Anda di halaman 1dari 24

Konsep Kehilangan dan

Berduka

Di susun oleh :
Hanum Rosmanawati Kastar
(1250014094)

Prodi D-III Kebidanan


Tahun Akademik 2014-2015

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Sepanjang daur kehidupan tidak terlepas dari situasi yang dapat
mempengaruhi respon emosi individu. Salah satu situasi yang mempengaruhi emosi
individu adalah kehilangan, baik kehilangan yang dapat diantisipasi maupun yang
tidak dapat diantisipasi. Kehilangan dan berduka adalah hal yang esensial dan normal
dalam kehidupan manusia membiarkan pergi melepaskan dan terus melangkah terus
terjadi ketika individu menjalani tahap pertumbuhan dan perkembangan normal
dengan mengucapkan selamat tinggal kepada orang, impian dan benda-benda yang
disayangi.
Kehilangan dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang
bersifat universal dan unik secar individual. Hidup adalah serangkaian kehilangan
pencapaian. Seorang anak yang mulai belajar berjalan mencapai kemandiriannya
dengan mobilitas. Seorang lansia dengan perubahan fisual dan pendengaran mungkin
kehilangan keterandalan dirinya. Penyakit dan perawatan di rumah sakit sering
melibatkan berbagai kehilangan.
Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang unuiversal dan
kejadian yang sifatnya unik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup
seseorang. Kehilangan dan berduka merupakan istilah yang dalam pandangan umum
berarti sesuatu kurang enak atau nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat disebabkan
karena kondisi ini lebih banyak melibatkan emosi dari yang bersangkutan atau
disekitarnya.
Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan berduka
sedikit demi sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami proses ini ada
keinginan untuk mencari bentuan kepada orang lain.

Berduka dilihat sebagai suatu keadaan yang dinamis dan selalu


berubah-ubah. Duka cita tidak berbanding lurus dengan keadaan
emosi, pikiran maupun perilaku seseorang. Duka cita adalah suatu
proses yang ditandai dengan beberapa tahapan atau bagian dari
aktivitas untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu : menolak (denial),
marah (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression),
dan menerima (acceptance).

B. Rumusan Masalah
2.1 Kehilangan dan Berduka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa pengertian Kehilangan dan Berduka?


Apa saja jenis-jenis Kehilangan dan Berduka?
Apa saja lima kategori Kehilangan dan Berduka?
Apa saja tahap-tahap Kehilangan dan Berduka?
Bagaimana factor-faktor yang mempengaruhi Kehilangan dan Berduka?
Apa saja tipe-tipe Kehilangan dan Berduka?
Bagaimana dampak Kehilangan dan Berduka?
Apa saja tanda-tanda dan gejala Kehilangan dan Berduka?

2.2 Kritis
1. Apa Pengertian pasien kritis?
2. Apa perioritas pasien kritis?

2.3 Paliatif
1. Apa Perawatan paliatif?
2. Apa Jenis-jenis kegiatan paliatif?
2.4 Penyakit Terminal
1. Apa Pengertian Penyakit Termina?
2. Apa Kriteria penyakit terminal?
3. Apa Jenis-jenis penyakit terminal?
2.5 Sakaratul Maut
1. Apa Asuhan pada klien sakaratul maut?
2. Apa Penatalaksanaan asuhan?
3. Apa Tanda-tanda kematian?

C. Tujaun Masalah
2.1 Kehilangan dan Berduka
1. Untuk mengetahui pengertian Kehilangan dan Berduka
3

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Untuk mengetahui jenis-jenis Kehilangan dan Berduka


Untuk mengetahui liam kategori Kehilangan dan Berduka
Untuk mengetahui tahap-tahap Kehilangan dan Berduka
Untuk mengetahui factor-faktor Kehilangan dan Berduka
Untuk mengetahui tipe-tipe Kehilangan dan Berduka
Untuk mengetahui dampak Kehilangan dan Berduka
Untuk mengetahui tanda-tanda dan gejala Kehilangan dan Berduka

2.2 Kritis
1.
2.

Untuk Mengetahui pengertian pasien kritis


Untuk mengetahui perioritas pasien kritis

2.3 Paliatif
1.

Untuk Mengetahui perawatan paliatif

2.

