungjawab, kepercayaan, atau kekuasaan.[1]

Kekerasan di sekolah dapat dilakukan oleh siapa saja, dari kepala


sekolah, guru, Pembina sekolah, karyawan ataupun antar siswa. Kekerasan
pada siswa belakangan ini terjadi dengan dalih mendisiplinkan siswa dan
tidak jarang budaya dijadikan alasan membungkus kekerasan terhadap anak
tersebut. Bentuk-bentuk kekerasan yang dilakukan kepala sekolah, guru,
Pembina sekolah, karyawan antara lain memukul dengan tangan kosong,
atau benda tumpul, melempar dengan penghapus, mencubit, menampar,
mencekik, menyundut rokok, memarahai dengan ancaman kekerasan,
menghukum berdiri dengan satu kaki di depan kelas, berlari mengelilingi
lapangan, menjemur murid di lapangan, pelecehan seksual dan pembujukan
persetubuhan.[2]
Kekerasan di sekolah tidak semata-mata kekerasan fisik saja tetapi
juga

kekerasan

psikis,

seperti

diskriminasi

terhadap

murid

yang

mengakibatkan murid mengalami kerugian, baik secara moril maupun


materil. Diskriminasi yang dimaksud dapat berupa diskriminasi terhadap
suku, agama, kepercayaan, golongan ,ras ataupun status sosial murid.
Kekerasan antar siswa juga kerap terjadi yaitu berupa bullying yang
merupakan perilaku agresif dan menekan dari seseorang yang lebih dominan
terhadap orang yang lebih lemah, dimana seorang siswa atau lebih secara
terus-menerus

melakukan

tindakan

yang

menyebabkan

siswa

lain

menderita. Kekerasan yang terjadi dapat berupa kekerasan fisik seperti


memukul, menendang, menjambak dan lain-lain. Selain bullying, kekerasan
antar siswa yang sering terjadi adalah tawuran. Tawuran mengakibatkan
terjadinya perubahan sosial yang mengakibatkan norma-norma menjadi
terabaikan dan mengakibatkan perubahan aspek hubungan sosial dalam
masyarakat.
Selain kekerasan fisik juga terjadi kekerasan verbal seperti mengejek,
menghina atau mengucapkan kata-kata yang menyinggung atau membuat
cerita bohong yang menyebabkan siswa yang menjadi sasaran menjadi

terkucilkan
bersangkutan

atau

menjadi

menjadi

bahan

rendah

diri,

olok-olok
takut

dan

sehingga

siswa

sebagainya.

yang

Penelitian

terhadap 2.600 siswa SD di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung


menunjukkan bahwa 70% mengaku pernah mendapatkan tindakan yang
tidak menyenangkan selama belajar sehingga sulit konsentrasi dalam
belajar.[3]
Perlindungan terhadap anak di Indonesia yang tertuang dalam
Undang-Undang No. 22 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dianggap
belum mampu mengatasi permasalah kekerasan anak yang terjadi di
lingkungan sekolah. Bahkan beberapa waktu yang lalu terjadi pergolakan pro
dan kontra tentang disahkannya Undang-Undang ini dalam ruang lingkup
proses ajar mengajar di sekolah. Melihat dari kasus di atas diperlukan
pencegahan dan penanganan lebih lanjut mengenai kekerasan anak di
sekolah yang dikhawatirkan keberadaannya semakin sering terjadi di
lingkungan sekolah.
1.2.Rumusan Masalah
1. Apakah faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan anak di sekolah?
2. Bagaimanakah peran hukum positif Indonesia dalam melindungi hak-hak
anak korban kekerasan di sekolah?
3. Bagaimana upaya pihak-pihak terkait dalam mencegah dan menanggulangi
kekerasan anak di sekolah?
1.3.Tujuan Pembahasan
1.

Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan anak di


sekolah.

2. Untuk mengetahui peran hukum positif Indonesia dalam melindungi hak-hak


anak korban kekerasan di sekolah.
3.

Untuk

mengetahui

upaya

pihak-pihak

menanggulangi kekerasan anak di sekolah.

terkait

dalam

mencegah

dan

BAB II
PEMBAHASAN
1.

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan Anak Di Sekolah


Siswa yang terancam atau disakiti patut diperhatikan oleh pihak
sekolah, dengan memerhatikan siswa atau kelompok siswa yang rentan
menjadi korban dan siswa atau kelompok siswa yang berpotensi menjadi
pelaku kekerasan. Langkah-langkah yang harus dilakukan pihak sekolah
dapat berupa membuat peraturan sekolah yang bersifat mencegah dan
strategi mengelola kekerasan dengan tujuan untuk melindungi siswa-siwa
yang menjadi korban secara terus-menerus.
Kemampuan
antarsiswa

juga

sekolah
dipengaruhi

mencegah

dan

keterbukaan

menyelesaikan

sekolah

yang

kekerasan

bersangkutan

terhadap isu kekerasan ini. Selain itu pihak sekolah bisa melibatkan peran
orang tua siswa untuk menyelesaikan kekerasan ini. Harus ada ketegasan
pihak sekolah dan kejelasan sanksi yang diterapkan kepada pelaku agar
pelaku berfikir ulang untuk melakukan kekerasan.
Kekerasan bisa menimbulkan cedera, seperti memar atau patah tulang
yang bisa menyebabkan korban meninggal dan menyeret pelakunya ke
penjara. Memukul murid juga tidak akan mempengaruhi perilaku mereka,
bahkan kekerasan bisa menciptakan anak menjadi pemberontak, pemalu,
tidak tenang, dan tidak secara ikhlas memenuhi permintahan atau perintah
orang yang sudah berlaku keras kepadanya. Bahkan menurut Eizabeth
Gersholff, dalam studi meta-analitis tahun 2003, yang menggabungkan riset
selama enam puluh tahun tentang hukuman fisik, menemukan bahwa satusatunya hasil positif dari kekerasan adalah kepatuhan sesaat.[4]
Penyebab anak melakukan bullying :

1. Lingkungan sosial yang menjadi tempat anak tinggal memberikan contoh


nyata tindal kekerasan. Baik berupa kekerasan dalam sosial, ekonomi, politik
dan lainnya.
2. Menurut pendekatan filogenetik, terdapat pengaruh genetik terhadap sifat
kekerasan. Tetapi sifat itu akan muncul apabila dipicu oleh keadaan
lingkungan masyarakat.
3. Lingkungan sekolah yang formalistik dan kaku, bahkan bisa terjadi sikap
dehumanisasi, membuat jarak antara relasi pendidik dengan peserta didik.
4. Semakin menyempitnya ruang ekspresi anak di publik. Hegemoni pada
ekpresi anak akan membuat anak mencoba terus untuk mengekspresikan
kepada hal yang bersifat destruktif.
Pengaruh media berdampak luar biasa pada anak. Tayangan berita
film, reality show, sinetron yang menampilkan adegan-adegan kekerasan
yang ditonton anak merupakan contoh nyata dan pelajaran praktis bagi anak
untuk melakukan hal yang sama.
Kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan dapat terjadi karena
beberapa faktor, yaitu:
1.

Dari Guru, Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru melakukan


kekerasan pada siswanya, yaitu:

Kurangnya pengetahuan bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis tidak


efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku, malah beresiko
menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa.

Adanya masalah psikologis yang menyebabkan hambatan dalam mengelola


emosi hingga guru yang bersangkutan menjadi lebih sensitif dan reaktif.

2.

Adanya tekanan kerja


Dari siswa, Salah satu faktor yang bisa ikut mempengaruhi terjadinya
kekerasan, adalah dari sikap siswa tersebut. Sikap siswa tidak bisa
dilepaskan dari dimensi psikologis dan kepribadian siswa itu sendiri.

Contohnya, anak berusaha mencari perhatian dengan bertingkah yang


memancing amarah, agresifitas,atau pun hukuman. Maksud dari melakukan
hal tersebut dengan tujuan yakni mendapatkan perhatian.
3. Dari Keluarga,
a) Pola Asuh, Anak yang dididik dalam pola asuh yang memanjakan anak
dengan memenuhi semua keinginan anak cenderung tumbuh dengan sifat
yang arogan dan tidak bisa mengontrol emosi. Jadi anak akan memaksa
orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, dengan cara apapun juga
asalkan tujuannya tercapai.
b)

Orangtua mengalami masalah psikologis


Jika orangtua mengalami masalah psikologis yang berlarut-larut, bisa
mempengaruhi pola hubungan dengan anak. Misalnya, orang tua yang
stress berkepanjangan, jadi sensitif, kurang sabar dan mudah marah pada
anak, atau melampiaskan kekesalan pada anak. Lama kelamaan kondisi ini
mempengaruhi kehidupan pribadi anak. Ia bisa kehilangan semangat, daya
konsentrasi, jadi sensitif, reaktif, cepat marah, dan sebagainya.

c)

Keluarga disfungsional
Keluarga yang salah satu anggotanya sering memukul, atau menyiksa fisik
atau emosi, intimidasi anggota keluarga lain atau keluarga yang sering
konflik terbuka tanpa ada resolusi, atau masalah berkepanjangan yang
dialami oleh keluarga hingga menyita energy psikis dan fisik, hingga
mempengaruhi interaksi, komunikasi dan bahkan kemampuan belajar si

anak.
4.
Dari Lingkungan, Tak dapat dipungkiri bahwa kekerasan yang terjadi
selama ini juga terjadi karena adanya faktor lingkungan, yaitu:

Adanya budaya kekerasan : seseorang melakukan kekerasan karena dirinya


berada dalam suatu kelompok yang sering terjadi tindakan kekerasan,
sehingga memandang kekerasan adalah merupakan hal yang biasa.

Adanya tradisi : Contoh, kekerasan yang terjadi antara mahasiswa senior


dengan mahasiswa junior, dimana mahasiswa senior tersebut meniru
tindakan-tindakan yang dilakukan seniornya terdahulu yang melakukan hal
yang serupa terhadap dirinya.

Tayangan televisi yang banyak berbau kekerasan


2. Peran Hukum Positif Indonesia Dalam Melindungi Hak-Hak
Anak Korban Kekerasan Di Sekolah
Kekerasan di sekolah baik kekerasan fisik maupun verbal bisa
dikenakan sanksi hukum karena kekerasan pada dasarnya adalah tindakan
pelanggaran hukum yang bisa dipidanakan. Melakukan kekerasan terhadap
anak di sekolah dapat dikenai sanksi yang terdapat pada Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Kitab Undang-Undang
Hukum

Pidana

(KUHP).

Ketentuan

pidana

dalam

Undang-Undang

Perlindungan Anak Pasal 77 hingga Pasal 90. Untuk kekerasan psikis


terhadap anak, dapat dikenakan Pasal 77;
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan :
a. Diskiriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian,
baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya;atau
b. Penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau
penelantaran, baik fisik, mental, maupun sosial;
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau.
Kekerasan terhadap anak apabila mengakibatkan kerugian secara
materil juga dapat digugat secara perdata. Gugatan perdata bisa diajukan ke
pengadilan negeri terhadap pelaku kekerasan di sekolah atau pihak sekolah
sebagai lembaga berupa gugatan ganti rugi material dan immaterial dalam
bentuk uang atau natura. Gugatan ini mengacu pada ketentuan

Pasal 1365 KUH Perdata; tiap perbuatan melanggar hukum yang


membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena
salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.

Pasal 1366 KUH Perdata ; setiap orang bertanggungjawab tidak saja untuk
kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian
yang disebabkan karena kelalaian, atau kurang hati-hatinya.

Pasal 1367 KUH Perdata ; guru sekolah bertanggungjawab tentang


kerugian yang diterbitkan oleh murid selama waktu murid itu berada di
bawah pengawasan mereka, kecuali jika mereka dapat mencegah perbuatan
yang mesti mereka seharusnya bertanggungjawab.

3. Upaya Pihak-Pihak Terkait Dalam Mencegah Dan Menanggulangi


Kekerasan Anak Di Sekolah
Reaksi pendidik
Selama perjalanan penegakan Undang-Undang Perlindungan Anak,
muncul sikap-sikap yang tidak setuju terhadap Undang-Undang tersebut.
Pernah muncul wacana Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi. Wacana ini
melakukan upaya pengecualian hukum pidana bagi kalangan penduduk yang
melakukan kekerasan terhadap peserta didik. Lahir pula pendapat dan
argument yang menyatakan Undang-Undang Perlindungan Anak akan
menghambat proses pendidikan, menjadi penghalang dalam pelaksanaan
tugas profesi sebagai guru. Alasannya sederhana, guru tidak bisa lagi
menghukum siswa dengan kekerasan. Kata lain dari pendisiplinan yang
menyebabkan kerugian bagi siswa, baik secara fisik maupun psikis.[5]
Solusi Untuk Mengatasi Kekerasan pada siswa di Sekolah
Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi kekerasan
pada siswa di sekolah, yaitu:
a.

Bagi Sekolah

Menerapkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah

Pendidikan tanpa kekerasan adalah suatu pendidikan yang ditujukan pada


anak dengan mengatakan "tidak" pada kekerasan dan menentang segala
bentuk kekerasan. Hukuman yang diberikan, berkorelasi dengan tindakan
anak. Ada sebab ada akibat, ada kesalahan dan ada konsekuensi tanggung
jawabnya.Dengan menerapkan hukuman yang selaras dengan konsekuensi
logis tindakan siswa yang dianggap keliru, sudah mencegah pemilihan /
tindakan hukuman yang tidak rasional.

Sekolah terus mengembangkan dan membekali guru baik dengan wawasan /


pengetahuan, kesempatan untuk punya pengalaman baru, kesempatan
untuk

mengembangkan

kreativitas

mereka.

Guru

juga

membutuhkan

aktualisasi diri, tidak hanya dalam bentuk materi, status, dsb. Guru juga
senang jika diberi kesempatan untuk menuangkan aspirasi, kreativitas dan
mencoba mengembangkan metode pengajaran yang menarik tanpa keluar
dari prinsip dan nilai-nilai pendidikan. Selain itu, sekolah juga bisa
memberikan

pendidikan

psikologi

pada

para

guru

untuk

memahami

perkembangan anak serta dinamika kejiwaan secara umum. Dengan


pendekatan psikologi, diharapkan guru dapat menemukan cara yang lebih
efektif dan sehat untuk menghadapi anak didik.

Konseling. Bukan hanya siswa yang membutuhkan konseling, tapi guru pun
mengalami masa-masa sulit yang membutuhkan dukungan, penguatan, atau
pun bimbingan untuk menemukan jalan keluar yang terbaik.

Segera memberikan pertolongan bagi siapapun yang mengalami tindakan


kekerasan di sekolah, dan menindaklanjuti kasus tersebut dengan cara
adekuat.
Sekolah yang ramah bagi siswa merupakan sekolah yang berbasis
pada hak asasi, kondisi belajar mengajar yang efektif dan berfokus pada
siswa, dan memfokuskan pada lingkungan yang ramah pada siswa. Menurut

Rini (2008), perlu di kembangkan pembelajaran yang humanistik yaitu


model pembelajaran yang menyadari bahwa belajar bukan merupakan
konsekuensi yang otomatis namun membutuhkan keterlibatan mental, dan
berusaha mengubah suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dengan
memadukan potensi fisik dan psikis siswa.
b.

Bagi Orangtua atau keluarga


Perlu lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam memilihkan sekolah
untuk anak-anaknya agar tidak mengalami kekerasan di sekolah.

Menjalin komunikasi yang efektif dengan guru dan sesama orang tua murid
untuk memantau perkembangan anaknya.

Orangtua menerapkan pola asuh yang lebih menekankan pada dukungan


daripada hukuman, agar anak-anaknya mampu bertanggung jawab secara
sosial

Hindari tayangan televisi yang tidak mendidik, bahkan mengandung unsur


kekerasan. Kekerasan yang ditampilkan dalam film cenderung dikorelasikan
dengan heroisme, kehebatan, kekuatan dan kekuasaan.

Setiap masalah yang ada, sebaiknya dicari solusi / penyelesaiannya dan


jangan sampai berlarut-larut. Kebiasaan menunda persoalan, menghindari
konflik, malah membuat masalah jadi berlarut-larut dan menyita energy.
Sikap terbuka satu sama lain dan saling mendukung, sangat diperlukan
untuk menyelesaikan setiap persoalan dengan baik.

Carilah bantuan pihak professional jika persoalan dalam rumah tangga,


semakin menimbulkan tekanan hingga menyebabkan salah satu atau
beberapa anggota keluarga mengalami hambatan dalam menjalankan
kehidupan mereka sehari-hari.

c.

Bagi siswa yang mengalami kekerasan, Segera sharing pada orangtua


atau guru atau orang yang dapat dipercaya mengenai kekerasan yang

dialaminya sehingga siswa tersebut segera mendapatkan pertolongan untuk


pemulihan kondisi fisik dan psikisnya.[6]
Oleh karena itu, sangat penting bagi semua pihak, baik guru, orang
tua dan siswa untuk memahami bahwa kekerasan bukanlah solusi atau aksi
yang tepat, namun semakin menambah masalah. Semoga pembahasan ini
dapat bermanfaat dan mengurangi terjadinya kekerasan pada siswa. Perlu
diingat, bahwa untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan kerjasama dari
semua pihak.
Selain upaya-upaya psikologis yang diterapkan dan sanksi-sanksi
pidan yang diberlakukan terhadap pelaku kekerasan terhadap anak di
sekolah. Pemerintah juga menerapka sekolah ramah anak (SRA) yang
keberadaan guru sangat berperan. Ada beberapa langkah menuju SRA, yaitu
:
1) Guru tidak mendudukkan dirinya sebagai penguasa kelas/mata pelajaran,
tetapi sebagai pembimbing kelas
2) Guru seharusnya mengurangi kelantangan suara dan lebih mengutamakan
keramahtamahan suara
3) Guru harus mengurangi sebanyak mungkin nada memerintah dan
menggantinya dengan ajakan.
4) Hal-hal yang menekan siswa harus dikurangi sebanyak mungkin.
5) Hal-hal yang menekan diganti dengan member motivasi sehingga bukan
paksaan yang dimunculkan, melainkan member stimulasi.
6) Guru harus menjauhi sikap ingin menguasi siswa karena yang lebih baik
adalah mengendalikan. Hal itu terungkap bukan dengan kata-kata mencela,
melainkan dengan kata-kata yang membangun keberanian/kepercayaan diri
siswa.
7) Guru hendaknya menjauhkan diri dari mencari-cari kesalahan siswa, tetapi
harus mengakui prestasi sekecil apa pun yang dihasilkan siswa.
8) Guru harus lebih sering melibatkan siswa, dengan lebih sering berkata aku
mengajurkan/meminta, mari kalian ikut menentukan juga. Guru seharusnya

menghindari kata-kata aku yang menentukan, kalian menurut saja apa


perintahku[7]
Sistem sosial yang stabil (equilibrium) dan berkesinambungan (kontinuitas)
senantiasa terpelihara apabila terdapat adanya pengawasan melalui dua
macam mekanisme social dalam bentuk sosialisasi dan pengawasan sosial
(control social).
1) Sosialisasi maksudnya adalah suatu proses dimana individu mulai menerima
dan menyesuaikan diri kepada adat istiadat (norma) suatu kelompok yang
ada di dalam system sosial, sehingga lambat laun yang bersangkutan akan
merasa menjadi bagian dari kelompok yang bersangkutan.
2) Pengawasan sosial adalah proses yang direncanakan atau yang tidak
direncanakan yang bertujuan untuk mengajak, mendidik atau bahkan
memaksa masyarakat agar mematuhi norma dan nilai. Pengertian tersebut
dipertegas menjadi suatu pengendalian atau pengawasan masyarakat
terhadap tingkah laku anggotanya.[8]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Faktor terjadinya kekerasan anak di sekolah berupa pengaruh lingkungan
social, factor genetik, pengaruh lingkungan sekolah, dan menyempitnya
ruang ekspresi anak. Selain itu juga terdapat pengaruh yang timbul dari
pihak guru, siswa itu sendiri, pengaruh dari keluarga dan pengaruh
lingkungan.
2. Pemerintah menuangkan peraturan perundang-undangan untuk melindungi
hak-hak anak yang di dalamnya mencakup hak-hak anak yang mengalami
kekerasan,

yakni

dalam

Undang-Undang

No.22

Tahun

2002

tentang

Perlindungan Anak pasal 77 sampai dengan Pasal 90 serta dalam Kitab


Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1365 sampai dengan Pasal 1367.

3. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak terkait dalam menangani kekerasan


anak di sekolah digerakkan oleh guru, pihak sekolah, dan terhadap siswa
yang dibantu dengan control orang tua dan control dari masyarakat

UNICEF; 2002
Rika Saraswati, Hukum Perlindungan Anak Di Indonesia, PT Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2009 hal 142
[3] Departemen Character Building Universitas Bina Nusantara, 2007
[4] Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak, 2007,
Kekerasan Di Sekolah, Jakarta : Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan
Perempuan Dan Anak (P2TP2A) Hal 32
[5] ibid
[6] http://www.e-psikologi.com/epsi/pendidikan_detail.asp?id=499 diakses
27 Desember 2011 pukul 22.30 wib
[7] J.C Tukiman Taruna, 2007, Dalam Rika Saraswati, Dkk, 2007. Safe
School Dan Kekerasan Berbasis Jender : Studi Eksploratif Di Sekolah
Menengah Di Kota Semarang, Laporan Penelitian, Tidak Dipublikasikan,
Semarang : Pusat Studi Wanita Unika Soegijapranata.
[8] Www.Blog.Ac.Id/Fenomena-Tawuran-Antar-Pelajar Diakses Pada Tanggal
4 Januari 2012 Pukul 15.00 Wib
[1]
[2]

Pengaruh Implementasi Kebijakan Pemerintah Tentang Perlindungan Anak Terhadap


Efektivitas Penanganan Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Dinas Sosial
Kota Bandung
Oleh:
Anita Yurnalia
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Implementasi Kebijakan pemerintah
Tentang Perlindungan Anak Terhadap Efektivitas penanganan Anak Korban kekerasan Dalam
Rumah Tangga Di Dinas Sosial Kota Bandung.
Penelitian ini menggunakan metode eksplanatori, yaitu metode yang mencoba menghubungkan
dan menguji dua variabel penelitian. Penelitian ini menggunakan teknik analisis kuantitatif
melalui analisis jalur (path analysis). Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran
kuesioner, studi kepustakaan, observasi, dan wawancara.
Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa baik secara parsial maupun simultas terdapat
pengaruh implementasi kebijakan pemerintah yang positif dan potensial terhadap efektivitas
penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung.
Kata Kunci: Pengaruh, Implementasi Kebijakan, Efektivitas, Perlindungan Anak,
This research is aimed to know the influence of governmental policy implementation on the
Children Protection towards the effectivity of Children Handling of Domestic Violence Victims in
Department of Social Bandung City.

This research used explanatory method that is to correlate and examine two variables. This
research used quantitative technique through path analysis. The data coolection was used by
quetionares, library research, observation, and interview.
The result of hiphotesis examination showed that both partially and simultaneously there were
positive and potential influence of governmental policy implementation on the Children
Protection towards the effectivity of Children Handling of Domestic Violence Victims in
Department of Social Bandung City.
Key Words: Influence, Policy Implementation, Effektivity, Children Protection.
I. PENDAHULUAN
Kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga akhir- akhir ini semakin banyak diberitakan baik
itu di media cetak atau media elektronik. Kasus kekerasan yang dialami
oleh anak dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan keluarga dengan si anak seperti ayah,
ibu atau anggota keluarga lain yang tinggal serumah dengan anak. Tindakan kekerasan dalam
rumah tangga khususnya tindakan kekerasan yang menimpa anak- anak sampai saat ini belum
bisa diketahui secara pasti berapa jumlahnya, hal ini dikarenakan banyak dari anak-anak korban
tindakan kekerasan ataupun anggota keluarga yang lain tidak melaporkan tindakan kekerasan
yang dialaminya.
Berbagai alasan menyebabkan anak atau anggota keluarga yang lain tidak melaporkan tindakan
kekerasan yang dialaminya, diantaranya dikarenakan kekerasan dalam keluarga yang menimpa
anak atau anggota keluarga yang lain dianggap sebagai hak privasi keluarga tersebut. Kekerasan
dalam keluarga juga dianggap sebagai aib keluarga sehingga anggota keluarga yang lain tidak
berani melaporkan tindakan kekerasan yang terjadi.
Meningkatnya kekerasan terhadap anak yang pelakunya adalah orang-orang terdekat
memerlukan penanganan yang secepatnya, karena orang- orang terdekat atau keluarga akan
sangat dominan dalam pembentukan kepribadian anak. Karena itu peranan pemerintah sangat
diharapkan dalam menciptakan peraturan atau perundang-undangan yang berkaitan dengan
penanganan dan penanggulangan kasus kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga ini.
Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Bab IV Pasal 21 sampai dengan
24 menyatakan tentang kewajiban dan tanggungjawab negara dan pemerintah dalam
perlindungan anak sebagai berikut:
1. Negara dan pemerintah berkewajiban dan betanggungjawab menghormati hak asasi setiap
anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik,
budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan atau mental.
2. Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggungjawab memberikan dukungan saranan
dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak.
3. Negara dan pemerintah menjamin perlindungan, pemeliharaan dan kesejahteraan anak dengan
memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali atau orang lain yang secara hukum
bertanggungjawab terhadap anak.
4. Negara dan pemerintah mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak.
5. Negara dan pemerintah menjamin anak untuk menggunakan haknya dalam menyampaikan
pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak.
Penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan UU No. 23 Tahun 2002
bertujuan untuk memberikan perlindungan anak sehingga dapat menjamin terpenuhinya hak-hak
anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan
harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi demi terwujudnya anak yang berkualitas.

