Anda di halaman 1dari 20

TK-4094 PERANCANGAN PABRIK KIMIA

LAPORAN I
BASIS PERANCANGAN

02/01/2016

AAP/CBK

Issued for Internal Review

RN

MIRS

CBR/AI

TANGGAL

DISIAPKAN
OLEH

PENJELASAN

CHECK

APPR.

PEMBIMBING

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN


D2.1516.K.15
Adinda Asri Pixelina

13012002

Catur Budi Kusumo

13012048

Rizkyanto Nugroho

13012056

Muhammad Irfan Rafi Suparma

13012060

Revisi ke- :

LAPORAN I

20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

LEMBAR REVISI

No. Rev.

Tanggal

Halaman

Penjelasan Revisi

2 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

DAFTAR ISI
LEMBAR REVISI
1
INFORMASI UMUM
1.1 PENGANTAR
1.2 NAMA PROJEK
1.3 LOKASI
1.4 RUANG LINGKUP
1.5 FILOSOFI PERANCANGAN
1.6 DATA LOKASI UMUM
1.6.1 KOORDINAT DAN LINGKUNGAN SEKITAR
1.6.2 PETA
1.7 DATA METEOROLOGI
2
DATA PERANCANGAN PROSES
2.1 UMPAN
2.1.1 KETERSEDIAAN BAHAN BAKU
2.1.2 KOMPOSISI UMPAN
2.1.3 KONDISI UMPAN
2.2 PRODUK
2.2.1 SPESIFIKASI PRODUK
2.2.2 SPESIFIKASI PRODUK SAMPING
2.2.3 SPESIFIKASI LIMBAH BUANGAN (BABEH)
2.3 SISTEM UTILITAS
2.3.1 SISTEM PENYEDIAAN PANAS
2.3.2 SISTEM PENYEDIAAN AIR
2.3.3 STANDAR KUALITAS AIR PROSES
2.3.4 MEDIA PENDINGIN
2.3.5 MEDIA PEMANAS
3
INFORMASI LINGKUNGAN
3.1.1 GAS BUANG
3.1.2 LIMBAH CAIR
4
BASIS PEMILIHAN BAHAN
5
PERHITUNGAN KEEKONOMIAN SEDERHANA (GPM)
6
NERACA MASSA & ENERGI (BFD)
APPENDIX A
APPENDIX B
APPENDIX C
APPENDIX D
APPENDIX E
APPENDIX F

2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
5
5
5
5
5
6
6
6
6
6
7
7
7
7
7
7
8
8
8
8
9
9
11
14
15
16
17
18

3 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

1 INFORMASI UMUM
1.1 Pengantar
Basis perancangan ini disusun sebagai basis studi konseptual dan perancangan pabrik produksi
produk sineol (cineole). Pabrik ini berbahan baku -pinene yang dihasilkan dari sistem
pemisahan minyak pinus (pine oil).

1.2

Nama Projek
Proyek yang dirancang bernama Pabrik Produksi Produk Sineol (Cineole)

1.3

Lokasi
Pabrik produksi sineol berlokasi di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

1.4

Ruang Lingkup
Basis perancangan ini meliputi:
1. Studi ketersediaan dan spesifikasi bahan baku, spesifikasi poduk, spesifikasi produk
samping, dan spesifikasi limbah.
2. Studi basis dan filosofi konseptual peancangan.
3. Studi sistem utilitas dan ketersediaan utilitas yang digunakan.
4. Kajian kebijakan dan institutional support mengenai limbah dan lingkungan.
5. Kajian keekonomian sederhana atau Gross Profit Margin (GPM).
6. Kajian pemilihan material yang akan digunakan pada alat proses.
7. Studi proses produksi dalam bentuk Block Flow Diagram beserta dengan perhitungan
neraca massa dan energi.

1.5

Filosofi Perancangan
Umur Pabrik
: 20 tahun
Rasio turndown
: 40%
Mode operasi
: semi kontinyu
Filosofi perancangan lengkap ditampilkan dalam Appendix B.

1.6

Data Lokasi Umum

1.6.1 Koordinat dan Lingkungan Sekitar


Pabrik produksi 1,8-sineol dari -pinen berlokasi di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Pabrik
ini berada pada koordinat 6.921005 Lintang Selatan dan 109.383842 Bujur Timur. Lokasi ini
merupakan tempat penimbunan kayu Perum Perhutani Unit I dan pabrik Derivat Gondorukem
dan Terpentin. Lokasi ini memiliki batasan sebelah timur yaitu Jalan Raya Bojongbata dan
sebelah utara, selatan, dan barat yaitu tanah warga. Kebutuhan listrik pabrik dapat dipenuhi oleh
jaringan transmisi listrik bertegangan tinggi. Kebutuhan air bersih pabrik dapat dipenuhi oleh air
sumur dan jaringan PDAM.

1.6.2 Peta
Lokasi pabrik ditunjukkan pada Gambar 1.1.

4 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Gambar 1.1. Lokasi pabrik produksi sineol

Gambar 1.1. Peta lokasi pabrik

1.7

Data Meteorologi
Pemalang memiliki rentang suhu lingkungan sebesar 250C hingga 320C dan kelembapan
dengan rentang 75% hingga 95%. Arah angin di daerah Pemalang umumnya ke arah Barat dan
memiliki rentang kecepatan angin dari 7 hingga 25 km/jam.

