Anda di halaman 1dari 17

MODUL 8

TELKNIK REPORTASE DAN WAWANCARA


Pokok Bahasan : Teknik Dan Jenis-Jenis Wawancara
Kode MK
: 42010
SKS
:2
Dosen
: Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

GAMBARAN UMUM
Kalau ingin menulis berita, terpikir terlebih dahulu melakukan wawancara. Jadi
kehadiran berita terlebih dahulu melalui wawancara. Namun, ada berita tanpa melalui
wawancara, seperti mengutif dari sumber lainnya, seperti televisi, radio, surat khabar
lainnya (majalah dan koran), internet dan sebagainya yang dapat menjadi refrensi
sebuah berita.
Selain itu, wawancara atau interview merupakan kemampuan dasar jurnalistik yang
sangat penting. Wawancara bagi media massa merupakan bagian tak terpisahkan
dari media dalam menggali data/informasi dari nara sumber. Oleh karena itu
diperlukan teknik wawancara yang baik dan benar agar tujuan interview akan tercapai
Modul ini memberikan gambaran kepada mahasiswa bagaimana melakukan kegiatan
wawancara yang diperuntukan untuk menulis berita. Selain itu, modul ini memberikan
arahan untuk mengetahui tujuan, fungsi, model, dan etika saat melakukan
wawancara. Sehingga tujuan yang hendak dicapai dalam menggali berita melalui
wawancara dapat terpenuhi

TUJUAN INSTRUKSIONAL/KOPENTENSI
Melalui modul ini, mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan menjelaskan kembali :
1. Tujuan dilakukan wawancara
2. Fungsi Wawancara
3. Dan teknik wawancara

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

A. Pengertian Wawancara
Kunci wawancara yang baik memungkinkan sumber berita mengatakan apa
yang sebenarnya dipikirkannya, bukan memikirkan apa yang hendak dikatakannya
(Mike Fancher, wartawan Seattle Times dalam Kusumaningrat, 2005: 189). Perlu
Anda pahami, wawancara merupakan salah satu dari empat teknik pengumpulan
informasi, yakni observasi langsung dan tidak langsung; pencarian melalui catatan
publik dan partisipasi dalam peristiwa.
Teknik wawancara, ketika pertama kalinya disajikan sebagai suatu karya
jurnalistik oleh James Gordon Bannet pada 1836, yaitu abad ke-19. Namun semua
koran di London mencemoohkannya, karena dinilai cuma bualan yang merendahjkan
praktik

jurnalistik.

Di

Amerika

Serikat,

pada

1700-an,

awal

tumbuhnya

persuratkabaran, wartawan negara itu belum menjadikan wawancara sebagai faktor


penting praktik jurnalistik. Presiden Lincoln yang terkenal itu sering bercakap-cakap
dengan wartawan, namun tidak pernah wartawan tersebut mengutip percakapan
mereka. Charles Nordhhoff, Redaktur Pelaksana The Evening Post, New York
menulis percakapannya dengan Presiden Andrew Johnson, namun tulisannya itu
tidak pernah dimuat oleh pemimpin redaksinya.
Baru pada abad ke-20, praktik wawancara diakui dan mencapai puncaknya.
James Reston, Bob Woodward dan Carl Bernstein menelurkan karya jurnalistik yang
hebat berdasarkan wawancara mereka. Era interview journalism berlanjut sampai
sekarang bahkan wawancara dianggap sebagai tulang punggung pekerjaan
jurnalistik serta kemampuan dan keterampilan yang mutlak dimiliki wartawan.
Sementara itu, Wawancara pengertian bahasa inggris, yaitu interview.
Sedangkan menurut kamus wikepedia, wawancara

dapat

diartikan sebuah

percakapan secara khusus melibatkan dua orang atau lebih, yaitu melibatkan
pewawancara dengan dengan nara sumber. Dan wawancara merupakan satu bagian
terpenting dari teknik reportase guna mendapatkan informasi yang diperlukan oleh
reporter untuk menyajikan sebuah fakta dan realita dalam suatu berita.
Dalam prosesnya, wawancara tidak dapat dipisahkan dengan nara sumber
dan sumber berita. Proses wawancara ini diawal dari suatu persoalan yang dinilai
menarik (nilai berita) oleh media atau wartawan untuk diangkat menjadi berita dengan
terlebih dahulu melihat sumber berita utamanya sebelum menentukan nara sumber.
(daftar pustaka, refrensi berita sebelumnya, dokumen, orang/pihak yang mengetahui
8

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

jalannya suatu peristwa, atau orang atau kelompok yang secara langsung atau tidak
langsung dapat dijadikan suatu sumber berita terkait dengan peritiwa yang akan
terjado atau setelah terjadi).
Sedangkan pengertian nara sumber adalah orang yang dapat memberikan
informasi berkaitan dengan apa yang ingin diketahui oleh pewancara. Atau nara
sumber ini adalah orang yang memiliki beragam informasi yang dibutuhkan oleh
pewancara. Berdasarkan hal itu diatas bahwa tujuan utama merupakan salah satu
teknik reportase untuk mendapat atau mengali informasi yang lebih mendalam dari
nara sumber seorang, seperti tokoh, pejabat, atau seseorang yang memiliki informasi
yang dikehadaki oleh seorang reporter/jurnalis/wartawan.

