Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PLASTIDA
Dosen Pengampu: Dra. Harlis, M.Si

Disusun Oleh:
Kelompok 6
1.
2.
3.
4.
5.

Masyithah Rasyid
Yayuk Sartika
Leni Mayasari
Mira Wulandari
Romaida Naomi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2011/2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dapat kita ketahui bahwa sel merupakan kesatuan dasar sruktural dan
fungsional makhluk hidup. Sebagai kesatuan struktural berarti makhluk hidup
terdiri atas sel-sel. Makhluk hidup yang terdiri atas satu sel disebut makhluk hidup
bersel tunggal (uniseluler = monoseluler) dan makhluk hidup yang terdiri dari
banyak sel disebut makhluk hidup multiseluler. Sel sebagai unit fungsional berarti
seluruh fungsi kehidupan atau aktivitas kehidupan (proses metabolisme,
reproduksi, iritabilitas, digestivus, ekskresi dan lainnya) pada makhluk hidup
bersel tunggal dan bersel banyak berlangsung di dalam tubuh yang dilakukan oleh
sel. Sel di bagi menjadi dua yaitu sel prokariotik dan eukariotik. Salah satu contoh
sel eukariotik adalah plastida. Plastida adalah organel yang dapat ditemukan pada
semua sel eukariotik. Fungsi plastida bervariasi, tergantung pada jenisnya.
Plastida merupakan organel yang amat dinamis dan mampu membelah, tumbuh
dan berdeferensiasi menjadi berbagai bentuk. Pada sel muda tumbuhan tinggi,
plastida biasanya tak berwarna dan disebut leukoplas atau proplastida. Pada daun,
plastida berwarna hijau dan disebut kroroplas, serta pada buah masak kadangkadang kuning atau merah, disebut kromoplas. Plastida berfungsi untuk
fotosintesis, dan juga untuk sintesis asam lemak dan terpen yang diperlukan untuk
pertumbuhan sel tumbuhan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian plastida
2. Mengetahui fungsi-fungsi plastida
3. Mengetahui tipe-tipe utama plastida
4. Mengetahui struktur dan perkembangan kloroplas
5. Mengetahui peranan plastida pada proses fotosintesis
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Plastida

Plastida merupakan organel yang amat dinamis dan mampu membelah,


tumbuh dan berdeferensiasi menjadi berbagai bentuk. Pada sel muda tumbuhan
tinggi, plastida biasanya tak berwarna dan disebut leukoplas atau proplastida.
Pada daun, plastida berwarna hijau dan disebut kloroplas, serta pada buah masak
kadang-kadang kuning atau merah, disebut kromoplas. Pada sel yang tidak
menjadi hijau, seperti sel epidermis atau sel rambut tangkai sari (misalnya pada
Rhoeo discolor), plastida tetap tak berwarna, disebut leukoplas (dalam arti
sempit). Leukoplas juga terdapat pada jaringan yang tak terdedah pada cahaya.
Pada jaringan semacam ini seperti pada umbi, leukoplas membentuk butir pati
yang disebut amiloplas. Statolit adalah amiloplas khusus dalam tudung akar dan
pada buku beberapa batang muda, serta terlibat dalam gaya berat. Leukoplas
membentuk minyak atau lemak, dan disebut elaloplas, misalnya pada epidermis
daun Vanilla.

2.2 Fungsi Plastida


Plastida berfungsi untuk fotosintesis, dan juga untuk sintesis asam lemak
dan terpen yang diperlukan untuk pertumbuhan sel tumbuhan. Tergantung pada
fungsi dan morfologinya, plastida biasanya diklasifikasikan menjadi kloroplas,
leukoplas (termaduk amiloplas dan elaioplas), atau kromoplas. Plastid merupakan
derivat dari proplastid, yang dibentuk pada bagian meristematik tumbuhan.
Pada tumbuhan, plastida dibedakan kedalam beberapa bentuk, tergantung
fungsinya dalam sel. Plastida yang belum teriferensiasi akan berkembang
menjadi:
Amiloplas : untuk menyimpan cairan
Kloroplas : untuk fotosintesis
Etioplas : kloroplas yang belum terkena cahaya
Elaioplas : untuk menyimpan lemak
Kromoplas : untuk sintesis dan menyimpan pigmen
Leukoplas : untuk mensistesis monoterpen

Setiap plastid berisi berbagai kopi plastid gen pada lingkar 75-250 kb. Gen
plastid berisi kurang lebih 100 gen yang mengkode rRNAs dan tRNAs.

