Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN
1.1. Dasar Teori
Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu
sebuah ester yang tersusun dari asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam
lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan karakteristik fisik dan
kimiawi minyak atau lemak. Disebut minyak apabila trigliserida tersebut
berbentuk cair dan disebut lemak apabila berbentuk padat (Anonim, 2010). Satu
gram minyak atau lemak dapat menghasilkan 9 kkal. Minyak atau lemak,
khususnya minyak nabati, mengandung asam-asam lemak esensial seperti linoleat,
lenolenat, dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah
akibat penumpukan kolesterol. Minyak dan lemak juga berfungsi sebagai sumber
dan pelarut bagi vitamin-vitamin A, D, E , dan K (Ariant, 2013).
Macam-macam lemak jenuh adalah mentega, minyak kelapa sawit, minyak
kelapa, minyak biji kapas, dan minyak sawit. Lemak jenuh ditemukan dalam
produk susu, terutama krim dan keju, dan daging. Macam-macam lemak tidak
jenuh adalah minyak zaitun, minyak bunga matahari, minyak wijen, minyak
kedelai, kacang-kacangan dan alpukat. Lemak tidak jenuh dapat dibagi menjadi
dua jenis yaitu lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda. Lemak
tidak jenuh tunggal hanya memiliki sepasang molekul yang tak jenuh oleh
hidrogen dan lemak tidak jenuh ganda memiliki dua atau lebih karbon yang tidak
jenuh oleh atom hidrogen. Perbedaan lemak jenuh dan lemak tidak jenuh adalah
lemak yang bersifat non essensial, dapat disintesis oleh tubuh, padat pada suhu
kamar, diperoleh dari sumber zat hewani contoh mentega, tidak ada ikatan
rangkap dan lemak yang tidak baik bagi tubuh kita sedangkan lemak tidak jenuh
adalah lemak bersifat essensial, tidak dapat diproduksi tubuh, cair pada suhu
kamar, diperoleh dari sumber zat nabati contoh minyak goreng, ada ikatan
rangkap dan lemak yang baik bagi tubuh kita (Zahira, 2012).
Saponofikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa kuat
(misalnya NaOH). Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu sabun
dan gliserin. Angka penyabunan menunjukan berat molekul lemak dan minyak

secara kasar. Angka penyabunan dinyatakan sebagai banyaknya (gram) NaOH


atau

KOH

yang

dibutuhkan

untuk

menyabunkan

satu

gram

lemak atau minyak. Alkohol yang ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan
asam lemak hasil hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga
membentuk sabun. Penentuan bilangan penyabunan dilakukan untuk
mengetahi sifat minyak dan lemak. Pengujian sifat ini dapat digunakan untuk
membedakan lemak yang satu dengan yang lainnya. Angka penyabunan dapat
juga digunakan untuk menentukan berat molekul dari suatu lemak atau minyak
(Anonim, 2010).

1.2. Tujuan
Tujuan praktikum Biokimia dengan materi Pengujian Angka Saponifikasi
adalah untuk menentukan berat molekul minyak dan lemak secara kasar.

II. BAHAN DAN METODE


2.1.

Waktu dan Tempat


Praktikum Biokimia dengan materi Pengujian Angka Saponifikasi

dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 November 2015 pukul 11.00-12.40 WIB di


Laboratorium Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya.

2.2.

Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan dalam praktikum Biokimia dengan materi Pengujian

Angka Saponifikasi adalah minyak sebanyak 5 gram, KOH (Kalium Hidroksida)


0,5 N sebanyak 50 ml, Asam Klorida (HCl), dan indikator PP (Phenolphtalein).
Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur, pemanas, gelas
arloji, timbangan analitik, dan erlenmeyer.

2.3.
a.
b.
c.
d.

Cara Kerja
Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
Menimbang minyak sebanyak 5 gram dalam erlenmeyer.
Kemudian menambahkan KOH 0,5 N sebanyak 50 ml.
Memanaskan campuran minyak dan KOH sampai mendidih atau sampai
minyak tersabunkan secara sempurna dengan ditandai tidak terlihatnya

butir-butir lemak atau minyak dalam larutan di atas pemanas.


e. Setelah dingin kemudian menambahkan indikator PP sebanyak 5 tetes.
f. Kemudian menitrasinya dengan HCl 0,5 N dan menggunakan indikator PP
dengan menggunakan pipet tetes.
g. Mengamati percobaan yang terjadi.
h. Menggambar tabel dan menulis hasil pengamatan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pengujian Angka Saponifikasi
Bahan Awal

Bahan yang

Perlakuan

Bahan yang

Minyak 5

Ditambahkan
KOH 0,5 N 50 ml

Dipanaskan sampai

Ditambahkan
Indikator PP 5

gram

(Berwarna

mendidih sampai

tetes

(Berwarna

bening)

minyak tersabunkan

(Berwarna merah

secara sempurna

muda)

kuning)

(Berwarna putih
KOH 0,5 N 50 ml

keruh)
Dipanaskan sampai

Indikator PP 5

(Berwarna bening)

mendidih sampai

tetes

minyak tersabunkan

(Berwarna ungu)

secara sempurna
(Berwarna bening)
Tabel 2. Hasil Pengamatan Titrasi Pengujian Angka Saponifikasi
Bahan

Bahan yang

Bahan Penitrasi

Larutan Blanko

Ditambahkan
Indikator PP 5 tetes

HCl 0,5 N sebanyak 36 ml

KOH 0,5 N 50 m
Larutan minyak 5

(Berwarna bening)
Indikator PP 3 tetes

gram dan KOH

HCl 0,5 N sebanyak 34 ml


(Berwarna putih keruh)

yang dipanaskan
Perhitungan :
Angka Penyabunan =

( tbts ) x N HCl x BM KOH


Berat Contoh(gram)