Contohnya :
Seorang wartawan mewancarai seorang pejabat, kepolosian, dan masyarakat atas
peristiwa kebakaran.

Untuk menghasilkan wawancara yang baik dan diinginkannya, memperlukan


persiapan terlebih dahulu untuk. Persiapan ini dengan membuat perencanaan atau
out line berita, diantaranya memuat tema dan topik pembahasan, menentukan nara
sumber, menetapkan angle berita, dan memilih nara sumber sesuai dengan tema dan
topik yang diangkat/dibahas serta membuat daftar pertanyaan.
Dalam perkembangannya, wawancara atidak hanya dilakukan tatap muka
atau melakukan kontak fisik, perkembangan teknolgi wawancara dapat dilakuakn
melalui sambung telephone atau menggunakan media lainnya. Namun pokok inti
wawancara adalah mendapatkan informasi dan data yang dibutuhkan untuk
pemberitaan. Wawancara merupakan bangunan utama dari keseluruhan kegiatan
peliputan. Setiap berita membutuhkan wawancara. Bahkan wawancara telah menjadi
berita tersendiri, yaitu news interview. (Masduki,2001). Untuk itu, para jurnalis
melakukan kegiatan reportase, tidak dibenarkan beropini atau menjawab pertanyaan
nasa sumber. Mengkutif pendapat Pakar komunikasi Dr. Myles Martel yang dikutif di
bukunya

Masduki

Jurnalis

Radio:

Menata

Profesionalisme

Radio

(2001)

menyebutkan ada 8 (delapan) point tujuan utama melakukan wawancara:


1. Memastikan kebenaran dan aktualitas fakta.
2. Memperoleh pernyataan resmi dari nara sumber.
3. Mengali titik pandang/opini (point of view).
8

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

4. Menformulasikan suatu masalah.


5. Memperoleh suara mewakili masyarakat/khalayak publik.
6. Menciptkan gaya berita bercerita.
7. Meningkatkan citra pribadi reporter.
8. Memperkuat kredibilitas media di bidang informasi.

B. Proses Wawancara
Dalam teknik jurnalistik, ada 3 kelompok/bagian berita yang dihasilkan dari
wawancara, yaitu (1) Wawancara Berita (news interview) yang memberikan
keterangan ahli/saksi tentang masalah yang sedang hangat atau hal-hal yang
menyakut suatu peristiwa. Bisanya mereka ini dapat dikatagorikan para saksi-saksi
atau pejabat yang berwenang; (2) Wawancara Profil Pribadi (personality interview)
yang memberikan kesempatan kepada sumber berita yang diwawancarai untuk
mengungkapkan kepribadiannya melalui kata-katanya sendiri; (3) wawancara
kelompok (symposium interview) yang mengangkat pandangan atau sikap sejumlah
responden, yang kadang-kadang dalam jumlah yang besar, sebagai berita.
1. Wawancara Berita (News Interview)
Berita kutipan dengan pejabat publik atau para ahli, seperti Menteri/Walikota
merupakan contoh hasil wawancara berita. Ciri utama wawancara yang masuk dalam
golongan wawancara berita :
1) Masalah yang menjadi pokok wawancaranya adalah topik yang sedang
hangat/mejadi sorotan diberitakan.
2) Sumber beritanya, yaitu narasumber (obyek wawancara) harus memenuhi
syarat untuk menjelaskan atau memberikan penerangan bahwa fakta-fakta
saja belum mengungkapkan kejelasan. ia biasanya karena keahliannya,
pendidikannya, posisinya, jabatan, atau statusnya.
3) Hasil wawancara menambah pengetahuan atau pemahaman khalayak
secara berarti tentang sesuatu masalah. ia menjelaskan, meluaskan
wawasan, menghilangkan prasangka, memberikan pandangan dengan
kegelisahan atau dengan optimisme. Ia menawarkan pendalaman yang
jarang dimiliki oleh berita faktual yang sederhana.
Penulisan berita melalui kegiatan wawancara terlebih dahulu, sangat hal penting dan
mendukung penguatan nilai suatu berita yang akan ditulis dan disajikannya.
8

