Anda di halaman 1dari 12

Sutan Syahrir

Nama Lain (Julukan): Soetan Sjahrir, Sutan Sjahrir, The


Smiling Diplomat.
Tempat Tanggal Lahir: Padang Panjang, Sumatera Barat, 5
Maret 1909
Meninggal: Zrich, Swiss, 9 April 1966, Diusia 57 Tahun.

Selain pernah menjabat menjadi Pertama Menteri Indonesia, dia juga pernah
menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, maupun Menteri Dalam Negeri. namanya juga
dicatat sebagai Pahlawan Nasional, membuat Pria pendiri Partai Sosialis Indonesia ini,
sampai sekarang.
Dimasa sekolah, Syahrir sudah menunjukan tajinya, ia yang termasuk dalam sepuluh
orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesi. yang kemudian
berubah nama jadi Pemuda Indonesia, motor penyelenggaraan Kongres Pemuda
Indonesia. tetapi untungnya tindakannya tidak membuat ia masuk Bui, meski pikirannya
penuh dengan Ide-Ide kemerdekaan.
Saat dia bertemu dengan Mohammad Hatta (Bung Hatta), yang aktif bersama dirinya
di Perhimpunan Indonesia. setelah Perhimupan tersebut dibubarkan paksa pihak Belanda,
keduanya juga aktif menyerang, tetapi hanya melalui tulisan-tulisan tajam. dimasa ini juga
dan setelahnya, Syahrir resmi menceburkan diri kepada Aktivitas yang nantinya
membahayakan dirinya.terus bergelut dengan aksi kemerdekaan, Syahir pun terkena
batunya. pemerintah kolonial Belanda akhirnya menangkap, memenjarakan, membuang
Syahrir dan Hatta, juga beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven-Digoel lebih dari satu
tahun. lalu kemudian ke Bandaneira untuk menjalani masa pembuangan selama enam
tahun.
Dimasa Pendudukan Jepang Syahrir yang bertugas dibawah tanah, secara sembunyisembunyi. dia terus memberikan ide yang terbaik bagi gerakan kemerdekaan bersama
Soekarno dan Hatta. dia juga termasuk salah satu orang yang ingin memproklamasikan
kemerdekaan pada 15 Agustus, terutama disaat Jepang sudah menyerah. dengan terus
berjuang hingga Indonesia menjadi negara yang merdeka.

Setelah merdeka, ia terpilih sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, diusia 36


tahun, juga merangkap Menlu dan Mendagri. meski persoalan yang dihadapi sangat pelik
setelah
kemerdekaan,
terutama
penculikan
atas
dirinya
tanggal 26
Juni 1946 di Surakarta. oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas
diplomasi yang dilakukan terhadap pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah
Belanda. bagi kelompok ini, mereka menginginkan pengakuan kedaulatan penuh
(Merdeka 100%), sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan
kedaulatan atas Jawa dan Madura. tetapi untungnya Letnan Kolonel Soeharto (kemudian
Presiden RI ke 2), atas perintah dari Soekarno, berhasil membebaskan dirinya dan ia
kembali lagi ke Kabinet.
Setelah beberapa lama bebas, ia hanya menjabat sebagai Menlu saja, karena posisi
Perdana Menteri diambil Soekarno sendiri, tapi ia bisa menjabat kembali menjadi PM
untuk kedua kalinya. ia juga berperan aktif memerdekakan negara Indonesia di dunia
internasional, meski Indonesia harus melewati lagi perang Agresi Militer dari Belanda 1
dan 2, tidak membuat Syahrir gentar terus melawan di meja serta mimbar PBB. usaha
demi usaha pun dari Syahrir dan juga tokoh Diplomasi lainnya terus gencar, hingga
Indonesia bisa secara resmi diakui sebagai negara yang merdeka oleh dunia. kontribusi
inilah membuat Syahrir menjadi Tokoh yang hebat, seorang diplomat ulung yang
berpengalaman di gelanggang internasional, mendapat julukanThe Smiling Diplomat,
karena kepopuleran dirinya terhadap wartawan-wartawan asing.
Pada tahun1948 Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI), berhaluan kiri
mendasarkan pada ajaran MarxEngels. namun dia menentang sistem kenegaraan Uni
Soviet. Menurut Syahir pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat
kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia. tapi
naas akhirnya untuk partainya, ditahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara
dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. ditambah hubungan Syahrir
dengan Soekarno terus memburuk, merembet dibubarkan PSI tahun 1960.
Lepas dari tahun 1960 keatas nasib baik Syahrir telah menghilang, dia
dipenjarakan ditahun 1962 secara tiba-tiba atas tuduhan konspirasi, ia pun tidak pernah
diadili. selama penahanannya ia menderita tekanan darah tinggi dan pada tahun 1965
Syahrir mengalami stroke. meski ia diijinkan berobat ke Zrich, Swis, tetapi hal itu tidak
bisa menyelamatkan nyawa The Smiling Diplomat, yang akhirnya meninggal di Swiss pada
tanggal 9 April 1966. walau tragis cerita tentang dirinya diakhir hayat, tetapi dia
mendapat tempat Khusus untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Kalibata, Jakarta dan Sutan Syahrir ditetapkan sebagai salah seorang Pahlawan Nasional
Indonesia pada tanggal 9 April 1966 melalui Keppres nomor 76 tahun 1966.