2.3 Tipe-tipe Utama Plastida


a. Kloroplas
Kloroplas, adalah plastida yang menghasilkan warna hijau daun, disebut
klorofil. Kloroplas adalah plastida yang mengandung klorofil, karotenoid dan
pigmen fotosintesis lain.
Macam-macam klorofil adalah sebagai berikut :
- klorofil a: menghasilkan warna hijau biru
- klorofil b: menghasilkan warna hijau kekuningan
- klorofil c: menghasilkan warna hijau coklat
- klorofil d: menghasilkan warna hijau merah
Selubung kloroplas terdiri atas dua membran. Dalam kloroplas terdapat sistem
membran lain berupa kantong-kantong pipih yang disebut Tilakoid. Tilakoid
tersusun bertumpuk membentuk struktur yang disebut grana (jamak granum). Di
dalam tilakoid inilah terdapat pigmen fotosintesis yaitu klorofil dan karoten.
Ruangan di antara grana disebut stroma.
Proses fotosintesis terjadi di dalam kloroplas. Di dalam tilakoid pigmen klorofil
berperan dalam penangkapan energi sinar yang akan diubah menjadi energi kimia
melalui suatu proses yang disebut reaksi terang. Reaksi selanjutnya adalah reaksi
gelap yaitu proses pembentukan glukosa. Reaksi gelap berlangsung di dalam
stroma dengan menggunakan energi kimia hasil reaksi terang.
Kloroplas pada umumnya berbentuk seperti lensa, biasanya berukuran 4-6 m. Di
dalam kloroplas terdapat zat hijau daun atau klorofil, dan sedikitnya dua zat warna
kuning atau merah, atau kelompok zat warna (karotenoid): satu macam karoten
atau lebih (C40H56) dan xantofil (C40H56O2). Kloroplas berfungsi dalam
fotosintesis dan pada kebanyakan tumbuhan berfungsi pula dalam pembentukan
pati dari karbohidrat terlarut hasil fotosintesis, serta melarutkannya kembali.
Kloroplas merupakan plastida berwarna hijau. Kloroplas yang berkembang dalam
batang dan sel daun mengandung pigmen hijau yang dalam fotositesis menyerap
tenaga matahari untuk mengubah karbon dioksida menjadi gula, yakni sumber
energi kimia dan makanan bagi tetumbuhan. Kloroplas memperbanyak diri
dengan memisahkan diri secara bebas dari pembelahan inti sel. Plastida ini
berfungsi menghasilkan klorofil dan sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.

Kandungan kimiawi kloroplas adalah protein, fosfolipid, pigmen hijau dan


kuning, DNA dan RNA.

Gambar kloroplas
Berdasarkan gambar dapat dilihat bahwa pada bagian dalam stroma terdapat
struktur yang membran yang dinamakan tilakoid. Tumpukan tilakoid disebut
granum. Bagian dalam tilakoid disebut lokulus. Tilakoid yang menghubungkan
antar grana disebut fret. Di dalam membran tilakoidterdapat enzim-enzim untuk
kelengkapan reaksi terang fotsintesis, dan di sinilah terdapatnya lorofil. Jadi
fungsi tilakoid adalah sebagai tempat berlangsungnya reaksi terang fotosintesis.
Sedangkan pada stroma terdapat enzim-enzim yang sangat penting untuk reduksi
CO2 menjadi kabohidrat. Jadi fungsi stroma adalah tempat berlangsungya reaksi
gelap fotosintesis.

