Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan depresi adalah jenis jenis penyakit gangguan jiwa yang
sering terjadi di masyarakat. Prevalensi gangguan depresi di Indonesia ada
sebanyak 11,60% dari jumlah penduduk di Indonesia sekitar 24.708.000
jiwa (Depsos, 2012) dan 50 persen terjadi pada usia 20 50 tahun
(Depkes, 2007). Perempuan dua kali lipat beresiko mengalami depresi
dibandingkan laki laki, hal ini diperkirakan adanya perbedaan hormon,
pengaruh melahirkan, dan perbedaan stresor psikososial (Ismail dan Siste,
2010).
Di Amerika menurut hasil survey The National Comorbidity
Survey Replication 16,2 persen penduduk Amerika mengalami depresi
selama hidupnya, dan selama 12 bulan terakhir lebih dari 6,6 persen dari
mereka mengalami depresi (Teter et al.,2007). Menurut World Health
Organization (WHO), gangguan depresi menempati urutan ke empat
penyakit di dunia. Pada tahun 2020 diperkirakan depresi akan menempati
urutan ke dua untuk beban global penyakit tidak menular (Fadilah, 2011).
Menurut data Badan Kesehatan Dunia meningkatnya depresi yang tidak
dapat dikendalikan dapat menyebabkan banyak orang untuk bunuh diri
karena tidak mampu menghadapi beban hidup. Dan untuk mereka yang
masih mampu bertahan hidup, akan mengalami keterbelakangan mental
(Depsos, 2012).
Di Indonesia gambaran besarnya masalah kesehatan jiwa, baik
anak-anak maupun dewasa, dapat dilihat dari Survey Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT ) tahun 1995 yang dilakukan oleh Badan Litbangkes
Depkes RI dengan menggunakan sampel susenas BPS ( Badan Pusat
Statistik ) terhadap 65.664 rumah tangga. Temuannya menunjukkan bahwa
prevalensi gangguan jiwa per 1000 anggota rumah tangga adalah 140
orang menderita gangguan mental emosional. Prevalensi diatas 100 per
1000 anggota rumah tangga dianggap sebagai masalah kesehatan
masyarakat yang penting (priority public health problem) (Depkes, 2007).
B. Rumusan Masalah

1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian dari depresi?


Apa saja klasifikasi dari depresi?
Apa penyebab dari depresi?
Apa saja gambaran klinis dari depresi?
Bagaimana penatalaksanaan depresi?

C. Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian depresi.
2. Mahasiswa mampu mengetahui klasifikasi depresi.
3. Mahasiswa mampu mengetahui penyebab depresi.
4. Mahasiswa mampu mngetahui gambaran klinis depresi.
5. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan depresi.

BAB II
ISI
A. Definisi

Depresi merupakan bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan


(afektif, mood ) yang biasa ditandai dengan kemurungan, kesedihan,
kelesua, kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat, merasa tidak
berdaya, perasaan bersalah, tidak berguna, dan putus asa (Yosep, 2007).
Mekanisme

terjadinya

yaitu,

depresi

berkaitan

dengan

kadar

nurotransmitter terutama norepinefrin dan serotonin di dalam otak. Kadar


norepinefrin da serotonin yang rendah dapat menyebabkan depresi
(Prayitno, 2008). Reseptor serotonin atau 5-Hydroxytriptamine (5-HT)
merupakan senyawa neurotransmitter monoamine yang terlibat pada
penyakit depresi. Serotonin di otak disekresikan oleh raphe nuclei di
batang otak. Serotonin disintesis oleh perkusornya yaitu triptofan dengan
dibantu enzim triptofan hidroksilase dan asam amino aromatic
dekarboksilase, serotonin yang terbentuk kemudian disimpan di dalam
monoamine vesikuler, selanjutnya jika ada picuan serotonin akan terlepas
menuju celah sinaptik. Serotonin yang terlepas akan mengalami berdifusi
menjauh dari sinaptik, dimetabolisir oleh MAO, mengaktivasi reseptor
presinaptik, mengaktivasi reseptor post-sinaptik dan mengalami re-uptake
dengan bantuan transporter serotonin presinaptik (Ikawati, 2008).
Berbagai gambaran klinis gangguan depresi yakni gangguan
episode depresi, gangguan distimia, gangguan depresi mayor dan
gangguan depresi unipolar serta bipolar ( Depkes, 2007). Depresi mayor
dan distimia atau minor merupakan sindrom depresi murni, sedangkan
gangguan bipolar dan gangguan siklotimik merupakan tanda depresi yang
diasosiasikan dengan mania (Potter dan Hollister, 2002).
B. Klasifikasi
Gangguan distimia adalah gangguan perasaan depresi yang
ditandai dengan gejala kronis ( kurang lebih 2 tahun ) dan berada pada
tingkat keparahan yang ringan, tetapi juga dapat menghambat fungsi
normal dengan baik (NIMH, 2011). Gejala distimia yang biasa muncul
seperti