Untuk Mengetahui jenis-jenis kegiatan paliatif

2.4 Penyakit Terminal


1.

Untuk Mengetahui pengertian penyakit terminal

2.

Untuk Mengetahui kriteria penyakit terminal

3.

Untuk Mengetahui jenis-jenis penyakit terminal

2.5 Sakaratul Maut


1.

Untuk Mengetahui asuhan pada klien sakaratul maut

2.

Untuk Mengetahui Penatalaksanaan asuahan

3.

Untuk Mengetahui tanda-tanda kematian

Bab II
Pembahasan
2.1Kehilangan dan Berduka
2.1.1 Pengertian Kehilangan dan Berduka
a. Pengertian Kehilangan
Menurut Lambert, 1985 Kehilangan adalah suatu keadaan individu
yang berpisah dengan suatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak
ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan.
Menurut Lyus Yosep dalam buku keperawatan jiwa 2007,
Kehilangan adalah suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang
4

sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau
keseluruhan
Kehilangan (Loss) adalah suatu situasi actual maupun potensial
yang dapat dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang
sebelumnya ada, baik sabagian atau keseluruhan, atau terjadi perubahan
dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan
pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama rentang
kehidupannya. Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan. Respon
terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respon individu
terhadap kehilangan sebelumnya (Potter dan Perry, 1997)
Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa
tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga,
sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.
Kehilangan terjadi apabila sesuatu atau seseorang tidak dapat lagi
di temui,diraba,didengan,diketahui,atau dialami. Tipe dari kehilangan
mempengaruhi tingkat distress. Misalnya, kehilangan benda mungkin tidak
menimbulkan distress yang sama ketika kehilangan seseorang yang dekat
dengan kita. Namun demikian setiap individu berespon terhadap
kehilangan secara berbeda. Kematian seorang anggota keluarga mungkin
menyebabkan distress lebih besar dibandingkan kehilangan hewan
peliharaan, tetapi bagi seseorang yang hidup sendiri kematian hewan
peliharaan menyebabkan distres emosional yang lebih besar dibanding
dengan sodaranya yang sudah tidak pernah ketemu selama bertahun-tahun
b. Berduka
Berduka (Grieving) adalah reaksi emosional dari kehilangan dan
terjadi bersamaan dengan kehilangan baik karena perpisahan, perceraian
maupun kematian. Bereavement adalah keadaan berduka yang ditunjukan
selama individu melewati reaksi. Berduka adalah respon emosi yang
diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan
sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur dall.

Berduka

merupakan

respon

normal

pada

semua

kejadian

kehilangan. Dukacita adalah proses kompleks yang normal meliputi


respond an perilaku emosional, fisik,spiritual,social
Berduka merupakan respon normal pada

semua

kejadian

kehilangan. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka
diantisipasi dan berduka disfungsional.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan
pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun
yang

dirasakan

seseorang,

hubungan/kedekatan,

objek

atau

ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih


dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan
pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu
kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, objek dan
ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal,
abnormal, atau kesalahan/kekacauan.

2.1.2 Jenis-jenis Kehilangan dan Berduka


1. Actual Loos
Kehilangan yang dapat dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, sama dengan
individu yang mengalami kehilangan. Contohnya mobil yang hilang, dll
2. Perceived Loss
Perasaan individual, tetapi menyangkut hal hal yang tidak dapat diraba atau

dinyatakan secara jelas.


