Anda di halaman 1dari 27

Laporan Kasus

G2P1A0 HAMIL 38 MINGGU DENGAN HAP EC. PLASENTA


PREVIA TOTALIS BELUM INPARTU JANIN TUNGGAL
HIDUP PRESENTASI KEPALA

Oleh :
Meitry Tiara Nanda, S.Ked
70 2010 045

Pembimbing :
dr. Msy Yenni Sp.OG

SMF ILMU OBSTERTI DAN GINEKOLOGI


RSUD PALEMBANG BARI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2014

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan Kasus:


G2P1A0 hamil 38 minggu dengan HAP ec. Plasenta Previa Totalis belum inpartu
Janin Tunggal Hidup Presentai Kepala.
Oleh :
Meitry Tiara Nanda, S.Ked
702010045

Pembimbing :
Dr. Msy Yeni, Sp.OG

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepanitertaan Klinik di SMF Ilmu Obstetri dan Ginekologi RSUD Palembang
Bari periode 26 mei 2014 s.d 29 juni 2014.

Palembang, Mei 2014


Pembimbing

dr. Msy Yeni, Sp.OG

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
G2P1A0 hamil 38 minggu dengan HAP ec. Plasenta Previa Totalis belum
inpartu Janin Tunggal Hidup Presentai Kepala, sebagai salah satu syarat
mengikuti ujian kepaniteraan klinik. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada
Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan pengikutnya
sampai akhir zaman.
Terima kasih kepada dr. Msy Yeni, Sp.OG selaku pembimbing atas kesabaran,
perhatian, dan masukan-masukan berharga selama penyusunan laporan kasus ini.
Terima Kasih kepada seluruh dokter, bidan dan staf di Departemen Kandungan
dan Kebidanan, keluarga, dan teman-teman sejawat yang selalu memberikan
bantuan dan semangat kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada pihak RSUD Palembang Bari atas perhatian dan kerjasamanya dalam
penuliasan laporan kasus ini.
Penulis menyadari ketidak sempurnaan dan keterbatasan dalam penyusunan
laporan kasus ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan oleh penulis. Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat untuk
meningkatkan pendidikan mengenai plasenta previa totalis.
Palembang, Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan............................................................................................. i
Kata Pengantar....................................................................................................... ii
Daftar isi............................................................................................................... iii
BAB I Pendahuluan...............................................................................
1
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi ....................... 4
2.2 Tipe plasenta.............. ............................ 4
2.3 Epidemiologi...... .... 6
2.4 Etiologi ....................... 7
2.5 Patofisiologi.......................7
2.6 Faktor resiko..........................................................................
7
2.7 Gejala.......................................................................................... 7
2.8 Diagnosis .................................................... 8
2.11. Penatalaksanaan......................................................................... 10
2.11 Prognosis......................................................................................12
BAB III Laporan kasus...............................................................................13
BAB IV Analisis Kasus...............................................................................22
BAB V Kesimpulan............................................................................... 24
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi
yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. Dengan kata lain, 1.400 perempuan
meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun
karena kehamilan dan persalinan ( Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2010/
2011 ). Sebagai perbandingan, angka kematian bayi di negara maju seperti di
Inggris saat ini sekitar 5 per 1.000 kelahiran hidup ( WHO, 2005 ). Sebagian besar
kematian perempuan disebabkan komplikasi karena kehamilan dan persalinan,
termasuk pendaraahan, infeksi, aborsi tidak aman, tekanan darah tinggi dan
persalinan lama .
Penyebab utama kematian ibu di indonesia di samping pendaraahan adalah
preeklampsia atau eklampsia. Salah satu penyebab kematian ibu karena
pendaraahan adalah hemoragic antepartum ( HAP ). Perdaraahan antepartum
merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3% dari semua
persalianan, penyebabnya antara lain plasenta yang implantasinya tidak normal,
sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium internum. Di RS Parkland
didapatkan pervalensi plasenta perevia 0,5%. Clark dkk ( 1985) melaporkan
prevalensi plasenta previa 0,3%. Nielson dkk ( 1989) dengan penelitian prospektif
menemukan 0,33 % plasenta previa dari 25.000 wanita yang bersalin, di Indonseia
berkisar 2-7% sedang di Rs sanglah kejadianya 2,7%. Insiden plsenta pevia pada
wanita hamil sekitar 0,3-0,8% tergantung populasi yang diamati. Etiologi dari
plasenta previa berhubungan denagn riwayat dilakukan sectio sesaria, paritas
tinggi , dan riwayat aborsi sebelumnya. Salah satu gejala khas plsenta previa
adalah terjadi perdarahan dari jalan lahir secara tiba- tiba tanpa disertai nyeri dan
darah yanag keluar berwarna merah segar. Angka kematian ibu akibat kejadian
HAP sebesar 1 dari 200 persalianan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20
cm dan tebal 2-3 cm . Beratnya 500-600 gram, Umumnya plasenta terbentuk
lengkap pada kehamilan 16 minggu dengan ruang amnion membesar
sehingga amnion tertekan kearah korion. Letak plasenta biasanya umumnya
di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arha fundus uteri.
Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih
luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Plasenta terdiri atas
tiga bagian luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi.
Plasenta terdiri atas tiga bagian, antara lain:
1. Bagian janin (fetal portion ). Terdiri dari korion frondosum dan vili. Vili
dari plasenta yang lengkap terdiri atas:
- Vili korialis
- Ruang ruang interviler. Darah ibu yang berada dalam ruang interviler
berasal dari arteri spiralis yang berad di desidua basalis. Pada sistol, darah
dipompa dengan tekanan 70-80 mmHg ke dalam ruang interviler, sampai
pada lempeng korionik ( chorionic plate ) pangkal dari kotiledonkotiledon. Darah tersebut membanjiri vili korialis dan kembali perlahanlahan ke pembuluh balik ( vena ) di desidua dengan tekanan 8 mmHg
- Pada bagian permukaan janin, plsenta diliputi oleh amnion yang kelihatan
licin. Di bawah lapisan, amnion ini berjalan cabang- cabang pembuluh
darah tali pusat. Tali pusat akan berisersi pada plsetan bagian permuakaan
janin
2. Bagian maternal ( maternal portion ). Terdiri atas desidua kompakta yang
berbentuk dari beberapa lobus dan kotiledon ( 15-20 buah ). Desidua
basalis pada plsenta matang disebut lempeng korionik ( basal ), dimana
sirkulasi utero-plasenta berjalan ke ruang-ruang intervili melalui tali
pusat. Jadi, sebenarnya peredaran darah ibu dan janin adalah terpisah.