Dalam konteks Pemerintah Kota Bandung, UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
diimplementasikan ke dalam Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2007. Ini merupakan salah satu
kebijakan teknis bidang sosial yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial Kota Bandung. Pasal 2
Peraturan Daerah No, 8 Tahun 2007 menjelaskan bahwa penyelenggaraan penanganan
kesejahteraan sosial meliputi; anak terlantar, anak yatim dan yatim piatu, anak yang menjadi
korban tindak kekerasan, pengemis, gelandangan, pemulung, wanita tuna susila, bekas
narapidana, penyandang cacat, dan sebagainya. Dengan demikian secara hukum tidak diragukan
lagi peranan pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial, termasuk penanganan anak
korban kekerasan dalam
rumah tangga, tinggal bagaimana para pelaku di bidang ini mewujudkannya dalam masyarakat
secara konkrit.
Lebih lanjut peran masyarakat dalam usaha penanganan kesejahteraan sosial diperkuat oleh
Undang-Undang No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok kesejahteraan Sosial.
Pasal 8 UU No. 6 tahun 1974 menyatakan bahwa masyarakat mempunyai kesempatan seluasluasnya untuk mengadakan usaha kesejahteraan sosial dengan mengindahkan kebijaksanaan dan
ketentuan-ketentuan sebagaimana ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Dengan
demikian usaha kesejahteraan sosial dilaksanakan oleh seluruh pemerintah dan masyarakat
secara bersama-sama.
Karena itu penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak dapat ditemui di
hampir semua kota di Indonesia, termasuk di Kota Bandung. Dinas Sosial Kota Bandung
mempunyai fokus terhadap perlindungan, penyembuhan serta pemberdayaan peran serta
masyarakat guna memberikan dukungan terhadap korban tindakan kekerasan.
Berdasarkan pengamatan awal peneliti bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Daerah Kota Bandung terutama Dinas Sosial Kota Bandung adalah menunjukkan:
1. Belum optimalnya informasi kepada para pihak yang berkepentingan tentang penanganan anak
korban kekerasan dalam rumah tangga.
2. Sarana dan prasaranan dalam melaksanakan kebijakan belum dipersiapkan secara menyeluruh.
3. Belum banyaknya tenaga ahli yang mendukung penanganan anak korban kekerasan dalam
rumah tangga.
Berdasarkan gambaran tersebut di atas peneliti berasumsi bahwa upaya-upaya yang dilakukan
Dinas Sosial Kota Bandung belum optimal, sehingga tujuan dari kebijakan belum dapat terwujud
sesuai dengan harapan dan hal tersebut dapat menyebabkan kurang lancarnya penyelenggaraan
pemerintahan daerah.
Di dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk mengananalisis permasalahan tersebut dengan
menghubungkan salah satu variabel pengaruh yaitu pelaksanaan (implementasi) kebijakan
Pemerintah Daerah Kota bandung yang dilakukan melalui Dinas Sosial Kota Bandung tentang
perlindungan anak di Kota Bandung. Aspek kebijakan merupakan serangkaian keputusan yang
dapat digunakan sebagai landasan dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah Daerah Kota Bandung.
1.1. Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang penelitian, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
Seberapa besar pengaruh implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak
terhadap efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga di Dinas Sosial
Kota Bandung.
1.2. Maksud dan Tujuan Penelitian
1.2.1. Maksud Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka maksud penelitian yang akan
dicapai adalah untuk menganalisis bagaimana implementasi kebijakan pemerintah tentang
perlindungan anak terhadap efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga
di Dinas Sosial Kota Bandung.
1.2.2. Tujuan Penelitian
Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi kebijakan
pemerintah tentang perlindungan anak terhadap efektivitas penanganan anak korban kekerasan
dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung.
II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
2.1. Kajian Pustaka
2.1.1. Implementasi Kebijakan
Lester dan Stewart Jr (2000; 104) menyatakan bahwa implementasi merupakan suatu proses
sekaligus hasil (output). Keberhasilan suatu implementasi kebijakan dapat diukur atau dilihat
dari proses pencapain tujuan hasil akhir (output) yaitu tercapainya atau tidaknya tujuan-tujuan
yang ingin dicapai. Penegasan lebih lanjut tentang ukuran keberhasilan implementasi kebijakan
dikemukakan oleh Grindle (1980; 19) bahwa pengukuran keberhasilan implementasi dapat
dilihat dari prosesnya dengan mempertanyakan apakah pelaksanaan program sesuai dengan yang
telah ditentukan yakni melihat pada action program dari individual project dan yang kedua
apakah program tersebut tercapai.
Berpijak pada uraian-uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa implementasi kebijakan
mempunyai syarat-syarat yang meliputi:
1. Adanya tujuan atau sasaran kebijakan.
2. Adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian dan tujuan.
3. Adanya pelaksana kegiatan.
4. Adanya landasan dalam bentuk normatif atau bentuk keputusan kebijakan.
5. Adanya hasil kegiatan.
Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan merupakan
suatu proses yang dinamis dalam upaya mewujudkan keputusan kebijakan yang telah ditetapkan,
dimana pelaksana kebijakan melaksanakan aktivitas atau kegiatan sehingga pada akhirnya akan
mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.
Berkaitan dengan keberhasilan implementasi kebijakan, menurut Edward III terdapat empat
faktor kritis dalam implementasi kebijakan publik, yaitu: komunikasi, sumber daya,
sikap/kecenderungan, dan struktur birokrasi, sebagaimana yang dinyatakan dalam Edwards III
(1980:10) yang menyebutkan four critical factors or variables in implementing public
policy: communication, resources, dispositions or attitudes, and bureaucratic structure.
Adapun penjelasan hubungan antar faktor-faktor yang menentukan implementasi kebijakan
tersebut, diterangkan di bawah ini.
1. Komunikasi (communication)
Dalam proses komunikasi kebijakan, Edward III (1980: 37) menyebutkan bahwa transmisi,
konsistensi dan kejelasan, memberikan pengaruh terhadap implementasi kebijakan. Para
penerima informasi (target audience) baik sebagai pengirim (sender) maupun penerima
(receiver) perlu mengetahui apa yang harus dilakukan terhadap kebijakan.
2. Sumberdaya (resources)
Faktor kedua yang mempengaruhi implementasi kebijakan adalah sumberdaya. Edward III (1980
: 87) menyebutkan bahwa walaupun ketiga faktor dalam dalam proses

komunikasi terpenuhi, namun tanpa dukungan sumberdaya (manusia dan fasilitas) yang handal
dan memadai, implementasi kebijakan tidak akan efektif.
Sumberdaya kebijakan yang secara garis besar terdiri dari sumberdaya manusia yakni
sumberdaya komunikator (dalam hal ini aparatur pemerintah) dan sumberdaya produksi dan
distribusi; di samping sumberdaya alam baik berupa potensi alam, ketersediaan waktu,
ketersediaan tempat, serta sumberdaya buatan yang terdiri dari ketersediaan sumberdana yang
stabil, serta fasilitas - fasilitas berupa sarana dan prasarana implementasi.
3. Disposisi atau Sikap dan Perilaku terhadap Kebijakan (Disposition)
Ketanggapan yang dimanifestasikan sebagai sikap dan perilaku sumberdaya manusia aparatur
implementasi kebijakan sebagai implementator kebijakan dan sumberdaya optimalisasi hasil
implementasi kebijakan bersangkutan, serta dampaknya dalam pelayanan sebagai konsumen
(obyek) atas implementasi kebijakan. Edward III (1980 : 90) menelaah faktor disposisi ini ke
dalam tiga dimensi: (1) Pengaruh Disposisi (Effects of Dispositions) yaitu kepentingan
implementator secara pribadi dan atau organisasional yang ditujukkan oleh sikapnya terhadap
kebijakan pada kenyataannya sangat besar pengaruhnya pada implementasi kebijakan yang
efektif, (2) Penataan Staf Birokrasi (Staffing the Bereaucratic), dan (3) Insentif (Incentives)
merupakan salah satu faktor pembangkit motivasi staf implementator pada setiap tingkatan perlu
diperhatikan dan dipenuhi. (Edward III, 1980 : 93-94).
4. Struktur Birokrasi (bureaucracy structure)
Struktur kelembagaan birokrasi pemerintahan di pusat dan di daerah sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan implementasi kebijakan pemerintahan. Prosedur
Operasional Baku (SOP) dan fragmentasi struktur birokrasi ini dapat menjadi penghambat
implementasi dalam bentuk pemborosan sumberdaya, perintangan koordinasi, pengacauan
yurisdiksi implementator lapis bawah, serta pembangkitan tindakan - tindakan yang tidak
dikehendaki sehingga harus mendapatkan tambahan atensi (Edward III, 1980 : 127).
Berpijak pada keseluruhan paparan menurut Edward III di atas, implementasi kebijakan dapat
terlaksana dengan baik jika keempat faktor kritis (komunikasi, sumber daya, disposisi dan
struktur birokrasi) dapat bekerja dengan baik, karena tidak mungkin setiap faktor berdiri sendiri,
melainkan akan bekerja bersama-sama dan satu sama lain saling mempengaruhi.
Kelemahan pada satu faktor, akan berpengaruh pada proses implementasi yang pada akhirnya
mempengaruhi kinerja implementasi itu sendiri. Kiranya dapat diartikan bahwa; (i) komunikasi
merupakan suatu bentuk kanalisasi penerapan kebijakan dan strategi suatu kegiatan tertentu
kepada implementator kebijakan, (ii) sumber daya menceminkan adanya suatu sarana-prasarana
pendukung utama implementasi kebijakan, misalnya; aparatur, infrastruktur, dana, keterampilan
dan sebagainya, (iii) disposisi mencerminkan arus deliveri bagaimana kebijakan itu harus
diimplementasikan melalui agregasi kemampuan sumber daya, sedangkan (iv) struktur birokrasi
mencerminkan adanya keharusan bahwa berjalannya implementasi kebijakan itu melalui lini
organisasi dan struktur birokrasi.
2.1.2. Efektivitas
Setiap organisasi memiliki tujuan yang akan dicapai melalui kegiatan atau pekerjaan orang-orang
yang terlibat di dalamnya. Menurut Handoko (1997; 7) dalam bukunya
Manajemen, dikatakan bahwa untuk mengukur prestasi kerja manajemen adalah efisiensi dan
efektivitas.
Sedarmayanti (1995; 61) menyatakan sebagai berikut:
Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat
tercapai. Pengertian efektivitas ini lebih berorientasi pada keluaran sedangkan masalah

penggunaan masukan (efisiensi) kurang menjadi perhatian utama. Karena itu walaupun terjadi
peningkatan efektivitas belum tentu efisiensi meningkat.
Pengertian efektiviytas dikemukakan oleh Gibson et.al. yang dikutip oleh Barnard (1994; 27),
sebagai berikut:
Efektivitas adalah pencapaian sasaran yang telah disepakati sebagai usaha bersama. Tingkat
pencapaian sasaran itu menunjukkan tingkat efektivitas.
Pengertian efektivitas menurut Hidayat (1998; 7) adalah sebagai berikut:
Efektivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (waktu, kuantitas,
dan kualitas) yang telah dicapai. Semakin besar target yang dicapai, maka semakin tinggi tingkat
efektivitas.
Sedangkan efektivitas di dalam pekerjaan pemerintahan menurut Handayaningrat (1996; 16)
adalah sebagai berikut:
Efektivitas di dalam suatu tujuan atau sasaran yang telah dicapai sesuai dengan rencana adalah
efektif, tetapi belum tentu efisien. Suatu pekerjaan pemerintah sekalipun tidak efisien dalam arti
input dan output, tetapi tercapainya tujuan adalah efektif sebab mempunyai efektivitas atau
pengaruh yang besar terhadap kepentingan masyarakat banyak baik politik, ekonomi, social, dan
sebagainya.
Efektivitas secara sederhana diartikan sebagai penyelesain pekerjaan yang dilaksanakan tepat
waktu yang telah ditentukan. Dalam kaitan dengan organisasi, Robbins dalam Sumartinie (2004;
40) mengemukakan bahwa:
Efektivitas adalah tingkat kemempuan organisasi untuk mewujudkan tujuan-tujuannya. Karena
itu efektivitas dapat dinilai melalui ketepatan waktu penylesaian suatu pekerjaan dan kualitas
pekerjaan.
Berdasarkan pengertian tersebut, efektivitas kerja merupakan suatu keberhasilan organisasi yang
dijalankan oleh pimpinan dalam menyelsaikan pekerjaan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Selain itu efektivitas kerja merupakan pengukuran dalam arti sejauhmana organisasi
melksanakan tugas sesuai sasarannya dengan melihat jumlah kualitas dari jasa yang telah
dihasilkan berdasarkan target yang telah ditentukan.
Penyelesaian kerja tepat pada waktunya merupakan suatu hal yang penting, sebab tujuan
organisasi tidak akan tercapai apabila tidak ditunjang oleh pelaksanaan pekerjaan yang efektif.
Steers dalam Jamin (1985; 45) menyatakan bahwa efektivitas dapat dilihat dari tiga aspek utama
yaitu ketepatan waktu, ketepatan kuantitas, dan ketepatan kualitas.
2.2. Kerangka Pemikiran
Fokus utama penelitian ini adalah persoalan yang erat kaitannya dengan implementasi kebijakan.
Anderson (1978; 25) mengemukakan bahwa policy implementation is the application of the
policy by the governments administrative machinery to the problem.
Grindle (1980; 6) mengemukakan bahwa implementation is a general process of administration
action that can be investigated at specific program level.
Kemudian Marshall dalam Edi Suharto (2005; 10) mendefinisikan kebijakan pemerintah
merupakan kebijakan dan upaya pemerintah yang berkaitan dengan tindakan-tindakan yang
memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan sosial warga negara melalui penyediaan
pelayanan sosial.
Birokrasi pemerintahan menginterpretasikan kebijakan pemerintah tersebut menjadi suatu
program. Jadi program dipandang sebagai kebijakan birokrasi karena dirumuskan oleh
birokrasi. Program lebih bersifat operasional dan khusus, dari suatu rencana umum pemerintah
dengan tujuan dan saranan yang lebih terperinci dan jelas (Wahab, 1991; 17).

Program merupakan rencana yang bersifat komprehensif yang sudah menggambarkan


sumberdaya yang akan digunakan dan terpadu dalam suatu kesatuan. Program tersebut
menggambarkan sasaran, kebijakan, prosedur, metode, standar dan pengeluaran. Semua itu
diperlukan dalam rangka untuk mempermudah proses pengendalian serta pembuatan alokasi
sumberdaya yang baik.
Lebih lanjut keberhasilan implementasi kebijakan pemerintah dapat diukur atau dilihat dari
proses pencapaian tujuan hasil akhir (output) yaitu tercapai atau tidaknya tujuan-tujuan yang
ingin dicapai. Dalam mengukur kinerja implementasi kebijakan menurut Edward III (1980; 10)
terdapat empat faktor dalam implementasi kebijakan: four critical facors or variables in
implementing public policy: communication, resources, disposition or attitudes, and bureaucratic
structure.
Untuk lebih memperjelas dari masing-masing faktor tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut:
1. Komunikasi (communication).
Komunikasi memegang peranan penting sebagai acuan pelaksana kebijakan untuk mengetahui
apa yang mereka kerjakan. Artinya, komunikasi dinyatakan dengan perintah dari atasan terhadap
pelaksana-pelaksana kebijakan sehingga penerapannya tidak ke luar dari sasaran yang
dikehendaki. Dimensi komunkasi meliputi tiga aspek
penting yaitu transmisi (transmission), kejelasan (clarity) dan konsistensi (consistency).
2. Sumberdaya (resources).
Untuk dapat mengimplentasi kebijakan secara efektif dibutuhkan sumber daya yang tidak hanya
mencakup jumlah sumber dayamanusia semata melainkan juga mencakup kemampuan sumber
daya yang mendukung pelaksana kebijakan tersebut. Sumber daya yang penting meliputi; staf
dengan jumlah yang sesuai dengan keahlian yang memadai, informasi harus relevan mengenai
bagaimana mengimplementasikan kebijakan sosial, kewenangan harus bersifat formal agar
perintah dapat dilaksanakan, dan fasilitas-fasilitas fisik atau sarana dan prasarana merupakan
faktor penting untuk melaksanakan tugas.
3. Sikap Pelaksana (disposition)
Agar implementasi dapat berjalan secara efektif, tidak hanya pelaksana (implementor) perlu
mengetahui apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka juga harus memiliki kemampuan dan
kemauan untuk menerapkan kebijakan tersebut.
4. Struktur Birokrasi (bureaucratic structure)
Struktur yang tepat dapat memberikan dukungan yang kuat terhadap implementasi kebijakan
supaya pelaksanaannya lancar. Dimensi ini meliputi SOP (Standard Operating procedure) dan
fragmentasi.
Menurut peneliti, keempat faktor di atas akan sangat menentukan terhadap keberhasilan
implementasi kebijakan pemerintah daerah kepada masyarakat (public), karena dapat dikatakan
bahwa semua kebijakan yang dibuat dan diimplementasikan oleh
pemerintah daerah adalah untuk tujuan mengatur, mengurus, melayani semua kepentingan
masyarakat. Salah satu implementasi pemerintah dalam menjalanlan fungsi pelayanannya kepada
masyarakat adalah tentang penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga.
Lebih lanjut mengenai hubungan implementasi kebijakan pemerintah dengan efektivitas, Gibson
et.al. dalam Barnard (1994; 27) menyatakan bahwa efektivitas adalah pencapaian sasaran yang
telah disepakati sebagai usaha bersama. Tingkat pencapaian sasaran itu menunjukkan tingkat
efektivitas.
Penyelesaian kerja tepat pada waktunya merupakan suatu hal yang penting, sebab tujuan
organisasi tidak akan tercapai apabila tidak ditunjang oleh pelaksanaan pekerjaan yang efektif.

Steers dalam Jamin (1985; 45) menyatakan bahwa efektivitas kerja dapat dilihat dari tiga aspek
utama yaitu (1) Ketepatan Waktu, (2) Ketepatan Kuantitas, dan (3) Ketepatan Kualitas.
Berdasarkan teori, konsep dan definisi di atas peneliti berasumsi bahwa efektivitas kerja menjadi
salah satu syarat yang harus diperhatikan oleh organisasi atau lembaga pemerintahan. Hal itu
dikarenakan tercapainya efektivitas kerja akan terlihat dari adanya peningkatan kualitas,
kuantitas, dan ketepatan waktu di dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan.
Berdasarkan keseluruhan paparan di atas maka peneliti mengajukan kerangka penelitian ini
sebagai berikut:
Gambar 2: Kerangka Pemikiran
Efektivitas Penanganan Anak
Korban KDRT di Dinas Sosial Kota Bandung (Y)
1. Ketepatan Waktu
2. Ketepatan Kuantitas
3. Ketepatan Kualitas
Implementasi Kebijakan
Pemerintah Tentang Perlindungan Anak (X)
1. Komunikasi
2. Sumberdaya
3. Disposisi
4. Struktur Birokrasi
2.3. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, peneliti mengajukan hipotesis penelitian sebagai
berikut: Besarnya pengaruh implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak
terhadap efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga di Dinas Sosial
Kota Bandung ditentukan oleh komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi.
III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini didesain menggunakan metode penelitian kuantitatif. Tipe penelitian ini adalah
kausalitas, yaitu akan menguji pengaruh implementasi kebijakan pemerintah tentang
perlindungan anak terhadap penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga di Dinas
Sosial Kota Bandung.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu melalui studi kepustakaan,
studi lapangan melalui observasi, wawancara, serta penyebaran angket (kuesioner).
Teknik analisis data dalam penelitian ini akan dilaksanakan dengan dua teknik, yaitu teknik
analisis kualitatif dan teknik analisis kuantitatif. Analisis kualitatif pada dasarnya ingin
menggambarkan hasil jawaban responden dengan membuat pembobotan pada setiap alternatif
jawaban yang kemudian ditabulasikan dalam bentuk tabel. Hasil tabulasi tersebut akan
digunakan dalam pengkategorian setiap dimensi dari hasil jawaban responden dengan langkahlangkah sebagai berikut:
a. Nilai indeks minimum adalah skor minimum dikali jumlah pertanyaan dikali jumlah
responden.
b. Nilai indeks maksimum adalah skor tertinggi dikali jumlah pertanyaan dikali jumlah
responden.
c. Interval adalah selisih antara nilai indeks maksimum dengan nilai indeks minimum.
d. Jarak interval adalah interval ini dibagi jumlah jenjang yang diinginkan.
Penentuan kategori dalam ukuran prosentase dilakukan dengan penghitungan sebagai berikut:
* Skor minimum dalam persentase %100xMaksimumSkorMinimumSkor

%10051x
= 20%
* Skor maksimum dalam persentase x100%
Maksimum Skor
Minimum Skor
%10055x
= 100%
* Interval dalam persentase = Skor maksimum Skor minimum
= 100% - 20%
= 80%
* Panjang interval dalam persentase %100xJenjangInterval
= 16%
Kategori skor jawaban responden untuk masing-masing item penelitian adalah sebagai berikut:
Interval Tingkat Intensitas
Kriteria
20% - < 36%
Sangat Rendah, Sangat Tidak Baik
36% - < 52%
Rendah, Tidak Baik
52% - < 68%
Cukup Tinggi, Cukup Baik
68% - < 84%
Tinggi, Baik
84% - 100%
Sangat Tinggi, Sangat Baik
5%80
Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dengan
menggunakan uji statistic yang relevan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat
analisis jalur (Path Analysis). Analisis jalur digunakan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor
komunikasi, sumberdaya, sikap para pelaksana, dan factor struktur birokrasi (X) terhadap
Efektivitas Penanganan Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Y). Dengan
menggunakan teknik analisis tersebut diharapkan akan diperoleh generalisasi yang bersifat
terpadu.
Karena data yang diperoleh dari kuesioner merupakan data ordinal, maka data tersebut diubah
skala pengukurannya menjadi skala interval dengan menggunakan method of successive interval.
Adapun langkah-langkah untuk melakukan transformasi data adalah sebagai berikut:
a. Berdasarkan jawaban responden, untuk setiap pernyataan, hitung frekuensi setiap jawaban.
b. Berdasarkan frekuensi yang diperoleh, untuk setiap pernyataan, hitung proporsi setiap
jawaban.
c. Berdasarkan proporsi tersebut, untuk setiap pernyataan, hitung proporsi kumulatif untuk setiap
pilihan jawaban.
d. Untuk setiap pernyataan, tentukan nilai batas untuk Z pada setiap pilihan jawaban.
e. Hitung nilai numeric penskalaan untuk setiap pilihan jawaban melalui rumus sebagai berikut:
LimitLowerBelowatAreaLimitUpperBelowatAreaLimitUpperatDensityLimitLoweratDensityValu
eScala
Keterangan:

Density at Lower Limit = Densitas Batas Bawah


Density at Upper Limit = Densitas Batas Atas
Area at Below Upper Limit = Daerah di Bawah Batas Atas
Area Below Lower Limit = Daerah di Bawah Batas Bawah
f. Hitung skor (nilai-hasil factor-faktor) untuk setiap pilihan jawaban dengan persamaan berikut:
Score = Scale Value + [Scale value minimum] + 1
Setelah diperoleh data interval, uji hipotesis menggunakan analisis jalur. Untuk menjawab
hipotesis kerja yang diajukan penulis, dilihat dari koefisien jalur masing-masing variable
independennya (Xi terhadap Y). Jika koefisien jalur tidak nol (Pyxi 0), maka hipotesis kerja
terbukti kebenarannya.
Langkah-langkah untuk melakukan analisis jalur adalah sebagai berikut:
a. Hitung matrik korelasi antar variabel penelitian
1111111XkXYXkXkKYXYKkYXrrrrrrR
Dimana koefisien korelasi dihitung dengan menggunakan rumus:
7,6,5,4,3,2,1,])(][)([21212121111iYYnXXnYXYXnrihnhihnhihnhihnhhnhihnhhihnhyxi
b. Hitung Matrik Invers Korelasi untuk variable penyebab.
Matrik Korelasi antar Variabel Penyebab Matrik Invers Korelasi Penyebab
111...21221121XkXXkXXkXXXKkXXXrrrrrrxkRxi
kkkkkkXkXCCCCCCCCCR2122212112111...1
c. Hitung Koefisien Jalur.
D 41xxr
D 31xxr
D 21xxr
D 32xxr
D 42xxr
D 43xxr
D 1yxp
D 2yxp
D 3yxp
D 4yxp

rrrXRP211...1
d. Hitung R y(x1,x2, x3, x4) yang merupakan koefisien determinasi total X1, X2, X3, X4
terhadap Y.
YXkYXYXYXkYXYXXkYXrrrXPPPR21212...1
e. Hitung Py yang merupakan koefisien jalur dari variable lain yang tidak termasuk dalam model
dengan rumus:
2)...21(1XkXXYYRP
f. Menghitung pengaruh langsung dan tidak langsung.
Pengaruh Langsung:
Y Xi Y : (Pyxi) (Pyxi) x 100%
Pengaruh Tidak Langsung:
Y Xi Xj Y : (Pyxi) (rxjxi) (Pyxi) x 100%
Total pengaruh dari masing-masing variable X terhadap variable Y diperoleh dengan
menjumlahkan pengaruh langsung dengan pengaruh tidak langsung.
Atau: Total Pengaruh = Pengaruh Langsung + Pengaruh Tidak Langsung
YXkYXYXXkXYXi

Dari perhitungan di atas akan diperoleh masing-masing nilai dalam paradigma penelitian di
bawah ini:
X1
X2
X3
X4
Y

IV. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


Setelah melakukan pengujian dari variable-variabel implementasi kebijakan yaitu komunikasi,
sumber daya, sikap pelaksana, dan struktur birokrasi mengenai implementasi implementasi
kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak terhadap efektivitas penanganan anak korban
kekerasan dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung, berikut ini penulis akan
melakukan pembahasan hasil penelitian dengan berpijak pada hasil pengujian hipotesis pada
masing-masing dimensi variabel implementasi kebijakan.
Hasil pengujian menyatakan bahwa dimensi komunikasi dari variabel implementasi kebijakan
pemerintah tentang perlindungan anak mempunyai pengaruh positif terhadap efektivitas
penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung. Hal ini
berarti bahwa efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga salah satunya
ditentukan oleh komunikasi pada implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak.
Dengan demikian, untuk lebih meningkatkan efektivitas penanganan anak korban kekerasan
dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung, hendaknya aturan mengenai kebijakan
pemerintah dalam perlindungan anak dapat dikomuniasikan dengan baik sehingga setiap aturan
dan prosedur pada pelaksanaan efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah
tangga dapat dipahami dan diikuti oleh seluruh aparat pemerintah yang berwenang. Fungsi
komunikasi dari implementasi kebijakan pemerintah mengenai perlindungan anak meliputi tiga
aspek yaitu kesadaran, kejelasan, dan konsistensi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Edward III (1980; 10) dimana dimensi komunikasi meliputi
transformasi (transmission), kejelasan (clarity), dan konsistensi
(consistency). Aspek kejelasan menghendaki agar kebijakan tidak hanya disampaikan pada
pelaksana tapi juga pada kelompok sasaran dan pihak lain yang berkepentingan. Aspek
transformasi menghendaki agar kebijakan publik dapat ditransformasikan kepada para peleksana,
kelompok sasaran, dan pihak lain yang terkait. Aspek konsitensi menghendaki agar kebijakan
ditransmisikan kepada para pelaksana, kelompok sasasran, dan pihak yang terkait langsung
maupun tidak langsung.
Dari hasil pengujian statistik pada pembahasan sebelumnya, menyatakan juga bahwa dimensi
sumber daya dari variabel implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak
mempunyai pengaruh positif terhadap efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam
rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung. Hal ini berarti bahwa efektivitas penanganan anak
korban kekerasan dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung, salah satunya ditentukan
oleh sumber daya pada implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak.
Dengan demikian untuk lebih meningkatkan efektivitas penanganan anak korban kekerasan
dalam rumah tangga hendaknya didukung oleh ketersediaan sumber daya yang ada. Dukungan
sumber daya tersebut tentunya akan memperlancar dan mempermudah aparat pemerintah serta
pihak yang terkait dalam efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga.
Sumberdaya yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan anak korban
kekerasan dalam rumah tangga antara lain adanya ketersediaan pegawai/aparat yang kompeten,
dana yang memadai, kewenangan yang jelas, serta adanya ketersediaan fasilitas sarana dan

prasarana yang memadai. Hal ini sesuai dengan pendapat Edward III (1980; 17) bahwa sumbersumber penting dalam mendukung pelaksanaan implementasi kebijakan pemerintah antara lain
staf, kewenangan, dan fasilitas.
Dari hasil pengujian statistik pada pembahasan sebelumnya terkaji bahwa dimensi sikap
pelaksana (disposisi) dari variabel implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan
anak mempunyai pengatuh positif terhadap efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam
rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung. Hal ini berarti bahwa peningkatan efektivitas
penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga salah satunya ditentukan oleh sikap
pelaksana (disposisi) implementasi kebijakan. Dengan demikian untuk lebih meningkatkan
efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga, hendaknya implementasi
kebijakan pemerintah didukung oleh motivasi dan kemauan dari aparat pemerintah itu sendiri.
Penerapan kebijakan dilaksanakan secara efektif apabila aparat pelaksana selain mengetahui apa
yang akan dikerjakan, juga memiliki kemampuan untuk menerapkannya. Tuntutan kemampuan
dalam melaksanakan kebijakan didukung dengan adanya kemauan untuk menerapkan kebijakan
tersebut. Dalam pelaksanaannya aparat sangat penting dalam implementasi kebijakan pemerintah
tentang perlindungan anak karena sumber informasi yang dibuthkan pihak-pihak terkait dalam
penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga, yang utama adalah dari aparat
pemerintah yang langsung terjun ke lapangan.
Peranan aparat pemerintah tentunya perlu didukung oleh kesediaan sarana dan prasarana dalam
menyampaikan kebijakan pemerintah tersebut kepada pihak-pihak terkait dalam penanganan
anak korban kekerasan dalam rumah tangga, didukung oleh pendanaan yang memadai serta
kewenangan yang jelas dalam penyampaian informasi tersebut. Kemudian untuk mengatasi
tindakan penyelewengan dan pelanggaran yang dilakukan aparat pelaksana kebijakan, salah
satunya dengan memberikan insentif dalam berbagai bentuk yang diperkirakan dapat mendorong
ke arah perilaku yang positif. Hal
ini sesuai dengan pendapat Edward III (1980;107) dimana pemberian insentif dapat berupa
materi, regulasi-regulasi kebijakan atau bahkan pemberian sanksi, akan mengurangi
kecenderungan perilaku penyimpangan pelaksanaan tugas dan mendorong para pelaksana
kebijakan untuk berperilaku positif dalam melaksanakan tugasnya.
Dari hasil pengujian statistik pada pembahasan sebelumnya terkaji bahwa dimensi struktur
birokrasi dari variabel implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak
mempunyai pengaruh positif terhadap efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam
rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung. Hal ini berarti bahwa peningkatan efektivitas
penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga salah satunya ditentukan oleh struktur
birokrasi pada implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak.
Dengan demikian untuk lebih meningkatkan efektivitas penanganan anak korban kekerasan
dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota Bandung, prosedur yang jelas dalam penanganan anak
korban kekerasan dalam rumah tangga dapat menyeragamkan tindakan-tindakan dari para
pejabat dalam organisasi yang kompleks dan tersebar luas yang pada gilirannya dapat
menimbulkan fleksibilitas dan kesamaam yang selaras dalam menerapkan peraturan-peraturan.
Pada pelaksanaannya terkadang implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak
tidak dapat dilaksanakan secara optimal. Hal ini dikarenakan banyak kepentingan-kepentingan
adari aparat pemerintah sendiri sehinga aturan dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah tersebut
tidak dapat dikoordinasikan dengan pihak terkait yang berhubungan dalam pelaksanaan program
pemerintah tersebut. Perbedaan ini akan berpengaruh pada implementasi kebijakan pemerintah
tentang perlindungan

anak, khususnya pada efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa minimal satu diantara Dimensi
Komunikasi, Sumber Daya, Disposisi atau Sikap Pelaksana dan Struktur Birokrasi berpengaruh
terhadap Efektivitas Penanganan Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Di Dinas Sosial
Kota Bandung, atau dengan kata lain implementasi kebijakan pemerintah mempengaruhi
efektivitas penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga di Dinas Sosial Kota
Bandung.
Itu berarti pula bahwa semakin baik pelaksanaan implementasi kebijakan pemerintah tentang
perlindungan anak, maka semakin efektif penanganan anak korban kekerasan dalam rumah
tangga di Dinas Sosial Kota Bandung.
5.2. Saran
5.2.1. Saran Akademik
1. Berpijak pada kesimpulan di atas, peneliti mengajukan konsep koordinasi yang sinergis dan
terintegrasi di kalangan para pemangku kepentingan perlindungan anak, khususnya dalam
penanganan anak korban kekerasan dalam rumah tangga.
5.2.2. Saran Praktis
1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam pelaksanaan implementasi kebijakan
pemerintah tentang perlindungan anak di Dinas
Sosial Kota Bandung dengan mengadakan pelatihan-pelatihan secar intensif dan berkala.
2. Sarana dan prasarana dalam implementasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak
agar dilengkapi dan dipenuhi sesuai kebutuhan.
3. Lebih mengintensifkan komunikasi/sosialisasi kebijakan pemerintah tentang perlindungan
anak kepada pihak-pihak yang terkait.

