Anda di halaman 1dari 13

1

A. JUDUL PROGRAM
KEPUASAN MASYARAKAT DALAM MENGGUNAKAN KOMPOR
GAS (STUDI KASUS KONVERSI MINYAK TANAH KE LPG DI
WILAYAH SEMARANG)

B. LATAR BELAKANG MASALAH


Sebuah niat baik pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi minyak
tanah ke LPG ternyata mendapatkan resistensi dimana-mana. Berbagai
kalangan menunjukkan sikap penolakan terhadap konversi tersebut. Padahal,
pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut dengan upaya untuk mencari
alternatif energi disaat cadangan minyak bumi sudah menipis.
Gagasan peralihan minyak tanah ke gas, juga disebabkan karena jumlah
cadangan gas bumi Indonesia setara empat kali lebih besar dari cadangan
minyak yang jumlahnya sekitar 31 miliar barrel. Dalam lima tahun terakhir,
produksi gas bumi mengalami kenaikan 13%. Dengan cadangan sebesar itu,
maka cadangan gas yang ada cukup untuk dipergunakan selama 60 tahun
kedepan. Disisi lain, produksi minyak bumi terus menurun dari 9,8 miliar
barrel tahun 2000 menjadi 8,3 miliar barrel pada 2005. Produksinya
mengalami penurunan sekitar 11% dalam lima tahun terakhir, artinya dengan
tingkat konsumsi saat ini cadangan tersebut hanya mampu bertahan 15 tahun
kedepan. [10]
Konversi ini bertujuan untuk mengurangi subsidi minyak tanah yang
selama ini dinilai cukup besar. Dengan program konversi ke gas bumi
diperkirakan anggaran subsidi untuk penggunaan minyak tanah bisa dipangkas
sampai Rp 30 Triliun atau sekitar 50% kebutuhan subsidi minyak tanah yang
besarnya Rp 60 trilliun.[1]
Selain itu, banyak ditemukan cadangan gas alam baru di Indonesia
maupun di dunia. Terdapat tiga penemuan eksplorasi yang dapat dicatat
sepanjang tahun lalu, antara lain penemuan cadangan gas di Jambi melalui
sumur eksplorasi Karangmaksur (KRM)-1 dengan hasil uji produksi total dari
2 selang sebesar 5 MMSCFPD gas dan 223 BCPD kondensat. Dari hasil

evaluasi post drilling maka cadangan gas KRM-1 sementara dapat dihitung
sebagai cadangan Terbukti (P1) sebesar 12,6 BCFG dan 0,6 MMBC,
Cadangan Mungkin (P2) sebesar 84,7 BCFG dan 2,7 MMBC, serta cadangan
Harapan (P3) sebesar 571,5 BCFG dan 3,7 MMBC. Hal ini juga yang
mendorong konversi minyak tanah ke LPG dilasknakan. [2]
Berdasarkan fakta

yang ada program

konversi

yang sedang

dilaksanakan pemerintah, ternyata menuai banyak resistensi diberbagai


wilayah tempat konversi tersebut. Persoalan muncul akibat konversi minyak
tanah dengan gas, baik di Jakarta maupun di Semarang. Dari yang menjual
tabung gas pemberian karena takut atau tidak tahu cara menggunakan kompor
gas, hingga pemberian yang lebih dari satu dan pemberian tabung gas kepeda
mereka yang telah mempunyai dan biasa menggunakan kompor gas.[3]
Dari lima kecamatan yang dipilih diwilayah Semarang sebagai daerah
percontohan konversi minyak tanah ke gas elpiji, yakni kecamatan semarang
Barat, Tugu, Ngaliyan, Gajah Mungkur dan kecamatan Semarang Utara.
Sedangkan Semarang Utara merupakan cadangan untuk menghabiskan target
pembagian kompor gas 50.000 buah. Jumlah tabung dan kompor yang
dibagikan mencapai 50.000 buah. Dari rencana 50.000 keluarga yang akan
memperoleh bantuan kompor dan tabung gas tersebut, Kecamatan semarang
Barat mendapat porsi terbesar, yakni 21.000 keluarga. Wilayah ini memiliki
16 kelurahan dengan 33.000 keluarga yang terdata. Sisanya kecamatan
Ngaliyan (16.500), Kecamatan Gajahmungkur (8.500) dan kecamatan Tugu
(40000.[4]
Beberapa parameter yang akan dijadikan patokan pemberian kompor
Cuma-Cuma ini adalah memiliki kartu keluarga setempat, biaya hidup antara
Rp 500.000 s/d Rp 1.500.000 per keluarga tiap bulan, dan belum
menggunakan kompor gas.[4]
Program konversi minyak tanah ke LPG di Semarang, Jawa Tengah
sepi peminat. Sejumlah warga Semarang enggan menerima tabung gas LPG
dan kompornya dengan berbagai alasan. Di kelurahan Bendungan, ada 20
warga yang menolak program konversi. Sebagian warga memilih menerima