( 3634 ) x 0,5 x 56
5 gram

= 11,2 gram

3.2. Pembahasan

Gambar 1. Pengamatan Pengujian


Angka Saponifikasi
(Minyak + KOH + Indikator PP)

Gambar 2. Pengamatan Pengujian


Angka Saponifikasi
(KOH + Indikator PP)

Gambar 3. Pengamatan Titrasi


Pengujian Angka Saponifikasi
(Larutan Blanko + KOH +
Indikator PP + HCl)

Gambar 4. Pengamatan Titrasi


Pengujian Angka Saponifikasi
(Larutan Minyak + KOH +
Indikator PP + HCl)

Angka saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak
dicampur dengan alkali yang menghasilkan sabun dan gliserol. Penentuan
bilangan penyabunan dilakukan untuk

mengetahui sifat minyak dan

lemak. Pengujian sifat ini dapat digunakan untuk membedakan lemak yang satu
dengan yang lainnya. Angka penyabunan dapat juga digunakan untuk menentukan
berat molekul dari suatu lemak atau minyak.

Berdasarkan Tabel 1. Hasil Pengamatan Pengujian Angka Saponifikasi pada


percobaan pertama bahan awal yang digunakan adalah minyak berwarna kuning
sebanyak 5 gram, bahan yang ditambahkan adalah KOH 0,5 N yang berwarna
bening sebanyak 50 ml. Kemudian campuran minyak dan KOH dipanaskan
sampai mendidih atau sampai minyak tersabunkan dengan sempurna dan hasil
dari pemanasan tersebut yaitu larutan berwarna putih keruh. Selanjutnya
menambahkan bahan lagi yaitu Indikator PP sebanyak 5 tetes dan menghasilkan
warna merah muda. Pada percobaan kedua bahan awal yang digunakan dan bahan
yang ditambahkan adalah KOH 0,5 N yang berwarna bening sebanyak 50 ml.
Kemudian KOH tersebut dipanaskan sampai mendidih atau sampai minyak
tersabunkan dengan sempurna dan hasil dari pemanasan tersebut yaitu larutan
berwarna bening. Selanjutnya menambahkan bahan lagi yaitu Indikator PP
sebanyak 5 tetes dan menghasilkan warna ungu.
Berdasarkan Tabel 2. Hasil Pengamatan Titrasi Pengujian Angka Saponifikasi
pada percobaan pertama bahan awal yang digunakan adalah larutan Blanko dan
KOH 0,5 N sebanyak 50 ml, bahan yang ditambahkan adalah Indikator PP
sebanyak 5 tetes. Selanjutnya dititrasi dengan HCl 0,5 N sebanyak 36 tetes dan
menggunakan indikator PP. Untuk mengetahui kelebihan larutan KOH, maka
dilakukan titrasi Blanko, yaitu titrasi tanpa adanya sample dengan prosedur yang
sama dan hasil yang diperoleh adalah larutan tersebut kembali pada warna semula
yaitu berwarna bening. Pada percobaan kedua bahan awal yang digunakan adalah
larutan minyak sebanyak 5 gram dan KOH yang sudah dipanaskan, bahan yang
ditambahkan adalah Indikator PP sebanyak 3 tetes. Kemudian mentitrasi
campuran larutan blanko dan indikator PP dengan HCl 0,5 N sebanyak 34 ml dan
hasil yang diperoleh adalah larutan tersebut kembali pada warna semula yaitu
berwarna putih keruh.
Angka penyabunan didapatkan dari hasil perhitungan tb (volume Blanko)
sebanyak 36 ml dikurangkan dengan ts (volume titrasi) sebanyak 34 ml dan
hasilnya 2. Kemudian hasil dari pengurangan dikalikan dengan N HCl sebanyak
0,5 N dan hasilnya 1 dan dikalikan lagi dengan BM KOH (berat molekul KOH)
sebanyak 56. Kemudian hasil perkalian yaitu 56 dibagi dengan berat contoh

sebanyak 5 gram. Dan hasil dari perhitungan angka penyabunan adalah sebanyak
11,5 gram.
Alasan mengapa terjadi perubahan warna adalah karena sudah tercapai titik
akhir titrasi, karena KOH (larutan basa) akan lebih memilih berikatan dengan HCl
(larutan asam) daripada dengan indikator PP. Pada proses ini yang menjadi
sebagai titer (larutan yang dititrasi) adalah larutan yang bersifat asam yaitu HCl
dan yang menjadi titran (larutan yang menitrasi) adalah larutan yang bersifat basa
yaitu KOH. Sehingga merah muda menjadi bening saat titik akhir tercapai.

IV. KESIMPULAN
Untuk menentukan berat molekul minyak dan lemak secara kasar adalah
dengan memanaskan campuran antara lemak atau minyak dengan alkali. Ada dua
produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu sabun dan gliserin. Angka
penyabunan menunjukan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Angka
penyabunan dinyatakan sebagai banyaknya (gram) NaOH atau KOH yang
dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak.
Alkohol yang ada pada KOH berfungsi untuk melarutkan asam lemak hasil
hidrolisa agar mempermudah reaksi dengan basa sehingga membentuk sabun.
Penentuan bilangan penyabunan dilakukan untuk mengetahi sifat
minyak dan lemak. Pengujian sifat ini dapat digunakan untuk membedakan
lemak yang satu dengan yang lainnya. Angka penyabunan dapat juga digunakan
untuk menentukan berat molekul dari suatu lemak atau minyak.