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku
Achlis. 1982. Pekerjaan Sosial Sebagai Profesi dan Proses Pertolongan. Bandung: STKS.
Barker, Robert L. 1978. The Social Work Dictionary, National Association of Social Workers,
Maryland. Silver Spring.
Dubois, Brenda and Miley, K.K. 1992. Social Work an Empowering Profession. USA. Allyn and
Bacon.
Dunn, Willian N. 1998. Pengantar Analisis kebijakan Publik, terjemahan Muhadjir Darwin.
Yogyakarta: Gadjahmada University Press.
Dwi Heru Sukoco. 1991. Profesi Pekerjaan Sosial dan Proses Pertolongannya. Bandung:
KOPMA STKS.
Edward III, George C. 1980. Implementing Public Policy. Washington D.C.: Congressional
Quarterly Press.
Edward III, George C. and Sarkansky. 1980. The Policy Predicament. San Francisco: W.H.
Freeman and Company.
Grindle, Merilee S. 1980. Politics and Policy Implementation in the Third World. New York:
Princeton University Press.
Handayaningrat, Soewarno. 1996. Pengantar Studi Administrasi dan Manajemen. Jakarta:
Gunung Agung.
Heise L. Ellsberg. 1999. Ending Violence Against Women Population Report. University School
of Public Health. Population Health Program.

Hoogerwerf, A. 1983. Ilmu Pemerintahan. Jakarta: Erlangga.


Hudri. 1994. Ensiklopedia Mini Pekerjaan Sosial. Bandung: BPLTS.
Islamy M. Irfan. 2001. Prinsip-prinsip Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi Aksara.
Juwairiyah Dahlan. 1999. Peranan Wanita dalam Islam (Studi tentang Wanita Karier dan
Pendidikan Anak. Disertasi. Yogyakarta: PPS IAIN Suka
Kartini Kartono. 1977. Psikologi Wanita. Bandung: Alumni.
Kasni Hariwoejanto. 1986. Metodologi dan Praktek Pekerjaan Sosial. DEPSOS RI BPLTS:
Percetakan Mitra Anda.
Kedaulatan Rakyat. 2009. Selama 2009, Kasus KDRT Peringkat Teratas. Rabu, 6 Januari 2010
Kendall, P. C & Hammen, C. 1984. Abnormal Psychology Understanding Human Problems.
Boston: Houghton Mifflin Company.
Kirst-Ashman Karen K, Hull Grafton H. 1993. Understanding General Practice. Chicago:
Nelson Hall Publisher.
Kornbit. 1994. Domestic Violence: An Emergency Health Issue. London: Sage Publication.
Mazmanian, Daniel A., and Paul A. Sabatier. 1983. Implementation and Public Policy. Illinois:
Scoot, Foresman and Company.
Mohamad Ali. 1984. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung : Sinar Baru.
Nasution, S. 1987. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta : Bina
Aksara.
Perlman, Helen Haris. 1975. Social Casework.: Model and Method. FF Peacock Publisher. Inc
Itasca Illionois.
Pincus, Allen and Minahan, Anna. 1973. Social Work Practice: Model And Method. FF Peacock
Publisher. Inc Itasca Illinois.
Rakhmat, Jalaluddin. 1999. Psikologi Komunikasi, (Edisi Revisi), Bandung. Remaja Rosdakarya.
Rakhmat.1999. Tindakan Kekerasan Terhadap Anak dalam MIF Baihaqi (Ed.) Anak Indonesia
Teraniaya, Bandung. Remaja Rosdakarya.
Robert Ebel L. 1972. Essentials of Educational Measurement. New Jersey : Prentice Hall Inc.
Englewood Clift.
Rusmil, Kusnandi. 2004. Penganiayaan dan Kekerasan Terhadap Anak. Makalah disampaikan
pada Seminar Penanganan Korban Kekerasan Pada Wanita dan Anak. Tanggal 19 Juni di RS
Hasan Sadikin Bandung.
Sidney, Siegel. 1997. Stasistik Nonparametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: PT gramedia
pustaka utama
Siporin, Max. 1975. Introduction To Social Work Practice. Macmillan Publishing, Co.Int
Soetarso. 1993. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Jakarta : Bina Aksara
Soetarso. 1993. Praktek Pekerjaan Sosial. Bandung: STKS
Sudjana. 1997. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito
Suharto, Edi. 1997. Pembangunan Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung: Lembaga
Studi Pembangunan LSP-STKS.
Suharto, Edi. 2004. Permbangunan Kebijakan Sosial dan Pekerjaan Sosial. Bandung: STKS.
Suharto, Edi. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.
Suharto, Edi. 2006. Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat. Bandung: P.T. Refika
Aditama.
Suharto, Edi. 2007. Kebijakan Sosial sebagai Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.
Sukarsimih, Arikunto. 1997. Prosedur Penelitian., Suatu Pendektan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta

Suparlan, Y.B. Kamus Istilah Pekerjaan Sosial. Yogyakarta: Kanisius.


Susilaningsih. (1997). Dinamika Kelompok Keagamaan sebagai Pendorong Usaha Peningkatan
Kesejahteraan Ekonomi Keluarga. Yogyakarta : Fak. Tarbiyah IAIN Suka.
Van Meter, D.S., dan C.E. Van Horn. 1978. The Policy Implementation Process: A Conceptual
Framework, Administration and Society, Vol. 6, No. 4, Sage Publications Inc.
Wahab, S. 2000. Pengantar Analisis Kebijaksanaan Negara. Jakarta: P.T. Rineka Cipta.
Willis, Sofyan. 2004. Konseling Individual. Bandung: Alfabeta.
World Health Organization. 1997. Protocol for Multi-Country Study on Domestic Violence.
Geneva. World Health Organization.
2. Dokumen Resmi
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga.
Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa.
1 BAB I PENDAHULUAN
1 I. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan karunia dan amanah Tuhan Yang Maha Esa yang harus dijaga
dengan baik, dalam tumbuh kembangnya menjadi manusia dewasa, anak juga memiliki
harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya, yang perlu mendapat perlindungan
dan perhatian secara khusus, agar anak dapat bertumbuh kembang secara baik dan
berkualitas sebagai generasi penerus bangsa.
Perlindungan hak anak kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk
langkah-langkah kongkrit perlindungan terhadap hak-hak anak. Demikian juga upaya
untuk melindungi hak-hak anak yang dilanggar oleh negara, orang dewasa atau bahkan
orang tuanya sendiri.1
1 Absori,

Perlindungan Hukum Hak-Hak Anak Dan Implementasinya Di Indonesia Pada Era Otonomi Daerah,
(Surakarta: Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008) hlm.14 2 KPAI-RWI, RWI-KPAI,
Ringkasan Acara dan Sumber Buku Pegangan Lokakarya Konsultatif Sistem Peradilan Anak 2009 (Jakarta, 2010),
hlm.21

Dalam kenyataannya anak yang merupakan aset bangsa tersebut sering menghadapi
masalah hukum, kurang lebih sekitar 4.000 anak Indonesia diajukan ke pengadilan
setiap tahunnya atas kejahatan seperti pencurian, pemerasan, dan lain-lain. (sumber
data diperoleh dari Ditjen Pas, dikutip dari Analisis Situasi Anak yang Berhadapan
dengan Hukum di Indonesia, UNICEF/UI, 2009).2
2

Anak-anak dalam kondisi demikian disebut dengan anak yang berkonflik dengan hukum
(children in conflict with the law),3 yang dalam praktik hukum di negara Indonesia
digunakan istilah Anak yang Berhadapan dengan Hukum, adapun anak yang
berhadapan dengan hukum tersebut adalah mereka yang berhubungan dengan proses
peradilan, dengan klasifikasi:
3 Yayasan

Pemantau Anak, Bahan Masukan Draft Laporan Alternatif (Inisiatif) Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik
(Pasal 10):Praktek-Praktek Penanganan Anak Berkonflik Dengan Hukum Dalam Kerangka Sistem Peradilan
Pidana Anak (Juvenile Justice System) Di Indonesia : Perspektif Hak Sipil Dan Hak Politik
(www.hukumonline.com) diunduh 20 Oktober 2011)

1 1) Anak sebagai saksi;


2 2) Anak sebagai korban; dan
3 3) Anak sebagai pelaku

Dalam UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, istilah mengenai ABH
baru saja diperkenalkan, sedangkan istilah restorative justice sudah lebih sering
dipergunakan. Penggunaan istilah restorative justice telah ada sejak dibuatnya Surat
Keputusan Bersama (SKB) tentang Penanganan Anak yang Berhadapan dengan
Hukum tanggal 22 Desember 2009, yang dikeluarkan bersama-sama oleh instansi
terkait, yaitu:
1 1) Mahkamah Agung R.I. Nomor: 166 A/KMA/SKB/XII/2009
2 2) Jaksa Agung R.I. Nomor: 148 A/A/JA/12/2009
3 3) Kepala Kepolisian Negara R.I. Nomor: B/45/XII/2009
4 4) Menteri Hukum dan HAM R.I. Nomor: M.HH-08 HM.03.02 Tahun 2009
5 5) Menteri Sosial R.I. Nomor: 10/PRS-2/KPTS/2009
6 6) Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak R.I. Nomor:
02/Men.PP dan PA/XII/2009
3

Dengan adanya SKB tersebut kemudian istilah Restorative Justice resmi berlaku
secara yuridis, namun dengan menggunakan terjemahan bahasa Indonesia yaitu
keadilan restoratif.4 Lembaga restorative justice secara formal belum termuat dalam
UU Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak sebagai hukum positif yang berlaku
saat ini (ius constitutum). Dengan telah disahkannya Convention on the rights of the
child atau Konvensi Hak Anak melalui Keppres Nomor 36 Tahun 1990 seharusnya
ajaran restorative justice terhadap anak sudah dapat diberlakukan di dalam UU Nomor
3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak, namun kenyataannya belum ada dan baru
diformulasikan dalam RUU Sistem Peradilan Pidana Anak yang akan diberlakukan di
masa datang. Berdasarkan RPJMN tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, kebijakan
perlindungan anak diarahkan pada hal-hal sebagai berikut:
4 Day

A.J., S.H, Catatan materi kuliah Restorative Justice dan Diversi dalam penanganan ABH, (Jakarta: Pusdiklat
Kejaksaan Agung R.I, Diklat ABH tanggal 1 s/d 14 Maret 2011).

1 1. Peningkatan akses terhadap pelayanan yang berkualitas, peningkatan


partisipasi anak dalam pembangunan, dan upaya menciptakan lingkungan yang
ramah anak dalam rangka mendukung tumbuh pertambanang/anak 2000
2 2. Dan kelangsungan hidup anak, Peningkatan perlindungan anak dari
kekerasan dan diskriminasi
3 3. Peningkatan efektivitas kelembagaan perlindungan anak.
4

Dalam kaitannya dengan kapasitas anak sebagai pelaku pada umumnya mereka tidak
mendapatkan dukungan dari pengacara maupun dinas sosial, maka tidaklah
mengejutkan, sembilan dari sepuluh anak ini akhirnya dijebloskan ke penjara atau
rumah tahanan. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa 90 % dari anak yang
berhadapan dengan proses peradilan dijatuhi vonis berupa pemidanaan (penjara). 5
Tingginya tingkat penjatuhan pidana penjara terhadap anak dalam penegakkan hukum
dibandingkan dengan penjatuhan alternatif pemidanaan lainnya, mencerminkan
mengenai bagaimana penegakkan hukum anak dilaksanakan dalam praktek peradilan.
Kondisi dan fakta tersebut sangat memprihatinkan, karena banyak anak yang harus
atau terpaksa menghadapi proses peradilan, banyak anak di tempat penahanan dan
pemenjaraan seringkali ditempatkan bersama dengan orang-orang dewasa. Kondisi
tersebut dikarenakan belum adanya fasilitas penahanan khusus anak yang disediakan
oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, yang di dalam daerahnya terdapat

Rutan/Lapas dan baru ada di beberapa kota besar saja, seperti: LP anak Tanggerang,
LP anak Kutoarjo, LP anak Balikpapan, dan beberapa kota lainnya, namun demikian
itupun dengan fasilitas yang kurang memadai dan minim.
5 Op.Cit,

hlm 24

Fenomena penjatuhan pidana penjara terhadap anak, pada kenyataannya justru


menempatkan anak-anak pada situasi rawan menjadi
5

korban berbagai tindak kekerasan oleh para pelaku kejahatan dewasa ketika mereka
menjalani masa pemidanaan.
Dalam praktiknya penyelesaian perkara anak berhadapan dengan hukum dan sistem
peradilan memiliki konsekuensi merugikan bagi anak dan masyarakat, diantaranya
adalah:
1 1) Pengalaman kekerasan dan perlakuan salah selama proses peradilan (pelaku,
korban atau saksi);
2 2) Stigmatisasi/labelisasi kriminal
3 3) Pengulangan perbuatan/recidive
Seiring dengan perkembangan zaman, dan dengan mendasarkan pada konvenan
internasional yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan
Presiden R.I Nomor 36 tahun 1990 tentang Konvensi Anak. Dengan mendasarkan pada
kepentingan terbaik bagi anak kemudian muncullah istilah Restorative Justice (RJ)
yang merupakan hal baru dan akhir-akhir ini dikenal dalam sistem peradilan pidana
Indonesia. khususnya dalam penanganan anak yang berkonflik dengan hukum atau
yang biasa diistilahkan dengan ABH. Penyelesaian model restorative justice tersebut
belum dapat di terapkan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia, karena belum ada
acuan/legal standing/pedomannya.
Restorative Justice merupakan salah satu cara (alternatif) penyelesaian perkara pidana
anak di luar jalur konvensional (peradilan). Dengan adanya Restorative Justice, maka
penyelesaian perkara pidana
6

anak yang berkonflik dengan hukum tidak melulu harus melalui jalur peradilan. Dalam
perkembangannya kemudian disusun RUU Sistem Peradilan Pidana Anak, yang
didalamnya menyebutkan mengenai istilah keadilan restoratif yang diartikan sebagai
suatu penyelesaian secara adil yang melibatkan pelaku, korban, keluarga mereka dan
pihak lain yang terkait secara bersama sama mencari penyelesaian terhadap tindak
pidana tersebut dan implikasinya dengan menekankan pemulihan kembali pada
keadaan semula bukan pembalasan.
Penyelesaian dengan model keadilan restoratif di New Zealand disebut Family
Conference. Di New Zealand penerapan model Restoratif Justice ini telah berjalan
sejak lama dan berhasil dengan baik. Sedangkan di Indonesia ajaran tentang
restorative justice di Indonesia baru mulai diperhatikan semenjak dirancangnya UU
Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak terutama dalam ruang lingkup sistem
peradilan pidana anak atau dalam istilah asing dikenal dengan istilah Juvenile Justice
System (JJS). Pada saat itu timbullah ide untuk secara expresis verbis
memasukkannya ke dalam perundang-undangan kita dengan merevisi UU tentang
Pengadilan Anak dalam bentuk RUU Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang
saat ini masih menjadi bahan pembahasan di DPR. 6

www.hukumonline.com (diunduh tanggal 14 Oktober 2011)

Ide keadilan restoratif ini semata-mata bukan merupakan perubahan terhadap model
peradilan retributive, sistem ini merupakan
7

perubahan paradigma yang signifikan dengan serangkaian tujuan dan sasaran yang
sama sekali berbeda.7
7 RWI-KPAI,

Loc.cit hal.12 8 KPAI-Raoul Wallenberg Institut of Human Rights and Humanitarian Law (RWI),
Ringkasan Acara dan Sumber Buku Pegangan, Lokakarya Konsultatif Sistem Peradilan Anak 2009 (Jakarta: 2010),
hlm.13

Lahirnya pemikiran tentang model restorative justice diharapkan anak akan mendapat
hak yang semestinya. Dalam keadilan restoratif ini fokusnya adalah pada penyelesaian
masalah, tanggungjawab, kewajiban dan masa depan apa yang harus dilakukan,
dengan melakukan dialog dan negosiasi normal, sebagai cara untuk memberikan
pemulihan kepada dua belah pihak rekonsiliasi/restorasi sebagai tujuan akhir.8
Penjatuhan sanksi pidana penjara terhadap anak-anak yang selama ini diterapkan
dalam praktek peradilan, telah menjadi fenomena nyata dalam dunia penegakkan
hukum di Indonesia. Dengan alasan bahwa penjatuhan pidana penjara tersebut pada
akhirnya dijadikan alasan sebagai salah satu tujuan pemidanaan yaitu untuk membuat
jera pelaku tindak pidana yang notabene masih anak-anak. Penjatuhan pidana berupa
pidana penjara terhadap anak nakal dalam prakteknya selama ini dirasa belum cukup
efektif untuk memberikan efek jera (sebagai pembalasan) untuk mencegah terjadinya
pidana yang dilakukan oleh anak-anak (sebagai upaya preventif) dan belum cukup
efektif dalam mencegah anak untuk tidak mengulangi lagi perbuatan jahat yang pernah
dilakukannya.
8

Penjatuhan pidana penjara terhadap anak nakal tersebut disinyalir justru meningkatkan
kemampuan kriminal anak (criminal action) setelah mereka selesai menjalani pidananya
dan kembali ke dalam lingkungan masyarakat (resosialiasasi).
Salah satu faktor paling berpengaruh adalah fasilitas penjara layak anak di Indonesia
masih terbatas dan dinilai belum layak, sehingga dalam pelaksanaan pidana penjara,
tahanan anak tersebut ada yang dicampur dengan tahanan dewasa, sehingga
dimungkinkan si anak pada saat menjalani proses pemidanaannya
dipengaruhi/terpengaruh oleh tahanan dewasa. 9 Berdasarkan uraian di atas, maka
diperlukan adanya suatu pemahaman baru yang dapat menjadi jalan keluar bagi
masalah delinkuensi anak Indonesia. Ide restorative justice sebagai penyelesaian non
pemenjaraan (non custodial) diharapkan mampu menjadi alternatif penanganan anak
delinkuen, dengan tujuan utama penghindaran stigmatisasi buruk terhadap anak
delinkuen. Sehingga akhirnya penulis tertarik untuk mengambil judul: RESTORATIVE
JUSTICE SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN PERKARA ANAK DELINKUEN.
9 Suara

Melani, Setop Penayangan & Hindari Pemenjaraan Anak (diunduh 14 Oktober 2011)
www.pikiranrakyat.com/cetak/0603/16/teropong

1 II. Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas, penulis merumuskan permasalahan utama dalam penulisan
RESTORATIVE JUSTICE SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN PERKARA ANAK
DELINKUEN dengan pembatasan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1 a. Apa ide dasar restorative justice dalam penyelesaian perkara anak


delinkuen?
2 b. Bagaimana kebijakan formulasi keadilan restoratif terhadap anak dalam
hukum positif Indonesia saat ini?
3 c. Bagaimana kebijakan formulasi keadilan restoratif terhadap anak dalam
hukum positif Indonesia di masa datang?
1 III. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1 a. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dengan pokok permasalahan sebagaimana tersebut di atas, maka dapat
dikemukakan bahwa tujuan penelitian penulisan hukum dalam karya ilmiah ini adalah
sebagai berikut:
1 1) Menjelaskan ide dasar restorative justice dalam penyelesaian perkara anak
delinkuen.
2 2) Untuk mengetahui kebijakan formulasi keadilan restoratif terhadap anak dalam
hukum positif Indonesia saat ini.
3 3) Untuk mengetahui kebijakan formulasi keadilan restoratif terhadap anak dalam
hukum positif Indonesia di masa datang.
10

1 b. Manfaat Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan dan tujuan penelitian sebagaimana tersebut di atas,
maka dapat dikemukakan bahwa manfaat penelitian penulisan hukum dalam karya
ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1 1) Manfaat praktis bagi penentu kebijakan atau pelaksana kebijakan adalah agar
para praktisi hukum dapat memahami dan mempedomani setiap peraturan dan
teori serta pemikiran para pemerhati anak dalam fenomena sosial. Sehingga
dapat saling bekerjasama mengentaskan atau menyelesaikan permasalahan
anak delinkuen dengan mengedepankan prinsip kepentingan terbaik bagi anak,
sebagaimana diamanatkan oleh konvensi internasional yang telah diratifikasi
oleh pmerintah Indonesia dengan Keppres nomor 36 tahun 1990.
2 2) Manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu
hukum, diharapkan akan menghasilkan suatu sumbangan pemikiran baru yang
dapat membuat suatu terobosan pemikiran dalam bidang keilmuan yang pada
akhirnya akan berimplikasi ke arah pembentukan suatu peraturan yang
diberlakukan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum sebagai cita-cita
hukum di masa yang akan datang (ius constituendum), yang dapat menjadi
pedoman bagi para aparat
11

1 penegak hukum untuk mengaplikasikan dalam praktek peradilan sehingga


prinsip kepentingan terbaik bagi anak akan terwujud.
1 IV. Kerangka Pemikiran
1 a. Kerangka Konseptual

Sistem Peradilan Pidana dapat digambarakan sebagai suatu sistem yang bertujuan
untuk menanggulangi kejahatan, salah satu usaha masyarakat untuk mengendalikan
terjadinya kejahatan agar berada dalam batas-batas toleransi yang diterimanya 10.
Sistem ini dianggap berhasil apabila sebagian besar dari laporan dan keluhan
masyarakat bahwa mereka telah menjadi korban dari suatu kejahatan, dapat
diselesaikan dengan diajukannya pelaku ke muka sidang pengadilan dan menerima
pidana.11 Dalam sistem peradilan pidana didalamnya lembaga-lembaga yang bekerja
sama dalam sistem ini adalah kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga
pemasyarakatan. Dalam sistem ini terdapat sub sistem yaitu Polisi sebagai penyidik,
Jaksa sebagai penuntut umum, Hakim sebagai pemutus dan lembaga pemasyrakatan
yang kesemuanya harus bekerja sama secara erat.
10 Mardjono

Reksodiputro, Kriminologi dan Sistem Peradilan Pidana, (Jakarta: Pusat Pelayanan dan Pengbdian
Hukum Universitas Indonesia, 2007), hlm.140 11 Ibid

Ali Said Menteri Kehakiman Indonesia sebagaimana di kutip oleh Mardjono


Reksodiputro, mengemukakan bahwa Kita tidak akan
12

dapat mengharapkan sistem yang bekerja dengan baik itu, apabila tidak ada
keterpaduan dalam kegiatan unsur-unsur tersebut serta dalam kebhinekaan fungsi
masing-masing unsur sistem, maka penghayatan yang sama tentang tujuan sistem
peradilan pidana inilah yang akan membuktikan keterpaduan dari berbagai unsur
tersebut.12
12 Ibid,

hlm.143. 13 Ibid hlm.140

Dalam sistem peradilan pidana merupakan sistem yang berorientasi pada tujuan
bersama, menurut Mardjono Reksodiputro cakupan dalam sistem peradilan pidana ini
meliputi:13
1 a) Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan
2 b) Menyelesaikan kejahatan yang terjadi, sehingga masyarakat puas bahwa
keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah telah dipidana.
3 c) Berusaha agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi
lagi perbuatannya.
Demikian juga halnya dalam penanganan perkara anak delinkuen, dalam prakteknya
terkait erat dengan sistem yang didalamnya terdiri dari kepolisian, kejaksaan,
pengadilan, dan lembaga eksekusi (lembaga pemasyarakatan). Penegakan hukum
tersebut terkait erat dengan kebijakan criminal (criminal policy) atau
13

politik kriminal yang merupakan suatu usaha rasional untuk menanggulangi


kejahatan.14
14 Sudarto,

Hukum dan hukum Pidana, (Bandung: Alumni Bandung, 1981), hlm.38 15 Barda Nawawi Arief, Bunga
Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru), (Jakarta: Kencana Prenada
Media, 2010), hlm.4

Kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian


integral dari upaya perlindungan masyarakat (social defence) dan upaya Untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare). Dapat dikatakan bahwa tujuan
akhir dari politik kriminal (criminal policy) adalah perlindungan masyarakat untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat.15 Dalam kaitannya dengan penegakkan hukum
pidana terhadap anak delinkuen, maksud dan tujuannya adalah perlindungan
masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut

dalam hubungannya anak sebagai pelaku tindak pidana (anak delinkuen) dapat
diselesaikan melalui 2 (dua) cara yaitu penal dan non penal. Penanggulangan
delinkuensi anak erat kaitannya dengan kebijakan kriminal (criminal policy). Kebijakan
kriminal sebagai usaha rasional masyarakat untuk menanggulangi kejahatan, di dalam
gerak operasionalnya terarah pada dua jalur, yaitu kebijakan penal dan kebijakan non
penal.
Dalam bukunya yang berjudul Delinkuensi Anak (Pemahaman dan Penanggulanya),
Paulus Hadisuprapto mengatakan bahwa
14

penggunaan sarana penal atau jalur hukum pidana cenderung merugikan masa depan
anak karena membekaskan stigma pada anak. Delinquency adalah perilaku
kenakalan anak yang apabila dilakukan oleh orang dewasa dianggap kejahatan atau
pelanggaran hukum.
Namun demikian dalam kaitannya dengan penyelesaian perkara anak delinkuen melalui
jalur penal, sebagaimana dikemukakan oleh Barda Nawawi Arief, ada dua masalah
sentral dalam kebijakan kriminal dengan menggunakan sarana penal, yaitu mengenai
masalah penentuan :
1 1) Perbuatan apa yang seharusnya dijadikan tindak pidana;
2 2) Sanksi apa yang sebaiknya digunakan atau dikenakan kepada si
pelanggar.
Dengan adanya 2 (dua) permasalahan pokok dalam penggunaan sarana penal
tersebut, terlebih dalam kaitannya dengan masalah penegakkan hukum terhadap anak
delinkuen tentunya harus menjadi bahan renungan untuk mengupayakan suatu cara
terbaik bagi anak dengan mendasarkan pada prinsip kepentingan terbaik bagi anak,
sebagaimana diamanatkan oleh konvenan hak-hak anak.
Dalam kaitannya dengan penegakan hukum pidana terhadap anak telah diatur secara
khusus yaitu dalam UU nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Namun
pengaturan tersebut hanya terbatas pada aturan dan tata cara dalam beracara di
persidangan
15

yang tentunya terkait erat dengan praktek dalam penegakan hukum pidana dengan
pelaku tindak pidana yang masih masuk dalam kategori anak menurut undang-undang.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan
Anak yang dimaksud dengan anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah
mencapai umur 8 delapan) tahun akan tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas)
tahun dan belum pernah kawin 16. Penyelesaian perkara anak yang saat ini sedang
berjalan adalah penyelesaian dengan menggunakan sarana penal, dengan mengacu
atau berpedoman pada aturan yang berlaku (ius constitutum) dan peraturan
pelaksananya.
16 Undang-undang

tentang Pengadilan Anak, Undang-undang Nomor 3 tahun 1997, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia, Nomor 3668. 17 Paulus Hadisuprapto, Teori Kriminologi (Latar belakang intelektual dan
parameternya) (Malang: Selaras, 2011), hlm.62

Dalam bukunya sebagaimana dikutip oleh Paulus Hadi Suprapto, Albert Cohen dalam
teori subkulturnya mengemukakan bahwa semua anak-anak (semua individu)
cenderung mencari status. Walaupun tak semua anak-anak dapat mencapai status itu
secara terbuka. Hal ini dikarenakan keberadaan atau posisinya dalam struktur sosial,

anak-anak kelas bawah yang cenderung tak memiliki kecukupan materi dan
keuntungan simbolis.17
16

Berdasarkan teori subkultur yang dikemukakan oleh Albert Cohen, maka banyak hal
yang harus dipelajari dari perilaku anak delinkuen dengan menggunakan ilmu
kriminologi. Hal ini dikarenakan banyak faktor penyebab dilakukannya perbuatan
menyimpang oleh anak delinkuen.
Dengan demikian tidak semua anak delinkuen yang kemudian berlanjut dalam keadaan
berkonflik dengan hukum dan terpaksa berhadapan dengan proses hukum, perkaranya
harus diselesaikan dengan sarana penal, yang tentunya penyelesaian dengan
menggunakan sarana penal ini dapat menimbulkan masalah baru bagi si anak.
Dalam penyelesaian perkara anak delinkuen, diperlukan adanya suatu kebijakan yang
lebih baik dalam upaya melahirkan suatu ketentuan atau peraturan perundangundangan yang dapat dijadikan landasan yuridis bagi para penegak hukum untuk
menyelesaikan perkara anak delinkuen dengan mendasarkan pada ide Restorative
Justice, yang berkembang belakangan ini.
Maksud dan tujuan penerapan restorative justice diantaranya adalah untuk menghindari
stigmatisasi buruk terhadap anak yang terlanjur berkonflik dengan hukum, sehingga
diperlukan adanya suatu sarana non penal (non pemidanaan) sebagai alternatif
penyelesaian perkara pidana di luar sarana penal.
17

Pemikiran mengenai ide Restorative Justice ini muncul sehubungan dengan


diperlukannya upaya alternatif penyelesaian masalah ABH, selain melalui Peradilan
Anak. Hal ini sejalan dengan prinsip yg dianut Convention on the rights of the child
(CRC) dan juga sebagaimana telah diatur dalam UU Nomor 23 tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, khususnya menyangkut prinsip kepentingan terbaik bagi anak atau
dalam bahasa asingnya dikenal dengan istilah The Best Interest of The Child
sehingga adanya upaya-upaya hukum seperti: penangkapan, penahanan, pemidanaan
anak harus dilakukan sebagai upaya terakhir (the last resort) apabila upaya me-restore
keadaan tidak dapat diwujudkan oleh para pihak.
1 b. Kerangka Teoritik
2 1. Delinkuensi anak
Mengenai jenis perilaku delinkuen diatas, Dadang Hawari & Marianti Soewandi dalam
bukunya Remaja dan Permasalahannya membagi remaja yang melakukan perilaku
delinkuen dalam tiga kategori, yaitu:
1
a) Mereka yang berbuat nakal, disebabkan oleh karena memang
kepribadiannya sudah cacad (psychopatic personality), sebagai akibat
deprivasi emosional semasa kecilnya.18
18 H.