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Wawancara akan menguatkan data dan fakta melalui nara sumber yang memiliki
kompetensi di bidang tertentu atau mengetahui persoalan.
Ketika terjadi letusanan gunung berapi di Yogyakarta (Erupsi Gunung
Berapai : Puluhan Orang Tewas Diterjang Awas panas Gungung Berapai), wartawan
bergegas memburu lokasi kejadian, menghubungi pihak yang berkompeten di
Yogyakarta untuk dapat dimintai keterangan. Kegiatan wawancara dilakukan untuk
memberikan

penjelasan

dan

membuat

interpretasi

yang

dapat

dipertanggungjawabkan. Untuk itu, pekerja jurnalis dituntut untuk lebih keras dalam
mengungkapkan fakta berdasarkan realita. Pendalaman sebuah fakta akan peristiwa
dituntut dan digali lebih dalam guna menghasilkan penulisan yang lebih obyektif.
2.

Wawanacara Profile
Umumnya wawancara profil pribadi, umumnya dilakukan kepada/bagi tokoh

terkenal atau selebriti/public figure atau objek-obyek tertentu yang memiliki nilai
berita. Wawancara profil pribadi berusaha mencari tahu hal-hal seputar diri
narasumber sendiri, terutama hal-hal yang membuat dia bisa menjadi orang terkenal
dan bagaimana kisahnya sampai ia mencapai kedudukan sebagai orang terkemuka.
Pembaca juga memiliki minat lain dalam membaca hasil wawancara profil pribadi ini:
dalam membaca berita atau tulisan tentang sosok pribadi terkenal, pembaca
biasanya menghubungkan sifat-sifat dan kisah kehidupan tokoh terkenal atau selebriti
tersebut dengan harapan menemukan sesuatu di dalamnya yang akan membantu
dia mencapai sukses dalam hidupnya sendiri.
Dalam wawancara profil pribadi, tokoh terkenal atau orang yang hanya
menarik itu dibiarkan mengatakan dengan kata-katanya sendiri apa yang disukai atau
tidak disukainya,m sikapnya tentang makanan atau tentang keadaan masyarakat
sekarang atau tentang jalannya pemerintahan, tentang harapan-harapan dan
antusiasmenya, tentang kekecewaannya dan sebagainya. Apa yang dikatakan dan
bagaimana sosok ini mengatakannya membuat khalayak pembaca merasakan
seakan-akan sosok ini berhadapan dengan mereka.
Wawancara sosok pribadi, selain dapat digunakan untuk mem-profilkan
pribadi terkenal, dapat pula digunakan untuk mem-profilkan sosok pribadi yang
menarik dan pribadi yang tipikal, yang khas. Sosok pribadi yang menarik tidak perlu
terkenal mungkin saja ia hanya terkenal di desanya atau kecamatannya. tapi
perjangan hidupnya bisa memberikan inspirasi bagiorang lain. Misalnya, seorang
8

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

petani yang dapat menghasilkan 10 ton padi per hektar, jumlah yang melebihi hasil
tertinggi 8 ton padi dalam sehektar.
Melakukan wawancara untuk profil pribadi sedikit berlainan tekniknya
dengan

wawancara

untuk

berita,

terutama

kalau

narasumber

yang

akan

diwawancarai merasa dirinya tokoh terkemuka. Selain itu, tokoh berita biasanya
orang-orang

sibuk,

segala

sesuatu

yang

menghemat

waktunya

dianggap

menguntungkan, sebab itu Anda sebaiknya mengadakan perjanjian terlebih dahulu,


melakukan persiapan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi sekitar
dirinya dan jika ada waktu sempatkan dulu membaca buku-buku hasil karyanya.
3. Proses Wawancara Kelompok
Wawancara kelompok, adalah wawancara yang dilakukan lebih dari satu
atau melibatkan nara sumber sekurang-kurangnya dua narasumber, tapi dengan
banyak narasumber, karena tujuannya untuk mendapatkan keterangan dari berbagai
sumber. Biasanya topik yang menjadi bahan sorotan wawancara secara luas dan
sedang menjadi pusat perhatian khalayak, seperti masalah pemilihan presiden,
misalnya, sehingga orang-orang yang bisa berkomentar tentang masalah atau topik
tersebut dapat dijumpai hampir di segala penjuru. Narasumber yang diwawancarai
untuk berita wawancara kelompok ini bukan tidak selalu orang-orang penting atau
orang yang mempunyai otoritas di suatu bidang keahlian, tetapi orang biasa yang
memiliki pandangan atau tanggapan yang sifatnya khas. Tanggapan mereka jika
dijadikan satu akan menunjukkan bagaimana situasi yang diberitakan mempengaruhi
masyarakat. Pendapat salah seorang di antara mereka, jika diambil sendirian, sudah
tentu tidak mempunyai nilai berita. Di sini nilai itu terletak pada bobot kumulatif dari
semua hasil wawancara yang dijadikan satu. Kadang-kadang tanggapan dari
kelompok yang mewakili warga masyarakat biasa bisa bercerita banyak ketimbang
berlembar-lembar pidato di depan sidang DPR.
Perbedaan antara tanggapan ahli dan warga biasa berlaku juga sebagai
unsur yang membedakan wawancara berita dengan wawancara kelompok.
Wawancara berita hanya menampilkan kontribusi satu narasumber, beberapa di
antaranya mungkin mengambil bahan dari berbagai sumberr. Misalnya pemberitaan
tentang kenaikan harga bahan bakar (BBM), misalnya, komentar datang dari pemilik
kendaraan bermotor, pengemudi angkutan kota, pemilik pabrik, dan ibu rumah
tangga. Semuanya merupakan sumber berita yang berwenang mengomentari
masalah tersebut menurut kepentingan masing-masing.
8
Teknik Reportase dan Wawancara
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
6
Th. Bambang Pamungkas, S.Sos
http://www.mercubuana.ac.id