meski tak tahu mau dibuat apa. Warga enggan mengambil jatah kompor dan
gas konversi karena beberapa alasan. Ada yang takut, ada yang tidak bisa
mengoperasikan dan ada yang memang enggan menggunakan.[5]
Program ini terkesan kurang perencanaan. Sebagaimana yang kami
amati pelaksanaannya di Jakarta dan Jawa tengah, program konversi minyak
tanah ini dilakukan secara semrawut. Hal ini dirasakan LSM yang pernah
terlibat dalam survei untuk penyiapan konversi di Jawa Tengah dan DIY
melihat banyak kejanggalan.
Lemahnya koordinasi sehingga tidak hanya sosialisasi yang kurang,
tetapi program secara keseluruhan tidak dipersiapkan dengan baik dan
terpadu, sedangkan banyak LSM yang dapat diberdayakan untuk survei dan
sosialisasi. Melibatkan LSM-LSM yang telah terlibat kepedulian dalam
konversi minyak tanah ke LPG tentu program lebih efektif dan efisien.
Karena tidak ada keterpaduan program, maka telah terjadi pemborosan
uang negara. Bukankah survei pendahuluan, yang dilakukan oleh Dirjen
Migas, BBM Watch, PT Koneba, dan juga bekerja sama dengan LSM-LSM di
daerah. LSM yang telah berkecimpung semenjak awal banyak memperoleh
pengalaman tidak hanya mengenai survei, tetapi sekaligus sosialisasi dan
membangun opini berkait dengan kepedulian terhadap konversi minyak tanah.
Manfaatkan secara optimal mereka yang pernah terlibat agar tidak disebut
pemborosan.
Disebut pemborosan karena sikap masyarakat penerima bantuan masih
multidimensi. Ada yang takut menggunakan, ada pula yang sudah dipakai
tetapi sulit mendapatkan pasokan gasnya. Dan ada yang disimpan untuk
kemudian benar-benar dipakai jika minyka tanah kelak tiada lagi. Pemborosan
ini terhindari jika hasil survei ditindaklanjuti dengan sosialisasi sehingga
informasi accepted dan masyarakat memakai kompor gas dengan kesadaran
bertindak. Karena tidak ada perubahan perilaku (the doing think), tanpa terjadi
perubahan mental attitude terlebih dahulu.
Dalam era reformasi dan demokratisasi, maka setiap kebijakan publik
jangan hanya dilihat dari iktikad baik, tetapi dari cost dan benefit, baik secara

ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Pergantian bahan bakar rumah


tangga tidak hanya dilihat kalkulasi angka, tetapi disamping dari kemampuan
ekonomi rakyat juga kesiapan stakeholder BBM secara intregal.
Ketidaksiapan, khususnya masalah sosialisasi program konversi
minyak tanah ini, tercermin dari ungkapan salah seorang kepala kelurahan di
kecamatan Semarang barat, Kota Semarang. Apa katanya, Saya saja belum
dong apa itu program konversi minyak tanah. Tahu-yahu ada perintah suruh
mengumpulkan orang untuk dapat pembagian kompor dan tabung gas CumaCuma. Maka, kajian informasi dari hasil survei dan sosialisasi adalah faktor
penentu keberhasilan program.[6]
Validasi masyarakat yang memperoleh kompor gas juga masih
dipertanyakan.