Dadang Hawari & CM. Marianti Soewandi, Remaja dan permasalahannya, Badan Pelaksana Penanggulangan Narkotika
dan Kenakalan Anak-Anak Remaja Jawa Timur (Surabaya: tanpa tahun) hlm.21

18

1 b) Mereka yang hanya ikut-ikutan, karena kebetulan sedang menginjak masa


remaja, yang mana pada dasarnya anak itu adalah anak baik, akan tetapi
mendapat pengaruh pada lingkungan yang kurang baik.
2 c) Mereka yang nakal sebagai akibat suatu penyakit syaraf yang dideritanya,
misalnya penyakit ayan atau epilepsi.

Selanjutnya Ernest R. Hilgard dalam bukunya Introduction to Psychology


mengelompokkan delinkuensi remaja dilihat dari pelaku perilaku tersebut kedalam dua
golongan, yaitu: 1) Social delinquency, yaitu delinkuen yang dilakukan oleh sekelompok
remaja, misalnya gang. 2) Individual delinquency, yaitu delikuensi yang dilakukan oleh
seorang remaja sendiri tanpa teman.19
19 Raema Andreyana, Masalah-Masalah Delinkuensi Remaja dalam Kartini Kartono, Bimbingan Bagi anak dan Remaja Yang

Bermasalah, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991), hlm 24.

1 2. Restorative Justice
Menurut Fruin J.A sebagaimana dikutip oleh Paulus Hadisuprapto, peradilan anak
restoratif berangkat dari asumsi bahwa tanggapan atau reaksi terhadap pelaku
delinkuensi anak tidak akan efektif tanpa adanya kerjasama dan keterlibatan dari
korban, pelaku dan masyarakat.
Prinsip yang menjadi dasar adalah bahwa keadilan paling baik terlayani, apabila setiap
pihak menerima perhatian secara adil dan seimbang, aktif dilibatkan dalam proses
peradilan dan memperoleh
19

keuntungan secara memadai dari interaksi mereka dengan sistem peradilan anak.20
Paulus Hadisuprapto, Delinkuensi Anak, Pemahaman dan Penanggulangannya, (Malang, Bayumedia Publishing,
2008), hlm.53 5 Ibid, hlm.53 22 Undang-undang tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Undang-undang
20

nomor 30 tahun 1999 23 Barda Nawawi Arief, Mediasi Penal Penyelesaian Perkara Diluar Pengadilan, (Semarang: Pustaka
Magister, 2010), hlm.2

Selanjutnya Tony F. Marshall, sebagaimana dikutip oleh Paulus Hadi Suprapto


menjelaskan bahwa Restorative Justice is a process where by parties with a stake in a
specific offence collectively resolve how to deal with the aftermath of the offence and its
implications for the future. Artinya keadilan restoratif adalah suatu proses dimana
semua pihak yang terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu bersama-sama
memecahkan masalah bagaimana menangani akibat di masa yang akan datang. 21
Mengenai restorative justice ini hampir sama dengan sistem Mediasi Penal
sebagaimana dikemukakan oleh Barda Nawawi Arief dalam bukunya, yang merupakan
salah satu bentuk alternatif penyelesaian sengketa di luar jalur pengadilan (yang
dikenal dengan istilah ADR atau Alternative Despute Resolution).
Namun ADR biasanya digunakan untuk menyelesaikan kasus-kasus perdata, 22 tidak
untuk kasus-kasus pidana.23 Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
di Indonesia saat ini atau hukum positif (ius constitutum) pada prinsipnya kasus pidana
20

tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan, walaupun dalam hal-hal tertentu


dimungkinkan adanya penyelesaian kasus pidana di luar pengadilan. 24 Lembaga
restorative justice nantinya sangat diharapkan dapat diimplementasikan dengan baik,
terutama dalam praktek penegakkan hukum di Indonesia, mengingat anak merupakan
aset bangsa yang tak ternilai harganya, sehingga mereka perlu mendapat perhatian
khusus dari semua pihak.
24 Ibid,

hlm.3 25 Yudi Kristiana, Rangkuman Materi kuliah Anak Berhadapan Dengan Hukum dan Diversi, (Jakarta:
Pusdiklat Kejaksaan R.I, Diklat ABH tanggal 1 s/d 14 Maret 2011)

Yudi Kristiana dalam bahan perkuliahan Diklat ABH di Pusdiklat Kejaksaan Agung R.I,
mengemukakan bahwa dalam penerapan peradilan restoratif harus memenuhi syarat,
sebagai berikut:25

1 1) Pengakuan/pernyataan bersalah dari pelaku;


2 2) Persetujuan dari pihak korban atau keluarganya dan adanya keinginan Untuk
memaafkan pelaku;
3 3) Adanya dukungan komunitas setempat untuk melaksanakan penyelesaian
secara musyawarah mufakat;
4 4) Masuk dalam kualifkasi tindak pidana ringan;
5 5) Pelaku belum pernah dihukum.
Proses pidana dalam sistem peradilan pidana yang sedang berjalan saat ini bagi anakanak akan lebih banyak berpengaruh buruk pada masa depan anak. Dimana anak yang
terlibat dan dilibatkan dalam proses hukum akan menjalani proses penyidikan,
penahanan, sampai pemidanaan.
21

Pemikiran baru mengenai penanganan anak delinkuen melalui proses hukum dalam
sistem peradilan formil dilakukan oleh alat penegak hukum, seperti Kepolisian,
Kejaksaan, Hakim, Departemen Hukum dan HAM (RUTAN, LAPAS, BAPAS), yang
dimungkinkan proses hukum tersebut dapat dialihkan dengan penanganan dan
pembinaan alternatif dengan cara mencari solusi penyelesaian yang terbaik bagi anak
sebagai pelaku. Dengan sistem ini penyelesaian (proses hukum) masalah anak
delinkuen dilibatkan juga korban, masyarakat serta orang tua pelaku dan orang tua
korban dalam mencari solusi untuk memperbaiki, rekonsiliasi dan rasa adil serta puas
bagi semua pihak.
1 3. Juvenile Justice System
Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) adalah segala unsur sistem
peradilan pidana yang terkait di dalam penanganan kasus-kasus kenakalan anak.
Sedangkan lembaga penegakan hukum dalam sistem peradilan pidana itu sendiri terdiri
dari 4 (empat) komponen yaitu kepolisian, kejaksaan pengadilan, dan lembaga
pemasyarakatan) yang diharapkan dapat bekerjasama dan membentuk suatu
Integrated Criminal Justice System.26
26 Nyoman

Serikat Putra Jaya, Bahan Kuliah Sistem Peradilan Pidana Criminal Justice System), (Semarang:
Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro, 2010), hlm.15

22

Keempat komponen tersebut dalam tiap tingkatannya berproses sesuai dengan


kedudukan dan kewenangannya, yaitu: 27
Purnianti, Mamik Sri Supatmi, dan Ni Made Martini Tinduk, mengutip Robert C. Trajanowics and Marry
Morash, dalam Juvenile Delinquency : Concept and Control, hlm.2
27

1 a) Kepolisian sebagai institusi formal ketika anak nakal pertama kali bersentuhan
dengan sistem peradilan, yang juga akan menentukan apakah anak akan
dibebaskan atau diproses lebih lanjut.
2 b) Kejaksaan dan lembaga pembebasan bersyarat yang juga akan menentukan
apakah anak akan dibebaskan atau diproses ke pengadilan anak.
3 c) Pengadilan Anak, tahapan ketika anak akan ditempatkan dalam pilihan-pilihan,
mulai dari dibebaskan sampai dimasukkan dalam institusi penghukuman.
4 d) Institusi penghukuman, atau yang sering disebut dengan istilah lembaga
eksekusi atau pelaksanaan pidana (Lembaga Pemasyarakatan).

Dengan mengacu pada ketentuan tersebut bahwa pada setiap tingkatan pemeriksaan
dalam sistem peradilan kecuali institusi penghukuman (lembaga eksekusi),
kesemuanya memiliki alternatif pembebasan bagi anak nakal yang terlanjur terlibat
dalam masalah hukum.
Perkembangan mengenai pradigma baru dalam suatu kerangka penyelesaian konflik
anak delinkuen ini dirasa sangat baik sekali, karena dalam model restorative justice
pihak-pihak yang terlibat didalamnya adalah mereka yang berkonflik atau terlibat
permasalahan hukum, sehingga diharapkan dengan penerapan restorative justice
dalam penyelesaian perkara anak yang terlanjur berkonflik dengan hukum, akan dapat
diimplementasikan secara baik dalam praktek
23

peradilan tanpa campur tangan pihak-pihak yang berkepentingan yang dapat


memanfaatkan situasi.
1 4. Dasar Hukum Perlindungan Hukum terhadap Anak
Landasan yuridis perlindungan hukum terhadap anak, yaitu sebagaimana diatur dalam
Pasal 28B ayat (2) UUD NRI 1945, yang berbunyi: setiap anak berhak atas
kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi.
Pelaksanaan Sitem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) sebagaimana
telah dipaparkan di atas ditegakkannya demi mencapai kesejahteraan anak dengan
berdasar prinsip kepentingan terbaik bagi anak. Dengan kata lain, Sitem Peradilan
Pidana Anak berdasarkan pada perlindungan anak dan pemenuhan hak-hak anak
(protection child and fullfilment child rights based approuch).28
Yayasan Pemantau Anak, Bahan Masukan Draft Laporan Alternatif (Inisiatif) Kovenan Hak Sipil dan Hak Politik
(Pasal 10):Praktek-Praktek Penanganan Anak Berkonflik Dengan Hukum Dalam Kerangka Sistem Peradilan
Pidana Anak (Juvenile Justice System) Di Indonesia: Perspektif Hak Sipil Dan Hak Politik
(www.hukumonline.com) diunduh 20 Oktober 2011.
28

Deklarasi Hak-Hak Anak tahun 1959 dapat dirujuk untuk memaknai prinsip kepentingan
terbaik untuk anak. Prinsip kedua menyatakan bahwa anak-anak seharusnya menikmati
perlindungan khusus dan diberikan kesempatan dan fasilitas melalui upaya hukum
maupun upaya lain sehingga memungkinkan anak terbangun fisik,
24

mental, moral, spiritual dan sosialnya dalam mewujudkan kebebasan dan kehormatan
anak.29
29 Ibid 30 Soerjono

Soekanto. Penelitian Hukum Normatif (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm.24

1 V. Metode Penelitian
2 a. Metode pendekatan
Penelitian hukum yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian hukum
normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum kepustakaan, yang
dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang merupakan data sekunder.
Dengan adanya data sekunder tersebut, maka peneliti tidak perlu mengadakan
penelitian sendiri dan secara langsung terhadap faktor-faktor yang menjadi latar
belakang penelitiannya sendiri.30
1 b. Spesifikasi penelitian

Spesifikasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis. Penelitian
deskriptif, adalah penelitian dengan melukiskan suatu keadaan atau peristiwa.
Dikatakan sebagai penelitian deskriptif, karena penelitian ini adalah penelitian yang
memberikan gambaran berkaitan dengan penegakkan hukum terhadap anak delikuen,
keadaan, serta gejala-gejala lainnya. Penelitian ini
25

bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan restorative justice sebagai alternatif


penyelesaian perkara anak delinkuen.
Pendekatan analitis, sebenarnya merupakan tata cara penelitian yang menghasilkan
data deskriptif, yaitu melukiskan dan menggambarkan hasil penelitian yang diperoleh
serta menganalisis permasalahan dalam penelitian ini. Istilah analitis mengandung
makna mengelompokkan, menghubungkan, membandingkan dan memberi makna atau
definisi terhadap tindakan dipilihnya, yang bersifat deskriptif, data-data dikumpulkan
untuk dianalisis, sebagai dasar untuk dapat memecahkan masalah yang timbul.31
Soemitro, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hlm.9 32 Soerjono Soekanto, Pengantar
Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press), 1986), hlm.52
31

1 c. Jenis data
Data sekunder yang disajikan dalam penulisan ini diperoleh melalui 2 (dua) bahan
hukum, baik berupa bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder. Bahan
hukum primer, yaitu bahan yang mengikat 32 terdiri dari: a) Undang-undang, yaitu: UU
Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak; UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak; UU Nomor 48 Tahun 2009 tetang Pokok-pokok Kekuasan
Kehakiman; UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, dan lain-lain b) Keputusan
Presiden, yaitu Keppres Nomor 36 Tahun 1990 tentang Konvensi Hak Anak, sedangkan
26

bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer yang terdiri dari: a) Buku-buku yang membahas tentang delikuensi
anak dan restorative justice serta b) Artikel-artikel dan tulisan-tulisan yang berkaitan
dengan masalah delikuensi anak dan restorative justice.
Dalam hal ini peneliti mengambil beberapa pendapat atau teori dari para ahli hukum
pidana yang menyangkut penyelesaian perkara anak delinkuen.
1 d. Metode pengumpulan data
Data sekunder dikumpulkan dengan menggunakan teknik Studi Kepustakaan dan Studi
Dokumenter dengan mencari dan menginventarisasi dokumen perundang-undangan
dan dokumen lain dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yang
berhubungan dengan masalah delinkuensi anak dan restorative justice (bisa berupa
jurnal, artikel, majalah dan sebagainya)
1 e. Metode analisis data
Data yang telah terkumpul kemudian dinalisis dengan menggunakan metode analisis
kuantitatif dan analisis kualitatif, meliputi data yang bersifat kajian-kajian teoritis dalam
bentuk konsepsi-konsepsi, pandangan-pandangan, dokumen hukum atau undangundang dan dilengkapi dengan putusan pengadilan, dan
27

data dari Balai Pemasyarakatan yang diperoleh melalui data tertulis yang kemudian
akan diolah penulis agar bisa dianalisis.
1 VI. Sistematika Penulisan
Secara sistematis penelitian ini akan dibagi ke dalam empat bab, yang mana pada tiap
bab berisi hal-hal yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bab I, merupakan bab pendahuluan, menjelaskan mengenai latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, metode
penelitian, dan juga sistematika penelitian.
Bab II, merupakan bab yang berisi tinjauan pustaka dalam bab ini akan memaparkan
beberapa hal sehubungan dengan teori-teori yang digunakan dalam menganalisis
permasalahan yang disajikan oleh penulis, yaitu mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan ketentuan yang mengatur mengenai anak delinkuen melalui penyelesaian
model restorative justice, yaitu mulai dari pengertian anak, pengertian delinkuen,
juvenile deliquency, Diversi, model peradilan pidana, kebijakan kriminal dalam
penyelesaian perkara anak delinkuen, tujuan dan pedoman pemidanaan, asas-asas
dalam penanganan pidana anak, restoratif justice.
Bab III, merupakan bab yang akan menguraikan mengenai hasil penelitian dan
pembahasan yang merupakan hasil penelitian baik normatif terhadap objek
permasalahan dalam penulisan ini. Hasil penelitian

28

tersebut nanti akan dianalisa dengan menggunakan teori hukum yang


akan menghasilkan pembahasan dari pokok permasalahan yang
dikemukakan oleh penulis mengenai ide dasar restorative justice dan
mengenai formulasi keadilan restoratif dalam hukum positif Indonesia saat
ini, serta mengenai kebijakan formulasi dalam hukum posistif Indonesia di
masa datang.
Bab IV, yang merupakan bab terakhir yang merupakan bab penutup, berisi
mengenai simpulan dan saran dari penulis mengenai seluruh hasil
penelitian dan pembahasan dari permasalah yang dikemukakan.

Majelis Umum

A/61
Perserikatan BangsaBangsa

Distr.: Umum
23 Agustus 2006
Versi Asli: Bahasa
Inggris

Persidangan ke Enam puluh Satu


Item 62 of the provisional agenda*
Promosi dan Perlindungan Hak-hak Anak

Hak-Hak Anak
Laporan pakar independen untuk Studi
mengenai kekerasan terhadap anak PBB. **

Catatan oleh Sekretaris Jenderal

Sekretaris Jenderal merasa mendapatkan kehormatan untuk


menyebarluaskan kepada para anggota Majelis Umum laporan
pakar independen untuk Studi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang kekerasan terhadap anak, Paulo Sergio Pinheiro, yang
disampaikan sesuai dengan Resolusi Majelis Umum 60/231.

Sekretaris jenderal percaya bahwa Sidang Majelis akan


memberikan pertimbangan dengan seksama terhadap Studi ini
dan
terhadap
mekanisme
yang
diperlukan
untuk
menindaklanjuti dan memantau pelaksanaan kesimpulan dan
rekomendasi yang akan diadopsinya, berkenaan dengan pokok
masalah yang penting ini.

* A/61/150 and Corr.1.


** Laporan ini disampaikan setelah batas akhir dalam upaya untuk
menampung informasi terkini.

Rangkuman

Laporan ini, yang berdasarkan pada Studi mendalam oleh Paulo Srgio
Pinheiro, pakar independen yang ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal sesuai
dengan resolusi Majelis Umum no. 57/90 tahun 2002, yang memberikan
gambaran global mengenai kekerasan terhadap anak dan mengusulkan
rekomendasi untuk mencegah dan merespons masalah ini. Resolusi ini
memberikan informasi mengenai insidensi berbagai jenis kekerasan dan
terhadap anak di dalam lingkungan keluarga, sekolah, lembaga-lembaga
perawatan alternatif, pusat-pusat penahanan, tempat-tempat di mana anak
bekerja dan di lingkungan masyarakat. Laporan ini disertai dengan sebuah
buku yang memberikan laporan yang lebih rinci mengenai Studi tersebut.

Studi ini dipersiapkan melalui proses partisipatoris yang meliputi konsultasi


regional, sub-regional dan nasional, pertemuan para pakar berdasar tema dan
berbagai kunjungan lapangan. Berbagai pemerintahan juga memberikan
tanggapan yang komprehensif terhadap kuesioner yang disebarkan kepada
mereka oleh pakar independen pada tahun 2004.

Pakar independen sangat berterima kasih atas dukungan yang luas untuk
pekerjaan yang diberikan oleh badan-badan regional dan lembaga-lembaga
antar pemerintah, serta badan-badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa,
organisasi masyarakat sipil dan anak-anak.

Isi

Paragr
af

I. PENDAHULUAN: MELINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN

123

A. Mandat dan cakupan Studi ini

710

B. Proses Studi
1123

II. MASALAH GLOBAL

2437

A. Masalah tersembunyi, tak terlapor, dan tak tercatat.


2527
B. Gambaran yang muncul

28

C. Faktor risiko dan faktor protektif

2935

D. Berbagai dampak

3637

III. LATAR KEJADIAN KEKERASAN TERHADAP ANAK


880

A. Rumah dan keluarga


38-47
B. Kekerasan di sekolah dan lingkungan pendidikan lainnya
4852

C. Kekerasan dalam sistem peradilan dan pengasuhan


5363
D. Kekerasan di lingkungan kerja

6468

E. Kekerasan dalam masyarakat


6980

IV. KEMAJUAN YANG DICAPAI

8189

V. KESIMPULAN

9093

VI. REKOMENDASI

94123

A. Rekomendasi Umum
96109

1. Memperkuat komitmen dan aksi lokal dan aksi nasional


96
2. Melarang segala bentuk kekerasan terhadap anak
9798
3. Memprioritaskan pencegahan
99
4. Mempromosikan nilai-nilai dan peningkatan kesadaran tentang anti
kekerasan

100

5. Meningkatkan kapasitas semua pihak yang telah bekerja untuk dan dengan
101
6. Memberikan pelayanan pemulihan dan reintegrasi sosial
102

7. Memastikan partisipasi anak


103
8. Menciptakan pelayanan dan sistem pelaporan yang mudah diakses dan
ramah anak
104
9. Memastikan akuntabilitas dan impunitas

105

10. Memberikan perhatian terhadap dimensi jender pada kekerasan terhadap


anak

106

11. Mengembangkan dan melaksanakan penelitian dan pengumpulan data


nasional secara sistematis.
107
12. Memantapkan komitmen internasional

108

109

B. Rekomendasi berlatar tertentu/khusus


110114

1. Dalam lingkungan rumah dan keluarga


110
2. Dalam lingkungan sekolah dan lingkungan pendidikan lainnya
111
3. Dalam lingkungan sistem peradilan dan pengasuhan
112
4. Dalam lingkungan tempat kerja
5. Dalam lingkungan masyarakat
114

113

C. Pelaksanaan dan Tindak lanjut


123
1. Tingkat Nasional dan Regional
116119
2. Tingkat internasional
120123

115

I. PENDAHULUAN: MELINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN

1. Tak ada satu pun kekerasan terhadap anak yang dapat dibenarkan dan
segala bentuk kekerasan terhadap anak dapat dicegah. Kendatipun demikian,
Studi mendalam mengenai kekerasan terhadap anak ini membuktikan
kebenaran bahwa kekerasan semacam itu ada di setiap negara di dunia,
melintasi budaya, kelas, pendidikan, tingkat pendapatan dan asal-usul etnis.
Di setiap daerah, bertentangan dengan kewajiban hak-hak asasi manusia dan
kebutuhan perkembangan anak, kekerasan terhadap anak secara sosial
mendapat persetujuan, dan sering bersifat legal dan dibenarkan oleh Negara.

2. Studi ini hendaknya menandai suatu titik balik upaya mengakhiri


pembenaran kekerasan terhadap anak oleh orang dewasa, apakah yang
diterima sebagai tradisi, tersamar/ tidak kentara atau sebagai bentuk
disiplin. Tidak boleh ada kompromi dalam menentang kekerasan terhadap
anak. Kekhasan Anak, potensi dan kerentanannya, ketergantungannya kepada
orang dewasa -- membuat mereka lebih banyak memerlukan perlindungan
dari kekerasan, bukan sebaliknya.

3. Setiap masyarakat, lepas dari latar belakang budaya, ekonomi, dan


sosialnya, dapat dan harus menghentikan kekerasan terhadap anak. Ini tidak
berarti memberikan hukuman bagi pelakunya saja, namun memerlukan
transformasi cara berpikir masyarakat dan kondisi ekonomi dan sosial
mendasar yang dikaitkan dengan kekerasan.

4. Studi ini merupakan penelitian pertama yang komprehensif dan bersifat


global yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai
berbagai kekerasan terhadap anak. Studi ini dikembangkan berdasarkan pada
Studi mengenai dampak konflik bersenjata pada anak,yang dipersiapkan dan
disampaikan ke Majelis Umum 10 tahun silam oleh Graa Machel, dan
mendapatkan inspirasi dari Laporan WHO berjudul World Report on Violence
and Health (Laporan mengenai Kekerasan dan Kesehatan Dunia). Studi ini juga
merupakan penelitian global yang secara langsung dan secara konsisten
melibatkan anak-anak. Mereka telah berpartisipasi dalam semua konsultasi
regional yang dilaksanakan dalam hubungannya dengan Studi ini, dan secara
lancar dan jelas memaparkan kekerasan yang mereka alami dan usulanusulan mereka untuk mengakhiri kekerasan tersebut.

5. Kekerasan terhadap anak bersifat multidimensional dan menuntut respons


yang bersifat menyeluruh. Studi ini mengombinasikan perspektif hak-hak

asasi manusia, kesehatan masyarakat, dan perlindungan anak, dan para pakar
di berbagai bidang yang berbeda ini telah bekerja sama untuk mendukung
pelaksanaan dan persiapannya. Studi ini juga telah diuntungkan dengan
bertumbuhnya Studi Studi ilmiah yang telah meneliti penyebab, akibat yang
timbul, dan daya cegah kekerasan terhadap anak.

6. Perlindungan anak dari kekerasan sangatlah mendesak. Anak telah


menderita akibat kekerasan yang tak terlihat dan tak terdengar oleh orang
dewasa selama berabad-abad. Bahwa sekarang skala dan dampak semua
kekerasan terhadap anak menjadi lebih jelas diketahui, anak-anak harus diberi
pencegahan dan perlindungan yang efektif
di mana mereka memiliki hak
yang harus terpenuhi bagaimanapun keadaannya.

A. Mandat dan cakupan Studi

7. Pada tahun 2001, berkenaan dengan rekomendasi Komite Hak-hak Anak,


Majelis Umum dalam resolusinya no. 56/138 meminta Sekretaris Jenderal
untuk melakukan Studi mendalam tentang masalah kekerasan terhadap anak
dan mengajukan rekomendasi untuk dipertimbangkan oleh Negara-negara
anggota dan ditanggapi dengan aksi yang tepat. Pada bulan Februari 2003,
Saya ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal untuk memimpin Studi ini.

8. Studi ini mengadopsi definisi anak sebagaimana dimuat dalam pasal 1


Konvensi Hak-Hak Anak: setiap manusia di bawah umur delapan belas tahun
kecuali menurut undang-undang yang berlaku pada anak, kedewasaan dicapai
lebih awal. Definisi kekerasan adalah sebagaimana yang tercantum dalam
pasal 19 Konvensi: segala bentuk kekerasan mental dan fisik, cedera atau
penyalahgunaan, penelantaran atau perlakuan yang menjadikan telantar,
perlakuan salah atau eksploitasi, termasuk penyalahgunaan seksual. Studi ini
juga menggunakan definisi dalam World Report on Violence and Health
(2002): penggunaan kekuatan fisik atau kekuasaan dengan sengaja, baik
berupa ancaman ataupun nyata, terhadap anak oleh individu atau kelompok,
baik yang berakibat pada atau besar kemungkinannya mengakibatkan
dampak nyata atau dampak potensial yang merugikan bagi kesehatan,
kelangsungan hidup, perkembangan atau martabat anak.1

11 E. G. Krug et al. (eds.), World Report on Violence and Health (Geneva, World Health
Organization, 2002), p. 5.

9. Laporan ini mencermati kekerasan terhadap anak dalam berbagai latar


yang berbeda: keluarga, sekolah, lembaga-lembaga perawatan alternatif dan
fasilitas tahanan, tempat-tempat kerja anak , dan dalam komunitas. Laporan
ini tidak mencermati anak-anak di dalam konflik bersenjata, karena masalah
ini berada di bawah kewenangan Special Representative of the SecretaryGeneral for Children and Armed Conflict (Perwakilan Khusus Sekretaris
Jenderal
untuk
urusan
Anak
dan
Konflik
Bersenjata),
namun
mempertimbangkan beberapa pokok permasalahan
seperti kekerasan
terhadap pengungsi dan anak-anak yang telantar lainnya.

10. Laporan ini disertai sebuah buku yang berisi liputan yang mendalam dari
temuan-temuan Studi dan rekomendasi, serta versi laporan yang ramah anak.

B. Proses Studi

11. Dalam melakukan Studi, saya mempergunakan proses partisipatoris yang


mencakup konsultasi regional, sub-regional dan nasional, pertemuan ahli
berdasar tema, dan kunjungan lapangan. Pada bulan Maret 2004, saya
menyebarkan kuesioner terinci ke pemerintah mengenai pendekatanpendekatan yang mereka terhadap kekerasan terhadap anak. Saya menerima
sejumlah 133 respons.2

12. Antara Maret dan Juli 2005, sembilan konsultasi regional, untuk Karibia,
Asia Selatan, Afrika Tengah dan Barat, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia
Timur dan Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara, Eropa dan Asia Tengah,
Afrika Timur dan Selatan, diselenggarakan. Masing-masing konsultasi diikuti
sekitar 350 peserta, termasuk pejabat dan para menteri, anggota parlemen,
perwakilan dari organisasi non-pemerintah regional dan organisasi antar
pemerintah dan badan-badan PBB, lembaga swadaya masyarakat (LSM),
lembaga-lembaga hak asasi nasional, dan bagian-bagian masyarakat sipil,
termasuk di antaranya media dan organisasi berbasis keagamaan dan anak.
Anak berpartisipasi dalam masing-masing konsultasi regional, yang
kesemuanya didahului dengan pertemuan pertemuan di mana mereka
mengembangkan masukan dan rekomendasi untuk Studi tersebut. Laporan
untuk masing-masing konsultasi regional, termasuk rekomendasinya, tersedia.
Sejumlah konsultasi nasional dan sub-regional juga diselenggarakan.