Ki Hadjar Dewantara

Nama Lain (Julukan): Suwardi Soerjaningrat, Raden


Mas Soewardi, Ki Hadjar/ Hajar Dewantara,
Tempat Tanggal Lahir: Yogyakarta, 2 Mei 1889

Meninggal: Yogyakarta, 26 April 1959, Diusia 69 tahun.

Jasanya terkenal atas pendirian Taman Siswa, nantinya orang pribumi bisa mendapat
pendidikan yang layak. dia juga bagian dari Tiga Serangkai: Ernest Douwes
Dekker dan Cipto / Tjipto Mangoenkoesoemo, juga
berjasa
untuk
memerdekakan
Indonesia. tanggal kelahiran dirinya setiap tahun, ditanggal 2 Mei masih diperingati
sebagai Hari Pendidikan Nasional, untuk menghormati jasa-jasanya.
Cerita awal dirinya bermula di saat dia lahir dari keluarga Kraton. setelah dimulai
dewasa, dia sempat menjajakan dipendidikan Sekolah Dasar Eropa/Belanda ELS, tapi dia
tidak sampai tamat karena sakit. setelah itu ia melanjutkan karir sebagai Wartawan surat
kabar, dan bekerja diberbagai tempat seperti: Sediotomo, Midden Java, De
Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. pada pekerjaannya
ia tergolong penulis handal, tulisan-tulisannya komunikatifm tajam dan penuh dengan
semangat antikolonial.
Karena karir barunya ini tidak membuat ia ditangkap oleh tentara Belanda, dia malah
menjadi-jadi karenanya. ia aktif di organisasi sosial dan politik, Sejak berdirinya Boedi
Oetomo (BO) tahun 1908. ia juga aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan
menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa), mengenai pentingnya
persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. tidak berhenti sampai situ saja,
dia lalu masuk menjadi anggota organisasi Insulinde (organisasi multietnik atas
pengaruh Ernest Douwes Dekker) yang telah didominasi kaum Indo, memperjuangkan
pemerintahan
sendiri
di
Hindia
Belanda.
Ketika
kemudian Douwes
Dekker mendirikan Indische Partij, ia pun diajak.
Masa setelahnya dia pun terus bergelut dalam bahaya melawan Pemerintah Belanda,
yang dikhawatirkan akan membuat posisi ia tidak aman. tapi biar begitu, apalagi setelah
ada kejadian saat pemerintah Hindia Belanda berniat menarik upeti, berkedok

sumbangan dari warga (termasuk pribumi), untuk perayaan kemerdekaan Belanda


dari Perancis pada tahun 1913. disaat itu ia sangat protes melalui tulisannya:

Een voor Allen maar Ook Allen voor Een atau Satu untuk
Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga
Kolom yang paling terkenal: Seandainya Aku Seorang Belanda
(judul asli: Als ik een Nederlander was), dimuat dalam surat
kabar De Expres pimpinan Decker pada 13 Juli 1913.