menurun

atau

meningkatnya

nafsu

makan,

sulit

untuk

berkonsentrasi, perasaan mudah putus asa, mudah lelah, gangguan tidur


seperti insomnia dan hipersomnia. Orang dengan gangguan distimia

mungkin pernah mengalami episode depresi berat selama hidupnya


(Varcorolis et al , 2006).
Ganguan depresi mayor ( gangguan unipolar ) adalah gangguan
yang terjadi satu atau lebih episode depresi. Gangguan depresi mayor
terjadi tanpa ada riwayat episode manik atau hipomanik alami (Nevid dkk,
2003). Gangguan depresi mayor ditandai dengan beberapa gangguan yang
seperti gangguan tidur, makan, belajar, dan gangguan untuk menikmati
kesenangan (NIMH, 2011).
Gangguan depresi bipolar, sering disebut depresi manik ( Sonne
dan Brady, 2002) adalah gangguan yang melibatkan suasana hati yang
ekstrim (berupa euphoria). Gangguan tersebut dapat dipicu oleh stess dan
tekanan dari kehidupan sehari hari, peristiwa traumatis, trauma fisik /
cedera kepala (Fisher, 2006 ). Gangguan bipolar merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang signifikan, dan sering kali tidak terdiagnosis
dan tidak diobati untuk jangka panjang ( Sonne dan Brady, 2002).
C. Penyebab
Dasar penyebab depresi yang pasti tidak diketahui, banyak usaha
untuk mengetahui penyebab dari gangguan ini. Menurut Kaplan, faktorfaktor yang dihubungkan dengan penyebab depresi dapat dibagi atas:
faktor biologi, faktor genetik dan faktor psikososial. Dimana ketiga faktor
tersebut juga dapat saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya
(Sadock & Sadock, 2010).
1. Faktor Biologi
Faktor neurotransmiter: Dari biogenik amin, norepinefrin dan
serotonin merupakan dua neurotransmiter yang paling berperan dalam
patofisiologi gangguan mood. Norepinefrin hubungan yang dinyatakan
oleh penelitian ilmiah dasar antara turunnya regulasi reseptor Badrenergik dan respon antidepresan secara klinis memungkinkan
indikasi peran sistem noradrenergik dalam depresi. Bukti-bukti lainnya
yang juga melibatkan presinaptik reseptor adrenergik dalam depresi,
sejak reseptor reseptor tersebut diaktifkan mengakibatkan penurunan
jumlah norepinefrin yang dilepaskan. Presipnatik reseptor adrenergik
juga berlokasi di neuron serotonergik dan mengatur jumlah serotonin
yang

dilepaskan.

Dopamin
4

juga

sering

berhubungan

dengan

patofisiologi depresi. Faktor neurokimia lainnya seperti gamma


aminobutyric acid (GABA) dan neuroaktif peptida (vasopressin dan
opiate endogen) telah dilibatkan dalam patofisiologi gangguan mood
(Rush et al., 1998).
2. Faktor Genetik
Data genetik menyatakan bahwa faktor yang signifikan dalam
perkembangan gangguan mood adalah genetik. Pada penelitian anak
kembar terhadap gangguan depresi berat pada anak, pada anak kembar
monozigot adalah 50%, sedangkan dizigot 10-25% (Sadock & Sadock,
2010). Menurut penelitian Hickie et al., menunjukkan penderita late
onset

depresi

terjadi

karena

mutasi

pada

gene

methylene

tetrahydrofolate reductase yang merupakan kofaktor yang terpenting


dalam biosintesis monoamin. Mutasi ini tidak bisa diketemukan pada
penderita early onset depresi (Hickie et al, 2001).
3. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stres lingkungan

dimana

suatu

pengamatan klinik menyatakan bahwa peristiwa atau kejadian dalam


kehidupan yang penuh ketegangan sering mendahului episode
gangguan mood. Suatu teori menjelaskan bahwa stres yang menyertai
episode

pertama

akan

menyebabkan

perubahan

fungsional

neurotransmiter dan sistem pemberi tanda intra neuronal yang akhirnya


perubahan tersebut menyebabkan seseorang mempunyai resiko yang
tinggi untuk menderita gangguan mood selanjutnya (Sadock & Sadock,
2010).
Faktor kepribadian premorbid menunjukkan tidak ada satu
kepribadian atau bentuk kepribadian yang khusus sebagai predisposisi
terhadap depresi. Semua orang dengan ciri kepribadian manapun dapat
mengalami depresi, walaupun tipe kepribadian seperti dependen,
obsesi kompulsif, histironik mempunyai risiko yang besar mengalami
depresi dibandingkan dengan lainnya (Sadock & Sadock, 2010).
Faktor Psikoanalitik dan Psikodinamik : Freud (1917) menyatakan
suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankoli. Ia menyatakan
bahwa kemarahan pasien depresi diarahkan kepada diri sendiri karena
mengidentifikasikan terhadap objek yang hilang. Freud percaya bahwa

introjeksi merupakan suatu cara ego untuk melepaskan diri terhadap


objek yang hilang (Sadock & Sadock, 2010).
Menurut penelitian Bibring mengatakan depresi sebagai suatu efek
yang dapat melakukan sesuatu terhadap agresi yang diarahkan kedalam
dirinya. Apabila pasien depresi menyadari bahwa mereka tidak hidup
sesuai dengan yang dicita-citakannya, akan mengakibatkan mereka
putus asa (Tasman, 2008).
Faktor ketidakberdayaan yang dipelajari dimana ditunjukkan dalam
hewan percobaan, dimana binatang secara berulang-ulang dihadapkan
dengan kejutan listrik yang tidak dapat dihindarinya, binatang tersebut
akhirnya menyerah dan tidak mencoba sama sekali untuk menghindari
kejutan selanjutnya. Mereka belajar bahwa mereka tidak berdaya. Pada
penderita depresi, dapat menemukan hal yang sama dari keadaan
ketidakberdayaan tersebut (Sadock & Sadock, 2010).
Pada teori kognitif, Beck menunjukkan perhatian gangguan
kognitif pada depresi. Dia mengidentifikasikan 3 pola kognitif utama
pada depresi yang disebut sebagai triad kognitif, yaitu pandangan
negatif terhadap masa depan, pandangan negatif terhadap diri sendiri,
individu menganggap dirinya tak mampu, bodoh, pemalas, tidak
berharga, dan pandangan negatif terhadap pengalaman hidup (Sadock
& Sadock, 2010).
D. Gambaran Klinis
Pada penderita depresi dapat ditemukan berapa tanda dan gejala umum
menurut