22 Sejak 31 Juli 2006, 132 Negara-negara anggota dan seorang pengamat telah

menyerahkan respons. Semua respons yang telah diserahkan tersedia dalam OHCHR
website: http://www.ohchr.org/english/bodies/crc/ study.htm.

13. Pemerintah yang menjadi tuan rumah konsultasi tersebut juga secara
aktif terlibat dalam mempromosikan Studi ini. Organisasi-organisasi regional
yang meliputi Uni Afrika (African Union), Liga Arab (the Arab League),
Masyarakat Karibia (the Caribbean Community -CARICOM), Dewan Eropa (the
Council of Europe), Uni Eropa (the European Union), Komisi Hak Asasi Manusia
Antar-Amerika untuk Organisasi Negara-negara Amerika ( the Inter-American
Commission on Human Rights of the Organization of American States) dan
Asosiasi Kerja sama Regional Asia Selatan (the South Asian Association for
Regional Cooperation) memainkan peranan yang sangat penting dalam
penyelenggaraan konsultasi.
Organisasi-organisasi regional dan nasional
telah berkomitmen untuk terus terlibat dalam secara berkelanjutan dalam
tindak lanjut Studi ini

14. Saya melakukan berbagai kunjungan lapangan ke Argentina, Kanada, Cina,


El Salvador, Guatemala, Haiti, Honduras, India, Israel dan Wilayah Palestina
yang diduduki, Mali, Pakistan, Paraguay, Slovenia, Afrika Selatan, Thailand;
serta Trinidad dan Tobago. Saya sangat berutang budi pada mereka yang telah
memfasilitasi kunjungan-kunjungan tersebut dan kepada pemerintah negaranegara tersebut yang menjadi tempat konsultasi.

15. Saya menyelenggarakan konsultasi berkala dengan para anggota Komisi


Hak-hak Anak dan pemegang mandat prosedur khusus bekas Komisi Hak-hak
Asasi Manusia. Observasi simpulan terhadap laporan negara-negara anggota
kepada Komisi kemudian dianalisis; demikian juga laporan pemegang mandat
prosedur khusus yang relevan.

16. Studi dan sekretariat Studi di Jenewa telah didukung oleh tiga badan di
bawah Perserikan Bangsa Bangsa : the Office of the United Nations High
Commissioner for Human Rights (OHCHR), the United Nations Childrens Fund
(UNICEF) dan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization -WHO),
bersama dengan Dewan Editor Pakar multidisipliner.

17. Berbagai organisasi lainnya juga memberikan kontribusi terhadap Studi


ini, termasuk International Labour Organization (ILO), the Office of the United
Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), the United Nations
Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), the United Nations
Office on Drugs and Crime (UNODC) dan the Division for the Advancement of
Women of the United Nations Department of Economic and Social Affairs.
Kelompok antar badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah bertemu
untuk mengembangkan strategi tindak lanjut atas Studi ini.

18. Saya juga telah memanfaatkan beberapa masukan dari berbagai


pemangku kepentingan yang dibuat untuk Studi ini selama tiga tahun terakhir.
Lebih dari 270 perorangan dan organisasi dari berbagai bagian dunia
merespons permohonan saya untuk melakukan submisi publik. Kontribusi itu
mencakup submisi dari anak dan laporan penelitian yang penting yang
diselenggarakan secara khusus untuk Studi ini.3

19. NGO memberikan kontribusi yang amat penting, termasuk submission


tertulis. Suatu Panel Penasihat
NGO, termasuk anak-anak dan remaja
didirikan pada tahapan awal proses Studi yang mencakup perwakilanperwakilan dari semua kawasan. Saya memelihara hubungan dengan Subkelompok mengenai Anak dan Kekerasan yang didirikan dalam Kelompok LSM
untuk Konvensi Hak-hak Anak ( NGO Group for the Convention on the Rights
of the Child).

20. Selain mempersiapkan sejumlah Studi, International Save the Children


Alliance memberikan kontribusi khusus dengan memberikan nasihat-nasihat
dan memfasilitasi keterlibatan anak, khususnya dalam konsultasi-konsultasi
regional, bersama dengan UNICEF dan mitra-mitra lainnya. Jaringan Informasi
Hak-hak Anak Sedunia (The global Childrens Rights Information Network
-CRIN) telah mendokumentasikan kemajuan Studi ini, termasuk pertemuanpertemuan saya dengan anak-anak, yang menjadikan hal tersebut dapat
tersedia di website jaringan tersebut..4

21. Pusat-pusat penelitian dan jaringan menyerahkan informasi dan


berpartisipasi dalam konsultasi. Pusat Studi UNICEF, Innocenti Research
Centre, memberikan Studi-Studi mengenai perdagangan anak, mutilasi
kelamin perempuan, dan standar hak-hak asasi manusia dan mekanisme
untuk melindungi anak. Pertemuan-pertemuan tematis mengenai kekerasan
berbasis jender, sekolah, rumah dan keluarga, anak-anak penyandang
ketidakmampuan, sistem peradilan anak, dan anak yang berkonflik dengan
hukum, peranan organisasi-organisasi berbasis keagamaan, teknologi
informasi dan komunikasi, pengungsi dan anak telantar lainnya, dan
metodologi pengukuran kekerasan juga diselenggarakan.

33 Daftar submisi tersedia di website United Nations Secretary-Generals Study on


Violence against Children: http://www.violencestudy.org.

44 Child Rights Information Network (CRIN): http://www.crin.org/violence/.

22. Penyiapan Studi juga telah mengundang aksi nasional dan regional. Di
beberapa negara, penyiapan respons membangkitkan perdebatan nasional,
memberikan inspirasi untuk aksi, dan telah membangkitkan kegiatankegiatan tindak-lanjut. Di Timur Tengah dan Afrika Utara, Panitia Pengarah
untuk Studi ini telah ditransformasikan menjadi mekanisme tindak lanjut,
mengembangkan
keanggotaannya
dengan
memasukkan
perwakilanperwakilan dari pemerintah setempat, serta menekankan peranan Liga Arab.
Forum Asia Selatan untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak (The South
Asian Forum for Ending Violence against Children), sebuah badan antarpemerintah, telah dibentuk di tingkat kementrian dengan perwakilan dari
semua negara, dengan Pakistan sebagai tuan rumah sekretariat untuk dua
tahun pertama. Setelah komitmen-komitmen yang disuarakan dalam
konsultasi di Ljubljana, Dewan Eropa meluncurkan program Membangun
Eropa untuk dan Bersama Anak ( Building a Europe for and with Children)
pada bulan April 2006, yang berfokus pada pemberian dukungan teknis dan
kebijakan bagi negara-negara anggota untuk mengakhiri kekerasan terhadap
anak dan akan berfungsi sebagai mekanisme tindak lanjut bagi Studi ini. Pada
bukan Mei 2006, anak-anak yang telah berpartisipasi dalam konsultasi
regional bertemu di New York untuk mengonsolidasikan rekomendasi untuk
tindakan lebih lanjut yang diadopsi pada konsultasi-konsultasi dan pertemuanpertemuan lainnya.

23. Proses Studi juga telah membumbungkan harapan, khususnya di kalangan


anak-anak, yang ingin melihatnya sebagai katalisator bagi perubahan yang
nyata dan berkelanjutan. Saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
tulus kepada mereka yang telah berpartisipasi di dalamnya.

II. MASALAH GLOBAL

24. Laporan laporan mengenai hukuman yang kejam dan menistakan,


mutilasi genital anak-perempuan, penelantaran, penyalahgunaan seksual,
pembunuhan, dan bentuk-bentuk lain kekerasan terhadap anak telah lama
tercatat, namun sifat mendesak dan keseriusan masalah global ini hanya
baru-baru ini saja terungkapkan..5

A. Tersembunyi, Tak Terlaporkan dan Tak Tercatat.

55 A. Reza, J. A. Mercy and E. Krug, Epidemiology of violent deaths in the world,


Injury Prevention,vol. 7 (2002), pp. 104111; Krug, op. cit at footnote 1, pp. 5986

25. Kekerasan terhadap anak bentuknya bermacam-macam, dan dipengaruhi


oleh berbagai ragam faktor, dari karakteristik pribadi anak dan pelaku sampai
lingkungan fisik dan budayanya. Kendatipun demikian, sebagian besar
kekerasan terhadap anak tetap tersembunyi karena beberapa sebab dan
alasan. Salah satunya adalah ketakutan: banyak anak yang takut melaporkan
kejadian kekerasan terhadap mereka .Dalam beberapa kasus, orang tua , yang
seharusnya melindungi anak, tetap diam saja bila pelakunya adalah pasangan
atau anggota keluarga lainnya, atau anggota masyarakat yang lebih kuat,
misalnya majikan, anggota polisi, atau pemuka masyarakat. Ketakutan secara
erat terkait dengan stigma yang sering kali diterakan terhadap pelaporan
tindak kekerasan, khususnya di tempat-tempat di mana kehormatan
keluarga ditempatkan di atas keselamatan dan kesejahteraan anak. Secara
khusus, perkosaan atau bentuk kekerasan seksual lainnya dapat
menyebabkan pengucilan, kekerasan lanjutan atau kematian.

26. Kekerasan yang secara sosial diterima juga merupakan faktor penting:
baik anak maupun pelaku mungkin menerima kekerasan fisik, seksual dan
psikologis sebagai hal yang tak terelakkan dan normal saja. Disiplin melalui
hukuman fisik dan mempermalukan, menakut-nakuti / menggertak dan
pelecehan seksual sering dipandang sebagai normal, khususnya ketika tidak
ada akibat yang kasat mata dan cedera fisik yang berlangsung lama.
Kurangnya pelarangan hukuman badan secara hukum dan tegas
mencerminkan hal ini. Menurut Prakarsa Global untuk Mengakhiri Segala
Bentuk Hukuman Fisik pada Anak (Global Initiative to End All Corporal
Punishment of Children), setidaknya 106 negara tidak melarang penggunaan
hukuman badan di sekolah, 147 negara tidak melarang hal tersebut dalam
lingkungan perawatan alternatif , dan hanya 16 negara yang telah melarang
penggunaan hukuman tersebut di rumah.6

27. Kekerasan juga tidak diketahui karena tidak ada cara yang aman dan
tepercaya bagi anak atau orang dewasa untuk melaporkannya. Di beberapa
belahan dunia, orang tidak mempercayai polisi, pekerja sosial atau orang lain
dalam kekuasaan; di sisi lain, khususnya di daerah-daerah pedesaan, tidak
ada instansi yang dapat diakses, di mana seseorang dapat melapor. 7 Di mana
data terkumpul, data tidak selalu dicatat secara lengkap, konsisten atau
transparan. Khususnya sedikit data dapat diperoleh mengenai kekerasan
dalam institusi atau panti pengasuhan/ perawatan di sebagian besar bagian

66 Global Initiative to End all Corporal Punishment of Children, Global Summary of the
Legal Status of Corporal Punishment of Children (28 June 2006).

dunia karena, walaupun kejadiannya didokumentasikan, sebagian besar


institusi tidak diminta untuk mencatat atau mengungkap informasi ini
bahkan ke orang tua dari anak yang bersangkutan.

B. Gambaran yang muncul

28. Berbagai prakarsa, mulai dari analisis statistik internasional sampai


penelitian aksi (action research) di tingkat lokal memberikan gambaran yang
lebih jelas magnitude dan betapa perpasif masalah tersebut. Data yang
berhasil digali dari prakarsa- prakarsa ini mengindikasikan bahwa sementara
beberapa bentuk kekerasan tidak terduga dan terisolasi, sebagian besar
tindak kekerasan yang dialami oleh anak dilakukan oleh orang-orang yang
menjadi bagian dari hidupnya: orang tua, teman sekolah, guru, majikan,
pacar, pasangan atau mitra. Berikut adalah contoh-contoh yang menunjukkan
berbagai kekerasan terhadap anak:

WHO memperkirakan, melalui penggunaan data tingkat negara yang


terbatas sifatnya, bahwa hampir 53.000 anak meninggal di dunia pada
tahun 2002 karena pembunuhan (homisida)..8
Laporan mengenai berbagai negara-negara berkembang, the Global
School-based Health Survey baru-baru ini menemukan bahwa antara 20
dan 65 persen anak-anak usia sekolah melaporkan telah ditakut-takuti
secara verbal atau secara fisik dalam waktu 30 hari terakhir. 9 Bullying
(penggertakan/ plonco) juga umum dijumpai di negara-negara industri. 10
WHO memperkirakan bahwa 150 juta anak perempuan dan 73 juta anak
laki-laki yang berusia di bawah 18 tahun mengalami hubungan seks paksa

77 Multi-Country Study on Women's Health and Domestic Violence (Geneva, World


Health Organization, 2005).

88 Global Estimates of Health Consequences due to Violence against Children. Paper


latar belakang untuk Studi PBB mengenai Kekerasan terhadap Anak (Geneva, World
Health Organization, 2006)

99 Analisis yang diberikan untuk Study by the Global School-based Health Survey: The
World Health Organization (http://www.cdc.gov/gshs or
http://www.who.int/school_youth_health/gshs) dengan menggunakan data-data survei
yang diselenggarakan pada tahun 2003-2005 untuk, Cile (metropolitan areas), Cina
(Beijing), Guyana, Jordania, Kenya, Lebanon, Namibia, Oman, Filipina, Swaziland,
Uganda, the United Arab Emirates, Venezuela (Lara), Zambia dan Zimbabwe (Harare).

atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya yang melibatkan kontak


fisik selama tahun 2002.11
Menurut satu perkiraan WHO, antara 100 sampai 140 juta anak-anak
gadis dan perempuan dewasa di dunia telah mengalami beberapa bentuk
pemotongan/ mutilasi genital..12 Perkiraan UNICEF yang diterbitkan pada
tahun 2005 mengesankan bahwa di kawasan Sub-Sahara Afrika, Mesir dan
Sudan, 3 juta anak gadis dan perempuan dewasa menjalani pemotongan /
mutilasi genital setiap tahun..13

Baru-baru ini, perkiraan ILO mengindikasikan bahwa, pada tahun 2004, 218
juta anak-anak terlibat dalam perburuhan anak, 126 juta di antaranya bekerja
di lingkungan kerja yang membahayakan. 14 Perkiraan dari tahun 2000
menunjukkan bahwa 5,7 juta dipaksa pekerja dalam pekerjaan ijon, 1,8 juta
dalam pelacuran dan pornografi, dan 1,2 juta menjadi korban perdagangan
manusia..15
Kendatipun demikian, dibandingkan dengan perkiraan yang
dipublikasikan pada tahun 2002, insidensi pekerja anak telah turun 11 persen,

1010 C. Currie et al., Health Behaviour in School-Aged Children (HBSC) Study:

International report from the 2001/2002 survey. Health Policy for Children and
Adolescents, No. 4 (Geneva, World Health Organization, 2004).

1111 Global Estimates of Health Consequences due to Violence against Children, op.

cit. at footnote 8, berdasarkan perkiraan oleh G. Andrews et al., Child sexual abuse,
bab 23, dalam Ezzati et al., Comparative Quantification of Health Risks: Global and
regional burden of disease attributable to selected major risk factors (Geneva, World
Health Organization, 2004), vol. 2, pp. 18511940, dan dengan menggunakan data dari
Population Division of the United Nations Department of Economic and Social Affairs
untuk penduduk berusia di bawah 18 tahun.

1212 Female genital mutilation, World Health Organization, Fact Sheet No. 241
(Geneva, 2000).

1313 Changing a Harmful Social Convention: Female Genital Mutilation/Cutting.


Innocenti Digest No. 12 (Florence, UNICEF Innocenti Research Centre, 2005).

1414 The End of Child Labour Within Reach: Global Report (Geneva, International
Labour Office, 2006).

1515 A Future Without Child Labour: Global Report (Geneva, International Labour
Office, 2002).

sementara anak-anak yang ditemukan bekerja di bidang-bidang yang


membahayakan turun 25 persen.16

C. Faktor Protektif dan Risiko

29. Perkembangan ekonomi, status, umur, jenis kelamin kelamin dan jender,
adalah beberapa faktor yang dikaitkan dengan risiko kekerasan yang
mematikan.
Perkiraan WHO menunjukkan bahwa tingkat pembunuhan
(homisida) anak di negara berpendapatan rendah pada tahun 2000 dua kali
lebih tinggi dibanding dengan hal yang sama di negara berkembang (2.58 v.
1.21 per 100,000 penduduk). Tingkat pembunuhan anak yang tertinggi terjadi
pada remaja, khususnya anak yang berusia 15-17 tahun (3.28 untuk anak
perempuan, 9.06 anak laki-laki) dan di kalangan anak usia 0-4 tahun (1.99
anak perempuan dan 2.09 anak laki-laki).17

30. Penelitian menunjukkan bahwa anak kecil paling berisiko mendapatkan


kekerasan fisik, sementara kekerasan seksual secara dominan menimpa
mereka yang telah mencapai pubertas atau remaja. Anak laki-laki lebih
berisiko mendapatkan kekerasan fisik di banding anak perempuan, sementara
anak
perempuan
lebih
berisiko
mendapatkan
kekerasan
seksual,
penelantaran, dan pelacuran paksa..18 Pola aturan perilaku budaya dan sosial
dan peran yang khas dan faktor faktor ekonomi seperti pendapatan dan
pendidikan juga memainkan peranan yang penting.

31. Penelitian penelitian skala kecil mengungkapkan bahwa beberapa


kelompok anak-anak tertentu sangat rentan terhadap kekerasan. Kelompok ini
termasuk anak-anak penyandang
ketunaan, mereka yang berasal dari
kalangan minoritas dan kelompok-kelompok yang terpinggir,anak jalanan,
1616 Global Trends in Child Labour 2000-2004. International Programme on the

Elimination of Child Labour (IPEC) and Statistical Information and Monitoring


Programme on Child Labour (SIMPOC) (Geneva, International Labour Office, 2006).

1717 Global Trends in Child Labour 2000-2004. International Programme on the


Elimination of Child Labour (IPEC) and Statistical Information and Monitoring
Programme on Child Labour (SIMPOC) (Geneva)

1818 Krug, op. cit. at footnote 1.

dan mereka yang berkonflik dengan hukum, dan pengungsi serta anak
telantar lainnya.

32. Pertumbuhan pendapatan yang tidak setara, globalisasi, migrasi,


urbanisasi, ancaman kesehatan, khususnya pandemi HIV/AIDS, kemajuan
teknologi dan konflik bersenjata memberi imbas pada cara kita
memperlakukan anak. Mencermati tantangan- tantangan ini, serta untuk
mencapai tujuan-tujuan internasional yang telah disepakati, seperti Tujuan
Pembangunan Milenium (FGD), akan membantu mengikis kekerasan terhadap
anak.

33. Dengan cara yang sama bahwa beberapa faktor meningkatkan kerentanan
anak terhadap kekerasan, ada juga faktor-faktor yang dapat mencegah atau
mengurangi kemungkinan terjadinya kekerasan. Walaupun lebih banyak
penelitian diperlukan untuk faktor-faktor yang memberikan perlindungan,
adalah jelas bahwa unit keluarga yang stabil dapat menjadi sumber yang kuat
bagi perlindungan dari kekerasan terhadap anak di semua lingkungan.

34. Faktor-faktor yang kemungkinan bersifat melindungi dalam rumah serta


lingkungan lainnya termasuk pengasuhan anak yang baik oleh orang tua,
pengembangan ikatan yang kuat antara anak dan orang tua, dan disiplin yang
tanpa kekerasan. Faktor-faktor yang mungkin dapat melindungi anak-anak
terhadap kekerasan di sekolah meliputi kebijakan sekolah yang luas dan
kurikulum yang efektif yang mendukung pengembangan sikap dan perilaku
yang anti kekerasan dan tidak diskriminatif. Kohesi sosial yang tinggi juga
telah terbukti memiliki efek perlindungan terhadap kekerasan dalam
masyarakat, bahkan ketika risiko-risiko lainnya ada.

35. Penelitian yang dikompilasikan oleh WHO telah mengidentifikasi beberapa


faktor yang nampaknya mendorong ketahanan anak yang telah mengalami
kekerasan.19 Faktor-faktor ketahanan ini meliputi keterikatan/ kedekatan anak
dengan anggota keluarga dewasa, tingkat perawatan oleh ayah yang tinggi
saat anak-anak, hubungan yang hangat dan penuh dukungan dengan
orangtua tidak abusif; serta hubungan yang saling mendukung dengan
sebaya yang tidak terlibat dalam penyalahgunaan zat terlarang atau perilaku
kriminal.

1919 19 Preventing child maltreatment: a guide to taking action and generating


evidence (Geneva, World Health Organization and International Society for Prevention
of Child Abuse and Neglect, October 2006).

D. Berbagai ragam Dampak

36. Walaupun akibat kekerasan bagi anak mungkin bervariasi menurut sifat
dan seberapa parah kekerasan itu, dampak jangka pendek dan jangka
panjang sering sangat parah dan merusak. Kekerasan mungkin
mengakibatkan kerentanan yang lebih besar untuk mengalami gangguan
kemampuan sosial, emosi dan kognitif selama hidupnya, serta perilaku
berisiko kesehatan, 20 seperti penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan
perilaku seksual yang lebih dini datangnya. 21 Kesehatan mental dan masalahmasalah sosial yang meliputi gangguan kecemasan dan depresi, halusinasi,
dan terhambatnya kinerja yang terkait dengan pekerjaan, gangguan memori,
serta perilaku agresif. Paparan dini terhadap kekerasan dikaitkan dengan
penyakit paru-paru, hati, jantung, penyakit menular seksual dan kematian
janin selama kehamilan di kemudian hari serta kekerasan pasangan intim dan
upaya-upaya bunuh diri.22

37. Ada sedikit informasi mengenai biaya ekonomi global kekerasan terhadap
anak, khususnya di dunia berkembang. Kendatipun demikian, berbagai akibat
jangka pendek dan jangka panjang yang dikaitkan dengan kekerasan dan
penelantaran anak mengesankan bahwa biaya ekonomi yang ditanggung
masyarakat sungguh signifikan. Biaya finansial yang dikaitkan dengan
kekerasan anak dan penelantaran termasuk hilangnya pendapatan di masa
depan dan perawatan kesehatan mental di Amerika Serikat pada tahun 2001
diperkirakan mencapai US$ 94 miliar.23

2020 V. J. Felitti et al., Relationship of childhood abuse and household dysfunction to


many of the leading causes of death in adults. The Adverse Childhood Experiences
(ACE) Study, American Journal of Preventive Medicine, vol. 14 (1998), pp. 245258.

2121 Centers for Disease Control and Prevention, Adverse Childhood Experiences Study

(Atlanta, National Centers for Injury Prevention and Control, Centers for Disease Control
and Prevention, 2006). Tersedia pada:`http://www.cdc.gov/NCCDPHP/ACE.

2222 Periksa catatan kaki sebelumnya. Juga periksa Panel on Research on Child
Abuse and Neglect, Commission on Behavioral and Social Sciences and
Education, National Research Council, Understanding Child Abuse and Neglect
(Washington, D. C., National Academy Press, 1999).

2323 S. Fromm, Total estimates cost of child abuse and neglect in the United States--statistical evidence. Prevent Child Abuse America; (Chicago, PCAA, 2001).

III. LINGKUNGAN DIMANA KEKERASAN TERHADAP ANAK TERJADI

A. Lingkungan Rumah dan Keluarga

38. Keluarga merupakan kelompok masyarakat alami yang paling dasar,


sebagaimana dinyatakan dalam pasal 16 Deklarasi Hak Asasi Manusia
Universal dan pasal 10 dari Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi,
Sosial dan Budaya dan Pasal 23 Hak-hak Sipil dan Politik. Asumsi dasar
Konvensi Hak-hak Anak (KHA) yang terkandung dalam mukadimahnya, adalah
lingkungan alami bagi pertumbuhan dan kesejahteraan semua anggotanya
dan secara khusus anakdan oleh karenanya mengakui bahwa keluarga
memiliki potensi terbesar dalam perlindungan anak dan memberikan
keamanan fisik dan emosional. Privasi dan otonomi keluarga dihargai dalam
semua kalangan masyarakat dan hak atas kehidupan berprivasi dan
kehidupan keluarga, rumah dan hal lain terkait dijamin oleh instrumen hak
asasi internasional. 24 Menghapuskan dan merespons kekerasan terhadap
anak mungkin merupakan tantangan yang sangat besar dalam konteks
keluarga, dan dipandang oleh sebagian besar orang sebagai wilayah pribadi
yang paling pribadi. Kendatipun demikian, hak-hak anak atas kehidupan,
kelangsungan hidup, perkembangan, martabat dan integritas fisik tidak
berhenti di depan pintu rumah keluarga, tidak juga kewajiban negara untuk
menjamin hak-hak anak ini.

39. Prevalensi kekerasan terhadap anak oleh orang tua dan anggota keluarga
dekat lainnyaberupa kekerasan fisik, mental dan seksual, serta penelantaran
yang disengaja telah diakui dan didokumentasikan dalam dekade dekade
terakhir ini. Dari masa bayi usia dini sampai usia 18 tahun, anak rentan
terhadap berbagai bentuk kekerasan di dalam rumah. Pelakunya bervariasi
menurut usia dan kematangan korban, dan mencakup orang tua, orangtua tiri,
orangtua asuh, saudara kandung, anggota keluarga lainnya, serta pengasuh.

40. Kekerasan terhadap anak dalam keluarga tidak fatal dan tidak
menyebabkan cedera yang serius atau luka fisik nampak yang serius.
Kendatipun demikian, beberapa bentuk kekerasan terhadap anak yang masih
sangat muda dalam keluarga dapat menyebabkan kerusakan permanen dan
2424 Misalnya periksa, pasal 8 Convention for the Protection of Human Rights and

Fundamental Freedoms, dan pasal 17 International Covenant on Civil and Political


Rights.

bahkan kematian, walaupun pelaku sebenarnya tidak bertujuan melukai.


Penelitian dari berbagai negara menunjukkan bahwa sindrom bayi yang
diguncang (shaken baby syndrome) kekerasan terhadap anak kecil dengan
cara mengguncang sering berhubungan dengan luka kepada dan cedera
otak yang parah.25

41. Kekerasan terhadap anak dalam keluarga dapat terjadi dalam konteks
disiplin dan berbentuk hukuman yang kejam, fisik, dan mempermalukan. 26
Perlakuan dan hukuman yang keras dalam keluarga banyak dijumpai di
negara industri dan negara berkembang. Anak, sebagaimana dilaporkan
dalam Studi dan ketika berbicara untuk kepentingan diri mereka dalam
konsultasi regional Studi ini, menyinggung luka-luka fisik dan psikis yang
mereka derita sebagai akibat dari bentuk-bentuk perlakuan dan mengusulkan
bentuk-bentuk disiplin yang efektif dan positif.27

42.Kekerasan fisik sering disertai dengan kekerasan psikologis. Penghinaan,


penyebutan nama (buruk), isolasi, penolakan, ancaman dan penelantaran
emosi dan menganggap tidak berarti kesemua itu merupakan kekerasan yang
dapat mengancam kesejahteraan dan perkembangan psikologis anak
khususnya ketika bentuk-bentuk penghinaan itu dilakukan oleh orang dewasa
yang terhormat seperti orang tua. Adalah sungguh penting bahwa orang tua
hendaknya didorong untuk menggunakan metode pendisiplinan tanpa
kekerasan.

43. Penelantaran/ pengabaian, termasuk kegagalan memenuhi kebutuhan


emosi dan fisik anak, melindungi mereka dari bahaya atau gagal
mendapatkan pelayanan kesehatan dan pelayanan
yang lain ketika
diperlukan telah memberikan andil terhadap mortalitas dan morbiditas di
2525 O. Flodmark, Imaging in battered children, Rivista di Neuroradiologia, vol. 17
(2004), pp. 434-436.

2626 J. E. Durrant Corporal punishment: prevalence, predictors and implications for


child behaviour and development, dalam S. N. Hart (ed.), Eliminating Corporal
Punishment (Paris, UNESCO, 2005), pp. 52 and 53.

