Anda di halaman 1dari 7

KAJIAN AKUSTIK DAN ORGANOLOGI MUSIK DAUL DI

SANGGAR TARARA BANGKALAN


PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Musik Daul sudah tak asing lagi bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya
Madura. Daul pada awalnya adalah musik tok-tok Bangkalan kemudian dibawa ke
Jember menjadi musik Patrol yang kemudian terus berkembang dan akhirnya
kembali lagi ke Madura kemudian diolah lagi hingga terciptanya musik Daul.
ditambahnya alat musik baru seperti gong, kenong, gendang, rebana, kereta
dorong sebagai alat penggeraknya. Daul diminati oleh masyarakat selain karena
kekhasan dalam perpaduan instrumennya, juga karena dekorasi kereta dorongnya
yang indah dan artistik. Menurut Hardjana (1983:41) musik adalah hasil karya
manusia merupakan ekspresi diri manusia dalam sebuah proses kreatif. Niai-nilai
keindahan tidak dinyatakan sebagaimana adanya akan tetapi dinyatakan dalam
bentuk proses cipta baik secara emosional maupun secara rational. Pada sekitar
sepuluh tahun belakangan ini perkembangan musik Daul cukup pesat di Madura.
Kini, Daul menjadi bagian dari khasanah kekayaan seni dan budaya masyarakat
Madura. Daul berasal dari kebudayaan musik tradisi masyarakat Madura.
Keunikan musik Daul antara lain terletak pada alat-alat yang dimainkan
karena memanfaatkan benda-benda yang berada di sekitar kehidupan warga. Jidor
misalnya, dihasilkan dari bunyi Bak silinder plastik besar. Selain itu, komposisi
musik ini dipadu dengan kelenengan yang kerap dipakai saat pementasan saronen.
Keunikan lainnya, musik ini melibatkan beberapa orang yang masing-masing
mempunyai tugas sendiri, seperti tugas mengoprasikan alat-alat musik, menggerek
kereta dorong, dll. Hingga tidak jarang grup musik Daul memiliki personel 20-30
orang. Penyelenggaraan event-event music. Dari berbagai instrumen yang dipakai
tersebut menjadi terdengar khas dan unik ketika semua elemen tersebut dimainkan
secara bersamaan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang membuat musik Daul tidak menghasilkan dengung yang
berlebihan?
2. Bagaimana akustik dan organologi musik Daul?
3. Bagaimana ritmis yang biasa dimainkan musik Daul?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui faktor musik Daul tidak menghasilkan dengung yang
berlebihan
2. Mengetahui akustik dan organologi musik Daul
3. Mengetahui ritmis yang biasa dimainkan musik Daul.
1.4 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian pendekatan kualitatif yang berusaha mengungkapkan tentang musik
Daul Kabupaten Bangkalan. Mulai dibina sampai sekarang ini, sesuai dengan
rumusan masalah yang telah ditetapkan. Adapun dalam penelitian kualitatif ini
peneliti menggunakan metode-metode untuk mendapatkan data-data yang
benar-benar valid dan relevan dengan tujuan peneliti.
3.5 Lokasi Penelitian
Lokasi yang dijadikan tempat penelitian yaitu di Jl. Pemuda Kaffa
no. 18 Kecamatan Bangkalan Kabupaten Bangkalan tepatnya di sanggar
Tarara.