C. Pengertian Nara Sumber


Dalam peliputan berita (reportase dan wawancara), peranan narasumber
memiliki peran utama untuk mendapatkan berbagai data atau informasi yang
diinginkan. Narasumber ditempatkan untuk mendukung dan mengkuatkan akan
sebuah fakta peristiwa atau memperkuat opini sehingga laporan penyajian hasil
reportase dan wawancara memberikan makna dan kedalaman suatu peristiwa.
Narasumber menjadi bagian terpenting, seorang wartawan mesti memahami
beberapa hal mengenai narasumber. Mengingat bahwa narasumber merupakan
sumber penting, karena narasumber dapat mempengaruhi dan menentukan mutu
atau kualitas tulisan wartawan. Untuk itu, narasumber tidak hanya terfokus pada
obyeknya manusia namun berbagai hal mendukung lainnya, seperti sumber
informasi seperti catatan, dokumen, referensi, buku, kliping, dan sebagainya (physical
sources) yang akan digunakan dan haruslah menyebutkan atau mencatumkan
sebutkan asalnya (attributed).
Untuk pemilihan narasumber sebagai obyeknya manusia, wartawan harus
memiliki skeptis (rasa ingin tahu lebih).
Melvin Mencher dalam bukunya News Reporting and Writing mengatakan bahwa nara
sumber manusia ini terkadang kurang bisa begitu dipercaya bila dibandingkan dengan
sumber-sumber seperti dokumen, referensi, buku, dsb.

Melalui sikap tersebut, wartawan harus mencari atau memilih dan


menetapkan narasumber yang layak atau memenuhi syarat untuk bicara. Sebaliknya,
dalam menggunakan catatan atau klipingpun wartawan harus hati-hati, karena
mungkin saja sudah ada perkembangan baru tidak dilanjutkannya atau di follow -up
news. Misalnya, perkaran pidana kriminal, seorang yang semula diduga bersalah
terbukti disidang pengadilan tidak bersalah. Berita awalnya disiarkan tetapi berita
kelanjutannya tidak ada. Ini bisa terjadi, bila penyajian berita tidak berkelanjutan,
pengukapkan berita hanya diawal. Memilih dan menentukan narasumber harus
melihat berbagai aspek, yaitu seorang yang berpengetahuan/ memiliki keahlian
dalam sesuatu bidang dan atau memiliki kewenangan atau memiliki perasaan tajam
yang sama dengan sang wartawan tentang perlunya publik mengetahui apa yang
sedang terjadi sebenarnya. Begitu pula sebaliknya apa yang harus publik ketahui.
Maka dapat disimpulkan bahwa Narasumber adalah orang sebagai obyek
dalam peliputan berita, atau seseorang ditempatkan sebagai sumber informasi. Dan
sumber lainnya yang dapat dinyatakan sebagai nara sumber, ini biasanya berupa
8

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

dokumen pendukung lainnya, seperti caratan-catatn penting, kliping, refrensi buku,