Diagnostic

Manual

Statistic

IV

(DSM-IV):

(American

Psychiatric Association, 2000)


1. Perubahan fisik
a. Penurunan nafsu makan
b. Gangguan tidur
c. Kelelahan atau kurang energi
d. Agitasi
e. Nyeri, sakit kepala, otot kram dan nyeri tanpa penyebab fisik
2. Perubahan Pikiran
a. Merasa bingung, lambat berpikir
b. Sulit membuat keputusan
c. Kurang percaya diri
d. Merasa bersalah dan tidak mau dikritik
e. Adanya pikiran untuk membunuh diri
3. Perubahan Perasaan
6

a. Penurunan ketertarikan dengan lawan jenis dan melakukan


hubungan suami istri.
b. Merasa sedih
c. Sering menangis tanpa alasan yang jelas.
d. Irritabilitas, mudah marah dan terkadang agresif.
4. Perubahan pada Kebiasaan Sehari-hari
a. Menjauhkan diri dari lingkungan sosial
b. Penurunan aktivitas fisik dan latihan.
c. Menunda pekerjaan rumah.
E. Penatalaksanaan
Tujuan terapi depresi adalah untuk mengurangi gejala depresi akut,
meminimalkan efek samping, memastikan kepatuhan pengobatan,
membantu pengembalian ketingkat fungsi sebelum depresi, dan mencegah
episode lebih lanjut (Sukandar dkk., 2008). Banyaknya jenis terapi
pengobatan, keefektivitan pengobatan juga akan berbeda beda antara
orang yang satu dengan orang yang lain. Psikater biasanya memberikan
medikasi dengan menggunakan antidepresan untuk menyeimbangkan
kimiawi otak penderita.Terapi yang digunakan untuk pasien dipengaruhi
oleh hasil evaluasi riwayat kesehatan serta mental pasien (Depkes, 2007).
1. Terapi non Farmakologi
a. Psikoterapi
Psikoterapi adalah terapi pengembangan yang digunakan untuk
menghilangkan atau mengurangi keluhan keluhan serta
mencegah kambuhnya gangguan pola perilaku maladatif (Depkes,
2007). Teknik psikoterapi tersusun seperti teori terapi tingkah laku,
terapi interpersonal, dan terapi untuk pemecahan sebuah masalah.
Dalam fase akut terapi efektif dan dapat menunda terjadinya
kekambuhan selama menjalani terapi lanjutan pada depresi ringan
atau sedang. Pasien dengan menderita depresi mayor parah dan
atau dengan psikotik tidak direkomendasikan untuk menggunakan
psikoterapi. Psikoterapi merupakan terapi pilihan utama utuk
pasien dengan menderita depresi ringan atau sedang (Teter et

al.,2007).
b. Electro Convulsive Therapy (ECT)

Electro

Convulsive

Therapy

adalah

terapi

dengan

mengalirkan arus listrik ke otak (Depkes, 2007). Terapi


menggunakan ECT biasa digunakan untuk kasus depresi berat yang
mempunyai resiko untuk bunuh diri (Depkes, 2007). ECT juga
diindikasikan untuk pasien depresi yang tidak merespon terhadap
obat antidepresan (Lisanby, 2007). Terapi ECT terdiri dari 6 12

treatment dan tergantung dengan tingkat keparahan pasien.


Terapi ini dilakukan 2 atau 3 kali seminggu, dan sebaiknya terapi
ECT dilakukan oleh psikiater yang berpengalaman (Mann. 2005).

Electro Convulsive Therapy akan kontraindikasi pada


pasien yang menderita epilepsi, TBC miller, gangguan infark
jantung, dan tekanan tinggi intra karsial (Depkes, 2007).

2. Terapi Farmakologi
Antidepresan

adalah

obat

yang

dapat

digunakan

untuk

memperbaiki perasaan (mood) yaitu dengan meringankan atau


menghilangkan gejala keadaan murung yang disebabkan oleh keadaan
sosial ekonomi, penyakit atau obat obatan ( Tjay & Rahardja,
2007 ). Antidepresan adalah obat yang digunakan untuk mengobati
kondisi

serius

yang

dikarenakan

depresi

berat.

Kadar

NT

(nontransmiter) terutama NE (norepinefrin) dan serotonin dalam otak


sangat berpengaruh terhadap depresi dan gangguan SSP. Rendahnya
kadar NE dan serotonin di dalam otak inilah yang menyebabkan
gangguan depresi, dan apabila kadarnya terlalu tinggi menyebabkan
mania. Oleh karena itu antideresan adalah obat yang mampu
meningkatkan kadar NE dan serotonin di dalam otak ( Prayitno,2008 ).

a. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) merupakan obat


terbaru dengan batas keamanan yang lebar dan memiliki spektrum
efek samping obat yang berbeda beda. SSRI diduga dapat
meningkatkan serotonin ekstraseluler yang semula mengaktifkan
autoreseptor, aktivitas penghambat pelepasan serotonin dan
menurunkan serotonin ekstraseluler ke kadar sebelumnya. Untuk
saat ini SSRI secara umum dapat diterima sebagai obat lini pertama
(Neal, 2006).
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor adalah obat antidepresan
yang mekanisme kerjanya menghambat pengambilan serotonin
yang telah disekresikan dalam sinap (gap antar neuron), sehingga
kadar serotonin dalam otak meningkat. Peningkatan kadar
serotonin dalam sinap diyakini bermanfaat sebagai antidepresan
(Prayitno, 2008). SSRI memiliki efikasi yang setara dengan
antidepresan trisiklik pada penderita depresi mayor (Mann, 2005).
Pada pasien depresi yang tidak merespon antidepresan trisiklik
(TCA) dapat diberikan SSRI ( MacGillvray et al., 2003). Untuk
gangguan

