Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL

Skenario 4
Sistem Muskuloskeletal
(Blok Sistem Tubuh 2)
Oleh:
KELOMPOK V
Ketua
Scriber papan
Scriber meja
Anggota

: Dea Lili Anis N.P


:Meirsa Sawitri H.
: Fadinda Aisa
: Fadylla Nuansa C.B.
Devica Dwi Ratna P.
Yunita Fatma C.
Aulia Maghfira
Septiana P. Suciadi
Majid Maharsi
Kholisa

(141610101055)
(141610101050)
(141610101045)
(141610101046)
(141610101047)
(141610101048)
(141610101049)
(141610101052)
(141610101053)
(141610101054)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga tugas laporan tutorial 4 tentang Sistem Muskuloskeletal dapat terselesaikan
dengan baik.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini melibatkan bantuan
serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat penulis
mengucapkan terimakasih kepada :
1. drg. Sri Lestari, M.Kes selaku tutor yang telah membimbing jalannya diskusi tutorial
dan memberi masukan kelompok V Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Mengingat proses pembuatan karya tulis ilmiah ini dirasa masih jauh dari
kesempurnaan, kami selalu membuka diri untuk menerima kritik dan saran. Selanjutnya,
semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Aamiin.

Jember, 9 November 2014


Kelompok V

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................................................2


Daftar Isi .................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang ..4
1.2.Skenario ................................................................................................4
1.3.Rumusan Masalah .................................................................................4
1.4.Tujuan Pembelajaran..............................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Metabolisme ..............................................................................6
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Mapping ...............................................................................................9
3.2. Otot, Sendi, dan Saraf yang terlibat saat proses pengunyahan .....................9
3.3. Struktur dan Topografi Otot Rangka.......................................................14
3.4 Mekanisme Terjadinya Regulasi Potensial Aksi pada Otot........................15
3.5 Mekanisme Terjadinya Nyeri...................................................................... 16
BAB IV KESIMPULAN.......................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................20

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem muskuloskeletal adalah sistem yang berperan dalam menunjang,
melindungi, dan menggerakan tubuh. Rangka merupakan bingkai bagi struktur
tubuh dan melindungi organ internal yang rentan dari kerusakan. Otot dengan
bantuan sendi, ligamen, dan tendon memungkinkan tulang rangka bergerak.
Sistem muskuloskeleta terdiri atas 206 tulang, yang merupakan penyokong
gerakan tubuh dan melindungi organ internal. Sendi juga berperan dalam
sistem muskuloskeletal yang memungkinkan gerakan tubuh dua atau tiga
dimensi. Komponen lainnya adalah otot, yang memungkinkan gerakan tubuh
dan internal. Komponen yang terakhir adalah tendon dan ligamen, yang
menghubungkan tulang dengan otot. Sistem muskuloskeletal pada manusia
adalah
seluruh
kerangka
manusia
dengan
seluruh
otot
yang
menggerakkannya dengan tugas melindungi organ vital dan bertanggung
jawab atas lokomosi manusia. Lokomosi ialah pergerakan berbagai otot yang
dapat menggerakkan anggota badan dalam lingkup gerakan sendi tertentu.
Jadi yang dimaksud dengan system muskuloskeletal mencakup semua struktur
tulang, sendi, otot, dan struktur terkait seperti tendon, ligamen serta sistem
saraf perifer.

1.2 Skenario
KEBIASAAN BURUK NAGITA
Nagita datang ke tempat praktek dokter dengan keluhan nyeri pada
daerah pelipis kanan, rasa nyeri menjalar dan terasa tegang pada daerah
belakang telinga sampai bahu. Setelah dilakukan pemeriksaan pada otot-otot
pengunyahan selanjutnya dirujuk ke dokter gigi. Hasil pemeriksaan dokter gigi
pada system pengunyahannya menunjukkan adanya gigi-gigi pada rahang
bawah kiri yang hilang dan rusak, sehingga dia mengunyah satu sisi sebelah
kanan dan seringkali tidur miring ke kanan. Hasil anamnesis juga mendukung
kebiasaan mengunyah satu sisi yang telah berlangsung lama, sehingga
menjadi penyebab rasa nyeri tersebut.

1.3. Rumusan Masalah


1. Apa saja otot, sendi, dan saraf yang terlibat saat proses
pengunyahan?
2. Bagaimana struktur dan topografi otot rangka?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya regulasi potensial aksi pada otot?
4. Bagaimana mekanisme terjadinya nyeri?