b. Kromoplas
Warna kuning, merah, atau merah bata pada kromoplas disebabkan oleh
kandungan karotenoidnya. Kromoplas sering kali berasal dari kloroplas, namun
dapat pula berasal dari proplastida. Yang penting dalam diferensiasi kromoplas
adalah sintesis dan penempatan pigmen karotenoid seperti karotenoid (pada
wortel, Daucus) atau likopen (pada tomat. Lycopersicon). Perkembangan pigmen
berkaitan dengan modifikasi, bahkan perombakan sama sekali, tilakoid. Dalam
proses itu, globula (gelembung) lipid bertambah banyak. Dalam beberapa
kromoplas, pigmen disimpan dalam globula (cabe kuning, jeruk). Pada kromoplas
lain, pigmen berkumpul dalam fibril protein yang berjumlah banyak (cabe merah).

Bentuk ketiga dari pigmen adalah bentuk kristaloid. Pada tomat merah,
perkembangan likopen berbentuk kristal berkaitan dengan membran tilakoid.
Beberapa krislal menjadi amat panjang dan tilakoid memanjang, sementara
likopera dibentuk. Kristaloid karoten dalam akar wortel dibentuk sewaktu struktur
dalam plastida rusak dan tetap berhubungan dengan selubung lipoprotein.
Kromoplas tidak memiliki klorofil. Kromoplas sering berasal dari kloroplas,
seperti pada kulit buah jeruk yang berubah dari hijau menjadi merah kuning.
Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi, seperti kromoplas pada akar wortel yang
terbukti mampu berdeferensiasi menjadi kloroplas. Pigmen karoten hilang dan
tilakoid

yang

membentuk

klorofil

dapat

berkembang

dalam

plastida.

Kloromoplas memberi warna pada berbagai bagian alat tumbuhan. Namun, tidak
seluruh warna pada tumbuhan disebabkan oleh pigmen dalam plastida, sebab
dalam

cairan

vakuola

juga

dapat

ditemukan

sebagai

zat

warna.

Macam-macam pigmen pada kromoplas, misalnya :


Fikosianin menimbulkan warna biru misalnya pada Cyanophyta.
Fikoeritrin menimbulkan warna merah misalnya pada Rhodophyta.
Karoten menimbulkan warna keemasan misalnya pada wortel dan
Chrysophyta.
Xantofil menimbulkan warna kuning misalnya pada daun yang tua.
Fukosatin menimbulkan warna pirang misalnya pada Phaeophyta.
c. Leukoplas
Plastida ini berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan, terdiri
dari:
Amiloplas (untuk menyimpan amilum)
Di beberapa tempat tertentu, kloroplas membentuk butir pati besar sebagai
cadangan makanan, seperti pada umbi semu anggrek. Namun, jumlah cadangan
makanan terbesar dibentuk dalam leukoplas umbi akar, umbi batang, rizoma, dan
biji. Amilum atau pati dapatditunjukkan dengan mudah karena berwarna biru atau
hitam dengan iodium. Bila dipanaskan sampai 70C warna hilang dan menjadi
biru lagi setelah dingin kembali. Reaksi ini dianggap sebagai reaksi permukaan.
Butir besar menunjukkan lapisan yang mengelilingi sebuah titik di tengah, yakni
hilum. Hilum bisa berada di tengah butir pati atau agak ke tepi. Retakan yang
sering terlihat berarah radial dari hilum nampaknya terjadi akibat dehidrasi butir