Karena hal itu, Ki Hajar Dewantar telah memberikan cabai pedas untuk Pemerintah
Kolonial Belanda dalam tulisan, yang berbunyi seperti ini:
Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta
kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan
pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh
siinlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan
perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo
teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama
menyinggung
perasaanku
dan
kawan-kawan
sebangsaku
ialah
kenyataan
bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan
sedikit pun baginya
Aksinya pun tercium oleh Belanda, mereka curiga karena gaya tulisan ini berbeda
dari sebelumnya. setelah diusut tuntas dan diketahui, Decker malah dianggap
mengkompori Ki Hajar untuk menulis seperti itu. Pemerintah Belanda yang kesal sekali
terhadap hal ini, atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg, Ki Hajar diasingkan
ke Pulau Bangka. tidak rela teman seperjuangannya diperlakukan seperti itu, Decker
dan Tjipto Mangoenkoesoemo memprotes hal tersebut. tapi buntutnya malah 3 orang ini
bersama-sama diasingkan ke Belanda (tahun 1913). Ki Hajar diwaktu itu berusia 24 tahun,
dikenal orang atas peristiwa ini sebagai Tiga Serangkai.
Dipengasingan tidak membuat Ki Hajar kapok, ia tetap aktif dalam organisasi para
pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). dipengasingan itu juga
muncul lah ide yang akan diterapkan dimasa mendatang yaitu, ia bercita-citanya
memajukan
kaum
pribumi
dengan
belajar
ilmu
pendidikan
hingga
memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak
menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya.
Setelah bebas dari pengasingan September 1919 (6 tahun dipengasingan), Ki Hajar
mendirikan Taman Siswa 2 tahun berikutnya, pada 3 Juli 1922. dimasa ini juga, dia
mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara (sebelumnya: Ki Hajar Dewantara).
karena dia tidak mau lagi menggunakan gelar kebangsawanan, yang tujuannya supaya
dapat bebas dekat dengan rakyat, secara fisik maupun jiwa.

Setelah itu Ki Hadjar terus aktif mengajar disekolah. dengan Motto (dalam Bahasa
Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani
artinya: di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi
dorongan), sangat bisa diterima oleh orang banyak, tentunya menjadi magnet untuk
menarik orang kepadanya dan bisa diterima dalam sistem yang dikenal di kalangan
pendidikan Indonesia, bahkan sampai saat ini.
Setelah Merdeka Ki Hadjar diberi tugas dalam kabinet pertama Republik
Indonesia, ia diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai
Menteri Pendidikan dan Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. ditahun 1957 ia
mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua
Indonesia, juga Universitas Gadjah Mada. diberikan atas jasa-jasanya dalam merintis
pendidikan umum.
Dia juga dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari
kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305
tahun 1959, tanggal 28 November 1959). setelah ia meninggal dunia pada 26 April
1959 di Yogyakarta, jasadnya dikuburkan di Taman Wijaya Brata, makam untuk
keluarga Taman Siswa.

Bung Tomo Sutomo

Nama Lain (Julukan): Sutomo


Tempat Tanggal Lahir: Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920

Meninggal: Padang Arafah,Arab Saudi, 7 Oktober 1981, Diusia 61


Tahun.