2727 United Nations Secretary-Generals Study on Violence against Children website

(http://www.violencestudy.org/r27), International Save the Children Alliance, Ending


Physical and Humiliating Punishment of Children Making it Happen, Part 1.
Submission to the United Nations Secretary-Generals Study on Violence against
Children (Stockholm, Save the Children Sweden, 2005).

kalangan anak-anak yang masih kecil. Ketidakseimbangan perbandingan


antara anak laki-laki dan anak perempuan di beberapa wilayah menunjukkan
bahwa anak perempuan berisiko ditelantarkan dan terkena tindak kekerasan.
Ketidakmampuan juga meningkatkan risiko penelantaran. Anak penyandang
ketunaan bisa saja ditelantarkan dan dibuang, suatu praktek yang kadangkadang dapat diterima dan didorong.28

44. Kejadian kekerasan seksual dalam rumah semakin diketahui dan diakui.
Sebuah tinjauan penelitian di dua puluh satu negara (kebanyakan negara
maju) menemukan bahwa 7-36 persen perempuan dan 3-29 persen laki-laki
melaporkan viktimisasi seksual selama masa kanak-kanak dan sebagian besar
Studi menemukan bahwa tingkat kekerasan (abuse) yang dialami anak
perempuan 1.5-3 kali lebih tinggi dari pada laki-laki. Sebagian besar
kekerasan (abuse) terjadi dalam lingkaran keluarga.29 Mirip dengan itu, Studi
WHO di lebih dari satu negara, yang meliputi negara-negara berkembang dan
negara maju, menunjukkan bahwa antara satu sampai 21 persen perempuan
melaporkan telah menjadi korban kekerasan (abuse) secara seksual sebelum
usia 15 tahun, sebagian besar oleh anggota keluarga laki-laki yang bukan
ayah ataupun ayah tiri.30

45. Ketiadaan batasan sah tentang umur minimum diperbolehkannya


hubungan seks dan perkawinan di beberapa negara memungkinkan anakanak terpapar kekerasan oleh pasangannya. Delapan puluh dua juta anak
perempuan diperkirakan menikah sebelum usia 18 tahun. 31 Sebagian anak
dalam jumlah yang signifikan dikawinkan dalam usia yang jauh lebih muda,
sering secara paksa, dan menghadapi risiko kekerasan yang tinggi, termasuk
seks paksa.
2828 United Nations Secretary-Generals Study on Violence against Children, Regional
Desk Review: Violence against Children in West and Central Africa, 2005, p 11.

2929 D. Finkelhor, The international epidemiology of child sexual abuse, Child Abuse
& Neglect, vol. 18, No. 5 (2005), pp. 409417.

3030 Multi-Country Study on Women's Health and Domestic Violence, op. cit at
footnote 7.

3131 J. Bruce, Married adolescents girls; human rights, health and development needs
of a neglected majority, paper presented by the Population Council at the Supporting
Event: Early Marriage in a Human Rights Context, United Nations Special Session on
Children, 810 May 2002.

46. Praktek-praktek tradisi yang merugikan memberi imbas pada anak secara
tidak proporsional dan pada umumnya dikenakan pada mereka pada usia
yang sangat dini oleh orangtua atau pemuka masyarakat. Menurut pelapor
khusus (Special Rapporteur) mengenai praktek-praktek tradisional yang
merugikan kesehatan anak perempuan dan perempuan dewasa, mutilasi
genital, yang menurut WHO, dilakukan di pada anak anak-anak perempuan
muda, banyak dijumpai di Afrika, dan juga terjadi di beberapa bagian kawasan
Asia dan di kalangan masyarakat imigran di Eropa, Australia. Kanada dan
Amerika Serikat.32 Praktek-praktek tradisional lain yang merugikan anak
termasuk pengikatan (binding), penorehan (scarring), pembakaran (burning),
branding, dan ritus-ritus perploncoan (inisiasi) yang menggunakan kekerasan,
penggemukan (fattening), perkawinan paksa (forced marriage) kejahatan
demi kehormatan (honor crime) dan kekerasan terkait mahar, perdukunan,
atau sihir.

47. Antara 133 sampai 275 juta anak di seluruh dunia diperkirakan menjadi
saksi kekerasan rumah tangga setiap tahunnya.. 33 Anak yang sering terpapar
kekerasan dalam rumahnya, biasanya melalui pertengkaran antara orangtua
atau antara ibu dengan pasangannya, dapat secara serius mempengaruhi
kesejahteraan anak, perkembangan pribadi, dan interaksi sosial di masa
kanak-kanak dan dewasa.34 Kekerasan pasangan dekat juga meningkatkan
3232 The Subcommission on the Promotion and Protection of Human Rights, badan
utama di bawah bekas Commission on Human Rights, telah mengkaji isu-isu tematis
yang berkaitan dengan pertanyaan mengenai kekerasan terhadap anak dalam
beberapa tahun terakhir ini. Pelapor khusus mengenai praktek-praktek tradisional yang
memperngaruhi kesehatan perempuan dan anak-gadis, Halima Embarek Warzazi,
secara khusus memusatkan pada penghilangan mutilasi genital perempuan (FGM).
Periksa, misalnya laporan ke sembilan dan laporan final mengenai situasi yang
berkenaan dengan penghapusan praktek-praktek yang mempengaruhi kesehatan
perempuan dan anak-anakgadis. (E/CN.4/Sub.2/2005/36).

3333 Perkiraan didasarkan pada data United Nations Population Division untuk data
penduduk global yang berusia di bawah 18 tahun untuk tahun 2000, dan kajian
kekerasan rumah tangga dari tahun 1987 sampai 2005. Behind Closed Doors: The
Impact of DomesticViolence on Children (London, UNICEF and The Body Shop
International Plc., 2006).

3434 L. A. McClosky, A. J. Figueredo and M. P. Koss, The effect of systemic family


violence on childrens mental health, Child Development, vol. 66 (1995), pp. 239
1261 cited in Krug, op. cit. at footnote 1, p 103; dan S. R. Dube et al., Exposure to
abuse, neglect, and household dysfunction among adults who witnessed intimate
partner violence as children: implications for health and social services, Violence an
Victims, vol. 17, No. 1 (2002), pp. 317.

kekerasan terhadap anak dalam keluarga, dengan penelitian-penelitian dari


Cina, Kolombia, Mesir, Meksiko, Filipina, dan Afrika Selatan yang menunjukkan
hubungan yang kuat antara kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan
terhadap anak.35 Sebuah penelitian di India menemukan bahwa kekerasan
domestik dalam rumah melipatduakan risiko kekerasan terhadap anak. 36

Dengan dua tangan ini, ibuku memeluk aku, merawat aku, ini yang aku suka
..Dengan dua tangan ini, ibuku memukul aku ini yang aku benci .
Gadis
Timur.

kecil,

Asia

37

B. Kekerasan dalam lingkungan sekolah dan lingkungan pendidikan

48. Di sebagian besar negara, anak-anak lebih banyak menghabiskan


waktunya dalam perawatan orang dewasa dalam lingkungan pendidikan
dibanding dengan tempat lain manapun di luar rumahnya. Sekolah memiliki
peranan yang penting untuk melindungi anak-anak dari kekerasan. Orangorang dewasa yang mengawasi dan bekerja dalam lingkungan pendidikan
memiliki tugas untuk menyediakan lingkungan yang aman yang mendukung
dan mempromosikan/ mengedepankan martabat dan perkembangan anak.

49. Bagi banyak anak, lingkungan pendidikan menjadi tempat mereka


bersentuhan dengan kekerasan dan mungkin juga mengajarkan kekerasan
kepada mereka. Persepsi umum terdapat kekerasan di sekolah telah diwarnai
oleh fokus media pada peristiwa-peristiwa luarbiasa yang melibatkan
penembakan dan penculikan anak sekolah. Kendatipun demikian, cedera
3535 Krug, op. cit. at footnote 1, p. 68.

3636 W. M. Hunter et al., Risk factors for severe child discipline practices in
rural India, Journal ofPaediatric Psychology, vol. 25 (2000), pp. 435447.

3737 International Save the Children Alliance, Ending Physical and Humiliating
Punishment of Children Making it Happen, Part 1. Submission to the United Nations
Secretary-Generals Study on Violence against Children (Stockholm, Save the Children
Sweden, 2005).

serius dan kematian akibat kekerasan lebih kecil kemungkinannya terjadi pada
anak anak di lingkungan sekolah di banding dengan di rumah atau
lingkungan masyarakat yang lebih luas.

50. Kekerasan yang dilakukan oleh guru dan staf sekolah lainnya, dengan atau
tanpa persetujuan yang secara diam -diam ataupun tertulis dari kementrian
pendidikan dan otoritas lain yang mengawasi sekolah, mencakup hukuman
fisik, bentuk-bentuk hukuman psikologis yang kejam dan merendahkan
martabat, kekerasan berbasis jender dan seksual, dan penggertakan.
Hukuman badan seperti pemukulan dan penggunaan rotan dalam hukuman
merupakan praktek standar di sekolah pada sejumlah besar negara. Konvensi
Hak-hak Anak memperrsyaratkan negara-negara pihak untuk mengambil
langkah-langkah yang tepat untuk menjamin bahwa disiplin sekolah
dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan konvensi itu. The Global
Initiative to End All Corporal Punishment of Children melaporkan bahwa 102
negara telah melarang hukuman fisik di sekolah, namun penegakan aturan itu
masih belum nyata.38

51.Kekerasan di sekolah dalam bentuk perkelahian dan penggertakan (plonco)


juga terjadi.39 Di beberapa lingkungan masyarakat, perilaku agresif, termasuk
perkelahian, dipandang sebagai masalah disiplin yang tidak penting.
Penggertaan atau bullying lebih sering diasosiasikan dengan dikriminasi
terhadap anak-anak dari keluarga miskin atau kelompok-kelompok etnis yang
terpinggirkan, atau mereka yang memiliki kepribadian tertentu. (misalnya
penampilan, atau ketidakmampuan fisik atau psikologis). Penggertakan yang
paling umum bersifat verbal, namun secara fisik juga terjadi. Sekolah juga
terkena dampak peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat yang lebih
luas, misalnya, meningkatnya insidensi budaya gangster dan kegiatankegiatan kriminal yang terkait dengan geng khususnya yang terkait dengan
Narkoba. ome
societies, aggressive behaviour, including.40
3838 Global Summary of the Legal Status of Corporal Punishment of Children, op. cit. at
footnote 6.

3939 D. Olweus, Bullying at School: What We Know and What We Can Do (Oxford,
Blackwell, 1993).

4040 United Nations Secretary-Generals Study on Violence Against Children, Regional


ConsultationOutcome Report: Caribbean, Port of Spain, March 2005.

52. Kekerasan berbasis jender dan seks juga terjadi dalam lingkungan
pendidikan. Banyak diantaranya yang tertuju pada anak perempuan, dan
dilakukan oleh guru laki-laki dan teman sekelas. Kekerasan juga semakin
diarahkan pada lesbian, kaum gay, biseks, dan waria muda usia di banyak
negara dan kawasan. Kekerasan berbasis jender dan seks ditunjang oleh
kegagalan pemerintah untuk memberlakukan dan menerapkan undangundang yang memberikan perlindungan jelas dan tegas bagi siswa terhadap
diskriminasi.

C. Kekerasan dalam sistem peradilan dan perawatan/pengasuhan

53. Jutaan anak, khususnya anak laki-laki, menghabiskan waktu yang cukup
banyak dari masa hidupnya di bawah kendali dan pengawasan sistem
peradilan atau pihak-pihak yang berwenang dalam pengasuhan, atau institusi
seperti panti asuhan, rumah piatu, rumah asuh, kurungan polisi, penjara,
tahanan anak, dan sekolah anak nakal; (reform school). 41 Anak-anak ini
berada dalam risiko kekerasan, dari staf dan pegawai yang bertanggung jawab
atas kesejahteraan mereka. Hukuman badan dalam institusi tidak secara
eksplisit dilarang di sebagian besar negara.

54. Keadaan yang penuh sesak dan kumuh, diskriminasi dan stigmatisasi oleh
masyarakat, dan staf yang kurang terlatih mempertinggi risiko kekerasan.
Mekanisme penyampaian, pemantauan dan pemeriksaan yang efektif dan
peraturan pemerintah yang memadai sering tidak ada. Tidak semua pelaku
dijatuhi hukuman, yang menciptakan budaya impunitas dan toleransi terhadap
terjadinya kekerasan terhadap anak. Dampak dari institusionalisasi muncul di
kemudian hari yang mungkin
akibat dari kekerasan yang dialaminya
sekarang. Efek jangka panjang itu meliputi lambatnya perkembangan,
ketidakmampuan, kerusakan psikologis yang tidak tersembuhkan, dan
meningkatnya tingkat bunuh diri dan residivisme.

4141 Mohon dicatat bahwa keadaan anak lainnya dalam tahanan negara, termasuk

pengungsi dan buruh migran anak, serta keadaan anak-anak di masa damai dibahas
secara rinci dalam kajian mendalam mengenai kekerasan.

55. Sebanyak 8 juta anak-anak di dunia berada dalam perawatan


residensial..42 Sebagian dari jumlah itu berada dalam perawatan semacam itu
karena ketidakmampuan (ketunaan), hancurnya rumah tangga, kekerasan di
rumah dan keadaan sosial ekonomi, termasuk kemiskinan.

56. Kekerasan yang dilakukan oleh staf dalam institusi, untuk keperluan
mendisiplinkan anak, termasuk pemukulan dengan tangan telanjang,
tongkat dan pipa, dan memukulkan kepala anak ke tembok, mengikat anak
dalam karung kain, mengikat anak ke perabot rumah, mengunci mereka
dalam kamar yang sangat dingin selama berhari-hari dan mendudukan /
membaringkan mereka di atas kotorannya sendiri.43

57. Dalam institusi residensial, anak-anak penyandang ketunaan mungkin


menjadi korban kekerasan dengan alasan pengobatan. Dalam beberapa kasus,
anak yang usianya baru sembilan tahun dikenai pengobatan / tindakan
electroconvulsive treatment (ECT) tanpa menggunakan anestesi ataupun
pelemas otot.44 Kejutan listrik juga digunakan untuk mengendalikan perilaku
anak dan menjadikan mereka terbiasa, menjadikan mereka kurang bisa
mempertahankan dirinya terhadap kekerasan.45

4242 D. Tolfree, Roofs and Roots: The care of separated children in the developing
world. (London, Save the Children UK, 1995) cited in International Save the Children
Alliance, A Last Resort: The Growing Concernabout Children in Residential Care
(London, Save the Children UK, 2003), p. 15.

4343 United Nations Secretary-Generals Study on Violence against Children Regional

Desk Review: Middle East and North Africa Region (2005), p. 19; Mental Disability
Rights International, Hidden Suffering: Romanias Segregation and Abuse of Infants
and Children with Disabilities. (Washington, D. C., Mental Disability Rights International,
2006).

4444 Mental Disability Rights International, Behind Closed Doors: Human Rights Abuses
in the Psychiatric Facilities, Orphanages and Rehabilitation Centres of Turkey
(Washington, D. C., Mental Disability Rights International, 2005).

4545 United Nations Secretary-Generals Study on Violence against Children. Summary


report, thematic meeting on violence against disabled children, 28 July 2005 (New York,
UNICEF, 2005), p. 18.

58. Penelantaran/ pengabaian juga menjadi


ciri dari banyak institusi
residensial dimana keadaan mereka sedemikian buruknya sehingga kesehatan
dan jiwa anak berada dalam risiko. Di beberapa fasilitas yang diperuntukkan
bagi anak penyandang ketunaan, tidak terdapat akses pendidikan, rekreasi,
rehabilitasi dan program-program lainnya. Anak-anak penyandang ketunaan
sering dibiarkan berada di tempat tidur atau berada dalam krip bayi untuk
waktu yang lama tanpa adanya kontak manusia atau stimulasi. Ini dapat
menyebabkan kerusakan fisik, mental dan psikologis yang parah nantinya.

59. Anak-anak dalam perawatan residensial rentan terhadap kekerasan dari


anak lainnya, khususnya ketika kondisi dan pengawasan karyawan buruk dan
anak yang lebih tua dan agresif tidak dipisahkan dari anak-anak yang lebih
kecil atau lebih rentan. Staf kadang-kadang memberi sanksi atau mendorong
kekerasan yang dilakukan di antara mereka.

60. Walaupun dilarang oleh Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan
Politik, dan Konvensi Hak-hak Anak, beberapa negara masih menjatuhkan
hukuman mati bagi kejahatan yang dilaksanakan oleh anak yang berusia di
bawah 18 tahun. Saat ini, setidaknya ada 31 negara yang memperbolehkan
hukuman fisik dalam menghukum anak karena tindak kejahatan yang
dilakukannya,46 yang di beberapa negara termasuk pemukulan dengan rotan,
hukuman cambuk, di hukum lempar batu, atau di hukum potong.

61. Alih-alih kewajiban untuk menjamin bahwa penahanan anak hanya


digunakan sebagai upaya terakhir saja dan untuk masa hukuman yang
sesingkat-singkatnya sesuai jangka waktu yang tercantum dalam pasal 37
Konvensi Hak-hak Anak, diperkirakan bahwa sekitar satu juta anak terampas
kebebasannya pada tahun 1999.47 Sebagian besar dari perampasan
kebebasan ini dijatuhkan untuk kejahatan ringan, dan sebagian dari mereka
adalah pelaku pelanggaran untuk pertama kalinya. Banyak yang ditahan
karena membolos, menggelandang atau tidak punya rumah. Di beberapa
negara, sebagian besar anak dalam tahanan belum diputus hukumannya,
namun sedang dalam menunggu proses diadili.48

4646 Global Summary of the Legal Status of Corporal Punishment of Children, op. cit. at
footnote 6.

4747 G. Cappelaere dan A. Grandjean, Enfants privs de libert: droits et ralits


(Lige, Editions Jeunesse et Droit, 2000).

62. Anak-anak yang berada dalam tahanan sering menjadi korban kekerasan
oleh staf, termasuk sebagai bentuk pengendalian atau hukuman, sering untuk
pelanggaran kecil. Di sedikitnya 77 negara, hukuman badan dan hukuman
yang mengandung kekerasan diterima sebagai upaya pendisiplinan yang sah
menurut hukum dalam lembaga-lembaga pemasyarakatan.49 Anak mungkin
dipukul, dirotan, atau dikerangkeng, dan menjadi sasaran penistaan seperti
ditelanjangi dan dirotan di depan tahanan lainnya. Anak dalam berbagai
fasilitas penahanan secara khusus berisiko terhadap kekerasan (abuse)
seksual dan kekerasan fisik, terutama ketika pengawasan adalah staf pria. 50

63. Dalam upaya untuk menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam


Konvensi Hak-hak Anak, legislasi nasional mempersyaratkan dipisahkannya
fasilitas fasilitas untuk anak-anak yang berkonflik dengan hukum dalam
upaya untuk mencegah kekerasan (abuse) dan eksploitasi oleh narapidana
dewasa. Kendatipun demikian, penahanan bersama narapidana dewasa
merupakan hal yang biasa di beberapa negara. Anak-anak dalam tahanan
juga semakin tinggi risikonya untuk melukai diri dan berperilaku bunuh diri,
khususnya dalam kasus-kasus penahanan yang dalam waktu lama atau tak
terbatas, isolasi atau ketika ditahan di lembaga penahanan orang dewasa.

Kadang, sehari dalam penjara terasa setahun. Namun setelah


sepuluh hari, lama- lama kita terbiasa dan kita tak menangis
berlama-lama lagi.

Anak lelaki dalam tahanan anak51

4848 F. Martin and J. Parry-Williams, The Right Not to Lose Hope (London, Save the
Children UK, 2005).

4949 Global Summary of the Legal Status of Corporal Punishment of Children, op. cit. at
footnote 6.

5050 Report of the Special Rapporteur on violence against women on the mission to the
United States of America on the issue of violence against women in State and federal
prisons (E/CN.4/1999/68/Add.2), paras. 55 and 58.

5151 M. Grndal, One Day in Prison Feels like a Year: Palestinian Children Tell their
Own Stories (Save the Children, Stockholm, 2003).

D. Kekerasan di lingkungan Kerja

64. Terdapat sedikit data mengenai kekerasan terhadap pekerja anak


khususnya mereka yang berada di sektor informal. 52 Standar internasional
seperti Konvensi ILO 138 (1973) mengenai Usia Minimum untuk Memasuki
Dunia Kerja, melarang anak-anak di bawah usia minimum untuk bekerja agar
tidak berada di tempat kerja. Seantero kawasan, kekerasan fisik, psikologis
dan seksualmenimpa jutaan anak yang bekerja, baik secara legal maupun
secara gelap. Kekerasan mungkin digunakan untuk memaksa anak agar
bekerja atau untuk mengontrol mereka di dalam tempat kerja. Beberapa
kategori pekerjaan ilegal telah diidentifikasi sebagai bentuk pekerjaan yang
terburuk bagi anakdan oleh karena itu merupakan kekerasan terhadap anak.

65. Informasi mengenai tindakan-tindakan


kekerasan terhadap anak di
tempat kerja menunjukkan bahwa sebagian besar kasus dilakukan oleh
majikan, walaupun pelaku mungkin juga termasuk rekan kerja, klien,
mandor, pelanggan, polisi, geng kejahatan, dan, dalam kasus eksploitasi
seksual, adalah germo/mucikari.

66. Kategori pekerjaan terbesar bagi anak di bawah 16 tahun adalah


pekerjaan rumah tangga53 yang bentuknya sering berupa eksploitasi dan
pekerjaan yang tidak ada peraturannya, dan kadang-kadang berupa
penghambaan atau perbudakan.54 Beberapa negara telah memasukkan
kategori pekerjaan itu sebagai bentuk pekerjaan yang terburuk bagi anak di
bawah Konvensi ILO No. 182 (1999) mengenai Pelarangan dan Tindakan
5252 United Nations Secretary-Generals Study of Violence against Children Regional
Desk Review: East Asia and the Pacific (2005); ibid., Middle East and North Africa
(2005); ibid., Latin America (2005).

5353 Child Labour: Targeting the Intolerable. Report submitted to the 86th Session of
the International Labour Conference (Geneva, International Labour Office, 1998).

5454 Abuses Against Child Domestic Workers in El Salvador, Human Rights Watch, vol.

16, No. 1(B) (2004), Always on call: Abuse and Exploitation of Child Domestic Workers
in Indonesia, Human Rights Watch, vol. 17, No. 7(C) (2005); Human Rights Watch,
Inside the Home, Outside the Law: Abuse of child domestic workers in Morocco,
Human Rights Watch, vol. 17, No. 12(E) (2005); and T. Blanchet, Lost Innocence, Stolen
Childhood (Dhaka, University Press Limited, 1998).

Segera untuk Menghapuskan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk bagi Anak. 55


Pekerja anak melaporkan
adanya perlakuan yang tidak patut seperti
hukuman fisik, penistaan dan pelecehan seksual, dan pekerja domestik anakanak melaporkan bahwa mereka secara konsisten dipermalukan. 56 Sebagian
besar kekerasan fisik dan psikologis terhadap pekerja rumah tangga dilakukan
oleh perempuan (umumnya majikan), namun anak perempuan juga kadang
menjadi sasaran kekerasan seksual dari anggota keluarga laki-laki majikan
mereka..57

67. Eksploitasi anak di bawah usia 18 tahun dalam pelacuran, pornografi anak
dan kegiatan-kegiatan sejenis merupakan kekerasan. 58 Diperkirakan bahwa
satu juta anak memasuki sektor ini setiap tahunnya. 59 Banyak di antaranya
yang dipaksa, diculik, atau dijual dan diperangkap masuk ke dalam kegiatankegiatan semacam ini, atau menjadi korban perdagangan manusia. Selain
kekerasan seksual yang kentara dan nyata menimpa pelacur anak, anak
perempuan dan anak laki-laki dalam pelacuran dan bidang-bidang terkait
sering mengalami kekerasan fisik dan psikologis, serta penelantaran. Mereka
sering tidak mampu mencari bantuan,60 dan ketika mereka melakukan hal
5555 55 Helping Hands or Shackled Lives? Understanding Child Domestic Labour and

Responses To It (Geneva, International Labour Organization/International Programme


on the Elimination of Child Labour, 2004).

5656 56 Child domestic workers: A handbook on good practice in programme


interventions (London, Anti-Slavery International, 2005), pp. 5 and 6.

5757 57 J. Blagbrough, Violence against child domestic workers (Anti-Slavery


International paper presented at a Save the Children workshop, Thailand, September
2003).

5858 58 For a full definition of the commercial sexual exploitation of children, see the

Declaration of the World Congress Against the Commercial Sexual Exploitation of


Children, Stockholm, June 1996. Available online: http://www.csecworldcongress.org/.

5959 59 Profiting from Abuse. Report into children in commercial sexual exploitation
(New York, UNICEF, 2001), p. 20.

6060 60 International Save the Children Alliance, 10 Essential Learning Points: Listen
and Speak out against Sexual Abuse of Girls and Boys. Global Submission to the U.N.
Study on Violence against Children (Oslo, Save the Children Norway, 2005), p. 58.

tersebut mereka diperlakukan sebagai penjahat, dirampas kebebasannya dan


diberi kompensasi / remedi yang terbatas.

68. Pekerjaan ijon anak merupakan hal yang dapat dilihat di banyak bagian
dunia. Anak dipaksa dan diijonkan jarang dapat melindungi diri dari majikan
dan pekerja lainnya dan berbagai Studi dan kesaksian anak-anak memberi
kesan bahwa segala bentuk kekerasan bersifat endemik di semua dalam kerja
paksa dan kerja ijon. Kekerasan juga menimpa pulihan ribu anak-anak dalam
bentuk-bentuk perbudakan tradisional, yang masih ada di beberapa bagian
dunia.

E. Kekerasan di lingkungan masyarakat

69. Masyarakat/ komunitas merupakan sumber perlindungan dan solidaritas


bagi anak, namun masyarakat juga dapat menjadi tempat bertumbuhnya
kekerasan, termasuk kekerasan terhadap teman sebaya, kekerasan yang
berkaitan dengan senjata api dan senjata lain, kekerasan kelompok kejahatan,
kekerasan oleh polisi, kekerasan fisik dan kekerasan seksual, penculikan dan
perdagangan anak, kekerasan mungkin juga terkait dengan media massa, dan
teknologi baru informasi dan komunikasi. Anak-anak yang lebih besar berada
dalam risiko kekerasan oleh komunitas, dan anak-anak perempuan semakin
besar risiko tertimpa kekerasan seksual dan berbasis jender.

70. Bagi beberapa anak perjalanan menuju dan dari sekolah mungkin
merupakan untuk pertama kalinya mereka terpapar secara mandiri
ke
masyarakat; hal itu juga merupakan paparan terhadap risiko kekerasan untuk
pertama kalinya. Yang lain terpapar kekerasan ketika melaksanakan tugas
tugas rumah tangga seperti mengambil air, membeli bahan / kayu bakar
makanan, dan menggembalakan binatang. Tugas-tugas ini, yang mungkin juga
melibatkan kegiatan berjalan kaki untuk jarak yang cukup jauh, biasanya
ditugaskan ke anak perempuan di daerah pedesaan di negara berkembang. 61

71. Peningkatan yang tiba-tiba dan tajam nampak jelas terjadi pada tingkat
kekerasan (baik viktimisasi atau perlakuan) khususnya di kalangan anak-anak
yang berusia sekitar 15 tahun, yang menunjukkan bahwa sejumlah faktor
menyatu pada saat remaja, dan menjadikan kekerasan di antara kawan
6161 Every Girl Counts. Development, Justice and Gender. Girl Child Report (Ontario,
World Vision Canada, 2001), p. 17; UNICEF Somalia, From perception to reality: A study
on child protection in Somalia (Nairobi, UNICEF, 2003).

sebaya menjadi lebih umum terjadi. Data yang tersedia menunjukkan bahwa
di sebagian besar wilayah di dunia, tingkat pembunuhan di kalangan anak
laki-laki yang berusia antara 15dan 17 tahun sekurang-kurangnya 3 kali lebih
besar di banding pada anak-anak yang berusia antara 10-14 tahun.
Peningkatan yang tiba-tiba dalam kekerasan di kalangan anak yang berusia di
atas 15 tahun bahkan terjadi di kawasan-kawasan yang secara keseluruhan
tingkat pembunuhannya rendah dan menyiratkan bahwa upaya-upaya untuk
menurunkan perilaku kekerasan lebih genting dibanding sebelum dan pada
awal dan pertengahan usia belasan.62

72. Kekerasan fisik antara teman sebaya cenderung lebih banyak dijumpai di
kawasan perkotaan yang ditandai dengan buruknya lapangan kerja,
pendidikan dan sarana sosial dan standar perumahan yang rendah, di mana
populasi remaja dan yang bertumbuh dengan cepat menyatakan rasa
frustrasi, kemarahan, dan ketegangan yang tersalurkan dalam perilaku anti
sosial atau perkelahian. Banyak kekerasan yang melibatkan sengketa pribadi
antara teman dan kenalan, dan secara kuat dikaitkan dengan penggunaan
alkohol dan Narkoba. Ketika senjata api dan senjata jenis lainnya dapat
diperoleh, perkelahian akan menyebabkan cedera serius dan kematian.
Perbedaan jender dalam tingkat pembunuhan remaja menunjukkan kepada
kita bahwa sosialisasi laki-laki dan norma norma maskulinitas memberikan
andil terhadap kekerasan. Di Amerika Selatan, dan kawasan Karibia, misalnya,
tingkat pembunuhan di kalangan anak laki-laki dua sampai enam kali lebih
tinggi dibanding angkat yang sama untuk kalangan anak perempuan.63

73. Kebrutalan polisi dan buruknya akses terhadap keadilan sering ada pada
komunitas yang sangat parah terimbas dampak kekerasan.. 64 Di beberapa
negara kekerasan kelompok kejahatan dan kejahatan terorganisasi telah
menyebabkan pemerintah mengambil langkah-langkah represif terhadap
kelompok-kelompok tersebut. Ketika upaya-upaya ini tidak dikaitkan dengan
strategi pencegahan yang konsisten, sistem data yang handal dan
penghormatan penuh terhadap hak-hak asasi manusia, risiko kekerasan
mungkin akan semakin besar. Meningkatnya upaya upaya penghukuman dan
6262 Global Estimates of Health Consequences due to Violence against Children, op.
cit. at footnote 8.