Kehilangan yang abstrak. Atau kehilangan yang tidak dapat dikenal orang lain

hanya diri kita yang mengetahui. Contohnya harga diri, dl


3. Phychical Loss
Kehilangan fisik. Contohnya kecelakaan kaki di amputasi, dll
4. AnticipatoryLoss
Perasaan kehilangan terjadi sebelum kehilangan terjadi.Individu memperlihatkan
perilaku kehilangan dan berduka untuk suatu kehilangan yang akan berlangsung.
Sering terjadi pada keluarga dengan klien (anggota) menderita sakit terminal.
Tipe dari kehilangan dipengaruhi tingkat distres. Misalnya, kehilangan benda
mungkin tidak menimbulkan distres yang sama ketika kehilangan seseorang yang
dekat dengan kita. Nanun demikian, setiap individunberespon terhadap kehilangan
secara berbeda.kematian seorang anggota keluargamungkin menyebabkan distress
6

lebih besar dibandingkan kehilangan hewan peliharaan, tetapi bagi orang yang
hidup sendiri kematian hewan peliharaan menyebaabkan disters emosional yang
lebih besar dibanding saudaranya yang sudah lama tidak pernah bertemu selama
bertahun-tahun. Kehilangan dapat bersifat aktual atau dirasakan. Kehilangan yang
bersifat actual dapat dengan mudah diidentifikasi, misalnya seorang anak yang
teman bermainya pindah rumah. Kehilangan yang dirasakan kurang nyata dan
dapat di salahartikan ,seperti kehilangan kepercayaan diri atau prestise.

5. Psychologis loss
Kehilangan kejiwaan. Contohnya Putus cinta, dll

2.1.3 Lima Kategori Kehilangan dan Berduka


1.

Kehilangan Objek Eksternal


Kehilangan benda eksternal mencakup segala kepemilikan yang telah menjadi
using, berpindah tempat, di curi,atau rusak karena bencana alam. Bagi seorang
anak benda tersebut mungkin berupa boneka atau selimut, begi seorang dewasa
mungkin berupa perhiasan atau aksesori pakaian. Kedalaman berduka yang
dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang bergantung pada nilai yang
dimiliki orang tersebut terhadap benda yang dimilikinya, dan kegunaan dari
benda tersebut.

2.

Kehilangan Lingkungan Yang Telah Dikenal


Kehilangan yang berkaitan dengan perpisahan dari lingkungan yang telah
dikenal mancakup meninggalkan lingkungan yang telah dikenal selama periode
tertentu atau kepindahan secara permanen. Contohnya termasuk ke kota baru,
atau perawatan di rumah sakit. Kehilangan melalui perpisahan dari lingkungan
yang telah dikenal dapat terjadi melalui situasi maturasional, misalnya ketika
seorang lansia pindah keruang perawatan, atau situasi situasional, contohnya
kehilangan rumah akibat bencana alam atau mengalami cedera atau penyakit.

3.

Kehilangan Orang Terdekat

Orang terdekat mencakup orang tua, pasangan, anak-anak, saudara sekandung


guru,pendeta, teman, tetangga, dan rekan kerja,. Artis atau atlet yang terkenal
mungkin menjadi orang terdekat bagi orang muda. Riset telah menunjukan
bahwa banyak orang menganggap hewan peliharaan sebagai orang terdekat.
Kehilangan dapat terjadi akibat perpisahan , pindah, melarikan diri, promosi di
tempat kerja, dan kematian.

4.

Kehilangan Aspek Diri


Kehilangan aspek diri dapat mencakup bagian tubuh, fungsi fisiologi, atau
psikologis. Kehilangan bagian tubuh dapat mencakup anggota gerak, mata,
rambut, gigi, payudara. Kehilangan fungsi fisiologis mencakup kehilangan
control kandung kemih atau usus, mobilitas, kekuatan , atau fungsi sensoris.
Kehilangan Fungsi psikologis termasuk kehilangan ingatan, rasa humor, harga
diri, percaya diri, kekuatan, respek, atau cinta. perkembangan, atau situasi.
Kehilangan seperti ini dapat menurunkuan kesejahteraan individu,. Orang
tersebut tidak hanya mengalami kedukaan,akibat kehilangan, tetapi juga dapat
mengalami perubahan permanen dalam citra tubuh dan konsep diri.

5.