Pertuakran terjadi melalui sisitial membran yang berlangsung scecara


osmosis dan alterasi fisiko-kimia
3. Tali pusat, merentang dari pusat janin ke plsenta bagian permukaan janin.
Panjangnya rata-rata 50-55cm, sebesar jari ( diameter 1-2,5cm ). Pernah
dijumpai tali pusat terpendek 1/2 cm dan terpanjang 200 cm. Struktur
terdiri atas 2 aa. Umbilikalis dan 1 v.umbilikalis serta jelly Wharton.
Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300
ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada
kehamilan 40 minggu. Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjotjonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan
sisitium dari vili tidak berubah akan tetapi dari lapisan sitotropoblast selsel berkurang dan hanya ditemukan sebagai kelompok-kelompok sel-sel;
stroma jonjot menjadi lebih padat, mengadung fagosit, dan pembuluhpembuluh darahnya lebih besar dan lebiih mendekati lapisan tropoblast.1
2.2

Plasenta Previa
2.1.

Definisi plasenta previa


Plasenta previa adalah implantasi plsenta pada segmen bawah rahim
(SBR) yang menutupi sebagian atau seluruh bagian orifisium uteri
internum (OUI). Dari pengertian ini didapat dua hal yaitu :
- Implantasi plasenta letak rendah
-

Implantasi plasenta sepanjang atau didepan orificium uteri


internum Plasenta previa merupakan salah satu penyebab
perdarahan ante partum yang terjadi pada kehamilan lanjut ( pada
trimester III), selain dari solusio plasenta, dan perdaraahan yang
belum jelas sumbernya.2

2.2.