2 Data Perancangan Proses


2.1 Umpan
2.1.1 Ketersediaan bahan baku
-pinen sebagai bahan baku utama, diperoleh dari PT. PCCI Pemalang yang memiliki kapasitas
poduksi sebesar 6000 ton -pinen per tahun. Pabrik produksi sineol ini merupakan anak
perusahaan PT PCCI Pemalang.
Bahan kimia asam sulfat didapatkan dari PT. Indonesian Acid Industry yang berlokasi di
Pulogadung, Jakarta. Igepal CO-360 didapatkan dari PT. Indofa Utama Multi Corp. yang
berlokasi di Surabaya, Jawa Timur. Toluene diperoleh dari PT. Pertamina Cilacap. Dengan
mengadakan kontrak kerjasama dengan pabrik-pabrik tersebut maka diharapkan kebutuhan
asam sulfat, toluene, dan Igepal CO630.

2.1.2 Komposisi Umpan


Umpan dalam pabrik ini adalah -pinen dengan properti disajikan pada Tabel 2.1.

5 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Tabel 2.1. Properti dari -pinen


Kemurnian
97% mol

1.
2.

Berat Molekul

136.23 g/mol

3.

Densitas

855 kg/m3

4.

Titik Didih

155oC

5.

Warna

Tak berwarna

2.1.3 Kondisi Umpan


-pinen yang berperan sebagai umpan memiliki kondisi at battery limit sebagai berikut.
Laju Alir
: 8000 kg/hari
Fasa Umpan
: Cair
Temperatur
: 25oC
Tekanan
: 1 atm

2.2

Produk

2.2.1 Spesifikasi Produk


Produk utama yang diproduksi oleh pabrik adalah 1,8-sineol dan 1,4-sineol, merupakan hasil
sintesis dari -pinen. Spesifikasi produk 1,8-sineol dan 1,4-sineol dicantumkan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Spesifikasi Produk Utama
Kemurnian (%w/w)
Warna
Massa jenis (kg/m3)

Titik didih (oC)

No.

Komponen

1.

1,8-sineol

97%

Tidak berwarna

926,7

176,5

2.

1,4-sineol

97%

Tidak berwarna

899,7

173.5

2.2.2 Spesifikasi Produk Samping


Reaksi hidrasi yang dilakukan untuk menkonversi -pinen menjadi sineol dapat membentuk
senyawa-senyawa lain yang menjadi produk samping dalam pabrik ini, ditampilkan pada Tabel
2.3.

No.

Komponen

1.

-Terpineol

Tabel 2.3. Spesifikasi Produk Samping


Kemurnian (%w/w)
Warna
Massa jenis (kg/m3)
95%

Tidak berwarna

846,7

Titik didih (oC)


117,55

2.2.3 Spesifikasi Limbah Buangan (babeh)


Limbah gas berupa flue gas keluaran dari unit boiler dilepas ke atmosfer dengan komposisi pada
Tabel 2.4.
Tabel 2.4. Limbah flue gas buangan boiler
No.
Komponen
Komposisi (mol)
1.

H2O

10,6%

2.

CO2

14,4%

3.

O2

1,67%

4.

N2

72,5%
6 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Limbah cair berupa blowdown air pencuci yang mengandung akan diolah pada unit Instalasi
Pengolahan Air Limbah. Berikut spesifikasi limbah cair dijelaskan pada Tabel 3.2.

2.3

Sistem Utilitas

2.3.1 Sistem penyediaan panas


Pabrik ini tidak membutuhkan sistem penyediaan panas selain media panas dari kukus karena
tidak terdapat proses yang membutuhan pemanas dengan temperatur tinggi.
Sumber penyediaan panas
: Bahan Bakar Minyak dari Depo Pertamina Pemalang
Sumber penyediaan panas start-up : Bahan Bakar Minyak yang dibakar dalam burner

2.3.2 Sistem penyediaan air


Sumber air

: Air PDAM dan Air Sumur

2.3.3 Standar Kualitas Air Proses


Standar kualitas air proses yang digunakan pada pabrik ini ditampilkan pada Tabel 2.5. sebagai
berikut.
Tabel 2.5. Kualitas De-mineralized Water
Parameter

No.

Nilai

1.

Conductivity @25 C (setelah ion exchange)

Maks 0.3 S/cm

2.

pH

6.0 8.0

3.

Hardness

Maks 0.1 ppm(w) CaCO3

4.

Total CO2

Maks 1.0 ppm(w) CO2

5.

Besi (Fe)

Maks 50 ppm(w)

6.

Silika (SiO2)

Maks 0.02 mg/L

7.

Tembaga (Cu)

Maks 0.003 mg/kg

8.

Total logam berat

Maks 0.02 mg/kg

9.

Oksigen

Maks 0.1 ppm(w) O3

2.3.4 Media Pendingin


Media pendingin yang digunakan dalam pabrik produksi sineol adalah berupa udara bertekanan.
Udara bertekanan dihasilkan dari fin fan cooler. Fin fan cooler ini pada dasarnya merupakan
kipas yang mendinginkan aliran utama yang berada di dalamnya. Kipas berputar dengan
kecepatan tertentu menghasilkan putaran angin untuk menurunkan temperatur aliran utama. Finfan cooler digunakan sebagai kondenser pada kolom distilasi.

