Anda di halaman 1dari 23

51

BAB III
YB MANGUNWIJAYA, KARYA, DAN PEMIKIRANYA
A. Riwayat Hidup dan Latar Belakang Sosio Kultur
Sosok intelektual yang akrab disapa Romo Mangun, memiliki nama lengkap
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya1. Lahir di Ambarawa 6 Mei 1926, adalah anak sulung
dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah2.
Bilyarta adalah nama kecilnya. Nama Yusuf di depan Bilyarta adalah nama
permandian atau nama baptis. Sementara nama Mangunwijaya diambil dari nama
kakeknya, seorang petani tembakau3
Seperti sejarah banyak orang, sejarah YB Mangunwijaya juga ditentukan
oleh perjalanan hidup ayahnya. Semasa kecil, ayahnya diangkat anak oleh pakde
ayahnya sendiri yang menjabat sebagai lurah desa di daerah Parakan, Jawa Tengah.
Pengangkatan ayahnya sebagai anak lurah ini kelak

ikut membentuk sejarah

Mangunwijaya. Sebab berkat pengangkatan ayahnya lantas dimungkinkan


mengenyam pendidikan dan menjadi guru SD. Ibu Mangun yang juga sempat
mengenyam pendidikan menjadi guru TK4
Pada zaman kolonial Belanda5, sekolah memang hanya diperuntukan bagi
keturunan Belanda dan priyayi pribumi. Priyayi rendahan apalagi rakyat biasa tidak
1

Ketika Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau akrab dipanggil Romo Mangun meninggal
dunia, tanggal 10 Februari 1999, ribuan pelayat menghadiri pemakamannya. Tidak hanya dari
kalangan rohaniawan dan Penganut agama Katholik atau masyarakat Yogyakarta saja, tetapi juga
masyarakat dari berbagai agama, suku, kedudukan, pangkat, profesi dan lain-lain ( Simposium Sosok
YB Mangunwijaya, Sabtu, 28 Juni 2003 di Aula RS st Borromeus. File: http://www. Google.
Simposium Sosok YB Mangunwijaya - Sabtu, 28 Juni 2003.htm
2
Orang tua, khususnya ibunya, berharap agar anak sulung tersebut menjadi seseorang
imam, namun tidak demikian harapannya pada anak-anaknya yang lain. Oleh orang tuanya, Yusuf
kecil mendapat mainan untuk 'misa-misaan'. Dia memerankan imam dan adik-adiknya disuruh
menjadi umat. Semua adik-adiknya laki-laki tidak pernah memerankan imam seperti dia. Dan dalam
kenyataannya, memang hanya Yusuplah yang menjadi pelayan Tuhan dari keluarga besar tersebut.
file: http://www. Google..mangun.htm.14.02.04)
3
Willy Pramudya, sebuah Pengantar Perjalanan Hidup Seorang Yusuf Bilyarta
Mangunwijaya dalam Mendidik Manusia Merdeka, Romo Y. B. Mangunwijaya 65 Tahun
(Yogyakarta: Interfidei, 1995), Cet II Juli, hlm. 3
4
Ibid
5
Mangun kecil jauh lebih beruntung dibanding anak-anak dari keluarga kebanyakan, sebab
boleh mengenyam pendidikan yang ketika itu hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat

52

memperoleh kesempatan itu. Melihat nasib seperti ini, gereja melalui para
misionaris atau zendingnya mendirikan sekolah swasta bagi golongan rakyat. Di
sekolah seperti inilah ayahnya mengenyam pendidikan dasar hingga pendidikan
lanjutannya sebaga calon guru SD. Ayahnya bahkan sempat menjadi pimpinan
asrama sekolah tempat mengajar. Di Muntilan, sekolah ayahnya ini pula, Mangun
kecil memulai pendidikan formalnya. Berbeda dengan teman-teman asramanya dari
berbagai daerah yang harus berpisah dengan orang tua dan lingkunganya (yang
merupakan sistim pendidikan waktu itu)6
Meski cukup lama hidup di Asrama, pribadi Mangun lebih banyak terbentuk
oleh keluarganya sendiri. Tetapi yang jelas masa kanak-kanak saat itu baginya
adalah masa yang penuh kenangan manis dan menguntungkannya. Sayang setelah
Jepang datang7, sekolah itu terpaksa bubar. Bahkan sebagian besar teman-temanya
itu tidak terdengar lagi kabar beritanya hingga kini8.
Di masa kanak-kanaknya, meski tidak pernah bergaul langsung dengan
Belanda atau Indo-Belanda, Mangun punya kenang-kenangan yang berkaitan
dengan suasana anak-anak Belanda dan Indo-Belanda. Salah satu kegemaranya
adalah mengintip para sinyo atau noni cilik Belanda yang mempunyai banyak
mainan asing yang membuatnya kagum. Mangun kecil suka melihat9 anak-anak

yang memiliki status sosial tertentu. Selain itu perjalanan hidup Mangun kecil juga sangat ditentukan
oleh hidup ayah dan ibunya yang berprofesi sebagai guru. Latar belakang sadar pendidikan inilah
yang mengantarnya kelak menjadi intelektual (Asyer Tandapai Gereja Dispiora Paguyuban
Kharismatik Sosio Religius file: http://www. Google..htm.28/02/25)
6
Willy Pramudya, Op Cit, hlm 4
7
Masa yang dirasakanya sangat mengerikan adalah saat Indonesia di bawah pendudukan
fasis militer Jepang. Ketika itu, keluarganya tinggal di kota Magelang, kota tangsi yang bersuasana
militer Belanda. Suasana pendidikan yang sangat memperihatinkan segi-segi penghalusan akal budi
dan pencerdasan akal sehat, digantikan dengan suasana militeristis yang memporak porandakan
ekonomi dan kebudayaan. Dunia fasis yang serba kasar sangat dibenciya (B. Rahmanto Y B.
Mangunwijaya karya dan Dunianya (Jakarta: Grasindo, 2001), hlm. 3
8
Singgih Nugroho Pendidikan Pemerdekaan dan Islam, (Yogyakarta: Pondok Edukasi,
2003), Cet I Sep, hlm. 16
9
Melihat mereka, serasa mereka dalam suasana surgawi sebagaimana cerita-cerita yang
diajarkan dalam pelajaran agama. Mereka memiliki mainan lengkap dan menyenangkan yang tak
mungkin dibeli oleh orang tuaku kenangnya. Sebagai orang Jawa, Mangun kecil tidak merasa
terganggu, iri, atau cemburu melihat tingkah laku mereka meskipun sadar bahwa tidak mungkin
bermain bersama karena suasana zaman yang membedakan mereka secara sosial (Willy Pramudya,
Op Cit, hlm 5)