dokumen, dsb

D. Wawancara Efektif
Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan agar wawancara lebih efektif
dan produk wawancara Anda lebih baik.
1) Usahakan agar wawancara berlangsung 30 menit lebih lama dari yang
direncanakan, sehingga dalam waktu yang lebih itu bisa muncul hal yang
memperkuat isi waawancara.
2) Jangan biarkan narasumber menunggu, datanglah tepat waktu.
3) Menyusun terlebih dahulu peretanyaan dalam buku catatan Anda, untuk
berjaga-jaga jika Anda mati langkah dalam bertanya, terutama menyangkut
pertanyaan pokok yang bisa jadi sesuatu yang penting bagi narasumber.
Berilah tanda untuk pertanyaan yang sudah dijawab.
4) Posisi duduk tidak berjarak terlampau jauh untuk menciptakan suasan yang
lebih akrab. Jika narasumber adalah seorang eksekutif top sebuah
perusahaan, usahakan wawancara dilakukan di luar kantornya untuk
menghindari gangguan yang bisa merusak suasana. Carilah tempat yang
disukainya.
5) Bawalah alat tulis cadangan, begitu pula buku catatan dan alat perekam.Hal
itu juga dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa Anda seorang
profesional. Seandainya sumber berita Anda didampingi oleh asistennya
atau rekannya ketika sedang diwawancarai, catatlah nama dan nomor
telepon orang itu untuk berjaga-jaga kalau suatu saat diperlukan.
6) Awali pertanyaan ringan untuk sekedar pemanasan dan menciptakan rasa
percaya diri sumber berita Anda. Mintalah izin tidak keberatan jika
wawancara itu direkan dengan alasan agar tidak salah kutip atau demi
akurasi berita.

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

E. Bentuk Jenis Pertanyaan Dalam Wawancara


No.
1.

Jenis Pertanyaan
Contoh Pertanyaan
F Wah, Bapak rupanya senang berolahraga. olahraga apa
Terbuka
saja yang Bapak lakukan secara rutin?
F

Bapak Walikota, bagaimana perkembangan tentang


masalah anggaran itu, Pak?

2.

Langsung

3.

Tertutup

F Berapa besar yang dianggarkan untuk perjalanan dinas


2009, Pak?

4.

Menyelidik

F Mengapa Bapak menganggarkan 20% lebih besar untuk


perjalanan dinas 2009 depan, Pak?

5.

Bi-Polar

F Apakah anggaran itu diumukan kepada media pada pukul


9 pagi besok, Pak?

6.

Cermin

F Jadi, Pak Wali, Anda mengatakan, para pejabat Anda


memang perlu lebih banyak melakukan perjalanan dinas
pada 2009?

7.

F
Hipotesis/ Sugestif

Apakah Bapak pernah mempertimbangkan untuk


mengurangi anggaran perjalanan dinas guna menghemat
pendapatan?

1) Jenis Pertanyaan Terbuka


Pertanyaan ini diajukan untuk mencairkan kebekuan dalam wawancara dan
tidak dimaksudkan untuk mengorek keterangan yang berkaitan dengan topik
wawancara. Pertanyaan ini membuat sumber berita terpancing untuk
berbicara.
2) Jenis Pertanyaan Langsung
Ketika pertanyaan berkembang, pertanyaan dapat menjadi lebih spesifik.
Pertanyaan langsung berusaha untuk menemukan sifat atau keadaan suatu
topik. Ini juga termasuk pertanyaan terbuka.
3) Jenis Pertanyaan Tertutup
Pertanyaan langsung seringkali mendahului suatu pertanyaan tertutup. Awas!
selangkah lagi Anda bisa terjebak mengajukan pertanyaan interogasi! Anda
bukan polisi!
4) Jenis Pertanyaan Menyelidik
Pertanyaan ini seringkali mengikuti pertanyaan langsung dan pertanyaan
tertutup, bahkan lebih spesifik.
5) Jenis Pertanyaan Bi-Polar
8
Teknik Reportase dan Wawancara
9
Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Pertanyaan ini diajukan untuk mendapatkan jawaban ya atau tidak tanpa


komentar tambahan.
6) Jenis Pertanyaan Cermin
Pertanyaan ini diajukan dengan menegaskan kembali pertanyaan terdahulu
dan membuat sumber berita meninjau ulang secara singkat pernyataan
sebelumnya. Jawabannya biasanya menambah pemahaman wartawan
tentang butir-butir permasalahan tertentu.
7) Jenis Pertanyaan Hipotesis atau Sugestif
Menjelang berakhirnya wawancara, Anda bisa bertanya kepada sumber berita
untuk berspekulasi tentang suatu topik atau pokok permasalahan yang
sedang hangat. Jika bertanya kepada Walikota tentang kemungkinan adanya
pengurangan anggaran perjalanan dinas dikurangi, maka Anda dapat
mengajukan pertanyaan hipotesis. Ini adalah pertanyaan hipotesis dalam
bentuk sugesti atau saran.