depresi

mayor

yang

berat

dengan

melankolis

antidepresan trisiklik memiki efikasi yang lebih besar daripada


SSRI, namun untuk gangguan depresi bipolar SSRI lebih efektif
dibandingkan

antidepresan

trisiklik

hal

ini

dikarenakan

antidepresan trisiklik dapat memicu timbulnya mania dan


hipomania (Gijsman, 2004).
Obat antidepresan yang termasuk dalam golongan SSRI seperti
Citalopram, Escitalopram, Fluoxetine, Fluvoxamine, Paroxetine,
dan Sertraline (Teter et al.,2007). Fluoxetine merupakan
antidepresan golongan SSRI yang memiliki waktu paro yang lebih
panjang dibandingkan dengan anidepresan golongan SSRI yang
lain, sehingga fluoxetine dapat digunakan satu kali sehari (Mann,
2005). Efek samping yang ditimbulkan Antidepresan SSRI yaitu
gejala gastrointestinal ( mual, muntah, dan diare), disfungsi
sexsual pada pria dan wanita, pusing, dan gangguan tidur. Efek
samping ini hanya bersifat sementara (Teter et al., 2007).
9

b. Antidepresan Trisiklik (TCA)


Antidepresan trisiklik (TCA) merupakan antidepresan yang
mekanisme kerjanya menghambat pengambilan kembali amin
biogenik seperti norepinerin (NE), Serotonin ( 5 HT) dan
dopamin didalam otak, karena menghambat ambilan kembali
neurotransmitter yang tidak selektif,sehingga menyebabkan efek
samping yang besar ( Prayitno, 2008). Antidperesan trisiklik efektif
dalam mengobati depresi tetapi tidak lagi digunakan sebagai obat
lini pertama, karena efek sampingnya dan efek kardiotoksik pada
pasien yang overdosis TCA (Unutzer, 2007). Efek samping yang
sering ditimbulkan TCA yaitu efek kolinergik seperti mulut kering,
sembelit, penglihatan kabur, pusing, takikardi, ingatan menurun,
dan retensi urin. Obat obat yang termasuk golongan TCA antara
lain

Amitripilin,

Clomipramine,

Doxepin,

Imipramine,

Desipiramine, Nortriptyline (Teter et al., 2007).


c. Serotonin /Norepinephrin Reuptake Inhibitor (SNRI)
Antidepresan
golongan
Serotonin
/Norepinephrin

Reuptake Inhibitor (SNRI) mekanisme kerjanya mengeblok


monoamin dengan lebih selektif daripada antidepresan trisiklik,
serta tidak menimbulkan efek yang tidak ditimbulkan antidepresan
trisiklik ( Mann, 2005). Antidepresan golongan SNRI memiliki
aksi ganda dan efikasi yang lebih baik dibandingkan dengan SSRI
dan TCA dalam mengatasi remisi pada depresi parah ( Sthal,
2002). Obat yang termasuk golongan SNRI yaitu Venlafaxine dan
Duloxetine. Efek samping yang biasa muncul pada obat
Venlafaxine yaitu mual, disfungsi sexual. Efek samping yang
muncul dari Duloxetine yaitu mual, mulut kering, konstipasi, dan

d.

insomnia (Teter et al., 2007).


Antidepresan Aminoketon
Antidepresan golongan aminoketon adalah antidepresan yang
memiliki efek yang tidak begitu besar dalam reuptake
norepinefrin dan serotonin. Bupropion merupakan satu satunya
obat golongan aminoketon(Teter et al., 2007). Bupropion

10

bereaksi secara tidak langsung pada sistem serotonin, dan efikasi


Bupropion mirip dengan antidepresan trisiklik dan SSRI (Mann,
2005). Bupropion digunakan sebagai terapi apabila pasien tidak
berespon terhadap antidepresan SSRI (Mann, 2005). Efek samping
yang ditimbulkan Bupropion yaitu mual, muntah, tremor,
insomnia, mulut kering, dan reaksi kulit ( Teter et al., 2007).
e. Antidepresan Triazolopiridin
Trazodone dan Nefazodone merupakan obat antidepresan golongan
triazolopiridin yang memiliki aksi ganda pada neuron seratonergik.
Mekanisme kerjanya bertindak sebagai antagonis 5 HT 2 dan
penghambat 5 HT, serta dapat meningkatkan 5 HT 1A .Trazodone
digunakan untuk mengatasi efek samping sekunder seperti pusing

dan sedasi, serta peningkatan availabilitas alternatif yang dapat


diatasi ( Teter et al., 2007).
Efek samping yang ditimbulkan oleh Trazodone adalah sedasi,
gangguan kognitif, serta pusing. Sedangkan efek samping yang
ditimbulkan Nefazodone yaitu sakit kepala ringan, ortostatik
hipotensi, mengantuk, mulut kering, mual, dan lemas ( Teter et

al., 2007).
f. Antidepresan Tetrasiklik
Mirtazapin adalah satu satunya obat antidepresan golongan
tetrasiklik.

