Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN ILMU KESEHATAN

THT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA

REFERAT
SEPTEMBER 2015

MIASIS

DISUSUN OLEH:
MARLON SOSELISA (2010-83-034)

dr. Julu Manalu, Sp. THT


DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK
PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN THT RSUD DR. M. HAULUSSY
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
2015

Pendahuluan

belatung (maggot), tempayak (grub),


atau ulat (Caterpillar). Dari ketiga
tahapan larva diatas yang paling banyak
menyebabkan infeksi yaitu belatung
(Maggot)
infeksi dapat berlangsung akut maupun
kronis, dengan batasan waktu kurang
atau lebih dari 12 minggu
Masalah-masalah tersebut dapat terjadi
salah satunya pada daerah tropis.
Masalah pada daerah tropis umumnya

ANATOMI HIDUNG

DEFINISI

Miasis hidung adalah adanya


infasi larva lalat di dalam rongga
hidung. Lalat Chrysomia bezziana
dapat bertelur di organ atau
jaringan tubuh manusia, yang
kemudian menetas menjadi larva
(ulat = belatung).

ETIOLOGI

Chrysomia bezziana

AGEN PENYEBAB MYASIS YANG


TERDISTRIBUSI DI INDONESIA

PATOFISIOLOGI
apabila ternak mengalami luka akibat berkelahi, tersayat benda tajam atau pasca partus.
Bau darah segar yang mengalir akan menarik lalat betina untuk meletakkan telurnya ke luka tersebut.
Dalam waktu kurang dari 12 jam, telur akan menetas menjadi larva dan bergerak masuk ke dalam jaringan.

PAktivitas larva di dalam jaringan tubuh mengakibatkan luka semakin besar dan kerusakan jaringan
semakin parah.

Kondisi ini menyebabkan bau yang menyengat dan mengundang lalat yang lain untuk hinggap (Sarcophaga
sp, Chrysomya megachepalla, Musca sp)

memicu terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri

MANIFESTASI KLINIS

Hidung dan muka bengkak dan merah,


bernafas melalui mulut dan suara sengau.
Epistaksis
ada ulat yang keluar dari hidung
demam,
gatal-gatal,
sakit kepala,
vertigo,
eritrema,
radang (inflamasi),
Pendarahan
infeksi sekunder oleh bakteri.
bersin,
lakrimasi dan
nyeri kepala

MIASIS LUKA

luka meradang dan berbau


luka karena penyakit spesifik,

sifilis,
Lepra

MIASIS HIDUNG

hidungnya kemasukan lalat.


hidung dan muka membengkak.
meningitis sampai kematian

MIASIS TELINGA

komplikasi myasis hidung dan mulut


rasa sakit yang hebat di telinga
tinitus dan vertigo.

MIASIS MATA

komplikasi dari myasis hidung dan


mulut
Oftalmomiasis eksterna bila bola mata
yang tidak terkena
oftalmomiasis interna anterior bila
larva menginfasi bilik mata depan dan
oftalmomiasis posterior bila larva
sampai ke bilik mata belakang

MIASIS KULIT

infasi kulit oleh larva spesies lalat


Furunkular
Luka
Migratori

MYASIS SALURAN CERNA

terjadi karena termakan makanan yang


mengandung telur atau larva lalat

PEMFIS

Pada pemeriksaan rinoskopi terlihat


banyak jaringan nekrotik di rongga
hidung,
adanya ulserasi membran mukosa dan
perforasi septum.
Sekret purulen berbau busuk.
lanjut dapat menyebabkan sumbatan
duktus nasolakrimalis dan perforasi
palatum.
Ulat dapat meyerap ke dalam sinus atau
menembus ke intrakranial

DIAGNOSIS

Penegakan diagnosis myasis pada


penderita adalah dengan
ditemukannya larva C. bezziana pada
daerah luka

KOMPLIKASI

hidung pelana,
perforasi septum,
sinusitis paranasal,
radang orbita dan perluasan ke
intrakranial.
Kematian dapat disebabkan oleh sepsis
dan meningitis

PENATALAKSANAAN

Penderita myasis sebaiknya dirawat di


rumah sakit.
Diberikan antibiotik spektrum luas atau
sesuai kultur.
Untuk pengobatan lokal pada hidung,
dianjurkan pemakaian klorofom dan
minyak terpentin dengan perbandingan
1:4, diteteskan ke dalam rongga hidung,
dilanjutkan dengan pengangkatan ulat
secara manual menggunakan cunam.

