Anda di halaman 1dari 4

Kelompok :

TUGAS PLKH
PERDATA

Yunindya Rahendhini

13040704004

Febrihana Shinta Dewi

13040704005

Yusron Andrianto F

13040704006

Agung Hendro Susilo

13040704007

Ratnasari Dwi P

13040704008

Kasus Arbitrase Internasional antara Yani Haryanto (Indonesia)


melawan E.D & F.Man (Inggris)
Ilustrasi Kasus
Pada tahun 1982 pengusaha Indonesia Yani Haryanto bertindak sebagai pembeli
mengadakan perjanjian jual beli gula dengan eksportir Inggris E.D. & F, Man Sugar Ltd. Sugar
quay London, sebagai penjual. Perjanjian tersebut dituangkan dalam dua bentuk kontrak dagang,
yaitu:
1) Contract for White Sugar No. 7458, tanggal 12 Februari 1982.
untuk jual beli gula sebanyak 300.000 metrik ton;
2) Contract for White Sugar No. 7527, tanggal 23 Maret 1982
untuk jual beli gula sebanyak 100.000 metrik ton.
Kedua kontrak tersebut ditandatangani oleh kedua belah pihak pada bulan Februari dan Maret
1982. Dalam kedua kontrak di atas para pihak bersepakat bahwa segala sengketa yang terjadi
dalam pelaksanaan perjanjian jual beli gula ini, kedua belah pihak sepakat diselesaikan oleh
suatu Dewan Arbitrase Gula atau yang disebut The Council of the Refened Sugar
Association yang berkedudukan di London berdasarkan ketentuan dalam The Rules of the
Refened Sugar Association Relating to Arbitration.
Pelaksanaan kontrak ternyata mengalami kegagalan karena Yani Haryanto menolak
melaksanakan perjanjian jual beli tersebut dengan alasan bahwa import gula itu merupakan
kewenangan BULOG (Badan Urusan Logistik). Sedangkan perorangan tidak dibenarkan
melakukan import gula. Larangan itu tertuang di dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 43

Tahun 1971 tentang Pengadaan, penyaluran, dan pemasaran gula, dan Keppres No. 39 Tahun
1978 tentang Kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang pengadaan beras, gula, dan lain-lain oleh
BULOG.
Ketika perjanjian disepakati kedua belah pihak tidak mengetahui kedua Keppres tersebut dan
baru diketahui setelah perjanjian hendak dilaksanakan. Atas dasar hal itu maka Yani Haryanto
membatalkan kedua perjanjian jual beli gula yang telah disepakatinya.
Akibat tindakan Yani Haryanto membatalkan perjanjian jual beli yang telah disepakati, maka
E.D. & F. Man Sugar Ltd. sebagai pihak eksportir gula di London menuntut ganti kerugian.
Sengketa ini di Inggris ditangani oleh The English High Court London. Kemudian The English
Court of Appeal London yang memberi putusan bahwa sesuai dengan kontrak yang disepakati,
maka yang berwenang menyelesaikan sengketa ini adalah Dewan Arbitrase Gula yang disebut
The Council of the Refened Sugar Association di London.
Para pihak lain Yani Haryanto (sebagai Penggugat) mengajukan gugatan perdata kepada E.D.
& F. Man Sugar Ltd., London (sebagai Tergugat) melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk
membatalkan pelaksanaan perjanjian jual beli gula dimaksud.
Dalil yang dikemukakan Penggugat di dalam gugatan antara lain: Karena ada larangan dari
pemerintah mengenai import gula oleh perorangan, artinya perjanjian jual beli gula tersebut
mengandung kausa/sebab yang dilarang oleh peraturan, sehingga menjadi batal demi hukum.
Setelah melalui rangkaian pemeriksaan dan pembuktian, akhirnya PN Jakarta Pusat dengan
Putusan Nomor 499/Pdt/G/VI/1988/PN.JKT.PST. Memutuskan memenangkan Yani Haryanto
selaku Penggugat dan membatalkan dengan segala akibat hukumnya Contract for White Sugar
No. 7458, tanggal 12 Februari 1982 dan Contract for White Sugar No. 7527, tanggal 23 Maret
1982.
Dalam tingkat banding Pengadilan Tinggi Jakarta telah menjatuhkan putusan dalam perkara
antara E.D. & F. Man Sugar Ltd., London. (Pembanding semula Tergugat) melawan Yani
Haryanto (Terbanding semula Penggugat). Melalui putusan No. 486/Pdt/1989/PT.DKI, tanggal
14 Oktober 1989 Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan putusan PN Jakarta Pusat tanggal 29
Juni 1989 No. 499/Pdt/G/1988/PN.Jkt.Pst. yang dimohonkan banding tersebut.