Mekanisme

presinaptic

heteroreseptor,

kerjanya

sebagai

adrenergic
sehingga

antagonis

autoreseptor

meningkatkan

pada
dan

aktivitas

nonadrenergik dan seratonergik ( Teter et al., 2007). Mirtazapin


bermanfaat untuk pasien depresi dengan gangguan tidur dan
kekurangan berat badan (Unutzer, 2007). Efek samping yang
ditimbulkan berupa mulut kering, peningkatan berat badan, dan
konstipasi (Teter et al., 2007).
g. Mono Amin Oxidase Inhibitor ( MAOI )
Mono Amin Oxidase Inhibitor adalah suatu enzim komplek
yang

terdistribusi

didalam

tubuh,

yang

digunakan

dalam

dekomposisi amin biogenik (norepinefrin, epinefrin, dopamin, dan


serotonin) (Depkes, 2007). MAOI bekerja memetabolisme NE dan

11

serotonin

untuk

mengakhiri

kerjanya

dan

supaya

mudah

disekresikan. Dengan dihambatnya MAO, akan terjadi peningkatan


kadar NE dan serotonin di sinap, sehingga akan terjadi
perangsangan SSP (Prayitno, 2008).
Mono Amin Oxidase Inhibitor adalah suatu enzim komplek
yang

terdistribusi

didalam

tubuh,

yang

digunakan

dalam

dekomposisi amin biogenik (norepinefrin, epinefrin, dopamin, dan


serotonin) (Depkes, 2007). MAOI bekerja memetabolisme NE dan
serotonin

untuk

mengakhiri

kerjanya

dan

supaya

mudah

disekresikan. Dengan dihambatnya MAO, akan terjadi peningkatan


kadar NE dan serotonin di sinap, sehingga akan terjadi
perangsangan SSP (Prayitno, 2008).
MAOI memiliki efikasi yang mirip dengan antidepresan trisiklik.
MAOI juga dipakai untuk pasien yang tidak merespon terhadap
antidepresan trisiklik (Benkert, 2002). Enzim pada MAOI memiliki
dua tipe yaitu MAO A dan MAO B. Kedua obat hanya akan
digunakan apabila obat obat antidepresan yang lain sudah tidak
bisa mengobati depresi ( tidak manjur ). Moclobomida
merupakan suatu obat baru yang menginhibisi MAO A secara
ireversibel, tetapi apabila pada keadaan overdosis selektivitasnya
akan hilang. Selegin secara selektif memblokir MAO B dan
dapat digunakan sebagai antidepresan pada dosis yang tinggi dan
beresiko efek samping. MAO B sekarang sudah tidak digunakan
lagi sebagai antidepresan ( Tjay & Rahardja, 2007 ). Obat obat yang
tergolong dalam MAOI yaitu Phenelzine, Tranylcypromine, dan
Selegiline. Efek samping yang sering muncul yaitu postural hipotensi
( efek samping tersebut lebih sering muncul pada pengguna
phenelzine dan Tranylcypromine ), penambahan berat badan,
gangguan sexual
(penurunan libido, anorgasmia) ( Teter et al., 2007).
3. Terapi Tambahan
Digunakannya terapi tambahan yang untuk meningkatkan efek
antidepresan serta mencegah terjadinya mania.
a. Mood Stabilizer

12

Lithium dan Lomotrigin biasa digunakan sebagai mood

stabilizer. Litium adalah suatu terapi tambahan yang efektif


pada pasien yang tidak memberikan respon terhadap pemberian
monoterapi antidepresan. Lomotrigin adalah antikonvulsan
yang mereduksi glutamateric dan juga digunakan sebagai
agen terapi tambahan pada depresi mayor (Barbosa et al.,
2003) dan juga digunakan untuk terapi dan pencegahan

relapse pada depresi bipolar (Yatham, 2004).


Beberapa mood stabilizer yang lain yaitu Valproic acid,
divalproex dan Carbamazepin ini semua digunakan untuk
terapi mania pada bipolar disorder. Divalproex dan Valproate
digunakan untuk mencegah kekambuhan kembali (Mann,
2005).
b. Antipsikotik
Antipsikotik digunakan untuk meningkatkan efek antidepresan.
Ada 2 macam antipsikotik yaitu typical antipsikotik dan

atypical antipsikotik. Obat obat yang termasuk typical


antipsikotik

yaitu

Chorpromazine,

Fluphenazine,

dan

Haloperidol. Antipsikotik typical bekerja memblok dopamine


D2 reseptor. Atypical antipsikotik hanya digunakan untuk
terapi pada depresi mayor resisten (Kennedy, 2003) dan bipolar
depresi (Keck, 2005). Obat obat yang termasuk dalam

Atypical antipsikotik clozapine, olanzapine, dan aripripazole


(Mann,
2005).

13

STRATEGI PELAKSANAAAN (SP)


TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN DEPRESI
Tindakan Keperawatn Untuk Pasien
A. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan I
1. Proses Keperawatan
a. Kondisi Klien
Klien merasa tidak bahagia, putus asa, tidak ada harapan, sulit
berkomunikasi, malas berbicara, tidak ada tujuan hidup, dan cenderung
ingin bunuh diri.
b. Diagnosa Keperawatan
Resiko Mencederai diri berhubungan dengan depresi
c. Tujuan
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat menggunakan koping adaptif dalam menyelesaikan
masalah
d. Tindakan Keperwatan
1) Bina hubungan Saling percaya
a) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b) Perkenalkan diri dengan sopan
c) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
klien
d) Jelaskan tujuan pertemuan
e) Jujur dan menepati janji
f) Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g) Beri perhatian pada klin dan dan perhatikan kebutuhan dasar klien
2) Klien dapat menggunakan koping yang adaptif dalalm menyelesaikan
masalah
a) Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaanya
b) Tanyakan pada pasien cara yabg biasa dilakukan dalam mengatasi
perasaan sedihnya
c) Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa
digunakan