REFERENSI

Campbell NA. Biologi. Edisi Kelima. Jilid II. Pnerbit Erlangga. Hal. 238.
Soepardi EA. Buku Ajar Ilmu kesehatan Telinga Hidung Tenggorok kepala
dan leher. Edisi Keenam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . 2007.
P. 143
Adams GL, Boies LR, Higler PA. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1997. Halaman 173-6
Dutto M, Bertero M. Cutaneous Superficial myasis: Reort of a rare
nosocomial parasitic disease caused by sarcophagamspp. (Diptera,
Sarcophagidae). Cent Eur J Public Health 2011, 19 (4) 232-234.
Wardhana AH. Infestasi larva Chrysomya bezziana Penyeba Myasis Pada
Manusia dan Hewan Serta permasalahan dan penanggulangannya. Balai
Penelitian Veteriner Jl. R. E. Martadinata No. 30; P O Box 151, Bogor 16114.
Najjari M, et. Al. Nosocomial Myiasis with Lucilia sericata (Diptera:
Calliphoridae) in an ICU patient in Mashhad, Northeastern of Iran. Arch
Iran Med. 2014; 17(7): 523 525.
Francesconia F. et al. Myiasis. January 2012 Volume 25 Number 1.p.79
Puerta LAG, et al. case of nasal myiasis due to Oestrus ovis (Diptera:
Oestridae) in a llama (Lama glama). Rev. Bras. Parasitol. Vet., Jaboticabal,
v. 22, n. 4, p. 608-610, out.-dez. 2013
Wardhana AH1, Diana N2. Aktivitas Biolarvasidal Ekstrak Metanol Daun

Salimi M, et al. First Report of Human Nasal Myiasis Caused by Eristalis tenax in
Iran (Diptera: Syrphidae). Iranian J Arthropod-Borne Dis, 2010, 4(1): 7780
Tai R, et al. Nasal Myiasis Caused by Cochliomyia Hominivorax in the United
States: A Case Report. American Journal of Infectious Diseases 7 (4): 107-109,
2011
Gopalakrishman S. Myiasis in different types of carcinoma cases in southern
india.
Turk M. A Case of Nasomyiasis Whose Agent Was Sarcophaga sp. Trkiye
Parazitoloji Dergisi, 30 (4): 330-332, 2006.
Khan AAG, Shah KM. Primary oral myasis: A Clinical presentation in cerebral
palsy. IJCRI 2013; 4 (2) 95-98.
Atmaca S, et al. Case report Counting larvae in a farmers Ear: 23. Int. Adv. Otol.
2009; 5: (1) 118-121.
IAEA. Joint FAO/IAEA Programme Nuclear Techniques in food and agriculture.
[cited, 6th september 2015 ], [online, 6th september 2015 ] Available from: url:
http://www-naweb.iaea.org/nafa/ipc/screwworm-flies.html
Miasis. Manual penyakit hewan mamalia. Hal. 418-9
Marco A.F.B. Baptista, M.D.Nasla Myiasis. Scsc The New England Journal of
Medicine Downloaded from nejm.org on September 6, 2015. For personal use
only. No other uses without permission. Copyright 2015 Massachusetts
Medical Society. All rights reserved.
Dingra PL. Disease of Ear, Nose and throat & Head and Neck Surgery. 6 th Edition.
Elsevier. 2014. P. 161-2.
Dinulos JGH. Cutaneous Myasis. Last full review/revision December 2014.

THANK YOU FOR YOUR ATTENTION


GBU