Kehilangan Hidup
Doka ( 1993 ) menggambarkan respons terhadap penyakit yang mengancam
hidupke dalam 4 fase. Fase prediagnostik terjadi ketika di ketahui ada gejala
klien atau factor resiko penyakit. Fase akut berpusat pada krisisdiagnosis. Klien
dihadapkan pada serangkaian keputusan, termasuk medis interpersonal,
psikologis seperti halnya cara menghadapi awal krisis penyakit. Dalam fase
kronis klien bertempur dengan penyakit dan pengobatannya, yang sering
melibatkan serangkaian krisis yang di akibatkannnya. Akhirnya terjadi
pemulihan atau fase terminal. Kadang dalam fase akut atau kronis seseorang
dapat mengalami pemulihan. Klien yang mengalami fase terminal ketika
kematian bukan lagi halnya kemungkinan,tetapi itu sudah pasti terjadi. Pada
setiap hal dari penyakit ini klien dan keluarga dihadapkan dengan kehilangan
yang beragam dan terus berubah.
8

2.1.4 Tahap-Tahap Kehilangan dan Berduka


Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi
pada perilaku dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut:
Danial => Anger => Bargaining => Depression => Acceptance
1. Penyangkalan (Denial)
Menyangkal adalah respons segera terhadap kehilangan baru atau kehilangan
yang mengancam.Respon fisiologis dapat mencakup kelemahan muscular,
tremor, menghela napas, ruam kulit, atau dingin dan pucat, berkeringat banyak,
anoreksia, dan ketidaknyamananIndividu bertindak seperti seolah tidak terjadi
apa-apa dan dapat menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan.
Pernyataan seperti Tidak, tidak mungkin seperti itu, atau Tidak akan terjadi
pada saya! umum dilontarkan klien.
Implikasi Bidan: Dukung kebutuhan emosi tanpa memperkuat penyangkalan.
Tawarkan diri untuk tetap bersama klien, tanpa mendiskusikan alas an perilaku
atau kebutuhan untuk mengatasi, kecuali klien mengawalinya. Tawarkan klien
perawatan dasar seperti makanan, minuman, oksigensi, kenyamanan, dan
keamanan.
2. Kemarahan (Anger)
Individu mengekspresikan marah dan di tunjukan kepada keluarga. Individu
mempertahankan kehilangan dan mungkin bertindak lebih pada setiap orang
dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Pada fase ini orang
akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Hal ini
merupakan koping individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan
menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan.
9

Implikasi Bidan: Berikan pedoman antisipasi tentang perasaan dan


intensitasnya yang mereka alami sebagai bagian dari kedukaan. Fokuskan
terutama poada kemarahan,Jangan mengambil hati kemarahan yang dilontarkan
klien. Penuhi kebutuhan yang menyebabkan respons marah. Berikan dorongan
kepada klien dan keluarganya untuk mengekspresikan perasaan mereka
3. Penawaran (Bargaining)
Individu berkeinginan untuk melakukan apa saja untuk menghindari
kehilangan atau mengubah prognosis atau nasib.Individu membuat penawaran
dengan yang maha kuasa. Individu menerima bentuk terapi baru.
Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau
jelas untuk mencegah kehilangan. Pada tahap ini, klien sering kali mencari
pendapat orang lain.
Implikasi Bidan: Beriakan informasi yang di perlukan untuk membuat
keputusan.
4. Depresi (Depression)
Realitas dan sifat katetapan dari kehilangan telah dikenali. Kebingungan,
kurang motivasi, tidak menunjukan minat, tidak membuat keputusan, dan
menangis adalah umum. Menarik diri dari hubungan dan aktivitas sering terjadi.
Individu dapat menjadi pendiam dan tidak komunikatif. Timbul perasaan
kesepian, Mulai mengenang tentang masa lalu dan benda yang hilang. Individu
kehilangan minat dalam pena,pilan. Individu melakukan bunuh diri,atau
berperilaku tidak sehat seperti penggunaan obat secar berlebihan.Terjadi ketika
kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut.
Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan
mulai memecahkan masalah.
Implikasi Bidan: Berikan dukungan dan empati. Dukung menangis dengan
memberikan sentuhan yang mengomunikasikan kepedulian. Mendengarkan
dengan penuh perhatian, mengkaji resiko yang membahayakan diri dan rujuk ke
tetangga professional kesehatan mental jika di perluklan.