Tipe Plasenta Previa


Ada 4 tipe plasenta previa yaitu :
-

Tipe 1 : plasenta letak rendah


Pinggir plasenta berimplantasi di segmen bawah rahim

Tipe 2 : plasenta previa marginal


Plasenta mencapai OUI tetapi tidak menutupi OUI

Tipe 3 : Plasenta previa parisal


Plasenta menutupi sebagian OUI atau plasenta tidak
menutupi OUI selruhnya ketika berdilatasi

Tipe 4: plasenta previa totalis


Plasenta menutupi seluruh OUI ketika berdilatasi penuh

Klasifikasi plasenta previa ini didasarkan atas terabanya jaringan


plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. Karena
klasifikasi ini tidak didasarkan pada keadaan anatomi melainkan
fisiologi, maka klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Plasenta
previa totalis pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi
plasenta previa parsialis pada pembukaan 8 cm. Tentu saja observasi
seperti ini tidak akan terjadi dengan penanganan yang baik.1
.3.

Epidemiologi

Insidens plasenta previa sekitar 1 dari 500 kelahiran hidup dan yang
terjadi trimester II ( 16-20 minggu ) sekitar 5%. Sekitar 90% kejadian
plasenta previa ini ditindak lanjuti dengan terminasi per abdominam.
Berdasarkan data kelahiran di Amerika Serikat pada tahun 2001,
kejadian plasenta previa adalah 1 dari 305 persalianan ( Martin and co
wokers, 2002 ). Sekitar 93.000 persalianan di Nova Scotia, Crane dkk
( 1991 ) menemukan insidens 0,33% (1 dari 300 ). Di Parkland
Hospital, insidennya adalah 0,26% ( 1 dari 390 ) untuk lebih dari
169.000 persalinan selama 12 tahun terakhir.6
.4.

Etiologi

Penyebab pasti plasenta previa totalis masih belum bisa dipastikan.


Beberapa hipotesis menyatakan bahwa kondisi berikut berkaitan
dengan terjadinya plasenta previa:3

Adannya jaringan parut pada endometrium (uterus)

Plasenta yang besar seperti pada kehamilan kembar (gemeli)

Bentuk uterus yang abnormal

Pembentukan plasenta yang abnormal

.5.

Patofisiologi

Normalnya plasenta berimplantasi di fundus uteri dan aliran darah di


fundus lebih baik dari segmen bawah uterus. Adanya implantasi
abnormal dapat di akibatkan jaringan parut/sekar pada uterus dan
kerusakan pada uterus. Vaskularisasi yang berkurang atau perubahan
atropi pada desidua basalis akibat persalinan yang lampau dapat
menyebabkan plasenta previa, dimana plasenta letaknya normal akan
memperluas permukaannya sehingga mendekati atau menutupi sama
sekali pembukaan jalan lahir.4
2.6. Faktor resiko7
-

Riwayat operasi seksio sesaria sebelumnya (dihubungkan dengan


kejadian plasenta arkreta)

Paritas yang tinggi (multipara)

Usia ibu tua

Kehamilan kembar (gemeli)

Merokok (penggunaan tembakau)

Tindakan instrumentasi pada uterus

2.7. Gejala7
-

Perdarahan bercak pada trimester pertama dan kedua

Perdarahan pervaginam pada usia kehamilan 27-32 minggu tanpa


disertai nyeri (Sentinel bleed), dengan warna darah merah
terang, jumlahnya bervariasi dari perdarahan sedikit sampai
banyak. Hal ini dapat dipicu akibat hubungan seksual atau
kontraksi uterus.

Abdomen lemas, tidak nyeri tekan

2.8. Screening dan Diagnosis


Pada setiap perdarahan ante partum, pertama kali harus dicurigai
bahwa penyebabnya adalah plasenta previa sampai kemudian ternyata
dugaan itu salah.
a. Anamnesis
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu
berlangsung tanpa nyeri, tanpa penyebab, terutama pada
multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari
anamnesis melainkan dari pemeriksaan hematokrit.
b. Pemeriksaan luar
Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul.
Apabila presentasi kepala, biasanya kepala masih terapung di atas
pintu atas panggul. Tidak jarang terdapat kelainan letak janin
seperti letak lintang atau letak sungsang.
c. Pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan
berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan
vagina, seperti erosio porsionis uteri, karsinoma poliposis servisis
uteri, varises vulva, dan trauma. Apabila perdarahan berasal dari
ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurgai
d. Penentuan letak placenta tidak langsung
Penentuan letak plasenta secara tidak langsung ini dapat
dilakukan dengan radiografi, radioisotop, dan ultrasonografi.
Adanya plasenta previa dapat dideteksi melalui USG selama
kunjungan Ante Natal Care atau setelah terjadinya perdarahan
pervaginam.
-