1.4. Tujuan Pembelajaran


1. Mahasiswa mampu memahami saja otot, sendi, dan saraf yang
terlibat saat proses pengunyahan
2. Mahasiswa mampu memahami struktur dan topografi otot rangka
3. Mahasiswa mampu memahami mekanisme terjadinya regulasi
potensial aksi pada otot
4. Mahasiswa mampu memahami mekanisme terjadinya nyeri

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian
Muskuloskeletal terdiri dari kata Muskulo yang berarti otot dan kata Skeletal yang
berarti tulang. Muskulo atau muskular adalah jaringan otot-otot tubuh. Ilmu yang
mempelajari tentang muskulo atau jaringan otot-otot tubuh adalah Myologi. Skeletal atau
osteo adalah tulang kerangka tubuh. Ilmu yang mempelajari tentang muskulo atau jaringan
otot-otot tubuh adalah Osteologi.
2.2
Otot ( Muskulus / Muscle )
Otot merupakan organ tubuh yang mempunyai kemampuan mengubah energi kimia
menjadi energi mekanik/gerak sehingga dapat berkontraksi untuk menggerakkan rangka,
sebagai respons tubuh terhadap perubahan lingkungan.
Otot disebut alat gerak aktif karena mampu berkontraksi, sehingga mampu
menggerakan tulang. Semua sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi.
Otot membentuk 40-50% berat badan; kira-kira1/3-nya merupakan protein tubuh dan
-nya tempat terjadinya aktivitas metabolik saat tubuh istirahat. Terdapat lebih dari 600 buah
otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang
kerangka tubuh, dan sebagian kecil ada yang melekat di bawah permukaan kulit.
Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri dari :
1)
Fascia, adalah jaringan yang membungkus dan mengikat jaringan lunak. Fungsi fascia
yaitu mengelilingi otot, menyedikan tempat tambahan otot, memungkinkan struktur
2)
3)

bergerak satu sama lain dan menyediakan tempat peredaran darah dan saraf.
Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang mengembung.
Tendon (urat otot), yaitu kedua ujung yang mengecil, tersusun dari jaringan ikat dan
bersifat liat. Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon dibedakan sebagai
berikut.

a)

Origo, merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah

b)

kedudukannya ketika otot berkontraksi.


Inersio. Merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak ketika
otot berkontraksi.

2.2.1

Fungsi Sistem Otot


Pergerakan
Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak

dalam bagian organ internal tubuh.


Penopang tubuh dan mempertahankan postur
Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri

atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.


Produksi panas
Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panas untuk mepertahankan suhu
tubuh normal.

2.2.2

Ciri-Ciri Sistem Otot


Otot memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika sedang berelaksasi.

Kontraksi otot terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan. Relaksasi otot terjadi jika otot
sedang beristirahat. Dengan demikian otot memiliki 3 karakter, yaitu:

Kontrakstilitas, yaitu serabut otot berkontraksi dan menegang, otot menjadi lebih

pendek dari ukuran semula.


Ekstensibilitas, yaitu serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi

panjang otot saat rileks (memanjang).


Elastisitas, yaitu serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi
atau meregang.

2.2.3
1)
a.

Jenis-Jenis Otot
Berdasarkan letak dan struktur selnya, dibedakan menjadi:
Otot Rangka (Otot Lurik)
Otot rangka merupakan otot lurik, volunter (secara sadar atas perintah dari otak), dan

melekat pada rangka, misalnya yang terdapat pada otot paha, otot betis, otot dada.
Kontraksinya sangat cepat dan kuat.
Struktur mikroskopis otot skelet/rangka yaitu Memiliki bentuk sel yang panjang
seperti benang/filament. Setiap serabut memiliki banyak inti yang terletak di tepi dan
tersusun di bagian perifer. Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris
dengan lebar berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron.
b. Otot Polos
Otot polos merupakan otot tidak berlurik dan involunter (bekerja secara tak sadar).
Jenis otot ini dapat ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih dan uterus,

serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius,
dan sistem sirkulasi darah. Kontraksinya kuat dan lamban.
Struktur Mikroskopis Otot Polos
yaitu memiliki bentuk sel otot seperti
silindris/gelendong dengan kedua ujung meruncing. Serabut sel ini berukuran kecil, berkisar
antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah). Memiliki satu buah inti sel yang terletak di
tengah sel otot dan mempunyai permukaan sel otot yang polos dan halus/licin.
c. Otot Jantung
Otot Jantung juga otot serat lintang involunter, mempunyai struktur yang sama
dengan otot lurik. Otot ini hanya terdapat pada jantung. Bekerja terus-menerus setiap saat
tanpa henti, tapi otot jantung juga mempunyai masa istirahat, yaitu setiap kali berdenyut.
Memilki banyak inti sel yang terletak di tepi agak ke tengah. Panjang sel berkisar antara 85100 mikron dan diameternya sekitar 15 mikron.
2) Berdasarkan gerakannya dibedakan menjadi :
a.
Otot Antagonis, yaitu hubungan antarotot yang cara kerjanya bertolak belakang/tidak

searah, menimbulkan gerak berlawanan. Contohnya:


Ekstensor (meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan), misalnya otot bisep dan

otot trisep.
Depressor (gerakan ke bawah) dengan elevator (gerakan ke atas), misalnya gerak

b.

kepala menunduk dan menengadah.


Otot Sinergis, yaitu hubungan

antar

otot

yang

cara

kerjanya

saling

mendukung/bekerjasama, menimbulkan gerakan searah. Contohnya pronator teres


dan pronator kuadrus. (Marieb & Mallat 2001)
2.2.4

Mekanisme Kontraksi Otot


Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi sinar X,

Hansen dan Huxly (1995) mengemukakan teori kontraksi otot yang disebut model Sliding
Filamens. Model ini menyatakan bahwa kontraksi terjadi berdasarkan adanya dua set filamen
didalam sel otot kontraktil yang berupa filamen aktin dan miosin.
Ketika otot berkontraksi, aktin dan miosin bertautan dan saling menggelincir satu
sama lain, sehingga sarkomer pun juga memendek.
Dalam otot terdapat zat yang sangat peka terhadap rangsang disebut asetilkolin. Otot
yang terangsang menyebabkan asetilkolin terurai membentuk miogen yang merangsang
pembentukan aktomiosin. Hal ini menyebabkan otot berkontraksi sehingga otot yang melekat
pada tulang bergerak.
Saat berkontraksi, otot membutuhkan energi dan oksigen. Oksigen diberikan oleh
darah, sedangkan energi diperoleh dari penguraian ATP (adenosin trifosfat) dan kreatinfosfat.
ATP terurai menjadi ADP (adenosin difosfat) + Energi. Selanjutnya, ADP terurai menjadi

AMP (adenosin monofosfat) + Energi. Kreatinfosfat terurai menjadi kreatin + fosfat + energi.
Energienergi ini semua digunakan untuk kontraksi otot.
2.3

Ligamen
Ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakan jaringan

elastis penghubung yang terdiri atas kolagen. Ligamen membungkus tulang dengan tulang
yang diikat oleh sendi.
Beberapa tipe ligamen :
Ligamen Tipis
Ligamen pembungkus tulang dan kartilago. Merupakan ligament kolateral yang ada di
siku dan lutut. Ligamen ini memungkinkan terjadinya pergerakan.
Ligamen jaringan elastik kuning.
Merupakan ligamen yang dipererat oleh jaringan yang membungkus dan memperkuat sendi,
seperti pada tulang bahu dengan tulang lengan atas.

2.4

Sendi
Persendian adalah hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga dimaksudkan

untuk memudahkan terjadinya gerakan.


1. Synarthrosis (suture)
Hubungan antara dua tulang yang tidak dapat digerakkan, strukturnya terdiri atas fibrosa.
Contoh: Hubungan antara tulang di tengkorak.

2. Amphiarthrosis
Hubungan antara dua tulang yang sedikit dapat digerakkan, strukturnya adalah kartilago.
Contoh: Tulang belakang

3. Diarthrosis
Hubungan antara dua tulang yang memungkinkan pergerakan, yang terdiri dari struktur
sinovial. Contoh: sendi peluru (tangan dengan bahu), sendi engsel (siku), sendi putar (kepala
dan leher), dan sendi pelana (jempol/ibu jari).
2.4

Rangka (skeletal)
Sistem rangka adalah bagian tubuh yang terdiri dari tulang, sendi, dan tulang rawan

(kartilago)

sebagai

tempat

menempelnya

otot

dan

memungkinkan

tubuh

untuk

mempertahankan sikap dan posisi.


Tulang sebagai alat gerak pasif karena hanya mengikuti kendali otot. Akan tetapi
tulang tetap mempunyai peranan penting karena gerak tidak akan terjadi tanpa tulang.
2.3.1

Fungsi Rangka

Penyangga; berdirinya tubuh, tempat melekatnya ligamen-ligamen, otot, jaringan


lunak dan organ.

Penyimpanan mineral (kalsium dan fosfat) dan lipid (yellow marrow)

Produksi sel darah (red marrow)

Pelindung; membentuk rongga melindungi organ yang halus dan lunak.