pati. Terjadinya lapisan dianggap sebagai akibat letak molekul yang lebih padat di
awal pembentukan lapisan, dan secara bertahap menjadi lebih renggang di sebelah
luar. Hal itu menyebabkan perbedaan kadar air yang terkandung di dalamnya.
Jadi, adanya lapisan dianggap akibat perbedaan kadar air dalam lapisan yang
berturut-turut, sedangkan taraf kepadatan menyebabkan perbedaan indeks bias.
Dalam alkohol kuat, semua lapisan itu hilang, mungkin karena dehidrasi yang
meniadakan perbedaan taraf kepadatan. Pada pati serealia, terjadinya lapisan
bergantung pada irama harian. Pada kentang, perubahan berkala yang
mengakibatkan adanya lapisan berasal dari dalam (endogen). Dalam butir pati,
molekul tersusun radial sehingga menunjukkan sifat kristal. Sebab itu, jika pati
diamati dengan sepasang polariod dalam posisi silang akan tampak terang, kecuali
tanda silang yang pusatnya bertepatan dengan hilum butir tersebut. Pada biji yang
mulai berkecambah atau umbi yang mulai menumbuhkan pucuk, butir pati
mengalami pengikisan yang bermula dari luar dan lama-kelamaan habis terurai.
Pada butir pati kecil, hilum bertempat di pusat lapisan yang mengelilinginya. Pada
butir yang lebih besar, hilum biasanya menjadi eksentris (tidak di pusat). Jika
dalam plastida terbentuk lebih dari satu butir pati, maka butiran tersebut akan
segera saling menyentuh dan membentuk butir majemuk. Dengan demikian,
dikenal butir majemuk seperti pada pati gandum (Avena) dan padi (Oryza sativa),
pati setengah majemuk pada kentang, dan butir pati tunggal seperti pada pati irut (
Maranta). Jika butir pati mengisi sel hingga penuh, maka tepi-tepinya bersudut.
Posisi hilum, bentu dan ukuran butir, serta sifat butir tunggal atau majemuk
memungkinkan identifikasi spesies tumbuhan penghasil butir pati yang
bersangkutan.
Kebanyakan tumbuhan mewarisi plastida hanya dari induknya. Angiosperm
umumnya mewarisi plastida dari induk betina, sedangkan beberapa gimnospermae
mewarisi plastida dari induk jantan. Alga juga mewaisi plastida dari salah satu
induknya. Plastida pada alga, istilah leukoplas digunakan untuk semua jenis
plastid yang belum terpigmentasi. Fungsinya berbeda dari leukoplas pada
tumbuhan. Etioplas, amiloplas dan kromoplas hanya ada pada tumbuhan dan
bukan pada alga. Plastida pada alga mungkin juga berbeda dengan plastida pada
tumbuhan yang mana pada alga berisi pirenoid.

2.4 Struktur dan perkembangan kloroplas


Semua jenis plastida berasal dari butiran proplastida yang terdapat dalam
sel meristem dan sel telur. Plastida atau proplastida memperbanyak diri dengan
membelah. Dalam berbagai plastida, termasuk kloroplas, bisa ditemukan lipid
berbentuk globul (plastoglobuli) dan fitoferitin (senyawa besi-protein). Selain itu,
dilaporkan adanya tubuh protein amorf yang dibatasi oleh membran. Sistem
membran pada plastida disusun oleh sejumlah kantung yang dinamakan tilakoid.
Pada proplastid, sistem tilakoid merupakan yang paling rendah taraf
perkembangannya dan terdiri hanya dari beberapa tilakoid atau tak ditemukan
tilakoid sama sekali. Di saat plastida berdeferensiasi, membran dalam menguncup
membentuk vesikula pipih, kemudian berproliferasi (tumbuh,meluas) dan
membentuk tilakoid. Dalam kloroplas, tilakoid menempatkan dirinya menurut
susunan yang khas. Pada saat kloroplas berdeferensiasi, jumlah ribosom
meningkat, sedangkan pada leukoplas, produksi ribosom lengkap terhenti dan
jumlahnya

berkurang

sejak

awal

stadium

perkembangannya.