2.3.5 Media Pemanas


Media pemanas yang digunakan dalam pabrik produksi sineol (cineole) adalah kukus (steam).
Kukus digunakan pada pabrik ini adalah superheated steam dengan spesifikasi tekanan 3.5
kg/cm2 dan temperatur 120oC. Spesifikasi kukus ini termasuk dalam Low Pressure Steam (LS).
Kukus diproduksi dari air demineralisasi yang telah diberikan zat aditif tambahan untuk
mengurangi korosi dalam boiler. Treatment yang diberikan untuk menghasilkan air demineralisasi
adalah sebagai berikut.
7 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

a. Penghilangan kadar oksigen, teknologi yang digunakan dapat berupa deaerator atau oxygen
scavenger. Oxygen scavenger adalah suatu sistem yang mampu menangkap oksigen dalam
air dengan cara mereaksikan oksigen tersebut dengan karbohidrasit.
b. Internal treatment, dimana air demineralisasi ditambahkan fosfat untuk mencegah akumulasi
scaling.
c. Condensate treatment, dimana air demineralisasi ditambahkan HNO3 agar kondensat yang
terbentuk di sistem perpipaan boiler tidak menyebabkan korosi.

3 INFORMASI LINGKUNGAN
3.1.1 Gas Buang
Tabel 3.1. Gas Effluent dan Batas Emisi
Sumber
Metode Pengolahan
Batas Emisi/Regulasi
PER/MENLH/13/2009
Flue gas Boiler (CO2, H2O,
Dibuang ke atmosfer
PP/41/1999
O2, N2)
KEP/MENLH/5D/1996

3.1.2 Limbah Cair


Tabel 3.2. Liquid Effluent dan Batas Emisi
Sumber
Metode Pengolahan
Batas Emisi/Regulasi
BOD maks 1.88 kg/ton produk
COD maks 4.5 kg/ton produk
TSS maks1.5 kg/ton produk
Blowdown tangki (air dan
Diolah di Instalasi
Minyak dan lemak maks 0.375
sisa asam sulfat, toluene,
Pengolahan Air Limbah
kg/ton produk
dan Igepal CO-630)
Posfat (POx) maks 0.05
pH 6.0-9.0
PER/MENLH/05/2015
Spent Acid dan Spent
Diolah di neutralization pit,
Caustic dari dekemudian dicampur
PER/MENLH/08/2009
mineralized water
Produced Water
treatment package

4 BASIS PEMILIHAN BAHAN


Dalam proses yang digunakan untuk mengonversi alfa pinen mejadi 1,8-sineol, penggunaan
asam dibutuhkan untuk beberapa reaksi. Asam yang digunakan mencakup asam sulfat.
Pemilihan bahan konstruksi utama perlu diperhatikan dikarenakan laju korosi yang berbeda
bergantung kepada kandungan asam sulfat di dalam larutan. Kandungan asam sulfat yang
dipakai untuk reaksi maksimal mencapai 52%. Pemakaian bahan konstruksi ASTM 516 grade 70
atau ASTM 131 grade B menjadi pilihan yang tepat karena kemampuannya untuk menahan
konsentrasi asam sulfat hingga 100% dengan temperatur operasi kurang dari 400C. Jenis bahan
konstruksi ini memiliki kandungan karbon, fosfor serta silikon didalamnya.
8 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

5 PERHITUNGAN KEEKONOMIAN SEDERHANA (GPM)


Gross Profit Margin (GPM) merupakan perhitungan keekonomian awal untuk mengetahui bahwa
produk sineol yang dihasilkan memiliki margin keuntungan yang layak untuk dikembangkan.
Estimasi biaya yang dilakukan hanya melibatkan harga bahan baku dan harga jual produk.
Hasil perhitungan GPM disajikan pada Tabel 5.1. Semua harga dalam rupiah di tahun 2016.
Penjelasan detail mencakup asumsi dan perhitungan diuraikan pada Lampiran E.
Tabel 5.1. Estimasi margin keuntungan pabrik produksi sineol
Pengeluaran
Total
-pinen

Rp. 195.761.680,00 /hari

Pemasukan

Total

1,8-sineol

Rp. 412.927.000,00 /hari

1,4-sineol

Rp. 990.446.400,00 /hari

Pemasukan Pengeluaran

Rp. 1.207.611.720,00 /hari

GPM

Rp. 398,512 milyar/tahun

Dari perhitungan keekonomian sederhana ini, dapat disimpulkan bahwa pabrik produksi sineol
dari bahan baku -pinen dari PDGT Pemalang menguntungkan secara ekonomi.

6 NERACA MASSA & ENERGI (BFD)


Block flow diagram (BFD) untuk pabrik produksi sineol ini ditampilkan pada Gambar 6.1. Neraca massa
tiap aliran pada BFD dijelaskan pada Tabel 6.1. Asumsi dan penjelasan detail termasuk technology
selection juga disampaikan pada Lampiran B dan Lampiran F.