Pasalnya,

berdasarkan

fakta

di

lapangan,

Kompas

memberitakan di kelurahan Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur,


Semarang, terdapat sebagian warga yang sudah memiliki kompor gas LPG,
tetapi tetap mendapat paket konversi. Warga mengaku tidak ditanya apakah
sudah memiliki kompor gas LPG atau belum.[7]
Dengan berbagai fakta yang ada penulis tertarik untuk meneliti
kepuasan masyarakat dalam menggunakan kompor gas di semarang. Dengan
berbagai kontroversi dan masalah yang timbul akibat konversi tersebut.
Berdasarkan uaraian diatas, maka penelitian ini mencoba memotert
secara obyektif dan empiris kondisi masyarakat yang sebenarnya sehingga
mampu memberikan gambaran konkrit dampak sosial ekonomi yang terjadi
dimasyarakat akibat konversi minyak tanah ke LPG diwilayah Semarang Jawa
Tengah.

C. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut: Bagaimana kepuasan masyarakat terhadap konversi minyak
tanah ke LPG di wilayah Semarang?

D. TUJUAN PROGRAM
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mendiskripsikan kepuasan
masyarakat terhadap konversi minyak tanah ke LPG di wilayah Semarang.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN


Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu terdiskripsinya
kepuasan masyarakat akibat konversi minyak tanah ke LPG dan solusi
terhadap masalah-masalah yang timbul akibat konversi minyak tanah.

F. KEGUNAAN PROGRAM
Hasil penelitian ini dapat berguna bagi:
1. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai sarana belajar lebih
jauh, khususnya mengenai kepuasan masyarakat dalam menggunakan
kompor dan tabung gas.
2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam memberikan pengertian
bahwa

program

pemerintah

bermanfaat

untuk

didukung

untuk

kesejahteraan bersama.
3. Bagi peneliti lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi dalam
melakukan penelitian lebih lanjut.
4. Bagi pertamina
Hasil penelitian ini bagi pertamina sebagai pelaksana kebijakan konversi
minyak tanah ke LPG diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
sebagai masukan dalam pelaksanaan konversi minyak tanah ke LPG
diwilayah Semarang.
5. Bagi pemerintah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman kebijakan lebih
lanjut mengenai konversi minyak tanah ke LPG diwilayah Semarang.

G. TINJAUAN PUSTAKA
1. Gambaran umum konversi minyak tanah ke LPG
Berdasarkan Media pertamina, program konversi minyak tanah ke
LPG tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi subsidi
BBM yang cenderung terus meningkat jumlahnya. Pada tahap awal akan
dibagikan kepada 380.000 KK diwilayah DKI Jakarta dan sekitarnya
selama bulan Mei 2007, dengan rincian sebagai berikut:
1) Kecamatan Makasar, Jakarta Timur 80.000 KK
2) Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat 80.000 KK
3) Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara 80.000 KK
4) Kecamatan Sukmajaya, Depok 75.000 KK
5) Kecamatan Karawaci, Tangerang 65.000 KK
Launching program konversi minyak tanah ke LPG tersebut
menandai diresmikannya program pemerintah untuk mengalihkan minyak
tanah untuk rumah tangga dengan LPG. Dengan pengalihan tersebut
diharapkan terjadi penurunan anggaran subsidi BBM, mengingat subsidi
ikg LPG (ekivalen energi = 1,7 liter minyak tanah) lebih rendah dibanding
dengan subsidi minyak tanah. Diharapkan dalam 3-4 tahun kedepan
setidaknya 80% konsumsi minyak tanah dapat dialihkan ke LPG.
Sedangkan konsumsi minyak tanah saat ini 10 juta KL/tahun.
Sedangkan hingga akhir 2007, direncanakan akan dibagikan paket
konversi LPG 3 kg tersebut ke seluruh DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten,
Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur adan Bali, dengan rincian sebagai berikut:
1) Wilayah Konversi DKI Jakarta, Jabar dan Banten
Jumlah KK 4.743.000
Volume LPG (MT) 126.336
Volume Minyak tanah (KL) 222.351
2) Wilayah Konversi Jawa Tengah dan DIY
Jumlah KK 283.000
Volume LPG (MT) 8.836
Volume Minyak tanah (KL) 15.551

3) Wilayah Konversi Jawa Timur dan Bali


Jumlah KK 974.000
Volume LPG (MT) 46.102
Volume Minyak tanah (KL) 81.140
4) Total
Jumlah KK 6.000.000
Volume LPG (MT) 181.274
Volume Minyak tanah (KL) 319.042
Sesuai dengan rencana pelaksanaan program pengalihan minyak
tanah ke LPG 3 kg, maka pemerintah dapat menghemat subsidi yang harus
ditanggung kurang lebih Rp 415 miliar selama tahun 2007.