Dalam kloroplas, sistem tilakoid terdiri dari grana dan fret (tilakoid dalam
stroma). Setiap grana terdiri dari satu tumpukan tilakoid yang masing-masing
berbentuk cakram. Grana saling berhubungan dengan adanya jalinan fret dalam
stroma. Kini dianggap bahwa kedua jenis tilakoid saling berhubungan sehingga
ruang di dalamnya bersinambungan. Membran kloroplas terdiri dari lipid dan
protein dalam jumlah yang sama. Klorofil terdapat dalam membran tilakoid. Pada
membran itu banyak terdapat partikel persatuan luas. Jenis partikel tertentu
dianggap sebagai bagian dari membran yang dinamakan kuantosom, yakni satuan
morfologi untuk berlangsungnya reaksi fotosintesis yang memerlukan cahaya.
Namun, tampaknya kuantosom tidak perlu selalu berbentuk satu unit fungsi.
Selain sistem untuk menangkap cahaya matahari, dalam kloroplas jugan terdapat
enzim yang membantu fiksasi CO2 manjadi gula.
Pada pertumbuhan tinggi yang tumbuh di tempat gelap, daun serta batang
yang berkembang tampak pucat, disebut teretiolasi. Dalam keadaan seperti itu,
vesikula yang berasal dari membran dalam berkembang menjadi kerangka
parakristal yang disebut tubuh prolamela. Plastid seperti itu dinamakan etioplas.

Jika kemudian tumbuhan disimpan ditempat bercahaya, maka tubuh prolamela


berkembang menjadi sistem tilakoid yang khas bagi kloroplas. Sebagaimana
diutarakan di atas, baik plastida maupun mitokondria mengandung ADN dan
ribosom. Sebab itu, kedua organel tersebut memiliki kemungkinan untuk
berotonomi. Indikasi seperti itu mengakibatkan adanya hipotesis yang
menyatakan bahwa dalam perkembangan evolusi, plasida dan mitokondria berasal
dari prokariot (misalnya, sejenis alga biru) yang terkandung dalam sel eukariot
yang primitif dan di sana memantapkan diri sebagai tubuh simbiotik.
2.5 Peranan plastida pada proses fotosintesis
Tumbuhan hijau daun bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat memasak
atau mensintesis makanan langsung. dari senyawa anorganik. Tumbuhan
menyerap karbondioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang
diperlukan sebagai makanannya. Energi untuk menjalankan proses ini berasal dari
fotosintesis. Perhatikan persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa berikut ini:
6H2O + 6CO2 + cahaya C6H12O6 (glukosa) + 6O2
Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa
dan dapat pula digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini berlangsung melalui
respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan. Secara umum
reaksi yang terjadi pada respirasi seluler adalah kebalikan dengan persamaan di
atas. Pada respirasi, gula (glukosa) dan senyawa lain akan bereaksi dengan
oksigen

untuk

menghasilkan

karbondioksida,

air,

dan

energi

kimia.

Tumbuhan menyerap cahaya karena mempunyai pigmen yang disebut klorofil.


Pigmen inilah yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat dalam
organel yang disebut kloroplas. klorofil menyerap cahaya yang akan digunakan
dalam fotosintesis. Sebagian besar energi fotosintesis dihasilkan di daun tetapi
juga dapat terjadi pada organ tumbuhan yang berwarna hijau. Di dalam daun
terdapat lapisan sel yang disebut mesofil yang mengandung setengah juta
kloroplas setiap milimeter perseginya. Cahaya akan melewati lapisan epidermis
tanpa warna dan yang transparan, menuju mesofil, tempat terjadinya sebagian
besar proses fotosintesis. Permukaan daun biasanya dilapisi oleh kutikula dari lilin
yang bersifat anti air untuk mencegah terjadinya penyerapan sinar matahari

ataupun penguapan air yang berlebihan. Reaksi- Reaksi pada proses fotosintesis
pada tumbuhan, organ utama tempat berlangsungnya fotosintesis adalah daun.
Namun secara umum, semua sel yang memiliki kloroplast berpotensi untuk
melangsungkan reaksi ini. Di organel inilah tempat berlangsungnya fotosintesis,
tepatnya pada bagian stroma. Hasil fotosintesis (disebut fotosintat) biasanya
dikirim ke jaringan-jaringan terdekat terlebih dahulu. Pada dasarnya, rangkaian
reaksi fotosintesis dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang (karena
memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi
memerlukan karbon dioksida).