F. Model Wawancara digunakan oleh wartawan :


Dalam melakukan wawancara, umumnya ada 2 model yang kerap dilakukan
oleh para wartawan diantaranya :
1. Wawancara yang tidak terencana atau sambil lalu
yaitu wawancara yang dilakukan pada informan yang tidak mempunyai
banyak waktu untuk dijadikan sumber informasi (contoh pejabat yang sedang
berkunjung dan memiliki jadwal padat)
2. Wawancara yang terencana
yaitu wawancara yang telah direncanakan antara wartawan dengan sumber
informasi. Biasanya informan telah menyediakan waktu kepada wartawan
untuk digali informasinya.
Untuk ke 2 model teknik wawancara tersebut jika dijabarkan dalam turunannya
sebagai berikut :
1.

News page interview


Wawancara dilakukan ketika sumber berita hanya digali ketika ada kejadian atau
berita yang baru saja. Jadi wawancaranya dilakukan saat berita terjadi saja,
misalnya kejadian peristiwa kebakaran dengan melakukan wawancara dengan
para saksi.

10

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

2.

Casual interview
wawancara secara kebetulan, atau melakukan wawancara tidak sengaja tanpa
ada rencana/persiapan terlebih dahulu atau tidak ada perjanjian dulu dengan
narasumber, misalnya mewawacarai seorang pejabat sebelum, setelah, atau di
tengah berlangsungnya sebuah acara. Atau saat kita sedang jalan-jalan tiba-tiba
ketemu menteri, gubenur atau public figure. Sebagai wartawan memiliki rasa
skeptis (rasa ingin tahu).

3.

Man in the street interview


Wawancara jenis ini bertujuan mengumpulkan gagasan dari berbagai individu
dan masyarakat tentang pendapat mereka atas peristiwa tertentu. Misalnya
wawancara tentang Letusan Gunung Berapi, model ini digunakan untuk
melakukan wawancara dengan berbagai nara sumber terkait dengan peristiwa
tersebut

4.

Telefon interview
Wsawancara yang dilakukan melalui telephone, namun sebaiknya teknik
wawancara ini dihindari. Teknik wawancara ini sebaiknya digunakan dalam
keadaan darurat. Misalnya berita kita kurang lengkap sedangkan waktu sudah
dikejar deadline. Atau terkait dengan peristiwa penting yang membutuhkan cover
both side.

5.

Written interview
Cara ini mulai ditinggalkan. Biasanya yang meminta adalah nara sumber dan
nara sumber sebelum dilakuakn wawancar terlebih dahulu meminta daftar
pertanyaan terlebih dahulu untuk dipelajari.

6.

Discussion interview
Dilakukan pada saat konferensi pers dimana nara sumber duduk dan dikelilingi
puluhan wartawan. Mereka berkumpul mengajukan pertanyaan kepada nara
sumber dan nara sumber menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para
wartawan.

7.

Door stop interview,


Wawancara dengan cara mencegat narasumber di sebuah tempat, misal
tersangka korupsi yang baru keluar dari ruang interogasi KPK.

8.

Exclusive interview
Wawancara yang dilakukan secara khusus tidak bersama wartawan dari media
lain

11

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

9.

Online interview
Sama halnya seperti wawancara biasanya. Namun kali ini menggunakan meda
maya alias internet. Wartawan mengajukan pertanyaan melalui email, face book,
atau bentuk apappun dan nanti dijawab oleh nara sumber.

G. Jenis-jenis Wawancara
Berikut adalah beberapa jenis wawancara ditinjau dari jenisnya :.
1.

Jenis Wawancara Dari Segi Materi


a. Wawancara profil
Konsep wawancara ini, umumnya berupa biografi seseorang atau dapat
berhubungan berkenaan dengan sebuah produk atau tentang riwayat hidup,
biasanya dengan tokoh/pakar, atau terkait mengenai produk serta organisasi.
Gaya penulisannya adalah informatif dan persuasif. Untuk wawancara ini
kerap kali digunakan oleh Public Relation untuk memperkenalkan sebuah
company profile atau berkenaan dengan layanan produk (jasa/barang).
Contohnya :
Wawancara bekenaan dengan Profile seorang misalnya profile calon gubenur
yang ingin maju ke Pilkada. Atau profile dari sebuah lembaga tinggi
negara/produk/perusahaan.
b. Wawancara konfirmasi (terkait berita aktual).
Wawancara konfirmasi ini

berkaitan

dengan

sebuah

peristiwa/kasus.

Umumnya wawancara ini dilakukan untuk cover both side atau memastikan
kebenaran akan sebuah informasi.
c. Wawancara pendapat/ opini terkait masalah aktual
Wawancara ini hampir sama dengan wawancara konfirmasi. Namun, point
utama wawancara ini digunakan untuk memperkuat informasi atau data yang
sudah ada lebih.
d. Wawancara fox pops
Pengertian wawancara ini, yaitu melakukan wawancara melibatkan lebih dari
2 orang terkait dengan suatu masalah yang sama. Jenis wawancara Fox
Pops digunakan Untuk membuat dan memberikam keyakinan akan opini atau
memperkuat

opini

yang

sedang

berkembang.