14

d) Bersama pasien mencari berbagai alternative koping


e) Beri dorongan pada pasien untuk memilih koping yang paling
tepat dan dapat diterima
f) Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah
dipilih
g) Anjurka

pasien

untuk

mnecoba

alternative

lai

dalam

menyelesaikan masalh.
2. Strategi Komunikasi
a. Fase Orientasi
1. Salam Terapeutik
Selamat pagi pak, perkenalakan nama saya panca setiawani, bapak
bisa memanggil saya cukup dengan panca saja, kalau boleh tahu
nama bapak siapa? Suka dipanggil apa ? baiklah kalau begitupak, di
sini saya akan menemani bapak sambil berbincang-bincang sedikit
dan saya siap mendengarkan apa yang akan bpk katakana selama kita
disini nanti.
2. Validasi
Tapi sebelumnya kalau boleh tahu bagaimana perasaan mbak hari
ini ? Disini saya sangat ingin sekali membantu menyelesaikan
masalah bapak dan saya harap bapak mau untuk dapat bekerja sama
dengan saya. Jika bapak yakin dengan saya maka kita pasti dapat
mencari jalan keluar dari masalah yang sedang ibu hadapi saat
ini.Kalau ibu sudah percaya dengan saya, coba sekarang ibu mulai
berbicara tentang apa yang dirasakan saat ini sehingga dapat sampai
di tempat ini ?
3. Kontrak
Pak bagaimana kalau hari ini kita berbincang-bincang tentang cara
bapak

dalam menghadapi suatu masalah ? dimana kita akan

membicrakannya Pak ? kira-kira bapak ingin berapa lama kita


membicarakannya dan dimana tempatnya ? Nah kalu begitu kita
berbicara ditaman selama 15 menit.
b. Fase Kerja
Nah bapak selama ini apa saja yang membuat bapak merasa cemas ?
apakah bapak merasa sulit dalam berkomunikasi ? pada saat itu apakha
bapak merasa malas untuk berkomunikasi ? apakah bapak merasan putus
asa ? pada saat itu apakah bapak merasa ingin bunuh diri ? apabila
perasaan itu muncul apa yang biasa bapak laukanka ? apakah bapak tau
15

akibat yanga akan timbul dari apa yang bapak lakukan ? ok pak ada
beberapa cara yang ingin saya tawarkan kepada bapak untuk
mengurangi kesulitan bapak dalam berkomuniksasi dan rasa putus asa
yang bapak rasakan.
1) Mengurangi kecemasan : ada beberapa hal yang bias bapak lakukan
untuk mengurangi rasa cemas yang bapak alami, dinataranya
a) Harus tidur yang baik
b) Olahraga secra teratur
c) Berbicara kepada teman-teman
d) Berkonsultasi jika anda membutuhkan bantuan dengan pekerjaan
2) Tekhnik Relaksasi
a. Latihan Bernafas Dalam
1. Berbaring atau duduk dalam suatu posisi yang nyaman di
2.
3.
4.
5.

kursi
Tubuh anda harus sesantai mungkin
Tutup mata anda dan periksa ketegangan tubuh anda
Berikan perhatian pada pernafasan anda
Letakkan satu tangan pada bagian dada atau perut anda yang

nampaknya naik turun setiap bernafas .


c. Fase Terminasi
1. Evaluasi subjek
Bagaimana perasaan bapak setelah layiha relaksasi tadi ?
2. Evaluasi objektif
Bapak tadi sudah melakukan latiha relaksasi bisa di ulangi sekali lagi
pak ?? saya mau lihat , wah bagus sekali bapak.
3. Rencana tindak lanjut
Setelah ini kita akan berbicara mengenai kemampuan atau cara yang
masih bisa bapak gunakan dalam menghadapi masalah.
4. Kontrak
Baiklah bapak, waktu kita sudah habis bagaimana kalau kita
cukupkan sampai disini, kira-kira jam berapa kita bisa bertemu ?
dimana tempatnya ?
Baiklah pak bagaimana kalau kita bertemu lagi nanti jam 11 selama
+ 20 menit. Di temapt yang sama.
B. Strategi Pelaksaan Tindakan Keperwatan II
1. Proses Keperwatan
a. Kondisi Klien
klien merasa tidak bahagia, putus asa, tidak ada harapan, sulit
berkomunikasi, malas berbicara, tidak ada tujuan hidup, dan cenderung
ingin bunuh diri.
b. Diagnosa Keperawatan

16

Ketidak berdayaan berhubungna dengan putus asa dan hilangnya tujuan


hidup
c. Tujuan
1) Klien dapat kembali bersemangat dalam melakukan aktifitas seharihari
2) Klien dapat menata kembali tujuan hidup
d. Tindakan Keperwatan
1) Klien dapat kembali bersemangat dalam melakukan aktifitas seharihari
a) Bersama klien membahas masalah koping yang baik dalam
menyelesaikn masalah
b) Beri dorongan dan motifasi pada klien
c) Bantu klien menemukan cara untuk menghilangkan rasa putus
asa.
2) Klien dapat menata kembali tujuan hidup
a) Beri semangt kepada klien untuk tidak terpuruk dalam masalahnya
b) Berikan pujian
2. Strategi Komunikasi
a. Fase Orientasi
1) Salam Terapeutik
selamat pagi bapak, masih ingat dengan saya. Caba sebutkan nama
saya, bagus ternyata bapak masih ingat,
2) Validasi
Bapak terlihat segar dan bugar hari ini, bagaimana perasaan hari
ini?
3) Kontrak
Kemarin kita sudah berbicara mengenai cara yang bapak gunakan
untuk menghadapi masalah, nah sekarang sesuai dengan janji kita,
bahwa hari ini bapak akan belajar untuk menemukan kembali
semangat bapak sperti dahulu dan menata kembali tujuan hidup
bapak. bagaimana kalau kita mulai pembicaraan kita. Bagaimana kalo
kita bicara di ruang tamu+ 30 menit ?
b. Fase Kerja
Bagaimana pak, apa bapak masih sering merasa putus asa ?? kalau
perasaan itu mashi sering muncul bapak harus mengatasinya dengan
cara meyakinkan diri bapak bahwa di dunia ini tidak ada orang yang
sempuran, masih banyak orang yang lebih buruk masalahnya dari apa
yang bapak alami sekarang. Bapak harus berpikir positif bahwa allah
telah merencanakan yang terbaik buat bapak, pasti ada hikmanh di