3.6 Pengumpulan Data


Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, maka peneliti
menggunakan metode-metode penelitian yang peneliti anggap sesuai dengan
tujuan yang telah direncanakan. Adapun metode penelitian yang peneliti
gunakan dalam mengumpulkan data-data sebgai berikut :

3.6.1

Wawancara atau Interview

Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data dengan jalan


mengadakan komunikasi langsung dengan subjek penelitian. Wawancara dalam
penelitian ini menggunakan wawancara terstruktur sehingga wawancara lebih
berurut. Dengan begitu diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan dapat
informasi tanpa menimbulkan kejenuhan antara penelitian dan informan.
Narasumber yang diwawancarai adalah beberapa anggota dari sanggar
Tarara. Pemilihan informasi ini didasarkan pada pertimbangan agar diperoleh
data secara mudah, tepat dan cermat sesuai dengan masalah dan tujuan
penelitian. Narasumber dalam penelitian ini yaitu Bapak Sudarsono berumur
49 tahun selaku Seniman dan Ketua sanggar Tarara, Dhimas Noor Syah Putra
19 tahun dan Supri 23 tahun.

PEMBAHASAN

2.1 Instrumen yang digunakan


Eksotika musik Daul antara lain terletak pada alat-alat yang dimainkan
karena memanfaatkan benda-benda yang berada di sekitar kehidupan warga.
Berikut asset untuk instrument Daul yang digunakan oleh sanggar Tarara :
-

Bak 2 buah (bisa lebih)

Tok-tok 7 buah

Kendang

Klenengan (Balungan) = Saron, Demung, Peking

Gong

Rebana

Kenong tello

2.2 Organologi Instrumen musik daul


Beberapa instrumen yang digunakan musik daul di kota Bangkalan
sangatlah unik, dan hasil dari kolaborasi instrumen tersebut bisa menjadi
komposisi yang indah. Tentu dari instrumen tersebut terdapat beberapa keunikan
tersendiri mulai dari cara pembuatannya, seniman pembuatnya, sampai organologi
dari setiap instrumen tersebut. Bak itu sudah jelas bak untuk menyimpan
tangkapan hasil laut biasanya, bahannya plastik dan kami sudah terima jadi dari
pabrikannya sudah berbentuk seperti itu. Tok-tok terbuat dari kayu nangka yang
konon kata orang jaman dahulu tok-tok tersebut cara mendapatkan bahannya
dengan memilih pohon nangka yang baru disambar petir kemudian di potong
menjadi 7 buah. Ini disebabkan oleh batang nangka yang sudah tua betul dan
tinggi, sehingga petir ketika menyambar akan menyambar ke pohon yang paling
tinggi. Selain itu, hasil sambaran petir itu akan membuat karakter suara dari toktok itu lebih cerah dan khas. Pembuat atau pengrajin tok-tok tersebut sudah
meninggal, dan keahlian membuat tok-tok tersebut tidak diturunkan ke generasi
penerusnya. Dan di Bangkalan khususnya sudah tidak ada lagi pembuat tok-tok.
Pengrajin tok-tok yang masih ada dan bisa kita temui yaitu di kota Sampang dan
Sumenep, itupun bukan tok-tok yang original. Bedanya tok-tok Madura dengan
tok-tok Jawa yaitu terletak pada fer atau suspend yang biasa ada di tok-tok Jawa
yang berfungsi membuat getarannya lebih tahan lama dan dengunganya semakin
keras, sedangkan tok-tok Madura asli mendengung keras tanpa adanya fer dan
suara lebih pulen dari tok-tok Jawa. Untuk proses pembuatan tok-tok tersebut
tidak banyak yang tahu bagaimana pembuatannya, sebab di bagian sisinya sisinya
tidak ada bekas tambal atau bekas pasangan. kalau tok-tok yang sekarang itu cara
membuat rongga yang di dalam itu harus membobol salah satu bagian sisinya.
Apabila pada jaman dulu tanpa membobol di bagian sisinya, bahkan seniman
pemainnyapun juga bingung bagaimana melubanginya. Seniman pembuatnyapun
sudah meninggal tanpa adanya generasi penerus untuk pembuat tok-tok itu
sendiri. (wawancara dengan bapak Soedarsono pada tanggal 17 oktober 2015) .
Klenengan, kenong dan gong terbuat dari kuningan. Rebana terbuat dari
kulit kambing. Dan saronen terbuat dari pohon sabu, dan ada juga yang terbuat
dari pohon nangka. waktu pembuatan tok-tok bisa sampai 3 bulan. Gong,