10

5. Penerimaan (Acceptance)
Individu menerima kehilangan dan kematian dan mulai merencanakan hal
tersebut. Individu dapat berbagi perasaan tentang kehilangan. Mengenang
kejadian masa lalu, Terjadi periode depresi, waktu yang baik untuk mulai
membandingkan dengan waktu buruk. Hidup mulai menjadi stabil.
Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross
mendefinisikan sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi
kenyataan dari pada hanya menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa.
Implikasi Keperawatan: Berikan kesempatan untuk berbagi perasaan secara
verbal, dalam bentuk tulisan, bentuk seni, atau dengan rekaman. Biarkan dan
dorong pengungkapan sesering yang klien ingin lakukan, tunjukan penerimaan
kelabilan perasaan klien, bantu dalam mendiskusikan rencana masa mendatang

Tahapan
1. Penyangkalan (Denial)

Respon Perilaku
Menolak mempercyai bahwa
kehilangan itu terjadi.
Contoh:
Tidak,berita itu tidak benar anak
saya nanti juga akan kembali

11

mungkin belum mau pulang saja


Tidak siap menangani masalah
yang berhubungan dengan praktik
atau procedural
Contoh:
Saya tidak apa-apa, sakit-sakit
saja, itu dokter salah periksanya
untuk

apa

saya

mengikuti

anjurannya
Klien atau keluarga langsung

2. Kemarahan (Anger)

marah
Contoh :
Jangan suka bawa berita yang
tidak benar, kalau tidak tahu

3. Penawaran (Bargaining)

pasti.
Jangan bicara, itu!
Bahkan orang berkata
Tuhan tidak adil

Meminta
perundingan
(menawar)

untuk

kehilangan
Contoh :
Kenapa
saya

menghindari

mengizinkan

pergi. Kalau saja dia dirumah


tentu ia tidak kena bencana itu?
Mengekspresikan perasaan
kesalahnnya atau takut hukuman
atas dosa yang lalu, kenyataan
atau kesan/imagined
Contoh:
Kalau saja saya dulu berobat
4.

Depresi (Depression)

12

atau control teratur mungkin.


Berkabung yang berlebihan
Tidak dapat melakukan apapun
Bicara sesuka hati
Menarik diri, termenung
Sedih, Menangis

Contoh :
Ia. Saya tidak mau anak saya
pergi lagi
Makan tidak makan kumpul saja
dirumah
Biar saja tidak perlu berobat
nanti juga sembuh
Tidak usah bawa RS, sudah
5. Penerimaan (Acceptance)

nasib saya
Mulai menerima arti kehilangan

Menurunnya

ketertarikan

dengan lingkungan
Tidak tergantung pada orang
yang mensupport
Mulai membuat perencanaan
Contoh :
Ya, Allah maha segalanya semua
atas kehendakNya
Hidup

sehat

itu

penting

mencegah lebih baik dari pada


mengobati
Ya akhirnya saya harus dioprasi
Apa yang harus saya lakukan
supaya saya cepat sembuh
Mulai sekarang saya harus bakit
kembali dan merencanakan masa
depa

13

2.1.5 Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

Kehilangan

dan

Berduka
1. Perkembangan
Anak- anak.
- Belum mengerti seperti orang dewasa, belum bisa merasakan.
- Belum menghambat perkembangan.
- Bisa mengalami regresi
Orang Dewasa
- Kehilangan membuat orang menjadi mengenang tentang hidup, tujuan
hidup, menyiapkan diri bahwa kematian adalah hal yang tidak bisa
dihindari.
2. Keluarga.
Keluarga mempengaruhi respon dan ekspresi kesedihan. Anak terbesar biasanya
menunjukan sikap kuat, tidak menunjukan sikap sedih secara terbuka. Kebutuhan
keluarga yang kehilangan membutuhkan hal-hal sebagai berikut:

Harapan
Perawatan yang terbaik sudah diberikan. Keyakinan bahwa mati adalah akhir
penderitaan dan kesakitan.
Partisipasi
Memberi perawatan. Sharing dengan staf perawatan.
Dukungan
Dengan dukungan seseorang bisa melewati kemarahan, kesedihan, dan
penyangkalan. Dukungan bisa digunakan sebagai koping dengan perubahan

yang terjadi.
Kebutuhan Spiritual
Berdoa sesuai dengan kepercayaan yang dianut. Mendapatkan kekuatan dari
Tuhan.