Orang ini harus menunggu sampai 10 November 2008 dahulu, sebelum akhirnya
menjadi Pahlawan Nasional Juga. itupun atas desakan Gerakan Pemuda (GP) Ansor
dan Fraksi Partai Golkar (FPG), yang mengajukan satu tahun sebelumnya (Pada 9
November 2007). bukan menyalakan pihak manapun sehingga jasanya sedikit dilupakan
(mungkin seperti itu). tapi yang pasti, dimasanya Orang Ini This Guy Bung Tomo,
adalah salah satu orang terhebat diantara orang hebat lainnya.
Faktanya yang tidak bisa dibantah lagi adalah: Pidato-nya yang menyemagati Para
Pejuang telah memberikan semangat Berjuang Demi Tanah Air. yang akhirnya, bila
ada seorang pejuang mendengar semagat Bung Tomo itu diradio-radio, jiwa mereka
bergetar, ingin terus berjuang (selepas) apapun yang terjadi? itu adalah faktor
Psikologis dalam Tim Olahraga maupun segi apapun, bila seseorang diberi semangat,
maka orang itu akan semangat. oleh karena itu, Bung tomo telah memberikan
sumbangan yang sangat berarti dari sebuah perjuangan menuju kemerdekaan.
Bakat alami dari Bung Tomo didapat dari pengalaman hidupnya, dan dia sudah
berbicara terus terang dan penuh semangat adalah ciri khasnya sejak kecil. meskipun
hidupnya dimasa kecil, harus mengalami kesulitan ekonomi dari keluarganya, lalu ia
terpaksa bekerja keras memperbaiki keadaan. bekerja kasar (kecil-kecilan), meninggalkan
pendidikannya dan tidak pernah lulus walau sudah mencoba bersekolah kembali. itulah
awalnya mengapa dimasa-masa mendatang mempunyai sikap yang tegas. ditambah juga
saat bergabung ke KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), dia yang menjelaskan bahwa
filsafat kepanduan dan dengan kesadaran nasionalis, semua itu berawal kelompok ini, juga
kakeknya.
Dimasa-masa berikutnya ia menjadi Wartawan, lalu bergabung dengan
Kelompok Gerakan Rakyat Baru di tahun 1944, yang disponsori Jepang. selama

waktu Revolusi Nasional Indonesia, ia menjaga kota Surabaya dari serangan berhasil
Inggris merebut kota tersebut. disaat ini Bung Tomo mulai menunjukan kualitas diri
sebagai Ahli Pidato Berapi-Api di radio-radio.
Tak seorang pun yang mengenal sosok dia sebelum hari itu, tapi setelah sudah melewati
Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Agresi Millter 1 & 2 dan diakuinya Negara Indonesia
di PBB. dalam waktu lebih dari 5 tahun saja, namanya sudah dikenal dikalangan Pejuang,
Masyarakat, serta Petinggi Belanda, Jepang, Dunia Internasional, maupun Indonesia
sendiri.
Di tahun 1950an Bung Tomo menjadi tokoh nasional selama periode pergolakan 1965.
ditahun-tahun mendatang dia mendukung Soeharto untuk menggantikan pemerintahan
Sukarno yang cenderung condong ke kiri. hubungannya pun dengan Presiden
Soekarno menjadi buruk dikarenakan masalah pribadi, setelah itu menghilang dari
panggung Politik. walaupun ia pernah menjabat menjadi, Menteri Negara Urusan Bekas
Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956, di era
Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. menjadi anggota DPR pada 1956-1959
mewakili Partai Rakyat Indonesia dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Indonesia Ke 10, 1964 1966.
Dia muncul kembali diarena Politik diera Orde Baru, tapi ia bersitegang kembali
karena menganggap pemerintah baru tersebut korupsi dan menyalahgunakan
kekuasaan pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah yang khawatir kritik-kritiknya
sangat keras. setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. semenjak itu semangatnya
memang tidaklah hancur, tapi dia tidak lagi bersikap vokal.
Lepas dari hukuman penjara, dia yang masih tertarik soal politik, tapi dia tidak
pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Bung Tomo lalu fokus agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya, dia juga sangat
dekat dengan keluarga dan anak-anaknya.
Pada 7 Oktober 1981, Bung Tomo meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang
menunaikan ibadah haji. karena tertentang tradisi untuk memakamkan para jemaah haji
yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, yang akhirnya tubuh Bung Tomo bisa
dikembalikan ke Indonesia, setelah keluarga dan teman-teman memintanya. setelah itu
jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air, tetapi tidak dimakamkan di sebuah
Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.
seperti yang ia minta sebelumnya dia tidak ingin dimakamkan di Taman Makam
Pahlawan.