klenengan, dan kenong bisa sampai 3 bulan jika cepat, paling lambatnya 5 bulan.
Karena asal muasal daul itu awalnya dari musik tok-tok Bangkalan yang
kemudian di Jember menciptakan kesenian patrol dan di bawa kembali ke Madura
menjadi daul. Sekarang fungsi musik daul itu sendiri adalah sebagai hiburan,
terutama untuk acara-acara hitanan, pernikahan, untuk membangunkan orang
sahur ketika bulan ramadhan. Musik Daul ini tumbuh sejak sekitar 11 tahun yang
lalu yaitu pada tahun 2004. Awalnya hanya dimanfaatkan untuk metode
memanggil merpati.
2.3 Jenis akustik dari masing-masing instrumen daul
Keunikan Daul di kabupaten Bangkalan dibanding dengan kabupaten
lainnya yaitu terdapat pada tok-toknya (lebih dikenal tong-tong oleh kabupaten
lainnya). Konon kata orang jaman dahulu cara pembuatan tok-tok itu adalah
dengan memilih pohon nangka yang baru disambar petir, kemudian seluruh
bagian batang pohon diproses menjadi 7 bagian. Dipercaya suara yang dihasilkan
bisa maksimal. 7 tok-tok yang dipakai itu mencakup:
-

Pangorbhih

: Sebagai kendang dan Bas

Paneros

: Sebagai rhythm

Pancer

: Sebagai Tempo

Ngetol

: Sebagai Penyela

Takatek

: Sebagai Meneruskan penyela

Katek

: Sebagai penerus ngetol

Penerus Takatek: Sebagai penerus Takatek

Selain itu, Setiap instrument tok-tok memiliki pola masing-masing, berikut contoh
pola dasar permainan Daul:

(Wawancara dengan Dhimas dan Supri pada tanggal 14 oktober 2015)

PENUTUP
3.1 Simpulan
Cara pembuatan tok-tok itu adalah dengan memilih pohon nangka yang
baru disambar petir, kemudian seluruh bagian batang pohon diproses menjadi 7
bagian. Faktanya di kabupaten Bangkalan musik daul yang diciptakan lebih
menonjolkan instrumen tok-tok sebagai identitas lokal genius.
Tok-tok terbuat dari kayu nangka yang konon kata orang jaman dahulu
tok-tok tersebut cara mendapatkan bahannya dengan memilih pohon nangka yang
baru disambar petir kemudian di potong menjadi 7 buah. Ini disebabkan oleh
batang nangka yang sudah tua betul dan tinggi, sehingga petir ketika menyambar
akan menyambar ke pohon yang paling tinggi. Selain itu, hasil sambaran petir itu
akan membuat karakter suara dari tok-tok itu lebih cerah dan khas. Pembuat atau
pengrajin tok-tok tersebut sudah meninggal, dan keahlian membuat tok-tok
tersebut tidak diturunkan ke generasi penerusnya. Dan di Bangkalan khususnya
sudah tidak ada lagi pembuat tok-tok. Pengrajin tok-tok yang masih ada dan bisa
kita temui yaitu di kota Sampang dan Sumenep,
Bedanya tok-tok Madura dengan tok-tok Jawa yaitu terletak pada fer atau
suspend yang biasa ada di tok-tok Jawa yang berfungsi membuat getarannya lebih

tahan lama dan dengunganya semakin keras, sedangkan tok-tok Madura asli
mendengung keras tanpa adanya fer dan suara lebih pulen dari tok-tok Jawa.

DAFTAR PUSTAKA
Hardjana, Suka. 1983. Estetika Musik. Jakarta: Depdikbud
Soedarsono, 1999. Seni pertunjukan dan Pariwisata. Yogyakarta: Badan Penerbit
ISI Yogyakarta