3. SosialEkonomi
Apabila yang meninggal merupakan penanggung jawab ekonomi keluarga, beraati
14

kehilangan orang yang dicintai sekaligus kehilangan secara ekonomi.Dan hal ini
bisa mengganggu kelangsungan hidup.
4. Pengaruh Kultural.
Kultur mempengaruhi manifestasi fisik dan emosi. Kultur barat menganggap
kesedihan adalah sesuatu yang sifatnya pribadi sehingga hanya diutarakan pada
keluarga, kesedihan tidak ditunjukan pada orang lain. Kultur lain menggagap
bahwa mengekspresikan kesedihan harus dengan berteriak dan menangis keraskeras.
5. Agama.
Dengan agama bisa menghibur dan menimbulkan rasa aman. Menyadarkan bahwa
kematian sudah ada dikonsep dasar agama. Tetapi ada juga yang menyalahkan
Tuhan akan kematian.
6. Penyebab Kematian
Seseorang yang ditinggal anggota keluarga dengan tiba-tiba akan menyebabkan
shock dan tahapan kehilangan yang lebih lama. Ada yang menganggap bahwa
kematian akibat kecelakaan diasosiasikan dengan kesialan.

2.1.6 Tipe-Tipe Kehilangan dan Berduka


Kehilangan dan berduka dibagi menjadi dua yaitu:
1. Aktual atau nyata
Mudah dikenal atau diidentifikasi oleh oaring lain, misalnya amputasi,
kematian orang yang sangat berarti atau di cintai
2. Persepsi
15

Hanya dialami oleh seseorang dan sulit untuk dapat dibuktikan, misalnya
seseorang

yang

berhenti

bekerja/

PHK,

menyebabkan

perasaan

kemandirian dan kebebasannya menjadi menurun.

2.1.7 Dampak Kehilangan dan Berduka


Kehilangan bisa mengakibatkan dampak dalam hidup seseorang seperti
berikut ini.
1. Pada masa anak-anak
Kehilangan dapat mengancam kemampuan untuk berkembang, kadang
akan timbul regresi serta rasa takut untuk ditinggalkan atau dibiarkan
kesepian.
2. Pada masa remaja atau dewasa muda
Kehilangan dapat menyebabkan disintegrasi dalam keluarga atau suatu
kehancuran keharmonisan keluarga.
3. Pada masa dewasa tua
Kehilangan khususnya kematian pasangan hidup dapat menjadi pukulan
yang sangat berat dan menghilangkan semangat hidup orang yang
ditinggalkan.

2.1.8 Tanda-tanda dan Gejala kehilangan dan Berduka


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ungkapan Kehilangan dan Berduka


Menangis
Gangguan Tidur
Kehilangan nafsu makan
Sulit berkonsentrasi
Karakteristik berduka yang berkepanjangan,yaitu:
Mengingkari kenyataan kehilangan terjadi dalam waktu yang lama
Sedih berkepanjangan
Adanya gejala fisik yang berat
Keinginan untuk bunuh diri

2.2 Pasien Kritis


16

2.2.1 Pengertian Pasien kritis


Pasien Kritis adalah Pasien tak stabil yang memerlukan terapi intensif,
mengalami gagal nafas berat, pasien bedah jantung, bedah thorak merupakan
indikasi untuk masuk ICU. (Murdiyanto, 2009). Pasien kritis yang mengalami
disfusi atau kegagalan satu atau lebih orga/system sehingga hidupnya
tergantung pada alat, monitoring serta terapi canggih.
ICU (Intensive Care Unit) adalah ruang rawat di rumah sakit yang
dilengkapi dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati
pasien dengan perubahan fisiologis yang cepat memburuk yang mempunyai
intensitas defek fisiologis satu organ ataupun mempengaruhi organ lainnya
sehingga merupakan keadaan kritis yang dapat menyebabkan kematian.

