Anda di halaman 1dari 15

BAB III

PERENCANAAN KOMPONEN

4.1

Perhitungan Pasangan Roda Gigi Pada Tahapan Reduksi Awal


Pasangan roda gigi pada tingkat kecepatan pertama ini terdiri dari pinion

yang terletak pada poros input dan roda gigi yang terletak pada poros kedua. Jarak
antara poros transisi dan poros output direncanakan sebesar 80 mm. Penerusan
daya dan putaran dari poros transisi sebesar 8,45 KW / 8500 rpm ke poros kedua
dilakukan oleh pasangan roda gigi ini yang bersifat reduksi dengan perbandingan
transmisinya sebesar 6,6 yang data ini didapatkan pada bab sebelumnya.
Penerusan daya dan putaran akan berlangsung dengan baik apabila ukuran
dari roda gigi yang direncanakan mampu untuk meneruskan daya dan putaran
yang direncanakan. Berikut ini adalah langkah-langkah perhitungan dimensi dari
roda gigi, pemilihan bahan roda gigi dan pemeriksaan keamanan pemakaian roda
gigi.

a. Diameter jarak bagi sementara pinion dan roda gigi (d0)


Diameter jarak bagi sementara pinion dan roda gigi dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan (1.1)
2a
1 i
2 80 mm

1 6,6

2a i
1 i
2 80 ( 6,6 )mm

1 6,6

d ' 01

d ' 02

d ' 01

d ' 02

d ' 01 21,05 mm

d ' 02 138,9 mm

16

b. Jumlah gigi dari pinion dan roda gigi (z)


Berdasarkan daya pada poros ini maka modul untuk roda gigi ini dapat
diperoleh diagram pemilihan modul. Dari diagram tersebut modul untuk roda gigi
ini dipilih sebesar 1,5. Dengan demikian jumlah gigi dari pinion dan roda gigi
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan (1.2) yaitu:
21,05 mm
1,5
z1 14

138,9mm
1,5
z 2 92,6

z1

z2

Jumlah gigi dari pasangan roda gigi adalah 14 dan 93

Gambar 3.1 Diagram pemilihan modul roda gigi lurus

Dengan mengetahui jumlah gigi, maka kita dapat mengetahui besar


diameter jarak bagi sebenarnya dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
(1.3) sebagai berikut:

17

d o1 m z1 1,5 14mm 21 mm dan


d o 2 m z 2 1,5 93mm 139,5 mm

c. Diameter kepala ( dk)


Diameter kepala dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (1.4)
sebagai berikut:
dk1 = (z1+ 2)m = (14 + 2) x 1,5 mm = 24 mm
dk2 = (z2+ 2)m = (93 + 2) x 1,5 mm = 142,5 mm

d. Diameter kaki ( df )
Diameter kaki dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (1.5)
sebagai berikut:
ck = 0,25 x 1,5 = 0,375 mm.
df1 = ( z1 2 )m 2 x ck = ( 14 2) x 1,5 2 x 0,375 = 17,25 mm
df2 = ( z2 2 )m 2 x ck = ( 93 2) x 1,5 2 x 0,375 = 135,75 mm

e. Tinggi gigi ( H )
Tinggi giogi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (1.6) sebagai
berikut:
H = 2 x m + ck = 2x 1,5 + 0.25= 3,25 mm

18

f. Factor bentuk gigi (Y)


Tabel 3.2 Faktor bentuk gigi
Jumla
h
Gigi
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Jumlah
Gigi

Jumlah
Gigi

0,201
0,226
0,245
0,261
0,276
0,289
0,295
0,302
0,308

19
20
21
23
25
27
30
34
38

0,314
0,320
0,327
0,333
0,339
0,349
0,358
0,371
0,383

43
50
60
75
100
150
300
batang
gigi

0,396
0,408
0,421
0,434
0,446
0,459
0,471
0,484

Y1 = 0,162
Y2 = 0,413

g. Kecepatan keliling roda gigi ( v)


Kecepatan keliling dari roda gigi dapat dihitung dengan mengunakan
persamaan (1.7) sebagai berikut:

d o1 n1 3,14 21 1360

1,42 m s
60 1000
60000

h. Factor koreksi terhadap kecepatan ( fc )


Semakin tinggi kecepatannya, semakin besar pula variasi beban atau
tumbukan yang terjadi, oleh karena itu perlu dilakukan koreksi terhadap gaya
yang terjadi pada roda gigi. Factor koreksi dapat dilihat pada tabel dibawah ini