53

Belanda yang sedang bermain-main di jalan-jalan atau di pemukiman Belanda. Bagi


mangun, anak-anak Belanda khususnya

noni-noni itu sangat manis dan

menyenangkannya untuk dilihat sehingga menjadi hiburan tersendiri10


Sejak kecil Mangun sudah menunjukan telenta pada bidang ilmu-ilmu pasti
alam dan tehnik, setidaknya ia selalu tertarik pada bidang keilmuan tersebut. Karena
itulah setamat SD, ia melanjutkan sekolahnya di Sekolah Tehnik (ST) di Semarang.
Sebab saat itu ST, apalagi jurusan listrik, memiliki gengsi tersediri di mata
masyarakat. Menurutnya lulusan ST jaman itu sering jauh lebih bermutu
dibandingkan dengan lulusan sekolah tehnik yang ada sekarang. Saat duduk di ST
inilah kecerdasan Mangun mulai terlihat. Beberapa kali dia selalu mendapat juara
satu dan atau dua di kelas maupun sekolahnya. Namun suatu ketika ia berubah
pikiran. Peristiwa ini bermula dari setiap perjalanan pulang dan usai liburan di
sepanjang perjalanan. Ia selalu mendengarkan pembicaraan para pelajar sekolah
umum (setingkat SMP dan terutama setingkat SMA). Mereka selalu berdebat
tentang sejarah dunia dan para tokohnya serta para cendikiawan dan hasil dari
pemikiran mereka, yang membuatnya seperti tidak tahu apa-apa tentang dunia.
Selain itu pengaruh bacaan buku-buku sejarah dan filsafat milik ayanya yang
bertutur tentang Aristoteles, Plato, Socrates yang setiap kali dibacanya dan berbagai
bacaan lainya dari perpustakaan ayahnya makin mengganggu pikiranya. Kemudian
Mangun remaja makin merasa bahwa sekolah tehnik kurang luas horison baginya.
Karena itu setelah lulus ST, mangun muda, justru ingin melanjutkan ke SMA11
Satu hal yang juga menjadi bakat Mangun sejak kecil adalah kegemaranya
membuat berbagai desain mainan di pasir seperti rumah-rumahan, pelabuhan,
lapangan terbang dan berbagai bangunan mainan lainya. Kesempatan yang di
perolehnya di waktu kecil keluar masuk lingkungan Belanda melihat noni-noni juga
ikut memberi inspirasi dalam dirinya. Ia mengamatinya secara khusus bangunanbangunan ala Belanda. Disamping kegemaranya membaca sejarah dunia, khususnya
sejarah Eropa, dan lebih khusus sejarah Belanda. Kelak, pengetahuan tentang
10
11

Singgih Nugroho Op Cit, hlm 17


Ibid hlm 18

54

berbagai kreasi kebudayaan Eropa yang terekam mendalam pada diri YB


Mangunwijaya turut mempengaruhi prestasi dan keberpihakanya pada dunia
arsitektur12.
Ketika Jepang datang, dunia pendidikan mengalami perubahan drastis.
Disamping karena gangguan perang, yang membuat proses pendidikan tersedatsendat, yang sangat mendasar adalah perubahan sistemnya. Menurutnya, sistem
pendidikan Belanda yang lebih menekankan pada olah pikir13 dan pengenalan
berbagai budaya di samping pakaian yang necis dan bersih diganti dengan sistim
Jepang yang lebih berorientasi pada olah raga seni berkelahi dan perang dengan
teriak-teriak dan macam-macam latihan yang berkesan biadab untuk anak yang
pernah dididik cara Eropa. Suasana Jepang yang kasar menghadapi perang Timur
Raya waktu itu tidak disukainya14.
Tidak heran, tatkala tanah air membutuhkan dukungan dari warga
bangsanya, maka bersemangatlah Mangun muda, ketika Moh. Sadli (kelak menjadi
Menteri Perdagangan zaman Orde Baru) guru mekanika di STM memperseiapkan
murid-muridnya untuk siaga bila perjuangan demi kemerdekaan memerlukan para
pemuda.
Pada tahun 1945-1951, Mangun muda beserta sejumlah pemuda lain ikut
mendaftarkan diri menjadi tentara dan akhirnya sempat bergabung dengan TKR
Batalyon X Devisi III Yogyakarta, komisi zeni, pimpinan Mayor Soeharto yang
berpengkalan didepan Benteng Vredenburg depan Istana Kepresidenan kala
revolusi. Selama di TKR ini Mangun sempat terlibat dalam pertempuran di
Magelang, Ambarawa dan Semarang15.

12

Ibid
Mata pelajaran SD zaman Belanda dibuat tidak untuk dihapalkan, abstrak, dan tidak
bersangkut paut dengan kehidupan riil, tetapi benar-benar berakar pada kebutuhan lokal serta
situasional si anak dengan dimensi pembukaan pintu gerbang masa depan. Disamping itu, guru-guru
Belanda itu sangat memperhatikan daya kreasi dan fantasi anak-anak. Jika anak-anak hanya
menirukan jawaban tanpa memahaminya, itulah dosa-dosa besar iklim pendidikan sekolah dasar
sekarang ini (B. Rahmanto Op Cit hlm 2)
14
Singgih Nugroho Op Cit, hlm 19
15
Y. B. Mangunwijaya Tumbal Kumpulan Tulisan YB Mangunwijaya (Yogyakarta :
Benteng Intervisi Utama, 1994), Cet II Juni, hlm. 441
13

55

Tidak lama kemudian perang usai dan Mangun ingin melanjutkan


sekolahnya. Akhirnya ada tawaran dari Uskup Malang untuk sekolah di sana. Di
Malang sesudah RI menang, Mangun meninggalkan dunia tentara. Di sana Mangun
muda sempat aktif di organisasi Pemuda Katholik. Dalam sebuah kesempatan dia
mewakili organisasinya untuk mengikuti perayaan besar-besaran atas menangnya RI
melawan Belanda. Mangun muda tidak manyangka bahwa perayaan itu akan
membelokan cita-citanya sejak kecil, yakni menjadi insinyur yang kaya, menikah,
punya anak-istri, hidup nyaman, indah dengan punya rumah mewah, tetapi punya
ruang untuk kegiatan sosial. Ia tidak pernah menyangka bahwa pidato16 dari
Komandan Tentara Pelajar RI (TP-RI) bernama Mayor Isman (ayahanda Hayono
Isman, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga) akan mengubah cita-citanya17.
Pidato yang diucapkan dengan gaya retorika yang memukau itu seingat
Mangun sempat membuat hadirin terdiam panjang. Namun, bagi Mangun pidato itu
tidak hanya membuatnya terdiam panjang. Hampir semua yang yang diucapkan
Isman membuatnya tidak bisa tidur. Beberapa hari

sangat gelisah. Bahkan ia

mengalami krisis mengenai hari depanya.


Karena tidak mampu meredam kegelisahan, Mangun minta nasihat dari
seorang pastor gurunya, Romo Jayus (alm). Beliau menasihati agar ikut merenung
dan berdoa mendalam. kamu perlu retret (ziarah rohani dengan menyingkirkan diri
dari dunia ramai untuk mengadakan penyucian bathin dan refleksi diri).
Retret berjalan lancar. Mangun kembali normal. Tetapi ada yang
memanggil-manggil. Sebuah keyakinan tumbuh. Bangsa Indonesia telah menang
dan diakui kemerdekaan politiknya. Tetapi perjalanan yang amat jauh dan lebih sulit
masih harus dihadapi, yakni menemukan sikap dasar yang menjauhkan bangsanya
dari godaan berlumuran darah dalam segala bentuk. Selain itu Mangun ingin
16

Kami bukan pahlawan, kami bukan bunga bangsa. Kami bukan madu bagi rakyat.
Karena, kami sudah membunuh, kami sudah membakar, kami sudah berlumuran darah dan
melakukan hal-hal yang kejam. Karenanya, kami minta tolong agar kami yang menjadi manusia
normal kembali. Inilah jasa yang dapat anda berikan kepada kami yang menjadi korban revolusi,
yang terpaksa membela tanah air dengan senjata (YB Mangunwijaya Saya Ingin Membayar Utang
kepada Rakyat, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), Cet V, hlm. 59
17
Singgih Nugroho Op Cit, hlm 20