2.2.2 Perioritas pasien kritis

Pasien prioritas I
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis ,tidak stabil,yang
memerlukan perawatan inensif ,dengan bantuan alat alat ventilasi
,monitoring, dan obat obatan vasoakif kontinyu dan lain
pain.misalnya

pasien

bedah

kardiotorasik,atau

pasien

shock

septik.pertimbangkan juga derajat hipoksemia, hipotensi, dibawah


tekanan darah tertentu.

Pasien prioritas 2
pasien ini memerluakn pelayanan pemantauan canggih dari icu.jenis
pasien ini beresiko sehingga memerlukan terapi segera,karenanya
pemantauan intensif menggunakan metoda seperti pulmonary arteri
cateteter

sangat

menolong.misalnya

pada

pasien

penyakit

jantung,paru,ginjal, yang telah mengalami pembedahan mayor.pasien


prioritas 2 umumnya tidak terbatas macam terapi yang diterimanya.

Pasien prioritas 3
Kemungkinan sembuh kecil, alat icu kurang membantu. pasien jenis ini
sakit kritis dan tidak stabil, dimana status kesehatan sebelumnya,penyakit
yang mendasarinya atau penyakit akutnya, baik masing masing atau
17

kombinasinya,sangat
mendapat

mengurangi

manfaat

kemungkinan
dari

sembuh

dan

terapi

atau
icu.

contoh conoh pasien ini adalah pasien dengan keganasan metastasik


disertai penyulit infeksi pericardial tamponade,atau sumbatan jalan napas
atau pasien menderita penyakit jantung atau paru terminal disertai
komplikasi penyakit akut berat.pasien pasien prioritas 3 mungkin
mendapat terapi intensif untuk mengatasi penyakit akut berat.pasien
pasien prioritas 3 mungkin mendapat terapi intensif untuk mengatasi
penyakit akut,tetapi usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan
intubasi dan resusitasi kardio pulmoner.

2.3 Paliatif
2.3.1 Perwatan Paliatif
Pendekatan yang bertujuan memperbaiki kualitas hidup pasien dan
keluarga yang menghadapi masalah yang berhubungan dengan penyakit yang
dapat mengancam jiwa,

melalui pencegahan dan peniadaan melalui

identifikasi dini dan penilaian yang tertib serta penanganan nyeri dan
masalah-masalah lain, fisik, psikososial dan spiritual (KEPMENKES RI
NOMOR: 812, 2007).
Secara umum terapi paliatif adalah perawatan kesehatan terpadu yang
bersifat aktif dan menyeluruh, dengan pendekatan multi disiplin yang
terintegrasi antara dokter, dokter spesialis,perawat,terapis,dan petugas social
medis.

2.3.2 Jenis-jenis Kegiatan Perawatan Paliatif


1.
2.
3.
4.
5.

Penatalaksanaan nyeri,
penatalaksanaan keluhan fisik lain,
asuhan keperawatan,
dukungan psikologis, social, kultural dan spiritual,
dukungan persiapan dan selama masa dukacita (bereavement).

18

2.4 Penyakit Terminal


2.4.1 Pengertian Penyakit Terminal
Penyakit progresif yaitu penyakit yang menuju ke arah
kematian.
Contohnya seperti penyakit jantung,dan kanker atau penyakit
terminal ini dapat dikatakan harapan untuk hidup tipis, tidak ada lagi
obat-obatan, tim medis sudah give up (menyerah) dan seperti yang di
katakan di atas tadi penyakit terminal ini mengarah kearah kematian.
(White, 2002).