19

Tabel 3.3 Faktor dinamis


Kecepatan rendah

fv

3
3 v

Kecepatan sedang

fv

6
6v

fv

Kecepatan tinggi

5,5
5,5 v

Berdasarkan tabel 3.3 diatas maka untuk roda gigi reduksi ini, factor
koreksinya dapat digunakan persamaan:

fv

3
3

0,68
3 v 3 1,42

i. Gaya tangensial roda gigi


Gaya tangensial roda gigi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan
(1.8) sebagai berikut:
Ft = 102Pd / v = (102 x 0,4) / 1,42 = 28,7 kg

j. Bahan roda gigi


Bahan roda gigi dapat kita pilih berdasarkan tabel 3.4. Berdasarkan tabel
tersebut bahan untuk:
Pinion

; FC30 B = 30 kg / mm2 HB = 200 a = 13 kg / mm2

Roda gigi ; FC25 B = 25 kg / mm2 HB = 160 a = 11 kg / mm2


Berdasarkan pemilihan bahan untuk pasangan roda gigi reduksi ini maka
beban lentur yang diizinkan adalah (Fb) :
Fb = a x m x Y x fv

20

F b1 = 13 x 1,5 x 0,162 x 0,68 = 2,1 kg


Fb2 = 11 x 1,5 x 0,413 x 0,68 = 4,6 kg
Tabel 3.4 tegangan lentur yang diizinkan pada bahan roda gigi

k. Lebar roda gigi (b)


Lebar roda gigi didapat dengan mengunakan persamaan (1.10):
b =Ft / Fmin
= 28,7 kg / 6,45 kg/mm = 4,45 mm, dibulatkan menjadi 5 mm.

l. Pemeriksaan keamanan
b / m = 5 / 1,5 = 3,3

kontruksi aman

21

d / b = 21 / 5 = 4,2

kontruksi aman

Dengan demikian roda gigi reduksi ini adalah aman untuk digunakan.
Dengan menggunakan cara perhitungan seperti di atas, hasil perhitungan
dari dua tingkat kecepatan dapat dilihat pada Tabel 3.5 dan dengan
mengasumsikan jarak poros kedua dengan poros output adalah 40 mm.

Tabel 3.5 Ukuran-ukuran roda gigi


Tingkat kecepatan
Keterangan
Diameter jarak
bagi sementara
pinion dan roda
gigi (do)
Jumlah gigi (Z)
Diameter jarak
bagi sebenarnya
(do)
Diameter kepala
(dk)
Diameter kaki
(df)
Tinggi gigi (H)
Faktor bentuk
gigi (Y)
Kecepatan
keliling roda gigi
(v)
Faktor koreksi
terhadap
kecepatan (fv)
Gaya tangensial
roda gigi (Ft)
Bahan
Lebar roda gigi
(b)

II

Pinion

Roda Gigi

Pinion

Roda Gigi

21,05 mm

138,9 mm

10,52 mm

69,47 mm

14

93

23

21 mm

139,5 mm

12 mm

68 mm

24 mm

142,5 mm

24 mm

75 mm

17,25 mm

135,75 mm

4,5 mm

61,5 mm

3,25 mm

3,25 mm

6,75 mm

6,75 mm

0,162

0,413

0,087

0,333

1,4 m/s

1,44 m/s

0,13 m/s

0,13 m/s

0,68

0,68

0,96

0,96

28,7 kg

28,7 kg

313,8 kg

313,8 kg

FC30

FC25

FC30

FC15

5 mm

5 mm

30 mm

30 mm

22

4.2

Poros dan Spline

1. Poros input
Daya yang besar mungkin diperlukan pada saat start atau mungkin juga
beban yang terus berkerja setelah start, maka dalam perencanaan ini diambil
faktor koreksi ( f c ) yang terdapat pada tabel 3.1
Tabel 3.1 faktor koreksi daya yang akan ditransmisikan, f c
fc
1,2-2,0
0,8-1,2
1,0-1,5

Daya yang akan ditransmisikan


Daya rata-rata yang diperlukan
Daya maksimum yang diperlukan
Daya normal
(Sumber : Sularso, Elemen Mesin)
Untuk daya rencana ( Pd ) :
Pd =f c . P

(kW)

Dimana :
Pd

= daya rencana

fc

= faktor koreksi
= 1.0 ( daya maksimum yang diperlukan ).