Toluena
9,7 ton

Asam
Anorganik
30%
38,4 ton
-pinen
8 ton

Recycle

-pinen
10 ton
1'

Hidrasi

H2SO4, Air,
Emulsifier,
-pinen
40,28 ton
4'

-pinen
2 ton

Emulsifier
0,008
Asam
Anorganik
Terpin Hidrat
11,212 ton

5
4

Asam Anorganik 52%


23,5 ton

6
9
7

Dehidrasi

Asam Anorganik
1,4 Sineol
1,8 Sineol
Toluena
Terpen Hidrokarbon
42,4 ton

Toluena
9,7 ton

1,4 sineol
3,63 toni

10

Pemisahan

Pemisah
an

11

1,8 sineol
1,96 ton

12

Dekolorisasi

1,8 sineol
1,96 ton

13

Terpen
hidrokarbon dan
terpinol
3,5 ton

4''

Gambar 6.1. BFD pabrik produksi sineol

9 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Tabel 6.1. Data setiap Aliran


Nomor Aliran
Temperatur(oC)
Tekanan (bar)
Laju alir molar (kmol/hari)
Komponen
alfa pinen
asam anorganik
air
emulsifier
Terpin hidrat
1,4 sineol
1,8 sineol
Toluene
terpene hydrocarbon + terpene alcohol
Karbon aktif
Laju alir massa (kg/hari)

1
2 1'
30,00
30,00
30,00
1,00
1,00
1,00
58,72 1610,70
73,41
58,72

73,41
117,45
1493,25

3
4 4'
4''
30,00
30,00
30,00
30,00
1,00
1,00
1,00
1,00
0,01 1620,05
14,68 1605,36
14,68
117,06
1488,29
0,01
0,01

5
30,00
1,00
59,11

6
30,00
1,00
104,82

7
30,00
1,00
753,70

8
30,00
1,00
922,59

125,08
628,62

125,47
633,58

9
30,00
1,00
104,82

10
30,00
1,00
23,55

11
30,00
1,00
12,68

12
30,00
1,00
22,49

13
30,00
1,00
12,68

14,68
117,06
1488,29
0,01

0,39
4,96
58,72

104,82

8000,00 38397,81 10000,00

8,00 40278,98

23,55
12,68
104,82
22,49

23,55
12,68

12,68

104,82
22,49

2000 38278,98 11212,27 9658,37 23573,26 42417,19 9658,37 3632,33 1956,56 3469,28 1956,56

Proses pembentukan 1,8 sineol dari alfa pinen dimulai dengan reaksi hidrasi alfa pinen menjadi
terpin hidrat. Reaksi ini berlangsung antara alfa pinen dan asam anorganik dengan konsentrasi
30% berat dengan penambahan emulsifier untuk mengindari terjadinya plugging. Reaksi tersebut
berlangsung secara partaian dengan pengadukan selama 30 jam untuk mendapatkan konversi
senyawa terpin hidrat yang tebentuk sebesar 80%, yang kemudian dicuci sehingga konsentrasi
asam sulfat dalam terpin hidrat sekitar 0,5%. Senyawa ini kemudian ditambahkan dengan asam
sulfat dengan konsentrasi 52% berat dan toluen dalam reaktor untuk mengalami proses
dehidrasi. Dengan pengadukan selama 20 jam akan didapatkan konversi 1,4 sineol adalah
40,1% dari basis mol terpin hydrat yang terbentuk dan 21,6% 1,8 sineol dengan basis yang sama
dan produk samping lain berupa terpen hidrokarbon dan terpen alkohol seperti terpeniol. Kondisi
operasi pada reaktor hidrasi dan reaktor dehidrasi yaitu 30oC dan tekanan 760 mmHg. Produk
dari reaksi yang terjadi dalam reaktor dehidrasi kemudian dipisahkan secara dekantasi dan
distilasi. Asam yang tidak bereaksi akan dipisahkan dengan cara dekantasi yang kemudian
dilakukan distilasi azeotropik menggunakan fenol.

10 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

Appendix A
PERTIMBANGAN PEMILIHAN LOKASI
Pabrik pengolahan a-pinen menjadi 1,8 sineol akan di bangun di kawasan industri Kabupaten Pemalang.
Beberapa hal yang dipertimbangkan dalam penentuan lokasi pabrik 1,8-sineol dari a-pinen adalah
sebagai berikut.
1.

Akses Jalan Raya


Jalan raya merupakan salah satu bagian sistem transportasi darat yang berpengaruh pada
keberjalanan suatu pabrik. Suplai bahan baku ke dalam pabrik dan transportasi produk dari pabrik
ke pelabuhan sangat memerlukan akses jalan raya yang baik. Lokasi pabrik yang akan dibangun
berjarak 5 km dari jalur pantura sehingga akan memudahkan transportasi produk yang akan
dihasilkan. Lokasi pabrik dan jaraknya dengan jalur panturan ditunjukkan pada Gambar A.1.

Gambar A.1. Jarak lokasi pabrik dengan jalur pantura

2.

Akses Bahan Baku


Jarak antara sumber bahan baku dengan pabrik beserta kemudahan dalam mentransportasikannya
merupakan salah satu faktor penting dalam kebeerjalanan produksi suatu pabrik. Pabrik yang baik
adalah pabrik yang dekat dengan sumber bahan baku. Lokasi pabrik yang akan dibangun ini berada
di dalam komples PCCI Pemalang sehingga jarak antara sumber bahan baku dengan pabrik ini
akan sangat dekat.
11 dari 20

D2.1516.K.15
3.