Misalnya

wawancara

masyarakat DKI terhadap calon gubuner DKI Jakarta.


8

12

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

2.

Jenis Wawancara Dari Segi Penyajian


a. Wawancara aktualitas, yaitu petikan wawancara untuk mendukung suatu
berita yang sedang aktual.
b. Wawancara berita, yaitu wawancara dalam waktu singkat, terkait berita aktual.
Biasanya di media penyiarankan dibuat dalam satu paket acara, misalnya
Liputan Siang di SCTV, Metro Hari Ini di Metro TV.
c. Wawancara program, yaitu wawancara dalam waktu panjang dan dalam
perbincangan itu dibahas secara tuntas atau mendalam tentang suatu
masalah, biasanya disebut talk show. Seperti program dialog. Kalau di media
TV program Kick Andy.

3.

Jenis Wawancara Dari Segi Teknis


a. Wawancara eksklusif,
Yaitu wawancara berdasarkan penyajian atau kesepakatan wartawan dengan
narasumber khusus yang memiliki kedudukan tinggi atau memiliki peran
penting..
Misalnya wawancara dengan Presiden SBY terkait kebijakan tertentu,
Wawancara dengan Mantan Presiden RI dan Ketua Umum PDIP Megawati
Soekarno Putri terkait Kongres PDIP di Bali, Wawancara dengan Presiden
Barack Obama terkait kedatangannya di Indonesia dll
b. Wawancara spontan, berlangsung secara kebetulan tanpa perjanjian atau
kesepakatan.
Misalnya : Saat melakukan liputan di Balai Kota Provinsi DKI Jakarta
bertemua dengan Ketua KPK. Ini wawancara sifatnya spontan.
c. Wawancara jalanan atau keliling, yaitu wawancara dengan berbagai
narasumber secara terpisah tentang suatu masalah.
d. Wawancara konfersi pers, yaitu wawancara yang terjadi atas inisiatif
narasumber untuk menjelaskan sebuah peristiwa atau persoalan tertentu.
e. Wawancara jarak jauh, yaitu wawancara antar wartawan disuatu tempat
dengan narasumber yang berada ditempat lain.
f. Wawancara pinjam mulut, karena orang yang berkompeten tidak mau
ditampilkan.
g. Wawancara melingkar, yaitu dengan orang-orang disekitar orang yang hendak
diberitakan.

13

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

4. Jenis Wawancara Dari Segi Bentuknya


1. Wawancara sosok pribadi (personal interview), wawancara dilakukan dalam
dua golongan sosok pribadi.
2. Wawancara berita (news interview), wawancara dilakukan sehubung adanya
berita dengan maksud untuk memperolh pendapat atau tanggapan.
3. Wawancara jalanan (man in the street interview), yaitu dilaksanakan dengan
menyetop atau menanyai di jalan berkenaan dengan suatu berita.
4. Wawancara sambil lalu (casual interview), wawancara tidak direncanakan
secara khusus, tetapi berlangsung secara kebetulan. Misal : tokoh dalam
suatu presepsi
5. Wawancara telephone (telephone interview), dilakukan melalui telepon. Cara
ini akan berjalan lebih lancar jika sudah saling kenal dan saling percaya.
6. Wawancara tertulis (written interview), kelemahan wawancara tertulis adalah
jika ada yang tidak jelas, pewawancara tidak bisa meminta penjelasan secara
langsung.
7. Wawancara kelompok (discussion interview), dilakukan oleh sekelompok
orang, seakan-akan pewawancara adalah peserta suatu symposium. Hasil
wawancara yang akan diberitakan bukan pendapat satu orang dalam seminar,
tetapi rangkuman pendapat yang terpapar dalam seminar.

H. Identitas Nara Sumber


Menegaskan kembali bahwa mutu kualitas akan laporan wawancara antara
lain ditentukan oleh sumber. Siapa atau apa yang menjadi sumber itu harus jelas,
sehingga masyarakat dapat menilai sendiri kualitas narasumber. Untuk itu, nama
atau asal sumber wajib dicantumkan, yaitu siapa dia dan apa kemampuan, keahlian,
atau keterampilan sumber itu. Bila narasumber atau sumber diambil dari buku,
catatan, dokumen itupun harus disebutkan.
Pencantuman

nama

sumber

tidak

membuktikan

bahwa

apa

yang

dikatakannya itu selalu benar. Hal ini dilakukan wartawan hanya untuk meletakan
tanggung jawab bahwa benar sumber mengatakan demikian. Wartawan yang sangat
memeperhatikan kebenaran enggan berhenti sampai pada pencantuman nama
sumber saja, tetapi sering terhalang oleh tekanan deadline bila ingin bergerak lebih
jauh untuk memverifikasi bahan tulisan itu. Namun demikian, ada verifikasi rutin
8