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Plastida merupakan organel yang amat dinamis dan mampu membelah, tumbuh
dan berdeferensiasi menjadi berbagai bentuk.
2. Plastida berfungsi untuk fotosintesis, dan juga untuk sintesis asam lemak dan
Terpen yang diperlukan untuk pertumbuhan sel tumbuhan
3. Tergantung pada fungsi dan morfologinya, plastida biasanya diklasifikasikan
menjadi kloroplas, leukoplas (termasuk amiloplas dan elaioplas), atau
kromopas.
4. Plastida maupun mitokondria mengandung ADN dan ribosom. Sebab itu, kedua
organel tersebut memiliki kemungkinan untuk berotonomi. Indikasi seperti itu
mengakibatkan adanya hipotesis yang menyatakan bahwa dalam perkembangan
evolusi, plasida dan mitokondria berasal dari prokariot (misalnya, sejenis alga
biru) yang terkandung dalam sel eukariot yang primitif dan di sana

memantapkan diri sebagai tubuh simbiotik.


5. Kebanyakan tumbuhan mewarisi plastida hanya dari induknya. Angiosperm
umumnya mewarisi plastida dari induk betina, sedangkan beberapa
gimnospermae mewarisi plastida dari induk jantan. Alga juga mewaisi plastida
dari salah satu induknya.
6. Pada tumbuhan, organ utama tempat berlangsungnya fotosintesis adalah daun.
Namun secara umum, semua sel yang memiliki kloroplast berpotensi untuk
melangsungkan reaksi ini. Di organel inilah tempat berlangsungnya
fotosintesis, tepatnya pada bagian stroma.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Kuliah2. http://www.vet.upm.edu.my/vpm2010/Kuliah2.pdf (16


januari 2012).
Campbell, N.A., dkk. 2002. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Sumardi dan Marianti, A. 2007. Biologi Sel. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Materi lain
Leukoplas adalah bagian dari plastida dan merupakan organel yang ditemukan di
dalam sel tumbuhan. Dalam bahasa Yunani, leuco artinya putih dan plast artinya
tinggal. Istilah tersebut pertama kali digunakan pada tahun 1886. Leukoplas
tidak memiliki pigmen, berbeda dengan kloroplas dan kromoplas, sehingga
leukoplas tidak memiliki warna (bening). Leukoplas tidak berwarna sehingga
mereka terletak di akar dan jaringan tanaman yang tidak berfotosintesis.
Leukoplas biasanya berguna untuk menyimpan cadangan, seperti amilum dan
protein pada sel-sel batang ketela dan sel-sel akar ketang.Leukoplas pertama kali
diteliti pada tahun 1883 oleh ahli biologi Jerman yang bernama Andreas Franz
Wilhelm Schimper, tetapi tidak ada yang tahun jenis mikroskop apa yang dia
gunakan.

Leukoplas berfungsi untuk menyimpan pati, lemak, atau protein yang kemudian
masing-masing disebut amiloplas, elaioplas, atau proteinoplas. Namun dalam
banyak jenis sel, leukoplas tidak memiliki fungsi penyimpanan melainkan untuk
sintesis asam lemak dan asam amino. Ukuran leukoplas jauh lebih kecil daripada
kloroplas.

Terdapat juga etioplas yang merupakan bagian dari kloroplas. Kloroplas yang
kekurangan cahaya dapat mengakibatkan kekurangan pigmen dan dapat dianggap
sebagai leukoplas. Setelah beberapa menit terpapar cahaya, etioplas kembali lagi
menjadi kloroplas dan berhenti menjadi leukoplas.