Diagnosis sebelum usia kehamilan 20 minggu:


Dengan pemeriksaan USG rutin keadaan plasenta letak
rendah atau plasenta previa dapat diketahui

Diagnosis setelah usia kehamilan 20 minggu:


Umumnya plasenta previa ini akan terdiagnosis jika sudah
terjadi perdarahan pervaginam. Dokter dapat mengkorfirmasi
melalui pemeriksaan tambahan lain dapat dengan MRI
(Magnetic Resonance Imaging) dimana pemeriksaan ini tidak
menggunakan radiasi sehingga cukup aman bagi janin

e. Penentuan letak plasenta secara langsung


Pemeriksaanya adalah secara langsung meraba plasenta melalui
kanalis servikalis. Namun pemeriksaan ini sangat berbahaya
karena dapat menimbulkan perdarahan banyak. Oleh karenanya
pemeriksaan ini dilakukan apabila penanganan pasif ditinggalkan
dan ditempuh penanganan aktif. Pemeriksaannya harus dilakukan
dalam keadaan siap operasi. Pemeriksaan dalam di meja operasi
(PDMO) yaitu:
-

Perabaan fornises. Pemeriksaan ini hanya bermakna bila janin


dalam atas panggul, perlahan lahan seluruh fornises diraba
dengan jari. Perabaanya terasa lunak apabila antara jari dan
kepala janin terdapat plasenta, dan akan terasa padat / keras
bila diantara jari dan kepala janin tidak terdapat plasenta.

Pemeriksaan melalui kanalis servikalis. Apabila kanalis


servikalis

telah

terbuka,

perlahan-lahan

jari

telunjuk

dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, dengan tujuan meraba


kotiledon plasenta.5
2.9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan teregantung dari jumlah perdarahan uterus
abnormal, apakah janin sudah viabel atau belum untuk hidup diluar
uterus, besarnya plasenta yang menutupi serviks, posisi janin di dalam
rahim, dan paritas.
Pada

kehamilan

awal,

transfusi

dapat

diberikan

untuk

menggantikan kehilangan darah ibu. Obat-obatan dapat diberikan

untuk mencegah persalinan yang preterm, dan memperpanjang masa


kehamilan sampai mencapai 37 minggu.
Tindakan operatif (seksio sesaria) merupakan penatalaksanaan
pada kasus plasenta previa ini karena dapat mengurangi risiko
kematian ibu dan bayi.
Berdasarkan usia kehamilan, ada dua tindakan yang dilakukan yaitu :
1. Tindakan ekspektatif
Tujuan : agar janin tidak lahir prematur dan upaya diagnosis
dilakukan secara non invasif,
-

Syarat terapi ekspektatif


a. Kehamilan

preterm

dengan

perdarahan

sedikit

yang

kemudian berhenti
b. Belum ada tanda inpartu
c. Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam
batas normal)
d. Janin masih hidup
-

Rawat inap, tirah baring dan diberikan antibiotika


profilaksis

Pemeriksaan USG untuk menentukan implabtasi plasenta,


usia kehamilan, profil biofisik, letak dan persentasi janin.

Perbaiki anemia dengan pemberian sulfas ferosus atau


ferous fumarat per oral 60 mg selama 1 bulan.

Pastikan tersedianya sarana untuk melakukan transfusi

Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37


minggu masih lama, pasien dapat dirawat jalan ( kecuali
rumah pasien di luar kota atau diperlukan waktu > 2 jam
untuk mencapai rumah sakit ) dengan pesan segera
kembali ke rumah sakit jika terjadi perdarahan.