6363 Ibid.

6464 Easy Targets: Violence against children worldwide (New York, Human Rights
Watch, 2001).

penahanan secara besar-besaran terhadap mereka yang dicurigai sebagai


anggota geng, yang dikaitkan dengan penegakan hukum yang keras tidak
efisien dan sewenang-wenang lebih jauh justru akan memberikan andil bagi
stigmatisasi pemuda miskin dan kekerasan yang meningkat.

74. Berbagai Studi mengenai kekerasan fisik yang tidak fatal mengungkap
bahwa untuk setiap pembunuhan remaja, terdapat sekitar 20 -40 korban
kekerasan yang tidak fatal yang memerlukan perawatan rumah sakit.
Sedangkan mengenai pembunuhan, tingkat viktimisasi kekerasan yang tidak
fatal lebih tinggi di kalangan anak laki-laki di banding kalangan perempuan. 65

75. Anak rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi seksual dari anggota
masyarakat. Kekerasan seksual lebih umum dilakukan oleh seseorang yang
dikenal sang anak, seperti anggota keluarga, atau orang dewasa yang dalam
posisi dipercaya anak (seperti pelatih olah raga, polisi, guru, dan majikan),
namun juga dilakukan oleh mereka yang tidak dikenal anak.. 66 Penelitian barubaru ini menunjukkan bahwa kekerasan merupakan bagian dari hubungan
remaja. Hasil awal dari Survei Global Kesehatan Berbasis Sekolah (Global
School-based
Health
Survey)
yang
tengah
berlangsung
,
yang
diselenggarakan di kalangan siswa yang berusia antara 13-15 tahun,
menunjukkan tingkat kekerasan fisik yang cukup signifikan dalam hubungan
kencan mereka. Ditanya apakah mereka telah dipukul, ditampar, atau disakiti
secara sengaja oleh pacarnya dalam waktu 12 bulan terakhir, 15% anak
perempuan dan 29 persen anak laki-laki di Yordania menjawab Ya,
sedangkan di Namibia, 9 persen anak perempuan dan 16 menyatakan hal
yang sama. Enam persen anak perempuan dan 8 persen anak laki-laki di
Swiss, dan 18 persen anak perempuan dan 23 persen anak laki-laki di Zambia
juga menjawab Ya.67

76. Kekerasan dalam masyarakat menimpa kelompok anak-anak terpinggir.


Kekerasan yang dikakukan polisi terhadap anak jalan dari pelecehan verbal
dan pemukulan sampai perkosaan dan kekerasan seksual lain, penyiksaan dan
penghilanganmerupakan hal yang banyak dijumpai dalam telaah Studi
6565 Krug , op. cit. at footnote 1, p. 27.

6666 10 Essential Learning Points, op. cit. at footnote 59, p. 22.

6767 Analisis diberikan pada Study by the Global School-based Health Survey: The
World Health Organization, op. cit. at footnote 9.

dan konsultasi. Anak-anak dari semua kawasan di dunia melaporkan


kekejaman atau kekerasan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh polisi
untuk kejahatan-kejahatan kecil.68

77. Pariwisata yang terjangkau dan murah juga membawa serta wisata seks,
yang sering menjadikan anak-anak sebagai korban. Internet dan
perkembangan teknologi komunikasi lain juga nampaknya juga terkait dengan
meningkatnya risiko eksploitasi seksual anak-anak serta bentuk kekerasan
lainnya.

78. Pengungsi dan anak telantar lainnya juga mengalami kekerasan yang
berarti. Penelitian mengenai pengungsi di lokasi-lokasi pengungsian di Afrika
menyebutkan buruknya keamanan di tempat-tempat umum lantaran risiko
kekerasan seksual dan kekerasan berbasis jender, sebagian besarnya
menimpa anak-anak perempuan..69 Banyak barak pengungsian kekurangan
bangunan yang aman; penegakan hukumnya juga tidak memadai, dan tidak
menjadi tempat aman bagi mereka yang selamat dari berbagai penyerangan,
Di samping itu, sarana pelaporan dan pemberian santunan juga buruk.. 70
Dalam hal diusir paksa, perempuan dan anak-anak gadis khususnya, dapat
terpapar masalah-masalah perlindungan yang terkait dengan jenis kelamin,
jender, termasuk posisi sosial ekonomi dan budaya mereka, serta status
hukumyang berarti bahwa mereka semakin kecil kemungkinannya untuk
dapat melaksanakan hak-hak bila dibandingkan dengan anak-anak laki-laki
dan pria dewasa.

6868 M. Wernham, An Outside Chance: Street Children and Juvenile Justice An


International Perspective (London, Consortium for Street Children, 2004).

6969 Darfur: women raped even after seeking refuge; donors must increase support to

victims of sexual violence. Human Rights Watch, press release, 11 April 2005; Lives
blown apart: Crimes against women in times of conflict (London, Amnesty
International, 2004); A. C. Okot, I. Amony and G. Otim, Suffering in Silence: A Study of
Sexual and Gender Based Violence (SGBV) in Pabbo Camp, Gulu District, Northern
Uganda (New York, UNICEF, 2005); J. Gardner and J. El Bushra, Somalia, The Untold
Story: The War through the eyes of Somali Women (London, CIIR and Pluto Press,
2004). 2000).

7070 J. Ward, If not now, when? Addressing gender-based violence in refugee, internally

displaced, and post-conflict settings (The Reproductive Health for Refugees


Consortium, 2002); Seeking Protection: Addressing Sexual and Domestic Violence in
Tanzanias Refugee Camps (New York, Human Rights Watch,

79. Perdagangan manusia, termasuk anak-anak bagi di dalam negeri ataupun


melewati batas-batas negara merupakan masalah yang menjadi keprihatinan
besar secara internasional. Fenomena ini sangat rumit, muncul sebagai akibat
dari interaksi antara kemiskinan, migrasi pekerja, konflik, atau kerusuhan
politik yang mengakibatkan telantarnya penduduk. 71Perdagangan manusia
sering melibatkan berbagai bentuk kekerasan: penculikan, penipuan oleh
pihak perekrut dalam transaksi mereka dengan anak, orang tua atau
pengasuhnya, kekerasan seksual yang menimpa korban perdagangan
manusia saat mereka diangkut ke tujuan mereka, 72 dan dikurung, sering
disertai kekerasan sementara menunggu penempatan kerja. Sebagian besar
korban diperdagangkan ke keadaan yang penuh kekerasanan: pelacuran,
perkawinan paksa, kerja pertanian atau kerja rumah tangga dalam kondisi
yang seperti perbudakan, penghambaan atau ikatan ijon.

80. Media massa kadang-kadang menampilkan kekerasan sebagai hal yang


normal atau yang dibesar-besarkan, termasuk kekerasan terhadap anak,
dalam media cetak maupun media visual, seperti program-program televisi,
permainan video, dan film..73 Internet juga merangsang produksi,
pendistribusian, dan penggunaan bahan-bahan yang menampilkan kekerasan
seksual terhadap anak. Internet telah digunakan untuk sarana on-line untuk
mendapatkan kepercayaan anak dalam menarik mereka ke dalam keadaan
yang membahayakan mereka. Internet juga memaparkan bahan-bahan
pornografi dan kekerasan, serta pelecehan dan intimidasi kepada anak-anak,
termasuk penggertakan (bullying), oleh orang dewasa dan anak lainnya. 74
Survei di Kanada dan Inggris menunjukkan bahwa sejumlah besar sekolah
telah dilecehkan, digertak, atau dikorbankan melalui email atau telepon
genggam, atau oleh orang lain telah dibagi terbitan dengan informasi yang
menyesatkan mengenai mereka secara on-line. 75 Aksen anak-anak terhadap
internet dan penggunaannya lebih sulit diawasi dibanding penggunaan media
cetak, televisi dan film.
7171 Trafficking in human beings, especially women and children, in Africa (2nd
edition) (Florence, UNICEF Innocenti Insight, 2004).

7272 Trafficking for sexual exploitation and other exploitative practices (Florence,
UNICEF Innocenti Research Centre, 2005).

7373 United Nations Secretary-Generals Study on Violence against Children Regional


Desk Review: North America (2005).

7474 ECPAT, Violence against Children in Cyberspace. Resource report for the United
Nations Secretary- Generals Study on Violence against Children (2005).

IV. KEMAJUAN YANG SUDAH DICAPAI

81. Analisis tanggapan pemerintah terhadap kuesioner dalam penelitian saya


dan observasi penutup Komite Hak-hak Anak menunjukkan bahwa sejumlah
prakarsa telah dikembangkan oleh pemerintah dan pihak lainnya untuk
mencegah dan merespons berbagai bentuk kekerasan terhadap anak yang
saya maksud di atas.

82. Pengalaman dan pengetahuan yang terhimpun dari


Negara-negara
anggota dan organisasi internasional dalam mengembangkan dan
melaksanakan prakarsa-prakarsa percegahan dan respons juga disajikan
dalam konsultasi regional, dan oleh karena itu,
menjadi bukti bagi
kemampuan negara untuk merespons tantangan yang serius ini.

83. Seratus sembilan puluh dua negara telah meratifikasi Protokol Opsional
Konvensi Hak hak Anak mengenai penjualan anak, pelacuran anak dan
pornografi anak; serta Opsional Protokol Konvensi Hak-hak Anak mengenai
Keterlibatan Anak dalam Konflik Bersenjata. Sejak Konvensi itu berlaku,
instrumen-instrumen lain juga telah diadopsi dan berlaku dengan jumlah
ratifikasi yang cukup signifikan. Konvensi ILO No. 182 telah diadopsi pada
tahun 1999 dan Protokol untuk Mencegah, Menekan, dan Menghukum
Perdagangan Manusia, Khususnya Perempuan dan Anak-anak, yang
melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa menentang Kejahatan
Transnasional Terorganisasi diadopsi pada tahun 2000.

84. Berbagai prakarsa telah dilaksanakan dan tindakan konkret telah diambil
berdasarkan pada instrumen hukum ini. Misalnya, Konvensi ILO No. 182 telah
menyebabkan
dibuatnya
atau
diamandemennya
undang-undang
ketenagakerjaan dan rencana-rencana aksi nasional yang memberikan sarana
baru bagi upaya penghapusan pekerjaan pekerjaan yang terburuk untuk
anak. Kemajuan juga telah dicapai dalam pelarangan dan penanganan
perdagangan anak dengan diundangkannya larangan perdagangan manusia

7575 T. Beran and Li Q, Cyber-Harassment: A Study of a New Method for an Old


Behavior, Journal of Educational Computing Research, vol. 32, No. 3 (2005), pp. 265
277.

dan penguatan kerja sama bilateral dan multilateral dengan negara-negara


asal dan negara-negara transit.

85. Tanggapan terhadap


kuesioner saya menunjukkan bahwa tindakantindakan
untuk penanganan kekerasan terhadap anak lebih banyak
didominasi upaya-upaya legislatif. Negara-negara anggota juga telah
memberlakukan peraturan-peraturan yang mencermati kekerasan terhadap
anak dan beberapa telah menyelaraskan legislasi nasionalnya dengan
Konvensi, Protokol dan perjanjian-perjanjian lainnya. Kendatipun demikian,
pembaruan hukum sering berfokus pada isu-isu penting / sempit , bukannya
mengambil langkah-langkah
pendekatan yang menyeluruh terhadap
kekerasan terhadap anak. Beberapa negara telah melakukan peninjauan
kembali secara seksama kerangka hukum mereka sehingga kerangka itu
dapat mencermati kekerasan terhadap anak secara lebih efisien, dan
penerapan hukum, termasuk pembaruannya tetap merupakan tantangan.

86. Di banyak negara, legislasi mengenai kekerasan


terhadap anak
berkonsentrasi pada kekerasan seksual atau kekerasan fisik dan tidak
memperhitungkan kekerasan psikologis. Perlindungan dan hukuman menjadi
fokusnya, sementara masalah pemulihan, reintegrasi dan santunan hanya
sedikit diperhatikan. Pencegahan juga dipandang oleh beberapa negara
hendaknya ditangani hanya melalui legislasi aspek-aspek perlindungan dan
hukuman

87. Tanggapan terhadap kuesioner saya juga menyinggung perumusan


rencana aksi, program dan kebijakan nasional yang berkaitan dengan
kekerasan terhadap anak. Kesemuanya ini sering berfokus pada eksploitasi
seksual dan perdagangan anak. Beberapa negara anggota telah membangun
struktur, termasuk pengadilan anak atau pengadilan keluarga untuk
menjawab keprihatinan mengenai perlindungan anak dan hal terkait lainnya.
Banyak negara juga melaporkan bahwa advokasi, prakarsa-prakarsa pelatihan
dan peningkatan kesadaran di bidang hak-hak anak dan perlindungan anak
telah dilaksanakan, dengan beberapa mengomentari peran aktif media dalam
penyebarluasan
informasi,
peningkatan
kesadaran,
dan
mobilisasi
masyarakat.
Kendatipun demikian, beberapa negara juga menyinggung
beberapa
peran
media
yang
merugikan
karena
kecenderungan
sensasionalisme pelanggaran privasi anak korban kekerasan, dan pemaparan
anak terhadap kekerasan.

88. Sementara Komite Hak-hak Anak dan Hak Asasi pemegang mandat khusus
mengakui bahwa pelaksanaan undang-undang masih tersendat dan bahwa
prakarsa-prakarsa yang ada pada umumnya belum memadai, Komite tersebut

juga telah mengakui kemajuan yang dicapai dalam perlindungan anak dari
kekerasan dalam segala lingkungan, Dalam dialognya dengan negara-negara
anggota konvensi yang berasal dari semua kawasan, Komite telah
mengidentifikasi dan mencatat dengan penuh penghargaan, keberadaan
praktek-praktek yang baik dan prakarsa prakarsa yang positif, seperti upayaupaya untuk menangani masalah-masalah pemotongan / mutilasi genital
perempuan, pekerja anak termasuk penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan
terburuk bagi anakdan kekerasan rumah tangga terhadap perempuan dan
anak-anak. Program program telah dibuat untuk memberikan bantuan dan
pelayanan
bagi
anak-anak
jalanan,
mendukung
orangtua
dan
mengembangkan keterampilan parenting-nya, dan legislasi telah dibuat
dengan tujuan untuk melarang diskriminasi terhadap anak-anak yang berasal
dari kelompok terpinggir, termasuk anak-anak penyandang ketunaan, anakanak yang terkena dampak atau tertular HIV/AIDS, anak-anak pribumi, dan
anak-anak yang berasal dari minoritas bahasa, agama, etnis dan Kebangsaan.

89. Mekanisme perlindungan hak asasi regional telah menjadi perhatian serius
dalam peningkatan standar hukum untuk perlindungan anak terhadap
kekerasan. Mekanisme hak-hak asasi Dewan Eropa, termasuk Peradilan Hakhak Asasi Eropa dan Komisi Hak-hak Sosial Eropa, telah menerbitkan
timbangan dan keputusan mengenai kekerasan terhadap anak, termasuk
hukuman fisik dan kekerasan seksual. Instrumen-instrumen yang mencermati
masalah perdagangan anak dan kekerasan yang terkait dengan teknologi
informasi yang baru juga telah dikembangkan oleh perangkat dalam Dewan
Eropa. Negara-negara anggota Uni Afrika telah mengadopsi Protokol Piagam
Afrika tentang Hak-hak Asasi Manusia dan Rakyat yang berkaitan dengan Hakhak Perempuan Afrika yang memberikan alat tambahan bagi penghapusan
praktek-praktek tradisional yang merugikan
seperti mutilasi genital. Di
tingkat regional, pada tahun 2000 Asosiasi Negara Asia Selatan untuk Kerja
sama Regional (South Asian Association for Regional Cooperation) telah
mengadopsi Konvensi Regional mengenai Pencegahan dan Upaya memerangi
Perdagangan Perempuan dan anak0-anak untuk Pelacuran. ( Convention on
Preventing and Combating Trafficking in Women and children for Prostitution.

V. KESIMPULAN

Dalam mengangkat berbagai masalah anak yang berhadapan dengan


kekerasan, kami menyadari bahwa upaya-upaya kami itu merupakan bagian
dari perjuangan dunia untuk merealisasikan hak-hak asasi manusia. Keinginan
kuat kita bukan untuk diperlakukan secara khusus, namun lebih pada supaya
diperlakukan lebih manusiawi sesuai dengan martabat
manusia yang
merupakan landasan penting bagi Deklarasi(Universal Hak asasi Manusia).

Sebagai warga dunia, kami mendesak untuk diakui sebagai manusia kelas
satu, bukan kelas dua.

Deklarasi Anak dan Remaja Karibia,

39

90. Lepas dari berbagai kemajuan ini, masih banyak hal yang harus
dikerjakan, dan beberapa faktor menghambat dampak berbagai upaya yang
telah dilakukan atau diusulkan yang berkaitan dengan kekerasan terhadap
anak. Hal-hal tersebut termasuk kurangnya pengetahuan atau pemahaman
mengenai kekerasan terhadap anak dan akar masalahnya, di mana salah satu
penyebabnya adalah data dan statistik yang tidak memadai. Upaya-upaya
untuk menangani kekerasan terhadap anak sering bersifat reaktif, berfokus
pada gejala dan akibat-akibat yang timbul, bukan penyebabnya. Strategi
cenderung terpecah-pecah bukannya terintegrasi dan sumber-sumber yang
dialokasikan untuk menjawab permasalahan tidak memadai. Selain itu,
komitmen internasional yang untuk melindungi anak dari kekerasan sering
tidak diterjemahkan menjadi tindakan tindakan di tingkat nasional.

91. Negara negara anggota telah membuat komitmen untuk melindungi anak
dari segala bentuk kekerasan. Kendatipun demikian, kita harus menerima
dari kesaksian-kesaksian yang anak-anak dalam proses Studi serta
sebagaimana tercermin dalam penelitian, bahwa komitmen-komitmen itu
masih belum dipenuhi. Pesan terpenting dari Studi ini adalah bahwa tidak ada
kekerasan terhadap anak dalam bentuk apapun juga yang dibenarkan; semua
kekerasan terhadap anak dapat dicegah. Hendaknya tidak ada alasan untuk
memaafkannya. Negara-negara anggota harus bertindak sekarang dengan
tegas untuk memenuhi kewajiban-kewajiban hak asasi mereka dan komitmenkomitmen lainnya untuk menjamin dilindunginya anak dari segala bentuk
kekerasan. Sementara tanggung jawab hukum berada di pihak negara,
segenap lapisan masyarakat, perorangan, hendaknya berbagi tanggung jawab
untuk mengutuk dan mencegah kekerasan terhadap anak dan merespons
anak-anak korban kekerasan. Tak satu pun dari kita yang berani menatap
mata anak-anak bila kita terus merestui dan mendorong kekerasan apapun
terhadap mereka.

92. Pada saat yang sama, akibat-akibat dari kekerasan terhadap anak
bervariasi menurut sifat dan keseriusannya, dan maka dari itu, berbagai
upaya untuk mencegah dan merespons kekerasan semacam itu juga harus
dilakukan dari berbagai sudut sekaligus, sesuai dengan kekerasan yang

39

dihadapi, lingkungan kejadiannya, pelaku (atau pelaku-pelaku)nya, dengan


selalu mempertimbangkan kepentingan terbaik anak.

93. Selama pengembangan Studi


ini, saya
mengikuti pedoman yang
berdasarkan pada prinsip-prinsip berikut, yang tercermin dalam rekomendasi
yang saya sampaikan.

(a) Tidak ada kekerasan dalam bentuk apapun yang dapat dibenarkan. Anak
hendaknya selalu menerima perlindungan lebih dibanding orang dewasa.

(b) Segala kekerasan terhadap anak dapat dicegah. Negara harus menerapkan
kebijakan dan program-program berbasis bukti untuk menangani faktor-faktor
yang meningkatkan kekerasan terhadap anak.;

(c) Negara negara anggota


memiliki tanggung jawab utama untuk
menjunjung tinggi hak-hak anak atas perlindungan dan terhadap akses
pelayanan dan mendukung kapasitas keluarga untuk memberikan perawatan
kepada anak dalam lingkungan yang aman.

(d) Negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin akuntabilitas dalam


setiap kasus kekerasan.
(e) Kerentanan anak terhadap kekerasan terkait dengan usia mereka dan
kemampuan berkembangnya. Beberapa anak secara khusus rentan karena
status jender, ras, asal-usul etnis, ketidakmampuan/ ketunaan atau status
sosialnya.

(f) Anak memiliki hak untuk menyatakan pandangan-pandangannya, dan hak


agar pandangan-pandangannya itu dipertimbangkan dalam pelaksanaan
kebijakan dan program.

VI. REKOMENDASI

94. Rekomendasi saya terdiri dari seperangkat rekomendasi yang


bersifat memayungi, yang berlaku untuk semua upaya guna
mencegah kekerasan terhadap anak dan untuk merespons kekerasan

tersebut bila hal itu terjadi, dan rekomendasi khusus yang berlaku
untuk rumah dan keluarga, sekolah, dan lingkungan pendidikan
lainnya, institusi untuk pengasuhan atau penahanan, lingkungan
kerja dan masyarakat.

95.Rekomendasi rekomendasi tersebut utamanya ditujukan bagi


negara dan dengan merujuk pada fungsi-fungsi kelembagaan dan
penyampaian pelayanan, pembuatan kebijakan, administrasi dan
legislasinya. Beberapa rekomendasi ditujukan pada sektor lain dalam
masyarakat yang juga sangat penting. Ini meliputi lembaga-lembaga
profesi, serikat pekerja, lembaga-lembaga penelitian, para majikan
dan organisasi non pemerintah serta organisasi berbasis masyarakat.
Rekomendasi juga ditujukan kepada orang tua dan anak-anak.

A. Rekomendasi Umum (sebagai payung).

1. Memperkuat komitmen nasional, lokal dan aksi.

96. Saya merekomendasikan bahwa semua negara hendaknya


mengembangkan kerangka sistematis dan bersifat multifaset, untuk
merespons kekerasan terhadap anak, yang diintegrasikan dalam
proses perencanaan nasional. Suatu strategi, kebijakan, dan rencana
aksi yang bersifat nasional tentang kekerasan terhadap anak, yang
terikat jadwal waktu dan realistis, dengan dikoordinasikan oleh suatu
badan/ lembaga dengan kapasitas untuk melibatkan berbagai sektor
dalam strategi pelaksanaan berbasis luas, hendaknya dirumuskan.
Hukum, kebijakan, rencana dan program nasional harus sepenuhnya
sesuai dengan hak-hak asasi internasional dan pengetahuan ilmiah
yang ada saat ini. Implementasi dari strategi, kebijakan atau rencana
nasional hendaknya dievaluasi secara sistematis sesuai dengan
jadwal dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, dan disertai
dengan sumber-sumber daya manusia dan keuangan yang mencukupi
untuk mendukung pelaksanaannya.

2. Larang segala bentuk kekerasan terhadap anak

97. Saya mendesak Negara-negara untuk memastikan bahwa tidak


ada seorangpun yang berusia 18 tahun dijatuhi hukuman mati atau
hukuman seumur hidup tanpa ada kemungkinan untuk dibebaskan.

Saya merekomendasikan bahwa negara-negara anggota hendaknya


mengambil langkah-langkah penting untuk segera menghentikan
pelaksanaan hukuman mati yang dijatuhkan bagi seseorang karena
kejahatan yang dilakukannya sebelum yang bersangkutan berumur
18 tahun dan melakukan upaya-upaya hukum yang tepat untuk
mengubahnya menjadi hukuman yang tidak bertentangan dengan
standar hak asai manusia dan hukum internasional. Hukuman mati
sebagai hukuman
yang
dijatuhkan
karena
kejahatan
yang
dilakukannya sebelum yang bersangkutan berusia 18 tahun
hendaknya ditempatkan dalam prioritas tertinggi untuk dihapuskan.

98. Saya mendesak negara-negara untuk melarang segala bentuk


kekerasan terhadap anak, di semua lingkungan, termasuk hukuman
fisik,
praktek-praktek
tradisional
yang
merugikan,
seperti
perkawinan diri dan perkawinan paksa, mutilasi genital perempuan
dan apa yang disebut kejahatan untuk mempertahankan kehormatan,
kekerasan seksual, dan penyiksaan serta hukuman atau perlakuan
yang
kejam,
tidak
berperikemanusiaan
atau
menghinakan,
sebagaimana yang dihimbau oleh perjanjian-perjanjian internasional,
termasuk Konvensi Menentang Penyiksaan dan Hukuman dan
Perlakuan
yang
Kejam,
Tidak
berperikemanusiaan,
atau
Merendahkan Martabat, dan Konvensi Hak-hak Anak. Saya ingin
meminta perhatian terhadap komentar umum No. 8 (2006) dari
Komite Hak-hak Anak terhadap perlindungan dari hukuman badan
dan bentuk-bentuk hukuman lain yang kejam dan merendahkan
martabat. (pasal 19,28, paragraf 2, dan pasal 37, inter alia)
(CRC/C/GC/8).

3. Prioritaskan Pencegahan

99. Saya merekomendasikan bahwa Negara-negara hendaknya


memprioritaskan upaya pencegahan kekerasan terhadap anak
dengan menangani penyebab-penyebab utamanya. Hanya sebagai
sumber daya yang dicurahkan untuk melakukan intervensi setelah
kekerasan terjadi sungguh penting, Negara hendaknya juga
mengalokasikan sumber-sumber daya yang mencukupi untuk
menangani faktor-faktor risiko
yang mendesak dan mencegah
kekerasan sebelum kekerasan tersebut terjadi. Kebijakan dan
program hendaknya menangani /menjawab faktor-faktor risiko yang
seperti kurangnya keterikatan anak orang tua, rumah tangga yang
berantakkan, penyalahgunaan alkohol dan narkoba dan akses
terhadap senjata apu dan senjata lainnya. Sesuai dengan Tujuan
Pembangunan Milenium (MDGs), perhatian hendaknya dicurahkan

pada
kebijakan-kebijakan
ekonomi
yang
menjawab
masalah
kemiskinan, jender, dan bentuk-bentuk ketidaksetaraan lainnya,
kesenjangan pendapatan, pengangguran perkotaan yang terlalu
penuh sesak, dan faktor-faktor lain yang menggerus masyarakat.

4. Promosikan nilai-nilai dan tingkatkan kesadaran anti kekerasan

100. Saya merekomendasikan bahwa negara-negara anggota dan


masyarakat sipil hendaknya berjuang untuk mentransformasikan
sikap yang mengabaikan atau memandang normal kekerasan
terhadap anak, termasuk peran jender yang bersifat stereotype dan
diskriminasi, penerimaan hukuman badan, dan praktek-praktek
tradisi yang merugikan. Negara-negara hendaknya menjamin bahwa
hak-hak anak disebarluaskan dan dipahami, termasuk oleh anak.
Kampanye penyebaran informasi untuk khalayak hendaknya
dipergunakan agar masyarakat peka terhadap efek-efek merugikan
dari kekerasan pada anak. Negara hendaknya mendorong media
untuk mempromosikan nilai-nilai non-kekerasan dan pelaksanaan
panduan untuk memastikan dihormatinya secara penuh hak-hak anak
dalam peliputan media.

5. Meningkatkan kapasitas semua pihak yang bekerja dengan anak


dan untuk anak.

101.Saya merekomendasikan bahwa kapasitas mereka yang bekerja


dengan anak dan untuk anak untuk menghapuskan segala bentuk
kekerasan terhadap mereka hendaknya dikembangkan. Pelatihan
mula dan santiaji (in service training) yang menambah pengetahuan
dan penghormatan bagi hak-hak anak hendaknya diberikan. Negaranegara hendaknya melaksanakan pendidikan yang sistematis dan
program-program pelatihan bagi profesional dan non profesional
yang bekerja dengan dan untuk anak dan keluarga, guna mencegah,
mendeteksi, dan memberikan respons terhadap kekerasan pada
anak. Pedoman Perilaku dan standar praktek-praktek yang jelas,
yang memasukkan pelarangan dan penolakan segala bentuk
kekerasan dan penolakan hendaknya dirumuskan dan dilaksanakan.

6. Sediakan pelayanan pemulihan dan reintegrasi sosial

102. Saya merekomendasikan bahwa negara-negara hendaknya


menyediakan pelayanan kesehatan universal dan pelayanan sosial
yang ramah anak, termasuk bantuan hukum, perawatan darurat dan
bantuan pra-rumah sakit bagi anak dan, bila mana dipandang perlu,
keluarganya ketika kekerasan dideteksi atau terungkap. Sistem
pelayanan sosial, kesehatan dan pengadilan hendaknya dirancang
untuk memenuhi kebutuhan khusus anak.