= daya yang ditransmisikan (kW)

= 0,37 kW
Maka daya rencana :
Pd

= 1.0 x 74,97
= 0,37 kW

23

Momen puntir terjadi karena adanya putaran poros akan mengalami


puntiran atau momen puntir (T). Pada poros yang memindahkan daya sebesar P =
0,37 kW, pada putaran n = 1360 rpm, maka pada poros momen puntir sebesar:

T = 9,74 x 105

Pd
n

Dimana :
T = momen puntir yang terjadi
Pd

= daya rencana (kW)

= 0,37 kW
n = putaran poros (rpm)
= 1360 rpm
Maka momen yang terjadi :
T = 9,74 x 105

0,37
1360

= 264,98 Kg.mm
Dalam perencanaan ini bahan yang dipilih untuk poros input adalah batang
baja karbon yang difinis dingin (sering dipakai untuk poros) yang lambangnya
S55C (Tabel 3.6) yang tegangan tariknya (B) sebesar 66 kg/mm2 dan faktor
keamanan Sf1 adalah 6,0.
Tabel 3.6 Baja karbon untuk kontruksi mesin dan baja batang yang ditarik dingin
Standar dan macam
Baja karbon
konstruksi mesin (JIS
G 4501)
Batang baja yang
difinis dingin

Lambang
S30C
S35C
S40C
S45C
S50C
S55C
S35C-D
S45C-D
S55C-D

Perlakuan
panas
Penormalan

24

Kekuatan
tarik(kg/mm2)
48
52
55
58
62
66
53
60
72

untuk poros
Keterangan

Ditarik dingin,
digerinda,
dibubut,
atau gabungan
antara hal-hal

tersebut

Sumber: Sularso, K Suga, DPDP Elemen Mesin,1997, hal 3

Pengaruh ini dimasukkan dalam perhitungan yang dinyatakan dengan Sf 2,


pada perencanaan ini faktor Sf2 diambil sebesar 2,0, dari data-data diatas dapat
ditentukan tegangan geser yang diizinkan (a) dapat diketahui dengan
menggunakan persamaan (2.11) sebagai berikut:

B
66

5,5
Sf 1 Sf 2 6 2
kg/mm2

faktor momen puntir Kt diambil sebesar 1 (Tabel 3.7), sementara itu faktor
koreksi untuk momen lentur Cb diambil sebesar 2 (Tabel 3.8). Semua faktor ini
akan digunakan dalam perhitungan diameter poros dengan memakai persamaan
(2.12) sebagai berikut berikut:

ds=

5,1
. Kt . Cb. T
a

1/ 3

5,1

5,5 1 2 264,98

1/ 3

= 7,89 mm
Tabel 3.7 Faktor momen puntir
Cara pembebanan
Beban dikenakan secara halus
Terjadi sedikit kejutan
Beban dikenakan dengan kejutan dan tumbukan besar
Sumber: Sularso, K Suga, DPDP Elemen Mesin,1997, hal 8

Kt
1,0
1,0 1,5
1,5 3,0

Tabel 3.8 Faktor koreksi untuk momen lentur


Cara pembebanan
Diperkirakan akan pemakaian dengan beban lentur
Diperkirakan tidak terjadi beban lentur
Sumber: Sularso, K Suga, DPDP Elemen Mesin,1997, hal 8

25

Cb
1,2 2,3
1,0

Diameter poros harus dipilih dari Tabel 3.9, dari tabel tersebut didapatkan
bahwa diameter 7,89 mm tidak terdapat dalam tabel, oleh karena itu diameter
poros dipilih sebesar 8 mm.

Tabel 3.9 Diameter poros


4

10
11

4,5

*11,2
12

*12,5

*5,6

14
(15)
16
(17)
18
19
20
22

6
*6,3

7
*7,1
8
9

*22,4
24
25

40

28
30
*31,5
32

45

35
35,5

55
56

38

60

42

48
50

63
65
70
71
75
80
85
90
95

100
(105)
110
*112
120
125
130
140
150
160
170
180
190
200
220

*224
240
250
260
280
300
*315
320
340

400

355
360
380

560

Keterangan :

420
440
450
460
480
500
530

Tanda* menyatakan bahwa bilangan yang


bersangkutan dipilih dari bilangan standar

Bilangan didalam kurung hanya dipakai untuk


bagian

dimana

akan

dipasang

bantalan

gelinding

600
630

Sumber: Sularso, K Suga, DPDP Elemen Mesin,1997, hal 9

Momen puntir yang bekerja pada poros, mengakibatkan terjadinya


tegangan geser pada poros, dapat dihitung dengan mengunakan persamaan (2.13):

5,1T 5,1 264,98

2,64
d s3
8 3
kg/mm2

Sebuah poros aman digunakan apabila tegangan geser yang diizinkan yang
dikoreksi lebih besar dari tegangan geser yang dihitung atas dasar poros tanpa alur
pasak, faktor Cb dan Kt.

a Sf 2 5,5 2 11
C b K t 2 1 2,64 5,28
a Sf 2 C b K t

26

Berdasarkan perhitungan diatas maka poros yang telah dihitung adalah aman dan
layak untuk digunakan.
Tabel 3.11 Ukuran penampang spline
Cara kerja