Tan Malaka

Nama Lain: Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka


Tempat Tanggal Lahir: Nagari Pandam Gadang,Suliki, Sumatera
Barat, 2 Juni 1897.

Meninggal: Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949, Diusia 51


Tahun.

Dia adalah bagian dari Pahlawan Indonesia juga Nasional, salah satu Pendiri Republik
Indonesia dan Tokoh pertama yang menyusun konsep Negara Indonesia. ia juga pemikir
yang pandai, meski karya tulisannya sangat berbau kiri, terutama pada karya di bahasa
Dari Pendjara Ke Pendjara yang terdiri tiga volume. beberapa karya dia lainnya masih
ada ditemui dimasa kini.
Saat ketertarikannya terhadap Revolusi membuat dia sangat membenci Belanda.
apalagi setelah lulus dari kuliahnya dan melanjutkan karir menjadi Guru, seterusnya
kiprahnya menyerang kebencian di Media Massa dilakukannya. bukan hanya itu saja
karya yang ia tulis sendiri sejak tahun 1925 Naar de Republiek Indonesia mencerminkan
cara berpikir yang teoritis untuk mencapai Republik Indonesia. karya-karya Tan Malaka
lainnya meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial,
kebudayaan sampai kemiliteran (GerpolekGerilyaPolitik dan Ekonomi 1948). akan
ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah
kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.
Ia
terlibat
pada
peristiwa Peristiwa
3
Juli
1946,
dimana suatu
percobaan kudeta (perebutan
kekuasaan) yang
dilakukan
oleh
pihak oposisi, kelompok Persatuan Perjuangan terhadap pemerintahan Kabinet Sjahrir
II di Indonesia.
Tan
malaka
lalu
ditahan bersama
pimpinan Persatuan
Perjuangan lainnya, tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. tapi untung bagi
dirinya, setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948. yang
dipimpin Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara
akibat peristiwa itu.

Setelah itu, kecewa dengan Syahrir yang dengan perjanjian Perjanjian Linggajati 1947
dan Renville 1948. ia akhirnya mendirikan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), 7
November 1948 di Yogyakarta, yang hanya bisa dinikmati dirinya selama satu tahun saja,
karena semenjak itu, ia dinyatakan meninggal secara tragis. walau misterinya nanti bisa
terungkap melalui penuturan Harry A. Poeze (seorang Sejarawan Belanda). bahwa ia
dieksekusi, lalu dimakamkan di hutan, pada tanggal 21 Februari 1949 di kaki Gunung
Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. atas perintah
Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan Divisi Brawijaya.
Tan Malaka yang dengan visi dan keyakinan teguhnya, memang kerap kali menjadi
bumerang atas tindakannya sendiri. tapi biar bagaimanapun setelah kematiannya dan
sesudahnya, nama ia belumlah padam sampai disaat ini. banyaknya Biografi tentang
dirinya dan juga penghargahaan sebagai Pahlawan kemerdekaan Nasional, telah menjadi
bukti bahwa Tan Malaka adalah seseorang yang mempunyai Gaya Tersendiri
dijamannya.

Suwiryo

Nama Lain (Julukan): Raden Suwiryo


Tempat Tanggal Lahir: Wonogiri, Jawa Tengah, 17
Februari 1903

Meninggal: Jakarta, 27 Agustus 1967, Diusia 64 Tahun.