2.4.2 Kriteria Penyakit Terminal

Penyakit tidak dapat disembuhkan


Mengarah pada kematian
Diagnosa medis sudah jelas
Tidak ada obat untuk menyembuhkan
Prognosis jelek
Bersifat progresif

2.4.3 Jenis-jenis Penyakit Terminal


Adapun yang dapat dikategorikan sebagai penyakit terminal adalah:

Penyakit-penyakit kanker

Penyakit-penyakit infeksi

Congestive renal failure (CRF)

Stroke multiple sklerosis

Akibat kecelakaan fatal

AID

2.5 Sakaratul Maut


2.5.1 Asuhan pada klien sakaratul maut
Definisi

19

Perawatan pasien yang akan meninggal dilakukan dengan cara


memberi pelayanan khusus jasmaniah dan rohaniah sebelum pasien
meninggal.

Tujuan

Memberi rasa tenang dan puas jasmaniah dan rohaniah pada pasien

dan keluarganya
Memberi ketenangan dan kesan yang baik pada pasien disekitarnya.
Untuk mengetahui tanda-tanda pasien yang akan meninggal secara
medis bisa dilihat dari keadaan umum, vital sign dan beberapa tahaptahap kematian

2.5.2 Penatalaksanaan asuhan


Persiapan alat
a. Disediakan tempat tersendiri
b. Alat alat pemberian O2
c. Alat resusitasi
d. Alat pemeriksaan vital sign
e. Pinset
f. Kassa, air matang, kom/gelas untuk membasahi bibir
g. Alat tulis

Prosedur
a. Memberitahu pada keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
b. Mendekatkan alat
c. Memisahkan pasien dengan pasien yang lain
d. Mengijinkan keluarga untuk mendampingi, pasien tidak boleh
ditinggalkan sendiri
e. Membersihkan pasien dari keringat
f. Mengusahakan lingkungan tenang, berbicara dengan suara lembut
20

dan penuh perhatian, serta tidak tertawa-tawa atau bergurau disekitar


pasien
g. Membasahi bibir pasien dengan kassa lembab, bila tampak kering
menggunakan pinset
h. Membantu melayani dalam upacara keagamaan
i. Mengobservasi tanda-tanda kehidupan (vital sign) terus menerus
j. Mencuci tangan
k. Melakukan dokumentasi tindakan

2.5.3 Tanda-tanda kematian


Dini
Pernafasan terhenti, penilaian > 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi)
Terhentinya sirkulasi, penilaian 15 menit (nadi karotis tdk teraba)
Kulit pucat
Tonus otot menghilang dan relaksasi
Pembuluh darah retina bersegmentasi beberapa menit pasca kematian
Pengeringan kornea yang menimbulkan kekeruhan dalam 10 menit
Lanjut (Tanda pasti kematian)
Lebam mayat (livor mortis)
Kaku mayat (rigor mortis)
Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Pembusukan (dekomposisi)
Adiposera (lilin mayat)
mumifikasi

21

Bab III
Penutup
A. Kesimpulan
Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu
kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah
dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu
yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan.
NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan
berduka disfungsional.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman
individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,
hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya
kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
22

Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman


individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual
maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini
kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu: Aktual atau nyata dan persepsi.
Terdapat 5 katagori kehilangan, yaitu:Kehilangan seseorang seseorang yang dicintai,
kehilangan lingkungan yang sangat dikenal, kehilangan objek eksternal, kehilangan
yang ada pada diri sendiri/aspek diri, dan kehilangan kehidupan/meninggal.

Daftar Pustaka
http://komiteuap.files.wordpress.com/2011/05/sak-berduka-disfungsional-ok.pdf
(diakses 23 November 2014)
http://mianurlatifah.wordpress.com/mendampingi-pasien-kritis/
(diakses 24 November 2014)
Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan volume 1. Jakarta: EGC
Stuart and Sundeen. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa edisi 3. Jakarta: ECG
Saputran, Lyndon. 2013. Keburuhan Dasar Manusia.Tangerang Selatan:Binarupa
Aksara
Eni, Ambarwati, Ratn, Tri sunarsih.2009. KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi.
Jogjakarta : Nuha Medika
Marrelli, M. 2000. Buku saku Dokumentasi Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Vaughans, W, Bennita. 2011. Keperawatan Dasar. Yogyakarta: Rapha
.

23

24