Jika pedarahan berulang, pertimbangkan manfaat dan


resiko ibu dan janin untuk mendapatakan penanganan
lebih lanjut dibandingkan dengan terminasi kehamilan

2. Tindakan Aktif
-

Rencanakan terminasi kehamilan jika :

Janin matur

Janin mati atau menderita anoamali atau keadaan yang


mengurangi kelangsungan hidupnya ( misalnya anensafali)

Pada perdarahan aktif dan banyak, segera dilakukan terapi


aktif tanpa memandang matuaritas janin.

Jika terdapat plasenta letak rendah dan perdarahan yang terjadi


sangat sedikit, persalianan per vagianam masih mungkin
dilaksanakan. Jika tidak, tindakan melahirkan dengan seksio
sesaria.

Pemilihan cara persalinan tergantung dari derajat palsenta


previa, paritas ,dan banyaknya perdarahan. Persalianan per
vaginam dapat dilakukan pada multigravida dengan plsenta letak
rendah, plsenta previamarginalis, atau plasenta previa parsialis
pada pembukaan lebih dari 5 cm yang dapat ditanggulangi
dengan pemecahan selaput ketuban. Persalinan per vaginam
bertujuan agar bagian terbawah janin menekan plasenta dan
bagian plsenta yang berdarah selama persalinan berlangsung,
sehingga perdarahan berhenti, dapat dilakuakan cara lain dengan
pemasangan cunam Willet dan versi Braxton-Hiks.

Jika persalinan dengan seksio sesaria dan terjadi perdarahan dari


tempat plasenta :

Jahit tempat perdarahan

Pasang infus oksitosin 10 IU dalam 500ml cairan intravena


( NaCl atau RL ) dengan kecepatan 60 tetes per menit

Jika perdarahan terjadi pasca persalinan, segera lakukan


penanganan yang sesuai ( ligasi arteri atau histerektomi )5

2.10.

Prognosis
Dengan penanganan yang baik seharusnya kematian ibu karena

plasenta previa rendah sekali, atau tidak ada sama sekali. Sejak
diperkenalkannya penanganan pasif pada tahun 1945, kematian
perinatal berangsur-angsur dapat diperbaiki. Walaupun demikian,
hingga kini kematian prenatal yang disebabkan oleh prematuritas tetap
memegang peranan utama.4

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1. Anamnesis
Identitas Pasien
Nama

: Ny. Aryana

Umur

: 24 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Lr. Keramasan rt 004 rw 002 no 171

Pekerjaan

: IRT

Pendidikan Terakhir

: SMP

Status Kawin

: Menikah

Agama

: Islam

No Rekam Medik

Masuk Rumah Sakit

: Kamis, 05 juni 2014 pukul 13.00 WIB

Identitas Suami
Nama

: Tn. Risno Paldi

Umur

: 31 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Lr. Keramasan rt 004 rw 002 no 171

Pekerjaan

: Buruh

Pendidikan Terakhir

: SMA

Status Kawin

: Menikah

Agama

: Islam

Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada 05 Juni 2014 pukul 12.00

Anamnesis
Keluhan Utama
Hamil 38 minggu datang dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir
Riwayat Perjalanan Penyakit :
Pasien datang ke poli KIA RSUD Palembang BARI dengan keluhan
perdarahan dari jalan lahir. Perdarahan diakui berlangsung sejak 6 jam yang
lalu, darah berwarna merah segar tanpa disertai nyeri perut. Perdarahan
awalnya berupa bercak-bercak merah di celana dalam. Lama kelamaan
dengan aktivitas dan pergerakan bayi pasien mengaku perdarahan semakin
banyak, banyak darah diakui pasien sampai 3 kali ganti celana dalam. Pasien
tidak merasakan nyeri pada perutnya saat terjadi perdarahan. Pasien lalu pergi
ke poli KIA RSUD Palembang BARI. Riwayat perut mules yang menjalar ke
pinggang tidak dirasakan oleh pasien, riwayat keluar lendir disangkal pasien,
riwayat keluar air-air disangkal, pasien mengaku pernah mengurut perutnya
saat hamil dengan dukun, lalu meminum jamu saat hamil, gerakan anak masih
dirasakan.
Riwayat Penyakit Dahulu

Os mengaku tidak pernah mengalami penyakit jantung, paru, hati, ginjal,


diabetes melitus, alergi maupun hipertensi. Os mengaku kehamilan
sebelumnya juga tidak mengalami perdarahan.
Riwayat Penyakit Keluarga