7. Menjamin partisipasi anak.

103. Saya merekomendasikan bahwa negara-negara hendaknya


secara aktif terlibat dengan anal dan menghormati pandanganpandangannya
di
segala
aspek
pencegahan,
respons
dan
pemantauan
kekerasan
terhadap
mereka,
dengan
mempertimbangkan pasal 12 Konvensi Hak-hak Anak. Organisasiorganisasi anak hendaknya didukung dan didorong.

8. Ciptakan sistem dan pelayanan pelaporan yang ramah anak dan


dapat diakses.

104. Saya merekomendasikan bahwa negara-negara hendaknya


membangun mekanisme yang aksesibel, rahasia dan terpublikasi
secara luas bagi anak, perwakilannya atau pihak lain untuk
melaporkan kekerasan terhadap anak. Semua anak, termasuk mereka
yang berada dalam institusi pengasuhan dan institusi pengadilan
hendaknya menyadari adanya mekanisme penyampaian keluhan.
Mekanisme seperti telepon bantuan yang dapat dipakai anak untuk
melaporkan terjadinya kekerasan (abuse), berbicara kepada konselor
terlatih secara rahasia dan meminta dukungan dan nasihat,
hendaknya dibangun dan penciptaan cara-cara pelaporan kekerasan
yang
lain
melalui
wahana
teknologi
baru
hendaknya
dipertimbangkan.

9. Berikan jaminan akuntabilitas dan mengakhiri impunitas

105. Saya merekomendasikan bahwa negara-negara anggota


hendaknya membangun komunitas dalam sistem peradilan dengan,
secara timbal balik, membawa para pelaku kekerasan terhadap ke
pengadilan
dan
memastikan
bahwa
mereka
diminta

pertanggungjawabannya melalui sanksi dan proses yang profesional


dan administrasi, perdata maupun pidana. Orang yang terbukti dan
dijatuhi
hukuman
melakukan
pelanggaran
kekerasan
dan
penyalahgunaan terhadap anak dicegah agar tidak bekerja dengan
anak.

10. Cermati dimensi jender dari kekerasan terhadap anak

106. Saya merekomendasikan bahwa negara-negara anggota


hendaknya menjamin bahwa kebijakan kebijakan dan program yang
anti kekerasan dirancang dan dilaksanakan dari sudut pandang
jender, dengan mempertimbangkan perbedaan risiko yang dihadapi
anak perempuan dan anak laki-laki berkenaan dengan kekerasan;
Negara-negara hendaknya mendorong dan melindungi hak-hak asasi
perempuan dewasa dan anak-anak dan mencermati semua
diskriminasi jender sebagai bagian dari strategi pencegahan
kekerasan yang bersifat menyeluruh.

11. Kembangkan dan terapkan penelitian dan pengumpulan data


nasional yang sistematis

107. Saya merekomendasikan bahwa negara negara hendaknya


memperbaiki sistem informasi dan pengumpulan data dalam upaya
untuk mengidentifikasi sub-kelompok rentan, menginformasikan
kebijakan dan program di semua tingkatan dan melacak kemajuan
menuju sasaran pencegahan kekerasan terhadap anak-anak. Negara
hendaknya menggunakan indikator nasional berdasarkan pada
standar yang disepakati secara internasional , dan menjamin bahwa
data-data dikompilasikan, dianalisis, dan disebarluaskan untuk
memantau kemajuan seiring dengan berjalannya waktu. Ketika
register data perkawinan kelahiran dan kematian terbaru yang
bercakupan nasional belum tersedia, maka register itu hendaknya
dibuat dan dipelihara. Negara-negara anggota hendaknya juga
membangun dan memelihara data mengenai anak tanpa pengasuhan
orang tua, dan anak yang berada dalam sistem peradilan pidana.
Data hendaknya juga dibuat agregatnya berdasarkan jenis kelamin,
usia, pedesaan/ perkotaan, karakteristik rumah tangga dan keluarga,
pendidikan dan etnis. Negara-negara anggota hendaknya juga
mengembangkan
agenda penelitian nasional yang mengenai
kekerasan terhadap anak di segala lingkungan di mana kekerasan
terjadi, termasuk melalui kajian Studi wawancara dengan anak dan

para orangtua, dengan perhatian khusus pada kelompok anak lakilaki dan perempuan yang rentan.

12. Perkuat komitmen internasional

108. Saya merekomendasikan bahwa semua negara hendaknya


meratifikasi dan melaksanakan Konvensi Hak-hak Anak dan dua
protokol opsional tentang keterlibatan anak dalam konflik bersenjata
dan mengenai penjualan anak, pelacuran anak dan pornografi anak.
Semua hal yang tidak sesuai dengan tujuan dan maksud Konvensi
dan Protokol Opsional hendaknya ditarik sesuai dengan Deklarasi
Wina dan Rencana Aksi Sedunia Konferensi Hak-hak Asasi Manusia
tahun 1993.
Negara-negara hendaknya meratifikasi semua
instrumen hak asasi internasional dan regional yang memberikan
perlindungan kepada anak, yang meliputi Konvensi menentang
Penyiksaan dan bentuk-bentuk lain hukuman dan perlakuan yang
kejam, tidak berperikemanusiaan, atau Merendahkan Martabat;
Statuta Roma tentang Mahkamah Internasional; Konvensi tentang
Penghapusan Segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan
Protokol opsionalnya; Konvensi ILO no. 138 tentang Usia Minimum
untuk Memasuki Dunia Kerja; dan Konvensi PBB menentang
Kejahatan Transnasional Terorganisasi dan Protokol untuk Mencegah,
Menekan, dan Menghukum Perdagangan Manusia, Khususnya
Perempuan dan Anak-anak, yang melengkapi Konvensi PBB
menentang
Kejahatan
Transnasional
Terorganisasi.
Negara
hendaknya
melaksanakan
kewajiban-kewajiban
hukum
internasionalnya dan memperkuat kerja sama mereka dengan badanbadan perjanjian.

109. Saya merekomendasikan bahwa negara negara bertindak sesuai


dengan komitmen mereka mengenai pencegahan kekerasan yang
dibuat dalam persidangan khusus Majelis Umum tentang anak dan
dalam konteks Resolusi Dewan Majelis Kesehatan WHO 76mengenai
pelaksanaan rekomendasi the World Report on Violence and Health,
dan resolusi kesehatan regional yang memperkuat resolusi ini.

1. Dalam lingkungan rumah dan keluarga


7676 Implementing the recommendations of the World Report on Violence and Health.
Report of the World Health Assembly (WHA56.24), Fifty-sixth World Health Assembly
(Geneva, World Health Organization, 2003).

110. Dengan mengingat bahwa keluarga merupakan memiliki


tanggung jawab utama atas pengasuhan dan perkembangan anak
dan bahwa negara hendaknya mendukung orang tua dan pengasuh ,
untuk merawat anak, saya merekomendasikan bahwa negara:

(a) Mengembangkan atau meningkatkan program-program untuk


mendukung
orangtua
dan
pengasuh
lainnya
dalam
peran
membesarkan anak mereka. Investasi di bidang perawatan
kesehatan,
pendidikan
dan
pelayanan
kesejahteraan
sosial
hendaknya meliputi program perkembangan masa kanak-kanak dini
yang berkualitas, kunjungan rumah, pelayanan
pra dan pasca
kelahiran dan program-program untuk meningkatkan pendapatan
bagi kelompok-kelompok yang tidak beruntung;

(b) Kembangkan program-program bersasaran bagi keluarga


keluarga yang menghadapi keadaan yang sulit. Ini mungkin termasuk
keluarga keluarga yang dikepalai oleh perempuan atau anak-anak,
mereka yang menjadi anggota kelompok minoritas atau kelompokkelompok lain yang mengalami diskriminasi, dan keluarga yang
merawat anak-anak penyandang ketunaan;

(c) Kembangkan program-program pendidikan orangtua yang ramah


jender yang berfokus pada bentuk-bentuk disiplin tanpa kekerasan.
Program-program semacam itu hendaknya mendorong hubungan
anak-orangtua yang sehat dan memberikan orientasi bagi orangtua
untuk menuju bentuk bentuk pendekatan disiplin yang konstruktif
dan positif dan pendekatan-pendekatan
perkembangan anak,
dengan mempertimbangkan kapasitas perkembangan anak dan arti
penting menghormati pandangan-pandangannya.

2. Di lingkungan sekolah dan lingkungan pendidikan lain

111. Dengan mengingat bahwa semua anak harus mampu belajar


bebas dari kekerasan, bahwa sekolah hendaknya aman dan ramah
anak, dan kurikulum hendaknya berbasis hak, dan juga bahwa
sekolah hendaknya menyediakan suatu lingkungan di mana sikapsikap yang mengabaikan kekerasan dapat diubah dan perilaku dan
nilai-nilai non-kekerasan dapat dipelajari, saya merekomendasikan
bahwa negara-negara anggota hendaknya:

(a) Mendorong sekolah-sekolah untuk mengadopsi dan melaksanakan


kode etik yang berlaku bagi semua staf dan siswa yang menghadapi
segala bentuk kekerasan, dengan memperhitungkan stereotype dan
perilaku berbasis jender dan bentuk-bentuk diskriminasi lainnya;

(b) menjamin bahwa kepala sekolah dan para guru menggunakan


strategi-strategi pembelajaran yang bersifat non-kekerasan dan
mengadopsi pengelolaan kelas dan upaya-upaya penegakan disiplin
yang tidak didasarkan pada ketakutan, ancaman, penistaan atau
kekuatan fisik;

(c) Mencegah dan menurunkan kekerasan di sekolah-sekolah melalui


program-program khusus yang menjawab permasalahan di seluruh
lingkungan
sekolah,
termasuk
melalui
upaya
mendorong
dikembangkannya keterampilan-keterampilan seperti pendekatan
non-kekerasan terhadap pemecahan konflik, pelaksanaan kebijakan
anti perploncoan, dan mempromosikan rasa hormat bagi semua
anggota komunitas sekolah;

(d) Menjamin bahwa kurikulum, proses pengajaran dan praktekpraktek lainnya sepenuhnya sesuai dengan ketentuan dan prinsipprinsip Konvensi Hak-hak Anak, bebas dari rujukan yang secara aktif
atau pasif mempromosikan kekerasan dan diskriminasi dalam segala
bentuknya;

3. Di lingkungan institusi peradilan dan pengasuhan

112. Dengan mengingat bahwa negara-negara anggota bertanggung


jawab untuk menjamin keselamatan anak di lingkungan pengasuhan
residensial dan fasilitas-fasilitas tahanan pengadilan anak, saya
merekomendasikan bahwa Negara-negara anggota hendaknya:

(a) Memprioritaskan penurunan tingkat pengiriman anak ke institusi


dengan memberikan alternatif berbasis komunitas dan pelestarian
keluarga, dengan menjamin bahwa perawatan panti/ institusi
merupakan upaya terakhir. Pilihan-pilihan pengasuhan berbasis
keluarga hendaknya dijadikan kecenderungan dalam semua kasus

dan hendaknya menjadi satu-satunya pilihan bagi bayi dan anak yang
masih kecil. Negara hendaknya menjamin bahwa sepanjang
memungkinkan, anak-anak yang berada di pengasuhan residensial
bisa diintegrasikan dengan keluarga mereka di bawah kondisi yang
tepat. Mengakui / mengetahui adanya kerentanan khusus anak-anak
penduduk asli dan anak-anak dari kelompok minoritas, negara
hendaknya
menjamin bahwa anak-anak ini dan keluarganya diberi dukungan
berbasis budaya dan pelayanan pengasuhan /perawatan dan bahwa
pekerja sosial memiliki pelatihan yang memadai untuk bekerja secara
efektif dengan mereka;

(b) Mengurangi jumlah anak yang memasuki sistem peradilan dengan


melakukan dekriminalisasi status pelanggaran (pelanggaran yang
hanya kejahatan ketika hal itu dilakukan anak, misalnya membolos,
lari dari rumah, atau di luar kendali orangtua), perilaku
mempertahankan
hidup
(seperti
mengemis,
berjualan
seks,
pemulung, menggelandang) dan viktimisasi oleh trafiking atau
eksploitasi pidana. Negara-negara anggota
hendaknya juga
membangun sistem peradilan anak yang bersifat restoratif, berpusat
pada anak dan bersifat menyeluruh yang mencerminkan standar
internasional..77 Penahanan hendaknya dikakukan bagi anak-anak
yang diperkirakan menjadi ancaman berkelanjutan bagi pihak lain,
dan sumber-sumber daya yang signifikan hendaknya ditanamkan
dalam rancangan-rancangan alternatif serta pada program-program
reintegrasi dan rehabilitasi berbasis komunitas.

(c) Secara berkala menilai penempatan-penempatan dengan


menelaah kembali alasan-alasan penempatan anak dalam fasilitasfasilitas penahanan dan pengasuhan, dengan maksud
untuk
memindahkan
anak
ke keluarga atau pengasuhan berbasis
komunitas;

(d) Membangun mekanisme penyampaian aduan, investigasi dan


penegakan hukum yang independen dan efektif untuk melakukan
penanganan kekerasan dalam sistem peradilan dan pengasuhan;
7777 Misalnya periksa pasal 37, 39 and 40 dari Convention on the Rights of the Child,
the United Nations Standard Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice
(the Beijing Rules), the United Nations Guidelines for the Prevention of Juvenile
Delinquency (the Riyadh Guidelines), the United Nations Rules for the Protection of
Juveniles Deprived of their Liberty and the Guidelines for Action on Children in the
Criminal Justice System.

(e) Menjamin bahwa anak yang berada dalam institusi menyadari


akan hak-haknya dan dapat mengakses mekanisme yang ada untuk
melindungi hak-haknya itu;

(f) Menjamin akses berkala dan pemantauan yang efektif terhadap


institusi peradilan dan pengasuhan oleh badan-badan independen
yang diberi kuasa untuk melakukan kunjungan mendadak,
mewawancarai anak anak dan staf secara pribadi, dan menyelidiki
kekerasan yang belum terbukti.

(g) Meratifikasi Protokol Opsional Konvensi Menentang Penyiksaan,


yang mendukung adanya sistem kunjungan pencegahan yang
independen ke tempat-tempat penahanan.

4. Di lingkungan Kerja

113. Mengingat bahwa anak-anak di bawah umum hendaknya tidak


berada di lingkungan tempat kerja, dan arti penting perlindungan
semua anak di tempat kerja dari segala bentuk kekerasan,
sebagaimana ditetapkan dalam Konvensi ILO No. 138 dan 192,
Konvensi Hak-hak Anak dan instrumen internasional lainnya, saya
merekomendasikan bahwa negara-negara anggota hendaknya:

(a)
Melaksanakan
undang-undang
tenaga
kerja
domestik,
mengarusutamakan penghapusan pekerja anak ke dalam kebijakan
pembangunan nasional dan memberikan prioritas pada penghapusan
segala bentuk pekerjaan yang terburuk bagi anak yang secara
dengan sendirinya memang mengandung kekerasan. Perhatian
khusus hendaknya dicurahkan pada eksploitasi ekonomi anak di
dalam sektor informal, misalnya di bidang pertanian, perikanan,
pelayanan rumah tangga, di mana fenomena itu lebih banyak
dijumpai. Selain itu, negara-negara anggota hendaknya menjamin
bahwa pekerja anak berpartisipasi dalam diskusi untuk memecahkan
masalah tersebut.

(b) Di mana anak bekerja secara legal, (misalnya sesuai dengan


konvensi internasional), ciptakan dan laksanakan tata peraturan dan

proses inspeksi yang secara tegas memasukkan program pencegahan


kekerasan, sistem pelaporan dan prosedur pengaduan;

(c) Di mana anak bekerja secara gelap, pastikan bahwa programprogram integrasi dan pemulihan yang tersedia yang berfokus pada
pemberian bantuan anak-anak di bawah umur, dan mereka yang
berada di dalam pekerjaan yang terburuk untuk meninggalkan
tempat itu, menerima pendidikan dan pelatihan dan meningkatkan
kesempatan hidupnya tanpa mengalami viktimisasi lebih lanjut;

(d) Buatlah daftar dukungan sektor swasta, serikat buruh, dan


masyarakat sipil untuk membentuk kemitraan yang merangsang
upaya-upaya pertanggungjawaban sosial perusahaan dan mendorong
sektor swasta untuk mengadopsi panduan etika dalam mendukung
program-program pencegahan di tempat kerja.

5. Di Lingkungan masyarakat

114. Dengan mengingat bahwa upaya-upaya untuk mencegah dan


merespons kekerasan terhadap anak dalam masyarakat hendaknya
mencermati faktor-faktor risiko sosial dan ekonomi dan lingkungan
fisik masyarakat, saya merekomendasikan bahwa negara-negara
anggota hendaknya:

(a) Menerapkan strategi-strategi pencegahan untuk mengurangi


faktor faktor risiko yang paling mendesak di masyarakat. Faktor
risiko akan berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya, namun
secara umum mencakup akses yang mudah terhadap alkohol dan
Narkoba, pemilikan dan membawa senjata api dan senjata lainnya,
dan penggunaan anak-anak dalam kegiatan-kegiatan melawan
hukum;

(b) Mengurangi ketidakadilan ekonomi dan sosial,


Pemerintah
hendaknya menganalisis dampak kebijakan publik pada kerentanan
masyarakat dan anak-anak mereka terhadap kekerasan dan
berkomitmen untuk menanamkan investasi dalam jumlah yang cukup
untuk melaksanakan program-program dan kebijakan pendidikan
yang berkualitas, lapangan kerja, perumahan dan sosial. Prioritas
hendaknya diberikan pada pendekatan-pendekatan yang berfokus

pada kemiskinan dan memperbaiki hubungan, partisipasi dan


jaringan sosial di dalam atau antara berbagai kelompok komunitas
yang berbeda, dan karena itu memenuhi hak-hak ekonomi, sosial dan
budaya;

(c) Merancang dan melaksanakan pelatihan hak-hak anak dalam


kepolisian yang mencakup informasi mengenai cara-cara yang tepat
untuk menangani anak, khususnya mereka yang berasal dari
kelompok terpinggirkan, dan mereka yang menjadi sasaran tindak
diskriminatif,
mendidik
polisi
tentang
tahapan-tahapan
perkembangan anak, dinamika dan sifat kekerasan terhadap anak,
perbedaan antara kelompok sebaya dengan geng, dan pengelolaan
anak yang berada di bawah pengaruh alkohol atau Narkoba
secara`tepat;

(d) Memberikan akses awal bagi pelayanan terpadu, termasuk


pelayanan rujukan dan tindak lanjut yang terkoordinasi bagi korban
dan pelaku; meningkatkan pelayanan medis darurat dan perawatan
pra-rumah sakit, serta pelayanan dukungan psikologis dan fisik;
memberikan program-program untuk merehabilitasi pelaku, sambil
mengingat bahwa mereka hendaknya dituntut untuk bertanggung
jawab sepenuhnya atas apa yang dilakukannya;

(e) Mempromosikan dan mendukung prakarsa pemerintah setempat


dan masyarakat sipil untuk mencegah kekerasan terhadap anak,
khususnya dengan menyediakan rekreasi yang aman dan peluangpeluang lain bagi anak laki laki dan perempuan, dengan
mempertimbangkan anak-anak rentan pada khususnya;

(f) Mendorong dan membantu pemerintah kota dan pemerintah


setempat untuk menurunkan faktor risiko dalam lingkungan fisik.
Tempat-tempat yang aman dan terang bagi anak, termasuk rute yang
aman bagi anak dan remaja untuk berjalan melalui komunitasnya,
hendaknya dimasukkan dalam perencanaan perkotaan;

(g) Mengembangkan kerangka hukum yang tepat yang konsisten


dengan instrumen dan standar internasional yang relevan dan
sepenuhnya menerapkan hukum domestik menentang perdagangan
manusia; memperkuat upaya-upaya untuk melindungi semua anak
dari perdagangan dan eksploitasi seksual, termasuk melalui kerja

sama bilateral, sub-regional, regional dan internasional dan dalam


hal ini, menyelaraskan definisi hukum, prosedur dan kerja sama di
semua tingkatan.
Strategi hendaknya beragam mulai dari
pencegahan primer (yakni mengubah kondisi yang membuat anak
rentan terhadap trafiking) sampai penegakan hukum dengan sasaran
para pelaku perdagangan manusia, dan hendaknya menjamin bahwa
korban trafiking dan segala bentuk eksploitasi yang terkait tidak
dipidanakan;

(h) Mendorong/ meningkatkan upaya penuntutan pelaku pelanggaran


hukum yang berkaitan dengan penjualan anak, pelacuran anak, dan
pornografi anak melalui peninjauan kembali hukum-hukum domestik
dalam upaya untuk menghapuskan persyaratan kriminalitas ganda
(double criminality).78 Negara-negara anggota Protokol Opsional
mengenai penjualan anak, pelacuran anak, dan pornografi anak
hendaknya mempertimbangkan kemungkinan diamandemennya
legislasi mereka dengan menggunakan Protokol Opsional sebagai
dasar hukum bagi ekstradisi yang berkaitan dengan pelanggaran
yang dimaksud dalam Protokol Opsional;

(i) Menjamin bahwa anak yang diperdagangkan diberi perlindungan,


akses terhadap perawatan kesehatan, bantuan yang memadai, dan
pelayanan reintegrasi sosial ketika mereka terlibat dalam investigasi
kejahatan dan proses peradilan. Dalam konteks ini, saya
ingin
meminta perhatian Negara-negara anggota terhadap Panduan PBB
mengenai Pengadilan dalam Hal-hal yang Melibatkan Korban Anak
dan Saksi Kejahatan (United Nations Guidelines on Justice in Matters
involving Child Victims and Witnesses of Crime);79

(j) Memperkuat upaya-upaya untuk memerangi penggunaan teknologi


informasi termasuk internet, telepon genggam dan game elektronik
dalam eksploitasi seksual anak-anak dan bentuk lain kekerasan.
Upaya-upaya dukungan untuk mendidik dan memberi tahu n anakanak dan pengasuhnya mengenai bahaya yang ada dalam konteks ini.

7878 Sebuah pelanggaran hendaknya dianggap kejahatan baik di Negara yang menjadi

tempat pelanggaran hukum itu serta di Negara dimana kejahatannya sedang


dituntutkan.

7979 Resolusi Ekonomi dan Sosial 2005/20.

Memidanakan dan secara tepat menghukum mereka yang membuat,


menyalurkan, menggunakan atau memiliki pornografi anak;

(k) Mendorong industri komunikasi dan informasi untuk merancang


dan melaksanakan standar global untuk perlindungan anak,
melaksanakan penelitian mengenai pemecahan perangkat lunak dan
perangkat keras yang protektif, dana kampanye pendidikan di
seluruh dunia mengenai penggunaan teknologi baru yang aman.

C. Pelaksanaan dan Tindak Lanjut

Kami membutuhkan dukungan anda untuk menghentikan kekerasan


terhadap anak, tidak hanya di daerah kami, namun di seluruh dunia.
Ada satu pepatah Cina, Gu Cheung Lan Ming, yang artinya tak ada
suara yang dapat diciptakan bila hanya satu tangan yang bertepuk.
Kami, anak-anak, adalah salah satu tangan. Orang dewasa adalah
tangan satunya. Masyarakat adalah satu tangan. Pemerintah adalah
satu tangan lainnya lagi Kami sungguh-sungguh percaya bahwa
komunitas yang damai, penuh cinta dan bersatu dapat kita bangun,
bila kita bekerja sama untuk masa depan!

Pemuda, Asia Timur dan Pasifik

80

115. Tanggung jawab utama untuk melaksanakan rekomendasi berada


pada pemerintah. Kendatipun demikian, partisipasi para pelaku lain
dalam tingkat nasional, regional dan internasional sangat penting
untuk membantu Negara melaksanakan tugasnya. Ini termasuk
badan-badan PBB, organisasi masyarakat sipil, termasuk organisasi
profesi seperti ikatan dokter, ikatan perawat, asosiasi masyarakat,
pendidik, orangtua dan anak-anak.

1. Tingkat Nasional dan Regional

8080 Pidato Sambutan Delegasi dibawah usia 18. dalam United Nations SecretaryGenerals Study on Violence against Children Regional Outcome Report: East Asia and
the Pacific (2005).

116. Pelaksanaan pada tingkat nasional hendaknya dipromosikan


segera. Pengintegrasian proses upaya perencanaan nasional untuk
mencegah dan merespons kekerasan
terhadap anak hendaknya
terjadi sebelum tahun 2007 dan hendaknya mencakup penunjukan
fokal poin, lebih baik di tingkat kementrian. Pelarangan kekerasan
terhadap anak dengan undang-undang dan memulai proses untuk
mengembangkan sistem pengumpulan data nasional yang handal
hendaknya diselesaikan sebelum 2009. Negara-negara anggota
Konvensi dan Protokol Opsional hendaknya memberikan informasi
mengenai pelaksanaan rekomendasi ini dalam laporan-laporannya ke
Komite Hak-hak Anak. Laporan kemajuan mengenai pelaksanaan dan
rekomendasi hendaknya disampaikan ke Majelis Umum pada
persidangan ke enam puluh lima.

117. Organisasi internasional hendaknya mendorong dan mendukung


Pemerintah
dalam
pelaksanaan
rekomendasi
ini.
Saya
merekomendasikan bahwa lembaga-lembaga keuangan internasional
untuk meninjau kembali kebijakan dan kegiatannya untuk
mempertimbangkan dampak yang program mereka bagi anak. Tim
negara-negara PBB hendaknya memasukkan upaya-upaya untuk
mencermati dan menangani kekerasan terhadap anak dalam strategi
menurunkan kemiskinannya, mengordinasikan
penilaian tingkat
negara dan kerangka bantuan pembangunan.

118.
Pemerintah
hendaknya
mempertimbangkan
ditunjuknya
komisioner atau ombudsman untuk hak-hak anak sesuai dengan
prinsip-prinsip yang berkaitan dengan status lembaga hak asasi
nasionalnya. (The Paris Principles).81 Bekerja bahu-membahu dengan
badan/ instansi lain yang menangani kesehatan masyarakat dan
masalah-masalah perlindungan anak, institusi ini hendaknya memiliki
mandat yang jelas untuk memonitor hak-hak anak di tingkat nasional
regional dan lokal. Bilamana diperlukan, mereka hendaknya memiliki
kompetensi untuk menerima dan melakukan investigasi pengaduan
pelanggaran hak-hak anak dari masyarakat, termasuk anak.

8181 Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan status lembaga-lembaga nasional untuk


promosi
dan
perlindungan
HAM.
Dapat
diakses
di
http://www.unhchr.ch/html/menu6/2/fs19.htm#annex. Rekomendasi ini disahkan oleh
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam resolusinya No. 48/134 of 20
Desember 1993.

119. Mengingat kontribusi organisasi organisasi di tingkat regional


dalam pengembangan Studi ini, badan-badan regional hendaknya
dilibatkan dalam pelaksanaan dan tindak lanjut rekomendasi ini.
Pengembangan mekanisme regional lebih lanjut hendaknya didorong
sebagai bagian penting dari kerangka tindak lanjut secara
keseluruhan. Saya mendorong sistem perlindungan hak-hak asasi
regional untuk memantau pelaksanaan rekomendasi ini.

2. Tingkat Internasional

120. Mengingat pentingnya koordinasi multisektoral yang


dalam
mencermati kekerasan
terhadap anak, saya merekomendasikan
Majelis Umum untuk meminta Sekretaris Jenderal PBB menunjuk
perwakilan khusus mengenai kekerasan terhadap anak, untuk
bertindak sebagai advokat
global
untuk mempromosikan
pencegahan dan penghapusan segala kekerasan terhadap anak,
mendorong kerja sama internasional dan regional dan menjamin
tindak lanjut bagi rekomendasi ini.

121.
Perwakilan
khusus
hendaknya
menyebarluaskan
dan
mempromosikan rekomendasi rekomendasi Studi ini di berbagai
forum nasional, regional dan internasional. Dia hendaknya secara
berkala melapor ke Dewan Hak Asasi Manusia dan Majelis Umum, dan
hendaknya
mengordinasikan
penyiapan
laporan
mengenai
implementasi rekomendasi , untuk disampaikan ke Majelis Umum
pada persidangan ke enam puluh lima.

122. Perwakilan khusus akan bekerja bahu-membahu, namun tidak


menjiplak bidang kerja Komite Hak-hak Anak, Perwakilan Khusus
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak dan
Konflik Bersenjata, Pelapor Khusus mengenai penjualan anak,
prostitusi anak dan pornografi anak, Pelapor Khusus mengenai
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Pelapor Khusus mengenai
Perdagangan Manusia khususnya Perempuan dan Anak-anak. Ia
hendaknya melakukan kerja sama dengan sistem perlindungan hakhak asasi manusia di tingkat regional dan semua prakarsa tindak
lanjut nasional dan regional lainnya.

123. Perwakilan khusus hendaknya memiliki mandat selama empat


tahun. Dengan bermodalkan kerja sama antar lembaga/ badan yang

berhasil yang menandai Studi ini, ia hendaknya didukung oleh


OHCHR, UNICEF dan WHO. Suatu kelompok Antar Lembaga / Badan
mengenai Kekerasan terhadap Anak dengan perwakilan dari LSM dan
anak-anak hendaknya mendukung tindak lanjut.

-------