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

Akses pelabuhan
Letak pelabuhan untuk akses peti kemas terdekat yang digunakan untuk distribusi produk adalah
Pelabuhan Tanjung Mas yang terletak di Kota Semarang. Pelabuhan tersebut berjarak sekitar 139
km dari lokasi pabrik ini. Jalur transportasi dari pabrik menuju Pelabuhan Tanjung Mas ditunjukkan
pada Gambar A.2.

Gambar A.2. Jalur transportasi dari pabrik menuju ke Pelabuhan Tanjung Mas
4.

Ketersediaan Sumber Daya Manusia


Kontur tanah akan mempengaruhi biaya pembangunan suatu pabrik. Tanah yang tidak datar
memerlukan pengurukan sehingga akan menambah biaya pembangunan pabrik. Letak pabrik yang
berada di bagian utara dari Kabupaten Pemalang merupakan daerah dengan kontur yang cukup
datar. Peta kontur Kabupaten Pemalang ditunjukkan pada Gambar A.3.

12 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

Gambar A.3. Peta kontur Kabupaten Pemalang.

13 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

Appendix B
KAJIAN FILOSOFI PERANCANGAN PABRIK
Kajian yang dilakukan dalam filosofi perancangan pabrik mencakup proses yang dirancang dalam pabrik
produksi 1,8 sineol ini dari alfa pinen. Detail lebih lanjut terkait alasan pemilihan senyawa juga
disebutkan dalam kajian ini. Kajian ini juga mencakup asumsi-asumsi yang dibutuhkan untuk pembuatan
neraca massa dan energi. Dalam pembuatan neraca massa dan energi, ditentukan beberapa asumsi
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Produksi 1,8-sineol dengan bahan baku alfa pinen melibatkan pembentukan senyawa intermediet
yaitu terpin hidrat
Konversi alfa pinen menjadi terpin hidrat sebesar 80% dan konversi dari terpin hidrat menjadi alfa
terpineol sebesar 80%
Pressure drop di sepanjang pipa diabaikan
Reaksi berlangsung secara isotermal

Proses yang berlangsung pada perancangan pabrik ini diantaranya adalah reaksi hidrasi alfa pinen
mengunakan asam sulfat, reaksi dehidrasi untuk mengubah terpin hidrat terbentuk menjadi 1,8- sineol,
alfa terpineol dan produk lain, proses pemisahan untuk mendapatkan 1,8-sineol dengan kemurnian 97%,
serta dekolorisasi untuk menghilangkan warna coklat yang terbentuk akibat reaksi polimerisasi dari
temperatur pemisahan yang tinggi. Dua reaksi awal yang disebutkan tadi dilangsungkan pada
temperatur 300C dan tekanan operasi 1 atm. Pada dua reaksi ini juga dilangsungkan daur ulang yaitu
senyawa alfa pinen dan asam sulfat pada reaksi hidrasi dan senyawa toluena dan terpin hidrat pada
reaksi dehidrasi. Alasan dari pemilihan daur ulang adalah agar senyawa reaktan berupa alfa pinen dan
terpin hidrat dapat terkonversi menjadi produk seluruhnya. Proses pencucian setelah reaksi hidrasi
dilakukan agar senyawa asam sulfat tidak bereaksi dengan alfa pinen lebih lanjut. Igepal CO-630
digunakan pada reaksi hidrasi untuk mencegah plugging dengan cara mendispersikan aglomerat terpin
hidrat yang terbentuk.
Reaksi yang berlangsung pada pengolahan alfa pinen menjadi 1,8-sineol ini berlangsung secara batch
yang dilangsungkan selama 16 jam. Proses pemisahan untuk 1,8 sineol dengan senyawa lain
dilangsungkan secara kontinyu. Proses pemisahan ini dilangsungkan pada temperatur 1200C dengan
menggunakan kolom distilasi. Pabrik ini memiliki rasio turndown sebesar 40%. Operasi pabrik
dilangsungkan selama 330 hari dalam 1 tahun.

14 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Appendix C
KAJIAN KETERSEDIAAN BAHAN BAKU
-pinen sebagai bahan baku pabrik merupakan produk turunan dari getah pohon pinus. Pengelolaan
getah pinus menjadi terpentin (yang selanjutnya menghasilkan produk -pinen dengan proses
pemisahan) di Indonesia saat ini ditangani oleh PT. Perhutani. PT. Perhutani merupakan Badan Usaha
Milik Negara yang memiliki tiga wilayah untuk produksi terpentin. Tiga wilayah tersebut adalah Perhutani
I (Pemalang, Jawa Tengah), Perhutani II (Jawa Timur), dan Perhutani III (Jawa Barat dan Banten).
Produksi terpentin PT. Perhutani beserta volume penjualan dalam negeri dan liar negeri pada tahun
2013 dan 2014 ditunjukkan pada Tabel C.1. PT. Perhutanu memiliki depalan pabrik Gondorukem dan
Terpentin (PGT) dengan total kapasitas produksi 92.550 ton (gabungan gondorukem dan turpentin) yang
tersebar dan terbagi dalam tiga wilayah (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur). Daftar PGT dan
kapasitas produksinya dapat dilihat pada Tabel C.2.
Tabel C.1. Produksi dan Volume Penjualan Terpentin PT Perhutani (Laporan Tahunan Perhutani, 2014)
Tahun

2013

2014

Jumlah Getah Pinus yang Diolah (ton/tahun)

80.958

84.128

Jumlah Produksi Terpentin (ton/tahun)

11.851

12.759

Volume Penjualan Terpentin Domestik (ton/tahun)

2.329

2.844

Volume Penjualan Terpentin Ekspor (ton/tahun)

11.096

7.716

Tabel C.2. Daftar PGT milik PT Perhutani (Laporan Tahunan Perhutani, 2014)
No.

Lokasi PGT

Kapasitas (ton)

Dibangun tahun

Paninggaran, Jawa Tengah

6.750

1968

Sapuran, Jawa Tengah

6.300

1968

Cimanggu, Jawa Barat

13.500

1989

Winduaji, Jawa Tengah

9.000

1989

Sukun, Jawa Timur

18.000

1976

Garahan, Jawa Timur

16.500

1981

Rejowinangun, Jawa Tengah

12.000

1994

Sindangwangi, Jawa Barat

10.500

1991

Jumlah Total

92.550

Berdasarkan Tabel C.1. tahun 2014, volume penjualan terpentin ekspor menurun dan penjulan domestik
tetap, hal ini disebabkan karena sebagian kecil hasil produksi terpentin mulai dijadikan bahan baku pada
pabrik PDGT (Pabrik Derivat Gondorukem dan Terpentin) yang terletak di Pemalang, Jawa Tengah
(dekat dengan PT. Perhutani I). Dari tabel dan data di atas terlihat bahwa produksi getah pinus
Perhutani mengalami peningkatan, hal ini menjadi faktor yang mendukung ketersediaan bahan baku
untuk pabrik produksi sineol.

15 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Appendix D
KAJIAN KEBUTUHAN PRODUK
1,8 sineol atau yang lebih dikenal sebagai eukaliptol pada umumnya digunakan untuk kebutuhan
formulasi farmasi, kosmetik, dan pembersih rumah tangga. Di Indonesia pengunaan terbesar dari 1,8
sineol adalah digunakan sebagai minyak kayu putih yang merupakan minyak oles yang digunakan untuk
mengurangi rasa sakit pada rematik dan menghangatkan perut. Namun selama ini bahan dasar minyak
kayu putih didapatkan dari penyulingan minyak kayu putih. Berdasarkan data dari Balai Besar Penelitian
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutam (www.biotifor.or.id) menyebutkan bahwa kebutuhan
minyak kayu putih di indonesia di tahun 2015 mencapai 6000 ton per tahun. Saat ini Indonesia setiap
tahunnya baru menghasilkan 400 ton minyak kayu putih per tahun sehingga defisit produksi setiap
tahunnya mencapai 5600 ton/hari yang saat ini dipasok dengan impor dari Cina.
Harga komoditas minyak kayu putih sendiri menunjukkan kencenderungan naik dalam 3 tahun terakhir.
Pada tahun 2013 harga komoditas minyak kayu putih adalah Rp 165.000,00 per liter yang pada tahun
2014 menunjukkan kecenderungan kenaikan harga yang cukup drastis yaitu sebesar Rp 46.000,00
menjadi Rp 211.000,00 perliter.
Perbandingan antara harga bahan baku -pinen terhadap produk utama dan produk samping dilakukan
untuk mendukung dikembangkannya pabrik produksi sineol. Perbandingan antara bahan baku dengan
produk disajikan pada Tabel D.1.

Tabel D.1. Perbandingan harga bahan baku dengan produk turunannya (www.rosinet.com)
No

Komponen

Harga

-pinen

Rp. 50.508,00 /kg

1,8-sineol

Rp. 313.605,00 /kg

1,4-sineol

Rp. 272.700,00 /kg

Terpineol

Rp. 111.160,00 /kg

Berdasarkan Tabel D.1. terlihat peningkatan harga yang signifikan jika -pinen diolah menjadi produk
turunannya, peningkatan harga mencapai 3 kali lipat untuk produk sineol dan 2 kali lipat untuk produk
terpineol.

16 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Appendix E
KAJIAN KEEKONOMIAN SEDERHANA
Kajian keekonomian sederhana disajikan dalam Tabel E.1.
Tabel E.1. Estimasi harga pemasukan dan pengeluaran pabrik secara sederhana
Pengeluaran