Penggerak; dapat mengubah arah dan kekuatan otot rangka saat bergerak karena

2.3.2
a.
1)

adanya persendian.
Jenis Tulang
Berdasarkan jaringan penyusun dan sifat-sifat fisiknya, yaitu:
Tulang Rawan (kartilago)
Ada 3 macam tulang rawan, yaitu:

2)

Tulang Rawan Hyalin: kuat dan elastis terdapat pada ujung tulang pipa.
Tulang Rawan Fibrosa: memperdalam rongga dari cawan-cawan (tl. Panggul) dan

rongga glenoid dari skapula.


Tulang Rawan Elastik: terdapat dalam daun

telinga, epiglotis dan faring.

Tulang Sejati (osteon)


Tulang bersifat keras dan berfungsi menyusun berbagai sistem rangka. Permukaan

luar tulang dilapisi selubung fibrosa (periosteum). Lapis tipis jaringan ikat (endosteum)
melapisi rongga sumsum dan meluas ke dalam kanalikuli tulang kompak.
Secara mikroskopis tulang terdiri dari :
o Sistem Havers (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah, aliran
limfe)
o Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris)

o Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di antara lempengan-lempengan yang


mengandung sel tulang)
o Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan tempat difusi makanan sampai
ke osteon)
b.
1)
2)
c.
1)

Berdasarkan matriksnya, yaitu:


Tulang kompak, yaitu tulang dengan matriks yang padat dan rapat.
Tulang Spons, yaitu tulang dengan matriksnya berongga.
Berdasarkan bentuknya, yaitu:
Ossa longa (tulang pipa/panjang), yaitu tulang yang ukuran panjangnya terbesar.

2)

Contohnya os humerus dan os femur.


Ossa brevia (tulang pendek), yaitu tulang yang ukurannya pendek. Contohnya
tulang yang terdapat pada pangkal kaki, pangkal lengan, dan ruas-ruas tulang

3)

belakang.
Ossa plana (tulang pipih), yaitu tulang yang ukurannya lebar. Contohnya os scapula

4)

(tengkorak), tulang belikat, tulang rusuk.


Ossa irregular (tulang tak beraturan), yaitu tulang dengan bentuk yang tak tentu.

5)

Contohnya os vertebrae (tulang belakang).


Ossa pneumatica (tulang berongga udara). Contohnya os maxilla.

2.3.3 Sel Sel Penyusun Tulang


a.

Osteobast, merupakan sel tulang muda yang menghasilkan jaringan osteosit dan
mengkresikan fosfatase dalam pengendapan kalsium dan fosfat ke dalam matriks
tulang.

b.

Osteosit, yaitu sel- sel tulang dewasa yang bertindak sebagai lintasan untuk
pertukaran kimiawi melaui tulang yang padat.

c.

Osteoclast, yaitu sel-sel yang dapat mengabsorbsi mineral dan matriks tulang.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Mapping

3.2. Otot, Sendi, dan Saraf yang terlibat saat proses pengunyahan
Otot Pengunyahan :
1. Musculus Masseter

merupakan otot pengunyahan yang paling superficial , gemuk dan bertenaga tinggi.
origo : keluar dari permukaan inferior dan medial dari arcus zygomaticus, yang tersusun atas
os zygomaticum, proc. zygomaticus os maxillae dan proc. temporalis os zygomaticus.
Insersio : berinsersio pada permukaan lateralis inferior dari ramus dan angulus mandibulae
kerja otot : menutup mandibula dan mengaplikasikan gaya yang besar untuk mengunyak
makanan.

2, Musculus temporalis
merupakan otot yang berbentuk kipas besar dan pipih dengan serabut anterior vertikal
dan serabut posterior lebih horizontal.
origo : mucul dari fossa temporalis. dari sisni serabut serabut anterior ( medius ) mengarah
vertikal ke bawah sedang serabut posterior mengarah horizontal , kebanyakan anterior dan
agak inferior berjalan ke medial ke arcus zygomaticus
insersio : musculus temporalis berinsersio pada proc. coronoideus mandibule, permukaan
medial margo anterior dari ramus dan crista temporalis mandibulae melalui satu tendon yang
sama.
kerja otot : serabut ventrikal anterior berkontraksi mangangkat mandibula ( menutup mulut )

3. Musculus Pterygoideus Medialis


terletak pada permukaan medial ramus mandibulae
origo : permukaan medial lamina pterygoidea lateralis dan fossa pterygoidea di antara lamina
pterygoidea lateralis dan medialis proc. pterygoideus os spenoidale.
insersio : permukaan medial mandibula di regio triangular pada angulus dan di bagian
terdekat ramus tepat di atas angulus.
kerja otot : mengangkat mandibula / menutup mulut