Os mengaku ayahnya menderita penyakit diabetes melitus dan hipertensi,


riwayat penyakit hati, ginjal paru, alergi disangkal.
Kebiasaan
Os mengaku pernah minum jamu selama kehamilan, memijat kandungan, os
mengkonsumsi susu hamil, riwayat merokok dan minum alkohol disangkal

Riwayat Haid
Menarche

: 12 tahun

Siklus haid

: 28 hari ( teratur)

Lama haid

: 7 hari

Banyaknya

: 3-4 x ganti pembalut

Riwayat Perkawinan
Lama menikah

: 4 tahun

Usia saat menikah

: 20 tahun

Riwayat Kontrasepsi

: Kb suntik 3 bulan

Riwayat ANC
selama kehamilan os telah melakukan ANC sebanyak 6x di bidan, os juga
sudah melakukan imunisasi TT sebanyak 2x.
Riwayat kehamilan dan persalinan
no

Jenis kelamin

Usia

Persalinan

penolong

kehamilan
1

Laki-laki

Hamil ini

Cukup bln

Th

BB/PB

persalinan
Normal

bidan

2011

3.2. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran

: Kompos mentis

Tanda vital

: TD = 110/70 mmHg, N = 84 x/menit, RR = 20 x/menit,


T = 36,5 0C
TB = 150 cm
BB sebelum hamil : 46kg

BB sekarang : 59 kg

3,1/49

Status generalisata:
Kepala

: Normochepali

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), Lclera ikterik (-/-)

THT

: Tidak ada kelainan

Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran

kelenjar tiroid (-)


Thorak

:bentuk mammae simetris, puting susu menonjol,

hiperpigmentasi
Cor

: BJ I/II tunggal regular, gallop (-), murmur (-)

Pulmo

: Vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)

Abdomen

: Lihat status ginekologi

Ekstremitas

: Akral dingin, edema tungkai (-)

3.3. Pemeriksaan Obstetri dan Ginekologi


Pemeriksaan Luar

: Abdomen cembung (+)


Benjolan di kemaluan kanan dan kiri (-)
Nyeri tekan (-)

L1

Teraba bagian yang menonjol dan empuk

Tinggi fundus uteri 2 jari dibawah px

Perut bagian kiri, teraba bagian kecil janin

Perut bagian kanan, teraba bagian panjang, keras dan rata

Teraba bagian janin bulat dan keras

Bagian terendah belum masuk PAP

DJJ

L2

L3

L4

: 148x/ menit

3.4. Pemeriksaan Penunjang


Hb

: 11,2 gr/dl

Leukosit

: 5000 /ul

Trombosit

: 466.000/ul

Ht

: 35%

Hitung jenis

: 0/2/2/66/26/4

Gol. Darah

: A+

Waktu perdarahan : 3 menit


Waktu pembekuan : 9 menit
Tes kehamilan

: positif

USG

: tampak plasenta menutupi jalan lahir

3.5. Diagnosis Kerja


G2P1A0 hamil 38 minggu dengan HAP ec. Plasenta Previa Totalis belum
inpartu Janin Tunggal Hidup Presentai Kepala
3.6. Penatalaksanaan
a. Observasi keadaan umum dan tanda vital pasien
b. IVFD RL gtt 20x/menit
c. Rencana SC

3.7. Follow up
Waktu
Kamis, 05 Juni 2014
Pukul 13.00 WIB

Observasi
S: perdarahan pervaginam
O: KU`: Baik, kesadaran: kompos mentis
TD = 110/70 mmHg, N = 84 x/menit, RR
= 20 x/menit,
T = 36,5 0C DJJ : 148X/menit
A: G2P1A0 hamil 38 minggu dengan HAP ec.
Plasenta Previa Totalis belum inpartu Janin
Tunggal Hidup Presentai Kepala
P: -Observasi keadaan umum dan tanda vital
pasien
-IVFD RL gtt 20x/menit
-Rencana SC

Waktu
Jumat, 06 Juni 2014
Pukul 05.00 WIB

Observasi
S: perdarahan pervaginam
O: baik, kesadaran: compos mentis
TD : 110/80 mmHg, N 78: x/menit, RR:
16x/menit, T : 36,4 0C DJJ : 136x/menit
A: G2P1A0 hamil 38 minggu dengan HAP ec.
Plasenta Previa Totalis belum inpartu Janin
Tunggal Hidup Presentai Kepala
P: - IVFD RL gtt xx
-persiapan operasi pukul 09.00

Wak
Jumat, 06 Juni 2014

Observasi
S: tidak ada keluhan

Pukul 10.30 WIB

O: baik, kesadaran: compos mentis


TD : 130/80 mmHg, N 82: x/menit, RR:
20x/menit, T : 36,5 0C
Perdarahan normal
A: P2A0 Post SC a/i HAP e.c PPT
P: -IVFD RL + 2 amp induxin gtt xx
-inj ceftriaxone 3x1
-inj kalnex 3x1
-inj tramadol 3x1
-inj alinamin f 3x1
-metronidazole 3x1
-vit c 2x2

Waktu
Jumat, 06 Juni 2014
Pukul 14.00 WIB

Observasi
S: nyeri luka operasi
O: Tampak baik, kesadaran: kompos
mentis
TD : 120/80 mmHg, N : 80
x/menit, RR : 20 x/menit, T : 360C
Perdarahan normal
A:P2A0 Post SC a/i HAP e.c PPT
P: -IVFD RL + 2 amp induxin gtt xx
-inj ceftriaxone 3x1
-inj kalnex 3x1
-inj tramadol 3x1
-inj alinamin f 3x1
-metronidazole 3x1

Waktu
Sabtu, 07 Juni 2014
Pukul 05.00 WIB

-vit c 2x2
Observasi
S: tidak ada keluhan
O: Tampak baik, kesadaran: kompos
mentis

TD : 120/80 mmHg, N : 81
x/menit, RR : 16 x/menit, T : 36,3
0

C
A:P2A0 Post SC a/i HAP e.c PPT
P: -IVFD RL + 2 amp induxin gtt xx
-inj ceftriaxone 3x1
-inj kalnex 3x1
-inj tramadol 3x1
-inj alinamin f 3x1
-metronidazole 3x1
-vit c 2x2
Waktu
Sabtu, 07 Juni 2014
Pukul 14.00 WIB

Observasi
S: tidak ada keluhan
O: Tampak baik, kesadaran: kompos
mentis
TD : 120/70 mmHg, N : 78
x/menit, RR : 22 x/menit, T :
36,30C
Perdarahan normal
A:P2A0 Post SC a/i HAP e.c PPT
P:- IVFD RL gtt xx
ganti oral
-cefixime 2x1
-asam mefenamat 3x1
-B.com 3x1

Waktu
Minggu, 08 Juni 2014
Pukul 05.00 WIB

Observasi
S: tidak ada keluhan
O: Tampak baik, kesadaran: kompos
mentis
TD : 100/70 mmHg, N : 64
x/menit, RR : 18x/menit, T : 36 0c
A:P2A0 Post SC a/i HAP e.c PPT
P:- IVFD RL gtt xx

-cefixime 2x1
-asam mefenamat 3x1
-B.com 3x1
Waktu
Minggu, 08 Juni 2014
Pukul 10.00 WIB

Observasi
S: tidak ada keluhan
O: Tampak baik, kesadaran: kompos
mentis
TD : 120/70 mmHg, N : 75
x/menit, RR : 20x/menit, T : 36,5
0

c
A:P2A0 Post SC a/i HAP e.c PPT
P:-cefixime 2x1
-asam mefenamat 3x1
-B.com 3x1
- up infus
- boleh pulang
BAB IV
PEMBAHASAN
Telah dilaporkan sebuah kasus daris eorang pasien usia 24 tahun yang
masuk melalui poli KIA RSUD Palembang BARI pada tanggal 5 juni 2014 pukul
12.00 WIB, pasien masuk dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir.
Pasien ini di diagnosa G2P1A0 hamil 38 minggu dengan HAP e.c plasenta
previa totalis jth preskep, dari anamnesis didapatkan ibu sedang hamil 38 minggu
dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir, darah bewarna merah segar dan tidak
disertai rasa nyeri, di dapatkan pada teori bahwa gejala khas pada plasentya previa
adalah keluarnya darah bewarna merah segar dari jalan lahir, darah bewarna
merah segar dan tidak disertai nyeri perut. Pasien menyangkal adanya bloody
show, dan menyangkal adanya nyeri perut yang menjalar dari perut ke pinggang,
hal ini menandakan belum terjadinya tanda inpartu.

Pada pemeriksaan obstetric dilakukan pemeriksaan leopold 1-4 dan


didapatkan : djj : 143x/m, fundus teraba 2 jari di bawah px, teraba bagian besar
janin menonjol dan empuk maka diasumsikan bagian tersebut adalah bokong, sisi
kiri perut ibu terasa bagian kecil janin dan di bagian kanan perut ibu teraba bagian
yang memanjang, rata dan keras maka diasumsikan bagian tersebut adalah
punggung janin, dan bagian terbawah teraba keras, bulat dan melenting maka
diasumsikan bagian tersebut adalah kepala, letak kepala belum masuk PAP. Hal
ini memprediksikan bahwa pasien ini sedang hamil dengan persentasi letak
kepala, tinggi fundus uteri sesuai dengan usia kehamilan.
Untuk penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan penatalaksanaan secara
konservatif dengan observasi keadaan umum, vitas sign, djj,banyaknya
perdarahan, lalu diberikan cairan infus RL gtt xx, dan direncanakan akan
dilakukan terminasi kehamilan dengan cara sectio caesarea. Terapi yang diberikan
pada kasus ini sudah tepat, karena pada pasien plasenta previa totalis dengan usia
kehamilan kurang dari 37 minggu maka penatalaksanaan dilakukan secara
ekpetatif yaitu dengan mempertahankan janin agar tidak lahir secara prematur,
sedangan pada kehamilan lebih dari 37 minggu, dilakukan terminasi kehamilan
dengan sectio caesarea.
Pada tanggal 06 Juni 2014 pasien dilakukan sectio caesarea untuk
mengeluarkan janin, bayi lahir berjenis kelamin perempuan dengan berat 3100gr
panjang badan 50cm, lalu pasien diberikan terapi, berupa IVFD RL + 2 amp
induxin gtt xx, inj ceftriaxone 3x1, inj kalnex 3x1, inj tramadol 3x1, inj alinamin f
3x1, metronidazole 3x1, vit c 2x2.
Pada tanggal 08 Juni 2014 pasien dipulangkan dan disarankan kontrol lagi
untuk melihat luka jahitan.

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetrik dan
pemeriksaan penunjang pasien Ny. Aryana umur 24 tahun dapat ditegakan
diagnosis G2P1A0 hamil 38 minggu dengan HAP ec. Plasenta Previa Totalis
belum inpartu Janin Tunggal Hidup Presentai Kepala, dari pemeriksaan penunjang
USG, didapatkan plasenta menutupi jalan lahir.
Terapi yang diberikan pada kasus ini sudah tepat, karena pada pasien
plasenta previa totalis dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu maka
penatalaksanaan dilakukan secara ekpetatif yaitu dengan mempertahankan janin
agar tidak lahir secara prematur, sedangan pada kehamilan lebih dari 37 minggu,
dilakukan terminasi kehamilan dengan sectio caesarea.

DAFTAR PUSTAKA

Angsar. 2008. Buku Ilmu Kebidanan Edisi keempat. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Bagian Obstetri dan Ginekologi Universitas Sriwijaya. Protap Obgyn. Palembang:
Universitas Sriwijaya.
Benson, R.C. 1980. Current obstetric and gynecologic diagnostic and treatmetnt
3rd ed. Maruzen Asia, Siangapore: Lange Medical Publication.
Chuningham, dkk. 2007. Buku William Obstetric 21th. London: Prentice-hell
international
Collea,J. 1987. Malpresentation and Cord Accident, in;LA : Appleton and longer.
Depkes, 2013. Rencana aksi nasional percepatan penurunan angka kematian ibu.
www.depkes.go.id. Diakses 08 Juni 2014.

Manuaba, I.B.G, dkk. 2007. Kegawatdaruratan dalam obstetri dalam pengantan


kuliah obstetri.