56

membalas budi kepada rakyat yang paling besar jasa dan pengorbanannya selama
perang-perang kemerdekaan. Ia ingin menjadi rohaniawan yang bekerja tidak demi
harta dan kekuasaan, apalagi dengan tangan-tangan berlumuran darah yang
mengorbankan

rakyat. Ia18 ingin masuk seminari dan diterima di Seminari

Menengah Kanisius di Magelang, kemudian di Seminari Tinggi Sancti Pauli


Yogyakarta19
Tahun 1959-1960 ia mendapat tugas untuk belajar arsitektur ke ITB dan
kemudian diteruskan

studinya di Sekolah Tinggi Rheinisch-Westfaelische

Techmische Hochchule, Aanchen, Jerman Barat (1960-1966). Di sini ia kenal akrab


dengan B. J. Habiebie dan Wardiman Djojonegoro yang pernah menolong Mangun
muda yang masih asing di Jerman untuk mendaftarkan kuliah di Aanchen. Di sini
Mangun disamping mempelajari ilmu-ilmu tehnik, juga mulai mendalami
pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial, kebudayaan dan filsafat
Tahun 1966 setelah berhasil menyelesaikan studinya di Jerman, Mangun
menjadi pastur di Jetis dan Salam (Magelang) disamping itu, ia mengajar di jurusan
Tehnik Arsitektur Universitas Gadjah Mada UGM. Namun akhirnya pada tahun
1980, setelah mengajar 12 tahun di sana, Romo Mangun memilih keluar dari UGM.
Karena menurutnya kampus itu telah menjadi milik orang-orang besar dan tidak
bersahabat dengan orang-orang miskin. Kemudian dia lebih berkonsentrasi
menjalankan tugas kepastoranya20..
Suatu ketika ia meminta ijin kepada Kardinal Justinus Darmojuwono untuk
tingal di daerah kumuh. Keinginan itu pada awalnya diejek sebagai kesempatan
untuk piknik. Namun Mangun berhasil meyakinkan bahwa sudah saatnya ia hidup
dan bernafas bersama rakyat paling bawah. Ia hanya ingin sekedar mengaktualisasi
apa yang ada pada dirinya dan memang sudah lama diinstruksikan oleh
Gereja:Preferential option for the poor21.
18

Mangun menerima pentahbisan sebagai imam untuk keuskupan (Agung) Semarang dari
Mgr. A. Soegijapranata (1959). Sejak tahun itu ia resmi menjadi pastur (Ibid hlm 22)
19
Willy Pramudya, Op Cit hlm 10
20
YB Mngunwihaya, Tumbal Op Cit hlm 443
21
Willy Pramudya, Loc Cit hlm 15

57

Sejak di Kali Code ini, Mangun semakin mengenal kondisi masyarakat. Ia


semakin mengenal berbagai aspek kehidupan lebih lengkap. Ia juga belajar
membuat dunia teologi yang lebih bersifat normatif dan abstrak itu menjadi lebih
membumi.
Paradigma berpikir demikian mendorongnya untuk selalu berusaha berpihak
kepada orang-orang miskin dan kaum tertindas, tanpa mempermasalahkan baju
agamanya. Bagi Mangunwijaya, sesungguhnya memahami persoalan kemanusiaan
lebih bijak dengan pendekatan religiusitas, bukan agama. Sebab iman sebenarnya
adalah praksis. Inilah yang mendorongnya berpihak kepada para petani yang
menjadi korban ambisi negara22
B. Karya-Karya YB Mangunwijaya
Untuk menelusuri karya-karya YB. Mangunwijaya tidak terlalu sulit.
Banyak karyanya yang tersebar di berbagai media massa sehingga memudahkan kita
untuk mengaksesnya. Bahkan berbagai tulisan itu sekarang sudah dikumpulkan
dalam berbagai bukunya, salah satu diantaranya ialah, bukunya yang berjudul
Tumbal, merupakan kumpulan tulisannya di harian Kompas, dari tahun 1970-1990,
Gerundelan Orang Republik23.
Agar bisa memahami perkembangan pemikiran YB Mangunwijaya dalam
bingkai yang utuh, secara sederhana kita bisa melihatnya dalam sosok diri
Mangunwijaya- yang agamawan sekaligus budayawan24.

22

Singgih Nugroho Op Cit, hlm 24


Dalam buku ini gerundelan orang republik Romo Mangun mangajak kita
mempertanyakan kembali esensi kemerdekaan yang terdalam, mempertanyakan kembali apa
perbedaanya setelah merdeka bagi rakyat, buku ini ditujukan terutama pada generasi muda, karena
Romo Mangun ingin mengekspresikan simpati dan kepercayaan kepada mereka. Menurutnya esai
bukan merupakan gugusan dalil-dalil yang mampu mengklaim kebenaran secara mutlak, melainkan
merupakan upaya ihktiar dalam rangka
memahami sesuatu yang dianggap penting. YB
Mangunwijaya Gerundelan Orang Republik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995) Cet I September,
hlm 17
24
Dua profesi inilah inilah yang menjadi dasar berpijak untuk menjalani pilihan hidupnya.
Sebagai agamawan Katolik, dia berprinsip bahwa hidup keagamaanya adalah pengembangan iman
dan religius, bukan mengerasnya lembaga agama yang dapat mengakibatkan eklusifisme. Dia
mengatakan bahwa agama cenderung dan dalam tingkat tertentu, harus menjadi eksklusif, tetapi iman
selalu terbuka dan inklusif. (Singgih Nugroho Op Cit, hlm 25)
23

58

Sebagai seorang budayawan, tulisan menjadi salah satu alat perjuanganya.


Pergulatan hidupnya yang selalu bersama dengan rakyat, membuat isi karangan
yang pernah dibuatnya, tidak terpisah dengan realitas kehidupan. Hampir dalam
setiap tulisanya, pasti kita akan menemukan nuansa dan wacana pemerdekaan,
menggugat ketidakadilan, menggugah semangat cinta kasih, kemanusiaan,
keagamaan yang inklusif, dsb.
Menurut Budi Darmawan, seorang budayawan, sejak Mangun meluncurkan
novel pertamanya, Romo Rohadi ,manuju mester piece-nya, lalu menuju novel
sejarah, Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homo

25

disambung gubahan cerita Roro-roro

Mendut, sampai dengan novel-novel akhirnya, antara lain Burung-Burung Rantau,


tidak lain adalah produk tradisi sastra realisme26
Melalui novel (sebagai corong refleksi pemikiran dan perasaan), YB
Mangunwijaya mengajak kita menaruh keprihatinan serius mengenai wujud
masayarakat Indonesia: hubungan antar sesama, hubungan dengan masayarakat dan
bagaimana hidup yang bertolak dan berdasar pada nilai27.
Keprihatinan pokok mengenai wujud negara dilambangkan dengan
pembangunan sarang burung manyar28 demi meletakan generasi masa depan
(baru) telur-telur manyar itu. Pembangunan sarang burung ini amat ditentukan
oleh kualitas manusia-manusia matang yang mampu mencapai dan mampu hidup
atas dasar jati dirinya.