Harga

Kapasitas

Total

-pinen

Rp. 50.508,00 /kg

8000 kg/hari

Rp. 195.761.680,00 /hari

Total Pengeluaran

Rp. 195.761.680,00 /hari

Pemasukan

Harga

Kapasitas

Total

1,8-sineol

Rp. 313.605,00 /kg

1957 kg/hari

Rp. 412.927.000,00 /hari

1,4-sineol

Rp. 272.700,00 /kg

3632 kg/hari

Rp. 990.446.400,00 /hari

Total Pemasukan

Rp. 1.403.373.400,00 /hari

Pemasukan Pengeluaran

Rp. 1.207.611.720,00 /hari

GPM

Rp. 398,512 milyar/tahun

17 dari 20

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

D2.1516.K.15

Appendix F
KAJIAN TEKNOLOGI
1. Jalur reaksi produksi sineol dari alfa pinen
a. Produksi 1,8-sineol dari alfa pinen Produksi 1,8 sineol dari alfa pinen secara langsung tanpa
pembentukan senyawa antara
Pada proses produksi terpineol dan sineol dari a-pinen secara langsung tanpa produk
intermediet terpin hidrat, digunakan asam kloroasetat sebagai katalis hidrasi a-pinen dengan
menggunakan air sebagai donor hidroksil. Asam kloroasetat merupakan merupakan asam
yang larut dalam perlarut organik dan inorganik. Selektifitas tertinggi pada jalur reaksi ini
adalah 95,5% dengan konversi sebesar 10%. terklorinasi setelah reaksi selama 300 menit
pada temperatur 70oC. Keunggulan dari reaksi hidrasi dengan katalis asam kloroasetat
adalah tidak terbentukanya produk samping seperti terpin hydrate sehingga tidak dibutuhkan
mekanisme yang rumit dalam proses pemurnian untuk memperoleh produk -terpineol.
b. Produksi 1,8-Sineol dari alfa pinen dengan pembentukan senyawa antara terpin hidrat
Disamping pembentukan langsung 1,8 sineol dari alfa pinen, 1,8 sineol dapat diproduksi dari
alfa pinen dengan terlebih dahulu terjadi pembentukan senyawa antara yaitu terpin hidrat.
Dalam proses ini, umumnya terbagi atas dua tahap proses utama yaitu hidrasi dan dehidrasi.
Tahap pertama proses yaitu hidrasi merupakan mereaksikan asam sulfat dengan alfa pinen
sehingga terpin hidrat dapat terbentuk. Setelah proses hidrasi terjadi, akan terbentuk dua
layer yaitu layer yang dominan asam serta layer yang dominan akan terpin hidrat. Pada saat
proses hidrasi juga diberikan dispersan untuk mencegah terbentuknya agglomerat besar.
Proses pencucian dengan air lalu dilakukan untuk menghilangkan asam sulfat dari campuran.
Proses pencucian dengan air digunakan untuk membersihkan asam sulfat dari campuran.
Hal ini bertujuan untuk mencegah proses hidrasi yang berkelanjutan.
Tahap kedua proses ini adalah dehidrasi yaitu mereaksikan terpin hidrat yang sudah
terbentuk dengan asam konsentrasi rendah baik asam organik maupun asam anorganik.
Pemanasan pun dilakukan selama penambahan asam tersebut. Proses ini lalu dilanjutkan
dengan proses netralisasi menggunakan larutan basa dan terakhir difraksionasi sehingga
didapatkan 1,8-sineol murni. Peningkatan 1,8-sineol murni dapat dilakukan dengan
pengaturan konsentrasi asam pada proses dehidrasi.

2. Pemurnian produk
a. Ekstraksi 1,8 sineol dengan menggunakan hidrokuinon
Metode pemisahan ini bertujuan untuk mendapatkan 1,8 sineol dari campuran 1,8 sineol, 1,4
sineol serta hidrokarbon terpen dengan menggunakan hidrokuinon. Metode ini memiliki
kelebihan yaitu harga hidrokuinon yang murah dan banyak dipakai di industri. Disamping itu,
hidrokuinon tidak larut di dalam hidrokarbon terpen sehingga dapat diperoleh kembali untuk
dipakai ulang dengan pemisahan menggunakan filtrasi, ekstraksi maupun distilasi. 1,8 sineol
akan membentuk senyawa kompleks dengan hidrokuinon dan mengendap. Endapan dari
senyawa kompleks dipisahkan lalu dapat diproses lebih lanjut baik dengan filtrasi, distilasi
maupun ekstraksi dengan pelarut untuk memisahkan 1,8 sineol dengan hidrokuinon.
Konsentrasi hidrokuinon yang diberikan ke dalam campuran dapat dalam bentuk larutan
dengan konsentrasi 5%. Bentuk anhydrous juga bisa digunakan untuk meningkatkan
perolehan serta kemurnian dari 1,8 sineol.
18 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