2. Kepuasan Masyarakat terhadap konversi minyak tanah ke LPG


Kepuasan masyarakat sebagai konsumen terhadap pelaksanaan konversi
minyak tanah ke LPG dapat diketahui melalui 4P yaitu:
a. Product (produk)
Produk yang dipasarkan, apakah sesuai dengan kebutuhan dan
diinginkan oleh konsumen (masyarakat)
b. Price (harga)
Harga dapat didefinisikan sebagai sejumlah uang yang diutuhkan
untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta
pelayanannya. Apakah harga isi ulang tabung gas yang ditawarkan
akan mampu untuk dijangkau masyarakat kelas bawah sebagai obyek
percontohan konversi minyak tanah ke LPG.
c. Place (tempat)
Suatu jalur yang dilalui oleh arus barang dari produsen ke perantara
dan akhirnya sampai ke pemakai. Apakah distribusi isi ulang tabung
gas 3 kg tersebut mudah didapatkan.

d. Promotion (promosi)
Sebuah

komunikasi

yang

dilakukan

oleh

perusahaan

untuk

mempengaruhi konsumen agar membeli produk yang ditawarkan.


Dalam hal ini yaitu apakah konversi ini sudah disosialisasikan kepada
masyarakat. (Kotler, 2000:18)

H. METODE PENELITIAN
1. Metode Penentuan Obyek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di wilayah
semarang sebagai obyek percontohan konversi minyak tanah ke LPG yang
bertempat tinggal di Kecamatan Semarang Barat, Tugu, Ngaliyan, Gajah
Mungkur dan Kecamatan Semarang Utara.
Sampel dalam penelitin ini adalah 100 warga di wilayah Semarang
yang meliputi Kecamatan Semarang Barat, Tugu, Ngaliyan, Gajah
Mungkur dan Kecamatan Semarang Utara yang mendapat bantuan kompor
dan tabung gas 3 kg. Pengambilan sample dilakukan secara proporsional
sampling dengan asumsi bahwa populasi bersifat homogen.
Tabel 1. Pemilihan responden
Jumlah Penduduk
Kecamatan

yang mendapat

Prosentase % Responden

kompor gas
Semarang Barat

21.000

42%

42

Tugu

4.000

8%

Ngaliyan

16.500

33%

33

Gajah Mungkur

8.500

17%

17

Jumlah

50.000

100%

100

2. Variabel
Variabel dalam penelitian ini adalah

a. Variabel bebas yaitu variable yang mempengaruhi atau variable


penyebab. Dalam penelitian ini variable bebasnya adalah konversi
minyak tanah ke LPG
b. Variabel terikat yaitu variabel yang tergantung pada variabel bebas
yaitu kepuasan masyarakat yang mendapatkan kompor dan tabung gas
3 kg yang diukur dari 4P, yaitu Product, Price, place dan promotion

3. Data dan Sumber Data


Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data
primer dan data sekunder.
a. Data primer
Data primer akan dikumpulkan dengan melalui kuesioner dengan
responden yang terpilih didaerah percontohan konversi minyak tanah
ke LPG dengan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan dan
wawancara secara langsung dengan PERTAMINA dan Kelurahan
yang manjadi percontohan konversi minyak tanah ke LPG.
b. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari instansi atau dinas yang terkait erat
dengan masalah penelitian ini yaitu PERTAMINA dan informasi yang
diterima dari berbagai sumber.

4. Alat pengumpulan data


Alat pengumpulan data yaitu dengan menggunakan kuesioner
terbuka, yaitu memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab
dengan kalimatnya sendiri.

5. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan
studi deskriptif survey yaitu dengan mengumpulkan data sebanyakbanyaknya

mengenai

factor-faktor

masyarakat terhadap kompor gas.

yang

mempengaruhi

kepuasan

10

6. Analisis data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan
metode diskriptif statistik. Analisis data meliputi tiga langkah yaitu:
a. persiapan
b. tabulasi
c. penerapan data

I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM


Adapun rincian jadwal kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:
No

Kegiatan

1.

2.

Bulan
Maret

April

Mei

Persiapan Penelitian
1) Perijinan

XX

2) Persiapan bahan

XX

3) Pemilihan tempat penelitian

XX

Pelaksanaan penelitian
1) Observasi

XX

2) Wawancara

XX

3) Pengumpulan informasi

XX

XXXX

4) Pengumpulan data-data lain

XX

XXXX

3.

Pembuatan draft Laporan

XXXX

4.

Presentasi internal

5.

Presentasi didepan viewer

XX

6.

Penyusunan laporan akhir

XXXX

7.

Pengiriman laporan

XXXX

J. NAMA DAN BIODATA KETUA SERTA ANGGOTA KELOMPOK


Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama

: Wiwik Hariyani

b. NIM

: 3352404021

11

c. Fakultas/Program studi

: Ekonomi/Manajemen Keuanagan

d. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

e. Waktu untuk kegiatan

: 8 jam/minggu

Anggota Pelaksana
Anggota 1
a. Nama

: Siswati

b. NIM

: 3352404076

c. Fakultas/Program studi

: Ekonomi/Manajemen Keuanagan

d. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

e. Waktu untuk kegiatan

: 8 jam/minggu

Anggota 2
a. Nama

: Niswah Baroroh

b. NIM

: 7250406019

c. Fakultas/Program studi

: Ekonomi/Akuntansi

d. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

e. Waktu untuk kegiatan

: 8 jam/minggu

K. NAMA DAN BIODATA DOSEN PEMBIMBING


a. Nama

: Arief Yulianto, SE,MM

b. NIP

: 132281600

c. Golongan

: IIIA

d. Jabatan Fungsional

: Dosen FE Unnes

e. Fakultas/Program studi

: Ekonomi/Manajemen

f. Keahlian

: Metodologi Penelitian

g. Perguruan Tinggi

: Universitas Negeri Semarang

h. Waktu untuk kegiatan

: 6 jam/minggu

12

L. BIAYA
1. Rekapitulasi
No

Pengeluaran

Jumlah

1.

Penyusunan Laporan

Rp

280.000,00

2.

Dokumentasi

Rp

200.000,00

3.

Transportasi

Rp 1.770.000,00

4.

Pelaksanaan Kegiatan

Rp 2.900.000,00

Total biaya Kegiatan

Rp 5.150.000,00

2. Rincian Biaya
a. Penyusunan Laporan
1. Kertas 2 rim @ Rp 30.000,00

Rp

60.000,00

2. ATK

Rp

20.000,00

3. Tinta 2 buah @ Rp 25.000,00

Rp

50.000,00

4. Penggandaan dan arsip

Rp

150.000,00

Jumlah

Rp 280.000,00

b. Dokumentasi
1. Sewa digital

Rp

50.000,00

2. Cetak foto

Rp

150.000,00

Jumlah

Rp 200.000,00

c. Transportasi Kegiatan
1. Pra kegiatan

Rp

60.000,00

2. Pelaksanaan kegiatan
4 kecamatan PP x 5 hari
x Rp82.500
3. Pasca kegiatan
Jumlah

Rp 1.650.000.00
Rp

60.000,00
Rp1.770.000,00

13

d. Pelaksanaan Penelitian
1. Perijinan 4 kecamatan@ Rp 250.000 Rp 1.000.000,00
2. Alat dan bahan Penelitian

Rp

200.000,00

Rp

50.000,00

Rp

500.000,00

c) Persiapam amalisis data

Rp

500.000,00

d) Tabulasi

Rp

150.000,00

e) Pengolahan data

Rp

500.000,00

3. Pencarian dan pengumpulan data


a) Diskusi awal kuesioner
b) Kuesioner @ 5lembar x
Rp 1.000,00 x 100 responden

Jumlah

Rp 2.900.000,00

Total Pengeluaran

Rp 5.150.000,00

M. DAFTAR PUSTAKA
[1]

Http://www.isei.or.id/page.php?id=5APR074

[2]

Http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content7task=view
&id =2978&Itemid=34

[3]

Http://www.suaramerdeka.com/harian/0709/20/opi03.htm

[4]

Http://www.suaramerdeka.com/harian/0708/23/bincang02.htm

[5]

Http://detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/
04/time/145832/idnews/825535/idkanal/4topi03

[6]

Http://www.kalyanamitra.or.id/web/index.php/option=com_content&tas
k=view&od=119&iteid2

[7]

Http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/28/jateng/59456/htm

[8]

Kotler, Philips. 2000.Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT Indeks


Kelompok Gramedia

[9]

Media Pertamina Edisi No: 36/XLII, 04 September 2006

[10] Trust, Kamis 12 April 2007