4. Musculus pterygoideus lateralis


merupakan otot yang pendek tebal agak konus , terletak di kedalaman fossa temporalis dan
merupakan pergerakan utama mandibula selain mengatupkan rahang.

origo : keluar dari dua caput yang terletak pada os sphenoidale. caput yang kecil melekat
pada permukaan infratemporal ala major ossis sphenoidalis, caput inferior yang lebih besar
melekat pada permukaan lateral dari lamina pterigoidea lateralis pada os sphenoidale
insersio : cekungan di depan collum mandibulae yang disebut fovea pterygoidea dan ke
dalam margo anterior dari discus articularis.
kerja otot : protusi mandibula , depresi mandibula yang dilakukan dengan menarik diskus
articularis dan condylus ke depan dan bawah di atas eminentia articularis yang menggerakkan
mandibula ke inferior dan membatu merotasinya, dengan demikian membuka mulut.
5. M. Digastricus
Origo:

Venter

posterior

(Incisura

mastoideaossis temporalis, tendo- antara pada

Cornu minus ossis hyoidei) disarafioleh N. Mandibularis


Insertio:Venter anterior (Fossa digastricamandibulae) disarafi oleh N. Facialis
Fungsi: Menurunkan rahang bawah, memfiksasitulang lidah

Otot Pengunyahan Tambahan :


1. M. Buccinator (N. facialis)
Origo: Raphe pterygomandibulae
Insertio: Angulus oris
Fungsi: Meningkatkan tekanan dalam ronggamulut pada saat meniup dan mengunyah
2. M. Mylohyoideus(N. Trigeminus)
Origo: Linea Mylohyoidea Mandibulae
Insertio: Os. Hyoid
Fungsi: Mengangkat

dasar mulut dan lidah

pada saat menelan,

menurunkan

bawah

rahang

3. M. Geniohyoid(N.Hypoglossus)
Origo: Bertendo pendek dari spina mentalis mandibulae
Insertio: Permukaan depan Corpus ossis hyoidei
Fungsi: Memfiksasi tulang lidah, munurunkn rahang
4. M. Stylohyoideus (N. Facialis)
Origo: Procc. Styloideus ossis temporalis
Insertio: Tepi samping Corpus ossis hyoidei
Fungsi: Memfiksasi tulang lidah
Sendi yang terlibat saat Proses Pengunyahan :
Ligamen Sendi Temporomandibula
Ligamen temporomandibula lebih luas di bagian atasnya dari pada di bagian
bawahnya. Perlekatannya ke permukaan lateralis dari arkus zigomatikus dan ke tuberkulum
artikularis pada bagian atas. Di bagian bawah melekat ke kolum mandibula. Ligamen ini
berhubungan dengan kelenjar parotis dan kulit di sebelah lateral, sedangkan di sebelah medial
dengan ligamen kapsular. Ligamen sphenomandibula bentuknya tipis dan pipih, melekat ke
spina angularis os sphenoidalis pada bagian atas, melekat di bagian bawah sebelah lingual
dari foramen mandibula. Ligamen ini berhubungan dengan muskulus pterigoideus eksternus
di bagian atas, di bagian bawah dengan arteri dan vena alveolaris inferior, lobus kelenjar
parotis dan ramus mandibula. Di sebelah medial berhubungan dengan muskulus pterigoideus
internus. Ligamen stylomandibula bentuknya bulat dan panjang. Ligamen ini melekat ke
prosesus stiloideus os temporalis di bagian atas. Di bagian bawah melekat ke angulus
mandibula dan margo posterior dari ramus mandibula. Ligamen ini dengan muskulus maseter
dan kelenjar parotis pada bagian lateral. Di bagian medial dengan muskulus pterigoideus
internus dan kelenjar submandibularis.