25

Dalam novel ini, Mangunwijaya menyuguhkan tafsirannya atas suatu peristiwa sejarah
yang pernah melanda masyarakat Halmahera dan sekitarnya pada abad ke-17. menurut pengakuanya,
novel ini diilhami setelah membaca suatu monografi A. Hueting tahun 1912 tentang adat istiadat dan
riwayat suku Tobelo Halmahera. B. Rahmanto Op Cit hlm 30
26
Singgih Nugroho Loc Cit, hlm 26
27
Mudji Sutrisno, Benang-Benang Merah Pemikiran Mangunwijaya dalam Mendidik
Manusia Merdeka (Yogyakarta : Interfidei, 1995), Cet II Juli, hlm. 89
28
Terdapat dalam novel Burung-Burung Manyar, struktur bangunan luar novel ini mirip
arsitektur gedung. Lantai pertama (bagian I: 1934-1944, masa sepuluh tahun), lantai kedua (bagian
II: 1945-1950, masa lima tahun, dan lantai ketiga (bagian III:1968-1978, masa sepuluh tahun. Lantai
pertama itu, seperti halnya menonton pertunjukan wayang kulit (Mangunwijaya sendiri selalu
mengatakan bahwa novel BBM sebenarnya wayang dalam bentuk novel modern) membaca novel
ini tidak boleh meloncat, tetapi urut. B. Rahmanto Y B. Mangunwijaya karya dan Dunianya 2001,
Op Cit hlm 23

59

Sarang Burung Manyar ini cara membangunya menuntut keberanian


membongkar mentalitas lama demi terjaminya citra diri. Dalam bahasa arsitektur,
dirumusnya sebagai wusthu citra, artinya:dimensi kejiwaan yang bersumber pada
jati diri manusia sang pembangun.29.
Sisi lain yang menarik ada beberapa novel, yang sebenarnya merupakan
pengungkapan jujur secara implicit dari diri Manguwijaya-meskipun Mangun
sendiri terkadang mengelak. Novel Burung-Burung Rantau misalnya, novel itu
merupakan gagasanya tentang format kebudayaan baru, sebuah gagasan yang
sebetulnya sudah dilontarkanya pada tahun 1980-an. Di novel itu, diceritakan
tentang sosok wanita akademisi yang begitu hebat kemampuan intelektualnya dan
masa depanya, dengan mendadak memutuskan untuk mengorbankan kecerdasan dan
masa depanya dengan jalan menjadi pembela anak-anak hina, papa, dan kaum
tertindas. Gambaran ini sesuai dengan kehidupan Mangunwijaya sendiri yang
membela orang-orang miskin di Pinggir Kali Code dan para petani korban Waduk
Kedung Ombo.30
Pembelaan Mangun kepada rakyat kecil, dapat kita lihat di banyak tulisanya.
Ia menulis Kasus Nipah dan Rasa Keadilan, begitu terdengar kabar orang-orang
Nipah harus membayar nyawanya untuk membayar tanah yang akan dibangun
waduk. Ketika Marsinah mendapat anugrah HAM Yap Thiam Hien 1993, Romo
Mangun pun mengungkapkan rasa syukur dengan menulis Marsinah, Pahlawan
HAM. Dalam novel-novelnya seperti Trilogi Roro Mendut, Gedhuk Duku dan
Lusi Lindri31 juga mengungkap penderitaan rakyat kecil.
Romo Mangun tergolong bukan pastur seperti pada umumnya. Ia pastur
dengan sejumlah predikat. Selain menjadi rohaniawan Katholik, ia juga seseorang

29

Mudji Sutrisno Loc Cit hlm 89


Singgih Nugroho Op Cit, hlm27
31
Sesuai dengan nama Trilogi, ketiga novel sejarah itu dapat dibaca sendiri-sendiri.
Namun, ketiganya sebenarnya disatukan oleh satu tema pokok trdisional, yaitu kebathilan-keculasan
dan kesewenang-wenangan pasti akan mendapatkan hukumanya yang setimpal. Yang hanya ingin
mengetahui bagiamana Mangunwijaya menafsirkan kembali mitos cinta segi tiga Roro MendutPronocitro-Wiroguno yang berakhir dengan mengenaskan, cukup membaca RM sebagai buku
pertama. B. Rahmanto Y B. Mangunwijaya karya dan Dunianya 2001, Op Cit hlm 41
30

60

arsitek. Sebagai arsitek, selain berkarya nyata, Romo Mangun juga berteori melalui
penulisan buku. Semua karyanya, baik karya arsitektur rumah tinggal, bangunan
peribadatan, kampus, kantor, lingkungan perumahan, rancangan kota maupun dua
buku yang dikarang-Pasal-pasal Penghantar Fisika Bangunan dan Wusthu Citra
(PT Gramedia)-adalah karya arsitektural yang monumental. Buat saya, Romo
Mangun adalah seoarang arsitek modern dan pascamodernis yang paling terampil
sekaligus paling intelektual yang pernah dimiliki Indonesia sampai saat ini.
Bahkan, tidaklah berlebihan bila F. Silaban kita katakan sebagai salah
seoarang Bapak Arsitektur Modern Indonesia, maka YB Mangunwijaya adalah
seorang Bapak Arsitektur Pasca Modernisme Indonesia32
Diantara karya-karyanya antara lain: Gedung Bentara Budaya Jakarta,
rumah kediaman Arief Budiman di Salatiga, Gedung Gereja Katholik di Klaten,
Salam, Jetis dan sebagainya. Rancangan khas Mangun biasanya berciri dari bahan
kayu dan bambu, yang diakui arsitektur berkepribadian Nusantara. Karya-karya
arsitekturnya mendapat berbagai penghargaan. Diantaranya dari Badan Lingkungan
Dunia di Vancouver (1977), Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) berturut-turut pada
tahun 1991 dan 1993 memberikan IAI Award untuk sumbangan pada usaha
penataan lingkungan komplek ziarah, Sendang Seno, Kulon Progo Yogyakarta. Ia
pun meraih penghargaan Aga Khan Award For Architecture in The Muslim Word
(1992) atas keberhasilanya membenahi kampung di pinggir Kali Code yang semula
kumuh menjadi artistik, indah dipandang meski sederhana33
Demikian YB Mangunwijaya, seorang yang maminjam istilah Arief
Budiman adalah sosok yang multidimensional34. Romo Mangun biasa dilihat dari
banyak segi. Bisa dilihat sebagai budayawan, rohaniawan, arsitektur dan pejuang

32

Andy Siswanto, YB Mangunwijaya;Arsitek Wusthu Catra dalam Mendidik Manusia


Merdeka (Yogyakarta : Interfidei, 1995), Cet II Juli, hlm. 209
33
Singgih Nugroho Op Cit, hlm 28
34
Arief Budiman Romo Mangun dan Masyarakat Ketakutan dalam Mendidik Manusia
Merdeka, Op Cit hlm 377

61

kemanusiaan, tidak sedikit pula yang menyebutnya seniman. Dan barangkali yang
tak terlupakan adalah dia juga seorang pendidik35
Sebagai seorang pendidik, pendidikan dimaknainya sebagai upaya
pemerdekaan manusia. Dia berusaha mengembangkan pola pendidikan yang
memberikan ruang kesetaraan antara murid dan guru. Baginya kebodohan tidak
selalu dibawa semenjak lahir tetapi seringkali diciptakan setelah orang dilahirkan ke
dunia, dan dilestarikan setelah orang menjadi dewasa di tengah-tengah
masyarakatnya. Pendidikan berfungsi antara lain, mengurangi dan menyingkirkan
halangan-halangan yang ada dalam masyarakat, sehingga setiap orang dengan
intelegensinya yang sederhana dapat mencapai suatu tingkat kecerdasan yang
mencukupi untuk mengurus dirinya sendiri atas tindakan yang dilakukannya36
Kecintaannya pada anak-anak membuatnya berpikir sistem pendidikan yang
mampu memberdayakan muridnya. Dan menurutnya, hal itu bisa terlaksana ketika
pendidikan dasar sudah kuat. Asumsi itulah yang membuatnya dirinya concern pada
sekolah dasar (SD). Sebab baginya SD adalah modal dasar bagi pembentukan
seseorang, baru kemudian revolusi dan sebaginya merupakan sekolah kedua.
Pendidikan dasar sangatlah fundamental bagi eksistensi dan hancurnya sebuah
bangsa37
Demikianlah sekilas tentang Romo Mangun. Rakyat kecil adalah pilihan
awal dan akhir Romo Mangunwijaya. Dengan segala kelabihan dan kekuranganya,
dia telah memberikan warisan yang terbaik bagi bangsa ini. Dia memang bukanlah
sosok yang lengkap pemikiranya. Pemikiranya memang amat subur tetapi, ia
bukanlah pemikir sistematis yang mengajukan teori. Pemikiranya adalah respon
spontan kepada keadaan, tanpa memberikan suatu kerangka besar yang dapat
dipegang secara konseptual