17

balik semua ini pak. Bapak harus tetap berusaha dan jangan luapa
berdo.
Okey pak. Pokoknya bapak harus berpikir positif dalam menghadapi
setiap masalah.
Okey pak, skrang coba bapak ingat kembali tujuan hidup bapak yang
telah bapak rencanakan sebelumnya, bapak masih ingatkan ??? bapak
harus tetap semagat dalam memperoleh tujaun hidup yang telah
bapak yang telah bapak cita-citakan.
c. Fase Terminasi
1) Evaluasi subjektif
Bagaiman perasaan bapak setelah melakukan cara yang saya ajarkan
tadi ?
2) Evaluasi objektif
Okey pak, bapak telah mulai menemukan kembali semangat bapak,
pokoknya bapak harus harus selalu berpikir positif unuk melawan
rasa putus asa yang bapak rasakan.
3) Rencana tindak lanjut
Setelah kita saya akan kembali melatih bapak tekhnik dalam
menyelesaikan masalah yang bapak alami.
4) Kontrak
Baiklah pak, waktu kita sudah habis, bagaimana kalau kita cukupkan
sampai disini ?? kira-kira jam berapa kita bisa bertemu lagi ? dimana
temptnya ?
Baiklah pak, bagaiman kalau kita bertemu kembali besok jam 8
selama 30 menit di tempat ini ?
C. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan III
1. Proses Keperawatan
a. Kondisi klien
Klien mulai terlihat segar dan semangat dalam melakukan aktifitas
sehari-harinya.
b. Tujuan
Melatih kembali klien untuk menggunakan mekanisme koping yang
adaptif dalam menyelesaikan masalahnya.
c. Tindakan Keperawatan
1) Bimbing klien dalam menggunakan mekanisme koping yang telah
diajarkan
2) Berikan pujian pada setiap tindakan yang telah di lakukan.
2. Startegi Komunikasi
a. Fase orientasi
1) Salam Terapeutik
18

Selam pagi pak, bapak masih ingat saya ? coba sebutkan siapa
nama saya ? bagus pak, ternyata bapak masih ingta saya!
2) Validasi
Bapak terlihat segar hari ini. Bagaimana perasaan bapak hari ini ?
3) Kontrak
Okey pak, kemarin kita telah belajar mekanisme koping dan
tekhnik dalam menyelesaikan masalah, nah sesuai dengan janji kita
kemarin bahwa hari ini bapak akan mempraktekan kembali
tekhnik-tekhnik yang telah saya ajarkan. Bagaimana kalau kita
mulai aja skrang di ruangan ini selama 30 menit ?
b. Fase kerja
Okey pak, bapak masih ingat tekhnik yang saya ajarkan kemarin, ada
berapa tekhniknya pak ? coba sebutkan. Bagus pak, ternyata ingatan
bapak sangat kuat ? bapak masih tau cara melakukanya ? bagus pak,
bapak memang sangat cerdas.
Baik pak, waktu kita sudah habis. Bapak harus selalu menggunakan
tekhnik ini ketika bapak masalah.
c. Fase Terminasi
1) Evaluasi Subjektif
Bagaimana perasaan setelah mapu melakukan semau mekanisme
koping yang telas saya ajarkan ?
2) Evaluasi Objektif
Okey pak, bapak telah menguasai semua tekhnik-tekhnik yang
telah saya ajarkan. Seandainya ketika bapak mengalami masalah
yang sama seperti sekarang, apa yang akan bapak lakukan ??
Bagus pak, ternyata bapak telah betul-betul menguasainya.
Baiklah pak waktunya telah habis, semoga bapak dapat dapat
meraih semua impian bapak, sampai ketemu di lain waktu pak.
Tindakan Keperawatan Untuk Keluarga
1. Tujuan
Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat klien dengan
depresi
2. Tindakan
Melatih keluarga merawat pasien depresi
Tahapan merawat keluarga agar mampu merawat pasien depresi dirumah
meliputi:
a. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawata
pasien
b. Menjelaskan tentang:

19

1) Msalah depresi dan dampaknya pada pasien


2) Penyebab depresi
3) Cara-cara merawat pasien dengan depresi, antara lain:
a) Membina hubungan saling percaya dengan pasein dengan
cara bersikap peduli
b) Meberikan semangat dan dorongan kepada pasien dan
mencela hasil yang telah diperoleh oleh pasien dan
memberikan pujian yang wajar.
c. Meperagakan cara merawat pasien dengan depresi
d. Membantu keluarga mempraktekan cara merawat yang telah dipelajari
dan mendiskusikan yang dihadapi
e. Menjelaskan perawatan lanjtuan
A. SP 1 Kelurga
Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah depresi, penyebab
depresi, dan cara merawat pasien dengan depresi.
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi pak,.,,. Perkenalkan saya perawat nurlin, saya yang
merawat anak bapak. Nama bapak siapa ? senang dipanggil apa ?
b. validasi
Bapak terlihat segar hari ini, bagaimana perasaan bapak ??
c. kontrak
bagaiman kalu kit berbincang-bincang tentang masalah anak bapak dan
cara perawatanya?? bagaimana kalau kita diskusi aja disini? berapa
lama bapak punya waktu? bagaimana kalau setengah jam?
2. Fase Kerja
Apa masalah yang bapak hadapi dalam merawat si fulan? apa yang
sudah dilakukan? masalah yang dialami anak bapak disebut depresi. Ini
adalah salah satu gejala penyakitbyang jua dialami oleh pasin-pasien
gangguan jiwa lain. Tanda-tanda natara lain perasaan murung, sedih,
merasa tidak berdaya, tidak semangat, merasa bersalah, nafsu makan
menurun, berkeinginan untuk bunuh diri.
Biasanya masalah ini muncul karena pernah kehilangan sesuatu
yang di cintainya atau tidak mnecapai apa yang diinginkan, selalu
dikucilkan, atau tidak mendapatkan pujian.
Apabila masalah depresi ini tidak diatasi maka seseorang bisa
menganiyaya diri sendiri, misalnya dengan bunuh diri,
Untuk menghadapi keadaan yang demikain bapak dan anggota
keluarga lainya harus sabar. Dan untuk merawat si fulan keluarga perlu