3.3. Struktur dan Topografi Otot Rangka


Otot Rangka adalah otot - otot yang melekat pada rangka yang berfungsi untuk menggerakan
rangka pada tubuh manusia, sehingga memungkinkan manusia dapat bergerak atau
melakukan aktivitas.
Struktur Otot Rangka :
Otot Rangka tersusun/dibagun dari :
Fasciculus (serabut otot atau sub bagian otot yang terdiri dari Sel Otot).
Sel otot berbentuk organ panjang silindris dan beruas-ruas seperti batang tebu. Dimana setiap
ruas dikenal dengan Sarcomere. Dalam sel otot terdapat Dinding Sel Otot, yang disebut
Sarcolemma.
SIFAT DASAR GERAK OTOT RANGKA :
EKSTENSIBILITY :
Sifat dimana otot dapat memanjang (relaksasi) dan dapat memendek (berkontraksi).
CONTRACTIBILITY :
Sifat dimana otot memiliki kemampuan untuk memendek melawan tahanan dan
menghasilkan tegangan/tenaga (berkontraksi).
ELASTICITY :
Sifat dimana otot dapat kembali dalam panjang semula baik setelah memanjang atau diregang
dan setelah Mengalami pemendekan.
SIFAT/KEMAMPUAN KERJA OTOT RANGKA :
ANTAGONIS : kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek gerak berlawanan,
CONTOHNYA :
Gerak Ekstensor (meluruskan) dan Fleksor (membengkokkan), misalnya : meluruskan
dan membengkokkan kaki (lutut).
Gerak Abduktor (menjauhi badan) dan Adductor (mendekati badan) misalnya : gerak
tangan sejajar bahu dan sikap sempurna.

Gerak Depresor (ke bawah) dan Elavator (ke atas) misalnya gerak menundukan
kepala dan mengangkat kepala.

Gerak Supinator (menengadah) dan Pronator (menelungkup) / Gerak Berporos.


misalnya : gerak telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup

SINERGIS : kerja otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah.


CONTOHNYA :
Gerak Pronator Teres dan Pronator Kuadratus. (Menggenggam dan meluruskan jari)
KOMPONEN SEL OTOT RANGKA :

Cairan sel (Sarcoplasma)


Inti sel (Nucleus)

Mitokondria

Unsur kimia, seperti : Ca++ (ion Kalsium) Na++(ion Natrium) Mg++(ion


Magnesium), O2 (Oksigen), PC, Glukosa
(gula).

Miofilamen tebal MYOSIN dan Miofilamen tipis AKTIN. Komponen


Myosin dan Aktin merupakan salah satu komponen penting dalam proses
gerak, karena kedua filament ini merupakan sarana kontraksi pada otot.

3.4. Mekanisme Terjadinya Regulasi Potensial Aksi pada Otot


Tahapan potensial aksi adalah sebagai berikut :
1. Tahap Istirahat
Tahap ini merupakan potensial membran istirahat yang ada sebelum terjadinya potensial aksi.
Pada saat ini, membran dapat dikatakan terpolarisasi, karena selama tahap ini erlangsung,
potensial membrannya bersifat negatif dengan nilai sekitar -90 milivolt.
2. Tahap Depolarisasi
Pada tahap ini, membran secara tiba-tiba menjadi sangat permeabel terhadap ion natrium. Hal
ini menyebabkan kanal ion natrium terbuka dengan sepat dan sejumlah besar ion natrium
yang bermuatan positif berdifusi masuk ke dalam akson. Keadaan membran yang awalnya
terpolarisasi dengan nilai -90 milivolt secara cepat menjadi semakin positif, karena difusi
natrium sekaligus menetralisir keadaan tersebut. Hal ini meningkatkan potensial membran.
Aktifnya kanal ion natrium pada awal depolarisasi memunculkan suatu feedbac positif,
berupa trigger untuk terbukanya kanal-kanal ion natrium yang lain, sehingga natrium akan
terus berdifusi ke dalam akson hingga tercapai konsentrasi tertentu.

Pada serabut saraf besar (bermielin), sejumlah besar ion natrium yang berdifusi ke dalam
akson tersebut menyebabkan potensial mencapai nilai 0, atau bahkan melampaui nilai 0 itu
sendiri (menjadi sedikit positif). Namun pada serabut saraf kecil (tidak bermielin), difusi ion
natrium hanya mampu menyebabkan potensial membran meningkat hingga nilai dibawah 0,
dan tidak pernah melampaui sampai keadaan positif.
3. Tahap Repolarisasi
Tahapan ini berlangsung setelah tahap depolarisasi berakhir, dan membran menjadi lebih
permeabel terhadap ion kalium. Berakhirnya tahap depolarisasi adalah ketika kanal ion
natrium tertutup dengan cepat yang diikuti oleh pembukaan kanal ion kalium secara lambat.
Saat kanal ion kalium telah terbuka secara sempurna, sejumlah besar ion kalium akan
berdifusi keluar akson secara cepat. Hal ini menyebabkan potensial membran yang tadinya
menjadi positif karena depolarisasi kembali bersifat negatif, dan ketika sifat negatif itu telah
dicapai, kanal ion kalium akan kembali menutup secara lambat.
4. Hiperpolarisasi
Setelah tahap repolarisasi berakhir, dikenal suatu kondisi yang disebut positive after
potential. Keadaan ini merupakan kondisi potensial membran yang lebih negatif dari kondisi
istirahat. Terjadi beberapa milidetik setelah berakhirnya potensial aksi, terjadi akibat
lambatnya penutupan kanal ion K.
3.5. Mekanisme Terjadinya Nyeri
Mekanisme nyeri terdiri dari beberapa tahap, yakni :
1.
2.
3.
4.