Kondisi operasi untuk proses ekstraksi ini berbeda tiap tahapnya. Untuk reaksi hidrokuinon
dengan campuran, temperatur operasi yang dikehendaki adalah temperatur operasi hingga
terjadi pembentukan kristal dari senyawa kompleks 1,8 sineol dengan hidrokuinon. Untuk
temperatur pemisahan dari hidrokarbon terpen, umumnya berada di rentang -300C hingga
300C. Pemilihan metode pemisahan dapat dilakukan baik dengan batch maupun semicontinuous. Pada metode pemisahan semi-continuous, campuran 1,8 sineol dialirkan ke
kolom berisi dengan hidrokuinon. Pemisahan senyawa kompleks dilakukan dengan proses
disosiasi senyawa kompleks menggunakan pelarut hangat diantaranya adalah heptana dan
toluena. Pendinginan lalu dilakukan untuk menciptakan senyawa kompleks lagi dalam fasa
heptana. Proses filtrasi lalu dilakukan untuk memisahkan padatan dengan cairan lalu
dilanjutkan dengan distilasi uap untuk regenerasi hidrokuinon dan mendapatkan 1,8-sineol
yang murni.
b. Adsorpsi 1,4 sineol dengan menggunakan zeolit untuk mendapatkan 1,8 sineol
Pemisahan pada metode ini menggunakan prinsip adsorpsi menggunakan zeolite yang
memeliki ukuran port lebih besar dari pada ukuran dari 1,4 sineol namun lebih kecil dari 1,8
sineol. Zeolit yang digunakan harus memiliki constrain index dari 0,2 sampai
12,
perbandingan silika terhadap alumina lebih dari sama dengan 12, da ukuran port dari 6,7-7,0
amstrongs. Dengan ukuran port tersebut akan melewatkan 1,4 sineol yang memiliki dimensi
molekular 10x6,5x5,5 angstroms. Zeolit yang telah jenuh dengan 1,4 sineol dapat didesorpsi
dan kemudian diaktivasi untuk dapat digunakan kembali. Desorpsi 1,4 sineol dapat dilakukan
dengan pemindahan 1,4 sineol kedalam alkohol seperti methanol, etanol, dan aseton. Selain
itu desorpsi dapat dilakukan dengan pemasan zeolit pada suhu 150-200oC dan
mengkondensasi uap yang terbentuk yang berupa 1,4 sineol. Zeolit yang didesorpsi
kemudian diaktivasi dengan menggunakan gas inert atau udara pada temperatur tinggi untuk
mendorong berbagai macam zat organik yang terperangkap dalam struktur kristal dari zeolit.
c. Distilasi azeotrop 1,8 sineol dengan menggunakan cresol
Pemisahan pada metode ini menggunakan prinsip distilasi azeotrop untuk memisahkan 1,4
sineol dan 1,8 sineol dari hidrokarbon dengan titik didih yang hampir sama, yang kemudian
dilakukan pemisahan lebih lanjut untuk memisahkan 1,4 sineol dengan 1,8 sineol dengan
memanfaatkan cresol. Cresol ini digunakan karena pada kondisi temperatur dan tekanan
tertentu akan membentuk senyawa aditif yang stabil sehingga dapat mengikat sineol saat
kondisi tersebut. Sineol ini kemudian dapat dipisahkan dari cresol dengan menggunakan
distilasi pada kondisi atmosferik. Umpan yang mengandung sineol dan hidrokarbon yang
memiliki titik didih yang hampir akan ditambahkan dengan kukus dan dipanaskan
menggunakan steam coil pada kondisi vakum dengan tekanan 685,8-711,2 mmHg dan
temperatur 50-65oC. Uap yang terbentuk dari pemanasan tersebut kemudian dilewatkan
pada kolom distilasi berjejal yang terdapat aliran cairan cresol dari bagian atas secara
counter-current. Cresol tersebut akan mengikat dan mengkondensasi uap sineol yang
terbentuk. Uap yang terlewatkan dalam kolom akan mengalami kondensasi sebagian dan
akan dilakukan pemisahan dengan produk dalam fasa uap yang merupakan hidrokarbon dan
kondensat yang terbentuk merupakan air yang kemudian didaur-ulang untuk melarutkan
umpan. Campuran cresol dan cineol yang didapatkan sebagai produk bawah dipisahkan
dengan distilasi pada kondisi tekanan 760 mmHg pada temperatur diatas titik didih sineol
yaitu sekitar 180oC sehingga didapatkan produk atas berupa sineol dan produk bawah
19 dari 20

D2.1516.K.15

PABRIK PEMBUATAN SINEOL DARI -PINEN

berupa cresol yang kemudian dapat didaur-ulang sebagai senyawa pembilas dalam kolom
distilasi berjejal. 1,4 sineol dan 1,8 sineol dapat dipisahkan dengan cara sejenis yaitu
menggunakan distilasi azeotrop dengan menggunakan cresol.
d. Distilasi azeotrop menggunakan fenol untuk mendapatkan 1,8 sineol
Fenol dapat dimanfaatkan untuk memisahkan sineol dan konstituen-konstituen hidrokarbon
lain dari campuran yang mengandung sineol dan hidrokarbon-hidrokarbon dengan titik didih
yang mirip dengan cara distilasi fraksionasi azeotropik dengan adanya fenol sebagai agen
azeotropik. Dibandingkan dengan proses-proses lain yang tidak menggunakan senyawa
fenol, pada proses ini fenol digunakan untuk membentuk campuran dengan titik didih
konstan. Campuran tersebut adalah campuran antara fenol dengan 1,4-sineol, fenol dengan
1,8-sineol, serta sineol dengan senyawa-senyawa hidrokarbon dengan titik didih yang mirip
degan sineol. Campuran hidrogen-fenol merupakan campuran azeotrop dengan titik didih
terendah, sementara itu campuran 1,8-sineol dan fenol memiliki titik didih yang lebih tinggi
dibandingkan dengan fenol dan 1,4-sineol. Campuran-campuran ini kemudian dapat
dipisahkan menjadi komponen-komponen individualnya dengan cara distilasi fraksionasi
lanjut.

20 dari 20