14

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

tertentu yang harus dilakukan wartawan seperti mengecek nama, informasi latar
belakang dan informasi-informasi yang meragukan. Nancy Woodhull, redaktur
pelaksana dari Rochester, NY, Democrat & Chornical, berpendapat bahwa
sumber yang tidak mau disebut identitasnya secara penuh harus disebutkan
alasannya: Dan kita wajib mengetahui motif narasumber mengapa tidak mau
disebutkan namanya. (Motif-motif yang sering dikemukaan narasumber saat tidak
mau menyebutkan narasumbernya, misalnya :
Khawatir kehilangan pekerjaan,
Keselamatan diri atau keluarganya terancam, atau alasan lainnya,
Tidak mau diekspose.
Berhubungan dengan sumber rahasia ini maka APME (Associated Press Managing
Editors) Freedom of Information Committee menetapkan:
a. Dalam tulisan investigasi atau yang sensitif, usahakan sedapat mungkin agar
sumber itu on the record. Jadi nama sumber harus jelas.
b. Bila sumber tetap menolak, tanyakan apakah ia setuju tetap dirahasiakan
kecuali bila menghadapi tuntutan hukum.
c. Bila kedua usaha gagal, maka bicarakan antara wartawan dengan editor dan
pengacara.
Tipe-tipe Narasumber Yang Sulit
1. Apa saja salah
Type narasumber ini, memandang segala sesuatu salah di matanya.
Contohnya, belum selesai bertanya, narasumber ini sudah menunjukan sikap
menyebalkan dan melecehkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan menghadapi
narasumber type seperti ini adalah :
a. Tetap bersikap tenang dan tidak panik;
b. Tidak berdebat atau mendebat setiap pernyataan dari narasumber;
c. Tetap teguh dan kembali pada standar diri anda;
d. Tawarkan kesepakatan, bahwa mereka dapat melihat tulisan hasil
wawancara sebelum diterbitkannya.
2. Tidak ada waktu;
Type narasumber ini pada dasarnya memiliki waktu luang, namun dia selalu
mengatakan tidak ada waktu dan sibuk. Contoh: Narasumber selalu
8

15

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

mengatakan saya sedang sibuk lain waktu; Saya tidak ada waktu; Saya
terburu-buru.
Langkah-langkah menghadapai narasumber seperti ini adalah :
a. Bersikap simpati dan langsung pada pokok persoalan;
b. Tunjukan sikap bersahabat
Contohnya :
Saya tidak akan menyita waktu anda terlalu banyak, karena masalah ini
sangat penting, saya sangat membutuhkan jawaban dari anda agar
semua dapat jelas.
3. Pokoknya No Coment
Cara seperti ini senantiasa digunakan narasumber untuk menghidari
wartawan. Sikap ini bisa diungkapkan melalui perkataan no coment atau diam
seribu bahasa. Misalnya; Desi Ratnasari senantiasa bilang No Coment bila
dimintai tanggapannya mengenai seputar kehidupan rumah tangganya.
Langkah-langkah menghadapai narasumber seperti ini adalah :
a. Anda harus menjelaskan berapa pentingnya mereka bagi anda
b. Anda

dapat

menjelaskan

bahwa

perlu

adanya

pernyataan

dari

narasumber untuk keakuratan berita dan tidak berat sebelah;


c. Anda dapat menjelaskan bahwa kurang baik bila penulisan berita terisi No
Coment.
d. Anda dapat menjelaskan bahwa pernyataannya menepis rumor yang
berkembang dan terkesan menyudutkan nara sumber.
Referensi:
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta;
PT. Rineka Cipta
Biagi, Shirley (1986). Interviews That Works: A Practical Guide for Journalists.
Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.
Gil, Generoso J. (1993). Wartawan Asia: Penuntun Mengenai Teknik Membuat
Berita. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Komaruddin, Yooke Tjuparmah. 2000. Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. Jakarta :
Bumi Aksara.
Masduki. 2001. Jurnalis Radio: Menata Profesionalisme Radio. PT LkiS Pelangi
Aksara.
8

16

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Pakpahan, Roy (ed.) (1998). Penuntun Program Jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan
LSM. Jakarta: INPI-Pact-SMPI.
Rahayu, Iin Tri. Ardani, Tristiadi Ardi. 2004. Observasi Dan Wawancara. Malang:
Bayumedia Publishing
Reddick, Randy, dan Elliot King (1996). Internet untuk Wartawan. Internet untuk
Semua Orang. (Penerjemah: Masri Maris). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

17

Teknik Reportase dan Wawancara


Th. Bambang Pamungkas, S.Sos

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id