Trasduksi
Transmisi
Modulasi
Persepsi

TRANSDUKSI
Pada nyeri nosiseptif, fase pertamanya adalah transduksi, konversi stimulus yang
intens apakah itu stimuli kimiawi seperti pH rendah yang terjadi pada jaringan yang
meradang , stimulus panas diatas 420C, atau kekuatan mekanis. Disini didapati
adanya protein transducer spesifik yang diekspresikan dalam neuron nosiseptif ini dan
mengkonversi stimulus noksious menjadi aliran yang menembus membran, membuat

depolarisasi membran dan mengaktifkan terminal perifer. Proses ini tidak melibatkan
prostanoid atau produksi prostaglandin oleh siklo-oksigenase, sehingga nyeri ini, atau
proses ini, tidak dipengaruhi oleh penghambat enzim COX-2. Neuron transduksi
diperankan oleh suatu nosiseptor berupa serabut A- dan serabut C yang menerima
langsung suatu stimulus noksius. Serabut A- merupakan suatu serabut saraf dengan
tebal 1- 3 mm dan diliputi oleh selaput mielin yang tipis. Kecepatan transimisi impuls
pada serabut A- adalah sekitar 20m/s. Seperti serabut sensorik lainnya, serabut A-
merupakan perpanjangan dari pesudounipolar neuron dimana tubuh selnya berlokasi
pada akar ganglion dorsal. Sedangkan serabut C merupakan suatu serabut saraf
dengan tebal 1 mm dan tidak memiliki mielin. Karena serabut ini sangat tipis dan
karena tidak memiliki mielin yang mempercepat transmisi saraf, kecepatan konduksi
rendah, dan suatu rangsang berespon dengan kecepatan 1m/s. Serabut A- dan serabut
C tidak hanya berbeda dalam struktur dan kecepatan transmisinya namun mereka juga
mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mendeteksi suatu stimulus. Serabut A-
mentransimsisikan nyeri tajam dan tusukan. dan serabut C menghantarkan sensasi
berupa sentuhan, getaran, suhu, dan tekanan halus. Walaupun dengan adanya
perbedaan ini, kedua tipe serabut ini memiliki jalur yang sama dalam menghantarkan
stimulus yang terdeteksi. Rute dari impuls saraf ini biasanya disebut dengan jalur
nyeri. Selain dari peran serabut A- dan serabut C, disebutkan juga terdapat peran
dari neuroregulator yang merupakan suatu substansi yang memberikan efek pada
transmisi stimulus saraf, biasanya substansi ini ditemukan pada nosiseptor yaitu akhir
saraf dalam kornu dorsalis medulla spinalis dan pada tempat reseptor dalam saluran
spinotalamik. Neuroregulator ada dua macam, yaitu neurotransmitter dan
neuromodulator. Neurotransmitter mengirimkan impuls elektrik melewati celah
synaptik antara 2 serabut saraf dan neuromodulator berfungsi memodifikasi aktivitas
saraf dan mengatur transmisi stimulus saraf tanpa mentransfer secara langsung sinyal
saraf melalui synaps

TRANSMISI
Disini terjadi transfer informasi dari neuron nosiseptif primer ke neuron di kornu
dorsalis, selanjutnya ke neuron proyeksi yang akan meneruskan impuls ke otak.
Transmisi ini melibatkan pelepasan asam amino decarboxilic glutamate, juga peptida
seperti substantia P yang bekerja pada reseptor penting di neuron post-sinaptic.
Selanjutnya ini akan memungkinkan transfer yang cepat dari input mengenai
intensitas, durasi, lokasi, dari stimuli perifer yang berbeda lokasi. Secara umum, ada
dua cara bagaimana sensasi nosiseptif dapat mencapai susunan saraf pusat, yaitu
melalui traktus neospinothalamic untuk nyeri cepat spontan dan traktus
paleospinothalamic untuk nyeri lambat. Pada traktus neospinothalamik, nyeri secara
cepat bertransmisi melalui serabut A- dan kemudian berujung pada kornu dorsalis di
medulla spinalis dan kemudian bersinapsis dengan dendrit pada neospinothlamaik
melalui bantuan suatu neurotransmitter. Akson dari neuron ini menuju ke otak dan
menyebrang ke sisi lain melalui commisura alba anterior, naik keatas dengan columna
anterolateral yang kontralateral. Serabut ini kemudian berakhir pada kompleks