Tidak puas terhadap kedua putusan pengadilan sebelumnya, E.D. & F. Man Sugar Ltd.,
London mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung namun Mahkamah Agung
memberikan putusan No. 1205 K/Pdt/1990, tanggal 4 Desember 1991 yang intinya menolak
permohonan kasasi yang diajukan oleh E.D. & F. Man Sugar Ltd., London. Penolakan MA
terhadap kasasi melihat lima pertimbangan putusan tersebut, antara lain sebagai berikut:
1. Mahkamah Agung mengaitkan masalah ini dengan Penetapan Mahkamah Agung RI No.
1/Pen/Exr/Arb.Int/Pdt/1991, tanggal 1 Maret 1991, yang meskipun dalam perkara ini
tidak disinggung, akan tetapi hal tersebut bertalian erat dengan perkara tersebut;
2. Bahwa Penetapan tersebut di atas mengenai mengabulkan permohonan exequatur
(otorisasi untuk menjalankan tugas) terhadap putusan The Queens Council of the English
Bar di London, 17 November 1989;
3. Bahwa suatu Penetapan exequatur hanya bersifat prima facie, jadi penetapan tersebut
tidak merupakan penilaian hukum terhadap isi dari perjanjian yang dibuat;
4. Bahwa suatu Penetapan exequatur ini hanya memberikan title eksekutorial bagi Putusan
Arbitrase Asing tersebut, yang pelaksanaannya tunduk kepada Hukum Acara di
Indonesia;
5. Bahwa karena itu, dengan adanya Putusan Mahkamah Agung dalam perkara ini, maka
Penetapan Mahkamah Agung RI No. 1/Pen/Exr/Arb.Int/Pdt/1991 tanggal 1 Maret 1991,
menjadi irrelevant untuk dilaksanakan.
_____________________________________________________________________________________

Problematika
Putusan Arbitrase Luar Negeri dibatalkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Pembahasan
Pada kasus Yani Haryanto Menurut kontrak bisnisnya, apabila timbul sengketa dagang
dari kedua belah pihak akan diselesaikan menurut lembaga Arbitase dalam hukum Inggris.
Karena Yani Haryanto wan prestasi, maka Arbitrase London memutuskan agar supaya Yani
Haryanto membayar ganti kerugian sejumlah 3 juta poundsterling kepada

ED & F. Man Ltd.

Namun Yani Haryanto justru mengajukan gugatan ke pengadilan Jakarta Pusat dan Yani
Haryanto diputuskan memenangkan sengketa dagang itu.
Berkaitan dengan kasus tersebut, Pada Konvensi New York 1958 terdapat Asas Final dan
Binding. Asas ini dapat dilihat pada pasal III Konvensi York 1958 yang dimana Asas tersebut
yang menyatakan putusan Arbitrase itu mempunyai sifat binding, yang dimana binding adalah
putusan arbitrase itu mempunyai kekuatan mengikat bagi para pihak sebagai putusan pengadilan
yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Putusan Arbitrase bersifat final, dimaksudkan bahwa
putusan itu merupakan putusan tingkat terakhir dan tidak ada upaya hukum banding atau kasasi
terhadapnya. Kepada Negara yang diminta untuk melaksanakan putusan Arbitrase yang bersifat
binding dan final itu, berkewajiban untuk melaksanakannya sesuai dengan hukum acara di
negara tempat dimana eksekusi itu dimohon untuk dilaksanakan. Konvensi New York Tahun
1958 telah diratifikasi oleh Negara Indonesia melalui Keputusan Presiden RI No. 34 Tahun 1981.
Dengan ratifikasi itu berarti seluruh ketentuan yang berkenaan dengan pengakuaan dan
pelaksanaan putusan Arbitrase Asing dalam konvensi dapat diberlakukan dalam wilayah Negara
Republik Indonesia.
Dengan adanya PERMA No. 1 Tahun 1990 ini menjadi penting untuk menegatasi
permasalahan eksekusi putusan Arbitase Asing di pengadilan, yang selalu tidak bisa
dilaksanakan. Perma ini menjadi pedoman peraturan pelaksanaan eksekusi Arbitrase Asing di
wilayah Negara Indonesia. Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 1990 menjadi jawaban atas
kekosongan hukum pada aturan mengenai tata cara pelakasanaan putusan Arbitrase Asing di
wilayah hukum Indonesia. Tidak ada lagi alasan

dari Mahkamah Agung untuk

menolak

eksekusi putusan Arbitrase Asing di Indonesia sepanjang masih memenuhi syarat yang ada pada
pasal 3 Perma No. 1 Tahun 1990. Perma ini dapat digunakan juga untuk melaksanakan eksekusi
yang sebelumnya ditolak oleh MA dan Jangkauan kekuatan berlakunya Perma ini untuk putusan
Arbitrase yang pernah diajukan tetapi ditolak oleh MA (sebelum berlakunya Perma) dan terhadap
putusan arbitrase asing yang sama sekali belum pernah dimintakan eksekusi.