35

Karya-karyanya yang paling menonjol dalam bidang pendidikan sebagian dibukukan


dalam Impian dari Yogyakarta (Kompas 2003) dan Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat
(Kanisius 2003) File:http://www.Google.Simposium Sosok YB Mangunwijaya - Sabtu, 28 Juni
2003.htm
36
Singgih Nugroho Loc Cit, hlm 29
37
Singgih Nugroho Op Cit, hlm 30

62

C. Dimensi Pendidikan Pemerdekaan YB Mangunwijaya


Secara tradisional, pendidikan diselenggarakan terutama oleh orang tua atau
kolektifitas dusun/suku secara spontan, melalui adat istiadat. Pada tahap lebih lanjut,
datanglah pihak agama dengan sistim pesantren, ashram, surau, asrama dan
sebagainya. Setelah dikenal pola tata politik, ekonomi, sosial dan kultur barat,
munculah sistim sekolah (pengindonesiaan kata Belanda school, baca: skool)
yang secara formal bersarana kurikulum, tingkat-tingkat, jenjang-jenjang, ijazah dan
sebagainya.
Para perintis pendidikan bangsa, khususnya Ki Hajar Dewantoro, merasa
perlu untuk menandaskan bahwa visi pendidikan mereka sungguh-sungguh
bermetodologi modern. Alasanya kurang lebih sama dengan alasan Restorasi Meiji
di Jepang yang juga menghadapi invasi kebudayaan Barat, yaitu bahwa yang
mampu menandingi hegemoni Barat hanyalah kaum terpelajar keluaran sekolahsekolah yang bermetode modern juga. Walaupun begitu, penerapanya tetap
berpedoman pada kebudayaan Timur yang luhur. Oleh karena itu, pembentukan
karakter atau sifat/sikap dasar moral dan budi pekerti (ditambah semangat
perjuangan) menjadi program utama38
Dewantara juga berpendapat, bahwa salah satu konsepsi pendidikan adalah
sebagai proses memerdekakan manusia. Manusia merdeka adalah manusia kolektif,
manusia yang selalu sadar, bahwa dirinya adalah anggota masyarakat yang harus
melakukan kewajiban-kewajiban yang di letakan oleh masyarakat kepadanya.
Manusia merdeka yang kolektif ini adalah manusia yang sadar, bahwa
kemerdekaanya dan kebebasanya berfikir dan berbuat untuk mencapai kebahagiaan
hidup yang sudah menjadi haknya itu, haruslah dapat memperkaya masyarakatnya,
memperkaya pergaulan hidup. Manusia merdeka yang kolektif itu juga berarti

38

YB Mangunwijaya Mencari Visi Dasar Pendidikan dalam (Sindhunata, Ed)


Pendidikan Kegelisahan Sepanjang Zaman , (Yogyakarta; Kanisius, 2001), Cet I, hlm. 155

63

manusia yang dalam mempergunakan haknya untuk mengatur dirinya sendiri selalu
mengingat tertib damainya masyarakat39
Cita-cita kemerdekaan dengan tonggak historis Proklamasi Kemerdekaan
ialah pemerdekaan/pembebasan bangsa kita, baik secara kolektif maupun personal,
dari pembelengguan dari bentuk apapun dan oleh siapapun. Jadi tidak cuman
pemerdekaan/pembebasan dari Belanda. Inti cita-cita kemerdekaan bangsa kita ialah
pencapaian suatu tata masyarakat, tata negara dan pergaulan antar manusia di
negeri ini yang bebas dari exploitation de lhomme par I home. Ini perumusan
Soekarno yang sulit mendapat tandingan dalam kejelasan dan bobot isinya. Secara
positif dikatakan membangun masyarakat yang adil dan makmur dalam dimensi
manusia yang seutuh-utuhnya40
Paradigma Pendidikan pemerdekaan Mangun - secara makro - dimaknainya
sebagai proses awal dalam usaha menumbuhkan kesadaran sosial pada setiap
manusia sebagai pelaku sejarah. Sebab kesadaran sosial hanya akan bisa tercapai
apabila seseorang telah berhasil membaca realitas dan belajar memahami
lingkungan mereka dengan perantaraan dunia di sekitar mereka. Proses yang paling
tepat untuk pencapaian kesadaran tersebut adalah lewat pendidikan41
Walau seseorang tanpa pendidikanpun dapat belajar dan memahami realitas
di sekitarnya, pemahamanya tidak bisa utuh dan menyentuh, sebab persoalan yang
ada, karena tidak mempunyai perangkat analisis yang sistimatis. Dalam konteks
inilah seseorang memerlukan sebuah proses pendidikan yang dilakukan dengan
kesadaran untuk belajar memahami realitas secara bersama-sama dengan metode
dan analisis yang tepat, sehingga menemukan sebuah akar dari permasalahan yang
ada.

39

Syamsul Maarif Mengembalikan Fungsi Sekolah Untuk Proyek KemanusiaanJurnal


Edukasi Vol II, Nomor 2, Desember 2004, hlm 286
40
YB Mangunwijaya Bangsa Kita Belum Merdeka dalam Kurungan Magisdalam imam
waluyo dkk Dialog: Indonesia Kini dan Esok ( Jakarta: Lappenas, 1981) hlm 91
41Singgih Nugroho Pendidikan Pemerdekaan dan Islam, (Yogyakarta: Pondok Edukasi,
2003), Cet I Sep, hlm 84

64

1. Pemerdekaan Kemanusiaan dan Keadilan Sosial


Romo Mangun adalah sosok intelektual, banyak gagasanya yang tertuju
pada persoalan yang substansi dan mendasar. Baginya, tugas pendidikan - secara
mikro - adalah mengantar dan menolong peserta didik untuk mengenal dan
mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia yang mandiri,
dewasa dan utuh. Manusia merdeka - berarti membimbing peserta didik dengan
penuh tanggung jawab tanpa tekanan, untuk menjadi SDM yang berkemampuan
sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk budaya dan juga sosial42.- sekaligus
peduli dan solider dengan sesama manusia lain dalam ikhtiar meraih kemanusiaan
yang terjadi, dengan jati diri serta citra diri yang semakin utuh harmonis dan integer.
Visinya tentang nasionalisme (kebangsaan) tidak lepas dari perjuangan
kemanusiaan dan pemerdekaan jiwa. Baginya kebangsaan hanya merupakan
jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk
memuaskan diri sendiri, sekali-kali bukan untuk merusak pergaulan kemanusiaan43.
Pendidikan pemerdekaan Mangun dipengaruhi oleh prinsip hidupnya, yang
dikenal dengan tribina yakni bina manusia, bina usaha dan bina lingkungan.
Prinsip inilah yang mendorong dirinya untuk selalu komitmen total. Selalu
melakukan usaha pembebasan dan pemerdekaan jiwa individu dari penindasan oleh
yang kuat terhadap yang lemah, dalam segala bentuk, melalui proses penyadaran
(Conscientiization) 44dan gerakan anti kekerasan.
Kemerdekaan adalah modal utama bagi setiap manusia, merdeka disini tidak
saja terlepas dari tekanan dari seseorang atau kelompok tertentu. Akan tetapi

42

Nursyid Sumaatmadja Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi, (Bandung:


Alfabeta, 2002) Cet I November, hlm 71
43
Singgih Nugroho, Op Cit hlm 435
44
Kata konsientisasi (berasal dari bahasa Brasil conscientizaCao),proses dimana manusia
berpartisipasi secara kritis dalam aksi perubahan. Konsientisasi tidak dapat mengabaikan perubahan
yang menghasilkan penyingkapan dan realisasi yang konkrit. Paulo Freire, Politik Pendidikan
kebudayaan, kekuasaan, dan pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), Cet IV Des, Hlm.
183

65

merdeka apabila seseorang mampu berpegang teguh pada nilai-nilai kemanusiaanya,


bukan pada nilai-nilai yang datang dari luar sebagai nilai paksaan.45
Pendidikan dalam dimensi tersebut seharusnya membuat masyarakat sadar,
siapa darinya, bagaimana dirinya dengan dunia di luarnya. Kesadaran ini akan
menggugah bahwa dirinya tak sebebas yang dibayangkanya. Dalam hal ini
pendidikan harus mampu menyadarkan manusia karena pemaksaan dan penindasan
tidak hanya mengenai hal fisik dan luaran saja, tetapi pemaksaan dan penindasan
juga akan merasuk ke dalam kesadaran manusia. Justru lewat kedalaman itulah
manusia harus bengkit dari kesadaran yang dulunya menindas.46
Oleh karena itu komitmenya di bidang pendidikan, Mangunwijaya lebih
memilih pendidikan yang berpihak kepada kaum miskin dan tertindas Filsafat
pendidikanya berdasarkan pendidikan pancasila khususnya sila kedua dan kelima.47
1.1 Kemanusiaan
Persatuan bangsa dan masyarakat Indonesia dalam dimensi hidupnya yang
tertinggi dan terdalam adalah keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang maha
esa. Dilengkapi horizontal oleh sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Bila sikap
dasar vertikal dan horisotal itu dipahami, dihayati, dan diamalkan, buahnya ialah,
persahabatan, persaudaraan, saling manghargai, saling menolong. Jadi sikap-sikap
dasar yang berciri ingklusif saling merangkul48
Jika keduanya (vertical dan horizontal) dihubungkan, maka akan menjadi
theoanthroposentris, yaitu mengandung hubungan antara manusia dengan Tuhan
dan hubungan antara manusia dengan manusia lain. Hal ini jika dilihat dari sudut
pandangan pancasila, hal diatas kurang lengkap. Untuk itu perlu ditambah

45

Firdaus M. Yunus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial Paulo Freire YB Mangunwijaya,


(Yogyakarta: Logos Pustaka, 2004) Cet I September, hlm 10
46
Ibid
47
SDEKM merupakan SD yang murid-muridnya hampir semua anak-anak dari keluarga
ekonomi lemah beserta segala akibat budaya/kebiasaan mereka yang positif dan negative dan agama
yang beragam. Pada tahun 1999 siswa dengan jumlah total 54 siswa dengan jumlah 6 orang guru.
Kelas di mulai dari kelas II sampai VI. Kelas I tidak ada sudah hamper mau di tutup. Di kutip dalam
Singgih Nugroho Op Cit, hlm 61
48
YB Mangunwijaya Demi Kesatuan dan Persatuan dalam Nur Achmad (ed), Pluralitas
Agama: Kerukunan dalam Keragaman (Jakarta: Kompas, 2001) CetI, hlm 30

66

cosmosentris yaitu alam sekitar atau alam sekeliling menjadi pusat pembicaraan
sehingga menjadi theoantro cosmosentris karena pancasila memandang manusia
mempunyai tiga hubungan yaitu: Hubungan manusia dengan Tuhanya terkait
dengan sila I, hubungan manusia dengan manusia yang lain terkait dengan sila ke II,
serta hubungan manusia dengan alam sekitarnya atau alam sekelilingnya terkait
dengan sila III, IV dan V. 49
Pada prinsipnya sila ini menempatkan manusia sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk Tuhan dan sikap saling menghargai antara sesama
manusia tepa selira atau besar rasa tengang rasa50. Kemanusiaan Yang Adil dan
Beradab berarti menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gemar melakukan
kegiatan-kegiatan kemanusiaan, dan berani membela bangsa Indonesia merasa
dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.51
Keseluruhan pengertian tentang sila kedua dari pancasila52 ini jelaslah
merupakan suatu kebulatan pengertian yang lengkap tentang manusia. Manusia utuh
dilihat dari kacamata sila kedua adalah yang sadar akan dirinya sebagai manusia,
yaitu yang berkepribadian luhur. Berbeda dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan,
manusia mempunyai kelebihannya yaitu jiwa. Oleh karena itu manusia utuh adalah
yang berbuat sesuai dengan nilai-nilai kejiwaannya.53
Manusia dapat dikatakan memiliki kebebasan dalam hal keinginannya,
tetapi terikat oleh keterbatasan dan tanggung jawabnya kepada masyarakat dan

49

Bambang Daroeso dan Suyamo, Filsafat Pancasila, (Yogyakarta: Liberty, tt.), hlm. 62
Krissantono (Ed) Pandangan Presiden Soeharto Tentang Pancasila ( Jakarta: CSIS,
1976) Cet I Maret hlm 39
51
Achmad Fauzi dkk, Pancasila ditinjau Dari Segi Sejarah, Yuridis Konstitusional, dan
Segi Filosofis( Malang: Lembaga Penerbitan Brawijaya, 1983),. hlm 102
52
Sebagai bentuk pengamalan sila kedua antara lain, Mengakui persamaan derajat, saling
mencintai sesama manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap
orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, berani
membela kebenaran dan keadilan, bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh
umat manusia. Ibid
53
H. Sunoto, Mengenal Filsafat Pancasila; Filsafat Sosial dan Politik Pancasila, Edisi
3, (Yogyakarta: Andi Offset, tt. ), hlm. 21
50

67

Negara, dibatasi juga oleh lingkungan yang itu semua karena manusia tidak hidup
sendiri. Walaupun dia ingin hidup sendiri, tetapi hal itu tidaklah mungkin54
Dengan begitu manusia secara alamiah merdeka, dan secara alamiah pula ia
memiliki sifat sosial. Untuk bisa menggunakanya kebebasanya secara tepat ia butuh
disiplin. Untuk hidup dalam masyarakat ia perlu kebajikan-kebajikan moral. Moral
yang baik serta kebiasaan intelektual dibutuhkan demi pengembangan hakikat
manusia seutuhnya.
Lebih lanjut Omar al Tomy sebagaimana dikutip Syamsul Maarif
mengatakan kebebasan/kemerdekaan adalah jalan-jalan yang betul ke arah
kebahagiaan individu, keselarasan sosial dan psikologinya yang baik, pencapaian
sendirinya, menyadarkan akan hakikat manusia, kehormatan, kebanggaan, dan
kekuatannya. Juga ke arah peningkatan semangat produktifitasnya, membuka bakatbakat,

minat

dan

mengembangkan

kebolehan-kebolehannya.

Jadi

kebebasan/kemerdekaan merupakan hak asasi manusia yang harus dipenuhi, tanpa


itu manusia tidak akan menjadi manusia seutuhnya55
Segala pendidikan yang ingin menumbuhkan bibit-bibit unggul dengan basis
yang luas dan tanah tumbuh yang subur hanya berpredikat sejati, bila tujuan primer
manusia-manusia seutuhnya yang beremansipasi. Teremansipasi berarti merdeka
dewasa mandiri (termasuk sikap sosialnya) yang secara integral seimbang mampu
menghadapi tantangan-tantangan riil yang dihadapi dan akan dihadapi anak didik.
Pendidikan emansipatorik oleh Fuad Hassan seperti yang di kutip oleh Mangun
adalah-memandirikan manusia untuk memekarkan eksistensinya-penciptaan iklim
yang meleluaskan anak manusia berkembang dan terus mekar sendiri hingga
menjadi pribadi yang mandiri. Dan tidak bertujuan mencetak alumni siap pakai
karena hal ini akan bermuara pada eksploitasi antar sesama manusia56

54

Kansil (Ed) Penghayatan dan Pengamalan Pancasila(Jakarta: Balai Pustaka, 1979) Cet
III Januari, hlm 26
55
Syamsul Maarif Mengembalikan Fungsi Sekolah Untuk Proyek KemanusiaanJurnal
Edukasi Vol II, Nomor 2, Desember 2004, hlm 286
56
Yb Mangunwijaya Impian Dari Yogyakarta, Kumpulan Esai Masalah Pendidikan,
(Jakarta: Kompas, 2003) Cet I, hlm 272

68

Pendidikan yang diterapkan oleh Mangun, baik melalui pendidikan


pendampingan terhadap warga masyarakat tertindas maupun pendidikan bagi anak
miskin melalui SD Mangunannya, merupakan cita-citanya untuk mengabdikan diri
bersama masyarakat dan berusaha mengangkat harkat dan martabat masyarakat dari
berbagai penindasan. Dia yang terjun langsung ke tengah masyarakat dapat
mengamati tentang banyaknya warga masyarakat yang belum mampu hidup layak57
Usaha Mangun adalah memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk
cerdas membaca realitas yang melingkupi seluruh hidupnya dan mengembalikan
kemerdekaan yang hilang. Baginya rakyat akan bisa cerdas apabila hak-hak mereka
dihormati dan seluruh partisipasi dan emansipasi mereka diakui layaknya orang lain,
terutama dalam memperoleh pendidikan
1.2 Keadilan Sosial
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah kesesuaian sifat-sifat
dan keadaan dengan hakikat adil, di mana secara umum hakikat adil adalah
memberikan diri sendiri dan orang lain apa yang menjadi haknya, tidak berat
sebelah, selayaknya, tidak sewenang-wenang, dan mendapat perlakuan yang sama.
Dengan demikian dalam hubungan hak dan kewajiban, adil adalah memperoleh
perlakuan yang sama dan layak serta tidak berat sebelah di dalam hak dan
kewajiban.58
Pada prinsipnya sila keadilan sosial menghendaki adanya kemakmuran yang
merata di antara seluruh rakyat, bukan merata yang statis melainkan merata yang
dinamis dan meningkat. Artinya seluruh kekayaan alam Indonesia, seluruh potensi
bangsa, diolah bersama-sama menurut kemampuan dan bidang masing-masing,
untuk kemudian dimanfaatkan bagi kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi
seluruh rakyat59
Sila ini secara bulat berarti bahwa setiap rakyat Indonesia mendapat
perlakuan yang adil dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial-budaya dan
57

Firdaus M. Yunus, Op Cit hlm 76


Bambang Daroeso dan Suyamo, Op Cit, hlm. 73
59
Krissantono (Ed), Op Cit hlm 70
58

69

pendidikan. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945, pengertian keadilan sosial


mencakup pula pengertian adil dan makmur60
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain tersirat bahwa
cita-cita bangsa Indonesia ialah mewujudkan masyarakat adil dan makmur, material
dan spiritual berdasarkan pancasila di dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia
Jalan untuk mencapai tujuan itu benar-benar harus bersendikan moral yang
luhur untuk kepentingan nasional. Salah satu jalan yang ditempuh ialah dengan
mempergunakan asas kekeluargaan. Sudah barang tentu harus disertai dengan
kesediaan dari semua pihak untuk bekerja keras. Asas ini khas Indonesia, sesuai
dengan asas yang lebih kebersamaan dari pada perorangan. Suatu asas yang cocok
kalau dipadukan dengan prinsip musyawarah.
Dalam Undang-undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang
Sistim Pendidikan Nasional bagian keempat tentang Hak dan Kewajiban Pemerintah
dan Pemerintah Daerah pasal 11 disebutkan bahwa:
1. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan
serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga
negara tanpa diskriminasi
2. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna
terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga Negara yang berusia tujuh
sampai dengan lima belas tahun
Dari kedua pasal ini terlihat bahwa pemerintah ikut andil dan bertanggung
jawab terhadap pendidikan sesuai dengan pembukaan UUD 1945 mencerdaskan
kehidupan Bangsa Namun yang terjadi adalah bahwa dunia pendidikan kini berada
dalam genggaman sikap mental kapitalisitik. Ketimpangan pendidikan ini makin
memperburuk situasi. Mestinya si Miskin bersekolah dengan harapan akan mampu
merubah nasibnya, yang terjadi justru si Miskin tetap miskin karena tidak mampu
membayar biaya sekolah. Sebaliknya yang kaya terus menikmati fasilitas dan lulus

60

Kansil (Ed), Op Cit hlm 38

70

juga mampu membayar untuk bekerja di kantor atau perusahaan yang baik. Artinya
lingkaran kemiskinan terus membelit.61
Dengan kata lain pendidikan Formal justru melahirkan stratifikasi sosial dan
makin mempertajam kesenjangan. Mahalnya biaya sekolah justru diikuti pula oleh
kemerosotan dunia ekonomi. Pengangguran terselubung makin banyak jumlahnya
dan pertumbuhan penduduk tetap tinggi. Dari titik inilah muncul keresahan sosial,
dan berbagai konflik yang diakibatkan oleh kesenjangan sosial 62
Menurut Mangun fungsi esensial dunia pendidikan63 demi kehidupan real
kini dan mendatang ialah bagimana jalan-jalan persekolahan formal maupun
nonformal dan informal, ketiganya berpadu secara bagus agar peserta didikan
semakin cerdas memakai daya intelegensinya mereka.

Terlatih untuk jeli

menemukan sendiri sumber-sumber informasi yang penting, dan pandai


menyelekasi mana sumber serius mana sumber gadungan, mana yang relevan dan
tidak. 64
Mangunwijaya mengatakan pendidikan formal hanyalah eksplisit saja
meskipun penting, akan tetapi dalam situasi komunikasi modern masa kini, tidak
begitu penting mempersoalkan pendidikan formal atau pendidikan non formal, yang
terpenting sekarang adalah bagaimana mendialogkan65 pendidikan itu semua kepada

61

Saratri Wilonoyudho Pendidikan Berbasis KapitalismeJurnal Edukasi Vol II, Nomor 2,