ventrobasal pada thalamus dan bersinapsis dengan dendrit pada korteks


somatosensorik. Nyeri cepat-spontan ini dirasakan dalam waktu 1/10 detik dari suatu
stimulus nyeri tajam, tusuk, dan gores. Pada traktus paleospinothalamik, nyeri lambat
dihantarkan oleh serabut C ke lamina II dan III dari cornu dorsalis yang dikenal
dengan substantia gelatinosa. Impuls kemudian dibawa oleh serabut saraf yang
berakhir pada lamina V, juga pada kornu dorsalis, bersinaps dengan neuron yang
bergabung dengan serabut dari jalur cepat, menyebrangi sisi berlawanan via
commisura alba anterior dan naik ke aras melalui jalur anterolateral. Neuron ini
kemudian berakhir dalam batang otak, dengan sepersepuluh serabut berhenti di
thalamus dan yang lainnya pada medulla, pons, dan substantia grisea sentralis dari
tectum mesencephalon. Sebenarnya terdapat beragam jalur khusus hantaran sinyal
dari kerusakan jaringan dibawa ke berbagai tujuan, dimana dapat memprovokasi
proses kompleks. Transmisi nosiseptif sentripetal memicu berbagai jalur :
spinoreticular, spinomesencephalic, spinolimbic, spinocervical, dan spinothalamic.
Traktus spinoreticular membawa jalur aferen dari somatosensorik dan viscerosensorik
yang berakhir pada tempat yang berbeda pada batang otak. Traktus
spinomesencephalik mengandung berbagai proyeksi yang berakhir pada tempat yang
berbeda dalam nukleus diencephali. Traktus spinolimbik termasuk dari bagian
spinohipotalamik yang mencapai kedua bagian lateral dan medial dari hypothalamus
dan kemudian traktus spinoamygdala yang memanjang ke nukleus sentralis dari
amygdala. Traktus spinoservikal, seperti spinothalamik
membawa sinyal ke thalamus.
MODULASI
Pada fase modulasi terdapat suatu interaksi dengan system inhibisi dari transmisi nosisepsi
berupa suatu analgesic endogen. Konsep dari system ini yaitu berdasarkan dari suatu sifat,
fisiologik, dan morfologi dari sirkuit yang termasuk koneksi antara periaqueductal gray
matter dan nucleus raphe magnus dan formasi retikuler sekitar dan menuju ke medulla
spinalis
Analgesik endogen meliputi :
- Opiat endogen
- Serotonergik
- Noradrenergik (Norepinephric)
Sistem analgesik endogen ini memiliki kemampuan menekan input nyeri di kornu
posterior dan proses desendern yang dikontrol oleh otak seseorang, kornu posterior
diibaratkan sebagai pintu gerbang yang dapat tertutup adalah terbuka dalam menyalurkan
input nyeri. Proses modulasi ini dipengaruhi oleh kepribadian, motivasi, pendidikan, status
emosional & kultur seseorang.
PERSEPSI
Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri, pada saat individu menjadi
sadar akan adanya suatu nyeri, maka akan terjadi suatu reaksi yang kompleks. Persepsi ini
menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga kemudian individu itu dapat
bereaksi.
Fase ini dimulai pada saat dimana nosiseptor telah mengirimkan sinyal pada formatio
reticularis dan thalamus, sensasi nyeri memasuki pusat kesadaran dan afek. Sinyal ini

kemudian dilanjutkan ke area limbik. Area ini mengandung sel sel yang bisa mengatur
emosi. Area ini yang akan memproses reaksi emosi terhadap suatu nyeri. Proses ini
berlangsung sangat cepat sehingga suatu stimulus nyeri dapat segera menghasilkan emosi.

BAB IV
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
1. Mescher AL. Junqueiras basic histology text & atlas. 13th ed. China: McGraw-Hill; 2013.
p. 415-18.
2. Eroschenko VP. diFiores atlas of histology with functional correlations. 11th ed.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2008. p. 355-26.

3. Martini FH, Nath JL, Bartholomew EF. Fundamentals of anatomy & physiology. 9th ed.
San Francisco: Pearson Education; 2012. p. 960-3.
4. Pratiwi, D.A. 2000. Buku Penuntun Biologi untuk SMU kelas 2. Jakarta. Penerbit Erlangga.
5. Ethel, Sloane. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC