Anda di halaman 1dari 12

MULTIPLIKASI TUNAS DARI TUNAS IN VITRO

Tanggal Praktikum: 12 April 2016


A. Tujuan Praktikum:
1. Melakukan penggandaan tunas yang efektif dan efisien pada eksplan anggrek dan
krisan
2. Mengetahui persiapan yang dilakukan sebelum penanaman eksplan
B. Landasan Teori
Menurut Rahayu (2016) teknik multiplikasi tunas merupakan teknik yang efisien
untuk reproduksi tumbuhan. Tunas, baik yang diperoleh dari tumbuhan yang hidup di
kondisi alamiah maupun in vitro dapat diinduksi untuk mengganda dengan perlakuan
tertentu. Penggandaan tunas pada umumnya memerlukan ZPT.
Menurut Basri (2008) Faktor yang turut menentukan keberhasilan pelaksanaan
kultur jaringan adalah genotipe (varietas) tanaman serta komposisi media. Selain itu
aspek penting yang harus diperhatikan pada komposisi suatu media yaitu kebutuhan
terhadap zat pengatur tumbuh, khususnya kombinasi dan konsentrasi dari zat pengatur
tumbuh yang digunakan. Dalam kultur jaringan, terdapat dua kelompok zat pengatur
tumbuh yang paling sering digunakan, yaitu auksin, seperti NAA dan IBA, serta sitokinin
seperti BAP.
Berdasarkan penelitian Basri (2008 ) Tingkat multiplikasi dan pertumbuhan
tanaman krisan berbeda untuk setiap varietas dan komposisi media yang dicobakan.
Komposisi media yang sesuai untuk multiplikasi tanaman krisan varietas Yellow Fuji,
Elen van Lengen dan Tawn Talk adalah media dasar Murashige dan Skoog yang
ditambahkan 0,25 ppm IBA dan 1,50 ppm BAP, sedangkan varietas White Fuji yaitu
media yang ditambahkan 0,50 ppm NAA dan 1,50 ppm BAP. Sehingga Pertumbuhan dan
multiplikasi tanaman dalam kultur jaringan sangat ditentukan oleh genotipe tanaman dan
komposisi media yang digunakan.
Menurut Henuhili dan Cahyaningrum (2012) Anggrek dapat diperbanyak secara
vegetatif dan generatif. Perbanyakan secara vegetatif akan menghasilkan bibit yang sama
persis dengan induknya sedangkan jika secara generatif maka hasilnya akan terlihat
keragaman pada keturunannya. Kultur meristem anggrek akan menghasilkan struktur

yang menyerupai protokorm (yang dihasilkan dari perkecambahan biji anggrek) maka
muncul istilah protokorm-like bodies (plb) untuk membedakannya dengan protokorm
dari perbanyakan generatif. Perbanyakan vegetatif anggrek dengan kultur meristem dapat
menggunakan media padat atau cair seperti pada Cattleya. Dalam media cair, perlu
penggojogan untuk memperlancar O2 dan transport nutrisi untuk eksplan. Media yang
digunakan bias beragam tergantung spesies. Media anggrek yang sering digunakan adalah
Vacin and Went serta Knudson C. Beberapa spesies memerlukan media yang khusus
tetapi juga ada yang dapat ditumbuhkan pada media MS. Selain kultur meristem,
perbanyakan anggrek secara vegetatif juga dapat dilakukan dengan menggunakan eksplan
daun muda, tunas dorman, bunga yang masih muda,kalus dari jaringan rhizome, bibit
muda dan nodia dari bibit yang mengalami etiolasi. Menurut Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya (2011) perkecambahan biji anggrek dalam kondisi in vitro
menunjukkan daya kecambah dan daya tumbuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan
perkecambahan biji anggrek dalam kondisi in vivo. Media yang seringkali digunakan
untuk menumbuhkan biji anggrek antara lain Knudson dan Vacin & Went. Pada
umumnya komposisi medium terdiri dari zat an-organik dalam bentuk garam, sumber
energi dalam bentuk gula seperti sukrosa, persenyawaan organik komplek seperti air
kelapa, tomat dan pisang serta arang aktif.
Menurut Kasli (2009) Tanaman krisan (Chrysathemum sp) merupakan salah satu
jenis tanaman hias sebagai bunga pohon dan tanaman pot yang populer di Indonesia yang
nilai ekonominya tinggi.

Salah satu kendala yang dihadapi dalam perkembangan

budidaya tanaman hias krisan adalah teknologi pembibitan yang mampu menyediakan
bibit yang bermutu tinggi dalam waktu relatif singkat dengan jumlah yang banyak.
Pemecahan masalah perbanyakan bibit tersebut dapat dilaksanakan dengan menguna-kan
metoda nonkonvesional melalui kultur jaringan, yaitu suatu cara perbanyakan bibit
dengan pemotongan jaringan yang berukuran kecil dan ditanam pada medium buatan
secara aseptik yang disebut juga mikropropagasi. Upaya perbanyakan bibit krisan melalui
kultur jaringan, memerlukan syarat mutlak untuk dilakukan yaitu mendapatkan komposisi
media yang sesuai, terutama konsentrasi dan jenis zat pengatur tumbuh yang
ditambahkan kedalam media.

C. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Tahapan penggandaan tunas yang efektif dan efisien?
2. Bagaimanakah persiapan yang dilakukan sebelum penanaman eksplan?
3. Bagaimanakah metode penanaman eksplan anggrek dan krisan?
D. Alat dan Bahan
1. Alat, meliputi:
Laminar Air Flow yang dilengkapi lampu UV
Botol kultur (volume 100 ml) dan penutup
Skalperl, pinset, dan cawan petri steril
Lampu spirtus
Sprayer volume 500 ml
2. Bahan, meliputi:
Tunas in vitro anggrek dan krisan
Media MS yang mengandung BA dan NAA dengan perbandingan tertentu
Spirtus dan alcohol 70%
E. Cara Kerja
Pembuatan Media MS
1. Semua larutan stok makronutrien dan mikronutrien A, B, C, D, E dan F (deskripsi larutan
stok makro dan mikronutrien A, B, C, D, dan E dicantumkan dalam lampiran) masingmasing 10 ml, ditambah vitamin 10 ml, gula 30 gram, agar MS 8 gram dilarutkan dalam
aquades sampai volume mencapai 1000 ml dalam setiap erlenmeyer (ada 4 erlenmeyer).
2. Kombinasi medium A dengan penambahan ZPT berupa BAP 7,5 ml+ NAA 5 ml,
kombinasi medium B dengan penambahan ZPT berupa BAP 7,5 ml + NAA 7,5 ml
3. pH diukur kisaran 6-7 dengan tambahan HCl untuk BAP 15 tetes dan NaOH untuk NAA
15 tetes
4. Tiap medium A ada 2 erlenmeyer dan medium B juga ada 2 erlenmeyer.

Persiapan

Menyalakan
LAF
beserta
lampu TL dan

Membersihkan seluruh
dinding dalam LAF
dengan alcohol 70%

Membersihkan alat-alat
penanaman dengan alcohol
70% dan dilap dengan tisu

Menyalakan
lampu UV
selama 45 menit

Menutup LAF
kemudian mematikan
lampu TL dan blower

Memasukkan alat tanam steril


untuk subkultur anggrek dan
krisan (pinset, skalpel, cawan
petri, botol steril) dan bahan
(medium, air steril, alkohol 70%)

Setelah 45 menit, mematikan


lampu UV dan menyalakan
lampu TL dan blower selama
melakukan penanaman

Melakukan
penanaman
subkultur anggrek
dan krisan in vitro

Penanaman Multiplikasi Tunas Dari Tunas In


vitro

Mengambil planlet anggrek


Membersihkan
Menyalakan lampu
dan krisan dengan pinset
telapak tangan
bunsen kemudian
dengan alcohol 70%
memanaskan pinset
Mengambil eksplan kemudian
Meletakkan hasil penanaman
menanamnya di medium dengan cara
di rak kultur pada ruang
Meletakkan
plantlet di
0
sedikit
membenamkan
bagian
Memotong bagian plantlet untuk mencari bagianinkubasi
yang suhu 24-25 C
petridish kemudian
pangkalnya
yang
telah dipotong,
terbaik untuk
ditanam
(eksplan),botol
untuk krisan dipotong
memanaskan skalpel
didekatkan
bunsendisisakan
kemudian
ditutup
pada nodusnya,
satu
atau dua daun pada satu
rapat dipotong daunnya dan akarnya,
nodus. Untuk anggrek
dibuang, disisakan bonggol akarnya dan batang utuhnya.
F. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Multiplikasi
tunas dari tunas in vitro Krisan dan Anggrek
Jenis ZPT

Tunas yang
digunakan
BAP 7,5
Tunas
ppm+NAA Krisan
0,5 ppm

Kondisi
1. Tunas tidak
tumbuh
2. Tidak
mengalami
petambahan
tinggi
3. Tidak
mengalami
pertambahan
jumlah
daun/tunas
4. Hidup tetapi
tidak tumbuh

Keterangan
Subkultur
tidak
mengalami
kontam

Foto

BAP 7,5
ppm +
NAA 7,5
ppm

Tunas
Anggrek

1. Tunas tidak
tumbuh
2. Tidak
mengalami
petambahan
tinggi
3. Tidak
mengalami
pertambahan
jumlah
daun/tunas
4. Hidup tetapi
tidak tumbuh

Subkultur
tidak
mengalami
kontam

G. Pembahasan

Menurut George dan Sherrington (1984) dalam Lestari (2008) perbanyakan


tanaman secara in vitro memiliki banyak keuntungan di antaranya (1) bahan tanaman
yang digunakan lebih kecil sehingga tidak merusak pohon induk, (2) lingkungan tumbuh
dalam kultur in vitro aseptik dan terkendali, (3) kecepatan perbanyakannya tinggi, (4)
dapat menghasilkan bibit bebas penyakit dari induk yang sudah mengandung patogen
internal, dan (5) membutuhkan tempat yang relatif kecil untuk menghasilkan bibit dalam
jumlah besar.
Sebelum penanaman eksplan dalam media eksplan perlu disterilisasi. Menurut
Nugrahani et al. (2011) Pembuatan eksplan dari bahan induk dilakukan dengan
mempergunakan peralatan yang bersih dan tajam. Eksplan selanjutnya dibawa ke dalam
laboratorium untuk dilakukan sterilisasi. Tahapan sterilisasi, bahan sterilisasi, dan durasi
sterilisasi tiap jenis eksplan tidak sama, namun secara umum sterilisasi eksplan dilakukan
dengan mencuci eksplan dalam air bersih yang mengalir, merendam dalam larutan
deterjen, merendam dalam larutan fungisida, merendam dalam larutan sublimat (HgCl 2),
sterilisasi bertingkat dengan larutan Clorox (pemutih pakaian, Bayclin), serta
pembilasan dengan aquadest steril. Sterilisasi bahan harus dilakukan dengan tepat,
apabila perendaman clorox terlalu lama maka jaringan dari bahan tanam akan mengalami
kematian (browning) sehingga tidak mampu membentuk individu baru, apabila sterilisasi

terlalu singkat maka bahan tanam yang digunakan akan membawa bibit bibit
kontaminasi.
Selain zat pengatur tumbuh yang menentukan keberhasilan kultur secara in vitro
antara lain garam-garam mineral makro dan mikro yang terdapat dalam media dasar turut
mempengaruhinya pula (Suminar et al., 2006). Untuk satu botol media MS untuk
multiplikasi anggrek dilakukan satu botol berisi 4 potongan eksplan sedangkan untuk
untuk penanaman krisan dilakukan satu botol berisis satu eksplan. Untuk medium MS
krisan ditambahan ZPT BAP 7,5 ppm+ NAA 0,5 ppm sedangkan pada medium MS
anggrek BAP 7,5 ppm + NAA 7,5 ppm. Setelah dua minggu sejak penanaman, baik
eksplan anggrek maupun eksplan krisan tidak mengalami pertumbuhan ditandai dengan
tunas tidak tumbuh, tidak mengalami petambahan tinggi, dan tidak mengalami
pertambahan jumlah daun/tunas meskipun keduanya tidak mengalami kontaminasi baik
pada eksplan maupun pada media. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Sari
(2005) Jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah salah satu
penentu keberhasilan kultur jaringan atau kultur in vitro secara umum. Selain itu, faktor
lain yang juga mempengaruhi pertumbuhan tunas adalah umur eksplan. Kasli (2009)
menambahkan Media dan zat pengatur tumbuh yang sesuai untuk pertumbuhan kalus
akan meningkatkan kemampuan sel untuk terus bertambah dengan demikian bobot dapat
meningkat. Perbedaan bobot kalus yang tampak menunjukkan bahwa adanya perbedaan
proses pertumbuhan kalus dipengaruh oleh beberapa faktor diantaranya sumber eksplan,
media mencakup komponen penyusun media dan zat pengatur tumbuh yang digunakan.
Menurut Kasli (2009) Kalus yang mampu berorganogenesis menjadi tunas pada
krisan sebanyak 10 % diperoleh dari perlakuan BAP 1.0 dan 1.5 mg/L dengan persentase
eksplan krisan yang hidup adalah 82,5 % dan persentase eksplan berkalus 47,57 %.
Sedangkan menurut Karim et al. (2003) kombinasi BA dan NAA menghasilkan tunas
lebih banyak. Pada tanaman krisan menggunakan kombinasi BA 1 mg/l + GA 3 mg/l
diperoleh faktor multiplikasi tunas tertinggi.
Menurut Lestari dan Yunita (2008) Media terbaik untuk memacu multiplikasi tunas
dari eksplan kecambah adalah MS dengan penambahan BAP 0,3 ppm, demikian pula
untuk eksplan tunas in vitro. Media yang terbaik untuk perakaran, yaitu pada media MS
dengan penambahan IBA 1 ppm.

Berdasarkan penelitian Nugroho (2006) Pembentukan dan multiplikasi tunas pada


Dendrobium Emma Pink (Orchidaceae) dalam media kultur in vitro dapat dihasilkan
oleh protocorm-like bodies yang ditanam pada media padat VW dengan penambahan zat
pengatur tumbuh 10-4 M kinetin dan 5.10-6 M IAA. Laju multiplikasi tunas terus
meningkat setiap kali subkultur. Akar terbentuk pada tunas yang ditanam pada media
padat VW dengan penambahan zat pengatur tumbuh 5.10-6 M kinetin dan 10-5 M IAA.
Menurut Nugrahani (2011) Pada semua komposisi media kultur jaringan, hormon
dan vitamin diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Masing-masing komponen
media memiliki peran sebagai berikut:

Unsur hara makro: metabolisme tanaman


Unsur hara mikro: pengaturan enzym
Vitamin: regulasi (pengaturan)
Gula atau Sukrosa: karbohidrat, sumber karbon, sumber energi
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT): merangsang, menghambat atau mengubah pola

pertumbuhan dan perkembangan tanaman


Arang Aktif: mengarbsorbsi senyawa fenolik dan untuk merangsang pertumbuhan

akar
Agar-agar: pemadat
Aquadestilata: pelarut
Dalam percobaan ini digunakan penambahan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yaitu
BAP dan NAA (Naphthalene Asetic Acid). Menurut Alitalia (2008) NAA banyak
digunakan sebagai hormon akar dan selang konsentrasi yang mendorong pembesaran selsel pada akar adalah sangat rendah. Selain itu, NAA memiliki sifat kimia lebih stabil
dibanding IAA dan tidak mudah teroksidasi oleh enzim. Anwar (2007) menambahkan
bahwa NAA merupakan IAA sintetik yang sering digunakan karena memiliki sifat yang
lebih tahan, tidak terdegradasi dan lebih murah. Kebutuhan NAA yang harus
ditambahkan untuk induksi kalus embriogenik dan embriogenesis somatik bervariasi
untuk setiap jenis yang mempunyai sifat genetik yang berbeda. Pada penelitian Utami et
al. (2007) perlakuan NAA 2 mg/L (kelompok IV) merupakan konsentrasi yang paling
cocok untuk induksi kalus embriogenik. Diduga pemberian NAA 2 mg/L menyebabkan
perubahan konsentrasi auksin endogen, sehingga tercapai keseimbangan relatif untuk
induksi kalus embriogenik.

BAP (6-Benzyl amino purine) merupakan salah satu jenis hormone sitokinin yang
banyak digunakan dalam mikropopagasi tanaman. Hasil penelitian Maryani dan Zamroni
(2005) pada penggandaan tunas krisan secara in vitro apabila perlakuan tanpa BAP (0
ppm) ternyata memberikan jumlah akar banyak dan kecenderungan jumlah akar menurun
dengan meningkatnya konsentrasi BAP. Keadaan ini membuktikan bahwa BAP mampu
menekan pertumbuhan akar. Kemampuan menghambat pertumbuhan akar ini sangat
penting dalam penggandaan tunas atau (multiplikasi).
Menurut Paramartha (2011) Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kombinasi
penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin dan sitokinin mempengaruhi
pertumbuhan eksplan. Jika rasio sitokinin dan auksin relatif seimbang maka eksplan akan
membentuk massa sel yang bersifat meristematik dan terus melakukan pertumbuhan.
Lestari (2011) menambahkan penggunaan sitokinin dan auksin dalam satu media dapat
memacu proliferasi tunas karena adanya pengaruh sinergisme antara zat pengatur tumbuh
tersebut. Namun, Santoso dan Nursandi (2002) menyatakan bahwa tidak semua eksplan
membutuhkan tambahan hormon eksogen karena di dalam jaringan eksplan tersebut telah
memiliki hormon endogen yang cukup untuk menggiatkan pertumbuhan eksplan tersebut.
Pemberian hormon secara eksogen akan mengubah level hormon endogen yang terdapat
pada tanaman Jika hormon endogen telah mencukupi lalu eksplan dikulturkan pada
medium yang ditambahkan zat pengatur tumbuh (ZPT) maka proses fisiologis
pertumbuhan eksplan akan terhambat dan bahkan dapat menyebabkan kematian eksplan.
H. Simpulan
Metode multiplikasi tunas dari tunas in vitro dilakukan dengan cara memilih plantlet
yang berkualitas baik kemudian melakukan multiplikasi dengan memindahkan eksplan
yang diambil dari planlet tersebut ke dalam medium MS baru. Dalam multiplikasi tunas
tidak semua eksplan membutuhkan tambahan hormon eksogen karena di dalam jaringan
eksplan tersebut telah memiliki hormon endogen yang cukup untuk menggiatkan

pertumbuhan eksplan tersebut.


Persiapan sebelum melakukan multiplikasi tunas dari tunas in vitro yaitu dengan
memaparkan alat dan bahan subkultur (Medium MS) dengan menggunakan sinar UV ke

didalam LAF selama 1 jam untuk menghindari kontaminasi


I. Daftar Pustaka

Alitalia, Yayu. 2008. Pengaruh Pemberian BAP dan NAA terhadap Pertumbuhan
dan Perkembangan Tunas Mikro Kantong Semar (Nepenthes mirabilis)
secara In Vitro. Skripsi. Bogor: Fakultas pertanian IPB.
Anwar, N.2007.Pengaruh Media Multiplikasi Terhadap Pembentukan Akar pada
Tunas In Vitro Nenas (Ananas comocus (L.) Merr.) cv. Smooth Cayenne di
Media Pengakaran. Skripsi. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
37 hal.
Basri, Zainuddin. 2008. MULTIPLIKASI EMPAT VARIETAS KRISAN MELALUI
TEKNIK KULTUR JARINGAN. J. Agroland. 15 (4): 271 277. ISSN : 0854
641X.
George, E & P.D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture. EversleyEngland: Exegetics Limited.
Henuhili, V., & P.Cahyaningrum. 2012. Petunjuk Praktikum Kultur Jaringan
Tumbuhan (SBG 147). Yogyakarta: FMIPA UNY.
Karim, M.Z., M.N. Amin, M.A.K. Azad, F. Begum, M.M.Rahman, M.M. Islam, & R.
Alan. 2003. Effecs of different plant growth regulator on in vitro shoot
multiplication of Chrysantemum morifolium. J. Biological Science. 3(6):553560.
Kasli. 2009. Upaya Perbanyakan Tanaman Krisan (Chrysathemum sp) secara In
Vitro. Jerami. 2(3):121-124.ISSN 1979-0228.
Lestari, E.G & R.Yunita. 2008. Perbanyakan Tanaman Artemisia annua secara In
Vitro. Jurnal AgroBiogen. 4(1):41-44.
Lestari, E.G. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan Tanaman
melalui Kultur Jaringan. Jurnal AgroBiogen. 7(1):63-68.
Maryani, Y & Zamroni. Penggandaan tunas krisan melalui kultur jaringan. Ilmu
Pertanian. Vol 12 No 1, 2005 : 51-55
Nugrahani, P., Sukendah, & Makziah. 2011. MODUL - 2 DASAR BIOTEKNOLOGI
TANAMAN: TEKNIK PROPAGASI SECARA IN VITRO. Jawa Timur:
Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Nugroho,Astri. 2006. Mikropropagasi Dendrobium Emma Pink (Orchidaceae)
pada Media Kultur In Vitro. Bioteknologi. 3 (1): 27-33. ISSN: 0216-6887.
Santoso dan Nursandi. 2003. Kultur Jaringan Tanaman. Malang : Universitas
Muhammadiyah Malang.

Suminar, E., D.S.Sobarna, & Murgayanti. 2006. Teknik Kultur Jaringan dalam
Rangka Pengadaan Bibit dan Pelestarian Jeruk Besar (Citrus grandis (L.)
Osbect) Var. Cikoneng. Artikel Ilmiah. Bandung: Universitas Padjajaran.
Paramartha, A.I. 2011. Pengaruh Penambahan Kombinasi Konsentrasi ZPT NAA
dan BAP terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Biji Dendrobium
Taurulinum J.J Smith Secara In Vitro. Artikel Penelitian. Surabaya: FMIPA
ITS.
Rahayu, E.S.2016.Panduan Praktikum Kultur Jaringan Bagian 1 (Tumbuhan).Semarang:
FMIPA Unnes.
Sari, Laela. 2005. Optimalisasi Media untuk Jumlah Daun dan Multiplikasi Tunas
Lidah Buaya (Aloe vera) dengan Pemberian BAP dan Adenin. B I O D I V E
R S I T A S. 6(3): 178-180. ISSN: 1412-033X.
Utami, E.S.W., I.Sumardi., Taryono, & E.Semiarti. 2007. Pengaruh -Naphtaleneacetic
Acid (NAA) Terhadap Embriogenesis Somatik Anggrek Bulan Phalaenopsis
Amabilis (L.) Bl. B I O D I V E R S I T A S. 8(4): 295-299. ISSN: 1412-033X.

LAMPIRAN
A. Dokumentasi
Proses subkultur anggrek dan krisan

a. Persiapan alat dan bahan yang akan disterilisasi menggunakan sinar UV


dalam LAF

B. Jawaban Pertanyaan
1. Karena eksplan yang akan dikultur sudah dikultur sebelumnya, dan sudah pasti
dalam keadaan steril. Apabila eksplan yang akan dikultur disterilisasi
menggunakan UV maka eksplan akan terjadi mutasi.
2. ZPT BA merupakan hormone sitokinin yang berfungsi sebagai perangsang
pembelahan sel dan pertumbuhan pucuk pada tumbuhan. Sedangkan ZPT NAA
adalah salah satu jenis hormone auksin merangsang perpanjangan sel diujung
batang dan ujung akar.
3. a. 7,5 ppm BA + 5,0 ppm NAA
b. 7,5 ppm BA + 7,5 ppm NAA
Lebih baik yang (b) , karena pada komposisi (b) ZPT NAA dan ZPT BA memiliki
komposisi seimbang sehingga pertumbuhan akan lebih optimal. kombinasi
penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin dan sitokinin mempengaruhi
pertumbuhan eksplan. Jika rasio sitokinin dan auksin relatif seimbang maka
eksplan akan membentuk massa sel yang bersifat meristematik dan terus
melakukan pertumbuhan.
4. Karena subkultur bertujuan untuk menggandakan eksplan yang sudah dikultur
sebelumnya sehingga proses pertumbuhannya lebih cepat
5. Tidak ada

C. Cara Pembuatan Medium


Larutan Stok Makronutrien
Menimbang bahan-bahan kimia yang tersebut di bawah ini dengan timbangan
Stok A: NH4NO3
16,5 gram x 2,5 = 41,25 gr
Dalam 100 ml aquades
Stok B: KNO3
19 gram x 2,5 = 47,5 gr
Dalam 100 ml aquades
Stok C: CaCl2 . 2H2O
4,4 gram x 2,5 = 11 gr
Dalam 100 ml aquades

Stok D: KH2. PO4

1,7 gram x 2,5 = 4,25 gr


Dalam 100 ml aquades

Larutan Stok Mikronutrient


Menimbang bahan-bahan kimia yang tersebut di bawah ini dengan timbangan analitik:
Stok E
MnSO4 .4H2O
0,169 x 5 = 0,845 gr
ZnSO4.4H2O
0,086 x 5 = 0,43 gr
H3BO3
0,062 x 5 = 0,31 gr
KI
0,0083 x 5 = 0,0415 gr
Na2MoO4.2H2O
0,0025 x 5 = 0,0125 gr
CuSO4.5H2O
0,00025 x 5 = 0,00125 gr
MgSO4 . 7H2O
3,7 x 5 = 18,5 g
Seluruh bahan tersebut dilarutkan dalam akuades 25 ml sehingga ada 25 ml larutan stok E. Untuk
larutan stok F menimbang 37,3 gr Na2EDTA dan 27,8 gr Fe2SO4.7H2O dilarutkan dalam 100
ml aquades.
Larutan stok hormon
BAP 7,5 ppm: 7,5 ml dari stok BAP 100%
NAA 5 ppm: 5 ml dari stok NAA 100%
NAA 7,5 ppm: 7,5 ml dari stok NAA 100%
Pembuatan Media MS
a. Semua larutan stok makronutrien dan mikronutrien A, B, C, D, E dan F masing-masing
10 ml, ditambah vitamin 10 ml, gula 30 gram, agar MS 8 gram dilarutkan dalam aquades
sampai volume mencapai 1000 ml dalam setiap erlenmeyer (ada 4 erlenmeyer).
b. Kombinasi medium A dengan penambahan ZPT berupa BAP 7,5 ml+ NAA 5 ml,
kombinasi medium B dengan penambahan ZPT berupa BAP 7,5 ml + NAA 7,5 ml
c. pH diukur kisaran 6-7 dengan tambahan HCl untuk BAP 15 tetes dan NaOH untuk NAA
15 tetes
d. tiap medium A ada 2 erlenmeyer dan medium B juga ada 2 erlenmeyer.