Desember 2004, hlm 278
62
Ibid
63
Pendidikan ternyata perlu di lihat di dalam lingkupan pengertian yang luas. Ada tiga hal
yang perlu dikaji kembali yaitu: pertama pendidikan yang tidak dibatasi hanya sebagai schooling
belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan terasing dari kehidupan
yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu
rumusan mengenai pendidikan yang hanya membedakan antara nonformal dan informal perlu
disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru akan semakin memegang
peranan penting dalam pembentukan tingkah laku manusia.Kedua pendidikan bukan hanya untuk
mengembangkan intelegensi akademik peserta didik, selanjutnya pendidikan bukan hanya membuat
anak pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya. Dengan demikian proses
pendidikan dapat kita rumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi seorang yang berlangsung
di dalam lingkungan hidup keluarga dan masyarakat yang berbudaya, kini dan masa depan. Tilaar.
Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: PT Rinika Cipta, 2000), Cet I, hlm 21
64
Singgih Nugroho Op Cit hlm 55
65
Pola dialogisme yang di kembangkannya sebenarnya bukan hanya pola relasi antara
pemerintah dan masyarakat, tapi bagaimana upaya dialog yang dilakukan oleh guru terhadap murid.
Sehingga dengan demikian tidak ada lagi dominasi antara guru terhadap murid maupun pemerintah

71

masyarakat, baik pendidikan dalam bentuk formal maupun pendidikan dalam bentuk
non formal, agar masyarakat dapat sadar terhadap barbagai permasalahan yang
menimpa mereka sebagai masyarakat66
Dalam RUU-PN - ketika Mangun menulis ini belum ada UUSPN 2003- pun
sudah menegaskan bahwa selain jalur sekolah formal, masih ada dua jalur yang
sangat penting dan menentukan perkembangan nasion, yakni jalur nonformal (NF)
dan informal (IF). Banyak yang beranggapan bahwa jalur NF dan IF hanya untuk
kaum berekonomi lemah atau yang bodoh, dan memang kenyataanya RUU-PN pun
praktis hanya menggarap hal-hal yang berhubungan dengan persekolahan formal,
dan hanya menyinggung sebentar bahwa jalur NF dan IF itu ada. Sebenarnya
pembagian pendidikan formal, nonformal, dan informal oleh UNESCO bermaksud
baik, tetapi dalam praktiknya pembagian itu ditafsiri keliru, seolah-olah pendidikan
formal itu normative, standar dan sempurna, sehingga pendidikan kelas dua tidak
normal, dan hanya ditoleransi, mengingat mereka yang bodoh, yang miskin, yang
seharusnya mengikuti pendidikan formal tetapi tidak mampu.67
Di dalam hampir semua seminar atau tanggapan mengenai RUU-PN salah
kaprah itu melayang. Khususnya kalau orang berbicara tentang pendidikan dasar,
selalu saja orang masih saja terkurung pada gagasan sempit, seolah-olah pendidikan
dasar itu sama sebatas dengan sekolah formal SD dan SMP. Apalagi SD dan SMP
praktis hanya dilihat melulu sebagai jenjang untuk meneruskan pelajaran ke sekolah
(formal lagi). Suatu nasion yang begitu melekat dan mendewakan sekolah formal
dalam pancaroba Revolusi Industri ke II yang melejit cepat masa kini ini- padahal
masih harus mengejar banyak segi keterbelakangan dengan penduduk yang sebentar
lagi melebihi 200 juta orang, dengan segala kendala geografis dan cultural, dengan
semakin manganganya jurang antara kaya dan miskin, antara yang melimpah
informasi dan yang kekurangan-tidak akan mungkin akan lepas landas, apalagi
makmur adil merata. Sehebat-hebatnya sekolah formal, jumlah dan kualitasnya tidak
terhadap masyarakat, sehingga wewenang untuk mencerdaskan bangsa adalah tanggung jawab
berasama
66
Firdaus M. Yunus, Op Cit hlm 81
67
YB Mangunwijaya, Impian Dari Yogyakarta,Op Cit, hlm 163

72

mungkin menangani sendiri masalah abad ke-21 yang semakin menggunung dan
semakin berubah, serba kejutan-kejutan baru. Kita akan terbelenggu tak ketolongan
oleh keahlian-keahlian semu si Hasil Sekolah, yang

begitu serba menghapal,

sampai nanti kalau tamat ia hanya tahu mengulang-ulang kesalahan-kesalahan


sekian abad orang-orang Barat maupun Timur dengan bangga.
Kita tidak ingin meremehkan peran dan pentingnya dunia sekolah formal.
Hanya perlu diingat, bahwa mati hidupnya tanaman berkondisi pada tanahtumbuhnya, ikan pada airnya, pasukan gerilya tergantung pada rakyatnya. Kita ini
sudah begitu tergenangi iklim serba semu, sampai menyangka Eropa, Amerika Utara
dan Jepang maju karena terutama hebatnya sistim persekolahan formal mereka.
Padahal, jalur NF/IF itu jalur yang sungguh sama-sama terhormat dan sederajat,
walaupun tidak setingkat jalur formal, dan fungsinya, metodiknya, sasaranya. Sayur
gudeg dan telur tidak lebih tinggi martabatnya dari pada nasi putih biasa. Satu
piring, tetapi lain sama sekali posisi, fungsi, bahkan kodratnya. Pemahaman itu
memang dapat dipahami, Cuma semogalah itu jangan dilembagakan dan justru
diperkuat salah kaprahnya. Orang kan tidak mengatakan bahwa jalan aspal itu lebih
tinggi derajanya dibanding dengan jalan rel besi kerata api68.
Jalur-jalur formal dan nonformal/informal pada hakikatya terlanjur keliru
disebut jalur. Seharusnya dimensi, matra aspek sudut. Istilah jalur mengesankan halhal yang lepas berdampingan. Dimensi menunjuk kepada kemanunggalan perkaraperkara yang memang berlainan, tetapi masih dalam satu kesatuan yang lebih besar
dan menyeluruh.
1.3 Penyadaran sebagai Tujuan Pendidikan
Pemikiran pendidikan pemerdekaan yang di bangun YB Mangunwijaya
mempunyai misi dan visi yang jelas yaitu menyadarkan seluruh masyarakat. Sasaran
pendidikan Mangunwijaya tidak hanya terbatas pada satu golongan saja, tetapi
bersentuhan dengan seluruh lapisan masyarakat yang ada, baik pendidikan dalam

68

Ibid hlm 164-171

73

bentuk formal, maupun pendidikan dalam bentuk non formal sebagai upaya dalam
menggugah kesadaran kritis manusia
Penyadaran adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk membuka tabirtabir keterasingan dan penindasan yang menyelimuti manusia. Kesadaran sosial
dalam proses pemerdekaan manusia begitu penting, karena hanya kesadaran dan
mentalitas yang tercerahkan, jernih dalam melihat realitas dan wawasan
kemanusiaan yang baru, yang menentukan terjadinya transformasi sosial. Dengan
kesadaran kemanusiaan yang luhur manusia akan menjadi penentu atas terciptanya
struktur hidup yang harmonis
Proses penyadaran yang dilakukan oleh Mangunwijaya terhadap masyarakat
bersifat ganda, yaitu makro dan mikro69. Aspek makro meliputi aspek
structural masyarakat yang meliputi, struktur sosial, budaya, politik, ekonomi, dan
pendidikan. Sementara persoalan mikro berkaitan dengan kemiskinan masyarakat
itu sendiri yang diwarnai oleh corak kehidupan mereka sehari-hari, terutama
kecenderungan menjadi apatis dan mereproduksi struktur makro yang menindas
dalam skala mikro.

69

Salah satu ajaran dasar nabi adalah intelektualisasi total, yakni proses penyadaran kepada
umat dalam pelbagai dimensi,baik dalam dimensi pendidikan, sosial politik dan kebudayaan. (Alquran 16:25). Prof. Dr. Abdurrahman Masud Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan dalam Pendidikan
dalam Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: IAIN dan Pustaka Pelajar, 2001), Cet I Mei, hlm 7