20

melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungna


saling percaya, kedua keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan
kepada si fulan dan berilah pujian yang wajar atas apa yang telah
perolehnya.
Nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan
semua cara itu? nah sekarang coba bapak peragakan cara berkomunikasi
seperti yang sya contohkan, bagus bapak telah melakukanya dengan baik.
Sampai disini ada ynag ditnyakan pak ?
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
Baiklah pak, waktunya sudah habis bagaimana perasaan bapak setelah
kita latihan tadi ? coba bapak ulangi lagi apa yang dimaksud dengan
depresi ? selanjutnya bisa bapak sebutkan kembali cara-cara merawat
anak bapak yang mengalami depresi ? bagus sekali pak.
b. Kontrak
Bagaiman kalau kita bertemu 3 hari lagi untu latihan langsung kepada
si fulan ? kita ketemu di rumah bapak saja, pada jam yang sama.
Selamat pagi pak!
B. SP 2 Keluarga
Melatih kelurga mempraktekan cara merawat pasien dengan masalah depresi
langsung di hadapan pasien
1. Fase Orientasi
a. Salam Terpeutik
Bagaimana perasaan bapak hari ini?
b. Validasi
Bapak masih ingat latihan merawat anak bapak seperti yang kita
pelajari beberapa hair yang lalu?
c. Kontrak
Mari kita praktekan langsung ke si fulan! Berapa lama waktu bapak?
baik kita bisa coba selama 30 menit. Sekarang mari kita temu si fulan.
2. Fase Kerja
Selamat pagi S? Bagaimana Perasaan S hari ini? bapak S ingin bercakapcakap. Beri salam! Bagus.
Kemudian berikan kesempatan kepada orang tuanya untuk bercakap-cakap
dengan S!
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
Bagaimana perasaan bapak setelah latihan tadi ? bapak sudah bagus.
b. Kontrak

21

Bakap telah melakukan cara merawat kepada S. tiga hari lagi kita akan
bertemu untuk mendiskusikan pengalaman bapak dalam melakukan
cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama
seperti sekarang pak. Sampai jumpa.!

C. SP 3 Keluarga
Menjelaskan perewatan lanjutan
1. Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
Selamat pagi pak ? bagaimana keadaan bapak hari ini?
b. Kontrak
Karena kunjungan saya sudah mau berakhir, maka kit perlu bicarakan
lanjutan dirumah!
Bagaimana kalua kita bicrakan perwatan lanjutan tersebut disini saja?
Berapa lama kita bisa bicara ? bagaimana kalau 30 menit?
2. Fase Kerja
Pak ini jadwal sudah saya buat. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan?
baik ini jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya, hal-hal yang
perlu di[erhatikan lebih lanjut adalah perilaku bapak terhadap S, bapak
harus selalu berikan perhatian, dorongan, semangat serta pujan yang wajar
atas sesuatu yang telah dicapai S. oya pak, jika ada sesuatu yang terjadi
pada S bisa segera hubungi Perwat L, di puskesmas INTAN, ini no telpon
puskesmasnya: (0411)456xxxxx
3. Fase Terminasi
Bagaiman pak? ada yang belum jelas? ini jadwal kegiatan harian S.
jangan lupa control K PKM senelum obat habis atau ada gejala yang
tampak. Selamat pagi pak!

22

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Depresi merupakan bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan
(afektif, mood ) yang biasa ditandai dengan kemurungan, kesedihan,
kelesua, kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat, merasa tidak
berdaya, perasaan bersalah, tidak berguna, dan putus asa (Yosep, 2007).
Penyebab depresi dapat dibagi atas faktor biologi, faktor genetic, dan
faktor psikososial dimana ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi satu
dengan yang lainnya. Gambaran klinis bisa dilihat pada perubahan isik,
perubahan pikiran, perubahan perasaan dan perubahan pada kehidupan
sehari-hari. Penatalaksaan pada penderita depresi dapat melalui terapi non
farmakologi

(psikoterapi,

elektro convulsive

therapy)

dan terapi

farmakologi.
B. Saran
Diharapkan kepada setiap orang agar menepis semua perasaan dan
pikiran yang bisa memicu terjadinya penyakit gangguan jiwa. Dan
diharapkan adanya partisipasi para keluarga dan orang-orang di sekitar
dengan pemberian dukungan atau motivasi dan segala macam bantuan
positif lainnya yang mampu mensejahterakan penderita gangguan jiwa.

23

DAFTAR PUSTAKA
Ismail, R. I & Siste, K., 2010. Gangguan Depresi, Dalam Elvira, Silvia D,
Handisukanto, Gitayanti. Buku Ajar Psikiatri. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia: Jakarta
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika
Prayitno dan Amti, Erman. 2008. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:
Rineka Cipta
Sukandar, E. Y dkk. 2008. Iso Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI

24