6 spline
D = 0.90 D

4 spline
D = 0.85 D

10 spline
D = 0.01 D

Permanen

W = 0.25 D

W = 0.24 D

W = 0.156 D

h = 0.05 D

h = 0.075 D

h = 0.045 D

D = 0.85 D

D = 0.75 D

D = 0.56 D

W = 0.25 d

W = 0.241 D

W = 0.155 D

h = 0.075 D

H = 0.125 D

h = 0.07 D

pada putaran
sebelum bekerja

Pada putaran ketika


bekerja

D = 0.80 D

D = 0.81 D

W = 0.25 D

W = 0.156 D

h = 0.10 D

H = 0.095 D

Sumber : Sularso. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Jakarta:


Pradnya Paramita, 1987, hal 7

Dalam perencanaan ini spline yang mengikat poros dan roda gigi
direncanakan berjumlah 6 buah. Menurut Alex-Valance (Design of Machine
Member, 1951, hal 174), untuk spline berjumlah 6 buah dan pergeseran roda gigi
berlangsung ketika poros sedang bekerja, maka hubungan antara diameter poros
dengan diameter spline adalah: ds = 0,80 x D (Tabel 3.11).

Untuk poros ini ukuran spline yang diperlukan adalah sebagai berikut:
Diameter spline (D)

= ds / 0,80 = 8 / 0,80 = 10 mm

Lebar spline (w)

= 0,25 x D = 0,25 x 10 = 2,5mm

Tinggi spline (l)

= 0,10 x D = 0,10 x 8 = 0,8 mm

Bahan yang digunakan untuk spline adalah sama dengan bahan poros, karena
spline menyatu dengan poros.

27

- Poros kedua
Poros kedua yang merupakan poros yang meneruskan daya yang di
reduksi, kemudian di reduksi kembali untuk mendapatkan putaran output yang
diinginkan, bekerja dengan daya 0,37 kW dan putaran yang bekerja pada poros ini
adalah 206 rpm. Dalam perencanaan ini bahan yang dipilih untuk poros kedua
adalah batang baja yang ditarik dingin dengan lambangnya S55C-D (Tabel 3.1)
yang tegangan tariknya (B) sebesar 72 kg/mm2 dan faktor keamanan (Sf1) adalah
6,0.
Pada perencanaan ini faktor Sf2 diambil sebesar 1,5, dari data-data diatas
dapat ditentukan tegangan geser yang diizinkan (a ) untuk poros yaitu:

B
72

8
Sf 1 Sf 2 6 1,5
kg/mm2

Pembebanan yang akan dialami oleh poros dikenakan dengan sedikit


kejutan pada waktu pemindahan tingkatan kecepatan, oleh karena itu faktor
momen puntir Kt diambil sebesar 1,5 (Tabel 4.8), sementara itu faktor koreksi
untuk momen lentur Km diambil sebesar 1,5 (Tabel 4.9), karena poros dibuat
bertangga. Semua faktor ini akan digunakan dalam perhitungan diameter poros
dengan memakai persamaan berikut:

5,1
ds
a

K m M

kT T

5,1

2 6556,02

1,5 12662

23,89 mm

Diameter poros 23,89 mm tidak terdapat dalam tabel, oleh karena itu diameter
poros dipilih sebesar 24 mm.

28

Momen puntir yang bekerja pada poros, mengakibatkan terjadinya tegangan geser
pada poros sebesar:

5,1T 5,1 12186,81

4,67
d s3
(24) 3
kg/mm2

Sebuah poros aman digunakan apabila tegangan geser yang diizinkan yang
dikoreksi lebih besar dari tegangan geser yang dihitung atas dasar poros tanpa alur
pasak, faktor Cb dan Kt.

a Sf 2 8 1.5 12
C b K t 1,5 2 3,98 11,94
a Sf 2 C b K t

Berdasarkan perhitungan diatas maka poros yang telah dihitung adalah


aman dan layak untuk digunakan.
Dalam perencanaan ini spline yang mengikat poros output dan roda gigi
direncanakan berjumlah 6 buah. Maka ukuran dari spline adalah sebagai berikut:
Diameter poros (ds)

= 0,80 x D

Diameter spline (D)

= ds / 0,80 = 25 / 0.80 = 30 mm

Lebar spline (w)

= 0,25 x D =0,25 x 30 = 7,50 mm

Tinggi spline (h)

= 0,10 x D = 0,10 x 30 = 3 mm

Bahan untuk spline adalah sama dengan bahan poros yaitu S55C-D, karena spline
menyatu dengan poros.

29

30