Anda di halaman 1dari 22

TUGAS ORAL BIOLOGY 6

ORGAN ATAU KOMPONEN YANG BERPERAN, TAHAP-TAHAP


PENELANAN, DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

DisusunOleh :
Kelompok 11

ARTHA SURI

04031181320017

RIA WIJAYA

04031281320005

NABILAH NAZALIKA 04031281320007

Dosen Pembimbing : drg. Shanty Chairani, M.Si

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016/2017

ORGAN ATAU KOMPONEN YANG BERPERAN, TAHAP-TAHAP


PENELANAN, DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
A. Komponen yang Berperan
Menurut kamus, proses menelan (deglutasi atau deglutition) adalah suatu proses
memasukkan makanan kedalam tubuh melalui mulut "the process of taking food into the
body through the mouth". Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks,
dimana

setiap

organ

yang

berperan

harus

bekerja

secara

terintegrasi

dan

berkesinambungan. Dalam proses menelan ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6
syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang otot menelan.
Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke
dalam lambung. Proses ini mencakup 4 tahap penelanan, dari persiapan bolus di rongga
mulut, masuknya bolus ke faring, berjalan melintasi faring dan akhirnya turun melalui
sfingter faring ke esophagus. Secara klinis jika terjadinya gangguan pada deglutasi
disebut disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut
sampai ke lambung.

Sumber : Atlas of Clinical Gross Anatomy By Kenneth Moses et al. Elsevier; 2005.

Organ yang berperan pada proses penelanan adalah:


Organ
Bibir dan Pipi

Fungsi
Mempertahankan makanan yang akan ditelan agartidak

Gigi
Lidah

jatuh atau keluar dari mulut


Meletakkan makanan pada lidah
Membantu memecah makanan yang berukuran besar

menjadi potongan-potongan yang lebih kecil.


Membawa bolus makanan
Menekan bolus menuju posterior dinding faringeal
Mengangkat laring dan tulang hyoid keatas ke arah
dasar lidah sehingga bolus makanan turun ke bawah ke

Palatum
Uvula
Faring

arah servikal esofagus.


Pada saat menelan, bolus makanan membuat Palatum

mole terangkat ke atas dan menutup nasofaring.


Menutup nasofaring dan mencegah bolus makanan

masuk ke nasolaring.
Terdiri atas: Nasofaring, Orofaring, Laringofaring

Nasofaring : Bagian paling atas dari faring. Meluas

dari dasar tengkorak ke permukaan atas palatum mole.


Orofaring
: Terletak di belakang rongga mulut,

membentang dari uvula ke tulang hyoid.


Laringofaring (Hipofaring) : Bagian ekor dari faring,
bagian

dari

kerongkongan.

tenggorokan

yang

Berfungsi

sebagai

terhubung
lorong

ke

untuk

makanan dan udara. Dimana makanan akan diteruskan


Laring

ke esofagus dan udara akan diteruskan ke laring.


Salah satu saluran pernafasan

Epiglotis
Esophagus

Mencegah makanan dan cairan masuk ke laring selama

menelan.
Menggerakkan makanan, cairan dan air liur dari faring
masuk ke lambung melalui gerakan peristaltis.

Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap :
a) Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam orofaring
langsung akan berespons dan menyampaikan perintah.
b) Perintah diterima oleh pusat penelanan di medula oblongata/batang otak (kedua
sisi) pada trunkus solitarius di bagian Dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi motorik
proses menelan) dan nucleus ambigius yg berfungsi mengatur distribusi impuls
motorik ke motor neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan.
c) Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah.

MEKANISME MENELAN

Selama proses menelan, otot-otot diaktifkan secara berurutan dan secara teratur dipicu
dengan dorongan kortikal atau input sensoris perifer. Begitu proses menelan dimulai, jalur
aktivasi otot beruntun tidak berubah dari otot-otot perioral menuju kebawah. Jaringan saraf,
yang bertanggung jawab untuk menelan otomatis ini, disebut dengan pola generator pusat.
Batang otak, termasuk nucleus tractus solitarius dan nucleus ambiguus dengan formatio
retikularis berhubungan dengan kumpulan motoneuron kranial, diduga sebagai pola generator
pusat.
Tiga Fase Menelan
Deglutition adalah tindakan menelan, dimana bolus makanan atau cairan dialirkan
dari mulut menuju faring dan esofagus ke dalam lambung. Deglutition normal adalah suatu
proses halus terkoordinasi yang melibatkan suatu rangkaian rumit kontraksi neuromuskuler
valunter dan involunter dan dan dibagi menjadi bagian yang berbeda: (1) oral, (2) faringeal,
dan (3) esophageal. Masing-masing fase memiliki fungsi yang spesifik, dan, jika tahapan ini
terganggu oleh kondisi patologis, gejala spesifik dapat terjadi.

a. Fase Oral
Ketika makanan berada di dalam mulut, makanan ada di permukaan oklusal gigi
rahang bawah untuk dimastikasi. m.orbikularis oris (N. V.2) menutup bibir untuh menahan

makanan tetap di dalam mulut. Selain itu posisi makanan juga di tahan oleh lingual gigi
insisivus. Makanan diproses menjadi partikel yang lebih kecil dengan adanya pengunyahan
oleh gigi geligi dan dilunakkan dengan saliva sehingga terbentuk bolus.
Bolus makanan tersebut berada di dorsum lidah dan posisi gigi dalam oklusi sentris
sehingga memungkinkan kontraksi dari otot di ujung lidah. m.palatoglosus mendorong lidah
keatas menekan palatum durum. Kemudian lidah akan bersandar pada palatum tepat
dibelakang gigi insisif. Bibir tertutup dan gigi atas dan bawah berkontak. Adanya bolus pada
mukosa palatum akan merangsang refleks gelombang kontraksi dari lidah yang akan
mendorong bolus ke arah bawah. Bersamaan dengan itu rongga hidung akan ditutup oleh
elevasi dari palatum mole akibat aksi dari otot levator palatini dan tensor palatini.
Saat bolus mencapai ujung lidah, bolus akan dipindahkan ke faring. Bolus menyentuh
bagian arkus faring anterior, uvula dan dinding posterior faring sehingga menimbulkan
refleks faring. Arkus faring terangkat ke atas akibat kontraksi m. palatofaringeus (n. IX, n.X
dan n.XII). Hal ini menyebabkan bolus dapat masuk ke faring.
Dengan menelan suatu cairan, keseluruhan urutannya akan selesai dalam 1 detik.
Untuk menelan makanan padat, suatu penundaaan selama 5-10 detik mungkin terjadi ketika
bolus berkumpul di orofaring.

Gambar Pada fase oral

Tabel Peranan Nervus dan Otot dalam Menelan pada Fase Oral
ORGAN

AFFEREN

EFFEREN

Peranan dalam

(sensorik)

(motorik)

Proses Menelan

otot
GiGi

n. V.2 (maksilaris)

Otot mastikasi

n. V.3 (mandibula

Fungsi
Untuk

proses Dalam

pengunyahan

proses

menelan

gigi

berperan

dalam

membentuk
bolus

dengan

proses
pengunyahan.
Selain itu, posisi
gigi dalam oklusi
sentris

juga

membantu
menyebabkan
bolus turun ke
Bibir

n.V.2 (maksilaris)

m.orbikularis

n.V.3

oris
m.levator

Menarik

labius oris

ke lateral dan

m.depressor

atas
Menarik

labius

ke lateral dan

m.mentalis

bawah
Membentuk

(mandibularis)

Menutup bibir

faring.
Mempertahanka
n makanan yang

bibir

bibir

akan ditelan agar


tidak jatuh atau
keluar dari mulut
Meletakkan
makanan

pada

lidah

lekuk di dagu,
eversi

bibir

bawah bersama
m
Mulut &
pipi

n.V.2 (maksilaris)

orbikularis

oris
m.zigomatikus Menggerakkan
bibir,

Mempertahanka

menarik n makanan yang

sudut mulut ke akan ditelan agar


arah medial dan tidak jatuh atau
keatas,

keluar dari mulut

menggerakkan

Meletakkan

m levator

pipi
Menarik

makanan

anguli oris

mulut ke medial

m.depressor

dan atas
Menarik

anguli oris
m.risorius

mulut ke bawah
Menarik sudut

sudut

pada

lidah

sudut

mulut ke lateral
m.businator

dan atas
Menegangkan
bibir,
meningkatkan
tekanan

Lidah

Uvula

intra

n.V.3

m.palatoglosu

oral
Mengangkat

(mandibularis)

bagian posterior makanan

m.uvulae

lidah
Memendekkan

n.V.2 (maksilaris)

Membawa bolus

Menimbulkan

dan menebalkan refleks faring


m.palatofaring

uvula
Menyempitkan
isthmus

agar mencegah
makanan masuk
ke nasofaring

faucium,
menurunkan
palatum mole

b. Fase Faringeal

Pada fase faringeal, palatum lunak mengalami elevasi dan berkontak dengan dinding
lateral dan posterior faring sehingga menutup nasofaring. Dengan menutupnya

nasofaring, maka makanan tidak dapat masuk ke rongga hidung.


Lipatan palatofaringeal pada setiap sisi faring tertarik ke arah medial untuk saling
mendekat satu sama lain. Dengan cara ini, lipatan-lipatan tersebut membentuk celah
sagital yang harus dilewati oleh makanan untuk masuk ke dalam faring posterior.
Celah ini melakukan kerja selektif, sehingga makanan yang telah cukup dikunyah
dapat lewat dengan mudah.

M. Cricoarytenoideus

lateralis menutup pita suara. Selain itu kontraksi m.

suprahyoid muscles and m. Thyrohyoid menyebabkan os.hyoid dan laring terangkat


ke atas dan kedepan sehingga epiglotis terdorong ke belakang dan bawah.
Menutupnya pita suara dan epiglotis terdorong ke bawah bertujuan untuk mencegah

makanan masuk ke laring.


Relaksasi otot cricopharyngeal, kontraksi dari otot suprahyoid, dan tyrohyoid. Otot ini
menarik kompleks hyo-laryngeal ke depan, dan membuka sphincter. Tekanan bolus
turun akan membuka upper esophageal sphincter (proses aktif) sehingga makanan

akan masuk.
Makanan cair memerlukan waktu 1 detik dan makanan solid 4-8 detik.

Posisi uvula dan palatum lunak ketika menutup


nasofaring.

Peran pita suara dan epiglotis dalam mencegah bolus masuk ke faring.
Tabel. Nervus dan Otot yang Berperan dalam Proses Menelan

ORGA

AFFEREN

(sensorik)

EFFEREN
(motorik)
otot

Lidah

n.V.3

Peranan

m.milohyoid,

(mandibularis)

Pada Saat
Fungsi

Untuk

Menelan
elevasi Menekan

tulang hyoid dan bolus menuju


menunjang dasar posterior
mulut
m.digastrikus

dinding

faringeal
Mengangkat dan Mengangkat
menekan
bawah

n.VII :
m.stilohyoid

ke laring

dan

tulang tulang hyoid

hyoid lidah
keatas ke arah
Untuk
elevasi
dasar
lidah
dan
retraksi
sehingga
menelan
bolus
makanan
turun

ke

bawah

ke

arah servikal

n.XII, nC1:
m.geniohyoid,

m.tirohyoid

Untuk

esofagus
elevasi Mengadduksi

lidah

pita

suara

Elevasi

dan agar

laring

protrusi

tulang tertutup

hyoid
Mendekatkan
kartilago

Palatum

n.V.2, n.V.3

tiroid

n.XII :

dan tulang hyioid


Menarik
lidah

m.stiloglosus

keatas

n.IX, n.X, n.XI

kebelakang
Mengangkat

Palatum mole

m.levator veli

palatum mole

yang

palatine
n.V : m.tensor

Menegangkan

veli palatini

palatum mole

dan

terangkat
akan menutup

nasofaring
agar
Hyoid

tidak masuk
elevasi Mengangkat

n.laringeus

n.V :

Untuk

superior cab

m.milohyoid,

tulang hyioid dan laring

internus (n.X)

udara

dan

menunjang dasar tulang hyoid


m.digastrikus

n.VII :
m.stilohioid

mulut
keatas ke arah
Mengangkat dan
dasar
lidah
menekan
ke
sehingga
bawah
tulang
bolus
hyoid lidah
makanan
Untuk
elevasi
turun
ke
dan
retraksi
bawah
ke
menelan
arah servikal

n.XII, servikal 1 :

Untuk

esofagus
elevasi Mengadduksi

m.geniohioid,

lidah

pita

suara

Elevasi

dan agar

laring

protrusi

tulang tertutup

m.tirohioid

hyoid
Mendekatkan
kartilago

Mengangkat

tiroid laring

dan tulang hyioid

dan

tulang hyoid
keatas ke arah
dasar

lidah

sehingga
bolus
makanan
turun

ke

bawah

ke

arah servikal
Faring

n.X

esofagus
Mengangkat

n.IX, n.X, n.XI :

Menyempitkan

m.palatofaring,

isthmus faucium, arkus faring


menurunkan

m.konstriktor

palatum mole
Konstriksi faring Menekan

faring superior

dari

depan, faring

melancarkan

kebawah

transportasi
makanan

ke

eshopagus
dengan kontraksi
menyerupai
gerakan
m.konstriktor

peristaltik
Kontriksi faring

faring med.

dari belakang dan


melancarkan
transportasi
makanan

ke

eshopagus
dengan kontraksi
menyerupai
gerakan
n.X,n.XI :

peristaltik
Kontriksi faring

m.konstriktor

dari belakang dan

faring inf.

melancarkan
transportasi
makanan

ke

eshopagus
dengan kontraksi
menyerupai

n.rekuren (n.X)

aduksi
sehingga
laring
ini digabung

n.IX :

peristaltik
Mengangkat

m.stilofaring

faring

adanya

m ariepiglotika

Sebagai sfingter

ligament

Abduksi

suara

menutup, Hal

gerakan
Laring

Pita

dengan

pita hyoepiglotik

m.krikoaritenoid

suara

sehingga yang

lateralis

laring membuka

mencegah
pergerakan
epiglottis

ke

atas,
menyebabkan
epiglottis
bergerak

ke

belakang

di

atas
pembukaan
laring.
Seluruh efek
ini

bekerja

bersama
mencegah
masuknya
makanan

ke

dalam hidung
Esofagus n.X

n.X :

Memindahkan

m.krikofaring

bolus

dan trakea.
Memindahka

makanan n

bolus

ke bawah dengan makanan


proses

distal

relaksasinya

kemudian

ke
agar

sfingter
esophagus
bawah
membuka dan
menutup
c. Fase Esophageal
Fase esofageal ialah fase perpindahan bolus makanan dari esofagus ke lambung.
Dalam keadaan istirahat introitus esofagus selalu tertutup. Dengan adanya rangsangan bolus

makanan pada akhir fase faringeal, maka terjadi relaksasi m. Krikofaring sehingga esofagus
terbuka dan makanan dapat masuk ke dalam esofagus,
Tahap ketiga ini dimulai ketika bolus memasuki bagian atas dari esofagus. Esophagus
terutama berfungsi untuk menyalurkan makanan secara cepat dari faring ke lambung, dan
gerakannya diatur tanpa disadari. Fase ini berlangsung 8-20 detik. Bolus makanan akan turun
lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.

Setelah bolus makanan lewat, maka sfingter akan berkontraksi lebih kuat
melebihi tonus introitus esofagus pada waktu istirahat sehingga makanan tidak

akan masuk ke faring dan refluks dapat terhindari.


Gerak bolus makanan di esofagus bagian atas masih dipengaruhi oleh
m.krikofaring faring inferior pada akhir fase faringeal. Selanjutnya bolus akan

didorong ke distal oleh gerakan peristaltik esofageal.


Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf plexus
mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkular dinding
esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke

distal esofagus.
Gerakan peristaltik menyebabkan makanan masuk ke lambung untuk dicerna
dengan cara relaksasi m. krikofaring, bolus makanan turun dengan cara
kontraksi otot longitudinal sedangkan otot sirkular dalam keadaan relaksasi,
selanjutnya makanan turun lagi kebawah hingga ujung sfingter bawah dengan
cara relaksasi otot longitudinal dan kontraksi otot sirkular secara bergantian

hingga bolus makanan mencapai lambung.


Pada akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika
dimulainya pristaltik esofagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke
distal. Selanjutnya setelah makanan lewat maka sfringter akan menutup
kembali.

Organ
Esofagus

Aferen
Serat

Afferen

efferen Vagus

Efferen
dan m. krikofaring

Peranan Saat
Menelan
Melakukan

Otot longitudinal gelombang


dan otot sirkular

peristaltik

agar

makanan masuk ke
lambung

untuk

dicerna dengan cara

relaksasi

m.

krikofaring,

bolus

makanan

turun

dengan

cara

kontraksi

otot

longitudinal
sedangkan

otot

sirkular

dalam

keadaan

relaksasi,

selanjutnya
makanan turun lagi
kebawah

hingga

ujung

sfingter

bawah dengan cara


relaksasi

otot

longitudinal

dan

kontraksi

otot

sirkular

secara

bergantian

hingga

bolus

makanan

mencapai
lambung.kontraksi
otot

longitudinal

sedangkan

otot

sirkular

dalam

keadaan

relaksasi,

selanjutnya
makanan turun lagi
kebawah
ujung

hingga
sfingter

bawah dengan cara


relaksasi

otot

longitudinal

dan

kontraksi

otot

sirkular

secara

bergantian

hingga

bolus

makanan

mencapai lambung.

Mekanisme Tersedak:
Tersedak dapat terjadi ketika bolus makanan tidak masuk ke kerongkongan, tetapi masuk ke
tenggorokan. Hal ini terjadi karena katub epiglotis tidak menutup jalan masuk ke laring
dengan semprna. Pada bagian inilah terdapat katub epiglotis yang mengatur membuka dan
menutupnya saluran pernapasan dengan saluran percernaan secara bergantian atau membuka
secara bersama-sama akan menyebabkan saluran percernaan dan pernapasan sama-sama
membuka sehingga sebagian makanan akan masuk kedalam saluran pernapasan (trakea) dan
mengakibatkan makanan didorong keluar oleh kontraksi otot trakea sehingga menyebabkan
kita tersedak. Pada saat tersedak, makanan sebagian akan dikeluarkan melalui hidung
sehingga akan menyebabkan rasa panas pada hidung. Pada saat menelan makanan, katup
tenggorokan (epiglotis) akan menutup bagian atas tenggorokan, akibatnya makanan meluncur
ke kerongkongan. Jika pada saat menelan makanan, kita menarik napas, maka katup
tenggorokan akan terbuka, makanan dapat masuk kedalam tenggorokan. Akibatnya, kita
merasa tercekik dan pada akhirnya akan tersedak.
Mekanisme Muntah:
Muntah adalah suatu refleks paksa untuk mengeluarkan isi lambung melalui
esophagus dan keluar dari mulut. Refleks muntah (gagging reflex) dianggap sebagai suatu
mekanisme fisiologis tubuh untuk melindungi tubuh terhadap benda asing atau bahan-bahan
yang berbahaya bagi tubuh, masuk ke dalam tubuh melalui faring, laring atau trakea. Sumber
refleks muntah secara fisiologis dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu: somatik
(stimulasi saraf sensoris berasal dari kontak langsung pada daerah sensitif yang disebut
trigger zone, misalnya: sikat gigi dan meletakkan benda di dalam rongga mulut) dan
psikogenik (distimulasi di pusat otak yang lebih tinggi tanpa stimulasi secara langsung,
misalnya: penglihatan, suara, bau, perawatan kedokteran gigi).
Reaksi muntah dapat terjadi karena stimulasi pada uvula dan tonsila lingualis. Ketika
reaksi muntah terjadi, timbul beberapa reflesk yang terjadi di ronggal mulut yaitu naiknya

tulang lidah dan faring untuk mengangkat sfingter esophagus bagian atas hingga terbuka,
penutupan glottis, pengangkatan palatum molle untuk menutup nares posterior (daerah yang
paling sensitive di dalam rongga mulut berbagai rangsangan).

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENELANAN


Hal-hal yang dapat mempengaruhi proses penelanan antara lain:
1. Pola penelanan yang salah
Pola Penelanan Bayi Normal (Penelanan Infantil atau Viceral)
Pada penelanan bayi yang normal, lidah berada di antara gumpad atas dan bawah,
mandibula distabilkan oleh kontraksi otot fasial. Otot buccinator berkontraksi
dengan kuat pada waktu bayi menelan dan pada saat menyusui. Penelanan bayi
normal terjadi saat bayi menyusui. Penelanan bayi normal terjadi pada bayi yang

baru lahir dan secara bertahap menghilang seiring dengan tumbuhnya gigi di
bagian bukal pada periode gigi sulung.
Penghentian pola penelanan bayi dan munculnya pola penelanan dewasa itu
saling bercampur aduk selama periode gigi sulung dan kadang-kadang sampai
periode gigi campur. Gambaran yang terlihat pada wajah dari kombinasi kedua
pola penelanan ini disebut "Pola Penelanan Peralihan" (transisional).
Pengurangan aktivitas otot buccinator merupakan bagian dari masa transisi ini.
Fitur paling khas yang menandai dimulainya proses penghentian pola penelanan
bayi yang normal adalah munculnya kontraksi otot-otot elevator mandibula
selama menelan yang menstabilkan kedudukan gigi pada waktu oklusi.

Pola Penelanan Bayi yang Menetap


Pola penelanan bayi yang menetap dapat didefinisikan sebagai persistensi
predominan refleks menelan bayi setelah gigi tetap erupsi, tetapi hanya sedikit
orang-orang yang memiliki pola ini. Pola ini dapat terlihat dengan adanya
kontraksi otot-otot lidah dan fasial yang sangat kuat, bahkan terlihat juga pada
waktu ia menyeringai yang sangat lebar. Pengukuran lidah yang kuat terjadi di
antara gigi di bagian depan dan di kedua sisinya, serta kontraksi otot-otot
businator juga menjadi khusus pola ini.
Orang yang mempunyai pola ini memiliki wajah tanpa ekspresi, karena otot-otot
yang dipersarafi nervus kranialis, tidak digunakan untuk mengekspresikan wajah,
melainkan dipakai untuk menstabilkan mandibula selama menelan yang
membutuhkan kerja-kerja dari otot-otot tersebut.
Pola penelanan bayi yang menetap ini dapat pula menyebabkan orang yang akan
mengalami kesulitan dalam pengunyahan, sebab biasanya oklusi yang terjadi
hanya pada salah satu gigi molar dalam setiap kuadran.

Pola Penelanan Dewasa Normal (Penelanan Somatik)


Pola penelanan dewasa normal digambarkan dengan aktivitas bibir dari pipi serta
kontraksi otot-otot elevator mandibula. Aktivitas bibir selama pola penelanan
dewasa normal tergantung dari kemampuan lidah untuk menghasilkan valvaseal

(sumbat katup) yang sempurna terhadap gigi dan prosesus alveolaris. Menjulurkan
lidah pada waktu menelan dapat dibagi 2 yaitu :
Tipe simpel: menunjukkan otot-otot bibir, mentalis elevator mandibula,
dan gigi beroklusi dengan posisi lidah yang maju. Tipe ini biasanya
terlihat pada anak yang mengisap dot terlalu lama dan yang hipertropi.
Tipe kompleks: biasanya menyebabkan terjadinya hambatan oklusi
(occlusal interference). Tipe ini mengkombinasikan kontraksi otot bibir,
fasial, dan mentalis, kurangnya kontraksi otot-otot elevator mandibula,
serta penelanan tanpa kontak gigi. Jadi tipe ini dapat diartikan sebagai
penjuluran lidah dengan pola menelan tanpa kontak gigi.
2. Kelainan anatomi lidah
Seperti aglossia, makroglosia, mikroglosia, dan ankilosis akan mengganggu
proses penelanan.

Aglosia maka tidak terjadi proses penelanan.


Makroglosia terjadi openbite anterior dan posterior. Telah terbentuk openbite maka
lidah sering terjulur ke depan untuk mempertahankan penutupan bagian depan

selama proses penelanan.


Mikroglosia adalah lidah yang kecil. Kejadian ini sangat jarang ditemukan, dapat
ditemukan pada sindrom Pierre Robin yang merupakan kelainan herediter.
Hemiatrofi lidah, sebagian lidah mengecil. Penyebabnya dapat berupa cacat pada
saraf hipoglosus yang mempersarafi otot lidah. Tanpa rangsangan, otot lidah menjadi
atrofi dan tubuh lidah menjadi mengecil. Pada kasus ini, selain cacat pada lidah, juga
menimbulkan kerusakan lainnya. Sehingga mempengaruhi proses penelanan yakni

tidak maksimal membawa bolus makanan ke posterior.


Ankiloglosia merupakan perlekatan sebagian atau seluruh lidah kedasar mulut.
Frenulum lingualis melekat terlalu jauh kedepan dan terlihat pada posisi bervariasi,
yang paling parah bila terletak pada ujung anterior lidah. Pergerakan lidah dapat
terhambat dan dalam proses penelanan lidah penderita tidak dapat menyentuh

palatum keras untuk menghantarkan bolus makanan ke posterior.


3. Oklusi yang buruk
Bisa disebabkan adanya keausan oklusal, kerusakan gigi akibat karies, atau hilangnya
gigi karena pencabutan. Sehingga menyebabkan hilangnya kontak antara gigi atas dan bawah,

maka lidah akan menempati ruang kosong tersebut, dan terjadilah kegagalan fungsi otot
masseter dan fungsi buccinator.
Kehilangan gigi bagian anterior menyebabkan bibir atas yang seharusnya ditahan oleh
gigi insisivus sulit menutup dengan baik sehingga sulit untuk menahan agar bolus makanan
tidak kembali terdorong kedepan selama proses penelanan. Dalam proses penelanan bibir
berfungsi untuk mencegah keluar masuknya udara dan juga bolus makanan dengan keadaan
4. Kebiasaan buruk
Bernafas lewat mulut:
Menyebabkan keadaan rongga mulut menjadi kering. Makanan padat
memerlukan saliva sehingga dapat terbentuk bolus yang kemudian akan masuk ke
tenggorokan dengan bantuan saliva, sehingga ketika keadaan rongga mulut kering bolus

makanan sulit untuk masuk ke tenggorokan untuk di telan.


Tongue trusting
Merupakan ciri khas dari maloklusi kelas II divisi 1 yang umumnya memiliki
overjet berlebih sehingga memacu kerja otot-otot perioral lebih keras untuk membuat
bibir berkontak, dan lidah akan maju menutup rongga mulut pada saat penelanan. Pola
ini bertujuan membuat tekanan intra oral negatif yang berperan penting pada penelanan.
Tekanan otot pada daerah premolar saat penelanan 2 kali lebih besar pada maloklusi
kelas II divisi 1 dibandingkan dengan pada oklusi normal. Pada kondisi normal sepertiga
anterior lidah bersentuhan dengan papila insisif dan palatum sebelah palatal insisif atas
saat penelanan, sedangkan bibir tetap tertutup.
Tounge trushting adalah normal pada anak-anak. Dikatakan normal yaitu pada
fase gigi geligi sulung dan tidak berlanjut sampai setelah gigi permanen erupsi. Bila
kebiasaan ini terus berlanjut sampai gigi permanen erupsi akan terdapat maloklusi
dengan tanda-tanda berupa insisivus atas proklinasi dan terdapat diastema, openbite,
lengkung atas sempit serta retroklinasi insisivi bawah. Bila telah terbentuk openbite
maka lidah sering terjulur ke depan untuk mempertahankan penutupan bagian depan

selama proses penelanan


Menghisap jari dan menggigit bibir
Menyebabkan maloklusi dengan tanda-tanda berupa insisivus atas proklinasi
dan terdapat diastema, openbite, lengkung atas sempit serta retroklinasi insisivi
bawah. Bila telah terbentuk openbite maka lidah sering terjulur ke depan untuk
mempertahankan penutupan bagian depan selama proses penelanan. Kebiasaan
mengisap atau menggigit bibir bawah akan mengakibatkan hipertonicity otot-otot
mentalis, overjet yang besar dengan gigi anterior rahang atas condong ke labial dan

gigi anterior rahang bawah condong ke lingual diikuti perbedaan skeletal yang ringan.
Dalam beberapa kasus merupakan suatu aktivitas kompensasi yang timbul karena
overjet berlebihan sehingga menimbulkan kesulitan menutup bibir pada saat
penelanan.

5. Jenis Makanan yang di Konsumsi


Konsistensi makanan berpengaruh terhadap proses penelanan.
Hal ini berpengaruh pada waktu pembuatan bolus pada fase oral dan penghantaran bolus pada
fase faringea, serta pada lama pembukaan sfringter esofageal
Konsistensi makanan yang padat dan berserat menyebabkan kontraksi otot pada fase
oral, fase faringeal dan fase esofageal meningkat, sehingga waktu pembentukan bolus pada
fase oral dan penghantaran bolus pada fase faringeal menjadi lebih panjang dan lama.
Hal ini berkebalikan dengan makanan yang mengandung air lebih dan memilik
konsistensi lunak, makanan dengan konsistensi lunak menyebabkan otot berkontraksi ringan
lebih ringan sehingga pembuatan bolus serta penghantaran menjadi lebih cepat, tetapi pada
makanan lunak, lama waktu pembukaan sfringter bagian esophageal menjadi lebih sedikit
lebih lama dari biasanya karena rangsangan gerak peristaltiknya rendah pada saat menelan
cairan seperti air, dan proses oral dilewati.