Siapakah Raden Suwirjo? bila orang mengenalnya, dia ada adalah Wali Kota pertama
DKI Jakarta dan juga tercatat Sebagai Gubernur Pertama DKI Jakarta. di tanggal 23
September 1945 Suwiryo, dilantik menjadi Walikota pertama yang ditunjuk pada masa
pendudukan Jepang. Suwiryo juga salah satu orang yang ikut mendesak
agar Soekarno dan Mohammad Hatta segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan RI.
Saat Belanda kembali melancarkan Agresi Militer Belanda I, Suwiryo tetap berada di
Jakarta, meski Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta hijrah ke Yogyakarta. dia
juga memberikan instruksi kepada seluruh pegawai pamong praja untuk tetap tinggal dan
beraktifitas seperti biasa. tapi naas bagi dirinya karena tidak pergi keluar dari Jakarta,
Suwiryo diculik oleh pasukan NICA di rumahnya, didaerah Menteng Jakarta Pusat,
sampai lima bulan lamanya.
Tetapi untungnya, meski ujungnya ia bisa pergi ke Yogyakarta, tidak berapa lama
disana, di bertugas dalam Kementrian Dalam Negeri RI sebagai pimpinan Biro Urusan
Daerah Pendudukan (1947-1949). tahun 1949 Suwirjo mulai kembali ke Jakarta, dan
diangkat menjadi Walikota Jakarta Raya tanggal 2 Mei 1951. tak berapa lama,
diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Sukiman-Suwirjo (April 1951
April 1952). selanjutnya di Kementrian Dalam Negri, lalu menjabat sebagai Presiden
Direktur Bank Umum merangkap Presiden Komisaris Bank Industri Negara (BIN) yang
kemudian dikenal dengan Bapindo, hingga akhirnya ia menjadi Ketua Umum PNI.
Walau ia tidak masuk menjadi Tokoh Nasional, namum Suwiryo telah memberikan
banyak Kontribusi untuk negara. hingga pada saat meninggalnya, dia mendapat tempat
dimakamkan di Taman makam Pahlawan Kalibata, suatu tempat yang dikhususkan bagi
mereka yang telah berjasa kepada negara kesatuan Republik Indonesia.

Rasuna Said

Nama Lain (Julukan): Hajjah Rangkayo Rasuna Said


Tempat Tanggal Lahir: Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14
September1910

Meninggal: Jakarta, 2 November 1965, Diusia 55 Tahun.

Dia sama seperti halnya Ibu Kartini, memperjuangkan adanya persamaan hak antara
pria dan wanita, salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional
Indonesia.
Sewaktu mudanya ia mempunyai kemauan keras dan berpandangan luas, apalagi
setelah dia bergabung ke Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris cabang dan kemudian
menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia(PERMI). disaat ini, dia yang sangat mahir
berpidato, yang isinya mengecam tajam ketidak adilan pemerintah Belanda, akhirnya ia
ditangkap dan dipenjara pada tahun1932 di Semarang.
Pada masa pendudukan Jepang, Rasuna Said ikut serta sebagai pendiri organisasi
pemuda Nippon Raya di Padang yang kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.
setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, ia menjadi anggota Dewan
Perwakilan Sumatera (Dewan Perwakilan Sumatera). ditahun 1959 ia diangkat menjadi
anggota Dewan Pertimbangan Nasional Indonesia (Dewan Pertimbangan Agung), posisi
yang dipegangnya sampai kematiannya.
Seperti halnya Pahlawan Perempuan Indonesia lainnya Raden Ayu Kartini, Rasuna
Said juga berjuang untuk kesetaraan antara pria dan wanita. dia dinyatakan sebagai
Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soeharto dengan Surat Keputusan Presiden
R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.
Namanya saat ini digunakan sebagai salah satu jalan arteri utama di Jakarta (Jalan
HR Rasuna Said) membentang ke selatan dari distrik pusat Menteng menuju daerah
Kuningan dan Mampang. Rasuna Said juga dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Kalibata, Jakarta Selatan. dia meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6

cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel
Abdillah dan Natasha QuratulAin).