Anda di halaman 1dari 3

REFLEKSI KASUS MATI

KECELAKAAN LALU LINTAS

Dokter Pembimbing :
dr. Beta AG., SpF, DFM

Disusun oleh :
Herlince W Amalo
03011130

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR SARDJITO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
2016

I. Identitas pasien
Nama
:M
Jenis kelamin
: Laki-laki
Usia
: 19 tahun
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Mahasiswa
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat
: Kemutug, RT 01/02 Tirip, Kec. Wadaslintang, Kab Wonosobo, Jawa
Tengah
Tanggal Masuk : 09 Maret 2016
II. Deskripsi Kasus
Jenazah terlentang di atas meja otopsi ditutup dengan kain berwarna ungu tidak berlogo,
tidak bertuliskan dan tidak berlabel. Kain dibuka jenazah menggunakkan kaos tanpa
lengan, berwarna biru kuning berlogo adidas di dada sebelah kanan berukuran XL.
Jenazah menggunakan celana pendek berwarna biru berbahan parasut. Jenazah
menggunakan dua kaos kaki berwarna coklat berbahan katun. Jenazah menggunakan
sepatu berwarna abu-abu berukuran 45.
Dari pemeriksaan didapatkan kaku jenazah yang sukar digerakkan pada seluruh sendi.
Terdapat bercak jenazah berwarna merah keunguan dan tidak hilang dengan penekanan
pada tengkuk, punggung kanan dan kiri, pinggang, paha belakang, belakang lutut kanan,
samping pantat kanan dan kiri. Tidak didapatkan pembusukan jenazah.
Kesimpulan hasil pemeriksaan luar:
1. Jenazah laki-laki panjang badan 172 cm, berat 56,75 kg
2. Pada kedua hidung keluar cairan berwarna merah kehitaman dan retak pada tulang
pangkal hidung
3. Terdapat patah tulang rahang bawah diantara gigi dua dan gigi empat kiri bawah dan
gigi tiga bawah kiri hilang
4. Terdapat luka robek pada leher bagian depan dan tulang jalan napas terputus.
5. Terdapa luka lecet geser pada lengan atas, lengan bawah kanan, jari kelingking kanan
paha kanan, tungkai kanan, dada bagian depan
6. Kelainan no. 4 dapat menyebabkan kematian, sebab kematian pasti tidak dapat
diketahui karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam sesuai surat permintaan penyidik
7. Saat kematian diperkirakan 8-12 jam dari sebelum saat pemeriksaan
III. Masalah yang dikaji
Mengapa penentuan kematian diperkirakan 8-12 jam?
IV. Analisis Kasus
Pada kesimpulan dari visum, tertera bahwa saat kematian diperkirakan 8-12 jam dari
sebelum saat kematian, namun jika dilihat dari adanya lebam mayat yang tidak hilang
dengan penekanan kemungkinan lama kematian >8 jam.

Lebam mayat terjadi saat eritrosit menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi,
lebam mayat tidak hilang dengan penekanan karena tertimbunnya sel-sel darah merah
dalam jumlah yang cukup banyak sehingga sulit berpindah dan adanya kekakuan dari
otot-otot pembuluh darah sehingga mempersulit perpindahan eritrosit.
Kaku mayat yang sukar digerakan pada seluruh sendi menunjukkan lama kematian >12
jam.
Kaku mayat terjadi karena cadangan glikogen dalam otot habis sehingga tidak terbentuk
ATP, akibatnya ATP tidak dapat membantu aktin dan myosin yang menjaga agar otot tetap
lentur. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempercepat terjadinya kaku mayat seperti
aktivitas fisik sebelum kematian, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus, suhu
lingkungan yang tinggi. Belum adanya pembusukan menunjukan lama kematian <24
jam. Pembusukan terjadi karena proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis
dan kerja bakteri. Jadi berdasarkan teori seharusnya kemungkinan kematian adalah 8-24
jam.

V. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa sebab kematian pada pasien adalah 8-24 jam karena sudah
adanya lebam mayat yang tidak menghilang dengan penekanan, kaku mayat yang
sukar digerakkan pada seluruh sendi, dan belum adanya pembusukan.

V. Referensi
1. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakulatas Kedokteran
Universitas Indonesia. . Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakulatas Kedokteran
Universitas Indonesia. 1997.
2. Dany, R.A.W. 2013. Karakteristik Sebab Dan Mekanisme Kematian Pada Korban
Yang Diduga Dibunuh Yang Diotopsi Di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP
Sanglah Tahun 2011-2012, skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Bali